Dilema Cici Part 5

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Tamat

Cerita Sex Dewasa Dilema Cici Part 5 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Dilema Cici Part 4

Konfrontasi

Setelah selesai makan di meja, aku pun segera membereskan perlengkapan makan aku dan suamiku, dan kemudian membawanya ke dapur untuk menyucinya. Hari ini adalah waktu yang kutentukan untuk mengakui perselingkuhanku dengan Indra kepada suamiku.

Sebelumnya, aku sudah terlebih dahulu memberitahu suamiku bahwa ada yang hendak kubicarakan, dan suamiku pun menyetujuinya.

Sambil mencuci piring, jatungku berdebar-debar dengan sangat kencang. Memang aku sudah siap untuk memberitahukan kenyataan yang sebenarnya kepada suamiku, tetapi aku juga sangat takut sekali.

Bagaimana tidak? Yang namanya ngaku ke pasangan kalo kita udah selingkuh, itu pastinya tidak mudah kan? Aku pun jadi berharap kegiatan mencuci piring ini akan berlangsung selamanya. Akan tetapi, sial sekali, piring terakhir pun tiba.

Sambil mencucinya, jantungku berdebar-debar semakin kencang saja. Hingga akhirnya, seluruh perabotan makan sudah selesai kucuci, dan aku pun menuju ruang keluarga. Disitu, suamiku sedang duduk di sofa. Aku pun menghampirinya, dan duduk di sofa yang berseberangan dengan sofa tempat ia duduk.

“Katanya mao ngomong. Mao ngomong apa, honey?” Tanya suamiku.

Aku pun tersenyum. Honey… mungkin itu adalah panggilan sayang terakhir yang akan kudengar. Setelah aku mengatakan semuanya, apakah kamu masih akan memanggilku honey, sayang? Biarlah waktu yang menentukan.

“Aku nggak akan basa-basi. Langsung to the point aja ya, sayang.” Kataku.

Melihat aku yang begitu serius, suamiku langsung mengambil posisi duduk dengan serius. Sepertinya ia menyadari bahwa hal yang hendak kubicarakan ini sangatlah serius dan tidak main-main.

“Iya. Ada apa?” Tanya suamiku dengan serius.

“Sayang. Aku udah berdosa. Terhadap Tuhan, terhadap kamu, terhadap orang tuaku, orang tua kamu, dan seluruh keluarga besar kita.” Kataku.

Mendengar hal itu, suamiku langsung mengernyitkan alisnya.

“Sayang, aku udah selingkuh dari kamu.” Kataku.

Tampak ekspresi yang sangat terkejut di wajah suamiku.

“Ka… kamu serius?” Tanya suamiku dengan begitu serius.

Aku pun hanya mengangguk pelan. Melihat hal itu, suamiku langsung menjatuhkan dahinya ke telapak tangan kanannya. Ia pun menghembuskan napas yang sangat panjang.

Tiba-tiba, ia langsung menatapku tajam dengan penuh amarah. Ia langsung mengambil hiasan guci yang ada di meja sebelah tempat ia duduk, dan hendak melemparkannya kepadaku.

Jujur, aku terlalu lemah untuk langsung melihat hal itu. Akan tetapi, aku juga tidak kuasa untuk menghindar atau melindungi diriku. Maka, aku menutup mataku dan pasrah saja. Jika memang guci itu mengenai kepalaku dan membuatku tewas, maka itu berarti ganjaran yang pantas kudapatkan atas perbuatanku itu.

Satu detik… Tiga detik… Lima detik… Sepuluh detik aku menunggu, tapi tidak ada tanda apapun. Aku pun membuka mataku. Aku melihat suamiku hendak menahan dirinya untuk melempar guci itu kepadaku.

Kemudian, dia menghembuskan napas panjang, dan berusaha mengatur napasnya. Lalu, ia melemparkan guci itu dengan kencang ke tembok di sebelah kirinya. Guci itu langsung pecah seketika menjadi pecahan yang kecil-kecil dan terjatuh ke lantai. Aku pun tersentak dengan hal itu.

“Sama siapa kamu selingkuh?” Tanya suamiku sambil menghembuskan napas.

“Kamu inget, dulu ada asmen aku yang namanya Indra?” Tanyaku.

“Sama dia?” Tanya suamiku.

“Iya…” Jawabku singkat.

“Udah sampe mana kamu selingkuh?” Tanya suamiku.

“Layaknya kayak suami-istri.” Jawabku singkat.

“Sampe berhubungan badan?” Tanya suamiku.

Aku pun hanya mengangguk pelan dengan perasaan penuh bersalah. Sementara, suamiku kembali menghembuskan napas dan menjatuhkan kepalanya ke telapak tangan kanannya. Kemudian, ia pun berdiri dan berjalan mondar-mandir. Hal itu dilakukannya ketika dia perlu menenangkan diri.

Tidak lama kemudian, suamiku pun langsung duduk kembali.

“Memang kamu kenapa bisa sampai selingkuh? Apakah ada yang kurang dari aku?” Tanya suamiku.

“Kenapa kamu begitu baik?” Tanyaku dengan penuh emosi.

“Maksudnya?” Tanya suamiku.

“Istri kamu itu baru aja jujur kalo dia selingkuh! Kamu nggak marah? Kamu nggak mencela aku?! Kamu nggak bilang ke aku betapa terkutuknya aku ini??!! Bahkan, kamu nggak mukulin aku?? Aku udah siap kok terima segala macam hujatan dan kekerasan dari kamu!!” Kataku dengan penuh emosi.

“Kenapa begitu?” Tanya suamiku.

“Kenapa begitu??! Karena aku emang pantes dapet itu semua dari kamu?!!” Kataku.

“Oke, makasih karena kamu sadar akan betapa terkutuknya perbuatan kamu. Tapi aku tanya sama kamu. Apa menurut kamu, aku ini seorang suami yang menyelesaikan permasalahan dengan menghujat dan memukuli istrinya sendiri? Aku memang tadi hampir melempar guci ke kamu. Dan aku minta maaf, karena aku begitu dikuasai amarah. Untunglah hati nuraniku masih ngingetin aku bahwa itu salah. Dan aku terpaksa melemparkan guci itu ke tembok demi melampiaskan amarahku. Aku minta maaf kalo itu ngebuat kamu takut.” Kata suamiku.

Ah… Mendengar perkataan suamiku, air mata langsung membanjiri pipiku. Aku begitu tak kuasa menahan tangis. Di saat seperti ini, bisa-bisanya dia berkata demikian. Bisa-bisanya dia berkata bahwa ada hal yang kurang dari dirinya sebagai suamiku.

Bahkan, bisa-bisanya dia meminta maaf atas perbuatannya yang membuatku takut. Padahal, menurutku dia memiliki hak untuk melakukan itu semua padaku. Aku pun langsung menangis sejadi-jadinya. Aku begitu sedih dan terharu.

Sedih karena sudah membuat suamiku merasakan hal itu, dan juga terharu karena suamiku begitu hebat. Aku yakin, tidak ada suami lain seperti suamiku ini. Meskipun demikian, aku ini memang orang yang begitu bodoh, karena masih bimbang untuk memutuskan apakah akan memilih Indra atau suamiku.

Aku pun meluapkan seluruh emosiku lewat tangisan yang begitu kencang.

Setelah emosiku sedikit mereda, suamiku kembali memintaku untuk duduk. Aku pun duduk di sofa tempatku duduk tadi.

“Jadi gimana? Kenapa kamu bisa selingkuh?” Tanya suamiku.

Aku pun menceritakan semuanya sampai cukup detail. Dari kehampaanku karena suamiku tidak bisa memuaskan diriku, sampai akhirnya Indra datang dalam hidupku. Dari awalnya yang hanya sebatas hubungan profesional antar rekan kerja, sampai curhat ke hal-hal pribadi.

“Hadiah ulang tahun” yang diberikan oleh Indra, dan hadiah-hadiah ciuman yang terus diberikan kepadaku. Dari akhirnya jalan berdua dengan Indra ke Puncak, sampai akhirnya terjadi hubungan terlarang itu di losmen Puncak.

Dan juga sampai tiga hari lalu, dimana aku kembali melakukan hubungan terlarang itu lagi dengan Indra di Hotel Four Season. Semuanya kuceritakan, tidak ada satu pun kebohongan yang kusembunyikan.

Mendengar pengakuanku, suamiku tampaknya cukup terpukul. Ia pun tampak terhanyut dalam pikirannya. Aku bisa merasakan hal ini berlangsung dengan cukup lama. Mungkin sampai bermenit-menit lamanya.

“Jadi, sekarang mau gimana? Apa kamu mau lanjut sama aku, atau kamu mau pergi sama si Indra itu? Jujur, walaupun dengan sangat terpaksa, kalau kamu memutuskan untuk pergi sama si Indra, aku akan mengikhlaskan kamu dengan berat hati.” Kata suamiku.

“Mengenai hal itu…” Perkataanku terputus di tengah-tengah.

Suamiku pun mengerti, dan menungguku dengan sabar.

“Jujur. Aku masih bingung memutuskan. Sayang, percayalah bahwa perasaan cinta aku sama kamu masih sama kaya dulu. Tapi, di satu sisi, di hatiku yang lain, aku juga cinta sama Indra.” Kataku dengan berat.

“Oke. Lalu?” Tanya suamiku.

“Sorry nih aku mau nanya dulu sama kamu. Apa kamu masih mau sama aku?” Tanyaku.

“Apa aku masih mau sama kamu atau ga, itu tergantung jawaban kamu. Karena, percuma aja kalo aku masih mau sama kamu, tapi kamunya udah ga mau lanjut. Ga akan berhasil. Malah bakal nimbulin masalah baru.” Kata suamiku.

Luar biasa, begitu bijaksana suamiku ini.

“Sayang, si Indra pengen ketemu sama kamu. Pengen ngomong sama kamu.” Kataku.

“Buat apa??” Tanya suamiku.

“Entahlah. Aku sendiri juga nggak tahu apa yang mau dia omongin ke kamu.” Kataku.

“Kapan?” Tanya suamiku.

“Dia akan ngikutin jadwal kamu.” Kataku.

“Yaudah, besok aja.” Kata suamiku.

“Terus, kapan kamu bisa memutuskan?” Tanya suamiku.

“Aku…” Jujur. Aku sendiri masih tidak bisa memutuskan, bahkan aku tidak bisa memberi kepastian mengenai kapan aku bisa memutuskan.

“Oke. Aku ngerti kalo kamu belom bisa mutusin. Yaudah, hari udah malem. Ayo, tidur.” Kata suamiku sambil mengajakku ke kamar.

Aku pun pergi ke kamar bersama suamiku. Sampai di kamar, suamiku langsung berbaring dan mengambil selimut, kemudian dia membaringkan tubuhnya menghadap keluar tempat tidur. Aku pun langsung mengambil tempat ranjangku, dan membaringkan tubuhku. Saat aku melihat ke kenan, ke arah suamiku, aku melihat punggung suamiku.

Aku bisa merasakan, bahwa emosi dalam hatinya begitu berkecamuk.

Aku pun mengambil HP-ku, dan memberitahu Indra untuk datang ke rumahku besok. Indra pun langsung menyetujuinya. Setelah itu, aku meletakkan HP-ku dan memejamkan mataku berusaha untuk tidur. Namun, sulit sekali aku tidur. Sepanjang malam, aku terus terjaga.

***

Aku mendengar suara mesin mobil yang sedang berhenti di depan rumahku. Tidak lama kemudian, mesin mobil itu pun dimatikan. Tanpa melihat, aku tahu bahwa mobil itu adalah mobil milik Indra. Kemudian, suara bel rumahku pun berbunyi.

“Ajak dia masuk.” Kata suamiku kepadaku.

Setelah mendapat izin dari suamiku, aku pun langsung berdiri dan beranjak keluar. Di depan pintu pagar, aku melihat Indra sudah berdiri dan menunggu dibukakan pintu.

Setelah melihatku, dia tampak tersenyum. Aku pun juga membalas senyumannya. Setelah itu, aku berjalan ke pintu pagar, dan membukakan pintunya. Aku pun mempersilakan dia masuk.

Sesampainya di dalam, aku merasakan suasana yang cukup mencekam. Aku bisa merasakan aura kemarahan suamiku yang begitu memancar. Aku pun bisa melihat Indra sedikit bergidik karenanya. Indra pun langsung melangkah kearah suamiku, dan menyalaminya sambil memberi hormat dengan membungkukkan badan.

Untungnya, suamiku masih mau menerima jabat tangannya, walau kelihatan sekali dengan sangat terpaksa.

“Lalu, mau apa kamu kesini?” Tanya suamiku.

“Begini, Mas Hendri. Saya yakin, Ci Lisa udah ngasihtau semuanya ya ke Mas Hendri.” Kata Indra.

Oh iya, mungkin pembaca bingung. Kenapa Indra memanggilku cici, tapi memanggil suamiku dengan panggilan Mas dan bukan koko? Itu semua karena aku sendiri adalah warga Indonesia keturunan Cina, sedangkan suamiku sendiri adalah orang asli Indonesia dari Jawa, karena itu dia dipanggil dengan sebutan Mas.

“Terus?” Tanya suamiku.

“Pertama-tama, saya mau minta maaf. Saya lah yang memulai menjerumuskan Ci Lisa dalam perselingkuhan.” Kata Indra.

Suamiku langsung menutup matanya. Kemudian, ia langsung berdiri dan mendorong tubuh Indra dengan cepat. Indra yang berbadan tegap dan kekar itu pun langsung terdorong dengan mudah dan membentur tembok.

Aku sendiri kaget, apakah tenaga suamiku sekuat itu? Suamiku pun langsung menggenggam pundak Indra, dan hendak melancarkan tinju yang sepertinya sekuat tenaga ke pipi kanan Indra. Aku pun hendak berteriak, tapi suaraku tidak bisa keluar saking semuanya terjadi begitu cepat.

Akan tetapi, suamiku menghentikan tinjunya persis sebelum tinjunya hanya berjarak beberapa senti dari pipi Indra. Mereka pun sama-sama saling terdiam.

“Kenapa diem aja?” Tanya suamiku.

“Saya ga bisa melakukan apapun.” Kata Indra.

“Mau sok jadi orang baik kamu?” Tanya suamiku.

“Terserah Mas mau beranggapan saya sok baik atau apapun. Tapi yang jelas, yang saya bisa lakukan jelas hanya nerima tinju Mas. Mas punya segala hak untuk itu, karena saya sudah menjerumuskan istri Mas. Tapi yang jelas, saya ga akan pernah melawan balik.” Kata Indra.

“Kenapa?” Tanya suamiku.

“Gitu-gitu, Mas itu suami sahnya Ci Lisa. Kalau aku ngelawan balik dan menang, harga diri Mas sebagai suami Ci Lisa akan runtuh. Begitu juga Ci Lisa. Pasti dia akan sedih.” Kata Indra.

Suamiku pun melepaskan Indra.

“Lalu, apa mau kamu? Kamu dateng kesini ga cuma untuk minta maaf kan?” Tanya suamiku.

Indra pun tersenyum.

“Sebetulnya, tujuan utama saya tentunya meminta maaf. Dan saya juga tentunya ingin memberikan pembelaan untuk Ci Lisa. Tapi, kayanya ga perlu. Aku seneng, Ci Lisa punya suami yang begitu hebat. Kalau suami lain, mungkin Ci Lisa ga akan lolos tanpa memar di tubuhnya. Tapi Mas, Mas bisa nahan emosi dan amarah, dan ga ngelampiasin ke Ci Lisa. Mas emang hebat. Pantes aja Ci Lisa ga mao lepas dari Mas. Sekarang aku jadi tahu alasannya.” Kata Indra.

“Ga usah bicara muter-muter. Bilang aja mau kamu tuh apa.” Kata suamiku.

“Mas Hendri. Maaf kalau ini terdengar kurang ajar. Tapi Mas, saya cinta sama Ci Lisa. Dan Ci Lisa pun juga punya perasaan yang sama ke saya. Dan saya pun merasa bahwa Ci Lisa adalah partner yang sangat tepat buat saya. Saya mau memberitahu Mas, bahwa saya akan berusaha merebut Ci Lisa dari Mas Hendri.” Kata Indra.

Mendengar hal itu, suamiku begitu terkejut. Jangankan suamiku, aku pun juga sama terkejutnya. Buset Indraaa!! Kenapa kamu bicara segamblang itu?? Dia itu suamiku lhoo…

“Kamu… mao ngelawak?” Tanya suamiku dengan begitu heran.

“Saya sama sekali tidak berniat untuk ngelawak, Mas. Saya serius.” Kata Indra.

Suamiku melihatku perlahan-lahan dengan ekspresi yang masih terkejut. Aku pun hanya bisa membalas menatap suamiku dengan datar. Kemudian, kembali suamiku menatap Indra dengan serius.

“Kamu… tahu kan kalau Lisa udah punya suami?” Tanya suamiku.

“Tentu saja.” Kata Indra.

“Terus? Apa kamu udah mulai gila?” Tanya suamiku.

“Hmmm, saya juga ga tahu sih saya gila atau ga. Jangan-jangan saya beneran udah gila, karena pikiran saya dipenuhi sama rasa sayang terhadap istrinya Mas. Saya betul-betul tergila-gila dengan Ci Lisa, Mas.” Kata Indra.

Deg! Jantungku berdebar-debar mendengarkan pernyataan Indra itu. Aku merasa begitu disayang dan dibutuhkan oleh Indra.

“Saya ga akan ngelepasin Lisa untuk kamu.” Kata suamiku.

Deg! Jantungku pun juga semakin berdebar-debar mendengar pernyataan suamiku itu. Gila, meskipun sudah kusakiti begitu, ia rupanya masih begitu mencintaiku. Ah, aku semakin bingung saja.

Galau! Aku begitu senang menjadi perebutan dua orang pria yang begitu mencintaiku. Ah, tidak seharusnya aku senang begini karena memang situasinya sebetulnya menegangkan.

“Saya tahu, Mas. Tapi, saya bukan meminta izin dari Mas. Saya memberi pernyataan bahwa saya akan merebut Ci Lisa dari Mas.” Kata Indra.

“Kamu ga akan berhasil.” Kata suamiku.

“Mungkin aja. Aku pun juga udah siap kehilangan Ci Lisa seandainya aku emang ga berhasil. Tapi, biar Mas tahu. Aku punya dua kesempatan di masa lalu, untuk mengambil Ci Lisa dari Mas. Akan tetapi, atas permintaan Ci Lisa, hal itu ga aku lakuin.” Kata Indra.

“Ya, itu kesalahanmu sendiri. Dan untungnya, aku selamat karena itu.” Kata suamiku.

“Tapi, Mas sekarang sudah tahu kenyataannya, aku ga akan menahan diriku lagi.” Kata Indra.

“Nyerah aja lah. Kamu ga akan berhasil.” Kata suamiku.

“Begini saja. Siapa ayah dari anak pertama yang dilahirkan oleh Ci Lisa, maka dialah yang akan mendapatkan Ci Lisa. Kalau ternyata aku ayahnya, Mas harus mundur dan menceraikan Ci Lisa. Tapi kalau ternyata sperma Mas yang berhasil membuahi sel telur Ci Lisa, maka aku berjanji aku akan mundur dan tidak akan pernah muncul lagi.” Kata Indra.

“Kamu pikir istriku ini obyek taruhan? Hah?!” Kata suamiku dengan nada yang meninggi.

“Memang kelihatannya seperti itu. Tapi, ini demi kita semua. Demi kebahagiaan Ci Lisa, demi Mas Hendri, dan demi diriku sendiri.” Kata Indra.

“Apa maksudmu?” Tanya suamiku.

“Mas Hendri. Saya yakin Mas sadar bahwa Mas Hendri ga punya jalan lain selain mengiyakan pernyataanku. Sekalipun Mas bilang tidak, aku tetap akan maju karena aku sedang memperjuangkan kebahagiaanku dan Ci Lisa di masa depan. Satu-satunya pilihan yang Mas punya adalah mempertahankan Ci Lisa dari aku. Apakah cinta Mas atau cintaku yang lebih hebat. Apakah spermaku atau sperma Mas yang mampu menghamili Ci Lisa.” Kata Indra.

Suamiku tidak menjawab. Ia hanya menatap Indra dengan tajam.

“Baiklah, saya merasa bahwa saya sudah mengatakan hal yang cukup. Sekali lagi, saya mohon maaf sudah menarik Mas sekeluarga dalam keegoisan saya ini.” Kata Indra.

“Saya ga akan membiarkan Lisa ketemu sama kamu.” Kata suamiku.

“Tentu saja. Bagaimana pun juga, itu kewajiban Mas untuk melindungi istri Mas. Akan tetapi, setebal apapun pintu pagar yang Mas pasang untuk menghalangi Ci Lisa dariku, aku akan berusaha sekuat tenaga untuk menerobosnya.” Kata Indra.

“Ya sudah. Sana pergi, dan jangan pernah kembali.” Kata suamiku.

“Permisi.” Kata Indra sambil membungkukkan badannya dan pergi.

Aku pun langsung terduduk di sofa. Ya ampun, aku benar-benar masih tidak bisa menyangka. Sekarang, aku jadi perebutan dua pria yang begitu mencintaiku, dua pria yang betul-betul aku cintai juga.

“Aku sudah paham semuanya sekarang.” Kata suamiku.

“Ah?” Tanyaku dengan heran.

“Dia itu memang pria yang hebat. Pantas aja kamu bisa jatuh cinta kepadanya. Ditambah, dia bisa memberikan kamu apa yang ga bisa aku berikan.” Kata suamiku.

Aku pun hanya menunduk, tidak berani menatap suamiku.

“Maaf, Lisa. Tapi, aku ga akan ngizinin kamu untuk ketemu sama dia lagi. Dan aku minta kamu resign dari kerjaan kamu sekarang, karena resikonya terlalu berat buat bahtera rumah tangga kita.” Kata suamiku.

Haah? Aku harus resign? Mustahil… Tapi, aku memang tidak punya hak untuk berargumen. Aku sudah menimbulkan masalah yang sangat besar baginya. Paling tidak, aku harus patuh dan ikhlas untuk menuruti keputusannya.

“Sayang, oke. Dengan berat hati, aku bakal penuhin permintaan kamu. Besok juga, aku akan ngajuin pengunduran diri ke kantorku. Tapi…” Kataku.

“Tapi apa?” Tanya suamiku.

“Gitu-gitu, aku ngerintis karir dari bawah di perusahaan itu. Dan aku selama ini selalu berkelakuan baik di perusahaan itu. Mungkin, aku masih harus kerja selama sebulan untuk perpindahan tugas dan tanggung jawab, sambil mencari pengganti aku. Apa boleh?” Tanyaku.

Suamiku pun berpikir sejenak.

“Oke. Tapi, aku harap kamu ga tersinggung kalo aku nyuruh orang buat ngawasin kamu.” Kata suamiku.

“Silakan, sayang. Aku justru terima kasih banget sama kamu, karena kamu udah begitu pengertian sama aku.” Kataku.

“Ya sudah. Aku mao ke kamar.” Kata suamiku.

“Sayang, mungkin aku nggak pantes ngatain hal ini, sungguh sangat nggak pantes malah.” Kataku.

“Kenapa?” Tanya suamiku.

“Aku ngerti bahwa kamu lagi sakit banget hatinya. Tapi sorry, kamu bener-bener nggak punya waktu untuk sakit hati. Kamu harus ngelindungin aku dari Indra, kalo kamu bener-bener mau mempertahankan aku. Dan aku yakin kamu paham bahwa dengan mengisolasi aku, itu aja nggak akan cukup untuk ngelindungin aku dari Indra.” Kataku.

Suamiku tidak menjawab. Ia pun langsung pergi ke kamar. Tentunya, ini adalah hari yang sangat berat baginya.

“Dan Indra. Kamu harus berusaha sekuat mungkin untuk merebut aku dari suamiku. Aku yakin kamu paham bahwa dengan cara yang biasa-biasa aja, kamu nggak akan bisa menembus barikade yang suamiku siapin buat kamu.” Kataku dalam hatiku.

Bersambung

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Tamat