Drama Threesome Part 35

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25
Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Part 32Part 33Part 34Part 35
Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40

Cerita Sex Dewasa Drama Threesome Part 35 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Cerita Sex Dewasa Drama Threesome Part 34

“Hampir 7 tahun mba ….” jawab Wulan lirih. Ratna menatapnya dalam dalam. Wulan kembali menunduk, menghindari tatapan Ratna

“Pernahkah … mas Rio menceritakan tentang keberadaanku padamu?” tanya Ratna ragu. Wulan kembali menatap Ratna, matanya berkaca kaca.

“Mba ….” ujar Wulan lembut
“Percayalah … Mas Rio sangat mencintai mba Ratna … Mungkin mba Ratna berpikir ini hanyalah perkataan bohong belaka dariku untuk menutupi semua kesalahanku mencuri sedikit hati Mas Rio dari mba Ratna ….”

Ratna menunduk, mencoba menyembunyikan matanya yang mulai menghangat

“Mas Rio menceritakan mba Ratna dengan sangat detail, sehingga saat melihat mba tadi untuk pertama kalinya, aku merasa sudah sangat lama mengenal mba Ratna …” lanjut Wulan

“Dimata Mas Rio, mba Ratna isteri yang sangat sempurna. Dan sedikitpun .. aku tidak pernah ingin merubah itu .. tidak ingin merubah pandangan mas Rio kepada mba Ratna …”

Ratna tidak dapat menahan bulir air mata yang mulai jatuh di pangkuannya. Rasa sakit ini, mengapa harus ia rasakan bersamaan. Sakit karena fitnah yang ditujukan pada suaminya, sekaligus sakit karena rahasia besar yang disembunyikan suaminya.

“Lalu mengapa ia memilih untuk memberikan cintanya juga kepadamu” ujar Ratna terisak

“Jika memang ia mencintaiku .. mengapa harus membaginya dengan yang lain .. denganmu …”

“Tidak mba ….” bisik Wulan, juga dengan terisak

“Mas Rio tidak pernah membagi cintanya .. Cinta mas Rio untuk mba Ratna dan keluarga tetap sama .. adakah perubahan yang mba Ratna rasakan selama tujuh tahun belakangan ini dari mas Rio?”

Ratna terdiam. Hanya isaknya yang masih terdengar. Wulan melanjutkan

“Aku yang menitipkan cintaku padanya mba …. Aku mencintai mas Rio. Aku percayakan hatiku padanya. Ia adalah seorang laki laki yang sangat bertanggungjawab. Karenanya ia menjaga hatiku, seperti ia mencintai mba Ratna dengan sepenuh hatinya ….”

Wulan perlahan menceritakan awal pertemuannya dengan Rio dan peristiwa yang menyatukan mereka dalam pernikahan. Diam diam Ratna memperhatikan Wulan. Perempuan yang sangat sederhana dan lembut, tenang dalam pembawaannya serta sabar dalam menjalani kehidupannya.

Ratna menyadari, bila Wulan tahu seluruh hal tentangnya dan Rio, itu berarti Wulan harus pandai pandai berdamai dengan hatinya, membiarkan Rio tetap menjalani kehidupan karir dan rumah tangganya tanpa cela.

Bukan wanita biasa yang bisa tetap mendukung dari belakang, memaklumi dan mengikhlaskan menjadi isteri kedua dalam suatu kehidupan. Bila Wulan tidak memiliki hati seluas samudera, entah apa yang akan terjadi pada keluarga Ratna dan Rio saat ini. Sedikit demi sedikit Ratna mulai dapat melihat segalanya dengan jelas.

Seringkali ia mendengar seorang isteri simpanan yang akhirnya menghancurkan keutuhan suatu keluarga. Tapi tidak dengan wulan. Ia menjaga, agar Rio dan Ratna dapat tetap bersama dalam menjalani kehidupan mereka seperti biasa.

“Mba … maafkan aku jatuh cinta pada mas Rio …” ujar wulan menutup ceritanya

“Tapi aku tidak akan pernah merebut mas Rio dari sisi mba Ratna .. aku pastikan itu tidak akan pernah terjadi”

Ratna tersenyum, menghela nafas. Walau masih terasa sakit, namun ia mulai dapat menerima Wulan bukan sebagai ancaman, namun terutama untuk kasus ini, Wulan adalah partner terbaik yang dapat ia ajak untuk membantu meringankan tuntutan terhadap Rio.

Ratna membelai kepala Duma yang kini kembali tertidur pulas. Fiska membentangkan kasur lipat mungil untuk alas Duma tidur. Wulan meletakkan Duma dengan hati hati diatasnya.

“Mengapa tidak ditidurkan di kamar?” tanya Ratna setengah berbisik, kuatir bila suaranya akan membangunkan Duma

“Kamar tidurnya masih berantakan mba … dan rasanya .. kalau melihat kamar itu, aku belum bisa lupa bagaimana kejadian malam itu ….” Wulan menggelengkan kepalanya seolah mencoba mengusir bayangan buruk dari kepalanya

“Menurutmu …” ujar Ratna lagi

“2 wanita dan satu laki laki dalam satu kamar ….. siapa melecehkan siapa ….?”

Wulan menatap Ratna tajam, mengerti apa maksud tujuan pertanyaan Ratna.

Ketukan di pintu terdengar saat Ratna dan Wulan tengah serius membahas apa yang bisa mereka lakukan untuk menolong Rio. Juna melangkah kearah pintu dan membukanya. Seorang satpam gedung apartemen berdiri didepan pintu.

“Selamat siang ..” sapanya ramah. Juna mengangguk sambil tersenyum

“Bisa saya bertemu dengan bapak Rio atau ibu Wulan pemilik apartemen ini?” tanya Satpam itu lagi dengan nada hati hati

“Saya Wulan Pak …” jawab Wulan seraya menghampiri pintu. Saat melihat Satpam tersebut, Wulan segera mengenalinya sebagai salah satu Satpam yang mengantarnya ke rumah sakit pada malam kelahiran Duma

“Pak Ade? Silahkan masuk Pak ….” ajak Wulan sumringah

“Bu Wulan ..” ujar Pak Ade sambil tertawa

“Senang sekali melihat ibu sudah sehat kembali … apa kabar Pak Rio dan bayinya Bu?”

“Bayi kami sehat Pak ” jawab Wulan mencoba mengalihkan pertanyaan tentang Rio

“Untung malam itu bapak segera membawa saya ke rumah sakit … Terimakasih ya Pak …”

“Siap Bu …” jawab Pak ade mengikuti Wulan berjalan kearah ruang TV. Ia menutup mulutnya saat melihat Duma yang tengah tertidur lelap

“Maaf Bu …” bisiknya lirih

“Saya hanya ingin memberikan informasi yang mungkin .. ah .. sebetulnya saya tidak tahu apakah saya harus menyampaikan ini …” Pak Ade tampak sedikit ragu untuk meneruskan pembicaraannya

“Tentang apa Pak?” tanya Wulan

“Malam itu .. sebelum ibu saya antar ke Rumah Sakit .. saya melihat Pak Rio dan dua perempuan masuk ke apartemen ini”
Wulan terhenyak. Ratna yang juga mendengarkan pembicaraan ini ikut terkejut

“Maksud bapak?” tanya Wulan pelan

“Apartemen ini dilengkapi CCTV hampir di setiap sudutnya Bu … saya memperhatikan dari CCTV mulai dari kedatangan Pak Rio dan wanita wanita itu di basement, sampai Pak Rio dan mereka meninggalkan apartemen di pagi harinya dalam waktu berbeda”

Wulan dan Ratna bertatapan dengan pandangan penuh ketegangan

“Mereka .. maksud saya dua wanita itu juga menitipkan kunci apartemen milik Pak Rio kepada security dan menyebutkan namanya sebagai Bu Fani isteri Pak Evan yang juga memiliki unit di apartemen ini” lanjut Pak Ade panjang lebar

“Saya sempat bingung apa yang harus saya lakukan sampai saya berdiskusi dengan kepala security disini .. dan beliau menganjurkan saya untuk memberitahukan hal ini kepada Bu Wulan” lanjut Pak Ade lagi

“Maka dari itu saat saya melihat ibu datang, saya segera kesini ..”

“Apakah bapak .. masih menyimpan rekaman CCTV hari itu?” tanya Ratna bersemangat

“Masih Bu …” jawab Pak Ade “Bila ibu mau, saya bisa memberika copy nya pada Bu Wulan”

Juna segera berinisiatif mengambil rekaman CCTV yang dimaksud Pak Ade tersebut. Ia dan Pak Ade segera keluar menuju ruang security di lantai dasar, Sementara Wulan dan Ratna tetap tinggal di dalam apartemen.

“Bukan mas Rio yang melakukan pelecehan .. tapi Mas Rio yang dilecehkan oleh kedua perempuan binal itu!!” seru Ratna menahan emosi

“Mas Rio dipaksa melayani mereka .. perempuan2 haus seks!!”Wulan menunduk menutup wajahnya dengan dua tangannya

“Mas Rio bukan orang seperti yang Fani tuduhkan mba ….” keluhnya sedih

“Mba Ratna lebih lama mendampingi mas Rio. Apakah mba Percaya Mas Rio bisa bertindak senista itu?”

Ratna menggeleng. Ia tidak dapat membiarkan suami tercintanya meringkuk dalam tahanan dan kehilangan karir hanya karena fitnah dari seorang perempuan.

“Aku harus menemui Fani mba …” ujar Wulan tiba tiba

“Aku harus membuat perhitungan dengannya!!”

Ratna terkejut. “Kamu mau apa?” tanyanya pada Wulan

“Mba .. aku rasa dia belum tau siapa aku …” jawab Wulan pelan

“Jika aku berikan shock terapi padanya menjelaskan apa yang terjadi dengan aku dan suaminya … mungkin bisa memberikan efek kejut yang luar biasa”
Ratna membelalakan matanya mendengar ide Wulan

“Kita memang tidak tahu apa yang akan terjadi setelah Fani mendengar pengakuanku …” lanjut Wulan

“Tapi berdoa saja mudah mudahan hasilnya sesuai harapan yang kita inginkan”

“Aku ikut!!!” ujar Ratna mantap “Aku juga ingin membuat perhitungan dengan wanita busuk itu!!!”

“Jangan mba ….” cegah Wulan

“Biar aku saja .. mba, aku titip Duma … kalau terjadi apa apa denganku ….”

“Apa yang kamu bicarakan Wulan!” tepis Ratna

“Aku tidak akan membiarkan apapun terjadi padamu!”

“Tidak mba …” sanggah Wulan cepat

“Mba .. aku tahu Evan .. dan aku mengira sifat Fani tidak akan jauh buruknya dengan sifat suaminya. Karenanya .. aku titip duma….. Tolong bawa dia kepada mas Rio .. mas Rio belum sempat bertemu dengannya”

Ratna menatap Wulan dalam dalam dan kemudian memeluknya erat

“Aku sangat mencintai mas Rio .. aku mencintai semua yang ada padanya, termasuk mba Ratna dan keluarga” bisik wulan penuh haru

“Apapun akan kulakukan untuknya mba …”

“Pergilah …” bisik Ratna seraya memeluk Wulan erat

“Aku akan menjaga Duma baik baik. Tapi aku percaya, semua akan baik baik saja”

Wulan mengangguk. Melepas pelukannya dan segera berkemas.

“Aku antar mba Ratna kembali kerumah dulu ..” ujar wulan “Selanjutnya aku dan Juna yang akan menemui Fani”

Ratna mengangguk, melangkah keluar apartemen bersama sama. Sekelebat rencana melintas di benaknya. Seraya menggendong Duma, ia tersenyum

“Mas Rio, kami akan segera membebaskanmu …” bisik Ratna dalam hati.

Temaram menggantung di ujung langit saat Juna memacu mobilnya membelah keramaian kota Jakarta kembali menuju rumah mereka. Fiska mendekap Duma yang tertidur lelap dipangkuannya, memberi kesempatan bagi Wulan sejenak melepas lelah dengan memejamkan mata. Ratna duduk disamping Wulan, diam diam memperhatikan wanita yang tanpa sepengetahuannya juga dicintai oleh Rio, suaminya.

Perawakan mereka tidak jauh berbeda. Wulan mungkin sedikit lebih tinggi dibanding Ratna, namun tubuh Wulan juga sedikit lebih berisi. Mungkin karena Wulan baru saja melahirkan putera pertamanya. Wajah Wulan manis, teduh dengan warna kulit tubuhnya yang sedikit lebih gelap dibanding Ratna.

Tutur katanya lembut dan sopan membuat Ratna menduga bahwa Rio akan sangat betah berlama lama berada disampingnya. Kesabaran dan ketenangan tercermin dalam setiap geraknya. Ratna tau betapa Wulan sangat cemas memikirkan Rio dan sekaligus menerima kedatangannya yang begitu tiba tiba. Namun Ratna dapat melihat Wulan berhasil menguasai emosinya dengan baik.

Beberapa saat mengenalnya, Ratna mengerti bahwa Wulan sangat mencintai Rio. Rasa cemburu masih bersemayam dihati Ratna, namun ia mencoba menerima keadaan ini demi kebebasan Rio. Walau bagaimanapun, Wulan adalah isteri sah Rio, ibu dari anak Rio. Wanita yang kini berada dipihaknya untuk dapat menyelamatkan kehidupan rumah tangga dan karir Rio di masa depan.

Tanpa terasa mereka tiba kembali dirumah. Ibu Wulan menyambut dari balik pintu dengan pandangan cemas.

Wulan mengambil alih Duma yang mulai menangis dalam gendongan Fiska. Ditimangnya lembut dan mulai bersiap memberikan ASI nya kembali untuk Duma.

“Tinggallah disini malam ini, mba Ratna ..” ucap Wulan pada Ratna “Selepas maghrib nanti, aku dan Juna akan menemui Fani. Apakah sudah ada kabar dari pengacara mas Rio tentang tempat tinggal Fani?”

Ratna menyodorkan secarik kertas kepada Juna “Itu adalah nama Cafe tempat terakhir kali mas Rio menemani Fani bertemu partner bisnisnya. Mas Rio merasa ada yang tidak beres dengan Cafe itu. Mungkin bila kita beruntung, kita dapat menemui Fani disana” jelas Ratna panjang lebar “Kabarnya, Fani sangat sering berkunjung ketempat itu ”

Juna menyerahkan sekeping CD kepada Ratna, pemberian Pak Ade satpam apartemen yang berhasil merekam semua gerak gerik Fani dan Rio saat memasuki apartmen.

“Simpan barang bukti ini baik2 mba …” pesan Juna

“Bicarakanlah langkah selanjutnya dengan pengacara agar rekaman ini dapat digunakan untuk meringankan keadaan mas Rio”

Duma kembali tertidur lelap. Wulan menyerahkan Duma kepada ibu untuk menidurkannya di dalam kamar. Ia bangkit, merapikan bajunya sejenak dan beranjak menggamit lengan Juna

“Ayo .. kita temui wanita itu sekarang juga ..” ucap Wulan tegas.

Ratna menatap punggung Wulan dan Juna yang melangkah keluar untuk menemui Fani. Setelah mereka hilang dari pandangan, ia meraih telepon genggamnya dan berbicara serius dengan seseorang diujung sana.

Cafe Cristal saat itu cukup ramai oleh pengunjung. Wulan melangkah masuk bersama Juna dan mengambil tempat duduk di meja bar panjang. Wulan memesan segelas minuman ringan, sementara Juna memesan segelas red wine. Wulan menebarkan pandangannya keseluruh ruangan, mencoba menemukan sosok wanita yang masih tergambar jelas dalam ingatannya, berhubungan seksual dengan suaminya malam itu

Namun ia tidak menemukan siapapun, kecuali beberapa pengunjung yang tengah menikmati minuman dan makanan dihadapan mereka masing masing. Mungkin ia harus sabar menunggu, batin Wulan dalam hati. Ia mencoba bersantai meneguk minuman yang dipesannya dan sesekali mengajak Juna berbicara, sekedar berusaha untuk tampak bersikap normal.

Tiga puluh menit berlalu saat Wulan melihat dua orang wanita datang menghampirinya. Wulan mengenali mereka sebagai wanita wanita yang melewatkan malam bersama Rio. Wulan menegakkan duduknya, menyambut kedatangan mereka yang ia duga sebagai Fani dan seorang temannya.

“Wulan?” tanya Fani tajam

“Seseorang menyampaikan padaku bahwa kau ingin menemuiku”

Wulan menatap Fani dalam dalam “Ya ..” jawab Wulan mantap.

“Ada informasi untukku?” tanya Fani, mengambil tempat duduk tepat disisi kiri Wulan

“Tentu ..” jawab Wulan santai, walau ia tidak mengerti mengapa Fani datang menemuinya. Seharusnya ialah yang datang menghampiri Fani. Seseorang telah memberikan informasi kepada Fani tentang keberadaan dirinya

“Mengenai Evan .. suamimu” lanjut Wulan. Ia melihat ekapresi tegang pada wajah Fani

“Maksudmu??” tanya Fani dengan suara bergetar

“Aku mengenal suamimu, bahkan lebih dari dirimu sendiri, Fani ..” desis Wulan tajam

“Kau pikir, dengan siapa suamimu menghabiskan sebagian akhir hidupnya? Ia bersamaku .. sebelum ia meninggalkanmu untuk selama lamanya …”

Wajah Fani mulai memerah, namun Wulan dapat melihat Fani sekuat tenaga menahan emosinya. Ia menyeringai

“Kau pikir aku perduli?” tanyanya sinis

“Aku hanya perduli pada harta Evan.”

“Bagaimana kalau aku katakan bahwa Evan menawarkan seluruh hartanya untukku setelah ia menceraikanmu ?” tanya Wulan lagi, masih dengan nada santai. Senyum disudut bibirnya mengembang saat ia melihat nafas Fani yang memburu, menandakan emosinya mulai meningkat

“Beruntunglah kamu, aku menolak semua pemberian suamimu” lanjut Wulan lagi

“Kalau aku mau, aku bisa membuatmu menjadi gembel seumur hidupmu, Fani … ”

“Pembohong!!!”jerit Fani, membuat beberapa pengunjung serentak memalingkan muka kearah Fani dan Wulan

“Mana mungkin .. seorang wanita menolak berbagai kemewahan yang dijanjikan untuknya”

“Oh ya?” tanya Wulan dengan santai

“Tentu saja, kalau kemewahan itu ditawarkan kepada wanita yang tidak memiliki apapun yang berharga dalam hidupnya, ia tidak akan menolak .. seperti kamu, yang tidak punya apapun yang bisa membuatmu bahagia”

“Dan kau pikir, apa yang membuatmu bahagia tanpa kemewahan itu?” desis Fani

“Rio. Suamiku … ” jawab Wulan cepat. Fani membelalakan matanya dan tertawa terpingkal pingkal

“Jadi kamu perempuan itu …” ujar Fani disela derai tawanya

“Perempuan perebut suami orang. Kamu lebih nista daripada aku, Wulan. Setelah Evan, kamu mencoba merebut Rio dari isteri sahnya!”

Wulan tersenyum kecil “Katakan apapun maumu .. tapi aku adalah perempuan pertama yang akan membuat hidupmu menderita, jika kau sentuh suamiku sedikit saja!” ucap Wulan tajam

“Dia milikku. Aku mencintainya dan begitupun sebaliknya”

“Kalau ia mencintaimu, mengapa Rio masih berusaha menyentuhku?” desis Fani. Wulan tersenyum tenang.

“Ia menyentuhmu, karena kamu memaksanya. Menyetubuhimu karena kamu yang menginginkannya. Memberikanmu kenikmatan dan sekaligus memberikan kenikmatan pada wanita lain juga. Akui saja .. semua hanya sebatas nafsu tanpa cinta .. dan tetap saja jiwamu terasa kosong. Akui saja tidak ada seorang laki lakipun yang benar benar mencintaimu. Tidak Evan, tidak juga Rio .. Aku iba padamu” bisik Wulan, membangkitkan emosi Fani kian menjadi

“Evan mungkin meninggalkanku untukmu dulu .. tapi ia kembali untukku karena cintanya padaku … Ia tidak mencintaimu”

Bersambung