Drama Threesome Part 27

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25
Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Part 32Part 33Part 34Part 35
Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40

Cerita Sex Dewasa Drama Threesome Part 27 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Cerita Sex Dewasa Drama Threesome Part 26

Fani tertawa pelan “Memang …” jawabnya

“Dion selalu bisa memuaskanku diatas ranjang .. And You know what, dia tampaknya menikmati permainanku juga .. kali ini, ia yang meminta bermalam denganku .. for free” Fani mengedipkan sebelah matanya kearah Mala

“Whaatt?” Mala terperangah

“Dan kamu batalkan? Kenapa??”

“Because I have something more important than just a sex with Dion ..” bisik Fani dengan suara desahan yang terdengar nakal. Mala tersenyum menggoda

“Sounds like another Man … a very special person ” tebaknya. Fani tertawa lepas

“Hopefully …” jawabnya

“Aku belum tau bagaimana akhir ceritanya, but I’m looking forward to having a sex with him … God, he is so sexy ..”

Mala mengangguk anggukan kepalanya sambil tersenyum. Ia sangat paham selera Fani. Dan bila kali ini Fani begitu menginginkan seseorang, itu berarti laki laki yang dimaksud pastilah berkelas.

“Tapi tampaknya, ini tidak akan mudah, Mala .. ” ucap Fani

“Ada teknik tertentu yang harus aku mainkan untuk dapat mengajaknya bermain .. Dia bukan laki laki sembarangan .. aku harus sabar kalau ingin semua berjalan lancar .. dan aku pasti bisa. Sesulit apapun, akan aku lalui .. Dia terlalu sempurna untuk dilewatkan begitu saja …”

Fani melirik jam tangan Cartier di pergelangannya. Pukul 7 malam rapat reuni akan mulai. Masih ada sisa 3 jam sebelum ia bertemu Rio.

“Ayo Mala ..” ajaknya seraya bangkit berdiri melangkah kearah kasir

“Kemana?” tanya Mala terburu buru mematikan cigarette nya yang masih menyala, bergegas mengikuti Fani

“Salon” jawab Fani “Aku perlu penampilan yang berbeda sebelum melancarkan aksiku”

Rio duduk dengan tenang di dalam taksi yang melaju menuju ke salah satu pusat perbelanjaan tempat acara rapat reuni akan berlangsung. Ia memutuskan untuk hadir malam ini, atas pertimbangan bersama Wulan yang mereka diskusikan sore tadi

“Sebaiknya Ayah datang …” ujar Wulan saat Rio menyatakan kebimbangannya untuk menghadiri reuni kecil sekaligus rapat panitia ini

“Besok Ayah kembali ke tempat tugas dengan Flight pagi Bun … Ayah takut acaranya sampai malam dan Ayah jadi terlambat bangun” keluh Rio

“Nanti Bunda bangunkan Ayah .. jangan kuatir .. asalkan Ayah tidak pulang terlalu larut .. sebentar saja ” bujuk Wulan

“Dengan kesibukan Ayah, belum tentu saat reuni akbar nanti Ayah bisa hadir .. mungkin dinas keluar kota atau tugas lainnya .. atau mungkin pas menemani Bunda melahirkan ..”

Rio terdiam masih merasa bimbang. Sebenarnya bertemu Fani adalah salah satu alasan ia enggan hadir pada acara reuni tersebut. Hanya saja ia tidak bisa menceritakannya pada Wulan

“Kalau hari H nanti Ayah bisa hadir, ya tidak apa apa .. tapi kalau tidak bisa, minimal hari ini Ayah sudah bertemu teman teman Ayah” lanjut Wulan

“Sudah hampir 25 tahun tidak bertemu .. pasti menyenangkan Yah …”

Rio tersenyum kecil, memeluk Wulan penuh sayang “Baiklah Bunda .. Ayah datang malam ini sebentar saja” ujar Rio.

Tanpa terasa Rio telah tiba di tempat pertemuan. Ia melangkah masuk dan dengan cepat menemukan deretan meja panjang yang telah disusun oleh pihak restaurant. Rio menyapa beberapa teman lama yang telah hadir disana. Hampir seluruhnya telah berubah wajah dan postur tubuh sehingga perlu beberapa saat bagi mereka untuk saling mengenali.

Dengan cepat suasana berubah menjadi semakin akrab saat mereka bertukar cerita dan sesekali tertawa mengenang bagian masa lalu yang penuh kenangan. Rio hampir melupakan Fani yang belum hadir saat suara lepas terdengar meningkahi hiruk pikuk obrolan mereka

“Hallo semuaaa ….” Fani menghampiri meja dengan senyum lebarnya.

Beberapa kawan wanita mereka segera menyambut Fani dengan teriakan kecil penuh kerinduan, berjabat tangan dan berpelukan khas wanita. Rio mulai merasa ada rasa tidak nyaman terselip dalam hatinya.

“Hallo Fan …” sapanya saat Fani menjulurkan tangan untuk berjabat

“Hallo Rio .. terimakasih sudah datang” sapa Fani ramah.

Ia segera menempati kursi kosong didepan Rio, ketidaksengajaan yang sangat menguntungkan sehingga ia dapat dengan jelas memandang wajah tampan Rio dihadapannya.

Fani merasakan tatapan Rio memperhatikannya. Ia bersorak dalam hati. Malam ini ia memilih mengikat rambut panjangnya menjadi satu ke belakang dan mengenakan kemeja putih lengan pendek serta rok jeans diatas lutut. Kakinya terbungkus sepatu sneakers putih merek Burberry yang baru saja dibelinya.

Fani ingin memperlihatkan kesan casual, karena ia tahu, Rio tidak menyukai seorang wanita yang berpenampilan terlalu berlebihan. Fani meninggalkan bulu mata palsu dan make up yang biasanya selalu ia pakai untuk kegiatan sehari hari. Malam ini ia hanya memakai sedikit bedak, lipstik berwarna nude dan polesan maskara ringan untuk bulu matanya. Dan tampaknya, penampilannya kali ini berhasil menyita perhatian Rio.

Rapat malam itu berjalan santai, tanpa membahas hal serius, lebih banyak bertukar cerita dan nostalgia semasa SMA dulu. Tanpa terasa waktu semakin larut, di tengah hiruk pikuk suasana, Rio merasakan HP nya bergetar. Telepon dari Wulan. Rio beranjak menjauh agar dapat dengan jelas mendengar suara Wulan

“Ya Bun …” sapa Rio

“Ayah .. sudah malam .. katanya hanya sebentar .. besok bangun pagi lho Yah … nanti terlambat bangun ..” ujar Wulan mengingatkan

“Kan nanti Bunda yang mau bangunkan Ayah …” canda Rio menggoda Wulan. Terdengar tawa renyah Wulan diujung sana

“Iyaa .. ya sudah .. Bunda tunggu Ayah pulang” jawab Wulan

“Eh jangan .. Bunda tidur saja .. kasian Baby nya dalam perut nanti ikut ngantuk Bun …” larang Rio “Ya sudah .. Ayah pulang deh …” ujar Rio menyerah. Salah satu cara Wulan membujuknya pulang dan ternyata berhasil. Terdengar tawa Wulan diujung sana sebelum menutup teleponnya.

Rio menuju meja untuk berpamitan pulang lebih dahulu kepada seluruh teman temannya. Rio beralasan harus bersiap untuk pulang ke tempat tugasnya dini hari nanti.

“Aku juga pamit pulang” ujar Fani tiba tiba mengejutkan Rio.

“Ehm .. jangan jangan janjian mampir ke tempat lain yaaa …” goda seorang teman mereka diikuti teriakan riuh teman yang lain.

Rio dan Fani memang pasangan populer saat di SMA dulu. Siapa yang tidak tahu Kisah cinta mereka yang merebak menjadi perbincangan seantero sekolah. Fani hanya tertawa menanggapi gurauan teman teman mereka, sementara Rio merasa tidak perlu menanggapi dan segera beranjak keluar dari restaurant.

“Rioo .. tunggu ..” Rio mendengar Fani memanggilnya dan beberapa saat kemudian menjejeri langkahnya

“Aku …boleh minta tolong?” tanya Fani

“Apa …?” tanya Rio acuh tak acuh

“Antarkan aku pulang …” pinta Fani “Mobilku rusak, aku masukkan ke bengkel sebelum menuju kesini tadi …”

“Aku tidak bawa mobil” ujar Rio sambil terus berjalan menuju main entrance “Jakarta Macet parah malam hari begini .. lebih enak pakai taksi”

“Wah kebetulan” seru Fani “Bagaimana kalau kita pakai taksi yang sama? Biar drop aku dulu, lalu lanjut kerumahmu. Jadi aku tidak perlu sendirian didalam taksi malam malam begini .. bagaimana?”

“Kita berbeda arah .. tidak efektif pakai satu taksi begitu .. lebih baik kamu cari taksi sendiri saja” tolak Rio sehalus mungkin agar tidak menyinggung perasaan Fani. Fani menggamit lengan Rio, memaksa Rio menghentikan langkahnya

“Kamu tega membiarkan aku pulang sendiri selarut ini?” tanya Fani dengan pandangan memelas. Rio menatap mata Fani dan melihat kilau bening air mata yang menggenang didalamnya.

“Aku … harus minta tolong siapa lagi .. Kamu tahu Yo, Evan sudah … aku sendiri ….” Fani tidak meneruskan kata katanya. Ia hanya menatap Rio yang terpaku juga menatapnya.

“Baiklah …” ujar Rio setelah beberapa saat

“Aku antar kau pulang …”

Fani tersenyum lega. Ia segera mengikuti Rio menuju drop off Zone untuk memesan taksi. Perasaan dalam dada Rio semakin berkecamuk. Seandainya Fani tahu apa yang telah ia lakukan pada suaminya dan apa.yang telah dilakukan suaminya kepada isterinya. Tapi Rio juga tidak bisa diam membiarkan Fani seorang diri.

Entah mengapa ada sedikit rasa tanggung jawab pada diri Rio atas kesendirian Fani malam ini.
Taksi yang mereka pesan tak lama tiba. Rio memilih tempat duduk didepan untuk menghindari berdekatan dengan Fani di kursi belakang.

“Dimana alamatmu, Fan?” tanya Rio

“Green Village Pejaten” jawab Fani.

“Kita ke Green Village Pejaten dulu Pak, setelah itu lanjut ke Apartemen Kemang ya …” instruksi Rio kepada supir taksi yang akan mengantar mereka.

Perjalanan berlalu dalam hening. Rio memilih untuk berkomunikasi dengan wulan melalui chat WhatsApp, mengabarkan bahwa ia akan pulang sedikit terlambat tanpa menyatakan alasannya. Rio menceritakan sedikit pertemuan yang menyenangkan dengan teman lamanya kepada Wulan, serta tidak lupa menyatakan rasa leganya karena menuruti saran Wulan untuk menghadiri pertemuan tersebut. Sementara Fani di kursi belakang pun melakukan hal yang sama, mengabarkan keadaan dirinya kepada Mala

“Benar benar laki laki yang sulit ditaklukan ..” tulisnya melalui chat WhatsApp

“Hampir saja aku pulang sendiri malam ini”

“Tapi berhasilkan akhirnya?” tulis Mala

“Bukan Fani kalau tidak berhasil …” tulis Fani lagi

“Aku tunggu di rumah pejaten ya”

“Siap .. meluncur ” tulis Mala menutup chatnya.

Taksi berhenti didepan sebuah rumah besar dan megah sesuai instruksi yang diberikan Fani.

“Mampir dulu Yo?” tanya Fani sebelum turun

“Tidak usah .. sudah malam” tolak Rio. Fani mengangguk tersenyum, membuka pintu taksi dan melambai saat taksi kembali melaju menuju apartemen Rio. Hanya beberapa menit berselang, sebuah mobil Audi Hitam keluaran terbaru berhenti dihadapan Fani. Wajah Mala terlihat saat kaca pengemudi diturunkan

“Jadi ….? Belum berhasil membawa si tampan ke tempat tidur?” ujar Mala sambil menyeringai. Fani tersenyum, bergegas masuk melalu pintu sebelah kemudi dan duduk disamping Mala

“Sabar …” desisnya

“Semakin sulit, semakin aku bernafsu untuk mendapatkannya .. Ada sesuatu dalam dirinya, entah apa .. tapi yang jelas, itu semakin membuatku bergairah, Mala …”

Wulan membuka pintu apartemen mereka dan mendapati senyum Rio dihadapannya. Wulan tersenyum, menutup kembali pintu setelah Rio melangkah masuk. Segelas teh hangat sudah tersedia diatas meja dapur. Rio meneguk perlahan, rasa hangat menjalar di tenggorokan dan perutnya.

“Rasanya Ayah tidak ingin kembali ke tempat tugas Bun …” ujar Rio saat Wulan membelai lembut punggungnya

“Jangan dong …” ujar Wulan sambil tersenyum

“Ingat tanggungjawab Ayah … pada keluarga disana dan pada tugas Ayah”

Rio mengecup perut Wulan yang tampak semakin membesar

“Bunda tahu Ayah lelah .. Minggu depan biar Bunda kontrol kandungan sendiri ya Yah .. Ayah tidak usah kesini ..” ujar Wulan lagi

“Bun .. Ayah ingin selalu ada untuk Bunda walau sulit bagi Ayah untuk membagi waktu .. Sebisa mungkin Ayah akan datang Bun, kecuali ada tugas negara yang tidak bisa Ayah tinggalkan …” ucap Rio pelan

“Ya sudah …” ujar Wulan lagi “Ayo istirahat .. Ayah tidur, besok pagi Bunda bangunkan ..”

Rio mengangguk, menggandeng tangan Wulan menuju kamar mereka.

“Jadi ini apartemennya ” gumam Fani dari dalam mobil tempat ia dan Mala mengikuti taksi yang mengantar Rio pulang “Seingatku, Evan punya satu unit apartemen yang sama di tempat ini .. Aku pernah melihat surat kepemilikannya. Kebetulan sekali .. ”

“Baguslah .. bisa dengan mudah kau lacak alamat pasti tempat tinggalnya. Lantai berapa, tower mana .. karena kamu juga salah satu penyewa, pihak pengelola pasti dengan mudah memberikan informasi yang kamu inginkan ” jawab Mala

Fani mengangguk setuju. “Kita tunggu sampai pagi disini …” lanjutnya

“Apa?” Mala terkejut

“Buat apa? Fan .. masih ada waktu kalau kamu mau Making Love dengan Dion sekarang. Dia pasti masih menunggumu. Lebih baik berkeringat diatas ranjang dengan kenikmatan Dion daripada menunggu seseorang yang tidak jelas keberadaannya!”

“Tidak Mala” tolak Fani

“Besok Rio pulang dengan pesawat pagi. Aku masih ingin bertemu dengannya sekali lagi … Kita lihat saja, ia pasti akan bertekuk lutut dan memuaskanku diatas ranjang .. Aku punya firasat, sex dengan Rio akan lebih dahsyat dibandingkan Dion ..”

Dari jendela kamarnya, Rio memperhatikan sebuah mobil sedan hitam yang sedari tadi mengikutinya terparkir di pinggir jalan diluar lingkungan apartemennya. Rio melirik Wulan yang sudah tertidur lelap. Rasa cemas mulai menyergapnya. Perlahan ia menutup tirai jendela, merebahkan dirinya disamping Wulan dan mulai mencoba memejamkan mata.

Rio berjalan lambat, menuju sebuah bangku kosong di ruang tunggu keberangkatan Bandara Suta. Satu tangannya menahan tas ransel yang dibawanya, sementara tangan yang lain memegang HP dan bercakap dengan Wulan diujung sana. Ia telah mengantar Wulan kerumah orang tuanya sebelum berangkat tadi. Entah mengapa Rio merasa Wulan akan lebih aman berada disana bila ia tidak berada disisi Wulan.

“Dua minggu lagi Ayah antar Bunda kontrol, pastikan tanggal berapa jadwal dokter obgyn nya ya Sayang ..” pesan Rio melalui jaringan telepon

“Bunda hati hati ya .. jangan terlalu lelah praktek, kandungan Bunda sudah besar pasti stamina Bunda juga mulai berkurang”

Rio menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi “Masih 1 jam sebelum boarding Bun .. kok Ayah sudah kangen Bunda dan anak kita lagi ya …” gumam Rio sambil tertawa kecil. Ia menangkap siluet seseorang duduk di sampingnya melalui ekor matanya. Rio menoleh dan mendapati Fani tersenyum padanya. Sejenak Rio terkejut dan segera mengakhiri percalapannya di HP dengan Wulan.

“Aku tidak mau mengganggumu yang sedang serius di telepon” sambut Fani setelah Rio menutup teleponnya

“Kejutan ya kita bisa bertemu disini …”
Rio tersenyum kecil dan segera berkata”Aku tidak terkejut”

Fani mengangkat alisnya, terlihat bingung dengan jawaban Rio “Kamu tau kita akan bertemu disini?” tanyanya “Bagaimana bisa?”

“Apa yang tidak aku ketahui darimu, Fan …” jawab Rio santai, melipat tangannya di dada, bersandar pada kursi dan menatap lurus kedepan

“Kamu dan temanmu membuntutiku semalam, menunggu didepan gerbang apartemen dalam mobil sedan hitam bernomor polisi B 2626 F. Kamu pastinya ada disini karena hari ini jadwalmu memeriksa toko batik, usaha milikmu yang berada di ruang tunggu terminal bandara ini. Dan karena kamu memiliki toko disini, tentunya akses untuk mengetahui keberangkatanku sangat mudah kamu dapatkan”

Fani membelalakan mata dengan takjub “Kamu tahu semua itu Yo? Dari mana?” tanyanya

“Bukan urusanmu …” jawab Rio santai.

Hanya perlu beberapa detik bagi Fani menguasai keadaan, menyamarkan rasa terkejutnya dan kembali tersenyum seraya berkata “Wow .. aku tersanjung ..”

Rio menoleh “Maksudmu?” Tersanjung apa?” tanya Rio

“Saat seseorang berusaha mencari informasi, berarti orang tersebut menaruh perhatian lebih pada info yang diinginkannya” ujar Fani, tetap memandang Rio dalam dalam

“Jadi itu berarti, kamu menaruh perhatian lebih padaku, karena kamu berusaha mencari info detail tentang diriku. Benar kan?”

Rio terdiam. Fani melanjutkan “Kenapa? Kenapa kamu begitu tertarik dengan pribadiku Yo?”

Rio menegakkan duduknya. Ia tidak mungkin mengatakan kepada Fani bahwa ia mencari informasi melalui jaringannya karena memiliki kekuatiran yang berkaitan dengan Evan, suami Fani dulu. Ia kuatir bila Fani mengetahui apa yg terjadi antara dirinya, Wulan dan Evan dan kemungkinan Fani mencelakakan Wulan karena dendamnya.

“Yo?” desak Fani

“Kamu masih memiliki perasaan itu untukku kan?

Sedikit merasa lega, Rio lebih memilih Fani memiliki prasangka bahwa ia masih mencintai Fani. Itu berarti Fani betul betul tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi dibalik kematian suaminya.

“Mana tokomu? Aku mau lihat …” ujar Rio mengalihkan pembicaraan seraya bangkit berdiri. Fani tersenyum, ikut berdiri dan memberi isyarat pada Rio untuk mengikutinya.

Toko milik Fani menjual berbagai baju Batik merek ternama. Sekilas Rio melirik tag harga pakaian di toko itu yang bernilai fantastis. Ia meragukan ada yang mau membeli pakaian berharga mahal seperti itu, kecuali mungkin turis mancanegara yang sedang berburu oleh oleh berbau etnik

“Pilihlah salah satu .. aku berikan gratis untukmu hari ini Yo ..” ujar Fani santai, memperhatikan Rio yang berkeliling melihat deretan baju yang tergantung di display tokonya.

“Aku beli …” kata Rio

“Maaf tapi aku tidak terima barang gratisan”

Fani tertawa. Terselip ragu dalam hatinya jika Rio mampu membeli pakaian dari butiknya ini. Rio hanya seorang pegawai pemerintah yang tentunya memiliki gaji standar seperti yang lainnya. Sementara butik ini memiliki pelanggan dari kalangan atas dan manca negara. Fani melihat Rio mengambil satu baju panjang wanita berpotongan lebar bermodel Baby Doll. Rio menuju kasir untuk membayar

“Saya ambil ini” ujar Rio kepada pegawai kasir wanita yang sedang berjaga. Rio mengeluarkan sebuah kartu dari dalam dompetnya dan menyerahkan kepada petugas kasir

“Credit Card?” tanya Fani seraya menghampiri. Ia melirik harga baju pilihan Rio yang bernilai lebih dari 1 juta rupiah

“Debit Card” jawab Rio cepat “Aku tidak suka berhutang”

Fani melirik tajam “Untuk isteri tercinta pastinya” tebak Fani.

“Tentu …” jawab Rio

“Keluarga bagiku yang utama ..”

Rio tengah berusaha menekankan kepada Fani secara tidak langsung bahwa ia sama sekali tidak memiliki perasaan spesial apapun padanya. Sebaliknya, ia ingin sesegera mungkin menjauhkan Fani dari kehidupannya karena firasat Rio mengatakan ada yang tidak beres dengan maksud Fani mendekatinya.

Panggilan Boarding untuk Rio terdengar tepat saat ia menyelesaikan pembayarannya di kasir butik Fani. Rio berpamitan, melangkah keluar toko dengan santai. Fani mengikuti Rio dengan pandangannya. Hatinya semakin dibakar rasa penasaran untuk dapat mendekati Rio dan menempati satu sudut hatinya kembali. Otaknya berputar cepat, mencari cara untuk dapat melancarkan aksinya menggapai impiannya.

Bersambung