CONCHITA Part 9

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10

Cerita Sex Dewasa CONCHITA Part 9 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Cerita Sex Dewasa CONCHITA Part 8

MIRACLE OF BERN

It is dawn on Sunday, 4th July- The day of the 1954 World Cup Final. Walter draw his curtains and looks out. To his utter concentration, it is clear and bright intimating a hot day. The 34 year old veteran sadly shuts them, and returns to bed concerned about the forthcoming heat precipitating muscle fatigue from the malaria he suffered. He is inconsolable.

However, at noon he is woken by his teammates cheerfully shouting ; ” it does look like rain, it does look like rain” for, as everyones know, when it rains Fritz Walter plays well.

Walter does indeed play well. Just not at first, after eight minutes the Germans find themselves 2-0 down, but pouring rain started falling from the sky . Fritz Walter happy, he fought back against the Hungarian. Fritz rallies his team. At 2-2, with six minutes left to play, Helmut “Der Boss” Rahn volleys the ball into the net and West German radio commentator, Herbert Zimmermann, screams that line will become every bit as famous in Germany as Kenneth Wolstenholme’s 1966 punchline would in England.

” Tor! Tor! Tor!,” he proclaims, repeating the German word for goal over and over ” Germany lead 3-2…..call me mad! call me crazy!.”

Some people will date the start of the German Economic Miracle of this day, forever known as “Miracle of Bern”. The new Germany finally has something to be proud of. Nine years on from playing for his life, Fritz Walter, The Hero of Bern, has won the World Cup.

Tribute to Fritz Walter.

” Deshi Deshi Basara Basara hanya Hans Zimmer, Sang Komposer sendiri yang mengetahui dari mana asal kata sebenarnya,” Cristian Bale menjelaskan padaku di sela istirahat ronde ketiga.

 

Seorang Ring Girl cantik masuk membawa penanda ronde tiga akan segera dimulai. Ring Girl UFC cantik-cantik lagi berbadan montok. Alfred sangat senang melihat penampilan mereka, sedari tadi ia memaksaku mendekati salah seorang Ring Girl yang bertugas berusaha mendapatkan nomer ponselnya. Alfred lupa kelakukan mendekati “bidadari ring” akan membawa preseden negative bagi kami sendiri. Selain itu, statusku yang kini menjadi pacarnya Ronda Rousey akan membuat sebuah tindakan meminta nomer ponsel menjadi buah simalakama yang membawa dampak buruk bagi diriku sendiri maupun Ronda.

Jadi secantik apa pun Ring Girl yang melintas aku berusaha cuek. Aku tak peduli walau bidadari ringnya secantik para wanita di Octagon sekarang. Setidaknya mencoba menyimak ucapannya Cristian Bale menjagaku tetap fokus.

” Bukan bahasa Arab Mr.Bale??,” tanyaku berusaha keras mengalihkan godaan ring girl.

” Antara Arab atau Maroko lebih tepatnya. Kalimat ini menurut Zimmer berarti “bangkit,” atau ” Dia yang kembali dengan cepat”, Cristian Bale serius memberi penjelasan ” melihat penampilan Ronda di ronde kedua membuatku jadi berpikir Deshi Deshi Basara Basara lebih tepat dipergunakan olehnya daripada Batman sendiri.”

” Kenapa begitu Mr.Bale?.”

” Dia yang kembali dengan cepat dalam Bahasa Arab atau Maroko merujuk kepada kata ganti Perempuan. Itulah sebabnya film “Batman Rises”, tidak hanya memfokuskan pada sosok Batman namun juga Catwoman.”

” Sebelumnya maafkan aku belum menonton film Batman yang ini Mr.Bale, masalahnya apa hubungan antara Catwoman dengan Ronda Rousey?.”

Cristian Bale antusias menyambut pertanyaanku ” Di awal film, Catwoman menjadi figure antagonis terlebih dahulu, ia sangat jahat karena menghianati Batman yang sebenarnya mulai menaruh kepercayaan kepadanya. Catwoman membalas kepercayaan Batman melalui sebuah penghianatan yang hampir saja merengut nyawa sang super hero,” aku menyimak serius ” lucunya melihat Batman nyaris mati seketika menyadarkan Catwoman, membuatnya berbalik dari kejahatan kemudian menjadi pembela kebenaran. Perubahan sikap akibat dipicu oleh sebuah peritiwa yang sebenarnya tidak menyenangkan inilah yang kumaksud sangat mirip ceritanya Ronda Rousey.”

” Maksudmu Ronda pernah…..menjadi atlet antagonis sebelumnya??.”

” Mantan manajer Ronda, Darin Harvey keesokan hari setelah Ronda kalah melawan Holm mengatakan pacarmu sebagai monster.”

” APA??????,” aku terkejut bukan kepalang.

” Aku memahamai keterkejutanmu teman, tapi pada kenyataan jawabannya iya,” Bale menatapku memastikanku menyimak baik-baik ucapannya ” Darin lebih lanjut mengatakan Ronda terkena karma dalam pertarungan tersebut karena memperlakukan orang-orang terdekatnya secara buruk. Pacarmu itu memang sempat berubah oleh uang dan popularitas. Banyak orang dekatnya mengatakan ia tidak lagi menjadi sosok manusia baik setelah terkenal. Orientasinya berubah sepenuhnya mengejar uang melalui film Hollywood, modeling, wawancara-wawancara ekslusive hingga penjualan merchandise bertemakan dirinya. Mata Ronda Rousey yang dulunya bertarung seperti mata harimau berubah manjadi mata duitan.”

” TUNGGU TUNGGU… Mr.Bale…sepertinya kamu kelewatan,” mendengar penghinaan kepada Ronda membuatku panas.

Cristian Bale langsung duduk tegak menyadari aku salah menanggapi ucapannya ” gini Mr.Budi jangan salah paham!. Aku tidak berniat menjelek-jelekkan pacarmu. Sama sekali aku tidak berniat kesana. Aku hanya ingin menyampaikan kepadamu sebuah kisah yang harus kamu dengar secara keseluruhan. Bolah aku lanjutkan??.”

Aku menganggukkan kepala sebagai jawaban.

” Ronda memang sempat berubah oleh uang maupun ketenaran tapi kekalahan telaknya dari Holm merubah sikapnya secara keseluruhan. Holm membuat Ronda tersadar persis seperti Catwoman tersadar melihat Batman yang nyaris mati. Ronda menyadari melalui tendangan kaki kiri Holm bahwa ia tidaklah sehebat yang dikatakan orang. Segala pemberitaan yang semula memujanya sebagai petarung wanita paling mematikan di muka bumi menghilang dalam satu malam. Seluruh dunia tiba-tiba menghujatnya, menertawakannya habis-habisan membuatnya menderita. Sejak saat itu pacarmu berubah. Ia berpaling dari tipuan uang dan kejayaan, sepenuhnya bergerak kembali ke jiwa petarung terbaik yang semula pernah dimiliknya.”

Kami berdua sama-sama menatap ring Octagon melihat sudut Ronda yang sekarang dipadati anggota timnya. Ronda sedang mendapat perawatan serius mengobati luka menganga di matanya. Jesse dan Gokor membagi tugas merawatnya.

” Kata orang, setelah kekalahan itu Ronda menjadi pribadi tertutup. Ia memang masih membintangi film Hollywood, tapi tidak lagi seglamor dulu. Tendangan Holm sudah meninggalkan luka begitu dalam. Sebuah luka yang membuat kebanyakan orang Amerika yakin tidak akan dapat pulih tepat pada waktunya. Melihat penampilannya begitu kepayahan mengejar Holm sejak ronde pertama membuat pendapat kami seperti akan menemui kebenaran,” Bale menghela nafas panjang

” tapi sepertinya kami baru saja melakukan kesalahan besar dengan berfikir seperti itu dan mengecilkan mental bertarungnya. Kamu bisa lihat tadi, Ronda bangkit. Ia berteriak lantang menggeleng-gelengkan kepalanya tidak takut menghadapi Holm. Ini bukan sikap seorang yang terluka Mr. Budi. Aku bisa merasakannya. Lebih tepatnya Ini merupakan sikap orang yang mampu bangkit dari kesulitan yang dihadapinya kemudian bersikap seperti layaknya seorang Juara.”

***

” HENTIKAN AKSI TOLOLMU RONDA!,” teriakan Jesse kudengar dari balik pagar Octagon. Ia sama sekali tidak terkesima oleh aksi pasang badan yang ditunjukkan Ronda. ” KAMU HANYA MENGHANCURKAN DIRIMU SENDIRI!. KAMU TIDAK AKAN BISA MENGALAHKAN HOLLY HOLM TANPA MENGANGKAT TANGANMU DAN MENGHADAPINYA SEBAGAI PETARUNG. MEMBIARKANNYA MEMUKULI WAJAHMU AKAN MEMBAWAMU KEPADA KEKALAHAN YANG LEBIH MEMALUKAN DARI SEBELUMNYA.”

Ronda menatap wajah Jesse hanya menggunakan satu mata karena satu matanya yang lain sedang dikompres oleh Gokor.

” ANGKAT TANGANMU! LINDUNGI WAJAHMU! LAWAN DIA! HAJAR DIA! TUTUP MULUTMU!,” Jesse menampar wajah Ronda ” LAWAN DIA! LAWAN! HANYA ITU PELUANGMU MENANG! AYO LAWAN! LAWAN!.”

” Siap…siap….kedua petarung siap-siap..seluruh tim tinggalkan Octagon,” wasit memberi isyarat.

Gokor beserta anggota tim lain membereskan perlengkapan lalu satu persatu keluar dari ring. Ronda berdiri dari bangku. Matanya bengkak sebelah. Untungnya pendarahan sudah bisa dihentikan, termasuk di hidungnya.

Jesse yang terakhir keluar. ” BANGKIT! INGATLAH KAMU ITU ROWDI! HANYA KAMU PETARUNG WANITA BEGELAR ROWDI! DAN SELAMANYA KAMU ADALAH ROWDI RONDA ROUSEY!.

Ronda mengangguk mengatupkan kedua tangan siap kembali bertarung.

” GOOOOOOOOOONG.”

Ronde ketiga dimulai.

***

Ronda maju merapatkan kedua tangan mengembalikan perlindungan Double Cover yang sempat diturunkannya. Lawannya The Preacher Daughter tetap tenang. Nafas Holly Holm teratur tak tampak sedang menghadapi seorang lawan berat.

Jesse benar, melihat ketenangan Holm, bila Ronda enggan mengangkat tangannya ia pasti kalah. Holm bukanlah petarung pemula yang mudah terpancing emosi akibat aksi “taunting” murahan. Ditubruk Ronda di akhir ronde kedua memang sempat membuatnya terpancing namun pengendalian emosinya mampu membuatnya kembali fokus.

Mereka berdua mengawali babak ketiga saling menjaga jarak. Keduanya lebih berhati-hati manantikan momentum melancarkan serangan terlebih dahulu.

Gertakan Jesse di dalam ring membuat Ronda kembali bertarung agresif. Ia sekarang mencari celah serangan. Sudah dua ronde berjalan celah itu ditutup oleh Holm. Tidak ada ruang sedikit pun untuk Ronda mengeluarkan teknik Judo atau Jui-jutsu andalannya. Ia dipaksa mengikuti irama bermain Holm tidak mampu mengeluarkan jati dirinya.

Kini ia mencoba menjadi seorang petarung Pressure Fighter dengan menyudutkan Holm ke pinggir jaring. Tanpa memukul secara serampangan, Ronda menuntun Holm agar bergerak ke sisi yang diinginkannya. Ketika pancingannya berhasil membuat Holm tertarik hingga tiba di dekat jaring Ronda memulai serangan. Dihamburkan tiga kali hook diiringi pergerakan foot work cepat memastikan Holm tidak lepas dari pinggir jaring. Mendapati serangan Ronda begitu cepat, Holm memasang cover melindungi wajah.

Tiga pukulan Ronda berhasil masuk. Holm mencoba menghindar, Ronda masuk lagi. Empat kali pukulan hook lagi dihantamkan Ronda semua mengarah ke tubuh Holm. Sang Juara bertahan berusaha menghindar ke sisi kiri. Dua pukulan Ronda menerpa angin, dua sisanya menghantam tangan. Holm belum bisa lepas dari pinggir jaring. Terjepit, Holm menghantamkan tiga jab beruntun memanfaatkan panjangnya jangkauan tangan. Ronda tidak mempedulikan datangnya jab, ia libas lagi tubuh Holm menggunakan pukulan keras menusuk rusuk.

Dua pukulan berhasil masuk. Holm mengernyit kesakitan. Menahan sakit, kakinya mencoba menendang kepala Ronda. Untung Ronda bisa membacanya kemudian mengelak ke kanan langsung membalas menghantamkan tiga pukulan beruntun lagi. Pukulan Ronda masuk. Holm semakin tersudut, terpaksa ia gunakan dengkul mencoba menusuk wajah Ronda yang menunduk. Hendak disodok menggunakan dengkul Ronda terpaksa menyerah melepaskan target, membiarkan Holm kembali bebas.

Holly Holm bebas. Ia bisa menari lagi mengatur jarak.
.
Ronda tidak menyerah. Keberanian merapatkan jarak menjadi kelebihannya. Holm mencegahnya berusaha merapatkan jarak. Terus jab-jab lurus digelarnya demi menjauhkan jarak. Ronda mengabaikan pukulan jab Holm, ia lesatkan tubuhnya mencoba memukul. Satu pukulan hooknya bertemu dalam waktu yang sama dengan pukulan jab Holm. Hook Ronda menghantam pinggang, jab Holm mengenai wajah.

Penonton bangkit dari tempat duduk melihat terjadinya jual beli pukulan. Holm yang mulai kewalahan tidak berani lagi menggeber kekuatan tangannya, kini ia berganti mengangkat kaki. Tendangan Kick Boxing kaki kiri menghujam menuju kepala Ronda. Yang ditendang merapatkan tangan maju tanpa rasa takut. Kaki membentur tangan dibalas langsung pukulan tangan kanan mengenai bahu Holm.

Terkena pukulan Holm terhuyung. Berusaha menumpu kaki kiri, ia membuang tendangan kanan sebagai upaya penyelamatan. Ketika kaki kanan menuju kepalanya, Ronda menunduk di waktu yang tepat. Kaki Holm meleset beberapa senti saja di atas kepalanya. Cepat bereaksi, Ronda menghantam tiga hook serangan balik. Dalam kondisi satu kaki terangkat Holm tidak punya cukup tenaga menghadapi tiga pukulan yang datang. Dua pukulan mampu menerjang wajahnya.

Holly Holm terpukul. Ia berusaha menghindar ke sisi kanan ring. Ronda bisa membacanya. Ditanam kaki kirinya ke matras lalu menumpunya kuat sebelum melakukan pukulan kiri.

” Buuuummm,” penonton dapat mendengar kerasnya pukulan kiri Ronda menghantam wajah Holm.

Dahi Sang Juara sobek. Ia terkena pukulan telak. Petarung lainnya pasti sudah KO menerima pukulan keras seperti ini. Holm tidak. Ia melontar-lontarkan tubuhnya mencoba menjauh. Ronda tak memberinya waktu, hamburan pukulan dia berikan menghadapi lawan yang mundur.

” GOOOOOOOOOOOONG.”

Bunyi gong memisahkan mereka kembali.

Saved by the bell bagi Holm.

Dari tiga ronde, ronde inilah yang menjadi milik Ronda.

***

Ring Girl masuk membawa penunjuk ronde empat akan segera berlangsung. Penonton makin bergemuruh. Mereka sangat menyukai pertarungan sengit yang ditunjukkan kedua petarung. Kenekadan Ronda mampu mempersempit jarak dan memenangkan ronde ketiga. Semua penonton mengetahui pertarungan jarak dekat merupakan keahlian Ronda.

” Jarak memang semakin menyempit.”

Lebih dari biasanya rasa terkejutku sekarang. Kursi Cristian Bale yang sedang ke toilet sudah diisi oleh Meneer Johan Cryuff.

” Meneer sejak kapan……..??.”

” Dengar aku tidak akan lama! aku tertinggal informasi yang bisa kamu gunakan melawan Mourinho,” ia mengeluarkan tablet bututnya. ” Kamu tidak usah tertawa cukup dengarkan saja,” tampaknya ia sadar aku hampir tertawa ” ini peristiwa ” Miracle of Manila” 4 Desember 1991.”

Dilayar monitor hadir rekaman pertandingan bola antara tim berseragam Merah Putih dan Biru Merah. Melihat mereka bertanding mengingatkanku pada partai Final Piala AFF yang baru saja kami menangkan. Para pelakunya terlihat jadul, aku menimbang-nimbang, namun wajahnya tetaplah orang Indonesia.

” Ini orang Indonesia bukan Meneer?? kenapa disebut keajaiban di Manila?.”

” Karena kejadiannya mirip Miracle of Bern,” jawabnya singkat.

” Apa itu Miracle of Bern??.”

” Terlebih dulu kamu tau tidak dimana Bern itu sebenarnya??.”

Aku menggeleng.

” Itulah kebodohanmu! mau tau hal besar tapi detail kecil saja tidak tau.”

” Meneer ronde keempat sudah mau dimulai nih jangan bertele-tele!,” akhirnya bisa juga aku menggertak seorang maestro seperti Johan Cryuff.

” Bern ada di Swiss,” Meneer harus mengikuti intruksiku karena waktu jeda antar ronde segera berakhir ” pada Final Piala Dunia 1954 di Bern, The Mighty Magyars melakukan apa yang dilakukan Ronda Rousey pada pertandingan pertamanya.”

Mendengar nama Ronda disebut membuatku segera sadar ” The biggest upset??,” tanyaku.

” Benar. The Mighty Magyars kalah melawan Jerman Barat.”

” Tim emas yang memiliki kemampuan mencetak gol sedahsyat itu kalah??? di Final Piala Dunia??.”

” Benar! Sama seperti Ronda, Puskas dkk melakukan kesalahan fatal. Mereka tidak memperhitungkan keahlian musuhnya.”

” Apa maksudmu??.”

” Final Piala Dunia 1954 digelar di Wankdroff Stadium. Ketika pertandingan berlangsung cuaca sudah mulai mendung. Hungaria menyerang secara sporadis kemudian berhasil unggul 2-0 hanya dalam waktu 8 menit pertama,” aku terpukau ” namun kemudian cuaca memburuk. Hujan lebat turun bebarengan gol kedua Hungaria. Cuaca sering diartikan sebagai sebuah kemalangan. Nasib buruk. Arti cuaca yang tragis seperti ini sayangnya tidak dimiliki oleh Fritz Walter kapten kesebelasan Jerman Barat. Alih-alih terganggu hujan lebat, Fritz Walter malahan sangat suka bertanding dalam keadaan hujan lebat.”

” Seorang pemain bola suka bertanding di hujan lebat??,” aku terheran-heran ” aku sangat takjub, padahal lapangan akan sangat licin, bola sulit dikendalikan, sudut pandang terbatas….”

” Itulah keanehannya Fritz Walter. Ia menikmati benar pertandingan dalam keadaan hujan lebat. Kamu bayangkan setelah hujan lebat turun, Fritz Walter maju ke garis depan menginspirasi timnya untuk berbalik menggebuk Hungaria melalui tiga gol balasan. Jerman Barat menang 3-2….. Aku ingin mengingatkanmu hal yang sama terjadi di pertandingan ini; Ronda harus sabar menghadapi seorang petinju kidal sama seperti Fritz Walter sabar menghadapi hujan lebat.”

” Katanya mau membicarakan masalah Mourinho kenapa lari ke Ronda???,” aku bingung.

” Karena Fritz Walter mampu merubah kemalangan menjadi keberuntungan.”

” Lalu kaitannya sama Miracle of Manila apa??.”

” Miracle of Manila adalah sebuah kemenangan terbaik Bangsamu dalam keadaan terburuk kerana sabar menghadapi tekanan. Robby Darwis, Rocky Putiray, Aji Santoso, Raymond Hattu, Eddy Harto, Peri Sandria, dan kawan kawan mengantarkan Indonesia memenangkan medali emas SEA Games 1991. Medali emas Sea Games terakhir yang diperoleh Indonesia hingga sekarang. Anatoli Polosin pelatih Indonesia ketika itu melatih anak-anak ini secara spartan melebihi standar latihan di Asia Tenggara pada umumnya membiasakan mereka dengan kehidupan ekstra berat agar mereka bersabar….”

” Siap siap….petarung siap siap…anggota tim keluar dari Octagon,” wasit telah memberikan peringatan sejenak menghentikan paparan Meneer.

” Meneer terus apa hubungannya ini semua??.”

” Sabar dalam menghadapi kemalangan dan menganggapnya sebagai keberuntungan merupakan bagian terbaik dalam hidup ini bukan??,” Meneer menyunggingkan senyum.

” Aku setuju! tapi apa hubungannya sama Mourinho?? apa kaitannya sama Ronda??.”

” Ssssssstttt,” Meneer menutupkan jari ke mulutnya ” pertarungan sudah dimulai.”

” GOOONG.”

***

Ronde ke empat dimulai.

Ronda maju lagi setengah berlari menuju Holm. Jab lurus menjadi pembuka serangan di ronde empat diluncurkan oleh Holm mencoba menarik mundur Ronda. Tak menggubris usaha Holm, Ronda meringsek. Melihatnya maju, Holm membabatkan tiga hook berturut-turut yang semuanya mengenai tubuh Ronda. Tidak takut melihat pukulan Holm, Ronda berhasil mendekat lalu menendangkan kakinya ke kaki kanan Holm. Tendangan ke kaki sudah cukup mengejutkan apalagi disusul hantaman ke arah wajah.

Holm membaca scenario Ronda yang akan menggunakan tendangan kaki bukan untuk memukul namun sebagai awalan bantingan, ia bergerak menghindar secepatnya berusaha menjauh. Ronda sedikit tertinggal. Jarak kembali terbentang. Usaha Holm diiringi lari-lari kecil agar mempercepat gerakannya . Holm bergerak menari ke kanan Ronda mengejar. Gerakan Holm berikutnya sangat mirip gerakanku di lapangan bola, ia mencitrakan akan bergerak ke kanan namun segera berganti arah ke sisi sebelahnya.

Ronda terkecoh.

Ia tidak menangkap perubahan tiba-tiba yang disertai serangan tangan kiri. Sodokan tangan kiri Holm masuk telak meninju sisi rahang kiri seketika membuat Ronda terhuyung.

Terkena pukulan kiri di rahang, Ronda goyah kehilangan keseimbangan bergerak ke belakang. Ia hampir jatuh karena kepalanya seperti mengalami pusing hebat. Holm melihatnya. Seorang petinju tau persis kapan pukulannya menghantam titik vital. Inilah momen kemenangan sejatinya yang akan mempensiunkan seorang Ronda Rousey.

Penonton berdiri melihat Ronda limbung.

Mereka berteriak ” HOLM… HOLM… HOLM… HABISI DIA… HABISI DIA… HABISI DIA…”

Aku ikut berdiri tak percaya semua perjuangan Ronda akan segera berakhir.

Holm menyerbu menggunakan kedua tangannya siap menyelesaiakan duel. Ronda terus terhuyung seperti orang mabuk. Tangan kanan Holm mulai masuk menghantam dahinya. Luka di pelipis kembali terbuka. Ronda terhuyung lebih parah tapi belum jatuh.

Wasit mendekat bersiap menghentikan pertarungan.

Hom menghantamkan pukulan kedua menghajar hidung Ronda. Darah kembali menyembur. Kedua kaki Ronda sudah tidak berposisi kuda-kuda. Kedua kakinya hanya berusaha bertahan berdiri.

Penonton makin keras berteriak.

” HOLM…HOLM….HOLM……PENSIUN..PENSIUN..PENSIUN….”

Holm menempatkan kaki kanannya di depan mencondongkan tubuh ke belakang bersiap menghantamkan pukulan kiri andalan.

Ronda melihat gerakannya.

Aku merasa ia sempoyongan tapi sanggup melihat datangnya pukulan.

Cepat sekali kakinya yang semula membuka sempoyongan berubah posisi. Diawali tumpuan kaki kanan, kaki kirinya masuk diantara kedua sela kaki Holm yang bersiap memukul.

Ronda melakukan NUT MEG tepat disaat tangan kiri Holm masuk hendak menghajar wajahnya. Ia begitu nekad. Seharusnya pukulan itu bisa merobohkannya. Kenapa dia masih melakukan Nut Meg?? apa yang diinginkannya??.

Semua penonton tak sabar menyaksikan tubuh Ronda terkapar di matras. Sebagian besar mereka bahkan sudah melihat matras sebelum pukulan mendarat secara sempurna.

Ronda Rousey sayangnya masih berdiri tegar. Ia berdiri kokoh dengan tangan kiri Holm telah masuk dalam belitan tangannya. Ujung tangan Holm berhasil menyentuh pipi Ronda tapi lengannya telah dibelit secara sempurna ketika kaki kiri Ronda tadi melakukan NUT MEG di antara kedua kaki Holm. Sangat cepat Ronda langsung melakukan pivot setelah Nut Meg dilakukan lalu memindahkan power dari kaki naik ke pinggang dan berakhir di tangan menyempurnakan hadirnya bantingan pinggang.

Holy Holm seketika terbang terpelanting keras di atas matras. Posisi serangannya berubah.

” Buuuuuummmm,”

Bunyi keras matras menandakan kedua petarung terjatuh. Tori dan Uke sama-sama terjatuh menghadirkan bunyi dentuman keras. Mereka berdua boleh sama-sama terjatuh tapi tangan Holm telah terbelit di lengan Ronda.

Gegenpressing terjadi.

Holm terpelanting dari posisi berdiri menjadi terlentang di matras. Tangan kirinya dikunci Ronda yang juga terjatuh di sisi kirinya. Tanpa melepas kunciannya Ronda memindahkan kakinya langsung menindih seluruh sisi dada Holm.

Penonton terdiam tak percaya.

Holm berusaha berontak tangannya teronta-ronta. Ronda menggeleng-geleng. Kakinya menumpu kuat menekan bahu kanan Holm. Menghadapi perlawanan Holm yang berusaha mengait-kaitkan kakinya mencoba membebaskan diri dari kuncian, Ronda menarik nafas panjang seperti mengatakan kepada seluruh dunia ” Holm tidak akan bisa lolos dari Armbar submisionku.”

Diawali dari tekanan penuh kedua kaki di bahu kanan Holm, Ronda menurunkan tubuhnya melakukan kuncian sambil kedua tangannya menarik tangan kiri Holm. Kakinya jatuh jauh hingga pahanya mengunci wajah Holm membuatnya tak mampu melihat dan bergerak lagi. Sekali tarikan tubuh cukup menghadirkan sebuah suara keras yang menunjukkan dislokasi bahu telah dialami yang disusul oleh dua buah suara.

” Taaaap taaaap.”

Double tap.

Selesai.

Pertarungan selesai.

Ronda Rousey menang.

Penonton terbisu. Tak percaya kemenangan Holm bisa berubah menjadi kekelahan dalam waktu sepersekian detik.

” RONDA ROUSEY MENANG!….,” ujarku menjadi penonton pertama yang meneriakkan kemenangan Ronda ” RONDA MENANG!.”

Penonton tersadar mendengar teriakanku. Maski awalnya tak percaya mereka akhirnya bersorak riuh.

Ronda Rousey menggeleng-geleng menantang penonton. Ia menunjukkan bahwa orang yang mereka pikir akan pensiun ternyata bisa melakukan perubahan dalam hitungan detik.

Ketika wasit mengangkat tangannya menandakan kemenangan, Ronda masih menggeleng tak mau mempercayai sorak sorai penonton. Ia menganggap mereka semua pembohong. Mereka semua hendak bersenang-senang menertawakan kekalahannya. Sayangnya ia bisa merubah segalanya. Armbar Submisiionnya menghabisi Holm.

Berpaling dari mayoritas penonton, Ronda berpaling kepadaku. Ditunjuknya diriku lalu ia membentangkan kedua tangan membentuk lambang cinta kemudian diletakkan di hatinya. Sebuah gerakan “Counter Conchita Caroline” yang tak terduga.

Selesai meletakkan lambang cinta ia berlutut di Octagon.

Sambil berlutut, air mata mulai berhamburan dari matanya yang cantik. Meski dipenuhi darah segar, matanya terlihat begitu cantik. Kedua tangannya lalu mengatup menutup wajah menyeka segala rasa haru yang meluap.

Seluruh penonton berdiri. Mereka bangkit memberikan standing ovation kepada singa betina yang sedang menangis di Octagon. Seorang singa betina yang ternyata tidak sebuas bayangan orang. Ronda Rousey hanya melakukan sekali armbar submision dan berlalu pergi. Ia lepaskan semua dendamnya pada Holly Holm, melupakan semua hujan pukulan yang diterimanya sejak ronde pertama dan memaafkan Holm.

Ronda bersikap seperti layaknya seorang juara.

Sang Juara yang Sejati kembali lahir di Octagon.

***

Kemenangan Ronda Rousey merupakan jawaban dari ucapan Meneer Johan mengenai fenomena ” Fritz Walter Weather”. fenomena ini terpusat pada kesanggupan kapten Timnas Jerman Barat Fritz Walter di Piala Dunia 1954 menanggung kesulitan bertanding di hujan lebat demi lahirnya kemenangan. Sama seperti Fritz Walter, Ronda Rousey menahan hujan lebat pukulan bertubi-tubi sejak ronde pertama.

Awalnya Ronda mencoba mengikuti nafsunya di babak pertama. Ia meringsek bergerak seperti layaknya singa betina. Segala keganasan yang ia ciptakan diharapkan mampu menembus pertahanan The Preacher Daughter. Hook, jab, tendangan kiri, kanan semua sudah dikerahkan. Semuanya menemui jalan buntu. Holly Holm kokoh berdiri menari-nari seperti ballerina membuat semua percobaan Ronda di ronde pertama gagal total.

Selanjutnya di ronde kedua, Ronda menambah level keagresifitasannya berharap menemukan sebuah alternative. Pukulannya diperkeras tendangannya dipersering. Keseluruhan gerakan dibuat lebih cepat. Holm tidak gentar. Sama seperti di ronde pertama, Holm tunjukkan kualitas dirinya sebagai pribadi yang lebih tenang

Menghadapi serangan agresif Ronda Holm tetap fokus menjaga jarak. Kemampuannya menjaga jarak menentukan kemenangannya di dua ronde berturut-turut. Melihat lawannya betul-betul hebat, Ronda mencoba peruntungan lain. Ia sengaja menerima pukulan. Dikorbankannya wajah cantiknya dengan resiko jatuhnya linangan darah demi membuka perspektifnya sendiri tentang seberapa besar sebenarnya kekuatan pukulan Holm.

Kita manusia hidup dalam bayangan. Kebanyakan kita hobi menciptakan ketakutan sendiri akibat bayangan tersebut. Sebuah ketakutan kecil yang kita pupuk lama kelamaan semakin besar berkembang karena kita takut menghadapinya. Awalnya Ronda takut menghadapi pukulan kiri Holm. Sejak setahun lalu ia hidup dicekam ketakutan akan dahsyatnya pukulan kiri serta tendangan kirinya. Ketika bertemu denganku ia tunjukkan secara jelas ketakutannya akan seorang Southpaw dalam balutan kebencian.

Pada ronde kedua, alih-alih terus membenci Southpaw Ronda bangkit, dia maju secara nekad mengarahkan wajahnya agar merasakan langsung sesuatu yang telah menakut-nakutinya setahun terakhir. Satu, dua, tiga pukulan mampu dia hadapi. Terus dia serahkan wajahnya untuk dihajar. Semakin sering hujan pukulan masuk, kepercayaan diri Ronda semakin besar. Dia mulai menggeleng berteriak-teriak kepada orang banyak termasuk pada Holm bahwa pukulan yang diterimanya sama sekali tidak sakit.

Orang yang menonton pasti menduga Ronda sudah gila atau sengaja memancing emosi Holm. Tidak..menurutku tidak. Seandainya saja ia memang ingin memancing emosi Holm strategi ini ia harusnya teruskan di ronde tiga. Melihat bagaimana ia membungkam mulutnya sendiri di ronde tiga membuatku sadar teriakan itu ditujukan kepada dirinya sendiri.

Ronda ingin memaki dirinya mengatakan bahwa sesuatu yang sangat kamu takuti ternyata tidak sakit. Bahkan saat tangan kiri Holm benar-benar dapat mendarat di pelipisnya lalu menciptakan luka yang lebar, Ronda semakin merasa senang. Ia mengalami orgasme non sexual menyadari tidak ada lagi yang perlu ditakuti dari lawannya.

Kepercayaan dirinya naik.

Ronde tiga berhasil dimenangkannya. Tipe petinju pressure fighter berhasil diterapkan secara sempurna karena tidak ada lagi ketakutan menghadapi petinju Sothpaw. Misteri pertanyaan Meneer Johan tentang ; bagaimana seorang pejudo bisa menghadapi petinju kidal yang boleh menggunakan kakinya terjawab. Jawabannya adalah keberanian. Kemampuan menghadapi ketakutan dan kesabaran menerima kesakitan. Seorang peJudo Dan 4 yang telah melahirkan keberanian luar biasa dalam hatinya merupakan gambaran sempurna filosofi Seiryoku Zen’yo. Filosofi utama dalam Judo.

Seiryoku Zen’yo secara sederhana berarti efisiensi maksimal melalui usaha minimal. Tidak mungkin tercipta Seiryoku Zen’yo tanpa ada keberanian. Aku merunduk hormat mengakui pelajaran yang begitu dalam dari sikap Ronda di atas ring. Keberaniannya menjadikan prinsip hebat Judo lainnya “Ju Yoku Go o Seiso” terinkarnasi dalam waktu bersamaan. Kelembutan mengendalikan kekerasan. Keberanian mengendalikan ketakutan. Kedua prinsip ini membuat Ronda tampil lebih garang dan mulai menemui sasaran di ronde ketiga.

Holm di sisi lain mulai menyadari kebangkitan lawannya. Berhasil membuat lawannya seperti anak kecil di dua ronde awal membuat Holm berpikir akan mudah mengalahkan Ronda kembali. Sayangnya ia salah, Ronda bangkit.

Deshi Deshi Basara Basara.

Ronda mampu mengancamnya balik. Bermain lebih hati-hati merupakan pilihan Holm di ronde empat. Melihat Holm menyadari sesuatu, Ronda langsung tancap gas menyerbunya di ronde keempat.

Kecepatan kaki The Preacher Daughter diakui merupakan salah satu yang tercepat di UFC. Di pepet sedemikian rupa oleh Ronda, ia mampu mengelak dan melakukan serangan balik. Pada titik inilah, Ronda menurutku memutuskan melakukan perjudian terbesar. Ia mencoba kembali ke fitrahnya. Berubah 180 derajat dari seorang petinju menjadi pejudo. Perubahannya berjalan sempurna memanfaatkan sebuah teori psikologi klasik tentang adaptasi manusia.

Sama sepertiku yang dalam pertandingan bola suka membuat lawan terbiasa akan sesuatu kemudian berbuat sebaliknya. Ronda melakukan hal yang sama pada Holm. Pada saat berjumpa denganku pertama kali di Carrow Road ia mengucapakan terima kasih karena melihat permainanku ia mendapat inspirasi. Barangkali teori adaptasi inilah yang ia maksudkan. Holm tidak sadar telah dibuatnya terbiasa menghantam wajah. Berkali-kali berhasil mendaratkan pukulan membuat Holm mulai terbiasa. Pertahanan sempurnanya perlahan terkikis akibat rasa tenang karena bisa menyerang lawannya.

Berangkat dari rasa tenang yang sama, Holm maju ketika Ronda memancingnya. Aksi terhuyung-huyung Ronda terlihat sangat meyakinkan menariknya maju menyerbu mencoba membuat KO. Satu dua pukulan berhasil mendarat telak, Holm menanam kaki andalannya, mencoba melakukan pukulan tangan kiri maut dan terjebak. Ronda bangkit di pukulan ketiga ia jerat tangan Holm.

Berhasil menjerat tangan, tanpa membuang waktu Ronda melakukan bantingan pinggang menggunakan satu kaki NUT MEG. Efek bentingannya luar biasa. Holm terjatuh dan Gegenpressing Ronda menyelesaikannya.

Miracle of Bern bisa terwujud di Octagon. Kesanggupan Fritz Walter menanggung hujan derita diulang begitu baik oleh Ronda Rousey. Musibah tidak pernah berarti duka bagi mereka berdua. Sebaliknya musibah merupakan rejeki tidak terkira karena membuka gerbang kemenangan yang akan dikenang orang banyak secara abadi.

” Ronda kemenangan yang luar biasa. Pertarungan terbaik yang pernah terjadi di UFC,” pembawa acara mulai mewawancarai Ronda ” Bagaiamana menurutmu??.”

” Yeah,” Ronda tersenyum. Meski wajahnya babak belur ia tersenyum manis. ” pengormatan serta standing applause harus kuberikan kepada petarung terbaik di Octagon malam ini ; Holly Holm,” tangannya menunjuk Holm. Sebuah sikap sportif luar biasa ditunjukkannya membuat penonton makin keras bersorak.

” Holm…ia berhasil memukulku berkali-kali Jim huffff,” ia menghembuskan nafas menunjukkan betapa ia sungguh-sungguh merasakannya ” dan itu…..rasanya sangat-sangat menyakitkan.”

Penonton kembali bertepuk tangan.

” ….Menghadapinya merupakan sebuah kehormatan buatku karena diberi kesempatan menghadapi seorang lawan terbaik. Barangkali petarung wanita terbaik yang ada di UFC saat ini….”

” Bagaimana kamu bisa mengatasi petarung yang begini hebat??,” pembawa acara bertanya lagi.

” Jim aku hanya bisa menjaga keyakinan di hatiku. You see my boyfriend over there,” ia menunjukku seketika membuat penonton makin riuh ” He always told me to keep my faith always. Do not let any body that not have faith in their heart steal it,” Ronda menyeka air matanya ” Kalian penonton sempat mensorakiku mengatakan pada Holm untuk mempensiunkanku,” ia terhenti menggelengkan kepalanya ” Well KALIAN SALAH!kalian tidak bisa menyentuhku! selama aku memiliki keyakinan di hatiku kalian tidak bisa menggoyahkannya, pacarku telah menanamkan keyakinan ini begitu kuat sehingga ketika pendukungku, yang masih setia mendukungku, meneriakkan Deshi Deshi Basara Basara, keyakinan ini tumbuh semakin kuat……”

Pembawa acara berhenti sejenak membiarkan Ronda merasakan atmosfer penonton yang mendukungnya. Mereka berdua diam selama beberapa detik sebelum pembawa acara melanjutkan.

” Terima kasih Ronda, Pertarungan ini akan dikenang oleh semua hadirin dalam waktu yang lama. Pertanyaan terakhir, seandainya Holy Holm, masih penasaran dan mengajukan rematch untuk pertandingan ketiga apakah kamu masih mau menerimanya??.”

” Tentu,” Ronda sama sekali tidak berpikir saat menjawabnya ” aku sangat menunggu pertarungan ketiga diantara kami….”

Octagon berangsur sepi. Para penonton telah meninggalkan Stadion Ettihad membawa beragam cerita. Setiap pertandingan UFC 207 yang mereka saksikan menjadi saksi sebuah nilai-nilai kehidupan. Semuanya berpusat pada perjuangan seorang anak manusia dalam usahanya menaklukan petarungan hebat. Darah, keringat, dan air mata harus tertumpah disini demi sebuah niat untuk survive menjadi orang terakhir berdiri yang merupakan pertanda seorang pemenang.

Aku dan Alfred masih belum pulang. Sebagai pemegang tiket VIP aku mengajak Alfred ke akses backstage. Bisa bertemu para petarung yang telah berubah wajahnya karena terkena pukulan merupakan pengalaman seru. Apalagi saat mendengar pengalaman mereka bertarung sesaat sebelumnya. Kebanyakan mereka mengatakan “keberuntungan” memainkan peranan besar di atas Octagon. Segala upaya maksimal yang telah mereka kerahkan, tanpa naungan Dewi Fortuna akan sia-sia. Sebuah pukulan keberuntungan bisa melenyapkan itu dalam sekejap.

Alfred sengat menikmati momen bisa berfoto bersama “jagoan-jagoan” UFC yang ia biasa tonton di televisi. Bukan hanya berfoto, berbekal kemampuan bahasa Inggris mumpuni Alfred bisa berdialog lancar dengan para petarung. Sahabatku ini rupanya bukan hanya asyik mengajak ngobrol para petarung, ia lebih tertarik menggoda para ring girl di dalam ruangan.

” Budi, perkenalkan ini mamaku!,” Ronda muncul menghampiriku.

” Mama Annmaria senang sekali bertemu denganmu,” ujarku ramah menjabat tangannya. Namanya tentu saja Ronda yang telah memberitahuku sebelumnya ” kenapa aku tidak melihatmu tadi??.”

” Aku tidak sanggup melihat anakku dipukuli orang nak,” jawabnya penuh kedewasaan “meski dulunya aku juga seorang pejudo.”

Pantas saja Ronda bisa berkembang menjadi petarung wanita paling mematikan di muka bumi, ia memiliki latar belakang keluarga petarung.

” Kami sekeluarga sangat berterima kasih padamu karena telah memberikan segalanya pada Ronda,” ia menepuk tanganku belum mau melepaskan jabat tangannya ” dia sangat memerlukan figure laki-laki yang bisa memberinya dukungan serta perlindungan.”

” Kalo aku boleh jujur Mama,” aku menatapnya penuh hormat ” aku tidak memberikan apa-apa kepadanya. Apalagi perlindungan… Yang benar.. Ronda sendirilah…..ia….maksudku ia bisa berjuang sendiri..semua kemenangan ini berkat perjuangannya sendiri…. Sama sekali aku tidak terlibat di dalamnya.”

Mama Annmaria menatapku ” kamu rendah hati anak muda. Jarang ada laki-laki sepertimu di Barat sana, apa pekerjaanmu sebenarnya??”

” Aku hanya….seorang pemain bola biasa Mama…”

Pertanyaan tentang apa pekerjaanku yang ditanyakan oleh Mama Ronda membuatku teringat sebuah episode kelam dalam kehidupanku sendiri. Orang tua Kak Chita tidak merestui hubunganku dengannya karena melihat latar belakangku sebagai pemain bola.

” Seorang pemain bola merupakan Pahlawan,” Mama Ronda melepaskan jabat tangannya kemudian berujar dengan nada seseorang yang telah memiliki kebijksanaan ” Pahlawan bagi Negaranya. Pahlawan bagi lingkungan tempat tinggalnya. Pahlawan bagi keluarganya. Kecuali di Amerika, soccer merupakan olahraga paling diminati di seluruh dunia. Masyarakat rela menjual apa saja demi bisa menyaksikan laga tim kesayangannya. Kamu tau, Ronda kudidik agar mampu menghargai nilai seorang atlet termasuk atlet sepak bola. Atlet sepak bola nak, bisa memberikan kehormatan tertinggi bagi Negaranya mengalahkan apa pun yang bisa diperoleh Negara tersebut di bidang kehidupan lainnya. Kamu jangan takut, kami akan melecehkanmu karena mendengarmu hanyalah seorang pemain sepak bola. Sebaliknya kami bangga anak kami bisa berpacaran dengan pemain sepak bola besar yang di masa depan bisa membanggakan Negaranya.”

Mendengar jawaban Mama Ronda jiwaku tergetar. Nilai seorang atlet rupanya masih ada yang mampu menghargainya.

” Mama….,” aku menatapnya penuh penghormatam ” penghargaanmu terhadap seorang pesepak bola sangatlah berarti, karena di Negeriku sendiri orang tidak memberiku penghargaan seperti yang Mama berikan tadi.”

***

Mama Annmarie memutuskan membawa Ronda secepatnya melakukan medical check up keseluruhan pada Rumah Sakit terbaik di Kota Manchester. Melihat anaknya dihajar bolak-balik tentu membuat seorang Mama bersikap over protectif mencoba menghindari berbagai dampak yang tidak diinginkan. Jesse ketua tim juga sependapat. Cidera di mata Ronda pastilah tidak seberapa dibandingankan luka dalam yang mungkin telah terjadi. Akhirnya seluruh tim memutuskan menunda perayaan pesta kemenangan. Kami semua bersepakat membawa Ronda ke Rumah Sakit agar menerima pengecekan medis menyeluruh.

Aku dan Alfred hanya bisa menemaninya hingga tiba di RS. Ronda bersikap amat menyenangkan ketika bertemu Alfred. Ia layani semua keinginann Alfred buat foto bareng, wawancara mau pun minta tanda tangan. Ronda mau melakukan itu semua tapi ia tidak mau kami berdua, khususnya aku, meninggalkannya malam ini. Mati-matian aku harus membujuknya agar kami bisa pulang. Awalnya ia keberatan namun ketika mendengar kami hanya akan pulang ke hotel di Manchester dan bukannya kembali ke Norwich membuatnya tenang dan merelakan kepergian kami.

Besok Tim Norwich yang saat ini masih berada di Kota Newcastle sudah tiba di Manchester bersiap melakoni pertandingan berat melawan timnya Jose Mourinho. Pemuncak Klansmen Liga Inggris yang banyak dijagokan orang akan mampu meraih Juara Liga Inggris musim ini.

***

Kami melakukan latihan pertama di Stadion Old Trafford sore keesokan harinya. Stadion ini begitu megah dan merupakan yang terbesar kedua di Inggris setelah Wembley Stadium. Kapasitasnya mampu memuat lebih dari 77.000 penonton. Meski pun megah, pada keempat sisinya, stadion ini tak lupa memberikan penghormatan yang terbaik kepada para Pahlawan yang telah membesarkan namanya. Pada sisi sebelah utara patung Sir Alex Ferguson sedang bersedakep, seperti sikapnya biasa di lapangan, menyambut para pendukung setia MU. Sir Alex merupakan sosok manajer tersukses Man United yang mengabdikan dirinya selama 25 tahun melatih Klub.

Sisi sebelah barat Stadion lebih terkenal daripada sisi utara bukan karena adanya patung tapi disebabkan keberadaan basis pendukung fanatik. Tersedia 20.000 kursi bagi pendukung fanatik MU “garis keras” di sisi yang dikenal sebagai “Stretford End”. Sisi ini jugalah yang selalu menjadi bagian stadion paling bising selama pertandingan berlangsung.

Selanjutnya, sisi paling banyak terdapat patung bersejarah di Old Trafford barangkali terdapat di timur. Pertama ada patung ” Holy Trinity”. Patung tiga orang pemain legendaries United; George Best, Dennis Law dan Sir Bobby Charlton.

Ketiganya memimpin kejayaan United bukan hanya di tanah Inggris namun juga di Eropa pada sekitar dekade 60an. Melengkapi Holy Trinity, persis di depan patung ketiga pemain ini, dibangun juga patung Sir Mat Busby manajer terlama dan tersukses United setelah Alex Ferguson. Gabungan Mat Busby sebagai manajer bersama Best, Law dan Charlton dijuluki “The United Trinity”.

Masih di sisi timur, terdapat juga patung penghargaan untuk mengenang peristiwa “Tragedi Munich”. Munich Air Disaster terjadi tanggal 6 Februari 1958 pada saat Man United hendak melakoni partai tandang semi final Piala Eropa melawan klub Yugoslavia Red Star Belgrade.

Berhasil memenangkan pertandingan pertama di old Traford 2-1, ” Busby Babes”, demikian saat itu Man United dijuluki karena banyaknya pemain muda potensial di dalam klub, berangkat ke Yugoslavia. Sayang di tengah jalan pesawat jatuh menewaskan sebagian besar penumpang. Padahal di dalamnya terdapat juga Matt Busby dan legenda hidup mereka Sir Bobby Charlton. Busby maupun Charlton berhasil selamat tapi 8 orang pemain United, 3 staf pelatih, 8 jurnalis, dan dua orang penumpang lainnya tewas dalam tragedy ini.

Julukan “Theater of Dream” yang diberikan oleh Sir Bobby Charlton kepada stadion Old Trafford sesudahnya berlatar belakang dari tragedy ini. Aku masih ingat jelas lirik lagu “Eye of The Tiger” yang berkumandang di telingaku saat Ronda berlari menuju Carrow Road sebelum pertandingannya. lagu ini meminta kepada Ronda agar ” don’t lose your grip of the dream of the past. You must fight just to keep them alive”. Keinginan menjaga mimpi yang sama juga dimiliki MU sehingga mereka menjuluki stadion mereka Theater of Dream. Tim ini bukanlah sebuah Tim raksaksa yang tidak pernah menghadapi masalah sepanjang perjalanan klub. Sebaliknya MU merupakan salah satu klub paling bermasalah yang sering sekali jatuh bangun akibat ditimpa berbagai persoalan.

Pada periode 1922 hingga 1940 di Liga Inggris mereka berkali-kali terdegradasi. Bahkan di tahun 1931 mereka hampir dibubarkan karena mengalami kebangkrutan. Apakah mereka loyo, surut ke belakang lalu menyerah membubarkan klub akibat ditimpa masalah?. Jawabannya tentu saja tidak. Alih-alih menyerah mereka kembali berjuang. Hasilnya mereka menjadi juara di tahun 52,55 dan 56 dan menjadi Tim Inggris pertama yang bermain di kompetisi Eropa.

Sedang diliputi kejayaan, Munich Air Disaster terjadi, menewaskan 8 orang pemain. Meski mengalami tragedi mereka masih berhasil masuk final Piala FA pada tahun yang sama. Mereka memang kalah waktu itu, namun tragedy Munich memaksa MU harus melakukan pemulihan diri secepatnya bila masih mau bersaing di tanah Inggris. Melalui ” Holy Trinity” mereka berhasil bangkit dari musibah kemudian berbalik memenangi Liga Inggris tahun 1965, 1967 dan European Cup 1968.

Kejayaan ini pun tidaklah bertahan lama. 25 tahun kemudian mereka kembali terdegradasi. Mengalami krisis financial parah. Menjadi bahan tertawaan seluruh Inggris, hingga akhirnya seorang Scotlandia bernama Alex Ferguson menjadi manajer dan membawa MU kembali ke masa kejayaan. Theater of Dream yang kami pijak sekarang bukanlah tempat bersantai. Tempat ini merupakan tempat perjuangan. Tempatnya orang-orang yang berani bermimpi, berjuang, mengorbankan segalanya demi kejayaan. Sama seperti Fritz Walter yang menyukai hujan deras ketika bertanding. Man United seperti menyukai ketidak beruntungan yang menimpa mereka. Alih-alih terpuruk menyesali ketidakberuntungan mereka selalu mampu bangkit, berjuang, bertarung mempertahankan mimpi serta memperjuangkannya agar tetap hidup.

Buatku mimpi-mimpi Man United beserta upaya mereka mewujudkannya merupakan pelajaran hidup paling penting. Mereka tidak pernah takut bermimpi. Meskipun ketika musibah berusaha menghentikan impian mereka, mereka tetap berjuang mempertahankan mimpi.

Pelajaran penting yang diberikan Meneer Johan tentang Miracle of Bern yang akhirnya kusadari ialah “Keajaiban” hanya dapat diwujudkan oleh orang-orang seperti Fritz Walter, Ronda Rousey dan para pemain MU. Mereka berani menerima musibah, penderitaan, nasib buruk, sampai pukulan paling menyakitkan. Berangkat dari keberanian tersebutlah rasa sabar bahkan cinta pada musibah berubah menjadi ketangguhan. Keterbatasan perspektif berhasil diatasi saat musibah tidak lagi dianggap sebagai kesialan tapi malahan peluang menjemput kemenangan. Orang-orang seperti ini pada akhirnya bisa membuat keajaiban.

” Lagu apa ini Kaka??,” Alfred yang berdiri disampingku terkejut saat Stadion memutarkan irama musik.

” Aku tidak tau Alfred sepertinya lagunya Man United.”

Semua pemain Norwich harus terdiam sejenak karena Stadion Old Trfford memainkan lagu mereka di tengah latihan kami. Lagu ini sepertinya lagu lawas di periode akhir 1990-an yang berbunyi ;

There’s Only One United
There’ s Only One United
There’ s Only One United
There’ s Only One United

Champione, Champione
Oh Wey, Oh Wey, Oh Wey
Champione, Champione
Oh Wey, Oh Wey, Oh Wey

We Retained The Premier League
Last Year On Merseyside
Last Year On Merseyside
Last Year On Merseyside

We Retained The Premier League
Last Year In Merseyside
Last Year In Merseyside

Ryan Giggs, Ryan Giggs
Running Down The Wing
Ryan Giggs, Ryan Giggs
Running Down The Wing
Feared By The Blues, Loved By
The Reds
Ryan Giggs, Ryan Giggs, Ryan
Giggs

Oh Teddy, Teddy
Teddy, Teddy, Teddy, Teddy
Sheringham

Oh Gary, Gary
Gary, Gary, Gary, Gary
Pallister

Andy Cole, Andy Cole
Andy, Andy Cole
He Hits The Ball
He Scores A Goal
Andy, Andy Cole
Andy Cole, Andy Cole,
Andy, Andy Cole
He Hit The Ball
He Score A Goal
Andy, Andy Cole

You Are My Solskjaer
My Only Solskjaer
You Make Us Happy When Skies
Are Grey
Coz’ When It’ s Pouring
You Just Keep Scoring
Please Dont Take Our Solskjaer
Away

Oh Roy Keane, He’ s A Demon
He Wears A Demon’ s Hat
Coz’ When He Saw Old Trafford
He Said “I Fancy That”
The Rest All Tried To Sign Him
But He Chose The Red And White
Of World Famous Man United
Coz’ We’ re Always Dynamite

Glory, Glory Man united
Glory, Glory Man united
Glory, Glory Man united
And The Reds Go Marching On!
On! On!

Sing Up For The Champions
Sing Up For The Champions
Sing Up For The Champions
Sing Up For The Champions

Kami semua terdiam menyimak baik-baik penghargaan klub kepada pemainnya. Meski mereka sudah pensiun kejayaan yang mereka bawa memang abadi, dikenang seluruh dunia. Yang membuat kami terdiam adalah perbedaan yang terbentang antara kami dan mereka. Garis pembedanya hanya satu ; mereka bisa menghargai jasa para atlet pahlawannya. Bila kami mau menang, kami harus bisa menghargai setiap pemain kami seperti Man United menghargai para pemainnya.

Hari minggu besok akan menjadi partai yang begitu berat. Rupanya bukan hanya Mourinho yang akan kami hadapi namun juga kebesaran Man United yang dalam sejarahnya mampu menghadapi segala musibah dan selalu mampu merubahnya menjadi kejayaan.

***

Tersengat oleh provokasi di Stadion Old Trafford, Coach Neill memberikan latihan ekstra termasuk materi tambahan yang membuatku tidak dapat menengok Ronda kamis kemarin. Sejak sore kemarin kami mencoba rumput lapangan sembari berusaha mencari sebuah alternative permainan. Man United adalah tim komplit. Mereka memiliki materi mumpuni bukan hanya di tim pertama tapi juga menjangkau tim cadangan dan tim setelahnya.

Tim besar seperti Man United memang sudah selayaknya memiliki tiga tim sekaligus dengan kekuatan sama kuat. Mereka bukan hanya berlaga di Liga Inggris namun juga Liga Champions, FA dan Carling Cup. Kami berbeda dari mereka. Secara financial maupun kualitas pemain kami tentu saja berbeda. Meski demikian kami tidak boleh kecil hati kemudian kehilangan mental tidak berani menghadapi mereka. Norwich City punya kekuatan. Kami berturut-turut meraih hasil positif. Modal ini kami harapkan cukup berharga menghadapi keganasan setan merah.

Semua pemain Norwich memang sepakat MU sangatlah kuat. Walaupun mereka kuat bukan berarti sebagian besar waktu kami harus dihabiskan buat memikirkan mereka. Coach Neill memberi kami kebebasan waktu jum’at sore. Waktu yang pas karena Ronda tak berhenti menghubungiku dari kemarin

Seperti anak kecil saja dia minta agar aku menemaninya sepanjang hari di rumah sakit. Kemarin aku gagal menjenguknya, kini dia mengejarku lebih hebat membuatku tidak memiliki pilihan lain selain segera meluncur ke Rumah Sakit terbaik di Kota Manchester.

Ronda dirawat di “Manchester Royal Infirmary” Rumah Sakit terbaik di Kota Manchester. Segala hal yang menyangkut Rumah Sakit ini sangatlah bersih. Standar kebersihan tinggi diterapkan menemani bentuk bangunannya yang memadukan unsur modern dan tradisional. Jam dinding besar ala BIG BEN tergantung di salah satu atap bergaya Victoria, sedangkan di bagian lain bangunan berbentuk kubus seluruh bagiannya tertutupi kaca menonjolkan corak modern. Perpaduan gaya modern – tradisional secara ajaib menghadirkan kesan relax bahkan sejak kita memasuki pelataran parkirnya.

Rasa relax sangatlah terasa. Aku sebagai pengunjung saja merasa bahwa ketenangan yang berhasil dibangun oleh Rumah Sakit ini pasti berhasil mengurangi sakit pada pasien sebelum mereka bertemu dokter. Apalagi ketika melihat bagaimana ramahnya para petugas Rumah Sakit dalam bersikap, berperilaku dan melayani seluruh pasien maupun pengunjung. Keramahan petugas Rumah Sakit seperti inilah yang selalu diharapkan oleh pasien mana saja di Negara mana saja.

Sebagai Rumah Sakit yang telah berdiri lama, Manchester Royal Infirmary memberi contoh terbaik bagaimana merawat pasien dalam hal teknis maupun nok teknis. Pasien dapat sembuh bukan hanya karena obat namun yang lebih dari itu para pasien merasa dihargai sebagai manusia. Penghargaan akan jati dirinya membuat sistem pertahanan tubuh meningkat yang dengan sendirinya efektif menyembuhkan penyakit.

Selain itu, aku pernah membaca di surat kabar, Royal Infirmary merupakan yang terbaik dalam fasilitas MRI. Fasilitas ini sangatlah penting bagi Ronda sehubungan benturan berkali-kali yang dia terima di kepalanya dua hari lalu. Benturan di kepala sangatlah berbahaya bagi otak manusia. Semua orang harus segera memeriksakan dirinya ketika mengalami benturan di kepala agar terhindar dari dampak-dampak buruk yang tidak diinginkan.

Disambut oleh keramahan yang menghadirkan ketenangan aku masuk ke dalam RS langsung menuju ruangan Ronda. Bodyguardnya tidak ada di depan jadi aku langsung masuk saja.

” Hai, lagi apa kalian??,” tanyaku setibanya di dalam menjumpai si bodyguard rupanya sedang berdiskusi serius bersama Ronda. Hanya ada mereka berdua dalam ruangan. Aku tidak melihat anggota keluarganya yang lain. Kemarin setelah pertandingan padahal mereka beramai-ramai mengantarkan Ronda ke sini.

” Sebentar Budi!,” Ronda menjentikkan jarinya memintaku menunggu. Mengikuti instruksinya aku meninggalkan mereka menuju jendela melihat jalanan di bawah. Ruangan Ronda berkelas VVIP, berposisi paling tinggi membuatku bisa melihat pemandangan di bawah. Wartawan media masa kulihat masih berkerumun di bawah menunggui Ronda mencoba mewawancarainya. Kemenangan di UFC 207 telah mengembalikan ketenaran “Rowdi” Ronda Rousey. Seluruh media kembali memujanya, mengelu-elukannya sebagai petarung wanita paling mematikan di dunia.

Masyarakat yang sempat menghujatnya berbalik bermanis-manis menyebutnya Sang Juara. Mereka yang sempat berteriak-teriak memintanya pensiun harus menutup mulutnya berusaha bersikap seolah mereka tidak pernah melakukan perbuatan itu. Para sutradara Hollywood lebih hebat lagi mereka langsung mengajak Ronda menjadi pemeran utama dalam film yang me-“reka” ulang pertarungan kemarin. Kata para konglomerat Hollywood, pertarungan kemarin sangatlah spektakuler memiliki nilai jual tinggi jika dijadikan film.

Aku takut semua ketenaran yang datang ini akan membuat Ronda lupa diri kembali menjadi figure tidak menyenangkan seperti yang dikatakan mantan pelatihnya.

Semoga tidak.

Semoga dia tidak berubah.

” Ayo Budi kita jalan!,” perkataan tegasnya mengembalikan kesadaranku.

” Jalang kemana?? kamu masih perlu mendapat pengobatan kan??.”

Ronda menggeleng ” aku sudah menjalani perawatan luka, syaraf, scanning tulang, MRI, dan lain sebagainya,” ia berdecak pinggang ” semua perintah dokter sudah kulakukan dan sekarang aku bosan! aku mau jalan-jalan berdua saja denganmu dan Tom sudah mengaturnya!,” ia menunjukku lalu bodyguardnya ” jalan-jalan keliatannya bisa membuatku melupakan euphoria kemenangan kemarin.”

” Kamu mau melupakan kemenanganmu??.”

” Dasar anak kecil!,” ia maju mengait tanganku ” bukan kemenangannya yang ingin kulupakan tapi euforianya. Kemarin Miesha Tate sudah menantangku sebagai lawan berikutnya, belum lagi tantangan Holm buat pertarungan ketiga. Tenggelam dalam euphoria kemenangan akan membuatku berhenti berlatih. Hal itu SANGAT TIDAK KUINGINKAN TERJADI!,” ia menatap mataku tajam ” ayo jalan! Tom kamu sudah siap??.”

” Sudah Bos! pihak RS sudah kuhubungi mereka bersedia selama jamnya dipatuhi. Soal rute juga sudah kuatur. Wartawan semua berkumpul di pintu utama dan pintu barat, aku sudah menyiapkan mobil di pintu timur, Bos bisa langsung jalan.”

Ronda mengangguk tampak sangat gembira melihat kinerja Tom si Bodyguard.

” Tapi Bos yakin aku tidak usah ikut??,” ia mengerling kepadaku mempertanyakan kapasitasku melindungi Ronda.

” Tentu saja! Budi bisa melindungiku. Ya kan Budi??.”

Mendapat pertanyaan melindungi dari Sang Juara tentu saja membuatku harus menunjukkan jati diriku sebagai laki-laki. ” aku pasti melindungimu. Tom tenanglah! percayakan keamanan Ronda kepadaku,” aku berujar meyakinkan seperti layaknya pengawal pribadi professional.

Tom hanya bisa mengangguk pasrah lalu mengantarkan kami menuju rute yang telah disiapkannya di sebelah timur.

***

” Budi kamu sudah 10 tahun lebih di Inggris ceritakan padaku soal Kota Manchester!,” Ronda bertanya padaku di tengah perjalanan. Ia berbeda dengan Amber yang lebih menyukai kunjungan langsung ke lokasi wisata, Ronda hanya ingin melihat-lihat dari mobil saja.

” Kenapa kamu ingin tau soal kota ini??.”

” Ini kota kemenanganku. Kota yang akan aku ingat dalam waktu lama. Jadi sebaiknya kamu bisa memberiku informasi tentang Kota ini selain Tim sepakbolanya!.”

Ronda kembali membuatku terjebak dalam situasi skak mat.

Berusaha mengingat-ingat kembali informasi yang aku ketahui tentang Kota ini aku terdiam cukup lama. Untungnya Ronda tidak memburuku. Ia menunggu dengan sabar sambil melihat-lihat lalu lintas di jalanan Manchester.

” Kota Manchester setahuku merupakan tempat tinggal Friedrich Engel,” akhirnya aku teringat sesuatu.

” Engel?? siapa dia??pemain band?? atau pemain bola??.”

” Bukan Ronda! Engel penulis The Condition of The Working Class in England. Buku ini sangat menginspirasi Karl Marx dan mereka pernah bertemu di Kota ini tepatnya di perpustakaan Chetam. Kamu tau Karl Marx??.”

Ronda mengangguk ” komunis??.”

” Lebih tepatnya penggagas anti-tesisnya paham Negaramu soal kapitalisme….”

” Kamu suka membaca ya??,” Ronda bertanya.

” Sebagian besar waktuku disini memang dihabiskan buat membaca.”

” Pantesan kamu menjawabnya secara literature. Kamu tidak menceritakan keindahan kota atau tempat wisata,” Ronda menatap jalan lagi. Tampaknya ia berusaha melepaskan euphoria kemenangan yang tengah menggelayutinya.

Dalam hati aku membenarkan ucapannya. Ya hanya ini yang kutau. Penguasaan akan sejarah maupun pariwisata Inggris merupakan bidangnya Amber seorang Miss Inggris. Aku hanya menguasai pengetahuan Inggris secara literature. Itu pun sangat sedikit sekali.

” Teruskan ceritamu!.”

” Gak bosan dengerin aku cerita soal Engel??.”

” Enggak! cerita saja!.”

” Baiklah,” aku menyiapkan kembali memori-memori yang masih tumpang tindih di pikiranku ” Engel menulis kondisi para buruh pekerja di kota ini karena sejak revolusi industry terjadi, Mancheseter merupakan salah satu kota yang paling maju. Kota ini terkenal sebagai penghasil kain katun. 65 persen katun dunia berasal dari Manchester sampai awal abad 20. Majunya industry katun rupanya tidak diikuti oleh peningkatan nasib pekerjanya. Engel sebenarnya menangkap bahaya awal dari kapitalisme dimana kerakusan manusia membawa mereka melakukan perbudakan gaya baru….”

” Tapi komunis juga tidak tepat kamu tau!,” Ronda mulai terlibat dalam pembicaraan ” mereka juga memperbudak manusia dengan cara otoritarisme maupun kediktatoran.”

” Aku senang kamu menyimak pembicaraanku,” aku tersenyum “keduanya sebenarnya menyimpan kelemahannya masing-masing. Itulah sebabnya Simon Schama seorang ahli sejarah mengatakan pada akhir abad 19 Kota Manchester merupakan Kota terbaik sekaligus terburuk di Inggris. kekayaan hidup berdampingan dengan kemiskinan tanpa mempedulikan satu sama lain. Yang kaya memperbudak yang miskin sebaliknya yang miskin merasa sah-sah saja melakukan kejahatan pada mereka yang kaya.”

Ronda menyimak serius penjelasanku.

” Kejayaan katun di Kota Manchester akhirnya mulai mengalami penurunan setelah perang dunia pertama. Terbukanya akses ke belahan dunia yang lain membuat katun mengalami perluasan pasar. Katun dari Manchester anjlok harganya. Banyak pekerjanya mulai mengalami depresi karena kehilangan penghasilan. Semua ini makin diperparah pada saat perang dunia kedua. Hitler menyadari pentingnya kota ini dan meluncurkan pemboman besar-besaran dalam “The Beatle of Britain” yang menjatuhkan lebih dari 480 bom dari pesawat Luttwaffe ke Kota Manchester. Sekitar 165 pabrik besar tekstil hancur akibat serangan tersebut. Seharusnya Manchester hancur saat itu, namun sama sepertimu warga kota ini tidak mudah menyerah. Mereka gigih berjuang membangun kotanya setelah Perang Dunia kedua dan berhasil bangkit.”

” Maksudmu depresi besar akibat jatuhnya harga kain katun dan pemboman Hitler malahan membuat warga Kota Mancheser jadi lebih baik??,” Ronda bertanya sepertinya mulai menangkap kemiripannya dengan kisah hidupnya sendiri.

” Betul Ronda. Kamu tau, pada saat kota ini berjaya di revolusi industry penduduknya hidup begitu menyebalkan tidak memperhatikan satu sama lain. Kaya, miskin, hidup tanpa saling pengertian. Musibah yang menimpa mereka selanjutnya mengajarkan mereka bagaimana lebih baik memperlakukan orang lain. Ketika para warga sudah memperlakukan orang lain dengan pengertian mereka menjadi lebih solid sedikit demi sedikit mampu merubah kotanya menjadi lebih baik. Yang harus kamu garis bawahi Ronda, mereka jadi tau cara memperlakukan orang lain!. Lihatlah di rumah sakitmu! semua dokter dan perawatnya sangat baik bersikap pada para pasien membuat kesembuhan pasien menjadi lebih cepat tercipta.”

Ronda Rousey menatapku sangat serius. Ia seperti terpukau. ” Kamu tau, laki-laki yang pintar ternyata sangat sexy,” ujarnya sambil mengerling nakal.

Aku sedikit ke ge-eran mendengar pujiannya.

” Ok Budi cukup dulu mengenai sejarah literature Menchester. Kamu tau sejak kemarin aku belum mandi.”

” Apa???,” aku terkejut ” jorok banget kamu!.”

” Lho siapa suruh kamu gak datang kemarin aku jadi malas mandi,” Ronda cuek saja.

Aku menggeleng-geleng tak percaya ” apa hubungannya kedatanganku sama kamu mandi??.”

” Gak usah banyak tanya, sekarang kamu bawa aku ke hotelmu! aku mau mandi !.”

” Kamu ini benar-benar manja ya!,” mendengarnya belum mandi sejak kemarin membuatku menginjak gas agar mobil berjalan lebih cepat.

” Masa petarung wanita gak boleh manja??,” ia melendot ke bahuku ” apalagi manja sama pacarnya,” Ronda maju lalu memeluk dan mencium pipiku.

” Hei..jangan dekat-dekat kamu bau, belum mandi!.”

” Hush meski belum mandi aku harum tau!.”

Aku meringseknya agar menjauh ” belum mandi ya tetap aja bau! awas sana!”

” Gak mau!.”

” Hei…..,” aku mencoba lagi menjauhkan tubuhnya tapi Ronda malah mengunci tanganku ” kuncianmu sakit Ronda!.”

” Biarin!.”

Ronda memang senang mengontrol sesuatu termasuk tanganku.

” Aku lepas dengan satu syarat.”

” Masa lepasin tangan aja pake syarat??,” aku mendebatnya.

” Biarin! kalo gak mau gak kulepas nih biar kamu kebauan sepanjang jalan.”

” Ok ok ok! nyerah deh! apa syaratnya???.”

Ronda mengerling kecil kemudian berbisik ” sampe di hotel kamu yang mandiin aku! setuju???.”

Naluri kelaki-lakianku langsung bangkit mendengar permintaannya. Tak berdaya menghadapi ini aku hanya bisa mengangguk. Ronda sangat senang melihat anggukanku ia menarikku lagi dan mencium bibirku.

***

Untunglah Alfred tidak ada di kamar. Bila dia ada kami berdua pasti akan sangat kepeotan sekali dengan kehadiran Ronda. Wanita berprofesi atlet selebritis ini memang masih mendapat jahitan di pelipis matanya akibat pukulannya Holm, namun demikian ia masih saja bisa memaksakan segala keinginannya termasuk menyuruhku membawanya ke dalam kamar.

Sesampainya di kamar ia langsung melepas kaos yang dikenakannya. Melepas dengan gerakan sensual ia mencoba menggodaku sama seperti yang dilakukan oleh Amber. Ronda meliuk-liuk lalu mengikat rambutnya yang tergerai dalam kunciran ikat kuda. Kunciran rambutnya membuatku bisa melihat lebih jelas balutan perban di pelipis mata. Sehabis melepas kaos ia lepas pula rok mini yang dikenakannya membuatnya sekarang hanya mengenakan pakaian dalam lingerie sexy berwarna merah. Tubuh indah Ronda makin tergambar jelas akibat pakaian dalamnya yang begitu sexy.

Menyadari aku telah terpikat sepenuhnya pada kemolekan tubunya, Ronda berbalik menepuk pantatnya sendiri begitu sensual lanjut menggodaku untuk mengarahkan mata turun ke paha montok mulusnya. Kejantananku yang masih tersembunyi dari balik celana langsung bangkit melihat tingkah lakunya.

Apa dia menipuku??. Aroma tubuhnya sama sekali bukan aroma wanita yang belum mandi. Aroma tubuhnya harum sekali, cenderung sangat sensual seperti ia memang telah mempersiapkan semua ini.

” Kamu tunggu sebentar disini selagi aku menyiapkan kamar mandimu!,” hanya berbalut dua pakaian dalam super sexy Ronda melangkah masuk ke dalam kamar mandi dengan begitu menggoda.

***

Aku tidak memperhatikan tadi Ronda membawa sesuatu atau tidak ke dalam kamar mandi. Memperhatikan bokong montoknya saja sudah cukup membuatku lupa daratan sehingga tidak memperhatikan hal lain yang mungkin saja dipersiapkannya.

” Ayo masuk sini sayang! katanya mau mandiin aku,” Ronda membuka pintu kamar mandi lalu mengeluarkan kalimat bernada manja. Suara manjanya sama sekali tidak terdengar seperti suara Juara UFC yang penuh kebengisan.

Aku masuk mengikuti undangannya. Suasana kamar mandi sudah berubah begitu romantis. Lilin aroma terapi sudah dinyalakan oleh Ronda menggantikan cahaya lampu. Temaramnya cahaya menciptakan suasana indah guna memadu kasih. Indera penciumanku dapat menghirup wangi daun-daunan segar pembangkit birahi.

” Mendekat sini sayang!,” Ronda menjentikkan jarinya mengajakku mendekat.

Kuikuti langkah mundurnya hingga tiba di tepi bath tub. Kuperhatikan bath tub juga telah disettingnya sedemikian rupa. Gelembung-gelembung air hangat mengajak kami agar segera beradu kasih.

” Katanya mau mandiin aku?? ayo donk,” ia sangat menggoda.

Kutangkap tangannya lalu kupegangi. ” jangankan disuruh mandiin, disuruh naik ke angkasa buat mengambilkan bintang, akan aku lakukan untukmu,” kusentuh dagu manisnya lalu kucium bibirnya.

” He he dasar gombal,” jawabnya sebelum tenggelam dalam ciumanku.

Setelah kemenangan spektakulernya di Octagon, baru sekarang kami bisa kembali memadu kasih. Ciuman bibir kami segera ditemani rangkulan mesra yang semakin lama terjalin makin erat. Tubuh kami saling berpadu dikelilingi temaram cahaya serta wanginya aroma parfum yang begitu wangi. Sehabis mencium bibir aku beringsut turun sedikit berusaha menghirup aroma leher Ronda yang telah terbuka. Aromanya betul-betul wangi.

” Kamu bohong,” kataku.

” Mmmmm?,” Ronda mendangak menikmati hirupanku di lehernya, ia menjawab ucapanku menggunakan gumaman.

” Katanya belum mandi. Mana ada wanita yang belum mandi aromanya sewangi ini,” merasa dibohongi mulai kucumbui leher jenjangnya. Sedikit ketegangan masih kurasakan di lehernya.

” Biarin…aku memang belum mandi kok….,” ia merunduk tampak menahan malu ” dimandiin kamu maksudnya….”

Aku tersenyum menghargai sepenuhnya inisiatifnya yang luar biasa mengajakku memadu kasih. Laki-laki mana yang tidak senang mendapati sebuah inisiatif bercinta datang dari pasangannya. Apalagi bila inisiatifnya seindah sekarang. Segala inisiatif dan persiapan Ronda membuatku senang sekali. Tekanan pertandingan melawan MU lenyap seketika. Aku mengajaknya melangkah bersama ke hangatnya kolam bath tub yang tak henti memancarkan gelembung-gelembung gairah.

Kutuntun ia memasuki bath tub besar yang ada di kamar mandi hotelku sambil melepaskan kedua pakaian dalamnya secara perlahan.

Kami berpelukan di bath tub. Sekarang posisiku merangkulnya dari belakang dengan punggungku menumpu sepenuhnya di tepi bath tub. Ronda bersandar di dadaku. Merasakan bidangnya dada serta kerasnya otot perutku membuatnya nyaman.

” Kamu hebat kemarin di Octagon sayang,” ujarku mulai membasahi bahunya yang indah menggunakan air hangat. Posisi kami yang berpelukan saling membelakangi memudahkan gerakanku.

” Uuuuhhhhhh,” Ronda merebahkan tubuhnya relax dipelukanku ” hebat gimana??.”

” Semua orang yang menyaksikan pertarungan itu pasti menduga kamu akan kalah,” kugunakan kedua tanganku mulai memijat bahunya yang telah terbasahi air hangat. Pijatanku lembut namun tetap mampu menjangkau ketegangan otot yang masih terasa.

” Aku juga berpikir akan kalah Budi,” ia berusaha memejamkan matanya ” Holm…ia betul-betul kuat….”

” Ototmu masih tegang sekali sayang….” aku merasakan kontraksi-kontraksi ritmis masih saja terjadi ” apa kamu masih belum bisa melupakan pertarungan itu??.”

Ronda menggeleng. ” Aku mimpi buruk semalam Budi,” pijitanku melebar ke kedua lengannya ” dalam mimpiku Holm datang menghajarku lebih keras dari di atas Octagon, kamu tau aku bangun dalam keadaan basah kuyup oleh keringat….bangsat…si jalang itu…ia benar-benar menghajarku demikian keras…”

Kucoba menyentuh tulang selangka di dada Ronda lalu turun sedikit mengurut gumpalan daging dibawahnya yang menuju area bukit kembar. Ronda terus menyandar di tubuhku membuatku kesulitan memijat punggungnya sehingga memilih memijat saja area tubuhnya bagian depan.

” Mmmm,” ia palingkan wajahnya mulai menikmati pijatanku di perbatasan bukit kembarnya.

” Ngomong-ngomong bantinganmu keren…,” aku mencoba mengalihkan pikirannya yang terlihat masih belum bisa melupakan kehebatan pukulan Holy Holm.

Ronda tetap memejamkan matanya ” aku belajar darimu…teknik apa namanya?…di soccer yang memasukkan….”

” Nut Meg,” tanganku mulai turun mengurut sisi-sisi luar bukit kembarnya. Ronda mempererat sandarannya ketika tanganku tiba di area sensitive tubuhnya.

” Mmmm uuuuhhhh nut meg sangat sensitive….maksudku sangat pas dipadukan dengan teknik Tsukuri…uuuhhh.”

Diselubungi limpahan gelembung-gelembung wangi tanganku mulai mengitari puncak bukit kembarnya membuat Ronda makin kesulitan menahan diri.

” Apa itu Tsukuri??,” bibirku juga mulai masuk menciumi tengkukknya yang terbuka lebar akibat kunciran rambutnya. Aku melihat bekas lukanya yang dijahit masih ada di dahi, ia tidak mau bagian ini terkena air jadi aku bermain perlahan menjaga baik-baik bebarapa bagian tubuhnya yang masih terasa sakit.

” Tsukuri itu posisi berputar pivot dalam Judo,” Ronda menggengam kedua tanganku. Ia menuntunya agar mulai bermain-main tanpa ragu di bukit kembarnya. Aku mengikuti tuntunannya. ” Remas aku sayang….” pintanya.

” Apa??.”

” Remas aku…..”

Alih-alih langsung meremas. Aku melakukan gerakan Tsukuri di puncak bukit kembarnya memutar-mutarnya lincah sambil sesekali menekan tombolnya. Ronda semakin sering tertengadah menahan rangsangan.

” Ayo remas….,” wajah cantiknya berusaha mendangak mencari wajahku ” remas aku sayang…..”

Melihat ekspresi hornynya membuatku sangat bergairah. Jadilah kuiikuti kemauannya dan meremas kedua bukit kembarnya keras. ” Uuuuuhhhhhhhhhh,” Ronda menyambutku. Ia nikmati benar-benar remasan tanganku di kedua sisi tubuhnya yang menonjol. Licinnya tangan akibat gelembung-gelembung sabun membuatku makin mudah mempermainkan kemontokan bukit kembarnya dalam berbagai gerakan yang menghadirkan kenikmatan. Gerakan mengurut-ngurut serta meremas-remas juga makin mudah kulakukan.

Aku hadirkan image bukit kembar Ronda mengandung susu di kedua sisinya. Susu-susu ini menunggu dikeluarkan dari tempatnya. Dibutuhkan sebuah gerakan lembut namun kuat membawa perlahan gumpalan-gumpalan susu agar bergerak dari dasar bukit kembar yang padat. Kugoyang-goyang bukit kembar itu lalu lanjut meremas-remasnya agar susu bisa mulai naik. Ronda bersikap seperti susu di bukit kembarnya akan segera keluar maka kuurut puncak bukit kembarnya sehingga dalam bayanganku susu itu bisa keluar membawa gizi berlimpah kepada kami berdua. Urutanku perlahan sekali memastikan seluruh kenikmatan bisa terlimpah keluar menggantikan segala kegundahan maupun kecemasan.

Lama gerakan mengurut susu ini kulakukan sampai Ronda kembali tenang lalu kembali bersandar pasrah dalam pelukanku. Gelembung-gelembung air hangat tak henti berseliweran diantara kami.

” Kok bisa kamu mendapat inspirasi mengalahkannya menggunakan Tsukiri ala nutmeg seperti itu,” aku memeluk pinggangnya mencoba mengurut sisi-sisi tulang rusuk.

” Ssssssssss,” Ronda mengernyit kala tulang rusuknya terkena.

” Sakit??.”

” Masih…..” ia mengangguk.

Aku beralih menyentuh perlahan saja perut ratanya yang kuyakin juga masih menyimpan rasa sakit.

” Saat itu, aku dihajar habis-habisan Budi. Penonton berteriak memintaku pensiun. Darah membanjiri seluruh wajahku. Sama sekali aku tak menduga jalan akan ditunjukkan padaku saat hantaman terjadi begitu keras. Entahlah….dalam sepersekian detik…,” Ronda menirukan gaya tinju Southpaw Holm di dalam air ” aku melihatnya membuka pertahanan. Holm yakin sekali bisa mengalahkanku, digunakan semua tenaganya untuk menghantamku…dan disanalah pertahanannya terbuka…”

Aku memeluknya saja. Tak berusaha merangsang dulu membiarkannya menceritakan bagian paling emosional dalam ceritanya.

” Semua terjadi dalam sepersekian detik. Tangannya masuk,” ia memeragakannya ” aku berhasil mencengkramnya dan……BAAAMM….. Holm selesai.”

Tanganku mulai kuturunkan mengajak kedua kakinya agar terlentang naik ke atas bath tub dan menumpu di atasnya. Ronda menurut saja melihatku menaikkan kedua kakinya dari permukaan air dalam kondisi terkangkang. Gelembung sabun bisa menyembunyikan bagian intim Ronda di dalam air tapi tidak dengan paha maupun keindahan betisnya.

” Teruslah bercerita!,” pintaku ” aku cuma mau membersihkan bagian ini saja….,” godaku kemudian.

Ronda menurut. Rangsangan mulai menjalari tubunya namun ia tetap berusaha bercerita.

” Saat Holm terjatuh aku tau ia sudah tamat. Kemenangan berada ditanganku. Kamu tau….uuuhh….apa yang kamu…….,”

” Aku Cuma mau menyabuni bagian intimmu yang mulus tanpa rambut ini….lanjutlah bercerita….”

” Mmm Budi…..”

” Ya???.”

” Kamu mau bagian itu tanpa rambut atau ada rambutnya??,” ia kembali terlihat begitu sexy kala berusaha mengarahkan wajahnya melihatku dalam keadaan horny berat.

” Tanpa rambut sayang…..,” ujarku nakal sembari mencium bibirnya ” aku jadi mudah menyabuninya…..,” kuteruskan aksiku menyabuni bagian intimnya semakin cepat. ” Teruskan ceritamu!.”

” Iya….uuuhhh…uuuuhhh….samppai dimana aku……….terus…. sayang……Ssssssss,” kukucek terus bagian intimnya hanya menggunakan telapak tangan tanpa berusaha mencolok atau menyakitinya.

Tangan Ronda mencengkram pahaku tak tahan. Melihat kepalanya semakin merosot hampir menyentuh air kutahan lehernya agar tetap berada di atas air. Lukanya masih belum sembuh. Merasakan kulit lehernya yang lembut aku bisa merasakan bagaimana nikmat itu datang bertubi-tubi dalam satu kenikmatan dahsyat ketika kucekanku berhasil membawanya ke puncak. Ronda terus meronta-ronta kenikmatan. kakinya membuka menutup tak terkendali selama bebarapa saat.

Kubiarkan dia tenggelam dalam badai kenikmatan. Tak kuganggu sedikit pun rasa yang datang seseudahnya. Termasuk saat Ronda memasukkan kembali kedua kakinya ke dalam bath tub membantunya merasakan setiap gelombang air yang terus bekerja membawa ketenangan di tubuhnya.

Sambil menunggunya tenang kembali, tanganku menjangkau pelumas seksual yang memang tersedia di hotel ini. Kubuka tutup pelumas kutampahkan secukupnya ke tanganku.

” Sebentar ya sayang!,” sekarang giliranku menunjukkan kekuatan otot tubuhku. Pertama bantalan empuk bath tub yang menyangga kepalaku sedari tadi kugunakan menumpukan kepala. lalu kedua kakiku keluar dari bath tub membawa kaki Ronda tetap menimpa kakiku. Ketika posisi kami sudah sama-sama terkangkang keluar, kakiku menjungkit menahan beban cukup berat agar tubuh kami berdua keluar dari air.

” Uuuuhhh Budi kamu ngapainn…..,” tanganku cepat melumuri celah intim Ronda menggunakan pelumas yang sudah melimpah ditanganku. Kupastikan seluruh celah nikmatnya terlumasi lalu aku membawanya kembali nyemplung di air hangat.

” Aku mau mengajak kamu bercinta di air sayang….,” aku kembali berbisik sambil menciumi lehernya. Tombak kejantananku yang sudah tegak sedari tadi mulai kuarahkan ke liang kenikmatannya yang telah terlumasi pelumas yang tidak bisa dilarutkan oleh air. Bercinta di air sangatlah berat bagi wanita. Pelumas alami mereka menghilang larut oleh limpahan air sehingga bercinta di dalam air sering terasa menyakitkan.

Menghadapi keadaan ini aku cukup melumasi pelumas buatan di celah intim Ronda bersiap membawanya ke hubungan sexual yang menyenangkan sama seperti di ranjang.

“Uuuuuuhhhhhh,” Ronda mendesah halus merasakan celah nikmat sempitnya tertembus tombakku dari bawah. Ketika tombakku sudah masuk semua. Kutarik lagi Ronda agar bersandar lagi di pelukanku dalam keadaan celah nikmatnya telah terisi dengan sebuah tombak tegak. Kami berdua sama-sama memejamkan mata. Tidak mau bersikap seperti binatang yang terburu-buru. Kami hanya berusaha meresapi nikmatnya penetrasi tanpa keterburu-buruan. Ronda sebagai pemegang kendali memahami kemauanku. Ia pelan-pelan saja menaik turunkan celah nikmatnya dalam keadaan kami saling berpelukan berusaha mereguk segala kenikmatan dalam waktu selama mungkin di tengah keromantisan kamar mandi hotel.

Kami bercinta cukup lama di bath tub. Bila tidak menghargai perjanjian yang dibuat Tom si bodyguard dengan pihak RS kami pasti tak mau beranjak dari hotel yang penuh kenikmatan ini. Saking lamanya kami bercinta ketika kami tiba di RS waktu sudah malam. Sisi timur parkiran RS tempat kami tadi berangkat merupakan tempat kami kembali sekarang. Suasana parkiran sudah sepi namun ada lima orang pemuda kelihatannya sedang mabuk-mabukan. mereka semua sialnya menggunakan seragamnya MU. Tampaknya para supporter garis keras MU sudah mulai tiba di kota. RS ini sendiri selain terkenal ramah sayangnya juga terkenal sering didatangi pemabuk.

Ronda yang semula wajahnya begitu ceria akibat mendapatkan persenggamaan yang bergelora mulai menangkap situasi tak menyenangkan. Wajahnya berubah serius. Kaosnya yang memiliki tudung di punggung dinaikkan agar bisa menutup wajahnya saat kami turun dari mobil. Kami berdua berharap kelima orang suporter MU tidak memperhatikan kami saat turun namun sialnya mereka memperhatikan dan malah mengejar kami. Tambah sial bagi kami karena security RS tidak berada di posnya.

” Hei bung……minta uang buat beli minuman!,” mereka berlima mengerubungi kami. Berusaha melindungi Ronda aku menutupi tubuhnya agar berlindung di belakang tubuhku.

” Kami tidak punya uang,” aku berbohong. Sebenarnya aku punya uang tapi untuk dihabiskan oleh minuman tentu saja tidak.

” Ayolah… pacarmu mungkin punya…hai manis…..,” mereka berusaha menggoda Ronda tapi belum berhasil melihat wajahnya.

” JANGAN GANGGU PACARKU!.”

Saking mabuknya mereka tak memperhatikan gertakanku.

” Ayolah Bung minta uang….,” mereka meringsek membuatku harus mendorong salah seorang yang paling bau alcohol dintara mereka.

” KAMI TIDAK PUNYA UANG.” jawabku.

Salah seorang diantara mereka mencabut pisau lipat berusaha merampok kami.

” OK TENANG AKU……,” menyadari situasi buruk akan datang apabila tak melayani permintaan mereka aku mencabut dompet berusaha mengambil uang.

” IN…..,” Ronda seketika melesat dari belakangku ketika aku mulai mengucapkan kalimat. Menghadapi laki-laki dengan pisau lipat ia menumpu di bahuku lalu berputar melakukan tendangan tepat ke kepala langsung menjatuhkan si penodong berikut pisau lipatnya.

” INI….U….,” Ronda menumpukan kembali kakinya ke tanah menghadapi dua orang sekaligus. Menghantam yang berdiri di kanan menggunakan siku terhujam lanjut menangkap tangan orang di kirinya yang berusaha memukul lalu menbanting menggunakan satu tangan. Tanpa melepaskan cengkraman tangannya, Ronda menendang orang tersebut setelah terbanting. “..UANG….NYA……,” dua orang lagi diancamnya menggunakan bogem dan mereka pun kabur semua.

” INI UANGNYA…” saat aku baru selesai menyelesaikan kalimatku tiga orang sudah terkulai di tempat parkir.

Bukan aku yang melindunginya malahan Ronda yang melindungiku.

” Hei…harusnya kan aku yang melindungimu….,” aku berusaha memprotesnya.

” Hush anak kecil gak usah main berantem-beranteman!,” ujarnya mengajakku masuk ke dalam RS ” berkelahi urusanku bukan urusanmu!.”

***

Hari minggu malam kami menghadapi Manchester United. Sama seperti tahun lalu kami menghadapi mereka malam hari. Aku jadi ingat kenapa mereka memutar lagu “Song for United” saat kami berlatih, rasa dendam akibat kekalahan tahun lalu sepertinya masih terbayang. Melangkah keluar loker pemain, aku menatap sejenak sebuah barang yang baru saja aku beli kemarin. Sebuah kamera untuk mereka penggemar fotografi. Aku tidak tau kenapa membeli barang ini. Hatiku mengatakan beli saja. Sekarang aku menyesal kenapa membeli barang ini dan bingung harus meletakkannya dimana.

Melangkah dalam kebingungan akibat membeli sebuah barang yang tak kuketahui manfaatnya, aku masih merasa terbantu karena Ronda dapat hadir di Stadion. Kehadirannya langsung saja menarik minat media masa, apalagi ia duduk di depan tribun penonton dekat sekali dengan bangku cadangan pemain Man United. Sang Juara UFC hadir menggunakan baju kuning Norwich membuat para penonton tuan rumah mencemoohnya. Bukan masalah cemoohan bagi Ronda, saat memasuki stadion kulihat ia malah menikmati segala kegusaran pendukung Man United. Bagaimana pun ia seorang Juara. Wanita paling berbahaya di muka bumi, siapa juga yang berani macam-macam dengannya?.

Memasuki Old Trafford kami disambut raungan pendukung Man United. Sisi barat Stretford End bergemuruh paling keras. Para pendukung fanatik Man United belum memaafkan kekalahan tahun lalu.

Old Trafford memiliki sebuah sisi unik yaitu letak bangku pemain cadangan berada. Berbeda dengan klub kebanyakan, bangku pemain cadangan ditempatkan elegan namun berdekatan bangku penonton. Pemain cadangan seperti duduk di bongkahan batu bata berkursi merah. Pelatih juga harus duduk di tempat ini sehingga bila mau mendampingi tim di pinggir lapangan harus melalui proses naik turun tangga terlebih dahulu. Inilah yang membuatku resah sedari tadi kerana Ronda terlalu dekat menghadapi kursi lawan. Karakter tempramentalnya kutakutkan pecah di tengah laga saat provokasi hilir mudik di sisinya duduk.

Setidaknya kekhawatiranku sedikit surut melihat Man United yang tampil prima pada pertandingan ini. Keberhasilan Mourinho mendatangkan Gareth Bale dari Real Madrid di window transfer pertengahan tahun lalu membuat MU berubah. Bale berhasil memecahkan rekor transfer kedua kalinya ketika bergabung bersama MU. Pemain lincah dari Wales ini memang sangat cocok bermain di Liga Inggris.

Jose Mourinho memilih formasi kesayangannya 4-2-3-1. Menumpuk pemain di tengah agar adaptif terhadap perkembangan situasi. David De Gea ditemani oleh Phil Jones, Daley Blind, Chris Smailing dan Marcos Rojo dibelakang. Duet gelandang bertahan diisi oleh Bastian Schweinsteiger dan Morgan Schneiderlin. Sedangkan trisula gelandang serang diisi Antony Martial, Juan Mata dan Gareth Bale. Wayne Rooney penyerang senior Inggris dikembalikan peranannya sebagai penyerang tunggal. Formasi ini terbukti berhasil hingga saat ini karena Man United sukses memuncaki Liga Premier Inggris.

Kami menghadapi formasi 4-2-3-1 MU menggunakan formasi standart 4-4-1-1. Rudd sebagai kiper didampingi Wisdom, Bassong, Martin dan Robbie Brady. Lini tengah dipercayakan padaku, Alfred, Tettey dan pencetak hatrick kemarin Nathan Redmond. Kehadiran Tettey sebagai gelandang pekerja keras mengindikasikan akan terjadi duel di lini tengah. Second striker dan penyerang utama dipercayakan kepada dua pemain senior Jonathan Howson dan Cameron Jerome.

” Priiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiittttttttttttttt.”

Pertandingan dimulai. Kick Off Manchester United. Tidak seperti skema kesukaan Mourinho yang biasanya enggan menyerang dari kedua sayap, kini MU menghujani sisi lebar kami menggunakan dua sayap berkaki cepat. Antony Martial yang di era Van Gaal bertindak sebagai penyerang ditarik Mou ke sayap berduet dengan Gareth Bale. Full back kami Ruseel Martin dan Robbie Brady harus bekerja keras malam ini.

Bola bergulir ke sayap kanan. Bale menerima bola langsung dihadapi dua orang Alfred dan Brady. Bale melakukan umpan tarik, pertahanan kami sudah siap. Bassong menempel Rooney. Meski kalah tinggi Rooney bisa memenangkan bola udara sayangnya bolanya terlalu melebar. Aku bisa melihat kiper Rudd pasti bisa mengantisipasi tandukan Rooney dengan mudah jadi aku berlari melebar mencari ruang kosong bersiap melakukan serangan balasan.

” GOOOOOOOOOOOOOLLLLLLLLLLLLLLL.”

Teriakan penonton mengagetkanku. Padahal aku sedang mencari ruang ternyata MU entah bagaimana caranya berhasil membuat gol hanya dalam hitungan menit. Semua pemain MU bergembira. Sebaliknya kami tertunduk tak percaya gol terjadi begitu mudah.

” Ada apa???,” tanyaku pada bek tengah Wisdom “kenapa bisa gol??.”

” Bola tandukan Rooney seharusnya keluar. Kiper cukup membiarkannya keluar tapi Rudd mengira bola mengarah ke gawang ia menjatuhkan diri berusaha menghalau bola.”

” Rudd salah antisipasi??.”

Wisdom mengangguk ” alih-alih menyapu bola keluar Rudd mendorong bola ke depan mengira pemain kita ada di dekatnya. Sayangnya Rooneylah yang menyambut sodorannya dan mencetak gol.”

1-0 gol mudah di awal babak pertama. Kami tertinggal akibat salah antisipasi kiper.

***

MU menekan kami setiap menguasai bola. Aku tidak mau kalah. Belajar dari Fritz Walter si ahli cuaca aku menghadapi tekanan mereka dengan senang hati berusaha menikmati siksaan yang ditimpakan. Bola terus kugulirkan di tanah memeragakan Jogo Bonito di Manchester. Berawal dari sodoran pelan pada Alfred bola dialihkan langsung ke depan menuju Cameron Jerome. berhasil memenangkan duel satu lawan satu, Jerome melebarkan bola ke sisi tempat winger andalan kami Redmond berada.

Pemain hitam kami ini berkelok-kelok berusaha melawan tantangannya Marcos Rojo. Adu sprint diantara mereka berlangsung cepat karena Redmond tampak berusaha menghindari keuletan Rojo. Menggunakan tumit ia mengembalikan bola pada full back Martin yang mengembalikan bola kepadaku. Berhasil memasuki garis 16 aku mencoba peruntungan melakukan one on one dengan Gareth Bale. Pemain winger andalan Wales ini memang kunci skema permainan Mou. Posisi aslinya sayap namun ia lebih sering masuk menjadi second striker berposisi di tengah sekaligus membantu pertahanan.

Bertinggi 186 cm atau dua centi lebih tinggi dariku Bale sangat kuat. Aku mencoba menariknya mengikutiku agar bisa menarik pertahanan MU yang lain melakukan doble cover. Schweinsteiger sebagai gelandang bertahan yang pertama menyambut penetrasiku. Ia melakukan penjagaan dobel menutup ruang gerakku. Melihat ruang sudah tertutup untuk penetrasi aku mengirim bola diagonal melebar kembali menuju Redmond.

Rojo tidak menyangka manuver umpanku akan kembali menuju Redmond. Sekuat tenaga ia berlari secepatnya menutup ruang winger kami yang sudah melakukan penetrasi masuk ke dalam kotak penalty. Masuk ke dalam kotak, Redmond dihadang kecepatan Rojo ia masuk lebih dalam ke kotak. Keuletan Rojo memang luar biasa, ia mampu mempressing Redmond hingga tersudut ke pinggir hampir ke luar garis. Merasa bola hampir ke luar garis Redmond melakukan sliding menjangkau bola berusaha melakukan crossing.

Kaki Rojo berusaha menghentikannya melalui sliding tekel yang sama. Bola Redmond untungnya sudah berhasil naik melampaui kaki Rojo bergulir secara liar menuju depan gawang. Penyerang kami Jerome dan Howson sudah maju ke mulut gawang. Bek MU Smiling, Jones dan Blind juga sama-sama berusaha menutup pergerakan. Mereka semua saling berjibaku sampai tanpa sengaja Blind yang berusaha membody charge Jerome malahan menabrak bola liar kiriman Redmond membuat bola berubah arah di depan kiper.

David De Gea sudah bergerak ke sisi kanan sebelum bola berubah arah lalu sedemikian cepat menceplos ke dalam gawang.

Masuk.

1-1 Kami berhasil menyamakan kedudukan.

Penonton fanatik di sisi barat Stretford End terdiam. Demikian pula seluruh stadion Old Trafford. Hanya pendukung Norwich City dan Ronda Rousey yang berteriak lantang saat kami merayakan gol.

” AYO KALAHKAN MEREKA! KALAHKAN MEREKA!.” teriak Ronda tanpa mempedulikan pandamgan sinis penonton tuan rumah disekitarnya.

***

Pertandingan memasuki menit 20, MU mendapat tendangan bebas. Aku berdiri bersama empat pemain lainnya mencoba membuat pagar betis. Meski jaraknya tidak terlalu dekat dari kotak penalty kami tau jarak ini ideal bagi Gareth Bale. Ia mengambil ancang-ancang jauh bersiap melakukan tendangan keras. Setiap pagar hidup pemain pasti tegang bila menghadapi tendangan dari para pakar tendangan bebas. Detak jantung kami meningkat. Berpacu semakin kencang saat Bale tinggal berjarak lima langkah dari bola. Kami menghitung jarak langkahnya. 5…4….3….2……1……DEEEEEENNNGGGGG kami semua meloncat ketika tendangan dilakukan.

Bale sangat cerdik. Aku harus mengakuinya kala menyadari bola tidak naik namun meluncur seperti petir di bawah kaki kami. Bale melakukan tendangan bebas menyusur tanah tidak melambung seperti yang kami sangka. Tendangan geledeknya keras melaju menembus pagar hidup kemudian melengkung menuju tiang jauh. Kiper Rudd terkejut bola berhasil menembus pagar ia meloncat menuju tiang jauh. ” DDUUUUUUUUUNNNNGGG Ploooooooossssssssss.” bunyi tiang gawang berdentum keras menandakan bola membentur demikian keras sebelum masuk ke gawang.

2-1 MU unggul lagi.

Sehabis gol tercipta , aku terus berusaha membangun permainan Jogo bonito mengirimkan bola datar untuk merespon gol yang terjadi. Dihadang dua pemain dari sisi kiri dan kanan aku berputar cepat memasukkan bola ke sela kaki Martial maju satu langkah kemudian berganti arah sambil memutari tubuh Juan Mata 360 derajat. Berhasil melewati dua orang aku mengirim bola pacu ke sisi Tetey yang berlari berusaha menembus pertahanan Phil Jones.

Tetey mampu menerima bola, mengontrol sejenak sebelum mengembalikan bola ke arah Alfred. Melihatku sudah berlari sprint diagonal sejak mengirim bola pertama kali tadi, Alfred mengembalikan bola kepadaku. Masuk ke area 16 aku melihat posisi Jerome sudah berlari maju menunggu kemungkinan crossing.

Tanpa menunggu waktu kuliukkan bola menuju Jerome. Para pemain MU begerak cepat menutup crossing. Bolaku kali ini cukup akurat maju empat langkah di depan Jeroma yang berhasil menusuk. Smailing berhasil mengganggu Jerome. Bola berhasil digulirkan menjauh dari Jerome namun yang tidak pemain MU sadari, bola siap disambut Redmond yang berlari bebas.

Berdiri begitu bebas, Redmond menerima umpanku sambil menanduknya agar menubruk tanah. Bola terpantul kencang kemudian menembus jala gawang De Gea.

2-2 lagi-lagi kami berhasil menyamakan kedudukan.

Ronda kembali merayakan gol demikian bersemangat.

Ia mulai mendatangkan rasa sebal di diri Mourinho yang melihatnya sedari tadi.

***

Menit ke 38 kami kembali menyerang. Akselerasi Redmond mulai membuat Rojo kalang kabut. Ia berhasil mendekati kotak penalty lalu melepas bola kepadaku. Dikawal Schwensteiger aku mengggoceknya menggunakan gerakan seolah akan bergerak ke kanan ternyata betul-betul ke kanan kemudian bersiap memasuk kotak penalty. Dihadang oleh Daley Blind aku masuk ke kanan langsung merubah arah ke kiri. Blind terperosok melihat gerakanku.

Ini peluangnya. Aku menyiapkan kaki kanan bersiap untuk……DUUUUUUUUGGGGGG.”

Kaki kanan seorang pemain MU yang aku tidak tau siapa menghambat gerakanku, membuatku jatuh tersungkur di dalam kotak penalty

” Priiiiiiiiiiiiiiiiittttttttttttttttt Penalty Norwich City,” teriak wasit.

” HEI ITU BUKAN PENALTI DIA DIVING!.” teriakan Mourinho sampai terdengar di tempatku terjatuh.

Para pelatih Liga Inggris terkenal bersuara paling nyaring. Mereka sering bisa mempengaruhi keputusan wasit gara-gara suara kerasnya.

” ENAK SAJA PACARKU TIDAK DIVING! KAMU TIDAK PUNYA MATA APA??,” di luar dugaan dari bangku penonton Ronda tidak terima mendengar perkataan Mou.

Tersengat oleh suara wanita yang membuatnya kesal sedari tadi Mou berbalik menatap wajahnya ” KAMU PULANG AJA KE RUMAH UFCMU SANA! INI LAPANGAN BOLA BUKAN RING TINJU!.”

” EMANG KENAPA KALO AKU DARI UFC??? KAMU GAK TERIMA??? COBA KESINI KALO BERANI…..,” Ronda terdengar emosional membuatku segera bangkit dari jatuhku mencoba melihat perseteruan mereka.

Adu mulut antara pelatih dan seorang penonton menarik perhatian official pertandingan. mereka menegur Mou juga Ronda namun mereka berdua sama sekali tidak berkeinginan meredakan perselisihan mereka bahkan setelah tendangan penalty Jerome berhasil membawa kami unggul 3-2.

Tertinggal, MU beraksi cepat. Sejak dari menit pertama kami memang melakukan jual beli serangan membuat pertandingan terasa lebih hidup dan menegangkan. Bola dikirim jauh dari belakang menuju Martial. mengontrol bola sebentar Martial mengoper datar ke Juan mata. Pemain tengah jenius ini mampu melihat celah diantara pertahanan kami ia oper bola lurus membelah pertahanan membuat Schweinsteiger berhasil lolos dari pengamatan kami dan menceploskan bola.

3-3. Kedudukan sama sebelum bebak pertama berakhir.

Mourinho merayakan gol mengatupkan jari telunjuknya ke jari menyuruh Ronda agar diam.

Tak terima diprovokasi Ronda bangkit dan menantang Mourinho. ” KAMU BRENGSEK ! NANTI AKU AKAN…..,” tersadar provokasi balik bisa membuatnya berurusan dengan official pertandingan Ronda terhenti sejenak kemudian melanjutkan ” BUDI AKAN MEMBALASMU BRENGSEK! BUDI AKAN MENGALAHKANMU!.”

***

Awal babak kedua berjalan.

Bola berada di penguasaan kami. Ball possession berhasil kami jaga selama beberapa menit untuk menurunkan tempo pertandingan. Babak pertama tadi berjalan sangat melelahkan karena kedua tim saling jual beli serangan dalam tempo tinggi. Aku mencoba menurunkan tempo memberi waktu pemain Norwich memulihkan stamina. Segalanya berjalan sesuai rencana buat kami hingga di menit ke 50. Bola dikirim Full Back Rusell Martin back pass ke penjaga gawang. Rudd berusaha mengontrol bola awalnya ia berusaha memberikan bola kepada Bassong namun ditengah jalan ia merubah rencana dan menendang ke tengah berusaha menjangkau Alfred.

Sayangnya Alfred tak menduga datangnya bola. Tak menyangka akan dioper, Alfred tidak siap menerima bola. Ia kalah duel melawan Juan Mata yang tanpa buang waktu bisa menguasai bola dan membangun serangan. Mata mengoper pada Bale dan Bale langsung memberikannya pada Rooney. Menang jumlah pemain, MU mudah sekali membuat gol keempat melalui kaki Antony Martial. Sempat unggul kami kembali tertinggal 4-3.

Gol akibat kesalahan pemain memukul mental kami. Angin pertandingan dikuasi sepenuhnya oleh MU dan Mou lebih mudah membully Ronda melalui gerakan gerakan provokasinya. Ronda sendiri semakin terdiam tak mampu membalas Mou. Apalagi saat melihat dalam sebuah tendangan sudut lima menit berikutnya, MU berhasil memperlebar jarak melalui tandukannya Marcus Rojo.

Aku menggelang tak percaya melihat papan skor sudah berubah 5-3 buat keunggulan MU. Angin pertandingan yang telah berpihak sepenuhnya pada MU membuat kami tak berdaya. Bangunan serangan kami menjadi serba salah. Banyak salah umpan terjadi dan pemain MU bisa mempermainkan kami. Semuanya seperti akan bergerak ke kekalahan bagi Norwich hingga pertandingan memasuki menit 80.

Menerima bola di tengah lapangan aku masuk seorang diri menusuk melewati Scheweinsteiger menggunakan gerakan tipuan seolah ke kanan ternyata betulan ke kanan. Berhasil lolos, aku berubah sedikit menipu Schneiderlin menggunakan tipuan seolah bergerak ke kiri ternyata ke kanan lalu lanjut adu lari melawan Gareth bale.

Dipepet Bale aku terus menahan bola tidak gentar dan maju menembus area 16 MU. Bek Mu berusaha menutup gerakanku namun keberadaan Bale yang masih menempelku membuat mereka mengamati secara seksama apa yang akan kuberikan. Bale berhasil mengimbangi kecepatanku. Berusaha menipunya melalui gerakan seolah akan ke kiri ternyata ke kanan, Bale tertipu. Pertahanannya terbuka. Aku mendapat sudut tembak. Bek Daley Blind berusaha melakukan sliding tapi aku sudah bisa menendang.

Tendanganku melintir menyusur tanah berhasil menembus lini pertananan sekaligus De Gea. Bola berhasil masuk gawang memberi kami secercah harapan.

5-4. Ronda paling berbahagia menyambut golku. Ia bisa berteriak lagi menantang Mou yang terlihat kesal melihat pertahanan anak asuhannya.

***

Parkir Bus mulai diperagakan MU memasuki menit ke 85 pertandingan. 4-2-3-1 menutup rapat lini tengah membuat kami kesulitan. Aku tidak berputus asa menghadapi parkir bus. Bola berusaha kugulirkan terus secara konsisten agar mengalir maju ke titik pertahanan mereka. Mulai dari Alred bola dilanjutkan ke Nathan Redmond kemudian melebar ke Tetey dan hinggap di kaki Robbie Brady. Pemain MU memadati kotak penalty mereka. Brady mencariku ia pilih aliran menuju Jerome dahulu lalu menukik ke Redmond dan kembali kepadaku.

Inilah tugas utama seorang playmaker. Menjadi solusi saat kebuntuan terjadi. Aku berusaha mengangkat bola naik ke sisinya Brady lagi. Eye contact dintara kami sudah terjadi. Brady mampu masuk ke sayap melewati penjagaan Phil Jones. Berkaselerasi sejenak ia mengirim bola pada Tetey yang mengembalikan padanya. Sebuah bola cross dilepaskan Brady membuat seluruh lini pertanahan dan lini serang kami naik ke satu titik berusaha mencari bola. pergumulan terjadi. Bola yang masuk ke dalam kotak kemudian muntah ke luar kotak penalty.

Bola liar bergulir sejenak sebelum Alfred datang dan menendangnya sekeras mungkin dalam bentuk tendangan volley. Tendangan Alfred melesat menembus kerumunan pemain. Kiper De Gea terhalang pandangannya oleh kerumunan pemain ia terlambat bereaksi dan harus rela menyaksikan permainan kolektif kami berhasil menembus strategi pertahanan parkir bus andalan Mourinho.

5-5. Skor yang aneh dan pertandingan memasuki lima menit injury time.

Penonton makin riuh.

Ronda gantian meledek Mou sekarang.

***

Man United bangkit menyerang di injury time. Tersengat oleh ledekan-ledekan Ronda Rousey, Mou mengintruksikan anak asuhnya menyerang berusaha memperoleh kemenangan. Bola dikirim cepat sekali kembali melalui sisi sayap baik melalui Bale maupun Martial. Menghadapi serangan sayap kami gantian menerapkan parkir bus.

Man United menyerang frontal.

Lebih dari lima kali corner kick terjadi dalam waktu tiga menit. Kesemuanya berhasil kami halau. Seluruh pemain Norwich mengerahkan kemampuan bertahannya habis-habisan. Penonton makin riuh para pemain MU semakin bersemangat. Bale sekarang berusaha membawa bola berhadapan dengan Robie Brady.

Tinggi Brady hanya 175 cm kalah 11 cm dari Bale. Melihat lawannya jauh lebih kecil Bale mencoba menembusnya melalui akselerasi. Keunggulan tinggi Bale memudahkannya melewati Brady. Bale menusuk masuk menuju kotak penalty dari sisi kanan lapangan.

Ketika Bale hendak menusuk masuk kotak tanpa terduga tackle brady muncul dari belakang secara bersih. Kakinya mampu mengenai bola tanpa harus membuat Bale terjatuh. Berhasil memenangkan bola Brady yang memang selalu melihat posisiku menaikan bola agar meninggalkan kotak penalty memasuki tengah lapangan.

Aku beradu lari melawan Schneiderlin berhasil mengungguli kecepatannya mengontrol bola seorang diri memasuki garis tengah pertahanan. Para pemain MU sudah naik semua mereka menyisakan Blind dan Rojo dibelakang. Aku tak mempedulikan kejaran Rojo terus saja berlari sprint menantang Blind dalam satu kali gerakan, Blind tidak terkecoh dan aku mengajaknya beradu sprint. Rojo muncul mengejarku dari belakang sedangkan Blind dari samping kiri. Sekilas aku dan Blind akan berbenturan karena sama-sama cepat saat mengejar bola namun aku berhasil meraih bola lebih dulu menjungkitnya sedikit membuat Blind kehilangan keseimbangan dan menabrak Rojo yang berlari dari arah belakangnya.

Dua pemain bertahan MU terjatuh.

Aku lolos, kemudian berlari maju dan menghadapi David De Gea yang sudah berlari mendekatiku. De Gea mengambil resiko berusaha menutup gerakanku hingga luar kotak penalty. Menghadapi tubuh jangkungnya aku begitu mudah melewatinya menggunakan satu kali gerakan tipuan seolah bergerak ke kiri ternyata ke kiri betulan. Bola bergulir melewatinya. Tangan De Gea berusaha menarik bajuku. Sadar berusaha dijatuhkan, kucungkil bola agar naik menuju gawang. Bola naik sangat indah kemudian menghujam gawang dan menamatkan perlawanan Man United.

6-5 skor yang luar biasa.

Permainan yang fantastic dari kedua tim.

Seluruh Stadion Old Trafford terdiam termasuk sisi barat tempat para pendukung fanatik MU berada.

Ini drama 11 gol.

aku merayakan gol melangkah menunju Mourinho lalu Mengacungkan telunjukku dan menyuruhnya menutup mulut.

” Jangan kamu hina pacarku karena aku yang akan melindunginya!,” ujarku dekat sekali di tempatnya berdiri.

Setelah itu aku menunjuk tanganku ke Ronda sebagai ekspresi sayang. Ronda sendiri tampak tak mempercayai bahwa ternyata aku betul-betul bisa melindunginya.

***

Dua hari kemudian Bandara Queen Elizabeth London.

Ronda pulang hari ini ke Amerika. Ia bersikeras mengajakku ikut. Tentu saja permintaannya mustahil kuiikuti. Sebenarnya ia berusaha tinggal lebih lama di Inggris tapi tawaran film, wawancara, bintang iklan hingga model majalah membuatnya tak mungkin bisa bertahan lebih lama. Kami menunggu pesawat sambil menunggu di restoran terkenal bandara. tentu saja kehadiran kami membuat pengunjung bandara antusias membuat bodyguard Ronda harus bekerja keras menahan keinginan pengunjung mendekati atlet wanita pujaannya.

” Kenapa kamu gak mau ikut aku ke Amerika??.”

” Kamu ngawur Ronda aku ada pertandingan.”

” O ya aku belum mengucapakan selamat padamu!,” ia memberiku aprsesiasi ” Pertandingan yang bagus kemarin. berapa skornya 6-5?? itu seru sekali kamu tau?? aku tidak menyangka pertandingan bola bisa seseru itu.”

Aku tersenyum melihatnya antusias.

” Ronda di pertandingan itu kedua Tim saling berjual beli serangan sama seperti duelmu melawan Holly Holm…,” sambil bercerita kudengar ada keributan di belakang tapi tidak kupedulikan. Palingan ada seorang pengunjung berusaha menerobos penjagaan dan bodyguard Ronda bisa menghalaunya “……..pertandingan bola yang memainkan sepak bola terbuka selalu menarik ditinton…” mata Ronda yang semula serius menyimak ucapanku sejenak melihat kerumunan. Ia seperti memberi kode kepada bodyguardnya sebelum memintaku melanjutkan cerita.

” MU unggul berkali-kali, tapi kami selalu bisa mengejar…….,” aku asyik saja bercerita padahal Ronda sudah beralih fokusnya melihat apa yang ada di belakangnya.

” Conchita Caroline rupanya kamu lebih tinggi dari bayanganku,” kata Ronda sambil melihat jauh kebelakangku.

” Apa???.”

Mendengar nama Kak Chita disebut oleh Ronda tentu saja membuatku terkejut langsung mengalihkan pandangan. Bibirku kelu tak percaya apa yang kulihat. Kak Chita memang pernah berujar akan berangkat ke Inggris tapi tak pernah menyebutkan waktunya. Aku sama sekali tak menyangka sekarang Kak Chita sudah berada di Inggris dan sekarang kami bertemu langsung di airport Queen Elisabeth.

Yang membuat lidahku semakin kelu adalah kenyataan wanita pujaanku dari Indonesia ini harus bertemu muka langsung dengan Ronda Rousey wanita paling berbahaya di dunia yang sedang digosipkan tengah dekat sekali denganku.

Aku bukan lagi terkena skak mat. Tapi sudah tiba di ujung tiang gantungan siap dieksekusi.

Ronda menatapnya begitu bengis sama sekali tidak menunjukkan simpati apa pun. Kak Chita juga sama menatap Ronda penuh rasa benci. Apalagi tatapan kak Chita kepadaku seperti tatapan mata Polisi yang menuding seorang penjahat. Adegan yang terjadi sekarang mirip adegan serial Katakan Putus. Sebuah acara di televisi Indonesia yang pernah dibawakan Kak Chita sendiri yang biasanya mengikuti perselingkuhan sepasang kekasih. Aku yakin Kak Chita sendiri tak bakal percaya adegan dalam katakan putus bisa dialaminya sendiri sekarang di tanah Inggris.

Melihatku sedang duduk mesra bareng Ronda, Kak Chita refleks mencoba menarik gelas minum yang ada di depanku berusaha menyiram wajahku dengan air. Ronda bisa melihatku akan disiram air, ia refleks bergerak lebih cepat menggenggam tangan Kak Chita yang memegang gelas mencengkramnya kuat lalu mampu melepaskan gelas dari tangan Kak Chita dalam sekali cengkram.

Ronda bangkit dari duduk menudingkan kepalan tangannya kepada Kak Chita

” JANGAN KAMU COBA MENYIRAM PACARKU BITCH! ATAU TANGANKU INI AKAN MEROBEK MATAMU!.”

BERSAMBUNG