Drama Threesome Part 10

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25
Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Part 32Part 33Part 34Part 35
Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40

Cerita Sex Dewasa Drama Threesome Part 10 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sex Dewasa Drama Threesome Part 9

Evan menghempaskan badannya berbaring terlentang di karpet lantai kamar yang tebal. Tubuhnya basah oleh keringat. Penisnya terkulai, basah, penuh oleh cairan vagina Wulan dan mani dirinya sendiri. Ia mengatur nafasnya, mengumpat dalam hati mengapa ia harus ejakulasi secepat ini.

Vagina Wulan sangat kesat, sempit dan jepitannya sangat luar biasa. Ia baru merasakan sensasi kenikmatan seperti ini. Sangat berbeda dengan yang dirasanya saat berhubungan suami istri dengan Fani. Rasa penasaran masih menyerangnya, ingin tahu apa yang dirasakan penisnya bila berada dalam mulut Wulan. Tentu saja itu hanya akan terwujud bila Rio mengizinkannya.

Rio sudah berkata bahwa ia harus mengikuti aturan main yang Rio terapkan. Apakah Rio bisa bertahan lebih lama darinya? Batinnya dalam hati. Ia tidak bisa melihat wajah penuh kenikmatan Wulan tadi karena terhalang punggung Rio. Tapi ia tahu, Rio belum ejakulasi. Tentunya Rio masih bisa meneruskan permainannya sementara ia harus jeda sejenak menunggu kekuatannya pulih kembali. Wulan .. Wulan .. Seks dengan cinta ternyata terasa sangat berbeda. Diam diam Evan menyimpan keinginan untuk bermain seks hanya berdua dengan Wulan. Ya .. hanya dia dan Wulan, tanpa ikut campur Rio. Fantasinya bermain liar.

Rio terbaring disamping Wulan. Penisnya masih tegak berdiri. Ia menunggu .. sabar .. Istrinya perlu pemuluhan tenaga sebelum ia serang kembali dengan kenikmatan berikutnya. Nafas Wulan masih terlihat cepat seperti habis berolahraga. Dadanya turun naik. Rambutnya basah karena keringat. Titik titik peluh menghiasi kening dan dadanya. Wulan terlihat sangat puas.

Rio bangkit, menarik turun lingerie Wulan yang masih melingkar di pinggang melewati kedua kakinya, membuka paha Wulan dan melap sisa cairan yang ada di vagina Wulan dengan lembut. Dilemparnya lingerie Wulan kesamping tempat tidur, kemudian kembali mendekati Wulan, mencium keningnya.

Mata Wulan terbuka perlahan, tersenyum “Ayah …” gumamnya pelan.

Rio memagut hangat bibir Wulan, perlahan, semakin dalam, semakin penuh nafsu. Rio merasakan pagutan wulan pada bibirnya, semakin kuat. Rio tau Wulan masih memiliki energy untuk menyambut calon orgasme nya yang ketiga. Penuh nafsu, Rio menghujani Wulan dengan ciuman dalam, dari bibir hingga seluruh leher dan dadanya. Tangannya meremas2 dua payudara Wulan. Nafas Wulan mulai terengah.

“Bersiap untuk kenikmatan selanjutnya sayang” bisik Rio.

Wulan mendesah. Rio menarik Wulan ke posisi duduk, membalik badannya hinnga Wulan pada posisi berlutut. Rio mendorong lembut punggung Wulan hingga posisi hendak merangkak. Perlahan Rio memasukka penisnya dari arah belakang ke vagina Wulan

“Sssshhh … Aahhh … ” desis wulan seiring penetrasi Penis Rio yang kian dalam.

Wulan merasa vaginanya penuh terisi. Sejurus kemudian pompa penis Rio terasa mengalirkan kembali sensasi kenikmatan

“Oooohhhhh …. ahhhhhhhhh … uuuhhhhh … hmmm .. Ayaaahhhhh” Mulut Wulan mulai meracau .

Rio semakin kencang dan cepat memompa penisnya maju mundur. Tangan kanannya pada klit wulan lincah menari, menambah kenikmatan yang Wulan rasakan

“Aduuuuhhh ayaaaaahhhhhhh …. uuuhhhhhh …. ooooohhhhh ….” Wulan semakin tenggelam dalam kenikmatan.

Evan bangkit , suara erangan wulan membuat ia penasaran akan apa yang dilakukan Rio. Penisnya belum kembali berdiri. Ia melihat pemandanga yang sangat sensasional. Payudara wulan berayun meningkahi dorongan pompa Rio dari bagian belakang.

Evan berjalan mendekat, menatap rio meminta persetujuan. Rio mengerti dan memberikan persetujuannya dengan anggukan. Evan memposisikan dirinya di bawah wulan , tangan wulan terjuntai menopang badannya, Rio menghisap payudara wulan bergantian kiri dan kanan dari bawah.

“Oooooohhhhhhh …..” Wulan menerima serangan kenikmatan tambahan pada payudaranya.

Ia tak sanggup lagi berkata apa2. Mulut Evan pada kedua payudaranya, tangan Rio pada klitnya dan penis kokoh Rio memompa vaginanya. Rasa yang luar biasa. Sensasi kenikmatan bertubi2 .. bersamaan menggetarkan seluruh jiwanya. Rio merasakan jepitan vagina Wulan semakin erat saat Evan mulai mengulum payudaranya.

Pinggulnya menegang, pahanya mengeras. Rio menahan terus ejakulasinya sekuat tenaga, memberikan pompa dan tekanan semakin kuat pada Vagina wulan. tubuh Wulan berguncang hebat sebagai akibat dari dorongan maju Mundur Rio dari arah belakang. Tahaann … bisik rio dalam hati .. seribu kenikmatan untukmu sayang, niat rio. wulan tidak sanggup lagi menahan bendungan nafsunya. Gelora kenikmatan semakin memuncak baik dari Rio maupun Evan.

Ia berteriak lepas “Aaaaaaaaaaaahhhhhhhhhhh … Aaaayyaaaaaaaaaahhhhhhhhhhhhhh …….” Itu menandakan Orgasme ketiganya telah tercapai.

Evan merebahkan diri di sofa samping tempat tidur, memandang tubuh Wulan yang tertelungkup diatas tempat tidur dihadapannya. Siluet tubuh Wulan yang indah tanpa selembar benangpun menutupi tubuhnya memberikan pemandangan yang mnggetarkan hatinya. Bokong Wulan tepat menghadap dirinya, terlihat padat berisi.

Kaki Wulan menjulur, pahanya sedikit terbuka memperlihatkan garis vagina yang bersambung lurus ke arah anusnya. Nafas Wulan turun naik cepat, menandakan seluruh energi yang terkuras selepas menerima kenikmatan Orgasme berkali kali. Evan tercekat, menelan ludahnya membasahi tenggorokannya yang terasa mengering. Diliriknya penisnya yang belum mengeras sempurna. Ia mengumpat dalam hati.

Disebelah Wulan Rio berbaring, membelai rambut Wulan penuh kasih, seraya membisikan sesuatu ke telinga Wulan berkali kali. Entah apa yang dikatakannya, Evan tidak bisa mendengar. Tapi ia jelas melihat penis Rio masih tegak menghunus, menandakan ia sama sekali belum melakukan ejakulasi. Dalam hati Evan mengagumi keperkasaan Rio. Meningkah dahsyatnya jepitan Vagina Wulan dan hisapan mulutnya, Rio masih bisa menahan ejakulasinya untuk terus memberikan kenikmatan pada Wulan. Mereka tidak membutuhkanku sebenarnya, batin Evan. Rio jelas bisa memberikan kepuasan kepada wulan seorang diri tanpa dirinya.

Rio bangkit, melangkahkan kakinya sehingga tubuh Wulan berada diantara kedua pahanya. Diciuminya punggung Wulan lembut, merangsang titik titik sensual Wulan yang lainnya. Wulan tampak mulai bergerak gerak menerima getar rangsangan yang dilakukan Rio. Rio menyelipkan tangannya kebalik badan wulan, meraba raba payudaranya dan mempermainkan puting Wulan dengan lembut.

“Siap untuk kenikmatan berikutnya sayang?” bisik Rio seraya menciumi bagian belakang telinga Wulan.

Wulan menggumam, membalik badannya hingga menghadap Rio, menciumnya penuh nafsu dan berkata lemah

“Cukup Ayah … cukup … Kali ini giliran Bunda memuaskan Ayah …”

tangannya menggapai penis Rio yang menggunus, mengocoknya perlahan dengan lembut, membuat ciuman Rio semakin bernafsu melumat bibir Wulan. Wulan melirik kearah Evan. Tatapan Evan seakan melahapnya. Wulan mencoba untuk tidak perduli. Ia mendorong tubuh Rio berguling kesamping, sehingga kini ia berada diposisi atas Rio.

Kesempatan baik bagi Wulan untuk mengeksplor tubuh Rio. Ia melumat penuh cinta bibir Rio, lidahnya bermain lincah menyapu seluruh permukaan mulut rio, menggigit bibir Rio lembut. sebelum beralih ke leher, Wulan berbisik

“Nikmati bunda, Ayah …”

Wulan membimbing tangan Rio untuk memegang vaginanya dari arah belakang, sementara Rio memainkan jemarinya pada vagina Wulan, Wulan menggesek2kan payudaranya pada dada Rio, memberi sensasi kenikmatan tersendiri untuknya dan Rio. Wulan mengerang, Rio menggumam .. keduanya bersatu dalam kenikmatan . Bibir Wulan turun kearah leher Rio, menggigit dalam di beberapa titik, turun kearah dada sebelum menurunkan badannya memaksa Rio menghentikan permainannya pada vagina Wulan.

Posisi kepala wulan pada penis Rio dan tanpa ampun Wulan mulai mengulum penis Rio. Maju mundur seraya mengocok lembut, Wulan menambah sensasi dengan menelusurkan jarinya ke seluruh lipatan kemaluan Rio. Rio menggeram. Tangannya pada kepala wulan. Wulan mulai menjilat cepat seluruh permukaan batang penis Rio, mengulum, menggigit lembut dua bola Rio, memainkan lidahnya pada pangkal bola terus menelusur pada anus rio.

“Aaaarrgghhh … ” gumam kenikmatan mulai terdengar dari Mulut Rio. Wulan terus melakukan serangannya.

Mengulum kembali penis Rio, memompanya keluar masuk, mendesaknya sampai ke pangkal tenggorokan menggigit ujungnya lembut sebelum mengeluarkannya membiarkan rio berada hampir di puncak kenikmatan

“Oh bundaaa … ” desis rio.

Wulan memanjat naik, menempatkan vaginanya tepat diatas Penis Rio, menurunkan tubuhnya perlahan hingga lubang vaginanya bertemy ujung penis rio dan … menekannya dalam dalam. Gesekan penis dengan dinding vagina wulan memberikan kenikmatan bagi keduanya “Uuuhhhh ….” suara yang hampir bersamaan keluar dari mulut mereka.

Wulan menopangkan tangannya pada dada Rio. Ia menggoyangkan pinggulnya maju mundur dengan cepat, berputar 360 derajat terua berulang2. klitnya bergesekan tepat dengan kulit perut Rio. Pinggulnya menegang menahan kenikmatan, dan Rio merasakan vagina wulan menyempit, menjepit .. membuat ia hampir tak dapat menahan ejakulasi

“Ooooohhh Bundaaa … oohh …” erang rio penuh kenikmatan.

Wulan pun merasakan hal yang sama “Uuuhhh ayaaaaahhhhhh ….aaahhh ….” Payudara wulan yang bergantung bergoyang menggoda.

Rio menggenggamnya untuk memberikan rangsangan tambahan bagi wulan. Rio sekuat tenaga menahan ejakulasinya “Tidak .. jangan sekarang .. belum saatnya berhenti” ucapnya dalam hati. ia mencoba mengatur nafasnya , untuk dapat menahan ejakulasi, memberi kenikmatan lebih lagi pada dirinya.

Kini rio mulai menggerakkan pinggulnya turun naik, memberi tekanan lebih dalam pada penisnya ke vagina Wulan. Memompakan kenikmatan luar biasa pada tubuh wulan. rio merasakan pinggul wulan semakin menegang mengikuti gerakan tubuh indahnya yang semakin cepat .. semakin cepat dan kemudian

..”Aaaaahhhhh Ayaaaaaaaahhhhhhh … Aaaahhhh …. Uuuhhhhhhhh … Bunda Oooooooooo” jerit wulan tanpa kendali. Cengkraman dan cakaran erat jemari wulan pada dada rio menandakan Orgasme keempat bagi wulan.

“Nakal … Ayah … nakal …” terengah ia berkata seraya mengusap wajah Rio dihadapannya.

Rio tersenyum “Harusnya … Bunda …. harusnya … Ayah yang ….” Wulan tidak kuasa berkata.

Ia hanya tersenyum lebar memandang Rio yang sangat ia cintai. Sekali lagi Rio memberikan kepuasan batin baginya. Ia mengecup pipi Rio penuh Cinta, berusaha menyampaikan rasa terimakasihnya karena merasa begitu dimanjakan malam ini . Rio membelai rambutnya, menggoda Wulan seraya berusaha mengatur nafasnya sendiri. Menahan ejakulasi didalam himpitan vagina Wulan yang begitu lezat bukanlah hal yang mudah

“Ayo dong Bun …. kapan giliran Ayah” ujar Rio tersenyum. Wulan mengerling, tersenyum.lebar “Hmm … gumamnya .. Time Out Ayah …”

Di Sofa, Evan duduk tak bergeming. Seluruh tubuhnya menegang, menyaksikan adegan bak film sex kualitas tinggi tadi dihadapannya. Bukan main, bisiknya dalam hati .. Rio belum juga ejakulasi. Ia merasakan penisnya mulai menegang kembali.

Melihat goyangan Wulan yang begitu sensasional diatas Rio memberikan rangsangan tersendiri baginya. Ia begitu ingin berada di posisi Rio. Sekilas bayangan Fani berkelebat. Mengapa ia tidak pernah merasakan sensasi seperti ini dengan Fani.

Dengan Wulan terasa begitu nikmat dan Evan menyaksikan penisnya mulai tegak menghunus. Wulan begitu cepat terangsang, begitu cepat orgasme . Melihat ekspresi Wulan yang tengah dilanda gelombang kenikmatan memberikan rangsangan tersendiri bagi Evan.

Rio meraih tangan Wulan, sedikit memaksanya bangkit dari posisi rebahnya. Wulan kini berlutut, berhadapan dengan Rio dalam posisi yang sama. Rio kembali mencumbu Wulan, dipagutnya seluruh titik sensitif Wulan, mulai dari bibir, telinga, leher hingga payudaranya. Rio menghisap kedua Payudara Wulan sedikit lebih kuat membuat Wulan merintih nikmat sebelum ia berbisik “Buat Ayah O kali ini sayang …”

Rio bangkit berdiri, kini wajah Wulan berhadapan langsung dengan Penis Rio. Tanpa menunda Wulan menggenggam penis Rio lembut, menjilat seluruh batang Penis Rio penuh nafsu. Posisi paha Rio yang terbuka lebar dihadapannya membuat Wulan semakin leluasa mengeksplorasi setiap lekuk kemaluan Rio.

Dari batang Penis, lidahnya lincah bermain, menggelitik kedua bola Rio, pangkal bola, mengulum dan menggigitnya perlahan sebelum kemudian kembali menelusuri lipatan anus Rio, membukanya lebar dengan jemarinya untuk kemudian berlama lama memainkan lidahnya pada bagian tersebut. Rio mengerang nikmat.

Tangannya bertumpu pada dinding dihadapannya, menikmati seriap sensasi yang diberikan oleh permainan lidah Wulan pada penis dan anusnya. Wulan mengelus paha bagian dalam Rio dengan lembut, sesekali lidahnya bermain diujung penis Rio, mengulumnya, mengocok dengan lembut, membuat Rio semakin melayang.

Evan bangkit dari Sofa tempatnya duduk selama ini. Gairah seksnya semakin memuncak melihat kelincahan dan keliaran Wulan dalam memberikan servis seksualnya untuk Rio. Ia menggenggam penisnya, mengocoknya lembut, memperhatikan permainan seks fantastis yang disuguhkan di hadapannya. Derik Sofa yang ditinggalkan Evan membuat Rio menoleh, melihat Evan yang tengah susah payah menahan birahinya, Rio memberikan isyarat kepada Evan dan mengizinkannya mendekati Wulan.

Evan berjalan cepat, mendekati Wulan dari arah belakang Rio, membuatnya berada pada posisi berhadapan dengan Wulan. Segera dijilat dan dihisapnya Payudara Wulan yang bergantung cantik, meremasnya penuh nafsu. Rio merasakan Wulan sedikit terkejut. Cengkraman tangan Wulan pada paha Rio sedikit menegang.

Wulan sedikit menggumam, hisapannya pada penis Rio sedikit mengendur. Rio meletakkan tangannya ke kepalla, mendorongnya lembut menuntun Wulan melakukan gerakan mendorong dan menarik penisnya dalam mulut Wulan.

Isapan mulut Evan pada payudara Wulan semakin kuat. Wulan menyerah pada kenikmatan yang datang dari kelincahan lidah Evan merangsang payudaranya. Mulut Wulan penuh mengulum Penis Rio, sementara satu tangannya kini berpindah dari paha Rio kekepala Evan. Evan menambah rangsangannya dengan memainkan jarinya kedalam klitoris Wulan.

Wulan mendesah “Mmmmhhhhh ……” tanpa bisa berkata kata karena mulutnya masih sibuk melakukan gerakan memompa penis Rio.

Evan tahu wulan semakin terangsang saat Wulan sedikit membuka kedua pahanya, seakan mempersilahkan jemari Evan masuk lebih dalam menelusur vaginanya. Evan memasukkan jemarinya kedalam lubang vagina wulan yang sudah basah.

Semakin terbawa nafsu Birahi, Evan membuka paha Wulan lebih lebar, memposisikan kepalanya dibawah vagina Wulan dan melakukan oral sex pada vagina Wulan. Evan menjilat seluruh permukaan Vagina Wulan, bermain di klitoris sejenak sebelum kemudian menguncupkan lidahnya masuk ke dalam lubang vagina Wulan.

“Aaaahhhhhhhhh …..” Wulan mengerang, sejenak melepaskan penis Rio dari mulutnya. Nafasnya semakin memburu. Segera ia memasukkan penis Rio kembali kedalam mulutnya, memompanya lebih cepat dan kali ini rio semakin terbawa kenikmatan hingga hampir mencapai puncaknya

“Aaaahhhhh …. Ayo bunda … lebih cepat ….” teriak rio seraya tangannya mendorong kepala wulan maju mundur

Evan semakin mempercepat permainan lidahnya pada vagina wulan. Kali ini wulan hampir ridak sanggup lagi menahan Orgasme. Ia tiba tiba melepas penis Rio dari mulutnya dan berteriak

” Ooooohhhhhh…. Aaaaahhhhh mmmmmmhhhhh …. aaaaahhh …..”

Evan melihat Wulan sudah berada di ujung tanduk kenikmatan. Ia tahu sedikit lagi saja ia melancarka aksinya, maka wulan akan mencapai orgasmenya. Penis Rio sudah tidak ada di mukut wulan. Evan berbalik, memposisikan badannya diantara kedua paha Wulan, beringsut naik sehingga penisnya yang terhunus tepat berada dibawah vagina Wulan. Ia melihat punggung mulus wulan dihadapannya, meraih pinggang mungil wulan turun kebawah dan “Aaaarrrgggghhhh ….. aaaaahhhh” Wulan berteriak lepas saat penis Evan menghunus masuk ke dalam vaginanya.

seperti melayang, dilanda kenikmatan luar biasa Wulan mulai menggerakkan pinggulnya naik turun sehingga penis Evan bergeraj keluar masuk lubang vaginanya. Wulan mengerang ngerang, tangannya mencengkram kedua paha evan seraya terus berteriak ” Ooohhh … ahhhhh …” Tangan evan meremas remas payudara Wulan dengan penuh nafsu, membuat Wulan semakin menggelinjang di serang kenikmatan bertubi tubi.

“Ayo Moon .. terusss … ” Evan bergumam.

Ia pun semakin merasakan kenikmatan cengkraman vagina wulan pada penisnya. “Aaarggghh …” serunya tertahan.

Bukan main, batin Evan, sekuat tenaga menahan ejakulasinya. Egonya sedikit memaksanya agar tidak kalah dari rio yang sanggup menahan kenikmatan dari seks yang diberikan wulan.

Disamping mereka, Rio menatap takjub. Istrinya tengah dilanda kenikmatan luar biasa karena layanan seks yang diberikan laki laki lain. Wajah Wulam memerah, matanya terpejam, mulutnya tak henti meracau, tubuhnya menggelinjang liar. Wulam tengah menuju puncak, terbawa oleh kenikmatan yang ia dapatkan dari penis Evan pada vaginanya dan tangan evan pada payudaranya.

Marah dan cemburu luar biasa memenuhi rongga dadanya. Ia mengepalkan kedua tangannya, sesaar berniat untuk menghentikan peristiwa dihadapannya. Ia akhirnya melihat laki laki lain menyetubuhi istrinya. Merasakan sensasi yang begitu ingin ia rasakan selama ini, melihat istrinya memuaskan dan terpuaskan oleh aktivitas seksual nya bersama laki laki lain. Apa yang selama ini menjadi fantasinya, kini terpampang nyata dihadapannya.

Sejurus Rio terpenjara emosi, kemudian ia melihat wajah isterinya yang begitu menikmati. Ia tau sebentar lagi wulan akan mencapai Orgasme. Badannya sudah semakin menegang. Haruskah ia hentikan kenikmatan istrinya saat ini? Bukankah ia bersedia berkorban untuk kenikmatan isteri tercintanya seperti yang telah ia niatkan sebelumnya? Haruskah ia menyerah pada rasa cemburu dan emosi yang ternyata semakin meraja ini? Nafas Rio memburu. Sebelum ia sempat memutuskan apa yang akan dilakukannya, Wulan dan Evan berteriak bersamaan. Wulan meneriakkan namanya dalam Orgasmenya yang kelima

“Aaaayyaaaaaahhhhh ….. Aaaaaaahhhhh …. Bunda Ooooo …. uuuhhhh …. ” Rio berdiri terpaku.

Bersambung