Drama Threesome Part 33

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25
Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Part 32Part 33Part 34Part 35
Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40

Cerita Sex Dewasa Drama Threesome Part 33 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Cerita Sex Dewasa Drama Threesome Part 32

Rio berlari menuju ruang operasi Rumah Sakit Ibu dan Anak Hermina. Disana ia disambut oleh kedua orang adik Wulan,.Fiska dan Juna, dengan wajah cemas.

“Mas .. dari mana saja? Apa yang terjadi sebenarnya?” tanya Juna menyambut kedatangan Rio dengan berondongan pertanyaan

“Bagaimana .. bagaimana ceritanya bisa seperti ini?” Rio balik bertanya “Bagaimana keadaan Wulan? Anakku? Mereka sehat sehat saja?”

“Lho .. mas bagaimana sih? Semalam mba Wulan pamit menunggu mas di apartemen. Kami juga kaget tiba tiba dapat telepon dari Rumah Sakit kalau mba Wulan akan operasi. Dan mas Rio malah tidak ada disini” ujar Fiska terheran heran

Rio tersentak. Jadi Wulan .. Wulan ada di apartemen malam itu. Apakah Wulan melihat apa yang telah terjadi? Rio membatin penuh kecemasan.

Pagi tadi ia terbangun dengan tubuh tanpa busana dan Fani serta seorang wanita lain yang juga tanpa busana berada dalam satu tempat tidur dengannya. Rio nyaris tidak dapat mengingat dengan jelas apa yang telah terjadi. Ia hanya ingat secara samar ia melakukan hubungan seksual dengan Fani dan wanita itu semalam, dan bercak mani serta kondisi kasur yang berantakan menjadi saksi serunya pertempuran semalam.

Rio tidak habis pikir mengapa ia bisa sebodoh itu terjebak dalam permainan Fani. Namun ia tidak berlama lama menunggu kedua wanita disampingnya sadar. Ia langsung teringat Wulan dan bergegas keluar apartemen untuk menjumpai Wulan. Rio tidak memperdulikan HP nya yang raib entah kemana. Tidak penting. Ia hanya ingin berjumpa dengan Wulan, isterinya tercinta. Namun sesampainya dirumah, ibu Wulan memberitahukan bahwa Wulan ada di Rumah Sakit, dan Rio segera menuju kesini.

“Detak Jantung bayinya melemah karena Mba Wulan kehilangan banyak air ketuban” jelas Fiska seraya menghampiri Rio yang terduduk lemas

“Dokter tidak punya pilihan lain selain operasi segera. Kondisi Mba Wulan juga tidak baik Mas, Tekanan Darahnya sangat tinggi. Dokter bilang mungkin mba Wulan stress”

“Mas, apa yang sebenarnya terjadi?” tanya Juna “Mas Rio kemana semalam?”

Rio terdiam menunduk, tidak mampu menjelaskan apa yang telah terjadi pada dirinya dan Wulan. Rio tahu, semenjak kejadian Evan, Wulan sangat rapuh. Cukup lama ia berada dibawah pengawasan psikolog untuk menghilangkan traumanya. Dan kini, Rio kembali menorehkan luka dihati Wulan. Rio sangat yakin Wulan mengetahui kejadian malam itu antara dirinya dan Fani.
Pintu kamar operasi terbuka, seorang perawat mempersilahkan mereka masuk untuk menemui dokter.

“Putera bapak laki laki, lahir dengan kondisi normal, hanya saja masih harus dirawat dalam inkubator karena belum cukup usia kelahirannya.” jelas dokter panjang lebar

“Sementara Bu Wulan terpaksa harus kami rawat secara intensif di ruang HCU karena Tekanan Darahnya yang sangat tinggi. Hal ini bisa memicu keracunan kehamilan atau pre eklampsi yang berakibat fatal jika tidak ditangani dengan serius”

Tubuh Rio menggigil. Fiska mulai menangis sementara Juna memeluk tubuh adiknya mencoba menenangkan.

“Bisakah saya bertemu isteri saya Dok?” tanya Rio dengan suara bergetar

“Silahkan Pak Rio, satu per satu ya, jangan berbarengan” lanjut dokter “Bu Wulan sangat perlu istirahat, hindari membuatnya stress”

Rio mengangguk. Ia berjalan perlahan mengikuti dokter menuju ruang HCU. Tubuh Wulan terbaring dengan mata terpejam. Nafasnya teratur, selang oksigen menempel di hidungnya sementara dua botol infus tergantung di sampingnya, mengalirkan cairan melalui selang kedalam pergelangan tangannya.

Rio membelai rambut Wulan penuh sayang. Wajah isterinya terlihat sangat pucat. Rio tidak bisa membayangkan apa yang dirasakan isterinya malam itu di apartemen mereka. Wulan pasti sangat terluka. Ia yang menyebabkan isterinya berada dalam kondisi seperti ini.

“Bunda ….” bisik Rio seraya menggenggam tangan Wulan dengan cemas “Maafkan Ayah ….”

Wulan tidak menjawab, tidak pula membuka matanya. Rio hanya melihat setetes air mengalir disudut mata Wulan. Rio sangat mengerti, saat ini ia tidak dapat melakukan apapun untuk menyembuhkan hati Wulan dan kondisi fisiknya sekaligus. Rio terdiam, duduk menunggu sampai Wulan mau membuka matanya dan menerima maafnya untuk yang kesekian kali.

Fani membuka matanya, menatap sekeliling seraya mencoba mengingat dimana ia berada. Sudut matanya menatap sosok tubuh Mala yang masih terlelap tanpa busana. Ia bangkit, meraih pakaiannya yang berserakan di lantai dan mengenakannya. Kemana Rio, batinnya dalam hati.

Fani melangkah ke luar kamar, mencari sosok Rio yang mungkin berada di ruang lain di apartemen ini. Ia menyapukan pandangan sekeliling, mengamati setiap detail apartemen yang tertata sangat rapi. Ia melangkah ke arah dapur, ruang TV sekaligus ruang tamu, kamar mandi, namun tetap tidak menemukan sosok Rio disana. Tampaknya Rio pergi meninggalkan mereka saat ia dan Mala masih tertidur lelap

“Fan …” Fani menoleh, melihat Mala yang sudah berpakaian melangkah keluar kamar “Kemana Prince Sexy kita?” tanya Mala

“Sudah pergi ..” sahut Fani datar “Mala .. Dia sama sekali tidak terkesan dengan permainan semalam …”

“Tapi kau benar .. dia luar biasa. Bisa memberikan kepuasan pada kita berdua tanpa Ejakulasi terlebih dahulu .. luar biasa” ujar Mala mengingat kembali kenikmatan yang sudah diberikan Rio semalam “Bisakah kita mengulanginya lagi?”

“Tidak semudah itu ..” gumam Fani “Ingat .. ia berada dibawah pengaruh obat semalam. Dia belum benar benar menikmati hubungan sex dengan kita Mala”

Fani memutuskan untuk segera meninggalkan apartemen Rio. Ia meraih kunci apartmen Rio yang masih menggantung di pintu dan segera turun melalui lift. Di pintu lobby ia meminta sedikit informasi pada satpam yang bertugas.

“Maaf Pak .. kunci kamar 301 sepertinya tertinggal di pintu .. mungkin pemiliknya tergesa gesa pergi” ujar Fani seraya tersenyum manis pada satpam

“Oh ya .. terimakasih Bu. Biar kami simpan dulu. Pak Rio memang pergi tergesa karena isteri beliau akan melahirkan”

Fani tertegun. Melahirkan? Pikirannya melayang saat pertemuan pertamanya dengan Rio yang saat itu tengah berada di toko perlengkapan bayi. Mengapa isteri Rio ada disini? Bukankah Pak Heri bilang bahwa Rio memiliki isteri dan dua orang anak di kota lain?

“Maaf ibu ….?” satpam menanyakan identitas Fani

“Saya nyonya Evan, pemilik apartemen di 322” jelas Fani

Satpam mengangguk. Ia mengenal Evan sebagai salah satu pemilik apartemen yang sudah lama tidak terlihat lagi.

Fani beranjak kearah parkir basemen bersama Mala. Pikirannya masih melayang ke informasi yang baru saja ia peroleh. Ia harus mencari tau apa yang disembunyikan Rio. Fani memacu mobilnya kembali ke rumah mewahnya.

Di lantai lobby, seorang satpam lain mengamati CCTV apartemen, memutar kembali rekaman peristiwa semalam. Ia mengenali wajah Fani yang bersama Rio dan seorang wanita lain memasuki apartemen Rio melalui basement sekitar pukul 8 malam tadi. Pada jam berbeda menjelang tengah malam CCTV merekam kedatangan Wulan memasuki apartemennya dan tidak lama kemudian, ia sendiri yang mengantar Wulan menuju Rumah Sakit. Satpam tersebut menimbang nimbang apa yang harus dilakukannya.

Rio berdiri mematung menatap inkubator tempat bayinya berada. Bayi laki laki itu sangat kecil dan tergolek lemah. Dokter menyatakan kondisi anaknya dalam keadaan baik, jauh lebih baik dari keadaan Wulan ibunya. Rio belum memikirkan nama untuk puteranya ini. Ia ingin merangkai nama bersama Wulan bila Wulan sadar nanti.

Dokter sengaja memberikan obat penenang untuk Wulan karena tekanan darahnya yang tidak kunjung turun. Dokter memutuskan untuk memindahkan Wulan ke ruang ICU, ruang perawatan khusus setingkat lebih tinggi dari HCU agar Wulan mendapatkan perhatian yang lebih serius. Di ruang ini, Rio tidak diperkenankan untuk menunggu disamping Wulan

“Percayakan kami yang merawat isteri bapak” ujar kepala perawat tadi

“Lebih baik bapak pulang, bergantian menunggu dengan kerabat yang lain. Saat jam besuk nanti bapak boleh melihat isteri bapak kembali”

Namun Rio tidak ingin meninggalkan Wulan. Ia lebih memilih duduk di ruang tunggu, sesekali melihat keadaan bayinya di ruang perawatan bayi. Dua belahan jiwanya berada di rumah sakit ini, dan Rio tidak ingin sedetikpun melewatkan perkembangan kesehatan mereka.

Rio meraih HP dari sakunya. Sebelum pulang tadi Fiska menyerahkan HP miliknya yang sebelumnya ia anggap telah hilang

“Mba Wulan menitipkan ini padaku sebelum masuk ruang operasi kemarin Mas” jelasnya “Aku tau ini HP milik mas Rio”

Rio memeriksa HP miliknya. Berpuluh miss call dan chat tidak terjawab, termasuk dari Ratna dan Pak Heri atasannya. Rio tidak tahu apa yang harus ia jelaskan pada mereka tentang keadaan ini.

Apa yang harus ia perbuat pada Fani? Menjauh darinya akan berdampak pada perhelatan akbar kantornya, sementara setelah kejadian di apartemen rasanya tidak mungkin bagi Rio untuk menemani Fani lagi. Lalu pada Ratna, apa yang harus ia katakan? Bahwa ia telah berhubungan sex dengan dua wanita lain dan menyebabkan isteri keduanya dalam kondisi kritis? Apa reaksi Ratna nanti? Lalu kepada Pak Heri? Apa yang akan dikatakan boss nya itu tentang Fani dan Wulan?

Rio mengepalkan tangannya menahan amarah. Pada kondisi ini, biasanya Wulan selalu bisa memberikan solusi terbaik bagi permasalahannya. Wulan partner komunikasi yang sangat handal, pendengar yang baik, penasihat utama Rio. Rio tau ia sangat membutuhkan Wulan saat ini. Namun Wulan justru tergolek tak berdaya karena kebodohan Rio sendiri. Dan kalaupun Wulan sadar, Rio tidak yakin jika isteri tercintanya itu masih mau berkomunikasi dengannya.

Rio duduk termenung saat HP nya kembali berdering. Dari Pak Heri. Sejenak Rio menimbang nimbang akankah ia menjawab telepon itu ataukah tetap mengabaikannya seperti hari sebelumnya. Ia memejamkan mata. Ia seorang patriot yang dididik untuk bertanggungjawab atas apapun yang telah dilakukannya. Rio menarik nafas panjang dan memutuskan untuk berkomunikasi dengan atasannya.

“Ada tuntutan yang datang dari Bu Fani bahwa kamu telah memperlakukannya dengan tidak senonoh selama bertugas di Jakarta” Pak Heri menjelaskan setelah mendengar sedikit keterangan tentang keberadaan Rio saat ini. Rio terdiam.

“Yo ..” lanjut Pak Heri

“Aku telah bekerja sama denganmu sangat lama .. kamu bawahanku yang luar biasa. Sepenuh hati aku percaya kamu tidak mungkin melakukan hal seperti yang dituduhkan oleh Bu Fani.”

Rio masih terdiam. Mendengarkan satu persatu perkataan Pak Heri dengan seksama. Ia sangat menghargai atasan yang dikenalnya memiliki pribadi yang sangat bijaksana

“Tapi kamu tau prosedur instansi kita Yo” lanjut Pak Heri lagi “Kembalilah, dan beri penjelasan dihadapan semua pihak yang berwenang. Jalani semua dan yakin, yang benar akan menang”

“Bagaimana … kalau saya tidak bisa kembali saat ini Pak? Saya perlu waktu .. ada urusan yang harus saya selesaikan saat ini” tanya Rio

“Bu Fani sudah mengajukan tuntutan resmi nya Yo …” jawab Pak Heri.

“Baiklah, aku akan berusaha mengulur waktu. Tapi saat semua berada diluar kekuasaanku, kamu tau apa yang akan terjadi. Segeralah kembali secepatnya setelah urusanmu selesai”

Rio menutup teleponnya. Ia tau jika ia tidak segera datang untuk mempertanggungjawabkan semua, Pam Internal akan segera diutus untuk menjemputnya. Rio bangkit, menuju ruang bayi dan terdiam berlama lama menatap anaknya dalam inkubator.

“Bunda ……” bisik Rio seraya tersenyum saat Wulan membuka mata.

Wulan sudah boleh dipindahkan ke ruang perawatan biasa karena kondisinya yang mulai membaik setelah 2 hari dirawat di ruang ICU. Tekanan darah Wulan sudah kembali normal, hanya saja dokter belum mengizinkan Wulan kembali kerumah. Perlu waktu beberapa hari lagi untuk memantau perkembangan kesehatan Wulan

“Proses kelahiran adalah perjuangan hidup mati seorang ibu. Baik jalan operasi maupun normal, resiko kematian akan selalu ada bagi ibu yang melahirkan anaknya” jelas dokter kepada Rio tadi

“Bersyukurlah Bu Wulan sudah bisa melewati masa kritisnya. Jaga emosinya baik baik Pak Rio, setelah ini, kesehatan emosi ibu sangat diperlukan untuk merawat bayi nya”

“Hai sayang ….” sapa Rio “Bunda tidur lama sekali … apa yang Bunda rasa sekarang?”

Wulan menatap Rio dalam dalam tanpa suara. Rio melihat mata Wulan mulai berkaca kaca.

“Bunda ….” Rio mengecup tangan Wulan dengan lembut

“Bunda jangan berfikir macam macam dulu … Apapun yang Bunda lihat, akan Ayah jelaskan nanti .. percayalah .. Ayah sangat mencintai Bunda …..”

Rio tidak dapat menahan air matanya. Seluruh beban seakan ingin ia lepaskan bersamaan, berkeluh kesah pada Wulan namun ia tau ia belum bisa melakukan itu semua karena kondisi Wulan yang masih sangat lemah

“Ayah sangat mencintai Bunda .. satu yang Ayah minta, Bunda harus sehat .. kuat .. anak kita perlu Bunda …” bisik Rio tersendat

“Jangan pikirkan apapun .. Bunda harus tenang, Ayah tidak akan pernah mengecewakan Bunda .. Ayah akan selalu menjaga Bunda seperti janji Ayah saat menikahi Bunda .. dan akan selalu begitu”

Bulir air mata mulai mengalir deras dari sudut mata Wulan. Rio mengecup kening Wulan penuh sayang. Wulan tersenyum, menyentuh pipi Rio dengan telapak tangannya dan menghapus tetesan air mata Rio disana

“Ayah ….” bisik Wulan lemah

“Bunda lihat … malam itu …”

“Ssshhh” Rio menggelengkan kepalanya, menyentuh bibir Wulan yang pucat

“Sudah sayang .. lupakan dulu semua yang terjadi .. Dengarkan Ayah sayang, akan Ayah jelaskan semuanya setelah Bunda sehat. Saat ini yang terpenting adalah kesehatan Bunda dan anak kita. Hanya satu yang harus Bunda ingat saat ini .. Ayah sangat mencintai Bunda”

Pintu kamar terbuka, Fiska dan Juna melangkah masuk. Keduanya mendekati Wulan dan mencium pipi Wulan yang masih sangat pucat

“Mba …. ” ucap Fiska sambil tersenyum

“Senang sekali melihat Mba Wulan sudah sehat kembali …”

Rio menatap wajah Juna yang terlihat menegang. Ia bangkit dari duduknya, membiarkan Fiska kini duduk disamping tempat tidur menemani Wulan. Rio menghampiri Juna

“Mas ….” bisik Juna hati hati. Ia melirik Wulan yang masih berbincang dengan Fiska di tempat tidur

“Ada dua orang Petugas menunggu mas di luar”

Rio terpaku. Tangannya terkepal. Rahangnya menegang. Ia terdiam menatap Juna dihadapannya.

“Aku meminta mereka tidak masuk kedalam mengingat kondisi mba Wulan yang masih lemah” jelas Juna lagi

“Ada apa sebenarnya mas?”

“Aku harus pergi Juna ..” bisik Rio

“Apapun yang terjadi padaku setelah ini, jangan sampai Mba Wulan tau. Aku akan selalu memberikan kabar kepadamu. Tapi simpan baik baik. Aku tidak ingin terjadi apapun pada isteri dan anakku”

“Mas …” Juna masih ingin bertanya, namun Rio menepuk pundaknya dan segera berbalik mendekati Wulan

“Bunda istirahat ya … Ayah pamit .. Ayah sudah meninggalkan pekerjaan terlalu lama …” bisik Rio. Wulan menatap Rio dengan pandangan mengiba

“Temani Bunda sehari lagi Yah …” ujarnya seraya menggenggam lengan Rio erat

“Bunda mohon sekali ini saja …. Bunda ingin bersama sama Ayah menimang anak kita ….”

Rio menunduk, menghindari tatapan mata Wulan dan menahan bulir air mata yang hampir jatuh kembali

“Bunda …” bisik Rio

“Bunda isteri Ayah yang paling kuat .. Bunda selalu mengerti kondisi Ayah .. maafkan Ayah sayang, kali ini Ayah belum bisa menemani Bunda lebih lama …. ”

Juna membalikkan badannya menghadap jendela, ia tidak ingin kakaknya melihatnya menangis. Fiska beringsut ke samping Juna, ikut menyembunyikan air matanya. Keduanya tidak mengerti apa yang tengah terjadi.

“Ayah sayang Bunda … Ayah berjanji akan segera kembali untuk Bunda dan anak kita” janji Rio. Suaranya bergetar. Ketukan dipintu terdengar. Juna segera beranjak keluar. Ia tau itu adalah Petugas yang menjemput Rio, dan ia harus segera mengulur waktu sampai Wulan dapat melepas Rio pergi.

“Ayah ….” ratap Wulan. Entah mengapa kali ini ia sangat berat melepas Rio pergi

“Sayang .. Beri nama anak kita Duma Bomantara ya … buatkan akta kelahirannya segera. Bunda setuju nama itu?”

Wulan mengangguk. Genggaman tangannya pada lengan Rio mulai mengendur. Rio tersenyum.

“Ayah pergi dulu … Jaga kesehatan Bunda .. jaga anak kita .. Ayah segera kembali setelah urusan Ayah selesai” ujar Rio. Ia mengecup bibir Wulan penuh cinta, membelai rambutnya dan berbalik tanpa menoleh kebelakang menyembunyikan kesedihannya dari tatapan wulan.

“Ayo ..” Rio memberi instruksi pada dua orang Petugas yang menjemputnya. Ia memeluk erat Juna

“Jaga mereka baik baik …” pesan Rio. Juna mengangguk, menatap punggung Rio yang berjalan semakin menjauh.

Bersambung