Dian Story Part 1

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9

Cerita Sex Dewasa Dian Story Part 1 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sex Dewasa Dian Story Part 1

Sial! Gneiss merutuk sebal. Kekehan dari bibir si laki-laki membuatnya muak.

Kenapa ia sama sekali tak memikirkan kemungkinan itu? Bahkan setelah mengembuskan napas terakhir, ayahnya masih saja mencipta neraka untuknya.

Tetapi ia sadar, tak seharusnya Gneiss ke tempat ini. Ke mana lagi ia mencoba kabur?

Masa lalu indah adalah sesuatu yang mesti dihindari oleh buronan sepertinya.

Kebun kopi yang tak terjamah selama dua puluh tahun terakhir tak bisa menjadi penyelamatnya.

“Ayo-lah, Sayang.” Onix kembali mendekat, jarak laki-laki itu terpaut beberapa langkah saja darinya.

Gneiss harus melawan, ia memilih berkalang tanah dari pada menjadi sekutu. Mati akan jauh lebih terhormat dibanding memberontak. Gneis tak akan menyia-nyiakan perjuangan para pendahulu demi ego seseorang. Makar yang direncanakan Onix, biar-lah menjadi mimpi laki-laki itu sendiri. Gneiss tak pernah berharap ikut andil di antara mereka. Cukup saja hanya khayalan Onix yang tak pernah terwujud.

Tekadnya sudah bulat, tanpa memedulikan akibat dari perbuatannya, Gneiss menendang drum sekuat tenaga, menghantam tubuh si laki-laki. Onix terjengkang, punggung lebarnya menyentuh ubin, menghempas lantai penuh debu, pandangan Onix bergulir bersama dengan kotak hitam yang terpental jauh.

Tembakan beruntun memekakkan telinga, peluru-peluru yang dimuntahkan ke arah Gneiss mengenai kaca yang ada di sampingnya. Menghamburkan kepingan-kepingan tajam.

Gneiss berguling, menunduk ke arah tumpukan tong besi kosong di sebelah kanan. Kotak hitam yang menjadi targetnya, ada di situ. Ia tak perlu khawatir ketahuan jika pemindai itu berpindah tangan padanya. Pelacak sialan itu harus ia musnahkan.

Sayang …. Salah satu kakinya tak sengaja menendang tong. Bunyi gaduh yang ditimbulkan membuat penembak melihat celah. Gneiss kehilangan tempat berlindung, sebutir peluru menembus lengan kirinya. Mengalirkan darah kental kemerahan, memberi sensasi nyeri luar biasa. Ia terjatuh, terduduk, belati di tangannya terbebas. Jemarinya berpindah, mencengkram di pusat luka.

“Berhenti menembak!” Onix membentak marah, menepis senjata anak buahnya.

“Tapi, Pak!”

Onix menggeram, menoleh dengan wajah garang, menyiutkan nyali si penembak yang lantas menundukkan wajah. Empat orang temannya masih dalam posisi siaga. Berjaga-jaga jika ada pergerakan mencurigakan dari Gneiss.

Tubuh jangkung itu berdiri, lantas melangkah. Pandangan matanya melembut, menatap teduh si perempuan. Bukan Gneiss namanya kalau tidak keras kepala. Perempuan itu sontak berdiri meski harus meringis menahan sakit, memasang kuda-kuda. Menyalang, menyorot penuh amarah.

Sedikit lagi ….

Sebelum energi Gneiss habis terkuras.

Neryo chagi, ia melompat, menumpu pada satu tong besi, tendangan sekuat tenaga Gneiss layangkan, tumit menggasak, mengincar kepala Onix. Jalan terakhir untuknya lari dari tempat ini.

Tak butuh waktu lama, sejurus kemudian bukan Onix yang terkapar, justru Gneiss terjerembab, mencium lantai. Kali ini, sebutir timah panas menusuk pahanya. Perempuan itu memekik, perih yang Gneiss rasakan bertambah. Beberapa kali lipat dari sebelumnya.

“Gneiss!” Onix berderap menghambur, lengan kekarnya memeluk perempuan mungil yang kini bersimbah darah.

“Bodoh! Kenapa kau keras kepala sekali!” Laki-laki itu menggerutu, menarik bandana dari kepala Gneiss, helai ikalnya ikut terlepas.

Batok tanpa rambut terpampang, Gneis memalingkan wajah.

“Kau tetap menarik tanpa itu.” Onix melirik untaian hitam, jemarinya lincah melepas beledu. Sekali sentak, kain itu robek menjadi dua bagian.

Gneiss diam tak berkutik, pandangannya bergulir ke wajah si laki-laki. Sudut mata mengindera yang Onix lakukan. Laki-laki itu mendengkus kasar, embusannya menyapu wajah pucat Gneiss. Meski menggerutu, dengan telaten Onix mengikat kuat lengan dan pahanya.

“Kenapa harus seperti ini?” Suara Onix melemah, laki-laki itu menatap Gneiss.

“Padahal semuanya bisa diselesaikan, tanpa saling melukai.”

Gneiss tak menjawab, bahkan ketika bibir tebal laki-laki itu menemuinya, melumat kasar.

Ia tak mampu menolak.

“CUT!”

***

Kau tampak gelisah di tengah meeting malam ini, sesekali meninggalkan kursi, berdiri mendekat ke jendela, menyibak vertical blind melongok ke bawah di mana syuting film pendek yang diproduseri Dian.

“Meetingnya kita lanjut besok pagi.” Kau terlihat tegang, mulai membereskan laptop, merapikan bersama dengan lembaran kertas yang berserakan di sampingnya1

“Tapi kita belum sepakat dengan rencana acara yang bakal tayang, Pak.” Mario, tim programming terlihat protes. Kau jadi menghela napas karenanya lantas duduk kembali di kursimu.

Meeting pun kembali bergulir, kegelisahan itu masih tampak dari matamu, namun tuntutan profesi menantang untuk tetap mendengarkan dengan teliti sampai semua persentase berakhir.

“Kalian yakin acara ini akan diterima dan memancing minat pengiklan?” Tanyamu dijawab antusias semua tim. Mereka memberikan alasan yang cukup rasional untuk kamu terima.

“Baguslah,” ucapmu dengan senyum semringah. Menyejukkan siapa saja yang memandang. “Oh iya, saya juga mau ngasih berita gembira. The Programmer rating dan share-nya paling tinggi minggu ini.”

Suara gaduh tepuk tangan menggema di ruangan, wajah-wajah gembira dan sorot puas ketika mendengar kabar darimu. Namun, semuanya kembali terdiam, menunduk sarat kesedihan ketika kau memberi kabar kedua.1

“Sayangnya program Magician harus stop tayang akhir Desember.”

Yah, program itu memang sudah tayang lama sepanjang tahun 2019 ini, mereka memang memberikan banyak keuntungan untuk NikTV tetapi rasanya berat juga jika harus berpisah dengan acara yang membesarkan stasiun televisi ini.

“Enggak papa, tahun 2020 nanti kita ada FTV garapan kita sendiri. Ayo, semangat!” Kau pun menutup sesi meeting dengan luapan optimisme untuk seluruh tim kreatif.

Tergesa, kau memasukkan laptop dan berkas-berkas berserakan ke dalam tas lantas menyampirkannya di bahu. Langkahmu berderak cepat ke arah pantry, menyeduh kopi hitam. Selalu seperti itu kau lakukan jika ingin bertemu Dian. Seperti sebuah mantra menghilangkan kekikukan.

Lekuk di bibirmu terangkat setelah menghidu aroma yang menguar dari cairan pekat di gelas lantas melangkah dengan tenang ke studio.

Kau berdiri menyandar di pintu sambil mengamati adegan demi adegan dari film Savior yang akan tayang Januari nanti. Matamu terlihat fokus padanya, Dian yang semula diam memperhatikan jalannya syuting tiba-tiba berdiri dan meraih pelantang.

“CUT!”

Aku memekik tak percaya, para kru menoleh, tampak ogah-ogahan meski teriakanku semakin nyaring melalui pelantang.

“Sial! Abis ini scene narator ‘kan? Kenapa malah bengong semua?”

Tak ada yang menjawab pertanyaanku. Baru dua langkah kaki ini beranjak, lenganku dicekal seseorang.

“Apanya yang di-cut?” Bisikannya tepat di samping telinga. Siapa pun kamu, aku tak ingin diganggu. Adegannya harus selesai hari ini.

“Masuk scene narator!” Suaraku makin tegas sekarang, ofensif.

“Naratornya enggak masuk, dia izin lagi flu berat.”

Bisikan itu berubah menjadi suara rendah dan berat. Eh? Bukannya itu?

“Ngapain lo?” Aku sontak berbalik. Niko, kepala departemen kreatif muncul di sini? Wajahnya sarat lelah, meski senyum lebar terbit di bibirnya.

“Gue yang harus nanya, Di.” Niko mengekeh lantas menyecap cairan pekat dari gelas di tangannya.

“Lo udah ngambil alih kerjaan sutradara.”

Bibirku mengerucut, otak menjelajah, mencari alasan terbaik atas apa yang telah kulakukan.

“Gemes banget, Ko. Lo tau kan? Ini naskah pertama yang gue tulis dan produseri sendiri. Gue pengin yang terbaik.”

Yah, selama ini pekerjaanku hanya mengedit skenario, ketika Niko memberi kesempatan mencoba hal baru dan memang itu adalah impianku sejak awal. Tentu saja, aku tak akan menyia-nyiakannya.

Niko menoleh ke sekeliling, mataku mengikuti pandangannya.

Semua kru film tampak lelah, Johan, sang sutradara menunduk menekuri lantai, tangannya menggengam gulungan skenario. Di sampingnya berdiri Aksan dan Aline, kedua pemeran utama itu bahkan mendelikkan mata. Kaki ini beringsut, menyembunyikan wajah di balik punggung Niko. Nyaliku menciut, menghilang entah ke mana.

“Printilan kecilnya diberesin. Perlengkapan besar enggak usah. Kita lanjut besok.”

Niko meletakkan gelas kopi di meja lantas menepuk kedua tangan, lalu melirik penanda waktu di pergelangan tangan.

“Kalian boleh pulang, ini sudah larut. Yang tadi itu udah luar biasa banget.” Niko mengacungkan kedua jempolnya.

“Thanks a lot kerja samanya, Teman-teman.”

Aku yang ada di belakang Niko menghela napas, mengikuti gerakan tangan laki-laki itu.

“Ayo, kuantar pulang.” Tangan Niko terulur, menggenggam jemariku. Ada rasa hangat yang mengalir dari remasannya, menenangkan.

Kami berjalan menyusuri lorong berdinding kaca. Hampir semua lampu di ruangan yang dilewati sudah dimatikan. Sepertinya aku benar-benar lupa waktu karena terlalu semangat.

“Lo enggak kasihan liat mereka kerja tanpa istirahat dari makan malam tadi?”

Kenapa Niko bisa tahu?

“Lo ngawasin gue?” Langkahku terhenti, kepala ini mendongak lantas berdecak sebal. Tatapan menyorot tajam padanya, mengharap penjelasan.

“Iyalah, gimana gue bisa tenang mikirin sahabat gue ini bakal dikeroyok para kru.” Tangannya menyentil hidungku.

“Yang lo lakuin barusan itu sama aja menindas mereka, Di.”

Tangan ini terangkat menepis jarinya, Niko membuat napasku sesak karena memijit hidung. “Lo mau bunuh gue?”

“Enggak dong.” Niko terbahak, menarikku kembali melangkah.

“Ambisi boleh, Di. Tapi liat sikon juga dong. Bayangin kalau lo di posisi mereka.” Niko menoleh sekilas, jemarinya kembali meremas tanganku.

“Lo sudah harus pulang, keluarga lo nungguin di rumah. Sementara bos lo ngajak meeting enggak inget waktu.”

Kali ini langkah Niko yang terhenti. Aku yang tercenung mencerna ucapan laki-laki itu, tak memperhatikan. Wajahku sukses menghantam punggungnya.

“Kira-kira, apa yang bakal lo lakuin selain protes?”

Hatiku mencelus, ucapan Niko benar semua.

“Iya, gue janji enggak bakal gitu lagi.” Jujur, hal terberat yang harus aku lakukan adalah mengaku salah dan meminta maaf.

Perlu keberanian luar biasa dan mengenyahkan ego.

“Sorry ….”

Lift utama masih bergerak beberapa lantai dari tempat kami berdiri. Niko melepaskan tautan lantas mengacak rambutku.

“Ayo, jangan dipikirin.” Niko mengajak masuk ketika kotak aluminium itu terbuka. Hening menggantung, menggelayut di sela perjalanan membawa ke parkiran.

Bahkan ketika aku sudah duduk manis di sampingnya, Niko melajukan kendaraan dalam diam. Sahabatku ini memang tipe laki-laki yang tak banyak bicara, super irit. Terlebih jika dia sedang fokus mengerjakan sesuatu. Jangan harap, ada kata yang keluar.

Aku berdeham pelan saat menoleh ke kaca, warung makan bertenda terpal biru di seberang jalan tampak ramai. Sasaran empuk para karyawan yang baru pulang lembur. Dua pengamen membungkuk takzim ketika salah seorang pengunjung memasukkan lembaran ke dalam kaleng sebelum meninggalkan tenda.

“Lo laper juga ternyata.” Niko menyindir seraya menyeringai.

Dasar! Terlalu banyak ruang kosong di lambung memancing suara gaduh dari perutku.

“Laperlah, Ko,” ucapku sedikit memelas.

Nasi goreng kambing yang ditawarkan resto kaki lima Kebon Sirih memang terkenal seantero Jakarta. Sandiaga Uno katanya suka ke tempat ini, entah itu benar-benar butuh makan atau sekadar pencitraan.

“Gue pikir lo udah kenyang kalo kerjaan banyak.”

Teruslah menyindir Bapak Niko yang terhormat. Aku mengerucutkan bibir sambil melipat kedua tangan di depan dada. Bunyi ‘kriuk-kriuk’ kembali terdengar, mengalahkan alunan ‘bitterlove’ di radio.

“Gue memang mau singgah, kok. Gue jadi lapar karena ngawasin lo mulu tadi.”

Saking kesalnya, aku tak memperhatikan kalau Niko menepikan kendaraan ke trotoar. Tanpa menunggu, dia langsung memesan makanan, menyiapkan kursi kosong untuk kami berdua lantas melambai ke arahku. Wajahku masih tertekuk saat turun dari mobil.

Dua kali membuatku merasa bersalah, apa tak ada acara memohon maaf darinya? Ngotot pun tak ada guna, yang ada asam lambung semakin parah, merangsek memaksa keluar.

“Perut gue full.” Aku merendahkan sandaran kursi dengan napas tersengal.

Memaksakan diri menghabiskan seporsi sate kambing sangat tidak recommended. Alih-alih merasa kenyang, yang ada justru rasa tidak nyaman. Serba salah. Sekarang aku malah menyandarkan kepala di lengan Niko, mataku sudah seperti ada yang mengelusi, so sleepy.

“Pinjem lengannya, Ko. Gue ngantuk banget.”

Laki-laki itu berdecak kesal, meski tak menolak.

“Lo kek uler tau enggak! Abis makan molor.” Niko mendorong kepalaku dengan telunjuknya.

“Gimana gue nyetir, Di,” lanjutnya setengah putus asa.

Aish! Masa bodoh! Bukannya kembali menyandar di kursi, yang kulakukan malah menelusup ke bawah lengannya. Wanginya Niko itu enak, pelukable pula. Boleh dong sekali-kali bermanja-manja dengan sahabat sendiri.

“BK┬╣, yuk.”

Niko terbahak-bahak ketika punggungku langsung menegak, hasil dari alarm siaga yang dikeluarkan otak. Aku meninju lengannya dengan gemas, wajah ini pasti memerah sekarang. Ada sensasi panas di kedua pipi.

“Gue memang sahabat lo, Di.” Niko menstater lalu melajukan kendaraan dengan pelan.

“Tapi jangan pernah lupa, gue tetap laki-laki normal.”

Jalan raya Menteng cukup lengang ketika dini hari menjelang. Tak ada kemacetan yang memintas perjalanan kami. Namun, ucapan Niko barusan berhasil membuat kantukku lenyap seketika, menguar, menguap bersama dinginnya malam dari balik kaca yang kubiarkan tak tertutup rapat.

BK: Buka kamar.

***

Aku terbahak melihat cibiran sebal dari perempuan di sampingku. Rasanya ingin terus mengganggu, selalu terbersit niat berlaku jahil padanya.1

Padahal tak ada yang salah dengan ucapanku. Layaknya laki-laki normal pada umumnya, wajar saja kalau aku mengingatkan. Nafsu bisa saja muncul tanpa bisa dikendalikan. Terlebih ketika disuguhi skinship seperti barusan.

“Lo kenapa, Di?” Lekuk di bibir terangkat membentuk seringai.

“Tegang amat.” Mataku melirik sekilas, sebelum kembali menggulirkan pandangan ke jalan.

Terkadang lengang seperti ini menghanyutkan para pemakai jalan. Memacu kendaraan dengan kecepatan tinggi, hingga akhirnya kehilangan kendali.

“Sinting!”

Dia mencebik lantas memalingkan wajah. Suatu hal yang selalu Dian lakukan ketika menyembunyikan rona merah di pipinya.

“Katanya jagoan, masa digangguin dikit aja udah malu.” Tingkahku semakin menjadi. Aku selalu memiliki stok perbendaharaan kata jika bersama perempuan ini.

“Lo, sih!” Dian menjawab ketus, masih enggan menatapku.

Jika dia seperti ini, aku yakin seratus persen kalau Dian itu perempuan. Penampilannya yang jauh dari kata feminin terpatahkan.

“Gue kenapa?” Aku ikut mencebik, sebelum memindahkan persneling, memelankan laju kendaraanku ketika membelok, memasuki gerbang kompleks.

“Emang gue salah apa?” Udara dingin menerpa wajah ketika kaca mobil kuturunkan, menyapa satpam yang berjaga sambil membunyikan klakson.

“Enggak papa!” Dian benar-benar sebal dengan ulahku. Kakinya mengentak tanda tak suka. Bisa repot kalau amarahnya sampai esok hari.

Alamat habis isi dompet demi mengembalikan keceriaannya.

“Ya, deh. Mas Niko minta maaf.” Dasar aku! Masih saja menggodanya.

“Ini seriusan kali, Di. Gue rela kok jadi satu-satunya laki-laki di hati lo.”

“Apaan sih!” bentak Dian keras.

“Bukannya stok lo banyak!” Baru saja, aku memarkir kendaraan di depan rumahnya.

Tanpa pamit, Dian keluar dari mobil, membanting pintu dengan keras lalu menghilang di balik pagar.

Duh! Apa yang harus aku lakukan untuk membujuknya nanti? Memberi seikat kembang takkan mengubah wajah masam Dian, dia bukan tipe perempuan yang bisa disogok dengan bunga. Refleks, tangan ini mengacak rambut lalu menghela napas.

Ah, sudahlah. Mataku sudah teramat lelah. Hanya tempat tidur yang ada di kepala ini sekarang. Dian? Bagaimana besok saja.

Setelah mengunci mobil, langkah kuseret masuk ke rumah. Ibu tahu aktivitas seharian anaknya, beliau tak pernah menggembok pagar meski aku selalu membawa kunci cadangan.

Tak ingin mengganggu lelapnya, aku mengunci pintu dengan pelan lantas mengendap menuju kamar. Tepat di dua anak tangga, mata ini sontak membelalak. Ruang keluarga yang semula gelap gulita berubah terang benderang. Kepala ini mendadak pening ketika menoleh. Di samping saklar, ibu menyandar di dinding sambil melipat dada.

Sial! Ini pasti bukan suatu hal yang menyenangkan. Terlebih lengkungan sinis di bibir ibu tampak kontras dengan senyum yang mengikuti.

“Hmmm, lagakmu udah seperti maling, Ko.”

Aku meringis salah tingkah seraya kembali mengacak rambut. Penampilanku pasti teramat berantakan sekarang. Ini gawat. Ibu sampai menungguku pulang pasti ada apa-apanya.

“Ternyata bener kata Ayah, ya … harus nungguin kamu pulang kalau pengin ngomong serius.” Ibu mencebik, lalu mendekat ke tangga. Jemari memegang birai, kepalanya mendongak demi menelisik pandangannya padaku.

“Turun dulu, Ko.”

“Bu, ini udah malem, Niko capek banget. Besok aja, ya?” kilahku tergesa sambil menapaki anak tangga yang tersisa.

“Dah, Mom.”

“Niko!”
Aku tak memedulikan panggilannya, apa lagi yang bikin ibu heboh mengalahkan sensasi menunggu kocokan arisan, kalau bukan urusan jodoh. Belum apa-apa, kepala ini semakin pusing dibuatnya.

“Niko, ibu serius. Mau sampai kapan kamu membujang?”

Eh, busyet! Kegiatan melepas pakaian terhenti, aku menoleh. Biar kata perutku six pack, sepuluh pack pun rasanya tetapi risih kalau di depan ibu. Sesaat aku sadar akan satu hal, gerakan ibu masih lincah, beliau menyusul dengan mudah, meski napasnya sedikit memburu. Sekarang ibu malah sudah mengempaskan tubuh ke ranjangku, meraih remote di atas nakas lalu menghidupkan pendingin.

Kenapa juga aku lupa mengunci kamar?

Tanganku menarik kursi, ibu tersenyum puas melihatku duduk patuh di depannya.

“Gini loh, Ko.”

Jelas sekali ibu merasa di atas angin menghadapiku. Cengiran lebar muncul di wajahnya. Perasaan ini semakin tidak enak. Sepertinya sekarang aku tahu, sifat jahilku menurun darinya. Sedangkan Ayah tak pernah lepas dari kesan diam dan serius.

“Kamu ingat kan Medina? Anaknya Om Pras.”

Gawat! Wajah ini pasti sudah kehilangan ronanya. Aku yakin seratus persen akan dibawa ke mana arah percakapan kami.

“Ibu pengin kamu ketemu dia.”

Aku benar, ‘kan?

“Aku enggak pernah bilang mau dijodohin loh, Bu. Apa lagi sama si Media Media itu.”

Aku memutar bola mata lalu menolak dengan tegas. Punggung ini menegak, menyandar di kursi. Kedua tangan terlipat di dada.

“Medina, Ko.”

Ibu meralat ucapanku. Peduli amat, siapa namanya. Ini bukan lagi zaman Siti Nurbaya, beberapa bulan lagi sudah tahun 2020. Mana mau aku bernasib seperti tokoh fiksi dari satu abad yang lalu itu?

“Lagian ini tuh bukan dijodohin, kenalan dulu, mana tahu kalian bisa cocok,” lanjut ibu lagi, di telinga ini terdengar seperti bujukan yang tampaknya … menjerumuskan.

“Bu, Niko bisa cari sendiri.”

“Halah, nungguin kamu nyari sendiri sama aja berharap matahari terbit dari Barat!” Ibu mendengkus kesal sambil mengibaskan tangan.

“Ibu enggak mau, ya. Sampai mati enggak pernah ngerasain punya cucu.”

Hei, Otak! Berpikirlah dengan cepat.

“Aku udah punya pacar kok, Bu.”

Astaga! Kenapa malah kebohongan yang kuucapkan? Aku memang pernah punya banyak teman dekat perempuan, more precisely such as a friend with some benefit. Tetapi sekarang, sama sekali tak ada alias jomblo.

Ibu mendelik, menyorot tak percaya.

“Alasan aja kamu, Ko. Barusan kamu bilang, bakal nyari sendiri.”

“Bener kok, Bu. Niko malah udah siap-siap buat ngelamarnya.”

Well, yang kulakukan memang menutupi kebohongan dengan menambah dusta baru. Aku berusaha bersikap biasa, rasanya tak nyaman dipandangi ibu seperti sekarang.

“Siapa pacar kamu? Ibu kenal?”

Hasil dari kebodohanku, sekarang ibu tak henti mencecar dengan begitu banyak tanya. Gelisah, mataku meliar ke dinding di belakangnya. Bermula dari tanaman hijau yang ada di samping lemari, daunnya yang berbentuk hati itu mulai mengembang sempurna, menjuntai ke samping pot di mana ia bertahta.

Ibu masih saja mengoceh, menganggapku membual karena tak mampu menjawab. Embusan napas kasar mengikuti pandangan yang bergulir ke tirai hijau di samping ranjang lantas berhenti pada bingkai kayu berisi sosok berbaju hitam dengan toga bermahkota di kepalanya.

“Dian, Bu!” seruku cepat lantas menatapnya.

“Aku udah rencana buat ngelamar dia.”

Mata ibu membola tak percaya, menyorot padaku. Mencari pengingkaran di mata ini. Naluri seorang ibu biasanya tak pernah salah. Akurasinya kadang mencapai sempurna. Duh! Mata ini kembali kualihkan.

Namanya Dian, satu-satunya sahabat yang kumiliki sejak masuk sekolah menengah pertama. Aku yang dijuluki ansos oleh teman-teman, bisa banyak bicara kala bersamanya. Usia yang terpaut dua tahun tak merenggangkan kedekatan kami. Keakraban layaknya saudara, seseorang yang tak pernah kami miliki.

Dian yang bersembunyi di belakang mamanya menarik perhatianku ketika kami berkunjung ke rumahnya. Tradisi ibu, sowan ke rumah tetangga terdekat setiap Ayah memutuskan menerima mutasi yang ditawarkan perusahaan.

Enam belas tahun sebagai teman dan sahabat, sah-sah saja kalau sekarang aku berharap hubungan kami naik pangkat ‘kan?

“Astaga, Niko. Sejak kapan? Kok ibu enggak tahu sih?” Aku diam saja ketika Ibu berdiri lantas menepuk bahuku

“Besok ibu mau ketemu Jeng Ratih deh. Ngomongin hubungan kalian.”

Ibu lantas melenggang keluar, meninggalkanku dengan sejuta rasa di hati dan pikiran. Tapi bukan itu yang membuat kepala ini kembali berdenyut nyeri. Ucapan terakhirnya sontak membuat jantung ini menggedor keras.

Mampus!

***

“Di, ngapain lo tidur duduk gini sih?”

Aku meletakkan kopi di samping laptop. Mati, kehabisan daya. Apa semalam Dian kembali melanjutkan tumpukan naskah yang harus dikurasi? Perempuan ini masih belum bangun juga, masih betah menelungkupkan kepala di meja. Beberapa lembar kertas penuh coretan terserak, berantakan. Kopi semalam, masih menyisakan setengah di gelas.

Mataku pun sama lelahnya, pikiran apa lagi. semalaman aku memaksakan diri untuk memejam, berharap pagi segera menyapa. Azab itu pedih, Kawan! Hasil dari berdusta pada ibu terbalaskan seketika. Kurang tidur, sekarang malah sudah ada di kamar Dian. Sepagi ini.

“Di … bangun.” Kucoba menyentuh bahunya. Dian bergerak sedikit, pelan-pelan membuka mata lantas menegakkan punggung. Dia tampak kaget.

“Ini jam berapa?” Dian merenggangkan kedua tangan ke atas lalu mendongak menatap penanda waktu di dinding, lantas mendelik ke arahku.

“Lo ngapain jam segini udah ada di kamar anak perempuan orang?”

“Udah izin juga sama Mama Ratih, Di,” jawabku cepat sambil mencebik.

“Gue butuh ngomong sama lo, Di.”

Aku menggaruk kepala, menyeringai lebar sebelum duduk di kursi meja rias di samping jendela. Balkonnya menghadap ke kamarku. Dulu sekali, ketika kami bertengkar, selalu saja tempat itu menjadi area perdebatan kami. Sampai suara kami sama-sama parau.

“Mama pala Lo! Ya, udah, ngomong aja.” Dian terlihat meringis ketika berdiri.

Tangannya memegang punggung, memijat. “Gue udah kayak nenek-nenek pake sakit encok.” Dia melintas di sampingku lantas masuk ke kamar mandi.2

“Ya, gimana enggak sakit punggung lo kalo tidurnya kayak tadi.” Ah, sial! Dian mengabaikan ucapanku.

Suara gemercik air dari dalam sana jelas memastikan aktivitas pemiliknya. Dian meminta aku bicara tapi malah meninggalkanku sendiri. Aku bangkit membuka tirai lantas membuka pintu ke arah balkon.

Matahari masih bersinar malu-malu, sinarnya tertutup awan kelabu. Musim penghujan sebentar lagi menghampiri, namun sudah banyak gabak menggantung di langit setiap harinya. Kumulonimbus berarak-arakan, tampak kepayahan menampung uap air hasil evaporasi selama beberapa bulan terakhir.

Kursi rotan di balkon mengembun, menyimpan jejak basah sisa dinginnya malam. Tanganku menumpu di birai, menghirup udara segar sebanyak-banyaknya. Sepertinya saat ini pasokan oksigen di rongga dada ini semakin berkurang sebab perasaan resah menghampiri. Apa yang harus kukatakan pada Dian nanti?

Wajah perempuan itu memang selalu merona setiap aku berlaku jahil padanya. Semata-mata demi menyembunyikan kekikukanku menghadapinya. Apakah semburat merah jambu bisa diartikan jika Dian juga menyimpan rasa yang sama denganku?2

“Jadi mau ngomong apa?”

Dian sudah rapi, berdiri di sampingku sambil memegang gelas kopi. Pandangannya lurus ke arah tanaman bugenvil yang sama sekali tak berbunga. Tidak menarik sama sekali

Setiap musim penghujan bugenvil umumnya tak berbunga, namun lebih banyak daun yang tumbuh. Ketika rintik dan rinai berakhir, barulah kuncup-kuncup keluar, dan tak lama di setiap ujung cabang sudah dipenuhi bunga. Bugenvil pun perlu ‘istirahat’ selama kurang lebih dua bulan sebelum berbunga lagi.

“Gue serius loh, Di, sama omongan gue semalam,” ucapku pelan tak berani menatapnya. Pandangan ini tetap terarah ke jejeran tanaman hias milik Tante Ratih.

“Omongan yang mana?” Dian berbalik, menyandarkan punggung ke birai balkon lalu mengecap kopi hitam yang kubuatkan untuknya.

Duh! Perempuan ini belum lewat dua puluh empat jam, dia sudah berlagak amnesia. Apa Dian juga lupa kalau hempasan keras di pintu mobil bisa bikin bodi penyok?

“Yang semalam loh, Di. Sebelum lo ninggalin gue di mobil. Enggak pamitan pula.” Bibirku merengut sok kesal.

Padahal mana berani aku melakukan itu padanya. Dian itu terlalu sayang buat dianggurin, sangat terlambat untukku menyadarinya.

Dian tampak berpikir, kedua alisnya berkerut nyaris bertaut. Belum lagi tingkah menggigit bibir ketika dia mencoba mengingat sesuatu. Menggemaskan sekali, sekaligus menjengkelkan juga. Dia sama sekali terlihat belum mengerti apa yang aku bicarakan.

“Gue pengin jadi laki-laki yang bisa lo andalin, satu-satunya di hidup lo, Di.”

Bersambung