Drama Threesome Part 29

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25
Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Part 32Part 33Part 34

Cerita Sex Dewasa Drama Threesome Part 29 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Cerita Sex Dewasa Drama Threesome Part 28

Pukul 7 pagi, Rio duduk di salah satu sudut cafe dalam hotel. Ia memesan secangkir Americano dan sepotong Sandwich daging asap untuk menemaninya menunggu kedatangan Fani. Pagi ini mereka akan meninjau lokasi yang akan dipakai untuk acara puncak, sekaligus menemui beberapa rekanan yang akan bekerjasama dengan perusahaan Fani.

Seraya mengunyah potongan sandwich nya, Rio memikirkan keadaan Wulan. Seharusnya pagi ini ia mengantar Wulan memeriksakan kandungannya. Tapi dengan adanya urusan ini, ia terpaksa membiarkan Wulan pergi seorang diri. Rio berjanji dalam hati, siang ini ia akan menanyakan hasil pemeriksaan Wulan. Ia berharap semua berjalan lancar sampai waktu persalinan nanti. Dibukanya Foto Wulan dalam galeri HP nya, memandanginya sesaat untuk sekedar melepas kerinduan.

Dua puluh menit berlalu dan Fani belum juga menampakkan batang hidungnya. Rio berjalan ke meja resepsionis dan meminjam telepon untuk menelepon kamar Fani. Suara Fani terdengar berat dan enggan menjawab telepon kamar “Oh my God .. aku terlambat bangun .. Maaf Rio, beri aku 30 menit dan aku akan segera meluncur kebawah .. maaf ya ..”

Rio menghela nafas seraya melirik jam dipergelangan tangannya. 30 menit terbuang percuma dan ia merasa sangat gusar. Ia hanya ingin pekerjaan ini cepat selesai. Ratna begitu cemburu pada Fani dan hal ini sangat mempengaruhi emosinya. Entah apa yang akan terjadi bila Ratna tahu bahwa dulu Fani adalah kekasih Rio semasa SMA.

Belum lewat 30 menit, Rio melihat Fani melangkah keluat dari lift. Kali ini penampilan Fani sangat santai. Ia mengenakan celana jeans sebatas lutut, T shirt berkerah lengan pendek dan sebuah topi lebar yang diyakini Rio berfungsi untuk melindunginya dari sinar matahari.

“Makanlah dulu …” saran Rio “Kamu punya jatah sarapan pagi selama tinggal di hotel ini kan?”

“Kalau begitu temani aku makan” ujar Fani “Ayo …” kembali tanpa sungkan Fani menggamit lengan Rio, menariknya ke arah resto untuk sarapan. Suasana Resto pagi ini cukup Ramai. Setelah menemukan tempat duduk dan meja kosong, Fani segera berkeliling mencari makanan Buffett yang disukainya, sementara Rio mengambil segelas jus Jambu dan meneguknya perlahan.

“Tidak bisa tidur semalam?” tanya Rio memperhatikan Fani yang asik mengunyah nasi goreng di mulutnya “Matamu sembab. Menangis?” tanya Rio lagi

“Aku belum mengantuk setelah kamu pergi semalam” ujar Fani “Aku duduk di Cafe hotel dan menghabiskan dua botol Bir. Aku rasa aku sedikit mabuk ..”

“Dua botol??” tanya Rio terbelalak

Fani mengangguk “Setelah itu aku tertidur .. ” lanjutnya

” Dan sekarang? Pusing?” tanya Rio menyelidik

“Sedikit ..” jawab Fani

“Come on Fan …” ujar Rio “Kamu perempuan .. sendiri di hotel di kota yang kamu tidak kenal. Dan pagi ini kamu punya banyak agenda acara yang harus diselesaikan. Kenapa harus minum minum sih?”

“Aku .. ” Fani menghentikan perkataannya. Rio melihat kilat bening disudut mata Fani. Fani menahan tangis “Aku tidak tahu .. setiap malam aku selalu sulit tidur semenjak kepergian Evan ..”
Rio memalingkan muka. Jika nama Evan disebut, selalu muncul perasaan tidak nyaman dihatinya.

“Yo ..” ujar Fani pelan “Aku harus kembali ke Jakarta besok pagi dengan penerbangan pertama .. Bisakah kamu membantuku merubah tiketku? Rencananya aku akan kembali ke Jakarta besok sore .. tapi ada sesuatu yang harus aku selesaikan segera di Jakarta”

“No problem ..” sahut Rio “Ada kesulitan di Jakarta?”

“Ya .. ” jawab Fani “Tolong aku ..”

“Consider it’s done” ujar Rio seraya mengeluarkan HP nya dan melakukan percakapan singkat dengan beberapa temannya.

“Penerbangan sudah dirubah” ujar Rio kepada Fani “Besok aku antar kamu pagi pagi ke Bandara.” Fani tersenyum dan mengangguk lega.

“Apa yang membuatmu terburu buru kembali ke Jakarta?” tanya Rio.”Sesuatu yang penting kah?”

Fani membuka salah satu foto pada HP nya dan menunjukkannya pada Rio. Rio tersentak. Foto rumah besar yang ditunjukkan Fani adalah Rumah yang sama saat ia menyelamatkan Wulan dari sekapan Evan.

“Ini ….” Rio tercekat memandang Fani “Kenapa rumah ini?”

“Rumah itu adalah Rumah milik Evan yang aku tidak tahu sama sekali. Aku hanya melihatnya dalam foto instagram milik Evan setelah ia tiada. Aku tidak pernah tau kapan, dimana dan mengapa Evan membelinya” jelas Fani panjang lebar “Semalam pengacaraku mengabarkan bahwa ia berhasil menemukan surat surat kepemilikan rumah tersebut dan ingin agar aku segera menemuinya”

Rio terdiam. Pikirannya melayang pada kejadian buruk yang menimpa Wulan akibat ulah Evan didalam rumah tersebut.

“Ayo kita berangkat ” ajak Fani seraya beranjak dari duduknya. Rio mengikutinya keluar dari resto. Hanya beberapa langkah kemudian, tubuh Fani tiba tiba limbung. Ia kehilangan kesadarannya dan hampir saja terjatuh saat Rio dengan sigap menyangga tubuhnya.

“Fan! Fani!!” ujar Rio seraya menepuk nepuk pipi Fani mencoba menyadarkannya. Beberapa orang tamu hotel dan satpam berdatangan mencoba membantu Rio

“Tolong hubungi dokter …” pinta Rio pada Satpam hotel yang berdiri didekatnya

“Baik Pak .. mungkin sebaiknya nyonya dibawa ke klinik hotel di basement Pak …ada dokter jaga kami disana”

Tanpa banyak bicara Rio membopong Fani dan bersama Satpam dan petugas hotel menuju klinik untuk mendapatkan perawatan dokter.

Dokter klinik menyatakan Fani mengalami kelelahan. Tidak ditemukan indikasi penyakit yang mengkhawatirkan pada tubuh Fani, namun dokter menyarankan agar Fani tetap melakukan pemeriksaan lanjutan setelah kembali ke Jakarta.

“Lebih baik hari ini kamu istirahat Fan ” saran Rio “Tidak perlu lagi memaksakan diri untuk mengurus pekerjaanmu”

“Ya .. mungkin lebih baik begitu” jawab Fani “Aku kembali ke kamar saja”

Fani bangkit dari tempat tidur dan kembali hampir terjatuh. Ia merasa pusing luar biasa dan berpegangan erat pada lengan Rio

“Antar aku ke kamar Yo …” pintanya. Rio terdiam ragu. Ia merasa iba pada keadaan Fani, namun nalurinya berkata bahwa mengantar Fani ke kamar bukanlah keputusan yang tepat “Atau biar Pak Satpam yang mengantarku …” lanjut Fani melihat keraguan pada diri Rio

“Tidak .. biar aku saja” ujar Rio akhirnya. Ia merasa harus memastikan keadaan Fani aman sebelum ditinggalkan. Secara moril, ia merasa harus melakukan hal ini dan ia adalah orang yang ditugasi untuk menjaga Fani oleh atasannya.

Rio memapah Fani menaiki lift menuju kamar yang disewanya di lantai 9. Rio membuka pintu kamar, membimbing Fani masuk dan membantunya rebah di kasur untuk beristirahat.

“Istirahatlah .. aku menunggu dibawah sampai kondisimu benar-benar pulih” ujar Rio.

“Baiklah …” jawab Fani lemah. Rio menutup pintu dan meninggalkan Fani untuk beristirahat di kamarnya.

Sepeninggalan Rio, Fani meraih HP nya dan segera menghubungi Mala.

“Berhasil…!” pekik Fani tertahan saat mendengar suara Mala menjawab teleponnya “Ucapkan terimakasihku pada dokter temanmu itu Mala. Obat yang diberikan padaku itu sangat ampuh”

“Oh yaa? Jadii .. kamu berhasil tidur dengan Rio?” tanya Mala antusias

“Belum .. sabar Mala .. Ini barang istimewa yang harus diperlakukan dengan sangat hati-hati. Kalau tergores sedikit saja, ia akan pergi meninggalkanku” desis Fani

“OK …” jawab Mala “Lalu apa yang kamu rasakan sekarang? Pusing?”

“Ya .. sedikit” jawab Fani. Malam tadi ia meminum sebutir obat penenang bercampur obat penekan kadar gula tubuh, yang menurut dokter akan menimbulkan efek pusing dan tak sadarkan diri pada pagi hari.

Fani telah menyusun rencananya dengan rapi agar Rio bertambah iba padanya

Ia juga sudah memastikan bahwa obat yang diberikan kepadanya masih tergolong pada tingkat aman.

Setelah mengakhiri pembicaraan dengan Mala, Fani menekan kembali satu nomor dalam HP nya. Saat suara diujung sana menjawab, Fani segera melakukan aksinya.

“Bapak Heri ….” ujarnya dengan suara lemah yang dibuat buat ….

***

“Siapa sih sebenarnya Fani ini?” tanya Ratna sambil terus mengikuti gerak gerik Rio dengan bola matanya.

Rio bergegas memasukkan beberapa baju dan perlengkapan kedalam kopernya untuk dibawa ke Jakarta. Ia harus menemani kembali Ke Jakarta atas perintah atasannya karena kondisi Fani yang masih lemah “Istimewa sekali sampai pulang ke Jakarta pun Ayah yang mengawal …”

Rio menghentikan kegiatannya sejenak, menatap Ratna dan merangkulnya penuh sayang “Maafkan Ayah ya Bu … Bu Fani ini penyumbang dana terbesar dari kegiatan kantor yang akan datang. Kalau sampai terjadi apa apa pada Bu Fani, acara seluruhnya bisa dipastikan akan batal ….” ujarnya lembut.

Rio sangat paham akan sifat Ratna yang lebih pencemburu dari Wulan. Bila hal ini terjadi pada Wulan, Rio dapat memastikan segalanya akan berjalan lancar tanpa banyak perkataan. Ia melirik jam di dinding. Hanya tersisa waktu 2 jam untuknya menjemput Fani di hotel dan langsung menuju Bandara.

“Ayah tinggal dulu ya Sayang .. ibu hati2, jaga anak2 ya .. Kalau semua berjalan lancar, lusa Ayah sudah kembali lagi ke sini” pesan Rio. Ratna tak menjawab. Ia menghela nafas dan memeluk suaminya erat

“Hati hati …” pesannya, kemudian melangkah mengikuti Rio.

Mobil melaju menuju Hotel untuk menjemput Fani. Dalam perjalanan, Rio menghubungi Wulan untuk mengabarkan kedatangannya ke jakarta

“Kenapa mendadak sekali Yah? Baru kemarin rasanya Ayah bilang tidak jadi datang ke Jakarta …” tanya Wulan namun tidak dapat menyembunyikan rasa bahagia nya menyambut kedatangan Rio

“Iya Bun .. akhir akhir ini tugas kantor selalu datang mendadak ..” gumam Rio. Ia berharap dapat segera menjumpai Wulan setelah selesai mengantarkan Fani kembali ke rumahnya.

“Bunda jemput di Bandara ya Yah …” ujar Wulan

“Jangan!!” tanpa sadar Rio menjawab cepat tawaran Wulan. Tidak .. Fani tidak boleh melihat ataupun bertemu Wulan, apapun yang terjadi. Biarlah Fani tau bahwa isteri Rio adalah Ratna seorang, seperti informasi yang telah diterimanya. Wulan memiliki hubungan yang sangat erat dengan kematian Evan dan Rio tidak akan pernah membiarkan kemungkinan buruk sedikitpun terjadi pada Wulan

“Kenapa ….?” tanya Wulan bingung atas jawaban keras Rio. Sebersit perasaan tidak nyaman timbul di hati Wulan

“Tidak apa apa .. Bunda istirahat saja ya .. ada tugas lain yang harus Ayah selesaikan segera setelah landing di Jakarta. Secepatnya Ayah akan jemput bunda setelah selesai” jawab Rio mencoba menenangkan hatinya. Wulan pun tidak boleh tau soal Fani. Kenangan buruk tentang evan mungkin akan bangkit kembali bila Wulan tau siapa Fani. Dan hal itu akan membahayakan kandungan Wulan

“Baiklah Ayah ..” jawab Wulan sebelum menutup telepon “Bunda tunggu Ayah dirumah ya … Hati hati sayang ..”

Rio menghela nafas. Menyembunyikan keberadaan wulan dari Ratna sudah merupakan hal yang paling sulit dilakukannya. Ia mencintai Ratna, namun disaat yang bersamaan ia juga mencintai Wulan. Menjaga keduanya tetap ada disisi Rio bukan merupakan hal yang mudah.

Beruntung Wulan sangat memahami posisinya dan dengan sabar selalu mendukung apapun keputusan Rio. Dan kali ini, ia harus menyembunyikan Fani dari Wulan. Satu lagi rahasia yang harus ia jaga demi keutuhan kedua rumah tangganya. Entah apa yang akan terjadi, namun Rio merasakan firasat akan adanya sesuatu yang direncanakan Fani padanya.

Bersambung