Dian Story Part 3

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9

Cerita Sex Dewasa Dian Story Part 3 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Dian Story Part 2

Kata mufakat akhirnya kami putuskan setelah melalui beberapa perdebatan ringan. Ada tiga program acara diputuskan untuk ditunda mengingat situasi dan kondisi yang tidak memungkinkan, dibutuhkan perekrutan karyawan jika dipaksakan.

Studio luar tak segampang yang dibayangkan, perlu menyiapkan bujet fantastis. Tetapi semua tim bukanlah orang-orang egois, mereka bisa mengesampingkan keinginan besar iru setelah mendengar penjelasan Dimas.

Sekarang tinggal menemui Aira dan Dian. Batang hidung kedua perempuan itu tak tampak di mana-mana. Apa mereka terlalu mengurasi naskah? Langkah ini berayun panjang di sepanjang selasar sayap kiri gedung Graha Media, terasa panjang siang ini.

“Hei, kalian ini bolos ….” Omelanku tersekat ruangan kosong begitu pintu kaca membuka.

Aku menoleh ke kanan dan kiri, tak ada siapa-siapa. Meja Aira dan Dian masih rapi, tak ada aktivitas berarti. Dinding kaca buram ini memang tak bisa menunjukkan aktivitas penghuninya. Menurut Aira, ruangan editor sejatinya dirancang dengan sangat privasi. Mereka harus menghindari tatapan keingintahuan dari orang yang berlalu lalang di luar.

“Ibu Aira dan Mbak Dian keluar kantor, Pak.”

Syaiful, tim leader dari perusahaan outsourcing yang bertugas mengontrol pekerjaan para office boy dan cleaning service menghampiriku. Aku berbalik dengan tatapan bingung.

“Oh ya? Sejak kapan?”

“Pagi-pagi sekali, Pak.” Syaiful tampak memikirkan sesuatu.

“Seperti buru-buru banget.”

Aira dan Dian keluar kantor? Ada apa? Aku tahu, kedua perempuan itu sangat dekat. Tetapi apa yang membuat mereka pergi tanpa meminta izin dariku? Urusan kantor kah?

“Ibu Aira enggak nitip pesan, Feb?” tanyaku menghentikan langkahnya. Reseosionis itu menggeleng, sambil mengeringkan jemari dengan tisu.

“Kamu itu, kerjaannya ke toilet melulu,” gerutuku dengan nada tak suka.

Febi hanya tersenyum lebar, cengiran di bibirnya sumgguh tak tahu malu. Jika bukan karena orang tuanya yang berkawan dekat dengan Ayah, mana mau aku menerima pekerja seperti dia. Ini Aira ke mana pula? Keluar tanpa izin? Seperti bukan dia saja. Ia pasti tak bisa menolak, kalau Dian sudah merengek.

Aku berbalik bersama dengkusan kasar dari bibir ini. Menyeduh kopi sepertinya akan mengurangi kekesalan di hati ini. Pantry masih sepi meski jarum pendek penanda waktu sedikit lagi menunjuk ke angka dua belas. Biasanya jam segini, Dian sudah ada di sini, menungguku. Sejak NikTV berdiri, baru hari ini ritual menyecap cairan hitam bersamanya terlewatkan.

Hati ini mencelus karena ketiadaannya, sekuat ini posisi Dian di hatiku sekarang. Tanpa kehadiran perempuan itu, aku sadar jika separuh diriku ikut menghilang.

“CUT!”

Teriakan Johan melalui pelantang menyadarkanku, menarik kembali dari embara yang kuciptakan ketika punggungku menyandar di kursi yang biasa diduduki Dian di studio.

Aksan tengah memeluk tubuh Aline yang bersimbah darah. Laki-laki jangkung itu menengadah menatap langit hitam di atas sana. Lolongan pedih keluar dari bibirnya, menyayat siapa pun yang mendengar. Tengkukku meremang, ketika suara narator bergema di seluruh ruangan.

Sulit untuk tidak mengatakan benci dan cinta seperti dua sisi mata pisau yang saling berdekatan, tetapi keduanya saling berlawanan. Ketika seseorang mencintai, bisa jadi akan menutup seluruh keburukan dari hal yang ia cintai. Begitupun sebaliknya, membenci sesuatu tentu saja menutup apa saja yang membuatmu sendiri jatuh cinta kepadanya.

Terkadang rasa cinta itu baru disadari setelah kehilangannya

Astaga … aku bahkan tak menyadari langkah kaki ini bergerak mencari.

“Lo udah makan, Ko?” Johan kembali menghentak lamunanku, aku gelagapan dibuatnya.

“Lo baik-baik aja, kan? Lo banyakan enggak fokusnya deh,” tuding Johan setengah mencebikkan bibir.

Separah ini virus Dian mengganggu hari-hariku. Aku mengedikkan bahu, berusaha tak menampakan kelesah lantas kembali menyesap kopi dari gelas di genggaman.

Kopi dan Dian bagai suatu kesatuan tak terpisahkan, aku selalu mencoba merasakan keberadaannya dengan menghidu aroma yang menguar, menghantarkan rasa nyaman.

Satu kenyataan menghantamku telak.

Aku benar-benar jatuh cinta dengan sahabat sendiri.

***

Getaran pada perangkat jemala menyentak kebisuan di antara kami. Hening yang semula memayungi berganti gemuruh, samar-samar menggema. Yah, Aira berhasil menyeretku ke tempat ini. Ruangan tunggu untuk pasien rawat jalan tidak terlalu luas, dindingnya bercat putih dengan ornamen hijau di setiap sudut. AC tower yang membelakangi dinding kaca menambah sejuk bersama dengan embusan AC sentral dari plafon, membelai tepat di ubun-ubun.

Seorang perawat mendorong kursi roda, perempuan dengan tutup kepala, kulitnya pucat, urat-urat kebiruan tampak di setiap bagian tubuhnya yang terbuka. Namun ia begitu ramah, melempar senyuman pada setiap orang yang perempuan itu lalui. Aku bergidik membayangkan jika harus berakhir seperti dia.

“Siapa?” Aira berbisik di telinga, ketika mata ini melongok ke dalam tas.

Nama Niko muncul di layar yang berkedip sesekali. Beberapa pasang mata mengindera kami berdua, suara getarannya cukup berisik di tengah keheningan ruangan. Sebagian dari mereka adalah orang-orang yang sama-sama mengantre di depan laboratorium. Ah, seharusnya aku menyetel dengan mode diam.

“Niko …,” jawabku ikutan berbisik, berusaha mengabaikan tatapan menyelidik pengunjung rumah sakit.

Aira mengusap wajah lantas mengembuskan napas, kepalanya kembali mendekat padaku, masih dengan berbisik, “Gue lupa izin sama Niko saking paniknya.”

“Gue juga … si Kunyuk satu itu pasti nyari kita, Mbak.” Aku segera mengambil ponsel dari dalam tas. Membuka jendela percakapan.

“Gue nulis apa nih, Mbak?”

“Bilang aja kita keluar untuk urusan kantor.”

“Iya, tapi apa?” Aku kehilangan akal, Niko itu tipe penuntut, ia tak akan berhenti mengejar penjelasan jika ia merasa ada yang aneh.

Aira terdiam, seolah sepemikiran denganku. Matanya melirik sekeliling, pandangan kami sama-sama teralihkan pada layar besar yang menggantung di ujung ruangan. Program infotaiment menayangkan berita tentang artis yang baru saja keluar dari penjara karena tersangkut vido syur dan kasus asusila.

Prostitusi online di kalangan artis memang tak pernah habis untuk dijadikan berita, baik dan buruknya seakan menjadi jalan untuk mendongkrak popularitas. Meski tak sedikit juga yang harus merasakan karirnya karam.

“Bilang saja, kita lagi meeting sama PH yang udah ngajuin skenario.” Aira tiba-tiba menoleh membuatku gelagapan, wajahnya berjarak hanya beberapa jari dariku. Duh, perempuan ini suka sekali membikin jantungku bekerja lebih cepat dari fungsinya. Aku menyandarkan punggung seraya menunduk.

“Tapi itu bukan kerjaan kita, Mbak.” Sumpah demi apa Aira sampai kepikiran alasan yang tak masuk akal seperti ini? Alih-alih membuat Niko percaya, laki-laki itu akan semaki penasaran.

“Halah, bilang saja, lo sekalian belajar jadi produser kan.” Pandangan Aira beralih ke pintu yang membuka di hadapan kami. Seorang perawat keluar dengan file yang ia dekapkan ke dada.

“Semoga cepat pulih, ya, Pak.” Perawat itu tersenyum lebar lantas memberi akses keluar pada pasien laki-laki berambut cepak lalu membungkuk takzim.

“Terima kasih, Sus. Saya pasti bisa sembuh.” Si pasien ikut tersenyum, rona bahagia tercetak di wajahnya, ia ikut membungkuk hormat sampai tubuh jangkungnya berbalik dan langkah panjang itu membawa laki-laki itu meninggalkan tempatnya berdiri.

“Ibu Ayusita, kan? Ibu tampak lebih cantik hari ini.” Perawat itu kembali mengembangkan senyuman, langkahnya mendekat pada perempuan berkursi roda, mengambil alih dari perawat yang mendampingi sebelumnya.

“Abis ini, Ibu Dian Imrani, ya,” ucapnya sambil memutar bola mata, seperti menelisik keberadaanku.

“Iya, Sus.” Aira menjawab keterdiamanku.

Sang perawat membalas dengan anggukan ramah sebelum menutup pintu. Dadaku bergemuruh, jantung pun ikut berpacu. Entah mengapa, semakin mendekati antrean, kaki ini seperti tak bertulang. Keringat membasahi telapak tangan, dingin.

“Lo udah ngirim pesan ke Niko?” Aira melirik ponselku yang kembali bergetar.

“Belum.”

Yah, hatiku gamang, kelesah mengurai keberanian untuk berucap jujur, terlebih untuk mencoba berdusta. Niko pasti takkan berhenti untuk mengorek informasi. Entah itu padanya, Aira juga.

“Sini, biar gue yang jawab.” Aira mengulurkan tangan, perangkat jemala milikku berpindah ke telapak perempuan berjemari lentik ini. Seulas senyum mengembang di bibir penuhnya. Tak lama, ponsel itu beralih ke telinga.

“Halo, Ko. Ada apa?”

Aira terbahak, aku yakin di seberang sana, Niko pasti sudah menggaruk kepala. Matanya pasti melongok ke layar, memastikan jika ia tak salah memencet nomor.

“Dian lagi sibuk presentasi, Ko.” Aira kembali mengekeh lantas melirikku.

“Do not to worry, Ko. Ada gue.”

Banyak penjelasan dari Aira, mulai dari agenda menemui beberapa rumah produksi, proposal ke pengiklan, sampai keinginannya mengajariku menjadi produser.

“Lo pasti enggak mau ngeliat Dian hanya terus berada di belakang booth editing dan memeriksa marking timeline kan?” Aku merapatkan tubuh, memasang telinga hingga kepala kami bersentuhan. Suara cemas Niko membuat hati ini menghangat. Namun, laki-laki itu begitu percaya pada Aira, terdengar memercayakan semuanya. Ia sama sekali tak curiga dengan semua kebohongan Aira.

“Ya, sudah. Kalian hati-hati saja. Semoga sukses, ya, urusannya.”

“Sip, doain yang terbaik, Ko.” Aira tersenyum puas.

“Gue tutup, ya. Enggak enak udah ninggalin Dian di ruang meeting. See you.”

Aira mengembalikan ponselku dengan senyum lebar, “Beres, kan? Lo aja yang terlalu khawatir.” Ia mengibaskan tangan, lantas tertawa kecil.

“Kalau Niko mah gampang. Beruntung banget, enggak ada panggilan dari perawat.”

Ruang tunggu ini memang cukup lengang. Di sebelah Aira, berjarak tiga kursi hanya ada dua pasien yang ditemani keluarganya. Di belakang kami ada lima. Tetapi konsultasi dengan dokter cukup lama, pasien berkursi roda tadi belum juga keluar. Padahal sudah tiga puluh menit, perawat membawanya masuk.

Mataku beralih melirik Aira, ia begitu sempurna sebagai perempuan. Matanya bulat dengan bola mata sehitam jelaga. Hidungnya mungil serasi dengan bibir yang seksi. Tubuhnya proporsional, semua lemaknya berada di tempat yang tepat dengan porsi yang sesuai. Pembawaannya selalu tenang, seperti tak ada riak di hati dan pikirannya. Dari semua perempuan di NikTV, aku begitu mengaguminya. Terkadang terbersit pertanyaan di kepala ini. Apa Niko tak pernah tertarik dengannya?

“Ibu Dian, sekarang giliran Ibu.”

Perawat bertubuh mungil itu tersenyum tepat di depan wajah, menarikku dari embara dan sedikit rasa iri pada perempuan yang ada di sampingku. Aira membantuku berdiri tegak, seperti ada derak patah di punggungku. Rasa lelah menghantamku, padahal sedari tadi aku hanya duduk sahaYa, Tuhan, aku kenapa?

Sebelumnya aku berpikir setelah bertemu dokter umum, kami bisa segera kembali ke kantor. Tetapi dokter itu malah memintaku periksa darah dan merujukku bertemu dokter spesialis. Tubuh ini merinding ketika membaca papan nama yang tercetak di dinding. Dalam hati terucap doa, semoga yang dikhawatirkan tidak terbukti.

“Silakan duduk.” Dokter berhijab merah muda menyambut ramah kedatanganku. Tangannya terentang, menunjuk kursi di seberang mejanya, memintaku duduk.

“Jadi ada keluhan apa?”

“Enggak ada kok, Dok.” Aku menjawab cepat, yang kuinginkan sekarang adalah ingin meninggalkan tempat ini, segera. Aira menyikut lenganku sambil memelototkan mata.

“Ada banyak lebam di permukaan kulit, Dok,” jawab Aira tanpa memedulikan cengkeraman jemari ini di lengannya.

“Tadi pagi juga dia tiba-tiba mimisan. Banyak sekali.” Aira tampak bergidik ngeri.

“Tadi kami sudah ke dokter umum, dan disarankan periksa darah. Saya khawatir sahabat saya kenapa-napa, Dok. Apa lagi kami ada banyak project, apa karena terlalu sibuk Dian sampai kecapaian?”

Dokter Fauziyah, seperti itu yang tercetak di name tag di dada kanannya. Ia tampak serius menyimak setiap detil kata yang diucapkan Aira. Temgkukku kembali meremang, ketika mata ini menangkap kerutan di kening dokter berwajah Arab itu.

“Mana hasil lab-nya?” Tangannya terulur ke arah Aira.

Kenapa juga tadi, aku sampai mengikuti keinginan Aira? Bagaimana kalau ternyata tubuh ini digerogoti penyakit parah? Bagaimana jika tak bisa disembuhkan? Lantas bagaimana dengan semua rencana-rencana masa depanku?1

“Susunan darahnya amat rendah.” Dokter Fauziyah membaca kertas dari amplop yang disodorkan Aira, ia menatap dengan wajah prihatin, perasaan ini semakin tidak enak saja.

“Dari tes ini, muncul sel limfoblastik, itu artinya ada tanda-tanda keabnormalan dalam susunan darah Dian sebanyak tujuh belas persen.”

“Maksudnya, Dok?” Pertanyaan Aira semakin menambah kecemasanku.

“Kalau dilihat hasil pemeriksaan darah rutin ini, saya lihat ada peningkatan jumlah sel darah putih jauh di atas normal. Saya khawatir ini pertanda penyakit darah yg serius. Namun, kita butuh tes buat mastiin kecurigaan saya, Mbak,” jawab Dokter Fauziyah lirih.

“Mbak Dian harus menjalani prosedur bone marrow puncture atau yang biasa kami sebut BMP, nanti saya akan mengambil sampel darah dari jaringan lunak di sumsum tulang.”

“Curiga gimana, Dok?” Aku bersuara juga akhirnya, setelah memberanikan diri mengeluarkan kata yang membeku di ujung lidah sembari melafalkan sejumput doa, berharap kecurigaannya tak beralasan sama sekali.

“Hanya sekadar memastikan hasil lab, toh belum tentu semua orang yang mengalami gejala yang sama langsung kita vonis ‘kan?” Dokter Fauziyah terdiam sejenak. Pandangan mata perempuan itu teduh menatap wajah ini. Tangannya kembali terulur, menggapai jemariku lalu menggenggam dengan erat.

“Saya curiga … Mbak Dian mengidap leukemia.”

***

Kau tersentak dengan tubuh menegang, seakan tak percaya dengan vonis dokter yang baru saja dilontarkan. Siapa pun pasti akan shock jika divisum menderita kanker. Terlebih itu adalah kanker darah, yang sama sekali belum diketahui apa penyebabnya.

“Ini hanya memastikan kecurigaan saya saja.” Dokter Fauziyah tersenyum.

“Mbak Dian jangan terlalu khawatir gitu.”

Dian menggeleng, “Saya enggak mungkin … selama ini enggak ada gejala sama sekali.”

Suaramu mencicit lirih, bola matamu bergerak gelisah, bergulir ke bawah pada jemari yang saling bertaut, meremas di atas pangkuan.

Dokter Fauziyah membalik laptop, menunjukkan gambar lingkaran dengan bulatan-bulatan kecil berwarna merah, biru dan putih.

“Pada kondisi normal, sel darah putih akan berkembang ketika diperlukan tubuh, misal ketika terjadi infeksi. Sel darah putih mencegah dan memberantasnya.” Jarinya menunjuk pada lingkaran yang didominasi oleh bulatan merah.

“Nah, pada sel leukimia …” Telunjuk Dokter Fauziyah berpindah ke lingkaran satunya, “… sel darah putih yang seharusnya mati ketika melawan infeksi justru tetap hidup, berkembang lebih pesat secara tidak normal, sehingga mengganggu kinerja dan fungsi tubuh.” Jemarinya berputar pada bulatan putih,

“Kalau menumpuk di sum-sum tulang belakang, sel darah sehat menjadi berkurang sedangkan sel darah putih yang berlebih bisa menyebar ke organ tubuh yang lain.”

“Enggak mungkin, Dok.” Dian mencoba berkilah dan kembali menggeleng tegas.

“Keluarga saya enggak ada yang leukimia, saya juga bukan perokok.”

Dokter Fauziyah mengangguk, mengiakan.

“Memang, sampai saat ini penyebab leukimia belum diketahui dengan pasti. Polusi dan paparan radiasi pun bisa menjadi salah satu pemicu.”

Melihat Dian terdiam, Dokter berhijab itu mengembuskan napas pelan lalu tersenyum.

“Makanya perlu dilakukan tindakan BMP, biar enggak ada keraguan lagi.”

“Tapi … BMP itu maksudnya gimana, ya, Dok?”

“Aspirasi sumsum tulang atau BMP sering dilakukan dengan biopsi sumsum tulang.” Dokter Fauziyah kembali menunjukkan prosedur yang akan ia lakukan.

Gambar sebuah alat berupa jarum digunakan yang berfungsi untuk menghilangkan jaringan padat dari sumsum tulang.

“Bagian jarum yang berlubang nanti diganti sama jarum suntik, biar saya bisa menarik cairan keluar dari sumsum.”

“Sekarang?” Pertanyaan Dian mengundang tawa Dokter berwajah Arab itu.

“Enggak sekarang, Mbak Dian bicarakan dulu sama keluarganya.” Dokter Fauziyah menjelaskan tentang protein kinase, yang mana bisa memicu pertumbuhan sel kanker di dalam tubuh.

“Nanti saya akan kasih resep obat penghilang rasa sakit, biasanya sehabis BMP akan terasa nyeri sekitar semingguan.”

“Ada efeknya enggak sih, Dok?”

“Prosedur BMP bisa dibilang cukup aman, Mbak. Komplikasi pun sangat jarang terjadi.” Dokter Fauziyah membuka beberapa slide gambar.

“Meski begitu bukan enggak ada risiko, yang paling sering tuh pendarahan, terutama pada pasien dengan trombosit rendah.”

“Bukannya jadi bahaya, Dok? Tadi Dokter bilang, hasil lab saya ….”

“Akan lebih berbahaya kalau Mbak Dian enggak bersedia.” Dokter Fauziyah memotong ucapan Dian.

“Semakin Mbak tunda, kita enggak akan tahu, seberapa banyak sel darah sehat di tulang dan kemungkinan adanya sel abnormal.”

Dian mengembuskan napas lantas melirik. Matamu seolah memohon untuk segera angkat kaki dari tempat yang membuatmu tak nyaman.

“Saya ngomong seperti ini bukan untuk menakuti, semoga kecurigaan saya enggak tebukti, Mbak.” Dokter Fauziyah menyerahkan amplop hasil laboratorium pada Dian.

“Semua ini hanya kemungkinan terburuk. Makanya saya harap prosedurnya bisa kita lakukan secepatnya.” Dokter Fauziyah menuliskan resep obat untuk ditebus. “Untuk sementara saya kasih resep untuk menghambat kerja protein abnormal. Saya tunggu loh Mbak, lebih cepat lebih baik.”

“Ada pantangannya, Dok?”

“Saat mengonsumsi obat, tubuh Mbak Dian rentan terkena infeksi. Jadi sebisa mungking menghindari kontak langsung dengan penderita infeksi terutama cacar dan flu.”

Dian tak lagi bisa menjawab, tubuhnya oleng ketika ingin berdiri. Tanganmu sontak memegang pinggiran meja, dibantu perawat kau melangkah keluar ruangan setelah mengucap terima kasih tanpa menoleh.

“Saya pasti akan membawanya kembali ke sini, Dok.”

“Iya, Mbak. Saya harapkan kerja samanya. Semoga Mbak bisa membujuk Dian, ya.”

***

Kau lebih banyak diam, tak ada percakapan sepanjang perjalanan kembali ke kantor. Suasana dalam mobil ditemani keheningan. Riuh dari luar terdengar, suara klakson kendaran yang saling mendahului, lagu dari pengamen jalanan, serta teriakan pedagang asongan menjajakan tisu, koran dan air mineral.

“Gimana kalau kita makan batagor dulu di Tebet?”

Embusan panjang nafas mengikuti gerakan tanganmu terurai ke samping, menurunkan sandaran kursi lalu melipat tangan di depan dada.

Kau tak menjawab, malah mengalihkan pandangan ke luar jendela. Embusan napasmu terdengar lagi, kali ini lebih kasar sebelum akhirnya kepalamu kembali fokus ke jalan di depan.

Biasanya, matamu akan berbinar cerah mengingat lumeran sambal kacang pedas manis yang meleleh di atas tahu dengan isian ikan tenggiri. Ah, seputus asa itukah dirimu sampai tak tertarik sama sekali menyantap jajanan khas Bandung yang kau gemari. Sekarang matamu justru meredup, tak mampu menyembunyikan kelesah. Padahal cukup jelas semua yang diucapkan dr. Fauziyah tadi.

Kemana Dian yang selalu optimis? Seharusnya sekarang yang kau lakukan adalah berusaha dan berdoa, jika semua itu hanya kemungkinan terburuk.

“Lampunya sudah ijo, Mbak.” Ucapan pelan Dian nyaris tak terdengar, dikalahkan oleh suara klakson dari mobil yang ada di belakang.

“Enggak sabar banget, ini udah mau jalan juga.”

Dian mengekeh, “Enggak usah ngegas kali, Mbak. Lagian lo juga yang salah, ngelamun aja dari tadi.” Lekuk di ujung bibirmu sedikit terangkat.

“Untung saja, yang di belakang kita enggak mencak-mencak.”

“Ya elah, baru juga ijo, Di.”

“Iya, Mbak. Baru semenit lebih. Dikit lagi lampunya kembali merah.”

Kau tergelak menahan tawa ketika mobil kembali melaju dengan kecepatan sedang.

“Eh, singgah di seberang situ deh.” Jarimu mengacung pada seorang pengemis di pertigaan jalan. Kau menurunkan kaca, merogoh selembar uang dari tas lantas mengulurkan pada perempuan berbaju compang camping itu.

“Gue harus banyak beramal nih, sebelum koit.” Tawamu sumbang kali ini bersama decakan sebal dan dengkusan kasar.

“Apaan itu!”

“Iya, kan, Mbak? Dikit lagi gue metong.”

“Di! Bercanda lo enggak lucu tau! Entar kita singgah di warung Bakmi samping kantor, ya.”

“Gue mau langsung pulang, Mbak.”

“What?” Suara decitan ban mengikis aspal karena pijakan rem secara tiba-tiba.

Untung saja, jalanan tidak dalam keadaan basah. Entah apa yang akan terjadi. Kau hampir saja membikin celaka.

“Gue capek, enggak papa kan kalau hari ini bolos kerja?”

Kau mengalihkan pandangan ke jajaran hutan beton di sebelah kiri jalan. Pencakar langit Graha Media tampak di kejauhan berlatar langit dan awan kelabu.

“Boleh ‘kan, Mbak? Hari ini gue pengin di rumah aja.”

Pandanganmu bergulir mengikuti arah mobil melaju, tampak mengerjap berkali-kali. Apa kau tengah menahan tangisan itu membasahi pipi? Udara di dalam mobil semakin dingin saja, terlebih ketika gerimis mulai membasahi bumi, menyirami tanaman bugenvil yang berbaris rapi di depan rumahmu.

“Thanks, ya, Mbak. Udah nganterin. Lo udah janji, kan? Enggak akan ngomong ke siapa-siapa. Termasuk Niko.”

***

Studio dua lebih sibuk dari biasanya. Tim kreatif menyiapkan beberapa properti untuk syuting sitkom yang diproduseri Mario.

Sekat-sekat berbahan triplek yang dicat warna-warni berjajar di sebelah kiri ruangan membentuk jejeran petak sederhana. Pohon dan rerumputan dari styrofoam dicat hijau terpasang di depannya. Lima buah pot bunga plastik berbaris rapi di teras rumah.

Di sebelahnya berdiri warung dadakan dengan banyak camilan menjuntai, kopi instan, snack sampai detergen. Mario harus menampilkan produk dari semua sponsor yang bersedia membayar ratecard.

Para pengiklan biasanya akan memilih berapa banyak spot, kapan penayangan, dan berapa kali iklan tersebut ditayangkan. Semakin banyak yang mereka ambil, di situlah para stasiun televisi meraih keuntungan, terlebih jika keseluruhan ide diberikan pada pemilik siaran.

Mario tampaknya mempertimbangkan saranku ketika breefing tadi pagi. Di ujung kanan, dipasang dua buah meja fiber dengan lampu gemerlap di setiap sudutnya. Apakah nanti akan jadi kuis yang diparodikan?

Sekitar lima langkah di depan properti disiapkan space kosong untuk penonton, kamera dan dua buah lampu sorot yang gunanya untuk meminimalisir bayangan muncul ketika proses syuting berlangsung.

Mutia berlari kecil menghampiri Mario yang tengah sibuk mengoordinir bagian perlengkapan. Di tangannya tergenggam gantungan baju dan benerapa lembar pakaian.

Tim kostum sangat antusias memilih wardrobe yang akan digunakan. Mereka tampak mencapai kata sepakat setelah perdebatan sesaat, senyum semringah Mutia dan tawa lebar Mario menjelaskan segalanya.

Laki-laki berkaca mata itu menoleh padaku, mengangkat jempol meminta persetujuan. Padahal tanpa aku pun, semuanya pasti berjalan sesuai yang ia rencanakan.

“Gimana, Bos? Gue udah nurutin saran lo nih.” Mario menggaruk kepala sambil tersenyum cengengesan.

“Saran yang mana?” Aku pura-pura bego, melipat kaki lalu menatapnya.

Mario juga salah satu tim yang lumayan lama bekerja bersama. Sejak memutuskan menghidupkan kembali NikTV yang sudah terlalu lama ditinggal ayah karena tuntutan pekerjaan, Mario, Aira dan Dian adalah karyawan pertamaku. Mereka menempatkan diri kapan harus berlaku formal dan santai, seperti sekarang.

Mario berdecih mendengar ucapanku, “Lo itu masih muda, enggak mungkinlah udah lupa sama apa yang baru aja lo omongin tadi pagi.”

“Yang gue inget, lo mau ngerjainnya akhir tahun.” Aku terbahak melihat tampang Mario yang sudah sekusut pakaian yang belum disetrika.

“Bagus kok, Mario. Apalagi kalau ada improvisasi, rasanya bakal lebih nendang lagi.”

Mario tercenung dengan alis berkerut, “Menurut lo kalau gue undang Aksan dan Aline di acara akhir tahun, gimana? Sekalian promoin series mereka.” Laki-laki itu kembali menatapku.

“Bagus! Tapi buat mereka ngisi beberapa bagian skenario, biar keliatan gitu bakat akting mereka. Promonya belakangan aja, di sesi bincang rumpinya Mpok Atikah.”

“Good opinion, Boss!” Mario berdecak sambil bertepuk tangan, mengundang tatapan ingin tahu dari tim perlengkapan yang tengah sibuk mengatur pencahayaan.

“Eh, lanjutin aja kerjaaanya, enggak usah nguping.” Mario mendelik ke arah seseorang yang menghentikan pijakannya pada tangga.

“Gimana dengan band pengiring, Bos?”

“Boleh juga,” sahutku seraya menoleh ke pintu, sudut mata ini menangkap bayangan sesorang. Apa Dian dan Aira sudah pulang. Pandanganku bergulir ke jam yang melingkar di tangan, angka digital memunculkan pukul tujuh belas nol nol. Mereka baru pulang sesore ini?

“Bos!” Mario menyentak lenganku, “Yang barusan gimana? Band pengiring?” Laki-laki berkacamata di sampingku mengusik lamunan, membawaku kembali pada kenyataan, jika ia menunggu jawaban.

Aku berdeham pelan, “Boleh saja, ada band pengiring. Tapi ini perlu dibicarakan lagi sama tim bujet.” Bibir ini terangkat, membentuk cengiran dan seringai lebar.

“Mungkin bisa mengajak kerjasama band baru, lebih murah.”

Mario terbahak-bahak, kepalanya mengangguk membenarkan.

“Lo emang paling jago kalo urusan duit, Bos.”

“Ya, iyalah. Percuma dong yang pernah gue pelajari kalo enggak bisa diaplikasikan.”

Aku tersenyum bangga, “Lagian, kita bisa ngasih manfaat ke band itu kan? Mereka jadi terkenal karena masuk tipi.”

“Sialan, Lo!” Mario memegang perut, menahan tawanya membahana.

“Tapi emang bener sih.” Laki-laki ini kembali meluncurkan derai tawa lantas menepuk lenganku.

“Gue tinggal, Ko. Mau nemenin anak-anak dulu ngatur setting.”

“Ok, yang semangat, ya, kerjanya, Teman-teman.” Aku ikut bangkit dari kursi, menepuk tangan pertanda puas. Gelas kopi di meja sudah kosong sejak tadi, tangan ini meraih, membawanya bersama langkah meninggalkan ruangan.

Apa Dian ada di pantry sekarang? Dengan cepat, aku menyeret langkah ke sana. Melewati hari tanpa keberadaannya, separuh hati ini ikut menghilang. Kenyataan bahwa aku benar-benar telah jatuh cinta dengan Dian harus dituntaskan hari ini, dia harus memberi jawaban dari pertanyaanku.

Sayangnya, batang hidung sahabat kecilku tak ada di sini. Aku menghela napas ketika meletakan gelas di wastafel. Mata ini meliar ke sekeliling ruangan. Kursi berwarna biru langit masih tersusun rapi sama halnya dengan meja fiber putih yang menyatu dengan dinding bercat krem pun tetap bersih.

Tak ada jejak lingkaran hitam bekas kopi yang selalu ditinggalkan Dian. Kotak kopi, susu, gula dan teh di atas kabinet pun sepertinya hanya tersentuh olehku.

Ya ampun, serindu ini aku dengannya?

Aku mengekeh kecil sambil menunduk, menertawai diri sendiri. Kepala ini lantas mendongak ke langit-langit. Ternyata, separah ini efek jatuh cinta. Linglung tapi bukan gila.

Gelak tawa tertahan sekat di tenggorokan, aku menutup pintu dan membawa langkah yang kini kuarahkan ke ruangan Dian. Embusan napas mengikuti debaran di dada. Rasanya tak sabar ingin segera menatap wajahnya. Apa dia sudah makan? Dian selalu menunda waktu memgisi perut kalau sudah sibuk bekerja. Benar-benar kebiasaan buruk yang sulit untuk ia tolerir.

“Haaai … Aira.”

Aira mendongak, menatapku sekilas lalu kembali menekuri lembaran kertas di meja. Jemari lentiknya tampak mencoret kata demi kata yang tertulis di sana lantas menuliskan sesuatu pada sticky notes kemudian menempelkan di helai putih itu. Ugh! Aku sontak meringis. Sepertinya si pemilik naskah akan bekerja ekstra memperbaiki tulisannya.

Aku melangkah ke sudut ruangan, tempat yang Aira dan Dian gunakan untuk berdiskusi. Sebuah meja bundar berbahan kayu yang diplitur, dan dua buah kursi bulat.

Di samping meja Aira dan Dian meletakkan tanaman Gardenia, masyarakat di Indonesia mengenalnya dengan nama kacapiring, kuntumnya sudah mekar separuh, aromanya menyeruak menambah wangi ruangan.

Tanaman ini berpenampilan indah dengan bunga mekar berwarna putih. Daunnya menarik dengan warna hijau mengkilap. Selain aman berada di dalam ruangan, Gardenia juga menguarkan aroma tropis yang manis, seperti wangi parfum.

“Hemat parfum ruangan, Ko.”

Begitu kata Dian ketika aku menolak memberi izin membeli tanaman atau bunga apa pun itu untuk ia letakkan di dalam ruangan.

Pandangan ini tak henti-hentinya bergulir dari penanda waktu di dinding di belakang Aira, jam di tangan dan pintu ruangan yang tak kunjung membuka dan memunculkan raut wajah yang sedari pagi aku rindukan.

“Kalo lo nyari Dian, dia enggak ada.”

Aku meringis kecil, ucapan Aira terasa menohok.

“Lo ngerjain apa, Ra?” tanyaku mengalihkan, mencoba berkilah.

“Enggak usah ngeles, Ko.” Aira mencebikkan bibir, mencibir. “Gue tau lo ke sini mau ketemu Dian kan?”

Skak mat! Kenapa semua perempuan yang ada di sekitarku selalu mampu membuat diri ini tak berkutik?

Apakah ungkapan “Perempuan tak pernah salah” berlaku untukku?

“Tadi pas kita dari PH Indah, Dian izin langsung pulang. Katanya ada urusan penting gitu.”

Aira tampak membuka file dari laptop, tangannya menggerakkan tetikus dan mengkliknya sekali. Bias biru tercetak di wajah dengan alis yang bertaut. Perempuan ini selalu serius ketika bekerja. Loyalitas dan kemampuan benar-benar ia curahkan untuk memajukan NikTV.

Dian pun sama dengan Aira, tekun dan loyal dalam bekerja, tetapi … urusan sepenting apa yang membuat perempuan itu berani membolos? Bukan, Dian hanya tidak bilang padaku, apa karena Aira sebagai atasan langsungnya saja sudah memberi izin. Itu sudah cukup menurutnya.

“Lo susulin aja, Ko.” Aira membetulkan kaca mata lalu menggulirkan pandangan padaku.

Tubuh ini bergerak gelisah, rasanya tak nyaman saja ketika tatapan tajam itu seolah menguliti semua isi kepalaku.

“Gue tau lo ingin segera ketemu Dian. Sana gih. Yang di sini biar gue yang urusin. Lo udah breefing tanpa gue kan pagi tadi.”

Aira mengibaskan tangan, mengusir keberadaanku.

“Giliran gue yang nutup breefing tar malam.”

Lekuk di bibirku perlahan terangkat, senyum lebar mengembang di wajah ini. Bergegas aku bangkit, menghampiri Aira dan menepuk-nepuk pundaknya.

“Thank you, Ra. Lo emang sahabat gue paling baek.”

“Tai! Sana cepat!”

Aira mendengkus, menepis tanganku. Aku melambai padanya sebelum menutup pintu.

“Doain gue diterima, ya, Ra.”

Bersambung