Drama Threesome Part 25

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25
Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Part 32Part 33Part 34Part 35
Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40

Cerita Sex Dewasa Drama Threesome Part 25 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Cerita Sex Dewasa Drama Threesome Part 24

Rio menepati janjinya, satu bulan setelah ia menyematkan cincin di jari Wulan, Rio datang melamarnya, memintanya dengan Resmi kepada ibu dan adik laki laki Wulan.

Meyakinkan Ibu bukanlah hal yang mudah. Wulan terlebih dahulu menjelaskan perihal keberadaan Rio kepada dua adiknya, menjelaskan bahwa mereka berdua saling mencintai dan membutuhkan. Kedua adik Wulan lebih mudah menerima penjelasan Wulan. Mereka pula yang membantu Wulan menjelaskan kepada ibu Wulan posisi dan keadaan Rio yang sebenarnya.

Seorang ibu pastilah menginginkan jodoh terbaik bagi anak anaknya. Apalagi untuk Wulan, anak perempuan tertua, ibunya berharap akan dapat melangsungkan pernikahan seperti yang di lakukan oleh orang tua lain untuk anak anaknya. Namun status Rio yang telah beristri tentunya tidak memungkinkan ibu Wulan untuk secara terang terangan mengumumkan pernikahan mereka.

Meyakinkan bahwa Rio mencintai Wulan, bisa membahagiakannya dan akan selalu setia padanya, adalah hal yang sangat sulit dilakukan kepada Ibu. Sampai detik kedatangan Rio pun, ibu masih belum bisa menerima Rio sepenuhnya. Wulan sudah menyampaikan kondisi sebenarnya pada Rio, namun Rio tetap bersikukuh melamar Wulan apapun yang terjadi. Ia sangat yakin bisa membuat ibu menerimanya sebagai menantu.

Ada sesuatu kekuatiran yang Rio lihat pada diri ibunda Wulan. Ia tidak mengerti apa, tapi banyak sekali pertanyaan yang harus Rio jawab berkaitan dengan masa depan dirinya dan Wulan. Semua pertanyaan ibunda Wulan dapat dijawab dengan lugas oleh Rio, hingga akhirnya hanya satu pesan yang dititipkan padanya “Jaga Wulan baik baik, seperti ibu dan ayah menjaganya …”

Pernikahan mereka berlangsung sederhana, hanya dihadiri oleh ibu dan adik adik Wulan, serta satu orang sahabat Rio sebagai saksi. Tidak ada resepsi, hanya ada tumpeng sebagai pengganti kue pengantin. Pernikahan dilangsungkan di apartemen yang Rio sewa untuk tempat tinggalnya beserta Wulan setelah mereka menikah. Sore hari setelah akad nikah, Rio dan Wulan bertolak ke Bali, menghabiskan dua hari Bulan madu mereka disana.

Malam pertama saat Wulan menyerahkan bukti cintanya pada Rio seutuhnya, dan memasrahkan diri menjadi pendamping Rio dalam suka dan duka.

Wulan masih sangat lugu dalam hal hubungan suami istri. Sementara Rio sudah lebih dulu memiliki pengalaman dalam hal ini. Wulan merasa sangat gugup saat Rio menuntunnya memasuki kamar hotel. Rio meletakkan koper mereka dilantai kamar hotel, meraih kedua tangan Wulan dan menatapnya penuh mesra. Wulan tersipu.

Jantungnya berdegup sangat keras. Rio mencium keningnya lembut kemudian mengajak Wulan berdiri di balkon kamar hotel, menatap senja yang belum hilang dari garis cakrawala pantai. Rio merangkul Wulan tanpa berkata kata. Ia tahu Wulan sangat gugup menghadapi hari ini dan lelah selama sebulan sebelumnya untuk mempersiapkan segala sesuatunya.

“Makan malam akan diantar ke kamar nanti Dek, sekarang mandilah .. segarkan badan dulu setelah hari yang melelahkan ini ..” ujar Rio pada Wulan. Wulan mengangguk, melangkah ke dalam kamar dan membuka isi kopernya. Ia melihat Rio duduk di kursi balkon sambil memejamkan mata.

Wulan menatap isi kopernya. Apa yang akan ia kenakan malam nanti? Ia ingin membuat malam ini istimewa untuk Rio. Malam yang tidak akan ia lupakan seumur hidupnya. Wulan tersenyum, memilih beberapa baju dan melangkah ke kamar mandi.

Rio membuka matanya saat pipinya terasa hangat oleh kecupan mesra. Wulan duduk disampingnya. Rupanya ia tertidur di kursi balkon setelah mereka tiba tadi. Wulan sudah tampak segar, mengenakan piyama tidur berupa kemeja dan celana panjang berbahan katun. Rambutnya terikat satu kebelakang, menyisakan beberapa lembar rambutnya saja terjuntai di dahi.

“Mas .. makan malam sudah siap .. tadi room service mengantarnya kesini. Mas Rio mau mandi dulu, atau makan dulu?” tanya Wulan

“Makan dulu Dek .. mas lapar” jawab Rio.

Mereka menyantap makan malam di kursi teras balkon sambil bercengkrama ringan. Selesai makan Rio ke kamar mandi untuk menyegarkan diri sementara Wulan duduk dengan tenang. Ia hanya menunggu. Tidak lah elok pada malam pertama seorang wanita menggoda suaminya untuk berhubungan seksual terlebih dahulu. Bukan ini yang Wulan inginkan. Ia ingin Rio lah yang menyentuhnya untuk pertama kali. Wulan berbaring di kasur kamar seraya menonton film yang kebetulan di putar di TV hotel.

Rio telah selesai menyegarkan diri. Ia keluar kamar mandi dengan hanya menggunakan celana pendek dan bertelanjang dada. Wulan duduk tegak, terpukau dengan dada bidang Rio yang baru kali ini ia lihat dengan jelas. Rio mendekatinya. Dada Wulan berdegup sangan keras.

Rio mencium bibirnya dengan mesra. Kedua tangannya memegang kedua pipinya dengan lembut. Wulan merasakan ciuman penuh Cinta Rio mengalirkan rasa hangat ke dalam tubuhnya. Ia merasa ada dorongan sensasi yang bertambah kuat untuk membalas ciuman Rio.

Wulan merasakan lidah Rio menari nari dalam mulutnya, memberikan sensasi yang memaksa ia melakukan hal yang sama. Beberapa menit mereka larut dalam kemesraan saat Wulan merasakan ciuman Rio berpindah ke balik telinganya, menyusuri lehernya dan memagutnya dalam di beberapa bagian.

Nafas Wulan menderu seiring degup jantungnya yang semakin keras, memaksanya mengeluarkan desah halus dari mulutnya. Ia merasakan sensasi yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Semakin lama semakin dahsyat dan Wulan tidak sanggup untuk menahannya.

Wulan merasakan belaian kehangatan Rio pada rambutnya, Rio tidak berhenti menciuminya dan sekarang Wulan merasakan tangan Rio mulai merambat turun kearah dadanya. Wulan sedikit terkejut. Reaksi Wulan menghentikan ciuman Rio. Rio menatapnya penuh Cinta, tersenyum melihat nafas Wulan yang memburu

“Mas Rio ….” desisnya. Rio mengerti keresahan yang dirasakan istrinya saat ini. Pertama kali daerah pribadinya disentuh laki laki pasti menimbulkan perasaan aneh pada diri Wulan

“Dek .. Mas sekarang suami sah mu .. boleh ya …?” tanya Rio lembut. Wulan memejamkan matanya seraya menggigit bibirnya. Tubuhnya sedikit menegang. Rio kembali mengecup bibir Wulan perlahan, membaringkannya pada posisi tidur dan membelainya lembut.

Wulan menatap Rio berusaha mengatasi kegugupannya. Rio mulai membuka satu persatu kancing piyama Wulan perlahan. Wulan membiarkan Rio membuka piyamanya setelah semua kancing terlepas. Rio melihat Bra tipis berenda, membingkai dua gunung payudara Wulan yang menonjol indah. Rio tercekat. Ia merasakan sedikit ketegangan pada penisnya. Ia menatap Wulan yang masih tampak gugup, namun sudah mulai melemparkan senyum indahnya kepada Rio.

Tangan Rio beranjak turun menarik celana panjang piyama Wulan. Pemandangan kali ini lebih memukau lagi. Wulan hanya mengenakan celana dalam tipis berwarna senada dengan bra nya, menampakkan perut dan pinggangnya yang mungil, kedua paha mulus Wulan membuat Rio tidak dapat menahan diri untuk menyentuhnya. Ia kembali merasakan penisnya menegang.

Rio kembali mencium bibir Wulan dengan penuh cinta. Ia tau ia tidak boleh terburu buru. Ia ingin memberikan pengalaman sex pertama bagi wulan dengan sempurna. Wulan harus merasa relax agar ia tidak merasa sakit. Semua harus terasa nyaman bagi Wulan.

Rio menurunkan tali bra Wulan, membuka pengaitnya dan melepas Bra Wulan, menampakkan dua payudara Wulan yang begitu indah sempurna. Rio menciumnya, merasakan sedikit gerakan kecil tubuh Wulan saat ia mulai mengulum puting Payudara Wulan dengan lembut bergantian.

“Oh mas …… ” desis Wulan. Ketegangan badannya mulai meluruh saat ia merasakan sensasi baru yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Hangat mulut Rio pada payudaranya, jilatan dan isapan lembut lidah Rio pada putingnya .. Wulan melayang. Tangannya refleks membelai rambut Rio.

Ciuman Rio dirasakan menggelitik perutnya sekarang. Wulan memejamkan mata. Semakin dekat pada vaginanya, ia merasakan tangan Rio melepas Celana dalamnya. Vaginanya terasa dingin dan basah sekarang. Wulan meletakkan kedua tangannya berusaha menutupi vaginanya yang kini terbuka. Rasa canggung kembali mendera dirinya.

Rio menatap Wulan yang sedikit membelalakkan matanya terkejut saat rio menyentuh vaginanya lembut. Ia menarik lembut kedua tangan wulan yang berusaha menutupi vaginanya. Rio membuka kedua paha wulan, sedikit menekuk lututnya sehingga menampakkan bagian dalam vagina Wulan yang merekah merah.

Tubuh Wulan terasa kembali menegang. Tangannya terus berusaha menutupi vaginanya dari tatapan Rio.

Rio tersenyum, kembali mencium bibir Wulan lembut, sengaja berlama lama memanjakannya mengalirkan rasa nyaman pada diri wulan. Saat dirasakan tubuh Wulan kembali relaks, Rio mengusap lembut bagian luar vagina Wulan, menghentikan ciumannya melihat reaksi wulan.

Mata Wulan terpejam. Rio menurunkan kepalanya kearah vagina Wulan, menggenggam tangan wulan disamping tubuhnya dan mulai menjilat lembut bagian luar vagina Wulan. Wulan menggelinjang, merasakan kenikmatan sekaligus rasa jengahnya mengetahui rio berada di bawah sana

“Uh … Mas Rio ….” gumamnya .

Rio terus melancarkan aksinya, memainkan lidahnya semakin cepat. Saat dirasa wulan sudah mulai hanyut dalam kenikmatan, Rio melepaskan genggaman tangannya, membuka vagina wulan dengan jarinya dan memainkan lidahnya lebih dalam kearah lubang vagina Wulan. Saat lidahnya menyapu klitoris wulan, Rio merasakan cairan vagina Wulan semakin banyak dan basah. Ia tau Wulan sudah mulai berada di batas ambang birahi ..

Sementara wulan tak berhenti menggelinjang merasakan sensasi di vaginanya. Sensasi baru, memberikan rasa nikmat, memacu adrenalinnya, meningkatkan emosi birahinya dan memaksanya mendesiskan gumaman kenyamanan.

“Uuhh Mas rioo .. aahh … hmm” entah apa ini, batin wulan. seribu perasaan menderanya, membuatnya tidak dapat berpikir jernih lagi. Rasa canggungnya sudah hilang entah kemana, berganti rasa ingin terus menikmati sensasi yang diberikan Rio padanya. wulan merasakan vaginanya semakin hangat dan basah.

Rio melumat bibir wulan penuh nafsu. Penisnya semakin tegang terhunus.

Rio merasakan Wulan sudah tidak lagi peduli dengan sekelilingnya, membaur dengan kenikmatan yang telah ia alirkan sebelumnya. Tanpa menunggu lama, Rio menghunuskan penisnya pada lubang vagina Wulan, melakukan penetrasi awal di permukaan vagina Wulan.

“Aaahh mas Riooo … sakiittt …” desis Wulan. Wajahnya meringis. Rio menghentikan aksinya, membiarkan Wulan lega sejenak sebelum kembali melakukan penetrasi lebih dalam. Ia merasakan lubang vagina Wulan sangat sempit, sedikit sulit untuk masuk lebih dalam bila tanpa tekanan yang cukup kuat

“Maaaasssss …..” jerit Wulan tertahan setiap kali Rio menambah kedalaman penetrasinya. Tapi Rio memang harus sedikit memaksa untuk dapat menjebol pertahanan Wulan malam ini. Ia merasakan lagi tubuh Wulan menegang menahan perih. Ditariknya sedikit penisnya, kemudian menambah tekanan menghunusnya lagi semakin dalam. Terus berkali kali.

“Maaasss …. aaaaawwwhhh ….” regang Wulan. Tangannya mengepal kencang meremas sprei tempat tidur. Rio sedikit tidak peduli, terus memaksa masuk dengan gerakan tarik ulur berulang ulang, perlahan tapi pasti. Semakin dalam semakin dalam dan …..

“Aaaahhhh …. !!” jerit Wulan. Rio merasa posisi penisnya mantap dalam vagina Wulan. Bulir keringat membasahi kening Wulan saat matanya nanar menatap Rio.

Berhasil. gumam Rio dalam hati. Ia merasakan kehangatan dan jepitan vagina Wulan pada penisnya. Rio menggerakkan penisnya maju mundur, membungkuk mencium bibir Wulan, melumatnya penuh nafsu sementara tangannya meremas remas lembut payudara Wulan.

“Mmhh … sakit …” keluh wulan disela sela serangan ciuman Rio pada bibirnya. “Iya sayang ….” gumam Rio namun tidak berhenti melaksanakan aksinya.

Wulan merasakan Vaginanya penuh. Ada Penis Rio didalamnya, ia tahu. Dan kini ia merasa gerakan gerakan menggesek dinding vaginanya, menyentuh klitorisnya. Semakin lama semakin cepat gerakan Rio terasa dalam vaginanya. Wulan mulai merasakan tubuhnya mengendur. Rasa sakit tadi tidak lagi terlalu terasa. ia hanya mendengar gumaman kenikmatan Rio, gerakan Rio semakin cepat dan …

“Aaarrgghhhh …..!!” Teriakan Rio begitu jelas pada telinganya. Wulan merasakan cairan hangat membasahi vaginanya, sesaat kemudian Tubuh Rio terasa semakin menindihnya.

Rio berguling kesamping terengah2 dengan wajah memerah. Wulan tau ini adalah ejakulasi. Ia berhasil memberikan kenikmatan pada Rio, walau ia sendiri belum bisa merasakan sensasi kenikmatan seks yang sering didengarnya dari orang lain.

Rio memandangnya tersenyum puas. Wulan meraba bagian vaginanya yang terasa panas. Ia melihat warna merah pada telapak tangannya.

Darah pertama, pertanda keperawanannya yang telah dimiliki oleh Rio. Wulan tersenyum lega, tiba tiba merasa lelah dan tertidur di samping Rio.

Bersambung