CONCHITA Part 7

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10

Cerita Sex Dewasa CONCHITA Part 7 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Cerita Sex Dewasa CONCHITA Part 6

JOGO BONITO

He’s going to pass it to Diego, there’s Maradona with it, two men on him, Maradona steps on the ball, there goes down the right flank the genius of world football, he leaves the wing and he’s going to pass it to Burruchaga…..always Maradona! Genius! Genius! Geniuss! There, there, there, there,there! Goaaaal! Goaaal! I want to cry, oh Holy God, long live football! What a Goal! Die-goal! Maradona! It’s to cry, excuse me! Maradona in a memorable run, in the best play of all time! Little cosmic comet, which planet did you come from, to leave so many Englishman behind! so that the country becomes a clenched fist crying for Argentina! Argentina 2 England 0! Die-Goal, Die-Goal, Diego Armando Maradona! Thank you God, for football, for Maradona, for these tears, for this Argentina 2 England 0.

VICTOR HUGO MORALES (The Legendary Comentator, about Maradona’s Goal of the Century against England, in Estadio Azteca, Mexico City, 22 Juni 1986).

Masih belum ada lagi gol solo run di planet Bumi ini yang mampu mengalahkan keindahan Golnya Diego Armando Maradona pada perempat final Piala Dunia 1986. Di Estadio Azteca Mexico City, pada menit ke 55 babak kedua, Maradona menerima bola dari jarak 60 meter lapangan, kemudian mulai berlari membawa bola dengan tubuh kecilnya yang hanya berukuran 1,65 meter.

Berputar melewati dua orang Maradona terus berlari melewati Peter Beardsley, Peter Reid, dua kali mengecoh Terry Butcher, dan Terry Fenwick sebelum melihat penjaga gawang Inggris Peter Shilton maju mencoba menutup ruang geraknya. Maradona tidak berusaha memperlambat kecepatannya, ia masuk ke sisi kanan melewati sudut kiri Shilton dan menendang bola.

Ketika bola masuk tidak ada yang bisa percaya termasuk si komentator Victor Hugo Morales. Setelah berulang kali histeris, Morales meneriakkan kabar Gol abad ini tercipta di Mexico oleh seorang pemain tengah “cebol” Argentina. Gol terasa begitu spektakuler karena si cebol sendirian berakselerasi mengelabui lebih dari setengah pemain Tim Nasional Inggris termasuk kipernya.

Hebatnya setelah pertandingan, alih-alih memuji dirinya sendiri atas terciptanya gol spektakuler tadi, Maradona malahan meminta maaf sebesar-besarnya kepada rekan setimnya, penyerang Argentina Jorge Valdano, karena dia tidak memberikan umpan kepadanya meski pun telah melihatnya berdiri dalam posisi bebas di tiang jauh Inggris.

Valdano sendiri, di kemudian hari, mengaku sangat takjub mendengar permohonan maaf Maradona yang menurutnya bisa-bisanya di tengah sebuah petualangan lari “solo run” yang begitu luar biasa seperti itu, masih sempat mengangkat pandangannya guna melihat posisi rekan setimnya yang lain.

Ketidak egoisan di dalam sebuah Gol yang terhitung amat egoistis membuat, di kemudian hari, tidak ada lagi orang yang bisa membuat gol seperti Maradona. Sejarah mencatat sejak perempat final Piala Dunia 1986, banyak pemain sepak bola yang membuat gol solo run termasuk George Weah, Ronaldo Nazario, dan Lionel Messi. Namun gol indah milik mereka tidak pernah bisa menggoyahkan pendapat masyarakat dunia yang sepakat ; kebesaran gol solo run seperti yang terjadi di Stadion Azteca hanya menjadi milik Maradona seorang.

Komentator Victor Morales yang histeris sampai harus memuja nama Tuhan berkali-kali sebagai bentuk rasa syukur karena tak percaya bisa menyaksikan gol berbau mukjizat seperti ini secara langsung. Gol Maradona merupakan mukjizat. Bukan sebuah gol biasa yang bisa kita saksikan di layar kaca setiap minggunya.

Gol solo run Maradona merupakan gol yang tidak hanya menentukan harga diri kedua tim di lapangan, namun juga harga diri seluruh rakyat Argentina. Sepak bola, di kaki Maradona, tidak lagi hanya menjadi sebuah olah raga permainan tapi lebih dari itu merupakan jati diri sebuah Bangsa.

Seluruh rakyat Argentina menangis haru ketika gol Maradona tercipta karena begitu tingginya nilai gol itu bagi mereka. Argentina, empat tahun sebelumnya, tepatnya pada tanggal 14 Juni 1982, menyatakan menyerah terhadap Perang melawan pemerintah Kerajaan Inggris di Kepulauan Malvinas.

“Perang Malvinas” berlangsung selama empat bulan dan membunuh lebih dari 900 tentara termasuk warga sipil. Maradona setelah pertandingan melawan Inggris menyatakan ” meski pertandingan ini kami anggap tak ada hubungannya dengan Perang Malvinas, kami tau “mereka” membunuh banyak orang Argentina disana, menembak mereka seperti menembak burung, dan pertandingan ini adalah pembalasan dendamnya.”

Suka tidak suka, kejadian yang dialami Maradona menunjukkan sepak bola selalu mampu melewati dimensi ruang dan waktu dari sifat olahraga itu sendiri. Masyarakat sebuah Negara dapat bersatu, melupakan sejenak beban penderitaan yang dialami, demi menyaksikan sebuah penampilan spektakuler yang diberikan oleh Tim Nasional Negaranya. Sebagai pemain bola aku sangat menyadari kebesaran sepak bola. Berhasil mencetak gol spektakuler di tanah Inggris, sekaligus menghidupkan kembali Legenda Maradona yang sudah lama tidak mereka lihat, membuatku segera berlari ke tepi lapangan dan mencari kamera berusaha menyampaikan aspirasi dari hatiku yang paling dalam.

Kubentangkan kedua tangan membentuk lambang cinta lalu menyatakan secara tulus kalimat ” MY LOVE IS FOR CONCHITA”. Kuharap kalimat yang disorot kamera setelah gol spektakuler barusan bukan hanya bisa didengar oleh kekasihku yang paling cantik tapi juga oleh seluruh Rakyat Indonesia.

Conchita Caroline buatku mengemban dua peran. Satu sebagai kekasihku. Dua sebagai representasi seluruh orang Indonesia. Menyebut namanya kembali di tanah Inggris, menunjukkan secara jelas betapa besar kecintaan serta kerinduanku akan Budaya, Bahasa, dan Bangsa Indonesia.

Kecantikan Conchita merupakan kecantikan orang Indonesia. Air matanya merupakan air mata orang Indonesia. Kebahagiannya merupakan kebahagiaan orang Indonesia. Saat aku mengatakan kalimat cintaku hanya untuk Conchita maka secara jelas aku juga ingin mengatakan cintaku hanya untuk orang Indonesia.

Segala permasalahan yang ada; kekisruhan politik, distabilitas ekonomi, salah urus olah raga, korupsi, kolusi, nepotisme di segala bidang, Semuanya menyakiti hati orang Indonesia sama seperti perang Malvinas menyakiti hati rakyat Argentina. Kuharap sebuah golku ini yang mirip golnya Maradona bisa menjadi penawar yang mengobati luka hati Conchita dan luka hati orang Indonesia.

Selain itu, gol solo runku yang menembus jala gawang Liverpool merupakan penjawab dari “sikap mental Inlender” sebagian oknum orang Indonesia sendiri. Ketika aku dan Alfred mulai mendapat peluang bermain di Liga Premier Inggris, sebagian pengurus PSSI masih saja ada yang menuding kami tidak akan bisa berkompetisi melawan para pamain elite dunia.

Mereka bahkan mengatakan kami paling banter hanya akan berkiprah di Liga Indonesia yang hingga sekarang tak juga bisa mereka urus secara benar. Banyak juga orang Indonesia yang meragukan kemampuanku dan Alfred. Mental Inlander mereka mengatakan, “kepribumian” kami mana bisa bersaing melawan orang-orang bule.

Begitulah pendapat orang banyak. Selain diri kami sendiri dan Kak Conchita jarang ada orang Indonesia yang percaya bahwa kami bisa sukses di tanah Inggris. Mereka mengalami sindrom rendah diri akut, sindrom orang-orang yang terlalu lama dijajah dan ingin agar seluruh orang Indonesia yang lain gagal seperti mereka.

Aku selalu berteriak lantang kepada Alfred mengingatkannya agar jangan membiarkan sesorang yang tidak memiliki keyakinan di hatinya menggoyahkan keyakinan di dalam hati kami. Keyakinan merupakan sebuah kata kunci. Boleh saja orang Indonesia yang lain segan bermimpi akan ada warga pribumi yang bisa bermain di Eropa. Mereka terlalu takut bermimpi. Mereka hanya bisa menjadi komentator pertandingan tanpa bisa menunjukkan permainan nyata di lapangan.

Aku dan Alfred sebaliknya sangat berani bermimpi. Kami memiliki keyakinan yang kuat di dalam hati. Keyakinan yang tertanam kuat memberanikan kami untuk bermimpi setinggi-tingginya. Sejak kecil kami berdua bercita-cita akan menggoyang tanah Inggris dan memaksa komentator-komentator bule menyebut secara jelas nama-nama pribumi kami. Bila kami mampu bermain secara baik, mau tidak mau para komentator bule akan meneriakkan nama kami berdua dan juga nama Negara Indonesia.

Sebutan “Indonesian Connection” saja kini sudah sering terdengar oleh para komentator saat menganalisis permainan kami. Meski tak bisa terlepas dari konotasi negative dari kata “koneksi”, setidaknya Indonesia Connection di Inggris memiliki makna positif.

Sekarang, sama seperti kehisterisan Victor Hugo Morales, seluruh komentator dunia kupastikan heboh melihat gol yang barusan kuciptakan. Meski amat jauh dari golnya Maradona, golku tercipta ketika melawan klub besar Liverpool dan diciptakan olehku yang asli orang Indonesia.

Meski kalah jauh buatku pribadi golku ini mengalahkan golnya Maradona, karena gol ini bisa membawa kebahagiaan orang Indonesia dari Sabang sampai merauke. Boleh saja Negeriku terhitung acak-acakan di segala bidang kehidupan tapi setidaknya golku ini bersama golnya Alfred dapat memberikan secercah harapan dan senyum di hati masyarakat.

Bagaimana bisa orang Indonesia tidak berbahagia melihat golku sedangkan seluruh penonton di Stadion Carrow Road saja sekarang begitu bergembira?. Mereka semua berdiri memberikan Standing Ovation bagi golku tak percaya gol seindah ini bisa tercipta oleh pemain dari klub sekecil Norwich dan oleh pemain dari Negara seperti Indonesia. Lukas, Milner, Hendersen, Hummels, Skrtel, hingga penjaga gawang Mignolet semua kulewati dalam sekali berlari.

Sehabis pertandingan, semua pemain Liverpool yang berhasil kulewati barusan berebut ingin bertukar kaos denganku. Sayangnya aku menyadari pentingnya kaos yang kukenakan sehingga dengan halus menolak permintaan mereka. Kaos kuningnya Norwich kudedikasikan bagi seluruh orang Indonesia. Kelak bila orang Indonesia sudah bisa menghargai perjuangan para Atlet yang berjuang bagi keharuman nama Bangsa, mungkin meraka akan menghargai kaos kuning kebanggaannya The Cannaries ini.

Pelatih Liverpool penggagas Gegenpressing Jurgen Klopp saja mangangkat tangannya menyambut golku penuh hormat. Dia memberiku tepuk tangan saat gol tercipta dan berlanjut saat pertandingan berakhir. Sesuai tradisi, sehabis pertandingan berlangsung kami semua saling berjabat tangan, sejenak melupakan sisa-sisa pertempuran mati-matian yang baru saja tersaji di lapangan.

Aku menyalami hampir semua pemain Liverpool sambil terpaksa menolak hampir semua permohonan tukar kostum mereka. Permohonan maaf baru berhenti ketika aku harus menghadapi Jurgen Klopp. Sosoknya jangkung penuh wibawa. Kacamatanya yang berpadu bersama jenggot tipisnya membuatnya semakin berwibawa.

” Selamat nomer 20! tadi gol terbaik yang pernah kulihat!,” Klopp memanggilku berdasarkan nomer punggung lalu memujiku.

” Terima kasih Coach! Gol tadi tercipta karena anak asuhmu benar-benar membuat kami menderita,” aku mengulurkan tangan mengajaknya berjabat tangan.

Jurgen Klopp menyambut jabat tanganku. Penuh senyum dia memelukku. Salah satu pendekatan terbaik Klopp adalah kemampuannya membina hubungan antara pelatih dan pemain. Kedua unsur utama tim ini memang merupakan elemen yang menentukan tangguh atah tidaknya sebuah tim. Jose Mourinho saja yang berjuluk “The Special One” karena bisa menghasilkan lebih dari 22 tropi bersama tim asuhannya, harus dipecat tahun lalu oleh Chelsea karena mengalami keretakan hubungan dalam interaksinya bersama pemain.

” Bergabunglah bersama kami Budi! Liverpool cocok buatmu! Aku sanggup memberimu kontrak mahal,” begitu lembut Klopp berbisik saat memelukku.

” Akan aku pikirkan Coach,” jawabku penuh hormat.

” Pikirkan baik-baik nomer 20!,” lanjutnya.

Siapa bilang orang Indonesia tidak akan berhasil di tanah Inggris?. Buktinya sebuah tawaran besar bagi masa depanku datang dari klub sebesar Liverpool. Semula, terbawa oleh stigma negative pengurus bola Indonesia, aku pikir tawaran akan datang hanya dari klub semenjana saja. Aku tak pernah menyangka pelatih sehebat Jurgen Klopp mengajukan tawarannya sendiri agar aku bersedia menjadi anggota squadnya musim depan.

***

Keesokan harinya seluruh media Inggris menjadikan kemenangan kami sebagai tajuk utama berita. Judul-judul bombastis digelar oleh pers Inggris yang terkenal kritis; ” Reincarnation of Goal of the Century,” tulis koran terkenal Inggris “The Sun”. Judulnya membangkitkan kembali kenangan kelam masyarakat Inggris melihat golnya Maradona memulangkan Timnas mereka dari Piala Dunia.

Sehebat apa pun penampilan Maradona, masyarakat Inggris tetap saja tak bisa memafkan dosanya karena mencetak gol tangan Tuhan di pertandingan yang sama.

” One Indonesian defeated Gegenpressing,” tulis The “Daily Mail”. Judulnya meski pun sangat memuji penampilanku membuatku amat muak. Aku sangat tidak setuju. Bukan hanya satu orang Indonesia yang berhasil mengalahkan Gegenpressing tapi dua. Mereka melupakan Alfred yang bukan hanya tampil garang menggalang pertahanan tapi juga merupakan pencetak gol kedua.

Yang menarik harian “The Mirror” mengangkat judul ” Where is Budi Exactly???.” The Mirror mengangkat foto besarku yang membentuk lambang cinta bersanding wajah muram Jurgen Klopp. Pertanyaan harian ini mengacu kepada raut bingung Klopp menanggapi perubahan posisiku dari gelandang bertahan menjadi libero di akhir babak pertama. Mereka menganggap perubahahan posisiku sebagai sebuah fenomena yang akan mempengaruhi masa depan sepak bola.

Harian ini beranggapan walau sebenarnya pemain yang ahli memainkan beberapa posisi sangatlah banyak di Liga Eropa, namun ketika keahlian multi posisi tersebut bisa merubah jalannya pertandingan, mereka sepakat aku merupakan salah seorang pemain yang berhasil melakukannya. Para pemain biasanya telah terkunci pada perannya masing-masing sehingga tak mudah melakukan perubahan ketika pertandingan sudah berlangsung di tengah jalan. Kesimpulanku soal mengatasi keterbatasan persepektif yang dihamparkan oleh Meneer Johan memang membuka wacana merubah posisi sebagai alternative strategi.

***

Sehabis melahap judul media masa, aku berangkat ke House of Fraser di kota untuk mencari baju. Bukan sembarang baju melainkan baju yang pas untuk menonton perhelatan akbar UFC langsung dari bangku VIP. Kata orang melihat dari bangku VIP lebih rumit daripada di bangku penonton biasa.

Kursi VIP menuntut lebih banyak sikap protokoler. Meski demikian imbalannya lebih besar karena bisa mendapat akses langsung menemui pemain atau melihat lebih dekat “ring girl” montok berikut pakaian sexynya.

Aku sengaja memilih hari minggu karena hari ini tidak ada jadwal latihan. Perlu waktu lama bagiku memilih sebuah baju yang cocok akibat tidak ada referensi jelas tentang dress code acara itu. Rasanya aku butuh seseorang untuk mempersempit perspektifku. Seseorang yang mampu menentukan baju apa yang harus kukenakan rabu besok apakah harus memakai baju kasual, resmi, tuxedo, seragam atau apa pun itu. Sangat lama aku terjebak dalam kebingungan hanya bisa menatap rangkaian baju bagus yang terpajang di galeri House of Fraser.

” Ambil saja jaket kulit hitam itu! kamu akan terlihat gagah!,” suara seorang wanita yang terdengar seperti sales toko mendekatiku.

Aku menggeleng mendengar penawarannya. ” Gak mau, aku jadi terlalu macho pake jaket kulit,” bantahku.

” Kamu gak suka jadi cowo macho?? apa kamu gay???,” dari logatnya sales ini orang Amerika. Sangat terus terang.

” Aku sangat normal,” kujawab dia santai” Aku doyan bercinta sama wanita….banyak wanita,” aku menjawab pertanyaannya tanpa mencoba melihat si sales. Mataku masih saja menimbang baju mana yang terbaik.

” Banyak wanita… kamu harus bisa membuktikannya.”

” Tentu saja aku akan buktikan padamu,” aku menoleh ” aku akan mem……….”

Tubuhku kaku. Mataku tiba-tiba merasa sakit. Semua tubuhku malahan ingin lari ketika melihat wanita di hadapanku.

” Ronda??? sejak kapan kamu ada di sebelahku???.”

” Sejak tadi!.”

” Apa kamu mengikutiku??,” setidaknya pertanyaanku ini bisa memberiku waktu melarikan diri.

” Enak saja, aku kesini mau shopping! Kebetulan saja melihat kamu. Gimana matamu??,” dia mendekatiku, sejenak melihat baik-baik bekas luka yang telah digoreskannya.

Di depan toko kulihat para pengunjung mulai berkerumun mulai menyadari kehadiran seorang super star olah raga.

” Masih sakit sedikit. Pukulanmu benar-benar keras…,” aku diam saja membiarkannya memegangi mataku memeriksa lukanya.

” Gak apa! kamu terlihat makin ganteng kok.”

Ronda berlalu begitu saja tak mempedulikan lukaku. Ia berjalan memeriksa rak baju laki-laki. Dua bodyguardnya setia menungguinya di luar pintu membuat pengunjung tak bisa mendekatinya.

” Coba pakai ini!,” diambilkannya jaket kulit hitam, kaos kasual abu-abu dan sebuah jeans berwarna senada.

” Sudah kubilang aku tak mau pake jaket kulit.”

” COBA!,” dia menaikkan suaranya. Meski tinggi badannya lebih kecil dariku dia lebih galak.

” Ok..ok aku coba….,” dibentak oleh orang yang telah membuat matamu biru tentu akan membuatmu segera patuh. ” ngomong-ngomong cek dari manajemenmu ini,ambillah kembali..aku..”

” Itu buatmu!.”

” Aku tidak mau menerimanya???.”

” AMBIL!”

” Emangnya harus???.”

” Harus!.”

” Kenapa??.”

” BANYAK TANYA!.”

Aku harus tertegun sebentar melihat sifatnya yang betul betul galak. Sifat galaknya membuatku sadar tak akan bisa menang berdebat melawannya. Berjalan bak tentara kalah perang kutinggalkan saja Ronda menuju ruang ganti. Kuganti baju cepat mengenakan jaket kulit dan baju pilihannya.

” Kamu ganteng!.”

” Hei! emang gak bisa ketok pintu dulu ya??.”

” Emang harus ketok pintu??.”

” Ketuk pintu itu tata karma ???.”

” Dimana??.”

” Setauku sih di setiap Negara.”

” O ya?? aku belum tau tuh.”

Santai saja Ronda menanggapi ocehanku soal tata krama. Alih-alih mengulangi mengetuk pintu dan keluar ruang ganti dia malah melangkah maju berusaha merapihkan penampilanku. Dirapihkan kaos yang telah melekat di badanku lanjut memasangakan secara tepat jaket kulit sesuai estetikanya.

” Berapa sih umurmu sebenarnya??,” tanyanya.

” Baru 20 tahun ini,” ujarku.

” Pantesan masih kayak anak kecil!,” ledeknya ” make baju aja gak becus!”

” Hei aku sudah besar!,” aku tak terima diledek soal usia.

” Pasti kamu masih tidur sama orang tuamu.”

” Enak saja! asal kamu tau aku sudah mandiri sejak umur 10 tahun! aku….”

” Ya…ya…ya whatever,” dia menggelang tak peduli ” Ayo jalan!.”

” Jalan kemana??? kata siapa aku mau ikut kamu???,” aku bertambah heran sama kelakuannya.

” Sudahlah ayo ikut!,” dia melangkah lagi ke rak baju laki-laki ” ambil juga ini….ini…..ini…..bayar di kasir….sekarang,” dilemparkan empat stel baju termasuk dua jaket kulit dan dua celana jenas begitu saja tanpa berpikir berapa biayanya.

Aku ingin sekali menolak wanita berusia 29 tahun ini tapi entah kenapa tak bisa melakukannya. Dia begitu dominan. Sangat berkuasa. Untuk ukuran seorang wanita Ronda betul-betul diktator tak mau dikendalikan dan dia benar-benar menyukai kontrol penuh terhadap sesuatu. Dalam pemilihan empat setel baju saja dia sama sekali tak butuh pendapatku dan menyuruhku membayar begitu saja. Sebenarnya ia sangat royal karena kesemua ini Ronda yang membayar. Wanita umumnya sangat teliti kala berelanja. Ronda tidak dia asal ambil dan asal bayar. Ia bahkan tidak menyadari aku membeli empat lembar selendang yang hendak kuhadiahkan kepada seseorang nanti. Diam-diam kuselipkan selendang diantara tumpukan belanjaan lalu menyandangnya bersama tumpukan baju lainnya.

Membelikan begitu banyak baju sama sekali tidak membuat Ronda peduli. Dia begitu santai tak mempedulikan uang atau pun kehadiran para wartawan yang dalam sekejap langsung memenuhi toko dan mengejar kami berdua. Rupanya para kuli media telah mencium kehadirannya.

Wartawan makin antusias melihatku seorang pemain bola professional dari klub Norwich City yang kemarin baru saja membuat gol spektakuler sedang berjalan bersama Ronda Rousey. Melihat wartawan mulai agresif, bodyguard Ronda langsung menjalankan tugasnya membangun pagar betis di sekeliling Ronda. Yang dilindunginya sendiri tampil sangat tenang, pertanyaan beruntun oleh wartawan tak dijawabnya sama sekali. Aku yang berdiri di sampingnya, hanya bisa cengengesan saja merasa bingung apa yang sebenarnya terjadi.

” Apa hubungan kalian berdua??,” tanya seorang wartawan. ” apakah kalian berpacaran??,” tanya wartawan yang lain. ” Bagaimana peluangmu rabu besok??.”

Ronda Rusey terus tertunduk tak mau menjawab pertanyaan wartawan.

Secara mengejutkan dia malah menggandeng tanganku membat kami berdua menjadi seperti seorang kekasih.

” Budi apa kamu pacaran sama Ronda Rousey???,” tak mampu menembus kebisuan Ronda wartawan mulai mengalihkan pertanyaannya kepadaku.

” Ehhhhhhh,” aku tersenyum-senyum aneh sendiri terjebak dalam kebingungan ” aku…..”

melihatku hendak menjawab, Ronda meremas pergelangan tanganku keras. Ia ingin memberi isyarat agar aku diam dan mengikuti saja sikapnya hingga kami tiba di mobilnya. Kedua bodyguarnya mempersilakan kami masuk mobil, melambai kepada wartawan dan segera memasuki mobil membawa kami semua pergi dari lokasi.

***

Berada satu mobil bersama mantan juara UFC merupakan pengalaman yang unik. Hingga detik ini aku tak bisa membaca sedikit pun siapa sebenarnya Ronda Rousey. Dia betul-betul spontan melakukan apa saja yang dia inginkan tanpa peduli apa pendapat orang lain tentangnya. Seseorang wanita yang benar-benar cuek. Lihat saja sekarang dia meminta supir berhenti di sebuah toko hanya untuk membeli kostum Norwich bernomer punggung 20 bertuliskan namaku tanpa alasan apa pun. Bila aku tanya dia diam tak mau menjawab pertanyaannku, dan hanya memberi sebuah jawaban ” kamu banyak nanya anak kecil!.”

Umurku memang lebih muda 9 tahun darinya tapi menurutku pengetahuanku tak kalah dengannya. Dalam usia semuda ini aku suka sekali belajar di akademi Norwich. Aku belajar apa saja, lewat siapa saja. Kegemaranku belajar membuatku menghapus stigma yang menyebutkan pemain bola itu bodoh. Lagi pula pemain bola di Inggris pintar-pintar. Frank Lampard seorang legenda Chelsea memiliki IQ 150. IQ seorang jenius. Aku pasti tidak bisa mengejar kejeniusannya Lampard tapi setidaknya berhasil bertahan hidup di Inggris selama ini menunjukkan aku dan Alfred cukup cerdas.

Namun semua kecerdasanku menjadi tak berarti dihadapannya. Sama sekali Ronda tidak mempedulikan ocehanku. Sekarang saja ia asyik menghidupkan televisi dalam mobil melihat perkembangan liputan pertadingannya melawan Holly Holm. Banyak pengamat di televisi sangat pesimis Ronda bisa mengalahkan Holm. Mereka mengatakan wanita cantik di sebelahku ini pasti benar-benar pensiun karena akan mengalami kekalahan terburuk dalam kariernya melawan seorang petinju kidal.

Mendengar ocehan bernada pesimis seperti itu tentu membuatku panas sendiri dan mematikan televise di depan Ronda.

” Apa yang kamu lakukan aku sedang nonton???.”

Ronda meolotot kepadaku.

” Acara itu tidak bagus bagimu!.”

Ronda tak peduli menyalakan lagi televisi.

Aku pun tak mau kalah langsung berusaha mematikan televise menggunakan tangan kanan. Melihat tanganku bergerak hendak mematikan televisi lagi ia menangkapnya cepat lalu memelintirnya ke bawah jok. Aku sudah memprediksi pitingannya pasti datang maka tangan kiriku bergerak menyusul mematikan televisi sebelum wajahku harus terbenam dia antara sela-sela paha Ronda karena dipiting.

“Sak….it…..sakkk……iiiiitttttttt,” aku meronta-ronta dipiting dengan tangan teracung ke atas membelakangi punggung. Sebenarnya aku senang merasakan nyungsep diantara kedua kaki montok Ronda yang aromanya begitu harum tapi rasa sakit ini benar-benar terasa.

Mendengarku meronta, Ronda membiarkannya sejenak selama satu menit sebelum akhirnya melepaskan kuncianya. ” Jangan kamu matikan televisi kalo aku lagi nonton!,” dia menghidupkan lagi televisinya.

Sekarang aku tak mau kalah. Terserah dia mau memitingku lagi tapi tayangan televisi betul-betul tak bagus baginya. Mempertaruhkan segalanya aku harus kembali mematikan tv.

Untungnya tak ada lagi kuncian di tanganku. Ronda hanya menatapku marah.

” Kamu benar-benar keras kepala ya??.”

” Kalo tidak keras kepala aku tidak akan jadi pemain bola,” ujarku kini berani menatapnya langsung ” terserah kamu mau menghajarku lagi atau memiting tanganku! tayangan tv tadi TIDAK BAIK BUATMU!.”

Sengaja aku keras sekali mengucapkan kata kata terakhir agar bisa didengar olehnya. Bodyguarnya yang duduk dibatasi oleh kaca pembatas hitam di antara jok sampai harus menurunkan kaca pembatas berusaha mengetahui apa yang terjadi dengan bosnya.

” Aku baik-baik saja!,” kata Ronda pada Bodyguarnya ” naikkan lagi kaca pembatasnya!.”

Para bodyguard langsung mematuhi perintahnya.

Ronda terus menatapku tajam. ” kenapa tidak baik??.”

” Tayangan tadi mencoba membuatmu ragu.”

” Maksudmu??.”

” Mereka ragu kamu bisa menang di pertarungan besok, dari keragauannya sendiri mereka mencoba menanamkan keraguan yang sama di hatimu,” mendengar perkataanku Ronda terdiam menyimak serius hingga memberanikanku melanjutkan kalimat ” aku selalu bilang pada sahabatku Alfred agar jangan pernah membiarkan orang yang tidak punya keyakinan di hatinya menggoyahkan keyakinan di hati kita!.”

Dia terlihat mengangguk. Meski hanya sepersekian detik Ronda Rousey mengangguk.

***

Sebuah kelembutan hati nan misterius. Sama seperti orangnya. Sesaat dia bisa lembut namun sejurus kemudian dia berubah. Termasuk sekarang. Tanpa basa-basi Ronda membawaku ke sebuah salon kecantikan terkenal di Norwich. Kehadirannya bukan main-main langsung saja menutup keseluruhan salon karena ia membooking keseluruhan salon kecantikan selam enam jam ke depan. Hebatnya lagi ia melakukan semua ini tanpa berkonsultasi terlebih dahulu denganku.

Bagi seorang laki-laki menunggui seorang wanita ke salon merupakan masalah besar. Kami kaum laki-laki senang melihat kecantikan wanita yang merupakan hasil akhir dari salon kecantikan bukan proses menuju cantiknya. Buat kami proses di salon merupakan sebuah hal paling melelahkan di dunia karena harus menunggu begitu lama. Kegusaran kaum laki-laki ini tampaknya dipahami oleh Ronda. Ia mempersilahkan aku menontonnya secara langsung di sampingnya ketika mendapat sesi pemijatan. Bodyguarnya tidak mendapat kesempatan yang sama denganku. Mereka semua diminta menunggu di luar.

Ronda santai keluar dari kamar ganti hanya berbalut sehelai handuk. Rambutnya digerai setelah sebelumnya dikuncir kuda menampilkan kecantikan yang jarang dilihat orang lain. Bahu telanjangnya beserta paha mulus yang tak bisa terlindungi belitan handuk membuatnya makin sexy. Setidaknya bisa melihat kemulusan dan kesexyan tubuh super star olahraga di depanku ini bisa membuat aktifitas menunggu menjadi tidak membosankan.

” Kamu bukan gay kan??,” ia bertanya sembari tangannya memegangi handuk di perbatasan dada.

” Enak saja,aku suka wanita,” dipanas-panasi terus tentu saja membuatku menjawab sedikit emosional.

” Kamu terangsang donk melihatku seperti ini???.”

” Eeeeehhh…,” Skak mat. Sebuah pertanyaan mematikan.

” Jawab!.”

” Tentu saja…,” jawabku mati kutu.

” He jangan malu kalo gitu! anggap saja ini hiburan buatmu.”

Ronda rebah tengkurap di matras pemijatan. Wajahnya mengarah kepadaku. Awalnya aku malu melihatnya. Apalagi saat pemijatnya yang juga wanita muncul mulai membaluri punggung Ronda dengan aroma terapi. Membaluri punggung tentu mengharuskan si pemijat membuka kaitan handuk di tubuh sang mantan juara. Mampu melihat bagian punggung Ronda dalam keadaan polos tentu saja membuatku horny namun di saat yang bersamaan aku juga menjadi serba salah.

” Mau ngapain sih kita???,” tanyaku berusaha menghindarkan pikiran jorok. Montoknya pantat dan keindahan bagian belakang tubuhnya membuatku gila.

” Aku mau ke acara “Meet and Great UFC” nanti sore,” jawab Ronda memejamkan mata menikmati pijatan.

” Meet and Great UFC?,” aku terkejut.

Ronda hanya mengangguk.

Brengsek kenapa aku harus diajak-ajak ke acara kumpulan atlet UFC??.

” Kenapa kamu ajak aku??.”

” Karena aku mau.”

Aku menggeleng heran tak mengerti jalan pikirannya. ” Bagaimana kalo aku tidak mau??.

Ronda gentian menggeleng ” Kamu harus mau.”

” Kamu suka memaksakan kemauanmu ya??,” tanyaku mencuri pandang memperhatikan pantat bulatnya yang mulai dibaluri lotion.

” Semua lawanku di Octagon mengikuti kemauanku,” jawab Ronda tanpa berusaha membuka matanya.

” Kecuali Holly Holm?,” untung aku cukup berjarak darinya. Bila tidak aku bisa saja dihajar karena menyebut nama orang yang tak boleh disebut.

Ronda membuka matanya. Senang rasanya akhirnya dia membuka mata menghadapiku serius.

” Jangan kamu coba sebut namanya lagi!,” ultimatumnya singkat dilanjutkan menutup mata lagi.

Setelah nama Holm kusebut, Ronda seperti malas membuka topic pembicaraan. Ia hanya diam menikmati pijatan meninggalkanku menikmati secara jelas bagian belakang tubuhnya. Dibaluri lotion membuat tubuhnya mengkilap dan semakin sexy. Hampir tidak ada lemak di tubuh Ronda menjelang pertarungannyanya tiga hari lagi. Walau demikian dasar tubuhnya yang montok tidak membatnya terlihat berotot bak binaragawati. Tubuhnya montok padat berisi rangkaian otot alamiah sangat proporsional bagi wanita. Aku melihat sendiri Ronda benar-benar prima.

” Kamu bisa berbalik Miss Ronda,” ujar si pemijat.

Nah ini bagian yang kutunggu-kutunggu. Sudah puas melihat bagian belakang sekarang tiba bagian depan. Payudaranya bagaimanapun juga membuatku sangat penasaran.

” Tutup tirainya sebagian!,” ujarnya melirik padaku seolah mengatakan enak saja kamu melihat bagian depan tubuhku.

Aku hanya bisa menunduk mengumpat dalam hati.

Sial sudah menunggu lebih dari satu jam kukira akan mendapat jackpot ternyata..

Ronda terlentang ditutupi tirai sebagian besar tubuhnya menyisakan kepala serta bahunya saja. Meski tertutup tirai bayangan si pemijat masih terlihat akibat pantulan cahaya lampu. Kulihat si pemijat membuka handuk yang dikenakan Ronda membuatnya telah telanjang bulat.

” Angkat kedua tanganmu Miss Ronda!,” perintah si pemijat langsung dipatuhi Ronda. Tangan terangkatnya bisa membuatku melihat jelas sebagian sisi dari ketiaknya yang begitu mulus. Baluran lotion di tangan dan ketiak membuat bagian itu semakin menggoda. Ronda terus memejamkan mata menikmati pijatan demi pijatan. Si pemijat cukup lama membaluri ketiaknya melakukan sebuah perawatan khusus guna menghaluskan bagian ini.

” Bagaimana tubuhku orang Asia??,” dalam keadaan ketiak sedang menerima perawatan Ronda melirik kepadaku.

Skak mat kedua.

” Eeeeeh….”

” Jawab!.”

” Kamu hot…sangat hot …..,” ujarku malu.

” Kamu sungguhan???.”

” Eeeeehhh ya….kamu….sangat hot…”

Mendengar jawabanku sekilas kulihat ia tersenyum. Sebagai wanita diakui oleh laki-laki memiliki tubuh yang indah tampaknya merupakan penghormatan tersendiri. Demikian pula bagi Ronda Rousey.

Ia tampak tersanjung menghabiskan waktunya dalam diam selama beberapa lama menikmati aksi si pemijit yang terus memijatnya. Setelah membaluri ketiak, dari balik siluet si pemijat turun menuju payudara Ronda dan melakukan pemijatan serupa. Aku hanya bisa melihat siluetnya tapi menurutku adegan di depan mataku cukup mampu membangkitkan sesuatu.

“Ronda bila kamu sebagai pejudo menghadapi seorang petinju kidal apa yang akan kamu lakukan guna mengatasi keterbatasan prespektifmu??,” kembali mencoba mengatasi pikiran jorok aku memberanikan diri menanyakan pertanyaannya Meneer Johan. Sebagian misteri pertanyaan Meneer sudah terjawab di lapangan hijau tapi belum di ranah UFC.

Mendengar pertanyaanku Ronda membuka matanya.

” Pertanyaan kedua, apa maksud kalimat ; Waspadailah “Tori” maupun “Uke” yang bisa memanfaatkan momen jatuhnya dan bisa kembali menyerang??.”

Ia melihatku sekilas kemudian memalingkan wajah lagi menikmati pijatan.

” Pertanyaanmu cukub berat untuk laki-laki berumur 20 tahun.”

” Jawab!,” kubalas secara sempurna aksi ala diktatornya Siapa suruh mencontohkanku kediktatoran, aku jadi menirunya mentah-mentah.

” Jangan mencoba menyuruhku orang Asia!.”

” Jawab saja!.”

Tampaknya Ronda tak percaya gayanya bisa kuiimitasikan begitu serupa hanya dalam hitungan jam.

” Ok kujawab!,” hatiku meledak diselimuti kegembiraan mendengarnya mau menurut. ” Tori dan Uke merupakan istilah Judo untuk pelaku aktif dan pasif. Aku gak tau kamu dapat darimana pertanyaan tadi tapi kalimat “dia yang bisa memanfaatkan momen jatuhnya dan kembali menyerang merupakan bentuk permainanku di Octagon sebelum….,” jari telunjuknya diarahkan tepat ke mukaku “awas jangan kamu coba sebut lagi namanya atau aku akan melompat dan menghajarmu!,” ia mengerling tajam ” pertanyaan terakhir soal pejudo yang menghadapi petinju kidal masih belum bisa kubajawab.”

” Tapi kamu adalah seorang pemegang sabuk hitam Dan 4 Judo, masa gak bisa jawab???.”

” Budi dengar ya!,” rasanya telingaku salah dengar tapi ini pertama kalinya kudengar dia memanggil namaku ” bukan masalah Judo atau pun Southpaw,” seluruh wajahnya memandangku ” UFC adalah MMA, Mix Martial Art, gabungan seluruh seni bela diri. Petarung mana saja yang memiliki kemampuan bela diri paling komplit akan keluar sebagai pemenang.”

Kuperhatikan wajahnya yang kini sedang melihatku, ia benar-benar cantik.

” Tapi bagaimana Ronda…bagaimana bila pondasi masing-masing petarung tidak terlepas dari pondasi bela diri pertama kalinya??,” meski terkesima oleh kecantikannya aku berusaha terus membuka wacananya. Ronda terdiam berusaha memikirkan baik-baik ucapanku. Kuyakin sebagai seorang Master Judo dia sebenarnya ingin bertanding menggunakan gaya Judo tapi tuntutan menggunakan beragam seni bela diri membuatnya berubah.

” Apa sebenarnya yang ingin kau katakan orang Asia??.”

” Aku….,” skak mat ketiga” aku mengkhawatirkanmu.”

Tiga kali Ronda berhasil menyudutkan pemikiranku.

” Khawatir kepadaku??? bagaimana bisa sedang aku sudah membuat matamu bonyok??.”

” Mata bonyok ini kuanggap oleh-oleh darimu,” aku berbohong ” sedangkan kekhawatiranku berasal dari keinginanku untuk tidak lagi melihatmu jatuh lagi seperti pertempuranmu sebelumnya….maafkan aku,” harus kuakui kalimat tadi membuatku tertunduk. Ya itulah alasan sebenarnya. Dalam kesendirianku di mess latihan aku tidak ingin Ronda terjatuh lagi secara mengenaskan.

Mendengar ucapanku barusan membuatnya tertegun sejenak. Raut wajahnya menunjukkan ia tak percaya ada seorang asing yang mau berdiri mendukungnya. Tinggal tiga hari lagi menjelang pertarungan. Aku yakin petarung mana pun akan memanggul beban teramat berat dalam kurun waktu ini. Tak terkecuali dirinya. Kuyakin dari balik sikap jantan yang tak pernah lelah ditunjukkannya ia masih menyimpan kekhawatiran teramat besar.

” Dandani tuan ini!,” perintah anehnya kembali datang setelah sesi pemijatannya berakhir.

” Apa maksudmu??,” tentu saja aku bingung.

” Kamu akan didandani.”

” Aku cowo, tak butuh didandani.”

” Terus kenapa kalo kamu cowo??.”

” Didandani untukmu bukan untukku,” keras aku mendebatnya.

” Tidak masalah kamu cowo atau cewe. Menghadiri acara “Meet and Greet UFC siapa saja perlu didandani,” Ronda mengucap kalimat tanpa harus repot-repot berusaha memandang wajahku.

” APA??? MEET AND GREET KAMU MAU NGAJAK SIAPA??.”

” Gak usah terkejut begitu orang Asia. Aku baru saja menyuruhmu menemaniku ke acara itu nanti sore! bersiaplah!.”

Seandainya saja aku tidak memiliki fisik yang prima, bisa saja aku telah dibuatnya pingsan berkali-kali bukan oleh kekerasan kepalan tangannya tapi oleh kejutan dari balik kata-katanya.

***

Pihak salon mendandaniku sedikit. Aku terus bersikap rewel tidak mau menerima perawatan mereka secera menyeluruh. Melihatku rewel membuat mereka hanya bisa memberi perawatan seadanya saja lalu memasangkan baju yang sebelumnya dibelikan Ronda untukku di toko. Mengenakan jaket kulit, kaos abu-abu gelap dan celana jeans berwarna senada membuat tampilanku terlihat lebih sangar. Persis para pemain laki-laki UFC. Tubuhku yang memang atletis membuat semua baju yang dibelikan terlihat pas.

” Kamu ganteng. Jangan permasalahkan matamu yang masih biru! kamu benar-benar ganteng pake baju pilihanku!” Ronda menyapaku sehabis mengenakan kostum yang akan dikenakannya sendiri sore ini.

Aku terkesima melihat penampilannya yang baru saja keluar dari ruang ganti.

” Wow Ronda….,” aku terkesima hingga tak bisa bicara.

” Bagaimana penampilanku??.”

” Kamu… seperti ratu……”

Sore ini ia mengenakan gaun berwarna hitam tanpa lengan. Gaun tanpa lengannya memamerkan kemulusan tangan sekaligus kekuatan otot otot yang menyelimutinya. Perawatan pada ketiaknya barusan membuat ia semakin percaya diri. Selain memamerkan lengannya, gaun yang dikenakan seperti terbelah secara sexy dari pangkal lehernya kemudian melintang ke kanan ke arah salah satu bukit kembarnya. Aku yakin Ronda tidak bisa mengenakan BH di balik gaun ini karena belahan melintang di arah bukit kembarnyanya memamerkan kulit tubuhnya secara keseluruhan. Setiap laki-laki yang nanti melihatnya kujamin pasti mengharapkan gaun Ronda terselip sehingga memperlihatkan bagian intimnya.

Namun kuperhatikan desainer gaun ini sangat jenius karena membelah gaun bagian atas hingga sedikit menyentuh bukit kembar sebelah kiri tanpa membuat Ronda terkesan murahan. Ia malahan terlihat anggun karena tidak ada ujung bukit yang menyeplak dari balik gaunnya meski kuyakin Ia tidak menggunakan pelindung apa pun di baliknya.

” Kamu serius?? mana ada ratu yang tangannya seperti ini??,” dia tekuk tangannya dalam sudut 90 derajat memamerkan tangan kokohnya ” di sekolah dulu tanganku di bully sebagai tangan anak laki-laki..”

” Mereka yang membully mu salah Ronda…itu merupakan tangan tersexy yang pernah kulihat.”

Mendengar kalimatku terucap, Ronda tersenyum cerah. Sebuah senyum paling cerah yang kulihat darinya satu hari ini. Dia seperti tersipu tapi begitu cepat menemukan kontrol dirinya kembali.

” Sudah cukup kalimat pujianmu nanti kamu bisa membuatku lupa diri!,” ia maju kemudian berdiri di sampingku. Saat ia berjalan baru kusadari belahan roknya dari tengah sangatlah tinggi. kedua pahanya mulusnya begitu terekspose secara sempurna. Sore ini, Rowdi Ronda Rousey benar-benar tampil memukau.

” Ayo kita berangkat!,” ujarnya mengait tanganku berdiri seperti sepasang kekasih.

Aku menatapnya bingung. Ronda menatapku balik menyadari kebingunganku.

” O ya aku lupa bilang malam ini barangkali dunia akan menyebutmu sebagai kekasihku???.”

” APA????.”

Ronda tersenyum tak memberiku penjelasan lebih lanjut langsung saja membawaku berjalan berdua ke luar salon kecantikan lalu berangkat menuju lokasi pertemuan.

***

Barangkali tidak ada seorang pun yang menyadari, termasuk diriku, Ronda Rousey selain petarung juga merupakan seorang politikus jempolan. Kuyakin dia juga tak menyadari bakat ini tapi manuvernya mengajakku pada gala pertemuan para Petarung UFC yang akan berlaga di UFC 207 besok menunjukkan kepiawaiannya. Sejak turun dari mobil kami berdua seketika menjadi pusat perhatian. Seluruh wartawan berbondong-bondong menyerbu kami memberondong dengan blitz-blitz lampu kamera. Penampilan anggun gaun sexy Ronda merebut perhatian para laki-laki dan wanita yang melihatnya.

Sebenarnya kehadiran Ronda Rousey seorang diri, tanpa diriku, sudah cukup membuatnya jadi pusat perhatian. Meski pun dalam pertarungan nanti berstatus sebagai “penantang” nama besarnya sudah cukup memiliki nilai jual. Akan tetapi menggandeng seorang pemain bola Liga Inggris yang kemarin baru saja mengulangi terciptanya Goal of The Century legenda Diego Armando Maradona, membuat wartawan dan hadirin makin antusias. Sangat sangat antusias malah karena Ronda menampilkan kesan ia begitu mesra menggandengku seperti aku adalah kekasihnya.

Harapan sebagian wartawan melihat wajah emosional Ronda Rousey seperti jumpa pers terakhir sirna akibat kehadiranku. Tidak ada lagi kemurungan di wajahnya. Semua aura negative diganti oleh keceriaan yang ditampilkannya sejak turun dari mobil. Aku saja, seorang selebrity dadakan, yang tak percaya mendapat kesempatan begitu mewah seperti ini, tak mempercayai penglihatanku.

Rasanya sepanjang hari kami menghabiskan hari bersama dalam suasana yang sama sekali tak bisa dibilang ceria . Tapi sekarang Ronda berdiri disini bersikap sungguh-sungguh memperlihatkan aku sebagai seorang laki-laki yang bisa mengembalikan keceriaan dalam hidupnya

” Kamu bilang tidak mau melihatku jatuh lagi seperti kemarin kan??,” ia bertanya sambil berbisik kepadaku sembari terus melayani permintaan foto para wartawan.

” Tentu,” jawabku mengikutinya tersenyum menghadapi lampu blitz yang terus saja berseliweran.

” Kehadiranmu sudah membuatku sebagai pemenang!,” ujarnya memberikan senyum merekah kemudian kembali menggandengku dan mengajakku berjalan menuju pintu masuk.

Sepanjang jalan di karpet merah, wartawan tak henti menanyakan apakah aku merupakan kekasihnya. Secara tegas ia menjawab YA. Aku merupakan kekasih yang telah mampu mengangkat selubung derita dalam dirinya dan menggantinya dengan cahaya keceriaan. Wartawan terus mengejar pernyataannya ini yang dihadapinya sangat tenang tanpa memperlihatkan kegentaran atau kegundahan seperti yang terakhir kulihat di televisi.

Para petarung UFC lain sampai harus menyingkir karena keceriaan Ronda, yang akhirnya kuketahui sengaja merancang kedatangannya sedikit terlambat agar menunjukkan efek kemegahan tersendiri. Holly Holm Sang Juara saja yang kulihat sudah hadir di mejanya harus terkesima oleh kemunculan Ronda bersamaku. Kemuakan di wajahnya jelas terlihat tak percaya bisa-bisanya Ronda memilih opsi memasuki gelaran Meet and Great secara spektakuler.

” Dia kekasihku, seorang kekasih yang sangat kusayang,” jawabnya penuh senyum saat memasuki ruangan dan dikejar pertanyaan para koleganya. Senyum terus tersungging di wajahnya sampai kami berdua duduk di meja bundar kecil yang telah disediakan. Para hadirin dan undangan terus-terusan menatap kami meski kami sudah duduk.

” Nice goal young Man! Goal of The Century right???.”

Seorang hadirin menyapaku memberiku salut atas golku kemarin. Aku menjabat tangannya yang wajahnya terasa sangat familiar tapi aku tak bisa mengenalnya. Pasti ia seorang selebrity lainnya. Ronda sama sekali tak terganggu melihatku dielu-elukan oleh undangan lain yang biasanya hanya mengelu-elukannya seorang.

Alih-alih terganggu ia malahan terlihat sangat menikmati sensasi mengajak jalan bareng seorang pemain bola yang baru saja mendapat ketenaran akibat sebuah golnya yang dianggap sangat spektakuler oleh dunia.

***

” LADIES AND GANTELMEN, NOW WE WELCOME OUR CONTESTANT FOR MAIN EVENT OF THE UFC 207 ; FIRST IS THE CHALENGGER, FROM MY LEFT ” ROWDI” RONDA ROUSEY!,” tepuk tangan bergemuruh menyambut kembalinya Ronda setelah lebih sari satu tahun tidak pernah bertanding di ajang UFC. ” AND FROM MY RIGHT THE CHAMPION “THE PREACHER’S DAUGHTER HOLLY HOLM,” sambutan tak kalah meriah muncul seketika saat Holm dipanggil berikutnya lantas berjalan memasuki gelanggang. Penonton mengelu-elukannya tak kalah meriah dari Ronda. Balutan sabuk juara yang dia sandang di bahu membuat penonton menyambutnya semakin riuh.

Ronda sedikit terganggu melihat balutan sabuk juara di bahu Holm yang sore ini tampil santai menggenakan baju hitam panjang kasual simple. Balutan celana jeans di kakinya membuat penampilannya terkesan sangat sederhana. Sangat berbeda dengan penampilan glamor Ronda, Holm menghadapinya secara sederhana. Kuyakin Ronda pasti tak bisa menyembunyikan emosi menatap Holm, tapi dia terus memendangku selama Holm menaiki podium berusaha tidak memperhatikannya.

Sadar ia sedang melihat wajahku, kubalas dengan sebuah kepalan tangan terangkat. ” Go on! don’t be afraid!,” ujarku dari jauh. Membaca gerak bibirku Ronda mengangguk. Ia terus bersikap tenang saat kedua petarung harus menghadap wartawan untuk difoto.

Meski demikian satu kekhawatiran terbit di hatiku. Melihat kontrasnya penampilan mereka merupakan sebuah pertanda akan ada dua gaya berbeda nanti tersaji di Octagon. Satu ; gaya sederhana “Southpaw” Holm yang mengutamakan kecerdikan dan kelincahan, dua ; gaya “Brawler” Ronda yang glamor sehingga menarik minat banyak penonton serta mengutamakan kebrutalan dan kesadisan. Masalahnya sekarang Brawler amat sangat jarang menang dari Southpaw dalam satu decade terakhir baik di ring tinju maupun Octagon.

Kedua gaya klasik petarung gladiator kembali bertemu sekarang. Ketika announcer menyuruh mereka berdua saling berhadapan mereka hanya dibatasi oleh seorang laki-laki botak yang akan menjadi wasit mereka tiga hari lagi. Aku sempat khawatir Ronda akan meledak lagi karena dipertemukan begitu dekat bersama Holly Holm. Senyumnya saja menghilang seketika dan dia menghadapi Holm penuh keseriusan dan Holm pun demikian. Mereka berdua sudah siap saling bunuh tapi waktu belum mengijinkan mereka.

Petenis Inggris Andy Murray pernah mengeluhkan kenapa hubungan antara para petenis putri lebih rumit dari petenis putra. Ketika Murray sedang bertemu Nadal atau Djokovic di sebuah pertandingan, mereka akan mati-matian bertarung di lapangan namun kemudian saling bersalaman, kembali menjadi seperti saudara setelah pertandingan berakhir.

Menurut Murray, hal ini tidak terjadi di petenis putri. Mereka bertarung mati-matiaan di lapangan dan masih menyimpan dendam di hati ketika pertandingan berakhir.

Menurutku hal yang sama terjadi di ranah UFC. Sekarang saja Ronda begitu congkak menaruh satu tangannya di pinggang dan satu tangan kirinya terangkat mengarah ke dagu Holm. Holly Holm sebaliknya menggelar kedua tangannya masing-masing terarah siap menghajar wajah Ronda. Perselisihan mereka berdua di atas ring telah dibawa terlalu jauh ke ranah personal. Kaum wanita senang sekali membawa sesuatu ke ranah personal sehingga meninggalkan beban psikologis begitu berat.

Sebagai laki-laki aku begitu takut melihat rivalitas mereka. Kaki kananku sedari tadi tak henti gemetar menahan rasa cemas. Padahal aku pemain bola professional. Sering bertanding di partai-partai mendebarkan, namun melihat dua orang wanita hendak saling menyerang satu sama lain dan salah satunya dekat denganku membuatku tegang.

Ronda maupun Holm merupakan petarung terbaik wanita di UFC. Tidak akan mudah menentukan siapa pemenangnya. Tanpa harus ditambahi taruhan pensiun untuk Ronda di partai ini sudah sangat sulit dimenangkan apalagi ditambahi taruhan sebesar itu.

Menghadapi taruhan Holm yang akan mempensiunkannya, Ronda menggangkat tangan kirinya sebagai penanda ia tak gentar melawan petinju kidal. Sebaliknya Holm, ia mangepalkan kedua tangannya, seolah mengatakan bukan hanya kepada Ronda, tapi juga dunia, bahwa kedua tangannya akan meremukkan lagi atlet wanita selebritis dihadapannya dan membawanya harus mengakhiri kariernya sebagai petarung mix martial art.

***

Ronda Rousey terus menggandeng tanganku erat sehabis perang urat syarafnya melawan Holm berakhir. Buatku dia betul-betul menjadi bintang sore ini. Bukan hanya karena ke glamoran pakaian dan keanggunan penampilannya, tapi yang lebih penting daripada itu, kesanggupannya menahan emosi. Tak tampak lagi figure brangasannya pada jumpa pers sebelumnya. Saat itu raut wajahnya bahkan tak bisa dikendalikannya saking tenggelam dalam emosi.

Kini Ronda begitu tenang. Harus berhadapan face to face melawan seorang wanita yang telah berhasil menancapkkan rasa traumatis begitu besar dalam hidupnya ia tampil elegan. Sikap, cara berdiri, keanggunan, tutur kalimat semuanya sempurna. Ronda seolah ingin menunjukkan bahwa ia merupakan wanita yang berbeda.

” Ronda apa benar kamu akan pensiun bila kalah lagi pada pertandingan nanti??,” seorang wartawan masih saja bertanya saat kami hendak menuju mobil meninggalkan tempat acara.

” Aku akan pensiun bila kalah! aku janjikan itu,” Ronda mengucapkan kalimat tanpa emosi sama sekali. Suaranya tenang akan tetapi dibalik itu tangannya meremas tanganku tanpa bisa dilihat siapa pun menunjukkan sebuah luapan emosi ” lagi pula kenapa aku masih harus berada di UFC sebagai seorang pecundang?”

Habis menjawab cepat ia tarik tanganku agar memasuki mobil.

” Lantas kalo pensiun kamu akan melakukan apa???,” wartawan masih mengejar. Aku yang masuk pertama kali sudah duduk di mobil mewah limosin yang dipersiapkan khusus baginya.

Ronda merapihkan sejenak gaunnya. Tidak menjawab pertanyaan tadi.

Dua orang bodyguardnya jeli melaksanakan tugasnya masing-masing. Satu orang naik di kursi samping supir, satu orang tetap berdiri diantara mobil dan wartawan membentuk pagar hidup. Kupikir Ronda tidak akan menjawab pertanyaan tadi tapi kemudian dia menurunkan kaca jendela dan menghadap si penanya.

” Kalo aku pensiun aku akan tinggal di Norwich atau Indonesia bersama dengannya!,” ujarnya sambil menunjukku lalu menutup kembali kaca jendela.

***

” Kenapa kakimu masih gemetaran???,” tanyanya ketika kami tinggal berdua di dalam mobil. Kaca pembatas antara kami dan supir serta bodyguard telah ditutup. Privasi kami lebih terjaga hingga lebih nyaman saat berbicara.

” Kenapa juga kamu masih merangkul tanganku???,” balasku karena sedari tadi ia tak pernah melapaskan tanganku.

Pertanyaan tadi membuat kami tertawa menyadari kegugupan masing-masing serta cara aneh mensiasatinya. Masalahnya kakiku masih saja gemetaran. Lucunya tangan Ronda juga tidak mau melepas pegangannya di tanganku.

” Aku………..”

” Aku…………”

Kami berdua sama-sama ingin mengutarakan kalimat pembelaan. Harga diri kami tak mengijinkan lawan bicara mengetahui kelemahan kami masing-masing sehingga ego kami mengutarakannya dalam waktu yang bersamaan. Rondalah yang pertama kali tertawa ketika kalimat kami bertabrakan.

” Kamu duluan!,” suruhnya. ” Enggak kamu duluan! ladies first!,” elakku. ” Kamu saja!,” tetap dia memaksa. ” Gak mau sejak kapan cowo yang….,” aku cepat membela diri. ” Sudah cepat kamu duluan!,” Ronda menggunakan daya paksanya.

” Ok ok,” sial kapan aku bisa menang melawannya ” aku selalu gemetaran di kaki kanan saat menghadapi ketakutan akan sesuatu.”

” Apa yang membuatmu ketakutan???.”

” Kalian berdua!,” aku menunjuknya. ” Kenapa kami??,” Ronda mengangkat bahunya “aku tidak emosi seperti kemarin, kenapa kamu takut???,” ia menudingku balik. ” karena aku membayangkan kalian berdua akan segera saling tikam. Membayangkannya saja sudah membuatku gemetaran. Kamu tau, di sepak bola kami biasa terjebak dalam rivalitas sengit, tapi kami tidak pernah berniat saling menyakiti satu sama lain. Tidak seperti kalian atlet…,” aku berhenti takut salah bicara. ” Lanjutkan!,” Ronda mendorongku agar meneruskan. ” Tidak seperti kalian atlet UFC yang memang meniatkan untuk menyakiti.”

“Mau gimana lagi kami petarung???.”

” Lantas kalo petarung kenapa tanganmu tetap merangkulku sepanjang acara??? bukan sikap yang pas bagi seseorang yang memang berniat menyakiti orang.”

” Petarung juga manusia,” Ronda mengait tanganku erat menatapku secara langsung ” tadi..disana…jujur aku merasa takut….entahlah Budi…biasanya aku tidak pernah takut menghadapi siapa saja..tapi tadi aku merasa takut,” tutur katanya begitu lembut saat mengucapkan pengakuan ini. Bukan seperti Ronda Rousey yang biasanya. Dia begitu lembut. Benar-benar seperti wanita.

” Takut apa??.”

Ia berusaha memalingkan wajah dariku. Berusaha bersikap melawan kodratnya sebagai wanita.

” Apa yang kamu takuti??,” kugenggam tangannya semakin erat.

” Aku takut,” sempat terdiam cukup lama ia kemudian memberanikan diri bicara “Holm akan menendangku lagi…aku takut ia akan mempermainkanku lagi di atas ring seperti aku anak kecil…..aku takut ia akan mengalahkanku lagi,” getaran emosi mulai meluap ” aku takut dunia akan membullyku lagi…..membullyku di media sosial….jalanan…hingga di halaman rumahku…….kamu tau dunia melecehkanku seperti aku ini tidak pernah menjadi juara sebelumnya…..AKU INI PERNAH JUARA UFC TAPI MEREKA MEMPERLAKUKANKU SEPERTI SAMPAH SETELAH AKU KALAH!,” butiran air mata mulai keluar dari matanya membasahi pipi melunturkan make up yang telah membalut wajahnya begitu cantik. Aku berusaha merogoh sapu tangan atau tissue tapi tidak mampu menemukannya. Sekarang ia terdiam cukup lama berurai air mata. ” Setidaknya…tadi…,” Ronda terisak “memeluk tanganmu bisa membuatku sadar ada seseorang di luar sana yang masih sayang terhadapku.”

Berdua bersamaku di sudut sepi limosin, Ronda tak lagi berusaha menyembunyikan perasaannya. Ia tumpahkan segala kegusaran yang telah menyelimutinya lebih dari setahun terakhir. ” Ada Ronda!,” tanganku berusaha menyentuh pipinya. Aku takut ia akan menelikung tanganku lagi, tapi membiarkannya tenggelam dalam kesedihan lebih lama akan membuat penampilan sempurnanya sore ini menjadi berantakan ” masih ada seseorang di dalam mobil ini yang menyayangimu!,” ujarku lembut menyentuh pipinya dan menyeka butiran air matanya.

Ronda mengait tanganku cepat saat menyentuh pipinya. Aku ketakutan ia akan membantingku namun ia tidak melakukannya. Ia hanya menatapku mempersilahkanku melanjutkan. Diberi ijin kugunakan kedua ibu jari menyeka air mata di kedua mata indahnya. Ia tampak makin manis kala tidak lagi berusaha menjadi figure wanita macho.

” Terima kasih,” ujarnya lirih sambil menurunkan kedua tanganku ” Tanpa kehadiranmu aku pasti tak bisa melalui hari ini,” ia menatapku.

Saling berpegangan tangan kami berdua saling menguatkan. Seluruh beban masalah menjadi tak berarti ketika Ronda dan aku berpegangan tangan berani mengatakan secara jelas bahwa rasa sayang yang telah terjalin diantara kami secara misterius mampu menaklukan tantangan apa saja di depan.

Buatku sendiri, melihat wajah putihnya begitu cantik dihias oleh kedua bola mata biru dan rambut pirang panjang yang kini dikuncir membuatku hilang kendali lantas refleks maju mencium bibirnya. Posisi kami duduk memang saling berdekatan hingga wajah kami bisa saling bersentuhan begitu cepat. Berhasil mencium bibirnya membuatku berusaha lebih jauh mengait pingganya dari balik gaun indah dan membawanya ke dalam pelukanku.

Kami berciuman mesra sambil berpelukan erat. Segala keresahan hati seketika lenyap ditutup oleh gairah yang mulai terbangun secara sempurna diantara kami. “Ciuman pertama” kami berlangsung sangat lama. Bibir kami tak pernah terlepas saling memagut berbagi cinta yang terasa unik. Bukan seperti cinta biasa. Kami saling pagut hingga akhirnya aku melepaskan ciuman. Kutatap mata Ronda yang masih menyisakan sebutir air mata dan kembali kuseka.

Meski masih mengeluarkan air mata mimik wajahnya tidak lagi sedih.

Aku memang hanya berencana memberikan sebuah ciuman kepada Ronda Rousey, membawanya kembali ceria, lantas melepaskannya agar bisa fokus menghadapi pertandingan. Cintaku kepadanya terasa aneh. Terbangun secara tidak biasa, penuh manuver tajam yang mengalahkan liarnya Gegenpressing dan menembus Catenaccio hatiku. Walau hanya meniatkan sebuah ciuman melihat dari tatapan matanya sekarang Ronda mengharapkan lebih dari sebuah ciuman.

Sebagai laki-laki tentu aku ingin lebih dari sekedar ciuman tapi menghadapi seorang juara UFC dalam kondisi fisik terbaik tentu membuatku jeri. Saat kurasakan genggaman tanganku dipererat olehnya bersamaan dengan wajahnya yang cantik penuh libido yang mulai tak tertahan tersenyum mesum maju menciumku balik, aku tau aku akan segera dibuat KO olehnya.

Benar saja Ronda Rousey cepat sekali menaiki kakiku kembali melakukan Gegenpressing dari posisi duduk berubah menjadi duduk di pangkuanku. Gaun anggun sexynya dinaikkan agar ia bisa bebas duduk mengangkang lebar diantara kakiku. Tanganku bisa merasakan bagaimana kemulusan pahanya terhampar diantara kekokohan paha seorang atlet terlatih. Naik sedikit lebih tinggi tanganku menyentuh perbatasan paha dan pantatnya merasakan ia mengenakan G-String di balik gaun ini karena pantatnya begitu mudah ku gerayangi.

Ronda menengadah sejenak merasakan sensasi nikmat ketika merasakan paha dan pantatnya kugerayangi. Bertahan beberapa lama dalam posisi tertengadah membuatku mencoba menggerakkan tangan menyentuh bukit kembar montok di dadanya. Tangan Ronda menyentuh tanganku tepat pada saat tanganku sudah dekat sekali bisa merasakan bagaimana kekenyalan bukit kembarnya. Ia mengarahkan wajahnya yang semula tertengadah langsung menatapku. Tanpa memberi tanganku kesempatan meraih apa yang kuinginkan ia tarik kedua tanganku terentang seperti melakukan kuncian di atas Octagon. Berhasil merentangkan tanganku, ia mengunci pergelangan tangan menjepitnya ke belakang membuatku meringis menahan sakit.

Melihatku kesakitan tidak membuat Ronda menghentikan kunciannya malahan ia tersenyum bengis seperti mendapatkan mainan baru untuk dipermainkan. Kedua tanganku yang terentang cepat ia satukan kemudian di naikkan ke atas kepalaku dan dikuncinya satu tangan. Gaun Ronda yang tanpa lengan membuat tangannya yang mengunci terangkat dekat sekali di kepalaku memamerkan ketiak mulusnya yang baru saja dirawat serta aroma tubuhnya yang amat harum. Satu tangan ia letakkan di atas kepalaku sedangkan satu tangannya yang lain begitu cepat melolosi kaitan celanaku dan mengeluarkan isinya.

Aku yang mencoba meloloskan diri tak bisa bergerak karena kuncian Ronda di tangan begitu kuat. Tak bisa menggerakkan tangan tidak membuatku putus asa. Kujulurkan lidah berusaha menjilati ketiaknya yang terhampar dekat sekali di kepalaku. Lidahku rasanya bisa sebentar lagi menyentuh permukaan ketiaknya sebelum dia menyadari gerakanku lantas menutup celah lengannya yang kokoh dan menyikut dahiku.

” Adduuuuuhhhhhhh,” aku kesakitan disikut namun segera berganti mendelik ketika merasakan nikmat karena celah kenikmatannya telah menembus tombakku yang telah mengacung tegak.

” Haaaaaaaaaaaaaaaggggggggggggghhhhhhhhhhh.”

Kami berdua mendesah bersamaan saat kedua kelamin kami bersatu. Ronda yang memegang kendali sepenuhnya mulai mengulek tombakku melalui sebuah gerakan perputaran begitu cepat. Semua otot tubuhnya bekerja dinamis melakukan “armbar submission” pada tombakku. Dipelintir begitu ngilu aku hanya bisa mengerang-ngerang berusaha menahan ledakan dari bawah yang tak bisa lagi kutahan.

Ronda menyadari ketidaksanggupanku menahan ledakan akibat armbar submissionnya ia angkat sejenak celah nikmatnya, menghentikan penetrasi, lalu cepat mengambil tas kecil yang ada disampingnya. Sama seperti kebiasaan sex safe orang barat, Ronda telah siap kondom di dalam tas kecilnya, menggigitnya sampai terbuka lalu memasangkannya di tombakku.

Memanfaatkan waktu yang ada kucoba memajukan lagi wajah berusaha menyentuh payudaranya yang tak terbungkus BH. Lagi-lagi refleks petarungnya memang sangat luar biasa. Ia membaca gerakanku seketika melepas pegangannya di kedua tanganku menarik kepalaku agar menjauh dari tujuannya dan rebah di jok kursi. Dalam waktu sesempit ini, tanganku yang bebas seharusnya bisa membuatku bergerak leluasa namun Ronda cepat sekali menguncinya kembali.

” Aaaaaaggggggggghhhhhh Ffffuuuucccckkkk,” berhasil memasukkan tombakku ke celah nikmatnya, sekarang gantian Ronda yang mengerang nikmat. Tanganku yang telah terkunci ditambah kepalaku yang dijambak membuatku tak berdaya.

Cukup dua desahan saja yang keluar dari mulut Ronda Rousey sebelum ia menunggangiku begitu serius. Ia menjadikan hubungan seksual kami ini seperti di Octagon. Fokus seperti bertarung ia naik turunkan seluruh otot tubuhnya menyerang tombakku sambil sesekali melakukan gerakan “mengulek” yang begitu luwes.

Mataku histeris menerima ulekannya tak bisa menahan segala kekuatan ototnya yang menghasilkan kenikmatan berlipat ganda. Dirinya pun mengalami hal yang sama. Menghadapi tombakku yang mengacung tegak seperti batu karang, Ronda mempercepat ritme turun naiknya sebelum…..dia menjambak rambutku lantas memaksaku menatap wajahnya. Dalam rengkuhan jambakannya kami berdua saling bertatapan dalam kondisi begitu panas.

” HAAAAGGGGHH HAAAAAAAAAAAAAAGGGGHH HAGGGGGGGGGGGGHHHHHHHHHHH OOOOOOOOOHHHHHHH.”

Ledakan terjadi. Kami berdua terlunjak-lunjak hebat berkali kali. Kedua kaki kami bergantian terbuka dan menutup secara ritmis dalam kecepatan tinggi berusaha mengeluarkan semua cairan nikmat yang tak henti berebutan keluar dari sarangnya masing-masing. Tombakku sudah terbungkus kondom sehingga aku tak mengkhawatirkan limpahan cairan di dalamnya. Hebatnya kesemua ledakan yang terjadi kami alami sambil saling bertatapan mata. Berkali-kali tatapan horny kami berdua terputus karena mata yang terpejam atau pun dagu yang tertengadah namun kami selalu kembali bertatapan penuh gairah.

Cengkraman Ronda di tangan dan rambutku baru berakhir beberapa menit kemudian. Ia kemudian turun dari pangkuanku, merapihkan gaunnya yang terserak lalu duduk kembali begitu anggun. Tak ada seorang pun yang akan percaya kami melakukan pergulatan hebat dari balik mobil yang terus berjalan. Kehebatan Ronda mengendalikanku membuat tak ada satu pun bercak yang tertinggal di tubuhnya. Rambut panjang blondenya yang dikuncir kuda sama sekali tak tersentuh. Hanya rona pipi merah merona segar yang menjadi penanda bagi mereka yang jeli untuk menyimpulkan bahwa kami baru saja berasyik masyuk di kursi belakang limosin.

” Kita sudah hampir sampai di villaku!,” ujarnya merapihkan gaun.

” O ya?? padahal villa ini tak jauh dari Stadion Carrow Road,” balasku sama-sama masih tersengal.

” Kamu masih laki-laki kan??,” ia bertanya menantang.

” Maksudmu??.”

” Ronde kedua di dalam villa,” Ronda tersenyum penuh gairah menunjukkan stamina luar biasanya yang masih bisa bertahan sepanjang malam.

Kupegangi sejenak tanganku sendiri merasakan kesakitan akibat kunciannya tadi sehingga bayangan akan mendapat kuncian sepanjang malam pasti akan membuat tombak laki-lakiku tidak akan bisa berdiri lagi.

” Aku mau tapi dengan satu syarat!.”

” Tidak ada seorang pun yang berani mengajukan syarat kepadaku!.”

Aku membuang muka. ” Terserah kamu. Aku pulang saja nanti setibanya di villamu.”

Ronda terdiam mendengar ancamanku. ” ayolah Budi! kita lakukan lagi ronde kedua, ketiga, keeempat, sampai dua belas ok??.”

” Gak mau!,” membayangkan dipiting selama 12 ronde persenggamaan tentu membuatku sakit perut.

” Okelah!,” aneh meski terdengar kesal Ronda menyetujui saja permintaanku, ” apa syaratmu??.”

Dari membuang muka aku langsung menatapnya antusias ” kalo kamu setuju, ronde kedua aku yang pegang kendali!.”

” Aku tidak pernah membiarkan orang lain memegang kendali!.”

” Take it or leave it!,” ancamku.

Lagipula besok jadwal latihan pagi sebelum kami bertanding pada hari rabu mendatang melawan Newcastle United. Jadwal pertengahan minggu menuntut kesiapan fisik lebih dari para pemain.

” Baiklah aku setuju!,” tanpa ada bantahan atau pun dengsuan nafas berlebihan Ronda menyetujui sodoran syaratku lalu menggenggam tanganku lagi ” asal… kamu jangan tinggalkan aku malam ini!.”

***

Villa di daerah Norwich sebagian besar memiliki tipikal sama ; tradisional, bergaya Normandia, asri dan kebanyakan bernuansa klasik. Villa sewaan Ronda pun tergolong sama. Halamannya luas penuh pepohonan rindang yang menyegarkan dan menenangkan hati.

” Kalian istirahat saja dulu aku ingin bersama orang..maksudku aku ingin bersama Budi malam ini,” ini pertama kalinya ia menyebut namaku di hadapan para pengawal pribadinya.

Para body guardnya menuruti perintah bosnya. Mereka melangkah ke tempat istirahat yang terletak masih dalam satu komplek. Setelah mereka pergi Ronda menghampiriku. ” Kamu mau makan malam dulu???.”

” Gak mau! aku mau “makan” kamu saja,” ujarku menggodanya.

” Aku tidak bisa dimakan!,” ia nyengir mendengar ucapanku.

” Bisa! aku akan menjilatimu perlahan-lahan….sampai kamu berteriak-teriak histeris,” bisikku berusaha meraih pinggangnya.

Ronda bereaksi cepat mengambil lagi kedua tanganku.

” Kamu ingat perjanjian kita???,” aku menggertaknya.

” Sebenarnya apa yang mau kamu lakukan padaku??,” ia mempersilahkanku menyentuh pinggangnya. Sebelum aku menjawabnya kucium dulu bibirnya lembut. Tingginya yang hanya 170 cm membuatku harus menunduk saat menciumnya.

” Bukan sesuatu yang luar biasa,” ujarku berusaha menumpukan kaki kuat-kuat ” aku cuma mau menggendongmu terlebih dahulu di pelukanku dan mengantarkanmu ke kamarmu.”

Ronda membiarkan dirinya kuangkat. Satu tangannya melondot di pinggangku membantuku lebih mudah mengangkatnya.

Kugendong seperti ini ia malah cekikikan.

” Kamu yakin mau menggendongku ke kamar??.”

” Tentu yang mana kamarmu??.”

” Maju aja.”

Memanggul seorang wanita berbobot 61 kg ternyata berat juga. ” Yang mana??,” tanyaku ketika kami tiba di pertigaan penghubung menuju tangga lantai dua.

” Kamarku ada di lantai dua,” cekikannya berubah menjadi tawa keras menandakan kebodohanku. ” Yakin masih mau menggendongku??,” tantangnya.

” Siapa takut???,” jawabku sok yakin meski mulai mengeluarkan keringat dingin.

Kedua tanganku rasanya mulai bergetar menaiki satu demi satu tangga menuju lantai dua.

” Budi kamu yakin aku bisa menang?,” Ronda memelukku kemudian membaringkan kepalanya di dadaku.

” Menang…huhhh….huhhh….menang…”

” Jawab yang benar! kamu kenapa keringatan begitu sih????.”

” Huhhh…huhhhh…huuhhhhhhh………menang…..”

Bisa-bisanya ia bertanya kepadaku yang sedang kepayahan begini.

Mendengar kata menang Ronda menjadi tenang merasa nyaman rebah dalam pelukanku. Sebenarnya aku ingin menjawab belum yakin dia bisa menang, tapi kalimat itu sebagiannya hilang oleh deru nafasku sendiri menyisakan kata menang saja. Bagaimana aku bisa mengucapkan kalimat secara benar sedangkan aku begitu kepayahan menggendongnya.

Kaki ini sudah gemetaran hampir saja tak sanggup bertahan bila saja tak menghirup aroma harum tubuh Ronda dan kecantikannya yang unik. Setiap langkah menghirup aroma tubuhnya membuatku mendapat kekuatan tak terduga yang pada akhirnya membuatku tiba di kamarnya.

Memasuki kamarnya yang penuh dengan foto-foto Ronda dalam berbagai pose aku langsung berlari kemudian merebahkan dirinya ke kasur besar model abad pertengahan. Nafasku tersengal-sengal tak percaya akan ketololanku sendiri.

” Hi hi hi,” ia meledek ” gimana mau masuk ronde kedua sudah KO duluan.”

” Aku senang melihat senyummu,” aku mengelus pipinya yang tirus. Ronda memegang tanganku tapi bukan untuk memitingnya hanya menyentuhnya sambil membiarkan tanganku terus bergerak lembut di pipinya.

” Jadi gak??,” tanyanya penuh semangat.

” Tentu jadi! dan sayratnya tetap aku pegang kendali setuju???.”

” Setuju! Cepet!.”

” Iya sabar dulu aku turun dulu. Jangan kamu lepas dulu gaun sexymu ini! aku sendiri yang akan melepasnya nanti!,” ujarku langsung berlari meninggalkannya mengambil tumpukan barang belanjaanku sendiri yang masih tertinggal di bawah. Selain stelan yang akan kukenakan nanti hari rabu, aku juga membeli empat kain selendang yang sebenarnya akan kugunakan nanti saat “bermain” sama Amber. Selendang ini kuanggap sanggup mengendalikan kebuasan Amber. Siapa sangka Rondalah yang merasakannya duluan.

Aku tinggalkan semua belanjaanku yang lain dan naik lagi ke atas membawa selendang. Ronda cukup terkejut ketika melihatku membawa selendang. Melihatku datang ia langsung menyerbuku, menciumi bibirku tak tahan ingin segera menuntaskan apa yang telah kami mulai.

” Nanti,” aku melepas ciumannya lantas mencari cermin yang ada di dalam kamar. Aku begitu bahagia mendapati kamar Ronda memiliki meja rias besar yang memiliki kaca panjang.

” Kesini sayang!,” aku menuntunnya menuju cermin.

Aku membawanya berkaca di depan cermin dalam posisi aku memeluknya dari belakang.

” Penampilanmu tadi benar-benar menyihir dunia Ronda,” tanganku masuk memeluknya sembari wajahku merunduk berusaha mencium tengkuk lehernya yang bebas terhampar karena rambutnya masih dikuncir ekor kuda.

” Menyihir apa?? orang-orang di sekolahku dulu selalu membully tubuhku mereka pikir tubuhku ini tubuh laki-laki”

Kuciumi terus tengkuk lehernya merasakan kekerasan tubuhnya perlahan mulai mengendur.

” Mereka salah! ini badan seorang wanita juara,” ciumanku tiba di lehernya. Ronda mengamati baik-baik kelakuanku dari cermin saat aku mencumbuinya setiap jengkal. Ia mulai terangsang oleh visualisasi di depannya lalu mendesah-desah kecil.

” Seorang juara yang bekerja keras setiap hari demi cita-citanya merupakan wanita paling sexy di dunia,” tanganku mampir di bukit kembarnya membuatnya merinding terjinjit dari posisi semula.

” Uuuuuhhhhh…….,” ia berusaha menghentikan tanganku.

” Ingat aku yang pegang kendali,” bisikku tegas ” take it or leave it.” Menerima ultimatumku ia mengangguk manja tanganya tak lagi berusaha melawan.

Sebelumnya melihatku menggendongnya hingga tiba di lantai dua membuatnya tersenyum. Sekarang gantian aku yang tersenyum melihat seorang wanita dengan basic senang mendominasi gantian didominasi. Bahasa tubuhnya jelas-jelas gusar menunjukkan kesan tidak terima kuperlakukan begini tapi tak berdaya.

Melihatnya sudah pasrah seperti ini kumanfaatkan mencopot kaitan kuncir di rambutnya lalu menggerai rambut blondenya. Rupanya rambutnya cukup panjang hingga menyentuh punggung.

” Lihatlah betapa cantiknya dirimu Ronda,” aku hanya memeluknya dari belakang tanpa berusaha merangsangnya ” kamu harus lebih banyak tersenyum agar makin cantik.”

Terus mendengar pujianku tampaknya membuatnya semakin nyaman dan lebih relax setiap detiknya.

” Angkat kedua tanganmu sayang,” bisikku.

Ia menggeleng tak patuh.

” Kamu gak bisa menolak sayang, atau aku akan tinggalkan villa ini” sedikit kupaksa kedua tangannya naik ke atas agar mengibaskan rambut panjangnya yang telah tergerai. Pose kedua tangan terangkat seperti sekarang membuatnya terlihat semakin sensual. ” Lihatlah betapa sexynya tubuhmu,” tanganku mulai bergeriliya menyentuh lengannya lalu ketiaknya yang mulus. Ronda merinding hebat ia menggigit bibirnya berusaha menahan rangsangan luar biasa yang terjadi.

” Jangan mencoba turunkan tanganmu selagi aku melepas kaitan-kaitan di gaunmu ini,” kucoba pelan-pelan melepas kaitan-kaitan tali yang melingkar dari pangkal leher hingga ke payudaranya sebelah kiri.

Merasa tanganku bukan hanya berusaha melepas tapi juga menggerayangi bagian atas tubuhnya membuat tangannya berulang kali hendak turun. Aku berulang kali harus mengingatkannya bahwa kendali di ronde kedua ini sepenuhnya ada padaku.

Kutegakkan kedua tangannya agar mengangkat lebih tinggi sebelum “membetot” gaunya sebelah atas menampilkan bukit kembarnya nan indah.

Kedua bukit kembar milik Ronda terlihat begitu montok meski dirinya mengalami penurunan kadar lemak secara drastis. Penampilan bukit itu alami tanpa embel-embel silicon yang banyak digunakan oleh wanita-wanita di barat. Tampilan alamiahnya membuat bukit kembarnya terlihat begitu montok secara natural. Setelah gaun atasnya terbuka barulah kupersilahkan tangannya turun sehingga penampilan bukit kembar yang semula terbuka menjadi kembali tertutup.

Meski telah tertutup tangan kananku begitu nakal meremas-remas bukit itu dari luar dan Ronda melihatnya dari pantulan kaca tanpa bisa melawan.

” Huuuuuhghhhh,” ia makin keras mendesah merasakan tangan kiriku juga ikut meremas bokong padatnya. Lama aku mempermainkan bukit dan bokongnya di depan kaca sebelum akhirnya mencari resleting gaun yang tersembunyi di bagian punggungnya dan menariknya turun. Ronda berusaha menahan jatuhnya gaun nan sexy yang merupakan gaun terbaik di perhelatan UFC sore ini.

” Tidak usah ditahan!,” bisikku.

” Aku tak percaya diri dengan bentuk tubuhku,” balasnya.

” Percayalah kepadaku, tidak perlu ditahan, kamu cantik dan tubuhmu merupakan tubuh tersexy wanita yang pernah kulihat,” kugenggam tangannya dari belakang. Tak terburu-buru menyuruhnya membuka gaun. Lama aku membisikkan kalimat di telinganya yang mengagungkan penampilan tubuhnya yang teramat sempurna. Sampai pada saat ia telah menemukan rasa percaya dirinya, Ronda sendirilah yang menurukan gaun hitam miliknya hingga hanya menyisakan G-String hitam di bagian bawah tubuh.

” Tidak perlu menunduk sayang,” kuangkat dagunya ” lihatlah betapa indahnya tubuhmu.

Tanganku mengangkat kedua tangannya menaikkannya. Berposisi tangan terangkat tinggi kusentuh bukit kembarnya yang mulai mengeras. Kucoba sebentar menggoda puncak bukit yang berwarna lebih gelap ini, lantas lanjut tanganku turun lagi menyentuh perutnya yang rata menyentuh pusarnya dan bermain-main lama disana. Ronda terus berusaha pasrah termasuk saat aku menurunkan G-stringnya hingga ke paha atasnya.

Kulihat jelas bagaimana celah kenikmatan itu begitu mulus tanpa sehelai rambut pun. Alangkah berat pasti perjuangannya untuk merawat bagian ini hingga bisa begitu bersih mulus. Tangan kananku berusaha masuk diantara celah kakinya kemudian menutup celah nikmat milik Ronda menggunakan seluruh telapak tangan. Aku tidak berusaha merangsang celah nikmatnya hanya berusaha menutupnya agar merasakan kehangatan sambil menekan-nekannya ritmis mempersiapkan persenggamaan yang akan terjadi.

Hanya ditekan-tekan sambil menutup keseluruhan celah nikmat sudah cukup membuatnya mengeluarkan lendir kenikmatan. Sebuah tanda bahwa persatuan kami sekarang bisa dibawa ke level berikutnya. cepat kucopot secara keseluruhan G-String hitamnya lalu kukantongi di jaket kulitku.

” Mau kamu apain G-stringku???.”

” Mau kusimpan buat koleksi pribadi,” jawabanku dirangkaikan ciuman ke bibirnya. Tanganku kemudian menggendongnya lalu merebahkannya ke ranjang indah bernuansa abad pertengahan. Kulucuti dulu seluruh pakaianku sebelum bergabung bersamanya rebah di ranjang sambil membawa empat buah selendang.

” Mau ngapain sama selendang itu??.”

” Mengikatmu.”

” Kamu penggemar BDSM??.”

” Tidak.”

” Lantas kenapa mau mengikatku.”

” Aku cuma mau memegang kendali dan membuatmu mau dikendalikan oleh laki-laki yang menyayangimu.”

Mata Ronda nanar tak percaya ia telah mengijinkanku mengikatnya hingga membuatnya betul-betul tak berdaya. Tangan kanannya yang pertama laki kuikat di tiang ranjang, berlanjut mengikat tangan kirinya. Kakinya masih rapat tak mau bergerak saat berusaha kurenggangkan.

” Kenapa kaku sekali??.”

” Aku gak mau.”

” Kenapa??.”

” Kalo kakiku diikat, aku gak bisa melakukan perlawanan kalo kamu punya niat jahat terpadaku.”

Sama seperti di film Sharon Stone “Basic Instinct” berada pada posisi terikat sangatlah berisiko. Pada film itu Sharon Stone sebagai psikater psikopat begitu mudah membunuhi rekan seksualnya dalam kondisi terikat.

” Kalo begitu kita hentikan saja ronde kedua ini.”

” Bukan..bukan begitu…kamu boleh mengikat tanganku tapi jangan kakiku please…aku Cuma mau berjaga-jaga saja.”

” Aku tidak mau. Aku mau semua bagian tubuhmu dalam kendaliku.”

Ronda lama terdiam menimbang-nimbang.

” Kita hentikan sajalah.”

” Jangan! Jangan!,” ia mendengus, “Baiklah! lakukan saja apa yang kamu mau,” jawabnya pasrah.

” Kamu yakin??.”

Ronda mengangguk.

” Bagaimana kalo aku memang berniat jahat padamu??,” tanyaku setelah berhasil mengikat kedua kakinya ke tiang ranjang lainnya membuatnya total tak berdaya.

” Kamu gak akan berani berbuat jahat kepadaku.”

” Tau dari mana??.”

” Aku bisa merasakannya.”

mendengar jawabannya aku mengangguk lantas mulai menaiki gelanggang pertarungan syahwati yang mungkin saja tak akan bisa kumenangkan menghadapi wanita berdaya ledak besar seperti dirinya.

***

Menghadapi seorang wanita blonde cantik bertubuh semok sedang terikat tak berdaya memerlukan kesabaran tersendiri. Kaum laki-laki terkenal memiliki tingkat kasabaran rendah saat menghadapi tubuh telanjang wanita cantik. Aku pun tak terkecuali harus mati-matian melawan naluri memuaskan diriku seceara egoistis dan memilih terlebih dahulu membawa kenikmatan bagi Ronda. Tubuhnya saat ini telah terikat membentuk huruf X. Kedua tangan dan kakinya terentang lebar.

Aku memulai petualanganku menjamah tubuh seorang mantan Juara UFC dengan mencium bibirnya. Berkali-kali Ronda melihat kedua tangannya gusar berusaha meyakinkan dirinya sendiri bahwa keputusannya membiarkanku mengikatnya tidaklah seberbahaya kelihatannya. Mencium bibirnya setidaknya bisa membantu mengatasi kecemasannya sekaligus mulai mengantarkannya menuju kenikmatan.

” Uuuuuhhh,” desahan Ronda keluar natural tidak dibuat-buat saat cumbuanku dari bibir turun ke bukit kembarnya. Segala rasa penasaran akibat tak mampu menjamahnya di mobil tadi bisa terlampiaskan sekarang. Mumpung ia memberiku kesempatan harus bisa kumanfaatkan sebaik-baiknya. Setiap jengkal bukit kembarnya kulumuri oleh jilatan perlahan menyusuri setiap lembah dan pori-porinya sebelum naik menuju puncak dan mencaploknya lalu mengulumnya dalam-dalam.

” Hhhhuuuuuuuuuhhhhh,” kulumanku disertai gigitan-gigitan kecil di titik paling sensitive membuatnya melunjak . Bukit kembar bukan hanya merupakan pelengkap keindahan tubuh wanita melainkan merupakan sistem reproduksi penting yang menentukan keber

langsungan generasi berikutnya. Selain itu, mengulum bukit kembar seorang wanita mampu memicu timbulnya hormone endorphin. Sebuah hormone kebahagiaan perekat hubungan antara ibu dan anaknya, ibu dan suaminya, atau pun seorang wanita dan kekasihnya.

Maka kukulum saja dalam-dalam dan kugigiti bukit kambar itu lama-lama secara bergantian. Kunikmati lunjakan-lunjakan tubuh Ronda sebagai isyarat nyata rangsanganku tepat mengenai sasaran.

” Ooooohhhhh,” ia menggeleng ke kiri saat kugigit puting bukitnya sebelah kanan. Tangannya menegang berusaha membebaskan diri. Gagal. Ia tatap wajahku yang buas menjilati bukit kembarnya.

” Aaaaaaaaaaaaahhhhh,” dari tatapan langsung ke wajah ia mendapati seorang pria yang begitu menikmati setiap momen yang berhasil didapatkan dari tubuh indahnya.

Merasa puas ia kembali mencoba rebah tak tahan oleh desakan rangsangan ke dalam tumpukan bantal-bantal.

” Ooooohhhhhhhhhh,” desahannya terus hadir disertai bantingan-bantingan kepala

” Jangan….jangan disitu……..Aaaahhhhh haaaahhhhhhhh,” tangan Ronda yang terentang berusaha berontak mendapati serangan datang ke arah tak terduga ; sepasang ketiak mulusnya.

Dalam posisi terikaat aku sangat mudah mematahkan perlawanannya membawa tangannya kembali terentang sempurna lalu mulai menjilati lembah-lembah ketiak nan sexy. Kedua tanganku mengimbangi petualangan lidahku di lembah ketiak berusaha memijit-mijit atau mencubit-cubit ujung bukit kembarnya.

hhhhoooohhhh,” ia membantingan wajah ke kiri kala mendapati ketiak indahnya yang baru saja mendapat perawatan sebelah kanan kujilati perlahan. Berusaha meraih ikatan ia tekuk selendang putih berusaha membebaskan diri bak pesulap. Tentu saja ia gagal lagi dan aku pun semakin dalam menghisap lembah ketiak mulusnya menghadirkan sensasi kenikmatan yang mungkin belum pernah dirasakan sebelumnya.

Mengimbangi permainan lidah, tanganku juga bergeriliya melakukan penjelajahan mulai dari puting menuju punggung lantas menarik rambut blondenya agar menatapku. Aku masih berada di ketiak sebelah kirinya menikmati benar area keperawanan yang belum pernah dijamah oleh siapa pun sebelumnya. Kupaksa ia menatap kenakalanku memperlakukan ketiaknya yang secera tak terduga mendatangkan sensai kenikmatan tersendiri baginya.

” ….don’t lick it……don’t lick my armpit,” pipinya penuh warna kemerahan saat ia berusaha mendebatku lagi

” why??,” tanyaku sembari menjulurkan lidah.

” No one ever done this to me before,” jawabnya terdengar sangat.

” So what??… i like it.., and I want lick your armpit all night,” kembali kulakukan jilatan membuatnya berusaha membanting kembali wajahnya. Sayangnya jambakanku menahannya dan Ronda terpaksa menatapku yang betul-betul keasyikan menjelajahi titik sensitive baru pada tubuh wanita.

Lama berkelana di lembah nan halus dan melihatnya tak tahan, aku beranjak turun. Jari-jari tanganku melepas pegangan di rambutnya beralih kembali menelusuri bukit-bukit nan indah di bawahnya dan berpetualang di wilayah perut . Bukan hanya rata perut Ronda juga kurasakan sangat keras hasil latihan sit up bertahun-tahun. Kucubiti lemak di perutnya tanpa hasil karena tak ada lagi lemak tertinggal disana. Gagal mencari lemak kutelusuri saja perut rata itu mengawali sebuah petualangan sebenarnya.

Kedua tanganku menekan perut bawahnya. ” Hooooohhhhh no oral sex! I don’t want it!,” ia memperdiksi gerakanku berikutnya. Padahal aku belum akan “memakannya” tapi ia telah membacanya. Seluruh kakinya berusaha berontak saat kupegangi kedua pahanya. Tak mempedulikan kontraksi kakinya mulai kuciumi dari paha depan melingakar ke paha belakang.

” Why?? you don’t like oral sex??,” tanyaku memejamkan mata menikmati keharuman aroma pahanya.

” I can’t control myself if yo do it,” ujarnya mengangkat kepalanya. ” You can eat my armpit but please don’t do oral sex to me,” tangan dan kakinya ditarik-tarik hebat berusaha melepaskan selendang yang membelit.

” Being losing control is the most sexy attitude for a woman Ronda, and you must try to enjoy it,” kalimat ini merupakan perkataanku terakhir sebelum mulai “memakannya”.

Benar saja jilatan pertamaku saja sudah disambutnya begitu histeris. Ronda terlihat merupakan wanita bertipe hypersensitive di bagian kenikmatannya. Ia merasakan setiap jilatan bisa meledakkan setiap saraf dalam dirinya membuatnya lepas kontrol. Ronda terlihat meremas tangannya kuat menahan desakan kenikmnatan , kepalan tangannya demikian hebat meronta, dan punggung serta pantatnya membantu seluruh tubuhnya menjungkit jungkit.

” Uuuuhhhhhh haaaaahhhhhhh ooooooohh…………oooooooooooohhhh…………………..aaaaahhhhhhhhhh,” jilatanku kulakukan secara total. Aku tak main-main saat tadi bilang akan memakannya. Betul-betul aku nikmati dalam mulutku rasa kulit-kulit celah kenikmatan yang menjuntai lantas memegangi labia mayoranya berusaha menemukan titik clitoris dan menghisapnya dalam-dalam.

Ledakan terjadi begitu indah. Aktifitas oral sex bermakna ganda baik bagi kaum laki-laki maupun wanita. Bagi laki-laki oral sex terhadap wanita merupakan “counter-ego”, upaya sistematis melawan kecenderungan alamiahnya untuk minta dipuaskan oleh si wanita dan memilih memberikan kenikmatan terlebih dahulu bagi kekasih. Buat wanita sebaliknya, oral sex, merupakan titik akhir menuju orgasme.

Lebih dari 70 persen wanita tidak pernah mengalami orgasme selama hidupnya, 85 persen diantaranya tidak pernah mengalami multiple orgasme. Terdapat satu penghalang terakhir yang membuat mereka semua gagal menikmati sebuah pengalaman berbau surgawi yang seharusnya bisa dirasakan seorang wanita. Penghalang tersebut bernama keenganan melepaskan kontrol kepada laki-laki yang dipercayainya.

Bukan hanya Ronda, setiap wanita ingin mengontrol sesuatu. Mampu melepaskan kontrol yang melekat begitu erat dalam diri wanita merupakan penghalang terakhir. Dan oral sex merupakan jembatan wanita melepaskan kontrol tubuh terakhirnya

” let it go!,” kataku dari balik celah kenikmatan.

” uuuuuuhhh noooo,” padahal Ronda sudah tiba dipucuk kenikmatan ia tinggal menceburkan dirinya tapi ia masih menahannya begitu kuat. Aku menyadari ia tak akan mau melepas penghalangnya bila tidak kutenangkan dulu hatinya maka aku menghentikan sejenak aktifitasku dan naik untuk memeluknya.

” Just let it go… your feeling, your passion, your desire,” aku menciumnya ” bring them to me, lose your weight to carrie such a heavy burden on your body, let the orgasm come and throw away all of your burden!,” aku memeluknya yang mulai berselimutkan keringat.

” I don’t want to,” ia mengegeng manja.

” You can’t control everything in this world Ronda. You even can’t expecting Holly Holm to do what you want,” mendengarku menyebut Holly Holm membuat Ronda terdiam ” despite of it, you must try to join with the Force! lose your burden and plung yourself on the Orgasm. The Ultimate Nothingness. Something that you afraid of because you can not understand it by your mind. It just can be understood by let your heart open and let the power of orgasm come.”

Ronda mengangguk. ” Bring me then….,” ujarnya ” bring me to the ultimate nothingness adventure inside my body…. that I never seen it before.”

Jawabannya merupakan tanda diakhirinya sebuah kontrol diri. Langsung kuturunkan wajahku berusaha menuntaskan apa yang sudah kumulai.

“Kumakan” secara total celah kenikmatannya tanpa mencelupkan jari. Hanya cukup bibir dan lidah asyik berkolaborasi disana menemebusi setiap labia, clitoris hingga titik terluar. Ronda mulai mengangkat dirinya terjungkit dari kasur mewah setelah jilatanku berlangsung sekian menit.

Ia sudah siap terbang. Maka kubantu mengangkat pantatnya sambil memperdalam hisapanku di clitorisnya .

” Uuuuuuhhh AAAAAAAAAAAAGGGGGGH aaaaaaaaaaaaaa………………………………..”

Datanglah badai nikmat itu. Seluruh tubuhnya tegang. Ia rebah. Kuangkat lagi, kujilati makin kencang dan Ronda pun kembali terbang. Kedua kakinya yang mengangkang berusaha menutup tapi tak bisa lantas mengegang lagi berusaha menutup lagi, menengang lagi, menunjukkan dahsyatnya ledakan yang terjadi dari dalam diri. Berulang-ulang ia mengulangi ledakan akibat takluk dalam jilatan lidahku. Takluk di lidahku?? seorang juara seperti Ronda Rousey?? tentu saja tidak. Yang benar ia berhasil menaklukan dirinya sendiri dengan membiarkan dirinya jatuh dalam kendali seorang laki-laki yang bertanggung jawab dan mendapat sebuah kemenangan melalui sebuah pembebasan pikiran melalui jalan orgasme.

Dia melunjak-lunjak begitu indah selama beberapa menit untuk kemudian rebah di ranjang dalam kondisi terengah-engah. Lama kunikmati tubuhnya yang masih terlihat merinding dalam sebuah pengalaman orgasme sejati. Baru pada saat Ronda mengalihkan wajahnya guna menetapku aku tau petualangan nikmat bagi diriku sendiri akan dimulai.

” Sekarang giliranmu jagoan,” ujarnya.

” Giliranku???.”

” Untuk melepaskan dirimu dalam sebuah kenikmatan orgasme. Melepaskan kontrol yang kamu pegang dan masuk ke dalam “diriku” dan merasakan ekstase seperti yang kurasakan barusan!. Percayalah celah kenikmatanku mampu membawamu pada pengalama paling luar biasa yang belum pernah kamu alami sebelumnya!.,” ia metapku begitu sexy. Begitu horny. Begitu nakal.

Entah kenapa aku mempercayai sepenuhnya ucapannya. Di mobil tadi aku sudah merasakan betapa kuatnya otot “kegel” Ronda hingga bisa mengatur kontraksi otot celah nikmatnya dari dalam begitu kuat. Selain itu otot-otot paha, pantts, hingga betisnya bisa mendukungnya memperkuat otot celah kenikmatan untuk ganti meremas tombakku begitu rupa.

Sejenak kupegangi tombakku merinding membayangkan apa yang akan terjadi di bawah sana. Sebagian diriku mengatakan aku akan kalah dalam pertempuran ini. Pasti kalah. Tapi sama seperti nasihatku tadi pada Ronda aku hanya perlu ; try to join with the Force! lose my burden and plung myself on The Ultimate Nothingness.

” Bawa aku berpetualang 12 ronde Budi!,” ujarnya saat aku menancapkan tombakku dan menekannya masuk dalam-dalam.

***

” Mau kemana kamu??,” Ronda bangun awal. Padahal baru tiga jam lalu kami tidur.

” Aku ada latihan Ronda, rabu besok kami akan bertanding lawan Newcastle.”

” Kamu tidak bisa nonton pertandinganku donk??.”

” Bisa pertandingan dimulai siang, sore sudah berakhir, mudah-mudahan malam aku sudah ada di Ettihad,” jawabku fokus membetulkan sepatu bersiap melakukan lari pagi.

” Kamu mau lari menggunakan jaket kulit dan jeans yang kubelikan???.”

” Iya aku tak membawa baju lain.”

” Dasar bodoh! aku punya baju lari banyak di lemari pakailah satu! ukurannya all size! aku akan menemanimu berlari.”

” Kamu yakin??? nanti akan banyak orang yang melihatmu bagaimana privasimu yang kamu jaga selama ini???.”

” Fuck off with priviilage,” jawabnya ” it’s a time for Ronda Rousey to became the people Champions not just ordinary Champions.” ia turun dari ranjang bertelanjang bulat. Selendang yang mengikatnya sudah keulepas sejak kami memasuki ronde ketujuh semalam. Dari telanjang ia menyikat giginya sebentar lalu mencuci muka dan cepat sekali berganti pakaian siap menemaniku lari.

***

Dua orang bodyguar Ronda pontang-panting saat melihat bosnya menyelinap pergi melakukan lari pagi di saat matahari belum sepenuhnya terbit. Meski mengatakan tidak mau dikawal, mereka tetap mengawal Ronda walau hanya menggunakan sepeda.

” Kamu tadi berdoa??,” tanyanya saat kami sudah menempuh jarak 1 kilometer.

Rupanya dia telah bangun saat aku melakukan ibadah pagi lalu berdoa sebelum bersiap melakukan lari.

” Kamu sudah bangun tadi??.”

” Jawab!.”

” Ya tentu saja aku berdoa.”

” Kenapa kamu harus berdoa??.”

” Untuk melawan kecenderunganku sendiri mengontrol segala situasi dan menyerahkan kontrol sepenuhnya kepada Yang Maha Menguasai.”

Ia mengangguk terdiam lalu melanjutkan berlari.

” One two…..,” sambil berlari aku mencandainya dengan berlari mundur melemparkan jab-jab lurus kea rah wajahnya

” one two…..”

Ronda membalasku ia menggepalkan tangannya kemudian menyiapkan kedua tangan kokohnya berusaha seolah akan menghantamku. Melihatnya bersikap seperti ini saja sudah cukup membuatku ketakutan tapi keinginan membuatnya ceria memberanikanku melakukannya.
Kami berdua terus bercanda saling bertinju selama berlari.

” Ronda Rousey….itu Ronda Rousey….” memasuki jalan utama padat penduduk matahari telah terbit. Warga sekitar bisa melihat secara jelas wajah kami dan menyadari Sang Mantan Juara yang akan bertanding dalam mega fight rabu besok sedang berlari di halaman mereka.

” Ayo ikut lari…..ayo!,” Ronda mengajak anak-anak kecil, orang dewasa, siapa pun yang melihatnya berlari. Ajakan Ronda awalnya disambut kepolosan anak-anak yang mulai ikut berlari. Dari anak-anak orang-orang dewasa yang sebelumnya ja’im mulai ikut berlari.

Para bodyguard Ronda mulai kewalahan melihat banyaknya orang yang mulai ikut berlari di belakang kami berdua. Sepeda mereka berusaha menghalau massa.

” Tidak biarkan mereka berlari bersamaku! biarkan mereka berlari bersama People Champions!.”

” RONDA ROUSEY! RONDA ROUSEY! RONDA ROUSEY!.”

Kerumunan masa mulai menggelorakan yel-yel meneriakkan namanya yang terus berlari mulai kencang. Jalanan Norwich menjadi heboh oleh kemunculanku bersama Ronda Rousey.

” BUDI! BUDI! BUDI! BUDI!.”

Namaku juga mulai diyel-yelkan oleh masyarakat. Penduduk Norwich hampir semua merupakan The Cannaries. Mereka sangat menyayangiku. Melihatku berlari bersama Ronda membuat mereka semakin antusias ikut berlari meramaikan jalanan.

” Barapa jauh lagi jarak ke Stadion??,” tanya Ronda.

” 1 kilometer lagi.”

” Ayo SPRIIIINNTTTT! SPRRRIIIINNNTTTTT!.”

Ia melesat meninggalkanku beserta seluruh masyarakat yang berlari mengikutinya. Melihatnya melesat membuatku mengejarnya dan seketika mendengar sebuah irama musik. Sebuah intro musik hadir begitu pas menyelubungi momentum lari. Aku yakin Ronda tak mampu mendengarnya tapi telingaku yang aneh bisa mendengarnya. Tabuhan drum berpadu irama gitar elektrik membentuk sebuah nada berirama. Sebuah Intro lagu penuh semangat terdengar lalu telingaku mendengar seorang penyanyi bernyanyi lagu tahun 80an yang menyenandungkan ;

RISING UP, BACK ON THE STREET
DID MY TIME, TOOK MY CHANCES
WENT THE DISTANCE, NOW I’M BACK ON MY FEET
JUST A WOMAN AND HER WILL TO SURVIVE

SO MANY TIMES IT HAPPENS TO FAST
YOU TRADE YOUR PASSION TO GLORY
DON’T LOSE YOUR GRIP ON THE DREAM OF THE PAST
YOU MUST FIGHT JUST TO KEEP THEM ALIVE

IT’S THE EYE OF THE TIGER
IT’S THE TRILL OF THE FIGHT
RISING UP TO THE CHALLENGE OF OUR RIVAL
AND THE LAST KNOWN SURVIVOR
STALK HER PRAY IN THE NIGHT
AND HER WATCHING US ALL WITH “THE EYE OF THE TIGER”

FACE TO FACE, OUT IN THE HEAT
HANGING TOUGHT, STAYING HUNGRY
THEY STACK THE ODDS STILL WE TAKE UP THE STREET
FOR THE KILL WITH THE SKILL TO SURVIVE

IT’S THE EYE OF THE TIGER
IT’S THE TRILL OF THE FIGHT
RISING UP TO THE CHALLENGE OF OUR RIVAL
AND THE LAST KNOWN SURVIVOR
STALK HER PRAY IN THE NIGHT
AND HER WATCHING US ALL WITH “THE EYE OF THE TIGER”

Kami sudah tiba di depan Stadion Carrow Road. Meski terlihat ngos-ngosan Ronda mengangkat kedua tangannya bersorak menghadapi masa yang mengelu-elukannya.

” RONDA ROUSEY! RONDA ROUSEY! RONDA ROUSEY!.”

Kugendong dia berdiri semakin tinggi agar bisa melihat langsung betapa besar dukungan masa kepadanya. Ronda kulihat terharu. Dia memejamkan mata sejenak lantas mengacungkan tangannya tinggi bersiap menjemput kemenangan.

Melihat tatapan mata harunya disertai irama lagu tadi mengingatkanku pada sebuah kenyataan yang terlupa ; sebuah pertarungan tidak ditentukan oleh kemampuan teknis semata-mata tapi yang lebih penting ditentukan oleh sebuah Mata Harimau.

***

Dua hari kemudian aku melangkah maju menuju rumput Stadion St James Park membawa tiga perasaan berbeda. Pertama rasa senang karena Alfred mengakhiri aksi ngambeknya terhadapku akibat melihat fotoku terpampang begitu besar bersama Ronda Rousey di seluruh media masa.

Melihatku bersama petarung favoritnya tanpa memberitahunya terlebih dahulu membuatnya ngambek. Untunglah Ronda masih memiliki koneksi guna mendapatkan satu tiket lagi untuk pertandingan nanti malam buatnya meski bukan berada di bangku VIP. Mendapat tiket menonton pertandingan membuat Alfred sumringah dan mengakhiri aksi diamnya kepadaku.

Kedua, aku merasa khawatir karena ini adalah malam pertandingan UFC yang dinantikan begitu banyak orang. Alasan kekhawatiranku karena Ronda masih tak juga mampu menghadapi petinju Southpaw serta sesumbarnya akan pensiun bila kalah nanti.

Bagaimana dia bisa sesumbar sedangkan belum mampu menemukan solusi terbaik mengatasi petinju kidal. Selain itu, pada sesi timbang badan kemarin, Ronda secara mengejutkan mengenakan kostum Norwich nomer 20 milikku membuatnya secara resmi oleh para pemain bola dan media Inggris dijuluki ; ” The Most Dangerous WAG’S Alive”. Secara tak terduga ia dianggap sebagai pacarku dan masuk kategori WAG’S.

Kejutan darinya yang tak henti menggunakanku sebagai pendukung penampilannya meninggalkan kekhawatiran ketiga yaitu Kak Conchita. Kak Chita sama sekali tidak mau membalas usahaku menghubunginya dalam bentuk apa pun. Mulai dari telpon, sms, bbm, whatsup, line, e-mail sudah kucoba tapi ia tak mau menjawabnya sama sekali.

Tampaknya ini terjadi setelah Ronda mengajakku ke Meet and Greet UFC. Satu jam setelah acara itu berlangsung pemberitaan tentang kedekatan kami berdua menjadi tranding topic di seluruh media social dengan tanggapan beragam. Orang barat memujiku karena dianggap bisa membawa aura positif bagi Ronda menjelang pertarungannya. Sebaliknya bagi orang Indonesia. Akun media sosialku dibanjiri hujatan sebagai bentuk kekecawaan mereka akan ketidak setiaanku pada Kak Conchita. Para netizen Indonesia bahkan meneriakkan slogan “Saving Conchita Caroline,” sebagai bentuk solidaritas mereka pada perasaan Kak Chita setelah, mereka anggap, kukhianati cintanya.

Pro dan kontra tiba-tiba terjadi tanpa bisa kukendalikan. Siapa sebenarnya yang mengetahui apa yang sebenarnya terjadi denganku hanya dalam waktu satu hari di hari minggu kemarin??. Mereka tak tau bagaimana sikap “ultra dominan” Ronda serta maneuver politiknya bisa menyulapku begitu rupa dari hanya sekedar pemain bola biasa menjadi pesepak bola selebritis hanya dalam satu malam.

Masalahnya propaganda sikap Ronda setelah hari minggu terus berlanjut. Seakan tak mempedulikan gemuruh media social yang mulai meneriakkan nama Conchita sebagai kekasihku sebenarnya bahkan di akun pribadinya, Ronda malahan makin rajin memproklamirkan dirinya sebagai kekasihku, termasuk mengenakan kaosku saat timbang badan. Kesemua pro kontra ini menempatkan diriku pada situasi serba salah.

Termasuk saat bermain di Stadion St James Park.

Stadion St James Park sendiri merupakan stadion tertua dan terbesar di wilayah Inggris Timur serta merupakan yang terbesar keenam di Inggris . Sejak persatuan dua tim sepak bola Newcastle barat dan Timur pada tahun 1892, Stadion ini terus digunakan oleh Newcastle hingga sekarang. Memiliki kapasitas penonton hampir 60.000 orang, Stadion St James Park terkenal memiliki penonton fanatik. Sekarang saja mereka terus mendorong pemain Newcastle tampil terenginas saat membawa bola dan mencemooh kami habis-habisan kala tiba giliran memegang bola.

Dukungan penonton semakin menjadi saat pertandingan memasuki menit ke 30 Newcastle mendapat tendangan bebas. Situasi bola mati merupakan keadaan yang memerlukan kewaspadaan ekstra. Bisa lebih dari tujuh pemain Newcastle berada di kotak penalty kami mencoba membuat gol.

Kuhitung sekarang mereka bahkan memajukan hampir semua pemain kecuali kiper dan pemain tengah Vurnon Anita yang berpostur kecil. Setiap tim memiliki strategi tersendiri di tendangan sudut. Bisa saja mereka memajukan sembilan pemain tapi tiga diantaranya akan segera menarik diri kembali ke daerahnya saat tendangan dilakukan.

Kami sebagai tim di posisi bertahan menurunkan hampir semua pemain ke dalam kotak penalty kecuali pemain sayap Robbie Brady yang dibiarkan menggantung. Masing-masing pemain kebagian menjaga pemain lawan yang memiliki ukuran tubuh sama. Aku kebagian menjaga kepten mereka Fabricio Collocini yang berambut gimbal. Bek tengah andalan Newcastle ini terkenal sangat tangguh saat bertahan juga amat liat kala menyerang melalui momentum sepak pojok.

Collocini maju mendorongku saat wasit berisap meniup peluit dan para pemain Newcastle lain maju mendekati gawang kami. Pemain Norwich lain juga berjibaku berusaha saling piting dengan lawan yang dijaganya. Sehabis mendorongku dan melihatku bisa menekannya balik, Coloccini berhenti, mundur dua langkah lalu maju lagi lebih kencang kala bola sudah ditendang oleh pemain Daryl Janmaat.

Sikunya masuk menerjang dadaku keras membuatku terhuyung kehilangan posisi. Melihatku kehilangan posisi dia meloncat terbang mendahuluiku menyambut bola. Daya baca Coloccini masih meleset karena bola menukik tidak mengenainya tapi dari arah belakang penyerang Pappis Demba Cisse berhasil memenangkan duel dan menanduk bola kencang.

Kiper kami Ruddi terkejut tandukan mampu disambar oleh Cisse. Ia berusaha meloncat tapi bola bisa begitu cepat menghujam ke jala kami.

1-0 kami tertinggal dan aku masih memegangi dadaku menahan nyeri akibat sikutannya Collocini.

***

Kejadian bola mati yang sama terjadi di akhir babak pertama. Di tengah riuhnya dukungan penonton para pemain Newcastle semakin bersemangat menggempur gawang kami. Pada tendangan sudut kali ini kembali mereka memajukan sembilan pemain. Sekarang pemain tengah mereka Jack Colback yang melakukan tendangan ke dalam kotak penalty Norwich. Lagi-lagi Coloccini berusaha berulah, menghindari pandangan wasit, ia bergerak bersama pemain lain lantas berusaha menyikutku lagi.

Aku bisa membaca gerakannya akibat banyak bergaul dengan Ronda. Sekarang kucoba mengelak tanpa melepas pergerakannya berusaha mengait kaos bajunya dari samping. Bergerak maju kencang dan merasakan aku menyentuh kaosnya Coloccini tiba-tiba terjatuh. Ia langsung berteriak lantang menyatakan terjadi pelanggaran, sedangkan aku yang merasa hanya menyentuh bajunya sedikit tentu saja langsung mengangkat kedua tangan merasa tak bersalah.

” PRRRRRRRRRRRRRRIIIIIIIIIIITT PENALTY NEWCASTLE!.”

Wasit meniup peluit menandakan penalty, seketika membuatku naik pitam. Kudatangi wasit menanyakan alasan pemberian penaltinya dan ketika dia menjawab penalty terjadi akibat aku menarik kaos Coloccini sontak aku berteriak.

” TADI AKU DISIKUT KERAS KAMU TIDAK MEMBERI KAMI PELANGGARAN. KENAPA SEKARANG AKU HANYA MENYENGGOLNYA KAMU MEMBERI MEREKA PENALTI???.”

Kata-kata kasar sudah kusiapkan keluar. Untunglah kapten Rusell Martin segera datang menarikku menjauh menghindarkanku dari hukuman kartu. Meski sudah ditarik mundur aku masih mencoba memprotesnya. Rasanya sangat tidak adil mengingat Coloccini terjatuh bak pemain drama di kotak penalty kami. Seluruh pemain Norwich juga memprotes keputusan aneh wasit. Kami sempat memperlambat waktu pertandingan beberapa lama melakukan protes sebelum akhirnya harus tunduk pada sang pengadil membiarkan Newcastle mengeksekusi penalty.

” GOOOOOOOOOOOOLLLLLLLLLLLLLLLLLLLLLLLLL.”

Teriakan penonton marak menyambut gol tandangan penalty pemain tengah mereka Siem De Jong yang membuat kami terbenam semakin dalam. Dua gol terjadi akibat situasi bola mati. Bukan cara yang baik mengawali pertandingan.

***

Dua bola mati di babak pertama merubah secara keseluruhan jalannya pertandingan. Sebenarnya kami masih sanggup mengimbangi Newcastle sepanjang babak pertama andai saja kedua sepek pojok tadi bisa diantisipasi. Tersengat oleh kedua bola mati tadi membuat kami langsung tampil menyerang ketika babak kedua berlangsung. Sebagai konduktor serangan aku memilih menghadapi Newcastle sesuai gaya bertanding mereka. Sejak awal abad 20, Newcastle terkenal sebagai tim dari daratan Inggris yang mengusung “Permainan Artistik”, mengedepankan umpan-umpan pendek cepat.

Aku akan hadapi mereka dengan bola pendek cepat. Menguasai bola dari bidang lapangan sendiri, kuoper bola pada bek tengah Wisdom yang langsung memberikan bola kepada partner hitamnya Sebastian Bassong.

Bassong mengembalikannya kepadaku yang sudah berada di posisi gelandang bertahan lalu melebarkan bola kepada full back Ruseel Martin. Melihat Full Back lainj di bidang lapangan sebelahnya Martin Olsson bebas, Martin melakukan diagonal passing membelah pertahan memindahkan arah serangan dari sisi kanan ke kiri.

Olsson menerima bola dan memutuskan tidak memberi bola lambung lagi, ia memilih mengoper balik pada Alfred yang turun mencari bola. Alfred merupakan salah satu pemberi umpan panjang paling akurat di tim Norwich, ia mengangkat bola kembali ke sisi kanan menuju winger Nathan Redmond.

Winger kami berlari cepat memenangkan perebutan bola melawan bek sayap Paul Dummet dan melepaskan bola kembali pada Wes Hoolahan yang langsung melakukan kerja sama segitiga bersama penyerang Cameron Jerome. Tak lama menahan bola Jerome melakukan trik tidak bersegitiga dengan Hoolahan tapi denganku yang berlari tak jauh darinya.

Menerima sodoran Jerome aku bergerak menyamping memberi kesan akan mengincar sisi kiri Newcastle yang mulai tertarik. Saat bola mendekatiku kutumpu kaki kiri dan menggangkat kaki kanan menggunakan tumit mengalihkan bola ke arah kanan yang tak terduga.

Sisi kanan Nwcastle mulai berlari ke kiri kala umpan tumitku meluncur cepat kembali menuju Nathan Redmond yang memenangkan posisi melawan Paul Dummet. Lolosnya Redmond membuat seluruh pertahanan Newcastle panik apalagi saat melihat Redmond akan menendang langsung.

Coloccini sebagai bek tengah berusaha menutupnya tapi tak sanggup menghadapi ruang yang terlalu luas. Redmond winger kami menendang keras berhasil mengirim bola menyambar tubuh Coloccini untuk kemudian menukik menuju gawang. Terbentur Coloccini bola menukik ke sisi berlawanan kiper Tim Krull seketika membuatnya mati langkah dan menceplos masuk ke jala gawang.

Meraayakan gol, Redmond berlari mendekati Coloccini lantas berbisik, tanpa diketahui wasit ;

MAKAN ITU BANCI!.

***

Kami tinggal tertingal satu gol lagi. Tensi pertandingan meningkat. Coloccini beberapa kali terlihat emosional terpancing oleh provokasi Redmoond membuatku makin leluasa membangun serangan. Kuterima bola dari Bassong mengembalikannya lagi kepadanya untuk mencari ruang lantas menerima lagi bola. Masih di press oleh Moussa Sissoko aku mengembalikan bola kepada Wisdom yang cepat melebarkan bola ke Olsson. Melihatku sudah lapang, Olsson mengembalikannya padaku. Sissoko datang lagi ditemani Siem De Jong tiga langkah dibelakangnya.

Kumelangkah ke kanan Sissoko seolah akan ke bergerak kesana ternyata aku bergerak ke sisi sebaliknya. Sissoko tampaknya telah menganalisa kebiasaan gocekanku dan bergerak ke sisi prakiraannya yang ternyata salah besar.

Berhasil melewatinya aku mengirim bola kepada Alfred yang bersegitiga cepat denganku membuat penjagaan De Jong terlewati juga. Berhasil mendapat bola segitiga aku melebarkan bola pada kapten Rusell Martin yang beraksi menendang lurus ke depan pada Nathan Redmond. Redmond menggocek lagi Dummet membuat Coloccini yang emosi segera naik melakukan double team.

Dummet tidak meladeninya mendorong bola ke Jerome yang langsung memblokkan bola ke sisi kiri kepada Robbie Brady. Brady menerima bola lalu cepat melepas bola pada Hoolahan. Bola mulai tiba di luar kotak penalty Newcastle. Seolah akan mengumpan pada penyerang Cameron Jerome yang melakukan lari masuk ke dalam kotak penalty, wajah Hoollahan telah menatap ke sisi Jerome sebelum meninggalkan bola melalui kedua sisi kakinya agar meluncur langsung menujuku yang melakukan coming from behind.

Menghadapi tusukanku penjagaan Newcastle terkejut. Coloccini yang sudah terpancing emosinya terlalu terfokus melihat lari sprint Redmond tanpa menyadari aku mengungkit bola menggunakan sisi luar kaki agar sedikit naik di atas kepalanya, membuatnya bingung sendiri dimana posisi bola sebenarnya.

Sebelum dia sadar aku sudah maju cepat tepat berada di sisi kanan tubuhnya. Mulai Menyadari aku mengungkit bola, Coloccini mulai mencengkram bajuku. Tidak mau meniru aksi teatrikalnya barusan aku body sedikit dia saat memasuki kotak penalty Newcastle lantas menggulirkan bola berganti arah tepat di depan matanya, membiarkan bola bergulir mengocehnya, berhenti berlari, mundur sedikit, lalu memindahkan serangan melewatinya. Coloccini terlewat, bek tengah mereka yang lain Chancel Mbemba berusaha menutupku namun terlambat.

Aku sudah memperoleh ruang yang cukup melakuakn tendangan. menggunakan sisi luar kaki kanan kugulirkan bola melintir menuju tiang luar gawang Tim Krull dan berhasil menyamakan kedudukan.

Merayakan gol aku berlari menuju base camp tribun supporter Norwich. Penonton berteriak riuh. Salah seorang pendukung kami berwajah latin kudengar menunjuk-nunjuk kami semua sembari mengucapkan sebuah kalimat latin berbunyi ;

” Jogo Bonito…..”

” Apa?????,” penonton disebelahnya tak bisa mendengarnya karena keriuhan suara.

” JOGO BONITO MEREKA MELAKUKAN JOGO BONITO YANG TELAH DILUPAKAN TIM NASIONAL BRASIL.’

Aku tersenyum mendengar teriakannya sebelum akhirnya terjatuh ditindih para pemain Norwich dalam perayaan gol.

Dia benar. Jogo Bonito dalam bahasa Portugal berarti “permainan indah”. Jogo Bonito terkenal berhasil diaplikasikan oleh Tim nasional Brasil hampir pada setiap penyelenggaraan Piala Dunia kecuali pada Piala Dunia 2014. Pada tanggal 8 juli 2014 berlaga di Stadion Mineiro dihadapan pendukungnya sendiri, Brasil dicukur habis oleh jerman 7-1 mengembalikan tregedi “Maracanazo” dimana mereka dipermalukan juga di tanah sendiri oleh Uruguay di Final Piala Dunia 1950.

Tragedi memalukan ini seolah mengubur filososfi Jogo Bonito yang lucunya berhasil kami aplikasikan di Stadion St James Park. Total seluruh pemain Norwich terlibat dalam terjadinya gol kedua kecuali kiper Ruddi. Kami saling menyentuh bola dari belakang hingga akhirnya berhasil menjebol gawangnya Tim Krull.

Inilah bentuk sebenarnya Jogo Bonito. Jangan tertipu mengira, akibat pemain Brasil memiliki teknik individu di atas rata-rata, Jogo Bonito merupakan permainan individual.

Yang benar Jogo Bonito merupakan individu-individu berbakat yang melebur dalam sebuah tim sehingga melahirkan permainan tim yang amat indah. Ketika Brasil melawan Italia di Final Piala Dunia 1970 bola bergulir dari Tostao, Brito, Clodoaldo, Pele, Rivelino, Roberto Boninsegna, Gerson, Jairzinho, kembali ke Pele sebelum dioper untuk diselesaikan oleh tendangan geledek Carlos Alberto dan menamatkan perlawanan Italia melalui penampilan meyakinkan 4-1.

Gol Garlos Alberto merupakan Gol terbaik sepanjang penyelenggaraan turnamen Piala Dunia karena gol ini tercipta bukan secara individual semata-mata, tapi sekumpulan individual berbakat yang menjadi satu dalam sebuah kerja sama tim. Total delapan pemain menyentuh bola tanpa bisa disentuh sama sekali oleh satu pun pemain Italia sebelum menembus gawang mereka.

Dengan cara yang sama kami mencetak gol ke gawang Newcastle. Setelah legenda Maradona hidup kembali sekarang giliran legenda Jogo Bonito yang hidup lagi di tanah Inggris sekaligus menyamakan kedudukan dan membuat peluang kami menang manjadi terbuka.

BERSAMBUNG