Drama Threesome Part 21

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25
Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Part 32Part 33Part 34Part 35
Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40

Cerita Sex Dewasa Drama Threesome Part 21 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Cerita Sex Dewasa Drama Threesome Part 20

Tak lama setelah menerima telpon dari ibu Wulan, hape Rio kembali berdering. Terlihat kontak Delima di layar monitor hapenya.

“Selamat siang pak, saat ini kami ada di kawasan PIK Jakarta Utara. Di depan sebuah rumah besar,” suara Delima melaporkan.

“Ada perihal apa kalian disana? ” tanya Rio.

“Maaf pak, seharian kami membayangi pergerakan ibu. Kami tidak menyangka saat ibu keluar dari klinik lalu masuk ke dalam sebuah mobil. Dan kami lihat ada Bandit disana. Kami lanjut membayangi mobil tersebut hingga sampai disini dan melihat ibu bersama bandit memasuki rumah besar itu.” sedikit gugup suara Delima menjelaskan. Situasi jadi diluar kontrol mereka akibat keterlambatan mereka mengantisipasi. Tak pelak kabar itu membuat Rio meradang.

“Bagaimana bisa kalian teledor? Bodoh… Sudah saya minta kalian menjaga… Ahhhhh..,” geram Rio.

Sesaat pikirannya buntu diakibatkan kecemasan yang amat sangat memikirkan keselamatan Wulan. Keputusan harus segera diambilnya. Sudah tak ada waktu lagi untuk mengumpulkan anggotanya. Rio lantas memerintahkan Delima dan Salak mengambil tindakan secepatnya apapun yang dirasakan perlu untuk mengeluarkan istrinya dari rumah itu.

“Kalian ambil tindakan apapun secepatnya. Selamatkan dan keluarkan ibu dari tempat itu! Kirim lokasi tempat itu di grup segera!”

“Baik pak, laksanakan.” sahut Delima.

Menuju mobilnya, Rio membuka grup chat mengirimkan kode bendera merah tanda operasi saat ini dilaksanakan. Tak lupa ia tuliskan pesan “Menuju Sasaran”.

Tak lama sebuah pesan masuk dari Delima mengirimkan lokasi yang harus dituju. Rio pun mengaktifkan gps dan google map nya, menekan tanda Go To dan ia pun tancap gas menuju lokasi dimaksud. Benaknya dipenuhi tanda tanya dan kecemasan luar biasa.

“Jahanam kau Evan, aku akan bikin perhitungan denganmu,” desis Rio sambil menyetir mobilnya kalap.

“Bunda, apa yang bunda lakukan sampai mau masuk kedalam mobil bersama Evan?” Segala kemungkinan melintas di otak Rio kenapa Wulan sampai mau pergi bersama Evan.

Rio sangat menyesalkan keputusan Wulan. Apakah istrinya tak percaya dengan langkah-langkah yang ia ambil? Ataukah Wulan memiliki pertimbangannya sendiri? Rasanya waktu berjalan lambat sekali, seperti mobilnya tak sampai sampai ke tempat tujuannya. Hape Rio terus berbunyi nada suara grup chat. Rio tak ada waktu lagi membaca ataupun membalas bunyi pesan itu. Ia yakin dan percaya kesetiaan anggotanya dan kemampuan mereka menghadapi masalah yang sudah sangat mendesak ini.

Delima dan Salak segera memeriksa kesiapan pistol mereka, memasang peredam pada larasnya dan memastikan amunisi cukup. Bergegas mereka turun dari mobil dan berjalan menghampiri gerbang halaman sebuah rumah besar. Gerbang besar dengan pintu pagar besi yang harus digeser jika hendak keluar masuk. Ada sekitar seratusan meter mereka berjalan.

Sekilas mereka melihat kamera cctv yang mengarah ke jalan didepan gerbang dimana disitu terdapat pos jaga. Ada dua satpam penjaga di pos. Jarak pos ke bangunan utama ada sekitar lima puluh meter. Sembari berjalan Delima dan Salak melakukan pengamatan dan menganalisa situasi dan kondisi lokasi sambil menurunkan topi mencoba menutupi sebagian wajah mereka.

Beruntung disisi jalan dimana mereka berjalan lebih teduh karena bayangan pohon sehingga mereka diuntungkan wajah mereka akan lebih tersamar jika kamera cctv menyorot ke mereka. Saat sampai di pintu gerbang besi, Salak membunyikan pintu besi dengan bagian dalam cincinnya. Terlihat di bagian pengait gembok pagar hanya dikaitkan saja dan tidak dalam posisi terkunci.

Mendengar ketukan di pintu besi, seorang satpam mendekat,

“Ada perlu apa pak?”.

“Mau ketemu pak Evan pak,” jawab Salak.

“Boleh kami masuk?” sambil terus menunduk Salak mencoba mengajak berbicara satpam.

“Tunggu, apa kalian sudah buat janji dengan pak Evan? Rasanya saya belum pernah melihat kalian sebelumnya.” tanya satpam dengan penuh selidik. Delima dan Salak sesaat saling berpandangan.

“Begini saja pak, tolong sampaikan dokumen ini pada pak Evan ya.” Delima mencoba mengalihkan perhatian satpam sambil meraih bungkusan dibalik jaketnya

. Satpam pun mendekat mencoba meraih bungkusan yang diulurkan Delima dari seberang pagar besi. Dengan jarak yang masuk dalam jangkauannya, Delima dengan cepat mencengkeram leher satpam yang tak tahu apa-apa itu, menariknya kencang dan membenturkannya ke pagar besi.

Benturan keras itu tentu saja mengagetkan satpam yang seorang lagi. Terpana ia melihat temannya menggelosor di jalan dekat pagar. Salak segera membuka gembok dari pengait pagar dan menggeser pintu pagar besi agar terbuka. Bergegas Salak dan Delima masuk kedalam. Topi yang tadi mereka pakai saat ini sudah berganti dengan sabo yang bisa lebih menyembunyikan wajah mereka.

Satpam didalam pos sudah membunyikan sirine bahaya. Bunyi sirine pun meraung dari dalam bangunan utama. Salak mengarahkan pistolnya kearah satpam. Berjalan mendekati satpam yang sudah mengangkat tangan ketakutan. Salak pun segera menghantam dagu satpam itu dengan gagang pistolnya sehingga satpam itupun tersungkur pingsan.

“Ayo segera!” teriak Delima mengingatkan Salak kalo waktu mereka sudah sangat singkat. Mereka pun segera merangsek ke pintu depan bangunan utama.

Mendengar raungan suara sirine membuat Evan yang saat itu ada di lantai atas dan sedang berusaha menaklukkan rontaan Wulan menjadi teralihkan perhatiannya. Apa yang sedang terjadi, batinnya bertanya. Ia pun turun dari ranjang berniat memeriksa. Kesempatan itupun digunakan Wulan untuk melepaskan tali kelambu yang membelit tangannya.

Evan membuka kunci pintu kamar,menutup dan menguncinya dari luar. Wulan pun bergegas mencari pakaiannya namun tak ditemukannya. Terpaksa sekali lagi ia gunakan selimut untuk membungkus tubuh mulusnya dan berusaha keluar dari kamar. Namun didapatinya pintu terkunci dari luar. Wulan pun mencoba memeriksa jendela dan bisa ia buka. Namun keraguan menyergapnya saat hendak keluar dari jendela melihat jarak antara jendela hingga lantai dasar cukup tinggi.

“Parjo, Jono….ada apa? Dirmaaannn… ” teriak Evan memanggil nama Satpam dan sopirnya

. Evan mencoba menghubungi pos jaga dengan telpon rumahnya namun tak ada jawaban dari pos jaga. Firasatnya mengatakan ada yang tak beres.

Evan setengah berlari menuruni anak tangga menuju lantai dasar rumahnya. Dijumpainya gadis-gadis pelayan rumahnya berkumpul di ruang tengah, menatapnya penuh ketakutan dan bingung tidak tahu apa yang terjadi dan apa yang harus mereka lakukan. Lalu disusul Dirman, sopir pribadi merangkap body guard Evan ikut bergabung bersama mereka.

“Darimana saja kau Dirman? Cepat cari tahu apa yang terjadi!” kata Evan.

“Saya baru selesai mencuci mobil di halaman belakang pak, baik pak saya akan cari ta…,” BRAKKKK… belum selesai kalimat Dirman, pintu depan sudah terdobrak. Delima dan Salak masuk dengan pistol siap menyalak.

Kepanikan segera menyergap terutama pada gadis-gadis pelayan rumah yang berteriak histeris melihat dua orang dengan penutup wajah masuk ke rumah dengan menodongkan pistol.

“Tiarap semua…. Tiarap!” suara keras Delima membentak memerintahkan semua yang ada di ruang tengah.

Salak melihat sasaran utama mereka, Evan yang dengan cepat berbalik hendak naik ke lantai atas. Dalam pikirannya dia harus menyelamatkan diri, naik ke atas dan mengunci pintu kamar atas. Dia tak tahu siapa dua orang yang menerobos masuk kedalam rumahnya dan punya motif apa. Evan bermaksud kabur ke kamar atas dimana ada Wulan disana. Salak tak membiarkan buruannya lolos begitu saja.

Dibidikkan pistolnya mengarah ke Evan. Namun ekor mata Salak melihat sebuah kursi melayang mengarah kepadanya. Ternyata Dirman lah yang melayangkan kursi mencoba melindungi majikannya dari tembakan Salak. Sambil menghindar dari hantaman kursi, Pistol salak menyalak. Sebutir peluru mengenai lengan kiri Evan dan membuatnya jatuh di anak tangga. Dirman berlari hendak menerjang Salak namun sebutir peluru yang dilepaskan Delima tepat di kepalanya menghempaskan tubuh Dirman ke lantai.

Berdiri sempoyongan, Evan membatalkan niatnya kabur ke lantai atas. Ia lantas meloncat ke bawah melompati pembatas tangga dan berlari menuju basement. Delima segera memburunya. Evan memasuki mobil sport dan menstarter mobilnya mencoba untuk secepatnya dapat kabur dari rumah itu.

Tepat saat mesin mobilnya hidup, Delima berdiri di depan mobilnya menodongkan pistol kearahnya. Bukan Evan kalo tidak nekat, dalam keadaan terjepit terancam keselamatan nyawanya dia masih berusaha untuk lolos. Dengan menundukkan kepalanya ke bawah, Evan pun menginjak pedal gas dalam mencoba menabrak Delima.

Delima melompat kesamping menghindar dari upaya Evan menabraknya. Sambil melompat ia menembakkan pistolnya dan hanya memecahkan kaca depan mobil. Sambil berguling Delima terus menembak kearah mobil yang terus melaju keluar dari basement. Kali ini kaca belakang mobil yang pecah terkena tembakannya.

Sementara di dalam rumah, Salak memeriksa jasad Dirman. Tak ada yang penting yang diperolehnya. Ia pun memandang berkeliling. Pandangannya terhenti pada kelima gadis pelayan yang masih dalam posisi tiarap. Salak pun menghampiri mereka yang tentu saja makin membuat mereka ketakutan, histeris dan menangis.

“Diam… Diam… Kalian pasti melihat wanita ini. Tunjukkan dimana!” bentak Salak sambil menunjukkan foto Wulan dari selulernya.

Salah satu pelayan itu mengangguk dan menunjuk ke arah kamar di lantai atas.

“Tolong jangan sakiti kami… Kami hanya pelayan di rumah ini… Jangan bunuh kami pak,” pinta pelayan yang menunjukkan arah kamar dimana Wulan berada sambil memelas meminta iba Salak.

Disaat bersamaan Delima masuk ke ruangan sambil mengucapkan sumpah serapah,

“Bangsat, bajingan itu lolos lagi.” Salak memandang Delima dengan pandangan kesal.

“Kau tunggu disini. Amankan mereka. Paket ada diatas,” perintah Salak pada Delima.

“Jangan lupa, update info ke Pinus dan yang lainnya di grup,” tambah Salak. Delima mengangguk mengiyakan perintah Salak. Sambil mengawasi kelima gadis pelayan, ia pun menuliskan berita di grup chat tim. “Bandit lolos dengan mobil sport warna putih. Kami sedang memeriksa keberadaan paket di lokasi.”

Mobil sport yang dikemudikan Evan meraung dan melaju meninggalkan basement. Hanya ada satu jalan keluar melalui gerbang depan. Evan melihat salah satu satpam anak buahnya tertelungkup di pinggir jalan.

“Kurang ajar, kerjaan siapa ini?” geramnya dan mobilnya ia tabrakkan ke pagar besi dalam upayanya untuk segera kabur.

Rio melirik ke alat gps nya. Masih 700 meter lagi sebelum ia sampai ke lokasi yang di share oleh Delima. Sambil menyetir, ia meraba pistol di pinggangnya dengan tangan kirinya. Saat itu lah Rio melihat didepannya sebuah mobil sport warna putih melaju dengan kencang melawan arah mobilnya. Ketika mobilnya bersisihan, Rio sangat kaget mengetahui Evan ada dibelakang kemudi mobil sport itu.

Refleks Rio pun menginjak pedal rem. Suara berdecit kencang mobil Rio dari kecepatan kencang dipaksa untuk berhenti sekejap. Evan ada di mobil itu. Sepintas Rio bisa melihat kondisi depan mobil yang ringsek dengan kaca depan yang hancur. Rio tak melihat ada Wulan tadi didalam mobil. Sekelebatan rasa bimbang menerpanya antara mengejar buruannya ataukah memastikan keberadaan Wulan

Rio pun meraih hand phone nya. Membuka grup chat tim nya dan mendapati banyak pesan masuk. Tiga orang anggotanya selain Delima dan Salak rupanya juga sedang menuju ke lokasi. Pesan terakhir adalah dari Delima yang mengabarkan Evan lolos.

Rio segera menginjak pedal gas mobilnya menuju ke lokasi. Tinggal sebentar lagi ia akan sampai dan berharap Wulan ada disana dalam keadaan selamat. Urusan mengejar Evan bisa dipikir belakangan.
Rio berbelok mengikuti arah yang ditunjukkan alat gps nya.

Melihat sebuah pintu gerbang dengan pagar besi yang sudah ambruk meyakinkan Rio disitulah lokasi yang dituju. Sedikit Rio bisa menggambarkan apa yang telah terjadi dengan melihat kondisi pagar dan satpam yang masih tergeletak di pinggir jalan.

Salak mencoba membuka pintu kamar atas namun gagal karena anak kunci dibawa oleh Evan. Wulan yang sedari tadi mendengar keributan di bawah masih mengumpulkan keberaniannya untuk meloloskan diri dengan melompat dari jendela. Wulan mulai panik mengetahui pintu kamar saat itu ada yang mencoba membuka. Ia sudah bersiap apapun yang akan terjadi dia akan nekat untuk melompat dari jendela.

Salak menembakkan pistolnya ke arah gagang pintu. Dengan sekali sentakan Salak pun berhasil membuka pintu kamar bersamaan saat itu Rio masuk ke dalam rumah dengan sudah memasang sabo menutupi wajahnya.

“Jangan tembak, saya Pinus,” teriak Rio karena melihat Delima yang waspada dan mengarahkan pistol padanya.

Delima memberi kode ke Rio bahwa paket ada diatas. Bergegas Rio pun menaiki anak tangga menuju ke lantai atas.

“Ibu, tahan…Jangan loncat. Kami anak buah pak Rio,” seru Salak ketika melihat Wulan hendak nekat mau loncat kebawah.

Mendengar nama suaminya disebut, Wulan pun terhenti niatnya dan seketika menolehkan wajahnya ke Salak. Dibelakang Salak, Rio masuk ke dalam kamar dan berlari menjemput istrinya, “Bunda, ini ayah… ini ayah.” Wulan lega bukan main mengenali suara suaminya dan berlari pula menuju pelukan Rio.

“Ayaaahhh… Bunda takut,” sambil menangis Wulan tumpahkan semua emosinya dipelukan Rio. Rio pun lega luar biasa mendapati Wulan bisa ditemukannya.

Salak yang paham situasi segera memalingkan muka namun sempat mengingatkan Rio, “Pak, kita harus segera pergi dari sini.”

Rio segera paham akan situasinya. Ia sempatkan melihat kondisi Wulan yang terlihat ketakutan serta trauma. Rio nampak terkejut mendapati Wulan hanya memakai selimut dengan tak ada secarik kainpun dibaliknya.

“Bunda akan jelaskan nanti yang penting ayah percaya bunda,” tukas Wulan memahami arti keterkejutan suaminya.

“Ayah bisa cek di cctv rumah ini,” imbuh Wulan.

Rio segera memerintahkan Salak mengamankan recorder cctv di rumah itu. Pengalaman pula lah yang membuat Salak tak butuh waktu lama untuk bisa menemukan dan mengamankan recorder cctv.

“Segera tinggalkan tempat ini,” perintah Rio jelas.

Rio menuntun Wulan keluar dari rumah besar itu menuju mobil. Sebelum keluar, Delima sempatkan memfoto kelima gadis pelayan disertai ancaman,

“Jangan macam-macam apalagi lapor polisi. Saya bisa dengan mudah menemui kalian.” Sebuah shock terapi yang cukup efektif untuk meneror mental gadis-gadis pelayan yang terhitung masih belia itu. Delima dan Salak ikut masuk kedalam mobil Rio dan minta diturunkan di jalan depan tempat mereka memarkir mobil mereka sendiri.

Sebuah mobil Strada double cabin melaju berisikan tiga anggota tim Rio baru saja keluar dari pintu Tol mengarah ke lokasi yang diberikan oleh rekan mereka Delima di grup chat. Mereka sudah mengetahui jika buruan mereka saat ini bisa meloloskan diri.

“Kira-kira lewat jalan mana bajingan itu meloloskan diri?” tanya Duku yang saat itu memegang setir kemudi mobil.

“Bagi seorang amatiran, pasti akan mencari jalan yang tercepat keluar dari lokasi, mencari perlindungan ataupun bantuan. Dimana lagi dia bisa mendapatkan perlindungan ataupun bantuan tentunya di tempat dia memiliki orang-orang yang memihaknya, bisa teman-temannya ataupun orang-orang bayarannya. Dan itu berarti buruan kita akan menuju ke pusat kota.” jawab Pace, seorang anggota tim yang sebenarnya sudah purna dinas.

“Berarti dia harus melewati akses terdekat. Dan itu berarti jalan ini.” Pace memandang Duku meminta pendapat.

Belum sempat Duku menjawab, Jeruk yang dari tadi memperhatikan jalanan menunjuk kedepan.

“Di depan ada mobil putih ngebut mengarah ke kita. Mungkinkah itu mobil yang dimaksud Delima? Kalian lihat?”

Evan yang dalam keadaan tertembak lengan kirinya berusaha fokus menyetir mobilnya. Sambil menahan rasa panas dan perih ia ingat harus menghubungi orang-orangnya. Dia akan buat perhitungan dengan dua orang yang menyerangnya ataupun siapa saja yang berada dibelakang peristiwa barusan yang menimpanya.

Evan juga sangat menyesalkan kenapa ia tak sempat untuk membawa pergi Wulan bersamanya. Bagaimana kalo Wulan bisa pergi dari rumah itu dan lapor pada polisi. Tentu akan sangat susah lagi untuk bisa menemui Wulan karena dia pasti takkan lagi mau menemuinya. Ahh..tapi masih ada senjata yang takkan bisa Wulan menolaknya. Ya, video Wulan dan Rio yang berhubungan sex tempo hari di apartemen mereka.

“Aku takkan menyerah untuk bisa mendapatkanmu Moon, tak akan,” desis evan.

Ia pun berusaha mengambil hape dari saku celananya. Dia harus menghubungi salah satu orang kepercayaannya. Bukan perkara mudah untuk mengambil hapenya saat itu dimana tangan kanannya menyetir kemudi dan tangan kirinya yang tertembak dia gunakan untuk mengambil hape. Saat terbagi perhatiannya itulah, ekor matanya melihat sebuah mobil yang besar merangsek dari sisi depan kanannya dan menabrak bodi belakang mobil sportnya.

“Ahhh… sialan….ahhh toloooong…” Susah payah Evan menstabilkan mobilnya namun benturan keras pada belakang mobilnya membuat mobil sport itu berputar dan terguling-guling di jalanan sebelum terhenti tertahan pembatas jalan dalam kondisi terbalik. Dalam kondisi lemah akibat benturan dengan bagian dalam mobil, Evan masih dapat melihat samar-samar. Dia merasakan ada tangan orang yang menariknya keluar dari dalam mobil.

“Tolong… Tolong,” pinta dan harap Evan lemah sebelum pandangannya menjadi gelap.

Bersambung