CONCHITA Part 5

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10

Cerita Sex Dewasa CONCHITA Part 5 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Cerita Sex Dewasa CONCHITA Part 4

EPISODE 5 GEGENPRESSING

” Kaka apa betul kemarin ada Ronda Rousey kemari??,” Alfred bertanya penasaran ketika kami menuju tempat latihan Tim. Seperti biasa kami berdua selalu datang lebih dahulu ke tempat berlatih. Bila dijadwalkan latihan jam 7 pagi maka jam 6 kami sudah siap. Sebagai pemain Asia dan bermain di level sepak bola demikian tinggi harus memiliki disiplin yang tak kalah tinggi. Kata Park Ji Sung seandainya orang eropa mengerahkan tenaga 100 persen saat bermain di EPL maka kami selaku orang Asia harus lebih lagi kalo bisa mencapai 200 persen.

” Iya Alfred, Bos kita Delia yang bawa,” aku menjawab bersiap melakukan peregangan.

” Kenapa Kaka tidak kasih tau kitakah??? Kita penggemar beratnya Ronda Rousey,” Alfred bertanya lagi masih berlogat khas Papua. ” Kaka sudah tidak anggap kita saudara lagi kah apa???.”

” Ah Alfred kamu terlalu serius sekali!, mana aku tau Ronda Rousey mau datang baru? lagipula aku juga tak tau siapa dia,” aku menjawab kesal ” kamu salahkan Bos kita sana! dia datang tiba-tiba ke tempat pemain langsung bawa cewe cantik, terkenal lagi!.”

Kedatangan Ronda Rousey kemarin memang membuatku jadi pusat perhatian di kalangan Pemain Norwich. Ibaratnya seperti selebriti dadakan. Sebagian besar pemain merasa kecewa karena menganggapku tak mau “berbagi” kesempatan menemui seorang super star. Sebagiannya lagi menganggapku sebagai orang paling idiot se dunia karena tidak mengetahui siapa sebenarnya “Rowdi” Ronda Rousey.

” Kaka kau serius tidak tau siapa Ronda Rousey kah???,” Alfred mulai menggodaku ” Ah Kaka kau ini hidup di hutan kah apa ha ha ha!.”

Aku berusaha cuek menanggapi leluconnya. Mau bagaimana lagi? aku benar-benar tidak tau siapa dia.

” Alfred kamu stop bercanda sudah! Kita jadi lari kah tidak???,” aku mencoba menghentikan godaannya yang perlahan mulai berubah menjadi tawa cekikan.

” Ha ha ha ha ha”

Benar kan dari menggoda, ia meningkat cekikan terus meningkat lagi jadi tertawa ngakak.

Kesal kutinggalkan saja Alfred mulai berlari sendirian mengitari lintasan lari di tempat latihan yang terletak tak jauh dari Stadion Utama Carrow Road.

” Ha ha ha…Kaka maafkan Alfred…hu hu…ha…..habis Kaka lucu sekali,” Alfred menyusulku.

” Lucu karena kebodohanku maksudmu?”

” Hu hu hu bukan kita yang ngomong Kaka! Kenyataannya sih….HA HA HA HA HA…… kau hidup di hutan kah apa…..HA HA HA,” Alfred tertawa keras menertawakanku. Ketidakjelasan tertawanya membuatku berlari makin cepat.

Bentuk lintasan lari stadion bola seperti biasa berbentuk melingkar berjarak 400 meter. Terdapat lima lintasan lari yang disiapkan dan dapat dipergunakan buat lari sprint maupun marathon.

Tak terasa karena asyik bercandaan sudah 300 meter lintasan lari yang kami tempuh.

“Kaka mau tanding lari 12 menit?? hitung-hitung pemanasan,” Alfred berteriak keras dibelakangku.

Mendapat tantangannya aku melambatkan laju lari. ” Ayo siapa takut?? kau masih sanggup lari 12 menit kah??.”

” Kecil Kaka! ayo mulai sudah!,” Alfred menyiapkan “timer” di jam tangan sportnya yang segera kuiikuti.

” Siap-siap!,” aku memberi aba-aba menjelang titik 0 meter. ” 1….2…..,” kutunggu posisi kami sejajar “3……,” kami berdua secara bersamaan meluncur memacu kaki kami berlari cepat dan teratur.

***

Ritual kami berlari cepat selama 12 menit dimulai. Di Indonesia, berlari sekuat tenaga selama 12 menit merupakan metode pengecekan ketahanan fisik yang diterapkan di sekolah, Institusi Militer, Polisi hingga atlet profesional. Aku dan Alfred sudah terlalu terbiasa berlari cepat selama 12 menit hingga tak lagi menganggap ritual ini sebagai sebuah tes melainkan hanya sebagai permainan fisik belaka.

Malahan kami menganggap kebiasaan berlari selama 12 menit sebagai sarana meditasi. Saat kami berlari cepat dalam waktu itu, pikiran kami tiba-tiba menjadi kosong. Yang tersisa hanya deru nafas keluar dari rongga hidung menentukan sejauh mana kami bisa berlari. Kondisi pikiran kosong tapi seluruh otot bekerja membuat rasa relax bisa dirasakan. Akan tetapi hal ini memerlukan disiplin serta konsistensi tinggi dalam pelaksanaannya. Hanya setelah melakukan lari cepat berulang-ulang kita akan mampu memasuki sebuah keadaan selaras dimana pikiran bekerja, sama cepat, bahkan kalah cepat, dari nafas kita.

Setiap manusia memiliki bentuk meditasinya masing-masing. Ada yang melakukan yoga, pilates, menyanyi, menari, bersemedi, bela diri hingga beribadah. Bagi pemain bola salah satu bentuk meditasi terbaik adalah berlari. Kami selalu berlari setiap saat. Menjadikan lari sebagai sarana meditasi secara otomatis membuat aktifitas berulang-ulang ini menjadi sangat menyenangkan.

Aku dan Alfred mulai mengembangkan teknik bernafas yang ritmis, teratur dan konsisten sejak pertama kali pergi ke Inggris sepuluh tahun lalu. Berlari sambil mengatur nafas bisa menghemat energi, menambah stamina dan percayalah sangat menyegarkan tubuh bahkan jiwa. Teknik pernafasan kami mengkombinasikan unsur kecepatan dan perlambatan. Cepat saat melangkahkan kaki, lambat ketika mengambil dan membuang nafas.

Teknik lari seperti ini amat mudah diaplikasikan di lari 12 menit. Metode lari dua belas menit diciptakan oleh Kenneth Cooper pada tahun 1968. Karena sifatnya yang mengukur kebugaran, teknik lari yang digunakannya pun bervariasi tergantung kemampuan masing-masing pelari. Sebagai contoh seorang yang mau diterima menjadi Tentara atau Polisi, standart minimal kecepatan larinya harus mampu menempuh jarak 2400 meter atau enam kali putaran dalam 12 menit.

Bagi ukuran orang normal, bisa berlari 2400 meter dalam 12 menit merupakan sebuah standar, yang berdasarkan skala Cooper, dapat dikategorikan sehat dan mampu dilatih dalam latihan fisik intensif. Sedangkan bagi mereka yang mampu mencapai jarak 2800 meter masuk di kelompok kategori luar biasa.

Sayangnya ketika berlari 12 menit, banyak orang tidak memperhatikan keteraturan nafasnya. Meski dapat menempuh jarak yang cukup jauh, tanpa memperhatikan keselarasan nafas akan menghabiskan energy besar, karena skala Cooper memang didesign mengukur asam laktat atau daya tahan otot.

Buat seorang atlet yang olahraga merupakan makanannya sehari-hari, biasanya telah mengembangkan metode bernafas tertentu yang membuatnya mampu berlari 12 menit setiap hari tanpa merasa lelah. Para atlet professional menganggap lari 12 menit yang dikategorikan bagus ialah yang mampu menempuh 3700 meter atau lebih dari 9 putaran lapangan lari, sedangkan yang masuk kategori luar biasa ialah yang memiliki jarak tempuh lebih dari 3800 meter.

Aku dan Alfred, karena faktor alam serta latihan terus menerus, telah terbiasa melewati angka 4000 meter. Buat kami pencapaian ini bukanlah hal yang luar biasa karena kami tidaklah semata-mata mengukur jarak atau pun pencapaian VO2 max. Tepatnya kami berusaha mewujudkan ketenangan hati dari aktifitas lari. Semakin cepat kami berlari, deru nafas kami malahan semakin lambat dan melahirkan kenyamanan tersendiri.

Metode pernafasan yang kami kembangkan mengatur secara tepat keselarasan antara nafas dan langkah. Nafas terdiri dari dua aktifitas ; menarik dan membuang. Langkah sebaliknya dapat diukur secara tepat bila kita mau konsentrasi saat berlari. Kunci utama metode menyelaraskan nafas dan langkah dalam metode kami ialah bernafas menggunakan hidung dan bukannya mulut.

Hidung sebagai indera pernafasan utama memiliki saraf terbaik penyalur udara dari hidung menuju paru-paru. Banyak orang waktu berlari dan merasa tak kuat biasanya segera meninggalkan pernafasan hidung lantas beralih ke parnafasan mulut. Sayangnya mereka akan merasa mudah lelah berlari menggunakan pernafasan mulut dan tentunya melewatkan munculnya sensasi damai yang ditimbulkan dari pernafasan hidung.

Sekarang mulai dari titik 0 meter kami mengambil nafas secara perlahan bersamaan kemudian melangkahkan kaki sebanyak tiga sampai lima langkah ke depan diteruskan menghembuskan nafas perlahan sembari melangkahkan kaki lagi dalam jumlah yang sama. Karena sifat lari selalu menekankan kontinuitas maka metode kami melangkah secara selaras wajib dipertahankan selama lari berlangsung.

Nafas perlahan Satu…dua…tiga langkah…….buang….tiga…dua…satu langkah….

Jangan dipikir karena nafas kami lambat berarti kecepatan kami juga ikut-ikutan pelan. Sebaliknya kami dapat berlari kencang dan makin kencang meski aliran nafas tetap diperlambat secara teratur. Bisa menempuh jarak 4000 meter dalam 12 menit tentulah memerlukan langkah kaki yang cepat menyerupai pelari jarak jauh profesional yang mampu melangkah secara cepat dan dinamis tanpa melupakan kestabilan nafas.

Memadukan dua hal bertentangan ; cepat – lambat dan dapat dipergunakan secara bersamaan melahirkan sebuah mekanisme paru-paru yang luar biasa sekaligus seperti yang kubilang tadi ; ketenangan hati. Ketenangan hati awalnya lahir dari kesadaran kami setiap detik kapan harus mengambil oksigen dan kapan harus membuang karbon monoksida.

Nafas kami menjadi teratur ketika sadar. Setiap detik kami menyadari benar ada di mana, sedang ngapain dan mau kemana. Mengatur nafas tak mengijinkan pikiran kami melantur kemana-mana baik mengulik-ngulik masa lalu, merusak suasana masa sekarang atau pun mengutak-atik misteri masa depan.

Yang ada hanya masa kini.

Saat dimana satu tarikan nafas berarti tiga langkah dan satu hembusan berarti jumlah langkah yang sama, dunia seketika menjadi sunyi. Dunia diam membiarkan kami menikmati rasa kusyuknya berlari. Tak ada lagi suara-suara aneh dari pikiran yang biasa membisikkan adegan drama kehidupan. Tak ada lagi bisikan kemalasan, ketakutan, iri hati, atau pun kebencian. Suara-suara yang terdengar hanya sebuah fokus ; kapan saat mengambil nafas, kapan harus membuangnya.

Menggunakan sistem pernafasan lambat disertai langkah cepat seperti ini kami terus berlari. Kami berlari semakin kencang saling bergantian menyusuri lintasan terdalam. Kadang aku di depan lalu berganti Alfred menyusulku di lap berikutnya. Saling bergantian kami memimpin dan dipimpin.

Kedua sifat ini penting di dalam sebuah tim dan saling melengkapi. Sifat memimpin penting tapi keinginan selalu memimpin akan merusak keseluruhan tim. Diperlukan sifat mau dipimpin agar mampu menciptakan kasatuan tim yang berguna di sebuah pertandingan. Kedua sifat ini bisa dibentuk lewat cara sederhana seperti berlari dan tak perlu melalui pelatihan-pelatihan bertele-tela yang menyita waktu.

” Hmmmmmmm,” satu nafas kembali kuambil panjang sembari melangkah panjang lima langkah ke depan. ” Huuuuffffff,” satu hembusan panjang kuiikuti saat membuangnya. Tak terasa kami sudah berlari 11 menit 45 detik dan telah menyelesaikan 4 km lintasan lari.

” SPRIIINNNT ALFREDD!.”

15 detik tersisa memang biasa kami habiskan sambil melakukan sprint. Serempak kami berdua melontarkan tubuh meledakkan energi tersisa. Berlari sprint tidak berarti melepas kontol nafas di hidung. Kami hanya cukup mengambil sekali atau dua kali nafas panjang dan berlari tanpa bernafas lagi.

Walau Alfred memiliki waktu terbaik di lari sprint 100 meter, setelah diajak lari terlebih dahulu 4 km biasanya kecepatannya berkurang. Aku berhasil mengimbanginya hingga bunyi alarm di jam tangan kami mulai berdetak.

Piiippp…. tinggal 3 detik lagi. Piiipp…..tinggal dua detik. Kami makin cepat lantas bersamaan memajukan kepala terlebih dahulu menyambut garis finish khayalan…Piiippp…..waktu habis.

Seperti biasa kami tak tau siapa yang menang. Aku yakin kami selalu imbang kala menyentuh garis finish.

” Huuuffffff,” berlari sejauh itu kami sama sekali tidak kelelahan.

Kami melakukan pendinginan sambil berjalan santai tanpa terengah-engah. Inilah manfaat berlatih setiap hari memadukan cepat dan lambat. Bisa menghasilkan hasil maksimal melalui usaha efisien. Orang yang melihat kami pasti tak menyangka kami sudah berlari sejauh itu dan masih sanggup berlatih lagi di dua sesi berikutnya. Tapi itulah kenyataannya kami dapat mewujudkannya karena disiplin , kesabaran dan sifat pantang menyerah.

Sambil mendinginkan tubuh meredakan serunya pacuan detak jantung, aku tersenyum simpul di dalam hati. Boleh saja seluruh anggota tim Norwich termasuk Alfred menertawakanku karena belum mengetahui siapa sebenarnya Ronda Rousey. Tapi taukah mereka bahwa aku akan mengenalnya secara langsung karena Ronda sendiri telah mengundangku untuk menyaksikan latihan tertutupnya hari rabu lusa di salah satu GOR di kawasan Norfolk.

Yang menjadi pertanyaan bagiku ialah mau ngapain atlet berkelas dunia seperti “Rowdy” Ronda Rousey mau latihan di wilayah Norwich??.

***

Keesokan harinya Amber mengajakku dan Albert berjalan-jalan. Awalnya aku menolak karena alasan jadwal latihan dua sesi menjelang melawan Liverpool. Biasanya kami berlatih dua kali di waktu pagi dan sore. Meski intensitasnya tak terlalu berat dua sesi ini wajib diikuti seluruh pemain utama.

” Gak bakal lama latihan hari ini percayalah!,” kata Amber saat menemuiku di tempat latihan.

” Kenapa kamu begitu yakin???,” kataku

” Udahlah gak bakal lama! kujemput kamu jam 12 di depan Stadion nanti kita jemput Albert barengan pake mobilmu ya Budi bye!.”

Keyakinan berikut rasa percaya diri Amber selalu membuatku terpesona.

***

Hari selasa ini Coach Neill tengah berada dalam mood kurang baik. Ia marah-marah sepanjang latihan. Desas-desus dari pemain senior mangatakan Coach Neil gusar karena mendengar FA akan segera menjatuhi sangsi hukuman larangan kepadanya mendamping kami dari pinggir lapangan. Komentar pedasnya kepada wasit akibat jatuhnya Theo Walcott rupanya berbuntut panjang.

FA tak pernah mentolerir perilaku pemain juga pelatih yang jelas-jelas menghina wasit. Ucapan ” kemenangan kami dirampok wasit” menjadi nilai merah bagi otoritas sepak bola tertinggi Inggris.

Gusar karena tak bisa mendampingi tim menghadapi pertandingan krusial melawan Liverpool membuat Coach Neill hanya memberi kami latihan pagi dan tidak mengambil sesi sore. Ia memilih meliburkan pemain karena dijawalkan mengadakan rapat bersama tim asisten pelatih nanti sore. Coach Neill harus menyiapkan strategi alternative yang menjadi solusi bila benar dirinya tidak bisa mendampingi kami nanti.

Meski demikian derita Coach Neill merupakan berkah bagi para pemain. Kami bebas sore nanti dan bisa lebih fresh karena mendapat jatah waktu istirahat lebih lama. Refreshing memang amat penting bagi pemain bola apalagi ketika akan menghadapi pertandingan besar. Tekanan dari tim lawan, atmosfer pertandingan, komentar pedas wartawan, hingga tekanan penonton bisa membuat kami jadi cepat tua.

Aku yang sudah mempunyai rencana bareng Amber dan Albert nanti siang tentu yang paling gembira menyambut kekosongan waktu latihan sore. Lagi pula rasanya sudah lama aku tak bertemu Amber. Sosoknya yang sangat percaya diri dan penuh keyakinan selalu membuatku merasa kangen.

Rasanya ia merupakan wanita pelarianku dari Kak Chita. Bukan pelarian yang negative sebenarnya tapi kerinduanku pada sosok Conchita selalu menemukan kembarannya dalam diri Amber. Runner up Miss Englad yang satu ini cantik, sexy, hot, juga cerdas dan intelek sangat identik sama pribadinya Kak Chita.

***

” Gimana perkembangan pemulihan kesehatanmu Albert???,” tanyaku pada sahabat kecil kesayanganku sehabis menjemputnya dari Rumah Sakit. Padatnya jadwal pertandingan membuatku jarang menemuinya akhir-akhir ini.

” Baik Budi aku merasa semakin sehat!,” ujarnya memamerkan figure Luke Skywalker yang pernah kubelikan ” berkat Amber!,” ia melirik penuh semangat pada Amber yang membalasnya sambil mengerling cantik.

Tampaknya telah terjalin keakraban tersembunyi diantara mereka.

” Amber…bagaimana caramu membuat Albert jadi begini ceria??.”

” Harus dijawab gak nih Albert pertanyaannya???,” Amber menjawab riang.

Albert menggeleng-geleng jual mahal. ” Gak usah Amber! si Budi bisanya hanya main bola doank, dia sudah melupakan kita!.”

” Eit tunggu-tunggu!,” aku membela diri ” kata siapa aku melupakan kalian berdua??? kemarin aku kena kartu merah Albert waktu lawan Arsenal, habis itu…”

” Huuhhh alasan!,” Amber sekarang yang “melengos”.

” Iya alasan huhhh!,” Albert ikut-ikutan melengos.

” Seseorang tolong dengar dulu penjelasanku!,” aku mulai frustasi.

Mereka berdua tak mau mendengarku. Sepertinya mereka kompak memberikanku pelajaran karena sudah mengabaikan mereka selama dua minggu terakhir. Tak hanya melengos mereka terus berdiam diri sepanjang perjalanan meninggalkannku terdiam seorang diri.

Dasar Amber! pasti dia yang mengatur Albert agar mendiamkanku. Batinku sembari terus mengemudi menyusuri jalanan Norwich menuju Norfolk.

Amber memang sebelumnya bilang mereka mau ke wilayah Norfolk lagi. Barangkali mereka mau jalan-jalan kembali menyusuri kawasan perairan terpadu yang menenangkan. Memang berlayar di kawasan Norfolk bisa menghadirkan sensasi kenyamanan tersendiri. Buatku tak peduli mau kemana pun Albert merupakan orang utama yang harus disenangkan hatinya. Albert tengah berjuang keras sekarang. Sebuah perjuangan begitu berat melawan penyakit kangker ganas.

” Sssstttttt udahan yuk ngambeknya kasian si Budi!,” kebaikan hati Albert pulalah yang akhirnya mengakhiri puasa bicara mereka berdua.

” Hi…hi…hi…terserah kamu deh Albert aku ikut aja!.”

” Nah gitu donk! tega deh kalian berdua mendiamkan aku begini lama!.”

” Kamu sih Budi ngecuekin kita!”

” Amber kamu kan tau Liga Premier sedang memasuki periode krusial sekarang…..aku saja….”

” Iya Budi! kami paham kok. Kami he he Cuma mau ngerjain kamu aja,” Albert berbicara tanpa rasa bersalah.

” Ha ha ha gak apa kan Budi kamu sekali-kali kami kerjain,” Amber mencubitku diikuti Albert secara bersamaan membuatku merasakan sakit sekaligus geli.

Aku menerima saja segala perilaku dan keusilan mereka. Buatku di Kota Norwich, selain Alfred, hanya mereka berdualah keluargaku yang paling dekat.

” Ngomong-ngomong mau kemana sih kita??.”

” Itu di perempatan belok kiri saja!,” Amber mununjukkan jalan.

” Lho itu bukannya mau ke Sandringham House?? bukannya kawasan milik keluarga Kerajaan Inggris merupakan kawasan private??”

” Siapa bilang Budi,” sekarang Albert gantian menjawab pertanyaanku ” ada kok kawasannya yang terbuka buat umum.”

” O ya??.”

Aku terus mengemudi sambil menyimpan sebuah rasa antusiasme besar. Kawasan Keraton Sandringham, begitu barangkali bila kita menggunakan istilah di Jawa, memang kupersepsikan sangat sakral hingga tak bisa dimasuki sembarangan orang. Namun dipandu oleh Amber kami berjalan terus menuju kawasan yang didominasi oleh rimbunnya pepohonan dan asrinya pemandangan sekitar.

***

Setibanya di kawasan khusus bagi pengunjung Sandringham House aku memarkir mobil, menurunkan kursi roda Albert dan mengikuti Amber menuju pintu masuk Keraton. Sebuah mobil khusus lalu lintas dalam Keraton Sandringham telah disiapkan oleh pihak Kerajaan lengkap berikut fasilitas bagi para pengunjung yang sakit maupun mengenakan kursi roda seperti Albert.

Mobil khusus bagi pengunjung menyerupai kendaraan kereta kecil berwarna hitam dengan bangku menyamping. Kami bisa mulai menikmati keanggunan taman-taman di depan pekarangan utama Sandringham House. Taman di keraton ini ditata begitu rapih didominasi oleh bunga-bunga beraroma harum semerbak memanjakan indera penciuman para pengunjung.

Jalan di taman juga ditata sedemikian indah hingga menyerupai lorong labirin. Setiap lorong menyembunyikan setiap lapis keindahan dan memercikkan rasa keingintahuan kepada setiap pengunjung akan pemandangan apa yang tersaji berikutnya di depan. Lapis demi lapis labirin taman kami lewati secara perlahan sembari tak henti-hentinya Albert mengabadikan momen spesial kami di kamera miliknya.

Setibanya kami di pintu gerbang utama kami disambut oleh sebuah Pohon Oak besar berdiri tegar menyambut para tamu seorang diri. Pohon Oak merupakan symbol di beberapa Negara seperti layaknya Burung Garuda di Negaraku.

Sebenarnya sama seperti Garuda, Pohon Oak juga menyimbolkan ketangguhan dan daya tahan dalam menghadapi segala macam problema Berbangsa dan Bernegara. Ketangguhan dan daya tahan sangat diperlukan karena tanpa sifat ini sebuah Bangsa akan begitu mudah dipecah belah oleh faktor-faktor dari luar. Melihat Pohon Oak tentu saja membawa imajinasiku kembali ke kondisi Negaraku tercinta.

Meski terlahir pada tahun 1997, aku pernah mendengar sepenggal lirik lagu Garuda Pancasila. Sebuah lagu perpaduan antara Lambang Negara dan Dasar Negara.

GARUDA PANCASILA

AKULAH PENDUKUNGMU

PATRIOT PROKLAMASI

SEDIA BERKORBAN UNTUKMU

PANCASILA DASAR NEGARA

RAKYAT ADIL MAKMUR SENTOSA

PRIBADI BANGSAKU

AYO MAJU MAJU

Lagu ini mengajak seluruh Warga Negara Indonesia untuk memiliki kerelaan berkorban demi mewujudkan rakyat adil makmur sentosa, didasari oleh kepribadian khas yang tergambar dalam Burung Garuda dan makna terdalam dari Dasar Negara Pancasila. Semoga ketika aku tengah berjuang mengharumkan nama Bangsa di luar negeri, Bangsaku sanggup mewujudkan cita-cita dalam lagu ini sama seperti Inggris mampu mewujudkan kesejahteraan negerinya melalui gambaran sebuah Pohon Oak yang tegar berdiri di tengah kemegahan Sandringham House.

” Sandringham House merupakan tempat kelahiran Putri Diana.” Amber seperti biasa mulai bertindak sebagai pemandu wisata kepada kami berdua.

” Lady Di?? kamu serius??,” tanyaku penasaran.

” Tentu! keluarga Putri Diana merupakan kelas Bangsawan yang berperan besar merenovasi kawasan yang mulai dibangun sejak tahun 1771 ini. Lucunya kawasan Sandringham sendiri memang secara tak terduga selalu berkaitan secara emosional dengan kehidupan Princess of Wales.”

” Benar gak sih Amber kalo Putri Diana dulunya tidak terlalu pintar waktu di sekolah??,” Albert bertanya polos ketika kami mulai memasuki kawasan pekarangan Sandringham.

” Hmmm istilah tidak terlalu pintar sebenarnya tidak tepat Albert!,” Amber menjawab secara bijaksana

” Tau tidak Putri Diana pernah belajar di Riddlesworth Hall dekat disini masih di kawasan Norfolk,” Amber menunjuk arah utara ” Adalah benar barangkali Beliau tidak terlalu ahli dalam soal akademis tapi dari sisi social, pergaulan, bahkan olah raga Beliau sangatlah menonjol.

O ya kembali ke masalah kenapa tempat ini sangat terkait dengan Putri Diana karena di Sandringham inilah suami Beliau Prince Charles mengumumkan hubungan gelapnya dengan Camilla Parker.”

” Hmm hubungan gelap??,” aku bertanya penasaran ” affair maksudmu??.”

” Yah menjawab pertanyaanmu soal affair Budi pastilah akan merusak tujuan kita menikmati keindahan tempat ini! Jadi pertanyaanmu nanti aja ya kujawabnya,” Amber mengerling genit

” terlepas dari adanya affair atau hubungan terlarang , Sandringham House pastilah memiliki daya tarik tersendiri karena walau mengetahui disinilah Ibunya mengalami duka mendalam, Pangeran William, putra Beliau, bersama istrinya Kate Middletone memilih membangun rumah tinggalnya di kawasan ini.”

” Sungguh Amber??,” gentian Albert yang penasaran.

” Iya sayang!,” Amber mengelus rambut Albert penuh rasa sayang ” Cobalah lihat betapa indah dan kaya maknanya Sandringham House sehingga Prince William memilih membangun rumahnya disini,” Amber menunjuk sebuah patung putih tua di pekarangan halaman.

” Ini kan patung Malaikat Amber??,” aku mendekati gambaran malaikat berbentuk manusia dan memiliki sayap di depan kami.

” Betul, patung malaikat tua yang tangan kanannya memegang sabit besar dan tangan kirinya memegang jam tangan pasir sebagai penanda waktu sedang duduk termenung.”

” Lebih tepatnya dia malahan terlihat lesu dan bosan Amber!,” Albert tertawa ringan melihat mimik wajah patung malaikat.

” Betul sekali sayang! Patung ini terlihat bosan karena melihat tingkah laku kita semua, maksudku manusia yang hobinya menyia-nyiakan waktu secara sia-sia.”

” Maksudmu Amber??,” tanyaku.

” Patung Malaikat di depan kita merupakan gambaran Malaikat Maut yang lesu karena harus mencabut kebanyakan nyawa manusia yang telah diberi kesempatan hidup di dunia tapi menghabiskan waktunya dengan kesia-siaan. Kalian tau kebanyakan manusia hidup di dunia ini hanya untuk bertengkar, berkelahi, berperang, menyakiti sesamanya. Mereka lupa untuk saling mengasihi dan menyayangi sesamanya. Padahal kedua sifat inilah yang akan membuat si patung Malaikat Maut menjadi tersenyum, tidak lesu seperti ini”

” Kamu membuatku tambah bingung Amber!.”

” Gini lho Budi, kenapa wajah patung ini terlihat bosan??.”

” Aku tak tau.”

” Mencabut nyawa manusia yang hidup tanpa belas kasih di hatinya hanya akan membuat si malaikat maut mengulangi kebuasan yang biasa dia lakukan sepanjang sejarah peradaban manusia. Sebaliknya mencabut nyawa para manusia baik hati akan melembutkan hati sang malaikat pencabut nyawa hingga setidaknya ia bisa merasakan secuil perasaan cinta yang memang hanya dianugerahkan kepada manusia.”

” Ssst Amber,” aku berbisik ” kamu membuat Albert takut…,”

” Tidak Budi aku tak lagi takut,” Albert rupanya bisa mendengar suaraku.

” O ya jagoan?? kamu tidak lagi takut??.”

” Tidak Budi ..berkat Amber..dan gambaran selanjutnya tentang patung ini,” Albert menunjuk penuh semangat kepada patung malaikat maut.

Aku melirik pada Amber minta penjelasan tapi ia tak mau menjawab dan memintaku bersabar menunggu jawaban Albert.

” Kata Amber, waktu kita semua sudah dipegang oleh si Malaikat Maut bahkan sejak kita pertama kali lahir ke dunia, tidak masalah kapan kita akan mati, tapi yang jadi masalah apa yang kita lakukan selama kita diberi kesempatan hidup.”

Aku terpaku mendengar jawabannya.

” Amber mengajakku melakukan kebaikan dan kasih sayang sebanyak-banyaknya setiap saat, tak peduli apa pun yang terjadi karena segala kebaikan yang kita lakukan pasti mendapat balasan yang terbaik.”

Aku merunduk tanpa bisa menahan butiran air mata mulai meluncur turun dari kedua mataku. ” Kamu hebat jagoan!,” ujarku.

” Setidaknya Budi, aku akan membuat si Malaikat maut tersenyum karena hatiku menjadi hati seorang anak yang baik,” ia mengucapkan kalimat ini sambil tersenyum ceria.

Tak tahan kupeluk dia penuh haru dan Amber pun ikut bergabung bersama kami saling berpelukan di tengah keindahan Keraton Sandringham.

***

” Sudah kubilang agar jangan terharu ketika melihat keindahan Sandringham,” Amber mengajak kami kembali berjalan.

” Iya tuh payah si Budinya cengeng sih,” Albert ringan saja menyerangku.

” Masalahnya jagoanku kan memang hanya kamu seorang Albert! Mendengarmu mengucapkan kalimat sebagus itu membuatku….,” ujarku berusaha tidak terharu lagi seperti tadi.

” LIhatlah keceriaan dari patung emas Buddha gemuk yang tersenyum ini!,” Amber menangkap rasa haruku dan berusaha mengalihkan pembicaraan.

Ia mengajak kami melihat Patung Buddha Emas besar yang terletak di depan patung malaikat maut. “Patung ini menunjukan sebuah keyakinan mutlak yang diajarkan oleh Sang Buddha akan makna kebaikan, kelembutan, dan kasih sayang.

Meski duduk di tengah keindahan Istana Sandringham, Sang Buddha setia mencontohkan pada kita semua bahwa kebahagiaan sejati tidak terletak pada pencapaian materi kekayaan duniawi namun terletak di dalam diri,” Amber menunjuk hatinya ” kebahagiaan sejati terletak pada hati manusia yang memiliki kebaikan dan kasih sayang yang luasnya lebih luas dari benua, dan dalamnya lebih dalam dari samudra.”

Amber mengajak kami kembali berjalan sedikit ke sebelah kanan patung Buddha emas “Lihatlah bahkan jam tangan antik besar dari jaman romawi ini bertuliskan; My time is in Thy Hand.”

Kuperhatikan tulisan ini terletak di jam klasik Romawi yang masih memiliki angka-angka Romawi klasik dan struktur seperti jam matahari.

” Waktu kita semua berada di tangan Sang Pencipta. Inggris yang konon kabarnya pernah mencapai luas kekuasaan yang terbentang dari matahari terbit hingga matahari terbenam sangat menghormati kehendak Pencipta. Kami sangat menyadari waktu manusia sangatlah terbatas maka yang terbaik adalah seperti yang diajarkan oleh patung Sang Buddha, Malaikat Maut, dan jam klasik Romawi ini yaitu melewatkan setiap detik….” Amber berhenti bicara memberi isyarat pada Albert.

” Sambil melakukan kebaikan dan kasih sayang tanpa pamrih,” Albert meneruskan.

Aku kembali terpaku tak sanggup bergerak terselimuti rasa haru.

” Nah karena si Budi sudah terlihat mau bersikap cengeng lagi mari kita tinggalkan dia Albert!,” melihatku mulai tenggelam dalam keharuan, Amber malahan ngeloyor pergi mendorong kereta Albert.

” hei jangan tinggalin aku donk!.”

” Habis kamu cengeng sih..,” Albert berujar yang diikuti tawa lebar Amber.

***

Sesuai kesepakatan dengan pihak Rumah Sakit kuantar Albert kembali ke sana sebelum waktu makan malam. Sebenarnya Albert tidak boleh meninggalkan RS, tapi vonis umur yang katanya tinggal sebentar lagi akibat keganasan kangker membuat pihak RS tak tega melarangnya menikmati indahnya kehidupan.

Tentu saja aku sebagai orang yang paling bertanggung jawab terhadapnya selama meninggalkan RS sudah dibekali oleh para dokter disini bagaimana pertolongan pertama terhadap pasien bila kondisinya menurun di perjalanan. Tapi untunglah selama berjalan bersamaku kondisi Albert selalu baik-baik saja bahkan boleh dikatakan ia begitu gembira dan seperti akan sehat kembali.

Aku tidak berbohong. Ia memang terlihat begitu sehat sekarang. Senyum di wajahnya, ucapan-ucapan optimis tentang perilaku baik, hati yang tulus, kesemuanya merubah kemuramannya menjadi cahaya. Bahkan sejak mengenalnya enam tahun terakhir ini, Albert tak pernah kulihat sebugar sekarang.

Sayang Amber tidak ikut mengantarkannya kembali masuk kedalam rumah sakit karena lebih memilih menunggu di parkiran, bila saja dia melihat wajah Albert sekarang, Amber pasti setuju denganku ; Albert akan segera sembuh.

” Iya Dok, aku sekarang optimis menatap kehidupan.” ujarnya sambil berbicara dengan para dokter dan suster.

” Kami senang mendengarnya Albert. Apa sih rahasiamu??.”

” Feel the Force!,” jawab Albert sambil mengangkat tangannya tinggi.

” Apa artinya itu??,” dokter tampak bingung.

” Feel The Force merupakan nasihat Master Yoda di film Star Wars Dok,” aku membantu menjawab rasa penasaran dokter.

” Betul kata Budi Dok,” Albert menyambut begitu antusias ” The Force harus dirasakan setiap saat dan ditunjukkan dalam perbuatan hingga bisa membawa ketenangan dalam hati.”

Mendengar omongannya pasti membuat kami semua sepakat ; Albert sudah begitu sehat dan akan segera sembuh. Melihat ekspresinya, merasakan optimismenya, sering membuatku malu karena tak juga bisa melepaskan dari dalam diri kecenderungan berpikir negative, pesimis dan berperilaku tidak baik.

***

” Amber kamu habis minum ya???,” kupergoki Amber memasukkan botol minuman ke dalam dash board mobil setelah aku selesai mengantar Albert. Kuambil botol minumannya yang kulihat ternyata mengandung kadar alcohol cukup tinggi. Aroma alcohol dari mulutnya saja sudah cukup menunjukkan sudah berapa lama ia menghabiskan waktu berpesta miras di dalam mobil selama menungguiku di parkiran.

Dari mana dia mendapat minuman?? padahal di mobil bututku ini tak pernah membawa miras dan aku sama sekali tidak pernah meminumnya. Aku sering bingung sendiri melihat tingkah laku Amber yang kadang suka terlihat nyentrik dan menyembunyikan sesuatu.

” Enggak Budi….hi…hi..hiii,” dia mulai terlihat mabuk.

” Enggak apa tingkah lakumu kayak orang gila begitu,” segera kutancap gas meninggalkan Rumah Sakit. Sangat memalukan rasanya bila kami kepergok pengunjung Rumah Sakit sedangkan Amber dalam kondisi mabuk seperti ini. ” Minum SANGAT tidak bagus buatmu!,” ujarku tegas.

” Kenapa? aku sudah biasa minum kok hi hi hi kamu tuh Budi yang kampungan..”

” Kampungan gimana maksudmu?”

” Gak pernah mau ditawari minuman. Padahal minum bisa membuatmu melupakan persoalan hidupmu lho. Minumlah dikit ganteng!”

Aku menggeleng kesal. Bukan hanya karena perkataannya yang tidak rasional tapi juga karena memikirkan waktu yang akan terbuang sia-sia gara-gara Amber. ” Minuman sama artinya melupakan sejenak masalah terus melihatnya kembali lebih parah dari sebelumnya ketika sadar begitu maksudmu??.”

” Ha ha ha,” dia tertawa.

” Aku ini harus segera kembali ke base camp Amber! mengertilah sedikit. Kami hendak melawan Liverpool..,” aku menceramahinya ” tapi gara-gara kamu…hei tunggu…tunggu… ngapain kamu mau copot bajumu…hei..”

Sangat mabuk, Amber melepas bajunya dan sekarang hanya mengenakan BH dan tertawa-tawa makin keras.

” Ok…kamu benar-benar mabuk,” ujarku menyadari harus segera mencari pemberhentian takut-takut ia akan melakukan aksi nekad lainnya ” emang ada masalah apa sih hingga kamu mabuk begini? sembunyi-sembunyi lagi kamu melakukan ini dibelakangku dan Albert,” mataku berusaha mencari di tepian jalan barangkali ada hotel yang representative.

” Masalah biasa Budi yahh kehidupan inilah dan segala ketololannya, HEI SUPIR TRUK KAMU MAU LIHAT PAYUDARAKU TIDAK!.”

Amber mencoba membuka kaca jendela berusaha memamerkan tubuhnya pada seorang supir truk yang sedang memperbaiki kendaraannya di pinggir jalan.

” HEEIII JANGAN BEGITU!,” untunglah bisa kutarik badannya. ” ITU BENAR-BENAR MEMALUKAN!.”

” Apa yang memalukan Budi??.”

” KAMU.”

” Kamu malu melihatku begini??.”

Aku menatapnya sebal sekaligus kasihan. ” Aku tidak malu kepadamu. Kamu wanita yang cantik dan cerdas. Tapi perilaku mabukmu ini SANGAT MEMALUKAN!. Mabukmu ini bisa membuatmu malu seumur hidup!.” ujarku keras.

Kulihat sebuah hotel bagus yang memiliki bungalow-bungalow bernuansa klasik namun bertarif cukup terjangkau. Kupikir hotel ini pas untuknya hingga segera membelokkan mobil. Amber yang masih mabuk berat kutinggal di mobil setibanya di parkiran untuk melakukan check in.

Karena dia masih belum memakai baju, kuparkir mobil dalam jangkauan penglihatanku khawatir dia melakukan aksi aneh lagi. Sengaja kupilih hotel yang memilki bungalow karena aku tak mau membopong orang mabuk melewati meja resepsionis.

Sesuai permintaan, pihak resepsionis hotel memberi kami bungalow paling ujung yang jauh dari keramaian. Segera aku kembali ke mobil lantas meluncur ke lokasi. Amber masih saja cekikikan tak jelas di dalam mobil. Kadang dia bernyanyi lagu berirama aneh atau pun berbicara sendiri tak karuan.

Sesampainya di bungalow aku segera menurunkan selimut yang biasa kusimpan di bagasi mobil, membungkus tubuh setengah telanjang Amber bergegas memasuki bungalow. Kunyalakan lampu setelah merebahkannya ke ranjang besar yang terletak di kamar pertama. Bungalow ini terdiri dari dua kamar dan satu ruang tamu. Cukup minimalis tapi tertata rapih dan wangi.

Tanpa bicara kepadanya kududuk di kursi dekat ranjang mengamati aksinya yang masih saja menggumamkan kalimat-kalimat aneh. Kasian bila melihat orang mabuk, kesadaran mereka hilang ditelan alkohol digantikan sebuah keterus terangan semu serta perilaku di luar kontrol diri. Melupakan sejenak masalah dan melihatnya kembali lebih parah dari sebelumnya ketika sadar. Itulah intinya mabuk minuman keras.

” Budi aku horny nih ngeseks yuk!.”

Ujarnya sambil menurunkan rok. Tubuhnya kini hanya terbalut BH dan CD saja.

” NGAWUR KAMU! Gak mau!” aku membuang muka. Aroma alkohol sudah cukup memadamkan gairah seks dalam diriku.

” Pasti gara-gara aku bau alcohol,” Amber mengambil tas kecil di sampingnya, mengubek-ngubek isinya sejenak, kemudian mengambil sebuah botol kecil parfum.

Cepat ia menyemprotkan parfum cukup banyak ke beberapa titik tubuhnya seketika menyamarkan aroma alcohol yang semula begitu pekat.

” Ayolah Budi,” perlahan kini ia merangkak ke arahku. Gerakannya begitu sensual berusaha menggodaku. Meliuk-liuk erotis ia melepaskan BH dan CDnya secara sensual. Mataku yang semula enggan menjamah tubuhnya mulai terpengaruh menghadapi gerakan sensualnya.

Bagiku Amber memiliki sex appeal sangat tinggi. Setiap gerak, aroma, sampai suaranya bisa menggetarkan tiap saraf seksual dari seorang laki-laki normal. Lihatlah sekarang dari posisi merangkak, ia kemudian bangkit tertawa mesum mengkibas-kibaskan rambutnya.

Tangannya sebentar menutupi payudara padatnya lalu melepasnya kemudian menutupinya lagi. Semuanya ia lakukan untuk meggodaku. Sialnya Amber memang paling ahli dalam urusan membangkitkan nafsu birahiku.

Sehabis melakukan gerakan tangan menutupi payudara, ia memperhatikan aku mulai mengamati liang kenikmatannya yang selalu dirawat tanpa sehelai bulu pun. Bergantian kini tangannya menutupi celah nikmat nan menggoda dan payudaranya miliknya seolah mengundangku agar segera merasakan keindahannya. Hebat juga dia, pikirku, bisa bertahan melakukan gerakan-garakan erotis padahal dalam keadaan mabuk.

” Sudahlah, kamu masih mabuk,” kataku berusaha membaringkannya kembali ke ranjang.

” Ennnnggg……,” sedang berusaha kubaringkan, Amber malahan mendorongku sehingga terdorong balik ke kursi ” Enggak mau…..aku horny…aku mau ngeseks sama kamu…..,” tanpa basa-basi ia melepas kaitan celana jeans yang kukenakan langsung berusaha menurunkan reslitingnya.

Aku yang dipaksa olehnya terduduk hanya bisa pasrah saja melihat segala tingkah lakunya.

Amber menggunakan seluruh tenaganya ketika melepas celana jeansku lengkap beserta celana dalamnya. Melihat kemaluanku yang masih loyo ternyata membuatnya semangat. Ia langsung memainkan lidah serta mulutnya bermain-main di setiap jengkal batang kemaluanku. Sudah menjadi tradisiku sebagai laki-laki untuk merawat rambut kemaluan agar tidak jorok. Mendapati batang kajantanan dalam kondisi bersih membuat Amber semakin menggila.

Indera penciumanku masih bisa mencium bau alcohol tapi perlahan mulai tak tarasa akibat tertutup aroma parfum dan posisi mulut Amber memang masih cukup jauh. Hilangnya aroma alkohol membuat hormone seksualku perlahan bangkit mengikuti jilatan dan hisapan bibirnya.

Begitu telaten ia yang kini dalam posisi terduduk di lantai menserviceku yang duduk di kursi. Kedua tangannya mengelusi pahaku menikmati sensasi persentuhan dengan bulu-bulu paha yang barangkali terasa nyaman di tangannya.

Sesekali kedua tangannya mulai mampir di pantat berusaha meremas-remasnya meski pun sulit karena posisiku duduk. Gagal menyentuh pantat ia naikkan tangannya ke perutku yang six pack terpesona menikmati setiap guratan-guratan otot di tengah perut. Bibirnya sebaliknya tak pernah berhenti bekerja. Amber mengawalinya menghisap dua kantung kemaluanku yang telah tampak memerah akibat terangsang. Bergantian ia menghisap kedua kantung buah zakarku secara perlahan.

Habis menyedot-nyedot buah zakar mulailah lidahnya ganti bermain. Sejak dari bagian bawah kejantanan lidahnya merayap naik membawa kehangatan sekaligus sensasi basah air liur. Lidah Amber terus bermain menjilati melingkar dari belakang kemudian ke depan lalu melingkar lagi. Ia membuatku harus menyandarkan diri di punggung sofa. Kepalaku mendangak tak bisa menahan keinginan memejamkan mata akibat dahsyatnya sensasi yang terjadi di bawah sana.

Lidah Amber bermain semakin liar saat sudah tiba di pangkal penis. Sejenak lidahnya menari-nari lincah membuatku merasa semakin gila kala ia memberi sensasi di titik daging yang terletak tepat di pangkal penis. Titik yang memiliki lebar tak sampai 1 cm dan merupakan bekas sunat pada laki-laki ini ia main-mainkan secara lembut namun tak bisa menyembunyikan kenikmatan akibat sensasi yang ditimbulkannya.

” Amberrrrrrrrrrrrrrr fuuucccckkkk,” mulai tak tahan kuremas rambutnya agar segera meninggalkan titik itu dan segera menyantap hidangan utama di pangkal penis.

Amber tentu saja tak mau mematuhiku. Jari lentik telunjuk tangan kanannya malahan kini ia letakkan tepat di ujung pangkal kepala penisku menekan-nekan lembut disana membuatku berteriak makin keras.

” FFFFUUUUUUUCCCKKKKK.”

Setelah mendengarku berteriak keras barulah ia celupkan pangkal penisku ke mulutnya kemudian ia hisap perlahan. Sangat perlahan. Begitu menikmati ia menurunkan kepalanya perlahan sambil batang kejantaananku berada di mulutnya lantas mengangkatnya lagi pelan-pelan. Lidahnya yang basah ikut menemani gerakan perlahannya dari dalam membawa kehangatan tersendiri.

Kucengkram rambut Amber makin keras tak tahan lagi dengan semua kenikmatan yang diciptakannya. Tangan Amber menolak tubuhku agar kembali rebah lalu ia melanjutkan ritual nikmat oral seksnya.

Sebelum aku menengadahkan wajah, kulihat kepalanya menyedot masuk ke dalam sambil berputar 45 derajat ke kanan lalu melakukan hal yang sebaliknya ketika kepalanya terangkat naik. Sensasinya semakin bervariatif. Batang kejantananku seakan disedot sambil dipelintir-pelintir begitu nikmat. Kalo terus begini aku bisa KO duluan saat melawannya. Maka sekuat tenaga kuhentkan serbuannya lantas membopong tubuhnya agar bangkit bersamaku.

” Budi…Budi…aku gak mau ngeseks disini,” kata Amber saat batang kejantananku siap memasukinya dalam posisi aku menggendongnya.

” Lho katamu mau ngeseks???.”

” Iya tapi di luar!.”

Aku berhenti tak percaya permintaannya yang begitu aneh.

” Cepat keluar! banyak mikir nih.”

Ia merangkul bahuku menarikku agar segera mengikuti perintahnya keluar. Dalam keadaan ragu kukuti saja kemauannya melangkah ke luar pintu kamar sembari terus membopong tubuhnya yang kakinya telah mengangkang lebar siap menerima pentrasi. Lagi pula bungalow kami ini berposisi paling jauh dan tak kulihat penghuni lain tadi. Semoga saja tak ada orang yang melihat.

Sesampainya di pintu, kuhentikan langkah dan hanya cukup sampai di teras bungalow saja. Permintaan bermain seks terlalu di luar sangatlah beresiko. Maka masih dalam posisi berdiri kupersiapkan saja batang kejantananku yang telah tegak lalu secara perlahan-lahan kuarahkan menuju organ intim Amber.

Gendonganku yang bertumpu pada kekuatan dua lenganku yang menyangga paha Amber perlahan kuturunkan menyiapkan penyatuan dua alat kelamin di bawah. Amber membantuku menggunakan kedua tangannya berpegangan pada bahuku.

” Hhhhaaaa…..aaaaahhhhh….aaahhhhhhh.”

Amber mulai mendesah. Tak perlu banyak fore play baginya malam ini karena organ intimnya telah begitu basah. Mungkin mabuknya serta sensasi rasa khawatir bercinta bisa dilihat orang membangkitkan lonjakan deras hormone adrenalin dalam dirinya yang memicu pula lonjakan hormon seksual.

Pelan penisku mulai menembus labia mayora, labia minora, lantas masuk penuh ke dalam liang senggama Amber yang matanya mendelik mulai tak tahan menerima rangsangan penetrasi.

Mataku memberi isyarat padanya bahwa aku akan segera memulai menggenjotnya .

Melihatku wajahnya yang kini bersemu merah mengangguk sejenak lantas menengadah menatap langit. Cepat kuperkuat kontraksi otot bisep sehingga bisa mengungkit tubuhnya naik turun perlahan.

Kuungkit secara perlahan Amber terlihat sangat menikmatinya. Dihirupnya dalam-dalam udara malam sekitar merasakan betapa indahnya bercinta di alam terbuka. Perasaan kulit yang langsung tersapu desiran angin membawa penetrasi menjadi makin nikmat.

Sebaliknya sebuah kemungkinan ada seseorang yang melihat persenggamaan kami menerbitkan degupan jantung lebih cepat. Sebaliknya bagiku aroma udara luar makin menyamarkan bau alcohol pekat di mulut Amber yang kini mulai bisa tercium kembali.

Tak bisa kubertahan lama menaik turukan tubuhnya dalam ritme lambat karena Amber memiliki sex appeal tinggi . Mulai cepat kunaik turunkan dia hingga pentrasi yang terjadi semakin intens. Amber menyadari beratnya beban yang kutanggung dengan memanggul tubuhnya hanya dengan tenaga di otot bisep, ia membantuku sekarang mengungkit-ungkitkan sendiri tubuhnya menggunakan ptot panggul dan pantat.

” Haaaggggggggggghhhhhhhhhhhh,” sekarang gantian aku yang mengeram karena merasakan diulek-ulek oleh organ kenikmatan Amber.

Teknik woman on top Amber memang sempurna. Dia melakukan gerakan mengulek batang kejantananku tidaklah hanya untuk membuatku tenggelam dalam kenikmatan tapi terlebih dahulu membuat dirinya sendiri menuju ekstasi syahwati. Amber dalam posisi mengendalikan penetrasi sekarang, ia mengetahjui benar anatomi tubuhnya berikut letak titik sensitive organ kenikmatannya yang terhubung di klitoris.

Klitoris merupakan puncak gunung es. Hanya sebuah titik kecil bila dilihat dari dalam mons veneris, tapi memiliki saluran panjang melingkar dari titik luar liang kenikmatan menyebar melingkar hingga pantat. Amber sengaja melakukan penetrasi dalam agar bagian luar mons venerisnya bisa terkena gesekan penisku maupun gesekan tumbukan perut dalam. Tekun dia bertahan melakukan pentrasi dalam yang membuat pangkal penisku berkali-kali menohok-nohok dinding rahimnya bersamaan sentuhan ritmis di kulit luar liang kenikmatannya.

” Peluk aku Budi……HAAAAAAAAAAGGGGGHHHHH.”

Amber menyebut-nyebut namaku berulang kali. Tubuhnya langsung memelukku erat. Pantatnya masih berusaha berputar-putar mengubek batang kejantananku sebelum akhirnya…

Aku masih mengingat betul bagaimana ekspresinya yang mendelik ketika klimaksnya datang menjemput. Matanya kehilangan fokus langsung menengadah memandang langit disertai lonjakan kontraksi seluruh tubuh. Setiap saraf di tubuh Amber mengejang dahsyat berkali-kali dan tubuhnya tak henti terlunjak-lunjak.

” Ahhhhhh…ahhhhhhh….”

Tubuhnya tak henti menegang. Setiap kali dia hendak berhenti kuturunkan kembali tubuhnya agar klitorisnya menumbuk lagi dasar penisku dan dia pun kembali terbang dalam kontraksi tak terkendali. Saat wajahnya bangkit dari tertengadah dan menatapku tak bisa kujelasakan seperti apa ekspresi wajahnya. Antara horny kelas berat, kegilaan ekstasi, hingga suka cita orgasme semua berpadu di rona wajahnya yang merah membara.

” Auuuuhhh he he he aaahhhh….aahhhhhhhh,” akhirnya Amber bisa melepaskan diri dari tusukanku. Ia terjatuh berlutut memegangi pahaku. Nafasnya tak terkendali begitu riuh namun setelahnya dia mulai tertawa riang. Sensasi nikmat yang semula membuatnya seperti orang gila kini telah membawanya menuju kebahagiaan tak terkira. Beberapa menit ia masih memegangi pahaku sembari matanya tak lepas memandangi batang kejantananku yang masih tegak sempurna.

Menyadari aku belum mencapai klimaks. Amber berputar memegangi punggungku lalu memposisikan dirinya tepat memelukku dari belakang. Dia membalas posisiku saat mengerjainya di Yatch tempo hari. Kini dia yang memegangi penisku dari belakang dengan kedua tangannya.

” Mau ngapain kamu Amber??,” tanyaku tak bisa melakukan apa-apa karena telah dikuncinya dari belakang.

” Maju Budi! maju sampai ke depan halaman bungalow .” Amber mendorongku maju hingga melewati pekarangan halaman.

” Hi hi hi aku mau membantumu mastrubasi! dari dulu aku sangat ingin tau seperti apa sih rasanya cowo kalo lagi onani!”

Amber berujar mesum sembari merapatkan posisinya hingga payudaranya yang padat bisa kurasakan menempel ketat di balik punggungku. Tangannya mulai mengurut penisku secara ritmis dari belakang dan wajah cantiknya sesekali mengintip dari balik punggungku penasaran melihat reaksiku.

” Enak gak Budi?,” bisiknya terus mengurut batang kejantananku. Merasa kurang nyaman ia basahi sendiri tangannya dengan air iurnya lantas ia lumuri batangku hingga terasa makin licin.

” Uhhhhhh Amber,” mulai merasa keenakan berusaha kuraih kepalanya yang makin sering mengintip gemas.

“Batangmu makin kenceng aja nih hi hi hi,” dia tertawa begitu riang. Tangan kirinya mulai meninggalkan batang kejantananku dia mulai membelai punggung dan pahaku.

” Amber sudah…..,” ujarku tak taha ” aku mau……”

” Mau apa Budi..mau pipis???.”

Aku menggeleng makin tak tahan sementara tangan Amber mengocok makin cepat. Aku seperti onani dengan tangan orang lain yang celakanya begitu cantik jelita.

” Uhhhh kenapa berhenti……aku…aku udah mau….”

Amber mengocok cepat kemudian berhenti begitu saja kembali menggodaku begitu rupa.

” Mau apa sayang??? mau pipis??,” dia kembali mengocokku cepat.

” Enggak..mau…mau……ahhhhhhhh.”

Aku susah mencari kata tepat yang mampu menggambarkan sensasi luar biasa yang sedang kurasakan.

Selagi aku meronta dalam kenikmatan tangan lentik Amber kembali berhenti di tengah jalan.

” Huuhhh…huhhhh..huhhhh shitttt….huuhhhhhhh,” tubuhku mengejang bergetar hebat seperti mengalami orgasme kering akibat Amber berhenti begitu saja.

” Hi..hi hi enak kan orgasmenya….,” dia melirik kepala penisku yang kini telah mengeluarkan beberapa butir sperma.

” Kocok yang kenceng sayang!,” ujarku.

” Kenapa??.”

” Aku mau merasakan …..auuuuuuuhhhhhh,”

Amber mengocokku kencang sekali.

” merasakan apa???”

” Ejakulasi….ffuuucckkk ahhhh……aku mau merasakan EJAKULASI…”

Aku mendelik frustasi saat rasa nikmat itu telah tiba di puncak dan lagi-lagi dia kembali berhenti. Aku merebahkan diri di pelataran parkir mobil bungalow yang ditumbuhi rumput hijau dalam kondisi bertelanjang bulat dan batang kejantanan yang begitu tegang lagi berkontraksi tiada henti tapi tak juga bisa memuntahkan klimaksnya akibat ditahan oleh sang wanita.

Amber menyusulku rebah tepat disampingku. Kepala kami sama-sama berbaring di rumput. Dia menikmati benar ekspresi wajah dan penisku yang mengangguk-angguk aneh seakan terhenti kenikmatan tepat di ujungnya.

” I love you Budi!.”

Bisik amber penuh rasa sayang lantas jari lentiknya mencoba menyelesaikan apa yang harusnya ia selesaikan sedari tadi.

” FFFFFFFFFFFUUUUUUUUUUCCCCCCCCCKKKKKKK.”

Dia berhenti lagi.

” FFUUUUUUUUUUCCKKKK KENAPA BERHENTI LAGI SIH?????????,” kujambak rambutnya benar-benar frustasi sekarang.

“Jawab dulu donk pernyataan cintaku!.”

” AAAAAAAAAAAHHHGHHHHH I LOVE U TOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOO FFFFFFFUUUUUUUUUUUCCCCCCCK.”

” Hi hi hi gitu donk!,” Amber mengocok cepat mengeluarkan muatan dalam kejantananku yang sudah overload.

Aku berteriak lantang bersamaan derasnya ledakan cairan klimaks dari ujung batang kejantanan. Amber mengurutku begitu cepat namun lembut membantu keluar seluruh cairan kenikmatan begitu deras. Rasanya tiga kali beruntun batang kejantananku tak henti menyemburkan cairan putih kental yang hampir seluruhnya membasahi tangan Amber.

Saat aku sedang mengatur nafas berusaha mengembalikan kesadaran masih berbaring di rumput sekonyong-konyong aku mendengar suara derap langkah manusia menuju ke arah kami. Panik, takut ketahuan segera kuangkat tubuh bugil Amber yang berbaring disebelahku dan kugendong cepat masuk ke halaman bungalow. Tenagaku yang sebelumnya sudah kosong makin kosong akibat ketakutan.

Setibanya di dalam bungalow segera kumenuju kamar melemparkan tubuh bugil Amber ke atas ranjang. Aku sendiri segera menyusul rebah di ranjang dalam keadaan begitu pusing. Kepalaku mendadak migrain akibat ledakan energy tak terkendali selama beberapa menit barusan, baik pada saat ejakulasi maupun saat ketakutan terlihat orang.

” Hi hi enak gak Budi??,” hebatnya Amber terus saja tertawa cekikan meski sekarang matanya terpejam tak bisa menahan kantuk.

” Aku pusing Amber…sangat pusing…” kupegangi kepalaku. Bumi seperti berguncang hebat selama beberapa detik. Lantai bungalow naik setengah dan atapnya turun setengah. Aku mengalami gempa lokal dan gempa itu mengantarku menuju kegelapan misterius menuju dimensi lain.

***

Terbangun dari kepusingan aku telah berada di sebuah kotak berbentuk Octagon delapan sisi yang memiliki kerangkeng besi di sekitarnya. Kuperkirakan luas kotak Octagon ini berukuran lebih dari 7 meter persegi dan memiliki tinggi kerangkeng hingga lebih dari enam kaki. Benar-benar menyerupai Seperti kandang singa kotak Octagon di depanku. Masalahnya aku sama sekali tidak tau mau ngapain disini.

” Selamat datang!”

Di tengah ring, seorang laki-laki ceking mengenakan baju bela diri putih-putih tengah duduk bersila bersikap penuh hormat. Aku segera bangkit melihat siapa gerangan dia dan ternyata lagi-lagi harus terkejut karena dia rupanya adalah Meneer Johan Cryuff. Lucu juga melihatnya sekarang mengenakan baju bela diri yang dipinggangnya telah melingkar sabuk hitam tanda seorang Master. Tampaknya sekarang Meneer Johan tengah berperan sebagai Master bela diri.

” Berdiri!,” ia menyuruhku mengikutinya ” Bersiap,” ia berdiri tegak ” Sikap hormat “Ritsurei”,” Meneer melanjutkan bersikap hormat dengan kedua kaki dirapatkan lalu membungkuk 30 derajat. Ia mempertahankan posisi ini begitu lama lantas kembali ke posisi tegak.

Aku mengikuti setiap sikapnya penuh kebingungan.

” Ini adalah seni bela diri “Judo”. “Jalan yang halus” karena memiliki dua filosofi Seiryoku Zenyo dan Jita Kyoei.”

” Meneer maksudku Master maaf sebelumnya,” aku kembali menunduk mengikuti tingkah lakunya ” tapi aku tak bisa Bahasa Jepang.”

” Seiryoku Zenyo berarti usaha efisien untuk mendapat hasil maksimal dan Jita Kyoei berarti manfaat bagi diri sendiri dan orang lain.”

” Tapi apa gunanya belajar Judo bagiku?? aku seorang pemain bola Master??.” Meski bertanya pertanyaan bodoh aku bisa sedikit mencari titik temu antara Seiryoku Zenyo dengan metode lariku bersama Alfred.

Master Johan maju mendekatiku. Tampaknya ia kesal karena sering diinterupsi.

” Pegang kerah baju Judogiku!,” aku mengikutinya memegangi kerah bajunya.

” Bukan begitu lihat ini!,” Meneer membawa tubuhku lebih merunduk lantas mencontohkan bagaimana tangan kanan dan kiri harus memegang.

” Sekarang coba banting aku!.”

Aku mencoba membanting. Tapi bingung caranya. Posisi Meneer cukup jauh sekitar satu langkah di depanku. Mencoba sekuat tenaga menggunakan kedua tangan tak bisa menggoyahkan tubunya karena kuda-kudanya tertanam begitu kokoh.

” Banting!.”

Tanganku terus berusaha menggoyahkan bajunya sekuat tenaga tapi tak bergerak juga.

” Gini caranya!,” Meneer Johan tiba-tiba berputar pivot menumpu pada kaki kanannya, berputar 180 derajat cepat sekali melepaskan pegangan tangan kanannya dari bajuku kemudian mencengkram tangan kananku yang masih terentang lurus lalu menggunakan tenaga pinggang mengungkitku naik ke bahunya dan menjatuhkanku ke matras.

” GUBBBBBRRRAAAAKKKK UUUUUUGGGGHHHHH,” aku terbanting keras.

” Ini “Seoi Naga” bantingan pinggang.” katanya begitu dingin melihatku jatuh dan meringis kesakitan.

” Posisiku sebagai Tori yang melemparmu sebagai Uke tidak terjatuh.”

” Maksudmu apa Meneer??. Tori?? Uke??”

” Berdiri!.,” keras Master memerintah ” Pegang lagi baju Judogiku!.”

Kami kembali berdiri saling merangkul baju Judogi masing-masing.

” Kalo aku membanting maka aku Tori. Aktif. Kalo kamu terbanting maka kamu Uke. Pasif. Mengerti??.”

Aku mengangguk dan Meneer langsung mencondongkan tubuhnya ke belakang. Kaki kirinya lurus membantu tumpuan kaki kanan yang kokoh menyentuh tanah. Tubuhnya yang telah condong ke belakang membuat seluruh bobot gravitasi berpindah kepada diriku yang sekarang begitu mudah diterbangkannya ke belakang.

Aku terguling ke depan tapi Meneer juga terjatuh.

” GUUBRRRRRRRRRRAAAAAK UUGGGGGGGGHHHH.”

” Ini bantingan “Uki Waza”. Posisiku sebagai Tori yang melemparmu sebagai Uke terjatuh. Sekarang tugasmu untuk mewaspadai baik Tori maupun Uke yang bisa memanfaatkan momen jatuhnya dan bisa kembali menyerang!”

” Apa?? apa??? pelan-pelan. Aku tak mengerti…”

” Itulah seni Gegenpressing!” Meneer Johan tiba-tiba menukik membicarakan sepak bola.

” Master penjelasan Gegenpressing penting, aku sangat membutuhkannya sebelum melawan Liverpool. Tapi istilah Judo membuatku bingung.” Berusaha kudekati dia agar mendapat penjelasan rinci tapi saat sedang kudekati kerangkeng Octagon tiba-tiba berubah.

Terlihat di mataku dua orang petarung wanita tengah serius bertarung di tengah lautan manusia yang menyaksikan disekitarnya. Kedua petarung ini wanita blonde kulit putih dan salah satunya kuingat betul wajahnya.

” Master dia bukannya Ronda Rousey??.”

Posisi kami tepat berada di tengah ring tapi tak ada seorang pun yang menyadari kehadiran kami. Kulihat Ronda Rousey terus mengejar lawannya begitu agresif namun tak ada hasil yang pasti. Wanita blonde lawannya berukuran sedikit lebih tinggi begitu lincah menjaga jarak mewaspadai upayanya yang terus berupaya menutup jarak.

” Lawannya bernama Holly Holm seorang petinju. Dia seorang ibu rumah tangga berumur 34 tahun sekarang.”

” Hahhh seorang ibu rumah tangga bertarung di atas ring??.”

Meneer mengajakku memperhatikan baik-baik posisi Holly Holm ” Sama seperti ketika aku mengajakmu melihat Ajak vs Inter kuminta kamu jangan terpengaruh oleh permainan Ronda Rousey, Sang Juara, tapi perhatikan baik-baik Holly Holm! Lihat kaki mananya yang ditaruhnya di depan??.”

Kulihat baik-baik kedua kaki mereka yang rupanya sama-sama memajukan satu kaki di depan ketika bertarung sebagai tumpuan.

” Kaki kanan Meneer.”

” Kamu tau artinya??.”

” Tidak”

” PLAAAAAAAAAAAAAAAKKKKK”

” Meneer tapi aku benar-benar tak tau. Alasan mereka memajukan satu kaki pun aku tak tau” aku memprotesnya keras sekarang.

” Holly Holm adalah seorang petarung Southpaw!”

Apalagi itu? Apa semacam kartun. Gumamku

” Kuyakin kamu juga tak tau apa itu Southpaw,” Meneer melanjutkan.

Aku menggangguk cepat.

” Southpaw adalah gaya petinju kidal.”

Aku memperhatikan baik-baik. Benar juga sedari tadi Holm hanya memancing Ronda menggunakan tangan kanan, pukulan serta tendangan terbaiknya yang membuat “Rowdi” kebingungan berasal dari sebelah kiri.

” Sama sepertimu yang sebenarnya pemain kidal tapi bisa menyembunyikan kekidalanmu, Holly Holm adalah petinju kidal yang tampaknya tak disadari oleh Ronda Rousey.”

Meneer mengajakku kini memperhatikan raut wajah Ronda yang tampak bernafsu mengejar Holm.

” Lihat dia sekarang begitu emosi karena setiap upayanya mendekati Holm terhalang oleh sapuan dari sisi tubuh sebelah kirinya. Sampai sekarang Ronda tidak menyadari bahwa kekuatan Holm ada di kiri dan petinju kidal memiliki pukulan yang ” tak terlihat”.

” Meneer……”

Sebelum aku memprotes Master Johan sudah menutup mataku sebelah kanan.

” Keterbatasan perspektif!,” ia menekankan kalimat itu ” manusia memiliki keterbatasan ini. Kita semua menyukai apa pun yang sama dengan kita. Sebaliknya kita membenci apa pun yang memiliki perbedaan dengan kita. Misalnya kamu seorang petinju tangan kanan biasanya kamu hanya mau melihat lawanmu dari sudut yang sama denganmu yaitu sebelah kiri dari matamu yang merupakan bagian tubuh sebelah kanan.”

Meneer masih menutup sebelah mataku.

” Sekarang,” ia membuka tutupan tangannya ” bagaimana jika pukulan datang dari kiri, sisi kuatnya petinju kidal,” Meneer menghantamku cepat. Walau aku sudah bisa melihat keterbatasan prespektif membuatku terlambat menyadari datangnya pukulan kirinya yang seharusnya bisa dilihat mata kanan.

” GUBBBRAAAKKKK,” ,meski aku hanya jatuh sambil terduduk , tidak jatuh seluruh badan seperti di hantam jurus judo, kepalaku pening berputar-putar.

” Efek pukulan dari kiri menjadi lebih memusingkan karena biasanya prespektif mata kita berusaha menangkap apa yang dilewatkannya saat tadi menerima pukulan! sekarang kamu perhatikan lagi duel ini!.”

Aku kembali mengamati Ronda yang tak henti mengejar lawannya sedangkan Holly Holm terus menghindar. Sembari menghindar Holm menyelingi memukul atau menendang secara teratur membuat pertahanan Ronda yang terus meringsek sediki demi sedikit menjadi terbuka.

” Amati baik-baik peristiwa di awal babak kedua ini!.”

Meneer memintaku melihat sisi kiri tubuh Holly Holm yang sedang diburu Ronda.

Kepala Ronda maju masuk ke dalam mencoba memukul. Holm menggunakan foot work tinjunya menghindar menyamping lagi-lagi sambil memasukkan tangan kirinya menghantam sisi kiri pipi Ronda.

” KETERBATASAN PRESPEKTIF! Kamu lihat pukulan Holm terlihat tak keras tapi Ronda tadi bergerak maju dan tak melihat datangnya pukulan dari arah mata kanan. Secara prinsip, yang seharusnya dikuasai Ronda begitu baik sebagai pemegang Sabuk Hitam Dan 4 Judo, ialah Seiryoku Zenyo, pukulan Holm yang tidak terlalu keras menjadi maksimal efek kerusakannya karena dibantu gravitasi tubuh Ronda yang maju dan tak melihat pukulannya datang.”

Betul saja kulihat Rowdi Ronda Rousey seketika terjerembab jatuh ke depan akibat efek pukulan tangan kiri Holm. Tampak sangat kaget karena jatuh, Ronda segera memutar badannya sebelum…….

” JDDDDDDAAAAAAAAAAAKKKK.”

Kaki kiri Holm masuk menghantam telak ke sisi kanan wajahnya.

” Singkat cerita KETERBATASAN PRESPEKTIF KEDUA MENJATUHKANNYA,” Meneer menjauhkanku dari Octagon tampaknya tak tega menyuruhku harus menyaksikan kejatuhan wanita yang baru saja kukenal. ” Ronda Rousey wanita paling berbahaya di muka bumi jatuh KO di pertandingan UFC ke 193 di Stadion Ettihad tanggal 15 november 2015. Kekalahan pertama sekaligus paling memalukan sepanjang kariernya.”

” Hahhh?? pertandingan ini berlangsung di Manchester setahun yang lalu kenapa aku tak tau??.”

” Bukan Stadion Ettihad yang di Manchester bodoh! pertandingan ini berlangsung di Stadion Ettihad Melbourne.”

” Oooooooooooooow,” aku menjawab seperti orang blo’on.

” Nah yang membuat kamu terlihat bodoh sekali dimata temanmu adalah ; kamu tidak tau bahwa partai Rematch diantara mereka berdua akan diadakan seminggu lagi di Stadion Ettihad-Manchester.”

” APA?????????????.” sekarang aku betul-betul terkejut.

” Menurutmu Ronda bisa menang??,” Meneer tiba-tiba bertanya.

Aku menggeleng tak tau jawabannya.

” Bila kamu bertarung sebagai pejudo menghadapi seorang petinju kidal apa yang akan kamu lakukan guna mengatasi keterbatasan prespektifmu??.”

” Aku bahkan bukan pejudo dan petinju Meneer.”

” Menghadapi Gegenpressing adalah seperti kamu pejudo menghadapi lawan petinju kidal yang boleh menggunakan kakinya.”

” APAA????????????????????.” aku terkejut luar biasa mendengar kisi-kis datang di ranah yang tak kukuasai.

Menggaruk-garuk kepala seperti orang bodoh aku menjadi sangat-sangat ling-lung. Biasanya Meneer mengajakku ke lapangan bola menunjukkan contoh pertandingan yang mudah dimengerti. Sekarang dia menggunakan contoh kasus Judo, ilmu bela diriny UFC serta Ronda Rousey dan Holly Holm yang tak dapat kumengerti.

” Kamu lihat ini,” lagi-lagi Meneer bersikap aneh. Dia membentuk jari telunjuk dan jempolnya membentuk huruf L. Kemudian dia ciumi celah punggung tangannnya yang membentuk sudut siku-siku lalu berlari penuh kegembiraan mengelilingi Octagon. Dibentangkan tangannya lebar kemudian merunduk menggunakan dua betisnya meluncur seperti marayakan gol.

” HA HA HA AKU TAU HA HA HA LUIS SUAREZ,” aku terawa terbahak-bahak menyadari kemiripan gayanya sekarang dengan penyerang Barcelona itu.

” Kamu tau,” dia bangkit lagi kini kembali mencium-cium tangannya yang dua jarinya membentuk huruf L. ” Pada diri Luis Suarez terletak keunggulan Judo dan Gegenpressing.”

” HA…….,” senyumku terhenti seketika mendengar petunjuk berikutnya yang sama sekali tak jelas. Meneer terus berlari berputar-putar meniru selebrasi gol Suarez meninggalkanku hanya bisa menggaruk kepala. Tak kuperhatikan lagi Meneer yang sekarang telah berada di belakangku.

” Dan pada Luis Suarez terletak pula kelemahannya GRAAAAAAAAAAUUKKKKKK.”

” AAAAAAAAAAAAAAAAAGGGGGGGGGHHHHHHHHHHHHH.”

Tak kusangka Meneer menggigit punggungku begitu keras. Gigitannya rasanya tak kalah pedih menandingi gigitannya Luis Suarez.

***

” HAAAAAAAAAAAAAAAAHGGGGGGGGGHHH.”

Gigitan Menner Johan membuatku menjerit tersadarkan dari mimpi. Langsung kuberanjak ke cermin melihat punggungku yang kuyakin berbekas gigi. Ternyata tidak. Untunglah semua hanya mimpi. Mimpi yang mengerikan tapi juga memiliki beberapa petunjuk.

Kuambil kertas di dekat telpon hotel berikut ball point kemudian kutuliskan apa saja yang masih kuingat guna menghadapi Gegenpressing. Amber masih tidur terlelap. Kasian dia mabuk berat sepertinya. Nanti pada waktu dia bangun rasa mual dan pusingnya pasti lebih menjadi.

1. Waspadailah “Tori” maupun “Uke” yang bisa memanfaatkan momen jatuhnya dan bisa kembali menyerang. Itulah seni Gegenpressing.

2. Bila kamu sebagai pejudo menghadapi seorang petinju kidal apa yang akan kamu lakukan guna mengatasi keterbatasan prespektifmu??. Gegenpressing adalah seperti kamu pejudo menghadapi lawan petinju kidal yang boleh menggunakan kakinya.

3. Pada diri Luis Suarez terletak keunggulan Judo dan Gegenpressing. Dan pada Luis Suarez terletak pula kelemahannya.

Mengingat gigitan Meneer sesaat setelah mengucapkan petunjuk terakhir membuatku merinding. Petunjuk yang benar-benar aneh karena aku bukanlah seorang pejudo dan sama sekali tak tau menau mengenainya.

Barangkali Kak Chita tau.

” BREEEEEEEET BREEEEEEEEEEET BREEEEEEEEEEET.”

Ajaib tepat di waktu aku memikirkannya Kak Chita menelpon.

” Halo Kak…apa kabar..maaf ya kalo ada ucapan Budi yang salah kemaren….. maksud Budi juga bukan seperti itu Kak….,” aku mencoba meluruskan insiden kemarin ” APA KAK CHITA MAU KE NORWICH??,” aku senang sekaligus terkejut mendengar kabar darinya.

” KAPAN KAK??? MINGGU DEPAN?? BERSAMA KOMPAS TV….. AKU SANGAT-SANGAT SENANG SEKALI KAK….. NANTI KUJEMPUT DI BANDARA.”

Ucapanku mendadak jadi keras ketika berbicara tak bisa menyembunyikan rasa histeris dari dalam diri. Rasa histeris karena hendak menemui pujaan hati sekaligus rasa histeris karena membayangkan bagaimana caraku menyembunyikan hubunganku dengan Amber.

***

Seperti yang dijanjikan, aku mendatangi kamp latihan Ronda Rousey pada hari rabu siang di sela-sela istirahat latihan. Aku beruntung karena rupanya Ronda memilih Norwich sebagai base camp latihannya dengan alasan ketenangan lokasi serta keramahan orang-orang Norwich. Lokasi base camp Ronda terletak tak jauh dari kawasan Norfolk yang berdekatan dengan kawasan keraton Sandringham. Lokasi ini memang jarang dilalui orang sehingga sangat bagus bila mengharapkan ketenangan dan fokus berlatih.

Lokasi yang dipilih Ronda juga sangatlah ideal kerana memilih bangunan GOR klasik yang ternyata telah dibookingnya selama tiga bulan terakhir. Meski sepi kehadiran mantan juara wanita UFC membuat orang mengantri ingin melihat latihannya di tempat olahraga yang sebelumnya jarang dikunjungi. Dalam hati aku mengacungi jempol kepada keberanian tim Ronda Rousey memilih GOR ini karena citranya yang angker. Selain terkenal akan ketenangannya, wilayah Norwich memang juga terkenal akibat keangkerannya. Banyak film documenter yang menceritakan penampakan hantu abad pertengahan di Inggris mengambil lokasi di kastil-kastil Norwich.

” Hei cowo Asia!.” Bodyguard Ronda berkulit hitam jangkung yang pernah kutemui rupanya melihatku. ” Masuklah Bos sudah mengunggumu!,” ujarnya dengan nada Afro Amerika yang khas.

Aku masuk ke dalam lorong Gor yang dulunya aktif digunakan untuk olahraga senam, tenis meja hingga tinju ini. Suasana bangunan tua berikut aroma aneh namun menimbulkan rasa tersendiri mewarnai perjalananku menuju bagian dalam gedung. Tim Ronda begitu cekatan mempermak gedung ini tanpa menimbulkan kerusakan berarti. Interior gedung bisa didesign oleh mereka menyerupai panggung Octagon lengkap berikut besi menyerupai teralis besi yang akhirnya kuketahui terbuat dari bahan aman yang tidak akan mencelakai para petarung.

Pada tepi kanan panggung Octagon tersedia beragam peralatan dasar fitness termasuk alat lari tread mill. Sebaliknya di tepi kiri tersedia beragam pendukung aktifitas bela diri macam sansak, sarung tinju hingga helm pelindung wajah. Masing-masing tepi tempat berlatih memiliki tenaga professional khusus yang memastikan kerapihan dan kebersihannya setiap waktu. Lebih penting adalah bagian tengah persis di atas pagar Octagon tergambar spanduk besar Ronda Rousey memanggul sabuk juara yang pernah dimilikinya lebih dari setahun lalu. Jelas terasa Tim Ronda hendak mengembalikan kejayaan mereka kembali.

” JDAAAKKK JDAAAKKK JDAAAKKKKKKK.”

Ronda sedang berada di tepi kiri. Ia tengah berlatih menendang dan memukul sansak besar berwarna hitam. Laki-laki besar di belakangnya yang kudengar memberikan instruksi sambil memegangi sansak pastilah pelatihnya Gokor Chivichyan orang Armenia. Gokor merupakan ahli Judo Armenia, master “pitingan” mematikan dan pakar mix martial arts. Tubuhnya kekar atas – bawah. Lehernya saja kulihat begitu berotot menunjukkan betapa kuatnya orang ini.

” Sini orang Asia! HUUUUGHHH…HUUUGGHHHH.”

Ronda memanggilku sambil meneruskan sesi menendangnya.

Kudekati dia. Sekarang tidak lagi terasa santai seperti sebelumnya. Lebih tepatnya aku kini tegang menghadapinya mengingat statusnya sebagai mantan juara UFC yang termasuk paling buas.

” Mau gak gantikan Gokor sebentar memegangi sansakku.” Ronda menawariku sesuatu yang, kurasa, menurutnya merupakan sebuah kehormatan bagi orang awam.

” Tentu…” cukup gemetaran juga aku menyambut tawarannya.

” Gokor, ini orang Asia yang kuceritakan.”

” Hai! sssssen..ang ber…temu anmu.” Gokor menyalamiku dan rasanya tanganku juga mau ditelannya habis-habisan. Nada bicaranya sama sekali tak jelas. Sepertinya dia terlalu banyak menerima pukulan semasa muda hingga mengganggu syaraf bicaranya.

” Nice to meet you.” balasku berusaha memprediksi apa yang diomongkannya.

” Peg…ng san…sakk..”

” Sure.” aku membaca gerakannya yang memberiku sansak jadi tau apa yang diomongkannya barusan.

Ronda melenturkan otot-ototnya dahulu. Tubuhnya semok. Ya semok berotot. Kadar lemak tubuhnya pasti sudah rendah sebelum masa pertandingan karena otot-otot di perutnya terlihat jelas. Tapi meski otot di perutnya terlihat, tubuhnya masih tetap semok. tipe tubuh wanita yang kusukai karena terlihat begitu sexy. Kakinya pun yang hanya mengenakan spandex terlihat begitu montok. Rasa ditendang oleh kaki semontok ini pasti menarik.

” JDAAAAAAAAAAAAAKKKKKKKKK.”

Benar saja, tubuhku seakan mau terbang menerima tendangan pertamanya. Seluruh beban tubuhnya begitu sempurna menumpu menghadirkan kualitas tendangan yang amat keras. Aku seorang pemain bola. Biasa menggunakan kaki sehingga mengetahui benar kualitas sebuah tendangan.

” JDAAAAK JDDAAAAAAKK JDAAAAAAAK JDAAAAAAAAAK.”

Ronda menendang lagi empat kali berturut-turut membuatku harus menahan nafas kerana kekuatan tendangannya terasa menembus sansak dan menghantam diriku.

” Gimana orang Asia tendanganku?? kamu pemain soccer pasti bisa mengukur kekuatan tendangan.”

Betul sesuai perkiraanku dia mengundangku menyaksikan latihannya hanya untuk memperoleh penilaian kualitas tendangannya.

” Kamu bukan atlet kidal Ronda.”

” BANGSAT apa maksudmu sama kidal??,” tiba-tiba dia mendelik kepadaku begitu mengerikan.

” Maaf..maaff….aku cuma memberi penilaian sesuai permintaanmu.”

Sesaat tadi aku sangat takut menghadapinya. Ada aura kemarahan besar menyelimutinya. Sangat besar hingga bisa menghancurkan dirinya sendiri.

” Maafkan aku orang Asia…kamu tau…sekarang aku agak sensitive sama atlet kidal.”

” Holly Holm.”

Ups aku kelepasan lagi. Rowdi menatapku lekat-lekat seperti ingin menonjok tubuhku dari kepala sampai kaki.

” Jangan kamu coba sebut namanya lagi di tempat ini!,” telunjuknya menudingku.

Aku menatap bingung tak tau bagaimana cara menghadapi wanita ini.

” Ayo teruskan penialainmu tadi,” anehnya ia sekarang tersenyum ” jujurlah bagaimana tendanganku!.”

” Sebelumnya maaf kalo aku salah,” aku harus hati-hati bicara ” tapi sebagai atlet tangan kanan tendanganmu masih kurang keras.”

Ronda Rousey menatapku lurus. Matanya tepat menyorot mataku.

” Menurutku….kalo boleh melanjutkan..”

Ia menggerakkan tangannya agar aku meneruskan.

” Kamu harus mengoptimalkan teknik Judo keahlianmu dan bukannya malahan beralih ke…tinju atau kick boxing.”

Ronda kembali tersenyum aneh.

Dia mengangguk seakan menyetujui sebagian pendapatku tapi gelengannya sesudah itu mengutarakan secara jelas ketidak setujuan di sebagian besarnya.

” Gokor, kita mulai saja sparringnya sekarang, aku ingin cowok Asia ini melihat teknikku sebenarnya.”

” Ka..mu …kin??.”

” Sure! bring them in!,” ia menaiki tangga Octagon ” lihat ini cowo Asia!”

Aku termangu tak mengerti apa yang mereka bicarakan sebenarnya. Yang jelas Ronda melangkah menuju Octagon dan aku dimintanya melihat di bangku penonton.

Dari tepi kanan tempat peralatan gym berada keluar tiga cowo bertubuh atletis-atletis yang di tangannya terbelit bantalan tangan. Tampaknya mereka siap berkelahi tapi sama siapa??. Apa Ronda mau dikeroyok sama mereka bertiga?. Setelah kuamati tinggi tubuh mereka rata-rata sama denganku yang 184 cm, bila semuanya masuk ring, Ronda yang hanya bertinggi 170 cm jadi terlihat pendek sekali.

Mereka berempat bersamaan memasuki ring. Gokor berada di luar Octagon tak berusaha masuk kedalamnya.

” Pak,” panggilku kepada asistennya Gokor yang kuharap bisa berbicara lebih baik darinya. ” Apa gak apa mereka sparring?? Ronda kenapa gak mengenakan penutup kepala?? ini sudah seminggu lagi lho sebelum pertarungan.”

” Gak apa cowo Asia,” untunglah bahasa Inggrisnya jelas ” kamu pikir Ronda Rousey akan digang bang oleh tiga laki-laki itu, kenyataannya Rondalah yang akan menggang bang mereka semua.

” PRIIIIIIIIIIIIIITTTTTTTTTTTTTTTTT.”

Gokor meniup peluit. Ketiga laki laki yang bertelanjang dada hanya mengenaklan celana spandex mulai memasang kuda-kuda hendak menyerang. Ronda tetap di sikap kuda-kuda petinjunya dengan kaki kiri di depan menunjukkan ia atlet tangan kanan. Ia tidak memeragakan teknik Judo seperti yang kuharapkan. Mereka saling menjaga jarak belum ada yang memulai serangan hingga……

” BLEEEEEEEEEETAAAAAAAAK.”

Ronda memulai duluan. Ia kejar laki-laki di sebelah kirinya. Terlihat seperti hendak meninju namun kemudian berputar pivot berusaha melakukan bantingan. Bertumpu pada kaki kemudian naik ke pinggangnya, Ronda menggoyang sebelah kaki si laki-laki, mengaitnya hingga hilang keseimbangan kemudian begitu cepat memelintir tangannya. Perpaduan kaitan di kaki dan dorongan seluruh tubuh pada tangan yang terpelintir berhasil merebahkam si laki-laki besar ke kanvas.

Ronda ikut jatuh ketika menganvaskan si laki-laki tapi tangannya yang telah mengait membuatnya begitu cepat mengontrol keadaan. Dia tetapkan kaki kanan menopang tubuhnya lantas dia berbalik berusaha mematahkan tangan si laki-laki melalui kuncian yang memuntir tangan ke belakang punggung. Laki-laki malang itu telah mengetahui keberhasilan Ronda menguncinya dan nasibnya bila memaksakan diri meneruskan pertarungan.

” TAAAPP…….TAAAAPPPPP.”

Double tap menandalkan si laki-laki malang telah menyerah.

” PRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRIIIIIIIIT.” Gokor meniup peluit panjang menyuruhnya keluar.

Ronda bangkit kini berhadapan melawan dua laki-laki lain. Ia langsung menyodok laki-laki yang di kanannya. Melihatnya bergerak ke arah temannya, teman disebelahnya berusaha merenggut Ronda. Sayang dari arah samping Ronda berhasil menarik tangannya. Ditarik tangan itu keras menggunakan bantingan samping hingga si laki-laki terjatuh lagi-lagi dengan tangan yang masih dipegangi Ronda yang langsung rebah berusaha mematahkan tangan si laki-laki yang telah menjadi miliknya sepenuhnya. Tangan si laki-laki diangkat Ronda terpuntir mengacung ke atas sedang hidungnya telah mencium kanvas.

” TAAAAP TAAAAAPP.”

Double tap beriukutnya. Dua orang terkalahkan. Tinggal satu orang lagi. Dari posisi terduduk, Ronda bergerak cepat menutup jarak menghadapi si laki-laki tersisa yang telah tampak ciut nyalinya kemudian menubruknya dalam sekali tabrak menggunakan dua tangan, menindihnya setelah dia terjatuh lantas mengunci lehernya dengan kuncian dengkul yang menekan leher.

” TAAAAPPPPP TAAAPPPPP.”

” PRRRRRRRRRRRRRIIIIIIIIIIIIIIIIIITTTTTTT.”

Aku melongo melihat Ronda Rousey menghabisi mereka semua dalam waktu…dibawah dua menit.

” PLOOOKKK PLOOOOKKK PLOOOOOKKKKKKK.”

Begitu takjub aku bertepuk tangan sambil berdiri menghormati kemampuan atlet wanita yang luar biasa ini.

***

” Tu….Rang…gi…”

Gokor berteriak mengangkat satu telunjuk tangannya ketika dua orang diungsikan keluar ring oleh tim medis karena mengalami cidera.

Dari nada bicaranya yang tak jelas aku menduga Gokor mengatakan satu orang lagi lawan sparring Ronda hari ini.

” Gimana orang Asia??.” Ronda mengayunkan tangannya kepadaku mengajakku mendekat.

” Sangat luar biasa…aku belum pernah melihat seorang wanita bisa mengalahkan tiga orang laki-laki begitu cepat.”

” Bagaimana menurutmu aku sudah bisa mengalahkan si jalang itu???.” Dia sangat to the point.

” Mmmmm,” aku ragu-ragu menjawabnya ” belum..Holm masih…masih lebih unggul darimu.”

Kembali Ronda menatapku tak percaya. Tampaknya ia salut akan keberanianku yang tak takut menyampaikan kebenaran di hadapannya.

” Alasanmu apa???.”

” Aku belum pernah melihatmu melawan seorang petinju kidal Ronda. Southpaw”

Lagi-lagi dia tersenyum aneh.

” Southpaw yang kamu maksud itu….,” dia berusaha menjelaskan sesuatu.

” PRIIIIIIIIIIIIIIIIIITTTTTTTTTTTTTTTTTTTT.”

Gokor meniup peluit tanda partai sparing berikutnya sudah siap dimulai mengejutkan kami berdua.

Ronda berbalik menghadapi lawannya dan seketika sangat terkejut. Sosok seorang wanita bertubuh lebih tinggi sedikt darinya, berambut blonde, serta meletakkan kaki kanannya di depan telah siap menantinya. Penampakan lawan tanding yang sangat mirip Holly Holm membuatnya menatap penuh amarah. Dia kini siap bertarung secara brutal. Aku bisa merasakannya menghadapi petinju Southpaw.

” Pak…,” aku memanggil lagi asistennya Gokor ” apa tidak beresiko mencarikan sparing partner orang yang sangat mirip dengan Holly Holm??.”

” Tidak! tenang saja ada Gokor.”

” Maksudmu gimana??.”

” Kalo Ronda lepas kontrol Gokor bisa mengendalikannya.

” PRRRRRRRRRRRRRRIIIIIIIIIIIIITTTTTTT.”

Mereka mulai bertarung. Gokor si pelatih tak jelas bicara pasti menyiapkan sparing parter mirip Holly Holm sebagai ujian teakhir bagi anak asuhnya.

Ronda maju menyerang berusah memulai serangan mematikan. Kedua tangannya berusaha merenggut tubuh si sparring partner tapi berhasil dihalau melalui pukulan jab lurus. Begitu lincah lawan bertandingnya melakukan foot work menjauh memperluas jarak yang telah dipersempit Ronda.

Tarikan nafas Ronda menunjukkan kemuakan teramat besar akan gaya bertanding yang telah mengalahkannya setahun lalu ini. Berusaha lagi ia mempersempit jarak mencari titik pivot bantingan tapi kemampuan dobel cover lawannya membuat upaya mempersempit jarak kembali gagal. Ronda dipaksa berputar-putar ring mengejar lawannya.

” JDAAAAKKKK.” pukulan kiri masuk ke kepala Ronda. Ia terlihat kehilangan keseimbangan. Goyah si sparing partner tidak bersuha mengejarnya.

Keterbatasan prespektif.

Kelamahan Ronda Rousey masih terlihat. ketika posisinya dipaksa mencari jarak mengejar lawannya ia selalu membuka sendiri pertahanannya. Tadi saja dia terlalu fokus berusaha menutup ruang sehingga tak melihat kedatangan tangan lawannya.

Tak dikejar lawan membuat Ronda bisa memulihkan kesadarannya. Ia kembali bangkit langsung maju berusaha menutup ruang. Masih dengan luapan amarah serta kekesalan yang tak terkira.

Kaki kirinya kini maju sambil menekuk lebih dalam dan posisi tubuh yang lebih condong. Sparring partnernya berusaha kembali menjaga jarak melontarkan jab dan pukulan-pukulan lurus sekali-sekali disertai tendangan lurus.

” PRRRRRRRRRRRRRRRIIIIIIIIIIIIIITTTT.”

Peluit dibunyikan oleh Gokor penanda babak pertama berakhir dari tiga ronde yang dijadwalkan.

Gokor sendiri lucunya memberikan peluitnya kepada asistennya dan dia ngeloyor pergi keluar.

” Mau kamana dia??,” tanyaku.

” Biasa mau ngerokok di luar. Di dalam sini Ronda sama sekali tak mau mencium asap rokok.”

” Tapi gimana kalo Ronda lepas kontrol??”

” Katanya tenang karena Ronda masih kesulitan menghadapi petarung kidal. pertarungan ini akan berlangsung lama dan memang hanya diatur agar Ronda bisa menghadapi pertarungan lebih dari satu ronde.”

Gokor keluar nyantai saja menyusuri lorong sambil mempersiapkan rokoknya.

” Ayo cepat kamu tiup peluitnya brengsek! aku sudah tidak tahan,” Ronda berteriak tidak sabar.

Asisten pelatih Gokor bingung tak tau harus melakukan apa.

” CEPAT ATAU AKU PECAT KAMU SEKARANG JUGA, DASAR KEPARAT,” Ronda Rousey mengamuk

” PRIIIIIIIIIIIIIIIITTTTTTTTTTTTTTTT.”

Pertarungan dimulai lagi padahal Gokor baru mulai merokok di luar.

Tanpa memberikan waktu istirahat bagi lawan bertandingnya Ronda maju kembali mengejar berusaha mempersempit jarak. Lawannya yang terlihat masih mengatur nafas tergesa-gesa mengatur irama menghadapi seorang macan betina yang lepas dari kandang. Berusaha keras lawannya melakukan foot work menghindari Ronda. Sayangnya foot worknya telah terbaca sempurna. Ketika ia hendak bergerak ke kiri Ronda telah melihatnya, kemudian menutup jarak begitu sempurna.

Berhadapn begitu rapat, sparing partnernya berusaha melontarkan pukulan kanan.

” BAAAAGGGGG,” Ronda berhasil menahannya.

Pukulan kiri dilontarkan lagi.

” TEEEEEEEEEP SYUUUUUUUUUUUUTTTT.”

Kecapatan tangan Ronda berhasil melihat arah pukulan itu, menjinakkannya melalui kedua tangan lantas berputar bertumpu pada dua kaki membantingnya dari atas punggung.

” JDAAAAAAAAAAAAAAKKKKKKKKKKKK.”

Sparing partner terjatuh di kanvas.

Ronda selaku Tori tidak terjatuh. Ia jinakkan Uke yang terjatuh dan berusaha menonjoknya dengan kedua tangan. Begitu gesit ia mematahkan gerakan kedua tangan, mengunci keduanya dengan kedua kaki dan….

” JDDDDDDDDDDDDAAAAAAAAAAAKKKKKK CRRRRRROOOTTTTTTTTTT.”

Darah keluar menyembur dari wajah si sparing partner.

Percayalah saat ini aku melihat jelas wajah seorang pembunuh berdarah dingin tengah berusaha membunuh korbannya.

” PAK HENTIKAN! HENTIKAN PERTANDINGAN!.” aku berteriak menyadari bahaya yang terjadi.

” AKU TAK BISA…HANYA GOKOR YANG BISA…..”

JDAAAAAAAAAAAAAAAK CRRRRRROOOT. Pukulan kedua berhasil masuk.

” CEWE ITU BISA MATI DEMI TUHAN! SESEORANG CEPAT PANGGILKAN GOKOR!,” aku berteriak panik.

Asisten pelatih berlari panik meninggalkan ruangan. Kerumunan tenaga professional yang berada di sisi ring tak ada yang berani maju lebih jauh. Mereka hanya berani menyaksikan keganasan seorang manusia terhadap manusia lainnya tanpa berusaha mendekat.

Entah dari mana keberanianku berasal tapi aku melangkah maju menuju kandang singa. Melihatku membuka gerbang Octagon, para staf pelatih melihatku ngeri. Bagiku sendiri peluang mati wanita yang tengah ditindih Ronda begitu besar bila kebiadaban ini dibiarkan bertahan lebih lama lagi. Sekuat tenaga kini aku berlari berusaha melerai perkelahian antar dua wanita. Mendekati posisi mereka aku bersiap menghitung memperkirakan ketepatan sliding tekel.

” Satu….dua…,” hitungku saat menghitung langkah tumpuan ” TIGA…………..” aku melontar terbang menyiapkan tendangan gunting yang dengan perhitungan tepat akan tepat mengenai perut Ronda dan ‘” BEEEEEEEEEEEEG” diikuti kekuatan pinggang akan membuat kunciannya terlepas.

” GUUUUUBRAAAAAAAAAAKKK.” Rowdy terjatuh terlentang ia tak percaya nafsunya terhentikan olehku. Kakiku masih menjepit perutnya erat agar ia tidak melakuan serangan lagi pada si sparing partner.

” LARI!,” jeritku kepada wanita yang mukanya telah hancur berlumuran darah ” LARIIIIIIIII!.”

Mematuhiku ia memaksa dirinya berlari terhuyung-huyung ke luar Octagon.

” Ronda…C..” saat aku memandangnya, Rowdy melentingkan kepalnya kebelakang lalu secara cepat menaikkan kedua kakinya menghadirkan tekanan grativasi tersendiri yang di arahkan melalui kedua tangannya ” U…K…U…,” kakiku merasakan sakit karena tertekan. Kuncianku terbuka bahkan sebelum kata “cukup” berhasil terucap sempurna.

” ………P,” ketika huruf terakhir berhasil kuucapkan Ronda sudah merayap naik, menjejakkan lututnya di dadaku membuat sisi kiri tubuhku tak bisa bergerak. Dari posisi terlentang ia cepat sekali melakukan transisi serangan hingga sekarang telah berada dalam posisi woman on top.

” Yang bisa memanfaatkan momen jatuhnya dan bisa kembali menyerang. Itulah seni Gegenpressing.” sauara Meneer Johan tiba-tiba terngiang bersamaan raut muka wajahku yang panik siap dihajar sampai bonyok.

” JANGAAAN RONDAAAAAAA!,” aku menjerit memintanya berhenti.

” JDDDDDDDDAAAAAAAAAAAAAAAKKKKKKKKKKKKK.”

Tanganku yang kanan berusaha menepisnya tapi pukulan itu berhasil masuk ke mata kananku menghadirkan rasa nyeri teramat sangat. Meski sakitnya tak tertahankan aku harus mengakui transisi sikap bertahan menjadi menyerang dari seorang mantan juara UFC Ronda Rousey sangatlah cepat, mencerminkan secara jelas bentuk Gegenpressing.

” Kata orang bijak ;
Bergaul sama tukang ikan terkena amisnya
Bergaul sama tukang minyak wangi terkena harumnya
Bergaul sama wanita juara UFC terkena……..

” JDDDDDDDDAAAAAAAAAAAAAKKKKKKKKK.”

BERSAMBUNG