Dian Story Part 6

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9

Cerita Sex Dewasa Dian Story Part 6 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Dian Story Part 5

Jika saja Tante Ratih tidak meminta mendaftarkan Dian ke bagian administrasi dan memberikan persetujuan tindakan, mungkin aku tidak akan pernah tahu penyakit apa yang Dian derita.

Penjelasan dari dokter yang bertugas di instalasi gawat darurat membuat tubuh ini oleng. Gangguan Anemia yang dialami Dian disebabkan karena terjadi peningkatan produksi sel darah putih maka menyebabkan produksi sel darah merah atau eritrosit serta trombosit di sumsum tulang berkurang.

Penderitanya pun rentan kehilangan kesadaran, pingsan sampai dua bahkan tiga kali sehari.

“Kami sudah melakukan transfusi darah sesuai instruksi Dokter Fauziyah.”

Dokter Radika-seperti yang tertera di name tag jas putihnya, menghampiriku sembari tersenyum.

“Trombositnya juga turun, tetapi jangan khawatir, kondisi pasien sudah stabil sekarang.”

Sudah sewajarnya seorang dokter menenangkan keluarga pasien. Namun, semua yang diucapkan dokter muda itu tak ada yang bisa aku cerna dengan baik. Suaranya serupa dengungan lebah di telinga. Tubuh ini bagai terpasak, tak mampu melangkah meski dokter itu mengajakku menemui Dian.

Bahkan ketika Tante Ratih muncul menyentuh lengan ini, aku masih saja bergeming, di tempatku berdiri.

“Sekarang gimana, Ko? Kamu yakin buat nerusin niat kamu?”

Aku hanya diam, tak ada kata yang mampu lidah ini keluarkan. Tante Ratih menghela napas, aku tahu ia kecewa, tetapi perempuan itu tetap tersenyum sebelum meninggalkanku.

“Kamu pulang duluan aja, Ko. Biar Tante yang urusin Dian di sini.”

Pengecutnya aku, setelah Tante Ratih kembali ke IGD, meski ia menyuruhku pulang, aku tahu keinginan terbesar perempuan itu adalah aku tetap berada di samping Dian, mendampingi putrinya. Namun langkah ini bukannya mengikuti tetapi putar arah, berbalik, bergegas menjauh. Itulah yang kulakukan, berlari menuju parkiran dan mengendara mobil secepat mungkin.

“Aaargggh!” Tinjuku menghantam tembok di parkiran. Aku tak peduli dengan lecet dan darah yang mengalir di antara buku-bukunya.

Oh, God! Kenapa harus Dian?

Ini menyakitkan, dadaku terasa sesak, seakan suplai udara yang ada di rongganya terenggut paksa.

Apa yang harus aku lakukan sekarang?

Pulang ke rumah rasanya tak mungkin, penampilanku saat ini hanya akan memancing cecaran tanda tanya dari Ibu. Kedua lengan kemeja sudah kugulung sampai siku, satu kancing teratas pun terbuka. Ibu pasti curiga, apa lagi sebelumnya aku sudah menghubungi kalau akan bertemu Dian.

Jemariku naik mengacak rambut. Mata ini nyalang memandangi penjaja tisu di lampu merah, pengamen yang sedari tadi bernyanyi cempreng tak lagi kuhiraukan, mengabaikan ketukan jarinya di kaca.

“Sial!” Kakiku sontak menginjak rem, amarah ini seketika menggelegak, seorang pengendara motor tiba-tiba menyalip dari kanan lalu menepi ke kiri jalan.

Suara klakson bersahut-sahutan di belakang mengurai embusan napasku. Andai kehilangan kendali sedikit saja, aku mungkin saja akan turun dari mobil, membuat perhitungan dengan pengemudi tak sabaran itu, membiarkan kemacetan melumpuhkan arus lalu lintas.

Sial! Entah berapa kali umpatan lolos dari bibir ini. Kenapa Dian? Bagaimana penyakit itu bisa tiba-tiba saja menggerogotinya? Lantas apa yang akan terjadi pada kami? Banyak pertanyaan yang muncul di kepala dan tak kunjung ada setitik jawaban mencerahkannya.

Otakku lumpuh! Logika tak menolak dengan apa yang kulakukan sekarang. Tempat yang sekian lama kutinggalkan menjadi tujuanku. Hati ini terlalu kuat memerintah tanganku membanting stir, menyusuri parkiran yang terangi lampu temaram.

Suara musik berdentam keras ketika pintu membuka, lampu sorot warna warni serupa laser menyala bergantian menerpa dinding membentuk pola geometris.

“Wow, Niko. Whats up, Bro? Emang di luar badai ya sampe lo tiba-tiba muncul di sini?” Dimitri, pemilik Crowded Club menyambutku.

Tatapannya tajam juga sampai menyadari kedatanganku. Aku meringis sembari menyambut kepalan tangannya di udara.

Dia mengajakku mengikutinya, kami duduk bersisian di stool depan meja bartender.

“Sangria … seperti biasa?” tanyanya memastikan.

Aku menggeleng, “Nope! Double shot Tequila.”

“Wow … ckckck ….” Dimitri berdecak heran, “Lo beneran cari mabuk nih ceritanya?”

“Yup, with lime and salt.” Aku tak peduli, yang kuinginkan hanya melupakan masalah Dian sejenak.

“Woman?” Dimitri menyeringai sembari melirik ke panggung.
“Yang di sana bisa booking kalo lo mau.”

Pandangan ini ikut bergulir ke arah lirikan Dimitri. Di panggung, Female DJ itu sibuk mengutak-atik turntable¹, menurunkan ritme musik lantas meraih pelantang.

[Gue tahu, kalian mikir gue konvensional]

Suara cello mengalun indah mengikuti ucapannya.

[But … gue yakin lo semua bakal suka]

Tangan kanan dia acungkan ke udara seirama dengan ritme musik yang semakin cepat.

[Are you ready for jump, Crowders? From Mozart, check this out!]

Tepuk tangan lautan manusia bergemuruh. Semuanya turut hanyut dalam alunan Symphony No.40 yang telah diubah ritmis nan apik olehnya. Crowded Club memanas, meliar dan menggila, mengikuti suara musik.

Perempuan itu benar-benar memuaskan ratusan penikmat musik super kencang. Tanktop dan hoodie merah yang dia kenakan, basah oleh peluh, tubuh mungilnya bergerak, meloncat seakan memberikan semangat pada orang-orang yang tenggelam dengan gerakan liar.

Dian … semungil perempuan itu, lebih energik kalau saja tak ada penyakit sialan itu menggerogoti tubuhnya.

Shit! Kenapa aku malah berharap yang ada di panggung itu adalah Dian? Rahang ini mengetat keras, pandanganku kembali pada Dimitri. Seringai lebar bersama kedipan nakal tak lepas dari wajah laki-laki itu. Sayangnya, aku sedang malas untuk bermain-main.

“Gimana, Ko? Bisa diaturlah buat lo.”

Aku meninju lengannya, “Enggak, gue minum aja.”

Dimitri mengekeh, memberi tanda pada bartender, menyebutkan pesananku.

Laki-laki di depan kami mengangkat tangannya, membentuk lingkaran dari ibu jari dan telunjuk. Dia mengambil satu botol dari rak yang menempel di dinding, kemudian menuang tequila menggunakan jigger cup² ke dalam shaker³ yang berisi es batu.

Botol aluminium itu diguncang dan digetarkan selama lima menit lantas menuangnya ke dalam shot glass⁴ yang sudah dibekukan lantas mengulurkannya padaku. “Double Shot Chilled tequila.” Satu tangannya meletakan piring kecil berisi potongan lemon dan garam di botol kecil.

Dimitri memperhatikanku menjilat garam yang kutuang di punggung tangan lalu menenggak minumanku sampai tandas. Pahit. Aku menoleh sembari mengisap manisnya irisan lemon.

“Masalah lo berat banget, Ko.”

Aku mencebik, entah Dimitri sedang bertanya atau sedang menyindir keterpurukanku.

“Go away, Dim. Gue pengin sendiri.” Aku mengulurkan gelasku kembali.

“Lagi, Hans.”

“Lo bakal mabuk, Ko.” Dimitri mencengkeram lengan ini, ketika gelas kedua tandas.

“Emang itu tujuan gue.” Aku tersenyum miris, menepisnya. Tangan ini kembali terulur, “Lagi, Hans.”

Hingga akhirnya, kepala ini jatuh tersungkur, menyentuh meja setelah isi seloki kelima habis tanpa sisa. Kesadaran meninggalkan tubuh ini ketika lagu Canon Rock mengalun, dimainkan oleh sang Female DJ.

***

NIKO

Mata ini mengerjap berkali-kali, pening meraja. Dimitri menggoyang bahuku dengan keras. Aku mencoba berdiri, tetapi tungkai ini seperti jeli, bagai tak bertulang, ibaratnya tertiup angin, tubuhku oleng ke kanan dan kekiri. Jemariku terulur berpegangan di sandaran kursi.

Shit! Aku tak mungkin pulang ke rumah.

“Woi, Ko! Udah tutup. Gue pesenin lo ojol, ya.” Dia mengambil ponsel memesan taksi daring.

“Lo enggak mungkin bisa nyetir sendiri.

“Dim, ke Kebon Kacang.”

Dimitri menoleh dengan mata membola.

“Seriously? Bukannya lo udah sepakat end up sama dia.”

Matanya beralih ke layar ponsel, tampak ragu melanjutkan. Dia duduk di kursi dekat tangan ini memegang.

“Numpang tidur doang.”

Aku menghela napas dengan mata yang nyaris terpejam lalu menghempas tubuh di samping Dimitri, menyandar sembari mendongak. Ruangan seperti berputar-putar dalam pandangan ini.

“Gue enggak mungkin pulang ke rumah.”

Yap, aku yakin takkan terjadi apa-apa. Hubungan kami berakhir tanpa ada embel-embel romansa, sekarang pun hanya sebatas profesionalisme. Tak ada lagi istilah friend with benefit seperti dulu.

“Hello, lo di sana dulu juga numpang tidur doang, Man.” Dimitri menyindir sambil mencebik.

“Tapi apa? Bablas kan? Pake siaran ulang pula. Four years! Many times! Untung enggak hamil anak orang.”

“Diem lo, gue udah tobat, percaya sama gue, enggak bakal ada apa-apa sekarang.” Aku mengibaskan tangan di depan wajahnya.

Lagian aku benar-benar mabuk, melangkah saja susah, how do we having sex?

Terlebih ketika hati ini sudah memutuskan memilih …. Ah, aku bahkan tak berani menghubungi Dian untuk sekadar menanyakan kondisinya. Diri ini terlalu takut menerima kenyataan, tak mampu membayangkan, bagaimana jika tak ada masa depan untuk hubungan kami?

Maka di sinilah aku sekarang, di salah satu tower apartemen seputaran Thamrin City. Langkah ini tersaruk-saruk keluar dari kapsul aluminium, meliuk-liuk menyusuri lorong sembari memegangi dinding.

Aku berusaha memicingkan mata, menatap tajam kombinasi tiga angka yang menempel di samping bingkai pintu. Setelah memastikan, tangan ini terulur memencet bel, diri ini sudah tak mampu lagi mengingat kata sandinya.

Tak sabaran, satu tanganku mengetuk dan menggedor pintu, sementara yang satunya lagi menekan bel tanpa jeda. Demi Setan yang bercokol di neraka, aku tak peduli kemarahan tetangga jika dianggap berisik.

Kepala ini menyandar di pintu. Beberapa saat lamanya, aku menunggu hingga akhirnya tersungkur, jatuh di dada seseorang.

“Niko? What the hell are you doing here?”

“Aira … gue pengin mati saja.”

***

AIRA

Suara bel dan gedoran di pintu sungguh mengganggu. 03.30? Siapa yang berkunjung dini hari begini? Mata ini kupaksakan membuka dan melirik jam di atas nakas. Seingatku, aku sedang tidak menunggu tamu.

Sambil mengacak rambut, langkah ini kuseret ke kamar mandi lalu mencuci muka. Seharian memang tak ada jadwal kuliah. Aku menghabiskan waktu dengan menonton tv dan membaca, demi membunuh rasa bosan. Hingga akhirnya penat mendera kedua mata ini lalu kemudian terlelap.

Aku berdecak sebal sambil mengikat rambut. Kaki ini melangkah ke pintu dengan cepat, seluruh tetangga unitku akan protes kalau bel itu masih saja meraung-raung, belum lagi gedoran di pintu, suaranya sudah seperti di samping telinga.

Tanpa sempat mengintip, jemari ini memutar gagang pintu. Aroma alkohol menyengat indra bersama dengan sebuah kepala tersungkur, jatuh tepat di dada, menimpa tubuh ini, membuatku terjengkang.

“Niko? What the hell are you doing here?”

“Aira … gue pengin mati saja.”

“Apaan sih? Minggir lo, berat tau.” Susah payah, aku menggeser tubuhnya, kemudian berdiri dan menutup pintu. Pandangan ini kualihkan pada tubuh yang sekarang tergeletak di lantai.

Namanya Niko Darmansyah, kami satu fakultas, sama-sama mengambil jurusan komunikasi. Ketika orientasi mahasiswa baru, dia membantu mencari satu kancing bajuku yang tak sengaja terlepas. Kami jadi akrab setelah itu.

Dekat? Iya.

Sayang? Banget.

Pacar? Bukan.

Seperti itulah hubunganku dengan Niko, kami sering menghabiskan waktu bersama. Meski aku tak tahu bagaimana perasaannya tetapi asa di hati ini semakin tumbuh subur saja, berharap suatu saat nanti dia mengatakan cinta.

“Dian ….” Suara seraknya membuat tubuh ini menegang, sejak kapan ia ada di belakangku? Bukannya barusan Niko sudah terlelap? Lantas dia memanggilku apa?

“Di ….”

Mata ini memelotot ketika berbalik, tak ada suara yang bisa aku keluarkan. Bibirnya membungkamku. Embusan napasnya hangat menyantuh pipi ini, kedua tangannya mengurungku di dinding.

“Lo kan udah janji enggak bakal ngelirik cowok lain, Di.”

Wait, siapa itu Di?

Jemarinya menangkup pipi ini, mengelus lembut lingkaran di bawah mata, rasanya menyenangkan by the way. Aku tak protes, sorot mata sendunya menghipnotis. Bahkan ketika bibirnya kembali menemuiku, aku tak sanggup menolak.

Awalnya hanya ciuman biasa, tetapi hati ini tergelitik membalas. Lidah bertaut, saling menyecap semua rasa. Kepala ini pening, bukan aku yang minum alkohol, kenapa sekarang malah aku yang mabuk?

Niko menciumku lagi, mengeja setiap detail bibir ini, lidahnya menari menyusuri tulang pipi hingga ke telinga, menggigit cupingnya. Dada ini ingin meledak rasanya.

“Do you like me?” Sial! Desahanku lolos juga akhirnya, aku suka caranya menyentuhku. Kami bahkan sudah berpindah ke karpet bulu di depan televisi.

“I definitely do,” jawabnya di sela aktifitasnya.

Kecupan kecil tetapi jumlahnya banyak menyerbu leher hingga ke tulang selangka, meninggalkan jejak basah. Jemarinya lincah meloloskan baju dan satu-satunya pengait yang menutupi dadaku.

“I love you so much, Dian.”

“Really? Lick me then.” Persetan dengan Dian, siapa pun dia aku tak peduli. Aku hanya ingin merasakan hangatnya di dalamku.

Tangannya menangkup buah dadaku, memutari areola, memilin dan mencubitnya. Ah, aku benar-benar melayang dibuatnya. Jemari ini menjambak rambutnya, ketika sentuhannya berubah, terasa lebih hangat dan licin. Eranganku menggema, Niko mengisap kuat, bersama putaran lidah di puncak yang menegang tegak, mendamba lebih.

Beberapa saat ia masih di sana, tubuh ini bergerak gelisah, resah. Lidahnya kini menjelajahi perutku, turun ke pangkal paha seirama dengan bawahanku yang entah ia lempar ke mana.

Aku mendesah sembari menggelinjang dengan tubuh melengkung. Lidahnya seperti memiliki aliran listrik, seluruh cinta ia curahkan ketika permukaan basah itu menyapu lembut sesuatu di bawah sana, menjilat, mengisap. Semua bulu di permukaan tubuh ini meremang, mengejang, meledak. I get my first orgasm.

Seperti ini kah Niko menyentuh Dian? Bisakah aku berharap jika ia hanya melakukan ini denganku saja? He finished it smoothly.

Tak ingin berakhir begitu saja, aku menariknya, tergesa membuka pantalon yang membungkus pinggul dan tungkainya, meloloskan kemeja yang ia kenakan disertai serbuan kecupan dan belitan lidah hingga napas kami sama memburu.

“Get inside me! Hurry!”

Pekikan kecil terlontar dari bibir ini, hujaman batang kejantanannya menembus sesuatu yang harusnya kujaga. Apakah dengan ini, ia akan menjadi milikku?

Niko mengecup tetes bening yang mengalir di pelupuk mata ini. Ia mulai menggerakkan pinggulnya, menghujam pelan. Bibir ini membuka, mengerang saat Niko membawa bagian dirinya lebih dalam, mendesah halus ketika menikmati setiap gerakan, menerima segala apa yang ia berikan.

Pagutan yang lembut berubah kasar, beringas dengan gerakan pinggul meliar. Niko bangkit menumpu dengan kedua lututnya. Tungkai ini ia letakkan di bahu, pinggulnya kembali mengentak kasar, memasukiku lebih dalam, berkali-kali.

Desahanku dan geramannya menyatu, hasrat primitif bergulung bersama renjana yang menggelitik, tubuh ini bergetar beberapa detik, menegang kuat saat Niko mengentak semakin cepat mengalirkan oksitosin, rasa nyaman berkumpul di satu titik, berdenyut, saling berkejaran meraih pelepasan, meledak bersama napas yang memburu.

“Thank you. Gue cinta lo, Di. Banget.”

Niko kembali ambruk di atas dada ini.

***

“Ra, bangun. Gue enggak ngapa-ngapain lo kan?” Niko mengguncang bahuku dengan panik.

Jemari ini terulur mengucek mata.

“Jam berapa ini?” Aku bangkit dari sofa sembari merenggangkan kedua tangan ke atas.

“Woi! Gue nanya.”

Mata ini mendelik menatapnya.

“Ish! Apaan sih? Enggak ada apa-apa. Lo tuh ya, mikir dong pake otak, lo kerja di stasiun tv. Setiap hari ngasih informasi ke penonton biar mereka makin pinter. Kenapa jadi lo yang makin bego?” Aku tak peduli jika napas ini bau naga atau jigong sekali pun. Niko benar-benar membuat pagiku berantakan.

“Sorry.” Ia menghempaskan diri di sampingku sambil meliat ke tubuhnya sendiri lalu menghela napas lega.

“Gue enggak bisa maafin diri gue sendiri kalo ngulang kesalahan ….”

Aku berdiri berkacak pinggang, “Kenapa sih lo? Gue kek ngalamin deja vu tau enggak? Lo muncul bilang pengin mati sama kek sembilan tahun lalu.”

Niko mendesah frustrasi, “Dian, Ra. Dia sakit. Gue enggak tahu harus gimana.”

Langkah yang hampir sampai di depan kamar sontak berhenti, bukankah semesta begitu pandai mempermainkan hati ini? Hati dan pikiran ini kembali dibawa ke masa lalu kami. Yang berbeda hanya inti masalahnya. Namun, Niko sehancur ini karena seorang perempuan yang sama … Dian.

“Lo udah tahu?”

Pandangan Niko yang semula menekuri lantai terangkat, bergulir ke arahku.

“Tega lo! Kenapa enggak bilang ke gue?”

“Gue udah janji sama Dian enggak akan bilang ke siapa pun termasuk lo.” Aku mengembuskan napas panjang.

“Seperti janji gue ke lo kalau masa lalu kita cukup kita berdua dan Tuhan yang tahu.”

***

Sebagian besar mentalitas perempuan itu selalu menganggap dirinya sebagai korban. Mereka sendiri yang terkadang menempatkan diri sebagai barang. Having sex seperti sebuah transaksi, pilihan pembayarannya dengan menikah. Namun, apakah sepicik itu hakikat pernikahan dalam benak seorang perempuan?

Jika sebuah ikatan pernikahan dilakukan hanya untuk melegalkan having sex, jangan salahkan laki-laki kalau kelak akan ada transaksi serupa berikutnya.

Seperti itulah aku menyikapi hubunganku dengan Niko. Dia bukan laki-laki yang lari dari tanggung jawab by the way. Dia tak pernah meninggalkanku setelah percintaan panas kami bahkan untuk sekadar tidur duluan. Setelah membuang kondom bekasnya, dia pasti akan memelukku sepanjang malam, bercerita macam-macam sampai aku tertidur. We talk about everything, tentang cita-citanya membesarkan stasiun televisi yang tak pernah diurusi ayahnya dan tentunya tentang … Dian.

Pernah sekali, dia menawarkan untuk meningkatkan hubungan kami. I refuse it. Aku tak ingin Niko merasa bertanggung jawab atas kesalahan masa lalu yang pelakunya bukan hanya dia sendiri. Diri ini berandil besar sebenarnya. Dengan kondisi Niko yang setengah mabuk begitu, bukan mustahil untukku menolak. Namun, yang kulakukan malah memohon padanya untuk memasukiku.

Terlebih dari semuanya, aku tak ingin hidup di bawah bayang-bayang perasaan Niko kepada sahabat kecilnya hanya karena bentuk tanggung jawabnya mengoyak selaput dara.

Niko menerima penolakanku, setelahnya kami memutuskan end up. Tak ada lagi having sex yang membuatnya merasa terikat denganku. Ketika kami lulus, Niko menawariku bekerja di stasiun televisinya, hubunganku dengannya tak lebih dari ikatan profesionalisme.

Berselang dua tahun kemudian, Dian bergabung, ia satu divisi denganku. Pertama kali bertemu dengannya aku paham, Dian punya suatu hal yang membuat seseorang selalu ingin dekat dengannya, ia sebenarnya rapuh dibalik penampilannya yang sok kuat, membuat siapa pun ingin menjadi tempatnya bersandar, menjaganya.
Honestly, i love her like a little sister.

Aku ingin Dian berbagi hal denganku, menjadikan diri ini sebagai seseorang yang bisa ia andalkan. Terlahir sebagai bungsu dengan dua orang saudara laki-laki membuatku merasa seperti memiliki adik perempuan saat bersamanya.

Pandangan ini menangkap sosok tinggi yang berjalan cepat menuju lift. Ah, dia datang juga setelah menghilang tanpa kabar berita. Kali ini sendiri, tak ada sosok mungil yang biasa bersembunyi di balik rangkulannya. “Dian enggak masuk, Ko?”

“Mana gue tau? Gue aja baru masuk hari ini.”

Niko menoleh, menjawab sembari tersenyum masam, aku berusaha menyejajarkan langkah, rok ketat selutut ini menghalangi gerakanku. Tubuh jangkung Niko menjulang di sampingku. Sudah seminggu sejak ia mabuk tetapi penampilannya masih berantakan. Kemeja dan celana panjangnya dibiarkan kusut. Niko terlihat lebih kurus dari hari terakhir kami bertemu.

“Lo kan tetangganya, biasanya barengan. Lo abis kena badai di mana? Kusut amat by the way.”

“Lo udah tau, kenapa masih nanya?” Aku mengekeh, jawaban Niko malah seutas pertanyaan juga. “Gue belum pernah ketemu Dian sejak hari itu,” sahutnya pelan, lirih sekali.

“Padahal butuh beberapa langkah aja ke rumahnya.”

Aku menyengir jahil sambil mengangkat alis. Sayangnya Niko terlihat tak tertarik, ia diam saja. Bahkan ketika lift yang membawa kami telah sampai tujuan, Niko melesat ke ruangannya tanpa kata.

Apakah ia berharap bertemu Dian hari ini? Tepat di saat pemutaran perdana Sang Penyelamat. Namun, apa mungkin Dian muncul?

Sama halnya dengan Niko, hampir seminggu Dian tak masuk, ia memberi kabar kalau harus menjalani kemoterapi. Hari berikutnya, Dian kembali memberi kabar perihal efek pengobatannya. Dian harus dirawat karena terserang infeksi.

Kemoterapi bukan hanya membunuh sel kanker tetapi juga melemahkan sel kekebalan tubuh sehingga infeksi bakteri atau kuman akan lebih lama bertahan di dalam tubuh pasien.

Aku pikir akan baik-baik saja setelah itu, suaranya terdengar riang saat terakhir kami saling berkabar beberapa hari yang lalu. Hingga akhirnya, whatsapp dari Dian masuk. Pesan yang ia kirim semalam memastikan ketidak berdayaannya.

Mbak Aira, maaf. Gue izin enggak masuk lagi hari ini.

Jemari ini perlahan berhenti, batal mendorong pintu kaca ruangan kami. Aku berbalik ke arah lift, entah apa yang terpikirkan di kepala ini, tetapi langkah ini mantap meninggalkan kantor.

Aku ingin ketemu Dian.

Bersambung