Dian Story Part 9

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9

Cerita Sex Dewasa Dian Story Part 9 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Dian Story Part 8

Dian

“Kamu bahagia?”

Niko berdiri di belakangku, membantu melepas hiasan di kepala ini. Aku menatap wajahnya dari pantulan kaca. Ia tampak segar habis mandi, handuk masih menggantung di lehernya. Kaos oblong putihnya sedikit basah karena tetesan air dari rambutnya yang basah.

“Duduk sini,” tunjukku ke lantai di depanku.

“Biar gue-”

“Kok gue?” Niko menyela ucapanku. Ah, iya, aku lupa kalau Niko memintaku mengubah panggilan.

“Iya, sini k-ku-kubantuin ngeringin rambutnya.” Susah payah aku menyelesaikan kalimat itu.

“Nah, gitu dong.” Niko tersenyum cengengesan sembari memasang bandana di kepalaku lantas bersila di depanku, ia menoleh mengulurkan handuk padaku.

“Abis ini mau makan apa mandi dulu?”

Gerakan tangan ini mendadak terhenti, astaga … aku lupa kalau saat ini kami hanya berdua. Mama Marisa mengajak Mama ikut pulang bersamanya, meninggalkan kami di sini.

“Nanti kumasakin apa pun yang kamu mau. Mama juga udah ngajarin semua menu wajib kamu, obat yang harus kamu minum ….”

Niko terus saja berceloteh, menyerocos tanpa henti. Ia sudah seperti Mama ketika sedang mengomel, aku menegang lalu meringis pelan ketika tangannya menyentuh betisku yang berbalut kain jarik.

Aku kaget, ya Tuhan.

Bukan ucapannya yang membuatku tak bisa berpikir jernih, aku pun tak akan protes jika ia memaksa makan dan meminum obat. Aku tak punya tenaga untuk mendebat Niko sekarang.

Aku hanya tak bisa membayangkan, bagaimana aku bisa mandi dengan tenang di bawah tatapan matanya?

***

Marina Bay Singapore Countdown biasanya identik dengan pesta kembang api, tetapi kali ini menghadirkan format berbeda dari tahun sebelumnya demi memprioritaskan keamanan masyarakat.

Urban Redevelopment Authority (URA) mempersembahkan sebuah pertunjukan cahaya yang disebut Shine a Light dan Share the Moment, sebuah karya dongeng melalui proyeksi pemetaan cahaya, dirancang sebagai simbol persatuan, semangat positif dan pantang menyerah, yang menuntun semangat masyarakat Singapura dalam menghadapi pandemi, serta tekad untuk bangkit bersama di tahun yang baru.

Cakrawala The Promontory, Marina Bay bertabur gemerlap cahaya dari pukul 20.00 hingga 22.30 sepanjang Desember. Namun, menjelang pergantian tahun, kudengar mereka membuat sebuah animasi sederhana berdurasi tiga menit, yang koreografinya melambangkan harapan dan aspirasi di awal yang baru, diputar setiap lima belas menit sekali.

Thanks God, pihak penyelenggara membolehkan para pengunjung untuk menyaksikan atraksi tersebut apabila area pertunjukan tidak dalam kondisi ramai.

Entah berapa kali Dian bersorak ketika proyeksi cahaya dari lampu-lampu tersebut menerawang ke langit. Ia bertepuk tangan riang saat Shine a Light menerangi langit Marina Bay dengan formasi enam puluh lampu sorot melingkar, melambangkan bentuk sebuah permukaan jam.

Kata orang, bahagia itu memanjangkan umur. Aku pun berharap begitu, semoga dengan binar di mata Dian saat ini adalah pertanda jika kami bisa melewati semua ini dengan kuat, mengikatkan perasaan kami hingga menua bersama.

“Kamu enggak dingin?” Aku melilitkan syal di leher Dian dan memperbaiki topi rajut di kepalanya. Ia menggeleng lantas meraih tanganku, menyelipkan jemarinya.

“Maaf, ya, Ko, aku mengubah destinasi semauku.”

“Enggak papa, toh di sini juga bisa terapi. See, kamu bahkan jauh lebih sehat sekarang.”

Hampir enam bulan kami meninggalkan Indonesia, Dian meminta membawanya ke Singapura alih-alih Malaysia. Katanya ia ingin sekali berfoto dengan latar patung singa yang tingginya hampir mencapai sembilan meter.

Hari pertama di sini, ia sudah merengek diajak ke One Fullerton, Dian ingin merasakan dingin cipratan air yang mengucur dari moncong Merlion di jemarinya. Permintaan yang aneh, tetapi tetap kuturuti.

“Ayo pulang, mulai rame. Jangan sampai kamu demam juga.”

“Tapi, Ko … belum masuk tahun baru juga.”

Ia memelas, tetapi aku tak bisa membiarkannya berlama-lama di luar, terutama pasca kemoterapi yang kesekian kalinya.

“Kita bisa ngeliatnya di Lucky Plaza,” tolakku halus sembari melepas tuas rem.

Aku tak ingin, kekebalan tubuh Dian menurun dan tak mampu menahan hantaman virus. Marina Bay semakin ramai, menunggu pergantian tahun.

Aku menggiringnya ke parkiran, menggendong Dian lalu mendudukkannya di kursi penumpang. Setelah itu, aku melipat kursi roda dan memasukkannya ke bagasi lantas berlari kecil memutari mobil, bergegas masuk ke belakang kemudi sebelum Dian berubah pikiran dan mengajakku berkeliling lagi entah ke mana.

Kami bermobil dalam diam, menyusuri Fullerton Rd, di mana berdiri salah satu hotel termegah di Singapura. Lampu warna warni Wang Cafe tampak di kejauhan ketika aku berbelok ke Selatan kawasan Collyer Quay.

Beberapa pasangan keluar dari pencakar langit berwarna abu-abu, tangan mereka penuh dengan kantong plastik berlogo huruf W dengan latar berwarna hijau dan garis oranye. Bahkan Watsons di Hong Leong Building menawarkan banyak diskon merayu di akhir tahun.

Lalu lintas Singapura cukup padat, tetapi tak menjebak pemakai jalan dengan kemacetan. Hanya butuh berkendara sekitar lima belas menit untuk sampai di Orchard Rd melewati Fort Canning Park, dikenal dengan nama bukit larangan dalam bahasa Melayu.

Saat ini, area seluas 18 hektar tersebut penuh sesak oleh atraksi dari artefak kuno untuk penikmat sejarah sampai halaman rumput di luar ruangan untuk konser, dan tentu saja, pepohonan hijau bagi pecinta alam.

“Ko, aku mau ke kamar mandi.”

Dian berjalan pelan ke sisi timur kamar sementara aku membawa kursi rodanya ke balkon, memandangi langit Singapura yang penuh warna. Beruntung sekali kami mendapatkan kamar privat dengan balkon di sini.

Rata-rata kamar di Lucky Plaza adalah kamar dengan kamar mandi sharing, cocok untuk pelancong jika hanya sekadar menumpang tidur dan istirahat. Harganya setara dengan hotel bintang dua di pinggiran kota Singapura.

Kami sepakat tinggal di sini bukan karena pelit, lokasi Lucky Plaza bisa dibilang sangat strategis, terletak di pusat wisata dan perbelanjaan. Terlebih rumah sakit tempat Dian menjalani terapi tepat di belakang apartemen ini.

“Thanks, ya, Ko.” Dua lengan mungil Dian menyelip di pinggang ini. Pipinya menyandar di punggungku.

“Aku bahagia banget.”

Aku mengurai pelukannya, lalu membawa tubuhnya ke dadaku.

“Tuh, keliatan kan dari sini.” Telunjukku mengacung ke langit di mana lampu warna warni menyorot ke langit.

Ia mendongak menatapku, mengangguk cepat dengan lengkungan di bibir.

Entah apa yang terpikirkan di kepalaku saat itu. Awalnya aku hanya mengecup dahinya, bibir ini menjelajah ke pipi hingga menemukan tempat yang seharusnya. Sebelumnya, Dian tak membalas, tubuh yang semula menegang perlahan rileks, bibirnya membuka mencipta lenguhan dan desahan halus.

Lidah ini melesat masuk, membelit, mengisap.

Tangan ini bergerak nakal, membelai bibir, mengusapnya lembut. Satu tanganku mengelus punggung, menggoda dan meremas bokongnya. Ah, aku berharap Dian tak menahan desahannya, lengannya kini mengalung, mengharapkan diri ini menjadi penopangnya.

“Ko ….” Dian kembali mendesah saat lidah ini menjilat cuping telinga dan leher jenjangnya.

Jejak basah yang kutinggalkan membuat tubuhnya menggelinjang, bergerak gelisah. Napas Dian memendek, terengah, berat badannya semakin condong ke dada ini. Satu tangan ini bergabung dengan tangan lain di pinggul Dian lalu mengangkatnya menuju ranjang.

“Di ….”

Aku mengelus pipinya, melepas bandana yang menutup kepalanya. Perlahan kesadaran menghantamku, wajah ini membenam di ranjang, bibir ini berbisik di telinganya.

“Ini enggak boleh.” Tanganku menahan jemari Dian yang mencoba menelusup ke dalam bajuku.

“Kamu lagi sakit.”

“Ko, biarin aku menuhin kewajibanku, ya,” bisiknya serak sembari membawa wajah ini di depan matanya. Sepasang manik hitam madu itu menyorot penuh permohonan. Setitik ragu masih bercokol di kepala ini, tetapi bibirnya tiba-tiba menemuiku dengan tergesa, melumat dengan buru-buru, menepis kelesah.

“Pelan-pelan aja, ya. Aku takut kamu kenapa-napa.” Jantung ini mulai berdebar tak karuan, sesuatu menegang di pangkal paha.

“Aku baik-baik aja, Ko.” Dian kembali meraup bibir ini, “Please ….”

Bibir ini menggeram, tak mampu untuk menolaknya, harapku ia bahagia dengan semua ini, yang bisa kulakukan hanya memberi sebanyak yang ia minta. Lidah ini kembali membuai, menyelisik setiap senti di dalam sana, Dian membalasnya, penuh hasrat, aku pun sama dengannya, tak lagi ingat untuk bernalar bersama dengan lolosnya satu demi satu sekat yang membatasi.

Erangan lolos dari bibir Dian ketika cecapan lidah ini membuai leher hingga ke tulang selangka. Tubuhnya melengkung seiring isapan bibirku di puncak dada kiri bersama cubitan kecil, memainkan ujung satunya.

Cubitan itu membuat tubuh Dian kembali menegang dan menggelinjang. Kami sama menolak logika, mulai menikmati, Dian bahkan tak menyadari jika bibirnya kembali mendesah dan membuka.

Gigitan, jilatan, dan kecupan beradu saling menyerbu seiring dengan dorongan yang semakin menghimpit. Ciuman kami semakin rakus seirama dengan desahan dan rintihannya. Wajah mungil Dian menengadah dengan pipi memerah.

Lenguhan pendek terlepas dari bibirnya yang terbuka, mengurai desahan ketika jari jemari ini berpindah ke paha dan mulai bermain-main di permukaan kulitnya, sampai akhirnya menemukan sesuatu yang basah di pangkal paha.

Perlahan belitan lengan ini mengendur, aku merangkak turun, menjilat, menyecap semua rasa dari liang hangatnya, mengeja setiap detail kenikmatan yang ia suguhkan. Ah, aku tak tahan lagi.

Lenguhan Dian, eranganku memenuhi ruangan, mengalahkan deru pendingin. Perlahan aku menyatukan semua rasa yang ingin kami raih, dengan cepat bibir ini membungkam pekikan Dian, mengusap tetes bening yang keluar di pelupuk matanya.

“Di, aku … cinta kamu,” erangku di sela gerakan panggul yang mengentak pelan.

Aku tak ingin menyakitinya, sungguh. Dagu Dian setengah terangkat dengan mata memejam. Kedua tangannya meremas lengan ini, bergerak gelisah, menginginkan lebih.

Seluruh indra bak tak berfungsi, terkunci pada sensasi di ujung tubuh, dorongan rasa itu semakin menguasai, menggoda untuk menghunjam lebih cepat lagi. Dian turut berpacu, menggila bersama.

“Sayang ….” Aku kembali menggeram bersama entakan cepat kejantanan di pangkal paha.

Napas ini saling berkejaran, kian memburu seirama dengan deru pendingin yang seakan tak mampu mengimbangi gelenyar panas di antara kami, mengalirkan hormon oksitosin, gairah meluap, larut bersama renjana yang menggulung, tak kalah besarnya.

Aku menghunjam dengan liar disambut gerakan gelisah pinggul Dian. Hasrat purba yang telah lama terkungkung itu pun terlepaskan, membawa Dian, bersamaku menuju puncak pelepasan.

“Ko!”

Dian memekik, aku merasakan sensasi panas yang berkumpul di satu titik, membakar hangat liang kenikmatannya, memuncak, terlepaskan. Aku meledak bersama lengkungan tubuhnya di bawahku.

“Thank you, Ko. Aku … bahagia banget.”

***

Aku pikir setelah percintaan panas kami semalam adalah awal kebahagiaan kami. Nyatanya salah. Di pagi buta, ketika Masjid Al-Falah menggaungkan azan subuh, aku mendapati Dian terbujur tak sadarkan diri dengan darah yang mengucur dari hidung dan bibirnya.

Panik, aku memeriksa denyut nadinya. Lemah sekali. Tanpa pikir panjang, tanganku meraih pakaian yang terserak, memakainya dengan cepat. Aku bahkan tak ingat lagi untuk membersihkan diri. Kuselimuti tubuh polosnya dengan bed cover lantas membawanya ke rumah sakit.

Hiruk pikuk perawat menyambutku dengan brankar di lobi ruang gawat darurat. Sigap, mereka mendorong troli tabung oksigen dan memasang alat bantu pernafasan.

“Just stay here.”

Seorang perawat menahan langkah ini mengikuti brankar Dian yang dilarikan ke balik pintu kaca.

“Please, save my wife.”

Aku memohon disertai isakan. Perawat itu hanya mengangguk sambil tersenyum sebelum tubuhnya ikut menghilang dari pandangan ini. Rasa bersalah memenuhi otak dan hatiku. Kenapa aku tak menolak permintaannya?

Dian bersikap seolah ia benar-benar segar bugar. Kemoterapi injeksi selama beberapa bulan terakhir memang membuatnya tampak tak seperti orang yang terserang penyakit ganas. Ya, Tuhan, apa yang telah kulakukan?

Aku berjalan hilir mudik, sesekali melirik jam di dinding. Hampir satu jam, Dian di dalam. Aku tak mampu berpikir dengan baik sekarang. Ragaku serasa ingin ikut berkelana ke ruangan yang dibatasi dinding kaca itu.

Tanganku mengacak rambut, aku bahkan tak ingat membawa ponsel. Meski tak yakin apa yang harus kuucapkan jika menghubungi Ayah, Ibu dan Mama di Jakarta.

Aaarrrghhh! Aku menghempaskan tubuh ke kursi aluminium. Berusaha meredakan debaran dengan menarik napas panjang lalu mengembus pelan. Sebait doa kupanjatkan, memohon penghiburan dari pemilik semesta dan kehidupan, semoga Dian baik-baik saja. Aku berjanji takkan lagi berbuat apapun yang membahayakan dirinya, meski ia memohon sekali pun.

“Sir …” Seseorang berpakaian hijau menghampiri, menarikku dari embara dan ketakutan.

“… We have transferred your wife to ICU, but you can not meet her yet.”

Mataku membelalak sempurna, apakah sedarurat itu kondisi Dian sampai ia harus dirawat intensif?

“I think you should go home and wash up first.”

Dokter yang bertugas di IGD itu memberikan lembaran, di sana tertulis beberapa tindakan medis yang diberikan pada Dian.

“Doctor Elizabeth comes at 10 am, she will check your wife’s condition and inform you. We are not competent to explain.”

Kepala ini mengangguk lemah, menyerahkan lembaran kertas yang telah kutandatangani. Aku tahu, dokter ini mengikuti protokol yang berlaku di rumah sakit ini. Ia hanya membantu mengatasi kedaruratan pasien untuk kemudian diserahkan ke perawatan lanjutan sesuai kondisi penyakitnya.

Namun, apakah ia sama sekali tak bisa menangkap keresahan di wajahku? Aku hanya butuh kepastian, apakah Dian baik-baik saja. That’s all.

***

Hatiku mencelus perih, dada ini bagai diremas oleh tangan tak kasatmata. Mata ini memanas, memandangi sosok yang tertidur dengan damai dari balik dinding kaca, mengeja satu demi satu yang ada di dirinya.

Selang infus menancap di pergelangan tangan, mengalirkan asupan makanan yang ia butuhkan. Begitu pun dengan selang kecil melingkari kepala, kedua ujungnya menempel di hidung, membantu dada itu tetap bergerak naik turun.

Layar di samping ranjang menampilkan garis bergerigi, memastikan kehidupan itu masih ada. Banyak kabel terhubung dengan tubuh Dian, sedangkan beberapa monitor lainnya melaporkan kondisi vital.

“Pak Niko, boleh ikut saya?”

Aku menoleh ke samping, mendapati perempuan bermata sipit. Dokter Elizabeth Chow adalah salah satu dari sekian banyak warga keturunan campuran yang ada di Singapura. Darah Melayu dan Tionghoa mengalir di nadinya.

Kemampuan berbahasa Indonesia perempuan itu tidak terlalu buruk meski diikuti aksen Melayu, tetapi bisa membuatku dan Dian seperti berada tak jauh dari rumah.

“Limfosit dalam darah berkaitan dengan imunitas. Ibaratnya bala tentara yang jadi perisai, kekebalan tubuh berasal dari sel darah putih yang terbentuk dari pematangan sel punca. Pada penderita penyakit LLA seperti Ibu Dian, proses pematangan ini mengalami gangguan, di mana sebagian besar limfoblas tidak berubah menjadi limfosit. Akibatnya apa? Kemampuan tubuh untuk melawan infeksi akan terganggu.”

Penuturan Dokter Elizabeth memunculkan pening di kepala ini, otakku berdenyut nyeri. Dokter Fauziyah yang sebelumnya merawat Dian ketika masih di Jakarta pun sama. Tak bisakah para dokter ini cukup menyebutkan dua kemungkinan saja. Sembuh atau tidak.

“Pada sebahagian orang, mostly the chemotherapy effect decreases sexual desire, i am amazed by your wife’s stamina.”

Dokter Elizabeth mengekeh geli, aku merasa tersindir sampai tak bisa menyamarkan gurat malu di wajah ini.

“Saya berpikir, ini sesuatu hal yang patut kalian syukuri. Many couples are unable to provide comfort after therapy, you know? A good bond is necessary for cancer survivors.”

“Sorry but … if I had known about this, saya tidak akan menurutinya.”

Tubuh ini menegang membayangkan betapa banyak cairan merah berceceran sepanjang aku menggendongnya. Niko bodoh! Sekali lagi, aku tak mampu meredam nafsu.

“Kondisi Ibu Dian ini bukan salah anda. Jika terjadi pada orang dewasa, LLA memang akan lebih sulit disembuhkan karena bersifat agresif dan pertumbuhannya cepat. Namun, kami berusaha semampu kami melawan infeksi dan pendarahan yang dialami pasien.”

Kaki ini bagai tak berpijak sekarang, susah payah aku menjaganya selama ini hingga memperlihatkan hasil yang cukup menggembirakan, tetapi aku juga yang menghancurkan semua harapan itu.

“Is there any hope, Dok?” Sungguh, aku tak mampu meneruskan kata yang ingin terucap.

Syukurnya dokter di depanku ini bisa memahami dan memberi anggukan kecil.

“Saat ini terapi yang paling cocok adalah pencangkokan sumsum tulang, andai saja Ibu Dian memiliki saudara sekandung. Kita bisa melakukan serangkaian tes untuk memeriksa kecocokan DNA …” Dokter Elizabeth mengembuskan napas sejenak, “… hanya saja prosesnya butuh waktu berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan. Jika kondisi Ibu Dian semakin menurun, akan semakin sulit untuk dilakukan pencangkokan.

***

“Ko ….” Dian memanggil lirih, matanya membuka, mengindera seluruh ruangan.

“Kamu udah sadar?”

Satu sekat di dada ini terangkat, ada kelegaan meski beban lainnya masih menghimpit kuat. Berlapis sarung tangan, aku membelai pipinya, wajahnya pucat, tanpa rona sama sekali. Padahal aku begitu rindu ingin menyentuhnya tanpa pembatas seperti sekarang.

Namun, karena kondisi tubuh Dian yang rentan terserang infeksi, aku mengubur keinginan itu dalam-dalam jika tak ingin ia terpapar bakteri atau virus dari luar.

“Istirahat saja dulu, biar cepat sembuh.”

“Selama masih ada waktu, aku pengin ngeliat kamu terus.” Dian menggeleng, memaksakan senyum saat pandangan kami bertemu.

Aku mengelus pergelangan tangan yang tertancap infus dan terhubung ke peralatan medis.

“Maaf, udah bikin kamu seperti ini.”

Dian kembali menggeleng, “Ini bukan salahmu, Ko. Justru aku bahagia banget malam itu.” Ia memalingkan wajah, menerawang ke plafon.

“Terima kasih sudah menjadi suami terbaik selama ini.”

Kepalan di jari ini menguat, tidakkah Dian tahu jika saat ini aku sedang berusaha menampilkan wajah kuat serta menahan air mata? Aku tak ingin Dian melihat diri ini terpuruk dalam keadaan mengenaskan meski ucapan yang ia lontarkan memporak-porandakan hatiku.

Aku menolak menerima kenyataan jika saat ini Dian seperti sedang memberi ucapan perpisahan.

“Mbak Aira ….” Aku kembali meraih jemari kurusnya.

“Kamu pengin ketemu Aira?” Lebih dari ini, aku tak sanggup lagi menahan air mata ini. Dian mengulas senyum.

“Dia udah janji buat jagain kamu kalo aku kenapa-napa.”

“Please, Di. Jangan gini.” Aku tak mampu lagi membendungnya, cairan panas meleleh, menganak sungai.

“Ish, cengeng.” Jemarinya terulur mengusap pipi ini.

“Inget enggak, Ko? Waktu awal kuliah aku pernah dekat sama Rendi?”

Aku mengangguk, mana mungkin lupa. Karena hal itu, aku sampai kehilangan nalar. Mabuk, nyaris terkapar.

“Aku sama sekali enggak ada hubungan sama Rendi. Maaf, ya, udah bikin kamu sedih.” Dian tersenyum geli.

“Tapi, syukurlah. Mbak Aira ngurusin kamu dengan baik.”

Tengkukku meremang, apa Aira menceritakan semuanya? Oh, tidak. Dian pasti membenciku.

“Aira bilang apa aja?” Aku bertanya pelan dengan perasaan ketar-ketir. Teringat dosa yang pernah kulakukan.

“Enggak ada lagi, aku yang salah. Harusnya aku jujur dari awal.” Dian kembali menatap langit-langit ruangan, “Kita pasti sempat ngelakuin banyak hal sebelum aku sakit gini.”

“Ki-ta masih bi-sa ngelakuin ba-nyak hal, Di.” Aku berbisik lirih, suara ini teramat susah untuk kulontarkan, tersekat di tenggorokan.

Dian tertawa pelan, lantas tiba-tiba batuk.

“Enggak, kamu bisa ngelakuin itu sama Mbak Aira nanti.” Ia mengelus lenganku.

“Janji, ya, untuk tetap sehat biar pun aku enggak ada. Hiduplah dengan bahagia.”

Tangan Dian terkulai, darah segar kembali tersembur saat ia batuk. Dian tampak susah payah untuk mengembuskan napas. Tubuhnya tiba-tiba kejang. Aku memencet tombol darurat berkali-kali, memanggil petugas medis.

Tim medis berlarian menangani Dian, tinggallah aku menatap nanar keadaan darurat yang sedang ditangani dokter. Tak ada yang bisa kulakukan, hanya bisa menangis dari balik kaca pembatas ICU.

Rona bahagia terbit ketika melihat Dian tertidur tenang. Namun, semua berganti nestapa ketika Dokter Elizabeth menghampiriku dengan sorot penuh kesedihan.

“Ibu Dian has just passed away, we are deeply condolance for you, Pak.”

Semua tim medis bergantian menyalamiku, ikut berduka. Kebersamaan dengan semua tim medis yang merawat Dian selama enam bulan bukan waktu yang singkat bahkan sudah seperti keluarga. Mereka tak pernah letih selama ini, selalu siaga mendampingi kami.

“Terima kasih,” jawabku dengan suara serak.

Satu persatu mereka melangkah meninggalkanku, otak ini tak bisa berpikir dengan normal sekarang, blank. Kesepian seketika menyergapku.

Ya, Tuhan, Dian benar-benar meninggalkanku, selamanya.

***

Lima tahun kemudian,

Aku benar-benar terpuruk setelah kepergian Dian, jatuhnya lebih mengenaskan dibandingkan ketika stasiun televisi kami berjuang melawan pandemi. Separuh diriku ikut hilang saat itu, aku bahkan tak tahu lagi bagaimana bisa mengembalikannya.

Hampir setiap hari, aku mengunjungi makamnya, bercerita banyak pada Dian, meski di depanku hanya nisan yang tak bisa menjawabku.

Ayah dan Ibu sudah kehilangan akal menghadapi diri ini. Mama lebih sering memberi nasihat. Sedangkan Aira membantu mengurusi stasiun televisi milikku, ia tampak menikmati pekerjaannya. Sesekali ia mampir untuk berdiskusi. Tak ada yang lebih, Aira tak pernah menyinggung dan menghakimi. Ia membiarkanku berada di dunia yang kubangun sendiri.

“Dian pasti akan sedih kalau ngeliat kamu seperti ini, Ko.” Mama Ratih membuka kamar, ia tampak prihatin menatapku.

“Mau sampai kapan kamu seperti ini?”

“Enggak papa, Ma. Niko enggak pengin apa-apa lagi.” Aku mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan.

Dinding kamar Dian penuh dengan gambar dirinya yang penuh tawa. Seperti itu aku mengenangnya, biarlah kesedihan ikut terkubur bersamanya.

“Kamu enggak niat buat nikah lagi? Udah lima tahun loh, Ko. Kamu juga harus ngelanjutin hidup.”

Mama Ratih berdiri di sampingku, memicingkan mata pada kertas kanvas di depanku. Aku menggambar, sketsa wajah Dian.

“Aku bahagia bisa menemani Mama seperti sekarang.” Tanganku kembali melanjutkan arsiran yang terjeda ketika Mama masuk.

“Ko, ini laptop Dian. Mama nyimpen ini buat kenang-kenangan. Tetapi kayaknya kamu lebih butuh ini dari pada Mama.”

Bagaimana aku bisa melangkah jika selama lima tahun ini aku terus hidup dalam bayang-bayang rasa bersalah. Dian mungkin saja masih ada sampai hari ini andai saja aku bisa menahan diri sedikit saja.

“Setelah kamu liat, Mama harap kamu bisa mewujudkan impian Dian. Bukan seperti ini yang Di inginkan. Di selalu ingin kamu bisa bahagia, dengan atau tanpa dirinya.”

Aku hanya diam ketika Mama meninggalkanku. Langkah ini kubawa ke ranjang lantas menyalakan laptop membuka satu demi satu folder yang tertata rapi. Sebagian besar adalah naskah cerita yang belum diubah ke bentuk skenario. Impian terbesar Dian adalah menuangkan semua naskahnya menjadi sebuah film pendek. Kenapa aku sampai melupakan itu?

Satu folder menarik perhatianku, Dian memberi nama ‘MyOtherHalf’. Mata ini membola melihat kumpulan fotoku ada di sana. Sejak kami masih sama belia hingga foto punggungku di balkon Lucky Plaza. Kapan ia mengambil semua momen itu?

Sebuah notes, ditulis di tanggal 1 Januari 2021. Catatan terakhir sebelum Dian berpulang. Singkat tetapi begitu dalam untukku, mengurai semua kekusutan di kepala ini. Aku masih belum terlambat untuk mewujudkan impian Dian, masih banyak waktu untuk menepati janji padanya.

Terkadang kita menganggap diri kita tak beruntung atas apa yang digariskan hari ini, tetapi yakinlah esok pasti akan ada banyak hal baik yang menanti kita.

Tamat