Drama Threesome Part 22

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25
Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Part 32Part 33Part 34Part 35
Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40

Cerita Sex Dewasa Drama Threesome Part 22 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Cerita Sex Dewasa Drama Threesome Part 21

Evan membuka matanya, sedikit silau oleh terpaan cahaya lampu diatasnya. Dimanakah ia berada. Pusing dirasakan menggayut kepalanya. Dirabanya kepalanya namun tangannya tersangkut sesuatu.

“Selang infus? ohh… Benar selang infus.” Diarahkannya pandangan ke sekeliling.

Botol infus, tabung oksigen, dinding serba putih. Ia meyakinkan dirinya saat ini sedang ada dalam sebuah ruangan perawatan di sebuah rumah sakit. Teringat ia akan kejadian sebelumnya dan terakhir dalam ingatannya ada tangan yang menariknya keluar dari dalam mobilnya yang terbalik. Mungkinkah orang tersebut yang membawanya ke rumah sakit.

Seorang suster masuk sambil membawa alat tensi berjalan mendekati pembaringan Evan. Suster itu tersenyum manis melihat Evan.

“Selamat siang pak, syukurlah bapak sudah sadar. Saya tensi dulu ya pak.”

Evan mengangguk mengijinkan, “Saya di rumah sakit mana ini Sus? Dan siapa yang membawa saya kesini?”

“Ini RS Waluya pak. Dari laporan status bapak, bapak masuk tiga hari yang lalu dengan keterangan korban kecelakaan. Saya tidak tahu siapa yang membawa bapak kemari, tapi anggota keluarga bapak sedang ada di ruang administrasi mengurus perpindahan bapak ke rumah sakit yang lain.”

“Tiga hari yang lalu Sus? Berarti saya tidak sadar selama tiga hari?” Evan mencoba berpikir tapi malah membuat kepalanya semakin pusing.

“Bapak istirahat ya. Tensi bapak normal. Jangan banyak gerak. Kekawatiran dokter bapak menderita gegar otak tapi masih perlu cek CT scan. Sementara alat tersebut sedang ada gangguan di rumah sakit ini. Untuk itulah keluarga bapak sedang mengurus perpindahan bapak ke rumah sakit yang lebih lengkap fasilitasnya. Saya permisi keluar ya pak.”

Keluarga? Siapakah yang dimaksud keluarganya oleh suster tadi. Fani istrinya kah? Pertanyaan dibenaknya yang hanya menimbulkan rasa pusing bagi Evan. Pandangannya mengikuti kepergian suster keluar dari ruang perawatan dan hampir melompat keluar biji matanya ketika kemudian seiring suster tadi melewati pintu ruang perawatan masuklah Rio ke dalam menghampirinya.

“Kau… Bagaimana kau bisa ada disini?” pertanyaan Evan yang hampir tak terdengar karena bercampur dengan desisan.

Apakah Wulan sudah berhasil keluar dari rumah itu dan memberitahukan apa yang terjadi semuanya pada Rio? Apakah Wulan saat ini juga ada di rumah sakit ini? Gawat… ini bisa gawat pikir Evan. Pandangannya mencari cari sosok Wulan yang tak didapatkannya.

Dingin sekali ekspresi Rio memandangi Evan. Berjalan perlahan Rio mendekati sisi kanan pembaringan Evan. Dikeluarkannya sebuah HP seluler dan Evan mengenalinya sebagai HP miliknya.

“Itu hapeku, kembalikan padaku!” sedikit terlonjak badan Evan karena tangan kanannya mencoba merebut hape dari tangan Rio.

“Aku lah yang membawamu kesini. Kau banyak kehilangan darah. Hape mu sudah aku charge dan akan kukembalikan padamu. Kau harus menelepon istrimu atau siapapun keluargamu,” ujar Rio sambil menyerahkan hape itu ke Evan.

Evan memandang lurus ke mata Rio,tak percaya akan kebaikan Rio yang begitu saja menyerahkan hape kepadanya. Didalam hape itulah ia merekam adegan percintaan Rio dan Wulan saat di apartemen. Rio menyalakan hapenya, menekan password dan mencoba menghubungi seseorang. Saat itulah dengan gerakan cepat Rio merebut kembali hape tersebut dari tangan Evan.

“Bangsat kau Rio, kembalikan hape ku… Kembalikan Rio!”

Rio dengan tenang membuka galeri foto ataupun video dari hape Evan. Dicarinya foto ataupun video yang berisi dirinya ataupun Wulan dan Rio menemukannya. Tak perlu ia menyelesaikan menonton semuanya. Dihapusnya video itu dan tak cukup sampai disitu saja, Rio pun me-reset hape Evan untuk selanjutnya dicemplungkannya hape itu kedalam gelas berisi air minum yang ada di meja ruangan. Evan melotot menahan marah sambil berteriak memanggil suster ataupun petugas rumah sakit. Masuklah seorang pria berpakaian perawat dengan masker menutupi hidung dan mulutnya.

“Tolong saya, orang ini mau mencelakai saya,” teriak Evan sambil menunjuk Rio.

Laki-laki berpakaian perawat itu malah mendekati Evan, mengeluarkan alat suntik dan menyuntiknya. Evan masih mencoba berontak dan berteriak parau sebelum akhirnya kehilangan kesadaran.

Rio memandangi pria berpakaian perawat itu, mengangguk dan berkata, “Sekarang!”

Dibantu oleh Rio, mereka berdua memindahkan Evan ke dragbar dan mendorongnya melalui lorong rumah sakit. Didepan lobby sudah menunggu sebuah ambulan yang sudah terbuka pintu belakangnya. Seorang berpakaian seragam rumah sakit dengan maskernya juga sigap membantu memasukkan dragbar ke dalam ambulan, menutup pintu belakang dan bergegas masuk untuk mengemudikan ambulan.

Ikut pula masuk dari pintu kiri, laki-laki yang berpakaian perawat tadi. Rio memukul pelan body mobil ambulan itu dan tak lama ambulan pun melaju dengan membunyikan sirinenya. Rio berjalan cepat menuju mobilnya di area parkir untuk mengikuti ambulan tadi dari belakang. Melewati gerbang depan rumah sakit, kedua laki-laki di dalam ambulan melepaskan masker mereka.

“Kau terlambat satu jam dari jadwal, Delima.”

“Maaf, tapi mengurus ijin keluar jenazah sangat ribet. Yang penting masih sesuai rencana,” jawab Delima ke Salak.

Salak menoleh ke belakang, “Lantas mana jenazahnya?” Salak tak menemukan yang lain selain tubuh Evan diatas dragbar.

“Aman, sudah kutransfer ke Pace,” senyum Delima sambil memberi kode jempol. Melihat kebelakang melalui spion kanannya, Delima melihat mobil Pinus membayangi dibelakang ambulan.

Untuk kedua kalinya Evan terbangun, mencoba mengumpulkan kesadarannya. Gelap disekelilingnya namun samar-samar mulai kelihatan setelah matanya beradaptasi. Suara bising entah apa dekat sekali dengan tempatnya. Ia mencoba bangun dari posisinya berbaring sekarang. Namun sesuatu menghalanginya. Badannya terbatas sekali untuk mampu digerakkan.

Tiba-tiba menyala sebuah bola lampu menyilaukan pandangannya dan terdengar langkah-langkah kaki mendekat. Kini Evan bisa melihat keadaan dirinya yang dikelilingi jeruji-jeruji besi rangka tulangan. Rasa takut mulai merasuk kedalam dirinya.

“Ohh.. Tolong, siapapun… tolong keluarkan aku dari sini,” teriaknya mengiba.

Langkah-langkah kaki yang mendekat tadi berhenti tepat di kiri kanannya hanya berjarak sekitar dua meteran karena terhalang besi tulangan. Evan mencoba memperhatikan. Ada lima orang semuanya, lima orang laki-laki mengelilinginya. Dan yang paling membuatnya gelisah adalah ada Rio diantaranya.

“Rio, Rio… Apa maksud semuanya ini?” Evan menatap Rio,suaranya terdengar gemetar.

Dengan wajah dingin, Rio mencoba berjongkok. Lekat-lekat ia memandang lurus ke mata Evan,

“Masih juga kau berlagak bodoh menanyakan ada apa dengan semua ini. Kau salah orang bung. Kau salah memilih berurusan dengan siapa. Dan kau telah mencoba mengoyak kehormatanku, kehormatan Wulan istriku. Tak ada ampun bagimu.”

Rio menoleh kesamping, memberi kode pada anggotanya yang berdiri tepat diantara kaki Evan, bergeser kesamping dan kini bisa terlihat oleh Evan suara bising apa yang dekat dengan tempatnya terbaring. Sebuah truk pengaduk campuran semen dan Sirtu mengarah padanya.

“Rio.. Aku mohon maafkan aku, ampuni aku Rio, aku mohon,” rasa takut mendera Evan hingga ia tak malu lagi untuk memelas didepan Rio.

“Kenapa tidak kau biarkan saja aku mati kehabisan darah. Kenapa kau biarkan aku hidup kalo akan kau bunuh aku lagi? Rio, kau temanku… ingat Rio, kau temanku bukan?”

“Terlalu enak kalo kau mati kehabisan darah. Aku ingin kau dalam keadaan sadar menjemput kematianmu,” Rio berdiri melemparkan recorder cctv yang diambil Salak dari rumah Evan kedalam cetakan tulangan dan meninggalkan Evan diikuti kelima anggotanya.

Truk pengaduk semen itupun menumpahkan adonan semen kedalam cetakan tulangan dimana ada Evan didalamnya. Masih terdengar teriakan Evan saat Rio berjalan menuju mobilnya dan kemudian hilang digantikan suara guyuran adonan semen yang jatuh kedalam cetakan.

Di suatu siang, Rio menjemput Wulan di klinik tempat prakteknya. Wulan sangat sumringah mendapati suaminya menunggunya di ruang tunggu klinik. “Ayaahh… Bunda kangen.” Wulan merajuk kepelukan Rio. Seminggu setelah kejadian penyekapan Wulan oleh Evan, Wulan sudah mulai kembali beraktifitas.

“Saya pasien terakhir Dokwul,” goda Rio sambil memencet hidung istrinya.

“ihhh ayah….” sungut Wulan lalu mencubit pinggang Rio.

“Kita makan seafood di Ancol yuk bun.” Tawaran Rio disambut anggukan cepat Wulan, “Yuk Yah, bunda juga sudah lapar.”

Berdua mereka bergandengan tangan menuju mobil. Didalam mobil,Wulan mendapati koran hari itu. Seketika itu juga wajahnya berubah geram. Rio tersenyum meremas tangan Wulan, menghiburnya. “Dia sudah menerima balasannya bun.”

Seminggu berturut-turut harian lokal maupun media elektronik memberitakan kebakaran studio musik seorang produser kenamaan. Sebuah mayat ditemukan hangus terbakar di dalam studio musik tersebut. Diyakini mayat yang hangus tersebut adalah Evan sang produser musik itu sendiri.

Diperkuat oleh keterangan istri dan beberapa orang terdekat korban yang menyatakan mayat tersebut adalah Evan dari bukti cincin dan kepala kalung yang masih bisa diidentifikasi dan dikenali dipakai oleh Evan. Sampai saat ini pihak kepolisian masih melakukan penyelidikan terkait penyebab kebakaran yang menewaskan pemiliknya.

Beberapa kejanggalan pada kasus ini ditemukan polisi namun masih belum bisa disimpulkan motifnya. Polisi kesulitan memperoleh bukti ataupun saksi-saksi. Dugaan sementara adalah karena persaingan bisnis.

Rio menyetir mobilnya dengan santai sambil tangan kirinya menggenggam tangan kanan Wulan. Menikmati jalanan Jakarta sambil mendengarkan musik dari tape mobil. Rio melirik wajah cantik Wulan yang tersenyum sambil memandang jalanan.

“Sebentar lagi kota ini akan memiliki LRT yah. Makin modern aja Jakarta,” kata Wulan mengomentari pembangunan disisi kiri jalan yang saat itu sedang dipasang tiang-tiang penyangga jalur LRT.

Rio hanya tersenyum. Wulan takkan pernah tahu bahkan Rio pun tak tahu dimana diantara tiang-tiang penyangga itu yang berisikan jasad Evan.

***

Dua bulan berlalu, Wulan sudah melupakan peristiwa buruk yang menimpanya karena Evan. Beberapa kali Rio membawanya berkonsultasi dengan psikolog untuk menghilangkan mimpi buruk yang terkadang masih muncul di tidur malam Wulan. Hari ini, ia menunggu kedatangan Rio di klinik tempatnya berpraktek. Seperti biasa, setelah selesai pasien Wulan menyelesaikan urusan administrasi pasien, menyempurnakan pencatatan Rekam Medis pasien yang telah dikerjakannya.

“Pulanglah lebih dulu, Din ..” ujar Wulan kepada perawatnya Dina yang masih setia menunggu “Pasien istimewa terakhir adalah suamiku.”

“Tapi siapa yang akan membantu dokter sebagai asistennya nanti?” tanya Dina

“Tidak perlu” jawab Wulan tersenyum seraya mengedipkan sebelah matanya “Aku ingin berdua saja dengannya nanti …”

Dina tersenyum tersipu, mengerti apa yang diinginkan Wulan. Ia pun bergegas pamit meninggalkan Wulan seorang diri.

Beberapa waktu berlalu, pintu ruangan dibuka perlahan dan wajah Rio menyembul dari balik pintu. Wulan bangkit, menyambut Rio dengan senyum sumringahnya

“Ayah …” Wulan memeluk erat Rio “Lancar perjalanan dari airport?” Rio menyempatkan diri mencium bibir Wulan sesaat sebelum menjawab “Lancar sayang …”

Wulan memandang wajah Rio seraya menutup pintu ruang kliniknya dan menguncinya dari dalam. Ia kemudian melumat bibir Rio penuh cinta, dan Rio membalas ciuman mesra Wulan dengan lembut. Mereka melepas rindu tanpa kata.

“Ayaahh … bisik Wulan lembut di telinga Rio. Rio merasakan nafas Wulan yang hangat pada telinganya “Bunda mau …. ”

“Ya sayang? Bunda mau apa?” tanya Rio sambil memeluk erat tubuh mungil Wulan. Entah berapa ribu kali ia mengucap syukur bahwa ia masih bisa memeluk erat isterinya ini, setelah ia hampir kehilangan

Wulan karena tragedi yang dilakukan Evan beberapa saat lalu. Wulan berbisik “Asinan Buah Bogor….”
Rio melepaskan pelukannya menatap Wulan dengan heran

“Asinan Buah?” tanya Rio bingung. Ia melirik jam di pergelangan tangannya “Sudah jam 9 malam .. ayo kita segera ke super market di daerah Tebet. Ayah pernah lihat, disana ada asinan Buah yang Bunda mau”

“Tidak mau …” rajuk Wulan “Bunda mau yang di Bogor”

“Bun .. ini sudah malam .. sampai Bogor juga tokonya sudah tutup sayang …” Rio mencoba membujuk “Atau Bunda mau makan yang lain dari Bogor? Bolu Talas? Mau? Di ujung jalan tadi Ayah lihat ada toko roti yang menjualnya”

“Asinan Buah Bogor” ulang Wulan, wajahnya mulai menampakkan rona tidak sabar “Sekarang”

Rio menggaruk kepalanya yang tidak gatal, bertambah bingung dengan sikap Wulan malam ini.

“Kok .. seperti orang ngidam saja Bunda .. tiba tiba mau …..” Rio tidak menyelesaikan perkataannya.

Ia menatap Wulan yang tersenyum tersipu dihadapannya. Rio tiba tiba tersadar akan apa yang terjadi, membelalakkan matanya tak percaya

“Bunda … Bunda ……?” Rio memegang pipi wulan dengan kedua tangannya “Bunda ……?”

Wulan tersenyum, matanya tampak berkaca kaca. Ia mengangguk perlahan

“Iya Ayah …” ujarnya lembut.

Diraihnya tangan Rio dan meletakkannya di perutnya

“Bunda hamil … ada calon anak kita di dalam sini”

Rio tertawa bahagia. Dipeluknya Wulan penuh cinta. Bibirnya mengucap syukur berkali kali sementara Wulan merebahkan kepalanya di dada Rio.

“Bunda sudah cek ke dokter?” tanya Rio.

Wulan mengangguk. Ia mengeluarkan secarik foto hasil USG dan surat keterangan dokter yang menyatakan dirinya positif hamil. Rio tersenyum. Di raihnya tangan Wulan seraya berkata

“Ayo ..” Rio menggandeng tangan wulan hendak berjalan membuka pintu

“Kemana Yah?” tanya Wulan bergegas mengikuti langkah Rio

“Ke Bogor ” ujar Rio mantap. Wulan terkejut

“Sekarang?” tanyanya kepada Rio

“Ya …” jawab Rio menoleh pada Wulan seraya terus berjalan menggenggam erat tangan Wulan

“Kita menginap di Bogor malam ini, di hotel yang dekat dengan pusat jualan asinan Buah. Besok pagi setelah sarapan, Ayah antar Bunda beli asinan Buah bogor yang bunda inginkan”

Wulan tertawa. Rio membukakan pintu mobilnya untuk wulan, mempersilahkan Wulan masuk dan mengambil posisi di belakang setir

“Princess, A whole new world for you and me ….” ucap Rio sambil tersenyum.

Diraihnya tubuh wulan, mengecup bibirnya penuh Cinta dan memacu mobilnya menembus malam bersama wulan …

Bersambung