Dian Story Part 7

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9

Cerita Sex Dewasa Dian Story Part 7 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Dian Story Part 6

Tante Ratih menjawab panggilanku, untung saja aku berinisiatif menghubungi saat mobilku meninggalkan parkiran gedung NikTV. Jika tidak, aku pasti akan mendatangi rumah sakit yang salah.

Sesuai petunjuk Dokter Fauziyah, Dian akhirnya dirawat di rumah sakit khusus kanker, fasilitasnya juga lebih lengkap. Kendalanya hanya satu, jaraknya yang cukup jauh dari rumah mereka.

Tante Ratih sampai menyewa satu unit flat yang lokasinya berdekatan sehingga ia dan Dian tak perlu bolak balik. Pantas saja Niko tak bisa menjawab perihal Dian tadi, rumah mereka kosong.

Hati ini mencelus melihat kondisinya. Selang infus menancap di lengannya. Tante Ratih menyebutnya sebagai bagian dari terapi yang harus Dian jalani. Obat-obatan dimasukkan melalui injeksi ke pembuluh darah yang diharapkan mampu menghancurkan sel kanker dan menghambat pertumbuhan sel kanker baru.

“Gimana keadaan lo?”

Dian meringis, berusaha untuk tersenyum. Seperti biasanya, ia selalu berusaha untuk tetap terlihat kuat. Hanya saja, mendung di wajahnya tak mampu menyembunyikan kesepian selama menjalani pengobatan menyakitkan beberapa hari ini.

“Mbak Aira, gue mungkin bakal ngajuin resign deh.”

Alisku sontak mengerucut mendengarnya, “Loh? Kenapa, Di?”

“Lo kan tau, Mbak. Gue harus fokus berobat … kalau pengin sembuh.”

Ah, i see.

“Andai saja kita punya kesamaan gen, gue mau kok ngedonor buat lo.” Tangan ini terulur menggenggam jemarinya yang kurus dan rapuh.

“Thanks, Mbak. Kata dokter, ada metode pengobatan baru,” ucapnya sambil tersenyum semringah.

“Mama udah ngerencanain ngelakuin itu.”

“Dokter Fauziyah yang bilang? Kemungkinan sembuhnya gimana, Di?”

“Buat kasus gue, around sixty to eighty.”

“That sounds good. Gue bilang ke Niko, ya.”

Tangannya menahan gerakanku membuka tas ingin mengambil ponsel.

“Jangan, Mbak, ini masih perkiraan, bisa saja kurang dari itu. Gue enggak mau dia makin kecewa.” Dian mengembuskan napas pelan, “Kemarin aja, dia enggak berani ketemu gue.”

“Tapi gue yakin dia cinta lo, Di. Niko sayang banget sama lo.” Tentu saja aku tahu, di hati Niko hanya ada sahabat kecilnya.

“Gue tahu, Mbak. Dia sempat ngomong kok ke gue. Sayangnya itu sebelum dia tahu kondisi gue.”

“Gue rasa ….” Sakit memang tetapi aku masih saja keras kepala. Tetap berusaha menyemangati seseorang dengan laki-laki yang juga ada di hati ini.

“Udahlah, Mbak. Niko butuh sendiri dulu sekarang. Dia pasti perlu untuk mikir ulang.” Dian memalingkan wajah, pandangannya menatap plafon putih di atasnya.

“Kalau gue jadi dia, gue pasti akan melakukan hal yang sama.”

“Mikir apaan?”

“Menikahi perempuan penyakitan itu butuh kesabaran tanpa batas, Mbak.” Pandangannya menyorot sendu, “Perlu menyiapkan diri jika sudah tiba saatnya, perempuan itu akan meninggalkannya.”

Aku menelan ludah getir, tak menyangka Dian akan berbicara seperti ini padaku. Ia menoleh sembari tersenyum.

“Kalau waktu itu tiba, lo harus janji, Mbak. Jangan pernah ninggalin Niko sendiri. Dia laki-laki, tapi kadang jauh lebih melow dari perempuan.”

Aku mengekeh membenarkan, Niko memang sesentimental itu. Seperti malam sembilan tahun yang lalu, ia muncul di unitku dalam keadaan mabuk dan hancur, hanya karena salah paham, ia menyangka Dian punya pacar.

Begitu juga seminggu kemarin, bagaimana ia tanpa pikir panjang meninggalkan meeting lalu kembali mabuk ketika tahu ada penyakit ganas yang menggerogoti sahabat kecilnya, seakan dunia berhenti karenanya.

“Niko selalu bilang, romantisme dalam pernikahan terkadang akan hilang seiring bertambahnya usia, yang bisa nyelamatin itu hanya persahabatan. Makanya he will marry his best friend …” Pandangannya kini bergulir ke wajah ini sembari tersenyum.

“… lo juga sahabatnya.”

“Ish, enggak usah ngomong macem-macem.”

Aku berdecih pelan lantas mengelus lengannya. Membiarkan Dian terus berpanjang lebar sama saja membiarkan Tante Ratih terus terisak di sudut kamar.

“Gue yakin lo bakal sembuh kok, Di.”

Pernikahan tidaklah sesimpel yang Niko atau Dian bayangkan. Ada banyak hal yang harus dipikirkan dengan matang. We wanna a healthy marriage, of course.

“Mbak, selama sahabatan sama Niko, pernah enggak sih terpikirkan kalo lo suka sama dia?”

***

Penghujung tahun 2019 adalah momentum besar untukku, hari di mana Sang Penyelamat akan tayang perdana, sayangnya tanpa kehadiranku yang notabène adalah penulis naskah dan produsernya.

Film itu seperti nyawaku, menyiratkan kerja keras dari sebuah proses untukku lebih maju dan berkembang. Seperti kata Niko dan Aira, mau sampai kapan aku hanya akan duduk mencorat coret naskah sementara bisa meraih yang lebih dari itu. Memikirkannya saja membuat hati ini mencelus perih.

Jika ingin tetap berkeras, aku mungkin saja bisa menghadiri. Toh pemutarannya masih tengah malam ketika pergantian tahun.

Terapi hari ini membuat tubuhku cukup stabil. Namun, menjadi egois bukan satu-satunya jalan mengapresiasi suatu pencapaian bukan? Yang kupikirkan sekarang bagaimana membuat mama bahagia. Ia terlalu letih didera musibah yang menghantam kami.

Aira mengunjungiku, aku tahu ia selalu berusaha menjadi kakak yang baik. I love her way to show responsibility, aku belajar banyak darinya. Kami bercerita banyak, ia sangat antusias mendengar semua hal yang berkaitan dengan penyakitku. Hingga hati ini tergelitik untuk bertanya sesuatu yang tak pernah tampak selama mengenalnya.

“Mbak, selama sahabatan sama Niko, pernah enggak sih terpikirkan kalo lo suka sama dia?”

Terlepas dari raut wajah tenangnya, seaaat hanya untuk sesaat pandangan ini sempat menangkap adanya rona merah di sepanjang garis rahangnya ketika Aira memalingkan wajah menatapku. Ah, ia begitu pandai menyembunyikan perasaan.

“Kalau gue kenapa napa, titip Niko, ya, Mbak. Jemari ini kembali terulur, menyentuh lengannya. Tubuhnya menegang, tetapi ia mengulas senyum tulus.

“Lo pasti sembuh, Di. Lo harus yakin itu,” ucapnya menenangkan.

Benarkah?

Pandanganku bergulir ke sudut ruangan, Mama ada di sana dengan mata merah dan sembab. Aku merasa bersalah telah menguras begitu banyak air matanya. Seminggu ini menjadi hari yang melelahkan untukku.

Butuh stamina ekstra untuk bolak balik ke rumah sakit. Jarak yang jauh, bertemu titik macet sungguh menguras waktu dan tenaga. Apa lagi Mama yang masih harus lanjut ke kantor. Maka akhirnya kami memutuskan untuk menyewa flat tak jauh dari rumah sakit. Antisipasi yang dilakukan untuk berjaga, mana tahu kondisiku tiba-tiba saja drop.

“Oh, ya, Di. Gue harus balik ke kantor.” Aira bangkit dari kursi, mendekat di samping kepalaku.

“Selamat, ya. Sebentar malam Sang penyelamat bakal tayang. Lo pasti bisa seperti Gneiss, ia tak pernah pantang menyerah dengan keadaan.”

Aku mengekeh, mengangguk pelan meski tak sepenuhnya yakin akan bisa.

“Yup, you can do that. Lo yang nulis script-nya.” Aira ikut terkekeh, aku tahu ia berusaha memberi semangat.

Yang dibutuhkan pasien sepertiku selain terapi obat-obatan adalah terapi jiwa dan hati sehingga tetap berjuang untuk bisa bertahan dan semua itu setidaknya berasal dari orang-orang terdekatku.

“See you later, Di.”

Aira membungkuk menyentuh pipiku lantas mendekati Mama untuk berpamitan sembari memberikan pelukan dan kecupan. Hati ini seperti tersayat, rasanya lebih sakit dari semua terapi yang kulalui. Di sana air mata Mama tumpah lagi karenaku.

***

Pandanganku mengeja detail sosok yang muncul di dalam cermin. Garis rahang tirus, mata cekung, bibir pucat dan pipi tanpa rona. Bandana merah menutupi kepala ini. Di bulan kedua masa terapi, satu demi satu helainya rontok. Sekarang benar-benar habis seiring berjalannya waktu.

Tante Marisa dan Om Pras sempat menjengukku, merekalah yang membantu membeli rumah dan aset peninggalan Papa untuk biaya pengobatan. Sepanjang kunjungannya hari itu, ibu Niko bahkan tak pernah berhenti mengumpat, menyalahkan Niko yang tak menyampaikan perihal penyakitku.

Mereka menyangka rumah kami kosong karena Mama sedang dinas ke luar kota dalam waktu yang lama, sehingga untuk sementara aku menumpang di rumah keluarga. Tante Marisa lantas menghubungi Mama, ia baru sadar ada yang salah setelah melihat plang bertanda “DIJUAL” di depan pagar.

Meski tak lagi menyinggung masalah lamaran kemarin, aku senang mereka mengunjungiku, memberi banyak cinta serta mendoakan kesembuhanku. Aku paham seperti apa posisiku. Semua orang tua pasti berharap menantunya sehat dan bisa segera memberikan cucu.

Bukankah itu alasan Tante Marisa meminta Niko segera menikah? Ia ingin secepatnya menimang cucu. Sedangkan aku? Jangankan punya anak, make love saja sepertinya takkan ada kesempatan. Semua waktu hanya untuk terapi saja.

Hampir enam bulan lamanya, aku tak pernah bertemu Niko. Ia pun tak pernah mengabariku. Apa sebegitu menakutkannya diri ini sekarang?

Jika saja pandemi tak menghantam negeri ini sejak Februari, mungkin aku sudah berprasangka buruk padanya. Mungkin Niko tak menyukai tampilanku saat ini.

Kudengar dari Aira, rating program NikTV menurun drastis. Beberapa program gagal tayang, keuangan perusahaan kritis, megap-megap sudah seperti ikan yang kolamnya kehabisan air. Niko terlalu angkuh untuk meminta bantuan pada ayahnya. Laki-laki itu berusaha menyelesaikan sendiri masalah stasiun televisi ditengah kecamuk masalah pribadinya.

Film Sang Penyelamat yang diharapkan mampu menaikkan rating tak menunjukkan hasil yang signifikan. Kerja sama dengan rumah produksi dari Bandung dan Jogja otomatis batal, sebagian besar personilnya harus dirumahkan. Pembatasan Skala Besar berlaku di semua tempat. Ruang gerak terhalang Covid-19. Pendapatan televisi swasta sebagian besar berasal dari iklan, sementara pandemi memukul rata semua industri.

Setelah beberapa bulan beradu argumen, Niko akhirnya menerima saran Aira untuk memecah perusahaan menjadi unit-unit usaha untuk mencegah kerugian semakin besar. NikTV nantinya hanya ada redaksi, sementara infrastrukturnya akan terpisah. Selain itu, Niko mencoba merambah digital dengan membuat program siaran atau talkshow di media sosial.

Syukurnya, perubahan regulasi kebijakan tentang undang-undang penyiaran cukup membantu NikTV dengan tersedianya subsidi. Mereka bekerjasama dengan pemerintah menyiarkan pelayanan informasi dan produksi konten terkait Corona.

Aku ikut senang mendengar jika NikTV perlahan-lahan bangkit. Aira menepati janji, tak meninggalkan Niko ketika laki-laki itu terpuruk. Ia tetap sabar mendampingi Niko. Bukankah itu awal yang bagus untuk mereka berdua?

Ibaratnya ungkapan Jawa, witing tresno jalaran soko kulino. Tulus doaku, aku berharap mereka bisa bersama.

“Di, udah sore. Masuk, yuk.”

Mama mengelus punggung ini lantas berjongkok di sampingku, menarik tuas rem. Aku belum mampu untuk berdiri lama hingga harus mengandalkan kursi roda jika ingin bersantai di balkon sembari menanti Mama pulang kerja. PSBB Jakarta dilonggarkan, Mama sudah ke kantor sesekali, selebihnya dari rumah. “Kita berangkat kalo bandara udah buka kembali, ya, Di.”

“Iya, Ma. Terserah Mama aja.” Aku tak punya alasan untuk menolak. Jika memang terapi di Malaysia lebih baik karena ditunjang oleh keterampilan, fasilitas gedung dan peralatan medis yang lengkap, maka tak ada salahnya untuk dicoba.

Aku pun ingin segera pulih, ingin ketemu Niko dengan kondisi segar bugar. Setengah tahun tanpanya, tak dapat kupungkiri, rasa rindu ini semakin menguat. Kami mungkin tak bisa bersama dalam balutan romansa, tetapi kami masih bisa bersama sebagai sahabat dan saudara. Seperti dulu.

Mama mendorong kursi rodaku ke kamar lalu membantuku duduk di tepi ranjang. Senyum lebar terbit dari lekukan bibirnya.

“Di luar ada tamu, katanya pengin ketemu kamu.”

***

Aku terkinjat ketika Aira tiba-tiba muncul, membuka pintu dengan kasar lalu membantingnya. Pigura cokelat di peganganku terjatuh ke lantai. Sigap, kaki ini menendangnya ke bawah meja.

“Lo pikir gue enggak liat?” Aira membentak ketika menghempas bokongnya di kursi.

Aku yakin, ia sedang mengerucutkan bibir meski ada masker yang menutupi. Tatapannya tajam menatap wajah ini. Kedua tangan ia lipat di depan dada. Kemeja merah marun tampak kontras dengan lengan putihnya. Alisnya terangkat, seolah meminta penjelasan.

“Lo kenapa? Main bentak aja. Lupa kalau gue ini ….”

“Bos gue? Biarin! Lo pikir gue takut?” Suaranya memekik memintas ucapanku.

“Gemes tau enggak liat lo kayak gini.” Aira mengembuskan napas frustrasi.

“Lo tuh beneran cinta enggak sih sama dia?”

Kemana lagi arah pembicaraan ini jika bukan masalah Dian? Hampir lima bulan lamanya ia menahan diri tak merecoki. Kami terlalu sibuk survive di tengah lesunya perindustrian televisi dihantam pandemi. Terlebih skala NikTV masih jauh di bawah stasiun televisi swasta lainnya.

“Kalo lo pikir hati gue berubah, lo salah. Sampai detik ini, hanya Dian, Ra.” Aku jujur soal itu, saat NikTV terpuruk, separuh pikiran ini tertuju padanya.

Film Sang Penyelamat selalu mengingatkan ketiadaannya. Dian seakan meramalkan kondisi negeri dan dirinya sendiri di tahun 2020 dalam film itu. Bagaimana Onix memusnahkan hampir seluruh makhluk di bumi demi terciptanya populasi baru yang lebih baik.

Chip yang tertanam di belakang kepala Gneiss adalah senjata pemusnah massal, perlahan-lahan menggerogoti tubuhnya, mencoba mengambil alih kesadaran Gneiss.

“Yailah, Bambang! Kalo lo emang sayang Dian, ngapain lo masih di sini?” Aira sebal bukan main, dengan sengaja menggebrak mejaku.

“Dari pada lo diem aja saban hari sambil natapin foto, apa susahnya lo ketemu dia, Ko.” Kali ini suaranya memelas, pertanda ia nyaris patah arang menghadapi diri ini.

“Di balik hubungan kami, bakal ada yang kecewa, Ra.” Suara ini terulas lirih, gamang dengan ke mana arahku dan Dian akan bermuara.

“Ibu lo? Weh, Ko. Diberi penjelasan aja gimana gitu.” Aira mendengkus kesal. Ia berdiri mendekati jendela, menatap lurus ke jajaran hutan beton dari balik kaca.

“Bukan cuman ibu, Ra. Lo ….”

“Hei!” Aira kembali membentak, berderap menuju mejaku.

“Gue kecewa, gue sakit hati. Tapi bukan karena masa lalu. Tapi karena lo ternyata jauh lebih pengecut dari yang gue kira!” Tanpa permisi, ia melangkah cepat. Di depan pintu ia berhenti lantas menoleh.

“Kalo pun lo enggak jadian sama Dian, gue ogah jalan sama lo!”

Dentaman di pintu membungkam protes yang ingin aku ucapkan. Menghantamku kembali ke masa lalu, ketika Aira menolak tawaranku menjajaki hubungan yang lebih serius.

Ko, gue nolak bukan karena gue enggak sayang lo. Gue sayang lo banget. Tapi hubungan serius bukan untuk bereksperimen, trial and error lantas end up karena enggak cocok. Terlebih lagi, i wanna make love with you. Gue enggak mau we just having sex with your Dian in your mind.

Aira benar, rasanya akan sia-sia bersamanya sementara hati ini masih terus menengok ke belakang. Dian sedang berusaha untuk sembuh sekarang, ia tetap melangkah maju tanpa tahu apa yang akan terjadi di depan. Sedangkan aku hanya terus berdiam diri, stagnan di tempat yang sama.

Perlahan, aku membuka laci, mengambil ponsel. Pandangan ini bergulir ke galeri, memandangi satu demi satu proses metamorfosa Dian. Mungkin tubuh bisa bertambah kurus, pipi kehilangan rona, rambut rontok, tetapi satu hal yang tak pernah berubah dari puluhan foto yang selalu Aira kirimkan padaku.

Senyum semringah Dian serupa bayi tanpa dosa. Yup, dia tak bersalah sama sekali, bukan inginnya sampai mengidap penyakit mematikan. Dia deserve to be happy. Setidaknya sebelum ajal menjemputnya.

Maka di sinilah aku sekarang, setelah pergulatan hati yang selama beberapa bulan kuciptakan sendiri. Sekarang, aku mencoba meluluhkan hati perempuan di depanku. Seperti biasanya, kami selalu berdebat tentang semua hal. Sekecil apa pun itu.

“Bu ….”

“Ibu sayang sama Dian, dia udah seperti anak ibu sendiri tapi bukan berarti ibu bisa menerima dia dengan kondisinya, Ko.” Ibu memalingkan wajah, tak mau menatapku. Dadanya turun naik karena embusan napas yang tak teratur.

“Tapi Niko cintanya cuman sama Dian, Bu.” Aku meraih jemarinya, menyelisik setiap detail wajahnya. Aku tahu ia tidak sungguh-sungguh.

“Bukankah menyayangi seseorang harus dengan tulus, Bu? Tanpa pamrih. Kenapa sekarang Ibu enggak bisa?”

“Ibu enggak bisa! Kamu pikir ibu sanggup liat kamu ngabisin waktu hanya buat ngurusin orang sakit?” Ibu tetap tak mau menoleh, jemarinya menyentak melepaskan genggamanku.

“Dian masih berjuang melawan penyakitnya, Bu.”

“Kita enggak tahu kalo itu akan berhasil atau enggak.” Sekarang ia mendengkus sebal lalu beranjak ke ruang tengah kemudian memilih duduk di sofa tunggal. Seperti anak ayam, aku mengekor di belakangnya.

“Gimana mau tahu kalo enggak dicoba, Bu.” Pantang menyerah, aku membujuk. Bahkan batu pun bisa berlubang jika ditetesi air setiap harinya, apa lagi hati manusia.

“Kamu selalu begitu, dari dulu. Kamu enggak pernah mikirin kata-kata ibu.”

“Bu, kalau pun Dian enggak bisa bertahan melawan penyakitnya, seenggaknya dia pernah bahagia. Ada Niko di samping dia.”

“Lantas bagaimana dengan ibu? Ibu pengin punya cucu. Dengan kondisi Dian, bagaimana kamu bisa mengabulkan keinginan ibu?” Ibu menyalang menatap mata ini. Tatapannya tajam di balik wajah yang kian sembab.

“Pernikahan bukan sekadar menghasilkan keturunan. Siapa pun istri Niko nantinya, dia bukan pabrik anak.” Aku bukan tak peduli, tetapi tak mungkin juga kaki ini melangkah tanpa restunya.

“Liat kan? Kamu hanya pengin dimengerti, kamu sama sekali enggak mikirin ibu.” Ia mendecih sembari mengangkat bahu. Rahangnya kian mengetat, menahan luapan amarah.

“Bu, please. Niko mohon. Niko hanya pengin bahagiain Dian.”

“Dan kamu enggak mikirin diri kamu sendiri? Keluarga kamu? Keinginan Ibu? Kamu lebih memilih menikah dengan perempuan yang bahkan enggak jelas masa depannya. Bahkan mungkin dia enggak bisa menuhin kebutuhan kamu ….”

“Bu, sudah.” Ayah muncul dari balik tirai. Entah sejak kapan dia ada di sana mendengarkan perdebatan kami.

“Ayah ini, selalu saja belain dia.” Ibu menggerutu kesal. Langkahnya terayun ke kamar.

“Niko udah 29 tahun, sebentar lagi 30.” Ayah menyusul, menahan lengan ibu hingga langkah yang tergesa itu berhenti.

“Dia sudah dewasa, biarkan dia menentukan pilihan yang menurutnya baik. Kita cukup mendoakan-”

“Terserah kalian saja!” Ibu mengentakkan kaki, melepaskan cengkeraman ayah. Perdebatan kami berakhir dengan dentaman pintu yang ibu banting dengan keras.

Aku hanya meringis melihat kelakuan Ibu, sedangkan Ayah mendekat lantas menepuk bahuku.

“Sana temuin Dian, soal Ibumu, biar Ayah yang urus.”

Bersambung