Drama Threesome Part 28

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25
Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Part 32Part 33Part 34Part 35
Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40

Cerita Sex Dewasa Drama Threesome Part 28 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Cerita Sex Dewasa Drama Threesome Part 27

Siang hari menjelang akhir pekan, Rio berjalan cepat menyeberangi lapangan menuju ruang rapat di gedung utama kawasan kantornya. Ia sedikit terlambat menghadiri rapat dengan para vendor dan sponsor yang akan mendukung acara ulang tahun dan peresmian gedung baru kantornya 1 bulan yang akan datang. Rapat akan dipimpin langsung oleh ketua panitia yang juga atasannya, sementara Rio bertugas sebagai penanggungjawab perlengkapan dan atribut acara.

“Selamat siang, mohon maaf terlambat …” seru Rio seraya menghormat kepada seluruh senior yang sudah hadir di dalam rapat saat ia memasuki ruangan.

Acara belum dimulai, beberapa orang masih dengan santai bercakap cakap. Rio mengambil tempat duduk dan melirik ke deretan vendor dan sponsor, saat matanya menangkap sosok Fani berada di deretan kursi dihadapannya. Ada sekitar 20 vendor dan sponsor yang hadir, dan Rio tau bahwa Fani adalah salah satunya, karena Fani menempati kursi terdepan yang disediakan oleh panitia.
Rio menatap tajam kearah Fani yang tersenyum dan melambaikan tangan ke arahnya.

“Bang ..” bisik Anton, seorang teman sekantor Rio yang duduk tepat di samping Rio

“Abang kenal dia Bang?”

“Siapa dia?” tanya Rio tanpa menoleh, tetap memandang Fani yang kini bercakap cakap dengan ketua panitia acara

“Dia Sponsor utama acara Bang …” jelas Anton

“Perusahaannya menyumbang separuh keperluan dana kita dan mendatangkan deretan artis papan atas untuk acara puncak. Dia juga menyumbang panggung dan Lighting spektakuler untuk mendukung acara malam puncak perayaan” jelas Anton “Bu Fani namanya Bang .. cantik ya Bang ..” Rio mendengus.

Rapat berlangsung lancar dan selesai tepat pada waktu yang diperkirakan. Rio melirik jam di pergelangan tangannya. Ia harus bergegas ke Bandara, menuju Jakarta karena besok adalah jadwal Wulan kontrol kandungan. Rio tidak sabar untuk melihat perkembangan calon buah hatinya yang dikandung Wulan, dan menghabiskan waktu bersama Wulan isteri tercintanya yang semakin manja semenjak kehamilannya.

Masih ada waktu untuk mengejar penerbangan terakhir ke Jakarta. Rio belum memesan tiket. Ia akan membeli secara online diperjalanan menuju Bandara. Langkahnya ke pintu keluar tertahan saat ia mendengar namanya disebut. Rio berbalik, melihat atasannya berjalan kearahnya bersama Fani

“Siap Pak ” ucap Rio tegas

“Yo … Malam ini sampai hari Minggu nanti tolong temani bu Fani ” ujar Pak Heri, pejabat setingkat eselon dua di jajaran kantor.

“Beliau ingin tahu site plan tempat acara kita dan perlu diantar untuk berkoordinasi dengan beberapa vendor sehubungan dengan acara nanti”

Rio memandang Fani tajam. Rahangnya mengeras. Fani tersenyum manis kepadanya, tidak menyadari emosi yang berkecamuk di dada Rio.

“Jangan sampai Bu Fani kesulitan di kota ini .. kesuksesan acara bergantung pada Bu Fani” lanjut pak Heri lagi

“Siap !” jawab Rio lantang . Perintah adalah perintah dan di dunia kerjanya, itu berarti harus dilaksanakan tanpa alasan apapun. Raut wajah Wulan seketika berkelebat di pikiran Rio

“Baiklah Bu Fani, saya tinggal dulu. Ibu bisa kembali ke hotel untuk beristirahat sejenak, nanti malam dan selanjutnya ibu akan didampingi oleh Bapak Rio” pamit Pak Heri.

“Terimakasih Pak Heri ..” jawab Fani dengan lembut. Ia menoleh pada Rio dan berkata

“Nanti malam saya ingin makan malam dan melihat salah satu butik saya untuk memilih kostum yang akan digunakan nantinya oleh para penerima tamu. Pak Rio bisa mengantar saya?”

“Tentu bisa …” Pak Heri menjawab cepat sementara Rio hanya berdiri disisinya

“Keperluan apapun, sampaikan saja kepada Pak Rio bu .. kami usahakan ibu tidak kesulitan selama bekerja sama dengan kami.”

“Oke, kalau begitu bagaimana kalau jam 7 nanti bapak jemput saya di hotel?” tanya Fani kepada Rio. Rio hanya diam, dan lagi lagi pak Heri yang menyanggupi permintaan Fani.

“Ingat Yo” bisik atasannya saat Fani sudah berlalu

“Dia penyandang utama Dana .. sponsor untuk hampir seluruh perlengkapan dan acara. Jangan mengecewakan atau acara kita akan berantakan ..”

Rio mengepalkan kedua tangannya disamping tubuhnya. Ia menunduk menahan emosi saat atasannya berlalu. Ia terpaksa harus membatalkan janjinya untuk menemani Wulan. Rio terduduk lemas di salah satu kursi, mengeluarkan telepon genggamnya dan menekan nomor Wulan pada layar.

“Bunda ….” ujarnya lemah saat mendengar sapaan riang Wulan diujung sana “Maafkan Ayah ….”

Ratna, isteri Rio merapikan kerah T Shirt biru yang dikenakan suaminya malam itu. Selepas maghrib Rio sudah bersiap untuk melaksanakan perintah atasannya menemani Fani dengan segala urusannya

“Jadi dinas ke Jakartanya dibatalkan untuk urusan sponsor ini Yah?” tanya Ratna, seraya mengambil tas pinggang Rio dan menyerahkan pada suaminya “Pulang jam berapa malam ini?”

“Ayah tidak tau Bu …” jawab Rio tak bersemangat “Semoga saja Bu Fani cepat menyelesaikan urusannya malam ini dan dua hari kedepan.”
Ratna mengikuti langkah Rio sampai ke garasi “Cantik Bu Fani itu Yah?” tanya Ratna sebelum Rio memasuki mobil.

“Cantik sekali ” jawab Rio seadanya. Ia membuka pintu, menyalakan mesin lalu menurunkan kaca jendela mobinya. Rio menangkap raut cemburu di wajah isterinya. Ia tersenyum menatap Ratna “Kenapa Bu? Curiga?”

“Ratna membungkuk, mengecup sekilas pipi Rio di dalam mobil dan berbisik “Jangan tebar pesona .. jangan macam macam …”

Rio tertawa, mencubit pipi Ratna lembut dan mulai memacu mobilnya menuju hotel tempat Fani menginap.

Selama perjalanan menuju hotel Rio berkomunikasi dengan Wulan yang masih belum selesai melayani pasien di kliniknya

“Harusnya Ayah bisa jemput Bunda praktek malam ini” keluh Rio “Masih berapa pasien Bun? Jangan malam malam pulangnya”

“Tidak apa apa Ayah” suara Wulan lembut terdengar “Ayah ada tugas kantor, harus diutamakan. Masih tiga pasien lagi di luar. Semoga sebelum jam 9 malam Bunda sudah bisa pulang”

“Pak Ali masuk kan hari ini?” tanya Rio. Ia sengaja menyediakan satu orang driver untuk mendampingi Wulan selama kehamilannya sehingga Wulan tidak kelelahan bila harus menyetir sendiri

“Masuk ayah .. ada di luar ..” jawab wulan

“Besok juga Pak Ali yang antar Bunda ke Rumah Sakit. Bunda ajak ibu untuk menemani”

“Oke Bun … hati hati sayang .. kabari Ayah sesampainya Bunda di rumah ya …” ujar Rio mengakhiri percakapannya. Ia telah sampai di hotel yang dituju. Hotel mewah bertarif fantastis yang sengaja dipilih Fani untuk menginap selama ia berada di kota ini.

Rio melangkah menuju Lobi setelah memarkir mobilnya. Dengan mudah ia menemukan Fani yang duduk di salah satu kursi lobi. Fani mengenakan blouse berpotongan dada rendah, celana jeans diatas mata kaki dan sepatu sneaker. Penampilannya sangat kasual, mendukung kesan menawan yang selalu mnejadi keharusan baginya.

“Hai Yo …” sapanya hangat , tidak lupa membingkai senyum yang bisa meluluhkan hati setiap pria yang memandangnya.

“Kita jalan sekarang?” tanya Rio tanpa basa basi

“Oke …” ujar Fani seraya bangkit, berjalan menghampiri Rio dan menggamit lengannya tanpa canggung. Tanpa berkomentar Rio berjalan bersama Fani keluar dari hotel.

Fani memilih sebuah Resto bernuansa etnik di sudut kota untuk menyantap makan malam bersama Rio. Ia tidak dapat menyembunyikan rasa senangnya dapat menghabiskan malam bersama Rio, suatu kesempatan yang sudah lama ia inginkan.

Walaupun selama makan malam Rio tidak banyak bersuara, Fani sama sekali tidak merasa keberatan. Ia mencoba mendominasi pembicaraan, menceritakan apapun yang ia inginkan untuk dapat menarik perhatian Rio. Mulai dari nostalgia mereka saat SMA, usaha dan bisnis, hobby, kegiatan hingga genre musik dan film yang tengah hits habis dibahas Fani. Rio hanya duduk mendengarkan, sesekali memeriksa layar HP nya untuk sekedar mengetahui beberapa pesan yang masuk.

Malam beranjak semakin larut, saat Rio dan Fani melaju dalam mobil menuju ke salah satu Butik ternama milik Fani di pusat kota. Fani harus memeriksa kesiapan kostum yang disediakan butiknya untuk mendukung acara kantor Rio yang akan datang

“Kau tau Yo, aku harus menyiapkan 200 kostum panitia untuk acara nanti” jelas Fani tanpa diminta “Aku sudah memilih kain batik yang paling cantik dan berkualitas nomor 1 untuk dipakai sebagai bahan pembuat baju panitia. Hanya saja warnanya yang masih jadi pertimbangan. Mungkin nanti kamu bisa membantu memilihkan warna yang bagus ”

“Aku tidak pandai dalam hal seperti itu” jawab Rio datar ”

Terserah kamu sajalah”

“Oke .. kamu percaya standar seleraku yang tinggi ya ..?” tanya Fani seraya mengerling Rio penuh arti

“Berapa dana yang kau habiskan untuk mensponsori acara kami ini?” tanya Rio dibelakang kemudi

“Apa tidak merugikan bisnismu nanti? Ini kegiatan non profit .. apa untungnya bagi perusahaanmu?”

“Perusahaan Evan tepatnya” jawab Fani. Sebersit rasa menyayat hati Rio saat Fani menyebut nama Evan

“Aku hanya meneruskan perusahaan milik Evan suamiku .. semenjak ia pergi, aku yang bertanggungjawab pada perusahaan ini”

Fani memalingkan mukanya menatap keadaan malam diluar jendela mobil

“Ini tidak mudah Yo .. lebih dari 100 karyawan menggantungkan hidup mereka padaku .. Evan sudah sangat piawai memimpin perusahaan ini. Di tangannya bisnis melaju sangat cepat” ujar Fani.

Rio menangkap nada kesedihan pada suara Fani

“Sementara aku tidak mengerti soal ini. Evan tidak pernah mengajakku berkecimpung dalam usahanya. Aku berangkat dari nol bersama para pemimpin perusahaan sepeninggalan Evan”

“Kau sendiri yang mengurus acara ini?” tanya Rio. Suaranya mulai melembut, sedikit merasa prihatin atas keluh kesah Fani. Bagaimanapun ia memiliki andil atas kesendirian Fani saat ini

“Ya .. ini even besar dan aku harus tahu detail setiap urusan yang berkaitan dengannya” jawab Fani seraya menarik nafas

“Memang tidak ada untungnya. Tapi Pak Heri menjanjikan kami boleh memasang spanduk, banner dan logo perusahaan dimanapun kami inginkan. Aku hanya memikirkan sisi promosi nya saja. Perusahaanku akan dikenal banyak orang secara tidak langsung, apalagi acara ini akan disiarkan langsung oleh salah satu TV swasta”

“Ya .. aku yang bertanggungjawab soal itu. Karenanya Pak Heri memintaku untuk mendampingimu” ujar Rio

“Kadang aku merasa lelah .. ini terlalu berat untukku .. Evan pergi sangat mendadak dan aku tidak pernah siap menerimanya …” gumam Fani. Suaranya bergetar menahan tangis

“Semangat Fan ..” hibur Rio sambil tersenyum

“Kamu pasti bisa”

Fani mengangguk “Terimakasih Yo ..”

Rio kembali terdiam berkonsentrasi pada kemacetan jalanan dihadapannya. Sementara Fani menunduk memainkan ponselnya, menekan nomor Mala untuk mengirim chat.

“Yes .. !! Kurasa dia berhasil masuk mengikuti drama yang kumainkan …” ketik Fani kemudian mengirim pesannya pada Mala. Rio tidak melihat senyum kepuasan disudut bibir Fani .

Cukup lama Rio menemani Fani menyelesaikan urusan di Butiknya. Fani memilih beberapa kain, mendiskusikan model baju yang sesuai dengan beberapa karyawannya.

“Harus simpel karena panitia akan sibuk dan banyak bergerak. Harus dinamis, enak dipakai dan tidak panas” Rio mendengarkan Fani memberikan pengarahan pada para karyawannya

“Besok bawa beberapa model baju berbagai ukuran. Siapkan untuk di coba oleh panitia. Leila antar baju contoh hari Senin ke kantor ya .. hubungi Ibu Tati disana. Beliau yang akan meminta panitia untuk Fit pakaian. Jangan lupa tanyakan kapan catatan ukurannya bisa diambil, dan segera jahit sesuai permintaan mereka”

Fani kemudian memeriksa beberapa administrasi bersama dua orang pegawainya. Rio tidak mengerti soal itu. Ia memilih duduk santai, mengirim pesan untuk memeriksa keadaan Wulan. Wulan sudah sampai dirumah kembali selesai praktek dan membuat Rio sedikit bernapas lega.

Ia juga membalas chat Ratna yang menanyakan keadaan dan posisinya saat ini. Diam diam Rio mengambil gambar Fani yang tengah berdiskusi dengan pegawainya melalui kamera HP nya dan mengirimkannya pada Ratna dengan caption : “Masih disini bersama Bu Fani .. belum selesai”

Rio tersenyum kecil melihat emoticon upset yang dikirimkan Ratna sebagai balasan

“Minumnya Pak Rio” suara seorang wanita mengejutkan Rio. Ia melihat seorang pegawai butik meletakkan secangkir teh hangat di meja sudut kecil

“Silahkan diminum Yo ..” seru Fani yang masih dikelilingi beberapa pegawainya

“Sebentar ya .. ada hitungan yang belum cocok”

Rio mengangkat ibujarinya sebagai syarat bahwa ia tidak keberatan menunggu. Dihirupnya teh hangat yang disediakan, seraya memandang Fani dihadapannya.

Ia masih ingat sejak dulu Fani selalu tampil menarik. Fani berasal dari keluarga kaya raya yang sejak dulu selalu didukung fasilitas mewah yang diberikan orang tuanya. Sangat berbeda dengan Rio. Fani selalu menolak ajakan Rio untuk ikut bergabung dalam grup pencinta alam untuk mendaki gunung dengan alasan sama.

Ia tidak suka lelah, keringat, panas, udara dingin dan fasilitas minimal yang harus dihadapi nanti. Jika Rio akrab dengan motor, Fani memilih tetap berkendara mobil sedan keluaran terbaru pemberian Ayahnya. Rio memilih warteg untuk menyelesaikan permasalahan laparnya, sementara Fani selalu keluar masuk resto ternama bersama teman teman akrabnya. Namun toh mereka menghabiskan dua tahun menjalin asmara. Fani tidak pernah menuntut Rio mengikuti dunianya, begitupun sebaliknya.

Maka Rio sangat takjub dengan kemandirian Fani sepeninggalan Evan. Memang Fani tidak terlepas dari kehidupan glamournya, tapi Rio tau tidaklah mudah memaksakan diri menerjuni sulitnya menjalankan roda usaha yang sama sekali tidak dimengerti Fani. Dan Rio, adalah orang yang paling bertanggungjawab atas kepergian Evan yang sama sekali tidak diketahui Fani. Entah apa yang akan terjadi jika Fani akhirnya mengetahuinya.

“Ayo kita kembali ke hotel ..” ajak Fani yang tiba tiba sudah berada dihadapan Rio

“Sudah malam .. kamu pasti lelah Yo ..”

Rio mengantar Fani kembali ke hotelnya. Waktu sudah menunjukkan pukul 11 malam. Di mobil, Fani kembali berusaha mencairkan suasana

“Pak Heri bilang, anakmu sudah dua ya Yo” ujarnya. Rio melirik Fani tanpa suara. Ia sedikit merasa keberatan mengapa atasannya harus membahas hal pribadinya kepada Fani

“Istrimu ibu rumah tangga .. pasti anak2mu terdidik dengan baik” lanjut Fani tidak perduli pada keheningan yang diciptakan Rio

“Itu mimpiku juga .. Aku dan Evan sedang berusaha memiliki anak saat ia pergi .. dan rencanaku bila aku memiliki anak, aku juga akan menjadi ibu rumah tangga yang baik. Tapi takdir berkata lain”

Rio terdiam. Pertanyaan melintas dibenaknya. Mengapa yang diceritakan Fani tidak sesuai dengan keadaan yang dilihatnya pada Evan. Apakah Fani, atau Evan yang berbohong disini.

Tak terasa mereka telah tiba di hotel. Rio mengantar Fani sampai ke lobby, membuat janji untuk bertemu lagi esok pagi.

“Maaf mengganggu waktu liburmu bersama keluarga ya Yo” pesan Fani sebelum Rio beranjak pergi.

“Cantik ya .. sexy lagi .. badannya bagus ..” komentar Ratna saat melihat foto Fani di layar HP Rio. Sudah menjadi kebiasaan Ratna mencari tahu kegiatan Rio melalui HP miliknya. Ratna bebas mengakses seluruh percakapan maupun dokumentasi yang ada di HP Rio.

“Memang …” sahut Rio santai seraya mengganti pakaiannya dengan celana pendek dan kaos oblong. Ia merebahkan diri di samping Ratna melepas penat. Dipandanginya Ratna yang masih sibuk melihat HP miliknya dengan raut muka tegang.

Ratna sangat berbeda dari Wulan. Ratna memiliki kombinasi yang pas sebagai seorang ibu dan isteri sekaligus. Ia sangat telaten mengurus Rio dan anak anak, tegas dalam sikap dan sedikit keras kepala. Tidak mudah meyakinkan Ratna bila ia sudah memiliki pendapat terhadap sesuatu. Namun Ratna sangat setia mendampingi Rio dalam setiap keadaan, terutama mendukung karir Rio sejak awal sampai saat ini. Mendampingi Rio saat susah maupun senang, dan walau kadang diiringi protes ketidak puasan, ia selalu mengerti ritme pekerjaan yang dimiliki Rio.

Rio beringsut mendekati Ratna “Sudah selesai operasi HP nya?” tanya Rio

Ratna melirik Rio, meletakkan HP Rio disamping tempat tidur

“Sudah .. ” jawabnya masih dengan nada keberatan

“Senang sekali Ayah malam ini menemani wanita cantik seperti Bu Fani”

Rio tersenyum santai. Ia terbiasa menghadapi sikap yang ditunjukkan Ratna seperti ini. Rio bangkit mencium bibir Ratna lembut

“Ayah sayang ibu .. ibu yang nomor satu di hati Ayah” bisiknya mencoba meredakan cemburu di hati Ratna.

Ratna tersenyum lega. Dipeluknya Rio erat, membalas ciuman mesra pada bibir Rio.

Rio menyelipkan tangannya dibalik daster yang dikenakan Ratna, menemukan dua payudara kenyal milik Ratna yang tidak tertutup Bra. Di remasnya lembut kedua payudara Ratna sambil terus memagut bibir Ratna penuh nafsu. Ratna melenguh menikmati sentuhan Rio

“Sayang …” desis Rio .

Ia membuka kancing daster Ratna satu persatu, memperlihatkan dua payudara yang menyembul di baliknya. Rio mengulum dua payudara Ratna bergantian. Ratna mulai menggelinjang menikmati sensasi yang diberikan Rio.

Rio menghentikan aksinya sesaat, melepaskan daster dan celana dalam Ratna, membuka kaos dan celana yang dikenakannya, kemudian menindih Ratna untuk menyalurkan nafsu birahinya.

Rio mulai dengan mengulum mesra bibir Ratna, mencium leher dan telinga Ratna, meraba klitoris Ratna yang mulai terasa basah. Rio memainkan jarinya perlahan, memasukkan jarinya meraba seluruh permukaan vagina Ratna

“Aahhhhhhhh … Ayaahh ….” desis Ratna. Ia menggerakan pinggulnya naik turun mengikuti gerakan tangan Rio pada vaginanya dan mulut Rio pada payudaranya.

Rio bangkit, membuka kedua paha Ratna lebar lebar dan mulai menghunuskan penisnya yang sudah tegak berdiri. Jepitan vagina Ratna mulai terasa pada Penis Rio. Rio melakukan gerakan pompa perlahan memberikan sensasi luar biasa pada Ratna

“Oooohhh … Ayaahhh ….” desis Ratna. Tangannya meraba kedua payudaranya untuk menambah sensasi yang diberikan Rio.

Rio menambah dalam hunusan penisnya, memompa dengan cepat seiring desah nafas Ratna .

“Oh .. sayaang …” Rio menggumam, ia merasakan jepitan vagina Ratna bertambah kencang. Ratna menggelinjang, meremas tangan Rio yang bertumpu di sisi tubuhnya

“Aayyaaahhh …” desahnya melepas nikmat mencapai orgasme nya. Rio semakin cepat memompa dan sejurus kemudian ia pun mencapai ejakulasi “Oohh Buu …” gumam Rio

Rio menghempaskan tubuhnya disamping Ratna. Kerinduan menyerang nya saat tiba tiba teringat Wulan. Mereka sudah sangat lama tidak berhubungan seks karena kehamilan Wulan yang beresiko. Rio menutup mata, mencoba terlelap disamping Ratna..

Bersambung