Drama Threesome Part 24

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25
Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Part 32Part 33Part 34Part 35
Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40

Cerita Sex Dewasa Drama Threesome Part 24 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Cerita Sex Dewasa Drama Threesome Part 23

Selama beberapa detik mereka hanyut dalam kemesraan, tanpa kata mengungkapkan cinta di hati masing masing dan membakar benih benih asmara dalam hati semakin membara. Rio tidak ingin melepas wulan, dan demikian sebaliknya. Waktu berlalu tanpa suara, hanya derai hujan yang semakin lebat menjadi saksi janji hati keduanya …

Cinta terkadang tidak memerlukan kata kata. Cinta yang tumbuh perlahan pada hati Wulan dan Rio memilih jalannya sendiri untuk membuat keduanya menyadari. Wulan mengerti apa yang dirasakan Rio, sementara Rio tidak bisa lagi menyembunyikan rasa cintanya pada Wulan yang semakin bertambah.

Setelah perpisahan itu, Rio meninggalkan Wulan untuk menunaikan tugas belajarnya di Luar Negeri, sementara Wulan tetap melanjutkan pendidikan spesialis yang telah lama diimpikannya. Meski terpisah jarak dan waktu, Rio selalu berusaha menghubungi Wulan untuk sekedar menanyakan kabar atau mendengar cerita Wulan tentang kesehariannya sebagai seorang mahasiswa lagi.

Wulan pun demikian. Tidak setiap hari mereka berkomunikasi, namun Wulan selalu memberi semangat kepada Rio pada kesempatan mereka berbicara. Rio dan Wulan sangat mengerti kesibukan masing masing.

Meski tenggelam dalam cinta, Rio dan Wulan menyadari ada tembok tinggi menjulang yang memaksa mereka untuk tidak bisa menjalani cinta selayaknya pasangan lain yang tengah dimabuk asmara. Status Rio yang sudah berumah tangga dan konsekuensi pekerjaannya, membuat ia dan Wulan seolah berada dalam batasan tertentu.

Wulan dan Rio menyimpan erat hubungan mereka dari penglihatan orang lain, termasuk dari keluarga mereka sendiri. Apa yang kelak akan terjadi, mereka tidak tahu dan hanya membiarkan waktu yang akan memutuskan. Rio sangat bersyukur, Wulan tampak tidak keberatan dengan hal tersebut.

Wulan sangat dewasa menyikapi hubungan mereka. Wulan mengerti batasan yang tidak boleh ia langgar, memberikan sepenuhnya hak Rio untuk membagi waktu utamanya bagi isteri dan anak anaknya, tidak menuntut dan selalu mendukung Rio apapun yang terjadi. Wulan menyembunyikan dirinya dengan rapi dibelakang Rio, tidak mencampuri urusan keluarga dan pekerjaan Rio. Rio merasa sangat nyaman menjalin hubungan dengan Wulan, tanpa ada rasa kuatir sedikitpun akan keutuhan keluarga maupun karirnya.

Wulan sendiri telah sangat memahami situasi yang ia alami bersama Rio. Ia hanya ingin Cinta Rio, tidak berkeberatan sedikitpun dengan status Rio yang harus membagi dirinya tidak utuh untuknya. Cintanya pada Rio sulit diungkapkan dengan kata kata. Wulan hanya ingin Rio selamanya bersamanya, tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi pada keluarga maupun karir Rio yang bisa membuat Rio jauh darinya.

Wulan paham betul, sebelum membagi hati dengannya, Rio memiliki kehidupan yang sangat sempurna dan ia ingin menjaganya tetap demikian. Wulan sangat berhati-hati menjaga kerahasiaan hubungan mereka, berhati hati dalam bersikap dan berkata kata dan selalu memberikan kebebasan bagi Rio dalam membagi perannya.

Satu tahun berlalu, saat Rio memberi kabar bahwa ia akan kembali ke Indonesia karena tugas belajarnya telah selesai. Wulan sangat bahagia saat Rio berjanji akan menemuinya setelah semua urusannya selesai. Namun sambil menanti, Rio menyampaikan kondisi yang harus mereka lewati selama Rio kembali kepada keluarganya. Rio tahu, Wulan akan sangat paham dengan keadaan ini

“Selasa malam, Mas akan tiba di Bandara Sukarno Hata dan keluarga akan menjemput, Dek .. kemudian mas kembali ke rumah, ke kantor seperti biasa untuk menyelesaikan administrasi”

Wulan tersenyum. Ada sedikit sesak terasa di dadanya, namun ia tahu apa yang harus dilakukannya.

“Iya mas .. kontak terakhir kita sebelum penerbangan mas kembali ke Indonesia. Setelah itu aku hanya akan menunggu .. aku tidak akan menghubungi mas Rio sampai mas ada kesempatan menghubungi aku lagi …”

Wulan tau, ini akan terasa berat. Menanti tanpa ketidak pastian bukanlah hal yang mudah. Tapi ia harus menyiapkan diri untuk ini semua, untuk Rio yang sangat ia sayangi.

Dua minggu berlalu sejak kepulangan Rio, Wulan masih menunggu .. tanpa kabar. Benaknya dipenuhi pertanyaan apa yang terjadi pada Rio, sehatkah ia disana, apa yang sedang dilakukan Rio, dan pikiran pikiran lain yang membuat dadanya sesak. Dilihatnya layar HP nya setiap saat, berharap Rio menghubunginya atau sekedar memberi kabar.

1 Bulan berlalu. Wulan masih tetap menunggu. Seperti biasa, sore itu ia menuju klinik tempatnya berpraktek sebagai dokter gigi. Sesampainya di klinik, ia segera masuk ke ruangan prakteknya, membuka lap topnya untuk mulai mengerjakan tugas kuliahnya, seraya bertanya pada perawat yang berjaga sebagai asistennya hari itu.

“Berapa pasien yang mendaftar hari ini, Lin?”

“3 Dok .. pasien terakhir saya jadwalkan pukul 8 malam” jawab asistennya

“Kenapa malam sekali?” tanya wulan melirik jam di dinding. Pukul 5 sore saat itu

“Dua pasien paling aku hanya perlu waktu 2 jam saja. Majukan jadwalnya ke jam 7 saja Lin, hari ini aku ingin pulang lebih awal. Perutku sakit, sepertinya maag ku kambuh”

Lina sang perawat memperhatikan wajah wulan yang terlihat agak pucat, sesekali memegang perutnya dan meringis kesakitan

“Dokter akhir akhir ini sering makan tidak teratur” ujar Lina “Pasien terakhir baru bisa datang jam 8 selepas kantornya Dok …”

“Kalau begitu di cancel saja Lin” ucap Wulan seraya menelan 2 butir obat maag untuk menghilangkan rasa sakit pada perutnya

“Dijadwal ulang untuk besok dengan dokter Maya saja …”

“Maaf Dok, ini kelihatannya pasien langganan Dokter karena beliau khusus meminta Dokter Wulan yang menanganinya” jawab Lina.

Wulan terdiam. Ia hanya mengangguk mengiyakan, kemudian memberi isyarat pada Lina untuk memulai pemeriksaan pasien pertama.

Pukul 8 kurang lima menit, Wulan merasakan perutnya semakin melilit. Ia hendak beranjak keluar saat Lina menyampaikan pesan bahwa pasien terakhirnya telah tiba. Wulan kembali kemejanya, Lina membawa pasien terakhirnya masuk, dan …. tepat dihadapannya berdiri Rio.

Wulan terpaku, memandang Rio dengan senyumnya yang sangat Wulan rindukan. Sebongkah haru merasuk dalam dadanya, Wulan merasakan tubuhnya melemah, pandangannya tampak buram tertutup air mata yang mulai mengembang, perutnya terasa semakin teraduk aduk …

“Mas …..” hanya kata itu yang terkhir ia ucapkan sebelum jatuh tak sadarkan diri …..

Wulan membuka matanya perlahan. Samar ia melihat wajah kuatir Rio disampingnya. Ia menatap sekeliling, merasakan sakit diperutnya sudah jauh berkurang.

“Dek ….” suara Rio lembut dan dalam. Wulan merasakan tangan Rio erat menggenggam tangannya

“Adek di rumah sakit … tadi pingsan waktu mas datang … mas bawa kesini … ”

Wulan meneteskan air mata, mencoba tersenyum

“Mas Rio kemana saja …..? Aku tunggu kabar mas lama …..” ucap Wulan tersendat. Rio mengecup punggung tangan Wulan penuh cinta.

“Maafkan mas sayang … ” Rio mencoba menjelaskan

“Setelah pulang banyak sekali yang harus mas urus. Mas juga langsung mendapatkan tugas baru di luar kota, jadi mas mengurus dulu kepindahan kesana, barulah mas bisa punya kesempatan menemuimu lagi …”

Wulan tersenyum lega, meneteskan air mata bahagia.

“Perawatmu tadi sudah menghubungi Ibumu Dek, mengabarkan kamu ada disini ….” ucap Rio lagi.

Wulan membelalakan mata. Itu berarti pertama kali Rio akan bertemu keluarganya disini. Tidak . Wulan belum siap menjelaskan siapa Rio. Banyak hal yang masih harus mereka sembunyikan, terutama status Rio

“Mas .. sebaiknya Mas Rio pulang sebelum ibu dan adik adik datang ….” pinta Wulan.

Rio menatap Wulan bingung “Kenapa Dek?” tanyanya tak mengerti

“Mas .. nanti kalau ibu tanya mas siapa .. aku harus jawab apa …..” keluh Wulan bingung.

Rio tercenung memikirkan perkataan Wulan “Tapi mas ingin menemanimu disini .. mas masih rindu dan kuatir …” ujarnya ragu.

Wulan tersenyum menyentuh pipi Rio lembut “Aku juga rindu mas Rio ….” ujarnya lembut

“Tapi untuk kebaikan kita, lebih baik kita tunda dulu sampai semua benar benar siap, sampai saat aku tau harus bicara apa kepada ibu mengenai mas Rio ….”

Rio menunduk, mengecup kening Wulan lembut, mencium bibirnya dalam dalam beberapa saat sebelum berpamitan pergi.

Dalam perjalanan pulang, Rio merenungi kata kata Wulan. Ada sakit yang terasa dalam hatinya menyadari bahwa ternyata Wulan masih tidak dapat menjelaskan keberadaan dirinya kepada keluarganya. Sebagai seorang laki laki, harga dirinya terusik. Seharusnya ia dapat menyebutkan siapa dirinya dengan mantap dan jelas, memperkenalkan dirinya dengan tegas sebagai kekasih Wulan kepada ibu dan adik adik Wulan.

Seharusnya ia bisa dengan bebas berada disamping Wulan, menemaninya melewati sakitnya tanpa menimbulkan rasa kuatir di hati Wulan, dan bukannya malah harus pergi meninggalkannya seperti saat ini. Seharusnya ia bisa menggantikan posisi Ayah Wulan yang telah tiada saat Wulan begitu memerlukan seseorang untuk menjaganya.

Maka siapakah dirinya bagi Wulan sebenarnya. Ia paham hanya bisa memberikan separuh dirinya bagi Wulan, tapi ia ingin separuh itu adalah nyata untuk Wulan. Bukan separuh bayangan yang tidak jelas keberadaannya.

Setahun lebih mengenal Wulan sudah cukup membuktikan bahwa ia begitu mencintai Wulan. Wulan yang membuatnya nyaman, Wulan yang berhasil meyakinkan dirinya bahwa ia dapat diandalkan untuk mendampingi Rio dalam situasi apapun.

Lalu apa bukti cintanya pada Wulan sekarang? Ia bahkan membiarkan Wulan terombang ambing dalam perasaan gelisah tanpa memberi kabar. Pantaskah Wulan diperlakukan demikian setelah apa yang ia berikan sebagai tanda cintanya pada Rio?

Sebersit harapan muncul di benak Rio. Ia akan membuktikan cintanya pada Wulan besok, dan ia berharap Wulan dapat menerimanya.

Wulan menerima suapan terakhir dari Sendok yang disodorkan Rio dan mengunyahnya perlahan. Makan siang telah selesai disantapnya. Rio menyodorkan air putih, memberikan 2 butir obat yang harus diminumnya setelah makan. Rio memeriksa selang infus Wulan, memperbaiki letak selimutnya dan duduk disamping wulan.

“Dokter bilang, maag Adek kambuh karena makan yang tidak teratur” ujarnya serius

“Kurangi kopinya ya .. makan lah yang teratur, jangan terlalu banyak pikiran … Itu juga bisa memicu asam lambungnya naik”
Wulan mengangguk.

“Dek ….” lanjut Rio “Besok Mas kembali ke Jogja ….”

Wulan mendengarkan dengan serius

“Maafkan Mas ya … tidak bisa menemani sampai Adek sembuh …”

Wulan meraih tangan Rio seraya tersenyum “Aku mengerti mas .. Mas Rio tidak usah kuatir .. aku baik baik saja ….” ujar Wulan menenangkan

“Dek …” lanjut Rio lagi

“Mas baru bisa datang bulan depan … ”

Wulan menghela nafas ” Lamanya ….”ucapnya penuh sesal “Tapi tak apa mas .. aku mengerti”

“Tapi sambil menunggu mas datang kali ini, Mas punya satu permintaan untuk Adek …” ucap Rio.

“Apa mas?” tanya Wulan curiga. Rio mendekatkan bibirnya pada telinga Wulan dan berbisik

“Jelaskanlah siapa Mas kepada keluarga Adek … Jadi saat Bulan depan mas datang untuk melamar, mas sudah dapat lampu hijau dari ibu dan adik adikmu ….”

Wulan terperangah. Ia terdiam menatap Rio tanpa suara, masih tidak percaya akan apa yang baru saja ia dengar.

“Maksud Mas ……..? Mas mau ……….” Wulan tidak menyelesaikan kalimatnya, ragu.

Rio meraih tangan Wulan, menggenggamnya erat dan mengecupnya lembut. Ia meraih sesuatu dari dalam saku kemejanya. Sebentuk Cincin emas disematkan perlahan ke jari manis tangan kanan Wulan.

“Aku memang tidak bisa menjanjikan kehidupan yang sempurna untukmu .. Tapi maaf, aku tidak bisa hidup tanpamu .. Wulan Maharani, bersediakah untuk tetap ada disampingku, mendampingiku dengan segala kekuranganku, dan menjadi nyonya Rio Pramudya …..?”

Tangis Wulan pecah dalam senyuman . Ia menganggukkan kepalanya tanpa sanggup berkata kata. Rio memeluknya dengan sayang, membiarkan rasa lega dalam hatinya luruh dalam bahagia.

Bersambung