CONCHITA Part 4

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10

Cerita Sex Dewasa CONCHITA Part 4 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Cerita Sex Dewasa CONCHITA Part 3

FALSE NINE

Direct Red Card merupakan sebuah hukuman tegas yang diberikan kepada seorang pemain bola akibat melakukan suatu pelanggaran atau sikap tidak sportif tanpa harus mendapat kartu kuning terlebih dahulu. Di Stadion Emirates, Aku masih terpaku memegangi kepala seperti orang ling-lung. Reaksi pemain Norwich sendiri begitu spontan mengerumuni wasit setelah insiden berlangsung selama beberapa detik. Coach Neill juga tak mau ketinggalan memprotes keras di pinggir lapangan.

Sebagai pemain yang telah dilatih di Akademi Sepak Bola Norwich aku sudah hapal betul bilamana regulasi Direct Red Card akan dikeluarkan oleh wasit. Sesuai peraturan yang berlaku kartu merah langsung akan diberikan dalam tiga kejadian ; Satu, melakukan tindakan sengaja yang mencegah lawan mencetak gol saat peluang terjadi.

Dua, sikap sengaja melecehkan. Tiga, berkelahi atau meludahi pemain lawan. Menilik dari jenis pelanggaran yang kulakukan berarti wasit menghukumku karena dianggap melakukan tindakan sengaja yang mencegah Theo Walcott saat hendak mencetak gol.

Masalahnya tekelku tadi merupakan upaya menghalau bola secara bersih. Bolaku tidaklah fifty fifty atau setengah menyentuh bola – setengah menyentuh kaki Walcott namun mutlak menghantam bola. Ok aku melakukannya sambil meloncat dari belakang tapi jelas sapuanku mengenai bola. Theo Walcott boleh saja terjatuh meraung-raung akibat kehilangan keseimbangan tubuhnya sendiri. Aku sama sekali tidak bersalah atas kejatuhannya.

Yang menjadi masalah pastinya ialah sikap Walcott saat terjatuh. Ia terlalu berlebihan mengerang-ngerang begitu dramatis menunjukkan gesture kesakitan yang amat meyakinkan. Kuat dugaanku sikapnya saat terjatuh itulah yang akhirnya mempengaruhi keputusan wasit dan membuatku dikeluarkan dari lapangan.

Budi kamu lupa tentang hukum tak tertulis para pemain di liga professional ; mereka rela menghalalkan segala cara demi meraih kemenangan. Batinku sembari menarik nafas panjang.

Dari segi regulasi berikut penegakannya Inggris tentu berbeda dari Negaraku apalagi perihal menyikapi keputusan wasit. Disini setiap keputusan wasit bersifat mutlak tak dapat diganggu gugat. Pemain boleh memprotes tapi harus menunjukkan sikap yang baik dan tidak boleh sama sekali menunjukkan sikap agresif apalagi mengancam wasit.

Sikap penegakan sportifitas di tengah keputusan wasit yang kontroversial ditunjukkan begitu baik oleh para pemain Norwich sekarang. Meski seluruh pemain termasuk kiper tengah mengerubungi wasit tak ada bahasa-bahasa kasar terlontar. Para pemain bahkan kebanyakan berusaha melipat tangannya ke belakang punggung berusaha menghindari tindakan tidak sportif. Bagaimana pun sebuah keputusan wasit tetaplah merupakan keputusan mutlak.

Mematuhi hukuman yang diberikan aku berjalan gontai ke luar lapangan.

Melihatku berjalan ke luar, supporter Arsenal serempak menyorakiku begitu keras. Beberapa di antara mereka yang duduk di pinggir lapangan malahan kudengar melontarkan kalimat-kalimat makian kepadaku yang terdengar sangat tidak menyenangkan. Aku hanya bisa menanggapi cibiran mereka sembari menunduk memandangi rumput hijau Stadion Emirates. Sikap tubuh menunduk bukan berarti aku menyesali sliding tekel barusan. lebih tepatnya aku menunduk karena berpikir sebuah jawaban dari misteri Picchi dan Faccheti, dua pemain misterius yang terekam dari komentar Helenio Hererra dan Meneer minta aku memikirkannya secara serius.

Sejauh ini aku menduga jawaban dari kedua orang pemain Catenaccio Inter Milan erat kaitannya dengan peranku bersama Alfred. Bukankah meski berbeda posisi kami sama-sama pemain bola?. Akan tetapi dalam kenyataanya insiden kartu merah barusan membuka mataku.

Jawaban Picchi dan Faccheti tidak terletak di posisi pemain, juga tak ada hubungannya sama sekali denganku dan Alfred. Kesalahan sudut pandang menghasilkan kekeliruan penilaian. Meneer Johan Cryuff benar kala menyuruhku memperbaiki sudut pandang di pertandingan Ajak vs Inter.

Alih-alih disuruh memperhatikan Totalvoetball, Meneer mengarahkanku agar hanya memperhatikan cara Inter bermain. Sebenarnya Total Voetball selalu membuatku terpukau karena memiliki para pemain bintang lima seperti Cryuff, Kroll atau Neskeens, dibandingkan Catenaccio yang tidak memiliki satu orang individu pun yang menonjol.

Sayangnya pada kelemahan itulah tersimpan jawaban utamanya ; Picchi dan Faccheti memanglah dirancang supaya tidak menonjol. Mereka dituntut agar menjadi pemain biasa. Jadi sangat salah bila aku mencari jawaban dari latar belakang individual permainan mereka kecuali bila mengupas peran kedua pemain ini sebagai mekanisme tim secara total.

Tim Catenaccio memiliki jawaban dari bentuk permainan tim itu sendiri. Picchi berposisi sweeper, dilihat dari kaca mata mekanisme tim ia merupakan symbol pertahanan. Faccheti sebaliknya memang berposisi full back yang dikatakan bisa membuat gol kapan saja. Secara tersembunyi Hererra ingin mengatakan pemain ini merupakan representasi sistem penyerangan.

Secara tersembunyi pula Helenio Hererra sangat tepat membuat probabilitas pertahanan dan penyerangan adalah 2 berbanding satu. Pertahanan tetap lebih penting dari penyerangan. Melihat umpan Mezut Oezil tadi tentu memberiku jawaban dari misteri utama Catenaccio ; pertahanan kami tidak boleh bergantung pada trio hitam di lini pertahanan atau pun pada dobel porosku bersama Alfred.

Norwich tidak boleh bergantung pada satu atau dua pemain. Kondisi ideal sebuah tim baru tercipta ketika tim menjadi sebuah kesatuan seperti teka–teki Picchi dan Faccheti. Menyadari kebenaran mendasar dari Catenaccio membuatku harus angkat topi kepada Meneer Johan Cryuff yang ternyata sangatlah rendah hati.

Kok bisa pria yang tampak angkuh itu rendah hati??. Jawabannya lagi-lagi terletak di Catenaccionya Hererra. Meski mampu dipermalukannya secara telak di pertandingan final tahun 1972, dua tahun kemudian Hererra menunjukkan secara langsung kebenaran filosofinya dan mengungkap kelemahan mendasar Totalvoetball ; Penyerangan tidak boleh lebih dominan dari pertahanan. Sejarah membuktikan, adalah benar permainan menyerangnya Rinus Mitchell bisa mengguncang dunia di Piala Dunia 1974. Namun begitu tiba di final dan menghadapi Jerman Barat tanpa basis pertahanan yang solid Belanda terlibas 2-1.

” Hai Budi!,” ketika aku berjalan gontai figur Kak Chita misterius kembali muncul di lapangan menemaniku berjalan.

” Hai Kak!,” jawabku lemas ” kemunculan tak terdugamu kemarin berhasil membuatku pingsan. Sekarang aku tak mau begitu lagi!.” Pengalaman pingsan kemudian mendapat hukuman larangan dua kali bertanding tentu saja membuatku waspada melihat kehadiran Kak Chita misterius yang sebelumnya sudah kulihat di loker pemain Norwich dan Stadion Ettihad.

” Siapa bilang aku mau membuatmu pingsan lagi Budi! kamu selalu negative thinking deh!.”

Aku diam saja. Berusaha mengabaikannya terus berjalan memperhatikan raut cemoohan penonton.

” Apalah maumu Budi???.”

Aku sempat berhenti mendengar figure Kak Chita misterius kembali bernyanyi lembut dekat sekali di telingaku sambil mengajukan sebuah pertanyaan.

” Kau pilih diriku di dalam hidupmu.”

Takut pingsan lagi aku memaksakan diri terus berjalan.

” Nyatanya kulihat kini.

Tak bisa kau coba untuk setia.

Sudah cukuplah sudah.

Kumemberikan waktu.

Kau selalu tak bisa mencoba tuk setia,”

Kak Chita misterius mengangkat tangannya kepada penonton mengajak mereka semua ikut bernyanyi.

YANG SELALU KU INGINKAN

YANG SELALU KU NANTI

KAU COBA UNTUK MENGERTI

APALAH ARTI MENCINTA

Penonton di Stadion Emirates kudengar mulai bernyanyi.

DAN HARUS KAU SADARI

BILA INGIN BERSAMAKU

JANGAN COBA KAU INGKARI

COBALAH UNTUK SETIA!

Penonton terdengar makin kompak menyanyiakan bait kalimat terakhir.

COBALAH UNTUK SETIA!

Berusaha keras menghilangkan keindahan mematikan lagunya Kak Chita kupejamkan mata mencoba terus berjalan. Lebih baik menghadapi kerasnya pertandingan daripada menghadapi nyanyian merdu mematikan miliknya.

” Plookkkk…plokkkk….ploookkk.”

Suara tepukan berasal dari satu orang penonton kudengar menyelinap di tengah merdunya nyanyian Kak Chita. Mendengar suara tepukan itu membuat figure Kak Chita misterius seketika menghilang. Kehidupan dunia nyata kembali tergambar jelas di mataku yang didominasi wajah pendukung Arsenal yang tak kenal lelah melayangkan tudingan maupun hujatan. Anehnya walau pun mayoritas pendukung The Gunners terus-terusan menghujatku terselip satu suara tepukan.

Berusaha kucari-cari sumber suara yang ternyata berasal dari Tribun Utama Stadion. Kulihat seorang wanita blonde berdiri memberiku standing applause. Penonton di sekitarnya tentu saja menatapnya begitu muak tapi ia terus saja memberi tepuk tangan kepadaku seolah tak peduli.

Seorang wanita tangguh. Batinku.

Berani-beraninya ia bersikap semaunya sendiri di tengah sikap mayoritas penonton.

Memandang wajahnya aku tersenyum simpul sebagai rasa terima kasih karena rupanya masih ada pendukung Arsenal yang bersimpati kepadaku. Melihatku tersenyum, ia membalasnya dengan senyuman balik. Senyumannya begitu manis meski aku merasa ia menyembunyikan sebuah keganasan aneh. Sebuah keganasan berbalut keindahan yang sama dengan yang dimiliki oleh Kak Conchita.

***

” Arsenal pantas menang??? kamu yakin sama pernyataanmu barusan???,” Coach Neill terdengar begitu emosional saat kutemani melakukan jumpa pers sehabis pertandingan.

” Kenyataanya, kami berhasil mengungguli permainan mereka hingga menit ke 80 lalu wasit datang dan merampas kemenangan kami!,” air ludah pelatihku yang berkepala botak menyembur saking emosinya ia berbicara ” dua gol mereka berikutnya murni hadiah dari wasit!.”

” Anda serius sama komentar ini Coach???.”

” Yaaa aku serius! wasit curang! dia memberikan kemenangan pada Arsenal!.”

” Anda akan melayangkan protes resmi ke FA terkait insiden ini???.”

” Ya pasti! kemenangan kami dirampok wasit!.”

***

Protes Coach Neill sia-sia. FA tak bergeming tetap menghukumku satu pertandingan akibat kartu merah langsung. Kesalahanku di mata FA sangat elementer persis seperti dugaanku ; aku dianggap sengaja melakukan tindakan yang menghalangi tim lawan mencetak gol. Sebagai hukumannya aku harus menepi lebih jauh dari sebelumnya dari yang semula masih bisa berada di bangku cadangan kini harus duduk di tribun penonton Stadion St. Mary’s, Southampton. Klub ini merupakan lawan kami berikutnya yang berdiri sejak 21 November 1885 atau 131 tahun yang lalu.

Julukan klub ini sangatlah menggetarkan karena disebut The Saints ; “orang-orang suci”. Asal julukan ini pun menarik karena Southampton dibentuk oleh para jemaat gereja Saint Mary’s sehingga amat lekat dengan citra religius. Seperti kesimpulanku sebelumnya bahwa sebuah klub dapat ditentukan oleh motto atau julukannya maka The Saint’s benar-benar dapat membuktikan julukannya sejak kembali ke Premier league pada tahun 2010. Berbekal pelatihan fisik keras ala pelatihan rohani orang-orang suci, mereka dapat konsisten terus berada di EPl dengan bakat-bakat muda hasil binaan The Saints Academy.

Akademi Southampton memang terkenal sebagai salah satu yang terbaik di Inggris. Nama-nama beken seperti Gareth Bale, pemain yang membuatku di kartu merah Theo Walcott, Luke Shaw hingga Adam Lallana berasal dari Akademi ini. Meski pun demikian, apalah arti sebuah Akademi Sepak Bola terbaik tanpa adanya kepercayaan dari Manajar Tim menggunakan bibit pemain bola potensial tersebut?. Dalam sejarah manajer Southampton selama enam tahun terakhir baik Pocchetino hingga Ronald Koeman, mereka semua selalu bersedia memberikan kesempatan bermain sebanyak-banyaknya kepada para pemain muda.

Coach Neill saja dalam sebuah kesempatan pernah mengatakan kepadaku sangat terinspirasi oleh para Manajer The Saint’s khususnya dalam hal memberikan kepercayaan kepada pemain muda. Kebijakannya menurunkan aku dan Alfred saja tidak terlepas dari insprasinya Ronald Koemann.

” Koemann orang Belanda sama sepertiku,” Meneer Johan tampil secara mengejutkan, seperti biasanya, langsung saja duduk disebelahku.

” Meneer bisa gak sih muncul tanpa membuatku kaget???.”

Dia hanya menggeleng aneh terkesan cuek, cenderung angkuh duduk santai sembari berusaha mengeluarkan sesuatu dari jaketnya.

” Aku memintamu melihat tabletku ini!,” Meneer Johan berkata.

Meneer mengeluarkan kotak besar berukuran white board kecil bercasing kayu tua berwarna coklat. Sebuah layar yang sering kita temui pada televisi hitam putih jaman dulu berada di muka tablet tuanya.

” HA HA HA,” aku tak tahan untuk tertawa sekeras-kerasnya saat melihat benda yang disebut tablet ” TABLET APAAN NIH MENEER??? INI TABLET ATAU KOTAK KARAMBOL HA HA HA,” melihat Johan Cryuff hanya diam saja tidak melayangkan tamparan seperti biasanya membuatku makin terpingkal-pingkal. ” TINGGAL KITA BUAT LUBANG DI EMPAT SUDUTNYA NANTI KITA BERDUA BISA MAIN KARAM…….,” aku tertawa terbahak sesaat tersentak kemudian.

Seluruh pemandangan di Stadion St Mary telah berubah tanpa warna. Hanya warna hitam dan putih saja sekarang dan penampilan Stadion pun berubah terkesan benar-benar kuno seperti tabletnya Johan. Bukan hanya jadi kuno sebenarnya, tapi Stadion ini sama sekali tidak menyerupai markasnya Southampton lagi.

” Tertawalah sesukamu!,” Meneer membalasku begitu dingin ” Selagi kamu cekikan tadi kita telah berjalan jauh ke Stadion Melbourne, Australia tempat berlangsungnya Olimpiade tahun 1956.” Meneer rupanya tidak tertarik terlalu lama menyerangku ia langsung memberiku materi ” Lihat kedua tim telah memasuki lapangan!.”

Aku menatap lurus ke lapangan. Terlihat kedua tim bergerak masuk ke stadion yang satu mengenakan kostum merah putih sedangkan tim yang lain putih-putih. Hanya kipernya saja dari tim putih-putih yang mengenakan kostum berwarna sebaliknya hitam-hitam mutlak.

” Meneer…tim merah putih itu bukannya Timnas Indonesia??? posturnya…mukanya…semuanya miripp….”

” Mirip mukamu sendiri maksudnya???”

Aku mengangguk tak mempercayai pandanganku sendiri.

” Kamu gak salah. Itu Timnas Indonesia.”

” Hah???.”

” Iya! rasanya tak adil kalo aku pernah mengajakmu melihat Ajak melawan Inter dan tidak mengajakmu melihat kehebatan Bangsamu sendiri.”

Rupanya selain rendah hati Meneer Johan juga sangat pengertian.

” Meneer pertandingan apa ini sebenarnya???.”

” Perempat Final Olimpiade Melbourne 1956 Indonesia vs Uni Sovyet. Aku memintamu mempelajari penerapan terbaik dari filosofi False Nine-nya Indonesia yang kuminta kamu terapkan nanti di Norwich. Menurutku False Nine merupakan pola yang paling tepat bagi The Cannaries.”

” APA???????????,” aku berteriak saking terkejutnya. ” Meneer False Nine berasal dari Indonesia???”

” Kamu gak percaya???.”

” Enggak! kukira False Nine berasal dari Barcelona, MU atau…”

” Itulah mental Inlander!,” Meneer kencang menudingku ” gak pernah bangga sama Bangsa sendiri dan selalu memandang bangsa lain lebih hebat!.”

” MENEER…..”

” Tapi betulkan???.”

“…….,” aku hanya bisa mengangkat tangan tak tau harus menjawab apa.

” Nah karena kamu telah mengakui dirimu memiliki Mental Inlander….”

” MENEER!,” dia betul-betul kelewatan sekarang.

Aku akan tunjukkan kepadamu alasan kenapa kamu harus bangga terhadap Bangsamu sendiri! Lihat ke lapangan!,” ia menunjuk begitu semangat. “Kamu lihat inilah Tim Indonesia 1956!. Salah satu tim terbaik yang pernah dimiliki Bangsamu. Di posisi penjaga gawang ada Maulwi Saelan! seorang tentara pejuang gagah berani yang nantinya akan menjadi ajudan kepercayaannya Presiden Pertamamu.”

” Wahhhhh,” aku terpukau ” ternyata…..sepak bola Bangsaku pernah hebat juga ya Meneer.”

” Tentu Inlander!,” Meneer Johan menatapku meledek lantas melanjutkan “bergeser sedikit di belakang dan tengah Indonesia punya Kiat Sek Kwee, Liong Houw Tan, Siang Liong Phwa dan Tjiang Tio Him, para pemain berdarah tiong hwa yang rela mengorbankan segalanya demi kejayaan Negerimu.

Nantinya mereka beserta keturunannya akan menghilang secara perlahan dari percaturan sepak bola Indonesia,” Meneer menarik nafas panjang ” Dan itu adalah Ramang,” Johan cekatan menunjuk pada sosok bertubuh sedikit kurus namun kokoh dengan otot tubuh proporsional ” Penyerang legendaris Indonesia yang aku minta kamu perhatikan baik-baik permainannya dalam pertandingan ini karena di kakinya Filosofi False Nine akan paling mudah dimengerti!.”

” Maksud Menner Ramanglah yang pertama kali menciptakan False Nine???.”

” Tidak! tentu saja tidak! Aku pasti sangat gegabah bila mengiyakan pendapatmu. Kamu tahu, sebenarnya False Nine sudah ada sejak tahun 1920’an diterapkan oleh Tim-Tim Amerika Latin. Pada periode berikutnya tahun 1930’an dan 1940’an False Nine juga diterapkan oleh beberapa Tim di Eropa tapi tidak pernah begitu tenar hingga tiba periode tahun 1950an dimana Tim Nasional Hungaria yang julukannya

“The Mighty Magyars” mengguncang dunia memperkenalkan secara bombastis tentang permainan False Nine. Tapi kita tak akan bisa mengambil pelajaran dari sesuatu yang terlalu gemerlapan seperti The Mighty Magyars. Kita kadang bisa mengambil pelajaran terbaik dari peristiwa sederhana namun bersejarah seperti Indonesia melawan Uni Sovyet sekarang.”

Meneer Johan menjelaskannya dalam sekali nafas membuatku gelagapan ingin menyerap semua informasinya namun tak berdaya.

” Tunggu..tunggu Meneer pelan-pelan! Ramang..Indonesia vs Sovyet…Hungaria…terlalu banyak informasi..terlalu membingungkan…..bolehkan aku tau terlebih dahulu tentang The Mighty Magyars???.”

” Tentu! semakin banyak kamu bertanya semakin banyak informasi bisa diperoleh. The Mighty Magyars adalah 2-3-3-3!.”

Aku menggeleng-geleng tak percaya ia menjawabku dengan permainan matematika lagi ” Meneer aku tanya soal Tim Hungaria di awal 1950 bukan formasi ala Catenaccio!.”

” Kenapa kamu protes?? katanya mau tau The Mighty Magyars yang artinya Tim Emas, formasi itulah pondasi tim ini 2-3-3-3! Tidak ada penyerang di depan atau pun target man! peletak pondasi False Nine sekaligus..Total Voetball.”

Aku tercekat bangun dari bangku tak percaya ada juga hubungan tim Hungaria dengan Totalvoetball ” HAAAHHH….TOTALVOETBALL???,” aku mendelik berlebihan kepada mentorku lengkap dengan gerakan kedua tangan yang seperti memprotes keputusan wasit.

” PLAAAAKKKKK,” sebuah tamparan kuterima akibat sikapku barusan ” Duduk Inlander!.”

” Maafkan aku Meneer. Tapi bisa gak jangan sebut aku Inlander???”

” Sama seperti Indonesia 1956 yang pondasinya terbangun dari Maulwi Saelan, Kiat Sek Kwee, Liong Houw Tan, Siang Liong Phwa dan Tjiang Tio Him, dan Ramang maka Tim Hungaria tahun 1950an terbangun dari permainan Ferenc Puskas, Sandor Kocsis, Nandor Hidegkuti, Zoltan Czibor, Jozsef Bozsik dan Gyula Grosic!,” Johan Cryuff melanjutkan tanpa menggubris permintaanku.

Aku bengong tak tau satu pun nama yang disebutkan.

” Puskas pernah mengatakan ; saat kami menyerang semua menyerang dan saat kami bertahan pun demikian. Kamilah prototype total voetball!,” Meneer menghentikan penjelasannya sekarang menetapkku meremahkan ” Kamu mengikuti penjelasanku??.”

Aku hanya menggeleng-geleng tak paham saking cepatnya penjelasan itu. Meski tak paham aku bisa mengaitkan kesamaan penjelasan Meneer ketika mengingat Picchi dan Faccheti.

” Bagus kalo kamu tak paham! lanjut…. pola serangan Hungaria 1956 membuat seorang penyerang tidak lagi menempati posisinya sebagai target man namun turun sejajar bergabung dengan para gelandang atau menghilang diantara tumpukan para pemain tengah. 2-3-3-3. INILAH CIKAL BAKAL FALSE NINE!,” kini Johan berdiri penuh semangat menyampaikan penjelasannya ” Saat terjadi penyerang Target Man menghilang apakah Timnas Hungaria menjadi tim yang tidak produktif?? sama sekali tidak!. Sebaliknya Tim Emas Hungaria adalah tim terproduktif di dunia dalam kurun waktu enam tahun sejak 1950 hingga 1956.”

Aku berusaha mencatat di tanganku sambil mengimajinasikan jari telunjukku menjadi pena yang bisa mencatat ilmu teramat penting yang tengah disampaikan.

” Inggris yang kamu bangga-banggakan saja pernah merasakan keganasan mereka kala mengundang Timnas Hungaria ke Stadion Wembley pada tahun 1953. Saat itu penuh arogansi sebagai Tim Terbaik Eropa yang tidak pernah dikalahkan di kandang sendiri, Timnas Inggris sangat yakin bisa mengalahkan Mighty Magyars. Hasilnya ; ditonton oleh 105.000 orang penonton, Hungaria mencukur mereka 6-3 di kandang sendiri. Aku tidak menyalahkanmu bila mengagungkan Inggris karena kamu sekarang tengah bermain disana tapi asal kamu tau, setahun kemudian, Inggris yang masih menyimpan dendam atas kekalahan tersebut ganti bertandang ke Budapest hanya untuk kembali dicukur lewat skor yang lebih memalukan 7-1.”

Aku melongo tak percaya ” Apakah..apakah itu fakta Meneer??.”

” Tentu fakta! kamu bisa cari di sumber mana saja yang kamu mau buat melacak kebenarannya!.”

” Tapi False Nine???,” aku masih bingung.

” Sudah kubilang kamu tak akan mengerti False Nine secara menyeluruh hanya dengan melihat kehebatannya Timnas Emas Hungaria yang memiliki prestasi gemerlapan. Sebaliknya kamu akan mengetahui False Nine melalui kehebatannya Ramang! lihat ke lapangan.”

Aku langsung memandang lapangan. Pertandingan sudah memasuki menit 80. Sebelumnya kulihat Indonsesia bermain bertahan total saat meladeni Uni Sovyet. Berbekal pemain yang posturnya kecil-kecil kalah jauh dari pemain Sovyet yang jangkung, Indonesia melayaninya terlihat tanpa melibatkan striker. Ramang yang tampaknya diidolakan betul oleh Johan Cryuff masuk ke dalam garis lini tengah ikut membantu pertahanan.

Begitu sabar Ramang tetap berada tepat di posisinya sampai pada sebuah kesempatan Kiat Sek Kwee pemain tengah Indonesia berhasil memenangkan perebutan bola lalu mengirim bola lambung ke depan. Meski kalah postur dan body, Ramang bisa berlari begitu cepat melawan pemain bertahan Sovyet.

” Beeeegggggggggg ssssseeeeeeeettt.”

Pemain bertahan Sovyet berusaha menabrak untuk menjatuhkannya tapi Ramang tetap berdiri, mengontrol bola menggunakan dadanya. Pemain Sovyet yang gagal menjatuhkannya berusaha menarik bajunya namun Ramang berkelit berputar 180 derajat dari posisi membelakangi gawang lawan kemudian memantulkan bola dari dada ke arah kaki kiri dan….

” JDAAAAAAAAAAAAAAKKK.”

Ramang menendang keras ke gawang Sovyet yang tinggal dijaga penjaga gawang jangkungnya yang mengenakan kostum hitam-hitam.

Aku sebagai orang Indonesia tentu saja tersengat oleh tendangan Ramang. Refleks aku bangkit dari kursi lantas melompat sangat yakin bola akan masuk. ” YEEEEEEEEESSS GOOOOOOOO………………..”

” Sayangnya tendangan Ramang memang tidak masuk!,” Meneer Johan terdengar santai sekali melihatku berjingrak tanpa hasil ” Tapi meski tidak masuk, kalian seharusnya menjadikannya sebagai Pahlawan Nasional!,” raut wajahnya berubah amat serius ” dia betul-betul berjasa bagi sepak bola Nasional dan Internasional. Kamu tau seandainya kiper Sovyet bukan Lev Yashin. Bola tendangan Ramang pasti masuk. Sayangnya Lev Yashinlah yang berada di bawah mistar gawang.”

” Meneer siapa Lev Yashin???.”

” Kamu tidak tau siapa dia??? bodoh banget kamu!.”

Aku hanya bisa mengangkat tangan tak berdaya mendengar penghakimannya.

“Lev Yashin adalah Black Spider. Laba-laba hitam. Kiper yang memiliki gerakan refleks paling jempolan di eropa pada masa itu disertai tubuh atletis di luar kapasitas atlet normal. Menghadang tendangan Ramang dia melompat secara refleks hingga tidak tertinggal kecepatan bola. Seandainya dia berhenti untuk berpikir satu detik saja ke mana arah tendangannya Ramang, Indonesia pasti bikin gol dan memulangkan Uni Sovyet ke negaranya!.”

Indonesia ternyata betul-betul memiliki sejarah hebat di sepak bola. Batinku penuh kebanggaan.

” Kembali ke masalah False Nine!,” Meneer kembali menudingku ” RAMANG ADALAH FALSE NINE TERBAIK!.”

” Iya tapi kenapa Beliau bisa disebut seperti itu???.”

” KAMU CARI TAU!.”

” Meneer kasihlah petunjuknya! biar aku tidak bingung seperti Catenaccio kemarin.”

” KAMU MAU PETUNJUK???.”

” Ya Meneer! tapi apakah harus teriak-teriak begitu ngomongnya????.”

” KENAPA ADA GATUSSO DAN PIRLO DI ANTARA TOTTI???.”

Gawat ini pastilah petunjuk pertama.

” KENAPA ADA ROONEY DAN TEVEZ DI ANTARA RONALDO???.”

Ronaldo dan dan Tevez bahkan sudah tidak di MU sekarang.

” KENAPA IBRAHIMOVIC GAGAL DI BARCELONA???”.

Aku mulai menggaruk kepala frustasi.

” KENAPA PROFESI RAMANG SEBELUM JADI PEMAIN BOLA ADALAH SEORANG TUKANG BECAK???.”

Aku kembali berdiri, ” HAAHHH TUKANG BECAK??????????? PEMAIN SEHEBAT RAMANG?????.”

Aku ganti berteriak sekarang lengkap berikut raut muka histeris tak bisa mempercayai sebuah kenyataan.

” Kamu gak percaya???,” Meneer Johan tiba-tiba melembutkan suaranya.

” Sama sekali tidak!.”

” Coba kamu buka google melalui tabletku ini!,”

Ia kembali mengeluarkan tablet kuno yang seperti kotak karambolnya di depan mataku. Melihat tablet ini seketika membuat mulutku mulas karena rasa geli.

” HAA HAAA HAAA MENEER! SEJAK KAPAN SIHH KOTAK KARAMBOL INI JADI TABLET …. HA HA HA….,” aku terpingkal-pingkal sampai mataku terpejam saking gelinya.

” KALO MENEER TIDAK BERHENTI MENYEBUT KOTAK BUTUT KARAMBOL INI SEBAGAI TABLET AKU AKAN TERPINGKAL-PINGKAL SELAMANYA HA HA HA HAHA……” aku membuka mata hendak melihat ekspresi Meneer yang kuyakin tersipu malu ” HAaaa……,” lagi-lagi aku syok.

Di depanku pemandangan hitam putih sudah lenyap berganti Stadion St Mary’s kembali. Tepat di hadapanku para penonton di tribun utama memandangiku yang tertawa aneh sendiri seperti orang gila.

” HIDUP…..,” aku mengangkat tangan refleks masih seperti orang bodoh ” THE SAINT’S! HIDUP THE SAINT’S”

” YEEEEEEES HAIL FOR THE SAINT’S!,” mendengar raunganku membuat tatapan penonton seketika tersenyum lebar dan menyambutnya dengan lagu kebangsaan The Saint’s Southampton yang memiliki sejarahnya tersendiri.

Meneer Johan betul-betul membuatku seperti orang bodoh oleh seluruh tingkah laku eksentriknya yang tak terduga.

***

Sialnya di kandang Southamptons kami kalah lagi 2-1. Coach Neill mulai terlihat frustasi di pinggir lapangan. Satu hasil seri dan tiga kali kekalahan beruntun tentulah tidak menyenangkan baginya. Ronald Koeman mengajarkan kepada kami semua arti penting identitas tim. Bicara identitas Tim tentu mengingatkanku pada identitas Timnas Indonesia.

Melihat bagaimana permainan mereka ketika melawan Sovyet langsung dari Stadion Melbourne menyelipkan sebuah rasa bangga. Meski jelas terlihat kalah postur dan kualitas, Indonesia berani menghadapi Sovyet dengan berkarakter. Bahkan Ramang harusnya bisa membuat gol jika saja bukan Lev Yashin penjaga gawangnya.

Kemana perginya identitas Tim itu selama ini?? sama juga kemana perginya identitas Tim Norwich sepenjang sejarah berdirinya. Apakah kami Indonesia dan Norwich akan memiliki satu kesamaan yaitu sama-sama menjadi kenari keberatan bulu akibat tidak memiliki identitas yang jelas tentang jati diri permainan sendiri??.

Semoga tidak karena ilmu tentang False Nine sudah berhasil kuperoleh. Sekarang tinggal bagaimana cara menjawab teka–tekinya Meneer Johan yang membingungkan.

***

Dua pertandingan berikut yang akan kami hadapi cukup berat yang satu melawan Watford berikutnya menghadapi Liverpool keduanya akan dilangsungkan di Carrow Road. Kedua Tim ini boleh dikatakan lebih baik dari Norwich karena posisinya berada di atas kami. Watford malahan tepat berada di atas kami sehingga pemenang pertandingan nanti akan menentukan apakan kami akan berhasil menyalip mereka ataukah malahan semakin jauh tertinggal.

Coach Neill meminta kami bermain sebaik-baiknya melawan Watford mumpung bermain di kandang sendiri. Ia menginginkan kemenangan. Tiga kekalahan berturut-turut yang dialami tentu membuatnya kembali berada di posisi tidak aman. Pada sesi latihan terakhir di Stadion, pelatih kami yang berkepala plontos ini menginstruksikan agar kami menerapkan strategi sepak bola menyerang. Bukan strategi yang mudah sebenarnya tapi Coach Neill optimis karena aku kembali hadir di lapangan. Hukuman satu kali pertandingan sudah berakhir sejak partai kami melawan The Saint’s.

” Kalian tau Watford sebenarnya memiliki level yang sama dengan kita,” Coach Neill memberi briefing terakhir di lapangan. ” Jadi tidak ada alasan kalian bermain “melempem” lagi besok! bermainlah menyerang dan bawa pulang kemenangan agar kepercayaan diri kita meningkat saat melawan Liverpool minggu berikutnya!.”

Coach Neill benar. Kami sangat memerlukan kemenangan esok hari. Pikiran bagaimana mewujudkan hal tersebut terus berputar-putar di kepalaku sembari meninggalkan Stadion bersama para pemain lain. Seandainya nanti malam, aku belum juga bisa memecahkan misteri False Nine aku berencana menggunakan kembali strategi poros ganda.

Efektif kok strategi dobel poros, Arsenal saja harusnya kalah bila saja aku tetap berada di lapangan. Hanya satu ganjalan dari strategi poros ganda ; Tim terlalu bergantung kepada kami berdua sehingga amat rentan apabila salah satu dari kami harus keluar lapangan seperti sebelumnya.

Inilah alasan utama Meneer Johan memintaku mempelajari False Nine. Kami berdua sebenarnya bukan Target Man kerena kami merupakan pemain gelandang tapi ketergantungan Tim kepada kami semakin lama semakin besar. Kebutuhan akan strategi alternatif menjadi sangat besar tapi bagaimana cara mencarinya??.

Melihat tendangan pemain legendaris Indonesia Ramang yang tinggal sejengkal lagi menembus gawang Lev Yashin masih juga belum bisa membuatku memecahkan apa-apa. Strategi bertahan Indonesia di Melbourne pada tahun 1956 sebenarnya sangatlah sempurna.

Mereka menutup keseluruhan lapangan begitu disiplin membuat para pemain Sovyet hanya bisa marah-marah lantas berusaha mempengaruhi wasit agar mereka mendapat penalty. Timnas Indonesia yang sekarang saja tak bisa meniru seniornya meski memiliki para pemain berpostur lebih tinggi.

Menerapkan strategi bertahan kokoh di Norwich tentu lebih mudah dari di Timnas Indonesia. Masalahnya strategi bertahan tanpa serangan kaya improvisasi sama juga bohong. Yang Meneer Johan inginkan ialah aku memecahkan misteri Picchi dan Faccheti lantas meningkat ke False Nine-nya The Mighty Magyars.

Kedua strategi ini memiliki kesamaan cara bertahan sekaligus menyerang melibatkan seluruh anggota tim secara sekaligus. Keduanya ibarat sayap burung kenari kuning yang hingga sekarang masih saja setia berdiri di bola berwarna kuning. Burung itu akan bisa terbang tinggi bila benar menerapkan cara bertahan dan menyerang yang seimbang. Sebaliknya sang burung kenari kuning akan tersungkur jatuh di tanah seandainya saja aku gagal memecahkan rangkaian teka-teki yang telah diberikan oleh Maestro Sepak Bola Belanda Johan Cryuff.

***

Aku menghabiskan malam di Stadion Carrow Road begadang sambil mencoret-coret semua petunjuk Meneer Johan. Kuyakin kalimat-kalimat yang diucapkannya secara keras merupakan sebuah petunjuk.

Totti ; Gatusso Pirlo Ibrahimovic ; Fail in Barcelona

C Ronaldo ; Rooney Tevez Ramang ; Pedicab Driver

Kutulis keempat petunjuk secara berderet. Masing-masing kalimat Meneer menyimpan history serta kejadiannya masing-masing sehingga aku sangat kesulitan menerjemahkannya. Di tengah kebingungan aku tiba-tiba teringat Kak Chita. Kenapa selama ini aku lupa bahwa profesi utama Kak Chita merupakan presenter bola yang sarat pengalaman. Ok sekarang Kak Chita juga sudah merambah menjadi presenter berita, politik, hingga sosial budaya akan tetapi pondasi utama dari kekasihku yang cantik itu kan presenter bola.

” Halo Kak, apa aku mengganggu nelpon malam-malam begini??,” senang rasanya akhirnya bisa mendengar kembali suaranya yang cantik

” Tumben nelponnya??? eng….engg…..enggak Kak….aku….aku…kemarin-kemarin kan Budi sibuk ngurusin skandal kartu merah dan sebagainya,” gelagapan betul aku dibuatnya.

” Iya Kak…iya…iya…..,” dari Jakarta Kak Chita malahan asyik menceramahiku tentang pentingnya membina komunikasi yang baik apabila tengah menjalin sebuah hubungan jarak jauh.

Panjang sekali Kak Chita menceramahiku hingga lebih dari setengah jam rasanya.

Berputar-putar Kak Chita menjelaskan tentang perasaannya, kegalauan hatinya akibat aku tiba-tiba menjauhinya, pertanyaan-pertanyaan yang tak pernah henti berputar di kepala cantiknya mengenai keseriusan tekadku terhadapnya dan lain sebagainya.

” Iya…iya Kak…maafin Budi..serius aku gak bermaksud begitu!.”

Ada nada kelegaan terdengar dari suaranya setelah mendapat kesempatan menembakkan peluru-peluru kegalauan yang selama ini rupanya disimpannya di lubuk hati.

” Iya Kak…maafkan ya.. aku sangat berterima kasih kalo Kakak sudi memaafkan…, anu sebenarnya maksudku menelpon karena…,” akhirnya setelah diberondong kegalauan bertubi-tubi tiba giliranku menyampaikan sebab utamaku menelponya yang sebenarnya masih tidak terlepas dari egoku sendiri. Tak bisa kusangkal ego seorang pemain bola memang sangatlah besar.

Setelah berminggu-minggu jarang sekali menghubunginya aku menelpon Kak Chita hanya karena butuh terhadap kecerdasan dan analisisnya yang memang sangatlah tajam terhadap sepak bola.

” Betul Kak keempatnya memang menyimpan peristiwanya masing-masing,” mulai kuambil ballpoint karena Kak Chita mulai mengeluarkan analisisnya yang buatku sangatlah tajam. Analisis Kak Chita bersumber fakta yang kongkret. Datanya jelas bahkan sering dilengkapi komentar dari para komentator bola luar negeri.

” Jadi kalo mau ditulis lebih lengkap begini ya Kak ;

Totti ; Gatusso Pirlo ; World Cup Final 2006

C Ronaldo : Rooney-Tevez ; MU Squad 2008 season.

Ibrahimovic Fail in Barcelona 2009-2010

The Legends Ramang……

Khusus buat legenda Sepak Bola Indonesia Ramang, Kak Chita mempending jawabannya. Kak Chita memang pernah membawakan acara ISl, ia memiliki banyak koneksi di sepak bola Nasional dan hendak menanyakan kepada mereka terkait kebenaran berita ini.

” Katanya guruku sih semua terkait sama False Nine dan sosok Ramang!.”

Kak Chita tampak tersengat mendengar penjelasanku yang mencontek seluruhnya dari penjelasan Johan Cryuff. Kembali aku harus terpaku mendengar penejelasan baliknya yang begitu tajam, cepat, panjang, bertubi-tubi tapi tetap berdasarkan teori mutakhir.

Jawaban-jawaban Kak Chita menampilkan citranya sebagai wanita yang intelektual berbasis pemahaman teori sepak bola mumpuni. Tampaknya Kak Chita sepakat bahwa keempat kejadian yang kusebutkan terkait False Nine. Tapi ia terdengar begitu terkejut mendengar bahwa sebenarnya Pemain Bola Indonesia sendirilah yang pertama kali bisa mempraktekan posisi false Nine secara benar.

” Mmhhmm…mmhhhmmm….,” saking panjangnya penjelasan yang diberikan aku sekarang hanya tinggal bisa mendehem-dehem saja berusaha menunjukkan ketertarikan mendengar jawabannya meski sudah lelah. ” Kak! kita ngobrol yang lain aja yuk!.” meski sebenarnya sangat rindu mendengar suaranya, akhirnya aku harus mengakui merasa bosan mendengar penjelasannya yang panjang lebar.

” Kak doakan gajiku dinaikkan oleh Manajeman Norwich!,” aku menyampaikan kalimat ini begitu gembira karena peluangnya semakin besar sekarang setelah permainanku ” seandainya itu terjadi aku bisa beliin Kak Chita tiket buat datang ke Inggris!.”

Mendengar kalimatku, Kak Chita terdengar senang sekali. ” Orang tua Kak Chita diajak juga??? hmmm nanti ajalah Kak…maksudku kesempatan berikutnya lah…aku kan pengen nunjukkin keindahan Kota Norwich dulu kepada Kakak.”

” Lagipula Kak, aku ini kan seharusnya kekasih resminya seorang Conchita Caroline, punya hak donk mengajak kekasihku yang begitu cantik naik kapal berdua di Norfolk Broads, menikmati keindahan sisi-sisi tradisionalnya Kota Norwich, mengajak menonton Norwich bertanding secara langsung dari Stadion Carrow Road. Intinya, kalo seorang Conchita Caroline, mengaggapku sebagai kekasih resminya, aku sangat ingin mewujudkan itu semua baginya!,” tampaknya Kak Chita terharu mendengar ucapanku.

” Kecuali kalo Kak Chita malahan menganggapku sebagai kekasih gelap seperti dalam video klipnya Republik tentu aku tak punya hak buat ngajak Conchita Caroline berkunjung ke Norwich,” kalimat ini meluncur tanpa bisa kukendalikan. Setelah kalimat meluncur rasa bersalah karena salah ngomong mulai kurasakan. Apalagi Kak Chita langsung terdiam. Jangan-jangan aku salah ucap.

” Enggak…enggak bukan gitu maksudku Kak….,” benar kan aku salah ngomong.

Sama seperti tekalku pada Theo Walcott yang menghancurkan kemenangan kami. Ucapanku yang terakhir malahan menghancurkan romantisme yang seharusnya telah terbangun diantara aku dan Kak Conchita ” Iya itu Cuma video Klip Kak..aku tau…..bukan maksudku….Kak Chita dengarlah penjelasanku dulu…aku tidak pernah menuduh Kakak hanya menganggapku sebagai kekasih gelap seperti dalam videonya……,” telpon diputus.

” HHAAAAAAAAAAAAGGGHHHHHHH,” frustasi kubanting ponsel ke lantai hotel hingga hancur barantakan.

Ketika ponsel hancur terpecah belah barulah aku sadar, gajiku disini sebnarnya masih minim. Belum cukup buat membeli Hp baru. Sadar, cepat-cepat kupungut serpihan-serpihan ponsel di tangan berharap lekatan lem akan bisa menyambungkannya kembali. Bukan hanya lekatan lem bisa menyambung ponselku tapi semoga lekatan lem juga bisa menyambungkan kembali kemesraanku dengan Kak Conchita.

Huuuhhh padahal kedekatan kami sudah mulai terbangun gara-gara kekasih gelap.

” HAAAAAAAAAAAAAAAGGGGGGGGGGHHHHHHHHH DASARR KEKASIHHHHHHHHHHH GELAPPPPPPPPP KEPPAAARAAAATTTTTTTTTTTTTT!.”

Berteriak lantang tentang kekasih gelap bisa menumpahkan amarahku dan secara tak terduga sekonyong-konyong malahan menyalakan lampu ilham di dalam pikiranku. ” Kekasih gelap??? bukankah….. False Nine adalah sama saja seorang kekasih gelap????. Ronaldo…Totti..legenda kami Ramang dan ibrahimovic semuanya adalah kekasih gelap.”

Aku tak percaya ilham datang dari dua kata ; kekasih gelap.

” HOREEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEE,” aku terjingkrak-jingkrak aneh setelah sebelumnya patah hati ” AKU MENEMUKAN JAWABANNYA MENEER!. JAWABANNYA ADALAH KEKASSIIIHH GELAAAAPPPP!”

***

Aku menatap rumput Stadion Carrow Road begitu optimis. Seakan mendahului takdir aku tau bahwa kami akan bisa mengalahkan Watford. Caranya adalah penerapan False Nine secara benar di lapangan. Rupanya jawaban False Nine ada di dua contoh yang saling bertolak belakang. Satu adalah video klip Band Republik yang menampilkan sosok Kak Chita sebagai modelnya. Dua ucapan Meneer Johan, yang menurutku sengaja disamarkan agar aku tak mudah memperoleh jawabannya yaitu tentang The Mighty Magyar’s dan Timnas Indonesia 1956.

Inspirasi datang pertama kali saat mengingat adegan Kak Chita di video klip sedang menangis histeris di tengah guyuran hujuan berusaha mengejar kekasih sesungguhnya yang ternyata mengetahui perselingkuhannya dengan sang kekasih gelap. Kak Chita seharusnya tak perlu menangis dalam video klip tersebut andai saja saja tak punya kekasih gelap. Tapi karena memiliki dua kekasih akhirnya kekasihku yang cantik harus menangis Bombay di akhir video klip.

Inspirasi kedua datang mengingat perkataan Meneer tentang The Mighty Magyars pertama kali. Meneer menyebut Tim Hungaria tahun 1950an terbangun dari Ferenc Puskas, Sandor Kocsis, Nandor Hidegkuti, Zoltan Czibor, Jozsef Bozsik dan Gyula Grosic!.”
Pertanyaanya kenapa Meneer menyebut mereka semua dan bukannya hanya cukup menyebut Ferenc Puskas saja yang paling terkenal??. Sama juga ketika Meneer menyebutkan Indonesia 1956, kenapa harus menyebut nama Maulwi Saelan, Kiat Sek Kwee, Liong Houw Tan, Siang Liong Phwa dan Tjiang Tio Him, serta Ramang. Dan bukannya hanya cukup menyebut nama Ramang seorang???.

Jawabannya karena Sandor Kocsis, Nandor Hidegkuti, Zoltan Czibor, Jozsef Bozsik dan Gyula Grosic merupakan kekasih sesungguhnya dari video klip Kak Chita dan Ferenc Pukas adalah False Nine atau kekasih gelapnya.

Sama juga Maulwi Saelan, Kiat Sek Kwee, Liong Houw Tan, Siang Liong Phwa dan Tjiang Tio Him, merupakan kekasih sesungguhnya dan Ramanglah kekasih gelapnya. Bagaimana caranya agar kak Chita tak jadi menangis di videonya Republik?? jawabannya ialah Kak Chita sendiri yang harus melenyapkan si kekasih gelap dan menjadikan kekasihnya cukup satu orang saja.

Inilah jawaban dari False Nine; melenyapkan figure kekasih gelap. Yakinlah jawabanku ini masih membingungkan siapa saja sampai aku menghubungkannya dengan empat petunjuk utama dari Meneer Johan yang melibatkan Totti, Ronaldo, Ibrahimovic dan Ramang. Pertama adalah Francesco Totti. Sang Pengeran.

Maafkan aku Kak Chita, tapi menjawab misteri False Nine memaksaku menggunakan sosokmu sebagai perumpamaan. Aku mengibaratkan Kak Chita sebagai Timnas Italia. Dan Totti sebagai seorang Protagonista, Fantatista, dan juga figure kekasih gelap yang berusaha mengalihkan cinta Kak Chita dari Timnas Italia kepada dirinya seorang.

Inilah permasalahan terbesar seorang target man. Kebiasaan dijadikan sebagai tumpuan dalam sebuah Tim menjadikan mereka ingin merampas kecintaan dari tim itu sendiri dan berusaha mengalihkannya kepada diri mereka sendiri. Atau sama artinya Totti berusaha merampas cinta Kak Chita kepada permainan kolektif Italia dan menganggap pemain Timnas Italia lainnya menjadi tidak penting.

Maka dikirimlah dua orang yang sama-sama jago dan sama-sama protagonista ; Gatusso dan Pirlo. Kehadiran kedua pemain ini tidaklah untuk mengintimidasi Totti atau menghilangkan keunikan permainannya yang terkenal kreative dan sangat berbakat namun menjadikan kepribadian unik ini menjadi bagian dari tim secara keseluruhan dan bukannya ego terpisah yang malahan berusaha merampas kolektifitas tim.

False Nine tercipta akibat adanya Gatusso dan Pirlo. Ego Totti yang berusaha merampas kolektifitas cinta Kak Chita akan Timnas Italia menghilang digantikan permainan krativenya sebagai individu yang berusaha mengangkat prestasi Tim. Totti tidak lagi menjadi pribadi terpisah tapi berkat peran False nine ia menjadi menyatu bersama permainan Tim Italia.

Kondisi yang sama terjadi dengan Ronaldo yang dikirimi Tevez dan Rooney atau yang terbaru di Real Madrid, Ronaldo didampingi Bale dan Angel Di Maria. Kehadiran pemain tersebut menyembunyikan sang target man. Jadi False nine pada dasarnya bukanlah menyembunyikan sang penyerang hingga tak terlihat di lapangan karena berbaur di lini tengah tapi menyembunyikan ego si target man hingga bisa menyatu dengan tim.

Inilah sebabnya Meneer mengangkat tentang kegagalan Ibrahimovic di Barca. Berada di tengah Messi, Iniesta, atau Xavi tidaklah melenyapkan kecenderungan Zlatan sebagai figure kekasih gelap yang mengganggu kolektifitas sebuah klub. Zlatan melahan tetaplah menjadi kekasih galap yang membuat cinta klub Barcelona terbagi mencintai permainan tiki taka secara keseluruhan atau mencintai Zlatan sebagai individu pemain.

Sejarah membuktikan peran Zlatan sebegai kekasih gelap tak berhasil mengangkat prestasi Barca. Tak heran Guardiola menjualnya setahun kemudian ke Italia karena dianggap tidak bisa beradaptasi. Ramang sebaliknya adalah betul merupakan sosok terbaik dari pemain False Nine.

Latar belakangnya yang pernah menjadi tukang becak di Makassar membuatnya masuk ke lapangan dengan ego yang sudah lebih rendah. Ramang tidak lagi ingin menjadi kekasih gelap yang membuat para pendukung Timnas Indonesia membuatnya lebih dicintai dari Timnas sendiri. Bermain sebagai kekasih yang sesungguhnya dengan melupakan potensinya sebagai kekasih gelap Ramang berhasil membuat Indonesia Berjaya di level Asia hingga hampir saja bisa masuk Piala Dunia 1958 seandainya saja tidak ada faktor solidaritas keagamaan yang membuat kita menolak melawan Israel.

Secara sederhana Inilah filosofi False Nine. Semula semua orang beranggapan strategi False Nine menyembunyikans seorang target man hingga pemain bertahan lawan kebingungan. Sayangnya arti filosofi False Nine yang hanya sebatas itu akan mudah sekali dihadapi. Cukup terapkan strategi parkir bus maka False Nine akan tamat.

Bahkan pemain lying deep playmaker seperti Andrea Pirlo sanggup mematikan False Nine ini seorang diri. Akan tetapi False Nine yang berarti melenyapkan ego si target man sebagai subjek tim untuk bergabung menjadi objek kolektif merupahan hal yang berbeda.

The Mighty Magyars dapat menjadi Tim menakutkan eropa karena Puskas tidak pernah mengklaim dirinya sebagai pemain terhebat. Alih-alih berpikir seperti itu, Puskas selalu beranggapan dirinya hanyalah bagian dari kehebatan Timnas Hungaria. Inilah yang membuat mereka dikenal sebagai Tim Emas.

Rasanya tepat ketika mendengar komentar Puskas sendiri terkait permainan mereka ; ” When we attacked, everyone attacked, and in defence it was the same. We were the prototype for Total Football.

Terima kasih Ferenc Puskas. Terima kasih Sang Legenda Ramang. Dan tentu saja terima kasih Kak Conchita Caroline. Berkat kalian semua aku jadi tau makna yang sejati dari posisi False Nine.

***

Merumput di Stadion sendiri sambil mengetahui benar perananku di lapangan membuatku bermain begitu relax. Tidak lagi aku memaksakan diri menjadi dobel poros bersama Alfred yang membuat Tim terlalu bergantung pada kami. Ketimbang bermain kaku di poros, aku lebih memilih melebur bersama kolektifitas Tim.

Tidak menonjolkan diri tapi juga tidak kehilangan jati diri sebagai individu unik berprofesi sebagai Playmaker. Peranku sekarang semakin mirip Totti, Ronaldo, dan juga Ramang, menghilang dari posisi target man andalan tim yang diincar oleh tim lawan karena terlalu menonjol tapi muncul lagi dalam bentuk kekuatan yang lebih besar.

Kekuatan yang muncul dari seorang False Nine yang mengerti benar filosofi posisi sebenarnya lebih besar dari pikiran orang. Menurutku kekuatan yang timbul dapat diibaratkan seperti Kak Chita di video Klip Republik yang tidak lagi menangisi air hujan, tapi tersenyum begitu ceria di tengah matahari yang cerah. Sebuah sikap kebahagiaan yang siap menghangatkan hati siapa saja dengan gol kemenangan.

Hatiku hangat sekarang sekaligus tenang karena tidak terpaku di satu posisi. Bebas aku menjelajahi lebar lapangan membantu sayap kiri berpindah ke sayap kanan, turun jauh ke pertahanan lantas naik ketika peluang datang. Kebetulan aku amat suka berlari. Berlari lebih jauh dari biasanya akibat kebebasan bergerak tidak menjadi masalah sama sekali bagi kebugaranku.

Malahan aku merasa makin bugar berlari semakin jauh. Pemain Watford terlihat kebingungan menjagaku yang seperti berlari tanpa memperhatikan posisi tapi selalu ada ketika tim bertahan ataupun menyerang. Aku pun ada ketika Russel Martin melakukan over lap dari kanan. Pemain sayap kami, Gary O’Neill yang terlambat membantu Martin, segera kuisi posisinya sehingga Martin bisa memberikan bola.

Begitu bola tiba di kakiku otomatis aku berperan sebagai pemain sayap kanan. Sebuah posisi yang sangat kusukai dan kumainkan secara fasih di final AFF melawan Thailand. Posisi sayap sangatlah nyaman karena bidang lapangannya terlihat lebih luas serta tidak terlalu terjadi penumpukan pemain seperti di poros. Menghadapi bek kiri Watford asal Kamerun Allan Nyom aku cukup menggertaknya sedikit. Menyadari Nyom tidak tergertak aku tentu saja langsung memberi bola luncur ke depan mengajaknya beradu sprint.

Berduel satu lawan satu di sayap sangatlah seru karena jarang ada pemain lain yang mengintervensi. Berduel melawan Nyom aku sangat mengandalkan kecepatan juga keseimbangan tubuh. Nyom yang hitam legam tentu sangat berani berduel keras. Aku yang berdarah Asia Tenggara tentu saja akan kalah melawannya.

Kecuali bila aku lebih cerdik. Maka ketika luncuran bola mulai melambat dan posisi kami sejajar, aku mengambil ancang-ancang seperti hendak menendang bola crossing. Nyom yang melihatku langsung mengangkat satu kakinya berusaha membentuk pagar.

” Plllluuuutttt.” Meski terlihat akan menendang, aku cuma menyenggol ringan saja bola hingga meluncur horizontal di antara kaki Nyom yang terbuka memperagakan “nutmeg” yang terkenal. Nutmeg yang merupakan gerakan meloloskan bola di antara kolong kaki pemain lawan sangatlah terkenal karena menjadi indikator kejeniusan seorang pemain. Pastinya aku jauh dari jenius, tapi minimal meski tergolong pemain lambat berpikir Nyom bisa terlewati.

Saat Nyom terlewat semua pemain bertahan Watford terpecah, mereka kebingungan karena banyak pemain Norwich sudah menusuk masuk ke dalam kotak penalty mereka.Dua pemain Afro kami Mbokani dan Jerome juga sudah membuka ruang.

Aku masuk saja santai dihadang oleh bek Britos dan seorang gelandang yang aku lupa namanya. Melakukan gerakan kesukaanku seolah bergerak ke kanan ternyata betul-betul ke kanan tanpa gerak tipu sama sekali aku berhasil melakukan “nutmeg”-ke dua terhadap Britos. membuat dua pemain Watford itu terperangah melihatku yang langsung berhadapan satu lawan satu melawan kiper asal Brasil Heurelho Gomes.

Mata Gomes ketika menatapku jelas menyiratkan keputus asaan. Ia tau tak bakal selamat maka aku hanya mencoba membuat penderitaannya tidak berlangsung lebih lama lagi. Menghadang sosok jangkung tubuhnya aku tidak berusaha melakukan akselerasi lagi dan cukup menggunakan kaki kiri luar membuang bola sedikit saja kepada Mbokani yang sudah bebas. penyerang kami yang berambut gimbal tanpa bas-basi langsung saja menyambar umpanku untuk membawa kami unggul 1-0.

Satu gol membuat kami bermain semakin tenang. Beberapa menit saja setelah kick off pemain Watford yang masih hilang konsentrasi melakukan salah umpan kepada Alfred. Sahabatku ini dengan mudah langsung menaikkan bola menujuku yang justru kini sudah berada di depan lebih maju dari Mboukani. Berdiri sejajar malawan bek Sebastian Prodl aku meniru Ramang yang menunjukkan kemampuan body carga prima karena keseimbangan tubuh yang begitu terjaga. Melawan Prodl yang lebih tinggi dariku dan mulai menarik bajuku. Aku merapat saja ke tubuhnya mencoba mendorong sedikit agar ia gagal memiliki posisi yang lebih baik.

Berkat kekuatan tubuh aku berhasil memenangkan posisi sebelum bola datang. Ketika bola hendak menyentuh tanah aku yang menang posisi tinggal berputar 180 derajat sama seperti Ramang berusaha berbalik langsung menendang bola. Prodl tentu saja bersiap memblok tembakanku sampai akhirnya ia menyadari telah ditipu mentah-mentah oleh gerakanku.

Alih-alih menandang ke arah gawang kugunakan tumit mendorong bola ke samping kepada Jerome yang berdiri bebas. Penyerang kami yang juga berambut gimbal ini mengulangi apa yang dilakukan Mbokani yaitu menandang sekuat tenaga tanpa ragu-ragu membawa kami unggul 2-0.

***

Keunggulan kami berhasil dipertahankan hingga peluit panjang berbunyi. Semua pemain tertawa lebar. Apalagi aku yang merasa benar-benar nyaman berada di posisi bebas yang tersembunyi namun bisa bergerak kemana saja tanpa ada batasan gerak. Berhasil menang, aku merasa perlu memberikan tepuk tangan meriah sebagai bentuk penghargaan kepada dukungan tiada henti supporter Norwich. Aksiku yang diikuti seluruh pemain membuat para supporter kami semakin mencintai tim kebanggaanya.

Mereka serempak memberi tepuk tangan mengiringi perjalanan kami ke luar lapangan yang disertai tawa lebar. Tapi siapa sangka di tribun utama yang tengah bergembira juga ada supporter wanita yang sama yang mendukungku di kandang Arsenal saat terkena kartu merah. Ia tampak sangat berbahagia.

Bukan hanya tertawa lebar, secara khusus aku merasa ia melambai memberi selamat kepadaku. Melihat sosok fans wanita berambut blonde yang kuingat baik sama dengan yang memberiku applause di Emirates saat di kartu merah membuatku harus membalas dukungan militant wanita ini.

Kuangkat tangan sambil mengepal ke arahnya menunjukkan rasa terima kasih dan ia pun tersenyum begitu manis sambil mengepalkan tangannya. Melihat tangannya yang menggunakan baju tanpa lengan sekilas memberiku gambaran bahwa ia wanita yang sangat bugar malahan juga amat kuat.

Tangannya berotot. Tidak terlalu mengerikan seperti atlet binaragawan wanita tapi terlihat kencang tanpa lemak. Dan wajahnya sama seperti kemarin tampak masih juga menampilkan keganasan yang tersembunyi.

***

” Budi kamu ada waktu sebentar! ada yang ingin bertemu denganmu!,”

Delia Smith salah satu pemilik klub sampai harus turun sendiri ke loker pemain untuk menjemputku sekaligus menyampaikan ucapan selamat.

” Tentu Bos! emangnya siapa sih yang mau ketemu???.”

” Kamu pasti terkejut nantinya! tapi sebelumnya selamat ya buat kemenangan kalian! permainan yang bagus Budi! Kuharapkan dapat kamu pertahankan sampai akhir musim!.”

” Tentu Bos eeeggghhh,” aku malu tapi mumpung bertemu bos kapan lagi kesempatanku buat membicarakan masalah gaji ” terkait gajiku dan Alfred Bos bisakah…..”

” Ooh tentu! kalian berdua sudah bermain begitu bagus akhir-akhir ini. kami sudah menyiapkan kontrak buat kalian berikut bayaran yang lebih pantas!.”

” Wooow kamu yakin Bos???.”

” Tentu Budi! hubungi saja agenmu suruh bertemu sama kami biar jelas berapa nilai kontrakmu! kalian kan pemain promosi dari tingkat junior kontrak yang akan kamu tanda tangani ini merupakan yang pertama bagimu di level professional!.” dia memandangku begitu tenang dan membuatku begitu gembira.

” Tapi simpan dulu kebahagiaanmu Budi aku ingin kamu menemui tamu kita terlebi dahulu yang sudah berada di depan pintu loker ini!,” Delia Smith menuntunku keluar bersamanya.

Di depan loker dua orang pria bertubuh lebih tinggi dari dua meter masing-masing berbadan gempal menutupi pandanganku.

” ???.”

Memandang bingung aku menerka-nerka kebutuhan mereka terhadapku. Apakah akan ada pengecekan doping secara acak dan aku yang terpilih atau kejadian apa sehingga dua orang pria bertubuh besar ini muncul.

” Pertandingan yang bagus tadi orang Asia???.”

Suara seorang wanita beraksen kental Amerika membuatku mencari-cari dimana sumber suara berada.

” Kamu tau berkat permainanmu sekarang aku jadi suka sekali nonton bola !.”

Dia keluar dari balik pria berbadan besar yang tampaknya bisa kuduga merupakan para pengawal pribadinya.

” Nah Budi aku hendak memperkenalkanmu kepada…..,” melihat si wanita blonde muncul Delia hendak memperkenalkannya kepadaku.

” Gak apa Delia! aku yakin dia juga pasti tak mengenalku iya kan???,” si blonde membuka tudungnya memamerkan rambut blondenya serta kecantikannya yang unik.

” Mmmm,” aku mengernyitkan wajah berusaha berpikir keras siapa gerangan dia. Apakah ia anggota grup band Pussycat Dolls??. Eit bukankah grup band itu sudah lama bubar. ” eeeeeehhh..,” aku hanya bisa mengangkat tangan berusaha menemukan ilham yang sialnya tak kunjung datang.

” Gak apa kok! kamu tidak perlu mengenalku!,” ia melangkah mendekatiku. Meski hanya bertubuh 170an cm semakin dekat ia terlihat makin berisi. ” Aku hanya ingin bilang terima kasih karena kamu memberiku inspirasi lewat tekel dari belakangmu dan juga permainan indah barusan.”

” Inspirasi buat apa???,” aku menoleh kepada Delia mencoba memperoleh bantuan.

” Inspirasi buat menghancurkan si Wanita Jalang!.”

” Wanita Jalang????,” bagaimana pun aku sering terkejut bila mendengar aksen Inggris orang Amerika yang senang menyelipkan kata kasar di tengah kalimat ” kata itu begitu kasar kan??? padahal kamu kulihat sebagai wanita yang setia…malah menurutku kamu akan jadi seorang istri yang setia.”

” Apa???,” ia ganti mengernyit ” istri yang……HA HAA HAA HAAA HAAAAA.” dia tertawa begitu keras hingga Delia dan para bodyguarnya ikut ikutan tertawa.

” Ha ha ha,” aku juga ikut tertawa aneh jadinya.

” Kenapa kamu bisa bilang begitu???.” Mendadak dia menatapku seperti pandangan seorang wanita tentara yang kejam.

” Mmm kamu memberiku standing applause saat aku di kartu merah melawan Arsenal, kamu juga memberiku penghormatan yang sama saat aku menang barusan. Benar kan Bos?? wanita yang bisa mendukukung kita di saat menang dan kalah merupakan calon istri setia???.”

Aku menoleh lagi ke Delia dan bosku ini hanya tertawa aneh. Tampaknya ia ketakutan juga terhadap si wanita rambut pirang yang kini hanya berjarak satu langkah di depanku.

” Kamu tau, aku semakin menyukaimu cowo Asia!.”

” O ya?? aku juga semakin menyukaimu kalo begitu wanita Blonde.”

” Tapi sebelum aku menjadi istri setia…akan aku remukkan dulu wajah dari si Jalang……,” ia membentangkan tangannya mengajakku berjabat tangan.

” Ssssttt,” kudesiskan bibirku ” kata yang kasar tidak pantas kamu ucapkan! Apalagi bila seorang wanita cantik sepertimu yang meng…..Aaauuuuuuuuu,” aku terkejut berteriak kesakitan karena ia menjabat tanganku begitu keras. Tanganku seperti dilindas roda sepeda olehnya.

” Ups maaf…,” si blonde tertawa simpul ” aku suka kalimat-kalimat kasar, bahkan jabat tanganku pun juga kasar. Iya kan???.”

” Iya sangat… maksudku …sangat kasar sih sebenarnya tanganku saja terasa hampir patah… lagipula kenapa sih kamu suka bersikap kasar???,” tanganku masih memegang tangannya yang kini sudah tidak meremas lagi.

” Karena julukanku adalah “Rowdy”!.”

” Rowdy…itu julukan yang…..”

” Kasar???.”

” Tentu saja.”

” He he aku suka sesuatu yang kasar….,” dia kembali meremas tanganku sekarang lebih kencang dari sebelumnya. ” Karena namaku “Rowdy” Ronda Rousey!.”

BERSAMBUNG