Drama Threesome Part 20

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25
Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Part 32Part 33Part 34Part 35
Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40

Cerita Sex Dewasa Drama Threesome Part 20 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Cerita Sex Dewasa Drama Threesome Part 19

“Ayah .. Bunda mau istirahat sebentar …” bisik Wulan perlahan menahan sakit di kepalanya. Ia bersiap bangkit saat tangan Rio menarik lengannya “Bunda ..” seru Rio. Wulan menjerit tertahan. Tangan Rio tepat menyentuh lengannya yang terasa sakit karena cengkraman Evan “Aduh ….”

Rio segera melepaskan tangannya dari lengan Wulan. Ia melihat raut kesakitan pada wajah Wulan. Tanpa bertanya diangkatnya lengan piyama Wulan dan melihat tanda kemerahan melingkar pada lengan Wulan. Rio tau ini bukan karena genggamannya tadi. Ia tidak sekuat itu menggenggam lengan Wulan.

“Ini kenapa Bunda?” tanya Rio cemas bercampur heran

“Tangan Bunda kenapa?”

Wulan menunduk. Apa yang harus dikatakannya pada Rio.

“Ayah menyakiti Bunda tadi saat kita berhubungan?” tanya Rio

“Bisa merah begini … seingat Ayah, Ayah tidak …” Rio tidak menyelesaikan kata katanya saat ia mendengar HP Wulan berbunyi lagi. Pesan dari Evan lagi.

Rio membacanya : ‘Jangan pernah mengabaikanku lagi, Moon …’

Rio melempar HP Wulan keatas meja. Wulan terhenyak. Ia tau saat ini Rio mulai marah.

“Bunda …” desis Rio.

Diangkatnya dagu Wulan yang tertunduk, sehingga Wulan dapat jelas menatap wajah Rio “Lihat Ayah” ujar Rio singkat. Wulan menatap Rio dengan mata berkaca kaca

“Ada apa? Ayah tidak akan menunggu lagi, kalau Bunda tidak menjawab, Ayah datangi Evan sekarang juga”

Wulan memeluk Rio erat erat, tangisnya kembali pecah. “Maafkan Bunda Yah … ” Lalu cerita mengalir dari mulut Wulan tentang apa yang telah terjadi. Rio mendengarkan dengan serius. Wajahnya merah padam menahan amarah

“Bangsat!!!” makinya diujung cerita Wulan.

Amarahnya tak dapat lagi terbendung. Diraihnya lengan Wulan, dilihatnya jejak merah pada lengan istrinya itu. Evan pasti telah menggenggam tangan Wulan sangat kuat sehingga istrinya terluka. Tidak bisa dibayangkan betapa takut dan sakitnya Wulan saat itu

“Beraninya dia menyakiti isteriku!!!” teriak Rio.

“Ayah ….” Wulan mengiba “Yang Bunda pikirkan Ayah .. bagaimana kalau …. Evan bilang ia akan menyebarkan video itu .. mungkin lewat you tube atau Face Book atau media sosial lainnya ….” Rio terdiam.

Wulan melanjutkan “Ayah … Bunda tidak ingin sesuatu yang buruk menimpa Ayah …. Bunda sendiri tidak tahu kenapa Evan bisa berbuat sekeji itu ….”

“Kalau Bunda yang diinginkannya .. biar Bunda ikuti saja apa kemauannya Yah … asalkan Ayah aman …” ucap Wulan pelan

“Tidak Bun!!” ucap Rio keras

“Tidak akan Ayah biarkan dia menyakiti Bunda!! Bangsat seperti itu harus diberi pelajaran!!!”

“Ayaahh …” tangis Wulan

“Karir dan keluarga Ayah diatas segalanya untuk Bunda .. Apalah artinya Bunda ini Yah … hanya suatu rahasia, bagian hidup Ayah yang tidak seorangpun tau … Bunda tidak adapun, tidak akan berarti apa apa untuk Ayah …. Tapi karir dan keluarga Ayah …. bagaimana ….”

Rio menatap Wulan, meletakkan kedua tangannya pada pipi Wulan “Dengar Bun .. lihat Ayah .. lihat Ayah ” ucap Rio. Suaranya melembut tapi tetap terdengar tegas

“Bunda segalanya untuk Ayah . Jangan pernah katakan hal itu lagi. Keluarga Ayah adalah segalanya untuk Ayah dan Bunda, Ibu, Fiska dan Juna adalah juga keluarga Ayah. Ayah punya dua keluarga Bun … DUA. Dan dua duanya akan Ayah perjuangkan sampai titik darah penghabisan bila perlu. Ingat itu!”

Wulan menatap Rio penuh haru. Ia tidak sanggup berkata apa apa

“Bangsat evan itu telah menyakiti Bunda .. Ayah tidak perduli karir Ayah taruhannya. Ayah harus buat perhitungan dengan dia. Kita lihat siapa yang menang!” desis Rio.

“Ayah .. mau berbuat apa …?” tanya Wulan pelan. Sedikit cemas akan apa yang direncanakan Rio. Wulan sangat paham pribadi suaminya. Rio sangat keras dan bila emosi karena harga dirinya terinjak, apapun bisa dilakukannya.

“Bunda … besok Ayah kembali ke tempat tugas. Ayah tidak bisa menunda jadi dengan terpaksa Ayah harus meninggalkan Bunda sendiri.” ucap Rio.

Wulan mengangguk walau hatinya sangat cemas. Tanpa Rio disisinya dan Evan yang tengah menggila, ia tidak bisa membayangkan apa yang harus dilakukan bila tiba tiba Evan menemuinya

“Bunda takut Yah ….” keluh Wulan

“Tidak usah takut” ujar Rio “Bunda akan diawasi dari jauh oleh utusan Ayah. Kalau Evan bertindak membahayakan, pengawal Bunda akan segera mendekat dan mengambil tindakan”

Wulan menggenggam tangan Rio, wajahnya semakin pucat. “Percayalah .. Ayah akan selalu melindungi Bunda …” ucap Rio meyakinkan Wulan

“Satu hal yang harus Bunda ingat” pesan Rio “Jangan sampai Evan tau kalau Bunda sudah menceritakan hal ini pada Ayah. Bersikaplah sewajarnya saja. Ikuti apa maunya selama tidak membahayakan Bunda dan tidak bertentangan dengan keinginan bunda …”

“Tapi Yah ….” Wulan mencoba menyangkal

“Bunda …” ujar Rio menenangkan “Ingat .. Bunda selalu aman. Evan tidak akan tau ….”

Wulan mengangguk ragu. Rio meraihnya dalam pelukan.”Ayah akan selesaikan ini. Percayalah.” ujar Rio. Matanya berkilat penuh emosi. Suatu rencana menari dalam benaknya.

***

Malam itu juga bergegas Rio mengemasi barang-barangnya dan akan kembali ke kotanya menggunakan penerbangan komersil terakhir. Sambil berkemas, otaknya berpikir keras cara bagaimana mengantisipasi ancaman Evan dan tindakan apa yang perlu dilakukan. Tampak kegusaran dan emosi dari raut mukanya. Wulan mencoba membantu merapikan baju-baju suaminya dalam susunan di koper namun ditolak dengan halus oleh Rio.

“Bunda istirahat saja, duduk saja ya, biar ayah yang selesaikan.”

“Tapi baju-baju ayah berantakan. Ayah asal-asalan masukin ke koper,” sahut Wulan.

Masih tersisa kecemasan dan rasa takut pada Wulan. Rio dengan cekatan menutup resleting koper dan mendirikannya. “Sudah selesai kan Bun, ayah langsung berangkat ya. Sebelumnya ayah akan antar Bunda pulang ke rumah ibu. Lebih aman bunda disana karena ada adik-adik dan juga tetangga kiri kanan.” Wulan mengangguk menuruti kata-kata Rio.

Sebelum keluar dari apartemen, Rio memeluk tubuh Wulan erat,mencoba menenangkan istrinya yang masih kelihatan terguncang dengan kejadian yang dialami oleh mereka. Wulan pun membalas pelukan suaminya dengan erat sambil menitikkan air mata. Bagaimanapun Wulan sangat mencemaskan ancaman Wulan yang akan berimbas pada keutuhan keluarga Rio dan kariernya. Rio mengecup mesra bibir Wulan, melumatnya lembut dan Wulan menikmati, sedikit melupakan kecemasannya dan membalas melumat bibir Rio.

“Ayah hati-hati ya sayang,” berkata Wulan sambil memandangi wajah suaminya. Rio mengecup kening istrinya dan tersenyum.

Namun senyum yang dirasa aneh oleh Wulan. Senyum yang terasa seperti seringai menyeramkan ditambah kilatan mata tajam Rio menimbulkan tanda tanya di benak Wulan. Ia pun memberanikan diri bertanya, “Ayah,…. Apa yang akan ayah lakukan?” tanpa sadar Wulan menahan lengan Rio. Menghela nafas sebelum menjawab pertanyaan Wulan,

“Bunda tenang saja, semua akan ayah bereskan dan tidak akan ada masalah dikemudian hari.” Tenang dan tegas jawaban Rio namun tetap menyisakan tanda tanya pada Wulan.

Berdua mereka keluar dari ruangan apartemen dan masuk ke dalam lift turun menuju tempat dimana mobil Wulan diparkir.

Wulan mengusap usap lengannya yang masih terasa berdenyut. Jejak kemerahan akibat cengkeraman Evan kini mulai terlihat membiru. Pagi ini ia berusaha tetap hadir di klinik karena jadwal janji dengan pasien pasiennya yang telah lama menunggu. Rio sudah mengirimkan pesan singkatnya bahwa ia sudah berada kembali di tempat tugasnya dan memastikan keamanan Wulan. Sepanjang perjalanan dari rumah menuju klinik tadi, perasaan Wulan tidak tenang. Ia tau sewaktu waktu Evan pasti akan datang mencarinya.

Dan bila saat itu tiba, ia berharap Rio telah benar benar mengutus orang kepercayaannya untuk menjaga dirinya. Sesekali Wulan melihat sekeliling, mencoba menebak nebak manakan diantara orang orang disekelilingnya yang ditugaskan untuk melindunginya. Tapi tidak sekalipun Wulan menemukan gerak gerik yang mencurigakan. Ia hanya bisa meyakinkan hatinya sendiri bahwa Rio akan selalu siap menjaganya.

Wulan meneliti daftar pasien yang ada dihadapannya. 5 orang yang mendaftar untuk mendapatkan perawatan gigi darinya. Wulan ingin hari ini segera berlalu dan ia dapat pulang kerumah berkumpul bersama ibunya. Tempat yang ia rasa paling aman untuk saat ini.

Seorang perawat masuk membawa setumpuk rekam medis pasien yang telah mendaftar.

“Bisa kita mulai sekarang Dok? Pasiennya sudah siap menunggu di luar” tanyanya. Wulan mengangguk.

Satu persatu pasien mendapatkan perawatannya, tepat saat pasien terakhir telepon genggam Wulan berdering. Dari Evan. Wulan enggan menjawabnya, tapi kemudian terngiang kembali perkataan Evan agar ia tidak mengabaikannya lagi atau Evan akan melaksanakan ancamannya. Sekilas wajah Rio berkelebat dalam pikiran Wulan. Wulan memejamkan mata, mengusir ketakutan dalam hatinya dan memikirkan keselamatan Rio. Ia tau, Evan tidak akan pernah menyakitinya. Evan akan mencelakakan Rio bila Wulan mencoba untuk menjauhinya.

“Moon ….” suara Riang Evan diujung sana terdengar.

Bulu kuduk Wulan merinding. Bagaimana mungkin setelah kejadian malam itu Evan bersikap sesantai ini, seolah tidak terjadi apa apa

“Sudah selesai pasien kan? Aku di halaman parkir, menunggumu. Kita pulang sama sama ya, makan siang dulu, lalu aku akan ajak kamu ke suatu tempat untuk mengambil hadiah istimewa yang sudah aku siapkan untukmu”

Wulan terkesiap. Ia memang tidak membawa mobil sendiri karena kuatir dibuntuti oleh Evan. Pagi ini ia datang dengan menggunakan taksi dan berencana pulang dengan menggunakan taksi pula.

“Biar aku pulang sendiri saja Van. Aku sedang tidak enak badan …” ucap Wulan pelan, berhati hati agar Evan tidak merasakan penolakannya

“Kamu sakit?” tanya Evan

“Aku antar ke dokter”

“Tidak usah Van .. aku hanya perlu istirahat” sanggah Wulan lagi

“OK .. aku antar kau pulang” jawab Evan

“Tidak usah kemana mana lagi karena kamu sakit. Kita langsung pulang”

Wulan terdiam, tidak bisa lagi menemukan kalimat yang tepat untuk menghindari Evan. Yang ada dalam pikirannya hanya keselamatan Rio. Wulan menyerah, menyelesaikan administrasi pelaporan klinik dan melangkah gontai keluar ruangan menuju mobil Evan.

Evan membukakan pintu mobil untuk Wulan saat mereka tiba di tempat tujuan. Wulan memandang sekeliling, kearah rumah besar dan mewah yang ada dihadapannya. Pintu pagar dibelakangnya ditutup kembali oleh dua orang satpam berbadan tegap.

“Dimana kita?” tanya Wulan bingung

“Kamu berjanji membawaku pulang kan Van .. Aku ingin istirahat. Tapi .. kamu membawa aku kemana ….”

“Ini rumahmu, Brown Eyes … Rumah kita … Kamu sudah dirumah … Ayo masuk, kutunjukkan kamarmu untuk tempatmu beristirahat ….”

Wulan mundur, menatap Evan dengan nanar “Tidak …..” desisnya sambil menggelengkan kepalanya kuat kuat “Aku mau pulang … kerumahku! Rumah ibuku!”

Evan merangkul pinggang Wulan yang mulai merasa panik saat menyadari apa yang telah terjadi “Ini rumahmu Moon” bisik Evan “Dan kamu ingat, aku tidak suka penolakan …..”

Wulan menggigil, ia merasa amat takut. Ia merasakan dorongan di pinggangnya dari tangan Evan, memaksanya melangkah menuju teras rumah itu. Evan terus berbicara ditelinganya selama mereka melangkah menyeberangi halaman rumah yang sangat luas.

“Kamu tau berapa harga rumah ini Moon? Aku membelinya dari seorang ekspatriat yang akan kembali ke negaranya. Aku langsung jatuh cinta pada rumah ini, karena rumah ini sangat sesuai dengan keinginanmu dulu. Halaman hijau yang luas, pilar besar diterasnya, kolam renang pribadi, kamar yang luas dengan jacuzi dalam kamar mandinya” Evan semakin erat mendekap Wulan, seolah ia kuatir Wulan akan terlepas lagi “Aku akan menjadikanmu putri di istanaku …”

Pintu besar berukir terbuka, memperlihatkan dua gadis berseragam dibelakangnya. Evan tersenyum pada mereka

“Aku siapkan 5 orang pelayan pribadi untuk memenuhi semua kebutuhanmu. Tinggal katakan apa yang kau mau, mereka akan menyiapkannya untukmu ” ucap Evan menarik wulan melangkah kearah samping rumah. Ada sebuah pintu menuju garasi di basement bangunan, Evan menuntun Wulan turun.

Di garasi terpampang dua mobil mewah dengan satu orang laki laki berdiri diantara kedua mobil tersebut “Supir pribadimu …” jelas Evan “Dan dua mobil untukmu sayangku .. pilih mana yang kau suka .. mobil besar atau mobil sport, sesuai kebutuhanmu ..”

Wulan tercekat. Ia merasa sangat ketakutan.

“Evan .. biarkan aku menelepon ibuku .. ia pasti sangat cemas karena ini sudah lewat dari waktu kepulanganku …” Wulan memohon.

Evan mengangkat tangannya mempersilahkan Wulan menggunakan HP nya. Dengan tangan bergetar ia menekan nomor telepon rumahnya . Tidak ada nada sambung. Wulan mengulanginya dan masih tidak terdengar apa apa. Wulan mencoba menekan nomor telepon HP adiknya. Tidak ada suara. Ia tercenung menatap evan penuh tanya. Evan menyeringai.

“Tidak bisa?” tanyanya

“Memang .. rumah ini menggunakan pengacak sinyal. Tidak ada satu provider cellular pun yang bisa digunakan. Hanya satu telepon di pos satpam yang bisa berfungsi”

Mata Wulan mulai berkaca kaca “Apa maumu Van?” tanyanya dengan suara bergetar

“Kamu” jawab Evan singkat

“Apapun caranya Moon … aku akan memilikimu”

“Apa apaan ini Van?” tanya wulan putus asa

“Kamu sudah memiliki kehidupanmu sendiri. Aku mencintai suamiku. Jalan hidup kita sudah ditakdirkan seperti ini oleh tuhan. Kamu tidak boleh merusak rencana tuhan untuk kita. Tidak Boleh!!”

“Kenapa?” tanya evan dengan suara tinggi

“Tuhan membawamu padaku kembali. Itu juga rencananya untuk menyatukan kita kembali! Aku yakin itu! Lagipula aku lebih bisa membahagiakanmu. Lihat ini semua Moon … semua kerja kerasku untukmu!”

“Cukup!!” jerit Wulan

“Cinta tidak seperti ini Van .. tidak .. kamu menyakitiku .. bukan itu namanya cinta ..”

“Tidak .. aku sangat mencintaimu ..” desis Evan “Bagaimana aku bisa membuktikan padamu? Aku akan singkirkan semua orang yang bisa membuatmu berpaling dariku .. lihat saja ..”

Wulan terhuyung .. ia merasa sangat lemah dan putus asa. Evan menyanggah tubuh wulan, memapahnya menuju sofa di tengah rumah dan mendudukkan wulan disana. dua orang pelayan dengan sigap membawakan secangkir teh hangat untuknya.

“Tenanglah moon” bisik evan

“Kamu lebih aman berada bersamaku ….”

Wulan meminum beberapa teguk teh hangat yang disodorkan Evan. Tak lama kemudia ia merasa sangat mengantuk dan jatuh tertidur di pangkuan Evan.

Wulan membuka matanya. Kepalanya terasa sangat berat. ditatapnya sekeliling dengan pandangan nanar. Ia berada di sebuah ruangan yang sangat luas, diatas tempat tidur bermodel jaman Renaissance, dengan kasur tebal dan kelambu yang menutupi ranjangnya. Wulan bangkit, melangkah turun dari tempat tidur dan merasakan karpet berbulu lembut pada telapak kakinya. Wulan baru saja akan melangkahkan kakinya saat selimut tersibak dari tubuhnya dan memperlihatkan seluruh tubuhnya tanpa sehelai benangpun. Wulan menjerit terkejut, melangkah kembali ke tempat tidur dan menutupi kembali tubunnya dengan selimut.

“Bajumu basah Moon .. tubuhmu basah oleh keringat tadi .. aku membukanya agar kau tidak masuk angin ” suara Evan dari arah pintu terdengar.

Wulan menoleh, merapatkan selimutnya dan meringkuk dengan perasaan cemas diatas tempat tidur. Ia melihat Evan menutup pintu kamar, menguncinya dari dalam dan melangkah mendekatinya

“K .. Kau … mau apa ….” tanya Wulan menahan tangis.

“Pergi !! Jangan sentuh aku !!”

Evan tertawa kecil. Ia tidak memperdulikan teriakan Wulan dan tetap melangkah mendekati Wulan

“Aku hanya membuka bajumu, menatap tubuh indahmu tanpa busana tadi … tidak lebih” ucapnya, lebih terdengar sebagai ungkapan kebanggaan di telinga Wulan

“Kenapa? Kamu malu? Tidak perlu .. kalau toh aku menyetubuhimu, apa masalahnya? Toh suamimu mengizinkanku mencicipi nikmatnya permainan seks mu tempo hari . Ha .. ha .. ha …”

Wulan meronta saat Evan mulai berusaha mendekapnya. Rio .. dimana kamu Ayah … teriak Wulan dalam hati semakin putus asa

“Tapi tenang saja Moon ..” Evan tiba tiba menjauh, bangkit dari tempat tidur dan duduk di sofa

“Aku tidak akan menyentuhmu tanpa persetujuan darimu. Aku ingin melakukannya atas dasar suka sama suka. Tidak dengan paksaan”

“kembalikan bajuku” desis Wulan

“Sampai kapanpun aku tidak akan pernah mencintaimu .. bagaimana mungkin aku mencintaimu jika kau menperlakukan aku seperti ini”

“Kalau begitu … jangan salahkan aku .. ” ucap Evan

“Aku akan menghabisi semua orang yang kau cintai .. hingga akhirnya hanya tersisa aku .. untuk kau cintai. Dan yang pertama, tentu Rio”

Wulan mendelik menahan emosi

“Jangan pernah sentuh suamiku!!!” teriak wulan

“Sampai hanya tersisa kau sendiripun di dunia ini .. aku tidak akan pernah memilihmu!!”

“Aku akan membuatmu mencintaiku Moon !!” teriak Evan

“Lihat saja …” Evan bangkit kembali mendekati Wulan

“Atau … kau benar juga … Rio sangat mencintaimu, tapi apakah ia akan tetap mencintaimu jika aku menodaimu?” Evan menyeringai, mendekati Wulan, merenggut selimut yang menutupi tubuh telanjangnya.

Wulan menjerit, meronta berusaha menjauhkan Evan dari dirinya. Namun tenaga Evan lebih kuat. Dicengkramnya kedua tangan Wulan erat erat, menjatuhkannya terlentang ke kasur dan menahan kaki wulan dengan lututnya sehingga Wulan tidak dapat bergerak

“Jangan sentuh aku!! Jangan berani berani kau …” jerit Wulan tetap berusaha meronta. Ia akan melawan sekuat apapun sampai titik darah penghabisan. Ia tidak rela menyerahkan dirinya pada manusia sekejam Evan

“Teruslah meronta .. kau terlihat semakin seksi dan membuatku semakin bergairah Moon … ” seringai Evan

“Kau lihat CCTV diatas sana … itu akan merekam semua peristiwa saat aku menodai kesucianmu sebagai seorang isteri .. dan Rio .. ia akan melihatmu bermain seks dengan laki laki lain .. Bayangkan Moon.. apakah ia masih akan tetap mencintaimu?”

Wulan menjerit sekuat tenaga saat rio mulai menindihnya, mengikat kedua tangan dan kakinya dengan tali pengikat kelambu dan mulai meraba seluruh tubuhnya penuh nafsu.
Wulan tau .. tidak akan ada yang mendengar atau memperdulikan jeritannya. Tapi ia berharap CCTV dapat merekam perlawanannya dan memperlihatkan perjuangannya mempertahankan kesuciannya pada Rio

***

Saat suara Rio terdengar diujung telepon, ibu wulan langsung mengeluarkan kecemasannya “Maafkan ibu menghubungimu … ibu kuatir .. Wulan .. Wulan belum pulang …..”
Rio mendengarkan semua perkataan ibu Wulan dan paham bahwa situasi menjadi semakin genting.

Bersambung