CONCHITA Part 6

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10

Cerita Sex Dewasa CONCHITA Part 6 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Cerita Sex Dewasa CONCHITA Part 5

FACING GEGENPRESSING

Aku pernah membaca buku Haruki Murakami berjudul “What I Talk About When I Talk About Running”. Buku ini bukan salah satu buku terkenal Haruki yang terkenal dengan novel-noel berbobot tinggi. Hanya sebuah novel kecil tentang perjuangan batin seorang pelari. “The Marathon Man”.

Konon katanya sampai umur 33 tahun, Haruki Murakami, belum pernah berlari. Semuanya berubah saat Beliau menemukan sebuah kesamaan antara berlari dengan profesinya sebagai penulis. Rupanya kedua aktifitas ini memiliki satu kesamaan ; fokus. Bukan fokus jangka pendek tapi jangka panjang dan melelahkan. Berlari marathon minimal harus menempuh jarak 42 km sekali berlari.

Bagaimana cara seorang pelari bisa memerangi dirinya agar setia melangkahkan kaki sepanjang jalan yang dilalui merupakan sebuah persoalan besar. Demikian pula menulis, yang menurut Haruki, merupakan pekerjaan “tidak sehat” karena membawa si penulis berhadapan satu lawan satu melawan “Sang Racun” yang terdapat di dalam seluruh inti diri manusia.

Sang Racun itu bernama ilusi . Inti terdalam Ilusi selalu membawa si penulis dan umat manusia senantiasa berpikir negatif. Tak percaya pada dirinya, terlalu tergantung pada penilaian orang lain, selalu merasa kurang, perfeksionisme yang tak berkesudahan dan traumatik masa lalu.

Kecenderungan negative ini sama persis ketika berlari marathon dimana negativitas diri senantiasa membawa si pelari senantiasa berpikir dia tidak akan mampu berlari sejauh itu, terlalu memikirkan pendapat orang lain perihal dia bisa atau tidak menyelesaikan larinya, selalu merasa kurang cepat atau kurang berlatih, menuntut perfeksionisme berlebihan mulai dari sepatu lari hingga air minum serta soal traumatik masa lalu yang, biasanya, si pelari tidak memiliki basic seorang olahragawan ketika dia kecil.

Inilah sebabnya Haruki Murakami menganggap aktifitas menulis dan berlari mampu menghadapi Sang Racun Ilusi, lalu menantangnya dalam sebuah battle one on one yang dia tau peluang menang dan kalahnya sama-sama fifty-fifty.

Sebagai seorang pemain bola aku sangat suka buku Haruki Murakami yang ini. Pengalamannnya berlari sangat mirip dengan pengalamanku setiap hari di lapangan bola. Contohnya bila Murakami memaksa dirinya harus bisa menempuh jarak 6 mil atau setara 10 km setiap harinya sebanyak 6 kali seminggu agar ia siap menjalani marathon, aku juga harus memaksa diriku agar bisa menempuh jarak yang kurang lebih sama saat berlatih dua kali sehari di lapangan bola. Belum lagi pergulatan besar di lapangan saat pertandingan berlangsung memerlukan disiplin konstan melawan Sang Racun dari dalam diri.

Saking beratnya duel melawan Sang Racun, Penulis sehebat Haruki Murakami saja di usianya sekarang yang tak lagi muda mengatakan tak mau berhenti berlari. Berlari, menurutnya, sangatlah efektif menghentikan Sang Racun melalui kesunyian dalam gemuruh paru-paru.

Kesunyian dalam kecepatan bisa membuat Murakami mengidentifikasi secara jelas letak Sang Racun yang merupakan musuh utama kemanusiaan. Semua manusia memiliki problem dengan yang satu ini. Semua musuh dari luar mudah kita hadapi karena jelas bentuk fisiknya. Sang Racun tidak begitu. Dia begitu samar menyaru sebagai bagian terbaik dalam diri kita untuk kemudian berbalik hendak membunuh melalui berbagai prasangka negative.

Biasanya aku mudah mengalahkan Sang Racun ini saat berlari. Segala prasangka negative akan lenyap begitu saja ditiup oleh derap langkah pasti. Sayangnya berlari tidak menjadi solusi sekarang. Tidak saat melawan seorang Ronda Rousey. Wanita ini tengah mengamuk tak terkendali berusaha membunuh rekan sparringnya dan kuhentikan melalui sliding tekel akurat.

Sempat terjatuh akibat slidingku, ia langsung bangkit, merubah keadaan dan mematahkan upayaku melarikan diri melalui sebuah kuncian Judo. Bukan hanya kunciannya begitu mematikan, transisi pertahanan menjadi penyerangannya berlangsung amat cepat. Kuhitung tak sampai lima detik ia mampu menggerakkan seluruh sendi tubuhnya dari yang sebelumnya kujepit berbalik menjepit.

Berhasil mengunciku, tanpa basa-basi Ronda menghujamkan pukulan lurus. Pukulan pertamanya rasanya masih mampu kutepis tapi tembus masuk ke mata. Perasaan panas dan nyeri tak terkira di mata kanan menunjukkan betapa telaknya pukulan itu bisa mengenaiku. Sebagai wanita, Ronda amatlah kuat.

Sekarang saja, masih berselimut amarah stadium tinggi, ia tarik tangan kirinya bersiap memberi pukulan kedua. Padahal sisi kuncian tubuhnya sedari tadi telah berusaha kugoyahkan sekuat tenaga tapi “Rowdi” tetap kokoh dengan kunciannya.

Sialnya di tengah pukulan mematikan ini aku terbaring seorang diri ditemani keangkeran Octagon. Tak ada seorang pun yang berniat membantu atau pun melerai pertarungan berat sebelah ini. Meski terdiri dari puluhan orang, para anggota Tim Ronda tidak berusaha melangkahkan kakinya. Mereka seperti mendapat tontonan gratis tanpa harus mengeluarkan biaya menyaksikan seorang laki-laki dijadikan sansak hidup oleh lawannya seorang wanita maut.

Pukulan kedua datang lebih keras.

Kibasan pasrah tanganku yang seketika layu terhantam pukulan menunjukkan betapa kerasnya pukulan seorang Ronda Rousey.

” CRRRRRRRROOOOOOOOOOOOTTT.”

Rasa hangat mulai mengalir di pelipis mataku menemani rasa nyeri yang juga sangat terasa. Darah atau bukan aku sudah tak peduli karena rasa pusing semakin menjadi-jadi. Wajah buas Ronda Rousey yang sebelumnya jelas, mulai terlihat kabur. Ia malah lebih menyerupai patung wanita bertangan banyak karena satu tangannya beranak pinak menjadi lebih dari sepuluh dalam penglihatanku. Meski berbayang-bayang kulihat jelas tarikan tangan kanannya yang bersiap memberi pukulan ketiga.

Refleks, berusaha mempertahankan diri, satu tanganku yang masih bebas berusaha kembali mengibas-ngibas berusaha menghentikan pukulannya. Angin pukulan ketiganya bisa kurasakan. Ekspresi mengernyit bersiap menahan nyeri seketika tergambar di wajahku. Bagian mana lagi dari wajahku yang akan hancur sekarang.

” GREEEEEEEEEEEEEEEEEP GUBRAAAAAAAAAAAAAAAKKKKKKK.”

Suara benturan keras diteruskan bunyi orang terbanting tiba-tiba kudengar. Seseorang pasti sudah terbanting tapi siapa??. Berusaha kubuka mata yang masih berbayang-bayang, kulihat sosok laki-laki besar dari ujung kepala sampai kaki telah berdiri membelakangiku.

” DA……TI…..RANG…..JU……”

Gokor datang. Dari suaranya laki-laki ini pasti Gokor. Dia datang di saat yang tepat.

Terhalang oleh Gokor aku berusaha merangkak mundur menahan kepusingan yang semakin parah. Sebenarnya aku mau segera merangkak lalu kabur ke luar dari Octagon, tapi apa dayaku sedangkan seluruh lantai Octagon seperti berputar-putar bak roller coster. Terus merangkak mundur berhasil membawaku menabrak besi pembatas pagar. Kududukkan diri memegangi kepala berusaha menghentikan perputaran dunia di kepalaku.

” DA….TI….RANG….JU….”

Gokor terus berteriak sedangkan nafas Ronda tetap terdengar memburu.

Aku mencoba mengintip apa yang sebenarnya terjadi. Butiran darah kulihat mulai menetes membasahi terpal Octagon di bawahku. Kupegangi sejenak menyadari pelipisku pasti sudah robek terkena pukulan.

” JDDAAAAKKK…JDAAAAKKK….JDAAAAKKKKKKK.”

Suara tendangan keras membuatku segera memalingkan wajah. Kulihat Ronda Rousey sekarang menyerbu Gokor. Ibarat singa kelaparan, ia memang belum berhenti menyerang mangsa sebelum kelaparannya terpuaskan. Ditendanginya Gokor bertubi-tubi sekuat tenaga.

Namun Gokor bisa bertahan. Kulihat jelas bagaimana laki-laki tak jelas bicara ini mematahkan tiga tendangan beruntun Ronda menggunakan pertahanan rapat tangannya kemudian cepat ia gunakan tangan kanan berikut bobot tubuhnya sebelah kanan mencoba membanting si singa betina. Kaki Gokor dikaitkan di satu kaki Ronda lalu ia mengungkit kaki muridnya itu agar kehilangan keseimbangan dan membuatnya terjatuh.

Bunyi keras jatuhnya dua orang ini diikuti gerakan cepat Gokor melakukan kuncian tangan. Ronda masih berusaha melawan tapi kedua kaki Gokor mengunci kedua kakinya dalam satu gerakan dan membuatnya tak bisa bergerak di kunci tangan dan kaki dalam posisi berbaring. Aku terus memegangi kepala agar berhenti bergoyang untuk bisa melihat lebih jelas bagaimana akhir dari duel antara murid melawan guru ini.

Di mataku mulai bisa kulihat wajah merah padam Ronda yang masih emosional berubah kesakitan karena kuncian Gokor ditubuhnya mengunci begitu sempurna. Meski Ronda ingin menghajar siapa saja di hadapannya, apa dayanya bila tidak ada tangan atau kakinya yang dapat digunakan menuntaskan nafsu birahinya ini.

” OKK CUKUUUUUUP CUUUKKKUUPP GOKOR SETAANNN LEPASKAN TANGAN DAN KAKIMU DARI TUBUHKU!.”

Ronda meraung keras. Gokor terus menguncinya sambil mencoba meredam emosinya.

” CEEPAAAAAAATTT LEPASKAN AKUUUUUU DASARRRRRRR SETANNNANNNNNNNNNNN!.”

Gokor melepaskan kunciannya.

Ronda langsung menjungkit badannya dan seketika berdiri lagi.

Melihatnya berdiri membuatku ketakutan setengah mati hingga menutupi mukaku dengan kedua tangan membentuk pertahanan tinju.

Aku sangat takut dihajar lagi.

” KENAPA KAMU KASIH AKU SPARRING YANG MIRIP SI JALANG HOLM DASAR TOLOL????.”

Ronda terlihat sudah tak bersemangat menyerangku. Kuturunkan tangan sebentar.

” TING…..U…KAMU……”

Ayolah Gokor sekali saja jawablah yang jelas.

” LIHAT SEKARANG AKIBAT KETOLOLANMU INI!,” tangannya menunjukku kearahku ” BERAPA ORANG HARUS JADI KORBAN GARA-GARA KAMU?? MIKIR PAKE OTAK DONK KAMU GOKOR! KEBANYAKAN BERKELAHI BIKIN KAMU MIKIR PAKE PANTAT DASAR SETAN!.”

Ronda kembali mengeluarkan sumpah serapah lantas memukul keras pagar Octagon dan ngeloyor ke luar panggung. Aku tak tau bagaimana ekspresinya terhadapku karena wajahnya mulai berbayang lagi, yang jelas aku bersyukur setengah mati wanita maut ini keluar dari Octagon. Ketidak hadirannya membuatku bisa merebahkan diri dan untuk pertama kalinya merasakan bahwa pukulan “Rowdi” Ronda Rousey benar-benar menyakitkan.

***

” Gimana keadaanmu orang Asia??.”

Seorang laki-laki setengah baya mengenakan stelan jas hitam mendatangiku saat dirawat oleh tim medis.

” Gak baik Pak…nyeri….nyeri sekali..,” jawabku menahan sakit.

” Dokter bilang pelipismu sobek tiga jahitan! gak usah khawatir kami tanggung semua biaya pengobatanmu sampai sembuh benar!,” ringan saja si jas hitam memberikan penjelasan.

Aku hanya mengangguk menanggapi omongannya. Habis energiku bila harus emosi menghadapi insiden pemukulannya Ronda, aku lebih memikirkan kecemasan tak terkira membayangkan bagaimana aku bisa bertanding melawan Liverpool dalam kondisi sehancur ini.

” Kamu seorang atlet “soccer” ya?.”

Aku mengangguk lagi. Merasakan nyeri di kepala mulai reda.

” Kapan partandinganmu berikutnya??.”

” ….Tu,” celaka kebanyakan meledek Gokor cara bicaraku jadi ikut-ikutan dia.

” Apa???.”

” Sabtu Pak…SABTU…” tak mau mengikuti Gokor kuucapkan keras kata terakhir.

Laki-laki dihadapanku gantian mengangguk aneh lalu mengeluarkan sebuah buku kecil dari sakunya. Dituliskan sesuatu di buku itu lalu disobeknya selembar.

” Orang Asia atas nama manajemen Ronda Rousey, aku mengucapkan permohonan maaf sebesar-besarnya atas “insiden” yang tidak kita inginkan dalam latihan siang hari ini!,” dari nada bicaranya ia mulai terdengar seperti politikus ” percayalah kami akan menanggung semua biaya berobatmu, termasuk memberikan ini sebagai….yah anggaplah biaya beli obat tambahan,” ujarnya menyerahkan selembar kertas.

Kepalaku masih terasa pusing, sedang tak ingin membaca-baca sesuatu. ” Apa ini Pak??.”

” Sedikit saja orang Asia..untuk beli obat.”

Menyadari dari tanda-tanda arah omongannya yang diberikannya ini pasti uang dalam bentuk cek segera kukembalikan kertas itu ke tangannya.

” Gak Pak ambil kembali!”

” Bukan begitu orang Asia…,” si laki-laki berjas hitam berusaha memberikannya lagi kepadaku ” begini…”

“Pak!,” aku berusaha memotong penjelasannya yang pasti bertele-tela dan membosankan ” Tenang saja, aku tidak akan menuntut Ronda atas kejadian ini! Ok?? tenang saja!,” kuberalih sejenak ke tim medis disebelahku ” Dok bisa dirapihakan lagi jahitannya?? sabtu ini aku harus bertanding.”

Memikirkan Liverpool membuat kepalaku nyeri lagi.

” Begini orang Asia..,” si laki-laki memaksa melanjutkan ” terima kasih tak terhingga harus kami ucapkan kepadamu atas pengertianmu barusan, tapi Ronda sendiri yang menginginkan kamu harus menerima cek ini!.”

” Ronda??,” aku terkejut “Kenapa dia tidak menyerahkannya sendiri ?? ”

Si laki-laki hanya mengangkat bahunya ” Aku tak tau orang Asia, dia hanya mengatakan terlalu malu menemuimu setelah insiden tadi.”

” Malu??,” akhirnya aku bisa tersenyum ” aneh juga ya….” sekarang gantian aku yang mengangkat bahu.

” Terimalah ini!,” lagi-lagi si laki-laki berjas memaksakan diri.

” Pak…..Aku tidak mau…,”

” Selain cek ada satu tiket VIP khusus buatmu untuk menyaksikan pertandingan UFC ke 207 rabu besok.,” mendengar tiket VIP UFC membuatku terkejut. ” Terimalah! Ronda ingin kamu menyaksikan pertandingannya.”

Mendengar wanita seperti Ronda Rousey menginginkanku menonton pertandingannya dari bangku VIP membuatku melihat baik-baik kertas di tanganku. Si laki-laki berjas hitam telah beranjak meninggalkanku.

Isinya benar selembar tiket dan selembar cek yang isinya…

” PAK..PAK SEBENTAR INI TERLALU BANYAK AMBILLAH KEMBALI!.”

” Nay..nay…nayy…,” ia menggeleng-geleng ” di bangku VIP nanti kamu perlu tampil necis, belilah baju yang bagus dari cek itu! Kamu tahu seharusnya pertandingan Holm melawan Rousey digelar di UFC 200 setengah tahun lalu, tapi karena rekomendasi medis baru keluar kemarin bagi Ronda jadilah pertarungan mereka digelar di UFC 207. Bersiaplah orang Asia yakinlah animo penonton sangat besar menyambut pertandingan mereka berdua besok rabu.”

Ia berujar santai lantas meninggalkanku begitu saja masih dalam kebingungan bersama tim medis yang terus bekerja.

***

” BUDI DEMI TUHAN APA YANG KAMU LAKUKAN????.”

Kalimat tersebut merupakan ekspresi pertama Coach Neill kala melihat kedua mataku legam biru dan salah satu pelipisnya mendapat jahitan. Tadinya dia hendak memarahiku karena terlambat berlatih namun melihat kondisiku sekarang membuatnya semakin murka. Berbagai sumpah serapah bercampur nama-nama penghuni kebun binatang diucapkannya satu per satu saat aku tengah di cek menyeluruh oleh tim medis Norwich.

” Sobek tiga jahitan di pelipis mata kiri Coach! dan dua legam di mata terindikasi Budi habis berkelahi,” ketua Tim medis Norwich cepat menyimpulkan.

” TOLOL BISA-BISANYA KAMU BERKELAHI DI KOTA YANG PENDUDUKNYA SERAMAH NORWICH?? KAMU INI TOLOL TINGKAT DEWA YA???.”

Mendengar Coach Neill mengucapkan kata itu membuatku geli sendiri.

” Kita bisa pakai kaca mata ala Edgard Davids bila kamu mau Coach.”

Ketua Tim media memberikan solusi yang setidaknya bisa menenangkan hatiku juga.

” Kamu yakin bisa Dok??,” nada suara Coach Neill mulai menurun. Bagaimana pun aku lelah juga mendengarnya mengabsen anjing, kucing, babi, dan lain sebagainya sambil berteriak-teriak sedari tadi dan semuanya tertuju kepadaku.

” Bisa! ini baru hari rabu kita bisa mengajukan kepada FA ijin penggunaan kaca mata ala Edgar Davids buat Budi tapi kita harus segara merawat sobek di pelipisnya dalam tiga hari ke depan kalo mau dia bisa main!,” optimismenya membuatku sangat senang.

” KAMU BISA LAKUKAN ITU DOKTER??? KAMU BENAR-BENAR PAHLAWANKU SEKARANG!,” Coach Neill bertingkah rancu ” DAN BUAT KAMU SI BIANG KEROK! AWAS KALO KAMU BIKIN ONAR LAGI DI PERTANDINGAN BESOK!.”

” Tapi Coach aku bukan pembuat onar…..”

” SUDAH….KHUSUS BUAT KAMU SELAMA TIGA HARI INI KUSKORS WAJIB LAPOR DI KAWASAN MESS PEMAIN NORWICH TIDAK BOLEH KEMANA-MANA!.”

Bagus. Menghabiskan hari kamis, jum’at, sabtu hanya di dalam lingkungan stadion menjelang pertandingan berat melawan Liverpool pasti sangat-sangat menyebalkan.

***

Baru satu hari melewatkan waktu hanya sendirian di mess para pemain Norwich benar-benar terasa menjengkelkan. Rasanya figur Jurgen Klopp pelatih Liverpool sampai datang ke mess pemain lantas tertawa keras dari balik kaca matanya menertawakan kondisiku. Manusia harus bisa benar-benar menghadapi ketakutannya sendiri ketika berada dalam situasi seorang diri. Tak adanya rekan bicara membuat pikiranku terus saja bicara kesana kemari.

Tadinya Alfred mau menemaniku, tapi dia ada kencan katanya dengan seorang model pendatang baru jadi meninggalkanku seorang diri. Meski satus kami hanya sebagai pemain bola dari Klub yang tidak terlalu mentereng, namun bisa bermain di Liga Utama Inggris tentu saja bisa menjadi daya tarik tersendiri yang bisa membuat para wanita cantik datang mengerubungi. Alfred saja kuhitung sudah bergonta ganti pacar lebih dari lima kali dalam setahun terakhir dan hampir semuanya merupakan para model-model cantik.

Bingung tak tau harus ngapain dan berusaha memerangi diri sendiri kucoba mengutak-utik serpihan puzzle yang diberikan Meneer Johan ;
1. Waspadailah “Tori” maupun “Uke” yang bisa memanfaatkan momen jatuhnya dan bisa kembali menyerang. Itulah seni Gegenpressing.
2. Bila kamu sebagai pejudo menghadapi seorang petinju kidal apa yang akan kamu lakukan guna mengatasi keterbatasan prespektifmu??. Gegenpressing adalah seperti kamu pejudo menghadapi lawan petinju kidal yang boleh menggunakan kakinya.
3. Pada diri Luis Suarez terletak keunggulan Judo dan Gegenpressing. Dan pada Luis Suarez terletak pula kelemahannya.

Petunjuk macam apa ini??. Meneer Johan benar-benar keterlaluan. Bagaimana bisa dia memintaku memecahkan puzzle yang berkaitan Gegenpressing menggunakan istilah Judo??. Sama sekali gak nyambung. Kedua olahraga ini apabila dibandingkan sepak bola dan Judo atau pun tinju merupakan dua dunia berbeda. Yang satu olah raga tim yang satu olah raga individu. Selanjutnya yang satu olah raga bertipe permainan yang satu bertipe bela diri. Yang satu ada di barat dan yang satu di timur.

Tunggu aku jadi teringat buku lain dari Haruki Murakami yang mengupas kedua sisi dunia yang berbeda dalam sebuah cerita. Buku itu berjudul South of Border, West of the sun. Dirilis pertama kali tahun 1992 dan aku baru selesai membacanya dua tahun yang lalu. South of Border merupakan gambaran sebuah lagu tentang Negara Mexico. Sebuah Negara beriklim tropis dengan tanah subur dan bentuk orang yang sama dengan negaraku. Sedangkan West of the Sun meski terdengar disebut kata matahari merujuk kepada dataran tunda Siberia yang tandus.

Kesuburan tanah Mexico dan Siberia apabila diperbandingkan tentu sama persis seperti bola dan Judo. Sama sekali tidak nyambung. Kesulitanku mencari hubungan antara bola dan Judo tergambar jelas dari serangannya Ronda kepadaku kemarin.

Ketika aku mengunci Ronda di perutnya kemudian dia membuka kuncianku dan menyerang, bilapun itu bisa dibilang Gegenpressing, kejadian itu merupakan Gegenpresssing individual. Aku belum mendapat gambaran ketika aksi itu dilakukan oleh sebelas orang di lapangan. Sama juga aku tak bisa membayangkan 11 orang di lapangan bola sama-sama mempraktekan jurus-jurus Judo untuk menghadapi lawannya. Bukannya aku akan menyaksikan sebuah pertandingan bola malahan akan terbit tawuran masal tak terkendali.

Kesimpulan ini terjadi persis sama dengan tokoh utama dalam bukunya Murakami South of Border ; Hajime yang merupakan anak tunggal yang menemukan “kehilangan” dalam hidupnya akibat trauma masa lalu. Pada perjalanan kehidupannya tokoh ini kemudian menikah, membangun keluarga, menjalankan bisnis sebuah klub jazz untuk menemukan sebuah rasa “kehilangan” yang juga tidak mau hilang akibat kebingungan mencari hubungan antara hati dan pencapaian duniawi. Hati dan pencapaian duniawi seakan terhubung padahal sama sekali tak terhubung. Judo dan bola oleh Meneer Johan dibuat seolah terkait padahal betul-betul terpisahkan.

Aku berusaha terus mengingat-ngingat isi buku Haruki Murakami yang ini berharap menemukan sebuah petunjuk. “Bayangkanlah West of The Sun itu,” kudengar lirih Murakami berbisik, “seperti kamu adalah petani yang berusaha menanam tumbuhan di tanah tandus Siberia. Setiap hari kamu berangkat berladang, mempersiapkan bibit, mengolah tanah, mengatur perairan dan melakukan apa pun yang terkait dengan tanam menanam. Setelahnya kamu makan dan pulang kerumah untuk mengulangi ritual yang sama keesokan harinya.”

“Ketika siklus itu berulang-ulang sepanjang tahun, kemudian bertahun tahun dan berpuluh-puluh tahun,” Murakami masih berbisik “kamu akan menemukan sesuatu dalam dirimu menghilang. Sesuatu yang menghilang ini bisa membuatmu hidup lebih buruk ataupun malahan menjadi lebih baik tergantung bagaimana kamu memaknai matahari yang datang dari barat ini. Siklus yang datang berulang-ulang, menghilangkan sesuatu dari dalam diri dan kehilangannya bisa membuat kita menjadi lebih buruk atau lebih baik.”

Aku sangat suka bisikan kalimat ini. Sangat-sangat berbau esoteris. Sangat-sangat Norwich.

Bila melihat lanjutan ceritanya sendiri, West of The Sun merupakan gambaran sosok Hajime sendiri yang didalamnya masih menyimpan dendam akibat trauma masa lalu. Walau sudah beranjak dewasa dia masih juga gagal “move on” dan senantiasa mencela pengajaran orang tuanya dahulu yang dianggapnya sendiri membuatnya hidup tak senormal anak lain. Sebaliknya South of Border merupakan gambaran dari Shimamoto, teman wanita di masa kecil Hajime yang meski menderita sakit polio senantiasa memberikan kedamaian hati kepada Hajime dalam bentuk perhatian, cinta dan kasih sayangnya.

Aku menggambar sendiri di kertas dua kalimat yang sebenarnya bertentangan tapi barangkali bisa saling menyatu

South of Border – West of the sun

Sepak bola – Judo

Apa hubungannya??. Aku masih bertanya. Kenapa harus olah raga bela diri yang dipilih??.

Tak mendapat jawaban, aku lanjut mengingat ceritanya Harkui Murakami siapa tau akan mendapat petunjuk;

Dalam cerita, ketika Hajime sudah hidup mapan lengkap dengan istri dan anaknya barulah dia secara mendadak bertemu kembail dengan Shimamoto pada saat umur mereka berdua sudah 36 tahun. Pertemuan kembali mereka dan beberapa pertemuan kecil lainnya sesudahnya akhirnya membuat Hajime berpikir adalah benar ada yang hilang dalam dirinya. Dan sesuatu yang hilang itu berasal dari masa kecilnya yang sampai saat ini, dia, masih mendendam karenanya.

Aku beranjak bangkit berusaha sejenak merenggangkan badan sembari bercermin melihat bekas legam biru di kedua mata.

” Ronda Rousey!,” ujarku mengingat wanita mantan juara UFC. Bisa saja kaitannya malahan terkait wanita sangar ini. Mengingat sosoknya aku menghidupkan televisi.

***

Acara televisi favoritku tentunya berkaitan erat dengan olah raga. Aku suka menonton apa yang terjadi di seluruh dunia olah raga termasuk di Indonesia. Begitu kuhidupkan televisi wajah Ronda langsung terlihat sedang menghadiri konfrensi pers resmi bersama lawannya Holly Holm. Rupanya inilah konfrensi pers terakhir sebelum mereka bertanding hari rabu nanti. Bukan sembarang pertemuan wartawan tentunya karena mempertemukan kedua orang yang kuyakin sama-sama masih menyimpan kebencian di hatinya.

Ronda tampil garang mengenakan jaket kulit hitam sedangkan Holm mengenakan kaos tanpa lengan berwarna krem. Keduanya sama-sama tegang. Bila saja tidak dibatasi olah dua orang yang duduk di tengah mereka pastilah mereka sudah saling seruduk. Kilatan blitz kamera terpapar di seluruh penjuru. Inilah duel terpanas tahun ini bahkan dalam dekade ini kata sebagian komentator. Mengalahkan ketenarannya duel Mayweather Vs Pacquaio.

” Ronda, bagiamana kesiapanmu menghadapi pertandingan rematch ini?.”

Seorang wartawan bertanya, membuat Ronda yang semula duduk bersandar menegakkan duduknya. Tak terlihat adanya penyesalan akibat telah membuat mataku bonyok kemarin. Dia begitu dingin. Wajahnya tirus akibat telah melalui latihan dan diet demikian ketat. Rambut blondenya digerai menampilkan sebuah sisi kecantikan yang menggoda laki-laki siapa saja. Lengannya, untuk ukuran wanita, tetap terlihat montok dalam balutan jaket kulit menampilkan sebuah peringatan bagi para laki-laki hidung belang bahwa lengan itu bisa mengantar mereka semua ke rumah sakit, atau sesuai pengalamanku sendiri, bisa saja ke kuburan.

” Aku sangat siap!,” ia menjawab dan Holm meliriknya tegas ” buat menghadapi si JALANG ini aku sudah siap sejak tanggal 16 november 2015 CATAT KALIMATKU INI BAIK-BAIK!,” Ronda ganti melirik, Holm tak bergeming kini tersenyum merendahkan.

” Tapi melihat dari pertarungan kalian tahun lalu, kamu sama sekali tidak berdaya melawan Holly Holm,” si wartawan bertanya lagi.

” KATA SIAPA AKU TAK BERDAYA???,” Ronda menaikkan suaranya malahan lebih mirip berteriak sekarang ” PERTARUNGAN KEMARIN MERUPAKAN KEBERUNTUNGAN BUAT SI JALANG INI!.”

” Hei…kemenangan beruntung apa??,” Holm yang semula tenang mengambil pengeras suara di depan mejanya ” kamu kalah secara tragis Ronda. TRAGIS!,” Holm menuding ” seluruh dunia tau betapa lucunya kamu saat TERKAPAR MENCIUM KANVAS di hantam KAKIKU INI!,” Holm bangkit memperlihatkan kakinya ” dan dunia TAK HENTI menjadikanmu LELUCON setelah itu,” Holm kembali duduk.

Susana mulai panas.

Kulihat kubu kedua tim mulai merapat takut terjadinya sesuatu di luar prakiraan mereka. Penonton yang menyaksikan langsung jalannya jumpa pers juga terlihat mulai heboh sendiri. Mereka asyik berbicara satu sama lain berusaha mengomentari debat kusir yang terjadi diantara kedua petarung. Ronda menatap Holm sepanjang dia bicara. Aku bisa melihatnya karena siaran Fox Sport men-split layar menjadi dua memperlihatkan wajah keduanya secara close up. Kulihat jelas wajah Ronda memerah. Dia terlihat mulai marah.

” Dan buat pertemuan besok aku akan MENENDANGMU lagi begitu keras hingga masyarakat dunia sepakat bahwa tendanganku akan membuat seorang RONDA ROUSEY PENSIUN DARI DUNIA UFC!.,”

Penonton semakin riuh. Pemirsa di rumah sepertiku pasti merasakan kehebohan jalannya jumpa pers mereka berdua. Pandanganku tak bisa lepas dari raut wajah Ronda, melihat benar bagaiamana wanita yang sulit sekali mengontrol dirinya, sekarang menghadapi intimidasi pancingan begitu provokatif. Tadi wajahnya sudah memerah. Sekarang dia berusaha tersenyum mengendalikan diri namun sesumbar Holm akan “mempensiunkannya” jelas membuatnya naik pitam.

” O YA?? KAU MAU MEMPENSIUNKANKU JALANG???,” Ronda berdiri menunjuk-nunjuk bersiap menghajar wanita di sebelahnya.

Dua orang yang duduk di tengah mereka ikut berdiri berusaha mengantisipasi sesuatu. Holly Holm juga berdiri, dagunya terangkat menunjukkan ekspresi tak gentar.

” BIAR WARTAWAN DAN MASYARAKAT DUNIA DISINI MENCATAT UCAPANMU TADI!,” ucapan Ronda sudah bergetar menunjukkan emosinya sudah tak terkontrol tapi hebatnya dia masih mencoba bicara

” AKU SIAP PENSIUN DARI UFC KALO KAMU BISA MEMBUKTIKAN UCAPANMU BARUSAN, TAPI KALO TIDAK MAKA UCAPANMU TADI SEPERTI UCAPAN LONTE DI PINGGIR JALAN!,” Ronda semakin maju.

Kedua kubu juga maju karena Holm terlihat mulai terpancing. ” Ingat baik-baik!,” Ronda menurunkan suaranya ” kalo kamu gagal mengalahkanku maka DUNIA TAU KAMU BETUL-BETUL LONTE DI PINGGIR JALAN,” Holly Holm maju menghalau tangan yang menghalanginya ” IBUMU MENGAJARKANMU UNTUK JADI LONT………,” saat Ronda menyinggung kata Ibu, Holly Holm telah berhasil mendorong laki-laki yang menghalanginya.

***

Ia maju dan hany tinggal berjarak dua langkah dari Ronda. Dia berusaha menjambak rambut lurus Ronda. Ronda bisa melihat kecepatan tangan Holm, berusaha dia tangkap tangan itu. Tangan Holm sendiri sangatlah cepat seperti layaknya petinju yang cepat dilepas cepat ditarik. Mereka berdua gagal mengambil bagian tubuh lawannya pada kesempatan pertama. Tapi Ronda yang tampaknya sudah tidak tahan seketika melompat.

Memanfaatkan kelengahan Holly Holm ia melakukan tendangan lompat dan mengenai tubuh Holm.

Holm terkena tendangan di dada. Seharusnya dia terdorong mundur tapi kehadiran tim pendukung yang telah berada tepat dibelakangnya membuat dia tak terdorong dan memanfaatkan kehadiran mereka untuk meluncur maju menyiapkan pukulan terbang kepada Ronda. Sama seperti tendangan Ronda yang mengenai dadanya, pukulan terbang jab lurus Holm juga mengenai dadanya.

Satu sama.

Mereka berdua berhasil menendang dan memukul lawan masing-masing. Sekarang mereka sudah berjarak begitu dekat. Bersiap mengeluarkan kekuatan masing-masing. Seluruh tim pendukung terpancing emosi bukannya melerai mereka malahan saling dorong satu sama lain. Tawuran diantara seluruh pendukung tak terelakkan.

Gokor maju menggunakan lengan besarnya menyapu seluruh orang menarik Ronda menjauh. Demikian pula pelatih utama Holm berhasil mengevakuasi Holm dari atas panggung. Kedua tim pendukung mereka, tak bisa dihentikan, sekarang mulai saling hajar.

Ronda disorot kamera pertama kali masih menuding-nuding Holm penuh emosi. Holm juga yang disorot berikutnya membalas memakinya begitu keras.

” KAMU PASTI PENSIUN BITCH!,” Holm memaki.

” COBA SAJA LONTE! COBA SAJA!.” Ronda membalas.

Gokor menariknya menjauh. Meski Ronda masih menuding-nuding kehadiran Gokor berhasil membuatnya patuh.

Kamera sekarang menyorot wajah Ronda yang melangkah emosional menuju backstage. ” KALIAN DENGAR!,” Ronda menuding kamera ” AKU AKAN MELAKUKAN ARMBAR SUBMISIION PADA PELACUR ITU MEMATAHKAN LENGAN KANANNYA LALU MENGIRIMKANNYA KE DEPAN BALAI KOTA MANCHESTER DAN MENCOPOT LENGAN KIRINYA UNTUK KUKIRIM LANGSUNG KE KAMPUNG HALAMANNYA DI AMERIKA!.”

Aku yang mendengarnya saja harus menggeleng-gelengkan kepala saking ngerinya mendengar ancaman yang baru saja terlontar. Ronda Rousey memiliki rekor 12 kali kemenangan dan satu kali kalah dan Holly Holm Sang Juara mencatatkan 10 kali menang dan belum pernah kalah. Duel rematch diantara mereka rabu besok pasti lebih mengerikan dari duelnya Mayweather lawan Pacquaio.

***

Hari jum’at kami habiskan dengan briefing terakhir memastikan strategi final. Para pamain senior termasuk Alfred terkejut melihat bekas bonyok di kedua mataku. Alfred bahkan bersiap berkelahi dengan orang yang telah membuat mataku cidera. Masalahnya dia tidak tau siapa yang telah membuatku seperti ini. Pemain yang lain malahan heran bisa-bisanya aku terlibat perkelahian sedangkan penduduk Norwich begitu ramah. Beragam spekulasi beredar, ada yang bilang di sela-sela latihan hari rabu aku pergi ke klub diskotik dan berkelahi disana. Akan tetapi mau ngapain aku siang-siang ke klub??. Bukankah di Indonesia yang ada itu klub malam dan bukannya klub siang??.

Beberapa diantara spekulasi melahan mengatakan aku dikeroyok oleh pemain Liverpool. Ini juga tak masuk akal sama sekali karena mereka bahkan belum tiba di Norwich. Apalagi spekulasi berikutnya yang mengatakan bonyokku ini karena aksi hooliganisme?? bagaimana aku bisa terkena hooliganisme di kandang sendiri??. Beragam spekulasi berkembang menjadi segudang pertanyaan tak terjawab tentang apa sebenarnya yang terjadi dengan kedua mataku. Namun kekhwatiran mereka terpusat pada bisa tidaknya aku turun sabtu besok dalam kondisi mata sebonyok ini.

Mendengar jawaban “bisa” dari tim dokter setidaknya membuat mereka tenang. Tapi ketenangan mereka akhirnya menjadi ketidak tenangan bagiku karena mereka mulai meledekku masalah mata. Habis-habisan mereka meledekku bahkan ketika mendengar aku akan mengenakan kaca mata ala Edgar Davids besok di lapangan. Tim medis Norwich sudah berhasil mendapatkan ijin buatku. Bukan hanya itu mereka juga sudah berhasil meminamilisir dampak kerusakan sobeknya pelipis hingga bisa memenuhi syarat mengikuti pertandingan.

Berbagai spekulasi, pertanyaan maupun ledekan para pemain Norwich kepadaku seketika berhenti saat Coach Neill datang. Wajahnya yang gusar sudah cukup membuat para pemain duduk sempurna tak ingin mencari masalah dengannya. Hukuman satu pertandingan besok sudah cukup membuat kami semua pusing. Tak perlu menambahinya lagi. Para asisten pelatih Norwich hadir semua dibelakang Coach Neill. Siapa diantara mereka yang akan dipilih Coach Neill menggantikannya besok di pinggir lapangan?? pertanyaan ini bergelayut di kepala kami semua yang hadir di ruang briefing.

” SEMUA DENGAR! aku tak bisa mendampingi kalian besok!,” Coach Neill mulai bicara ” FA telah menghukumku atas sebuah kesalahan yang kuyakin aku tidak bersalah dalam kasus itu,” dia masih memegang teguh prinsip. ” tapi aku mau kalian tampil yang terbaik besok melawan tim pengghuni peringkat ketiga klansmen sementara Liga Inggris ; Liverpool. Meski aku tak ada bersama kalian, KALIAN HARUS MENAMPILKAN PERMAINAN TERBAIK!” Coach Neill setengah berteriak meneriakkan kalimat penyemangat. Setelahnya Coach Neill menjelaskan bahwa pencapaian Liverpool musim ini memang sangat luar biasa tapi sebagai sebuah tim mereka masih bisa kami kalahkan.

” Selanjutnya sebagai penggantiku besok adalah…,” pertanyaan kami akhirnya akan segara terjawab ” Frankie Mccavoy asiten pelatih tim utama,” Coach Neill mempersilahkan Frankie maju ke depan ” sebagai asisten pelatih yang paling senior kuyakin Frankie dapat mendampingki kalian dengan baik di lapangan,” Coach neill menepuk bahu asisten Coachnya ” lagi pula karena dia merupakan asistenku aku tak perlu memperkenalkannya lagi pada kalian, benar kan Frankie!.”

” Benar Coach toh aku Cuma menggantikanmu satu pertandingan,” Frankie berujar santai.

” Bisa lebih dari satu Frankie seandainya FA menambah hukumanku!,” Coach Neill menjawab kalimatnya penuh kegalauan ” any way mari kita bahas Liverpool!,” sadar telah menampilkan kegalauan di depan pemain dia cepat merubah haluan. Mempersilahkan Frankie beserta seluruh asisten menempati posisinya masing-masing, Coach Neill membuka papan stategi andalannya.

” Inilah Gegenpresiing!.”

***

” 4-2-3-1,” Coach Neill memulainya dengan angka formasi. Seluruh pemain termasuk aku mulai mencatat di buku catatan. ” Ini adalah gambaran Gegenpressing waktu diterapkan di Borusia Dortmunt oleh Klopp. Lihatlah posisi para pemain tengah mulai dari Reuss, Kehl, Gotze hingga penyerarang sehebat Lewandowski berdiri begitu rapat hingga ketika bola terlepas dan jatuh ke salah satu pemain lawan,” Coach Neill menunjuk satu titik biru yang dikerubungi para pemain kuning ” mereka akan mengepungnya, membuat si pemain kehilangan bola dan segera mengambil alih kembali posisi menyerang.

Aku menulis baik-baik formasi 4-2-3-1. Meneer Johan biasanya mulai beranjak menjelaskan dari titik dasar formasi. Meneer selalu mengatakan titik awal formasi menunjukkan secara rinci permainan dasar sebuah tim. Sayangnya menjelang pertandingan melawan Liverpool dia malahan menjelaskanku mengenai Judo bukannyua bola sehingga aku sama sekali tak mengerti penjelasannya.

” Berkat formasi ini,” Coach Neill melanjutkan, ” Borussia Dortmund berhasil dua kali dibawanya meraih dua kali juara Bundesliga dan finalis Liga Champions. Kalian tentu tau bagaiaman Klopp bisa membangkitkan Liverpool musim lalu dan membawa mereka meroket musim ini.”

Aku terus mencatat berharap sebuah strategi ala Meneer akan segera digelarnya. ” Hindari kejadian seperti ini!,” dicoret-coret celah diantara satu pemain titik biru yang terkurung ” JANGAN PERNAH TERKURUNG SEPERTI INI! JANGAN PERNAH!.”

” Tapi bagaimana kalo ada pemain kami yang terkurung Coach??,” Russel Martin sang kapten kesebelasan bertanya.

” Mudah saja KIRIM BOLA KE SI BUDI!.”

Semua pemain melihat ke arahku. aku sendiri seketika berhenti menulis mendengar solusi tak masuk akal yang barusan diutarakan.

” Gimana kita mau ngasih bola sedang si Budi bonyok begini????,” Martin bertanya lagi sekarang sembari tertawa ringan.

Para pemain lain juga mulai tertawa.

” Kasih aja ke dia!,” Coach Neill berujar singkat ” Budi sampai bonyok begitu kedua matanya karena berusaha mencari tau solusi melawan Gegenpressing, melihat bonyoknya sekarang kalian pasti tau dia sudah mendapatkan jawabannya.

Seluruh pemain terawa terbahak-bahak mendengar jawaban Coach. Susana jadi lebih relax kami semua gembira. Aku juga gembira. Tapi tak ada strategi lain yang terlontar dari pelatih Alex Neill. Hanya itu. Kasih bola kepadaku. Sebuah strategi tanpa strategi. Sebuah kenihilan strategi yang paling kubenci.

***

Sorenya aku kembali harus menghabiskan waktu dalam kawasan mess para pemain Norwich. Para pemain lawan masih mendapatkan kebebasan berefreshing sedangkan aku harus terus memulihkan kondisi kedua mata. Mataku sendiri sudah sangat baik tapi warna biru legam bekas pukulan masih saja tak mau hilang. Berusaha membuang kebosanan aku berjalan berkeliling komplek mess pemain yang juga merupakan kamp latihan.

Kamp latihan Klub Profesional di Inggris memiliki fasilitas sangat lengkap. Mulai dari fasilitas bola, peralatan fitness, bahkan juga ring tinju dan meja bilyar guna menghibur para pemain agar tetap bugar. Sepanjang masa latihanku disini aku belum pernah pergi ke sasana tinjunya Norwich tapi gara-gara Ronda aku tertarik mengunjunginya.

Fasilitas tinju terletak cukup tersembunyi dibandingkan fasilitas lainnya namun kudengar banyak pemain maupun pelatih yang suka sekali mengunjungi ring tinju sekedar memukul-mukul sansak atau pun melakuakn sparring partner.

Masuk ke dalam ring di sore hari rupanya cukup sepi. Hanya ada dua orang sedang berlatih. satu orang memukul dan satu orang lagi memandunya memukul. Si pemukul menggunakan helm pengaman berikut sarung tinju sedangkan yang membantunya memukul memakai bantalan ceper di kedua tangannya.

Kuperhatikan baik-baik figur si pemukul yang tampaknya sudah berumur serta cukup berisi badannya. Ia mengatur baik-baik langkah kakinya. Satu kaki kirinya ada di depan dan kaki kanannya di belakang. Begitu tekun ia melangkah dalam jarak yang selalu sama. Jarak yang berdekatan antara kedua kaki membuat si pemukul tidak akan mudah dipukul jatuh.

Sambil mengatur langkah ia disiplin menemepelkan kedua tangannya membentuk pertahanan di wajah. Kata orang yang membantunya memukul, kedua tangannya tak boleh turun harus setia membentuk benteng di wajah. Hebatnya meski kedua tangan menempel, salah satu tangan akan cepat meluncur memukul ujung bantalan yang dipegang oleh orang yang membantunya memukul.

Bergantian kiri-kanan si pemukul memukul cepat tanpa melupakan pergerakan kepala dan kesetiaan satu tangannya yang lain menutup wajah. Goyangan pinggang, perputaran kepala semua dilakukan begitu cepat.

” One…. Two!,” kata yang membantunya memukul.

” Taaap Taaap,” dua pukulan dilayangkan.

” One Two!.”

” Taaap taaap.”

” Combination!.”

” Taaap Taaap Taaap taaap Taaap Taaaap taaaap.”

Cepat sekali. Tujuh pukualan pendek dilayangkan dalam hitungan detik empat mengarah ke kepala tiga mengarah ke tubuh tanpa mengenai orang yang membantunya memukul.

” Ok take a berak!.”

Mereka selesai.

Si pemukul melepas helmnya dan aku sangat terkejut ketika menyadari ternyata ia adalah asisten pelatih kami yang baru saja dinaikkan pangkatnya buat pertandingan besok.

” Budi ngapain kamu disini??.”

” Hai Coach Frankie, aku benar benar terkejut melihatmu berlatih tinju.”

***

Coach Frankie pelatih utama pengganti Norwich besok di pertandingan Liverpool mengajakku berjalan-jalan menikmati sisi-sisi ring tinju sehabis berlatih.

” Kenapa kamu suka tinju Coach??,” tanyaku sambil membantu membawakan perlengkapannya.

” Tinju memiliki sejarah tersendiri di Inggris.”

” O ya??.”

” Mungkin kamu bertanya, kenapa olahraga ini tidak bisa ditinggalkan oleh orang inggris di tengah gempuran bela diri dari timur yang tengah menyerbu barat sekarang,” aku mengangguk menyadari kebenaran ucapannya ” sebenarnya tinju berusia lebih tua dari kebanyakan bela diri timur. Tinju sudah ada sejak abak ke 3 sebelum masehi.”

” Hah???? selama itukah Coach??.”

” Kamu pasti tak percaya.” tentu saja aku menggeleng ” Bangsa Sumeria barangkali yang melakukan tinju pertama kali lalu Mesopotamia, Assyria dan Babilonia,” Coach Frankie mengajakku berjalan kembali ” mereka melakukannya dalam ajang-ajang pra-gladiator yang menyabung antara dua manusia. Nantinya di era bangsa Romawilah tinju mencapai ketenarannya dan dipertandingkan dalam ajang Gladiator. Kamu tau mereka waktu itu bisa menempelkan paku, beling dan beragam benda-benda tajam di tangannya untuk menyakiti musuhnya.” membayangkannya saja membuatku merinding.

” Sangat mengerikan Frankie.”

” Amat sangat biadab malahan sehingga pada saat peradaban Romawi jatuh, tinju juga ikut kolaps malahan hilang untuk sementara dari muka bumi,” Frankie seorang asisten pelatih bola rupanya memiliki banyak pengetahuan soal tinju. ” Meski kolaps di jaman Romawi, tinju kembali muncul di Inggris pada pertengahan abad 16. Waktu itu tinju masih tanpa sarung tangan. Hanya dua orang berhadapan bagai petarung jalanan tanpa aturan yang jelas.”

” Maksudmu tanpa aturan mereka boleh melakukan apa saja??.”

” Betul Budi. Mulai dari memukul kemaluan hingga boleh membawa senjata. Banyak sekali kematian waktu itu terjadi akibat tinju hingga Pemerintah Inggris harus turun tangan menetapkan aturan-aturan tertentu agar olahraga tinju tidak berbahaya.”

Aku sangat ingin mendengar penjelasannya tapi membahas sejarah tinju bisa memakan waktu seharian sedangkan aku memerulkan informasi mengenai sebuah gaya tinju.

” Coach apakah kamu tau tentang Southpaw??.”

” Petinju kidal?? tentu aku tau.”

” Apakah mereka benar-benar berbahaya??.”

” Hmm berbahaya…,” Coach Frankie menimbang sesaat ” sebenarnya berbahaya atau tidaknya tergantung dari diri si petinju itu sendiri. Kamu tau tinju sebenarnya dapat dibagi dalam tiga gaya bertarung ; Boxer, Brawler, dan Pressure Fighter. Sekarang tinggal kamu memilih tipe kidal yang mana yang dapat dikategorikan berbahaya sesuai gaya bertinjunya.”

Semakin banyak informasi yang membingungkan. Semula kukira petinju kidal akan memberi sebuah jawaban. Ternyata petinju kidal hanyalah sebuah pintu yang membuka beragam pintu lainnya.

” Petinju kidal yang berbahaya pastilah yang berjenis Boxer,” Coach Frankie berusaha menganalisa ” Boxer merupakan tipe petarung yang memiliki strategi terbaik tapi kadang-kadang tidak enak ditonton oleh penonton. Kamu tau petinju seperti Muhammad Ali dan Floyd Mayweather termasuk tipe boxer.

Mereka pandai mengatur jarak, cermat menentukan kapan harus membuat lawan mengejarnya dan kapan harus mengejutkan lawan melalui pukulan-pukulan cepat. Muhammad Ali merupakan tipe boxer yang paling enak ditonton. The Greatest yang menjadi julukannya memiliki bakat menghibur yang luar biasa melalui kepandaiannya bertinju. Tapi setelahnya gaya boxer sering diidentikan sebagai petinju yang hanya hobi berlari-lari. Lucunya mereka biasanya selalu bisa menjadi juara karena boxer merupakan tipe petinju paling cerdas dari keseluruhan gaya bertarung petinju.”

Mendengar penjelasannya aku jadi teringat gaya bertarung Holly Holm yang hingga sekarang belum terkalahkan di UFC.

” Bisakah boxer dilawan Coach?? maksudnya aku melihat Pacman waktu melawan Mayweatherd dan dia gagal,” jujur pertanyaan ini sangat terkait Ronda Rousey dan kemungkinannya bisa menghadapi Holm atau tidak.

” Sebenarnya boxer sangat sulit dilawan apalagi bila boxer yang kita maksud memiliki kelincahan dan kecerdasan . Boxer lincah akan mampu menari-nari penuh kesabaran lalu balas memukul saat kesempatan datang.”

” Float like butterfly and sting like a bee?? seperti kata Muhammad Ali,” ujarku.

” Tepat, menari seperti kupu-kupu dan menyengat seperti lebah. Mereka sangat cepat. Hingga kedua tipe bertinju lainnya harus mengorbankan sesuatu untuk bisa melawannya.,” Frankie mencontohkan bagaimana Muhammad Ali memajukan langkahnya mengatur jarak dan mengarahkan jab lurus di saat lawan tengah asyik mengejarnya. ” kedua tipe bertinju lainnya adalah Brawler .Sang petarung. Teknik bertinjunya tidak lengkap tapi sangat menghibur penonton karena mereka memburu lawannya setiap detik. Kenapa kubilang tidak lengkap karena biasanya mereka tidak memiliki foot work yang baik sehingga menutupnya melalui kekuatan tangan.”

Aku merenung. Pacman kalah lawan Mayweather. Meski bukan petinju, Ronda yang bertipe brawler di UFC juga kalah melawan Holm. Bagaimana caranya melawan para petarung Boxer jenius??.

” Peluang mengalahkan petarung boxer ada di petarung ketiga yang bertipe Pressure Fighter,” Frankie melanjutkan “Mike Tyson adalah petarung tipe ini. Kamu pernah melihat Tyson bertanding??,” aku mengangguk cepat meski hanya bisa melihatnya di video ” Tyson selalu maju meski melawan petinju yang jauh lebih tinggi. Tyson selalu setia menjaga double cover dan dia selalu mengayunkan kepanya seperti ini,” Coach Frankie mengayunkan kepala ke kanan dan kiri dalam posisi parabola bangkit, menunduk kemudian bangkit lagi. ” Tyson memiliki seni bermain yang diberi nama “peek-a-boo”.

” Apa itu Peek-a-boo Coach??.”

Coach Frankie tampaknya ingin memberikan praktik secara langsung “Coba sekarang kamu bergerak seperti petinju boxer yang tadi kuperagakan!.”

Aku mencoba menaruh satu kaki di depan kemudian mencoba melakukan gerakan petarung boxer. Menjaga jarak sebisa mungkin sambil bersiap memukul. Frankie sebaliknya mulai menunduk menggunakan double cover lantas melakukan gerakan naik lalu turun kemudian naik lagi sambil bergerak melingkar mengejarku . Dalam sekejap keunggulan tinggi badan dan jangkauanku berhasil dieliminasi ketika Frankie melakukan gerakan naik dan turun begitu cepat serta terus menerus mempersempit jarak dan terus memukul.

” Kamu lihat tak ada boxer yang berani melawan Mike Tyson. Kecuali petinju kebanggan kami Lennox Lewis tentunya. Kebanyakan boxer dengan segala keunggulan jangkauan akan tumpas menghadapi kombinasi gerakan peek-a-boo.”

Apa aku informasikan kepada Rousey saja buat menggunakan teknik peek-a-boo nya Mike Tyson saat melawan Holm??. Sebuah pertanyaan bergelayut di pikiranku menghadai sebuah kemungkinan. Masalahnya beranikah aku menemuinya lagi setelah di buat babak belur hanya oleh dua pukulan saja??.

Aku terus bertanya-tanya padahal Frankie sedang menjelaskan panjang lebar soal Mike Tyson. Tapi mengedepankan gaya bertinju pada Ronda sama sekali tidak konsisten dengan nasihatku ketika bertemu pertama kali dengannya agar fokus menggunakan teknik Judo.

” Bila kamu sebagai pejudo menghadapi seorang petinju kidal apa yang akan kamu lakukan guna mengatasi keterbatasan prespektifmu??.”

Nasihat Meneer kembali terdengar. Bagaimana cara menjawab pertanyaan Meneer ini?. Aku masih bingung.

” Coach apakah ada hubungan antara tinju dengan Liverpool??,” aku bertanya memotong cerita.

” Maksudmu kamu mencoba menghubungkan antara penjelasanku tadi sama pertandingan kita besok melawan Liverpool??,” aku kembali mengangguk mengharapkan sebuah jawaban ” Barangkali ada Budi. Aku juga tak tau. Kami orang Eropa telah terbiasa berpikir secara spesifik sejak era revolusi Industri mencapai puncaknya di abad 19

Di setiap bidang kehidupan kami membentuk aliran-aliran spesialis yang membahas satu materi secara spesifik. Kami tidak biasa menghubung-hubungkan sesuatu di luar bidang spesialisnya masing-masing,” Coach Frankie menatap mataku ” aku tidak bisa menemukan hubungan antara dua cabang ini karena telah terbiasa berpikir secara spesifik, barangkali kamu Budi yang masih belum benar-benar terkena imbas dari pola pikir Eropa bisa menghubungkan kaitan diantara keduanya. Bagiku sendiri tinju adalah tinju dan bola adalah bola….” aku memperhatikan secara seksama.” …Tak ada kaitannya sama sekali. Tapi aku yakin mereka yang mempunyai pikiran terbuka sepertimu dapat menemukan kaitannya!.”

” Seperti South of The Border, West of The Sun Coach??,” tanyaku teringat bukunya Murakami.

Coach Frankie berusaha mengingat kalimatku barusan. Menghubungkannya dengan sesuatu yang pernah ia dengar. Cepat ia mengingatnya karena kemudian dia tersenyum.

” Murakami??,” Frankie tersenyum ” Mungkin saja.”

***

Mencari hubungan South Border, West of The Sun atau pun tinju, judo, dan sepak bola, benar-benar melelahkan. Hingga hari pertandingan aku sama sekali tidak tau apa hubungan antara mereka semuanya. Semua seperti tumpang tindih tak berkaitan sama sekali. Kesuburan tropis Mexico melawan tandusnya Siberia. Kebrutalan tinju melawan jalan lembutnya Judo. Apa kaitan ini semua???.

Masih bingung aku memutuskan mengenakan saja kaca mata ala Edgar Davids yang sudah disediakan. Wajahku semakin ganteng mengenakan kaca mata ini. Tentunya bila tidak dirusak oleh legam biru ciptaanya Ronda. Kututup sebelah mataku seperti dicontohkan Meneer mencoba melihat apakah telah terjadi keterbatasan prespektif. Satu mata kanan tertutup. Mata kiriku jelas melihat. Satu mata kiri tertutup mata kananku jelas. kedua prespektifku jelas. Tinggal menghadapi ganasnya Gegenpressing langsung di kandang kami sendiri.

Gegenpressing semakin sempurna saat tim dalam kondisi prima, bebas dari cidera atau pun skorsing. Liverpool datang ke Carrow Road dengan kondisi sempurna. Dari kiper Simon Mignolet, Bek sangar Marten Skrtel, rekrutan anyar mereka di awal musim 2016 dari Borussia Dortmund Matt Hummels, James Milner, Phillippe Coutinho, hingga penyerang Daniel Sturridge bisa bermain.

Berhadapan melawan nama-nama besar, buat kami Klub papan tengah, merupakan sebuah tantangan tersendiri ; sanggupkah kami melawan diri kami sendiri untuk tidak terlalu membesar-besarkan kemampuan mereka. Adalah benar Liverpool memiliki pemain-pemain berbakat besar tapi juga benar kami Norwich City meski tidak memiliki pemain setenar mereka tetaplah memiliki persatuan tim yang solid.

Para pemain Liverpool terlihat terkejut melihatku mengenakan kacamata sebelum pertandingan. Setelah Edgar Davids memang sudah begitu langka pemain yang masuk ke dalam lapangan memakai kaca mata. Bila Davids boleh menggunakan kaca mata karena mengidap penyakit Glaukoma, FA mempersilahkanku mengenakan kaca mata karena mengidap mata biru yang dianggap akan menganggu konsentrasi pemain lainnya.

Kami berbarengan memasuki lapangan. Penonton di Stadion Carrow Road menyambut kami begitu antusias. Seperti biasa para pemain menggandeng anak-anak kecil di sebelahnya yang merupakan para pemain bola junior atau pun anak-anak yang mendapat kesempatan besar bisa masuk ke lapangan bersama para pemain. Sama seperti reaksi para pemain Liverpool, para pendukung Norwich juga tampak bingung melihatku mengenakan kaca mata. Mereka saling berbisik-bisik melemparkan spekulasi satu sama lain tentang apa yang terjadi denganku.

Aku tak terlalu ambil pusing kebingungan para pemain maupun penonton ketika melihatku. Pikiranku terus berkecamuk berusaha menyelesaikan teka-teki Meneer Johan yang hingga saat ini belum juga menemukan titik terang. Ritual saling bersalaman antar pemain pun juga kulalui begitu hampa. Gegenpressing menjadi begitu mengerikan karena Copach Neill tak ada di bangku pemain. Assisten Coach Frankie yang menggantikannya hari ini tampak begitu tegang langsung berdiri di tepi lapangan. Menjadi pelatih utama pada pertandingan sebesar ini pasti merupakan pengalaman tersendiri baginya.

Kapten kami Russel Martin kalah dalam tos-tosan koin melawan Jordan Hendersen kapten Liverpool. Duet Hendersen bersama Lucas di gelandang bertahan akan menyempurnakan formasi 4-2-3-1 milik Jurgen Klopp. Pelatih kelahiran Stutgart pada tahun 1967 ini berdiri di lapangan begitu gagah tetap dengan kaca mata dan sikap cueknya. Menghadapi filosofi laki-laki ini yang luar biasa merupakan tantangan tersendiri bagiku. Kecerdasannya yang berpadu dengan pengalaman sebagai pemain bola di klub Mainz 05 pastilah membuat Klopp sudah mengetahui benar segala hal mengenai sepak bola.

” PRRRRRRRRRRRRRRRRRRRIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIITTTTTTTTTTTTTTTT.”

Pertandingan di mulai. Liverpool melakukan serangan. Aku dan Alfred berposisi sejajar di gelandang bertahan. Coach Neill saat briefing terakhir mengatakan akan mengadu lini tengah kami melawan Liverpool. Menumpuk pemain di tengah merupakan solusi utama. Pelatih kami mengatakan menumpuk para pemain di tengah setidaknya bisa memancing situasi remis. Maju tidak kena mundur pun tidak kena.

Bola sekarang tiba di kaki Phillipe Coutinho. Melihat gelandang berbakat dari Brasil ini membawa Bola, Alfred langsung menutup ruang. Coutinho melakukan ujian dribble berusaha melewati Alfred. Rekanku dari Papua tak mau mengalah kecepatan dan daya bacanya terlalu kuat untuk bisa dilewati Coutinho seorang diri. Melihat peluangnya tertutup tubuh hitam Alfred, Coutinho mengembalikan bola ke belakang. Liverpool terus berusaha mempertahankan posisi bola. Aku mempertahankan posisi di gelandang bertahan berusaha melihat secara seksama bentuk Gegenpressing.

Jurgen Klopp menunjuk-nunjuk di pinggir lapangan. Asisten Coach Frankie mengimbanginya berusaha berteriak-teriak kepada kami agar berdiri lebih rapat. Ketika bola tiba di kaki Lucas, pemain sayap kami Redmon, berhasil melakukan pressing. Bola masih jauh dari kotak penalty kami. Terpepet oleh Redmon, Lucas memerikan bola secara premature. Aku yang berdiri tak jauh dari mereka berdua bisa membaca pergerakan Lucas dan mengambil bola.

Bola pertamaku di pertandingan ini. Berusaha kukontrol baik-baik sambil melihat posisi pemain kami yang masih belum naik. Asyik mencari posisi pemain aku merasakan kehadiran pemain baju merah dari arah belakang. Memperkuat tumpuan kaki, aku “melendot” ke belakang menahan pergerakan pemain Liverpool. Satu pemain berhasil kutahan. Dari kanan hadir Coutinho berusaha merebut bola, berbarengan Milner dari kiri. Aku cepat sekali terjepit padahal mereka baru saja kehilangan bola.

Menggunakan skill milikku dalam mendriible, aku menempatkan bola tepat diantara kedua kaki. Tubuhku tak henti mempertahankan bola baik secara melendot maupun memaksakan mendorong pemain di dekatku. Dijepit tiga orang aku berputar menghindari pemain di belakang yang ternyata kapten mereka Hendersen. Melakukan gerakan nut meg aku bisa melewatinya yang berusaha mencengkram bajuku.

Milner dan Coutinho masih memburuku.

Sekarang Milner juga melakukan body charge secara keras. Tubuhku tak mudah dijatuhkan tapi terus dipepet seperti ini aku pasti akan segera kehilangan bola.

” Kaka oper!,” Alfred berteriak meminta bola.

Daniel Struddige sang striker sekarang maju ikut-ikutan mengepungku. Tak berusaha menahan bola lebih lama aku melepas bola kepada Alfred. Kepungan empat pemain Liverpool kepadaku tiba-tiba begitu cepat menghilang. Dari posisi terpusat mereka menyebar sekarang tanpa melihat arah umpanku. Terkejut melihat pergerakan tanpa bola mereka aku terlambat menyadari bahwa umpan pendekku yang seharusnya bisa begitu mudah menuju Alfred berhasil dipotong Lucas.

Sial kenapa aku tidak melihat lucas sebelumnya??.

Bukankah dia seorang gelandang bertahan?? kenapa naik demikian jauh??

Sialan kalo begini kami akan……

Aku berlari cepat. Alfred yang berusaha mati-matian menggunakan kecepatannya guna menghentikan akselerasi Lucas sampai harus terjatuh karena terpeleset saat menyadari Lucas mengoper bola ke arah Coutinho yang berlari cepat disebelahnya. Aku berulang kali harus membuka mata melihat bagaimana Milner, Hendersen, Coutinho juga Struddige yang sebelumnya menutupku sekarang membuka posisi lebar menekan kedua bek hitam kami.

Mereka saling umpan begitu cepat, bola berpindah tak bisa disentuh oleh pemain kami. Wisdom dan Basson duet center back kami begitu pontang panting menghadapi fast break hingga akhirnya bola dari Cutinho berpindah ke Milner lalu sampai ke kaki Daniel Strudigge. Begitu tenang penyerang Tim Nasional Inggris ini ketika berhadapan dengan Ruddy lalu melewatinya sedikit lantas mencetak gol indah.

1-0 kami tertinggal dalam hitungan menit akibat blunderku.

Kututup satu mata kanan. Melihat hanya melalui mata kiri. Sialan kami sudah tertinggal padahal pertandingan baru dimulai. Apa yang salah???. Keterbatasan prespektif apa yang sudah kulakukan???

Sialan aku melakukan blunder di awal pertandingan.

***

Lima belas menit pertandingan berlangsung. Liverpool masih membombardir kami sedangkan kami masih kesulitan membangun serangan. Posisiku yang pada pertandingan melawan Watford bisa bebas bergerak kini terpaku di posisi gelandang bertahan terus membantu pertahanan. Aku masih belum juga bisa melihat bentuk sebenarnya dari Gegenpressing. Apa gara-gara kaca mata ini??. Pertama kali seumur hidup aku harus menggunakan kaca mata dalam sebuah pertandingan. Rasanya janggal sekali.

Lini tengah Liverpool terus menekan kami. Aku berhasil merebut bola di sepertiga lapangan. Jurgen Klopp langsung berteriak melihatku menguasai bola. Pemain tengah Liverpool berusaha mempressingku lagi. Hendersen bahkan menarik serta mengambil kakiku sebelum bola bisa kugerakkan. Refleks kujatuhkan badan sambil melakukan passing sambil terjatuh. Bola kirimanku sekarang ditendang cukup keras agar tidak lagi diambil alih.

Howson pemain tengah kami menerimanya dengan baik. Pemain belakang Liverpool dari Jerman Hummels langsung menutup ruang Howson. Rekan setimku ini seketika kehilangan bola. Hummel berusaha menambil alih bola.

Ketika bola bergulir dan Hummel berusaha menutup Howson, aku yang semula terjatuh segera berdiri membaca pergerakan Hummels yang naik jauh meninggalkan posnya. Beradu sama cepat aku membodynya terlebih dahulu dalam posisi bola liar. Meski bertinggi lebih dariku, Hummels 191 dan aku 184, aku unggul kecapatan. Selain itu gerakan Hummel telah terbaca lebih dulu sehingga aku bisa merebut bola lantas mengirim bola ke penyerang kami Jerome yang sekarang bertindak selaku striker tunggal.

Lucu juga. Berhasil merebut bola tiba-tiba menghamparkanku sebuah lapangan kosong. Pemain Liverpool tidak ada di area mereka. Mereka semua naik meninggalkan lini pertahanan sehingga begitu Jerome mengoper bola balik kepadaku aku langsung berada dalam posisi bebas. Seketika aku berlari begitu cepat membelah pertahanan Liverpool.

Martin Skrtell yang datang menutupku sebagai orang terakhir kulewati dalam sekali gerakan khas seolah akan ke kanan ternyata benar-benar ke kanan. Setiap pemain bertahan selalu berpikir akan dikadali oleh penyerang. Mereka selalu melakukan gerakan sebaliknya saat terjadi one on one. Sayangnya aku kadang tidak ingin mengadali mereka. Kuberikan gerakan apa adanya dan mereka pun terlewati. Berhasil melewati Skrtel aku berlari cepat langsung berhadapan dengan Simon Mignolet yang sedang berlari maju meninggalkan gawang.

Berhadapan dengan Mignolet aku sama sekali tidak berusaha menggoceknya dan hanya cukup memberikan umpan kepada Jerome yang berlari membantuku dan luput dari pengawasan para pemain Liverpool. Jerome mengontrol bola sebentar lalu menendang bola lurus menuju gawang.

1-1 penonton bersorak lagi kami berhasil menyamakan kedudukan.

***

Sempai akhir babak pertama kami secara perlahan mulai berhasil mengimbangi Gegenpressing. Keberanian mereka mengurung pemain kami setiap kehilangan bola sedikit demi sedikit mulai berkurang karena menyadari serangan balik kami sangatlah cepat dan berbahaya. Jawaban sebagian misteri ketiga mulai terbuka di kepalaku secara tidak sengaja. Berhasil memenangkan bola melawan Hummels sebagai bek tengah yang naik mengambil bola dan kemudian langsung berbalik melakukan serangan balik melalui serangan segi tiga menghamparkanku sebuah bidang lapangan kosong.

” Pada diri Luis Suarez terletak keunggulan Judo dan Gegenpressing. Dan pada Luis Suarez terletak pula kelemahannya,” kata Meneer.

Ketika berlari cepat merobek keperawanan pertahanan Liverpool di pertandingan ini aku mengingat benar keberadaan Luis Suarez. Bagi kami Norwich, saat dia masih bermain di Liverpool, Suarez adalah momok menakutkan. Dia hobi sekali membobol gawang kami dan membuat kami selalu menderita kekalahan dalam skor besar. Kuingat pula salah satu kelebihan utama Suarez adalah ia merupakan pakar serangan balik. Segala metode serangan balik mampu dia terjemahkan begitu sempurna. Kelebihan Barcelona musim lalu juga tak terlepas dari kemampuan Counter Strike mereka yang luar biasa berkat kehadiran Suarez.

Masalahnya Gegenpressing memang kuat, tapi apabila tim lawan memiliki serangan balik cepat dengan pemain seperti Suarez maka Gegenpressing akan mulai bersikap ragu-ragu. Keraguan mereka membuat kami dapat menciptakan situasi remis. Aku hanya bisa bilang remis karena bisa mengalahkan mereka merupakan sebuah hal yang belum bisa kupikirkan tanpa adanya sosok Luis Suarez di tim kami. Jangan juga lupa Pertahanan ala Jurgen Klopp amatlah kuat. Mereka masih teramat sulit dikalahkan.

Sekarang dalam kondisis 1-1 kami mendapat momentum menyerang. Aku berupaya menggocek berkali-kali sebelum bisa menemukan pemain sayap Sako yang telah bebas. Pertahanan Liverpool segera mengurungnya hingga Sako hanya mampu menendang premature ke arah Mignolet. Tendangan premature membuat penjaga gawang Liverpool menangkap bola begitu mudah. Para pemain Liverpool berlari cepat membuka lapangan. Mignolet melempar bola menuju Hendersen dan serangan balik mereka dimulai.

Bola berpindah begitu cepat dalam tempo tinggi hingga mengalahkan pergeseran pemain kami. Dalam waktu sekejap bola sudah tida di sepertiga lapangan kami. Aku dan Alfred yang semula dalam poisisi menyerang berusaha berlari sekencang-kencangnya namun gagal mengejar kecepatan umpan mereka. Phillipe Coutinho menerima bola di luar kotak penalty memberikannya ke kiri kepada bek sayap mereka Clyne yang overlapping. Clyne membawa bola sendirian begitu bebas lantas mencepoloskan bola ke gawang kami.

Sebuah serangan balik cepat dari belakang.

Terlalu terfokus kami kepada pergerakan umpan lini tengah Liverpool sehingga seorang bek sayap bisa naik setinggi itu dan membuat gol.

2-1 kami kambali tertinggal.

Kututup satu mata lagi sekarang yang kiri. Keterbatasan prespektif apa lagi yang kubuat?? tanyaku pada diri sendiri sambil menggelengkan kepala.

SIAAL! SIAL! SIAAALLLLLLL!

Mengumpat-umpat kesal akhirnya aku memutuskan untuk menghadapi Gegenpressing tanpa bantuan kaca mata.

Biarkan penonton melihat bonyok di mataku yang penting aku harus bisa melihat bentuk sebenarnya dari Gegenpressing.

***

” Coach,” aku melangkah ke pinggir lapangan menghampiri Coach Frankie.

” Ada apa??.”

” Aku mau copot ini!,” kataku menunjuk kaca mata ala Edgar Davids yang kukenakan.

” JANGAN!,” Frankie mencegahku.

” Kenapa???.”

” Wasit tak akan mengijinkanmu! lagi pula bila pun dia mengijinkan, kamu harus dicek dulu di pinggir lapangan oleh tim mereka. Kamu mau tim kita melawan Liverpool hanya dengan 10 orang gara-gara menunggumu??.”

Aku menggeleng menyadari kebenaran ucapannya. Boleh saja pertandingan sekarang sudah memasuki injury time. Tapi walau hanya 2 menit Liverpool bisa saja membuat gol memanfaatkan ketidak hadiranku.

” Kalo begitu aku minta rubah posisi saja Coach!.”

” Kamu mau diposisi mana???.”

” Libero. aku mau jadi Libero.”

Coach Frankie terkejut. ” Apa maksudmu Libero?? itu bisa merubah permainan kita secara keseluruhan.”

” Tidak!,” aku menggeleng ” tidak secara keseluruhan!, kita menggunakan formasi yang sama dengan Liverpool sekarang. Cukup rubah menjadi 1-4-1-3-1. Aku Libero, Alfred gelandang bertahan tunggal, itu saja.”

Coach Frankie berpikir sejenak mempertimbangkan permintaan seriusku. ” Kamu yakin tidak mau menunggu babak kedua berlangsung?? aku mau konsultasi dulu sama Coach Neill.”

” Tidak Coach! sebaiknya sekarang! meski Cuma dua menit injury time aku perlu melihat bagaimana bentuk Gegenpressing itu sebenarnya.”

Frankie menimbang sebentar. ” Baiklah masuk langsung di belakang Wisdom dan Bassong!,” Coach menunjuk garis belakang “MARTIN KEMARI!.,” Frankie berteriak memanggil kapten kami. Ia ingin melakukan perubahan strategi.

Buatku upaya mengatasi keterbatasan prespektif tidak cukup hanya dengan melihat menggunakan satu mata. Harus kedua-duanya.

” Bila kamu sebagai pejudo menghadapi seorang petinju kidal apa yang akan kamu lakukan guna mengatasi keterbatasan prespektifmu??. Gegenpressing adalah seperti kamu pejudo menghadapi lawan petinju kidal yang boleh menggunakan kakinya.”

Meneer benar! menghadapi Gegenpressing, dalam posisiku sebagai pejudo tidak cukup hanya melihat tangan petinju kidal karena dia bisa menggunakan kakinya. Sangat-sangat diperlukan sudut pandang yang bisa membuatku melihat pergerakan kaki sekaligus tangannya. Untuk itu posisiku harus berada paling belakang.

Paling belakang.

***

Dalam Kamus Besar Bahasa Italia, kata “Libero” berarti bebas. Seorang pemain yang bebas bergerak paling belakang di belakang para pemain bertahan serta merupakan pemain terakhir yang menyapu bola. Meski berposisi paling belakang, diantara para pemain belakang lain Liberolah yang harus memiliki kontrol bola terbaik karena ia akan menentukan apakah bola akan disapu atau dikendalikan.

Para pemain tenar sepanjang sejarah seperti Franz Beckenbauer, Franco Baresi, Lothar Mattheus, Mathias Sammer, Fabio Cannavaro merupakan seorang Libero yang sangat menentukan pertahanan dan penyerangan tim. Manuel Neueur yang seorang penjaga gawang bahkan dikabarkan sering bertindak sebagai “Libero-Kiper” karena posisi anehnya dalam skema permainan Bayern.

Melihatku berubah posisi Jurgen Klopp harus meletakkan tangannya di dagu. Melihatku berganti posisi menjadi Libero membuatnya berpikir keras. Sebagai pemain Indonesia yang bermain di Liga Utama Inggris aku memang tak seperti pemain kebanyakan.

Aku bisa menempati segala posisi bahkan suka ditempatkan di posisi berbeda. Menjadi Libero merupakan posisi yang sangat kusukai saat melawan Liverpool. Aku akan malawan Klopp menggunakan posisi yang dikuasai begitu baik oleh Beckenbeuer, Mattheus, dan Sammer yang kesemuanya merupakan orang Jerman. Lagipula beranikah formasi menekan Gegenpressing yang menekankan transisi permainan mengurung pemain lawan sejak dari posisi Libero?.

***

Babak kedua sudah berlangsung 77 menit. Terhitung lebih dari 10 kali aku sudah memutuskan mematahkan serangan Liverpool menggunakan sapuan atau mempertahankan bola dan memulai serangan. Keterbatasan prespektif secara perlahan mulai dapat kuatasi. Bertindak sebagai Libero membuatku bisa melihat secara jelas keseluruhan tipe serangan Liverpool. Kami belum bisa menyamakan kedudukan tapi aku sudah bisa mengetahui jenis serangan serta kecepatan pressing yang dilakukan.

” Alfred, cobalah bergerak ke sayap!.”

” Kenapa Kaka?? kau sudah gilakah?? Liverpool hujani kita sama serangan bertubui-tubi begini baru Kaka suruh saya ke sayap.”

” Tidak! aku tidak menyuruhmu ke sayap waktu bertahan! waktu menyerang Alfred! waktu menyerang! naik ke sayap waktu aku pegang bola!.”

Insting. Ini yang aku punya. Aku tidak tau ada apa di depan. Tapi instingku mengatakan serangan sayap akan efektif.

Maka saat Wisdom bek tengah kami berhasil mematahkan serbuan Liverpool dan mengopernya kepadaku. Segera kutahan dulu bola menggocek Sturiddge yang berusaha mengejarku. Gegenpressing tidak mau mengejarku yang berdiri terlalu jauh. mereka hanya mengutus penyerang buat menggangguku. Berbekal kemampuan dribblel mumpuni kulewati Strudigge dalam sekali gerakan lalu kuangkat bola ke atas.

Para pemain Liverpool terkejut melihatku melambungkan bola memulai lagi skema Kick and Rush yang kata orang mulai ditinggalkan oleh Norwich FC. Bola panjangku langsung menukik ke sayap kanan tempat Alfred berada dan hanya dikawal oleh satu bek saja yaitu Moreno. Alfred yang unggul kecepatan juga body bisa mengalahkan Moreno dalam duel satu lawan satu begitu mudah. Ia memotong lajur langsung menembus kotak penalty dan membuat Hummel maupun Skrtel kebingungan. Alfred memiliki opsi mengoper. Aku tak bisa membantunya kerena jarakku masih sangat jauh.

Tapi Alfred punya solusi lain. Mengontrol bola dengan kaki kiri, Alfred memutuskan langsung memindahkan bola ke kaki kanan sebelum Hummel bisa menutup jarak dan…..

” DDDDDDDDDAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAGGGGGGGGGGGG.”

Alfred melakukan tendangan langsung yang begitu kencang menuju gawang Mignolet. Sang penjaga gawang dengan reflek begitu baik tak berdaya saat tendangan itu maju amat deras ke sudut sempit tiang dalam dan merobek gawangnya.

” GGGGGGGGOOOOOOOOOOOLLLLLLLLLLLLLLLLLL.”

2-2 kedudukan sama.

Kami semua bersuka cita.

Jurgen Klopp tertunduk.

Salah satu kelemahan Gegenpressing terkuak.

Pertempuran di lapangan tengah memang selalu menjadi makanan bagi Liverpool. Chelsea, Manchester City, hingga Manchester United selalu rontok kala melawan Liverpool karena para tim besar itu memiliki lini tengah yang kuat dan akan mengadu Liverpool di tengah. Sayangnya menghadapi kecepatan kurungan Gegenpressing membuat mereka kalah di pertempuran lini tengah dan secara keseluruhan membuat mereka kalah dalam pertandingan.

Sebaliknya menghadapi tim-tim tradisional Kick and Rush yang kebanyakan digunakan oleh tim-tim kecil, Liverpool sangat kesulitan bahkan sejak Klopp pertama kali menjadi pelatih. Alasan utamanya adalah Kick and Rush menskip transisi bola. Bukankah Luiz Suarez selain penentu kelebihan Gegenpressing juga merupakan kelemahannya??. Artinya bila saja tidak terjadi transisi antara bertahan dan menyerang masihkan Suarez berbahaya???.

Kick and Rush merupakan keterbatasan prespektifku persis seperti yang dibicarakan Meneer. aku benci Kick and Rush itulah yang membuatku tidak mau memakainya. Sekarang masalahnya bagaimana kita mau mengatasi keterbatasan prespektif bila kita masih saja mempertahankan kebencian akan sesuatu??. Kunci dari menutup satu mata ala Meneer adalah agar kita menggunakan kedua mata saat melihat. Kita memang dikaruniai dua mata tapi kita cenderung hanya mau melihat apa yang kita sukai di dunia ini dan bukan hal-hal yang tidak kita sukai. Dua mata tidak digunakan dan hanya menggunakan satu mata.

South of The Border, West of The Sun. Aku sangat terbantu akan penafsiranku tentang karyanya Haruki Murakami. Suburnya tanah Mexico atau tandusnya Siberia hanyalah masalah perspektif kita sebagai manusia. Kita hanya suka melihat apa yang kita sukai dan tidak mau melihat apa yang tidak kita sukai.

Pembaca Murakami dari dataran Siberia pasti lebih memilih bagian West of The Sun, sedangkan pembacanya dari benua Amerika pasti menyukai South of Border. Inilah keterbatasan perspektif yang dimaksud Meneer Johan. Kita enggan mempelajari sesuatu yang berbeda dengan prinsip yang kita yakini. Merasa cukup melihat hanya dengan satu mata. Padahal sesuatu yang berbeda itu mungkin saja sesuatu terbaik yang kita butuhkan. Dan yang terpenting melihat dengan kedua mata merupakan cara melihat yang terbaik.

“Bayangkanlah West of The Sun itu,” suara lirih Murakami yang berbisik mendapatkan jawabannya, “seperti kamu adalah petani yang berusaha menanam tumbuhan di tanah tandus Siberia. Setiap hari kamu berangkat berladang, mempersiapkan bibit, mengolah tanah, mengatur perairan dan melakukan apa pun yang terkait dengan tanam menanam.

Setelahnya kamu makan dan pulang kerumah untuk mengulangi ritual yang sama keesokan harinya. Ketika siklus itu berulang-ulang sepanjang tahun, kemudian bertahun tahun dan berpuluh-puluh tahun, kamu akan menemukan sesuatu dalam dirimu menghilang.

Sesuatu yang menghilang ini bisa membuatmu hidup lebih buruk ataupun malahan menjadi lebih baik tergantung bagaimana kamu memaknai matahari yang datang dari barat ini. Siklus yang datang berulang-ulang, menghilangkan sesuatu dari dalam diri dan kehilangannya bisa membuat kita menjadi lebih buruk atau lebih baik.”

Siklus berulang-ulang akan mempengaruhi perspektif kita. Sebagian besar siklus berulang akan menimbulkan keterbatasan perspektif. Membuat kita berpikir sesuai keinginan kita dan membenci yang tidak kita sukai. Kembali melihat hanya dengan satu mata.

Tapi sebagian manusia bisa membuat siklus berulang membuka perspektifnya menjadi lebih luas bahkan bisa mentransformasi manusia ini hingga memiliki hati seluas benua dan sedalam samudra. Seorang manusia yang bisa melihat melalui kedua matanya.

Hajime, tokoh utama dalam bukunya Murakami, tidak harus memandang benci pendidikan traumatis yang dia terima dari orang tuanya, tapi dia harus bisa membuka prespektifnya dan menganggap pendidikan itulah yang membuatnya sukses di masa depan. Semuanya ini hanya akan terjadi bila Hajime membuka hatinya untuk memberi maaf terhadap masa lalu, menerimanya dan hidup dengan perspektif yang lebih luas. Pembukaan hati membuat tidak lagi terdapat perbedaan antara South of the Border dan West of The Sun. Kedua hal yang bertentangan ini saling mengait menjadi satu akibat sebuah sudut pandang yang benar.

Demikian pula denganku. Kebencianku pada permainan kick and rush membuatku tak sanggup melihat secara benar kelemahan Gegenpressing. Hanya setelah benar-benar menggunakan kedua bola mata dan mengatasi kebencianku akan Kick and Rush, barulah aku mampu memahami satu hal ; Gegenpressing kehilangan kekuatan saat pertempuran di lini tengah tidak terjadi. Bila bola dari belakang langsung menukik ke depan tanpa melalui lini tengah, maka para pemain tengah pemburu dalam skema Gegenpressing akan kehilangan medan kerjanya.

2-2. Pertandingan kembali ke titik awal.

***

Menjelang pertandingan berakhir, Liverpool semakin rajin menekan kami. Permainan pressing mereka masih begitu sulit kami patahkan. Jurgen Klopp telah memerintahkan Moreno dan Clyne agar jangan naik lagi setelah gol Alfred terjadi. Mereka menekan kami tapi tanpa kehadiran dua full back. Sebagai Libero aku lebih mudah menggalang pertahanan mematahkan serangan mereka karena variasi serangan mereka minim.

Mereka kini terlalu memaksa mengguakan kretifitas Coutinho maupun Milner yang mulai kelelahan. Menit-menit akhir merupakan menit krusial karena kelelahan selalu hadir di saat tensi pertandingan mencapai klimaksnya. Coutinho sudah terlihat lelah. Dia telalu lama menahan bola di sepertiga lapangan kami berusaha mencari temannya. menghadapi cover dari Redmond ia berputar-putar tak sadar aku mendekatinya dan mampu menciptakan dobel cover bersama Redmond sehingga berhasil merebut bola begitu mudah dari kakinya.

Berhasil merebut bola, para pemain Norwich gantian bergerak cepat membuka ruang melalui pergerakan tanpa bola. Lukas dan Milner mencoba memburuku. Milner yang kulihat sudah salah posisi karena dari menyerang harus berbalik bertahan kuhadapi duluan. Kulakukan nut meg memanfaatkan kebingungan posisinya dan dia pun terlewati.

Berlari cepat menghadapi Lukas aku melakukan gerak tipu khas seolah bergerak ke kiri dan bergerak ke kiri betulan. Lukas bisa membaca gerakanku. Aku refleks langsung mengklik bola memindahkan tumpuan dan bergerak ke kanan.

Aku lolos dari dua orang memasuki garis tengah Liverpool terus berlari kencang.

Pertahanan Liverpool masih belum siap. Mereka tadi asyik menyerang dan sekarang harus ditarik bertahan sedangkan lawannya menantang mereka dengan gerakan membuka ruang yang melibatkan hampir seluruh pemain. gerakan Counter Gegenpressing kami membuat pertahanan Liverpool bingung harus menjaga siapa.

Aku membawa bola begitu tenang karena seluruh pemain Liverpool tertarik karena menduga-duga pemain mana yang akan kuoper.

Hendersen berusaha maju menutup pergerakanku. Kugertak dia berusaha bergerak ke kanan padahal benar-benar ke kanan. Henderson cepat sekali tertipu.

Aku maju kencang menuju Hummels. Kugertak Hummel lagi seolah bergerak ke kiri dan ternyata dalam sekali gerak kuklik bola ke kanan memindahkan arah bola. Hummel berusaha menyesuaikan langkah dan aku pun menyesuaikan bola meluncur melewatinya. Ketika Hummel terlewati hanya tersisa Skrtel yang diganggu oleh pemain kami serta Mignolet sang penjaga gawang.

Aku menuju Skrtel memasang dulu bahuku menekan Hummel yang masih mengejar.

Hummel terdorong oleh badanku yang akan menendang langsung. Melihatku bersiap menendang Skrtel meluncurkan slidingnya. Tepat disaat sliding meluncur aku body Hummel agar menjauh dan melakukan satu gerakan klik tipuan.

Tendangan langsung tipuanku membuat sliding Skrtel menerpa angin dan mampu kulewati begitu mudah. Yang tersisa hanya tinggal Mignolet. Satu gerakan tendangan pelan kusiapkan ke arahnya. Sang kiper langsung saja menjatuhkan badan berusaha membaca arah tendanganku.

Sayangnya ketika dia melompat tak ada bola yang meluncur. Bola masih berada di kakiku. Sebuah tendangan tipuan lainnya membuatku bisa melewati Mignolet berhadapn dengan gawang kosong dan cepat menendang pelan.

” GOOOOOOOOOOOOOOOOOLLLLLLLLLLLLLLLLLLLLLLLLLL.”

Penonton bergemuruh.

***

Mereka menyambut gol solo run ku begitu antusias. Deru tepuk tangan berkumandang di seluruh Stadion Carrow Road. Pelatih Jurgen Klopp sesaat kulihat menunduk tapi kemudian dia bangkit dan memberikan standing applause kepada golku. Pelatih lawan sehebat Beliau memberiku applause merupakan sebuah penghormatan tersendiri bagiku.

Kumelangkah menuju kamera Stadion Carrow Road membentangkan tanda cinta melalui kedua tangan dan mengucapkan dalam Bahasa Indonesia yang kuharap bisa didengar langsung olehnya.

” MY LOVE IS FOR CONCHITA.”

BERSAMBUNG