Drama Threesome Part 30

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25
Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Part 32Part 33Part 34

Cerita Sex Dewasa Drama Threesome Part 30 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Cerita Sex Dewasa Drama Threesome Part 29

Fani menggenggam erat lengan Rio saat berjalan menuju pintu keluar Bandara Halim. Hal ini dilakukannya sejak mereka berangkat menuju Jakarta. Fani dapat melihat raut wajah keberatan Rio, namun dengan sedikit manipulasi pada kondisi kesehatannya dan dukungan dari Pak Heri atasan Rio, Fani dapat melakukan actingnya dengan lancar dan selalu berada dalam lindungan Rio

“Masih pusing?” tanya Rio datar., mengusir rasa jengahnya merasakan dekapan dada Fani yang kenyal pada lengannya

“Sedikit …” jawab Fani lemah

“Jadi malam ini kamu akan menemaniku bertemu dengan Koordinator penari latar untuk acara puncak nanti kan Yo?”

“Tidak bisa sendiri saja?” tanya Rio enggan, walau ia tau menemani Fani mengurus segala hal berkaitan dengan acara peresmian kantornya adalah tugas utama yang diberikan oleh atasannya dalam tugasnya ke Jakarta saat ini

“Ya tidak apa apa kalau kamu berhalangan .. nanti aku sampaikan ke Pak Heri kalau kamu tidak bisa menemaniku malam ini” ujar Fani sambil tersenyum. Rio mendengus sinis.

“Tidak perlu” jawab Rio “Aku bisa menyampaikannya sendiri kalau aku mau. Tapi sudah tugasku menemanimu. Jadi nanti malam aku akan datang”
Fani tersenyum puas.

Fani merebahkan dirinya pada kolam Jacuzi dengan santai, menikmati semburan air yang lembut memijat tubuhnya yang letih tanpa selembar benangpun. Air hangat membuat tubuhnya bertambah relax. Ia memejamkan mata, membayangkan tubuh atletis Rio yang ingin segera ia nikmati. Membayangkan Rio menindih tubuhnya membuat Fani bergairah.

Ia mengerang, menggeliatkan tubuhnya saat membayangkan bercinta dengan mantan kekasihnya itu. Lamunannya tersadar saat ia mendengar suara Mala memanggilnya. Fani menoleh. Mala datang bersama Dion dan Purba, lelaki setengah baya yang merupakan pengacara pribadinya.

Sedikit merasa terganggu, Fani bangkit dari Jacuzi, memeluk Dion dengan tubuh telanjangnya tanpa memperdulikan tatapan mata Purba yang penuh nafsu mengagumi keindahan tubuhnya. Dion mencium bibir Fani penuh gairah, tangannya meraba dua payudara sintal milik Fani

“Kutemani malam ini?” tanya Dion terengah setelah menghentikan ciumannya pada Fani “Mala bilang kau membutuhkanku”

“Ya Baby …” bisik Fani di telinga Dion, memainkan lidahnya pada leher Dion “Tidak malam ini .. hanya dua jam setelah aku selesaikan urusanku dengan Purba. Jangan kuatir .. aku bayar sama dengan tarif menginap semalam..”

Tangan Fani meraba penis Dion yang masih tertutup celana jeans ketat miliknya, membuat Dion semakin bernafsu mencium leher dan dada Wulan yang telanjang.

“No worries .. aku beri gratis kali ini .. Ooohh Baby .. aku sangat merindukanmu …” erang Dion.

Fani memalingkan wajahnya pada Purba, sementara Dion tetap menciumi leher dan tubuh Fani dengan penuh nafsu. Purba menelan ludahnya, mencoba membasahi kerongkongannya yang mulai mengering melihat pemandangan indah di hadapannya. Ia sudah sangat lama menjadi penasihat hukum pribadi Fani untuk segala urusan baik bisnis maupun keluarga. Dan berulangkali Fani tanpa canggung menemuinya dengan penampilan naked seperti ini, dan penisnya masih saja mengeras bila melihat tubuh indah Fani. Namun ia tetap berusaha melaksanakan tugasnya secara profesional.

“Tunggu aku di ruang tengah” ujar Fani pada Purba

“Oke Bu Fani” jawab Purba susah payah. Ia melangkah keluar, sementara Mala mengambilkan handuk lebar dan memberikannya pada Fani

“Sabar sayang ..” bisik Fani, menghentikan hujan ciuman Dion pada tubuhnya dan melepaskan tangan Dion yang sudah mulai memainkan klitorisnya lembut “Aku selesaikan dulu urusanku dengan purba …”
Dion mengangguk. Ia menuju mini bar yang berada di dekat Jacuzzi bersama Mala, sementara Fani menemui Purba dengan handuk yang kini melilit tubuhnya.

Purba telah siap dengan beberapa dokumen yang dibeberkannya di atas meja ruang tengah. Fani duduk dihadapannya, meraih sebotol bir dingin dan duduk menyilangkan kakinya. Handuknya sedikit tersingkap, menampakkan kaki jenjang mulusnya sampai kebatas paha.

“Jadi .. apa bapak sudah menemukan sesuatu tentang rumah itu?” tanya Fani pada Purba

“Ya ..” jawab Purba berusaha tidak menatap paha mulus Wulan dihadapannya “Rumah itu dibeli oleh Pak Evan atas namanya sendiri sekitar dua tahun yang lalu”

Fani mengernyitkan dahinya. Tidak ada harta yang dibeli Evan tanpa namanya. Semua harta Evan atas nama Fani, sesuai dengan permintaanya sebelum mereka menikah. Rumah, Ruko, Studio, Mobil, Tanah .. semua yang dimiliki Evan adalah atas nama Fani. Tapi ini … rumah mewah yang dibeli tanpa sepengetahuannya adalah atas nama Evan sendiri

“Siapa pemilik sebelumnya?” tanya Fani

“Rumah itu dibeli Pak Evan berupa tanah dari penduduk setempat. Pak Evan membangun rumahnya, merancang sendiri model dan memilih sendiri bahan2 bangunan sesuai keinginannya. Saya sudah bicara dengan arsitek yang membuatnya Bu ..” jelas Purba lebih lanjut ” Dan arsitek itu bilang bahwa ini adalah rumah Impian Pak Evan yang diawasinya sendiri pembangunanya dengan detail” Fani tertegun. Bila itu adalah rumah impian Evan, lalu mengapa Evan lebih memilih tinggal di studio dan tidak menempati rumah impiannya itu.

“Selidiki terus latar belakang rumah itu Pak Purba” tukas Fani “Saya ingin informasinya tuntas dan lengkap” Fani beranjak, meraih buku cek dalam tasnya dan menulis sejumlah angka kemudian diberikan pada Purba

“Akan saya tambah nominalnya bila bapak memenuhi apa yang saya pinta” ujar Fani seraya tersenyum. Purba mengangguk, mencuri pandang siluet tubuh Fani yang berjalan meninggalkannya kembali ke ruang Jacuzzi.

Fani mendapati Dion yang sudah membuka kemejanya, duduk diatas kursi mini bar menikmati satu sloki minuman bersama Mala. Fani mendekati Dion, membuka lilitan handuknya dan menyodorkan kedua payudaranya yang sintal kearah mulut Dion. Tanpa menunda Dion melahap puting Fani, memainkan lidahnya dan menghisapnya bergantian. Fani mengerang nikmat. Bayangannya dengan Rio tadi membuat birahinya meningkat.

“Uuhh .. Yess Baby .. Suck it .. hmm .. yeeaahh ..” geram Fani, meraih kepala Dion semakin terbenam dalam bukit payudara miliknya. Sebelah Kaki Fani kini sudah berada di paha Dion, dan Fani meraih tangan Dion, meletakkan jemari tangan Dion pada vaginanya “Mainkan Yon … aahh …” ia memberi instruksi pada Dion. Mala mendekat, berbisik di telinga Fani yang tengah menikmati permainan Dion

“Cafe siap malam ini .. aku tunggu kamu disana” Fani melenguh nikmat saat jemari Dion dengan lincah memainkan klitorisnya

“Oke ..” jawabnya terengah masih tetap memejamkan mata “Pastikan semuanya berjalan lancar malam ini” Mala tersenyum, berbalik meninggalkan Fani dan Dion yang tengah berpacu mencapai puncak.
Fani semakin liar. Ia memanjat kursi dan duduk diatas meja Bar dengan kaki terbuka lebar.

“Buka celanamu sekarang Babe .. Fuck me!!” jerit Fani

Dion mulai membuka celananya sementara lidahnya bermain pada vagina Fani yang terbuka merah merekah. Dihisapnya kuat klitoris Fani, memainkan lidahnya menyapu seluruh dinding vagina Fani. Fani menggelinjang hebat dimanja oleh permainan oral Dion yang luar biasa

“Aaarrgggg … babyy .. Ooohhhh ….” Fani menjerit lepas, tangan Dion yang telah selesai melepas celananya sendiri, mulai meremas payudara Fani dengan nafsu

“Sekarang Babe … sekaraangng ..” jerit Fani memohon Dion untuk segera menghunuskan penisnya.

Dion meraih pinggul Fani. Tubuhnya yang tinggi membuat posisi Vagina Fani tepat sejajar dengan penis besarnya yang sudah terhunus. Tanpa ampun dengan gerakan cepat dan keras Dion menusukkan penisnya kedalam Vagina Fani dan menggoyangnya maju mundur. Jepitan Vagina Fani sangat nikmat dirasakan Dion. Ini yang membuatnya ingin terus menikmati seks bersama Fani.

“Ooohhhh … Fan …. Oohhh Baby … aahhh ” Desis dion menikmati setiap cengkraman yang dirasakan penisnya dalam vagina Fani

“Diiiiooonn … Aaaarrggggh .. Terus .. goyang lagiii .. semakin cepat Babe .. Ayooo” jerit Fani semakin menjadi

Dion mempercepat gerakannya, semakin menghunus penisnya dalam dalam. Satu tangannya pada klitoris Fani, sementara yang lain sibuk menarik2 lembut puting payudara Fani, memberikan sensasi luar biasa pada tubuh Fani

“Aaaarrghggghhhhh … Diiooonn … …” jerit Fani tanpa bisa menahan kenikmatan yang membawanya menuju puncak. Di saat bersamaan Dion mengeluarkan maninya, mengalir hangat dalam vagina Fani.

“Aaaahhhhhhh …. Baby ….” desis Dion melepas kenikmatan. Dihempaskannya tubuhnya diatas tubuh Fani pada meja mini bar. Peluh membasahi tubuh keduanya. fani tersenyum lebar saat Dion mengelus lembut payudaranya. Setelah beberapa saat, Fani bangkit, meraih handuknya dan melangkah kembali ke Jacuzzi

“Ayo berendam denganku Babe …” ajak Fani pada Dion “Segarkan tubuhmu sebelum permainan sex mu bersama Mala nanti” Dion melangkah mengikuti Fani, membenamkan tubuhnya pada air hangat Jacuzzi

“Tidak bisa kubayangkan 3S denganmu dan mala ” ujar Dion ” Kalian berdua sangat luar biasa nikmatnya. Aku tidak yakin bisa menahan serangan kalian bersamaan seperti aku melakukan 3S dengan wanita2 lain. Kamu dan Mala beda .. Bisa KO di ronde awal aku ..”

Fani tertawa “Menurutmu, ada yang bisa mengimbangi permainan kami berdua?” tanyanya

“Mustahil. Laki2 sekuat apapun akan bertekuk lutut di 5 menit pertama 3S bersama kalian” ujar Dion

Fani tersenyum. Pikirannya melayang pada Rio.

Bersambung