Dian Story Part 5

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9

Cerita Sex Dewasa Dian Story Part 5 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Dian Story Part 4

Hujan mengguyur Jakarta tepat beberapa saat setelah pesawat yang kami tumpangi mendarat. Terminal kedatangan Bandara Soekarno Hatta penuh sesak lautan manusia, diramaikan penumpang domestik yang tumpah ibaratnya air bah. Aroma beraneka macam menguar, menelusup indra bersama wangi parfum dan sejuknya ruangan.

Jakarta selalu menjadi salah satu destinasi bagi wisatawan domestik yang ingin liburan natal dan tahun baru. Kenapa? Selain menghemat bujet dibanding harus melancong ke luar negeri, kota megapolitan ini punya segudang aktivitas yang membuat momen lebih semarak dan tentunya tak kalah menarik.

Atraksi kembang api di pusat kota, pertunjukan musik di tepi pantai hingga festival jajanan kuliner sepanjang ruas jalan, di mana tahun ini perhelatan akbar akan berada di kawasan Monas, Medan Merdeka dan Sarinah-Thamrin.

Seperti halnya stasiun televisi lain yang menyiapkan program unggulan, NikTV pun demikian. Sebagai saluran yang menayangkan film indie karya anak bangsa, Sang Penyelamat, film yang diproduseri Dian akan tayang perdana di malam pergantian tahun.

Kami mencoba memproduksi sendiri, ide mentah dari tim kreatif termasuk bujet, dan pencarian dana. Namun, NikTV belum mampu jika harus menyelesaikan semuanya, kami tetap menggandeng rumah produksi sebagai produser pelaksana yang membantu membuat breakdown budgeting yang lebih detail lagi berdasarkan draft naskah final.

Produser pelaksana yang membentuk tim yang terdiri dari kru berbagai departemen, seperti penyutradaraan, produksi, casting, kamera dan pencahayaan, artistik, penata pakaian, dan tim pascaproduksi.

“Mas Niko, jadi kita sudah fix mengganti judul The Savior?” Dimas menginterupsi keheningan di antara kami.

Pandanganku beralih padanya, sejak keluar dari tol bandara mata ini hanya menghitung titik hujan yang menerpa kaca. Supir taksi daring yang kami tumpangi sekilas mengintip dari spion.

“Iya, Dim. Sebaiknya pake bahasa ibu saja.” Aku melirik jam, penerbangan sempat delay karena cuaca buruk.

“You know what i mean, kita udah dikenal sebagai penggagas film indie Indonesia, masa judulnya pake bahasa Ratu Elizabeth?”

Dimas tertawa kecil karena ucapanku. Seharusnya saat ini briefing pagi sudah selesai, tetapi mengingat ada banyak hal yang perlu dibicarakan dengan seluruh tim kreatif perihal hasil meeting dengan PH yang ada di Bandung dan Jogja, jadwal dialihkan.

“Gimana dengan logo dan poster? Kita udah ngeluarin banyak loh, Mas.”

“Tenang aja, Dim. Aku udah menghubungi PH Indah buat ngakalin. Mereka udah ngirim contohnya di email.” Aku menepuk pundaknya lantas mengulurkan tablet.

“Nih, foto dan video behind the scene¹, wawancara aktor dan kru, bloopers², deleted scenes³, video alternate ending⁴, udah diganti kan?”

“Baiklah, tapi enggak ada bujet tambahan untuk itu,” ucap Dimas tegas sembari mengembalikan tablet. Di mana-mana tim keuangan seperti dia, selalu meminta menekan biaya produksi, tetapi mengharap keuntungan sebanyak-banyaknya.

“Lo enggak perlu takut kantong lo jebol.” Aku mengekeh pelan lalu memalingkan wajah memandangi sambutan hutan beton sepanjang jalan Slipi-Palmerah-S.Parman. Taksi melaju lebih lambat melewati titik titik macet hingga akhirnya berbelok memasuki parkiran Prasa Tower.

Langkah ini kuayunkan lebih cepat, membicarakan Sang Penyelamat selalu mengingatkan diri ini pada pemilik naskah dan produsernya. Yup, siapa lagi kalau bukan Dian. Sudah tiga hari aku tak sempat menghubunginya, disibukkan pekerjaan.

Untung saja Dimas mengingatkan untuk membeli camilan kesukaannya. Cokelat yang bungkusnya dituliskan bahasa ringan dan katanya lagi tren. Enteng Jodoh, Cari Pacar, Halau Modus, Tahan Baper, whatever! Yang jelas, saat ini aku hanya ingin melihat wajahnya.

“Di … Aira!” Kepalaku celingukan ketika membuka pintu.

Aira yang sedang menuliskan sesuatu di white board menoleh dengan kening berkerut. Kacamata yang membingkai wajah ovalnya ia tarik ke atas kepala. Dress merah berpotongan peplum di ujung rok bergoyang bersama langkahnya ke balik meja.

Sebelum menghempas tubuh ke kursi, ia membuka kancing dan membiarkan blazer-nya terbuka.

“Sesak, Ko. Keknya timbangan gue naik deh,” ucapnya diikuti senyum lebar.

“Lo nyari Dian? Di enggak masuk, Ko. Semalam dia izin nemenin ibunya gitu.”

Sepertinya Dian menyembunyikan sesuatu, atau malah sedang berusaha menghindar? Rasa kecewa kualihkan dengan mengembuskan napas panjang lalu mengeluarkan bungkusan dari tas.

“Nih buat lo. Kalo timbangan naik, apa ngaruh ke ukuran sandal?” tanyaku mencoba bercanda.

“Sialan lo!” Aira nyaris saja melempar pensil, jika tangan ini terlambat menahan, menggenggam.

“Gue bukan Maya by the way.” Aku menyebutkan nama yang selalu menjadi sasaran kekesalan Aira. Perempuan yang masih saja mendekati, meski diabaikan berkali-kali.

Aira mendengkus, sebal.

“Lo udah sama nyebelinnya sama mantan lo itu.”

“Pardon me, Miss.” Aku melepas genggamanku di pergelangan tangannya.

“Gue selalu lupa kalo yang berhubungan sana fisik selalu jadi bikin sensi perempuan.”

“Padahal gue duluan yang ngomong ya?” gumam Aira lantas terbahak.

“So, how about yesterday?”

“Parah.” Aku mengacak rambut kesal, “Gue belum sempat ngomong ke Di. Eh, ibu gue udah bikin heboh, minta hubungan kami diresmikan secepatnya. Sepertinya Di marah besar ke gue.”

“Sebenarnya ….”

“Iya, gue yang salah. Harusnya enggak asal ngomong ke ibu kalo gue pacaran sama Dian.” Aku memotong ucapan Aira sebelum ia ikut menyalahkan apa yang telah kulakukan.

See Dian saja seolah sedang main kucing-kucingan denganku. Ia bahkan tak pernah memberi kabar seperti biasanya. Mengingat hal itu saja sudah nelangsa begini.

“Tapi ….”

“Gue ngaku salah, Ra. Gue enggak nyangka, ibu akan seantusias itu. Gue pikir, ibu bakal brenti minta gue cepet nikah-”

“Gue enggak nanya itu, Ko.” Aira memintas setelah kali kedua aku memotong ucapannya. Mata ini bergulir menatapnya, bibir tipis Aira melengkung, sinis.

“Yang gue tanyakan tuh gimana urusan lo di Bandung dan Jogja?”

Aku memalingkan wajah dengan muka merah padam lantas berdeham. Astaga, apa yang telah kulakukan? Dasar! Bikin malu saja.

“Kedua PH sepakat dengan penawaran kita. Ide mentah dari kita, selanjutnya mereka yang ngurusin sampai siap diajuin ke tim produksi.”

“Good-lah, kita keteteran ngerjain yang punya Dian.” Aira mengembuskan napas lega, “you know it exactly.”

Ia tercenung, beberapa jenak lamanya kami hanya diam.

“Gimana kalo kita ngobrolin ini sambil ngopi di Arah? Tapi sepertinya kita perlu ngomongin Dian deh sesekali.”

“Loh, kenapa emang?”

Aku tak mengerti, Aira mengedipkan mata, jahil. Tangannya menumpu di meja, hingga jarakku dengan Aira hanya tersisa sejengkal. Embusan hangat napasnya menerpa wajah ini, tengkukku meremang.

“Kalo ngomongin Dian, lo cerewet banget,” bisiknya pelan sebelum kembali menyandarkan punggungnya di kursi.

Sial! Kenapa aku jadi tegang sekarang?

***

Setelah menjalani tes termasuk aspirasi sumsum tulang belakang seperti anjuran Dokter Fauziyah yang merupakan spesialis penyakit dalam, hematologi dan onkologi medik, kekhawatiranku dan ketakutan Mama terbukti.

Ya, aku mengidap Acute Lymphoblastic Leukemia atau yang biasa disingkat ALL. Penyakit kanker darah jenis ini biasanya menyerang pasien anak-anak dan orang dewasa.

Leukemia Limfoblastik adalah suatu kondisi meningkatnya sel darah putih limfositik yang terjadi di sumsung tulang belakang, di mana produksi sel-sel darah putih tidak normal berlebihan, memenuhi sumsum tulang dan menghalangi produksi sel-sel darah normal sehingga tubuh penderita rentan infeksi dan sulit diatasi.

“Penyebab ALL pada orang dewasa masih jarang terdeteksi, meski beberapa faktor risiko bisa diidentifikasi, misalnya keturunan. Apakah ada keluarga yang memiliki riwayat penyakit yang sama?” tanya Dokter Fauziyah.

Mama tampak linglung, tidak fokus dengan semua penjelasan yang ditangkap indranya.

Aku tak menyalahkannnya, Mama sama denganku. Dunia kami seolah runtuh saat ini, mendengar kata kanker saja bagaikan mendapat vonis mati. Apa lagi kanker darah, pembunuh yang bisa mengambil nyawa kapan saja.

Dokter Fauziyah menuliskan catatan pada laporan medis, “Ada beberapa pengobatan yang saya rekomendasikan, diantaranya obat yang gunanya untuk menghancurkan dan menghambat pertumbuhan sel kanker, bisa oral maupun injeksi infus. Banyak kok penderita kanker bisa menyintas penyakit mereka, apa lagi Mbak Dian ini masih muda. Kita bisa melakukan transplantasi sumsum dari saudara kandung.”

“Saya anak tunggal, Dok.” Tentunya tidak mungkin Mama yang akan jadi pendonorku.

“Sebenarnya ada metode pengobatan baru, namanya Chimeric Antigen Receptor T (CART). Jenis terapi imun yang memanfaatkan dan melatih sel T pasien untuk mengenali dan menyerang sel-sel B yang bersifat kanker. Terapi ini menjanjikan dan dinilai lebih efektif menyembuhkan sel kanker serta minim risiko, tetapi …” Dokter Fauziyah menghela napas panjang. “… biayanya enggak sedikit.”

“Lakukan saja, Dok! Berikan yang terbaik untuk anak saya.” Mama menatap tajam, sorot penuh harapan tampak jelas di kedua bola matanya.

Aku termangu sejenak, berusaha mempercayai sang dokter. Mama mungkin akan melakukan apa saja untuk kesembuhanku. Namun, separuh diri ini tak yakin akan bisa berumur panjang. Entahlah ….

“Sebenarnya yang paling manjur dari semua terapi adalah keinginan kuat dari Mbak Dian sendiri.” Ucapan Dokter Fauziyah sukses menohokku.

Memang benar, jika bukan aku sendiri yang tetap semangat dan berjuang menghadapi penyakit ini, siapa lagi? Orang lain hanya bisa memberi dukungan, semangat dan penghiburan.

“Mama enggak ingat sedikitpun? Apa ada keluarga kita yang mengidap leukemia?” Aku menanyakan kepastian di tengah langkah gontai meninggalkan ruangan Dokter Fauziyah.

Di ujung selasar tanpa sengaja kami berpapasan pasien dengan penutup kepala yang juga ada di sesi kontrolku tempo hari. Kulitnya yang putih semakin kehilangan rona, lebih pucat dari tampilan terakhir. Perawat yang mendorong kursi rodanya pun terlihat tegang.

“Ma?” Aku mengenggam tangannya, Mama bagaikan kehilangan setengah kesadarannya, melangkah tanpa nyawa. Dia tersentak kaget karena sentuhanku. Kesiap tercetak jelas di wajahnya.

“Mama mikirin apa? Di nanya Mama loh.”

“Mama rasa, rumah dan aset berharga peninggalan Papa cukup untuk membiayai pengobatan kamu, Di.” Oh, Tuhan, Mama bahkan sudah berpikir sampai sejauh itu.

“Barusan Dokter Fauziyah juga bilang selalu ada harapan selain obat-obatan dan terapi lainnya kan?”

Aku hanya diam, ya begitulah dokter. Meski tahu ajal akan menjemput, ia berusaha menenangkan pasien dan keluarganya, senantiasa menumbuhkan asa.

“Kamu harus sembuh, Di ….” Benteng yang Mama bangun jebol sudah, ia terduduk di bangku kayu sambil sesegukan.

Bahunya berguncang disela isak tangis. Kepala ini menoleh ke kanan dan kiri. Ah, syukurlah taman kecil sepanjang parkiran lumayan sepi sore ini. Hanya ada aku, Mama dan kerisauan hati kami. Tangan Mama terulur menggenggam jemari ini, seakan berusaha mengalirkan kekuatan. Namun, aku tahu Mama sama rapuhnya dengan diriku.

Punggungku menghempas kursi, ikut duduk di samping Mama tanpa mampu mengucap sepatah kata. Tak ada yang bisa kujanjikan dari permintaan Mama. Aku tahu kondisi tubuh ini, tak seperti dokter yang harus menguatkan, berharap Tuhan bermurah hati memberikan mukjizat di detik-detik terakhir.

Sambil menunggu perasaan Mama membaik, aku merogoh ponsel dan menghubungi Niko.

[Lo di mana? Gue nyariin lo tadi, kangen banget, Di.]

Aku tertawa mendengar antusiasnya, hati ini menghangat. Kalau saja ia tahu, rindu juga menjajah rasaku.

[Ketawa aja, beneran ini. Lo enggak percaya mulu.]

“Lo bisa jemput gue, Ko?” Telinga ini kutulikan, mengunci bibir tak ingin menanggapi.

“Gue tungguin di RS Dharma Medika, ya.”

[Eh? Kamu sakit? Tante Ratih baik-baik aja kan?]

Pertanyaan bertubi-tubi meluncur dari bibirnya, bahkan aku yang berjarak ratusan meter dengannya menangkap kekhawatiran dan panik yang menyerang.

“Gue tunggu di taman samping dekat pintu Utara, enggak pake lama!” Aku memutus panggilan bersama embusan napas kasar, kemudian menoleh pada Mam di sampingku.

“Di udah minta Niko jemput. Kita enggak mungkin pake taksi daring kalo Mama enggak brenti nangis gini.”

Mendengar nama Niko, Mama sontak mengusap mata, menghapus jejak basah. Jika ia bermaksud menyembunyikan tangis, Mama salah. Bengkak di kedua lingkaran bening itu tak mampu menutupi meski Niko butuh waktu untuk sampai di sini.

“Mama duluan aja deh.” Mama menangkup pipi ini.

“Kamu butuh ngomong berdua sama Niko.”

“Kok Mama ninggalin Di?” Aku protes dong, kami ke sini berdua, tetapi Mama ngotot ingin pulang duluan dengan alasan tak ingin mengganggu.

“Mama juga pernah muda, Sayang. Lebih baik kalian bicarakan masalah ini baik-baik.”

“Tapi, Ma … gimana kalau Niko enggak bisa menerima kondisi Di sekarang? Kemarin mungkin dia semangat banget karena enggak tahu Di sakit.”

Apa yang bisa dia harapkan dari seonggok daging yang sedang berusaha menyambung hidup? Aku pun pasti akan bimbang jika berada di posisi Niko.

Mama kembali terisak, meraih tubuh ini, membawanya ke pelukan, menepuk dan mengelus punggungku. Wangi Mama yang tak pernah berubah sejak menelusup, menyentuh indra. Rasanya ingin meraup semua bau harum itu, menghirup hingga memenuhi rongga dada. Namun, aroma yang dulu selalu membuatku tenang ini sekarang hanya mampu mengusir sedikit kelesah di hati dan otakku.

Niko muncul di hadapanku tak lebih dari sejam. Matanya celingukan mencari keberadaan Mama.

“Mama udah balik, Ko. Lo sih lama banget. Gue sampai harus melipir-”

“Lo enggak papa, kan? Ngapain di sini? Lo pucat banget, astaga. Lo sakit?”

Aku yang semula berniat jahil, batal karena diserbu dengan segudang pertanyaan yang tak tahu harus kujawab apa. Bingung harus bereaksi bagaimana.

“Gimana kalau kita ngobrolnya sambil jalan aja?”

“Ini tawaran ngedate?” Sorot panik di matanya berubah, aku tahu itu binar bahagia.

“Hmmm … mungkin.”

***

Katakanlah aku sangat tidak profesional sekarang, kami sedang meeting perihal kunjunganku ke Bandung dan Jogja diinterupsi oleh dering perangkat jemala dari saku. Alih-alih mengabaikan seperti yang biasanya kulakukan, aku malah berderap cepat meninggalkan ruangan.

“Gue titip presentasi, Ra.” Aku menepuk pelan bahu perempuan itu sebelum melesat keluar.

Untung saja, kami sempat ngopi bersama, ia sudah paham sampai khatam harus melakukan apa.

Sungguh, nyawa ini bagai hilang separuh ketika menerima kabar kalau Dian sedang di rumah sakit.

Ada apa? Siapa yang sakit? Dian kah?

Tangan ini gemetar, aku mengetatkan rahang sepanjang perjalanan, mencoba menghilangkan gugup tetapi rasa itu semakin bercokol tak mau pergi.

Aku menyupir dengan frustrasi, entah beberapa kali telapak tangan ini menekan klakson agar kendaraan di depan berbaik hati memberi akses.

Namun, apa yang mampu dilakukan ketika sore jam pulang kantor? Jalan tol pun penuh sesak.

Di tengah lalu lintas yang padat merayap, tentunya hanya perlu bersabar, mengikuti antrean mengular di depan sana. Butuh waktu lebih dari sejam untuk tiba di rumah sakit yang disebutkan Dian. Aku merogoh ponsel bermaksud menghubunginya, tetapi urung karena sebuah pop-up pesan whatsapp muncul di layar.

Gue di Coffee Shop lantai 1, lo kelamaan.

Tidak sabaran seperti biasanya, aku berdecak aembari mendongak memandangi pepohonan hijau yang menundungi lalu kemudian menarik napas lega. Gundah yang meraja terkikis perlahan bersama semilir angin menyapu wajah ini. Jika Dian masih ngegas, itu artinya dia baik-baik saja. Mungkin ia menjenguk seseoran di sini, aku mencoba menghibur diri sendiri.

Setengah berlari, langkah ini melesat ke tempat yang dimaksud. Dian duduk sendiri di samping tiang paling ujung. Sebuah cangkir putih dengan logo bulat hijau bergambar burung hantu, ditemani croissant di piring mungil. Tak ada uap yang mengepul di atas gelas pertanda Dian sudah lumayan lama berada di sini.

Dian langsung berdiri ketika pandangan kami bertemu. Terlepas dari penampilan yang tak berubah, masih dengan ripped jin dan kaos polos putih. Namun, mata ini takkan tertipu, senyum lebar di bibir berpoles lipstik merah itu belum mampu menyembunyikan kulit Dian yang lebih pucat dari biasanya.

“Gue tinggal tiga hari aja lo udah seceking ini, Di.” Dian mengekeh mendengar nada protes dari ucapanku.

“Lo pasti keasyikan kerja sampai lupa makan.” Ia hanya mengangkat bahu lantas duduk di sampingku.

“Enggak ada lo yang nraktir gue.” Matanya membulat lucu, jemarinya terulur menyentil bibir ini.

“Jangan mencebik gitu, jelek!”

Aku memalingkan wajah, seorang pelayan menghampiri meja kami, menanyakan pesanan. Tak ingin pusing membolak-balik buku menu, aku menyamakan saja dengan pesanan Dian yang bahkan belum disentuhnya sama sekali. Tak perlu menunggu lama, secangkir Espresso tersaji di hadapanku.

Barista di cafe ini bisa dibilang sukses membuat shot¹ yang baik. Aroma kuat menguar dari kopi kental dengan krema² lebih gelap dan berbusa banyak.

“Kerjaan di kantor enggak sibuk, Ko?” Dian menginterupsiku menghidu wangi dari uap kopi.

“Sibuk.”

Dian tampak merasa bersalah, “Seharusnya gue enggak ngajakin lo ke sini ya.” Pandangannya ia alihkan jauh ke ruang terbuka di lantai dasar, hilir mudik perawat mendorong brankar menarik perhatiannya.

“Jadi siapa yang sakit?” Aku merasa Dian tak menyangka pertanyaanku setiba-tiba ini, tubuhnya menegang sesaat.

“Gue ….”

Aku tergelak sesaat setelah keheningan yang melingkupi kami. Namun, Dian saat ini menoleh dengan raut wajah datar, dia tidak sedang bercanda.

“Candaan lo enggak lucu.”

“Gue memang enggak sedang bercanda, Ko.”

Hei, ini penghujung tahun, bukan April Mop. Mengingat Dian selalu jahil, aku sama sekali tak percaya dengannya.

“Ah, sudahlah. Gue enggak percaya.” Kopi yang semula ingin segera kutandaskan sekarang menjadi tak menarik sama sekali.

“Kita jalan sekarang? Berlama-lama di sini, bakal bikin otak lo makin aneh.”

Tiga lembar lima puluh ribu, aku letakkan di atas meja lalu menggenggam jemarinya, menarik untuk segera beranjak dari situ.

“Lo habis berantem?” Dian hanya tertawa ketika aku menunjuk lebam di lengannya, entah sudah berapa kali terlihat mata ini.

Dian mengikuti langkah ini tanpa banyak protes, genggamanku tak ditepisnya, bahkan kali ini dibalasnya dengan erat.

“Lo pengin jalan ke mana?” Aku membelokkan mobil ke Kembangan. Dian meminta mengajaknya ke Hutan Kota Srengseng.

“Mumpung deket sini,” ucapnya riang, tangannya ia selipkan di lenganku.

“Bentar lagi tutup, Di.”

“Jangan mengeluh Bapak Niko yang terhormat.” Dian meletakkan telunjuk di bibir ini, membungkam bantahanku, menghentikan perdebatan kami.

Hutan Kota Srengseng dulunya adalah tempat pembuangan akhir sampah yang disulap menjadi ruang terbuka hijau. Lahan parkir berada di sebelah Selatan pintu masuk berdekatan dengan tenda tempat menjual minuman dan camilan. Ada ribuan spesies pohon dari puluhan varietas berbeda yang bisa dinikmati keasriannya.

Rasanya tak mungkin mengelilingi kawasan 15 hektar kurang dari sejam. Sebagian besar pengunjung bahkan mulai meninggalkan tempat ini.

“Lo belum jelasin, Ko. Kenapa lo mau nikahin gue?”

Aku menggaruk tengkuk salah tingkah, akhirnya Dian menagih penjelasan dari kekacauan kemarin. Yup, Ibu dengan segala sikapnya adalah bencana. Ia bahkan dua kali lebih cepat dariku. Ibu melamar Dian yang bahkan tidak tahu masalah sama sekali. Kebohongan dan ide gila yang terpikirkan menuai karma saat itu juga.

“Lo bahkan bisa ngajak banyak perempuan di luar sana, Ko.” Dian menarik tangannya, lantas bersedekap, melipatnya di depan dada. Kedua alisnya naik, menumpuk di tengah dahi.

“I want you, no one else. Ya … ya … karena gue pikir lo yang pantes buat gue. Kita udah kenal lama.” Aku mendekat, hingga tubuh kami bersentuhan, tangan ini meraih jemarinya.

“Lo bahkan udah tau gimana gue luar dalam. Lo-”

“Gue harusnya nolak dong karena tau lo luar dalam.” Aish! Ia terdengar seperti merajuk. Ujung bibirnya tertarik, menahan tawa.

“Harusnya lo bangga karena gue jujur sebelum menikah.” Terus terang, aku tak seperti Dian, track record percintaan kami jauh berbeda.

Dian yang aku tahu selalu menghindar dari perhatian laki-laki, kecuali diri ini. Wajar kan kalau aku sedikit besar kepala?

“Gue butuh alasan kuat buat nerima lo, Ko. Bukan sekadar jujur gimana cara lo sama perempuan-perempuan lain.”

“Lo tau kan, udah berapa tahun gue bahkan enggak pernah dekat lagi sama perempuan, Di?” Dian mengangguk, mendongak dengan tatapan yang tak bisa kumengerti.

“Mungkin … karena gue mulai sadar ada lo.”

“Gombal!” Dian mencibir, melepas genggaman tangan ini, ia melangkah setelah menyelipkan jemarinya di lenganku.

“Gue ada sejak kita masih umur belasan kali, Ko,” gumamnya pelan.

Semburat jingga di ufuk Barat mengintip malu-malu dari balik pepohonan, kicau burung mulai berkurang, berganti suara serangga menyambut datangnya malam, semilir angin menyapa kulit terasa lebih dingin menusuk.

“Di, gue sepertinya beneran cinta lo deh.”

Dian tak menjawab, aku menyadari langkahnya memelan. Beberapa saat lamanya kami hanya diam, sibuk dengan pikiran masing-masing hingga tubuh ini menegang, kepala Dian terkulai di dadaku. Ia nyaris saja terjatuh jika lengan ini tak sigap merengkuhnya, memeluknya.

Dian pingsan, darah segar tersembur dari hidung, memenuhi wajahnya. Aku berusaha tidak panik, menaruh lengan ini di bawah lutut dan punggungnya lantas berderap cepat ke parkiran.

“Tolong … bantu saya membuka pintu mobil.” Napas ini terengah karena berlari. Dua orang laki-laki dan perempuan yang tengah membereskan barang dagangan serempak mendekat, kompak membantu.

Tak lupa mengucapkan terima kasih, aku segera meninggalkan area hutan, menyupir diliputi rasa khawatir, membawanya kembali ke rumah sakit tempatku menjemputnya. Kurang dari lima belas menit untuk tiba di tujuan. Para tenaga medis di intalasi gawat darurat menyambut sigap, membantu memindahkan Dian ke brankar.

Dengan jari gemetaran, aku menghubungi Tante Ratih, menyampaikan jika saat ini aku membawa Dian ke rumah sakit karena tiba-tiba saja ambruk. Di seberang sana, terdengar kesiap dan isakan serta ucapan terbata-bata dari perempuan itu. Perasaan ini semakin tidak enak saja.

[Ko, kamu ke bagian administrasi, ya. Bilang kalau Dian pasien Dokter Fauziyah. Tante ke sana sekarang]

Aku tak sempat mengucap salam ketika Tante Ratih memutus panggilan, dengan bergegas langkah ini kularikan ke bagian administrasi. Berjuta pertanyaan menjadi jutaan kecamuk di pikiran ini. Namun, setelah bertemu dengan bagian staf perawatan, aku akhirnya tahu. Dian tidak sedang bercanda ketika ia bilang kalau sedang sakit.

Dian-ku mengidap leukemia.

Bersambung