Drama Threesome Part 34

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25
Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Part 32Part 33Part 34Part 35
Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40

Cerita Sex Dewasa Drama Threesome Part 34 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Cerita Sex Dewasa Drama Threesome Part 33

Terkadang Rio menyukai keheningan. Beban berat yang ia rasakan dari berbagai tugas yang diberikan kepadanya dapat terasa jauh berkurang saat ia sendiri. Namun kali ini, hening yang ia rasa sangat mencekam tengah menyelimutinya. Sudah cukup lama Ratna duduk dihadapannya, menunduk tanpa suara.

Ruangan pemeriksaan Pam Internal tempat Rio menghabiskan waktu selama satu minggu ini pun terasa semakin sempit. Ini kali pertama ia boleh menerima kunjungan Ratna isterinya, setelah perjumpaan pertama mereka saat Ratna mendengar tuduhan apa yang tengah menimpa suaminya. Perjumpaan penuh emosi dan air mata yang tidak akan pernah Rio lupakan seumur hidupnya.

“Aku tidak melakukannya Bu … Sudah berapa lama ibu menghabiskan waktu hidup bersama Ayah? Apakah ibu pikir Ayah bisa melakukan itu??” Rio mencoba sebisa mungkin meredakan tangisan Ratna yang semakin menjadi kala itu

“Percayalah pada Ayah .. Ayah tidak sehina itu …”

Rio tidak dapat melupakan hancurnya perasaannya saat melihat air mata Ratna. Ia telah melukai hati Ratna hingga hancur berkeping keping. Dan ia sama sekali tidak menemukan cara bagaimana ia dapat membela dirinya sendiri atas tuduhan pelecehan seksual yang dituduhkan Fani padanya.

“Apa yang tidak mungkin saat seorang laki laki berdua saja dengan seorang wanita cantik dan sexy?” tanya Ratna tajam ditengah tangisnya

“Ibu kurang apa Yah?? Sekian lama ibu serahkan semua jiwa dan raga untuk mendampingi Ayah .. tapi apa yang ibu dapat kali ini??”

“Sayang ….” Rio tercekat. Ia tidak mampu lagi berkata kata. Pikirannya sejenak melayang pada Wulan yang pasti juga akan hancur saat mendengar berita ini. Rio menunduk.

Dan kini, Ratna dihadapannya membisu. Tanpa tangis, tanpa sepatah katapun terucap dari mulutnya. Rio memberanikan diri menggenggam tangan Ratna

“Apa kabar anak anak Bu ….?” tanya Rio pelan.

Ratna masih membisu, semakin menundukkan kepalanya seolah ingin bersembunyi dari keadaan yang kini menderanya

“Mereka sehat kan? Ayah minta tolong, ibu harus bersikap bijak pada mereka. Jangan biarkan mereka juga merasakan dampak dari apa yang tengah menimpa kita kini ….”

Ratna masih tetap membisu, namun Rio tau, isterinya sangat mengerti akan apa yang harus dilakukannya saat ini.

“Ibu percaya Ayah tidak bersalah kan?” tanya Rio, memberanikan diri mengajukan pertanyaan yang mungkin akan membangkitkan kembali luka hati Ratna

“Pemeriksaan sudah selesai. Lusa adalah sidang pertama Ayah .. Ayah minta ibu tetap kuat .. Ayah perlu ibu saat ini ..”

Ratna terisak. Rio merasakan genggaman Ratna pada tangannya.

“Ibu percaya Ayah tidak bersalah …” satu kalimat singkat terlontar dari mulut Ratna. Kalimat yang mampu memberikan setetes kekuatan di hati Rio. Rio tersenyum.

“Terimakasih sayang ….” Bisik Rio penuh haru

“Ayah …” ujar Ratna pelan

“Ibu tidak bisa tinggal diam. Ibu ingin membantu Ayah, tapi ibu sendiri tidak tahu apapun tentang permasalahan ini …. ” Rio menunduk. Ia mengerti kemana arah pembicaraan Ratna selanjutnya

“Tolong ceritakan ada apa sebenarnya … Tempat kejadian pelecehan itu .. apartemen milik siapa? Apa yang Ayah lakukan disana? Kemana Ayah setelah kejadian itu sampai perlu sekian lamanya Pam Internal mencari keberadaan Ayah?” tanya Ratna

“Ibu tidak bisa membantu kalau Ayah menyembunyikan sesuatu dari ibu…”

Rio menatap mata Ratna dalam dalam. Haruskah ia ceritakan semuanya pada Ratna? Tentang Wulan? Tentang anak mereka? Haruskah ia menyakiti hati Ratna sekali lagi? Menorehkan luka diatas luka dan menambah kehancuran hati Ratna semakin dalam?

Seperti mengerti apa yang berkecamuk dipikiran Rio, tiba tiba Ratna berkata

“Ibu siap … siap mendengarkan kepahitan dibalik kebenaran yang akan Ayah sampaikan …” Ratna melanjutkan

“Sejak awal kita berjanji untuk tidak menyimpan rahasia apapun Yah .. maka ini saatnya Ayah membuktikannya …”

Rio meneteskan sebulir air mata, mengecup punggung tangan Ratna penuh cinta

“Maafkan Ayah sayang …. Ayah sangat mencintai ibu, jangan pernah lupa itu …” bisik Rio terbata

“Tapi Tuhan menuliskan kisah hidup lain untuk Ayah …. yang tidak bisa Ayah tolak …”

Dan cerita mengalir perlahan dari mulut Rio. Tentang pertemuannya dengan Wulan, tentang pernikahan mereka dan tentang seorang anak yang terlahir dari kisah cinta mereka. Rio menceritakan seluruhnya kepada Ratna dengan detail, tidak satu hal pun yang ia tutupi, termasuk apa yang terjadi pada malam ia dan Fani berada di apartemen.

Ratna mendengarkan dengan seksama. Rio tidak tahu apa yang dirasakan Ratna saat ini, namun raut muka Ratna terlihat tenang. Sesekali ia menunduk dan memejamkan mata, namun tidak sedikitpun reaksi emosi tergambar dalam sikapnya.

Rio menutup ceritanya dengan satu helaan nafas dalam, seakan seluruh beban rahasia yang selama ini ia simpan telah sirna. Ia menunggu reaksi Ratna yang kini menatapnya tajam.

“Apakah Wulan sudah tahu tentang masalah ini?” tanya Ratna. Rio menggeleng

“Ia salah satu saksi kunci yang mungkin menyimpan sesuatu yang bisa kita gunakan sebagai pembelaan di pengadilan nanti Yah” lanjut Ratna

“Seorang isteri kedua yang dilarang dalam dinas?” tanya Rio bingung

“Ibu yakin? Salah salah nanti justru akan digunakan Fani untuk menambah berat tuduhan pada Ayah bu …”

“Tidak harus orang lain tau …” jawab Ratna. Ia memikirkan sesuatu yang akan segera ia laksanakan untuk meringankan beban Rio

“Bu …” bisik Rio. Ratna menatap suaminya lekat lekat.

“Ayah ingin bertanya apa yang ibu rasakan sekarang?” tanyanya getir “Sakit … perempuan mana yang rela membagi suaminya dengan wanita lain? Mengetahui suaminya menyembunyikan pernikahan lain dan memiliki anak dari hasil hubungan rahasia itu? Apa kurangnya Ibu Yah? Sampai Ayah harus memiliki dua isteri sekaligus?”

Rio menunduk menghindari tatapan tajam Ratna kepadanya.

“Tapi ibu tidak akan memikirkan itu sekarang ….” lanjut Ratna dengan suara bergetar

“Yang ibu pikirkan hanyalah membebaskan Ayah dari semua tuduhan palsu ini.. itu saja.”

Ratna melepaskan tangannya dari genggaman Rio dan berbalik meninggalkan Rio. Waktunya tidak banyak. Ia harus menemukan Wulan sebelum sidang Rio dimulai.

“Apa yang sebenarnya kamu inginkan Fan?” tanya Mala seraya memperhatikan Fani yang tengah menandatangani berkas berkas yang diajukan Purba. Berkas tuntutannya untuk Rio yang akan segera disidangkan dalam waktu dekat “Bukankah awalnya kita melakukan ini just for fun?”

“Ya .. memang” jawab Fani tanpa menatap Mala “Ini baru mulai Fun, Mala … dengar, Aku Fani .. Aku tidak pernah gagal mendapatkan apa yang aku inginkan .. Aku hanya ingin Rio untukku .. itu saja. Setelah ia merasakan akibat penolakannya atas diriku, maka aku akan membuangnya jauh jauh .. Tapi saat ini, ia harus tahu, aku tidak suka penolakan”

Mala menyeringai. Fani adalah sahabatnya dalam suka dan duka. Ia faham betul apa yang dirasakan Fani saat ini.

“Kamu yakin ini semua akan berhasil?” tanya Mala ragu

“Tentu …” jawab Fani

“Tinggal satu langkah lagi .. membuktikan bahwa ada wanita lain selain isterinya disamping Rio … bila sudah aku dapatkan kepastiannya, maka Rio tidak akan berkutik lagi”

“Dan setelah itu? Kamu berharap Rio akan menjadi milikmu?” tanya Mala lagi

“Tidak juga ….” jawab Fani sinis “Aku sudah punya segalanya. Aku hanya ingin Rio merasakan betapa terhinanya aku saat ia menolakku .. Itu saja sudah cukup bagiku”

***

Wulan mengangkat kedua kakinya, meletakkannya pada tumpukan bantal di ujung Sofa ruang tamu yang ia duduki saat ini. Kedua tungkainya terlihat membengkak. Wulan menghela nafas, melirik ibunya yang tengah menimang Duma, anak laki lakinya dengan Rio. Ia memang meminta ibunya untuk berganti menggendong Duma sementara ia sejenak menghilangkan penat.

Hampir satu minggu sejak Rumah Sakit mengizinkannya pulang membawa Duma. Dan ia belum juga menerima kabar dari Rio. Wulan mencoba menepis firasat buruk yang mulai ia rasakan sejak kepergian Rio meninggalkannya di Rumah Sakit.

Rio seorang suami yang luar biasa. Ia selalu ada untuk Wulan disaat sulit sekalipun, dan tidak pernah membiarkan Wulan seorang diri. Bila kali ini Rio terpaksa meninggalkannya, Wulan menduga pasti ada sesuatu yang teramat penting untuk dikerjakan. Tugas negara mungkin, batin Wulan dalam hati, mencoba menghilangkan prasangka buruk dalam hatinya. Ia ingat pesan Rio untuk selalu sehat demi menjaga buah hati mereka. Emosi seorang ibu sangat berpengaruh pada anak, itu yang ia ketahui dari beberapa literatur yang pernah dibacanya. Wulan tidak ingin ASI nya berkurang, atau membuat Duma menjadi rewel atau sakit.

Wulan sesaat memejamkan mata, namun kembali membukanya saat ia mendengar suara seorang wanita menyapa ibunya di teras rumah. Wulan bangkit dari sofa dan berjalan keluar dari ruang tamu.

“Wulan …” ujar ibunya “Ada seseorang mencarimu, nak …”

Wulan melihat seorang wanita cantik berdiri dihadapan ibunya. Hatinya berdesir, jantungnya berdegup kencang. Ia mengenali wanita itu sebagai Ratna, isteri Rio. Wulan sangat mengenalnya dari semua foto yang Rio tunjukkan kepadanya, dan beberapa cerita yang pernah Rio ungkapkan kepadanya.

Perlahan Wulan mendekati ibunya dan meraih Duma kedalam gendongannya. Wulan mendekati Ratna. Ia tidak tahu apa tujuan Ratna datang menemuinya. Apakah Rio sudah menceritakan perihal keberadaannya dan Duma? Ataukah Ratna mengetahuinya tanpa sengaja dan datang untuk meminta penjelasannya?

“Selamat pagi, Wulan ….” sapa Ratna seraya tersenyum. Wulan tidak dapat menebak apa arti senyuman Ratna sesungguhnya

“Selamat pagi …..” jawab Wulan canggung

“Dan ini .. bayi lucu dan tampan ini … siapa namanya?” tanya Ratna seraya mengelus rambut Duma dengan lembut

“Duma ….” jawab Wulan hati hati

“Saya tahu, kamu pasti sudah mengenal saya …” ujar Ratna “Saya Ratna, isteri Rio …”

Wulan mengangguk perlahan. Ia benar benar tidak tahu apa yang harus dilakukannya. Ibu Wulan dengan tatapan tegang memperhatikan mereka dari balik pintu. Apa yang diperkirakannya selama ini akhirnya terjadi.

“Silahkan masuk, mba … ” ajak Wulan kepada Ratna.

“Kita duduk di teras saja kalau kamu tidak keberatan …” jawab Ratna.

Mereka duduk di kursi teras, setelah Wulan menyerahkan Duma kepada ibu. Tanpa.diketahui Wulan dan Ratna, ibu Wulan mencoba mencuri dengar pembicaraan mereka dari balik jendela ruang tamu bersama kedua adik Wulan, Juna dan Fiska.

“Mas Rio sudah menceritakan semua hal tentangmu padaku, Wulan ….” ungkap Ratna mengawali pembicaraan

“Ia juga yang memberikan alamat dimana aku bisa menemuimu …”

Wulan menunduk “Maafkan saya mba ….” bisik Wulan pelan

“Saya … saya tidak bermaksud untuk merebut Mas Rio dari mba Ratna ….”

“Oh ya?” tanya Ratna sinis. Nada suaranya meninggi

“Kalau kamu berada di posisi saya … apa yang kamu rasakan saat suamimu memiliki cinta selain dirimu? Apakah kamu bisa menerimanya dengan ikhlas diatas kata kata penghiburan ‘aku tetap mencintaimu’ dan ‘takdir mempertemukanku dengannya’ ??”

Wulan semakin menunduk. Entah mengapa ia memutuskan untuk menerima apapun yang akan dilakukan Ratna padanya, tanpa sedikitpun keinginan untuk mengeluarkan kata bantahan

“Mas Rio seorang pria beristeri saat kamu menerima pinangannya, dan kamu tahu itu …” lanjut Ratna

“Harusnya, sebagai seorang wanita kamu bisa lebih mengerti apa yang aku rasakan saat ini .. Tidak bisakah kamu memilih laki laki lain yang belum berkeluarga?”

“Saya mencintai mas Rio mba … Bukan yang lain” bisik Wulan seraya menunduk

“Maafkan saya yang tidak kuasa menolak perasaan itu mba .. maaf ..”

Ratna menghela nafas panjang. Rio sudah menceritakan seperti apa Wulan, termasuk seluruh sifat dan kepribadiannya. Dan kini, ia berhadapan langsung dengan wanita yang juga amat dicintai Rio. Cemburu, sakit hati, amarah … semua bergabung menjadi satu. Namun Ratna mencoba menepis seluruh perasaan yang berkecamuk di dadanya, dan memikirkan Rio yang kini tengah menunggu sidang tuntutan yang akan dijalaninya dalam waktu dekat

“Wulan … Mas Rio membutuhkanmu …” ujar Ratna perlahan. Nada suaranya mulai menurun. Wulan menengadah, menatap Ratna dengan tatapan tidak mengerti

“Maksud mba ….” tanyanya

“Ada apa dengan mas Rio, mba?”

Ratna menceritakan seluruh kejadian yang menimpa Rio dan keadaan Rio saat ini. Wulan mendengarkan seluruh cerita Ratna. Tatapannya nanar, melukiskan kegundahan hatinya. Wulan mencoba menghubungkan seluruh kejadian yang ia alami disaat saat terakhir ia bersama Rio

“Bagaimana kabar mas Rio sekarang mba …?” tanya Wulan dengan derai air mata diakhir cerita Ratna “Saya ingin menemuinya”

“Tidak bisa” jawab Ratna cepat

“Keadaanmu hanya akan memberatkan mas Rio. Di instansi mas Rio, tidak diperbolehkan memiliki 2 isteri, Wulan .. ingat itu”

Wulan mengangguk. Ia sangat mengerti hal ini, karenanya dengan penuh kesadaran ia tetap menyembunyikan keberadaannya dari dunia Rio. Demi kebaikan Rio dan keluarganya

“Dengarkan saya baik baik Wulan” ujar Ratna

“Kumpulkan sebanyak mungkin bukti yang bisa meringankan mas Rio. Apartemen itu milikmu, kamu saksi mata yang melihat apa yang terjadi malam itu .. Aku yakin, kamu pasti bisa menemukan sesuatu”

“Aku antar kakak kemanapun yang kakak butuhkan” suara Juna tiba tiba terdengar. Wulan dan Ratna menoleh, melihat Juna sudah berdiri di ambang pintu

“Maafkan Juna mba.. seharusnya Juna menceritakan tentang mas Rio lebih awal …”

“Jadi … kamu tau ….?” tanya Wulan tercekat

“Mas Rio melarang Juna untuk memberitahukan kepada mba Wulan .. Mas Rio dijemput Petugas saat terakhir di Rumah Sakit menemani mba Wulan …” jelas Juna

“Juna mendapatkan perkembangan informasi mas Rio dari teman Juna yang kebetulan berdinas di tempat yang sama dengan mas Rio”

Wulan menatap Ratna dan bertanya “Siapa wanita ini sebetulnya mba …? Mas Rio tidak pernah sekalipun bercerita tentang tugas tugasnya .. Saya benar benar tidak tahu …”

Ratna menatap Wulan heran. Sedetik ia merasa cukup berbangga bahwa Rio hanya mempercayai dirinya untuk berbagi hal hal yang sangat pribadi. Tidak ada satu hal pun yang terlewatkan, seluruh tugas Rio, suka dan dukanya, Rio selalu menceritakan semuanya kepada Ratna. Untuk hal ini, Ratna merasa satu tingkat lebih penting dibandingkan Wulan.

“Menurut Mas Rio, wanita ini bernama Fani. Partner kerja mas Rio untuk proyek besar kantornya. d0natur (jadi d0natur HANYA melalui admin, BUKAN lewat staff lain) utama yang tanpanya, semua acara akan terancam gagal” jelas Wulan

“Ia teman mas Rio semasa SMA .. isteri dari musisi terkenal almarhum Evan”

Wulan membelalakan matanya. Rasa dingin menyerangnya. Memorinya terbawa kepada kejadian beberapa waktu lalu yang hampir mengancam keutuhan Rumah Tangganya bersama Rio.

“S .. siapa? E ..Evan …?” ulang Wulan terbata.

Tidak hanya wulan, Juna, Fiska dan ibunya serempak terkejut. Nama Evan benar benar merupakan momok bagi keluarga mereka.

Ratna menatap wajah Wulan yang pucat pasi “Ya … isteri mendiang Evan” ulangnya “Apakah … ada sesuatu yang kalian ketahui?”

Wulan menarik nafas dalam. Dengan susah payah ia menceritakan kembali tragedi yang menimpa mereka karena Evan .

Juna memacu mobilnya dengan hati hati menuju apartemen Wulan dan Rio. Fiska duduk disampingnya dengan raut wajah cemas. Pembicaraan antara mereka dan Ratna tadi rupanya kembali membangkitkan kekuatiran, sekaligus kenangan buruk di hati Fiska. Juna dapat mengerti.

Evan pernah berlaku sangat keji kepada keluarga mereka, dan bukan mustahil jika isteri Evan juga memiliki maksud yang sama. Juna melirik suasana di kursi belakang melalui kaca spion tengah. Ia melihat Ratna dan Wulan duduk disisi kiri dan kanan, dengan pandangan keduanya menatap keluar jendela di sisi mereka masing masing. Juna tidak dapat menebak apa yang tengah mereka fikirkan.

Sementara si kecil Duma tetap tertidur di dekapan Wulan dengan sangat nyaman. Sedikit trenyuh terselip di hati Juna. Rio tentunya sangat sedih karena belum sempat sekalipun menimang buah hatinya. Juna berharap seluruh permasalahan ini dapat segera selesai.

Tanpa terasa mobil memasuki pelataran parkir apartemen. Juna memarkir mobilnya tidak jauh dari lobby, sehingga Wulan tidak terlalu lama berjalan menuju apartemen. Juna kuatir luka operasi di perut kakaknya belum sembuh benar, sehingga dapat menimbulkan rasa sakit bila Wulan harus berjalan terlalu jauh. Mereka turun dari mobil dan berjalan pelan menuju bagian dalam apartemen. Tangisan Duma terdengar tiba tiba. Wulan mencoba menenangkan dengan menimang lembut Duma dalam dekapannya, namun bayi mungil itu tidak berhenti menangis.

“Kemarilah, biar aku gendong Duma …” ujar Ratna lembut. Wulan menoleh dengan tatapan ragu

“Tidak apa .. kamu masih sulit berjalan dengan bekas luka operasi yang belum berumur 1 bulan. Percayalah, aku tau seperti apa rasa sakitnya, apalagi dengan menggendong bayi seperti itu ….” lanjut Ratna.

Wulan tersenyum canggung. Ratna meraih Duma dengan sangat hati hati dan Wulan membiarkannya berpindah ke dalam pelukan Ratna. Fiska segera menghampiri, membantu memapah Wulan yang mulai merasakan sakit pada bekas operasinya.

“Duma haus …” ujar Ratna

“Mungkin sesampainya di apartemen, kamu harus memberinya ASI segera, Wulan”

“Iya mba ….” jawab Wulan. Ia pun merasakan payudaranya sudah mulai membengkak, menandakan waktunya Duma untuk meminum air susunya.

Lift membawa mereka menuju apartemen Wulan dan Rio. Wulan membuka kuncinya dan mempersilahkan semua untuk memasuki ruang tamunya. Wulan menoleh kearah kamar tidur yang terbuka, memperlihatkan tempat tidur yang porak poranda. Wulan memejamkan mata, sekelebat bayangan peristiwa malam itu yang ia saksikan dengan mata kepala sendiri membuatnya sedikit merasa tidak nyaman.

“Wulan …” suara Ratna menyadarkannya “Apakah … kau mengingat sesuatu?”

Wulan menatap Ratna dengan pandangan terluka

“A .. aku … malam itu aku menyaksikan sendiri mereka …

” Wulan terbata mencoba menjelaskan kepada Ratna “Mereka .. mas Rio dan .. dua wanita itu ….”

“Dua???” tanya Ratna nyaris terpekik

“Maksudmu … ada dua wanita bersama Mas Rio malam itu?”

“Ya …” jawab Wulan mantap

“Aku tidak tahu pasti siapa mereka mba … Apakah salah satu diantaranya Fani .. atau ..”

Ratna menunduk. Rio tidak menjelaskan ada dua wanita bersamanya. Bagaimana mungkin ia masih menutupi informasi penting seperti ini sementara bisa jadi ini dapat mereka gunakan sebagai barang bukti yang meringankan di pengadilan nanti.

“Kamu yakin dengan apa yang kamu lihat Wulan?” tanya Ratna lagi

“Karena itu malam hari dan .. mungkin kamu berada pada posisi yang tidak bisa melihat dengan jelas”

“Yakin mba … Aku berdiri tepat di posisi ini saat itu .. dan .. mereka tidak menyadari …” Wulan tercekat. Kembali bayangan Rio berkelebat. Rio yang saat itu menunjukkan wajah penuh kenikmatan.
Suara tangis Duma kembali terdengar, kali ini cukup keras.

“Wulan, berilah Duma ASI dulu ..” saran Ratna

“kita duduk di sofa dulu sambil membicarakan hal ini”

Wulan mengangguk, kembali meraih Duma kedalam gendongannya dan bersama Ratna menuju kearah ruang TV.

Ratna memandang sekeliling. Jadi disinilah Rio tinggal bersama Wulan saat ia bertugas ke Jakarta. Ratna tidak pernah sekalipun merasa curiga dengan kepergian Rio. Rio selalu mudah dihubungi, pulang tepat waktu, dan tidak ada sedikitpun perubahan yang terjadi pada sikapnya. Bahkan dengan apartemen selengkap ini, sedikitpun Ratna tidak pernah merasa Rio mengurangi nafkah untuknya, lahir dan batin.

Keuangan rumah tangga mereka tidak pernah bermasalah, bahkan kehidupan seks pun berjalan dengan penuh gairah. Rio selalu bisa menjadi suami yang romantis dan menyayangi keluarga selayaknya.

“Berapa lama kalian …. berumah tangga….?” tanya Ratna pelan, mengejutkan Wulan yang tengah serius memberikan ASI kepada Duma. Wulan menatap Ratna cemas. Haruskah ia menjawab jujur pertanyaan Ratna ini? batinnya dalam hati

“Tidak apa apa … jawablah sejujurnya .. aku siap mendengarkan semua kejujuran darimu, seperti aku menerima semua kejujuran dari mulut suamiku …” Ratna seolah bisa membaca apa yang tengah berkecamuk dalam pikiran Wulan.

Bersambung