Dian Story Part 2

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9

Cerita Sex Dewasa Dian Story Part 2 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Dian Story Part 1

Entah mimpi apa aku semalam, sepagi ini Niko sudah ada di kamarku.

“Di … bangun,” bisiknya di telinga. Aroma menenangkan dari kopi hitam menguar, memenuhi Indra penciuman bersama dengan wangi parfum bercampur sampo ketika ia menyentuh lengan ini.

Aku menegakkan punggung, pegal sekali rasanya.

“Ini jam berapa?” tanyaku sambil merenggangkan kedua tangan ke atas lalu mendongak menatap penanda waktu di dinding, lantas mendelik ke arah Niko.

“Lo ngapain jam segini udah ada di kamar anak perempuan orang?”

“Udah izin juga sama Mama Ratih, Di,” jawabnya cepat sambil mencebik.

“Gue butuh ngomong sama lo, Di.” Niko menggaruk kepala, menyeringai lebar sebelum duduk di kursi meja rias di samping jendela. Balkonnya menghadap ke kamar Niko. Dulu sekali, ketika kami bertengkar, selalu saja tempat itu menjadi area perdebatan kami. Sampai suara kami sama-sama parau.

“Mama pala Lo! Ya, udah, ngomong aja.” Aku meringis menahan sakit ketika berdiri. Tubuh ini semakin ringkih saja. Lebam hitam kebiruan di lengan kusembunyikan, pura-pura memijit pinggang. “Gue udah kayak nenek-nenek pake sakit encok.” Langkah ini kualihkan ke kamar mandi, melintas di sampingnya.

“Ya, gimana enggak sakit punggung lo kalo tidurnya kayak tadi.”

Ucapan Niko terdengar jelas sebelum pintu menutup, namun aku memilih untuk mengabaikannya. Bisa jadi, memar yang sering muncul belakangan ini mungkin betul karena posisi tidurku yang kurang nyaman.

Aku menyelesaikan mandi dan berganti pakaian di kamar mandi, mengambil kopi yang Niko buatkan untukku lantas menghampirinya di balkon. Dia tak menyadari, sahabatku itu tampak menengadah memandangi langit yang penuh gabak. Kicauan burung mengalunkan simfoni pagi bersama desau angin lembut menyapa wajah ini.

“Jadi mau ngomong apa?” tanyaku tanpa menatapnya.

Pandangan ini lurus ke arah tanaman bugenvil yang sama sekali tak berbunga. Bagi sebagian orang, hal itu tidak menarik sama sekali namun untukku pemandangan kembang kertas tanpa warna-warni terasa menyejukkan, membuai mata, daun hijaunya menenangkan jiwa.

Setiap musim penghujan bugenvil umumnya tak berbunga, namun lebih banyak daun yang tumbuh. Ketika rintik dan rinai berakhir, barulah kuncup-kuncup keluar, dan tak lama di setiap ujung cabang sudah dipenuhi bunga. Bugenvil pun perlu ‘istirahat’ selama kurang lebih dua bulan sebelum berbunga lagi.

Seperti halnya manusia, tatkala beban terasa begitu berat, di saat seperti itu kita seharusnya berhenti sejenak.

“Gue serius loh, Di, sama omongan gue semalam,” ucap Niko pelan tanpa menoleh padaku.

Pandangannya tetap terarah ke jejeran tanaman hias milik mama. Pot Monstera dan Lidah Mertua berbaris berselang-selingan dengan Randa Tapak. Mama memang lihai menempatkan Dandelion sebagai pemanis di antara tanaman yang daunnya penuh lubang dan satunya lancip, entah di mana letak keindahannya.

“Omongan yang mana?” Aku berbalik, menyandarkan punggung ke birai balkon lalu mengecap kopi, Niko selalu tahu seleraku.

Aku sebenarnya tahu arah pembicaraan ini, Niko sudah terlalu sering mengucapkannya.

Bukan berlagak amnesia, belum lewat dari dua puluh empat jam. Aku bahkan masih ingat bagaimana hempasan pintu mobil yang kulakukan semalam bisa berpotensi membuat bodi mobil sahabatku penyok. Hanya saja di pikiranku, itu terlalu konyol untuk kami. Entah dari mana awalnya sampai Niko punya perasaan seperti itu?1

“Yang semalam loh, Di. Sebelum lo ninggalin gue di mobil. Enggak pamitan pula.” Bibir Niko merengut, tampak kesal. Padahal mana berani ia melakukan itu padaku. Bisa habis isi dompetnya untuk membujuk.

Aku tercenung sambil menggigit bibir, berusaha berpikir. Memasang raut wajah kebingungan dengan kedua alis berkerut nyaris bertaut. Di matanya, aku terlihat belum mengerti apa yang ia bicarakan.

“Gue pengin jadi laki-laki yang bisa lo andalin, satu-satunya di hidup lo, Di.”

Lah, busyet! To the point sekali laki-laki ini. Remasan di gelas menguat, wajahku pasti memerah sekarang.

“Sinting!”

Aku berdecak sebal, kenapa di pagi ini harus mendengar ucapan itu lagi? Langkah ini kuseret kembali ke kamar, meletakkan gelas di meja lantas duduk menatap cermin. Niko ada di belakangku sekarang. Pantulan wajahnya terlihat kecewa.

“Kenapa gue?” tanyaku saat membuka laci, mengambil karet. Perlahan menyisir rambut, mengikatnya ala ekor kuda.

“Rambutmu banyak yang rontok, Di.”

Apa Niko tak bisa menjawab pertanyaanku sampai harus mengalihkan pembicaraan? Aku menatap lantai, begitu banyak helai terserak di sana. Tanganku terulur memungut dan membuang ke keranjang sampah. Sudah beberapa kali seperti ini. Ah, sepertinya sudah waktunya berganti sampo.

“Kamu kok pucet banget, Di?” tanya Niko sembari melangkah mendekat padaku. Tatapannya membuatku semakin merasa jika ia benar-benar mencoba mengalihkan masalah.

“Lo belum jawab, Ko!” elakku dengan ketus.

“Apanya?” Niko tampak kebingungan kini. Jelas sekali jika ia sama sekali tak punya alasan untuk membuatku percaya dengan semua rayuan gombalnya.

“Kenapa gue?”

Yap! Aku mengulang kembali dua kata tanya itu. Niko cengengesan seraya menggaruk kepala. Bapak Niko yang terhormat! Aku tidak seperti perempuan-perempuan di luar sana yang dengan mudahnya melempar badan ke pelukanmu, ya! Catat itu!

“Ya, karena harus, Di.”

Bah! Jawaban apa pula itu? Apa sudah tidak ada lagi perempuan yang ikhlas dan senang hati menerima rayuannya?

“Itu bukan alasan yang bisa menguatkan ucapan lo, Ko.” Aku mendesah pelan.

Pandanganku yang semula intens menatapnya kembali ke cermin. Pulasan bedakku nyaris selesai, ditambah lipstik berwarna merah terang. Menutupi wajah yang seperti kata Niko barusan. Apa karena kekurangan jam tidur membuatnya terlihat lebih pucat dari biasanya?

Aku berdiri di sampingnya, merapatkan tubuh lantas berbisik, “Lo cari deh alasan lain, yang rasional dan bisa gue terima dengan akal sehat.”

Langkahku perlahan meninggalkannya. Sebelum menutup pintu, aku berbalik, menyorot tubuh menjulang yang berdiri tegang, memunggungiku.

“Lo tau, Ko. Yang Lo bilang barusan adalah hal paling gila yang pernah gue denger, sama sekali enggak masuk akal!”

***

“Masak apa, Ma?” Aku mengalungkan lengan di bahu mama.

“Kamu enggak liat, Mama lagi bikin apa?” Mama balik bertanya, berdecih karena tingkahku.

Jelas-jelas ia sedang menyiapkan sarapan omelet untukku, aku masih saja bertanya. Obrolan pagi bersama Niko membuat otakku sedikit tumpul. Gila saja, laki-laki yang selama enam belas tahun bersama sebagai teman, sahabat, saudara. Tak ada angin, belum juga hujan tiba-tiba muncul mendatangkan badai.

“Niko-nya mana, Di?”

“Ada kok, Tan!”

Gercep! Belum sempat aku menjawab pertanyaan mama, si Kunyuk ini sudah menarik kursi lantas duduk di sampingku. Niko bahkan sudah membalik piring, mengangsurkan, menampung omelet yang diulurkan mama padanya.

“Ko, cobain nih resep omelet baru, Tante.”

Mata mama berbinar riang, menatap laki-laki di sampingku yang kini sibuk menguyah. Karena terlalu seringnya menyuguhkan nasi goreng untuk sarapan, sekarang mama menghidangkan omelet makaroni dengan isian bayam dan wortel. Lengkap dengan taburan sosis dan keju mozzarella parut.

Seharusnya sajian kali ini menggugah selera, aromanya lezat dan gurih, tetapi kenapa aku malah tidak nafsu? Cih! Ini pasti karena Niko, laki-laki ini sudah membuat selera makanku hilang.

“Jangan minum kopi terus, Di.” Ucapan mama menghentikan gerakanku menenggak minumanku.

Tatapan perempuan itu beralih padaku, menyorot tajam piring yang isinya belum kusentuh sama sekali.

“Iya, Ma.” Aku menjawab ogah-ogahan. Tangan ini meletakkan gelas, mengambil garpu dan pisau di samping piring lantas mulai makan.

Perutku bergejolak, ada apa ini? Aku berusaha menelan makanan tetapi kenapa rasanya ingin keluar kembali? Keringat dingin mengucur di keningku. Tak tahan lagi, aku berdiri dengan cepat mengarahkan langkah ke wastafel.

“Hoek! Hoek!” Semua makanan yang berusaha kujejalkan barusan keluar. Aku muntah.

“Ya ampun, Di. Kamu kenapa?” Mama mendekat, aku merasakan sentuhan jemarinya di tengkukku, mengurut dan memijit pelan.

“Lo enggak usah kerja hari ini, Di. Lo sakit.” Niko tak kalah paniknya, laki-laki itu sudah di sampingku.

Tangannya merangkul pinggangku tetapi kutepis pelan. Rasanya risih menerima perlakuannya. Andai bukan di depan mama, sudah kugertak dia.

Mama membantuku mencapai kursi, mengambil tisu dan menghapus jejak basah di wajah ini.

“Iya, betul tuh kata Niko. Kamu sepertinya sakit, Di. Istirahat aja, ya,” bujuk mama, terdengar lembut di telinga.

“Mama buatin teh jahe hangat, ya. Kamu pasti kurang tidur, masuk angin.”

“Enggak, Ma. Banyak kerjaan yang harus aku selesaiin di kantor.”

Aku menggeleng, menolak tegas, teringat dengan semua jadwal hari ini. Pengambilan adegan harus dilanjutkan demi mengejar tayang di awal tahun.

“Kerjaan mah bisa ditunda, Di. Yang penting lo sehat dulu.”

Aku mendelik tajam padanya, Niko memalingkan muka tak ingin menatapku. Dia pasti tak bisa menolak jika pandangan kami beradu. Sahabatku itu akan kembali mengalah, seperti yang selalu ia lakukan.

“Sudah! Jangan bertengkar! Kalian ini dari zaman masih sama-sama bocah kok enggak ada yang berubah.”

Mama mencoba menengahi, embusan kasarnya menandakan jika ia memilih menyerah membujukku.

“Mama buatin minum lagi, sekalian bikinin kalian bekal makan siang, ya.”

Tak ada lagi kelanjutan dari perdebatan kami. Niko lebih banyak diam setelah pembicaraan kami di kamar. Ketika bermobil ke kantor pun tak ada percakapan.

***

Mobilmu melaju pelan memasuki parkiran lantai dasar, kau tersenyum pada satpam yang berjaga, laki-laki tegap itu bersiul kecil menggodamu, kekehan terlepas dari bibir diikuti cibiran perempuan di sampingmu. Dian tampak tak senang, matanya mendelik, kakinya mengentak tak suka.

Kau terbahak melihat tingkah perempuan itu. Tanganmu terulur, menarik langkahnya mengikutimu.

“Ko, ini di kantor!” Dian berusaha melepas genggaman jemarimu.

Sudut bibirnya terangkat, melengkung sinis. Kau kembali tertawa, begitu bahagianya dirimu saat berlaku jahil padanya.

“Enggak papa, Mbak,” ucap satpam sembari menyeringai lebar.

“Cuman saya kok yang liat.

“Apaan sih!”

Dian kembali menyentakkan tangan, kali ini jemarinya berhasil terlepas dari peganganmu. Namun sekarang yang kau lakulakan malah merangkulnya, hingga langkah perempuan itu terseret bersama tungkai panjang milikmu.

“Eh, Mbak Aira, lewat sini.”

Satpam yang tadi menggoda kini menunduk sembari merentangkan tangan menunjuk lift. Entah, apa ucapan laki-laki berseragam ini terdengar sampai ke telingamu atau tidak, kau hanya menoleh sekilas, sebelum akhirnya kotak aluminium itu menutup dan membawamu ke atas.

Sejuk pendingin menerpa wajah ketika langkahmu memijak ke luar lift. Rangkulan itu masih betah bertengger di bahunya. Rona merah di pipi Dian tak bisa menyangkal ketidaknyamanan perempuan itu dari tatapan beberapa orang kaum Hawa yang dulu dan masih mengharapkanmu.

Dian menunduk jengah, ekor matanya celingukan ke kanan dan kiri. Tampak sesekali dia menghela napas. Pasrah dengan semua tingkahmu. Siulan kecil bersahutan dari bibir setiap laki-laki yang berpapasan dengan kalian berdua. Kau benar-benar tebal muka hari ini, terlalu posesif untuk ukuran sebagai satu-satunya sahabat yang Dian miliki.

Kau tak memedulikan siapa pun di sekelilingmu, seolah-olah mereka semua hanyalah udara, tak tampak di mata, tak tersentuh raga.

Ah, beruntungnya perempuan itu, bisa diperhatikan segenap jiwa olehmu.

Di kantor, kau menemani sampai ke ruangannya. Tanganmu terulur mengusap pucuk kepala perempuan itu ketika tubuh ia hempas pelan di kursi.

“Ingat! Jangan terlalu capek. Gue marah kalo lo kenapa-napa,” ucapmu pelan diiringi tatapan tajam sebelum kau berbalik meninggalkannya.

Bibir Dian mencebik mengikuti langkahmu, wajahnya seolah berkata, dasar kau sahabat arogan dan posesif. Meski hanya dengan Dian, kau seperti itu.

“Niko sepertinya sayang banget ke elo, Di.”

Sangking fokusnya matamu pada orang yang selalu kau panggil si Kunyuk tadi, kau sampai lupa kalau di ruangan ini tidak sendiri.

“Mbak Aira ….” Kau mengekeh salah tingkah. Kepalamu melongok pelan, malu-malu di samping layar komputer.

“Biasa aja, Mbak. Gue ini seperti adek yang ilang aja buat dia.”

“Tapi beneran lo, Di. Semalam aja, Niko kurang fokus pas meeting.”

Kau membelalakkan mata, seperti tak percaya dengan apa yang terdengar di telingamu.

“Sepertinya dia kejebak friendzone, deh.”

Kau terbahak, padahal sama sekali tak ada yang lucu. Seperti tak tahu saja kalau tingkah laku Niko di belakangmu terlalu menampakkan perasaan ‘lebih dari sekadar teman’ itu terpampang nyata di mata semua orang penghuni NikTV.

Kau yang sahabatnya sedari kecil, kenapa sampai tidak menyadarinya? Atau tawa itu hanya sebagai tameng untuk berkilah dari pertanyaan-pertanyaan yang membuatmu tidak nyaman?

“Ah, enggak kok, Mbak. Biasa aja.” Matamu perlahan menghindar, menyembunyikan semburat merah jambu di balik layar komputer seolah rona merah di pipi tidak boleh terlihat oleh siapa pun, termasuk sahabatmu sendiri.

“Seriusan, Di. Gue yakin, Niko itu jatuh cinta sama sahabat sendiri.”

Kau terkesiap sejenak, tak menyadari pergerakan di hadapanmu. Pandangan yang semula membelalak pada kancing blazer cokelat perlahan terangkat. Kepalamu menengadah, mendongak menatap kebingungan.

“Holy shit! Lo mimisan, Di! Tolong!”

Tanganmu sontak menyeka hidung, alismu mengkerut menatap cairan merah segar di punggung jemari. Rasa panik tergambar jelas di wajah yang kini tanpa rona.

Kau bergegas menarik sehelai tisu, menyeka darah di hidung dan jemari. Sigap sekali, kau berdiri membekap.

“Ssst, Mbak … ini hanya mimisan biasa. Jangan panik macam ngeliat orang lagi sakratul maut.”

Kau berbisik lirih di samping telinga, meminta untuk tak lagi berisik. Suaramu sarat akan kelesah, tentu saja kau tak mau Niko muncul. Apa lagi yang kau khawatirkan jika bukan laki-laki itu. Ya, dia, sahabatmu itu pasti akan lari pontang-panting, meninggalkan pekerjaan jika itu berkaitan denganmu.

“Tapi lo tetep harus ke dokter, Di. Mana ada mimisan biasa yang keluarnya sebanyak itu.”

Kau kembali duduk, menyalakan komputer, mengabaikan sekeliling. Tak peduli siapa dan apa yang terjadi. Kenapa kau sama sekali tak menanggapi kerisauan seseorang?

“Kuy kerja, Mbak. Anggap aja yang tadi enggak pernah terjadi.” Tatapanmu kembali ke layar komputer, jemari lentik itu meraih tetikus setelah membuang tisu yang telah berubah merah itu ke tong sampah di samping meja.

Baiklah! Perempuan ini sepertinya butuh dipaksa. Ketika semua rona meninggalkan wajahmu, beberapa lebam tercetak di pangkal lenganmu. Jelas, ini bukan suatu hal yang bisa dianggap tak pernah jadi.

“Lah, Mbak. Kita mau ke mana?” Kau meronta berusaha melepaskan pegangan. Langkah tersekat mengimbangi.

“Diam, Di. Lo mau semua orang di gedung ini penasaran dengan tingkah lo.”

Suara lirih bernada ancaman berhasil membungkammu. Alih-alih protes dan berdebat, kau akhirnya menurut juga. Tak ada lagi suara penolakan dari bibirmu, kau mengekor masuk ke lift sembari membuang napas kasar.

“Ok, Mbak, gue nurut deh Mbak ajak ke dokter.” Tatapanmu menyorot tajam, bola mata hitam kelam berpadu kontras dengan pipi yang semakin memucat.

“Tapi Mbak harus janji, ya. Enggak boleh ngomong ke siapa-siapa.”

“Termasuk Niko?”

Kau tertunduk lesu, memandangi belitan kedua tangan di tubuh, memeluk diri sendiri, lalu kembali menghela napas. Kepalamu perlahan terangkat bersama lekukan di kedua ujung bibir. Kau tersenyum penuh teka teki.

“Iya, Mbak. Termasuk Niko.”

***

Biasanya setiap briefing pagi, Aira selalu menyiapkan materi dengan baik. Tim kreatif dan produksi menatap dengan pandangan menyelidik. Mario berdecak gusar karena melihatku kelabakan.

Sepertinya tanpa Aira, aku tak bisa melakukan apa-apa. Bahkan hal kecil sekali pun. Ke mana dia? Sejak masih kuliah, Aira adalah perempuan paling disiplin yang aku kenal. To do list sudah seperti belahan jiwanya. Kesehariannya teratur, selalu terorganisir dengan baik.

“Aira belum muncul, ya?” Kepalaku celingukan, sesekali melirik ke arah pintu.

“Lanjutin yang kemarin saja, Mario. Toh kita belum ada kata sepakat dengan rundown acara, kan?”

“Kita mulai saja, Pak?” Mario mulai menyalakan laptopnya, laki-laki itu tampak tak sabaran, ia meraih kabel di meja untuk disambungkan ke proyektor.

Rundown dari beberapa program acara tercetak di layar putih di samping kiriku. Mata ini fokus mengeja satu demi satu kata yang tertulis di sana.

“Magician masih tinggi ya share dan rating-nya?” Pointer di genggamanku menunjuk pada tulisan pada poin dua sambil menoleh sekilas.

Program ilusi dan hipnotis ini cukup tangguh membayangi The Programmer yang sampai hari ini bisa dikatakan tangguh tak terkalahkan.

Mario berdeham seraya mengangguk.

“Benar, Pak. Sepertinya penikmat televisi menyukai acara itu. Bapak yakin akan menurunkannya di awal tahun depan?”

“Iya, kita enggak yakin apakah di tahun depan acara itu masih diminati apa tidak.” Aku menjawab tegas.

Bukannya tak ingin, tapi program itu sudah cukup lama tayang. Animo masyarakat bisa saja turun. Properti yang dibutuhkan pun tak sedikit nilainya. Stasiun televisi swasta seperti NikTV ini bisa terus bernafas dari aliran dana pengiklan. Jika mereka saja tak ingin lagi menanamkan modal untuk membiayai, aku bisa apa? Yang kulakukan pastinya mencari acara lain yang lebih segar dan fresh.

“Cuitan Netijen masih tayang kan?” Sheila ikut menimpali, di sampingnya ada Maya yang juga menatap penuh harap.

Aku selalu lemah dengan tatapannya, perempuan ini sempat mengisi hari-hariku. Meski akhirnya aku memutuskan untuk mengakhiri, tak ada guna memberi harapan untuk seseorang yang sama sekali tak mampu menggetarkan hati ini. Untung saja sekarang tak ada Aira. Kalau ia ada di sini, Aira pasti akan melempari Maya dengan pensil.

Aku tercenung sejenak, mengetuk pelan pada meja. Hening melingkupi kami, dengan sabar timku menunggu putusan. Apa sih yang paling ditunggu perempuan ketika menonton televisi? Tentu saja gosip dan infotaimen seputar selebritis atau artis papan atas tanah air.

Mereka terkadang membutakan nalar dan pikiran tentang tujuan pansos dan mendongkrak popularitas. Sejatinya, jika melihat pangsa pasar, penikmat tayangan visual tertinggi pasti dari kaum Hawa. NikTV bisa didemo kalau tayangan itu hilang.

Anggukan kepalaku disambut tepukan tangan Sheila dan Maya. Keduanya memang tim kreatif untuk program infotaiment. Mereka menghembuskan napas lega diikuti senyum semringah. Maya kembali melayangkan tatapan padaku, sepasang bola mata ini tak mau berlama-lama berada dalam satu titik yang sama.

“Saya tidak mungkin bikin ibu-ibu sedih kalau tayangan favorit mereka hilang. Iya, kan, Mario?” Mata ini kualihkan, menatap tajam laki-laki berambut ikal di depanku. Ia hanya mengangkat bahu, bahasa tubuhnya seolah berkata, ‘Whatever! Perempuan tak pernah salah’.

Aku mengekeh melihatnya, Jamal dari tim produksi pun berusaha menahan tawa. Aku tahu, ia mencatat semua hasil putusan breafing ini sekadar menutupi gelak di ujung lidah.

“News Update tetap tayang seperti biasa, tiga kali sehari.” Ucapanku memang pelan tetapi mengultimatum.

“FTV Dian bagaimana? Bisa tayang sesuai rencana kan?” Ekor mataku menangkap perubahan di wajah Maya ketika nama itu kusebut, helaan napas putus asa terdengar jelas.

Tanpa sepengetahuan Dian, aku selalu menjadikan sahabatku itu sebagai tameng. Semua perempuan di NikTV menganggap Dian adalah perempuan spesial untukku, hubungan kami lebih dari sekadar tetangga dan sahabat.

Sekali lagi aku yakin, karma itu kejam, Friend. Alih-alih membuatku terhindar dari kaum Hawa, perasaan lebih pada Dian semakin tumbuh subur, entah kapan tepatnya.

“Bisa kok, Pak. Kalau sesuai jadwal, minggu ini syuting terakhir.” Jamal menjawab cepat, tangannya kini sibuk menggerakkan tetikus, menggerakkan kursor, mengecek planner timeline produksi.

“Proses editing bisa kita mulai pekan depan.”

Berawal dari mimpi memberikan kebahagiaan pada banyak orang, NikTV berdiri. Memang saat ini kami belum sebesar stasiun televisi yang identik dengan ikon burung rajawali dan ikan terbang.

Tetapi kami yakin, tak ada usaha yang mengkhianati hasil. Kami hanya perlu terus berusaha, menciptakan perubahan hingga akhirnya bisa mengikuti kesuksesan beberapa stasiun televisi yang lebih dulu muncul.

Sekali lagi, aku merasa beruntung didampingi tim yang kinerjanya handal dan luar biasa seperti mereka semua. Jumlahnya memang tidak banyak, kami pun harus bekerja multi tasking karena kondisi bujet pas-pasan, tetapi selama tiga tahun terakhir membuktikan jika mereka memang mumpuni di bidangnya masing-masing.

Pandangan ini kembali ke kiri, program yang diproduseri Mario, sitkom.

“Ini juga tetap tayang. Hanya perlu beberapa perubahan di proses kreatif.” Mario tampak antusias dengan saran dariku, binar di mata laki-laki itu menjelaskan semuanya.

“Selama ini yang ditampilkan itu-itu saja, lucu sih. Tapi kamu enggak kepikiran membuatnya beda? Mungkin dengan bintang tamu? Kuis yang diparodikan? Atau sekali-kali ada interaktif dengan penonton yang di studio atau di rumah.”

“Bagus, Pak. Itu bisa kita coba produksi bulan depan. Pas akhir tahun, gimana?”

Aku tergelak mendengar Mario yang mencoba menawar. Senyum semringah di wajahnya terbit secerah sinar oranye yang membias dari dinding kaca di belakangnya.

“Its, Ok. Hanya sekadar saran, Mario. Kamu bisa rembukkan lagi nanti dengan tim kreatif yang lain.” Punggung ini kusandarkan ke kursi, meluruskan kaki hingga tempat dudukku bergeser ke belakang.

“Keuangan kita gimana nih?” tanyaku sambil menoleh ke kanan.

Dimas, laki-laki berkaca mata tebal itu sontak membuka file dari laptopnya. Kedua alisnya berkerut nyaris bertaut, memastikan tak ada yang salah dari semua data yang ada di layar.

“Ada beberapa pemasukan dari pengiklan, Pak. Ibu Aira juga sudah memasukkan laporan tambahan dari beberapa sponsor. Saya rasa cukup.”

“Gaji karyawan?” Ini yang paling krusial.

Selama ini mereka sudah bekerja keras, tak kenal lelah, siang dan malam hanya demi menyuguhkan tayangan yang berkualitas. Aku tak mungkin mengabaikan lelehan keringat semua pekerja.

“Itu sudah di luar dari biaya produksi.” Seperti biasanya, Dimas menjawab singkat, padat dan jelas.

“Mungkin enggak ada bonus akhir tahun?”

Ucapanku disambut napas tertahan dari semua tim, yang kemudian berakhir dengan embusan napas panjang dan gemuruh tepuk tangan. Dua kata dari Dimas seperti menemukan mata air di gurun tandus.

“Bisa, Pak.”

Bersambung