Dilema Cici Part 9

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Tamat

Cerita Sex Dewasa Dilema Cici Part 9 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Dilema Cici Part 8

Setelahnya

Cup. Kecupan Indra di bibirku pun membangunkanku. Aku melihat matahari sudah menyinari kamar Indra. Aku masih telanjang dalam baluran selimut. Aku melihat Indra sudah berpakaian rapi dan sedang duduk di tepi tempat tidur. Aku melihat jam, dan waktu ternyata sudah menunjukkan pukul tujuh pagi.

“Ehh, udah jam tujuh ya? Kamu udah mao pergi?” Tanyaku.

“Iya.” Kata Indra sambil mengangguk.

“Udah sarapan?” Tanyaku.

“Udah.” Kata Indra sambil mengangguk.

“Kamu tidur dulu aja, sayang. Anak-anak juga belum pada turun. Kayanya pada turun jam delapan katanya Raisa sih.” Kata Indra.

Aku pun bangun, kemudian memeluk dan mencium bibir Indra.

“Hati-hati di jalan, sayang. Tar kita telponan ya nanti malem.” Kataku.

“Iyah.” Kata Indra sambil tersenyum.

Aku pun melepaskan pelukanku.

“Oke, sayang. Aku pergi dulu ya.” Kata Indra.

Aku pun hanya tersenyum dan melambaikan tangan kepada Indra. Kemudian, Indra pun melangkah keluar kamar. Perpisahan ini hanya untuk sementara. Aku yakin suatu saat kita akan bertemu lagi. Begitulah keyakinanku. Aku pun segera mandi. Sambil mandi, aku termenung dalam pikiranku.

Apa yang sedang sperma suamiku dan sperma Indra lakukan ya dalam rahimku? Apakah sperma suamiku berhasil membuahi sel telurku lebih dahulu? Ataukah sperma Indra yang ternyata lebih cepat dan kuat sehingga berhasil membuahi sel telurku terlebih dahulu?

Sepanjang hari, aku terus termenung dengan pikiran itu. Aku tidak menyangka bahwa pertarungan dua sperma dalam rahimku ini bisa membuatku termenung dalam pikiranku begitu panjang.

Hari-hari outing sampai hari Kamis pun kulalui dengan termenung dalam pikiranku. Jujur, aku bukannya jadi menikmati outing, malah termenung dalam pikiranku. Aku tidak mengerti apa yang kupikirkan.

Apakah aku menyesal telah membiarkan Indra masuk? Ataukah waktu indah yang Indra berikan bagiku begitu membuatku terpesona? Ataukah aku berharap sperma suamiku yang berhasil membuahi sel telurku lebih dulu? Entahlah. Begitu banyak pertanyaan yang menghujani pikiranku.

Yang jelas, tahu-tahu aku sudah kembali ke Jakarta pada hari Kamis. Aku pun mengucapkan salam perpisahan kepada bekas rekan-rekan kerjaku. Tidak lupa juga aku mengucapkan terima kasih kepada HRD dan jejeran BOD atas kesediaannya mengajakku dalam acara outing ini.

Mereka semua pun pulang ke rumahnya masing-masing, tinggal aku sendirian di bandara. Aku pun menunggu suamiku di tempat yang sudah dijanjikan. Tidak lama kemudian, suamiku pun keluar dari pintu kedatangan, dan langsung berjalan dengan cepat kearahku. Ia langsung memeluk kepalaku, dan mencium pipiku.

“Gimana outingnya?” Tanya suamiku.

“Hehehe. Menyenangkan kok.” Kataku.

“Hehehe. Pasti kamu capek ya?” Tanya suamiku.

Eh? Oh… aku paham. Aku sebetulnya tidak capek sih, hanya banyak pikiran saja. Akan tetapi, untung kebetulan ini habis outing, jadinya aku bisa berdalih kalau aku capek. Aku belum siap untuk memberitahu masalah aku dengan Indra sekarang.

Jika memang aku hamil, barulah aku akan memberitahunya. Jika ternyata aku tidak hamil, lebih baik kusimpan saja. Tidak ada gunanya membebani pikiran suamiku dengan hal yang tidak perlu. Kami pun pulang sama-sama menuju rumah kami.

***

Jreengg! Test pack yang kugunakan pun menunjukkan tanda positif. Sudah tiga test pack kucoba, dan hasilnya semua pun menunjukkan tanda positif. Ah, rupanya aku hamil ya? Yang jadi pertanyaan adalah, anak siapa yang ada di perutku ini? Aku pun keluar dari kamar mandi. Suamiku pun sudah menungguku di ranjang.

“Gimana?” Tanya suamiku.

Aku hanya menunjukkan hasil test pack kepada suamiku. Suamiku pun hanya mengangguk.

“Nah, tinggal pertanyaannya sih anak siapa. Sayangnya hanya bisa diketahui saat anaknya udah lahir ya.” Kata suamiku.

“Sayang, sebetulnya…” Kataku.

“Iya, sudah sudah. Intinya, aku berpikiran, itu bisa aja anak aku, bisa aja anak si Indra. Emang selama ini kamu di rumah terus. Tapi yah aku kan ga tau nih. Bisa aja kamu lolos dari pengawasanku. Intinya, aku paham lah.” Kata suamiku.

Oh, baiklah kalau begitu.

“Sayang, aku mau tanya. Kenapa kamu menyikapinya dengan setenang ini? Apa kamu nggak takut?” Tanyaku.

“Ga takut? Hahaha. Jelas takut lah. Tapi yah mao gimana sekarang. Aku udah berusaha yang terbaik, bener-bener udah yang terbaik yang aku berikan. Sisanya tinggal Tuhan sih yang menentukan. Apakah emang kamu itu ditakdirkan untuk sama aku, atau sama dia. Itu aku pasrah aja ama Tuhan.” Kata suamiku.

“Maksudku, kamu nggak marah sama aku?” Tanyaku.

“Awalnya sih marah. Tapi sekarang mau gimana lagi? Hati kamu emang udah kebagi dua sekarang. Orang bilang kan ga mungkin hati itu bisa mencintai dua orang dengan porsi yang sama. Tapi buktinya kejadian tuh di kamu.” Kata suamiku.

Aku hanya bisa terdiam dan menunduk.

“Malah, mungkin jalan yang diajukan oleh Indra itu bagus juga. Itu bakal nentuin hasil tetapnya. Kalau ga gini, aku sama si Indra bakal selamanya memperebutkan kamu. Aku suami sah kamu, terus kamu sama Indra main belakang. Bakal selamanya gitu. Yah mending diputuskan aja dalam delapan bulan lagi. Yang kalah, mundur. Yang menang, boleh sama-sama kamu. Gitu kan simpel.” Kata suamiku.

“Sayang, maaf. Aku udah gagal sebagai seorang istri. Aku nggak bisa setia sama kamu, dimana itu kan kewajibanku sepenuhnya untuk nerima kamu baik dalam senang maupun susah.” Kataku.

“Yah, maaf juga nih. Aku akan ngomong bahwa kamu itu istri yang durhaka. Maaf ya aku ngomong gitu, dan tentu kamu harus terima jika aku ngomong gitu.” Kata suamiku.

Aku pun merasa sedih sekali dibilang begitu oleh suamiku. Akan tetapi, memang begitulah kenyataannya. Walaupun aku menangis, aku terima sepenuhnya perkataan suamiku.

“Tapi gini. Meskipun kamu itu durhaka, kamu udah menunjukkan itikad baik. Kamu berani jujur. Bukan cuma berani jujur sama aku kalo kamu udah selingkuh, tapi kamu juga udah jujur sama perasaan kamu sendiri. Aku kasih tau ke kamu. Bahaya lho kalo kamu ga jujur sama perasaan kamu. Ujung-ujungnya, meski kita udah baikan, pasti kamu tetep akan main belakang. Mending begini, jadinya aku juga awas bahwa kamu pastinya bakal terlibat dengan kasus yang sama lagi. Dan karena kejujuran kamu itulah, aku juga patut muji kamu bahwa kamu itu orang yang hebat. Kamu tahu dengan main hati ke orang lain, resikonya sangat besar, baik dunia dan akhirat. Tapi, kamu tetep nekat. Entah, kamu berjuang demi diri kamu sendiri, atau kamu memang nekat. Anyway, dua-duanya itu mampu bikin aku terkesima.” Kata suamiku.

“Terus kedua, yang namanya istri kalo udah durhaka, itu tuh suaminya wajib nolong, bukan nelantarin. Aku bukannya ga marah lho, aku marah sekali. Tapi inget, ajaran agama kita itu mewajibkan untuk memaafkan sebanyak tujuh puluh tujuh kali tujuh kali, atau kata lainnya tanpa batas. Kalo aku nyerah sama kemarahan dan harga diri, aku berarti jelas lemah. Walau dengan kondisi gini, aku bingung sih gimana cara nolong kamu, secara hati kamu kebagi dua gitu. Paling yang bisa aku harapin ya semoga anak yang dalam perut kamu itu anak aku.” Kata suamiku.

Ah, luar biasa. Begitu hebat suamiku ini. Aku memang tidak pantas untuk mendapatkannya. Kenapa takdir memberikan aku sebagai istrinya ya? Takdir itu memang sulit ditebak.

***

Kini, usia kehamilanku sudah empat bulan. Perutku pun mulai membesar. Tentu saja aku masih memikirkan, kira-kira ini anak siapa ya? Suamiku pasti juga takutnya bukan main. Sebetulnya, aku berharap agar anak ini suamiku, agar aku bisa tetap bersama suamiku, dan kita mungkin bisa mulai dari nol lagi.

Jika itu memang demikian, aku berjanji akan menjadi istri yang lebih baik lagi dari sekarang. Akan tetapi, aku tahu hati kecilku pun juga berharap bahwa ini adalah anaknya Indra, karena aku pun mendambakan kehidupan bersama dia. Ah, biarlah takdir yang menentukan.

Sekarang, suamiku sedang dinas keluar negeri. Yah begitulah pekerjaan suamiku, begitu ada bencana alam, dia langsung keluar negeri dan survey. Kudengar, Indra pun juga pergi ke tempat yang sama.

Aku termenung, apakah Indra tahu bahwa aku sedang hamil sekarang? Apa ya kira-kira reaksi dia begitu tahu aku hamil? Dia pernah cerita bahwa dia pernah mencoba untuk datang ke rumahku, tetapi tidak bisa mencapai rumahku karena banyak orang yang mengawasi dia. Suamiku protektif juga ya. Mungkin, dia sudah mencoba beberapa kali untuk datang ke rumahku, tapi belum berhasil.

Suamiku memberitahuku bahwa ia akan pergi selama seminggu. Yah, menurutku sih waktu yang cukup lama. Apalagi, aku sekarang di rumah sendirian, dan hampir tidak ada hiburan. Lagi-lagi aku mengerti bahwa ini semua salahku sebetulnya.

***

Tiga bulan pun sudah berlalu. Kini, usia kehamilanku memasuki umur tujuh bulan. Seperti biasa, suamiku menemaniku memeriksa ke dokter kandungan. Dokter pun mengatakan bahwa kondisi janinku baik dan sehat. Aku dan suamiku pun cukup lega.

Meskipun suamiku cukup lega, tetapi suamiku terlihat lebih sering termenung. Sejak pulang dari luar negeri tiga bulan lalu, suamiku menjadi pendiam dan lebih sering termenung. Kenapa ya? Mungkinkah karena ini adalah saat yang cukup krusial untuknya? Aku pun memeluk leher suamiku.

“Aku tahu kamu pasti kepikiran banget ya, sayang.” Kataku.

“Ah… iya… itu, dan satu hal lainnya…” Kata suamiku.

“Oh, hal lain apa?” Tanyaku.

“Ah, udahlah. Aku ga lagi pengen ngomong.” Kata suamiku.

Aku sih memahami saja. Jujur, aku disini jadi merasa bersalah sekali. Andai waktu itu aku tidak mengiyakan ajakan Indra untuk ikut pergi bersamanya ke Puncak, mungkin buntutnya tidak akan sepanjang ini.

Di sisi lain, mungkin aku memang berjuang untuk kebahagiaan diriku sendiri, makanya mungkin di sisi lain aku tidak menyesalinya. Padahal seharusnya perselingkuhan itu didasarkan pada orientasi kepuasan seks saja, jangan sampai melibatkan perasaan, jangan beri ruang untuk main hati. Beginilah akibatnya karena aku dan Indra sama-sama memberi ruang untuk perasaan dan hati.

“Sayang.” Kataku.

“Ya?” Tanya suamiku.

“Maaf banget ya. Ini maaf banget lho. Aku tau kamu nggak bakal ngizinin aku ketemu Indra. Itu nggak apa-apa. Tapi, bisa nggak kira-kira kamu ketemu sama Indra, dan kasihtau kalo aku hamil? Gitu-gitu, dia juga berhak tahu.” Kataku.

Suamiku pun menghela napas panjang.

“Gini aja. Misalkan anak itu lahir, dan ternyata itu memang anak dia, aku akan kasihtau dia. Dan sesuai perjanjian, aku nggak akan ngehalangin Indra, untuk jadi bapak yang sah atas anak itu, dan juga suami sah dari kamu.” Kata suamiku.

Ah, artinya, jika anak ini adalah anaknya Indra, kita harus berpisah ya? Yah, mau gimana lagi? Akan tetapi, benarkah hubunganku dengan suamiku yang sudah terbina selama sepuluh tahun harus kandas begitu saja? Aku kembali mengingat kenangan dengan suamiku, saat masih pacaran dulu, saat merencanakan pernikahan, saat resepsi pernikahan, saat malam pertama, dan hari-hari indah kami setelah menikah.

Bahkan, setelah kasus yang menimpa diriku ini pun, suamiku masih bisa bertindak lapang dada. Bahkan, dia tetap layaknya seperti seorang suami, begitu siaga saat aku berada dalam masa hamil begini. Ia selalu siaga di malam hari, takut-takut jika terjadi sesuatu. Ia selalu menyempatkan waktu untuk mengantarku ke dokter untuk checkup kehamilan.

Ia selalu memikirkan diriku, mengingatkan aku untuk menjaga pola makanku agar bayi dalam kandunganku sehat. Padahal, anak di perutku ini belum tentu anaknya sendiri. Suami mana lagi yang hebat seperti dia? Aku yakin hanya satu diantara satu juta orang.

Mungkin dia memang kurang perkasa di ranjang, tetapi dia sungguh perkasa sebagai seorang laki-laki. Inilah pertama kalinya aku betul-betul menyesal telah mengkhianati dia. Diam-diam, aku pun menitikkan air mataku.

***

Di suatu pagi subuh hari, aku pun terbangun karena tiba-tiba merasa mulas. Ah, aku merasa ada yang tidak beres dengan diriku. Akan tetapi, di saat yang sama, aku tahu bahwa ini adalah saatnya untuk melahirkan bagiku.

Suamiku pun menyadari hal itu. Ia pun langsung menuntunku ke mobil, dan mengambil tas berisi pakaian dan makanan untuk di rumah sakit. Setelah ia memasukkan tas ke mobil, ia pun langsung bergegas mengemudikan kendaraannya menuju rumah sakit.

Aku bisa lihat dari raut wajahnya saat menyetir, ia tampak begitu serius. Ia berusaha mengantar aku ke rumah sakit secepat mungkin, tapi dengan tetap mempertahankan keselamatanku.

Tidak butuh waktu yang lama bagi kami untuk sampai di rumah sakit. Suamiku pun langsung mengambil kursi roda, dan kemudian mengantarku ke kamar bidan. Bidan yang berjaga di rumah sakit pun melakukan pemeriksaan terhadap diriku, dan ternyata sudah pembukaan tujuh. Wow!

***

Aku tidak tahu berapa jam telah berlalu, tetapi akhirnya dokter dan bidan pun membawaku ke ruang bersalin. Di ruang bersalin, suamiku pun sempat menggenggam tanganku, dan kemudian ia menganggukkan kepala untuk memberiku semangat. Aku pun berdoa. Bukan berdoa untuk keselamatanku sendiri, tapi berdoa untuk suamiku.

Aku berdoa, agar bayi ini adalah bayi dari suamiku. Akan tetapi, aku juga berdoa, kalaupun jika bayi ini bukan bayi suamiku, aku berdoa seyakin-yakinnya dan sepasrah-pasrahnya sambil menangis, agar suamiku menemukan kebahagiaan sejatinya, agar suamiku menemukan pendamping hidup yang jauh lebih baik dan menghargai dirinya dan bukan sepertiku yang begitu durhaka terhadap suamiku.

Dengan dukungan yang begitu kuat dari suamiku, dan petunjuk arahan dari dokter dan bidan, aku pun berhasil melahirkan dengan selamat. Rasanya pun plong sekali. Akan tetapi, aku belum merasa tenang sepenuhnya.

Begitu juga dengan suamiku, pasti dia takutnya bukan main. Dokter pun langsung meletakkan bayiku diatas tubuhku, untuk memulai proses Inisiasi Menyusu Dini (IMD). Bayiku tampak sehat dan kuat. Aku pun cukup lega.

“Dok, saya minta tolong. Tolong tes DNA anak ini dengan suamiku.” Kataku.

“Honey, itu nanti aja.” Kata suamiku.

“Betul, bu. Seperti kata suami ibu. Sebaiknya itu tidak dilakukan sekarang. Meskipun bayi ibu kondisinya sehat, tapi kan yang namanya bayi, kondisinya masih sangat rapuh. Ada resiko untuk menimbulkan trauma pada diri sang bayi.” Kata dokter.

“Dok, saya paham. Tapi saya mohon, dok. Ini demi suami saya. Suami saya lah yang selalu menemani saya dalam kondisi apapun selama saya hamil, dan sebelum hamil. Dialah yang selalu menjaga saya dan berusaha sebaik mungkin untuk membahagiakan saya. Dan bayi ini adalah hal yang krusial bagi dirinya sekarang. Saya tidak peduli ada resiko apapun, saya berani mengambilnya.” Kataku.

“Honey…” Kata suamiku.

“Udah. Aku udah yakin. Aku nggak mao bikin kamu semakin takut aja.” Kataku.

“Ibu yakin?” Tanya dokter.

“Seratus persen, dok.” Kataku.

Dokter pun menghela napas panjang.

“Baik, pak. Silakan lewat sini.” Kata dokter.

Suamiku pun mengikuti dokter itu berjalan keluar dari kamar bersalin. Aku masih disini, anakku ini sekarang sedang berusaha untuk mencari puting susuku untuk menyusu. Sambil membantu anakku, aku pun menunggu. Aku pasrah dengan hasil apapun.

***

Sehari pun sudah berlalu. Hari ini adalah saatnya hasil tes DNA keluar. Suamiku pun pergi ke lab untuk mengambil hasilnya.

Tidak berapa lama kemudian, ia pun kembali, dan menyerahkan hasil tes DNA kepadaku. Aku pun membuka hasil tes DNA itu. Ah… Rupanya bukan anak suamiku ya. Baiklah, mungkin ini memang jalan yang terbaik bagi kami. Aku melihat suamiku pun sudah menerimanya. Tidak ada ekspresi kecewa, tapi ia pun juga tanpa senyum.

Aku melihat kantung matanya yang begitu tebal. Semalam dia tidak tidur karena menjagaku dan membantuku mengurus anakku. Dan melihat hasil tes DNA itupun, ia tampak tidak menyesal. Sungguh, ini adalah hal hebat dari suamiku yang mungkin akan aku lihat untuk terakhir kalinya.

“Sayang.” Kataku.

Suamiku tidak menjawab, ia hanya melihat kearahku.

“Kayanya, emang jalan kita untuk berpisah disini. Terima kasih udah jadi suami yang paling baik buat aku. Aku yakin, Indra pun tidak sehebat kamu, dan mungkin tidak ada yang sehebat kamu. Udah cukup kamu menanggung beban pikiran, hati, dan harga diri selama ini. Kamu boleh pergi sekarang, tinggalin aku aja. Meskipun aku nggak ada yang nemenin, aku akan baik-baik aja. Kamu pulang ke rumah, dan tidur yang cukup ya, semalem kan udah nggak tidur.” Kataku.

Suamiku pun hanya menundukkan kepalanya. Aku pun mulai menitikkan air mata.

“Maaf, sekali lagi maaf, udah ngebuat kamu sakit, udah mempermalukan kamu. Kamu nggak perlu sedih kehilangan aku, karena aku ini seorang istri yang durhaka, istri yang nggak bisa menghargai kamu sebagai suami. Aku yakin, kamu pasti akan mendapatkan seseorang yang jauh lebih baik dari aku. Awalnya pasti susah buat move on, tapi aku tahu kamu pasti bisa. Kamu gitu loh. Dan kalau kamu udah move on, kamu harus lebih pinter ya dalam menyeleksi wanita, jangan sampai dapet yang kaya aku. Pokoknya… pokoknya kamu harus bahagia, jangan… jangan sampai kamu sedih dan hancur hidup kamu… cuma karena wanita kayak aku gini…”

“Terus juga, itu rumah… itu rumah kamu kok… kamu yang beli rumah itu untuk kita… Aku nggak akan nampakin diriku lagi di depan kamu… Aku nggak akan lagi ngebebanin kamu… Dan satu hal… Aku bakal selalu support kamu… Entah itu dari balik bayangan… atau kapan pun kamu butuh bantuan aku, aku pasti… bakal bantu… Sekalipun aku harus mati, aku… aku pasti bakalan bantu kamu sekuat tenaga…”

“Iya. Aku ngerti, dan makasih. Aku tahu perkataan kamu itu jujur… Aku tahu… Kalo ga ada kebohongan setitik pun dalem perkataan kamu.” Kata suamiku.

Aku pun semakin menitikkan air mataku. Akan tetapi, aku berusaha untuk tetap kuat. Aku tidak mau menangis di hadapan pria yang sudah bukan suamiku lagi. Paling tidak, aku tidak mau membebani pikirannya.

“Apa kamu udah selesai bicaranya?” Tanya suamiku.

Aku pun hanya mengangguk.

“Oke, kali ini gantian ya aku yang bicara. Ada hal yang mesti kamu tahu, yang harusnya udah aku kasihtau dari dulu. Paling ga, tolong didengerin ya.” Kata suamiku.

Aku pun hanya mengangguk.

“Pertama-tama, aku udah kirim whatsapp ke Indra, kalo kamu udah ngelahirin, dan anak itu adalah anak dia. Tapi, aku ga tahu apakah dia bisa baca whatsapp aku ato ga.” Kata suamiku.

Eh? Apa maksudnya?

Bersambung

 

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Tamat