Drama Threesome Part 37

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25
Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Part 32Part 33Part 34Part 35
Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40

Cerita Sex Dewasa Drama Threesome Part 37 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Cerita Sex Dewasa Drama Threesome Part 36

Rio mendekap erat Duma dalam gendongannya, tidak memperdulikan suasana riuh di dalam aula hotel yang sengaja ia sewa untuk acara syukuran khusus keluarga. Hari ini, ia mengundang 100 orang anak yatim piatu, untuk sekaligus merayakan acara akikah untuk Duma. Rio berlama lama memandangi bayi laki lakinya yang tengah tertidur pulas. Rasanya tidak puas puasnya ia melepas kerinduan pada Duma, yang sempat ia tinggalkan beberapa saat selama ia bermasalah dengan kasus Fani.

Pagi tadi ia tiba kembali di kota ini setelah menjemput Wulan, ibu, Fiska dan Juna, serta tidak lupa pangeran kecil kesayangannya, Duma. Ratna menawarkan diri untuk mengurus segala sesuatu berkaitan dengan penyelenggaraan acara syukuran ini.

Setelah turun dari pesawat, Rio segera memboyong Wulan ke Hotel tempat acara yang telah disiapkan Ratna. Rupanya Ratna telah menyiapkan segala sesuatunya dengan sangat rapi. Dengan wajah sumringah ia menyambut kedatangan Rio, Wulan dan keluarga untuk mengikuti rangkaian acara sampai dengan selesai.

Rio menatap sekeliling. Di meja utama tampak Wulan dan Ratna tengah membagikan amplop berisi uang untuk seluruh anak panti asuhan yang datang. Ratna dan Wulan tampak sangat akrab dan tidak berhenti menyungging senyum.

Acara berjalan cukup lancar, mulai dari pengajian, ceramah agama, makan siang sampai dengan penutupan saat ini. Rio, Wulan dan Ratna tidak mengundang pihak manapun selain keluarga inti dan penghuni Panti, sehingga acara dapat berjalan dengan khidmad. Rio tak henti bersyukur dan hampir tidak percaya, setelah berbagai kejadian buruk yang menimpa kedua keluarganya berakhir, justru ia dapat menyatukan Wulan dan Ratna bersama. Suatu kejadian yang sebelumnya hampir mustahil terjadi dalam pikirannya.

Rio melihat Ratna berjalan menghampirinya, sementara Wulan duduk bersama Ibu, Fiska dan Juna sambil menikmati makanan kecil diatas meja mereka.

“Sudah semua terbagi Yah …” lapor Ratna seraya menghela nafas lega. Ia menghempaskan punggungnya ke sandaran kursi empuk disamping Rio

“Rasanya tidak ada yang terlewat”

“Mana Bima dan Putri?” tanya Rio, menanyakan keberadaan kedua putra dan putri nya “Mereka sudah makan?”

“Sudah …” jawab Ratna, mengunyah potongan kue perlahan dalam mulutnya

“Mereka pamit berenang diantar mba Sum .. setelah selesai acara nanti aku panggil mereka pulang Yah …”

Rio mengangguk, memandang wajah Ratna yang menampakkan sedikit gurat lelah “Bu …” bisik Rio “Terimakasih ya … sudah mendampingi Ayah dalam masa masa sulit kemarin .. sudah mau mengerti dan memaafkan Ayah .. karena …”

Ratna menunduk, berpura pura memotong kue diatas piringnya. Meneguk teh hangatnya perlahan dan tetap membisu. Rio mengerti. Walaupun Ratna sudah dapat menerima kenyataan adanya Wulan disampingnya saat ini, namun perasaan kecewa pasti masih menggoreskan luka yang membekas dalam hatinya.

Perlu waktu bagi Ratna untuk bisa memulihkan kembali hatinya seperti sedia kala. Atau mungkin bekas luka itu justru akan membekas selamanya dalam hatinya. Perlu keikhlasan dan jiwa besar bagi seorang wanita untuk bisa menerima suaminya memiliki cinta lain dan berbagi hidup bersama. Dan Rio sangat memahami itu.

“Aku sudah menyiapkan tiga kamar di hotel ini Yah ..” ucap Ratna mencoba mengalihkan pembicaraan

“Satu untuk Wulan, satu untuk Ibu dan Fiska, dan satu lagi untuk Juna”

“Ya Bu .. terimakasih ..” ujar Rio menggenggam erat tangan Ratna untuk membantunya menunjukkan rasa Cintanya yang tidak pernah berkurang untuk Ratna.

“Ayo .. kita temui Wulan dan keluarganya Yah …” ajak Ratna
“Biar aku gendong Duma …”

Rio memberikan Duma pada Ratna dan bersama menuju meja tempat Wulan dan keluarga duduk bersama.

“Mba Ratna … terimakasih …” ucap Wulan saat mereka bergabung bersama
“Maaf sudah merepotkan mba Ratna …”

“Tidak apa apa … aku sangat bersyukur kita dapat bersama sama melewati masa sulit kemarin” ujar Ratna seraya tersenyum

“Acara sudah selesai, anak buah Mas Rio akan mengurus kepulangan anggota Panti. Mungkin Duma lelah setelah perjalanan dari Jakarta tadi, kamu bisa beristirahat di kamar yang sudah disiapkan, Wulan ..”

“Iya mba … ” jawab Wulan, meraih Duma dari gendongan Ratna dan meletakkannya dalam kereta dorong

“Ayo Yah … ” ajak Wulan santai, namun segera terhenti setelah sadar ada sesuatu yang tidak semestinya ia ucapkan. Wajah Wulan terlihat canggung, menatap Rio nanar

“Uhm ….” gumam Wulan salah tingkah. Rio pun merasa canggung, menatap Ratna yang juga terlihat bingung pada keadaan ini

“Maksud Bunda … Ayah mau ikut istirahat atau … mmhh .. bagaimana ….?”

“Mungkin … Ayah antar mba Ratna pulang dulu ya Bun ….” jawab Rio dengan suara bergetar.

“Ayah .. mengantar aku pulang, lalu kembali kesini? Menginap di sini atau bagaimana…?” tanya Ratna. Ada nada kekecewaan tersembunyi di balik pertanyaannya.

“Ya … atau setelah mengantar Ibu, Ayah kembali kesini sebentar dan …. menginap dirumah saja ….?” tanya Rio pada Ratna. Ia segera menangkap gurat kekecewaan tercermin pada mimik wajah Wulan, walau secepat kilat hilang kembali tertutup oleh senyum yang sengaja di sungging Wulan kepadanya

“Iya Ayah … Terserah ayah saja … Bunda ke kamar ya …” pamit Wulan, segera berbalik meninggalkan Rio.

Ekor matanya masih sempat menangkap gerakan Ratna menggamit lengan Rio dan menggandengnya mesra keluar dari ruangan. Wulan menunduk. Kali pertama ia merasa cemburu memenuhi rongga dadanya. Ia menghela nafas dalam dalam, mencoba menghilangkan rasa tidak nyaman yang bersemayam dalam hatinya.

Rio menoleh kearah belakang saat berjalan keluar bersama Ratna. Ia sempat melihat sekilas punggung Wulan berjalan menuju lift hotel sambil mendorong kereta Duma.

“Ayah …” tegur Ratna yang memperhatikan gerak gerik suaminya. Ia tahu Rio tengah gundah

“Ayah mau menemani Wulan ke kamar?”
Rio menyeringai canggung. Ada kilat kecewa terlihat di sorot mata Ratna.

“Ayah cuma … ingin memastikan Duma nyaman Bu …” ujar Rio sambil sesekali menengok kearah belakang. Ratna menghela nafas dalam. Sesak kembali terasa dalam dadanya

“Pergilah …” ucap Ratna seraya memalingkan muka.

“Bu ….” rayu Rio, memahami apa yang berkecamuk dalam dada isteri tercintanya ini

“Ibu tunggu di kolam renang tempat anak anak ya .. hanya sebentar, Ayah kan sudah janji akan mengantar ibu pulang ….” Rio memeluk Ratna dan mengecup kening Ratna penuh cinta. Keadaan yang rumit, ternyata tidak hanya rumit saat kedua isterinya berada di satu tempat bersamaan. Bukan karena mereka saling membenci, namun justru karena mereka sama sama menunjukkan kasih sayang dan toleransi yang begitu besar.

“Ibu tunggu disini ya … Ayah keatas sebentar melihat Duma …” ujar Rio. Ia berbalik hendak menuju kamar Wulan saat ia mendengar panggilan Putri dan Bima mengajaknya berenang bersama. Ratna melirik Rio.

“Setelah melihat Duma, apakah ayah mau menemani anak-anak bermain?” tanya Ratna penuh harap

“Iya.. pasti …” jawab Rio canggung. Ia segera melangkah meninggalkan Ratna sejenak dengan hati gundah.

Rio bergegas menemui Wulan yang masih menunggu didepan pintu lift. Ia tampak kesulitan mendorong kereta Duma sekaligus membawa beberapa tas yang berisi keperluan Duma. Sementara Juna dan Fiska membawa tas keperluan mereka masing masing

“Ayah bantu Bunda …” ujar Rio seraya mengambil beberapa tas dan sebuah koper milik Wulan dan mendorong kereta Duma memasuki lift

“Ayah …?” Wulan menatap Rio terkejut

“Bunda kira Ayah sudah mengantar mba Ratna …”

“Ayah antar Bunda ke kamar dulu … Ratna menunggu di kolam renang sambil menemani anak2” jawab Rio

“Bunda tidak apa apa kalau malam ini tidur sendiri …?”

Wulan tersenyum tidak menjawab. Separuh hatinya menginginkan Rio menemaninya bermalam di hotel ini, namun disaat bersamaan ia juga harus memikirkan Ratna. Ratna sudah banyak membantunya menyiapkan acara akikah bagi Duma dan ia merasa tidak cukup pantas untuk meminta waktu Rio bersamanya saat ini.

Rio membuka pintu kamar Hotel dan mendorong kereta Duma perlahan. Wulan mengikuti dengan membawa beberapa tas. Kamar yang disewa Ratna untuk Wulan cukup luas, tipe suite dengan tempat tidur berukuran King Size. Rio menggendong Duma dan meletakkannya diatas kasur.

“Tidurnya sangat nyenyak Bun …” ujar Rio seraya menatap Duma

“Sepertinya Duma kelelahan”

Wulan tersenyum, perlahan mendekati Rio dan melingkarkan tangannya kebalik punggung Rio

“Duma nanti pasti gagah seperti Ayah ….” gumamnya seraya tersenyum

“Terimakasih sudah memberi Ayah anak laki laki yang luar biasa Bun ….” ucap Rio, memeluk Wulan erat dan mengecup keningnya lembut

“Yah ….” bisik Wulan

“Bunda … Bunda mau ….”

Rio merasakan Wulan semakin merapat kearahnya. Tangan Wulan melingkar pada lehernya, sementara payudara Wulan terasa menekan bagian atas perutnya. Wulan berjinjit, mengecup bibir Rio perlahan. Terasa hangat dan lembut, memaksa Rio memejamkan matanya dan melumat bibir Wulan penuh cinta. Nafas mereka mulai memburu, saat tiba2 HP Rio berdering.

“Ayah … anak anak sudah selesai berenang” suara Ratna diujung sana terdengar

“Atau Ayah ingin menginap di sini malam ini? Biar aku pulang bersama anak anak sendiri”

“Iya Bu … sebentar Ayah turun” jawab Rio gugup. Wulan melepaskan pelukannya dari Rio dan duduk ditepi tempat tidur.

“Bunda …..” ujar Rio lembut menatap Wulan dengan rasa bersalah

“Bunda ingin Ayah tinggal sebetulnya .. tapi tidak apa .. Bunda mengerti Yah …” ujar Wulan berusaha tersenyum

“Iya sayang .. Maafkan Ayah ..” ujar Rio berlutut dihadapan Wulan

“Besok Ayah janji menemani Bunda seharian ya … kita ajak ibu dan adik2 jalan jalan …”

Wulan mengangguk. Rio sekali lagi mengecup kening Wulan dan Duma, dan bergegas meninggalkan mereka menjumpai Ratna yang sudah menunggunya.

“Aku mau bicara Yah ….” ujar Ratna, duduk dihadapan Rio setelah mereka selesai menyantap makan malam. Rio meneguk air dalam gelasnya dan menatap Ratna penuh tanya

“Iya Bu … apa yang ingin ibu bicarakan?” tanya Rio

“Ayah .. Ayah tau ibu tidak keberatan dengan keadaan ini .. Ayah mengerti maksud ibu kan?” tanya Ratna pelan. Rio mengangguk, menggeser duduknya mendekati Ratna untuk menunjukkan ia siap mendengarkan curahan hati Ratna.

“Mulai saat ini, persiapkan diri Ayah sebaik mungkin untuk bisa berlaku adil kepada dua keluarga yang Ayah miliki saat ini …” lanjut Ratna serius

“Aku tau ini akan sulit, tidak hanya untuk Ayah, tapi juga untukku dan Wulan …”

Rio menghela nafas, membenarkan dalam hati ucapan Ratna.

“Dulu, mungkin Ayah mempersiapkan diri Ayah untuk menutupi keberadaan keluarga Ayah yang lain dari ibu” lanjut Ratna lagi

“Tapi kini, persiapkan diri Ayah untuk membina kedua keluarga yang Ayah miliki bersama sama. Tidak ada yang ingin berada dalam posisi seperti ini, aku tahu … Aku tidak siap untuk menerima Ayah memiliki Wulan. Wulan juga tidak ingin sebenarnya menjadi isteri kedua dan harus menerima hanya separuh cinta Ayah. Ayahpun sama .. tidak siap untuk menerima dua kehidupan Ayah diwaktu bersamaan .. semua di luar rencana Ayah, ataupun bila ini telah Ayah perhitungkan, mungkin terjadi terlalu cepat …”

Rio paham, Ratna memiliki kepribadian sangat matang, lebih tegas dibandingkan Wulan. Rio tidak heran bila perkataan ini diutarakan Ratna kepadanya.

“Ibu tidak ingin membebani Ayah .. Aku hanya ingin Ayah paham, bahwa baik keluargaku dan keluarga Wulan membutuhkan Ayah, utuh sebagai kepala rumah tangga. Maka cobalah untuk berlaku seadil mungkin dalam segala hal” ucap Ratna lagi “Tidak hanya soal tanggungjawab, tapi juga lebih kepada perasaanku dan Wulan”

“Ayah mengerti Bu … Ibu benar, Ayah belum siap untuk keadaan ini. Tapi Ayah akan berusaha memenuhi permintaan Ibu, menjadi kepala rumah tangga yang baik dan memahami perasaan ibu dan Wulan. Beri Ayah waktu .. semua memerlukan proses, termasuk Ayah ..” ujar Rio. Ada keyakinan dalam nada suaranya yang tegas dan berwibawa

“Ayah senang, ibu lebih terbuka dalam hal ini. Utarakan apa saja yang menjadi beban dalam hati ibu jika ini menyangkut Wulan dan Ayah …”

“Ibu percaya Ayah adalah suami dan Ayah yang baik .. Ibu yakin Ayah bisa memenuhi semua harapan isteri2 Ayah …” ujar Ratna. Rio tersenyum

“Seperti siang tadi … Ayah berjanji untuk menemani Bima dan Putri bermain .. tapi Ayah terlambat” ujar Ratna pelan. Rio mengangguk membenarkan

“Maafkan ayah ya Bu …” ucapnya tulus

“Sampaikan pada anak2 Yah … Bukan ibu yang berhak menerima permintaan maaf Ayah dalam hal ini” jawab Ratna. Rio mengangguk. Ratna menggandeng tangan Rio menuju kamar Bima dan Putri, menjumpai kedua anak mereka yang tengah asyik mengerjakan tugas sekolah.

“Mas Bima .. Mba Putri ..” sapa Rio membelai satu persatu kepala mereka dengan lembut

“Sini nak .. ada yang ingin Ayah sampaikan”

Bima beringsut mendekati Rio “Ayah panggil adek kok Mas Bima? Dek Bima Yah …” ralatnya, mengoreksi perkataan Rio saat memanggil namanya. Rio tertawa.

“Iya … mulai sekarang Ayah panggil Dek Bima dengan mas Bima ya ….” Rio memulai penjelasannya, berusaha mencari kata kata yang tepat untuk digunakan pada anak usia 11 dan 13 tahun. Ia melirik Ratna, berharap Ratna dapat membantunya menjelaskan hal yang sangat sensitif ini kepada anak anak. Ratna tersenyum, memberi semangat pada Rio seraya memeluk Putri yang tampak bingung

“Maksud Ayah?” tanya Putri.

“Mas Bima dan Mba Putri punya seorang adik lagi … Duma namanya. Mba Putri lihat? Tadi Ayah menggendong adik bayi di acara syukuran Panti?” ujar Rio perlahan. Putri mulai beranjak Dewasa dan baru saja mendapatkan haidnya yang pertama. Rio harus lebih berhati hati menjelaskan hal ini pada anak perempuan yang lebih perasa

“Anak Tante Wulan?” tanya Putri curiga

“Adikku? Maksud Ayah?”

“Mba .. Tante Wulan sama seperti ibu .. Tante Wulan isteri Ayah juga … Jadi Duma adalah adik mas Bima dan Mba Putri” Rio berkata perlahan, menurunkan intonasinya serendah mungkin untuk membuat Putri mengerti. Rio melihat wajah Putri memerah. Rio mulai bersiap akan keadaan yang mungkin tidak bisa diterima oleh anak perempuan semata wayangnya itu

“Ayah menikah dengan Tante Wulan? Ibu tau?” tanya Putri tajam sambil melirik Ratna.

Ratna membelai kepala Putri penuh sayang. Dadanya berkecamuk menahan berbagai perasaan. Ia sangat takut, Rio dan dirinya menggoreskan luka yang akan terbawa sepanjang usia Putri

“Kenapa Ayah menikah lagi? Ibu saja tidak cukup? Ayah sudah tidak sayang ibu, mba Putri dan Dek Bima???”

Rio memahami kecemburuan Putri, saat mengetahui cinta untuk ibu dan adiknya terbagi dengan keberadaan Wulan dan Duma. Ini sebabnya, sejak berangkat pagi tadi dari Jakarta, Rio memberi penjelasan pada Wulan untuk tidak mengungkapkan siapa Wulan kepada anak anaknya, sebelum ia memberi penjelasan terlebih dahulu. Wulan memahami sepenuhnya hal ini, dan memperkenalkan diri sebagai “Teman Ayah” kepada Bima dan Putri

“Tidak nak … Ayah sangat mencintai ibu, mba Putri dan Mas Bima … Cinta Ayah tidak akan berubah sampai kapanpun sayang ….” ujar Rio lagi

“Tapi Tante Wulan juga membutuhkan Ayah. Tante Wulan juga memerlukan perhatian Ayah. Mba Putri tidak keberatan kan kalau Ayah juga menyayangi mereka, tanpa mengurangi cinta ayah kepada mba Putri dan adik … juga Ibu … Ayah janji, tidak akan ada yang berubah …”

Putri menatap Rio tajam “Ayah jahat!!” jeritnya tiba tiba dan berlari keluar kamar

“Putri …!!” panggil Rio. Ratna bangkit, menarik tangan Rio

“Biar aku saja yang bicara padanya Yah ….” ujar Ratna

“Ayah bicara pada Bima ya …”

Wajah Rio memucat, namun ia mengangguk membiarkan Ratna menyusul Putri. Ia sadar, ini tidak akan mudah. Ratna benar, ia sebaiknya lebih mempersiapkan diri menghadapi apa yang mungkin akan terjadi.

Bersambung