Dian Story Part 8

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9

Cerita Sex Dewasa Dian Story Part 8 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Dian Story Part 7

Mama menuntunku ke ruang tamu, ruangan empat kali empat meter persegi yang menyatu dengan dapur bersih di sudut kiri. Mama berdeham pelan saat membantuku duduk di sofa. Laki-laki yang tengah menekuri lantai itu sontak mendongak. Masker menggantung di lehernya.

Laki-laki dengan dahi lebar dan alis tebal rapi. Mata itu menyipit, menyorot tajam padaku.

Ah, aku rindu dengan tatapan itu.

“Apa kabar? Lo enggak kaget liat gue udah botak gini?”

Aku tak tahu harus bilang apa. Segala rasa di dada ini serasa tumpah ruah. Kisruh, gaduh. Melihat laki-laki di depanku diam saja, Mama pun nyeletuk, mencairkan kaku di antara kami.

“Niko mau minum apa?”

Niko cengengesan, memasang tampang paling menyebalkan. Dulu, aku paling jengkel kalau ia seperti itu. Namun sekarang, rasanya ingin melemparkan diri ke pelukannya. Rindu ini membikin nalarku menghilang entah ke mana.

“Aku boleh ngajak Dian keluar, Tante?”

Pandangan ini menangkap seulas senyum di bibir Mama, “Tentu aja boleh. Tapi pakai kursi roda ya. Tunggu Mama ambilin di kamar.”

Sepeninggal Mama, mata ini bergulir pada sosok yang masih betah dengan diamnya. Apa yang ada di pikirannya? Bahkan ketika pandangan kami bertemu, ia malah memalingkan wajah ke arah lain.

“Lo kenapa? Lagi sakit?”

Niko menggeleng lantas berdiri, melangkah mendekatiku. Aku terpekik sesaat ketika ia menyelipkan lengannya di bawah lutut. Wangi musk bercampur kayu manis memenuhi indra ketika lengan ini mengalung di bahunya. Niko menggendong lalu membantuku duduk. Rupanya Mama sudah ada di belakangku dengan kursi roda.

“Niko sama Dian jalan di taman bawah aja kok, Tan.”

Mama menepuk bahu Niko, “Baru aja Tante mau ngomong. Dian enggak bisa jalan jauh.” Mama memasang masker untuk menutupi hidung dan bibirku.

“Lagian sekarang virus banyak. Kamu tahu kan? Dian rentan kena infeksi.”

“Iya, Tan. Enggak ke mana-mana kok.” Setelah memakai masker, Niko mengambil alih pegangan kursi dari Mama, kemudian mendorong kursi rodaku menuju lift yang ada di sayap Utara unitku. Tower Residen Apartemen ada empat, semuanya dihubungkan oleh kapsul-kapsul transparan yang memanjang sesuai arah mata angin.

Niko mendorong kursiku ketika kotak aluminium di depan kami membuka lalu memencet tombol lantai dasar sebagai tujuan kami. Tak ada siapa-siapa di dalam lift, hanya kami berdua.

Punggungku menegang ketika lengan Niko mengalung di bahuku. Dagunya tepat di pucuk kepalaku.

“Gue kangen banget, Di,” ucapnya serak.

Jemariku terangkat, mengelus tangannya lantas tersenyum tipis.

“Gue juga.”

Beberapa jenak lamanya, aku hanya diam menikmati kebersamaan dengannya, menghidu aromanya, berharap keintiman ini tak pernah berakhir hingga suara dehaman mengagetkan kami berdua.

“Wih! Kakak Di lagi ngapain? Itu siapa?”

Di depan pintu, seorang anak laki-laki bertubuh tambun pura-pura menutup mata, tetapi mengintip dari balik jemari. Kedua orang tuanya terbahak karena kelakuan si bocah. Mereka melangkah masuk dengan tetap menjaga jarak.

Semenjak pandemi, pelaksana unit apartemen menetapkan aturan, lift hanya bisa diakses oleh enam orang saja sekali jalan.

“Lo kenal sama bocah tadi?” Niko bertanya ketika rombongan keluarga itu berhenti di lantai lima.

“Namanya Bima, penyakitnya sama dengan gue.”

Hati ini pasti mencelus jika mengingat cerita dari ibu Bima. Seorang anak yang berjuang melawan leukemia sejak ia berusia dua tahun. Di tahun 2018, Bima sudah dinyatakan selesai pengobatan, sayangnya hanya beberapa bulan, penyakitnya kembali menggerogoti sampai Bima sempat kehilangan kesadaran karena penumpukan cairan di otak, seperti penyebab kematian yang merenggut Papa dari kami.

“Tapi dia kok bisa segendut itu?”

“Enggak tau juga, karena pengobatannya kali. Gue enggak enak buat nanya-nanya.”

Bukan apa-apa, semuanya membuat hatiku teriris perih, mengingatkan diri ini pada Papa. Yah, Mama akhirnya jujur setelah memyembunyikan rahasia itu sekian lama. Penyakit Papa menurun padaku.

“Tapi dia semangat banget ya, Di.”

Niko mengarahkan kursi rodaku ke jejeran Asoka yang terpangkas rapi, membentuk pagar hidup setinggi betis dengan tempat duduk berbahan kayu hitam di sampingnya, memisahkan area taman dan kolam renang. Niko memasang tuas rem, lalu duduk di kursi, menghadapku. Tangannya terulur menggenggam jemari ini.

“Semangat lo jangan kalah dari Bima.”

Aku tertawa pelan, bukan bahagia teetapi kelesah, sampai air mata ini keluar. Niko sontak berdiri mengusap pelupuk mata ini kemudian memelukku.

“Gue yakin lo bisa sembuh, Di.”

“Tapi gue enggak yakin, Ko. Seperti lo yang enggak pernah datang nemuin gue,” jawabku sarkas lantas kembali tertawa sumbang.

“Lo enggak bisa nerima kondisi gue kan?”

“Sorry ….” Niko kembali duduk dengan jemarinya kembali menggenggam tangan ini.

“Maafin gue yang pengecut ini, Di.” Ia berucap teramat lirih, nyaris tak terdengar. Namun aku tahu, apa yang Niko ucapkan.

Pandangan ini bergulir bergantian, pada jemari yang saling bertaut lalu beralih ke bola mata hitam kelam miliknya.

“So, ngapain lo di sini? Ngabisin waktu lo aja.”

“Gue nyadar kalo hanya elo, Di.”

Niko memalingkan wajah, menyembunyikan semburat merah muda yang tiba-tiba muncul di pipinya. Ia berdeham lantas menyapukan pandangan padaku.

“Menikah denganku, Di.”

Aku nyaris tersedak ludahku sendiri. Mata ini membola tak percaya. Niko mengganti penyebutan kata gue dangan aku, sesuatu yang amazing menurutku. Seumur-umur aku mengenalnya, baru kali ini ia seperti sekarang.

“Aku serius,” ucap Niko tegas, mengembalikan kesadaranku. Dia masih menggunakan kata ganti yang tak pernah kudengar darinya.

“Gue enggak pantas buat lo, Ko.” Aku menggeleng, menolak lamarannya adalah keputusan terbaik yang bisa kulakukan. Apa yang Niko harapkan dari perempuan penyakitan yang tinggal menunggu ajal sepertiku?

“Aku denger dari Tante Ratih, penyakitmu ini turunan Om Bram. Kamu enggak pernah nyoba nanya ke keluarga Papa kamu? Siapa tahu mereka ada yang cocok dan bersedia ngedonor?”

Aku terdiam beberapa saat lamanya, lalu menggeleng. Selain karena pusing dengan gaya bicara Niko yang tiba-tiba berubah. Aku dan Mama memang tak pernah menghubungi keluarga dari pihak Papa.

“Biar aku yang coba ketemu mereka. Aku yakin ….”

Tangan ini mengelus pipinya, bisa kurasakan tubuhnya menegang, tak meneruskan ucapannya. Niko tampak menelan ludah sebelum akhirnya berhasil menguasai diri.

“Enggak usah, Ko. Nanti biar gue ngomong ke Mama soal itu.”

“Tapi, Di-” Niko menggaruk kepala frustrasi.

“Sial! Kenapa harus kamu yang seperti ini?”

Kepalanya jatuh di pangkuanku, tangannya mencengkeram erat kaki kursi rodaku, paha ini terasa basah. Apa Niko menangis?

“Hei, lo kenapa?”

Jemari ini menangkup pipinya, ia menggeleng ketika tanganku mencoba mendongakkan kepalanya. Niko memilih terus membenamkan wajah di pangkuanku.

“Please, Di. Menikah denganku.” Suaranya serak menahan tangis.

“Kalo kamu enggak pengin aku ngebantuin mencarikan donor, seenggaknya jangan tolak aku, Di.”

“Ko, gue bahkan enggak tahu bisa bertahan berapa lama. Lo itu hanya bakal buang waktu kalo sama gue.” Aku mengembuskan napas kasar.

“Lo tuh cocoknya nyari perempuan yang sehat, yang baik, yang sayang lo. Lo jangan gini lah, gue tahu lo tuh cuman kasian kan ke gue?”

“Enggak, Di! Aku serius. Saat kita jalan kemarin, sebelum kamu pingsan, kamu denger kan, aku ngomong apa?”

“Cinta?”

Aku kembali tertawa, mendongak pada lembayung jingga menghiasi langit. Semburat oranye memanjang ke Barat yang akan hilang dan berganti gelap ketika matahari kembali ke peraduan.

Aku menekuk punggung, setengah membungkuk hingga bibir ini sejajar dengan telinganya.

“Gue mungkin enggak bisa menuhin tugas sebagai istri, Ko. Lo tahu itu,” bisikku pelan sembari mengelus rambut ikalnya.

“Pernikahan bukan hanya sekadar urusan biologis, Di. Aku jamin, kita akan ngelakuin banyak hal nanti. Aku yakin kamu kuat. Kamu pasti bisa pulih seperti dulu,” ucapnya optimis sembari menganggukkan kepala.

Niko masih tak mau kalah, ia menegakkan punggung di sandaran kursi. Pandangan kami kembali bertemu, sepasang mata itu sedikit memerah. Aku tahu jika sejak tadi, Niko berusaha menyembunyikan tangis. Dalam keadaan apapun laki-laki selalu berusaha untuk tak memperlihatkan air mata. Padahal itu manusiawi, bukan kelemahan.

Niko kembali meremas jemari ini.

“Please, marry me, Di.”

***

Dian

Niko pulang dengan hati kecewa, seperti laki-laki itu, aku pun butuh waktu untuk memantapkan perasaan ini. Honestly, aku sungguh bahagia dengan semua kata cinta dan ajakan menikah darinya.

Namun, di satu sisi yang lain, aku masih gamang. Meragu selalu menjadi pilihan perempuan jika hati menginginkan lebih sedangkan otak mengajak berlogika.

“Di, apa yang kalian omongin barusan?” Mama mengusap lengan ini lalu mendorong kursi rodaku ke minibar di samping dapur.

“Niko ngajakin Di nikah, Ma,” ucapku sambil berusaha tetap tersenyum.

“Gimana mualmu?” Mama mengambil beberapa jenis sayuran dari kulkas.

“Masih suka mual muntah, Ma.”

Pandangan ini bergerak mengikuti, ia menuju wastafel, mencuci sawi, kale, bayam dan lobak satu persatu lantas memotong bahan-bahan itu dan memasukkannya ke dalam panci berukuran sedang di atas kompor yang sebelumnya sudah diisi air dan ditambahkan sejumput garam.

“Bukannya Mama udah bilang, kamu tuh harus makan setiap dua atau empat jam, Di.” Mama mengatur api dengan temperatur sedang.

Tak lupa menyetel timer agar sup sayuran tidak bertekstur lembek dan terlalu matang. Ia kemudian berbalik mendekat padaku.

“Kamu bahkan enggak nyentuh roti sama salad buah yang udah Mama siapin buat kamu.” Matanya melirik ke atas meja.

“Di Makan kok, cuman enggak bisa ngabisin semua. Perut Di rasanya penuh, Ma.”

“Kamu butuh orang yang bisa ngurusin hal-hal ginian, Di. Kamu butuh Niko.”

“Ish, Mama ini. Niko tuh punya banyak kerjaan. Di enggak mau, dia ngabisin waktunya cuman buat ngerawat aku.”

Membangun rumah tangga bisa diibaratkan seperti pekerjaan konstruksi sebuah jembatan. Ada tiang-tiang yang dibutuhkan untuk memperkokoh dan menjadikannya keluarga yang tangguh. Jika tiangnya tak kuat atau dicabut, tentu jembatan keluarga itu terancam roboh.

Bagaimana kami berharap kehidupan kami akan baik-saja jika pondasinya memang sudah rapuh sejak awal?

“Di, ngerasain ragu pada pasangan itu wajar, tapi jangan kamu biarin berlarut-larut.”

Denting penanda waktu membuat Mama beranjak mendekati kompor. Setelah mematikan api, Mama memindahkan sup sayuran itu ke mangkuk, lalu kembali duduk di sampingku.

“Komunikasi, Di. Penting banget itu, cari akar masalah keraguan kamu. Jangan karena Niko enggak pernah jenguk, kamu pikir perasaannya ke kamu tuh udah berubah.” Mama menyuapiku, ia terlihat puas ketika makanan itu tandas di mulut.

“Tanyakan ke diri kamu sendiri, sebelum ini apa Niko pernah ngecewain kamu?”

Aku menggeleng sambil menguyah, Niko memang tak pernah sekalipun membuat kecewa. Di sela kesibukannya ia selalu ada untukku. Bahkan siaga sebagai tamengku.

“Pandemi bikin semuanya ambruk, Di. Niko pasti usaha stasiun televisinya bisa bertahan. Ada banyak mulut yang harus Niko selamatin.”

Mama mengembuskan napas kecewa ketika tanganku menahan jemarinya, perut ini bergolak hebat. Mama membantuku melangkah ke wastafel. Aku memuntahkan makanan setelah suapan kelima.

“Apa Niko bisa ngurusin aku seperti Mama sekarang?”

Aku menoleh dengan mata memerah sembari meraih gelas air minum yang diukurkan Mama.

Rasa mual yang coba kutahan membikin air mata ini nyaris keluar.

“Bukannya Niko udah bilang bersedia?”

Aku menelan ludah getir, Niko memang berjanji untuk itu, tetapi sampai kapan ia bisa bertahan? Penyakit ini semakin menggerogoti tubuhku, kurus, rapuh, sekarat.

“Gimana kamu mau tahu, kalau enggak dicoba?”

Ucapannya seolah mengerti perasaan ini, Mama mengusap punggungku lalu menuntun ke lamar. Aku menolak lanjut menghabiskan makanan. Mama tak pernah menghakimi, semenjak menjalani perawatan, ia selalu sabar menghadapi keras kepalaku.

Betul kata Dokter Fauziyah, pasca perawatan akan lebih menyiksa, menyerang psikis dan mental penderita. Seperti aku sekarang, rasa rendah diri semakin sering saja muncul.

“Kamu istirahat saja.”

Mama membantuku berbaring setelah melihatku menenggak obat yang ia siapkan di atas nakas.

“Mama enggak pengin kamu ngerasa tersudut, tapi Mama harap kamu pertimbangin lamaran Niko.”

Aku tak mampu menjawab, bahkan ketika sosok Mama menghilang dari balik pintu, aku masih saja diam, terombang ambing dalam kegamangan.

Bagaimana kalau nantinya Niko tidak kuat menjalani pernikahan denganku?

Bagaimana diri ini yakin kalau Niko bukan hanya kasihan melihat kondisiku?

Kalau pun nantinya Niko tak melanggar janji, apa Tante Marisa dan Om Pras mau menerima?

Bagaimana kalau nantinya Niko menduakanku jika ia merasa tak puas dan mencari pelepasannya di luar?

Aku tak tahu akan berapa lama lagi sisa usia ini, Mama pun tak bisa selalu ada mengurusku, ia masih harus bekerja untuk bertahan, tak mungkin membiarkannya kerepotan. Aku butuh seseorang yang mendampingi saat menjalani perawatan di Malaysia nanti. Orang kedua yang membuatku selalu ingin hidup lebih lama lagi.

Butuh beberapa saat lamanya, aku memikirkan sisi positif dan negatif jika diri ini menerima atau menolak dari lamaran Niko. Tubuh ini perlahan kutegakkan, menyandar di ranjang. Tanganku terulur meraih ponsel lalu membuka galeri, menatap satu demi satu foto Niko yang Aira kirimkan padaku

Selain Niko, Aira adalah sahabat yang baik, selalu menyemangati meski mungkin merasa sakit. Entahlah, sampai saat ini aku masih menduga jika perempuan itu menyayangi Niko. Aira tidak cukup pandai menutupi perasaannya meski selalu menyangkal.

Setelah puas mengeja semua gambar, jemari ini bergulir ke aplikasi berlogo hijau lantas mengetikkan pesan.

Ko, gue bersedia nikah sama lo.

Jika aku butuh beberapa jenak lamanya untuk memantapkan hati mengirim pesan singkat itu. Namun tidak dengan Niko, ia membalas cepat. Rentetan whatsapp darinya masuk sepersekian detik setelah jemari ini menekan tombol kirim.

Thank you, Di.

Aku seneng banget.

Aku bilang ke Ayah dulu.

Separuh hati ini menghangat, sisi lainnya mencelus perih ketika membaca pesan dari Niko. Cairan bening mengambang, memanas di pelupuk mata. Aku meraih bantal, menutup wajahku, meredam tangisan yang tiba-tiba saja menyeruak.

***

Niko

Aku bersyukur Ayah menyambut baik niatku menikahi Dian secepatnya. Kami menyiapkan segalanya berdua dibantu keluarga dekat. Tidak banyak, hanya mengurus surat izin nikah di KUA terdekat dari domisili Dian sekarang serta beberapa pengurusan administrasi lainnya.

Om Rendra, adik dari Om Bram, Papa Dian, bersedia menjadi wali nikah. Aira bersama teman lain dari NikTV membantu mengurusi dekorasi, makananan, serta embel-embel lainnya. Hampir sebulan persiapan rampung, Covid-19 membuat segalanya lebih ringkas. Meski Ibu sampai saat ini masih menentang, setidaknya ia tidak merusak rencanaku.

Aku pun bersyukur, hari ini Dian tampak segar bugar meski beberapa hari sebelumnya sempat menjalani kemoterapi dan transfusi karena kondisinya yang tiba-tiba drop.

Jangan tanyakan bagaimana denganku, di ruang tamu apartemen Dian yang telah disulap Aira menjadi ruang akad, berhadapan dengan keluarga Dian, penghulu, dan saksi, aku sedang berusaha meredakan debaran jantung yang seolah ingin meloncat keluar dari rongga dada. Gemuruhnya seakan terdengar sampai ke semua telinga hadirin.

“Niko Darmansyah, saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan Dian Imrani binti Bramantyo Sudrajat dengan mas kawin seperangkat alat shalat dan perhiasan emas seberat dua puluh gram, dibayar tunai.” Om Rendra menjabat tanganku, senyum hangatnya melumerkan dingin di seluruh telapak tangan ini.1

“Saya terima nikah dan kawinnya Dian Imrani binti Bramantyo Sudrajat dengan mas kawin tersebut dibayar tunai.”

Ucapan hamdalah bergema di seluruh ruangan menandakan sahnya pinangan, Dian resmi menjadi istriku.

Dian tampak memesona dengan kebaya brokat putih dengan bros bunga berwarna keemasan. Mahkota untaian melati menudungi kepalanya yang tertutup wig. Jemarinya terulur meraih tangan ini, lantas menciumnya.

Aku tersenyum lebar, meraih tubuh mungil Dian lalu merengkuhnya ke dalam pelukan, lantas berbisik pelan. “Halo, istriku.”

Para keluarga, kerabat dan sahabat mendekat memberikan selamat dan doa yang kami sambut dengan senyum serta ucapan terima kasih.

Aira memekik senang, ia menangkup pipi Dian lalu memeluk sahabatnya.

“Congrats, ya, Di. Or may i call you Mrs. Niko Darmansyah?”

Pandangan ini tak pernah lepas dari interaksi keduanya, Dian merengut malu,

“Apaan sih, Mbak. Gue masih sahabat lo kali.”

“Yup! Of course. Selalu.” Aira kembali memeluk Dian, mengelus punggungnya.

“Makanya lo harus janji buat sembuh. Gue bakal marah kalo lo enggak nepatin itu.” Aira lantas menoleh padaku, ia tersenyum lebar sembari meninju dada ini.

“Congratulation, Ko. Gue titip Dian, awas aja kalo lo bikin dia nangis.”

“Siap, Bos!”

Aku mengangkat tangan ke dahi, menunjukkan gerakan menghormat, Dian tertawa kecil melihat tingkahku. Gemas, tanganku meraih pinggangnya mendekat. Aku senang, ia tampak begitu bahagia.

Para tamu, keluarga, kerabat serta Aira dan teman-teman NikTV sudah pulang duluan, meninggalkan kami dengan keluarga inti. Ibu yang semula menentang pernikahanku tetap hadir. Sejak tadi ia tak banyak bicara, dengan Tante Ratih pun ia tampak kaku.

Dada ini kembali berdebar keras ketika ia mendekat. Aku berharap Ibu tak bicara macam-macam. Satu tangannya terulur mengusap pipi Dian lalu memeluk perempuan yang sekarang sudah resmi menjadi menantunya.

“Selamat, ya, Di. Maafin Ibu yang sempat enggak bisa nerima kamu.”

Ibu melepas pelukannya, lalu mengambil kotak merah berbahan beledu dari tas. Aku tahu, itu perhiasan turun temurun keluarga Darmasyah, gelang emas bulat dengan aksesori berbentuk bola di kedua ujungnya. Ibu memasangnya ke tangan Dian.

“Selamat datang di keluarga kami.”

Napasku sesak, lidah ini terasa kelu. Aku tak tahu seperti apa wajah ini sekarang. Semua rasa bercampur aduk, bahagia dan haru jadi satu. Mama Ratih dan Dian terisak di sampingku. Dari sekian banyak bingkisan dan tanda mata dari semua tamu. Hadiah ini yang paling kami nantikan. Restu dari Ibu.

Bersambung