Dian Story Part 4

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9

Cerita Sex Dewasa Dian Story Part 4 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Dian Story Part 3

Langkahku terhenti sejenak, sebelum akhirnya memutar pintu kayu jati berdaun ganda itu. Mata ini bersirobok dengan pandangan keheranan milik Mama.

“Halo, Ma.” Entah senyum ini terlihat baik-baik saja atau bagaimana. Pikiranku mengembara ke mana-mana.

“Mama kok jam segini ada di rumah?” Mata ini kualihkan ke jam di tangan.

“Iya, Mama izin pulang cepet.” Mama tersenyum lebar, “Kamunya juga, tumben jam segini sudah ada di rumah.”

Mama bangkit dari sofa, mendekat padaku. Menyentuh dahi ini dengan punggung tangannya. Firasat seorang ibu memang jarang sekali salah.

“Kamu demam, Di. Udah minum obat?”

Kepalaku mengangguk pelan, dalam hati terucap permohonan maaf, tak pernah sedikit pun terlintas untuk menyembunyikan penyakit ini dari Mama. Aku hanya perlu sedikit waktu, mencari kata, menguntainya menjadi kalimat yang kuyakini takkan membuat Mama bersedih.

“Ya sudah, kamu istirahat saja dulu, tar Mama panggil kalau makan malam kita udah siap.”

“Iya, Ma. Yang enak, ya.” Lengkungan di bibir aku paksakan tertarik sempurna. Membentuk senyum lebar ditambah cengiran.

“Di ke kamar dulu, ya.” Mama mengedipkan mata, jemarinya terangkat. Ibu jari dan telunjuk bertemu membentuk lingkaran.

Langkah ini kuseret menuju tangga, melewati sekat kayu minimalis yang separuhnya berfungsi sebagai rak. Foto Papa dan Mama paling atas, dan foto kami bertiga di bawahnya. Aku tak tahu kapan gambar itu diambil, gigi depanku saja masih bisa dihitung jari. Jantung ini berdebar, menggaduh.

Apa Papa bernasib sama denganku? Selama ini Mama memang tak pernah bilang, penyakit apa yang membuat Papa meregang nyawa. Ya, Tuhan, semoga saja firasat ini salah.

“Ma ….” Aku menoleh, menghentikan pijakan di anak tangga.

“Dulu Papa meninggal karena apa, ya?”

Kegiatan Mama memotong sayuran terhenti, lantas membersihkan tangan dengan ujung celemek. Ruang tengah memang menyatu dengan dapur bersih dan meja makan. Tak butuh waktu lama untuknya mendekat ke tangga, lalu mendongak menatap wajah ini dengan alis bertaut.

“Kenapa tiba-tiba kamu nanya itu, Di?”

Aku mengangkat kedua bahu, mengedik seraya memutar bola mata. Di dinding sepanjang anak tangga Mama memasang beberapa pigura, foto Papa dan interaksinya bersamaku. Ketika sedang belajar merangkak, berjalan, berlari dan saat ulang tahunku yang kedua. “Nanya aja, Ma. Di enggak ingat soalnya.”

Mama mengekeh, “Ya, iyalah. Papa ninggalin kita, enggak lama setelah kamu ultah.” Ia tampak menarik napas lalu mengembuskannya.

“Tapi kepergian Papa itu yang terbaik buat dia, jangan bikin kamu sedih, ya, Di.”

“Papa sakit?” Suara ini mencicit, Mama tak boleh tahu jika saat ini aku tengah menahan tangis.

“Enggak, Papa kecelakaan pas keluar kota, Sayang. Pendarahan di kepala. Papa sempat koma beberapa hari sebelum akhirnya berpulang.”1

Mama menunduk, menyembunyikan duka. Ia kembali ke dapur tanpa sepatah kata, karena keegoisanku, sepertinya aku telah menggores luka di hatinya tanpa kusadari, Berpegangan pada birai, kepala ini melongok dari balik tangga.

“Ma, maafin Di. Harusnya Di enggak nanya ….”

Mama menatapku sambil tersenyum, ia mengibaskan jemari.

“Enggak papa, Di. Sana gih, kamu tuh butuh istirahat.” Mama mencebik, mengerucutkan bibir, terdengar menghela napas pasrah.

“Makanya kalo kerja jangan terlalu diporsir.

Alih-alih menjawab, aku hanya menyengir sebelum melanjutkan langkah ke kamar.

Pandangan ini menelusuri dinding, mengindera seluruh ruangan lalu kembali ke pigura di atas nakas.

Niko tertawa lebar sambil merangkul pundakku, satu tangannya menarik tali toga, tinju ini tepat di dada laki-laki itu, momen yang diabadikan Mama tanpa kami sadari. Bagaimana nanti reaksi sahabat kecilku kalau ia tahu?

Aku tersenyum kecut, melepas tas dan membiarkannya teronggok di samping tempat tidur lalu menghempas tubuh ke ranjang. Mata ini menatap plafon, menyalang hingga lelah menerpa dan menutup, mengambil kesadaran.

***

Jika saja tak merasa ada yang aneh denganku, mungkin saja pikiran ini masih terlelap di alam mimpi. Cairan merah hangat membasahi hidung, aku mimisan lagi.

Rasa nyeri menyerang ketika tubuh ini bangkit meraih tisu di meja rias, memilinnya dan menyumpal hidung sembari kembali berbaring. Mungkin dengan terlentang, pendarahan bisa berhenti. Punggung tangan ini menyentuh dahi, syukurlah, demamnya mulai turun.

Beberapa saat lamanya, aku hanya diam, merenungi nasib. Denting penanda pesan berbunyi sekali. Ogah-ogahan, tangan ini terulur mengambil tas, membawa ke perut. Jemariku merogoh mencari keberadaan perangkat jemala itu.

Niko
Gue lagi otewe, lo di rumah kan?

Aku melirik jam di dinding, masih pukul lima lebih sedikit, Niko jarang sekali pulang cepat. Apa ia mencariku?

Perasaan hangat yang menghampiri sontak menghilang berganti kelesah. Jemari yang sejak tadi mengetikkan kata berpindah ke tombol panah dengan tanda silang, urung membalas pesan. Yang kulakukan malah memasukkan ponsel itu ke dalam tas lalu masuk ke kamar mandi.

***

“Tante lagi ngapain? Biar Niko bantuin.”

“Ko, bantuin Tante deh, ini udangnya mau dibersihin. Tante nyiapin tepungnya dulu.”

Suara Niko dan Mama di dapur terdengar jelas dari depan kamar. Ternyata isi pesan Niko benar adanya. Laki-laki itu muncul dan sekarang sedang cari muka pada Mama.

Aku masih waras untuk tidak jadi bahan percobaan. Dari zaman baheula, Niko tidak bisa masak. Menyentuh dapur pun rasanya tidak pernah. Tante Marisa saja selalu berdoa memiliki satu anak lagi. Setidaknya perempuan, yang bisa menemaninya memasak.

“Ko, stop it! Udang-udang itu urusan gue.”

“Eh, Tuan Putri udah bangun, udah mandi kah?” Niko mengernyit, “Itu masih ada belekannya.” Telunjuknya mengacung ke wajah ini.

“Minggir!” Aku menepis tangannya, mengambil wadah, membawanya ke wasrafel.

“Duh, galaknya.” Niko memegang dada, aku tahu itu pura-pura.

“Lebay lo, Ko.”

“Eeeh, sudah.” Mama melerai pertengkaran kami.

“Niko duduk sini dulu. Belum lapar kan?”

“Tante lagi ada acara? Kok masak banyak gini?” Niko memandangi makanan yang tersaji di atas meja.

“Ayam goreng Kalasan, sayur kacang hijau dan kacang panjang berkuah santan. Di piring paling ujung ada tempe dan tahu orek. Sekarang nyiapin udang krispi.”

Mendengar ucapan Niko, aku sontak menoleh. Mama memasak sebanyak ini untuk apa? Mata ini melirik Mama, ia tertawa kecil. Namun bagiku terdengar misterius.

Sekarang bukan ulang tahun Papa, hari lahir Mama juga masih lama. Aku? Baru saja dua bulan lalu. Ada apa dengan Mama?

“Di, udangnya sudah bersih? Campurin sama tepung bumbunya nih.” Mama melepas celemek, mengambil nasi dari pemanas. Wangi pandan menguar bersama kepulan asap.

Pandangan ini bertemu dengan Niko, beberapa saat lamanya kami saling menatap. Dehaman Mama menyintasnya.

“Kalian sejak kapan sih pacarannya?”

Niko terbatuk, tampaknya tersedak. Salah sendiri, mengalihkan kekikukan pada Mama dengan minum air.

“Kami enggak-”

“Sudah lama, Tante.” Niko memotong ucapanku, mata ini memelotot padanya.

Dasar si Kunyuk ini pura-pura tak melihat. Kepalan jari ini menguat, menahan keinginan menjambak rambutnya. Aku mengumpat dalam hati, awas saja!

“Astaga, kalian ini kenapa enggak pernah ngomong sih?” Mata Mama berbinar gembira, menatapku dan Niko bergantian.

“Malam ini tuh Mbak Marisa mau ke sini, sekalian ngomongin hubungan kalian.”

Niko tampak melongo, aku mendadak pusing, tanganku memijat pangkal hidung. Pandangan ini terarah pada wajah laki-laki yang kini berubah pasi.

Huft, kenapa masalah datang bertubi-tubi?

***

“Oooh, jadi itu alasan Mama pulang cepet?”

Dian memalingkan muka, sebelum menggulirkan pandangan pada Tante Ratih, matanya jelas mendelik padaku. Aku tahu ia pasti menunggu waktu yang tepat untuk meledak. Dian kadang seperti bom waktu jika seseorang mengusik ketenangannya.

“Iya, Di.” Tante Ratih tersenyum bahagia.

“Tadi pagi tuh Mbak Marisa telepon Mama. Maaf, ya … kita jadi gosipin kalian.” Beliau mengekeh, jemarinya terangkat menutup mulut menahan tawa.

Aku merasa bersalah, by the way. Kekacauan yang kulakukan dilanjutkan dengan paripurna oleh Kanjeng Ibu. Sial! Aku bahkan belum sempat memberi penjelasan pada Dian. Bagaimana ini?

“Di ….” Suara ini terdengar memelas, entah sudah berapa banyak air yang mengalir di tenggorokan.

“Diam lo!” Dian membentak sinis, ia masih ingin lanjut mengomel jika saja Tante Ratih tak menyentuh lengahnya. Bibir cemberutnya ia usahakan kembali membentuk senyuman.

“Bukan salah Niko, Di. Lagian ngapain coba hubungan kalian diumpetin?” Tante Ratih memindahkan udang krispi di piring lonjong setelah minyak meresap di tisu. Matanya berbinar puas memandang semua hidangan di atas meja.

Dian menarik kursi, lantas duduk tepat di hadapanku sembari melipat kedua tangan, tak ada senyum di wajahnya, hanya tatapan tajam yang seolah menguliti diri ini sampai ke tulang.

Tante Ratih mendongak melihat jam.

“Wah, udah setengah tujuh aja nih.” Perempuan itu mencoba mencairkan kebekuan yang sengaja diciptakan Dian.

“Ya udah, Mama siap-siap dulu, ya, Di.” Jemarinya mengelus pundak Dian lantas meninggalkan kami.

“Oh, iya, Ko …” Panggilannya membuat kepala ini menoleh, langkahnya berhenti di undakan tangga,

“… kalau Tante belum turun, bukain pintu ayah sama ibumu, ya.”

“Iya, Tante.”

Dian berdecak sebal mendengar ucapanku. Pandangannya terus mengarah padaku.

“So, you have to explain everything, Bapak Niko yang terhormat!” cecarnya begitu terdengar bunyi pintu menutup di lantai dua.

“Karena ini juga lo sampai bolos kerja huh?” Pertanyaan yang kini bagai sebuah tudingan.

“Ini enggak lucu tau!”

Bagaimana aku bisa menjelaskan semuanya jika ia sendiri tak berhenti melontarkan kata, telunjuknya terarah padaku bergerak dari atas ke bawah.

“Ngejelasinnya di situ saja.” Sekilas mata ini menangkap beberapa lebam tercetak di punggung lengannya.

“Lo abis ngapain sampai banyak lebam, Di.”

Aku tak peduli dengan tatapan mengintimidasi itu, langkah ini berderap cepat meninggalkan kursi, mendekat padanya, menggenggam pergelangan tangan Dian, membaliknya. Oh, ini apa? Tanda lahir tidak akan muncul secara tiba-tiba bukan?

“Jangan sok ngalihin pembicaraan deh, Ko.” Dian menyentak genggaman jemari ini, kedua tangannya mendorong tubuh ini menjauh.

“Lo belum ngejelasin semua ini?” Matanya melirik ke hidangan di atas meja.

“Gue minta maaf, ini semua salah gue and gue bakal jelasin.”

Aku terduduk dengan satu lutut menumpu di lantai, memberanikan diri mengulurkan tangan, menggenggam jemarinya, kepala ini mendongak, mengeja setiap lekuk wajah yang kurindukan sejak pagi tadi.

“But promise me, please … don’t let my mom dissapointed today.”

“You owe me an explaination, Sir!” bisik Dian tegas sembari memalingkan wajah lantas menyentak genggaman ini, ia menarik tangan kembali terlipat di atas meja, kepalanya menunduk tanpa menoleh lagi padaku.

“Udah latihan gaya buat lamaran, Ko?” Tepukan di bahu diikuti dehaman dari belakang membuatku meringis.

Dian bukan menyembunyikan rona di wajah, tetapi karena ia menyadari Tante Ratih tengah berjalan mendekati kami. Ada rasa kecewa karena dugaanku salah.

“Kaki kamu enggak kram kan, Ko?” Tante Ratih bertanya disela kegiatannya mengatur piring di atas meja. Ia menyadarkanku kalau saat ini masih setengah berjongkok di samping kursi putrinya.

Dian mencebik melirikku, lekuk di bibirnya terangkat, lebih tepatnya seperti senyum menyindir.

“Dia mah biasa kek gitu, Ma. Abaikan aja.”

Aku bangkit sembari menggaruk kepala, namun sontak berpindah memegang pinggiran meja. Cengkeraman jemari ini menguat, sensasi seperti tertusuk jarum, mati rasa di bagian kaki membuat tubuh ini sedikit oleng. Dian sontak berdiri memeluk pinggangku, membantu duduk lantas kembali ke kursinya.

Kami terdiam menyembunyikan kekikukan, menyadari kalau saat ini kami tidak berdua saja. Sedangkan Tante Ratih hanya senyam senyum melihat kami. Boleh kan ada sedikit harapan di hati ini jika Dian pun merasakan hal yang sama sepertiku? Ketukan di pintu mengembalikan lamunan ini, sepertinya itu Ibu.

“Biar Tante yang buka pintunya, Ko.” Ucapan Tante Ratih menahan gerakanku. Syukurlah, kaki ini memang belum sepenuhnya reda dari kesemutan.

“Silakan, Mbak, Mas. Kita makan malam aja dulu.”

Mas? Aku sontak menoleh, astaga … bahkan Ayah menyempatkan waktu? Mampus! Ibu akan menggorengku kalau acara ini batal karena Dian berubah pikiran, menolak kompromi. Dalam hati ini terus berdoa, semoga Dian tak menarik pemantik dan meledakkan semua asa dari ketiga orang tua kami.

Mata ini melirik ke samping, Dian tampak mengembangkan senyum, ia bangkit menyambut, memberi salam dan mencium punggung tangan Ayah dan Ibuku.

“Rumah kamu di sebelah, Ko,” sindir Ibu begitu menghempaskan bokong di sampingku.

“Apa kita perlu masang GPS di mobilnya, Tan?” Dian ikutan bercanda, diikuti kekehan Ibu dan Tante Ratih.

“Rapi banget, Om, Tante. Maafin Di, ya, enggak nyambut dengan pantas. Abisnya ….” Dian melirik dengan sebal.

“Udah, enggak usah debat.” Tante Ratih memintas ucapan Dian lantas mengulurkan piring pada Ibu dan Ayah.

“Silakan, Mbak, Mas.”

“Enggak papa, Di. Si Niko aja belum mandi tuh.”

Ibu mencibir padaku lalu bergumam pelan, “Tante heran kamu mau sama dia.”

Dian dan Tante Ratih tertawa renyah, ya, Ibu memang all out malam ini, dress batik marun selutut senada dengan kemeja batik Ayah. Rambutnya disasak tinggi, bahkan diberi gel anti badai ala Inces maju mundur itu. Tampaknya kaku sekali.

Percakapan dikuasai oleh para perempuan, aku dan Ayah lebih banyak diam, begitu pun dengan Dian. Sesekali ia hanya menimpali ucapan Tante Ratih atau menjawab pertanyaan Ibu.

Satu hal yang paling tak ingin kuhadapi di dunia adalah angkara Dian namun sungguh ajaib malam ini, ia tak menunjukkan amarah sama sekali. Ketika kami berlima pindah ke ruang tengah, bersantai sambil minum teh dan menonton televisi, Dian masih bertahan mengikuti kekacauan akibat ulah diri ini.

Ia bahkan berjanji padaku untuk tidak merusak kebahagian ketiga orang tua kami saat kami sedang mencuci piring kotor berdua.

Hingga akhirnya terdengar gemeletuk dari rahangnya yang mengetat.

“Maaf, Tante. Tapi Di belum ada niatan untuk menikah.” Dian akhirnya kehilangan kesabaran begitu mendengar Ibu ingin segera meresmikan hubungan kami.

“Loh, Sayang, kenapa?” Tante Ratih mengambil jemari Dian ke pangkuannya.

“Apa lagi yang jadi masalahnya? Kalian juga udah cukup umur kan?”

“Ma, Tante, Di masih pengin kerja, masih banyak cita-cita yang pengin Di raih.” Dian mengembuskan napas lelah, tampak kecapaian dengan semua kebohongan ini.

“Lo juga belum ada niatan buat nikah kan, Ko?” Matanya menyalang padaku, aku benar-benar tak tahu harus bagaimana.

Satu-satunya yang bisa jadi penolongku sekarang hanya Ayah. Pandanganku bergulir pada laki-laki di seberang meja, memohon bantuan.

“Semua hal baik ada bagusnya disegerakan.” Ibu beringsut, ikut duduk di samping Dian.

“Kamu juga enggak perlu brenti kerja kok, Di. Iya kan, Jeng?”

“Bu, udah dong, kasihan Dian-nya.” Ayah berdeham pelan, “Biarkan Niko dan Dian yang mutusin kedepannya gimana, toh mereka yang bakal menjalani.”

Thanks God, Ayah mengerti tatapan ini.

“Ish! Ayah ngebelain Niko?” Ibu tidak terima jika pembicaraan antar keluarga ini berakhir tanpa ada kata sepakat.

“Bukan gitu, semua keputusan ada di tangan mereka, Bu. Kita sebagai orang tua bisanya menndukung saja,” pungkas Ayah tegas, membuat Ibu dan Tante Ratih tak berkutik.

“Yo wes, terserah kalian saja. Tapi jangan lama-lama loh, Ibu sama Jeng Ratih udah pengin banget momong cucu.”

Aku nyaris tersedak teh yang tengah kucecap, tak menyangka Ibu akan sejujur ini. Ia memang mengharapkan diri ini segera menikah bahkan berniat menjodohkanku dengan anak temannya andai saja aku tak menemukan alasan untuk berkelit.

Alasan yang kini membuat diri ini menyesal, merasa bersalah telah memanfaatkan Dian sebagai tameng. Tetapi jujur, dibalik semua kebohongan yang tercipta, dari sejuta keinginan terbaik dari ketiga orang tua kami, ada rasa yang benar-benar tulus untuk sahabat kecilku.

Aku serius ingin terus bersama Dian.

***

Jika saja ini hanya tentang cinta, mungkin saat ini akulah perempuan yang paling berbahagia. Bagaimana tidak? Orang tua Niko meminta kami segera meresmikan hubungan.

Suatu hal yang selalu aku harapkan ketika perasaan merah jambu mulai mengisi hati. Entah dengan Niko, yang aku tahu itu hanyalah akal-akalannya saja demi menghindari Tante Marisa. Niko pun belum memberikan alasan huru hara kemarin. Laki-laki itu menjadikanku tameng menghadapi ibunya yang seakan kebelet banget ingin punya mantu dan cucu.

Sayangnya kisah ini tak melulu terdengar indah, ada awan kelabu yang bisa saja berganti badai. Dugaan dokter Fauziyah bisa saja benar kan? Jika itu terjadi, apakah Om Pras dan Tante Marisa masih mengharapkan diri ini sebagai calon mantu potensial?

Niko bahkan belum menemuiku lagi. Kudengar dari Aira, ia ada perjalanan bisnis ke Bandung dan Jogja bersama Dimas. Laki-laki itu memang selalu turun tangan sendiri menangani kontrak dengan production house. Selain mengecek legalistas, Niko wajib memastikan kapasitas PH yang nantinya akan bekerjasama dengan NikTV selama setahun.

“Di, kamu kenapa nolak nikah sama Niko?”

Mama tiba-tiba bertanya ketika menyadari kedatanganku, hari Minggu biasanya kuhabiskan bersantai di teras samping, menemani Mama yang sibuk dengan tanaman hiasnya. Duduk di lantai lebih nyaman mengurangi nyeri di pinggul ini. Dua mangkuk avokad dan kefir kuletakkan di atas tikar bersama satu bungkus sereal.

Aku menengadah ke atas, matahari pagi ini sedang bersahabat, lingkaran oranye itu bersinar lembut setelah berhari-hari tertutup awan kelabu. Pandangan ini bergulir pada tanaman hias warna merah dan berdaun lebar. Namanya Aglonema atau masyarakat awam menyebutnya bunga sri rezeki. Mama memindahkannya dari polybag ke dalam pot yang baru dibelinya.

Taman kecil Mama semakin sesak dengan kedatangan banyak bunga-bunga baru, beraneka bentuk dan memiliki nama aneh. Aku jadi ingat dengan beberapa pot Anthuriun yang sekarang tak jelas di mana rimbanya. Tren musiman yang biasanya bertahan hanya beberapa saat lamanya.

Mama menoleh dari balik bahunya, ia mengerutkan alis menatapku. Mama pasti heran dengan sikapku yang lebih banyak diam belakangan ini.

“Di, Mama lagi ngomong sama kamu loh. Kamu tuh kenapa?”

Mama membersihkan pinggiran roknya kemudian mencuci tangan dengan air keran yang ada di sudut taman lalu mendekat, ikut berlesehan denganku.

“Ma, Di sama Niko …”

aku terdiam sejenak, mengumpulkan keberanian, Niko mungkin belum berani jujur pada Tante Marisa, tetapi tidak denganku, menyembunyikan masalah ini lebih lama terasa menyesakkan.

“… sebenarnya kami enggak ada hubungan apa-apa.”

Kegiatan Mama membuka bungkus sereal sontak terhenti, pandangannya tajam padaku, menelisik setiap garis di wajah ini.

“Lantas kenapa Niko ngomong ke ibunya kalau dia udah rencana ngelamar kamu, Di?”

Aku menghela napas pelan, melirik ke balkon rumah di sebelah. Sudah tiga hari jendela kamar Niko tak pernah dibuka. Pemiliknya mungkin masih di luar kota.

“Di enggak tahu kenapa … Niko belum ngomong lagi sama Di, Ma. Dia masih sibuk.”

“Kalau ini hanya akal-akalan Niko, gimana ngejelasinnya sama Mbak Marisa?” gumam Mama sambil menaburkan sereal ke mangkuk.

“Tapi Di, perasaan kamu ke Niko ….”

“Di sayang kok sama dia, tapi enggak tahu sama Niko. Mama kan tau sendiri, Niko tuh enggak jelas banget.”

Mama tertawa, “Telinga Niko mungkin udah panas dijejali kapan nikah mulu sama ibunya.” Ia lalu menyuap serealnya.

“Pas lagi enggak punya temen dekat juga kan dia?”

“Ish!” Aku mencebik lantas mengedikkan bahu,

“Di enggak pernah nanya, Ma.”

“Tapi, Di.” Mama menandaskan sarapan, kemudian mengelap bibir dengan tisu.

“Ini misal, ya … kalau Niko beneran pengin nikah sama kamu.” Ia lantas diam karena mata ini memelotot, “kalau beneran … kamu mau kan nerima dia?”

Aku tertawa pelan, terdengar sumbang. “Di enggak yakin bisa nerima Niko dengan kondisi Di seperti sekarang, Ma.”

Resep obat dari Dokter Fauziyah memang meredakan demam dan mimisan. Nyeri di sendi pun hanya muncul sesekali. Meski begitu, kondisi tubuhku perlu dipastikan dengan BMP. Ketika itu terjadi, aku butuh Mama yang mendampingi.

Berita ini memang bukan kabar baik, namun tak mungkin untuk terus menyembunyikan hal sebesar ini dari Mama. Kami pernah melalui masa sulit ketika kehilangan Papa, aku rasa Mama pun bisa menemani diri ini berjuang sekarang.

Perlahan jemari ini merogoh saku celana, mengambil sesuatu dari sana. Mama mengernyit ketika benda itu berpindah tangan.

“Ini apa, Di?” tanya Mama bingung, tergesa ia membuka amplop berlogo rumah sakit. “Ini maksudnya gimana, Di?”

Tanganku terulur menggenggam jemarinya, tubuh ini beringsut pelan mendekat padanya.

“Ma, ini hasil tes darah, Di. Yang kemarin Di pulang cepet karena demam.” Aku mencoba mengingatkan, Mama mengangguk tanda mengerti.

“Mama enggak ngerti maksud dari angka-angka ini, Di.”

“Sepertinya Di sakit, Ma.” Genggamanku mengerat di jemarinya.

“Bisa jadi leukemia.”

Kertas itu terjatuh, tubuh Mama dapat kurasakan bergetar hebat. Ia menoleh, pandangannya mengisyaratkan rasa tak percaya dengan apa yang baru ia dengar. Aku hanya tersenyum miris, mengambil kertas yang teronggok di lantai.

“Kata dokter perlu aspirasi sumsum tulang belakang buat mastiin.”

“Memang selama ini kamu ngerasain apa?” Mama mengembuskan napas, seakan melepaskan beban berat yang menggelayut.

“Di hanya lebih sering capek, Ma. Malas makan juga, penginnya muntah mulu.” Aku mengingat kembali kondisi tubuh ini selama beberapa minggu terakhir.

“Semingguan ini Di juga rajin banget mimisan, ada lebam di kulit.”

Mama mengecek seluruh permukaan kulit lenganku, hati ini mencelus melihat perubahan wajahnya.

“Kenapa kamu enggak ngomong sama Mama, Di?”

“Di pikir kecapaian saja, Ma. Mbak Aira yang maksa ke dokter.”

“Seenggaknya kita tahu ini lebih cepat, Di.” Mama membereskan mangkuk bekas sarapan kami di atas baki.

“Ayo, masuk. Mataharinya udah mulai panas. Kita ngomongin ini di dalam saja.”

Mama membantuku berdiri, rasa lelah teramat sangat menderaku hingga harus mencari pegangan di pilar teras. Aku menggeleng, jemari ini mengelus tangannya.

“Di bisa kok, Ma. Nyeri di pinggang saja ini, bukan sekarat.”

“Jangan bercanda, Di. Enggak lucu.” Mama berpaling dengan bibir cemberut, menyeret langkah masuk ke rumah.

Aku mengekeh sembari berjalan pelan di belakangnya. Mama bahkan kesulitan membawa baki karena tangannya tampak gemetaran, ia malah ingin menambah beban lagi dengan menuntunku.

“Di, kalau menurut Mama ya, sebaiknya kamu ngomong deh sama Niko,” ucapnya sembari mencuci mangkuk kotor di wastafel lantas mengeringkannya sebelum ia masukkan ke kabinet.

Ia menoleh, bergabung denganku yang duduk menumpukan lengan di meja, kedua tangan ini memegang kepala, memijatnya pelan.

“Kenapa, Di? Ada yang sakit?”

“Aku hanya bingung, aku kena penyakit ini dari mana?” Suara ini terdengar frustrasi.

Dari semua jurnal yang kubaca, sebagian besar penderita leukemia mendapatkannya dari faktor keturunan. Sedangkan tak satu pun riwayat penyakit itu di keluarga kami.

Aku tak pernah terpapar radiasi, disebabkan oleh gangguan autoimun pun kemungkinannya sangat kecil. Baru Juni kemarin, bangsa Indonesia berduka dengan berpulangnya istri mantan Presiden RI yang keenam, kenapa aku harus ikut-ikutan menderita penyakit yang merenggut nyawa perempuan itu?

Mama mengelus punggungku, embusan napasnya terasa di pipi ini.

“Maafin Mama.” Mama memutar kursi hingga wajah ini tepat di depan pandangannya.

“Karena enggak merhatiin Di, ngebiarin kamu tahu kondisimu tanpa ada Mama di sampingmu.”

“Tapi beneran kan, Ma? Di keluarga kita sama sekali enggak ada yang sakitnya seperti Di?”

Mama tak menjawab, hanya senyuman yang muncul di wajahnya. Aku menganggap itu sebagai penyangkalan.

“Yang tadi gimana?”

“Yang mana?” tanyaku tak mengerti. Terlalu banyak yang dipikirkan oleh otak ini.

“Menurut Mama, ada baiknya kamu ngomong deh sama Niko. Kalau dia memang benar-benar cinta sama kamu, Mama yakin Niko bakal nerima kamu apa adanya, Di.”

Kali ini aku yang tak bisa berkata apapun, membayangkan Niko tahu penyakitku saja sudah terasa berat. Apa yang akan dilakukan laki-laki itu? Aku tak pernah percaya kalau cinta itu buta, yang sehat saja jelas-jelas ditinggalkan, bagaimana Niko bertahan dengan kondisiku yang bisa saja tiba-tiba drop dan mungkin berakhir kematian?

“Besok kamu izin di kantor, ya. Kita selesaikan tes yang disarankan dokter.” Mama menangkup wajah ini, mengelus pelan tulang pipiku.

“Mama doakan yang terbaik untuk Di.”

Bersambung