Dilema Cici Part 7

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Tamat

Cerita Sex Dewasa Dilema Cici Part 7 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Dilema Cici Part 6

Orang Tidak Terduga

TULULULULUT… TULULULULUT…

Aih, telpon kamarku ini tidak juga berhenti berbunyi. Akhirnya, aku yang sudah hampir membuka pintu, malah kembali lagi ke bagian dalam kamar untuk mengangkat telpon. Sepertinya, sudah pada kelaparan semua, makanya tidak sabaran.

“Iya, ini aku udah mao kebawah.” Kataku.

“Oke, kita tunggu ya.” Suara seorang laki-laki di telpon.

Lho? Kok laki-laki? Eh! Suara ini kan…

“Indraa??!” Tanyaku dengan heran.

“Hehehe. Ketebak toh.” Kata Indra di telpon.

“Loh… Kamu kok bisa tahu telpon kamar cici?” Tanyaku dengan heran.

“Ini anak-anak ABG minta aku telponin cici. Ya sekalian tanya nomor kamar cici.” Kata Indra.

“Eehh? Kamu ada disini??!” Tanyaku dengan heran.

“Iya, ci.” Kata Indra.

“Loh?? Bukannya kamu ada di luar negeri? Suamiku ngomong kok kalo ketemu sama kamu.” Kataku.

“Iya. Aku ketemu Mas Hendri kok. Tapi sekarang aku ada disini.” Kata Indra.

“Kok… bisa??” Tanyaku dengan heran.

“Udah, aku ceritain nanti. Udah pada nungguin nih ci dibawah. Udah pada kelaperan.” Kata Indra.

“Oh iya iya… Yaudah aku kebawah sekarang.” Kataku sambil menutup telpon.

Setelah itu, aku langsung keluar kamar, dan menuju lift. Kenapa Indra bisa ada disini? Aku akan sedikit geer, dia pasti kesini untuk menemuiku hehehe. Tapi, untuk menemuiku ataupun tidak, darimana dia bisa tahu aku tinggal di hotel ini? Sepanjang jalan, jantungku sungguh berdebar-debar. Aku sudah tidak sabar mau bertemu dengan Indra, aku sudah sangat kangen.

Pintu lift pun terbuka dan aku sudah sampai di lobby. Ternyata, Indra sudah menungguku didepan pintu lift. Indra pun langsung masuk ke dalam lift, dan buru-buru menutup pintu lift. Dalam lift, kami hanya berdua saja.

Indra pun langsung memeluk dan mencium bibirku. Ooohh… Ini betul-betul Indra yang asli. Indra yang sedang mencium bibirku ini memang benar-benar nyata. Aku tidak akan pernah lupa sensasi saat Indra mencium bibirku. Maka, aku pun balas juga mencium bibirnya.

“Aku kangen.” Kata Indra sambil mempererat pelukannya padaku.

“He-eh. Aku juga kangen.” Kataku.

Selama beberapa belas detik, kami masih terus saling berciuman. Setelah itu, kami menyudahi ciuman kami, dan Indra pun membuka pintu lift. Kemudian, kami berjalan menuju lobby dimana para ABG accounting sudah menunggu kami.

“Sorry, udah nunggu lama ya?” Tanyaku.

“Ah belum, bu. Kita juga baru disini kok.” Kata Aldisa, salah satu anak ABG accounting.

“Yaudah, yuk jalan. Mau kemana kita?” Tanyaku.

“Kata Raisa, ada makanan seafood pinggir jalan yang enak bu deket sini. Gimana, bu?” Tanya Aldisa.

“Boleh. Seafood kelihatannya enak.” Kataku.

“Pak Indra gimana?” Tanya Aldisa dengan malu-malu.

Aldisa ini salah satu anak ABG yang dulu pernah naksir Indra. Aku bisa melihat dari gerak-geriknya kalau dia masih naksir sama Indra. Tapi, maaf Aldisa sayangku. Hati Indra sudah penuh dengan diriku hehehe. Geer mode on.

“Ah, ayolah apa aja, yang penting sama-sama.” Kata Indra.

“Yess! Yok jalan!” Kata Aldisa.

Singkat kata, kami berjalan bersama menuju tempat makan yang diberitahu oleh Aldisa. Ternyata, lokasinya tidak jauh dari hotel. Walaupun tempat makan ini terletak di pinggir jalan, tapi kebersihannya boleh diacungi jempol. Kami pun segera mengambil tempat duduk untuk lima orang.

Aku dan Indra duduk berseberangan. Aldisa dan Raisa duduk di samping kiri dan kanan Indra, sementara Diva duduk disampingku. Ya ampuun, sepanjang kami berada di tempat makan, mereka bertiga selalu ngobrol dan menggoda Indra.

Deg! Kalau boleh jujur, terbersit juga rasa cemburu aku kepada mereka. Apalagi, Indra melayani mereka dengan senyuman khas nya, yang bikin mereka semakin tersipu-sipu. Sesekali juga, Indra pun melihat kearahku dengan tatapan menggoda. Aku pun balas dengan tatapan yang lumayan tajam. Sialan. Sepertinya Indra bangga bisa membuatku cemburu begitu.

“Pak Indra kok bisa ada disini siih?” Tanya Diva.

“Oh, aku dapet surat undangan untuk ikut outing juga. Aku lagi tugas di luar negeri tadinya. Makanya, aku datengnya jadi telat deh. Baru berangkat dari luar negeri tadi jam 5 sore waktu sana. Sampe disini jam 6.30 waktu sini. Makanya langsung ngebut kesini. Untung keburu makan malem bareng kalian.” Kata Indra.

Oh, begitu toh. Pantes aja dia bisa tiba-tiba muncul disini. Aku sempat heran. Ternyata, dia juga mendapatkan surat undangan yang sama sepertiku ya. Ah, rupanya nasib mempertemukan kita berdua.

“Pak Indra disini sampe Kamis juga kan?” Tanya Aldisa.

“Oh, ga. Aku besok pagi jam 7 udah harus berangkat. Aku kesini cuma sebentar doang. Yang penting udah sempet ngobrol-ngobrol sih sama yang lain.” Kata Indra.

Hah? Ngapain kesini cuma bela-belain buat sampe besok pagi doang? Indra memang terkadang suka aneh sendiri, dari dulu pas masih kerja juga tidak pernah berubah.

Tidak lama kemudian, makanan yang kami pesan pun datang. Kami semua langsung menyantapnya. Betul sih memang kata Raisa, makanannya tergolong enak. Setelah selesai makan, kami tidak langsung pulang ke hotel, tapi mengobrol dulu.

Saking serunya kami mengobrol, tahu-tahu waktu sudah menunjukkan pukul 21. Wah, tidak terasa sekali ya. Kami pun segera membayar bill makanan kami.

“Eh, foto dulu yuuk! Bareng Pak Indra niih.” Kata Raisa.

“Ayo-ayoo! Bu Lisa, minta tolong fotoin doong. Hehehe.” Kata Diva.

Heh? Grrrr! Harusnya itu kalian yang motoin aku bareng Indra berdua. Ini kok malah kebalik? Dasar anak-abak ABG. Biar saja lah. Kalian semua itu cuma mainan buat Indra have fun doang.

Belum tahu kalian bahwa pujaan hati Indra yang sebenarnya adalah orang yang kalian perlakukan sebagai pesuruh. Dasar! Eh, kok aku jadi sewot begini ya? Seharusnya sih, biasa saja ya. Ah bodo amat! Aku sedang kesal!

Setelah berfoto, kami semua pun kembali pulang ke hotel. Lobby hotel tampak lebih sepi dari sebelumnya. Maklum saja sih, sudah jam 21 lebih.

“Kalian naik duluan aja ya. Aku mao ngomong sama Bu Lisa.” Kata Indra.

Eeh? Mao ngomong denganku? Ah, akhirnya waktuku berdua dengan Indra tersedia juga.

“Oohh oke deh, pak. Besok ketemu lagi kan?” Tanya Raisa.

“Iya. Besok aku sarapan dulu jam 6. Abis itu baru pergi ke airport.” Kata Indra.

“Okee. Sampai besok, pak!” Kata Aldisa.

Aku dan Indra pun melambaikan tangan kepada mereka yang langsung berjalan menuju lift. Sepertinya mereka cukup capek. Kemudian, aku dan Indra mengambil tempat duduk di sofa lobby.

“Aahh… Untung banget deh aku.” Kata Indra.

“Kenapa, Ndra?” Tanyaku.

“Jujur, aku sebetulnya galau mau pergi kesini atau ga. Aku dari sebelum pergi udah mikir-mikir, kira-kira cici diundang ga ya. Kalau cici ga diundang, ngapain aku pergi kesini. Eehh, untung cici ternyata juga ikut.” Kata Indra.

“Ya ampuun Ndraa. Kamu bela-belain dateng kesini sore-sore cuma sampe besok pagi, cuma buat ketemu aku?” Tanyaku.

“Iya, sayang.” Kata Indra.

“Sssttt… jangan panggil sayang ah! Nanti kalau ada yang denger bisa berabe.” Kataku.

“Ups… Oh iya sorry hehehe.” Kata Indra.

“Terus, kenapa kamu dateng kesini repot-repot cuma buat nemuin aku?” Tanyaku.

“Ci, waktunya tuh susah banget. Aku tahu nih, HP sama laptop cici disita ya sama Mas Hendri? Makanya aku hubungin lewat telpon sama email ga dibales-bales.” Kata Indra.

“Iya, Ndra.” Kataku.

“Nah makanya. Bertaruh pada kesempatan ini tuh emang udah paling pas. Eh ternyata bener, keputusan yang aku ambil ga salah kan.” Kata Indra.

“Yah, tapi nanggung Ndra. Besok pagi kamu udah balik kesana.” Kataku.

Indra pun melihat ke segala arah. Sepertinya ia hendak memastikan bahwa tidak ada yang menguping pembicaraan kami.

“Kalau waktunya sampe besok pagi, cukup kok ci. Waktu yang ada ini akan aku pake buat ngehamilin cici.” Kata Indra.

Ah, menghamiliku? Oh… iya… Tentu saja… Ini memang kesempatan paling baik buat dia untuk memenangkan aku dari suamiku. Tapi, aku ikut outing ini atas izin dari suamiku. Suamiku tentunya meletakkan segala kepercayaannya padaku. Pantaskah jika aku mengingkari kepercayaan suamiku?

“Eh, kenapa ci? Kok diem?” Tanya Indra.

“Ndra. Sorry nih Ndra. Bisa nggak kalo kita lakuinnya jangan sekarang?” Tanyaku.

“Eh? Kenapa ci? Cici kan ga lagi dapet. Pas banget lho ini masa subur cici. Siapa tau bisa jadi.” Kata Indra.

“Nggak Ndra. Bukan karena itu.” Kataku.

“Habisnya karena apa dong?” Tanya Indra.

“Ndra, aku ikut outing ini atas dasar izin suamiku. Jarang-jarang aku bisa dapet izin langka kaya begini. Aku nggak tega kalau harus ingkar sama kepercayaan suamiku.” Kataku.

“Ci, begini. Kita itu udah terlanjur, ci. Ini bukan saat yang tepat untuk bilang masalah ingkar sama kepercayaan Mas Hendri. Kecuali kalau kaya pas di Losmen Kariya, nah itu beda cerita. Tapi kalau sekarang, udah terlambat. Aku udah ngestate ke Mas Hendri, kalau aku akan ngerebut cici dari Mas Hendri. Tentunya, segala keputusan yang dia ambil, termasuk memberi cici kepercayaan, itu bisa aja jadi bumerang buat dia.” Kata Indra.

“Iya, aku paham. Tapi, maksudku jangan sekarang. Jangan selama masa outing ini.” Kataku.

“Kalau ga sekarang, kapan lagi ci? Kesempatan kita berdua tanpa diganggu sama Mas Hendri, itu aku yakin cuma satu kali dalam setahun. Aku ga mao nunggu setahun lagi, kalau alasannya kurang kuat.” Kata Indra.

“Ya, kan kamu bisa Ndra main ke rumahku gitu.” Kataku.

“Ga akan bisa, ci. Aku udah pernah lakuin kok. Belum sampe rumah cici, udah banyak orang yang ngeliatin aku dengan tatapan tajam dan betul-betul ga lepas dari aku. Aku yakin, Mas Hendri udah nyewa orang buat ngawasin sekitar rumah cici. Terus kedua, sekalipun aku bisa masuk dan menerobos ke dalem rumah cici, aku ga akan mao bersetubuh sama cici didalem rumah cici.” Kata Indra.

“Oh, kenapa Ndra?” Tanyaku.

“Gitu-gitu, itu rumah Mas Hendri. Rumah kalian. Aku ga tau siapa yang beli rumah itu, dan aku ga akan nanyain hal itu. Tapi, gimanapun juga rumah itu adalah singgasana kalian. Emang cici ga merasa bersalah kalo harus ngotorin singgasana kalian? Jujur, aku lebih memilih mundur untuk ngedapetin cici, daripada harus ngotorin singgasana pernikahan kalian. Kalau memang aku harus ngotorin cici dari Mas Hendri, aku bakal ngelakuin itu diluar rumah cici. Itu adalah rumah yang didapatkan dengan susah payah oleh perjuangan cici dan Mas Hendri.” Kata Indra.

Ah, betul sekali perkataannya. Rupanya aku adalah wanita yang sangat rendah sekali ya. Aku hanya wanita rendah yang diperebutkan oleh dua pria hebat.

“Oke, ci. Gini. Aku juga ga mau ngehamilin cici kalo cicinya ga mau. Percuma, kalo dengan terpaksa, aku yakin aku juga ga akan menikmatin. Aku sekarang akan naik keatas. Aku kasih waktu cici sampe jam 22.30. Kamarku di nomor 4096. Kalau cici ga dateng jam 22.30 teng atau sebelumnya, aku ngerti, artinya cici emang ga bisa. Aku ga akan marah, aku ga akan kecewa, dan aku akan menghormatin keputusan cici. Aku akan nyari kesempatan lain, walaupun sesusah apapun itu. Dan untuk cici, aku mohon. Jika cici memutuskan untuk dateng ke kamarku, aku mohon banget ke cici bahwa itu berarti adalah keputusan bulat cici, tanpa ada keterpaksaan sedikitpun, tanpa ada penyesalan sedikitpun di masa mendatang nanti. Menurutku, hubungan yang enak, baik itu hubungan romantis atau hubungan seks, itu paling enak dilakukan atas dasar mau sama mau, mau yang penuh, bukan mau yang setengah-setengah.” Kata Indra.

Aih, mengapa menyerahkan keputusannya padaku? Tahukah kamu Ndra betapa sulitnya aku mengambil keputusan itu? Itu keputusan yang sangat sulit bagiku. Antara aku harus memuaskan rasa kangen dan cintaku dengan Indra sekaligus memberinya kesempatan untuk menang dari suamiku, atau harus mempertahankan kepercayaan suamiku. Ah, tidak. Bukan itu permasalahanku yang sesungguhnya.

Sebetulnya pilihanku adalah, antara harus memilih suamiku dan menolak Indra, atau tetap memberikan kesempatan kepada Indra dan memilih siapapun yang menang. Sebetulnya, itulah pilihanku. Karena masalah kepercayaan suamiku, memang sudah kukhianati sejak awal.

Sekarang, memang sudah tidak ada lagi masalah kepercayaan. Yang ada hanyalah adu saling memberikan cinta kasih antara kedua pria kepada seorang wanita, saling memperebutkan seorang wanita. Nah tinggal yang wanita, apakah akan menentukan pilihan kepada seorang pria? Ataukah masih ingin diam di tempat, memberikan kesempatan kepada seorang pria yang lain, sehingga ujung-ujungnya si wanita tetap menunggu nasib?

“Oke, ci. Aku naik dulu.” Kata Indra.

“Oke, aku juga mau ke kamarku dulu.” Kataku.

Kami berdua pun berjalan menuju lift. Ketika kami menekan tombol naik, lift pun langsung terbuka, dan kami berdua masuk. Karena Indra di lantai 4, maka dia pun turun duluan. Tapi sebelum turun, dia sempat-sempatnya mencium bibirku.

“I love you, sayang.” Kata Indra.

“I love you too, sayang.” Kataku.

Kemudian, Indra pun langsung keluar dan tidak terlihat lagi. Sementara, aku terus naik menuju kamarku. Sesampainya di kamarku, aku langsung merebahkan diriku di kasur. Aku melihat jam, dan jam sudah menunjukkan pukul 22.01.

Untuk berjalan ke kamar Indra, mungkin aku membutuhkan waktu sekitar sepuluh menit. Berarti, aku hanya punya waktu sekitar lima belas menit untuk berpikir ya.

Sebetulnya, aku sudah memiliki keputusan akan hal ini. Aku hanya tinggal memantapkannya saja. Aku pun menggunakan waktu yang tersisa untuk berpikir. Aku memejamkan mataku, membayangkan kejadian-kejadian masa lampau, bersama suamiku dan juga bersama Indra.

Ah, begitu banyak kenangan indah yang kudapatkan bersama mereka. Bersama suamiku, otomatis, karena waktunya jauh lebih panjang. Bersama Indra, walaupun waktunya pendek, tapi Indra sudah memberiku begitu banyak pengalaman yang mampu membuat hatiku jatuh cinta.

Aku kembali melihat jam, dan waktu sudah menunjukkan pukul 22.18. Artinya, kalau aku memutuskan untuk memberi kesempatan kepada Indra, berarti aku harus jalan sekarang. Tapi, mungkin keputusanku berkata lain. Aku kembali memejamkan mataku.

Aku pun menarik napas panjang, dan menghembuskannya. Aku kembali membuka mataku. Baiklah, keputusanku sudah bulat sekarang. Siapapun yang tersakiti, hanya permohonan maaf yang bisa kuberikan.

Bersambung

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Tamat