Drama Threesome Part 19

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25
Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Part 32Part 33Part 34Part 35
Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40

Cerita Sex Dewasa Drama Threesome Part 19 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Cerita Sex Dewasa Drama Threesome Part 18

Sinar matahari sore menerobos tirai jendela apartemen Wulan dan Rio sore itu. Wulan merebahkan dirinya di Sofa dengan kepalanya pada pangkuan Rio. Tangannya sibuk menggenggam HP Rio dan melihat satu demi satu laman foto di aplikasi galeri HP milik Rio. Sesekali ia bertanya tentang hal hal yang menarik yang ia temukan, sementara Rio dengan sabar menjawab semua pertanyaan Wulan. Tangannya membelai belai rambut Wulan penuh Cinta. Sesekali ia membungkuk meraih secangkir teh hangat yang disiapkan Wulan di meja.

“Ini dimana Yah …?” tanya Wulan menunjukkan satu foto yang ia temukan

“Pemandangannya bagus ya …”

“Itu Turki .. Bunda ingat waktu Ayah belikan scarf dari sutra waktu Ayah kesana .. berapa ya, dua tahun yang lalu?” jawab Rio

“Ada tanggalnya di foto …Ayah lupa ..”

Wulan mengangguk tersenyum senang.

Baru kali ini Rio menawarkan dan memperbolehkan Wulan membuka semua aplikasi pada HP nya. Rio memutuskan untuk bisa lebih terbuka pada Wulan tentang keluarga dan pekerjaanya dan Wulan sangat senang menyambut tawaran Rio. Selama ini ia sangat menghormati privacy Rio, yang walaupun sudah menjadi suaminya, ada beberapa hal yang tidak pernah diceritakannya pada Wulan. Wulan memilih melihat foto foto yang dimiliki Rio dan menolak untuk membuka aplikasi lain karena ia percaya, lebih baik untuk membiarkan Rio tetap melindungi privacy nya dalam beberapa hal.

“Ini siapa … kenapa berfoto dekat sekali dengan Ayah …” rajuk Wulan sedikit cemburu saat melihat foto seorang wanita di samping Rio tengah tersenyum dengan manisnya.

“Pramugari itu Bun …” jawab Rio sambil tertawa menggoda

“Cantik ya? Namanya Evelin, pramugari pesawat Turki waktu Ayah ikut rombongan KTT kesana”

Wulan menekuk wajahnya “Iya cantik … Ayah pasti tidak bilang kalau sudah menikah ya? Sengaja kan?”

Rio tertawa, mencubit hidung Wulan lembut “Heei .. cuma foto lho Bun … masa ditolak permintaan fotonya, nanti tersinggung, ngambek ga mau ikut pulang gimanaa …?” Rio masih tetap menggoda Wulan

Wulan mendelik “Ya biar .. tinggal saja disana .. memang kenapa?”

Rio tergelak melihat reaksi cemburu Wulan yang jarang terjadi.

“Tapi buat ayah Bunda yang paling cantik dong” bujuknya

“Dan kalau saja bisa, Ayah jadikan pramugari Ayah kemanapun Ayah pergi”

Wulan tersenyum mendengar rayuan Rio “Betul Yah?” tanyanya, seraya meletakkan HP Rio di meja dan bangkit berdiri di hadapan Rio, menunduk mendekatkan wajahnya kehadapan Rio “Janji?” tanyanya lagi.

Dalam posisi ini Rio dapat melihat Belahan Dada Wulan yang mengintip dari balik bajunya. Wulan tidak mengenakan Bra, hanya berbalut T Shirt tipis dan celana boxer longgar. Rio menelan ludahnya membasahi tenggorokannya yang tiba tiba terasa kering.

“Ya .. janji …” jawabnya.

Wulan melangkah, duduk dipangkuan Rio seraya membuka pahanya lebar lebar sehingga ia dapat merasakan Penis Rio yang mulai menegang di balik celananya, menekan lembut vaginanya. Wulan mencium bibir Rio dengan lembut dan hangat. Rio membalasnya dengan penuh nafsu.

“Bunda ….” Bisik Rio saat Wulan mulai menggelitik telinga dan lehernya dengan lidahnya.

Rio menyelipkan tangannya kebalik T shirt Wulan dan menemukan puting payudara Wulan yang terasa menegang. Rio menjauhkan Wulan sesaat dari peluknya dan menarik T Shirt Wulan melewati kepalanya. Pemandangan dihadapannya saat ini adalah tubuh molek Wulan dengan dua Payudara ranumnya yang menggantung Indah. Rio tidak dapat lagi mengendalikan nafsunya.

Diraihnya tubuh wulan dan dilumatnya kedua payudara wulan dengan mulutnya, menggelitik puting payudara wulan bergantian, menyebabkan desahan panjang keluar dari mulut Wulan yang sangat menikmati permainan lidah Rio. Diremasnya rambut di kepala Rio menahan nafsu, dan ia mulai menggelinjang saar Rio merebahkannya di atas Sofa.

Saat wulan semakin mendaki puncak kenikmatan, Rio menghentikan permainannya. Ia bangkit, menggendong wulan kekamar, merebahkan isterinya di tempat tidur, menarik turun celana boxer Wulan melewati kakinya sehingga vagina wulan terpampang indah di hadapannya. Rio rersenyum, membiarkan wulan mendesah penuh nafsu memanggilnya.

“Sshh .. Ayaaahh … Ayo yaah …” desis wulan.

Rio bergerak perlahan, membuka baju dan celananya saat tiba tiba Wulan meraihnya, menariknya ke tempat tidur, mendudukinya dengan penuh nafsu dan menghujaninya dengan ciuman pada bibirnya. Wulan rupanya sudah tidak sabar lagi menahan nafsu seks yang semakin memuncak

“Mmhh .. Bnddd …” Gumam Rio menikmati permainan lidah wulan dalam mulutnya

Wulan menghentikan ciumannya, melangkah memposisikan vaginanya tepat di depan mulut Rio.

“Ayo ayaah … ” rengeknya penuh nafsu.

Rio membuka kedua paha wulan lebar lebar dan mulai menjilat permukaan vagina wulan di atas wajahnya. Perlahan, cepat, dalam, memutar .. tidak melewatkan satu pun sudut vagina wulan. Dibukanya vagina wulan dengan kedua jarinya, memasukkan lidahnya ke dalam lubang vagina wulan dan menggoyangnya lembut dan cepat. Rio merasakan pinggul wulan bergerak gerak menandakan ia menikmati oral sex yang diberikan Rio.

“Uuuhhh … Ayaaahhh …..” gumam wulan.

Rio semakin mempercepat permainannya, kali ini menyapu klitoris Wulan dengan kelincahan lidahnya. Goyangan wulan terasa semakin cepat

“Aahh ….” erangnya. Rio terus melancarkan permainannya tanpa ampun sementara wulan semakin meracau tak karuan dalam erang kenikmatan

“Oooohh aaaahh ayaaahhh … mmmhhhh … uuuhhh …. aaarghh ayaaaaahhhhh … bunda Ooooo ….”

Rio merasakan pinggul wulan menegang dan sesaat gerakannya terhenti berganti teriakan kenikmatan yang menandakan ia telah mencapai orgasme pertamanya.

Wulan menghempaskan tubuhnya di samping rio dengan nafas memburu. Wajahnya memerah. Rio bangkit, tidak berniat memberikan jeda waktu bagi wulan untuk menerima hadiah O keduanya.
Rio melumat bibir Wulan penuh nafsu seraya memainkan kedua tangannya pada kedua payudara wulan. Wulan yang masih terengah hanya bisa pasrah menerima kembali serangan sex Rio. “Mmmhhh …” gumamnya saat merasakan lidah rio mulai bermain di dalam mulutnya.

“Mulai lagi bunda …” bisik rio sebelum menggelitik telinga wulan dengan lidahnya, mencium dalam beberapa titik di leher wulan sehingga meninggalkan bekas memerah diatasnya.

Rio bergerak perlahan,  melumat kedua payudara wulan dengan lembut, mengecup perut isterinya perlahan dan membalik tubuh wulan ke posisi menelungkup. Rio meraih pinggul wulan dan mengangkatnya sedikit lebih tinggi, meraba vagina wulan yang basah dengan jemarinya, membuka kedua paha wulan dan mulai menghunuskan penisnya yang memegang memasuki vagina wulan dari arah belakang

“Aaaahhhhhhhhhh ….” desis wulan panjang saat Penis Rio mulai memasuki lubang vaginanya. Rio merasakan jepitan Vagina Wulan semakin kencang di penisnya. Rio mulai menggerakan penisnya maju mundur, tangannya bertumpu pada pinggul wulan untuk menjaga keseimbangan.

“Ooooohhhhh … Ayaaaaahhhh …..” jerit wulan tertahan “Uuuhh … enak ayaahhh …..”

Jeritan wulan semakin membuat rio bernafsu mempercepat pompaannya pada vagina wulan. Satu tangannya bermain pada klitoris Wulan untuk menambah sensasi kenikmatan, membuat wulan menggelinjang tak karuan

“Oooohhh … ayaaaaaahhhhhh …..” jeritnya semakin jelas terdengar. Seluruh tubuh wulan bergoyang menerima dorongan pompa rio yang semakin cepat dan keras.

“Aaaaaarrrggghhh ayaaaaaahhhhhhhhh ……Oooooooooohhhhh” Wulan tak sanggup berkata kata didera kenikmatan yang diberikan rio. Ia mencapai orgasmenya yang kedua.

Rio mengeluarkan penisnya dari vagina wulan yang semakin basah. Dibiarkannya isterinya itu tertelungkup melepas lelah. Nafas wulan cepat dan pendek terlihat dari punggungnya yang bergerak turun naik. Rio beringsut mendekati kepala wulan, membelainya penuh mesra.

“Sudah bun? Masih mau lagi ….?” tanyanya lembut. Wulan tersenyum lemah, matanya terpejam

” Cukup ayah ….” gumamnya.

Rio tersenyum, “Tapi Ayah belum ….” bisiknya.

Wulan membuka matanya menatap rio penuh cinta .

“OK …. Giliran ayah sekarang ….” desisnya.

Wulan bangkit, memposisikan dirinya diatas rio, melumat bibir rio sebelum merayap turun ke arah penis Rio yang masih tegak berdiri. Digenggamnya lembut, dikocoknya perlahan. ia tersenyum memandang rio sebelum mulai memasukkan penis Rio ke dalam mulutnya.

Rasa hangat hangat menjalar mulai dari penis ke seluruh tubuh rio. Rio mulai menikmati belaian lidah wulan yang menyapu ujung penisnya, ditingkah gerakan tangan wulan yang mengocok lembut penis Rio. Wulan mengulum penis Rio, menggerakkan keluar masuk mulutnya, menjilat seluruh permukaannya sebelum mengulum kedua bola Rio lembut. rio mendesah nikmat

“Aahhh bundaaa …..”

Wulan mengigit lembut ujung penis Rio sebelum bangkit, duduk diatas rio dan memasukkan penis ke dalam vaginanya.

“Aaarrgghh …” desis rio saat merasakan sensasi jepitan vagina wulan.

“Siap yah …” gumam wulan.

Ia mulai menggerakan pinggulnya dengan lincah ke depan dan belakang, memutar, naik turun … semua gerakan yang memberikan sensasi seks luar biasa pada penis rio

“Oohh Bundaaa …. ” Rio tidak ingin melawan.

ia pasrah pada kenikmatan yang menyerang penisnya. semakin cepat gerakan Wulan, semakin nikmat sensasi yang ia rasakan. rio merasa sudah hampir sampai puncaknya ketika merasakan tangan wulan bermain lembut pada pangkal pahanya, meraba lipatan anusnya sampai menekan lembut kedua bolanya. sensasi luar biasa menjebol pertahanan rio hingga ia berteriak

“Aaaaaarrggghhhhhh …..”

wulan merasakan semburat hangat pada vaginanya. Rio mencapai ejakulasinya dan wulan tersenyum puas …

Wulan terjaga dari tidurnya. Ia melirik Rio yang juga terlelap di sampingnya. Permainan seks mereka rupanya membuat ia dan Rio tertidur dalam kelelahan. Sudah lewat 2 jam tampaknya mereka tertidur. Wulan bangkit, meraih celananya dan berjingkat turun dari tempat tidur. Ia tidak ingin membangunkan Rio yang masih terlelap. Wulan tidak dapat menemukan T Shirt yang tadi dipakainya, kemudian teringat bahwa Rio tadi melepasnya di sofa ruang TV.

Wulan berjalan keluar kamar dan menemukan T Shirt nya tergeletak di lantai. Ia memakainya dan meraih saklar lampu ruang TV yang mereka tinggal saat sore tadi. Saat ini sudah lewat pukul 7 malam dan tanpa lampu, ruang TV menjadi gelap gulita. Wulan menekan saklar lampu dan saat bersamaan ruangan menjadi terang benderang, ia dikejutkan oleh bisikan tepat di belakangnya

“Selamat malam Moon”

Wulan terlonjak, hampir berteriak memutar badannya kearah sumber suara saat mulutnya terasa dibekap lembut oleh sesosok tangan milik Evan. Ia memandang Evan nanar, jantungnya berdegup kencang

“Jangan berteriak Moon .. ini aku ..” ucap Evan berbisik di telinga Wulan. Evan mulai melepaskan tangannya dari mulut Wulan

“Kamu!!” bisik wulan panik. Matanya berkali kali melirik kearah pintu kamar, ia sangat takut Rio terbangun dan menemukan Evan “Bagaimana bisa kamu masuk ke dalam sini??? Keluar!! Cepat sebelum Rio tau kamu disini!!” usir Wulan. Evan menyeringai

“Tenang Moon .. aku yakin Rio tertidur pulas setelah menerima servis seks mu yang sangat memuaskan tadi … Goyanganmu yang .. wow …” ujar Evan. Wulan ternganga tak percaya mendengar kata kata Evan

“Sudah berapa lama kamu disini??” tanya Wulan. suaranya bergetar menahan emosi

“Kamu … melihat ….”

“Yaa .. ” jawab Evan santai

“Bahkan aku punya rekamannya Moon .. tidak terlalu jelas karena dari balik pintu dan jarak jauh .. tapi cukup lah untuk koleksi ku”

“Kamu Gila!!!” desis wulan. Matanya berkaca kaca, wajahnya merah padam

“Aku memang gila!” bisik Evan meraih lengan Wulan sedikit kasar.

Wulan merasakan sakit pada lengannya karena genggaman tangan Evan yang kuat “Kamu yang membuat aku gila moon! Kamu tinggalkan aku tanpa kabar selama 1 minggu. Tidak mau menemuiku. Kamu pikir aku akan diam saja?”

“Sakit Van! Lepaskan tanganmu!” Wulan mulai meronta.

“Diam!” hardik Evan tertahan dan mengeluarkan sebilah pisau lipat dari balik jaket hitamnya

“Kalau sampai Rio terbangun karena teriakanmu, aku tidak akan segan segan menusuknya dengan ini!”

Wulan terbelalak. “Kamu … kamu sakit Van!!” bisik wulan. Ia sangat kuatir Rio terbangun dan Evan benar benar melancarkan aksinya

“Dengar .. aku tau kamu dan Rio menyewa apartemen ini dan beruntungnya aku .. masih ada satu unit tersedia di lantai yang sama dengan kalian. Jadi dengan mudah aku mendapatkan akses masuk karena aku juga salah satu penyewa di apartemen ini” jelas evan

“Aku tidak ingin menyakitimu moon .. aku mencintaimu .. aku menginginkanmu!!”

Wulan mulai terisak perlahan. Rasa sakit pada lengannya, rasa takut, rasa kuatir .. semua bercampur menjadi satu

“Tapi pikirkan apa yang bisa kulakukan pada Rio, Moon ” desis Evan lagi

“Kalaupun tidak bisa menyakitinya, aku bisa menghancurkan karir dan keluarganya dengan rekaman kalian yang aku miliki!!”

“Jangan van ….” Wulan memohon disela isaknya

“Semua tergantung padamu Moon ..” Evan melepas cengkramannya pada lengan Wulan

“Lain kali … kunci pintu sebelum kalian melakukan hubungan seksual”

Evan berjalan mundur, berbalik keluar meninggalkan wulan yang berdiri terpaku di tempatnya …

Wulan bergegas mengunci pintu apartemen. Seluruh tubuhnya bergetar hebat, tidak percaya pada apa yang baru saja terjadi. Ia melangkah perlahan melihat Rio masih terlelap di dalam kamarnya tanpa busana. Wulan meraih selimut dan menutupi tubuh Rio dengan lembut. Ia menatap wajah suami yang sangat dicintainya itu. Terngiang kembali kata kata Evan beberapa saat lalu.

Bagaimana mungkin Evan bisa berbuat sekeji itu. Evan yang ia kenal tidak mungkin melakukan hal itu. Apa yang membuatnya bisa berubah seperti tadi? Apakah karenanya? Karena dirinya? Kalau begitu ia telah menyeret suaminya keujung bahaya yang bisa berakibat sangat fatal bagi karir dan keluarga Rio. Bagaimana kalau terjadi apa apa pada suaminya ini? Wulan semakin takut membayangkan kemungkinan buruk yang bisa menimpa Rio. Ia sangat mencintai Rio. Apapun akan ia lakukan untuk kebahagian suami tercintanya ini.

Wulan melangkah kedapur, mengambil segelas air dingin dan meminumnya, berharap bisa melupakan kejadian menyeramkan yang baru saja ia alami. Suara pesan masuk terdengar dari HP nya. Wulan membukanya. Video kiriman dari Evan. Video hubungan seks ia dan Rio seperti yang disampaikan Evan tadi. wulan menggigil. Walau dari jarak jauh, video tersebut cukup jelas memperlihatkan wajahnya dan Rio, dari awal sampai akhir. Wulan segera menghapus video tersebut, ia kuatir Rio akan melihatnya nanti.

Pesan Evan masuk kemudian “Aku tidak main main Moon … ”

Wulan mengepalkan tangannya menahan amarah.

“Bunda ….” panggilan Rio dibelakangnya mengejutkan Wulan. Ia terlonjak. HP yang dipegangnya jatuh. Wulan membalikkan badannya menatap Rio

“A .. Ayah …” ucapnya gugup.

Rio mengambil HP Wulan dari lantai, memandang Wulan penuh curiga

“Ada apa ….? Bunda chat dengan siapa malam malam begini?”

Wulan tidak menjawab. Rio melihat wajah isterinya pucat. Wulan sedikit gemetar. Diraihnya tangan isterinya. Dingin, tangan Wulan terasa sedingin es.

“Ada apa Bun?” ulang Rio cemas

“Bunda sakit?”dipeluknya tubuh Wulan erat erat. Rio merasakan baju Wulan basah

Apartemen ini menggunakan AC, jadi tidak mungkin isterinya ini berkeringat karena kepanasan. Wulan masih membisu.

Rio melepaskan pelukannya, memandang wajah isterinya dan memgerti bahwa sampai kapanpun ia menunggu, Wulan tidak akan menjawab. Entah apa yang terjadi, tapi Rio perlu jawaban secepatnya. Ia membuka HP Wulan, meneliti satu persatu pesan dan telepon yang masuk ke HP isteri tercintanya itu. Pada salah satu aplikasi, Rio menemukan pesan dari Evan yang baru saja diterima isterinya beberapa menit yang lalu. Rio membaca pesan tersebut.

“Apa maksudnya dengan ‘tidak main main?’ Bun?” tanya Rio tajam

“Apa maksud Evan?”

Wulan memandang Rio tanpa suara. Tubuhnya semakin terlihat bergetar. Wajahnya semakin pucat. Rio yang semula gusar berubah menjadi kuatir melihat kondisi Wulan.

“Bunda …..” Rio menggenggam tangan Wulan

“Bunda kenapa? Ayo cerita pada Ayah Bun ….” tanya Rio cemas

Wulan memeluk Rio erat. Tangisnya pecah. Terisak tak berhenti. Rio mengusap punggung Wulan lembut, mencium kepalanya dengan sayang

“Tenang Bunda … Ayah disini …”

“A.. Ayah … B .. Bunda takut ….” hanya kalimat itu yang terdengar dari mulut isterinya.

Rio membiarkan Wulan melepas tangisnya, walau kepalanya penuh dengan kebingungan akan apa yang tengah terjadi …

Rio menyodorkan secangkir teh hangat kepada Wulan. Ia telah mengganti baju Wulan dengan set piyama berbahan tebal dan menyelimuti tubuh isterinya yang duduk bersandar di sofa. Wulan belum mau bercerita apa apa, namun Rio sabar menunggu. Wulan terlihat sangat shock dan Rio harus tau apa yang telah terjadi.

Wulan sendiri belum dapat memutuskan apakah ia akan menceritakan kejadian tadi pada Rio. Rio sore tadi baru saja bercerita bahwa ia tengah mengerjakan suatu tugas penting yang menyita hampir seluruh waktu dan tenaganya. Itu sebabnya esok ia harus segera kembali ke tempat tugasnya meninggalkan Wulan. Dan jika tugas ini selesai, kesempatan bagi Rio untuk mengembangkan karirnya sebagai duta internasional akan terbuka.

Dengan ancaman Evan tadi, Wulan tidak dapat membayangkan apa yang tengah dikerjakan Rio akan hancur berantakan dan cita citanya harus terkubur karena dirinya? Pernikahannya dengan Rio, walaupun sah dimata agama, tapi tidak diperbolehkan dalam kedinasan Rio.

Lalu bagaimana dengan keluarga Rio nantinya? Isteri dan anak anaknya? Kalau Rio harus kehilangan karirnya, bagaimana Rio bisa menghidupi isteri dan kedua anaknya? Betapa terlukanya hati mereka bila tau bahwa Ayah dan suami yang dicintainya berbagi cinta dengan wanita lain?

Tidak … Rio tidak boleh tau ini semua. Wulan akan mencoba menyelesaikan semua dengan caranya sendiri, agar konsentrasi Rio tidak terganggu.

“Bunda mau makan apa? Sudah malam, Bunda belum makan …” tawar Rio pada Wulan. Wulan menggeleng.

“Ayah mau makan? Biar Bunda pesankan di resto bawah ya ….” tanya Wulan

“Bunda …” bujuk Rio “Bunda belum jawab pertanyaan Ayah … Bunda tau kan, kalaupun Bunda tidak cerita, Ayah akan cari tau sendiri ….”

Wulan menunduk. Hatinya kembali bingung. Kalau Rio tau, apa yang akan terjadi nanti … Akan marahkah Rio padanya dan menganggap ia adalah penyebab dari semua kesulitan ini … ?
Wulan memijat keningnya, kepalanya semakin terasa berdenyut. Ia sangat bingung. Ia tidak ingin kehilangan Rio, tapi juga tidak ingin Rio bertambah sulit karena dirinya dan Evan ..

Bersambung