CONCHITA Part 8

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10

Cerita Sex Dewasa CONCHITA Part 8 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Cerita Sex Dewasa CONCHITA Part 7

“THE SPECIAL ONE”

” AS WE SAY IN PORTUGAL, THEY BROUGHT THE BUS AND THEY LEFT THE BUS IN FRONT OF THE GOAL.”
JOSE MOURINHO

I once had a Girl, or should I say, she once had me
She show me her room, isn’t good, Norwegian Wood?

She asked me to stay and she told me to sit anywhere
So I looked around and I noticed there wasn’t a chair

I sat on the rug, biding my time, drinking her wine
We talked until two and then she said, “it’s time for bed”

She told me she worked in the morning and started to laugh
I told her I didn’t and crawled off to sleep in the bath

And when I awoke I was alone, this bird had flown
So I lit a fire, isn’t good Norwegian Wood?

SATU HARI SEBELUMNYA

Lirik lagu The Beatles Norwegian Wood terdengar di kepalaku saat duduk termenung sendirian di sela-sela latihan terakhir Norwich. Kami akan menghadapi Newcastle besok di St James Park. Seharusnya pertandingan ini akan menjadi pertarungan berat. Newcastle terkenal tangguh saat bermain di kandangnya. Masalahnya pada saat bersamaan juga akan dihelat sebuah mega petarungan dahsyat antara Holly Holm melawan Ronda Rousey. Pikiranku terbelah. Dua pertarungan berat di hari yang sama. Satu melibatkan diriku sendiri, satunya melibatkan Ronda.

Bagiku latar belakang peristiwa pada hari minggu dan senin malamlah yang menghadirkan lagu Norwegian Wood ke dalam pikiran. Seorang wanita “Juara” tiba-tiba hadir berteriak pada dunia bahwa ia telah memilikiku sebagai kekasihnya. Bukan hanya berteriak, ia juga mengajakku masuk ke pekarangan Octagon UFC memintaku agar benar-benar “duduk” di kursi mana saja yang aku suka. Berusaha menyenangkannya, aku masuk ke dalam, melihat sejenak kemudian terkesima menyadari tidak ada satu bangku pun disana yang tersedia untukku.

Seluruh bangku tersedia hanya bagi para petarung UFC. Mereka memiliki latar belakang, sejarah, niat, motif, dan yang paling penting “kepentingan” di sana. Sebuah kepentingan bisa membuat ucapan menjadi tameng pembenaran sebuah tindakan. Kuambil contoh perkataan Ronda sendiri mengenai Sex. ” I try to have as much sex as possible before I fight,” katanya.

Perkataannya memancing banyak sekali interprestasi dan tameng pembenaran yang mengatasnamakan kepentingan. Kuhitung secara garis besar ada lima kemungkinan dari ucapannya berikut kenyataan yang ada di baliknya.

Pertama ; bagi Ronda sendiri bisa jadi ia memang maniax sex.

Dua ; masih bagi Ronda, ucapan ini hanya sebuah pengalih perhatian dari strateginya yang telah dipersiapkan menghadapi pertarungan.

Tiga ; bagi petarung laki-laki, ucapannya berarti undangan, siapa tau mereka beruntung akan mendapatkan jackpot berupa puluhan sex bersamanya bila berhasil menjalin hubungan bersamanya.

Empat ; masih bagi petarung laki-laki yang jago berdiplomasi,ucapan Ronda merupakan peluang mendapatkan popularitas. Cukup mengatakan ia pernah tidur bareng Ronda otomatis akan membawanya kepada gerbang ketenaran. Lima ; bagi petarung wanita, ucapannya menjadi penegas bahwa Ronda Rousey bukanlah lesbi seperti banyak digosipkan.

Aku sebagai pemain bola professional biasa tidak merasa memiliki kepentingan dari ini semua. Ada banyak wartawan infotainment mengatakan aku mendapat keuntungan akibat kedekatanku bersama Ronda. Kutegaskan pernyataan ini tidak benar. Sama sekali aku tidak memerlukan popularitas dari dunia UFC.

Cukup sepak bola saja sudah membuatku tenar tanpa harus ada embel-embel lainnya. Malahan kedekatanku bersama Ronda mengancam hubunganku yang sebenarnya dengan Kak Conchita Caroline. Kekasihku nan cantik jelita ini sudah tidak mau membalas usahaku berkomunikasi dengannya. Yang lebih parah, serangan ” Saving Conchita Caroline” oleh para Netizen Indonesia sudah terasa benar-benar menggangguku.

Alih-alih untung aku malah buntung. Jadi sesuai lagunya Norwegian Wood aku memutuskan bahwa tidak ada bangku bagiku disini. Hanya karena dorongan Ronda yang terus memaksaku agar mendampinginya, terpaksa kududuk di tikar sembari menghirup kenyamanan ketenaran sesaat. Ketenaran karena dekat dengannya.

Sialnya sekarang hubungan kami bukan hanya sekedar dekat tapi berkembang sangat intim. Sejak hari minggu sudah beronde-ronde dan berliter-liter cairan sperma maupun semen yang tertumpah akibat persenggamaanku dengannya. Sedahsyat apa pun kenikmatan yang terjadi, waktu pasti tak mau kempromi, hingga kemarin Ronda mengatakan, ” Budi sudah malam, aku besok ada acara timbang badan, mari kita tidur.”

Lucu, ucapan yang seharusnya penuh tekanan ia sampaikan sambil tertawa. Bagiku tawanya mengandung dua makna ; Barangkali ia tegang sekali sehingga tertawa atau ia ingin lanjut melakukan sex karena telah ketagihan melakukannya bersamaku namun waktu sudah tak memungkinkan. Penafsiran kedua ini menyadarkanku, ucapannya tadi merupakan usiran secara halus. Jadilah aku bangkit mengenakan bajuku kembali dan mengatakan padanya aku akan tidur di sofa malam ini.

Ronda terlihat kecewa. Raut wajahnya benar-benar muram. Masalahnya melihatku telanjang selalu membuatnya horny kembali. Keputusanku pindah ke sofa merupakan solusi terbaik.

Hari selasa pagi aku bangun terlambat akibat kelelahan. Sehabis melayaninya bermain, tubuhku terasa “kopong” semua. Waktu ibadahku saja nyaris terlewat kerena matahari hampir saja terbit secara sempurna. Untunglah aku masih sempat ibadah seorang diri tanpa adanya sosok Ronda di ranjang. Ia sudah pergi.

Barangkali lari pagi. Yang jelas ia sudah tidak ada di kamar. Sehabis berdoa aku bangkit menyalakan perapian sambil bergumam dalam hati, ” imagine Lennon peristiwa hidupku ini bukankah sangat mirip lagunya Norwegian Wood??.”

***

Selain lagunya The Beatles, langkah kakiku di hari selasa ini juga memikirkan kaitan antara cinta segi empat yang kujalani dengan bukunya Haruki Murakami berjudul sama ; Norwegian Wood. Buku ini mengangkat kisah cinta segi tiga antara Toru Watanabe, Naoko dan Midori Kobayashi. Lucunya baik Naori mau pun Midori, tokoh utama wanita dalam ceritanya Haruki, sama seperti dalam kehidupanku memiliki karakter aneh, saling bertolak belakang dan betul-betul berbeda.

Kak Chita cerdas, masih menjunjung tinggi budaya ketimuran dan tentu sangat feminin. Amber ia wanita luar biasa, Miss England, mandiri, menguasai sejarah Inggris secara mendalam namun secara emosional tidak stabil. Ia pernah kutemukan mabuk minuman keras, juga mudah sekali ngambek karena alasan sepele dan menggunakan kemampuan manipulatifnya untuk membuat orang lain ngambek padaku.

Terakhir Ronda, aku harus bilang apa tentangnya, dia dominan, “berangasan” serta tak segan “memiting” siapa saja yang berani macam-macam dengannya.

Terlibat cinta segi tiga seperti Toru Watanabe saja sudah susah, bahkan salah satunya harus berakhir tragis, apalagi cinta segi empat. Aku mengkhawatirkan karakter mereka yang saling bertentangan ini dan sangat mengantisipasi pertemuan tiba-tiba diantara mereka yang kuharap tidak akan pernah terjadi.

Satu kesamaanku dengan Watanabe ; kami sudah pernah meniduri semua wanita ini tanpa pernah mempertemukan mereka. Bila seorang laki-laki berani meniduri seorang wanita pastilah ia telah siap memasuki sebuah zona emosional aneh yang menjadi trade mark para kaum Hawa.

Hubungan seksual bukan hanya masalah masuknya alat kelamin laki-laki ke kelamin wanita. Definisi sesempit ini hanya membuat kita menjadi sama seperti anjing, kucing, atau monyet di pinggir jalan. Hubungan seksual laki-laki dan wanita membuat mereka terhubung secara emosional. Hubungan ini begitu emosional hingga sering menghasilkan ending bahagia selama-lamanya ataupun duka lara seumur hidup.

Sigmund Freud pakar psikologi klasik mengatakan ” pertanyaan terbesar yang aku tidak pernah bisa jawab meski pun sudah mengadakan riset selama tiga puluh tahun adalah ; apa sebenarnya yang diinginkan oleh seorang wanita?. Sebegitu membingungkannya kah seorang wanita??. Sedalam itukah perasaan mereka hingga riset selama tiga puluh tahun gagal menemukan apa sebenarnya yang mereka mau??. Rasanya, berkaca pada pengalamanku sendiri, wanita memang benar merupakan mahluk paling misterius di muka bumi.

Semula, terpengaruh oleh fantasi seksualku sendiri, aku beranggapan wanita hanya ingin dipuaskan oleh sebuah hubungan seksual yang panas, bergelora, dan membutuhkan sebuah alat kejantanan ekstra panjang yang bisa mengalahkan panjangnya kejantanan kuda. Timbul pertanyaan mengapa ketika semua itu telah disediakan termasuk obat-obat pembesar kelamin, wanita masih saja lebih dari 75 persennya gagal mendapatkan orgasme??. Apa yang salah sebenarnya??.

Aku cukup beruntung bisa membuat mereka bertiga melalui kejantananku yang tidak panjang-panjang amat, mengalami orgasme. Sayangnya sekali orgasme sudah cukup menyeretku tenggelam dalam permainan konflik perasaan tak berujung. Lebih parah lagi ketika nikmat orgasme yang mereka dapatkan bertambah, makin berlipat gandalah permainan perasaan yang terjadi. Anehnya sebagai laki-laki kami selalu takluk saat si wanita membawa drama perasaannya mempengaruhi kehidupan kami.

***

Ronda Rousey datang lagi siang hari ini sehabis aku beres latihan. Sama seperti sifat cenayang Amber, ia seperti tau tak akan ada jadwal latihan sore bila pertandingan akan dilangsungkan besok. Dia datang ke stadion masih bersama Bodyguarnya, membuat Deliah, pemilik Norwich, tergopoh-gopoh menyambutnya dan memintaku menemaninya. Aku tak bisa menolaknya. Entah kenapa. Aku hanya menurut saja menemaninya hadir di acara timbang badan di Kota Manchester.

***

Acara timbang badan Holm vs Rousey menyedot perhatian publik. Banyak sekali orang menghadiri acara ini. Kebanyakan mereka hadir hanya agar bisa melihat Ronda atau Holm mengenakan pakaian two pieces mereka. Timbang badan memang memerlukan pakaian seminimalis mungkin dari para kontestas agar keakuratan datanya optimal. Para petinju sehebat Mayweather dan Pacquaio biasa mengenakan celana dalam saja ketika sesi ini berlangsung.

Sektor petarung wanita tentunya tidak memungkinkan hanya mengenakan celana dalam saja. Mereka biasa mengenakan bikini. Terkadang malahan terlihat sexy sekali. Banyak video di unggah di Youtube oleh para hadirin menunjukkan betapa sexynya momen ini bagi sebagian orang.

Untuk Ronda sendiri momen timbang badan terasa emosional. Lebih emosional dari kemarin saat acara Meet and Greet. Aku merasakan ia lebih dari hanya sekedar serius. Wajah tirus berpadu tubuh kering berotot sudah cukup membuatnya terlihat sangar, namun ia tidak butuh sekedar sangar, ia memerlukan fokus terhadap sebuah tujuan yang aku belum ketahui.

Sebagai penantang, Ronda tampil duluan. Ia muncul dari balik backstage mengenakan kaos Norwich City bernomer 20 dan celana training panjang berwarna biru. Lagi-lagi atribut yang lekat diasosiasikan denganku membuatnya mendapat applause. Melepas kaos secara sopan ia turunkan trainingnya memamerkan tubuh terlatihnya. Sport bra warna hitam dikenakannya bersamaan CD sport berwarna sama. Tubuhnya betul-betul kering sekarang. Tirusnya wajah serta guratan urat di otot menunjukkan Ronda sudah siap.

Sehabis menimbang, panitia menyebutkan berat badan Ronda 60 KG. Sebuah berat badan ideal di kelas bantam tempatnya berlaga. Kelas ini merupakan kelas bergengsi di level wanita sama seperti kelas berat di level laki-laki. Namun demikian meski terlihat siap, tanpa sabuk juara Ronda terlihat canggung. Kehadiran kostum The Cannaries setidaknya bisa menggantikan sabuk juara yang pada akhirnya membuatnya kembali luwes.

Holm tampil sesudah Ronda. Bajunya atas bawah tampil sama-sama hitam. Wajah Holm juga serius. Otot tubuhnya begitu ramping. Seorang petinju Southpaw yang memiliki otot setirus ini pastilah sangat lincah. Pekerjaan Ronda akan menjadi teramat berat bila aku melihat kesiapan fisik dan mental Holm. Hasil timbangannya menunjukkan angka yang sama. Mereka sama berat, hanya beda tinggi sedikit. Holm lebih tinggi dan langsing.

Seperti biasa kedua atlet sehabis timbang badan diminta saling berhadapan.

Ronda terlihat tenang. Fokus tapi tenang. Tidak terlihat agresif, ia dibawa menghadap Holm. Mereka saling bertatapan begitu dekat. Tangan mereka terkepal siap menghajar wajah masing-masing. Panitia meminta mereka menahan pose selama beberapa detik agar wartawan bisa mengabadikannya.

Ronda menahan diri. Ia tidak terpancing hanya mendekati wajah Holm. Demikian pula Holm meski begitu dekat ia tetap menahan diri. Ketika sesi potret hampir berakhir, tanpa diduga, Ronda, dalam jarak dekat memajukan kepalanya seketika menanduk Holm.

” Bangsat!,” Holm tidak terima ditanduk. Ia berusaha menarik rambut blonde Ronda tapi terlambat. Ronda sudah mundur ditarik oleh Gokor. Panitia yang lain juga bereaksi cepat mengantisipasi aksi saling serang diantara mereka.

” Kamu akan pensiun Bitch! pensiun!,” Holm menuding-nuding.

” Kamu yang akan melacur di pinggir Las Vegas Jalang!,” Ronda berusaha mendekat lagi.

Kedua kubu kembali tegang. Mereka semua masih saja ribut. Sangat gaduh malah. Pihak kapitalis di balik penyelenggaraan acara ini pasti senang sekali melihat drama mereka.

Hanya aku seorang penonton yang merasa tidak kebagian kursi. Hanya beralaskan tikar aku melihat drama mereka. Kaos bertuliskan namaku bisa saja laris sekali esok hari akibat dikenakan Ronda. Akan tetapi ketenaran akankah bertahan selamanya?? bagaimana jika ia berakhir esok hari bersamaan berakhirnya kerier si wanita petarung bermata harimau ini??.

***

” Conchita Caroline…,” ucapan pertama Ronda di mobil ” Siapa dia?? apa hubungannya denganmu??.”

Skak mat keempat bagiku. ” Eeeeehh dia……”

” Pacarmu dari Indonesia??.”

” Ya.”

” Kamu mencintai dia??.”

” Tentu, cintaku untuknya….,” kurangkai symbol cinta di kedua tangan ” disini tempatnya,” kuletakkan tanda cinta di dalam hati.

” Huuuf Bullshit! palingan cuma cinta monyet anak kecil!,” tudingannya terasa menyakitkan.

” Enak saja, aku sungguh-sungguh mencintainya.”

” He he,” Ronda tersenyum aneh.

Aku kehilangan minat bicara. Dituding cinta anak kecil membuatku muak. ” Tau darimana kamu soal namanya?,” walau kesal rasa penasaran di hatiku tentang bagaimana cara ia mendapatkan nama Kak Chita membuatku bertanya.

” Dari Instagramku. Sebagian besar orang Barat mendukungku pacaran sama kamu. Tapi orang Indonesia menghujatku membawa-bawa namanya, membuatku muak.”

” Kenapa kamu harus muak?? kamu seorang bintang besar di dunia, Kak Chita hanya bintang di Indonesia.”

” Huff Mendengar namanya saja sudah cukup membuatku muak,” Ronda membuang muka.

Rasanya aku melihat sebuah kecemburuan di balik sikap cueknya. Ronda Rousey cemburu. Kondisi ini berbahaya. Bukunya Murakami “Norwegian Wood” tidak pernah mempertemukan antara Naoko dan Midori. Teknologi tidak bisa mempertemukan mereka ketika itu.

Sekarang berbeda. Teknologi bisa menghubungkan kita semua. Bagaimana jika Naoko dan Midori pernah bertemu sebelumnya lewat Instagram??. Apakah Naoko, cinta pertama Watanabe, dapat dicegah dari hara-kiri akibat ketidakstabilan emosinya menyadari betapa berartinya Watanabe di mata wanita lain??.

Celakanya, dan ini yang kurasakan gejalanya mulai ada, Watanabe akhirnya menyadari Midori, wanita keduanya, justru yang merupakan cinta sejatinya. Membayangkan aku akan meninggalkan Kak Chita untuk lebih memilih Ronda atau pun Amber cukup membuatku ngeri.

Yang aku takutkan sosok manipulative Amber atau pun dominatifnya Ronda sangatlah kusukai. Kedua sifat mereka membuat hidupku lebih bermakna dibandingkan hubungan jarak jauhku bersama Kak Chita yang makin tak karuan.

***

SEKARANG- STADION ST JAMES PARK

Menghidupkan kembali Jogo Bonito menjadi sebuah kemegahan tersendiri. Berhasil menyamakan kedudukan secara spektakuler membuat angin pertandingan berubah sepenuhnya. Sebuah pertandingan sepak bola sangatlah ditentukan oleh angin pertandingan. Meski bertanding di kandang lawan, sebuah tim yang terus diserang bahkan sampai tertinggal terlebih dahulu, bila berhasil mendapatkan angin akan mampu merubah jalannya pertandingan.

Kami tidak otomatis menang. Pertandingan masih menyisakan lima belas menit lebih, Newcastle masih liat bermain, namun setidaknya kendali pertandingan sudah berada di kaki kami. Bola berhasil kami oper begitu baik antar pemain. Sekarang aku mengirim bola pada pemain sayap Robbie Brady. Berputar-putar Brady berusaha melewati Daryl Janmaat fullback Newcastle. Gagal. Janmaat terlalu tangguh. Brady mengoper pada Alfred yang tanpa membuang waktu memindahkan arah serangan ke sisi sebelahnya.

Winger Nathand Redmond menerima bola lambung. Ia menahan bola sejenak, berusaha melewati Paul Dummet yang masih terlihat akan dibantu Coloccini. Tak mau ambil resiko kehilangan bola Redmond mengoper padaku yang telah bersiap melakukan umpan segitiga. Alfred sebaliknya dari posisi memberi umpan lambung tadi sudah berlari vertical masuk ke kotak penalty bersiap melakukan permainan segi tiga kedua bersama Redmond.

Aku menerima bola, berhenti sebentar mengitung jarak dan waktu sebelum melepas umpan diagonal mendatar membalikkan bola pada Redmond. Dummet berhasil terlewat tapi tidak Coloccini. Ia menutup ruang Redmond. Rivalitas mereka sudah panas sedari tadi. Redmond tidak mau mengoper bola, ia malahan mengajak Coloccini berlomba lari.

Sebagai winger tentu saja Redmond mahir berlari sprint satu lawan satu dibanding Coloccini. Dibuangnya bola ke depan meninggalkan kotak penalty, Coloccini awalnya bisa mengimbanginya tapi semakin jauh jarak ia makin tertinggal hingga pada sebuah titik sedikit di luar kotak penalty, tertinggal jarak dua langkah dan emosi akibat diledek sebelumnya, Coloccini mengambil kaki Redmond dari belakang.

Diganjal secara brutal membuat Redmond terjatuh terguling-guling langsung berteriak kesakitan. Wasit segera meniup peluit, dia berlari mendekati Coloccini akan memberikan hukuman tapi Alfred tiba lebih dulu. Berlari vertical memang membuatnya sebagai pemain Norwich berposisi paling dekat. Melihat teman setimnya terjatuh, Alfred panas ia datangi Coloccini dari belakang lantas menarik kerahnya dan menariknya.

” BABI KAMU!,” Alfred memaki ” KAMU MAU BIKIN PATAH KAKI TEMANKU APA??? KITA SAMA-SAMA MAIN BOLA DISINI BARU KAMU MAIN MACAM ANJING SEKALI!.”

Coloccini pasti tak paham makian Alfred tapi ia berusaha keras membalas. Sayangnya genggaman tangan Alfred begitu kuat. Alfred sempat memaki lagi beberapa kalimat sebelum didatangi oleh pemain Newcastle lain. Dorongan dua orang pemain membuat pegangan tangan Alfred terlepas. Dua pemain Newcastle ini berusaha menyerang Alfred.

Melihat Alfred diserang membuatku panas. Kudekati mereka berdua kudorong salah satunya sedang Alfred mendorong pemain sebelahnya. Saling dorong dan maki tak terhindarkan. Seluruh pemain saling ribut sampai akhirnya wasit bisa berteriak melerai kami semua. Tegas wasit melerai mereka, menjauhkan pihak yang tidak berkompeten lalu memisahkan aktor intelektual dari keributan ini.

” You number 2,” tunjuknya pada Coloccini ” Intensional Foul, red card!,” melihat wasit mencabut kartu merah pada kapten kesebelasan mereka membuat penonton murka. Mereka mencaci wasit.

” You number 24, unnececcary foul, yellow card!.”

Apalagi setelah melihat Alfred, yang mereka anggap juga menjadi biang keributan hanya mendapat kartu kuning, membuat seluruh Stadion St James Park terjebak dalam atmosfer negatif.

***

Kami gagal mengoptimalkan tendangan bebas. Kedudukan masih sama kuat 2-2. Kuperhatikan penonton makin keras mengintimidasi kami khususnya Alfred. Mereka mem-“boo” Alfred setiap memegang bola. Aku belum bisa mendengar secara jelas namun sayup-sayup kudengar ada suara penonton yang menirukan suara kera setiap Alfred membawa bola. Sebuah isyarat rasialisme tengah terjadi.

Inggris sebagai salah satu pemilik Liga Sepak Bola terbaik tidak mampu menghindari kasus rasialisme. Sejak tahun 2012 tercatat terjadi lebih dari 350 kasus rasialisme. Salah satu yang paling terkenal terjadi ketika fans Chelsea menolak seorang penumpang kulit hitam menaiki kereta bawah tanah di Paris.

Lebih dari 350 kasus menimpa berbagai Tim dari kasta tertinggi hingga terendah hanya dalam tiga tahun terakhir. Rasialisme di Inggris bukan hanya masalah warna kulit tapi merambah ke masalah Negara, Keyakinan hingga latar belakang perjalanan karir si pesepak bola.

Coach Neill yang sudah bisa mendampingi kami di pertandingan ini beberapa kali sudah menegur official pertandingan akibat mendengar nada suara yang sama denganku. Akan tetapi karena suara bernada kera yang didengungkan penonton begitu samar, official pertandingan juga tidak mau mengambil sebuah tindakan tegas. Alfred sendiri terlihat professional. Dia tidak emosi menerima begitu sabar cemoohan penonton. Dia tetap tampil tenang berusaha memimpin Norwich menuju kemenangan.

Sayangnya emosi Alfred harus meledak di menit 85. Sebagai ahli bola lambung, kami mengutusnya mengambil tendangan sudut di sebelah kanan lapangan permainan. Sisi ini merupakan basis pendukung Newcastle. Melihat Alfred datang, para penonton serempak mem-boonya keras.

Berdiri disamping asisten wasit, Alfred mulai bisa mendengar jelas suporter garis keras Newcastle mendengungkan suara rasis. Alred gusar. Dia menatap asisten wasit meminta perlindungan. Asisten diam saja. Alfred berbalik hendak mengajak ribut penonton yang mendengungkan suara itu. Suara pengecut itu tentu saja tidak menampilkan siapa sebenarnya pelakunya. Si pelaku asyik bersembunyi di antara lautan penonton lainnya.

” Alfred ganti! aku yang tendang!,” aku sadar betul kondisi ini segera berlari menghampirinya.

” Kaka mereka rasis sekali! kita lapor sudah ke panitia,” Alfred mendekat berbisik kepadaku.

” Nanti kita lapor, sekarang kau masuk dulu ke kotak penalty!,” perintahku yang langsung dipatuhinya.

Hatiku panas. Emosiku sampai di ubun-ubun. Suara itu benar adanya. Tak berhasil memancing Alfred kini mereka melakukan hal yang sama terhadapku. Kuundurkan langkah bersiap menendang bola. Tepat saat aku hendak maju kulihat dari arah belakang satu buah pisang masuk ke lapangan tepat di sebelahku. menghentikan langkah sejenak kuambil pisang itu lalu maju lagi menendang bola sambil menggengam pisang kuning.

Bola tendanganku kubuat sama seperti malawan Thailand di Gelora. Tendanganku membentuk sudut cembung melintas keluar dari titik tendang pertama kemudian meluncur ke antara pemain. Kiper Tim Krull memperkirakan bola akan kukirim pada Bassong bek senior kami yang naik membantu serangan.

Karena sudutnya cembung bola dari sudut luar kemudian tertarik menuju titik dalam tepat di saat Krull bergerak maju. Tak percaya bola berubah arah Krull mencoba membalikkan langkahnya menuju gawang. Postur jangkung Krull yang 193 cm sialnya menjadi penghambat utama saat dia melakukan perubahan arah secara tiba-tiba. Krull terselip kaki terjatuh sebelum bisa menuju gawang. Bola tendanganku meluncur semakin deras tertarik masuk ke ke gawang. Dua pemain Newcastle yang berdiri di tiang jauh berusaha menahan bola namun bola terlalu cepat menukik masuk membelah mereka dan masuk di tengah jala.

3-2 Penonton di belakangku terdiam.

Kamera berada tak jauh disampingku. Kumelangkah santai bebarengan kejaran para pemain Norwich yang sadar gol telah tercipta dan berusaha merayakannya bersamaku.

” Kak Conchita senang pisang kuning,” ujarku menuding penonton. ” Tapi tidak pisang berbau rasial seperti ini,” kukupas pisang itu lalu kumakan ujungnya dan kulempar begitu saja ke arah penonton tuan rumah. Habis ini mereka pasti murka terhadapku. Aku tak ambil pusing. Yang jelas sikap rasialis tadi keterlaluan.

***

Sehabis gol ketiga permainan Norwich menggila. Seluruh tim tersengat akibat aksi rasialis pendukung Newcastle. Kami tidak terima karena di tim kami sekarang ada enam orang pemain berkulit hitam. Bassong, Wisdom, Jerome, Alfred, Redmond dan aku sendiri. Kulitku sebenarnya sawo matang sama seperti kebanyakan orang Indonesia, namun melihat aksi rasialis mereka terhadapku mereka pasti juga menganggapku memiliki kulit berbeda. Persoalan rasialisme memang tidak pernah mau hilang dari sepak bola.

Kecuali di Negeriku. Di sana setiap pemain bola dari mana saja bisa bermain tanpa harus khawatir dicemooh karena berbeda. Warna kulit, bahasa, agama, suku, ras tidak berarti bagi para penonton di Negeraku. Mereka kebanyakan bermasalah hanya pada sentimen sejarah klub dan rivalitas tertentu di antara lawan yang khusus.

The Jak vs Viking lebih didasari pada fantisme kepada klub bukan kepada perbedaan fisik individu. Itulah sebabnya menemukan kelakuan diskriminasi pada warna kulit merupakan sebuah hal paling memuakkan.

Seluruh pemain Norwich muak. Kami bermain makin beringas memanfaatkan keunggulan jumlah pemain. Total dua gol tambahan berhasil kami cetak dalam waktu lima menit plus empat menit injury time memperbesar keunggulan kami menjadi 5-2. Nathand Redmond pemain muda potensial Inggris memborong keseluruhan gol tambahan sekaligus menjadi Man of the Match dari pertandingan ini.

Redmond merupakan pemain berkulit hitam dan dia merupakan Warga Negara Inggris. Kala diterjang oleh Coloccini, Redmond melihat Alfredlah yang membelanya pertama kali. Merasakan langsung bagaimana sikap penonton kepada Alfred membuatnya panas lalu bermain sebaik mungkin untuk membungkam penonton stadion St James Park.

” Aku pikir FA harus mengadakan investigasi mendalam terkait kejadian ini,” ujar Redmond saat sesi wawancara.

” Soal rasialisme??.”

” Betul apa kalian tidak merasakannya??.”

” Kami sudah mewawancarai wasit juga official pertandingan, mereka mengatakan tidak mendengar suara bernada rasialis dari bangku penonton.”

” Kalo pun tidak mendengar, apa kalian tidak bisa melihat pisang di lempar ke dalam lapangan??,” Redmond melirik kepadaku menampilkan mimik heran

***

SATU HARI SEBELUMNYA

” Wartawan pernah menggosipkanmu lesbi Ronda apa itu benar?.”

Kami sudah tiba kembali di Villa. Semua tim Ronda sudah siap rapat terakhir menjelang pertarungan besok. Ronda ingin agar aku hadir. Jadilah sekarang aku berjalan bersamanya menuju ruang meeting sambil mengajukan pertanyaan paling bodoh di dunia.

” Kamu sudah pernah “nge-seks” denganku lebih dari 24 ronde gimana menurutmu?? pertanyaan bodoh khas anak kecil,” Ronda cuek terus berjalan lurus ” Itulah yang membuatku ragu akan cintamu sama si jalang Conchita.”

” Hei panggil dia saja Conchita bukan…..”

” Terserah aku mau memanggil si jalang itu apa,” dia berhenti menunjuk wajahku ” yang jelas cintamu masih cinta monyet.”

Ronda kembali berjalan.

” Tau darimana cintaku hanya cinta monyet??.”

” Lihat pertanyaanmu tadi padaku soal lesbi?? sudah jelas kamu menikmati tubuhku berkali-kali masih saja menanyakan pertanyaan murahan macam itu. Itulah yang kusebut pertanyaan anak kecil, belum dewasa, masih kekanakan.”

” Walau kekanakan kelihatannya kamu suka padaku.”

Pertama kalinya aku merasa bisa membuatnya mengalami skak mat.

” Benar aku suka padamu. Itu masalah buatmu??.”

” Tidak,” aku mengangkat bahu ” Masalahnya kenapa kamu suka sama anak kecil sepertiku??.”

” Aku suka karena……,” Ronda terdiam sejenak seperti tersadar ” pokoknya aku suka kamu..itu aja gak usah banyak nanya…..”

Skak matku diselamatkan oleh lonceng pertandingan. Saved by the bell. Ronda selamat karena ruang meeting sudah di depan mata. Terpojok oleh seranganku ia ngeloyor masuk ruangan pertemuan menghindari kejaranku.

***

” Apa maksud kalian mengatakan peluangku menang kecil??.”

Ronda terdengar kecewa menyimak review terakhir timnya mengenai pertarungan besok. Tim Ronda bekerja begitu baik menurutku. Mereka melakukan segala pendekatan guna mendapat hasil terbaik memperkirakan apa yang akan terjadi besok. Mulai dari statistik, virtual reality hingga rekaman mata-mata latihannya Holm telah digunakan untuk mendapat sebuah kesimpulan; Ronda bakal kalah.

” Ronda kami harus jujur,” ketua tim Ronda Jessamyn Duke membuka suara. Sebagai mantan petarung ia memiliki wibawa yang membuat Ronda segan padanya ” Waktu, merupakan permasalahan terbesarnya. Kita belum menemukan cara mendekatkan jarakmu melawan Holm.”

” Sudah lebih dari satu tahun Jessse apa lagi yang kau butuhkan??.”

” Seandainya satu tahun murni kamu gunakan berlatih pastilah hasil reviewnya tidak seperti ini. Dua film besar Hollywood, serangkaian sesi pemotretan, serta semua acara selebrity lainnya menyita waktumu terlalu banyak. Kamu datang kesini sudah kelelahan.

Ambisimu besar mengalahkan Holm, namun kamu kelelahan,” Jesse berhenti sejenak ” Untung kita memilih Norwich sebagai kamp latihan, hingga kamu bisa lebih refresh dan ehmmm mendapat pacar baru,” seluruh anggota Tim melirik kepadaku sembari tersenyum menggelikan ” tapi secara keseluruhan progress kita sangat lambat. Sengaja aku mengumpulkan kita semua pada malam hari ini agar mendapat sebuah pencerahan tentang solusi terbaik apa yang bisa kita perbuat besok.”

Seluruh Tim terdiam. Ronda juga terbisu menatap Gokor yang masih bersedakep.

” Siapa pun di ruangan ini kuminta memberikan pendapatnya secara pribadi,” Jesee menunjuk seluruh hadirin “dimulai dari kamu Gokor!”

Sang pelatih berdiri kemudian menyampaikan permohonan maaf karena mengetahui dirinya kesulitan bicara ia minta agar diijinkan asistennya saja yang membacakan penilaiannya di secarik kertas. Gokor menilai peluang Ronda sangatlah besar. Sebuah petarungan tidak bisa diukur dari statistic hitung-hitungan maupun teori mutakhir. Sebagai praktisi bela diri Gokor beranggapan yang menentukan menang atau tidaknya tergantung pada diri si petarung sendiri.

Para hadirin lain memberikan penilaian beragam. Ada yang menyarankan menyerang dari detik pertama agar mendapatkan momentum. Pendapat ini segara dibantah oleh mereka yang beranggapan hal ini sudah dicoba pada pertarungan sebelumnya tanpa hasil apa pun. Sebagian lagi beranggapan agar Ronda tidak terlalu agresif, bersikap lebih sabar dan menunggu serangan. Ronda membantah keras pendapat ini kerana ia sama sekali tidak mau mengambil peran Holm dalam pertandingan sebelumnya dan malahan menyerahkan posisinya yang senang menyerang pada musuh bebuyutannya.

Saling silang pendapat terus bergemuruh hingga tiba giliranku bicara.

” Ok…sekarang giliran Budi….,” Ronda memotong Jesse dan berbisik kepadanya ” maksudku giliran pacarnya Ronda yang bicara silakan,” Jesse bicara setelah diinterupsi.

Seluruh anggota tim terlihat senang mendengar Ronda mendapat pacar di tanah Inggris.

Melawan lagunya Norwegian Wood aku berdiri mencoba bicara. Meski tidak kebagian bangku setidaknya kehadiranku malam ini berguna.

” Keterbatasan perspektif,” kalimat pembukaanku langsung menarik perhatian hadirin ” kita semua asyik berdebat dengan keterbatasan perspektif kita masing-masing,” sengaja aku bicara penuh semangat agar Ronda berhenti menilaiku sebagai anak kecil. ” Besok hari pertandingan, Ronda perlu solusi dan kita malah asyik berdebat,” sekarang aku menatap mata mereka satu-satu ” saranku besok Ronda harus melakukan sikap Ritsurei.”

Pemegang sabuk hitam Dan 4 Judo mendelik pertama kali.

” Hormat pada lawan. Menghargai Holm secara individu……”

” Kenapa aku harus menghormati si jalang itu???.”

Diinterupsi Ronda secara keras membuatku menatapknya ” Agar kamu mengatasi keterbatasan perspektifmu. Menghormati lawanmu tidak akan mengalahkanmu. Malahan sikap menghormati akan membuatmu melihatnya apa adanya jauh dari tambahan-tambahan seperti review malam ini,” berhenti sejenak aku menunjuk diriku sendiri ” tidak seperti kalian para ahli bela diri. Aku hanya pemain soccer. Aku pernah mengalami situasi seperti ini. Situasi dimana seluruh harapan sirna. Bukan hanya harapan tapi lawan didepan kita seakan menjadi raksaksa akibat pikiran kita membesar-besarkannya” lembut kutatap wanita garang di depanku “Ronda kamu hanya perlu menghormati lawanmu…mencari sudut terjauh dari Octagon untuk bisa melihat sebuah persoalan sebagaimana adanya. Aku yakin kamu bisa memenangkan pertandingan dengan cara ini.”

***

” Aku harus pulang malam ini, besok pagi sekali kami harus berangkat ke Newcastle,” ujarku mencoba berpamitan pada Ronda sehabis meeting.

” Kamu pasti hadirkan di pertarunganku???.”

” Mudah-mudahan.”

” Kamu harus hadir!.”

” Pendukungmu banyak Ronda kenapa sih aku harus hadir??.”

” Kamu berbeda.”

” Berbeda apanya?? para selebrity sahabatmu mulai dari The Rock, Stalone, Stataham, hingga Wesley Snipes katanya akan hadir semua melihat pertarungan besok.”

” Mereka tidak aku sayangi seperti aku menyayangi kamu.”

Aku mendengar jawabannya merasa terkena skak mat berikutnya ” kamu belum pernah menjawab secara jelas kenapa bisa menyayangiku? seorang anak kecil.”

” Itu tidak penting, yang penting aku sayang.”

Menggaruk-garuk kepala tidak mengerti ucapannya aku merapihkan tas bersiap berangkat. Benar juga Sigmon Freud mengatakan kebingungan terhadap wanita meski sudah meriset lebih dari 30 tahun ; mereka betul betul sulit dimengerti. Definisi sayang para wanita amat berbeda dari kebanyakan laki-laki. Juga alasan dari balik rasa sayang itu kebanyakan tidak bisa diduga.

” Jangan pergi,” rengeknya melihatku bersiap memakai sepatu.

” Harus Ronda, besok aku bertanding sama sepertimu.”

Ronda maju mendekatiku lantas memelukku erat. Mendapatinya memelukku membuat perasaan tidak enak mulai menjalar. Aku mulai tidak enak meninggalkannya tapi tuntutan profesi tentu saja tidak mengijinkan.

” Tinggalah malam ini, besok supirku mengantarkan kamu langsung ke Newcastle,” masih dicoba merayuku.

” Tidak bisa seperti itu, sepak bola olah raga tim bukan individu. Kami sangat memerlukan kebersamaan lebih dari segalanya.”

Melihatnya murung membuatku mencium bibirnya. Mengharap agar setidaknya bisa menenangkan hatinya. Ronda menyambutku bersemangat sekali membuatku khawatir lagi-lagi ia menginginkan lebih dari sekedar ciuman.

” Ronda cukup…..,” kulepas ciumanku ” aku harus…”

” Aku tau…tapi ijinkan aku sebentar untuk menikmatimu boleh kan??,” ia mengerling nakal memegangi tanganku lalu membanting tubuhku hingga terpelanting jatuh ke karpet besar di ruang utama. Aku berusaha melarikan diri tapi ia sangat cepat mengunci tubuhku. Ditungganiya tubuhku lalu diciumi bibirku dalam keadaan ia menindihku.

” Aku mau main-main ke bawah sebentar Budi.”

Ronda tertawa nakal. Aku mengangguk saja membiarkan apa yang menjadi keinginannya. Turunlah ia ke bawah. Dibetotnya celana panjangku berikut dalamannya lalu dibuangnya jauh-jauh. Cepat ia datangi batang kejantananku dengan bersemangat. Tepatnya sangat bergairah. Lidahnya cepat bermain melumuri setiap senti dari batang kejantananku. Tidak ada yang terlewat. Ditegakkannya tombakku agar mengangkat tinggi sehingga ia bisa melihat detik demi detik transformasinya sejak lembek, setengah keras, keras, hingga keras maksimal.

Ditungguinya sabar kapan tombakku akan keras maksimal. Dilumurinya terus melalui jilatan-jilatan lembut yang tidak menjijikkan tapi berestetika tinggi. Bukan pendekatan oral ala film porno yang mengutamakan air liur dimana-mana sehingga terasa menjijikkan. Hanya sebuah jilatan-jilatan lembut tidak terlalu membasahkan namun cukup menghilangkan kekeringan di kulit kejantananku. Jilatan Ronda terus turun seakan tidak puas hanya melumuri batangnya, disapu pula dua bola penyangga di bawahnya. Kebersihan yang selalu kujaga dibawah sana membuat Ronda begitu bersemangat menelan satu bolaku berganti bola lainnya seketika membuatku merem melek tak karuan.

” Di rumah ini siapa wanita yang paling kamu sayangi???,” pertanyaannya hadir di tengah hisapan.

” Hhhhuuuuhhh tentu kamu Ronda……aaaaaahhhhh.”

Mendengarku mendesah ia memperdalam hisapannya di bolaku.

” Kalo di hatimu siapa yang paling kamu sayangi???,” lagi hisapan datang di bola sebelahnya.

” Haaaaaggghhhh fffuuuccckkk…..Conchita…maaf….Conchita……,” aku tak bisa berbohong.

Ronda kurasakan tersenyum. Ia tidak marah mendengar jawabanku. Alih-alih marah ia malahan makin bersemangat memberikan kepuasan kepadaku. Meski belum ia celupkan tombakku ke dalam mulutnya rasanya sudah tak karuan. Tunggu, kata siapa belum dimasukkan?? sekarang ia memasukkannya dalam-dalam disertai hisapan-hisapan kuat.

” Kita mulai lagi pertanyaannya,” dilepasnya tombakku dari mulutnya sekarang hanya menjilati ujung helmnya ” siapa wanita yang paling kamu cintai sekarang??,” melepas kuluman lidahnya ia menjilati garis lurus pangkal penisku membuatku gila.

” Huuuuhhhh fuuuccckkkkk……..kamu Ronda…..”

“Di hatimu???.”

Aku menggelengkan kepala sebagian karena merasakan nikmat tak terkira, sebagian lagi karena tak sependapat dengannya. ” Con…chita…..tetap Conchita…….”

Lagi-lagi ia tidak marah. Kembali ia celupkan tombakku setengah saja, setengah bagian lagi ia kocok menggunakan tangan. Kocokannya lembut disertai tenaga secukupnya seperti memerah susu, maksudku memerah sperma yang siap dikeluarkan. Laki-laki mana yang tak tahan saat dikocok??. Kami bisa tahan berjam-jam melakukan penetrasi tanpa mengeluarkan klimaks di dalam celah nikmat wanita. Akan tetapi dikocok?? ini seperti aktifitas mastrubasi kami sejak mengenal mimpi basah dan menjadi penanda jelas agar mengeluarkan segala isi di dalam dua bola penyangga dibawah.

” HHuuuuhhhh…..aaaaaahhhhhhh…….aaaaaaahhhhhhh,” kepalaku mulai jatuh bangun tak karuan mendapat serangan nikmatnya Ronda. Ia sendiri begitu menikmati respon dari tubuhku yang menunjukkan keberhasilan hasil keryanya.

Mendekati orgasme selalu membuat pikiranku kacau. Tak bisa berpikir jelas apalagi tangan Ronda telah berhasil mengurut spermaku hingga tiba tepat di ujung pangkal kejantanan.

” Siapa yang paling kamu sayangi Budi?,” ia mempercepat urutannya.

” Kamu uuuuuhhhhhhhhhhh,” aku mengungkit tubuh mulai gelisah.

” Kalo dihatimu???,” urutannya di kejantananku makin cepat.

” Fuuuccckkkkk auuuaahhhh uuuhhhh……”

” Siapa??.”

” Huuuuhhhhhhhhh,” aku tertengadah tak tahan.

” SIAPA??.”

” Ronda……”

” Siapa??.”

” Kamu Ronda…..yang paling kusayang dihatiku……..,” aku menatapnya memelas minta dituntaskan segera.

” Good boy! give it to me honey !,” ia tersenyum mesra menelan pangkal kejantananku lalu mengurut makin cepat.

” AAAAAAAAAAAAAHHHHHHHHHHHHHHHH,” aku sampai.

Semburan pertamaku muncrat langsung ke mulutnya. Ia tidak berusaha menghindar. Sebagai petarung diterimanya muncratanku begitu gagah berani. Mendengar ucapan melanturku akibat mabuk syahwat bahwa ia merupakan wanita yang kusayang membuatnya makin menggila. Dari cepat ia urut pelan kejantananku.

Urutannya pelan disertai tekanan lebih dari sebelumnya membantu keluarnya cairan kental berwarna putih. Tubuhku melunjak seiring keluarnya cairan. Sehabis melunjak aku rebah lagi, Ronda memegangi perut bawahku memberi kenyamanan. Sangat telaten ia melihatku rebah lalu mengikuti tangannya pun ikut turun ke bawah hingga dasar kejantananku dan naik lagi mengurutnya naik. Dia terus mengucapkan kalimat Good boy kepadaku meski ekspresi lepas kontrolku saat ini jauh dari image good boy.

” Ooohhhhhh shiiiitttt………aaaaaaaaaaaaaggggghhh ffffffffuuuuuuuuuuuccckkk.”

Urutan kedua membuat gelombang kedua cairan tertarik naik dan tumpah. Kembali bibir mungilnya menelan habis protein yang tertumpah. Matanya memintaku tak ragu-ragu menumpahkan segalanya. Kepalaku betul betul pusing. Ia membantuku mengungkit empat kali lagi memastikan tak ada lagi sperma yang tertinggal. Setelahnya ia mengelap sejenak lelehan cairan kental yang membasahi bibirnya lantas tidur di sebelahku.

” Good boy…itu baru cowokku,” ujarnya manja kemudian memelukku seakan bisa merasakan badai kenikmatan yang baru saja melandaku.

***

SEKARANG

Alfred tertidur di mobil. Sehabis bertanding kelelahan pasti melanda sekuat apa pun fisik seorang atlet. Kuyakin bagi Alfred pertandingan tadi tidak hanya menguras fisiknya tapi juga mentalnya. Pertama kali menerima perlakuan rasialis pastilah membuatnya sakit hati. Demikian pula yang terjadi di Indonesia. Mendengar kabar Alfred menerima perlakuan rasialis menggerakkan Netizen Indonesia ramai-ramai mendukungnya. Semboyan ” Saving Conchita” yang semula berkumandang kini digantikan oleh semboyan ” Saving Alfred, Say No Ta Racism.”

Begitu besar dukungan para supporter tanah air bagi kami berdua. Sayang rasanya bila kami gagal membahagiakan mereka. Rasa sayang pada para supporter membuatku terus berusaha sekuat tenaga pada setiap kesempatan. Alih-alih beristirahat setelah pertandingan, aku memilih menganalisis bakal calon kami berikutnya berusaha mendapat masukan terbaik. Sebagai pemain Bola, aku sangat terpengaruh pendekatan Kak Chita yang mengedepankan analisa serta keakuratan data.

Lawan kami berikutnya tak main-main Manchester United. Si Setan Merah. Musim lalu, di bulan desember 2015, kami berhasil mengalahkan mereka 2-1 di depan pendukungnya sendiri. Sekarang tentu berbeda. Mereka tidak lagi tim kebingungan yang berusaha mencari identitas. Setelah pengunduran diri Louis Van Gaal mereka merekrut salah satu pelatih terbaik dunia Jose Mourinho. Walau Mourinho juga diberhentikan di tengah jalan oleh Chelsea pada musim yang sama, kebesaran namanya begitu cepat memulihkan kejayaan Manchester United.

” Mourinho merupakan muridnya Van Gaal apa kamu tau itu??.”

Pertanyaan bertipe nyeleneh seperti ini pasti datang dari pembimbing sepak bolaku yang rasanya sudah lama tak kutemui.

” Meneer apa kabar?? lama sekali tak muncul, kemana saja?,” ujarku menjabat tangannya. Lagi-lagi ia secara tak terduga sudah duduk di antara aku dan Alfred di bangku belakang mobil.

” Hubungan antara guru dan murid selalu sangat berpengaruh di pesepakbolaan Eropa,” Meneer membalas jabat tanganku namun meremehkan pertanyaan tak penting lainnya.

Aku terdiam sejenak berusaha menerka-nerka kemana arah bicara guruku ini.

” Mourinho tidak akan mudah kamu kalahkan,” ia menatapku.

Batinku sedikit tertawa mendengar pernyataannya karena siapa juga yang bermimpi mengalahkan MU. Bagi kami menahan mereka di Old Trafford sudah merupakan prestasi besar.

” Meneer, mereka sekarang memuncaki klansmen, kami tak mau bermimpi muluk-muluk.”

” Perbedaan antara pemain bola hebat sama pemain bola “ayam sayur” kayak kamu terletak pada mimipi yang muluk-muluk.”

Panghakiman yang tanpa pandang bulu dimulai.

” Aku bukan ayam sayur.”

” Kalo bukan, coba ceritakan padaku soal Mourinho!”

Sehabis dilecehkan kemudian ditantang tentu membuatku tersengat ingin memberikan jawaban terbaik. Kuingat baik-baik sosok Mourinho serta segala detail yang menyertainya.

” Mourinho berhasil membawa Porto dua kali juara Liga Portugal, tiga kali Premier Legue bersama Chelsea, Dua kali Scudetto dengan Inter Milan, satu kali La Liga ketika bersama Real Madrid,” aku merasa bangga bisa menyebutkan prestasi Mourinho secara akurat ” termasuk dua kali Juara Liga Champions dengan dua klub berbeda Porto dan Inter.”

” Jawabanmu sangat statistik. Sangat Mourinho. Yang kutanyakan apa yang kamu ketahui tentang dia.”

” Dia pelatih hebat??”

” Itu saja??.”

Aku mulai memasuki siklus kebingungan seperti biasa yang selalu kualami saat berbicara bersamanya.

” Pendekatan latihannya menggunakan sains??,” pertanyaan mencoba-coba kulontarkan.

” Tadi sudah kamu sebutkan.”

Mulai kebingungan terpaksa aku menggeleng.

” Menyerah??.”

” Menyerah Meneer aku belum tau apa-apa tentang Mou.”

Meneer Johan menegakkan duduknya. Menyingkirkan bantal ke pangkuan Alfred bersiap berbicara.

” Mourinho merupakan suksesornya Helenio Hererra,” katanya singkat.

Mendengar nama Hererra membuatku tercekat. ” Catenaccio??.”

” Pernah dengar strategi parkir bus??.”

Mendengar strategi parkir bus membuatku cekikikan sendiri di mobil.

” Kenapa kamu??.”

” He he,” aku tidak bisa berhenti tersenyum ” comedian Will Ferell pada akhir tahun 2015 menyerahkan penghargaan GQ Man of The Year Award kepada Mourinho. Di atas panggung ia melontarkan sebuah lelucon yang membuat semua orang terpingkal-pingkal.”

” Apa katanya??,” Meneer penasaran.

” Kata Will kepada Mourinho ; Keep playing defence Man. Keep playing seven guys in the box. I love itu,” sehabis mengucapkan kalimatnya Will Ferell aku tertawa ngakak keras sekali. ” HA HA HA…….,” perutku sampai sakit tak mampu menahan tawa.

Mendengar lelucon Will setidaknya bisa membuat guruku dari Belanda ini tersenyum.

” Ehm cukup tawamu!,” setelah membiarkanku bergembira sejenak Meneer kembali serius ” parkir bus, strategi ini pertama kali mencuat tahun 2004 di Stamford Bridge. Totenham vs Chelsea. Jose Mourinho mengecam strategi pelatih Martin Jol yang memarkir lebih dari tujuh pemainnya di depan gawang sendiri membentuk semacam berikade. Di pertandingan itu Totenham berhasil memaksakan hasil imbang 0-0 melawan Chelsea yang superior. Menurutmu Jol salah memutuskan memarkir pemainnya seperti bus saat melawan Chelsea??.”

” Salah,” jawabku yakin.

” Kenapa?.”

” Karena Jol menghianati filosofi sepak bola menyerang yang enak ditonton oleh penonton. Menghadirkan sebuah tim yang tidak mau menang dan hanya mau bertahan sangat mengecewakan siapa saja.”

” Begitu cara berpikirmu?? bagaimana kalo kita melihat lebih jauh saat pertandingan semi final Champions Legue 2009-2010 Barcelona vs Inter Milan,” Meneer menantangku menganalisa pertandingan ” Second leg, agregat 3-1. Barcelona tertinggal 2 gol. Guardiola menjanjikan pembalasan di Camp Nou. Kamu tau apa yang dihadapi Mourinho??.”

Aku menggeleng. Rasanya pertarungan semi final itu terasa sudah berlangsung terlalu lama.

” Inter kehilangan Goran Pendev sesaat sebelum pertandingan dimulai. Lanjut kehilangan Thiago Motta di tengah pertandingan. Dihujani badai serangan oleh Barca yang masih memiliki Ibrahimovic dan Yaya Toure tapi akhirnya berhasil keluar sebagai pemenang karena hanya kalah 1-0. Pertandingan ini menunjukkan Mou sebagai Master Class Strategi.”

” Apa beda Master Class Strategi dengan pembuat strategi biasa Meneer?.”

” Bedanya Mourinho bisa merubah kemalangan menjadi keberuntungan. Alih-alih menatap sebuah musibah sebagai bencana, Mou memaknainya secara berbeda dan merubah bencana menjadi rejeki,” Meneer mengepalkan tangannya ” dalam kasus yang sama, parkir bus ditangan Mourinho tidaklah semenjijikkan yang diperkirakan orang. Kamu harus ingat, sehabis pertandingan itu, warga kota Milan meminta seluruh orang Italia agar ” kneel to Mou”. Menghormatinya secara protokoler kerajaan jaman dulu kerana dia bisa mengembalikan ruh Catenaccionya Hererra kembali ke tanah Italia.”

Aku memahami sebuah benang merah. Mentap baik-baik kepada Meneer aku bertanya ” Mourinho adalah Hererra??.”

” Lebih baik dari Hereraa. Kamu tidak boleh lupa ia muridnya Van Gaal selama di Barcelona.”

Benang merah semakin jelas. ” Jadi dia memadukan Catenaccio dan Totalvoetball??.”

Meneer mengatupkan bibirnya lalu mengangguk ” seluruh pengamat bola terkenal Eropa sepakat Mou adalah penerusnya Hererra. Ingat baik-baik kalimat ini. Pertahanan di tangannya merupakan kunci dasar permainan sebelum menyerang.”

Mengangkat kedua tangan aku mengharap sebuah petunjuk ” jadi apa yang harus kami lakukan saat menghadapinya minggu besok??.”

Johan Cryuff hanya tersenyum mengangkat kedua bahunya kemudian berucap ” apa lagi yang bisa kamu lakukan?? dia The Special One.”

***

Menyaksikan pertarungan live UFC merupakan sebuah pengalaman baru. Untuk Alfred pengalaman ini sangat menyenangkan. Bagiku menonton UFC merupakan pengalaman horror. Melihat di televisi saja aku tidak berani apalagi langsung. Darah yang tertumpah, aksi saling piting, tindih, berselimut aroma nafsu membunuh bukanlah tayangan pas sebenarnya di era penegakan HAM.

Hanya saja manusia memang memiliki naluri alami senang melihat aksi Gladiator. Menyaksikan sabung ayam saja kita suka apalagi sabung manusia. Seluruh atraksi saling bantai membuat kita gembira di atas penderitaan para petarung. Meski demikian, persis yang dikatakan lagu Eye of The Tiger, bagi petarung sendiri medan pertarungan adalah segalanya. Disinilah mereka mendapat uang untuk menyambung hidup. Disini pulalah eksistensi mereka sebagai manusia diakui. Lapangan Gladiator merupakan hal paling penting dalam hidup petarung.

” Hajar Kaka!.”

Teriakan Alfred terdengar nyaring sekali. Kami datang paling awal. Rupanya Octagon di partai-partai pembuka lebih sepi dari kelihatannya. Para petarung pembuka dibayar murah namun berebutan bisa bermain di UFC 207. Keberadaan Ronda Rousey dan Holly Holm membuat ketenaran mereka bisa saja terangkat walau bermain di pertandingan kecil sebelum mereka.

Petarung yang bertarung sekarang, aku tak tau namanya. Announcher memperkenalkan mereka sebagai Ramirez melawan Okuda. Orang latin menghadapi penantangnya dari Jepang. Setiap pukulan mereka terlihat lebih keras. Cara jatuh mereka saja terdengar lebih nyaring. Rupanya terpal Octagon tidaklah selembut yang kubayangkan.

Selain itu kondisi penonton juga tak seperti yang kubayangkan. Hadir awal rupanya memberi gambaran jelas bahwa sebagian besar penonton hanya menantikan partai utama. Mereka tidak ada waktu menyaksikan partai remeh. Itu buruk bagi popularitas mereka. Sepinya penonton membuat Alfred yang duduk di kursi penonton biasa suaranya bisa menembus sampai ke depan. Bukan hanya itu, Alfred pun bisa mendengar bagaimana pukulan Okuda merobek pelipis Ramirez menjatuhkannya ke matras lantas menindihnya.

Aku harus memejamkan mata menahan mual melihat darah mulai tertumpah di matras. Darah segar mengalir segelintir penonton menuntut sebuah penyelesaian akhir. Penyelesaian melalui hujan pukulan atau kuncian mematikan diharapkan keluar. Sayangnya kedua petarung sudah lelah. Mereka tidak punya kekuatan sisa untuk menyelesaikannya. Ramirez hanya melambai-lambaikan tangan berusaha menahan gempuran sedangkan Okuda mencoba meringsek tapi gagal karena nafasnya habis.

Bunyi bel ronde menandakan para petarung harus kembali ke sudut masing-masing guna beristirahat sejenak.

Para petarung beristirahat, aku pun demikian. Sialan! melihat aksi saling bantai ini lebih melelahkan dari pertandingan lawan Newcastle.

***

” Mau kamu bawa kemana hubungan kita ini Budi??,” suara manis Conchita Caroline mendadak hadir di telingaku membuatku tersentak seketika menghadapinya serius.

” Kak kapan sampai Inggris kenapa gak bilang-bilang???.”

” Kamu tidak pernah tau apa yang kualami di Indonesia. Aku ini seorang presenter yang tengah membangun karier. Tanpa kehadiranmu aku sudah cukup terkenal di seluruh Indonesia. Tapi kamu…kamu tiba-tiba datang menyebut namaku diantara ratusan ribu orang di GBK. Melunjakkan popularitasku dalam semalam kemudian kamu menghilang keesokan harinya,” Kak Chita cepat sekali berbicara ” celakanya sebelum menghilang kamu menyatakan cintamu kepadaku dan itu disaksikan ratusan juta orang Indonesia. Kamu menaikkan pamorku dan menjatuhkan hatiku dalam sekali kesempatan Budi. Bisa-bisanya kamu melakukan itu??”

” Kak aku…..,” aku berusaha membela diri.

” Wartawan infotainment memburuku setiap hari. Menanyakan apakah benar kedekatanku dengan seorang Pahlawan Olahraga Nasional yang telah mengharumkan nama Bangsa bukan hanya di dalam Negeri tapi juga di pentas dunia. Masyarakat Indonesia mengelu-elukanmu dan mereka mencari tau apakah aku pantas untukmu.”

Kaki kananku mulai gemetar tanda aku merasa ketakutan menghadapi situasi ini. ketakutan kenapa??. Bukankah Kak Chita sangat kunantikan kehadirannya di tanah Inggris.

” Pagi, siang, sore, malam, wartawan Infotainment mengejarku sampai di tempat kerja. Membuatku harus melarikan diri seperti seorang pesakitan. Mereka semua memburuku lebih bersemangat dari para artis yang terlibat jaringan prostitusi. Kamu Budi membuat namaku sangat tenar mengalahkan Luna Maya, Nikita Mirzani, Syahrini, Iko Uwais, Yayan Ruhiyan dan seluruh artis papan atas Indonesia hanya kerana satu kalimat ; This is For Conchita.”

” Kak boleh tidak sih aku bicara?? biarkan aku menjelaskan sedikit.”

” Ketenaran yang kamu beri tidak diiringi kehadiranmu disisiku. Kamu tidak ada saat aku memerlukan seorang figure untuk berlindung dari keanehan kisah Cinderella ini. sosok pelindung yang mampu menepuk punggungku dan mengatakan kamu ada dan siap menghadapi semua ini bersama. Kamu absen dari hidupku. Kenapa??? hanya karena sekali cemoohan dari orang tuaku?? apa kamu sebanci itu Budi sebagai laki-laki?? tidak berani menghadapi cemoohan??.”

Air mata mulai membasahi air mata Kak Chita. Aku panik berusaha mencarikan tissue di luasnya Matras Octagon tempat kami sekarang berdiri. Semakin aku cepat berlari Octagon melebarkan dirinya menjadi makin luas. Putus asa aku kembali ke Kak Chita melepas kaosku agar bisa menyeka butiran air mata di matanya.

” Mau kamu bawa ke mana hubungan kita Budi??.”

Kak Chita bertanya menyambutku.

” Tidak akan kemana-mana karena dia milikku Bitch!.”

Tak terduga Ronda Rousey telah berdiri di belakang Kak Chita menarik kemejanya lantas memaksa agar menghadapnya. ” Kamu dengar,” Ronda menuding Kak Chita ” Tidak ada tempat buatmu disini karena ia sekarang milikku.”

Menumpu kaki kanannya, Ronda berputar pivot. Ia tumpu satu kakinya bersamaan pegangan tangannya di tangan Kak Chita lalu membantingnya.

” RONDA JANGAN!,” aku histeris melihat kekasih kesayanganku dibanting. Ingin sekali aku cepat menuju Ronda mencegahnya dari kebiadaban ini tapi aku malahan terjatuh. Suara jatuhku begitu keras. Aku tengkurap tak berdaya tanganku menggapai-gapai hendak menggapai Kak Chita yang sudah ditindih Ronda.

” Matilah jalang!,” Ronda menghamburkan pukulan mautnya bertubi-tubi tepat ke wajah Kak Chita.

” RONDA JANGAN! JANGAN! JANGAN! KAK CHITA……………”

Aku berteriak histeris.

” RONDAAAAAAAAAAAAAAA…………………..”

Mataku terbuka. Nafasku tersengal-sengal. Keringat dingin membanjiri dahiku. Dan seluruh tamu undangan yang sudah datang melotot ke arahku kebingungan kenapa ada orang melayu di bangku VIP berteriak-teriak aneh.

Untunglah hanya mimpi buruk. Sangat memalukan ekspresi bangun dari tidurku barusan, disorot jutaan orang lagi, namun setidaknya semua tadi hanyalah mimpi buruk.

***

Terbangun dari tidur situasi sudah jauh berbeda. Tidak sesepi tadi. Rupanya aku tertidur sangat lama. Sudah lebih dari tiga partai tambahan berlangsung. Para panitia sedang membersihkan tumpahan darah dari matras Octagon bersamaan datangnya para selebritis dunia. Kuhitung para bintang besar mulai berseliweran mulai dari para selebrity Hollywood, Atlet dunia, Mantan Atlet, Penyanyi, hingga comedian.

Tyson, Mayweather, Robert De Niro, Keanu Reeves, Stalone, Stataham, Snipes semuanya hadir begitu gemerlapan. Belum lagi dari deretan selebritis wanita J-Lo, Beyonce, Juliane Moore, ikut hadir menggandeng pasangannya masing-masing. Kehadiran para selebritis maupun atlet dunia mengorbitkan nama UFC secara popularitas. Kata orang, duluUFC tidak memiliki rating kepopuleran setinggi ini. Semua berubah lewat kehadiran Ronda Rousey. Aura keartisannya begitu kuat mampu menyedot animo penonton agar hadir menonton.

Sekarang saja sejumlah artis Hollywood hadir karena sebelumnya Ronda telah bermain di sederetan film terkenal. Bukan hanya itu, popularitas partai “Rematch” ini memang begitu tinggi membuat kehadiran selebritis menjadi sebuah pelengkap keagungan kebrutalan yang akan terjadi. Kudengar dari komentar mereka, yang duduk tidak jauh dariku, kebanyakan mereka mengharapkan sebuah partai yang lebih baik dari pada Mayweather melawan Pacquaio. Partai Mega Fight tinjunya Mayweather digadang gadang oleh banyak pengamat sebagai partai terbaik abad ini. Sayangnya kenyataan berujar sebaliknya. Partai anti klimaks terjadi. Para penonton berteriak lantang agar tiketnya dikembalikan saking mengecewakannya pertarungan yang mereka saksikan.

” Halo kamu Cristian Bale kan?? pemeran Batman???,” aku terkejut mendapati seorang selebrity rupanya duduk tepat di sampingku.

” Hai, kamu pemain bola yang sedang dibicarakan orang kan?? Si jenius dari Indonesia??,” balasannya sangat ramah. Mendengarnya ternyata mengenalku membuatku sangat bangga. ” Aku penggemar bola,” Bale melanjutkan ” permainanmu sangat bagus nanti aku minta tanda tanganmu ya!.”

” Gak salah Mr.Bale?? seharusnya aku yang minta foto bareng dan tanda tangan karena bisa duduk di samping Batman.”

” Batman juga harus mau minta tanda tangan bila bertemu pemain bola hebat,” ia tersenyum lalu menjabat tanganku.

Kami segera akrab. Pengetahuannya tentang bola begitu luas. Aku merasa malu berbicara dengannya karena pengetahuanku tentang dunia film tidaklah seluas pengetahuannya. Berbicara bersama seorang selebritis sangatlah menyenangkan meski harus terus menjaga sikap. Aku sangat sadar kamera terus menyorot deretan bangku VIP. Layar lebar di atas Octagon bahkan memperlihatkan tayangan Live dari Foxsport yang menampilkan gambar Cristian Bale tengah asyik ngobrol denganku. Lengah sedikit bersikap aku pasti menjadi bahan tertawaan disini.

Alfred sebaliknya begitu bebas menonton. Ia bisa berteriak-teriak berbaur bersama para pendukung masing-masing petarung. Tingkah laku mereka sangat ekspresif tak kalah dibandingkan sikap antusias supporter bola. Kuperhatikan juga mereka sangatlah spontan, mereka tidaklah fanatik seperti di bola. Disini siapa pun petarung yang tampil baik akan mendapatkan dukungan. Angin petarungan bisa berubah kapan saja tergantung bagaimana petarung bersikap di tengah pertandingan.

” Itu Ronda Rousey, akhirnya Main Event dimulai,” Bale berucap antusias sambil menuntun mataku menatap Ronda. ” Hei apa benar dia pacarmu??,” sial di teater UFC aku masih saja di skak mat.

” Ehhhh kami…kami cukup…hubungan kami cukup dekat,” aku gelagapan.

” Aku turut berbahagia untuk kalian berdua,” Bale mencoba berbisik padaku mencoba menghindari mata-mata wartawan ” Ronda bisa menang, aku berani bertaruh banyak untuk kemenangannya,” Ia tersenyum optimis.

Rasa optimismenya membuatku lega. Menyaksikan Ronda masuk menggunakan baju sama ketika dia kalah satu tahun lalu awalnya menerbitkan pesimisme namun dukungan dari Batman bisa mengembalikan aura positif.

” Baju hitam tidak selalu buruk kamu tau,” Bale menganalisa pakaian spandex atas bawah hitam yang Ronda kenakan.

” Betul Luke Skywalker di Retun of The Jedi menghadapi Darth Vader menggunakan baju hitam tidak putih seperti satria Jedi biasanya,” aku melantur menjawab.

” Kamu penggemar Star Wars??.”

” Eeeeh sedikit….,” aku merasa bersalah mengucapkan Star Wars bukan di depan pemerannya ” Batman…Batman juga hitam hitam bajunya,” kaku usahaku membetulkan ucapanku sebelumnya.

” He gak apa, aku juga penggemar Star Wars,” Bale membuat salah tingkahku menjadi berkurang.

Sekarang Ronda sudah tiba di depan gerbang Octagon. Seperti ritual biasanya setelah diperiksa oleh petugas, ia menyilangkan tangan kanan menyentuh bahu kiri dan tangan kiri menyentuh bahu kanan. Sebuah isyarat ia sudah siap lahir batin menghadapi duel yang sebentar lagi akan dimulai.

Holly Holm masuk ke ring sesudah Ronda. Menyandang sabuk Juara ia tampil serius juga mengenakan baju sama yang ia kenakan saat mengalahkan Ronda ; putih-putih. ” The Preacher Daughter” kembali menunjukkan jati dirinya sebagai petarung suci. Seorang wanita di tengah kekotoran kekerasan dunia laki-laki tapi mampu memaknainya secara positif hingga mampu menghadirkan unsur transendensi tersendiri.

Penonton terus bersorak. Kedua petarung hilir mudik di dalam Octagon. Wajah mereka berdua sama-sama serius. Sikap tubuh mereka juga sama-sama menunjukkan kegugupan. Rasa yang sama dialami oleh seluruh olahragawan sebelum pertandingan. Ketika seorang olahragawan tengah berusaha mengendalikan dirinya inilah yang merupakan bagian terbaik dari olah raga. Disinilah mental juara ditentukan. Apakah seseorang akan tenggelam dalam kegugupannya kemudian jatuh ke dalam demam panggung??. Ataukah ia mampu menghadapi kegugupan natural manusia lalu mentransformasikannya menjadi kekuatan pemenang.

Saat wasit memanggil mereka berdua agar saling berhadapan, raut kegugupan itu masih tergambar jelas.

Ronda sudah memakai pelindung mulut. Bibirnya terlihat mengemut sesuatu. Rambut panjangnya sudah diikat sedemikian rupa membentuk ikatan-ikatan di belakang kepala. Otot-otot tubuhnya terlihat prima siap menghadapi lima ronde penentu perebutan gelar juara wanita UFC kelas bantam.

Holm yang sedikit lebih tinggi sebaliknya berdiri tegak. Tubuh langsing petinjunya menampilkan ketenangan tersendiri. Tubuhnya lebih ramping dari Ronda. Dia petinju Southpaw, aku tidak boleh lupa hal ini. Sebuah gaya bertinju paling cepat, paling liat, dan paling sulit dikalahkan dalam dunia tinju. Di tangan petarung “cerdas” seperti Holm gaya ini menjadi begitu mematikan. Semoga Ronda bisa mengatasinya malam ini. Sebab bila tidak, kata pensiun merupakan kata pertama yang harus diucapkannya sehabis pertarungan.

***

Pertandingan perebutan gelar UFC terdiri dari lima ronde dimana masing-masing ronde berdurasi lima menit. Siksaan akan terasa lebih panjang bila petarung tidak siap menghadapi pertarungan dalam segala hal. Diantara lima ronde UFC, teknik Armbar Submissionnya Ronda merupakan senjata pamungkas paling mematikan.

Perpaduan teknik Judo dan Jiu-Jiutsu membuat teknik Ronda merupakan salah satu yang paling mematikan. UFC tidak pernah sebelumnya memberikan jatah Main Event pada petarung wanita hingga Ronda Rousey maju menghadapi Miesha Tate seorang pegulat pada tahun 2012. Petarungan Ronda vs Tate mendongkrak rating UFC karena masyarakat ingin mengetahui siapa pemenang dari dua bela diri ahli bantingan yang ada di muka bumi; Judo dan Gulat. Pada akhirnya Ronda memenangkan dua pertandingan diantara mereka semuanya melalui Armbar Submission.

Partai Ronda melawan Miesha Tatelah yang kuyakin dipelajari baik-baik oleh Holly Holm. Mengingat peringatan dari Meneer Johan yang mengatakan bahwa strategi “parkir bus” tidak sejelek kelihatannya, aku mulai mendapat sebuah titik terang. Gaya betarung Ronda adalah seperti tiki-takanya sepak bola modern. Sangat sulit dilawan. Menghadapinya menggunakan sepak bola terbuka hampir dipastikan akan mengakhiri tim lawan dalam sebuah kekalahan besar yang memalukan.

Tate menghadapi Ronda secara terbuka. Ia berani beradu bantingan melawan pakar bantingan. Hasilnya Tate kalah secara menyakitkan. Para pengamat UFC mengecamnya atas permainan terlalu berani yang membahayakan kesehatan fisiknya sendiri di masa depan. Melawan Ronda menggunakan bantingan, tangan Tate nyaris copot dan bahunya mengalami dislokasi. Holm belajar banyak dari Tate.

Memiliki dasar petinju yang memiliki sistem pertahanan terbaik seperti skill pertahanannya Mourinho, Holm memilih memarkir bus terlebih dahulu kemudian menyerang balik menjatuhkan Ronda. Gambaran partai Barcelona vs Inter 2009-2010 merupakan gambaran jelas kondisi Ronda melawan Holm. Parkir Busnya Holm mampu menghentikan agresifitas Ronda, membuka kelemahannya lalu mengirimnya pulang membawa rasa malu dan traumatis besar.

Berarti Mourinho tidaklah bodoh memarkir pemainnya melawan Barcelona. Alih-alih bodoh ia merupakan pakar strategi karena mampu mempersiapkan skema serangan balik mematikan yang mampu mengalahkan Barcelonanya Guardiola waktu itu. Bagaimana cara Ronda menghadapi strategi parkir bus ini merupakan kekhawatiiran terbesarku karena selama latihan ia sama sekali tidak tau caranya.

 

Gong berbunyi satu kali. Petarungan dimulai. Ronda maju. Pensiun atau tidak ditentukan sekarang. Kedua tangan Ronda membentuk pertahanan tinju demikian pula Holm. gaya bertarung paling tua di dunia akhirnya suka tidak suka harus diterapkan oleh kedua petarung wanita ini.

Memburu Holm, Ronda berusaha merapatkan jarak. Langkah kakinya cepat merapat menuju lawannya yang mengenakan pakaian putih. Holm membuka kakinya. Satu kaki kanannya dimajukan ke depan, ia bergerak begitu lincah.

Ronda memasukkan pukulan kanan ke arah perut. Holm menepisnya sembari bergerak menyamping. Melangkah dua langkah ke samping satu pukulan ia layangkan lurus menuju wajah Ronda.

Cepat menarik tangannya, Ronda mampu menghindari serangan pertama. Holm tidak berhenti. Satu, dua tiga pukulan jab lurus ia hamburkan cepat langsung diikuti oleh pergerakan mengeper ke belakang menjaga jarak. Ronda mengayunkan kepalanya menghindari pukulan Holm. Kecepatan pukulan yang mendatangi wajahnya terlalu cepat dielakkan melalui sebuah ayunan. Dua pukulan masuk ke wajahnya.

Ronda menarik nafas panjang. Bibirnya terbuka berusaha mengambil udara mengisi penuh paru-parunya lalu maju lagi. Kedua kakinya maju mengarah ke sudut Octagon. Holm terlihat tersudut. Ronda menghamburkan pukulan tangan kanan secara serampangan. Holm menghindar satu langkah langsung menghantam balik menggunakan tangan kiri andalannya. Ronda tidak mempedulikan wajahnya terkena pukulan ia lambungkan lagi pukulan kiri tanpa perhitungan. Holm menepisnya menggunakan double cover lalu mencoba memasukkan upper cut mengarah ke dagu.

Ronda sempat melihat datangnya upper cut dari bawah, ia tumpu kaki kirinya menjungkit naik sambil mendangak. Pukulan Holm menerpa angin. Tubuh Ronda goyah karena tumpuan kakinya tidak seimbang, Holm menggunakan kesempatan mendorong tubuhnya agar membentur pagar Octagon. Dibanting ke arah pagar Ronda panik, ia tidak suka kehilangan posisi. Berusaha menyerang balik ia merunduk mencari posisi Holm.

Holm sudah menggeser posisinya. Sekarang ia berada di sisi kiri. Mengetahui lawannya belum menyadari keberadaannya Holm melayangkan tiga pukulan jab lurus langsung menghajar wajah Ronda. Dihajar berturut-turut, Ronda berusaha menghentikan trend negative ini ia layangkan satu kakinya menendang perut Holm. Refleks, mendeteksi datangnya tendangan Holm beringsut mundur kembali menjaga jarak.

Berhasil lolos dari posisi tersudut Ronda kembali menarik nafas panjang. Matanya mulai bengkak terhajar pukulan keras Holm. Ia membuka matanya cepat berusaha melihat secara lebih terang. Holm bergerak terus. Ia tidak mau diam terus mengitari Ronda siap kapan saja menghantamnya setiap datang kesempatan.

Penonton bergemuruh.

” HOLM… HOLM.. HOLM..”

Melihat Ronda langsung kesulitan di awal ronde membuat penonton berbalik mendukung Sang Juara Bertahan.

” PENSIUN..PENSIUN…PENSIUN….”

Yel-yel meminta Ronda pensiun juga mulai terdengar.

Ronda terhenti. Ia terlihat menarik nafas panjang tak berusaha memburu lagi. Tidak mungkin ia sudah kehabisan nafas di babak pertama. Apa yang terjadi dengannya??. Holm menyadari sikap diamnya Ronda, ia gantian maju menghamburkan tiga pukulan hook. Satu mengarah ke kanan kepala, satu menghantam perut dan satu lagi menghantam tangan. Ronda terhuyung menerima dorongan di tangannya ia ringsek di pinggir pagar.

Penonton berdiri bersorak riuh melihat Ronda terpojok lagi.

Holm menghamburkan sepuluh pukulan cepat. Seluruh pukulan jab lurus mengarah telak ke kepala Ronda. Terjepit disudut Ronda hanya bisa mengangkat double covernya mengijinkan beberapa pukulan masuk. Wajah putihnya mulai merah padam terhantam pukulan. Holm tidak berhenti ia berusaha menyelesaikannya di ronde pertama. Sekarang ia hantamkan pukulan hook berusaha menyelesaikan pertarungan. Holm masih belum mau memiting atau pun menendang ia khawatirkan kekuatan Ronda masih tersisa.

Walaupun tersudut kekuatan Ronda memang masih ada dan sekarang ia bergerak nekad. Ia tau hujan pukulan ini bisa mematikannya. Memperhitungkan arah tubuh Holm ia mencodongkan tubuh lalu sekuat tenaga mendorongnya agar menjauh. Holm berhasil terdorong mundur tapi hanya sebentar. Holm maju lagi menghamburkan tiga jab dalam dua langkah dan dua hook dalam satu langkah. Ronda terkena tiga dari lima pukulan. Matanya mulai kesulitan melihat namun darah belum keluar dari wajahnya.

Holm terus meringsek. Sebagai petinju ia tau Ronda sudah kesulitan melihat. Ia sangat ingin menjatuhkannya.

” GOOOOOONG.”

Bunyi gong menghentikan usahanya. Ronda masih meringkuk dengan kedua tangan terangkat. Nafasnya berat. Begitu berat. Ia seperti memendam emosi besar yang mengakibatkannya bernafas lebih dalam dari sebelumnya.

Wasit meminta kedua petarung kembali ke sudutnya masing-masing.

” HOLM… HOLM.. HOLM..”

Penonton telah berpihak sepenuhnya pada Sang Juara Bertahan. Holm memenangkan telak ronde pertama. Dari kursi VIP kulihat Ronda duduk di bangku petarung. Jesse ketua Tim ikut masuk ke dalam Octagon berusaha memberikan intruksi. Gokor mulai mengompres satu mata Ronda sebelah kiri. Mendapat kompresan Ronda memegangi bibirnya. Ia berpikir.

Tidak menurutku ia bukan berpikir tapi mulai merasa takut. Holly Holm betul-betul lebih besar darinya.

***

Babak kedua dimulai.

Penonton semakin riuh. Tontonan jual beli pukulan yang mereka harapkan betul-betul terjadi. Ronda dan Holm betul-betul melakukan jual beli pukulan, bedanya Holm melakukannya secara berseni sedangkan Ronda secara serampangan. Mengawali babak kedua saja Ronda ngawur. Ia sembarang saja menendang lurus kaki kanan ke tubuh Holm. Mudah sekali Holm mengelak. Ronda mencoba menendang lagi yang hanya menerpa angin. Holm mulai menari. Ia berputar, memukul, menjaga jarak, menari-nari di Octagon. Ronda mengejarnya terus tanpa hasil.

Istilah Holm sedang mengajari Ronda cara bertarung yang sebenarnya menjadi kenyataan. Riuhnya penonton yang mengelu-elukan Holm dan meminta Ronda pensiun saja juga sangat mengganggunya. Lihat saja sekarang ia menghamburkan tiga hook beruntun secara sia-sia tanpa sedikit pun bisa menyentuh tubuh lawannya. Alih-alih mendapat kerusakan dari lawannya, menghamburkan hook tanpa perhitungan membuat Ronda merasakan akibatnya.

Holly Holm melenggang menghindari tiga pukulan beruntun bergeser ke kiri, sisi favoritnya, menumpu kaki kanan dan menghantamkan pukulan kiri sekuat tenaga menghantam wajah Ronda. Pukulan itu begitu keras. Ronda terhuyung. Tunggu dia tidak terhuyung. Ia menumpukan kedua kakinya tak beraturan. Alih-alih terhuyung ia malahan menggeleng-geleng menantang Holm.

” Gak sakit Bitch…gak sakit….,” ujarnya sambil untuk pertama kalinya menurunkan double cover. ” Itu pukulan tangan kirimu???gak sakit.”

Melihat gelengan kepala Ronda Holm tenang. Ia tau lawannya ini sudah tamat tapi enggan untuk mengakuinya. Maka tanpa banyak buang waktu ia dorong lagi Ronda ke sudut. Pukulan tangan kiri tadi sudah cukup merobek pelipis mata Ronda membuat darah mulai mengalir. Holm tinggal menyelesaikan wanita sok kuat yang menggeleng-geleng menantangnya di sudut Octagon.

Total tujuh pukulan dihamburkan Holm. Ronda tidak berusaha menghindar. Ia hanya mengayunkan wajahnya menghindari pukulan sambil menggeleng-geleng. Menurunkan Doble Cover membuatnya berhasil merangkul Holm menekan kepalanya agar menunduk di bawah wajahnya dan berteriak lantang kepada penonton.

” KALIAN SEMUA DENGAR! PUKULANNYA GAK BISA MENYAKITIKU! PUKULANNYA GAK BISA MENYAKITI RONDA ROUSEY!.”

Ia berteriak-teriak seperti orang gila. Kepalanya terus menggeleng mengisayaratkan pukulan Holm sama sekali tidak menyakitinya.

Wasit maju melihat gerakan rangkulan illegal dan memisahkan kedua petarung.

Berhasil melakukan tugasnya, wasit memperingatkan Ronda. Aku bisa mendengarnya jelas wasit melarang Ronda melakukan rangkulan menggunakan sikut menekan kepala lawan. Mendapat anggukan Ronda yang siap tidak mengulangi gerakan barusan wasit memulai lagi pertandingan.

Ronda maju lagi. Berkali-kali ia disudutkan namun berkali-kali pula ia menyerbu kembali. Sekarang dua dobel covernya kembali terangkat. Holm tetap tenang menjaga jarak dalam sudut pukulan. Melihat Ronda maju, Holm menahannya dengan sekali pukulan jab. Kepala Ronda terjungkit ke belakang. Holm melihat peluang ia menumpu lagi kaki kanan bersiap mengirimkan pukulan kiri terkuat sebelum….. tendangan putar Ronda menghentikannya. Kaki kiri Ronda berputar mengantam sisi pinggang Holm membuatnya terdorong. Berhasil mendaratkan tendangan, Ronda menyerbu masuk berusaha mencari sudut bantingan terbaik.

Tangan Holm sudah didepan matanya. Ia akan membanting berputar dan untuk pertama kalinya berhasil menyerang.

Sialnya Holm begitu cepat recovery. Terdorong ke sudut, kedua kakinya terbuka selebar bahu lalu beranjak cepat sekali mundur hingga menyentuh gerbang Octagon. Ronda gagal mendekatinya. Ia berusaha terus menyerang dan harus terkejut saat Holm menyerang balik.

Holm mengangkat kakinya. Ronda sama sekali tidak menduganya. Setelah hanya menggunakan tangan selama ronde pertama Holm menjawab tendangan Ronda dengan sebuah tendangan balasan. Untunglah Ronda bisa membacanya tepat waktu. Tangannya naik saat maju ke depan menjadi benteng pelindung. Dihantam tendangan kaki kiri tubuh Ronda ganti terpental menabrak pagar Octagon.

Ronda balik terjepit. Holm berhasil keluar dari tekanan sekarang berbalik menekan. Ia melihat Ronda belum siap maka dihujaninya wajah Ronda melalui hujan pukulan.

” Maju Bitch! maju! aku tidak takut! pukulanmu tidak berasa! pukulanmu sama sekali tidak berasa!,” Ronda berteriak menghadapi hujan pukulan.

Holm tetap tenang tak terpancing sama sekali. Ia meninju secara telak lagi terarah membuat luka di pelipis Ronda menganga makin lebar. Hebatnya Ronda sama sekali tak gentar. Ia terus menurunkan dobel covernya menghadapi pukulan Holm secara gagah berani. Padahal Holm menggelar lebih dari enam kali hook bolak balik tapi Ronda menghadapinya begitu gagah meski hidungnya sekarang juga ikut-ikutan deras mencucurkan darah. Habis-habisan dihajar Ronda tetap berdiri.

” GOOOONG!.”

Bunyi bel babak kedua membuat wasit datang melerai mereka.

Penonton melihat langsung keberanian Ronda menghadapi pukulan bertubi-tubi Holm. mereka melihat wajah cantiknya kini berlumuran darah. Suara simpati dukungan mulai terdengar meski lirih berawal dari blok Alfred duduk kemudian menyebar ke seluruh stadion.

” Deshi Deshi Basara Basara,”

Ujar penonton mengucapkan kalimat Timur Tengah atau Arab yang aku belum bisa pahami artinya sebagai dukungan buat Ronda.

” Deshi Deshi Basara Basara…

Deshi Deshi Basara Basara…”

Suara dukungan penonton secara perlahan mulai terdengar keras saat wasit memisahkan kedua petarung. Saved by the Bell seharusnya membuat Ronda senang tapi tidak demikian yang terjadi. Meski disuruh kembali ke sudutnya Ronda maju menuju Holm yang telah berbalik dan mendorongnya.

” Ayo maju Bitch! hadapi aku! hadapi aku! aku tak takut pukulanmu!.”

Dorongan Ronda membuat Holm berbalik secara emosional dan mendorongnya balik. mereka saling dorong seperti akan melakukan perkelahian jalanan sebelum wasit dan kedua tim menarik mereka berdua.

Sehabis ditarik, Ronda menggeleng-gelengkan wajahnya ke arah penonton.

” Tidak sakit!,” katanya ” tidak sakit,” katanya lagi. Darah di sekujur wajahnya padahal sudah tertumpah tapi ia masih saja bersikap sok kuat.

” DESHI DESHI BASARA BASARA…

DESHI DESHI BASARA BASARA…..

DESHI DESHI BASARA BASARA….”

Suara penonton makin kencang menyambut keberaniannya.

Ronda Rousey si petarung politisi telah kembali. Keberaniannya yang mempertaruhkan seluruh badan dan kecantikan wajahnya membuat penonton berbalik bersimpati padanya meneriakkan sebuah kalimat aneh. Bukan namanya. Hanya dua kata tak lazim.

” What that’s mean??,” tanyaku penasaran pada Cristian Bale.

” You never seen Batman Movie before???,” Bale menatapku tak percaya.

” No…. not yet,” aku menggeleng tragis duduk di sebelah Batman tapi tidak pernah sungguh-sungguh memperhatikan film Batman.

Ia tersenyum memaklumi kebodohanku lalu menjawab…

” That’s mean… RISE!.”

“Rise”. Sebuah kata yang seketika menyadarkanku. Inilah anti tesis dari lagu Norwegian Wood. Tidak lagi pada tempatnya aku harus mengklaim tidak kebagian kursi di saat Ronda memintaku duduk dimana pun aku suka. Lihatlah perjuangannya, darah, keringat dan air mata sudah tertumpah semua. Bukan hanya Ronda Rousey aku juga harus bangkit sekarang. Bangkit memberikan dukungan yang seharusnya aku bisa berikan sedari tadi.

” RONDA…” aku berteriak ” RONDA..”

Ajaib di tengah gelora suara penonton yang berteriak agar ia bangkit, Ronda bisa melihatku.

” AKU ADA DISINI….AKU MENDUKUNGMU….”

Kusadari gelengannya berarti ketidaktakutan menghadapi kemungkinan tidak ada satu orang pun yang mau mendukungnya di Octagon. Ia pernah bilang senang mengetahui ada seseorang di luar sana yang masih mendukungnya saat acara Meet and Greet. Aku jawab di mobil memang benar ada laki-laki yang mendukungnya, dan itu adalah diriku sendiri. Sekaranglah saatnya Budi bangkit dari tikar dan mengambil perannya.

Berhasil melihatku dengan mata tertutupi aliran darah Ronda terlihat senang. Ia begitu gembira lalu berteriak lantang mengarah kepadaku.

” HAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAGGGGGGGGGGGGGGGGHHHHHHHHHHHHHHH.”

Ronda Rousey berteriak lantang dari balik pagar Octagon. Dia menantang Holm, menantang penonton, dan ia menantang seluruh dunia.

Sambil berteriak, punggungnya dibungkukkan sedikit memamerkan otot bahunya bersamaan membentuk sudut 90 derajat di siku kedua tangan. Ia melakukan pose “Most Muscular” para atlet binaraga yang menunjukkan keperkasaan seorang wanita ke depan penonton. Butiran darah dan keringat yang berhamburan di seluruh tubuhnya tidak menghalanginya berteriak lantang menantang seluruh dunia. Ia berteriak seperti Raja Sparta Leonidas berteriak lantang menyongsong kematiannya di tangan ribuan pasukan Persia. Barangkali Ronda memang sudah siap mati di Octagon daripada dipermalukan lagi oleh dunia. Ia lebih memilih menyongsong kekalahan secara indah seperti kekalahannya Leonidas, atau kematian hara-kirinya Naoki di bukunya Murakami.

Menyadari kemungkinan menyedihkan dari wanita yang secara tiba-tiba hadir lalu menyatakan sayang kepadaku ini membuatku sedih.

” Jangan mati di atas ring Ronda! Please jangan!,” aku menitikkan air mata berusaha mengajaknya bicara walau posisi kami dipisahkan jarak ” dengarlah teriakan penonton yang memintamu bangkit….” aku berteriak menyambut lolongan ala singa betinanya….

” BANGKIT RONDA!…….”

” BANGKIT!.”

BERSAMBUNG