Dilema Cici Part 8

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Tamat

Cerita Sex Dewasa Dilema Cici Part 8 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Dilema Cici Part 7

Keputusan

Pintu pun dibuka sebelum aku sempat memencet bel.

“He, kok tahu aku dateng?” Tanyaku.

“Aku nungguin terus di depan pintu.” Kata Indra sambil tersenyum.

“Hahaha. Dasar. Pasti udah harap-harap cemas ya?” Tanyaku.

“Iyalah.” Kata Indra.

Indra pun mempersilakan aku masuk. Wah, kamar Indra ini lebih bagus daripada kamarku. Pasti dia upgrade sendiri.

“Ndra, aku numpang mandi ya.” Kataku.

“Silakan, sayang.” Kata Indra.

Aku hanya senyum tersipu-sipu malu. Hehehe dasar. Begitu udah di kamar tinggal berduaan aja, udah langsung nyosor manggil sayang aja. Lalu, aku pun masuk ke kamar mandi.

“Jangan ngintip.” Kataku.

“Ngapain ngintip? Nanti juga lihat.” Kata Indra.

“Iihh.” Kataku.

Sesampainya dalam kamar mandi, aku segera melepas pakaianku. Pertama-tama, aku menyikat gigiku, kemudian aku melihat seluruh tubuhku di kaca. Aku membayangkan apa yang akan terjadi dalam beberapa saat kedepan. Dan kemudian, aku juga membayangkan beberapa bulan ke depan.

Ada kemungkinan bahwa aku akan hamil sehingga perutku membesar. Aku membayangkan, perutku yang begitu ramping ini, nantinya akan membesar karena mengandung seorang anak, entah anak suamiku atau Indra, entah siapa yang beruntung. Kedua buah dadaku yang bulat ini nantinya juga akan membesar karena memproduksi ASI.

Selesai berfantasi, aku pun langsung menyalakan shower dan membasahi seluruh tubuhku. Sambil menyabuni tubuhku, aku pun mengusap seluruh tubuhku, dan kemudian membilasnya dengan air. Setelah selesai, aku mengeringkan tubuhku dengan handuk. Aku memakai pakaian dalam BH dan celana dalam berwarna hitam.

Kemudian, aku juga mengenakan pakaian lingerie panjang yang tembus pandang berwarna hitam, sehingga seluruh tubuhku sekarang bisa diterawang, kecuali buah dada dan lubang vaginaku karena tertutup BH dan celana dalam.

Aku sendiri juga bingung, kenapa lingerie kesukaanku ini bisa terbawa dalam koper pakaianku. Apakah alam bawah sadarku mengharapkan ini akan terjadi, makanya secara tidak sadar aku memasukkan lingerie hitam itu ke dalam koper pakaianku? Aku sendiri juga tidak mengerti.

Ya, inilah keputusanku malam ini. Aku ingin memberikan kesempatan kepada Indra untuk memenangkan diriku. Suamiku, sekali lagi, aku mohon maaf.

Setelah selesai merapikan diriku, aku pun meninggalkan handuk yang kugunakan di wastafel, kemudian melangkah keluar dari kamar mandi. Di kamar, Indra sedang berdiri di ujung ruangan dan menungguku. Melihat penampilanku, Indra tampak terpesona. Aku juga sempat melihat ia menelan ludahnya sedikit.

“Kenapa, sayang?” Tanyaku.

“Ah… gak apa-apa… Kamu kelihatan indah sekali malam ini, sayang…” Kata Indra dengan terbata-bata.

Indah? Pemilihan kata yang lembut, namun memiliki makna yang dalam. Lebih dari sekedar cantik dan seksi. Aku suka sekali dikatakan indah oleh Indra. Kemudian, Indra mempersilakanku ke ranjang yang besar, putih, dan tampaknya sangat empuk. Aku pun berjalan menuju ranjang itu, dan kemudian berbaring diatasnya.

Memang betul-betul empuk sekali. Indra memang sudah mempersiapkan yang terbaik untukku. Aku pun mengulurkan tanganku ke Indra, mengajak dia untuk berbaring di sampingku. Indra pun berjalan kearahku, dan langsung berbaring di sebelahku.

Tepat setelah ia berbaring di sebelahku, aku langsung memajukan kepalaku dan mencium bibirnya. Indra pun juga balas mencium bibirku. Aku merasakan betapa intimnya kami saling berciuman. Sesekali, aku membuka mataku, dan menatap langsung kearah matanya.

Sinar matanya menunjukkan tidak ada keraguan sama sekali. Aku pun kembali menutup mataku dan menikmati ciuman kami yang begitu romantis. Suara ciuman dan peraduan kedua bibir kami begitu mengalun di kedua telingaku, membuatku semakin bergairah.

Indra pun mulai menciumi sekujur wajahku. Mulai dari dahiku, keningku, pipiku, sampai ke daun telingaku. Aku pun mulai mendesis karena nikmat dan geli yang melanda tubuhku. Aku pun juga mengambil inisiatif untuk menciumi dan menjilati leher Indra.

Indra pun juga tampak sedikit geli, kepalanya mulai bergerak ke kanan dan kiri, tetapi masih dalam irama yang teratur.

Kembali aku mengambil inisiatif. Aku menggapai pangkal kaos putih yang Indra kenakan, dan kemudian menariknya keatas. Indra pun mengangkat kedua tangannya untuk membantuku melepas kaos putihnya. Kini, Indra sudah telanjang dada.

Aku melihat tubuh bagian atasnya yang begitu kekar dan atletis. Otot-otot dada, bahu, dan perutnya betul-betul jadi. Bibirku pun menggapai puting sebelah kiri Indra, dan mulai mengulumnya. Sementara, tangan kiriku mulai memuntir puting sebalah kanan dada Indra.

Tangan dan bibirku kumainkan dengan penuh perasaan, sehingga membuat Indra sesekali mengeluarkan erangan kecilnya. Tangan kananku kugerakan untuk meraba-raba sekujur tubuh Indra, dari leher, turun ke dada, dari pundak, turun ke tangan, dan terakhir perut dan perut bagian sampingnya. Kulihat, Indra pun mulai menutup matanya dan mengeluarkan erangan kecil sesekali.

Setelah puas dengan putingnya, aku pun mulai menciumi dan menjilati sekujur tubuh Indra. Kali ini, napas Indra makin terengah-engah, tanda nafsunya sudah meningkat lagi. Aku pun membuka celana dan celana dalam Indra secara bersamaan dengan perlahan-lahan.

Oohh, tepat setelah celana Indra kubuka, batang penis Indra yang besar dan panjang itu langsung mempertahankan posisi tegaknya, seolah-olah menyapaku. Bukan main, panjang dan besar sekali batang penis Indra ini.

Kelihatannya ukurannya sedikit lebih besar dari terakhir dia menggumuliku. Mungkin hanya perasaanku saja sih. Rambut-rambut yang mengelilingi batang penisnya pun juga sedikit lebih lebat sepertinya. Aku begitu terangsang melihat batang kemaluan Indra yang tampaknya begitu perkasa dan kokoh.

Indra pun kali ini berusaha mencapai kancing lingerie yang kukenakan. Akan tetapi, aku langsung menabok pergelangan tangannya. Aku hanya menggeleng sambil tersenyum. Indra pun menarik tubuhnya, dan kali ini ia menutup matanya, sambil berbaring pasrah dan tersenyum. Emang enak kamu kusiksa? Hehehe.

Tangan kananku mulai menggapai batang kemaluan Indra, dan mengelus-elusnya dengan lembut. Indra tampaknya begitu kegelian. Napasnya pun mulai terengah-engah. Lalu, aku menggenggam batang kemaluannya, dan mulai mengocok-ngocoknya dengan perlahan.

Indra pun mulai mengerang dengan pelan ketika tanganku menjalankan kocokan pertamanya. Aku yang sedang mengocok batang kemaluan ini pun merasakan sensasi tersendiri.

Walaupun lubang kemaluanku sudah pernah dua kali ditamui oleh batang kejantanan Indra, tetap saja aku kembali membayangkan bagaimana rasanya jika lubang kemaluanku yang sempit ini dimasuki oleh batang kemaluan Indra yang begitu besar dan keras. Saking terangsangnya aku, aku pun mengocoknya dengan semakin cepat.

Napas Indra pun kini semakin terengah-engah, sementara kepalanya mulai bergerak-gerak dengan irama yang lumayan cepat. Tampaknya, nafsunya sudah naik selevel lagi. Kali ini, Indra menarik tubuhku ke dalam pelukannya. Lalu, ia menciumi bibirku dengan begitu bernafsu dan intens.

Tidak hanya itu, ia juga membuka kancing lingerie-ku dengan cepat dan tergesa-gesa. Gila, aku belum pernah melihat Indra yang seperti kesetanan begini. Tampaknya kelakuanku ini membuat nafsu birahinya menanjak tajam.

Setelah lingerie-ku berhasil dibuka sepenuhnya olehnya, kini aku hanya tinggal mengenakan BH dan celana dalam hitamku. Indra pun mulai menciumi dan meraba-raba seluruh tubuhku. Ooohhh… Rasa geli dan rangsangan bertubi-tubi yang diberikan oleh Indra betul-betul membuat nafsu birahiku juga menanjak tajam.

Ia pun mulai membuka BH hitamku dengan begitu cepat, sehingga dalam waktu yang sangat singkat, aku pun sudah bertelanjang dada. Melihat kedua buah dadaku yang bulat dan putih, Indra langsung mengulum puting susu buah dada kananku, dan meremas-remas buah dada kiriku dengan tangan kanannya yang begitu kekar. Geli dan nikmat pun langsung seketika mengaburkan pandanganku.

Aahh, aku merasa setiap kali kulit Indra bersentuhan denganku, aliran setrum dari titik pertemuan kulit kami langsung menjalar ke seluruh tubuhku. Hal itu terjadi berulang-ulang, sehingga kini tubuhku benar-benar dihujani rangsangan yang tidak ada habis-habisnya.

“Sayaangg… kamu bener-beneer… seksiihh maleem iniih…” Desah Indra dengan napas yang terengah-engah.

Tidak hanya sentuhan Indra, tapi kata-kata pujiannya pun benar-benar membuat pikiranku seraya terbang ke langit.

“Ouuhh… Sayaanggg… Tubuhkuu… Miliik kamuuh maleem inii…” Desahku.

Mendengar hal itu, Indra pun semakin intens menggarap tubuhku. Napas kami berdua pun semakin terengah-engah. Saking intens dan terangsangnya aku, aku merasakan bulir keringat mulai mengalir dari pelipisku. Bukan main, rasanya begitu panas, jantungku begitu berdebar dengan kencang, dan rangsangan-rangsangan yang diberikan oleh Indra membuat mataku terus merem-melek.

Kemudian, Indra pun melepaskan tubuhku. Ia pun mulai menelusupkan kepalanya ke selangkanganku, dan kemudian menjilati dan melumat lubang vaginaku. Ohh… Kali ini rasanya jauh lebih nikmat dibandingkan tadi.

Diluar kehendakku, mulutku mengeluarkan desahan dengan sendirinya karena tidak mampu menahan nikmat. Apalagi, lidah dan bibir Indra kini bermain dengan intens di klitorisku. Karena tidak mampu menahan nikmat ini lebih lanjut, akhirnya kenikmatan klimaksku pun tiba. Aku menjambak rambut Indra begitu keras, seperti hendak mencabutnya.

“Ouugghhhhh…. Uuugggghhhhh…. Aaauuhhhhh…” Aku mengerang begitu keras untuk menikmati orgasmeku.

Seluruh tubuhku serasa bergetar mendapatkan orgasme ini. Ada setrum-setrum geli yang mengalir begitu hebat di seluruh tubuhku. Setelah kenikmatan klimaks ini berlalu, badanku langsung melemas dengan sendirinya. Indra pun menghentikan kulumannya di lubang vaginaku.

Aku pun merasakan tiba-tiba ada sesuatu yang menyelimuti tubuhku. Setelah aku membuka mataku, aku baru sadar bahwa ternyata Indra yang memelukku dengan erat. Pelukannya terasa begitu kuat dan membuatku nyaman.

Selain itu, wajahku pun langsung bertemu persis dengan wajahnya. Luar biasa, ia begitu tampan, keren, dan perkasa. Hatiku pun langsung meleleh. Apalagi, pelukan yang ia berikan setelah aku orgasme begitu membuatku merasa sangat disayang. Indra pun mulai mengelus-elus rambutku, dan kemudian mencium bibirku dengan lembut.

“I love you, sayang.” Kata Indra dengan lembut.

“I love you too, sayang.” Kataku juga dengan lembut.

Kami pun melanjutkan ciuman kami dengan mesra.

“Udah mao masuk, sayangku?” Tanyaku.

“Nanti aja, sayang. Aku masih pengen sayang-sayang kamu dulu.” Kata Indra sambil tersenyum lembut dan membelai-belai rambutku.

Aah, suaranya yang begitu lembut dan jantan, begitu terdengar indah di telingaku. Gawat, aku memang mulai tergila-gila dengan Indra. Indra pun kembali mencium bibirku dengan lembut. Aku pun juga ikut membalasnya.

Sesekali, lidah kami saling menjulur keluar, dan saling beradu. Tangan kirinya membelai rambutku, dan tangan kanannya membelai seluruh tubuhku dengan lembut. Karena berada dalam pelukannya, otomatis seluruh tubuhku bersentuhan juga dengan tubuhnya. Sensasi ini betul-betul membuatku tenggelam dalam kemabukan.

Lama kelamaan, perlakuan lembut Indra pun memulihkan tenagaku. Ditambah aku juga berhasil mengatur napasku, kini tubuhku pun hampir pulih. Indra tampaknya juga menyadari hal itu, sehingga kini ia bergulung yang menyebabkan kini aku dibawah dan Indra diatas.

Walau Indra tidak bilang, tapi aku paham bahwa sekarang ia sudah sangat ingin bersetubuh denganku. Maka, aku pun mulai melebarkan kedua pahaku. Indra pun juga memposisikan pantatnya diantara selangkanganku, dan mengarahkan batang penis miliknya ke lubang vaginaku.

Sekarang, ujung batang penisnya sudah bersentuhan dengan bibir lubang vaginaku. Indra pun kembali mencium bibirku.

“Begitu aku masuk, ga ada jalan balik lagi. Sekarang saatnya kalo mao batal.” Kata Indra.

“Lanjut aja, sayang. Aku siap.” Kataku dengan lembut.

Indra pun tersenyum puas. Kali ini, ia mulai memposisikan tubuhnya dengan lebih mantap lagi. Kemudian, ia pun mulai mendorong pantatnya dengan perlahan-lahan. Karena saking besarnya penis milik Indra, penis Indra tidak mampu mempenetrasi lubang vaginaku dalam sekali dorong.

Hal ini membuat Indra harus mendorong-dorong pantatnya berulang-ulang, untuk memaksa batang penis miliknya masuk ke lubang vaginaku. Pada suatu titik, ketika dia merasa yakin dengan posisinya, ia pun mendorong pantatnya lebih keras, sehingga kini batang penis yang besar itu pun terbenam dalam lubang vaginaku. Bleess… Ouuhh. Lubang vaginaku terasa sesak karena batang penis Indra yang begitu besar itu.

Tanpa membuang waktu, Indra pun mulai memaju-mundurkan batang penisnya dengan pelan-pelan. Kini, batang penis Indra yang besar dan keras itu pun menggesek-gesek rongga dalam lubang vaginaku.

Aku hanya bisa terengah-engah akibat nafsu birahi yang semakin lama semakin meningkat dengan kecepatan yang lumayan tinggi. Aku pun juga balas menggoyang dan memutar pantatku untuk membalas kenikmatan yang Indra berikan padaku. Cleep… Cleep… Cleepp… Plook… Plook… Plook… Begitulah suara batang penis Indra yang bertabrakan dengan lubang vaginaku.

Semakin lama, Indra semakin cepat memompa batang kejantanannya. Sementara, aku hanya bisa mengerang akibat kenikmatan yang mulai tak terbendung oleh tubuhku.

“Ohh, sayaangg… Teruuss… Teruuuss…” Erangku berulang-ulang.

Semakin aku mengerang, semakin cepat Indra memompa batang kejantanannya. Semua itu dilakukan sambil mencium bibirku dengan begitu intens, namun tetap lembut. Aku yang sudah makin terangsang pun mulai memeluk tubuh Indra. Keringat mulai mengalir dengan deras ditubuhku dan tubuh Indra.

Tidak butuh waktu lama bagi tubuhku untuk memberitahu pikiranku bahwa tubuhku sudah tidak kuat menahan kenikmatan yang terus dipompa oleh Indra ke selangkanganku. Maka, aku pun menciumi bibir Indra dengan semakin liar. Aku juga memutar-mutar pantatku dengan semakin intens.

“Sayaangg… Aku mauu orgasmee niihh…” Erangku.

Tahu aku hampir orgasme, kali ini Indra menindih tubuhku. Ia pun memeluk tubuhku dengan begitu erat. Ia mendorong batang kejantanannya sedalam-dalamnya ke lubang kemaluanku. Kemudian, ia mulai memaju mundurkan pantatnya perlahan-lahan. Walaupun tidak intens, tapi hal itu membuat orgasmeku semakin kuat.

“Eeuuhhhhhhhh… Auuuhhhhh….” Erangku menikmati orgasmeku yang begitu intens itu.

Seluruh tubuhku kembali bergetar dengan hebat. Aku memeluk tubuh Indra dengan sekuat-kuatnya. Pantatku kunaikkan setinggi-tingginya untuk melahap batang penis Indra sedalam-dalamnya. Aku hanya bisa menutup mataku untuk menikmati seluruh ledakan di tubuhku.

Kilatan-kilatan cahaya yang terdiri dari campuran banyak warna begitu memenuhi penglihatan dalam pikiranku. Luar biasa, aku bisa mengakui bahwa ini orgasme terhebat yang pernah aku dapatkan, bahkan dari Indra sekalipun.

Walaupun aku ingin kenikmatan puncak ini terus berlalu, tapi sayangnya itu tidak mungkin. Lama kelamaan, kenikmatan yang begitu puncak ini pun menurun. Hingga akhirnya, aku mendapatkan kesadaranku kembali. Indra masih memeluk tubuhku dengan erat, dan kini ia mencium pipiku dengan lembut.

“Aku cinta kamu, sayang…” Kata Indra sambil mencium bibirku.

“Aku juga cinta kamu.” Balasku sambil juga mencium bibirku.

Kami pun saling berciuman dengan mesra dan juga berpelukan. Setelah itu, aku membenamkan kepalaku di pelukan dada Indra, sambil berusaha mengatur napasku. Batang kejantanan Indra masih tegak mengacung dalam lubang kemaluanku.

Setelah mendapatkan tenaga yang cukup, aku pun kembali mencium bibir Indra.

“Sayang, cabut dulu penis kamu.” Kataku.

Mendengar perkataanku, Indra pun mencabut penisnya dari lubang kemaluanku. Aku pun bangkit bangun, dan membaringkan tubuh Indra di ranjang. Aku mengambil posisi merangkak di depan selangkangannya. Kemudian, aku mulai mengulum batang penis Indra yang begitu besar itu.

“Uuaahhh…” Indra hanya bisa mengerang kecil mendapatkan kenikmatan yang kuberikan.

Berkali-kali aku menaik-turunkan kepalaku untuk menggesek batang kejantanan Indra dengan rongga dalam mulutku. Mulutku hanya bisa melahap sepertiga dari keseluruhan batang penis milik Indra. Tetapi meskipun demikian, Indra tampak seperti kesetanan karena menahan nikmat.

Indra pun berusaha melepaskan kepalaku dari batang kejantanannya. Akan tetapi, aku langsung menepis kedua tangannya, dan tetap melanjutkan aksiku. Indra pun kini hanya bisa terbaring pasrah.

Akan tetapi, walaupun disini aku yang menyerang, tetap saja aku merasa terangsang sendiri melihat Indra yang rasanya begitu tersiksa oleh kenikmatan yang kuberikan.

Aku merasa sekarang sudah saatnya menyudahi permainan mulutku. Aku pun melepaskan kuluman mulutku dari batang kejantanan Indra. Lalu, aku pun menaiki tubuhnya dan bersandar diatas tubuhnya. Aku juga mengarahkan batang kejantanan Indra untuk kulahap dengan lubang kemaluanku.

Saat sudah mendapatkan posisi yang pas, aku pun langsung mendorong pantatku kebelakang, sehingga lubang vaginaku langsung melahap batang kejantanan Indra. Saat itu terjadi, kami berdua sama-sama mengerang. Aahh, lagi-lagi sekarang batang kejantanan Indra yang begitu perkasa kembali berada di dalam lubang kemaluanku.

Aku pun memeluk leher Indra dan juga mencium bibirnya. Sambil melakukan itu, aku memutar-mutar dan menggoyang pantatku untuk mengocok-ngocok batang kejantanan Indra yang masih dengan perkasanya mengacung dalam lubang kemaluanku. Cleep… cleepp… cleep… cleep… Begitulah bunyi yang ditimbulkan akibat pantatku yang naik turun menabrak batang kejantanan Indra.

“Aku cinta kamu, sayang…” Kataku sambil mencium bibir Indra.

Indra tidak menjawabku. Ia hanya membalas menciumi bibirku dengan intens. Kami bercinta dengan saling berpelukan. Keringat di tubuhku dan di tubuh Indra juga terus mengalir, dan berbaur di tubuhku dan tubuh Indra.

Hingga akhirnya, sepertinya orgasmeku yang kedua pun akan datang dalam waktu dekat. Aku pun semakin intens memompa selangkanganku ke batang kejantanan Indra. Aku juga memeluk tubuhnya semakin erat, dan menciumi bibirnya dengan semakin liar. Aku tidak berkata apa-apa, hanya terus memompa selankanganku dengan semakin intens. Akibatnya, orgasmeku yang kedua pun datang.

“Ouuggghhhh…. Auuuggghhhh… Oohhhhhh…” Erangku menikmati orgasmeku.

Aku pun menjambak rambut Indra dengan keras sambil mendorong pantatku sekeras mungkin untuk melahap batang kejantanan Indra sedalam-dalamnya. Aku mengerang sekencang-kencangnya di telinga Indra. Indra pun meremas-remas buah dadaku dengan pelan untuk menambah kenikmatan orgasme yang kualami ini.

Tidak lama kemudian, orgasme keduaku pun berakhir. Aku masih memanjakan tubuhku diatas tubuh Indra. Kedua tanganku masih memeluk leher Indra. Aku pun mulai bisa mengatur napasku.

Setelah aku mulai bisa mengatur napasku, Indra langsung bergulung membalikku, sehingga aku ada dibawah dan Indra diatas. Ia pun mengambil posisi untuk melakukan penetrasi lagi.

“Sayaang, tanggungg niih… Aku udah mao keluaar… Aku lanjutt yaa…” Kata Indra.

“He-eh, sayang… Lanjut aja sampe kamu keluar…” Kataku.

Indra pun langsung memompa selangkanganku dengan bernafsu. Semakin lama, semakin cepat. Karena sudah mulai bisa mengatur napas, aku pun juga mulai menggoyang pantatku. Indra pun mulai mendengus-dengus. Kini, ia memeluk tubuhku dengan begitu erat. Aku pun mulai menciumi bibirnya, dan Indra juga membalas ciuman bibirku dengan intens. Gila, tampaknya nafsu Indra sudah naik pada puncaknya. Ekspresi wajahnya sudah tidak karuan, dikuasai oleh rasa nikmat yang begitu besar.

“Sayaangg… mao keluaarr niih sebentaar lagiihh…” Erang Indra.

“Ayoohh sayaangg… keluariinn… aku siaapp…” Erangku.

Saat itu juga, Indra langsung mendorong pantatnya sedalam-dalamnya sehingga kini batang kemaluan Indra langsung menancap sedalam-dalamnya. Indra pun mengerang dengan keras tidak karuan. Saat itu juga… Crooott… Croottt… Crooottt… Croott… Croottt… Sperma Indra langsung muncrat dengan begitu derasnya dalam rahimku.

Aku pun memutar-mutar pantatku untuk memompa sperma Indra sampai habis. Croott… Crooott… Crooottt… Crootttt… Gelombang kedua sperma Indra pun kembali mengucur dalam lubang vaginaku. Setelah itu, Indra pun seperti berusaha sedang mengatur napasnya. Sepertinya, aliran spermanya habis sudah.

Gila, baru kali ini aku merasakan sperma Indra dalam lubang vaginaku. Begitu banyak, hangat, dan kental. Aku merasa seluruh rongga dalam kemaluanku terasa hangat akibat sperma Indra yang begitu banyak. Saking banyaknya, sperma Indra pun sampai belepotan ke paha dan selangkanganku. Napas kami pun masih saling terengah-engah.

Hingga akhirnya, kami mulai bisa mengatur napas kami masing-masing. Keringat kami pun mulai berhenti mengalir dari tubuh kami. Kami masih saling berpelukan dan berciuman. Setelah itu, Indra menggulungkan tubuhnya, sehingga kini aku berada diatas tubuhnya. Dalam kondisi itu, Indra pun memeluk tubuhku, dan meletakkan kepalaku disamping kepalanya.

“Gimana rasanya, sayang?” Tanya Indra.

“Gila, sayang. Sperma kamu banyak banget. Udah gitu, kental pula. Jangan-jangan sperma kamu bakal ngeduluin suamiku buat ngehamilin aku.” Kataku.

“Hehehe. Aku udah nimbun nih khusus buat hari ini.” Kata Indra.

“Yaah, nggak sia-sia deh kamu nimbun.” Kataku.

Kami pun sama-sama termenung dan terhanyut dalam pikiran kami. Aku tidak tahu apa yang sedang dipikirkan Indra. Aku pun juga masih tidak percaya dengan apa yang baru saja terjadi. Aku tidak percaya bahwa sperma orang lain yang bukan suamiku kini sedang berjalan-jalan dalam lubang vaginaku. Akan tetapi, entah kenapa ada rasa senang dan puas dalam hatiku.

“Kamu hebat banget malem ini, sayang.” Kata Indra.

“Kamu juga kayanya makin perkasa aja.” Kataku.

Indra pun kembali mengelus-elus rambutku, dan mencium bibirku. Tidak lama kemudian, kami berdua pun sama-sama tertidur.

Bersambung

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Tamat