Dilema Cici Part 6

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Tamat

Cerita Sex Dewasa Dilema Cici Part 6 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Dilema Cici Part 5

Kejutan

Sudah dua berlalu sejak kejadian itu. Keesokan hari setelah kejadian itu, aku langsung mengajukan resign ke perusahaan tempatku bekerja. Awalnya permintaanku tidak disetujui oleh perusahaan, karena mereka merasa bahwa mereka masih sangat membutuhkanku dan tidak bisa mencari penggantiku.

Akan tetapi, aku tidak mempunyai pilihan sedikitpun untuk tetap tinggal di perusahaan itu. Setelah perdebatan yang panjang dan pendirianku yang seperti batu, akhirnya dengan terpaksa perusahaan pun menyetujui permintaanku.

Sekarang, aku menjalani hari-hariku di rumah. Kalau hari Senin sampai Jumat, kerjaanku hanya nonton televisi dan beberes rumah. Oh iya ngomong-ngomong, suamiku menyita seluruh HP dan komputer yang kumiliki, jadi aku otomatis tidak bisa bersosmed ria atau browsing-browsing. Tentunya, memang sangat membosankan.

Siapapun yang berada dalam situasi ini, lambat laun pasti akan mati kebosanan. Yah, tapi sih aku harus kuat. Aku merasa tidak punya hak untuk melawan, dikarenakan perbuatanku bersama Indra. Akan tetapi, anehnya aku tidak pernah menyesali perbuatanku. Justru aku sangat senang karena pernah bertemu dan bercinta dengan Indra.

Jika sudah weekend, biasanya suamiku pasti mengajakku pergi. Entah ke mall, ke Ancol, sekedar jalan-jalan ke minimarket, atau kemanapun. Suamiku mengerti bahwa aku pastinya bosan pada saat hari biasa. Aku senang karena suamiku begitu pengertian. Jangan salah, rasa cinta pada suamiku ini juga sangat kuat.

Bukannya aku membenci suamiku setelah diperlakukan begini. Justru aku makin cinta kepadanya. Yah, tapi rasa cintaku ke suamiku dan Indra sayangnya berjalan selalu sejajar. Lama tidak bertemu Indra, malah membuat perasaan kangen dan cintaku semakin besar ke Indra.

Aku sangat ingin bertemu dengan Indra. Aku sangat ingin disetubuhi oleh Indra. Jantungku begitu berdebar-debar jika mengingat Indra dengan segala keperkasaan dan kelebihan fisiknya. Ah, jangan-jangan proses isolasi yang dilakukan oleh suamiku ini malah mempunyai efek “bom waktu”.

Pada suatu hari, aku sedang menonton acara televisi di rumah. Tiba-tiba, ada yang membunyikan bel rumahku. Aku pun melihat keluar untuk melihat siapa yang membunyikan bel rumahku. Ah, sepertinya pegawai pos. Aku pun segera keluar.

“Iya?” Tanyaku.

“Selamat siang, bu. Ini ada surat, atas nama… ngg… Ibu Lisa?” Kata pegawai pos.

“Ah iya betul. Itu saya.” Kataku sambil mengambil surat itu dari pegawai pos.

Ah, dari perusahaan lamaku. Apa isinya ya?

“Maaf, bisa tanda tangan disini bu?” Kata pegawai pos sambil menyodorkan kertas.

“Oh, iya.” Kataku sambil menandatangani kertas itu.

Setelah itu, pegawai pos yang mengantarkan surat itu pun langsung pergi. Aku langsung masuk kedalam, sambil membuka isi surat itu. Wah, dari Wandi rupanya. Isi dari surat itu adalah mengajakku untuk ikut acara outing perusahaan ke Bali.

Dikatakan di surat itu bahwa aku diajak outing karena aku adalah karyawan perusahaan yang dulu memiliki kontribusi yang sangat baik di perusahaan, sehingga perusahaan memutuskan untuk memberiku hadiah. Wah, outing ke Bali ya. Pasti seru sekali.

Apalagi bersama orang-orang kantor yang sebetulnya sudah kukenal lumayan baik. Outing nya dimulai hari Senin minggu depan, yang artinya 3 hari lagi dari sekarang. Ah, aku ingin sekali ikut sebetulnya. Akan tetapi, aku tahu suamiku pasti tidak akan mengizinkan aku. Ya sudahlah, aku sih mengerti saja.

Malam pun tiba, dan suamiku pulang tepat waktu seperti biasanya. Sesampainya di dalam, ia langsung mencium bibirku, dan merangkulku ke ruang keluarga. Ya, sejak kejadian itu, dia memang makin romantis denganku. Aku betul-betul terenyuh dengan segala upaya dia untuk memperbaiki hubungan kami.

Andai aku bukan seorang wanita yang bodoh, aku sudah pasti akan memilih suamiku ketimbang Indra. Akan tetapi, aku tidak menyesal sih menjadi orang bodoh. Aku juga yakin bahwa perasaan cintaku pada Indra itu nyata.

Suamiku pun duduk sambil menyeruput teh manis hangat yang sudah kusiapkan. Kemudian, pandangannya seperti tergelitik oleh sesuatu. Ia pun mengulurkan tangan dan mengambil benda yang menarik perhatiannya itu, yang ternyata adalah surat ajakan outing dari perusahaanku. Suamiku pun membuka surat itu dan membacanya.

“Wah, ternyata perusahaan itu menganggap kamu itu orang penting ya.” Kata suamiku sambil kagum.

“Lha? Kok kamu kayaknya kaget begitu? Menurut kamu, aku itu nggak bisa begitu ya? Huh!” Kataku sambil memasang ekspresi ngambek.

“Hehehe. Jangan begitu dong, honey. Aku kan cuma becanda.” Kata suamiku sambil duduk disampingku dan mencium pipiku.

“Nggak mau! Pokoknya marah.” Kataku.

Aku hanya berpura-pura ngambek saja. Dan suamiku sepertinya begitu memanjakanku biar aku tidak ngambek. Kok bisa ya ada suami seperti dia? Padahal jelas-jelas istrinya sudah selingkuh, tetapi seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Bahkan, ia sepertinya menjadi lebih cinta daripada sebelumnya.

“Kamu mau ikut outing sama perusahaan?” Tanya suamiku.

“Ehh. Nggak kok.” Kataku.

“Yakin?” Tanya suamiku.

“Sebentar, sayang. Kenapa kamu nanya begitu?” Tanyaku.

“Jawab dulu, kamu kepingin ikut atau ga?” Tanya suamiku.

“Yah jujur sih kepengen. Tapi, aku ngerti lah kondisi lagi nggak memungkinkan. Jadi, aku di rumah aja nggak ikut nggak apa-apa kok.” Kataku.

“Ga sih. Kalo kamu mau ikut, ikut aja. Soalnya kebetulan ada yang mao aku omongin nih.” Kata suamiku.

“Hah? Aku boleh ikut?” Tanyaku dengan heran.

“Mungkin aku ngomong dulu kali ya. Sebabnya gini. Aku kebetulan ada dinas keluar negeri. Buat bantuin korban yang gempa hebat itu lho kemarin di Jepang. Kebetulan aku harus pergi dari hari Senin depan sampai dengan Kamis. Pas kan jadwalnya sama outing perusahaan lama kamu. Jadi kalo kamu mao ikut outing, ikut aja. Nanti pergi ke bandara dan pulang dari bandara nya bisa bareng jadinya.” Kata suamiku.

Hah? Oh iya, suamiku itu bekerja di perusahaan yang bergerak di bidang peminjaman finansial. Target nya itu dalam negeri dan luar negeri. Aku ingat beberapa hari lalu terjadi gempa hebat di Jepang. Oh, jadi tidak heran jika suamiku harus pergi keluar negeri untuk mengurus peminjaman finansial kepada korban gempa.

“Oh begitu. Eh sebentar. Kamu nggak takut aku didatengin Indra misalkan aku ikut outing?” Tanyaku.

Mendengar itu, suamiku pun tersenyum.

“Nah ini dia!” Kata suamiku.

“Nah, gimana?” Tanyaku.

“Kebetulan, perusahaan punya Indra itu juga ikut ke Jepang. Ternyata perusahaan Indra itu bergerak di bidang yang sama dengan perusahaanku. Jadi, dia juga kesana. Kalo dia kesana sih, aku ga perlu takut dia datengin kamu. Wong dia sibuk disana. Kebetulan, karena perusahaan yang dia miliki itu masih kecil, jadi owner nya sendiri harus turun tangan deh.” Kata suamiku.

“Owalah, pantesan aja kamu ngizinin aku.” Kataku.

“Makanya. Jujur, aku kasihan ama kamu. Kalo hari biasa, kamu harus di rumah ga ngapa-ngapain. Kan pasti bosen. Nah mumpung ada waktu yang aman, kamu puas-puasin deh pergi sama temen-temen kantor kamu.” Kata suamiku.

“ASIIKK!!! MAKASIIH SAYAANGG!!!” Kataku dengan begitu senang sambil memeluk dan mencium suamiku.

“Hehehe! Iya. Semoga kamu have fun ya.” Kata suamiku.

Ah, aku senang sekali rasanya. Ternyata, suamiku begitu memikirkan aku. Setelah itu, aku dan suamiku pun langsung menyantap makan malam yang sudah kusediakan di meja. Pas sekali, malam itu aku memasak sambel ati goreng dan pete kesukaannya. Mood suamiku pun jadi semakin baik.

Setelah makan malam, suamiku langsung masuk kamar, sementara aku membersihkan semua perabotan makanku dan suamiku. Setelah selesai, aku pun juga masuk kamar. Moodku pun juga sangat baik, sehingga aku ingin merasakan rangsangan dan sentuhan dari suamiku. Maka, aku pun mulai menggoda suamiku.

“Sayaang…” Kataku sambil mencium bibirnya.

“Eh, my honey yang cantik banget malem ini. Kenapaa?” Tanya suamiku.

“Aku lagi kepingin disayang nih sama kamuuhh…” Godaku.

“Ah, honey. Sini-sini…” Kata suamiku sambil mengajakku untuk masuk ke pelukannya.

Aku pun langsung merebahkan tubuhku dalam pelukannya. Walaupun tidak senyaman berada dalam pelukan Indra, tapi aku merasa sekarang pun sudah cukup nyaman. Suamiku pun langsung mencium bibirku dengan lembut. Aku pun juga balas mencium bibirnya dengan lembut.

“Sayaang… Kamu cantik dan seksi banget malem ini…” Kata suamiku.

Pujiannya itu cukup untuk membuat nafsuku naik.

“Sentuh aku, sayang.” Kataku.

Suamiku pun langsung meraba-raba tubuhku yang masih dilindungi oleh pakaian. Uugghh, baru seperti ini saja rasanya sudah nikmat. Belum-belum, aku sudah membayangkan nikmatnya ketika penis suamiku masuk ke dalam lubang vaginaku.

Tidak sabaran, aku pun langsung menanggalkan semua pakaianku hingga telanjang. Aku pun menyodorkan kedua buah dadaku kepada suamiku. Suamiku langsung sigap meremas-remas buah dada kiriku dan mengulum puting susu buah dada kananku.

“Kamu bener-bener seksiihh… honeeyy…” Kata suamiku yang sepertinya sudah mulai bernafsu.

“Badanku… bagus nggaakk sayaang?” Kataku dengan napas yang mulai terengah-engah.

“Bangeett…” Kata suamiku, yang kini mulai meraba-raba seluruh tubuhku.

Aku yang kini sudah mulai terbakar nafsu, langsung membuka seluruh pakaian suamiku hingga kini ia telanjang. Aku pun melihat batang penis suamiku yang sudah tegang ereksi. Aih, aku menjadi gemas sendiri melihatnya. Maka, aku pun mulai memasukkan mulutku ke batang kemaluan suamiku itu. Suamiku tampak sangat menikmati permainanku ini.

“Uuuhhh… Uuaahhhh….” Desah suamiku.

Cukup lama aku menggerakan kepalaku naik turun untuk menaikan birahi suamiku. Setelah pada suatu titik, akhirnya aku tidak sabar sendiri. Aku pun mulai menaiki tubuhnya, dan mengarahkan batang penis miliknya ke lubang kemaluan milikku.

Suamiku pun tampak siap menerima lubang vaginaku. Setelah pas, aku pun mendorong pantatku kebawah, sehingga kini melahap seluruh batang penis suamiku.

“Uuuhhhhh…” Suamiku dan aku melenguh secara bersamaan.

Memang tidak senikmat batang penis milik Indra. Akan tetapi, aku merasa bisa mencapai kepuasan yang mendekati kepuasan yang Indra berikan kepadaku. Aku pun mulai menaik-turunkan pantatku.

“Uuuhhh… Uaaahhhh….” Erang suamiku.

Bersamaan dengan itu juga… Croott… Croott… Croottt… Ah, rupanya suamiku sudah mulai ejakulasi. Aku pun terus memompa pantatku, untuk terus memompa sperma suamiku, dan aku juga berharap aku bisa mencapai kepuasan puncak selagi batang penisnya masih ereksi.

Akan tetapi, nasib tidak memihak kepadaku rupanya. Belum sempat aku mencapai klimaks, suamiku pun sudah lemas. Aku merasa lubang vaginaku begitu basah dan hangat akibat sperma yang disemprotkan oleh penis suamiku. Argghh, aku pun berusaha memendam sesal yang kudapat karena kepalang tanggung begini.

“Kamu belum puas ya, honey? Maaf ya.” Kata suamiku sambil mengatur napasnya.

Ia tampak sangat puas dengan ejakulasinya itu. Yah tidak apa-apa deh, yang penting dia puas. Aku harus memahami bahwa sebetulnya dia memang sedang berusaha untuk memperbaiki hubungan ranjang kami.

“Next time, aku pasti bisa.” Kata suamiku.

Aku pun mencabut lubang kemaluanku dari batang penisnya, kemudian berbaring dalam pelukannya.

“Iya sayang. Kita sama-sama berusaha ya.” Kataku sambil mengelus-elus dadanya.

Suamiku pun mulai membelai rambutku. Kemudian, kami saling berpelukan dengan erat.

“Aku cinta kamu, sayang.” Kataku.

“Aku juga cinta kamu.” Kata suamiku.

“Honey…” Kataku.

“He eh, sayang?” Tanya suamiku sambil membelai-belai rambutku.

“Menurut kamu nih, menurut kamu lho ya. Seandainya misalkan aku hamil duluan dari kamu, apa kira-kira Indra bakal beneran mundur?” Tanyaku.

“Waduh, susah juga ya. Kayanya kamu lebih kenal sama dia deh.” Kata suamiku.

“Nggak. Ini menurut kamu aja. Kamu kan udah ketemu sama dia, udah ngomong sama dia. Nah aku sekarang nanya intuisi kamu sebagai sesama laki-laki.” Kataku.

“Menurutku, dia bakal mundur.” Kata suamiku.

“Oh. Kenapa?” Tanyaku.

“Yah, walaupun aku ga suka sama dia, tapi aku harus akuin. Dia itu cowok gentle dan berpegang teguh sama omongannya. Dia bilang, siapa duluan yang berhasil ngehamilin kamu, maka dia yang berhak dapetin kamu. Kan gitu tuh. Nah, pas dia ngomong gitu, aku tahu dari sekedar tatapan matanya, kalo dia tuh serius banget. Dia udah siap kehilangan kamu.” Kata suamiku.

“Oh, syukur deh kalo gitu.” Kataku.

“Nah, gantian aku yang tanya. Misalkan Indra mundur, apa kamu bakal sedih?” Tanya suamiku.

“Kalo itu sih, nggak.” Kataku.

“Oh, kenapa?” Tanya suamiku.

“Yang bikin aku bener-bener sulit memutuskan, itu karena kalian tuh sama-sama nggak ada yang mao mundur. Dan kalian itu bener-bener memperjuangin aku. Dari kamu, kamu bener-bener hendak memperjuangkan masa depan kita. Dan dari Indra, orientasi dia bukan cuma seks doang, tapi memang serius kearah masa depan. Ya kalo dianya memutuskan untuk mundur, ya aku no hard feeling sih. Malah lega jadinya.” Kataku.

“Oh gitu. Nah, gimana kalo misalkan aku berhasil ngehamilin kamu, dan ternyata dia ga mao mundur.” Kata suamiku.

“Kalo itu terjadi, aku udah pasti nolak dia. Pertama, kalo udah ada anak, aku nggak mao main-main. Kedua, kalo dia ternyata cuma laki-laki yang nggak tahu kapan harus maju dan kapan harus mundur, aku akan kehilangan seluruh ketertarikan sama dia kok.” Kataku.

“Oh, gitu.” Kata suamiku.

“Sekarang pertanyaannya aku balik. Gimana kalo Indra yang berhasil ngehamilin aku duluan? Apa kamu akan mundur?” Tanyaku.

Suamiku pun tidak menjawab. Ia langsung memejamkan matanya. Sayang, aku mengerti. Bagaimana pun juga, kamu adalah suami sahku. Aku tahu kamu tidak akan melepaskanku begitu saja.

***

Akhirnya, hari outing pun tiba. Aku sudah tiba di Bali bersama rombongan rekan kantorku. Wah, aku betul-betul senang sekali rasanya. Selama di pesawat, aku banyak berbincang-bincang dengan bekas rekan-rekan kerjaku. Baru sebulan nggak di kantor, rasanya udah nostalgia sekali. Aku betul-betul harus memanfaatkan empat hari ini untuk bersenang-senang.

Hari ini, kami berkunjung ke Tanah Lot. Ya, apa sih yang biasa dilihat di Tanah Lot. Sunset, Dewa Ular, dan pantai. Acaranya sih ya begitu-begitu saja. Acara pun kulalui dengan penuh canda dan tawa. Aku betul-betul senang sekali. Ah, semua ini berkat suamiku. Kalau dia tidak memberi izin, mungkin aku sudah bosan-bosanan sendiri di rumah.

Akhirnya, waktu untuk makan malam pun tiba. Kami semua kembali ke hotel. Acara makan malam ini adalah bebas, sehingga kami harus pergi sendiri keluar untuk mencari makan. Aku sendiri sudah janjian bersama-sama dengan anak-anak ABG divisi accounting, yang biasa menjadi bawahanku dulu. Sebelum keluar untuk makan malam, aku pun menelpon suamiku, karena di luar negeri tempat suamiku bekerja, harusnya sekarang sudah mau jam tidur.

“Ya, honey.” Kata suamiku di telpon.

“Sayang. Gimana hari ini?” Tanyaku.

“Wah, hectic banget. Gile bener-bener sibuk deh. Dan sampe hari Kamis bakal begini terus. Ga kebayang deh. Tapi fun juga sih.” Kata suamiku.

“Iya, harus dibawa enjoy ya, sayang.” Kataku.

“Kamu sendiri gimana?” Tanya suamiku.

“Seneng dong hehehe.” Kataku.

“Oh, bagus deh. Oh iya…” Kata suamiku.

“Kenapa-kenapa?” Tanyaku dengan antusias.

“Oh, kirain kamu mao nanyain Indra.” Kata suamiku.

Heh? Oh iya, Indra kan sekarang sedang bertugas di tempat yang sama dengan suamiku. Aku malah baru ingat.

“Eh, aku malah lupa lho kalo Indra ada disana juga. Kok malah justru kamu yang inget sih? Waah, nggak bener niih.” Kataku.

“Hee? Ga bener kenapa?” Tanya suamiku.

“Gawat nih. Jangan-jangan nanti kalian malah jadi pasangan maho, terus kalian malah hidup bersama. Aku ditinggal sendirian.” Kataku.

“Ih, amit-amit. Kalopun aku mesti jadi maho, paling ga jangan sama Indra, pleasee…” Kata suamiku.

“Oh, sama bos kamu gimana?” Tanyaku.

“Mending deh.” Kata suamiku.

“Ih! Orang normal mah ditanya, pasti langsung bereaksi nolak loh! Waduuuhh, ada indikasi maho nih kamu.” Kataku.

“Yeee… Bukan gituuu…” Kata suamiku gelagapan.

“Hehehe. Iya sayang. Aku cuma becanda kok.” Kataku.

“Dasar hahaha! Yaudah nih. Indra ada kok disini. Malah tadi kita sempet bagi tugas bareng karena saking sibuknya. Sempet lho kita bahu-membahu bareng. Tapi di tengah jalan, aku kaya baru sadar gitu kalo dia Indra. Aku langsung ngejauh deh.” Kata suamiku.

“Hahaha. Terus Indra nya gimana?” Tanyaku.

“Ya mao gimana lagi? Masa dia bilang “jangan tinggalkaaann akkuuuuu…” kaya di sinetron-sinetron. Ga mungkin kaan?” Kata suamiku.

“Hahahahahahahaha. Kamu mah bisa aja. Aku jadi ngakak nih.” Kataku.

“Loh, bener kan?” Kata suamiku.

“Iyaaaa. Terus, kamu udah mao tidur belum? Udah malem kan disana?” Tanyaku.

“Iya sih. Capek.” Kata suamiku.

“Yaudah. Kamu tidur yang cukup. Kumpulin tenaga buat besok.” Kataku.

“Oke deh. Love you, honey.” Kata suamiku.

“Love you, too.” Kataku.

Kemudian, aku pun menutup telpon. Setelah itu, aku bersiap-siap akan pergi. Ketika aku sudah berjalan hendak menuju keluar pintu, tiba-tiba telpon kamarku berbunyi. Ah, paling-paling si Diva karena udah tidak sabaran nungguin aku buat makan malam. Aku pun mengabaikan telpon itu, dan berjalan menuju pintu keluar.

Bersambung

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Tamat