Drama Threesome Part 23

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25
Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Part 32Part 33Part 34Part 35
Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40

Cerita Sex Dewasa Drama Threesome Part 23 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Cerita Sex Dewasa Drama Threesome Part 22

Ruang 301. Wulan melihat nomor yang tertera di pintu. Ini adalah ruangan yang akan ia gunakan untuk memperdalam kemampuan bahasa Inggrisnya 6 bulan kedepan. Ia memutuskan untuk mengambil kursus intensif di lembaga ternama ini karena hari tes yang semakin dekat.

Universitas kenamaan yang dipilihnya untuk program S2, mematok standar sangat tinggi untuk kemampuan Bahasa Inggris Wulan tidak ingin gagal kali ini, setelah begitu banyak kegagalan yang ia dapatkan akhir akhir ini.

Wulan membuka pintu ruangan. Masih kosong. Ia memang datang 30 menit lebih awal agar dapat sedikit beradaptasi. Ditebarnya pandangan ke seluruh ruangan, memilih salah satu tempat duduk di baris kedua dan duduk menunggu. Ruangan ini tidak terlalu luas, dilengkapi 12 kursi dengan meja lipat, white board, proyektor LCD dan meja guru. Kabarnya akan ada 9 murid lain yang akan bergabung bersamanya di kelas ini.

Wulan menghabiskan waktu membaca terlebih dahulu buku yang akan dipelajari hari ini. Satu persatu peserta kursus lain berdatangan. Hanya ada 2 wanita lain selain dirinya, selebihnya adalah peserta laki laki. Wulan sesekali tersenyum saat beberapa diantara mereka memasuki ruangan dan menyapanya.

Seorang instruktur memasuki ruangan tepat saat jam menunjukkan waktu dimulainya kelas. Sesuai jadwal, hari ini ia akan mengikuti sesi selama 3 jam. Sesi pertama diisi dengan perkenalan diri masing-masing peserta. Tiap peserta diwajibkan untuk memperkenalkan identitas pribadi masing masing serta alasan mengikuti program ini dalam bahasa inggris. Beberapa memiliki kemampuan berbicara bahasa inggris yang cukup baik, serta tujuan yang beraneka ragam, termasuk untuk kepentingan akademis seperti dirinya.

Instruktur pada sesi ini sangat komunikatif. Wulan tidak merasa bosan setelah mengikuti 1.5 jam pelajaran tentang tata bahasa yang cukup rumit. Sebelum berlanjut, instruktur memberikan waktu istirahat selama 15 menit saja untuk peserta melepas lelah.

Wulan memilih tetap duduk di kelas. Ia merasa tidak memiliki keperluan khusus untuk meninggalkan kelas. Ia meneguk air mineral yang ia bawa khusus dari rumah, membuka sekeping coklat, mengunyahnya perlahan seraya memandang sekeliling. Di belakang, ada satu peserta perempuan yang duduk memakai head set dari Hand phone nya, mungkin mendengarkan musik.

Bila Wulan tidak salah mengingat pada sesi perkenalan tadi, ia seorang mahasiswa. Tepat dihadapannya seorang peserta lain tengah menulis, ia adalah seorang pegawai swasta yang akan mencoba peruntungan bekerja di luar negri. Duduk diam di baris terdepan, disisi ujung kiri, seorang peserta lain, Pegawai salah satu instansi negara yang akan melaksanakan tugas belajar ke luar negri.

Wulan kembali meneguk air dalam botol minumnya setelah keping coklat dimulutnya habis tak bersisa. Beberapa peserta mulai kembali memasuki ruangan. Tak lama, sesi pelajaran selanjutnya dimulai. Instruktur kali ini terlihat berusaha menggali kemampuan berkomunikasi peserta dalam menggunakan bahasa Inggris.

Ia memberikan topik yang sedang ramai diperbincangkan saat ini dan menggunakannya sebagai bahan diskusi. Beberapa peserta memberikan tanggapannya masing masing, termasuk Wulan. Dan ia merasa cukup puas karena kemampuan bahasa Inggrisnya cukup memadai untuk sekedar memberikan beberapa opini mengenai materi diskusi.

Sesi terakhir hari ini pun terlewati. Wulan membereskan bukunya, menarik nafas lega dan berjalan keluar ruangan. Besok ia harus kembali mengikuti sesi lanjutan. Ia melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Masih ada waktu sebelum memulai praktek sore ini. Wulan memutuskan untuk membeli secangkir kopi di cafe terdekat untuk menyegarkan diri.

***

Hujan cukup deras siang ini. Wulan melipat payungnya, membersihkan badannya dari sedikit sisa air hujan, menyimpan payung basahnya bersandar di dinding luar bangunan dan melangkah masuk. Jadwal kursus hari ini ia seharusnya sudah mengerjakan tugas menulis yang diberikan oleh instruktur.

Tapi pasien pagi tadi tidak dapat dibendung, sehingga ia tidak memiliki waktu untuk mengerjakannya. Wulan melangkah menuju cafetaria, memesan secangkir kopi susu hangat kemudian mengambil tempat duduk dan segera membuka bukunya, mencoba menyelesaikan tugas secepat mungkin. Masih ada 1 jam sebelum kelas dimulai.

Namun 5 menit pertama berlalu hanya dengan memandang hampa kertas kosong dihadapannya. Apa yang harus kutulis tentang pengalaman pribadiku, batin Wulan dalam hati. Tugas ini terasa begitu sulit karena akhir akhir ini yang ia ingat hanyalah mimpi buruk yang datang padanya sebulan yang lalu. Mata Wulan meredup. Evan. Kenangan buruk itu terbuka kembali. Seandainya semua berjalan sesuai rencana, seharusnya saat ini ia sudah menjadi isteri Evan. Namun laki laki yang dicintainya itu pergi begitu saja meninggalkannya, saat ia menemukan cinta lain yang lebih baik dari Wulan.

Cinta .. mengapa begitu sulit baginya untuk mengerti. Mengapa begitu sulit bagi Evan untuk memantapkan hati. Mungkin ia memang bukan yang terbaik, tapi ia yakin bisa menjadi isteri yang baik untuk Evan. Sayang, Evan tidak sependapat dengannya. Wulan bahkan tidak tahu jika Evan memiliki cinta lain selain dirinya.

Mencoba memahami bukanlah hal yang mudah. Sampai saat inipun ia masih berusaha melupakan hari hari indah kebersamaannya dengan Evan. Wulan menunduk semakin dalam, menyembunyikan butir air mata yang mulai jatuh dipipinya. Ia.menarik nafas dalam.Mungkin sebaiknya ia tulis saja mengenai Cinta. Cinta yang sesungguhnya ia harapkan, Cinta yang pernah terasa indah baginya saat bersama Evan.

Wulan meneguk kopi hangatnya perlahan. Ia menarik nafas panjang mencoba mengusir gundah di hatinya, mengambil pena dan mulai menulis kata satu persatu.
Tanpa Wulan sadari, sepasang mata mengawasinya diam diam …..

Hujan masih belum berhenti saat kelas berakhir. Wulan memandang langit gelap di luar sana. Terlalu deras untuk menembus tirai hujan yang lebat ini tanpa memakai payung. Wulan meraih payungnya, bersiap untuk membukanya saat ia melihat sosok tubuh tengah mematung memandang hujan. Wulan mendekati Rio, salah seorang peserta kursus dari kelasnya. Rio tampak bersiap menembus hujan untuk menuju tempat parkir mobilnya.

“Mas …” sapa Wulan sedikit berteriak menghalau suara hujan yang sangat lebat

“Tunggu … hujannya terlalu deras. Lebih baik pakai payung saya ya .. saya antar mas ke mobil”

Rio memandang Wulan terkejut. Senyum tipis tersungging di wajahnya, nyaris tak terlihat

“Nanti baju mas basah …. Pakai payung saya ya …

” Wulan meyakinkan

“Tidak usah, Dok” jawab Rio singkat dan tegas

“Payungnya terlalu kecil untuk kita berdua. Nanti malah basah semua. Permisi …”

Tanpa menunggu jawaban Wulan, Rio berlari menembus hujan masuk ke dalam mobilnya yang terparkir hanya sekitar 1 meter didepan gedung. Wulan tercekat. Arogan sekali, pikirnya sedikit gusar. Tidak ada sedikitpun ucapan terimakasih. Ini salah satu sebab Wulan sangat tidak menyukai profesi Rio. Dibenaknya, profesi itu pastilah kaku dan sombong, persis seperti yang ia alami sekarang ini. Wulan sedikit menyesali kebaikan hatinya yang menawarkan bantuan pada Rio.

Wulan membuka payungnya, berjalan pelan melewati mobil Rio tanpa perduli, menuju mobilnya sendiri.
Dari dalam mobil, tanpa wulan sadari, Rio memperhatikannya lekat lekat, memastikan Wulan berada aman dalam mobilnya sebelum ia sendiri pergi …

***

Wulan berlari kecil menaiki tangga gedung kursus. Ia terlambat, sedikit mengumpat dalam hati mengapa gedung ini tidak dilengkapi escalator atau lift untuk memudahkan pesertanya menuju kelas. Nafas Wulan masih terengah saat mengetuk pintu dan membukanya. Beberapa peserta kursus dalam kelas menoleh kearahnya “Sorry I’m late …” ucap Wulan kepada instruktur dan duduk di satu satunya kursi kosong barisan depan.

Tampaknya materi yang tengah dibahas adalah tentang kosa kata. Wulan membuka tasnya, mengeluarkan bukunya dan .. ia tidak dapat menemukan tempat pensilnya. Ya Tuhan .. dimana ia tinggalkan tempat pensilnya? Bagaimana mungkin ia menulis tanpa pena? Wulan berkali kali membolak balik isi tasnya, berharap ia membawa paling tidak satu buah pulpen atau pensil yang tersisa. Tapi nihil.

Wulan menghembuskan nafas menahan kesal, saat sebuah tangan kekar menyodorkan sebuah pulpen dari sisi kirinya. Wulan menoleh. Rio, tanpa ekspresi menjulurkan pulpen kepadanya “Pakailah” katanya singkat. Wulan menerima pulpen yang disodorkan padanya dengan ragu “Mmh … terimakasih …” ujarnya sopan.

Sosok Rio yang terekam dalam benak Wulan masih sama. Sepertinya arogan, kaku, tidak bersahabat. Namun kali ini Wulan sedikit melihat pribadi Rio yang lain. Ada sedikit rasa peduli dalam diri Rio. Entahlah, mungkin hanya karena Rio ingin membalas apa yang sudah Wulan lakukan kemarin. Diam diam Wulan melirik Rio yang tetap memandang kedepan kearah instruktur yang sedang mengajar.

Rio memiliki bentuk wajah dengan karakter kuat, rahangnya terlihat kokoh. Posturnya tegap, dadanya bidang dan lebar. Secara keseluruhan, penampilan Rio terlihat rapi dan santai. Tampak cukup karismatik. Wulan ingat, sejak pertama datang, Rio selalu duduk di barisan terdepan.

Datang tepat waktu dan pulang pun begitu. Jarang terlihat bercakap cakap dengan peserta lain. Suaranya yang berat dan dalam hanya sesekali Wulan dengar saat ia bertanya atau menjawab pertanyaan instruktur. Wulan juga tidak pernah melihatnya tersenyum. Sesekali hanya gambaran tipis senyum membayang pada bibirnya jika ada suatu kejadian lucu didalam kelas.

Wulan mengalihkan pandangannya kedepan, mencoba berkonsentrasi pada materi pelajaran yang tengah dijelaskan oleh instruktur.

Pelajaran kali ini membuat kepala Wulan sedikit berdenyut. Tata bahasa Inggris selalu membingungkan, membuat ia harus berpikir lebih keras. Wulan melangkah ke Starbuck yang hanya berjarak beberapa meter dari tempat kursusnya. Secangkir machiato hangat mungkin dapat meningkatkan moodnya sebelum menemui pasien- pasiennya. Masih ada waktu.

Wulan mengambil tempat di sudut ruangan, memandang keluar jendela. Mendung kembali menggantung, sepertinya hari kembali akan hujan. Angan Wulan melayang pada Evan. Apa yang tengah dilakukan Evan saat ini? Apakah ia masih memikirkan Wulan seperti Wulan memikirkan Evan? Seperti langit cerah yang tiba tiba berawan, itu pula yang telah Evan lakukan padanya. Hubungan cinta yang nyaris tanpa hambatan selama bertahun tahun, terhapus oleh cinta lain hanya dalam waktu singkat. Bukan jodoh, selalu itu yang dibisikkan orang orang disekitarnya untuk menghiburnya. Tapi mengapa rasanya sulit sekali untuk bisa menerima kenyataannya.

“Selamat sore …” suara yang cukup dikenalnya membuat wulan menoleh. Rio berdiri dihadapannya

“Boleh bergabung disini?”

Wulan terperangah sesaat, sebelum mengangguk dan tersenyum pada Rio. Rio duduk dihadapan Wulan, meletakkan cangkir kopi yang dipegangnya diatas meja.

“Belum pulang mas?” tanya Wulan canggung.

“Belum …” Jawab Rio tersenyum sekilas seraya membuka pembungkus roti yang ia bawa dan mengunyahnya perlahan. Walau sekilas, Wulan melihat senyum Rio yang sangat manis. Wulan bingung harus berkata apa lagi untuk mencairkan suasana.

“Dokter sendiri, kenapa belum pulang?” tanya Rio.

Nadanya lembut, mulai memberikan kenyamanan bagi Wulan untuk menjawab. Serangkai kata terurai dari mulut wulan menjawab pertanyaan Rio. Rio mendengarkan dengan serius. Wulan mengajukan pertanyaan ringan pada Rio, berusaha untuk menjaga suasana tetap santai. Rio menjawab semua pertanyaan wulan seperlunya. Obrolan mereka mengalir santai sore itu, membiarkan waktu berlalu ke penghujung senja.

Hari hari berlalu tanpa terasa semakin mendekatkan Rio dan Wulan. Awalnya, mereka kerap menghabiskan waktu bersama untuk sekedar minum kopi ataupun mengerjakan tugas kursus. Beberapa kali pula Rio menjemput dan mengantar Wulan ke dan dari tempat kursus. Kedekatan ini membuat Wulan semakin memahami karakter Rio.

Dibalik sikap dinginnya, Rio ternyata memiliki pribadi yang hangat. Rio memang tidak banyak bicara, tapi ia pendengar yang baik. Rio betah berlama lama mendengar ceritanya, memberi beberapa pandangannya bila diperlukan. Wulan merasa nyaman berbicara panjang lebar dengan Rio.

Rio juga seorang laki laki yang sangat melindungi. Termasuk saat menolak pemberian payungnya tempo hari, semata mata karena Rio tidak ingin Wulan basah kuyup dan sakit. Wulan merasa aman berada di samping Rio. Rio juga cerdas, memiliki wawasan luas, segala hal yang Wulan tanyakan, rasanya tidak pernah Rio tidak memiliki jawabannya.

Dari kedekatan mereka, Wulan juga tau bahwa Rio sudah berkeluarga dan memiliki 2 orang anak. Kondisi ini membuat Wulan tetap menjaga hubungan pertemanan mereka. Ia sangat menghormati status Rio sebagai seorang Ayah dan Suami. Ia dan Rio hanya berteman akrab, tidak lebih.

Suatu sore yang hangat Rio pernah bertanya pada Wulan

“Kalau melihat matamu, Dok .. seperti ada suatu luka hati yang sedang kau tutupi” Wulan terkejut. Ia tercenung .. masihkah terlihat jelas luka itu? Padahal semenjak kedekatannya dengan Rio, rasanya Wulan semakin melupakan luka hatinya karena Evan.

“Mungkin bisa diceritakan padaku, apa yang membuatmu bersedih …” ujar Rio lagi

Wulan menggeleng lemah “Tidak ada ….” ucapnya.

Dan ia tidak berbohong. Tidak ada lagi air mata untuk Evan sejak kedekatannya dengan Rio. Satu hal yang membuatnya heran. Entah apa yang terjadi tapi luka itu semakin samar dan Wulan berharap akan segera sirna.

“OK” jawab Rio singkat.

Ia sangat memahami tidak mudah bagi Wulan untuk bercerita tentang suatu hal yang sangat pribadi kepada seseorang yang baru dikenalnya. Rio menyadari ia tidak lebih dari seorang teman kursus bagi Wulan.
Wulan melihat Rio sebagai seorang kepala Rumah Tangga yang sangat mencintai keluarganya dan berdedikasi tinggi pada tugas negara yang diserahkan kepadanya.

Hal ini menambah kekaguman Wulan pada sosok Rio yang sebelumnya dirasa sangat arogan. Sementara Rio melihat Wulan sebagai seorang wanita lembut, sederhana dan apa adanya. Bagi Rio, Wulan tidak pernah bisa menutupi apa yang dirasanya.

Keceriaan Wulan akan terpancar jelas dari senyum dan derai tawanya. Kesedihannya akan tergambar dari raut mukanya. Sementara kegalauan hatinya akan tercermin dari sikapnya. Rio seakan telah mengenal Wulan dengan baik jauh sebelum mereka dipertemukan saat ini. Ada sesuatu pada Wulan yang membuatnya ingin selalu melindungi Wulan dimanapun ia berada. Bahagia Wulan dapat membuat Rio pun merasa bahagia. Sedih dan kecewa Wulan bisa membuat Rio melakukan apapun untuk membuat Wulan kembali ceria.

Rio memang tidak lagi melihat air mata jatuh di pipi Wulan seperti ia melihatnya di cafetaria saat itu, tapi sesekali ia masih melihat Wulan termenung. Beberapa kali Rio bisa membuat Wulan kembali tersenyum dengan melempar satu cerita lucu, ataupun menyodorkan secangkir kopi hangat kesukaan Wulan. Senyum Wulan adalah segalanya bagi Rio.

Tanpa terasa, 6 bulan waktu kursus hampir berakhir. Setelah ujian akhir selesai, Rio berkesempatan mengajak Wulan menonton salah satu film yang dibintangi oleh aktor favorit Wulan.

“Besok semua tidak akan pernah sama lagi …..” bisik Wulan seraya memperhatikan tiket bioskop digenggamannya saat mereka menunggu teater dibuka. Rio yang duduk disamping Wulan menoleh terkejut. Dipandanginya Wulan lekat lekat “Kenapa?” tanya Rio.

Wulan menoleh, ia sendiri terkejut, karena tiba tiba saja kalimat itu terucap tanpa sadar dari mulutnya. Ia tidak mungkin lagi menyembunyikan semua dari Rio. Ada rasa kehilangan saat kursus akan berakhir, ia akan kehilangan Rio yang belakangan ini telah mewarnai hari harinya yang kelabu.

“Tidak apa apa … lupakan saja” ujar Wulan tersenyum canggung dibawah tatapan Rio yang tajam

“Apa yang tidak akan sama?” tanya Rio lagi, tidak puas dengan jawaban wulan.

Wulan memalingkan wajahnya, menunduk, ragu terbersit di hatinya. Haruskah ia katakan ini pada Rio? Benarkah apa yang ia rasakan ini, ataukah hanya karena ia tengah kecewa pada Evan dan Rio datang mengisi harinya?

Wulan tau, lambat laun Rio pun pasti akan meninggalkannya. Mereka harus kembali ke kehidupan masing masing, melanjutkan aktivitas masing masing dan melupakan cerita singkat yang pernah mereka jalani bersama. Tapi bila Wulan tidak mengutarakan isi hatinya, kapan lagi ia akan bertemu Rio? Rasanya lebih baik Rio tau apa yang ia rasakan saat ini, dan apa yang terjadi setelah itu biarlah waktu yang menentukan.

“Aku merasa sudah terbiasa dengan kehadiran Mas Rio disisiku selama 6 bulan ini ….” ujar wulan pelan, ada getar di dalam suaranya menahan haru

“Aku pasti akan merasa sangat kehilangan …..”

Rio tidak melepaskan pandangannya dari Wulan. Ia sendiri belum merasa pasti akan apa yang dirasakannya. Benih rasa sayang memang mulai tumbuh dihatinya untuk wulan. Tapi rasanya ia tidak boleh membiarkan rasa itu tumbuh semakin kuat. Ada batas antara ia dan Wulan yang rasanya tidak mungkin ia lewati

“Semua akan berjalan baik baik saja ….” ucap Rio

“Ayo, semangat menatap masa depan”

Wulan terdiam. Ada rasa kecewa mendengar tanggapan Rio yang diluar harapannya. Tapi Rio ternyata telah berhasil membuatnya menjadi seorang wanita yang lebih tangguh. Dalam setiap percakapan mereka Rio selalu menyelipkan pesan pesan dan kata kata motivasi untuk wulan yang tanpa disadarinya membuat wulan semakin percaya diri. Wulan tersenyum menatap Rio seraya mengangguk. Ia memang harus tetap berjalan melanjutkan hidupnya, apapun yang terjadi.

Rio dan wulan menghabiskan sore terakhir mereka bersama. Besok adalah penutupan kursus mereka. Setelah itu, Rio akan segera terbang ke negara tempatnya bertugas selama 1 tahun lamanya, sementara Wulan akan segera mendaftar melanjutkan pendidikan spesialisasinya.

Hari penutupan kursus tiba. Rio mengantar wulan ke klinik tempat wulan bekerja. Sore itu jadwal Wulan praktek, sementara setelah mengantar wulan Rio akan kembali pulang ke kediamannya. Hujan deras, Rio memacu mobilnya dengan hati hati. Wulan disampingnya duduk terdiam, memandang keluar jendela. Radio mobil Rio memutarkan lagu yang Rio tau merupakan lagu kesukaan wulan.

“Biasanyaaa, gadis cantik disebelahku ini akan ikut berdendang kalau mendengar lagu ini” goda Rio.

Pancingannya berhasil membuat wulan menoleh padanya dan tersenyum. Senyum khas wulan yang pasti akan ia rindukan saat mereka jauh nanti. Rio terus menutupi rasa yang berkecamuk dihatinya. Jujur ia sangat menyayangi wulan, sama beratnya seperti yang Wulan rasakan. Tapi sesuatu menahannya untuk menutupinya, demi menjaga perasaan wulan terluka untuk yang kedua kalinya.

Wulan mulai berdendang kecil mengikuti lirik lagu, sementara Rio sesekali ikut pula bernyanyi. Sesampainya di depan klinik, Wulan menatap rio dengan mata berkaca kaca.

“Jadi sampai disini …” ucapnya tercekat

“Mas Rio hati hati ya .. selamat bertugas .. jaga kesehatan .. sampai bertemu lagi entah kapan”

Rio hanya mengangguk tersenyum tak sanggup berkata kata. Wulan membuka pintu mobil bersiap melangkah keluar meninggalkan Rio, saat ia merasa tangan Rio menggenggam erat tangannya. Wulan menoleh, memandang rio setengah terkejut.

“Apapun yang terjadi, tetaplah semangat dok … Aku tidak ingin lagi melihat mata indahmu menangis …”

Wulan menunduk. Kata kata Rio justru membuat air matanya tumpah ruah. Rio menggenggam tangan wulan erat erat, mengusap air mata yang jatuh di pipi wulan. Dibiarkannya wulan menumpahkan seluruh kesedihan dalam hatinya. Rio sabar menunggu hingga tangis wulan mereda. Sekali lagi diusapnya sisa air mata pada pipi wulan dan tiba tiba .. Wulan memeluknya erat, sangat erat. Rio terkejut sesaat, namun ia akhirnya membalas pelukan wulan dengan penuh kasih, membiarkan wulan dalam hangat peluknya selama beberapa saat.

Wulan melepas pelukannya perlahan, menatap kedua mata Rio seraya berkata

“Aku tidak akan melupakanmu, mas .. terimakasih sudah menjadi bagian hidupku walau hanya sesaat ….”

Entah apa yang terjadi, namun tanpa sadar rio telah mengecup bibir wulan dengan lembut. Ada cinta disana. wulan membalas kecupan rio dengan hangat

Bersambung