Drama Threesome Part 36

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25
Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Part 32Part 33Part 34Part 35
Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40

Cerita Sex Dewasa Drama Threesome Part 36 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Cerita Sex Dewasa Drama Threesome Part 35

Wulan tersenyum penuh arti. Ia tahu, ia sudah berhasil mempermainkan emosi Fani. Ia melihat tatapan kosong Fani ke arahnya, dengan setitik bulir bening di ujung matanya yang siap mengalir. Sedikit lagi, dan ia akan berhasil mencapai tujuannya untuk membebaskan Rio.

“Akui saja….” ujar Wulan dalam

“Apa yang kamu lakukan untuk memaksa Rio berhubungan sex denganmu, Fani … Aku tahu, suamiku Rio sangat mencintaiku .. tidak mungkin ia akan memilih untuk mencintaimu …”
Wajah Fani memerah. Nafasnya berpacu cepat, tangannya mengepal

“kasihan … wanita yang memiliki segalanya kecuali Cinta” desis Wulan.

“Cukup!!!” jerit Fani tiba tiba

“Sebentar lagi aku akan menghancurkan hidupmu, Wulan!! Aku akan mengirim Rio ke penjara atas apa yang ia lakukan padaku. Aku akan melaporkan keberadaanmu sebagai isteri simpanannya kepada kantor dan isteri sah Rio sekaligus!! Tidak hanya hidupmu, tapi hidup Rio juga akan hancur ditanganku!!”

“Jangan sentuh suamiku!!!” jerit Wulan tidak kalah kerasnya. Seluruh pengunjung kini memperhatikan mereka berdua. Suasana mendadak senyap.

“Sekali kamu menyakitinya, aku bersumpah akan membunuhmu dengan tanganku sendiri! Kamu sakit Fani! Jiwamu sakit!! Karenanya, sampai kapanpun seorang laki laki normal seperti Rio tidak akan mau memberikan hatinya untukmu. Kamu hanya cocok bersanding dengan laki laki lain yang juga sakit jiwa seperti Evan suamimu!!!”

“Aku memang sakit, tapi aku tidak sebodoh yang kau bayangkan, Wulan!!” Fani kini bangkit berjalan mendekat kearah Wulan. Juna bangkit, bersiap melindungi kakak tercintanya jika sewaktu waktu Fani menyerang Wulan

“Aku bisa membuat Rio bertekuk lutut melayani semua mauku. Dengan hartaku, aku bisa membuatnya tetap berada disisiku dan memenuhi semua keinginanku”

“Termasuk melayani hasrat seksualmu tentunya …” bisik Wulan hati-hati. Fani menyeringai

“Ya … tentu” jawabnya sambil tertawa

“Hanya dengan bantuan sedikit obat perangsang .. aku bisa menikmati layanan seksual bintang lima dari suamimu, Wulan …”

Wulan terhenyak. Sesaat ingatannya kembali pada kejadian apartemen saat ia menyaksikan Rio dan Fani yang tengah tenggelam dalam kenikmatan seks mereka. Tubuh Wulan menggigil. Sejenak ia memejamkan mata mencoba mengusir bayangan itu

“Suamimu, mesin seks yang sangat luar biasa untukku. Tapi percayalah, ia juga sangat menikmati seks bersamaku…”

“Oh ya?” jawab wulan mencoba menenangkan diri.

Ia menatap mata Fani dalam dalam, bangkit dan mendekatkan mulutnya pada telinga Fani “Hanya karena obat perangsang … Aku menikmati seks dengan cinta setiap hari darinya. Kamu tidak akan tahu betapa nikmat rasanya, karena tidak ada seorangpun yang mencintaimu .. bahkan suamimu sendiri memilih pergi meninggalkanmu Fani …”

Fani berteriak tiba tiba, mendorong Wulan kearah belakang seraya mencengkram leher Wulan kuat kuat. Wulan tidak menyangka akan serangan yang dilakukan Fani. Ia mundur beberapa langkah karena dorongan Fani yang kuat. Melihat kakak perempuannya terdesak, Juna mencoba menarik lengan Fani dari leher Wulan.

Namun cengkraman Fani yang penuh emosi sangat kuat. Juna melihat wajah Wulan yang mulai memucat menahan sakit. Kedua tangannya juga mencoba menarik tangan Fani, namun tidak berhasil

“Kubunuh kau, wanita jalang!!” teriak Fani membabi buta.

Ia menyalurkan seluruh kekuatannya kearah leher Wulan, mencengkram sekuat tenaganya seolah ingin mematahkan leher Wulan. Ia terus mendorong Wulan hingga separuh tubuh Wulan rebah diatas meja bar. Beberapa pengunjung berlarian keluar Cafe. Wajah Wulan kini mulai membiru. Ia sulit bernafas. Cengkraman tangan Fani pada lehernya terlalu kuat untuk dilepaskan.

“Hentikan Fani!!” Juna berteriak sambil terus menarik tangan Fani mencoba melepaskannya dari leher Wulan.

Namun sesaat kemudian Juna merasakan tubuhnya terdorong menjauhi Fani dan Wulan hingga ia tersungkur ke lantai. Ia melihat seorang laki laki berbadan tegap dihadapannya

“Jangan ikut campur!!” ancam laki laki tersebut.

Juna menebak ia adalah seorang body guard yang disewa Fani. Juna melihat posisi Wulan semakin tersudut. Kakaknya itu mulai terlihat lemah. Dengan sudut matanya Juna melihat seorang perempuan mengeluarkan sebilah pisau lipat mendekati Wulan.

Juna segera menyadari bahaya lain yang akan menimpa Wulan. Perempuan itu mulai menghunuskan pisaunya kearah Wulan. Dengan cepat Juna bangkit “Hentikan !!” teriaknya seraya memburu perempuan tersebut.

Juna berhasil mendorong perempuan itu, membuat keduanya jatuh tersungkur ke lantai. Namun pisau lipat yang dihunusnya sempat melukai lengan atas Wulan sebelum terlempar jauh entah kemana. Darah menyembur membasahi lengan baju Wulan. “Dorrr…” Disaat bersamaan tersengar letusan tembakan dari arah pintu.

Wulan merasakan cengkraman pada lehernya mengendur. Ia jatuh terduduk dilantai, mencoba mengendalikan nafasnya. Oksigen kembali mengalir melalui hidungnya memenuhi rongga dadanya. Rasa sakit terasa di leher dan lengannya. Sesaat setelah ia sadar, Wulan melihat Fani terbaring dilantai dengan kaki yang berlumuran darah. Rupanya tembakan yang terdengar tadi melukai kaki Fani.

Dua orang berpakaian preman mendekatinya, sementara dua orang lain mendekati Fani. Wulan menoleh kearah mereka dengan tatapan tak mengerti

“Ibu Wulan .. tenanglah .. kami harus membawa ibu ke rumah sakit” ujar salah seorang laki laki dihadapannya.

Wulan menoleh memandang lengannya yang terasa berdenyut. Darah segar terus mengalir membasahi bajunya. Pandangan wulan mulai berkunang kunang dan ia pun terjatuh tak sadarkan diri.

Wulan membuka matanya perlahan. Kepalanya terasa berat. Dalam keremangan ia melihat wajah ibunya, Fiska dan Juna disampingnya.

“Mba …” bisik Fiska lembut

“Jangan banyak bergerak dulu ….”

“Dimana … aku …?” tanya wulan lirih

“Mana Duma ….?”
“Duma aman bersama mba Ratna, mba ….” jawab Fiska

“Ada penyangga leher dipasang pada leher mba wulan. Mba jangan banyak bergerak dulu. Lengan mba juga baru saja dijahit dokter karena lukanya dalam dan lebar. Mba sabar ya ….”

Wulan melirik ibunya “Ibu …” bisiknya. Ibu Wulan tersenyum, membelai rambut Wulan dengan lembut.

“Semua akan baik baik saja ….” ucapnya menenangkan wulan “Fani sudah ditahan yang berwajib, Kamu tenang saja .. jangan banyak fikiran dulu ….”

“Mba ….” Wulan mendengar suara Juna

“Mba Ratna diam diam mengirimkan bantuannya untuk kita malam itu. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi jika tidak ada mba Ratna … ”
Wulan tersenyum seraya menahan sakit “Kita berhasil?” tanyanya terbata. Juna mengangguk

“Semua percakapan berhasil direkam sebagai barang bukti .. mba Ratna diam diam memasang perekam mini yang canggih pada kerah bajuku mba .. aku tidak mengerti bagaimana ia melakukannya ..” jelas Juna

“Tidak percuma aku menjadi isteri seorang Rio Pramudya…” tiba tiba suara Ratna terdengar.

Wulan mencoba menoleh kearah pintu. Ia melihat Ratna masuk seraya menggendong Duma. Dua orang laki laki yang Wulan ingat menyelamatkan dirinya malam itu mengikuti Ratna

“Aku sangat kuatir padamu, Wulan. Aku tidak bisa tinggal diam. Malam itu aku telepon teman teman mas Rio, menceritakan keadaannya dan meminta bantuan mereka untuk mengikutimu”

Wulan tersenyum. Setetes air mata jatuh dari sudut matanya. Ia belum bisa bergerak bebas karena adanya penyangga leher yang dikenakannya. “Terimakasih mba Ratna …”
Ratna tersenyum, menatap Wulan

“Pengacara mas Rio berkata, kemungkinan mas Rio akan segera bebas karena adanya bukti bukti yang kita miliki .. Istirahatlah Wulan, pulihkan kesehatanmu dulu. Malam nanti aku akan kembali ke Jogja untuk mendampingi mas Rio. Aku akan segera membawanya menemuimu, bila sudah bebas nanti …”

Wulan mengangguk kecil, merasa lega akan apa yang terjadi. Ratna meletakkan Duma di dada Wulan perlahan. Wulan tidak dapat menahan tangisnya. Ia belum diperbolehkan untuk duduk, sehingga dalam posisi berbaring, ia hanya bisa memeluk Duma penuh cinta.

Tak terkira rasa syukur ia panjatkan karena ia berhasil selamat dan dapat kembali memeluk Duma penuh cinta. Wulan menangis. Duma bergerak gerak di dadanya, seakan ikut merasakan kebahagiaan dapat berjumpa kembali dengan ibunya tercinta. “Hai sayang Bunda …..” bisik wulan penuh haru ..

Wulan duduk di kursi rodanya, membelai Duma yang tengah asik menghisap ASI di pangkuannya. Dua minggu setelah keluar dari Rumah Sakit, Wulan sudah dapat beraktivitas seperti biasa untuk merawat Duma.

namun dokter belum mengizinkannya untuk melakukan aktivitas berat karena ditemukan sedikit retak pada tulang belakang lehernya. wulan masih harus menggunakan kursi roda bila berjalan terlalu jauh atau terlalu lama. Petugas fisioterapi rutin datang setiap dua hari sekali untuk melatihnya berjalan sedikit demi sedikit. Penyangga leher masih dikenakannya, sementara jahitan pada luka lengannya sudah mulai pulih.

Ratna terus menginformasikan perkembangan kasus Rio kepada Wulan. Dari Ratna pula Wulan tahu bahwa Rio terbebas dari segala tuntutan. Ia kini tengah mengurus proses administrasi pemulihan kembali statusnya dan segera melaksanakan tugas kembali.

Wulan belum bisa bercakap cakap langsung dengan Rio. Ratna menjaga informasi keberadaan Wulan yang dalam situasi ini, status Wulan sebagai isteri kedua Rio dapat membahayakan pekerjaannya. Wulan sangat mengerti akan hal tersebut dan tidak berkeberatan untuk tetap berada dibelakang layar seperti biasa.

“Ketentraman keluarga dan pekerjaan mas Rio yang utama mba …” jelas Wulan kepada Ratna saat itu

“Aku akan tetap mendukungnya dalam kondisi apapun …”

Ratna tersenyum penuh haru. Ia bisa melihat sendiri perjuangan Wulan untuk Rio. Ratna melihat wulan bukan lah lagi saingan. Dalam hati nya Ratna mau berdamai dengan rasa cemburunya pun selama ini yang ia rasakan sikap dan perhatian Rio untuknya tak berkurang sedikitpun.

Untuk itulah Ratna dengan kesadaran yang penuh,meminta pengacara Rio dan rekan-rekan Rio yang telah membantunya untuk tetap merahasiakan posisi Wulan. Tak sulit karena mereka sudah terikat kesetiaan esprit de corp satu sama lain untuk saling mendukung dan melindungi.

Sebagai langkah antisipasi, tanpa sepengetahuan Rio, Ratna sudah menyiapkan dan menandatangani surat persetujuan sebagai istri pertama memberikan izin bagi Rio untuk menikahi Wulan. Demi cintanya dan keutuhan keluarganya, Ratna ingin menunjukkan besarnya pengorbanan dan cintanya untuk Rio suaminya.

Wulan mengelus Rambut Duma dengan penuh sayang. Ia merasa sedikit terharu, setelah sekian lama Duma belum juga dapat berjumpa dengan Ayah tercintanya. Namun Wulan percaya suatu saat Rio pasti akan berjumpa dengan Duma. Angin mulai bertiup kencang diteras rumah. Wulan mendekap Duma erat, menghalangi hembusan angin yang menerpanya.

“Fiska …” seru Wulan

“Bisa bantu mba dorong kursi rodanya kedalam Dik … Banyak angin disini, mba kuatir Duma masuk angin kalau terlalu lama di luar”

“Ya mba …” jawab Fiska, bangkit dari duduknya meninggalkan buku novel yang tengah dibacanya untuk menghampiri Wulan.

Tepat saat ia mulai mendorong kursi roda Wulan, sebuah taxi tiba tiba memasuki garasi. Fiska menghentikan dorongannya. Wulan menoleh, mencoba mencari tahu penumpang dalam taxi yang baru saja tiba.

“Mas Rio ….” bisik Wulan tercekat, tidak mempercayai pandangannya. Dihadapannya Rio berdiri, tersenyum penuh haru menatap Wulan dan Duma bergantian. Tangis Wulan pecah. Ia mencoba bangkit dari kursi rodanya namun Rio segera menghampirinya, memeluknya erat erat “Bunda …..”

Wulan tak mampu berkata kata. Ia melingkarkan sebelah tangannya pada bahu Rio, membalas pelukannya erat erat dan menangis sepuasnya dalam pelukan Rio.
Beberapa menit berlalu. Wulan melepaskan pelukannya dan memandang Rio yang sedikit bertambah kurus

“Ayah, ini Duma ……” bisik Wulan dengan mata berlinang. Rio menatap Duma takjub, meraihnya dalam pelukannya, menciumnya lembut dan menimangnya.

“Hai sayang …” bisik Rio

“Jagoan Ayah …. Duma jaga Bunda selama Ayah tidak ada ya ….”

Wulan tersenyum. Duma bergerak gerak dalam gendongan Rio. Rio mendekati Wulan , mengecup keningnya penuh cinta

“Anak kita tampan Bun …. Sehat … ” ujar Rio penuh haru. Wulan mengangguk.

“Masuklah Ayah … banyak angin di luar …” ajak Wulan

“Biar Fiska menggendong duma dulu .. ayah pasti masih lelah ..”

“Tidak Bun … ” Tolak Rio

“Ayah ingin menggendong Duma …”

Fiska mendorong kursi roda Wulan kedalam ruang tamu. Rio mengikuti seraya menimang Duma. Ia kemudian duduk di samping kursi roda Wulan.

“Bunda … maafkan Ayah … karena Ayah Bunda jadi begini ….” bisik Rio pada Wulan. Wulan tersenyum menggelengkan kepalanya

“Tidak Ayah … Bunda senang Ayah baik baik saja …” jawab Wulan tenang

“Bagaimana akhirnya kasus Ayah dan Fani?”

Rio menceritakan seluruh kejadian sejak awal sampai dengan terakhir kepada Wulan. Ia kini sudah mulai kembali berdinas seperti biasa, sementara Fani sudah mendapat hukuman yang setimpal.

“Ratna mengundang Bunda datang, jika Bunda sudah sembuh nanti … Bunda mau kan?” tanya Rio

Wulan menatap Rio ragu. “Yah ….” ucap Wulan

“Bagaimana keberadaan Bunda dalam pandangan mba Ratna … Walau bagaimana .. Bunda sudah merebut sedikit kepercayaan mba Ratna pada Ayah …”

“Bun …” ucap Rio

“Tuhan sudah memberi jalan untuk kita semua melalui peristiwa ini. Mungkin, bila tidak karena peristiwa ini, Bunda akan selamanya menyembunyikan diri dari Ratna .. Ayah akan selamanya memiliki rahasia besar yang ayah sembunyikan dari keluarga ayah ….”

Wulan menunduk. Rio melanjutkan perkataaanya.

“Tapi Ayah lega semua sudah berakhir. Ratna sudah dapat menerima keberadaan Bunda sebagai isteri Ayah juga. Ayah sangat kagum padanya. kebesaran hatinya jugalah yang menyelamatkan Ayah dari situasi ini. Seandainya Ratna bersikeras tidak menerima Bunda dan tidak bekerjasama dengan Bunda menyelamatkan Ayah .. entah apa yang akan terjadi saat ini. Mungkin Ayah tidak bisa bertemu Duma …”

“Mba Ratna memang perempuan yang luar biasa .. isteri yang sangat kuat …” ucap Wulan seraya tersenyum

“Beruntungnya Ayah .. punya dua isteri yang sangat hebat” ujar Rio seraya membelai rambut Wulan.

“Cepatlah sembuh Bun ….” lanjut Rio

“Kalau Bunda datang nanti, kita adakan syukuran karena semua dapat berlalu dengan selamat. Juga akikah Duma, yang belum sempat ayah laksanakan …”

Wulan mengangguk. Satu beban berat terasa hilang dari dadanya. Wulan memandang Rio dan Duma penuh cinta. Dua laki laki yang sangat berharga dalam hidupnya …

Bersambung