Drama Threesome Part 32

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25
Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Part 32Part 33Part 34Part 35
Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40

Cerita Sex Dewasa Drama Threesome Part 32 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Cerita Sex Dewasa Drama Threesome Part 31

Rio membuka matanya saat ia merasakan sesuatu yang hangat dan lembut menyentuh bibirnya. Ia melihat wajah Fani yang tengah tersenyum manis padanya.

“Hai Baby ..” bisik Fani .

Rio menegakkan duduknya dan menatap sekeliling. Ia masih berada di kursi belakang dalam mobil yang kini terparkir di suatu basement. Rio mengenali tempat ini sebagai basement apartemennya. Ia menatap Fani dengan pandangan nanar “Kau tertidur sepanjang perjalanan tadi. Kita sudah tiba di apartemenmu” lanjut Fani lembut seraya membelai pipi Rio.

Rio merasakan aliran darahnya berdesir. Rasa hangat segera menyeruak dari dalam tubuhnya dan ia tiba tiba merasa begitu bersemangat. Rasa lelah dan kantuk yang baru saja dirasanya kini telah hilang. Kepalanya terasa ringan, tidak menyisakan sedikitpun rasa sakit yang mengganggunya tadi.

Fani begitu dekat dengannya kini. Rio dapat dengan jelas melihat wajah Fani dihadapannya yang entah mengapa menjadi sangat cantik di mata Rio.

“Apa yang kamu rasakan sekarang Rio? Masih pusing?” Tanya Fani seraya makin mendekatkan tubuhnya kepada Rio.

Rio kini merasakan kenyalnya payudara Fani yang menempel pada dadanya. Ia mengarahkan pandangannya pada dua bukit indah yang sedikit menyembul dari balik kemeja ketat yang dikenakan Fani. Dengan dua kancing teratas dalam posisi terbuka, payudara Fani seakan menggoda untuk disentuh. Nafas Rio mulai terasa berat saat tangan Fani mulai menyentuh dada bidang Rio.

Fani kembali mendekat dan kini Rio bisa melihat Dua paha mulus Fani yang terbuka karena rok mini yang dikenakannya sedikit tersingkap. Rio menelan liurnya, mencoba membasahi tenggorokannya yang terasa kering. Fani menyilangkan kedua kakinya sehingga sedikit lututnya menyentuh penis Rio yang mulai menegang di balik celananya.

Fani memutuskan untuk mencoba memulai aksinya. Ditatapnya kedua mata Rio yang sedari tadi tidak berhenti mengarah pada kedua payudara dan pahanya bergantian. Ia tau, obat Mala mulai bekerja. Namun Fani tetap memutuskan untuk waspada jikalau Rio belum sepenuhnya berada dalam pengaruh obat sehingga tiba tiba menolak keberadaanya.

Perlahan Fani menempelkan bibirnya pada bibir Rio. Melumatnya lembut perlahan, beringsut semakin mendekatkan tubuhnya diatas tubuh Rio. Saat ia merasakan bibir Rio mulai ikut melumat bibirnya penuh nafsu, dalam hati Fani berteriak gembira. Ia berhasil mendapatkan Rio. Dibukanya seluruh kancing kemejanya, membawa tangan Rio dan menyelipkannya kebalik bra hitam yang dikenakannya. Fani merasakan nafas Rio semakin memburu. Tangannya liar meremas remas kedua payudara Fani, membuat Fani mengerang lembut

“Aahh Yooo …” bisik Fani sambil terus menghujani Rio dengan ciuman di daerah leher. Ia sedikit menggerak gerakan pinggulnya, merasakan kerasnya penis Rio pada vaginanya yang berada dipangkuan Rio

“Tidak inginkah kamu merasakan dahsyatnya permainanku Yo? Aku akan memuaskanmu malam ini .. kalau kau mau …” goda Fani dengan desahannya yang terdengar begitu sensual di telinga Rio, semakin membuat nafsu Rio membara. Rio menyelipkan tangannya kini kebalik Celana Dalam Fani, menyentuh vagina Fani yang mulai terasa lembab

“Aahhh … ” desah Fani “Lebih dalam Yo .. lebih dalam …”

Rio terpancing hasrat birahi yang ditimbulkan oleh obat yang tanpa sengaja telah diminumnya. Ia membuka pintu mobil, menarik Fani keluar dari dalam mobil dan sedikit menyeretnya menuju lift di pintu masuk apartemen dari basement tempat mereka berada

“Yo .. sabar …” jerit Fani tertahan, mencoba menutupi dadanya yang terbuka dengan kemeja yang masih menempel pada tubuhnya.

Rio tidak perduli. Ia melumat bibir Fani dalam dalam saat lift melaju ke lantai tempat apartemen miliknya berada. Tangannya tak henti meremas payudara dan bokong Fani penuh nafsu. Fani tidak sanggup berkata kata, menerima serangan kenikmatan yang mulai diberikan Rio padanya. Tidak ingin kehilangan nafsu birahi Rio yang semakin menjadi, Fani mengimbangi dengan menyelipkan pula tangannya ke balik celana Rio, mengusap usap ujung penis Rio yang terasa licin dan basah.

Lift telah tiba di lantai apartemen Rio. Rio tergopoh membuka pintu apartemen dengan kunci cadangan yang selalu ia bawa. Setelah pintu terbuka, ditariknya Fani kedalam kamar, menarik kemeja dan Bra Fani berbarengan, dan langsung melahap puting Payudara Fani bergantian. Fani menggelinjang menikmati rangsangan yang diberikan Rio pada kedua payudaranya.

“Aaahhh Rioooo ….” desahnya “Come on Baby ….”

Rio menarik turun rok mini dan celana dalam Fani, mendorong tubuh mungil Fani sehingga terhempas keatas kasur, menindih tubuh Fani penuh nafsu dengan nafas memburu. Fani terbelalak, tidak menyangka akan reaksi obat yang sedahsyat ini pada Rio.

Namun ia sama sekali tidak keberatan menerima hard sex Rio yang telah lama ia nantikan. Susah Payah Fani melucuti seluruh pakaian Rio di tengah serangan sex Rio yang bertubi tubi. Rio melumat Bibir Fani tanpa memberikan sedikitpun celah bagi Fani untuk bernafas. Tangan Kanannya pada payudara Fani, memainkan kedua puting Fani bergantian. Jemari tangan kirinya mengocok cepat vagina Fani dan tubuh Rio menindih tubuh Fani tanpa ampun

“Mmhhhhhmm .. Mmmhmmffh ..” hanya gumaman yang terus terdengar dari mulut Fani yang masih tertutup rapat oleh ciuman Rio yang membabi buta.

Tiba tiba Rio menghentikan ciumannya, menegakkan badannya dan membalik tubuh telanjang Fani ke posisi menelungkup dengan gerakan cepat

“Awh …” jerit Fani tertahan. Rio beringsut turun kepinggir ranjang, menarik pinggul Fani dengan sekali sentakan dan dengan cepat menghunuskan penisnya kedalam vagina Fani melalui arah belakang

“Aaahhhh ….” jerit Fani lepas “Ooohh Riiioooo …….”

Rio tanpa ampun menggerakan pinggulnya maju mundur dengan cepat, menghunuskan penisnya sedalam mungkin ke vagina Fani dan menariknya kembali berulang ulang. Semakin Fani menjerit nikmat, semakin Rio bersemangat melakukan gerakannya dengan sangat cepat.

Tangan Rio meremas payudara Fani yang padat dan kenyal. Fani berteriak tak terkendali, menikmati tekanan penis Rio pada vaginanya. Ia merasakan kenikmatan yang luar biasa. Penis Rio terasa sangat penuh dalam vaginanya, menggesek dengan cepat, memberikan sensasi yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Ini berkali lipat lebih nikmat dibandingkan dengan Dion, batin Fani dalam hati.

Rio kembali menghentikan serangannya, membalik kembali tubuh Fani ke posisi terlentang. Diangkatnya kedua kaki Fani dan meletakkannya di bahunya, dan kembali menghunuskan penisnya dalam dalam

“Aaaargghh Yoooooo …. uuuhhhh” Fani mulai kewalahan menerima kocokan penis Rio pada vaginanya dengan kecepatan yang sangat tinggi. Rio semakin bersemangat.

Fani semakin menggelinjang hampir mencapai puncak saat terdengar pintu kamar berderik. Rio tidak menghentikan serangannya pada Fani, sementara ditengah kenikmatan yang menyelimutinya Fani menangkap sosok Mala di depan pintu. Dengan terbata seraya meningkahi serangan Rio, Fani memberi isyarat pada Mala untuk masuk

“Ayo … aaahhhhh … Mala …” desis Fani. Suaranya bergetar karena tubuhnya berguncang oleh gerakan pompa Rio yang semakin dahsyat “Ini .. nikmat .. Mala … aaahhhh … uuhh … ”

Nafas Mala memburu menyaksikan pemandangan dihadapannya. Tubuh telanjang Rio yang atletis dan bergerak cepat penuh nafsu menyetubuhi Fani yang terbaring penuh kenikmatan. Luar biasa, akhirnya berhasil juga, bisik Mala dalam hati. Ia melangkah mendekati Rio yang masih bergerak liar di pinggir ranjang, menikmati vagina Fani yang terasa semakin menjepit penisnya.

Mala membuka seluruh pakaiannya satu persatu. Ia ingin juga merasakan servis seks yang dapat dilakukan Rio. Namun ia harus sedikit bersabar, menunggu Fani meraih puncak kenikmatannya.

Mala dan Fani telah merencanakan 3S FFM bersama Rio dengan matang sebelumnya. Mala melangkah menaiki tempat tidur, membuka pahanya lebar lebar sehingga tubuh Fani berada dikedua pahanya dan ia dalam posisi berhadapan dengan Rio. Mala melihat sedikit rona terkejut pada wajah Rio, namun segera hilang saat Mala mulai melumat bibir Rio penuh nafsu. Rio tidak menghentikan gerakannya, tidak perduli pada Fani yang mengerang dan menggelinjang nikmat dihadapannya. Rio meremas dua payudara Mala sementara penisnya tetap lincah mengocok vagina Fani dengan cepat.

“Aaaawwhhh Riooooo …. Ooohhhh ….” Rio merasakan tubuh Fani mulai menegang dan vagina Fani terasa semakin menjepit. Ia tau sesaat lagi Fani akan mencapai puncak kenikmatannya. Rio semakin mempercepat gerakannya, sementara tangannya tetap meremas payudara dan bermain di klitoris Mala bergantian.

“Aaahhhh …” jerit kenikmatan terdengar bersahut2an dari bibir mala dan Fani.

“Come On Fan ….” desis Rio melihat Fani mulai mencapai puncak kenikmatannya

“Aaaahhh Riiioooo … Aaaaaaahhhhhhhhhh” jerit Fani saat mencapai orgasmenya. Seluruh tubuhnya menegang sesaat dan terkulai lemah dengan bulir keringat yang menetes pada tubuhnya.

Rio melepaskan penisnya dari vagina Fani, mengangkat tubuh mungil Mala dan menghempaskannya di samping tubuh Fani. Rio melangkah menaiki ranjang, melumat bibir Mala dan berbisik “Giliranmu sayang … puaskan aku … puaskan aku …”

Mala melancarkan French kiss nya pada Rio. Lidahnya menari lincah menyapu seluruh permukaan mulut Rio. Tangan Mala lembut menggenggam penis Rio dan mengocoknya perlahan. Rio menggumam pelan, ia merebahkan tubuhnya, memposisikan Mala berada diatasnya, dengan Vagina Mala berada tepat didepan mulutnya, Sementara kepala mala berada berhadapan dengan penisnya. Posisi 69. Rio menepis bokong mala seraya berkata “Suck it, Babe !!”

Mala mulai melakukan aksi oral nya pada penis Rio. Dikulumnya lembut penis Rio, menggigit ujungnya perlahan dan menyapukan lidahnya pada permukaan penis Rio. Ia merasakan hal yang sama dilakukan Rio pada vaginanya. Mala mendesah nikmat saat lidah Rio bermain pada klitorisnya dan menyapu seluruh permukaan vaginanya. Ia mengocok pelan penis Rio dengan gerakan mendorong dan menarik, masuk dan keluar rongga mulutnya berulang ulang.

Rio menguak vagina Mala lebar lebar dengan jarinya, memperlihatkan lubang vagina Mala yang merah merekah. Rio memasukkan lidahnya dalam dalam kedalam lubang vagina Mala, memberikan efek jeritan tertahan yang keluar dari mulut Mala. Rio merasakan hisapan mulut Mala pada penisnya semakin menguat. Rio menghentikan aksi oralnya, membalik tubuh Mala, membuka kedua paha Mala lebar lebar dan tanpa ampun menghunuskan penisnya kedalam vagina Mala

“Aaahhhhhhhhhhh” jerit Mala merasakan nikmatnya Penis besar Rio didalam vaginanya. Sesaat ia melirik Fani yang telah tertidur lelap disampingnya. Sebentar lagi, ia akan merasakan pula kenikmatan yang diberikan Rio seperti Fani.

Rio kembali memutar tubuh mungil Mala sehingga berada pada posisi woman on top. Penisnya masih bersarang dalam vagina Mala. Rio meraih pinggul Mala naik turun, memberikan sensasi kocokan lembut pada penisnya.

“Ooohh …” desis Rio mulai merasakan kenikmatan jepitan vagina Mala. Mala memutar pinggulnya dengan lincah, menggerakan maju mundur bergantian dengan gerakan naik turun, mencoba memberikan rangsangan pada klitorisnya melalui gesekan tubuh Rio.

“Ooowwhh …hmm .. Riioo ..” jeritnya penuh kenikmatan.

Payudara Mala bergerak naik turun, menggoda Rio untuk meremasnya penuh nafsu. Genggaman tangan Rio pada payudaranya membuat Mala semakin bernafsu. Gerak pinggulnya semakin cepat dan bertambah kuat. Gerakan yang menimbulkan kenikmatan bagi keduanya, baik Mala maupun Rio.

Gerak mereka semakin cepat .. semakin cepat .. sampai keduanya berteriak nyaris bersamaan “Aaaaaahhhhhhhhhh ….”

Mala merasakan semburat hangat pada vaginanya, cairan sperma Rio yang tidak dapat terbendung karena jepitan dahsyat vagina Mala pada penisnya. Mala rebah diatas tubuh Rio yang terkulai lemas.
Dimuka pintu kamar yang terbuka, sepasang mata menatap nanar tiga tubuh tanpa busana yang tengah terlelap penuh kepuasan ..

Wulan duduk terdiam didalam taksi yang melaju menuju apartemen. Dalam hatinya terselip resah. Hari semakin larut sementara Rio belum juga pulang untuk menjemputnya sesuai janji. Tidak biasanya suaminya bersikap seperti ini. Wulan sudah berkali kali menelepon HP Rio, namun tidak ada jawaban. Wulan akhirnya memutuskan menunggu Rio di apartemen mereka, setelah meninggalkan pesan Whatsapp untuk Rio yang sampai kini belum dibacanya.

“Bunda tunggu Ayah di apartemen. Kasian Ayah kalau sudah selarut ini harus bolak balik menjemput Bunda. Biar Bunda naik taksi saja” Tulis Wulan panjang lebar “Segera pulang ya Yah .. Bunda tunggu”
Taksi berhenti pada lobby apartemen.

Wulan melangkah dengan hati hati menuju lift yang membawanya ke lantai apartemen miliknya. Wulan tersentak saat melihat kunci apartemen masih menempel pada lubangnya dari arah luar. Kunci milik Rio. Wulan mengenali dari gantungan mungil yang menempel di ujung anak kunci. Siapa yang sudah membuka apartemen mereka dengan kunci milik suaminya ini. Apakah Rio ada didalam?

Perlahan Wulan membuka pintu kamar dan menghentikan langkahnya sesaat saat ia mendengar suara erangan wanita dari dalam kamar mereka. Bunyi berderak dan derit ranjang sesekali terdengar. Sempat ia mendengar pula gumaman seorang laki laki. Samar, Wulan mengenalinya sebagai suara suaminya.

Degup jantung Wulan semakin kencang. Ia mendengarkan kembali dengan seksama. Wulan melangkah mengendap, perlahan menjulurkan sedikit kepalanya kearah pintu kamar yang terbuka. Dan .. pemandangan dihadapannya membuatnya terkejut. Dadanya sesak, menyaksikan apa yang tengah dilakukan suaminya dengan dua orang wanita yang sama sekali tidak dikenalnya. Wulan melihat jelas ekspresi puas kedua wanita tersebut saat suaminya menyetubuhi mereka dengan penuh nafsu. Ia melihat jelas pula kepuasan suaminya saat meregang kenikmatan bersama kedua wanita tersebut.

Wulan melangkah mundur, sedikit menjauh di balik tembok kamar saat ia merasakan kontraksi di perutnya. Teriakan dan erangan masih terus terdengar bersahutan dari dalam kamar. Air mata mengalir deras di pipi Wulan. Bagaimana mungkin suami yang sangat dicintainya melakukan hal ini padanya..Wulan sejenak menimbang, akankah ia hentikan hubungan seks ini, ataukah ia lebih baik pergi dan pulang kembali kerumah? Ataukah ia harus melaporkan ini kepada Satpam setempat?

Wulan merasa dadanya semakin sakit. Ia mencoba kembali melihat keadaan saat sudah tidak terdengar lagi suara dari dalam kamar. Dan pemandangan dihadapannya semakin membuatnya terluka. seorang wanita telanjang terlentang disamping Rio sementara seorang lainnya menindih tubuh suaminya yang juga tertidur lelap.

Tiba tiba Wulan merasakan sesuatu mengalir diantara kedua pahanya. Ia menoleh, melihat tetesan air bening pada lantai dibawah tempatnya berdiri. Wulan meraba celana nya perlahan. Ia terkesiap. Basah. Ini air ketuban dan ini berarti ia harus sesegera mungkin menuju rumah sakit. Wulan melangkah memasuki kamar, mengambil HP Rio yang tergeletak di lantai dan bergegas keluar menuju Lobby.

Seorang satpam menyambut Wulan yang keluar dari lift dengan bepegangan pada dinding dan berjalan perlahan

“Bu … ibu kenapa?” tanyanya panik seraya menyangga tubuh Wulan yang terkulai lemah

“Tolong antar saya kerumah sakit sekarang juga Pak … rasanya saya akan melahirkan sekarang” bisik wulan lemah.

Satpam dengan sigap memapah Wulan menuju pintu keluar sementara seorangĀ satpam lain menelepon armada taksi untuk membawa Wulan secepatnya ke Rumah Sakit. Wulan memejamkan matanya, menahan rasa sakit yang mulai terasa dalam perutnya

“Sabar Sayang …” bisik Wulan kepada anak dalam kandungannya “Tunggu sampai Bunda tiba dirumah sakit .. jangan sekarang nak, tunggu …”

Pikiran Wulan sesaat melayang pada Rio, dan setelah itu ia tidak sadarkan diri

Bersambung