CONCHITA Part 3

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10

Cerita Sex Dewasa CONCHITA Part 3 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Cerita Sex Dewasa CONCHITA Part 2

CATENACCIO

” The first task is to get to know the players really well-watching them as individuals in training and in match play-to see what is good in their natural game. Then, and only then, can we begin to outline the general tactics.”

Helenio Hererra

Pada tanggal 11 juli 2010 di Johannesburg Afrika Selatan, Andres Iniesta mencetak gol penentu kemenangan Spanyol di Piala Dunia hanya empat menit sebelum waktu perpanjangan waktu berakhir. Andres Iniesta merayakan golnya sambil berlari membuka kaos Timnas kebanggaannya seraya menunjukkan tulisan di baju dalamnya yang bertuliskan ; ” Dani Jarque siempre con nosotros.” Dalam bahasa Spanyol kalimat tersebut berarti ; Dani Jarque selalu bersama kami.

Tulisan di kaos Iniesta merupakan bentuk kepeduliannya pada Sosok Dani Jarque, pemain Espanyol yang ditemukan telah meninggal karena serangan jantung di kamar hotelnya saat menjalani tur pra-musim. Bukannya bermaksud menakut-nakuti tapi kasus pemain bola meninggal pada saat latihan, di tengah pertandingan maupun pasca pertandingan memang sering terjadi dalam satu dasawarsa terakhir.

Sebutlah nama Marc-Vivien Foe, pemain Timnas Kamerun, ia jatuh pingsan di tengah pertandingan lantas wafat saat dalam perjalanan ke rumah sakit. Demikian pula Antonio Puerta, Pemain Sevilla, pingsan saat melawan Getafe, wafat dalam perjalanan ke rumah sakit. Daftar nama ini akan semakin panjang dan memiliki satu kesamaan ; sebagian besar mereka meninggal karena mengalami serangan jantung.

Aku sendiri masih mengingat jelas tentang insiden Fabrice Muamba. Peristiwa terjadi saat Bolton melawan Totenham, Muamba terjatuh di lapangan secara mendadak di menit 41. Wasit senior Inggris berkepala plontos Howad Webb, menyuruh tim medis Bolton segera melakukan tindakan medis darurat. Untunglah, Sejarah pula yang mencatat, berkat kesigapan tim medis Fabrice Muamba dapat kembali hidup walaupun ,menurut catatan medis, ia telah dinyatakan meninggal selama 78 menit.

” Kenapa kamu berfikir soal kematian di lapangan Bola??,” Meneer Johan Cryuff sesuai kebiasaanya muncul di hadapanku secara tiba-tiba ” Takut kamu??? gimana mau jadi pemain bola hebat kalo takut mati???.”

” Bukan begitu Meneer, masalahnya peristiwa terakhir yang kuingat sebelum pandanganku menjadi gelap adalah suasana Stadion, mmm berikutnya kemunculan seorang wanita cantik lalu suara….”

” Jatuhnya tubuhmu sendiri???,” Meneer memotong jawabanku.

Aku menunduk malu.

” Tak perlu khawatirkan kejatuhan tubuhmu! Tim medis Norwich sangatlah ahli menangani penyakit di lapangan bola dan mereka akan segera menemukan bahwa penyebab sebenarnya dari pingsanmu adalah problema CINTA.”

Semakin dalam aku menunduk.

” Lebih tepatnya PENGHIANATAN CINTA!,” Johan keras menekan kedua kata terakhir.

” Meneer!,” cepat aku memprotes karena terkadang ia benar-benar keterlaluan.

” Sekarang lupakan sejenak kekhawatiranmu! Lagipula pemain bola jaman sekarang sangatlah rentan terkena serangan jantung mematikan karena mereka terlalu mudah dihinggapi stress berlebihan memikirkan menang dan kalah!.”

” Obesesei terhadap kemenangan Meneer??.”

” Benar! Padahal para pemain bola professional memang telah menanamkan saham pada kematian seketika akibat melakukan olahraga berintensitas tinggi yang secara pasti merusak jantung. Menambahi obsesi berlebihan akan kemenangan akan membuat mereka mati lebih cepat.”

Johan maju menepuk bahuku “Kamu mau hidup sebagai pemain bola atau mati mendadak di lapangan???.”

” Pastinya mau hiduplah Meneer!,” jawabku sambil mendelik mendengarkan pertanyaan paling konyol di dunia.

” Maka cintailah sepak bola!.”

Aku terdiam mendengar secara seksama nasihatnya. Ketika cinta diutarakan aku selalu terkesima.

” Tak perlu terobsesi akan kemenangan! cukuplah bermain bola secara sederhana dan nikmati setiap pertandingan. Mudah kan??.”

” Playing football is very simple, but playing simple football is the hardest thing there is!,” ujarku berbinar-binar karena mendapat pencerahan akan maksud ucapan terkenalnya itu.

Si pemilik kalimat hanya tersenyum ringan lalu mengajakku berjalan ” Satu pernyataan telah ditemukan jawabannya. Akan tetapi masih ada pernyataan lainnya! Sekarang kamu ikut aku! Masih ada banyak hal yang bisa kamu pelajari di lapangan bola.”

Tangan Johan Cryuff melambai memberi instruksi agar aku mengikutinya. Kami berdua berjalan melintasi dimensi hampa udara tanpa kejelasan waktu. Kehampaan disekeliling jalan kami ditemani oleh warna dominan hitam diselingi berbagai warna cemerlang tumpang tindih di perlintasan jalan. Meneer mengajakku berpedoman kepada konfigurasi warna cemerlang ini yang ternyata baginya berfungsi sebagai sebuah mercusuar penunjuk jalan.

Warna cemerlang di ruang hampa perlintasan kami semula terdiri dari bermacam-macam warna. semakin jauh kami melangkah konfigurasi warna kemudian menciut memproyeksikan tiga lapis warna ; biru, putih dan oranye. Ketiga lapis warna kemudian saling berpadu membentangkan jalan kepada kami sekaligus mengantarkan kami memasuki Stadion De Kuipp di kota Rotterdam-Belanda.

Rupanya konfigurasi tiga warna tadi telah mengantarkan kami melintasi ruang menuju penyelenggaraan pertandingan final Piala Klub Eropa antara Ajak Amsterdan melawan Internazionale Milan 31 mei 1972. Jelas aku belum lahir saat peristiwa ini berlangsung, jangankan aku, ayah dan ibuku saja barangkali masih balita.

Seperti biasa, ketika Meneer Johan membawaku ikut serta dalam perjalanan melintasi dimensi ruang hampa berselimut warna hitam, ia pasti hendak memberiku sebuah pelajaran penting. Bukan pelajaran sembarangan, tapi sebuah kesempatan melihat secara langsung peristiwa masa lalu untuk menjadi pelajaran di masa sekarang demi meraih masa depan yang lebih baik.

” 1972 European Cup Final,” Meneer Johan menudingkan tangannya ke lapangan ” Ajak vs Internazionale. Di pertandingan ini aku memintamu mempelajarinya secara seksama! Karena pertandingan ini akan dikenal nantinya oleh para pengamat dan penggemar sepak bola sebagai ” the death of Catenaccio!.”

” Hah???,” aku selalu terkesima karena orang-orang barat suka sekali memberi judul sebuah peristiwa bersejarah yang layak dikenang dengan judul-judul bombastis ” kenapa?? Death of Catenaccio??.”

” Sssstttt,” Johan menutup mulutku, menyuruhku diam lantas mengarahkan pandanganku agar melihat seorang pemain Ajak Amsterdam bernomer punggung 14. Rambut si pemain yang ditunjuknya bergaya The Beatles ala John Lennon atau Paul Mccartney. Ia berdiri tegak, mendekati sombong, namun tetap flamboyan, lebih menyerupai seorang seniman daripada pemain bola.

” Itu aku waktu masih muda,” kata Johan bangga.

” Sangat ceking Meneer,” balasku sok tau.

” PLAAAAAAAKKKK!”

” Aduuuuuhhhhh!”.

” Kamu tak perlu melihat cekingnya! Walau krempeng begitu nantinya si ceking itulah yang akan mencetak seluruh gol dalam pertandingan ini!.” Meneer menyuruhku duduk di bangku tribun penonton lalu mempersilahkanku menyaksikan jalannya pertandingan.

Dari tribun penonton kuperhatikan sejak menit pertama, pertandingan ini sebenarnya berlangsung berat sebelah. Padahal seharusnya sebuah pertandingan final dimainkan oleh dua tim yang sama kuat. Namun menurut penilaianku pertandingan 1972 European Cup Final tidak berlangsung seperti itu.

Rud Krool, Johan Nesskens, Arie Han, Gerrie Muhren hingga Johan Cryuff kesemuanya pemain Ajak, mendominasi keseluruhan lini permainan. Mereka terus bergerak tak ada kata berhenti. Begitu mobile mereka menyusuri setiap inci lapangan saling menutup dan membuka ruang.

” Jangan terkesima oleh Total Voetball!,” Johan memperingatkan ” Aku tidak mengajakmu kemari untuk terpesona dengan permainan kami! Aku mengajakmu kesini untuk melihat permainan Inter Milan! lihat cara mereka bertahan!,” Meneer memperbaiki fokus pikiranku.

Disuruh memperhatikan permainan Inter membuatku makin bingung. Apa yang mau dipelajari dari Tim Internazionale yang dibuat pontang panting sepanjang pertandingan??. Terlihat semua pemain mereka tergopoh-gopoh mengejar bola kesana kemari sama sekali tak bisa membaca permainan seniman seniman sepak bola Belanda.

” 1-3-3-3,” Meneer membantu kebingunganku dengan memberikan permainan angka.

” Meneer, kenapa jadi main matematika?? sedangkan Inter gak karu-karuan mainnya,” ujarku gusar melihat permainan Inter.

” Jangan lihat gak karu-karuannya! lihat formasi mereka! 1-3-3-3 itulah Catenaccio yang asli.” Johan menyorot sosok satu pemain bertahan yang berdiri lebih dalam dari bek lain. ” Di pertandingan ini mereka merubah formasi dari 1-3-3-3 menjadi 1-4-4-1 atau 1-4-3-2. Kamu lihat, berubah seperti apa pun formasinya satu “libero” tetap menjadi pemain poros tetap yang tidak bergerak.”

Mendengar kata “poros” membuatku makin tertarik memperhatikan cara Inter bertahan. Inilah yang kumaksud Meneer Johan hendak mengajarkanku sesuatu. Bukankah istilah Double Poros sekarang tengah ngetrend di media Inggris menggambarkan permainanku dengan Alfred.

” Sama halnya dengan bulu tangkis yang asli Inggris namun dikuasai begitu baik di Indonesia, Catenaccio aslinya ditemukan oleh orang Austria kemudian dikuasai begitu ahli oleh Helenio Hererra. Orang Italia.” Johan menjelaskannya begitu lancar “Hererra merupakan pelatih Inter sebelum pertandingan ini. Sistem Catenaccio menekankan pentingnya peran Libero, pemain yang berposisi di belakang defender berfungsi sebagai penyapu bola terakhir sekaligus, seharusnya, bertindak selaku konduktor serangan pertama kali.”

” Tapi Meneer!,” aku interupsi ” kenapa harus belajar Catenaccio sedangkan dalam pertandingan ini diproklamirkan bahwa Catenaccio sudah mati??.”

” Karena Helenio Hererra sebelum kematiannya menyatakan sebenarnya Catenanccio lebih menyerang daripada yang kamu lihat sekarang.”

Aku terdiam mendengar jawabannya.

” Masalahnya..,” melihat aku terdiam Meneer melanjutkan ” Hererra mengatakan mereka yang menirunya melakukan copy paste secara gegabah! mereka lupa Hererra memiliki Picchi sebagai sweeper bertahan murni, dan ia juga punya Facchetti, full bek serba bisa yang bisa membuat gol kapan saja.”

Aku bertambah bingung.

Meneer mengangkat tangannya menantangku membuat kesimpulan.

” Hmmmm aku bingung Meneer…,”

” Pikirkan!.”

Ini lebih merupakan tantangan berupa teka teki yang harus kupecahkan. Pikir Budi, Picchi dan Faccheti pastilah nama pemain. Sweeper dan Full back merupakan nama posisi. Terus apa hubungan Picchi dan Faccheti dan Death of Catenaccio????.

” Kamu bingung!,” Meneer menantangku.

” Sangat!.”

” Bagus! sekarang buka matamu!

***

Isyarat Meneer Johan membuatku membuka mata kembali ke dunia nyata. Pandangan wajah para tim medis Norwich berwajah tegang membawa alat-alat kedokteran menjadi yang pertama kulihat. Belum lagi kerumunan para pemain Norwich dan City tampak mengerumuniku dengan wajah penuh kekhawatiran. Seketika aku merasa malu. Sangat malu malah.

Persis seperti dugaan Meneer, tim medis Norwich bekerja begitu cekatan ketika melihatku pingsan di dekat bangku para penonton. Mereka bahkan sudah menyiapkan obat trombolitik atau obat pengencer pembekuan darah pembuluh koroner dan bersiap menyuntikkkan ke tanganku. Untunglah aku tersadar di waktu yang tepat.

” Huuuuuuup.”

Menahan rasa malu dan tak tahan diperhatikan puluhan pasang mata dengan wajah penuh kekhawatiran aku langsung melompat setengah bersalto. Sebuah gerakan yang tentu saja langsung mengejutkan para tim medis dan pemain di sekitarku.

” I’m fine! I’m fine!,” teriakku sambil tersenyum konyol sembari melambai-lambaikan tangan. Senyum lebar di wajahku membuatku tampak semakin bodoh.

” Pllloookkk….plllloooookkkkk,” akan tetapi, meskipun terlihat idiot kebangkitanku mampu merubah wajah ratusan supporter Norwich dari yang semula beraut tegang menjadi penuh suka cita. Mereka memberiku applaus begitu riuh. Aku berusaha membalas apresiasi penonton dengan mendekati mereka untuk sama-sama bergembira merayakan kemenangan Norwich atas Manchester City yang sebelumnya sempat tertunda.

***

” Untung kamu bangun tadi Budi! Padahal kami telah menyiapkan Percutaneous Transluminal Coronary Angioplasty (PTCA) primer,” kata ketua tim dokter Norwich saat kami beranjak meninggalkan lapangan pertandingan.

” Apa itu dok??,” tanyaku.

” Metode darurat pembalonan jantung agar saluran koroner terbuka!,” ujarnya ” tindakan medis darurat bagi pemain bola yang mendadak terkena serangan jantung di lapangan. Kami semua mengira kamu kena serangan jantung tadi.”

” Aku…aku hanya pingsan biasa kok Dok,” ujarku galau ” lagi pula pembalonan?? itu seram sekali kan???,” ujarku kembali berwajah bodoh ” aku baik-baik saja kok Dok! tadi….aku hanya terlalu gembira.”

” Sepertinya demikian Budi. Kondisimu barangkali bisa disebut Over Excited.” Dokter tampak ragu sendiri dengan ucapannya “Tapi kamu harus ingat,” ia memang cepat mengalihkan pembicaraan saat tak menguasai persoalan ” FA tak pernah main-main menghadapi pemain jatuh pingsan di lapangan. Mereka melihatmu pingsan tadi dan mereka akan melakukan medical check up besar terhadapmu dan…ini yang kami sangat tidak inginkan terjadi, mereka akan melarangmu bertanding selama pemeriksanaan medis ini berlangsung.”

” Kamu serius Dok??,” aku tak percaya

” Yeah, Untuk alasan medis”, jawabnya cepat.

” Dokter serius???,” aku masih tak percaya.

” Budi aku serius! kamu harus ingat, sejak insiden Fabrice Muamba tahun 2012, FA bersikap ekstra hati-hati menghadapi masalah serangan jantung di kalangan para pemain bola. Insiden pingsanmu barusan merupakan makanan hangat bagi mereka!.

***

Kenyataan akhirnya membuktikan, perkataan Ketua Tim Dokter Norwich benar adanya. F.A memberlakukan larangan bertanding sebanyak dua pertandingan berturut-turut terhadapku. Bukan hanya itu, mereka juga menerjunkan tim dokter terbaik guna memeriksa kondisi kesehatanku secara keseluruhan.

Perhatian Organisasi Persepakbolaan Inggris kepada kondisi kesehatan para pemain memang menjadi prioritas utama. Aku merasakan benar, bagaimana kami, sebagai pesepakbola, tidak boleh main-main dengan kondisi tubuh. Pilek atau pusing ringan saja sama artinya tidak akan bisa bermain di pertandingan. Coach atau manajer utama selalu memperhatikan rekomendasi tim medis saat menurunkan tim terbaiknya.

Perlakuan tadi baru merupakan perlakuan Tim kepada pemain. Sekarang sikap FA kepadaku memang amat sangat over protective. Sebagai penguasa sepak bola Inggris, mereka memaksaku merasakan duduk tenang di bangku cadangan sedangkan teman-temanku bersimbah keringat di lapangan sebanyak dua pertandingan berturut-turut.

Percayalah duduk di bangku cadangan rasanya sangat menyebalkan. Apalagi menyaksikan tim yang kami hadapi adalah Tottenham Hotspur. The Lilywhites. Penghuni peringkat ke lima musim 2014 yang terkenal akan mottonya ” To Dare is to do”.

Motto sebuah tim sering menggambarkan cara bermain mereka. Ambil contoh ” You’ll never walk alone” yang menjadi milik Liverpool. Motto berafiliasi lagu ini, menegaskan kebulatan tekad para supporter, atau sumpah setia mereka, selalu berdiri di belakang tim The Reds dalam setiap keadaan.

” To Dare is to Do-nya”, Tottenham sebaliknya merupakan pernyataan sikap dari para pemainnya, sekaligus komitmen mutlak, untuk berani malawan tim mana pun yang mereka hadapi. Melihat langsung permainan mereka di Carrow Road hari ini, membuatku sadar, Tottenham benar-benar berani. Bermain di kandang lawan mereka tetap tampil menyerang. Tidak terpengaruh sama sekali oleh tekanan pendukung setia Norwich, mereka mengambil alih penguasaan lini tengah dan memborbardir kami dari semua penjuru.

Alfred sahabat setiaku, terlihat sudah jatuh bangun berkali-kali berusaha menahan gempuran mereka. Dobel poros tak bekerja. Tak ada pemain tengah senior yang dapat menemani Alfred menjaga kedalaman lini tengah sekaligus menjadi partner seimbang kala tim bergerak naik ke lini serang. Rasanya baru kemarin aku bilang kick and rush Norwich tamat. Well ternyata aku keliru.

Kick and Rush kini bangkit lagi lebih parah dari sebelumnya. Tim kehilangan penguasaan bola. Tidak mampu menahan bola barang sedetik guna bisa mengalirkan bola. Kami dipaksa bertahan semakin dalam dan semakin dalam karena tak mampu menguasai bola. Son Heung Min pemain tengah Korea Selatan berhasil memimpin lini tengah Tottenham mendikte permainan kami.

Satu-satunya penyelamat kami sehingga tidak mendapat malu di kandang sendiri pastilah Alfred. Bakat alamiah dari Papua, ia berjuang sendirian, tanpa kenal takut menangkal setiap jenis serangan yang datang. Ketika Tottenham mengaktifkan gempuran sayap, Alfred tidak ikut mengejar ke sayap, ia membaca dengan baik pergerakan setiap pemain serang The Liliwhites. Tidak seperti kebanyakan pemain bola lain, Alfred tidak memperhatikan bola ketika terjadi serangan.

Alih-alih melihat bola, ia mengandalkan indera pendengarannya mendengarkan kapan bola akan dilepaskan atau mendengar teriakan penonton yang menandakan kejadian di lapangan. Harus kuakui feeling Alfred teramat tajam sehingga bisa menangkap pergerakan bola tanpa harus melihatnya. Fokusnya selalu hanya melihat pergerakan pemain lain, baik tim lawan maupun timnya sendiri.

” Syuuuuuuuuuuuuuuutttttt.”

Lihatlah kala bola meluncur menuju Harry Kane. Penyerang andalan Timnas Inggris yang pernah dipinjamkan ke tim kami pada tahun 2012. Alfred melihat Bassong dan Wisdom, duet center back kami sudah out positition. Sekuat tenaga Alfred maju, berusaha membody charge Harry.

” Jdaaaaaaaaaaaaakkkk.”

Berbekal skill tinggi tentu saja Harry Kane berhasil menyundulnya. Sebuah sundulan kencang menghujam tanah langsung memantul menuju gawang. Bola meluncur keras sekali sehingga kiper Ruddy tak bisa menjangkaunya.

” Ssssssssaaaaaaaaaaaaaattt.”

Meski pun bola meluncur demikian keras, upaya Alfred menutup ruang geraknya membuat bola tandukannya masih melenceng beberapa centi saja dari gawang. Kami selamat. Alfred bangkit menatapku. Pandangannya pucat pasi. Dimborbardir seperti itu pastilah membuatnya lelah secara fisik dan mental. Dari tatapan matanya kulihat Alfred ingin mengatakan ” Kaka, turun sini cepat! kita dibantai ini habis-habisan sama Tottenham.”

Aku hanya bisa mengangguk memberikan jawaban kepadanya. Lagipula apa dayaku ditengah larangan bermain. Anggukanku sendiri mengharapkan agar Alfred mempertahankan semangatnya mempertahankan pertahanan kami selama 90 menit pertandingan. Dan harapanku benar-benar diwujudkan olehnya. Berkat kerja keras Alfred dan seluruh pemain Norwich, kami berhasil menahan Totenham 0-0 dan Alfred menjadi Man of The match pertandingan berkat ketangguhannya dalam bertahan.

Pelatih Tottenham Mauricio Pochettino sehabis pertandingan bahkan memujinya secara pribadi disamping menyayangkan kegagalan timnya memenangkan pertandingan padahal memiliki begitu banyak peluang. Ia mengakui double poros memang tidak ada di pertandingan ini, tapi sosok Alfred berhasil menjadi single poros yang menutup pertahanan Norwich City.

***

Sayangnya pada pertandingan minggu berikutnya Alfred gagal mencegah kekalahan kami. Bertandang ke Upton Park markas West Ham, kami kalah telak 2-0. Kekalahan kami tentu lebih disebabkan karena faktor teknis dan mental. Gambaran burung kenari ketebalan bulu berdiri di atas bola berwarna kuning tergambar jelas di benakku kala menyaksikan langsung pertandingan lagi-lagi dari bangku pemain cadangan.

Tidak ada determinasi. Nyaris tidak ada seni mengendalikan bola. Yang ada hanya keterburu-buruan dalam segala hal. Tergesa-gesa membangun serangan. Tak punya kesabaran mengkonsolidasi pertahanan.

West Ham menghukum kami tanpa ampun. Sebuah kekalahan yang sangat layak.

Kami harus belajar banyak. Minggu depan kami melawan Arsenal. Tak ada waktu santai atau pun memikirkan kekalahan. Kami harus segera bangkit. Coach Neill terlihat tersenyum lebar walau kami kalah. Tentu saja tiga kemenangan beruntun, satu kali seri, dan sekarang baru menderita kekalahan merupakan sebuah prestasi tersendiri baginya yang bisa membuat resiko pemecatannya menjauh. Akan tetapi rupanya bukan karena alasan itu ia tersenyum. Kala ditanya wartawan kenapa ia tampak begitu optimis menatap pertandingan melawan Arsenal, Coach Neill cuma menjawab, ” Kami optimis melawan Arsenal karena kami sudah bisa memainkan Budi saat bertandang ke Emirates Stadium!.”

” Maksudnya kamu percaya sama bocah tukang pingsan itu???,” seorang wartawan mengajukan pertanyaan frontal.

” Hehh jaga mulutmu wartawan sialan!,” Coach Neill tersulut emosi “Budi bukan tukang pingsan. Catat itu baik-baik! Dia adalah pemain andalan kami dan bersama Alfred, mereka berdua, akan menjadi dobel poros terbaik di Premier League.”

***

Tiga hari sebelum pertandingan Runner Up Miss England Amber, mengajak aku dan Albert berjalan-jalan menyusuri sudut-sudut Kota Norwich. Amber mengatakan sudah menjadi tugasnya sebagai Ratu Kecantikan Inggris memandu kami melihat keindahan kota Norwich. Katanya jalan-jalan baik bagiku karena bisa menurunkan tingkat stress menjelang pertandingan melawan Arsenal, sedangkan bagi Albert tour kami berguna membuatnya gembira dan sejenak melupakan sakit yang dideritanya.

Si cantik Amber mengajak kami mendekati Kota London tapi tidak keluar dari Kota Norwich.

” This is the famous Norfolk Broads!,” Amber berbicara seperti layaknya pemandu wisata.

Kawasan Norfolk Broads sendiri tentu sudah pernah kudatangi bersama Albert namun tentunya belum memahaminya secara keseluruhan. Kawasan perairan terpadu, begitu orang Inggris biasa menyebut Broads ini, menghubungkan banyak sungai serta danau secara teratata rapih sehingga bisa dilintasi dan dijadikan objek wisata.

Sering aku membayangkan Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi bisa terhubungan melalui kawasan perairan terpadu seperti disini. Selain bisa mengurai kemacetan sebenarnya transportasi air bisa menjadi solusi menambah pendapatan daerah yang katanya sekarang sedang digembar-gemborkan oleh seluruh Pemda di Indonesia.

Sebagai perbandingan di area Norfolks ini saja terdapat kawasan cottage mewah dilengkapi ratusan Yatch siap memanjakan para turis dari dalam dan luar negeri. Meski Norwich terhitung Kota kecil, keberadaan kawasan ini bisa menarik minat para selebrity Hollywood seperti Ashton Kutcher hingga Harrison Ford untuk menginap di Norfolks..

Itulah sebabnya Amber begitu bersemangat ketika menjelaskan secara terperinci kawasan Norfolk.

” Lihatlah Budi, Albert! kalian belum disebut warga Norwich bila belum menginjakkan kaki di Norfolk Broads. Kita bisa melihat banyak sekali Yatch mewah berwarna putih melintas diantara kincir-kincir angin tua, membelah perairan yang melintasi lebih dari 15 Broads lain di seluruh Inggris.”

” Jernih sekali ya airnya Amber!,” sepanjang perjalanan Albert menyimak begitu serius penjelasan Amber. Pertanyaannya terdengar spontan tapi mengandung kebenaran.

Bukan hanya air, kebersihan lingkungan sekitar juga teramat sempurna. Tak mungkin para milyuner Eropa betah menginvestasikan kekayaannya dalam bentuk mengkoleksi Yatch diseputaran Broads bila tak ada aspek menguntungkan disini. Secara ekonomi, kawasan Broads sangatlah produktif.

” Kita bisa menuju London hanya dalam 20 menit sambil menikmati keindahan alam!,” Amber masih saja bercerita.

” Amber interupsi!,” Albert mengangkat tangannya ” Kami sudah pernah kesini kok sebelumnya! kami kan warga Norwich,” sebuah kalimat spontan kembali terlontar dari kepribadian polosnya.

” Ups!,” Amber sedikit terperanjat tapi begitu mahir ia mengatasinya ” Ia..Ia maaf Albert bagaimanapun juga profesiku sekarangkan Miss England! gak apa donk kalo aku mempromosikan pariwisata Norwich kepada kalian berdua???,” kata Amber mengelak mengingatkanku pada sosok Kak Chita kala menghadapi situasi serupa.

” Gak apa sih!,” Albert mengangkat bahunya ” Hanya gak usah terlalu detail deh kami kan udah tau.”

Aku tertawa keras mendengar permintaan Albert.

” Iya iya adiikku yang ganteng Albert! aku jelaskan garis besarnya aja deh! jadi gini…Norfolks merupakan kawasan perairan terpadu, terdiri dari sungai dan danau-danau besar….”

Nah, kamu memang layak jadi Miss England Amber!. Digertak oleh Albert tadi tidak mempengaruhi keberanianmu.

Aku kembali menatap keindahan kincir angin di tepian sungai yang mengalir indah. Kincir angin berputar seiring tiupan angin yang menerpanya kemudian menggerakan turbin-turbin air dan bisa dimanfaatkan lebih lanjut oleh warga sekitar. Sebuah mekanisme alam yang indah berpadu dengan buah pikir manusia. Ketika manusia dan alam bisa selaras rupanya sangat banyak manfaat bisa diperoleh oleh kedua belah pihak.

Kincir angin mengajarkan kepadaku banyak ilmu sedari kecil. Kekuatan alam merupakan kekuatan terbesar. Manusia bisa memperoleh kekuatan itu bila bisa hidup selaras dengannya. Di lapangan bola saja belajar memanfaatkan kekuatan alam selalu kuterapkan.

Ambil contoh angin merupakan sahabat baikku di samping bola dan sepatu bola. Bisa merasakan arah angin berhembus akan membantu seorang gelandang ketika menendang ke arah gawang. Liukan tendangan sudutku saat piala AFF di Jakarta sebenarnya terbantu sekali oleh dorongan angin sehingga bisa begitu kencang dan menukik.

” Budi kamu ngelamun apa??.”

” Hah eehh aku…..”

” Jewer saja Amber gak memperhatikan tuh si Budi!,” Albert girang melihatku terjepit.

” Ini contoh murid yang tidak boleh kamu tiru ya Albert! tidak memperhatikan ketika guru mengajar!,” tangan Amber menjewer telingaku.

” Aduuuuhhh,” aku mengernyit ” sakit…sakiit iyaa iyaa maafkan saya Bu Guru!.”

” Hi hi hi rasain kamu Budi!.” Albert tertawa lebar.

Kami berdua senang melihat senyum di wajah Albert. Ia sangat memerlukan senyum itu. Sebuah senyum yang mudah mudahan bisa menyembuhkan penyakitnya.

***

Amber begitu terkejut mendapati aku memiliki Yacth siap pakai di dermaga Barton Broad di utara Norfolk. Bukan Yatch kepunyaanku sebenarnya tapi milik Stephan Phillips, pemegang saham mayoritas Norwich City. Beliau bersama Delia Smith sangatlah dekat dengan seluruh unsur tim sepak bola kami, termasuk mempersilahkan kami menggunakan fasilitas yang dimilikinya ketika memerlukan refreshing.

Nama Yatchnya sendiri merupakan wujud kecintaan pemilik klub kepada tim kebanggaannya ; The Cannaries. Warna kuning layar yang menemani mayoritas warna putih di seluruh body kapal menunjukkan identitas Norwich. Sengaja, Stephen Phillips menyandarkan Yatchnya di dermaga Barton karena disini hampir tidak ada ombak. Airnya begitu tenang sehingga mudah dilayari.

Aku mengajak Albert dan Amber naik ke lantai dua Yatch agar bisa menikmati keindahan alam secara maksimal. Meski Albert menggunakan kursi roda, kekuatan ototku masih terlalu kuat untuk bisa menggendongnya lantas mendudukkannya di bangku nyaman yang telah tersedia.

Kubentangkan layar kemudian menuju ruang kemudi yang terletak di badan utama Yatch. Kendali kemudi Yatch The Cannaries sudah memiliki kemudi otomatis. Meski demikian tetap diperlukan sebuah keahlian mengoperasionalkannya. Untunglah dulu aku telah diajarkan mengemudikan Yatch sehingga bisa kupergunakan sekarang.

Kemudi Yatch berbentuk setir besar seperti yang bisa kita lihat pada film Pirates of Carribean tapi berukuran lebih kecil. Bahan pembentuknya pun tidak lagi dari bahan kayu, tapi telah digantikan oleh besi yang berbobot ringan. Di atas kemudi besi terdapat seperangkat peralatan navigasi yang terdiri dari empat indikator kecepatan, satu tombol on/off, dua tiang perseneling, radio, hingga layar monitor berukuran sedang.

Aku tinggal menghidupkan tombol, memastikan ikatan tali telah terlepas dari dermaga, mengatur perseneling dan meluncurkan kapal melintasi keindahan Norfolk. Mengendalikan setir beroda besi besar membawaku berkhayal menjadi seorang laksamana kapal laut sedang berlayar membawa kebahagiaan kepada seorang wanita cantik, dan seorang anak ABG baik hati.

Melintasi perairan Norfolk sendiri seperti melihat langsung corak budaya Inggris masa silam. Bila melihat Norwich sering aku menyamakannya dengan Yogyakarta atau Solo bila di Indonesia. Kota-Kota yang masih menjaga aspek tradisi masa lalu di tengah gempuran budaya modern. Lihatlah liukan tepian sungai yang kami lintasi di kanan dan kirinya berdiri rumah-rumah peristirahatan berbentuk klasik yang memiliki atap-atap hitam tampaknya terbuat dari anyaman bambu tebal.

Berlayar lebih jauh kehadiran katedral peribadatan agama Katolik bernuansa Normandia memberikan gambaran tersendiri. Pada abad ke 11 Inggris memang pernah ditaklukan oleh bangsa Normandia yang dipimpin William The Conqueror. Itulah sebabnya corak ala Viking juga masih bisa kita saksikan dalam sejarah ketangguhan armada laut Inggris.

Bukankah Napoleon Bonaparte, penguasa pertempuran darat eropa, tak pernah bisa memuaskan nafsunya berkuasa di laut ketika menghadapi armadanya Horatio Nelson??. Ketangguhan laut Inggris pula yang membuat ratu perawan Elizabeth 1 mampu menangkal gempuran armada tangguh Spanyol pada abad 16.

Corak ketangguhan bangsa Viking berpadu begitu sempurna dalam sebuah adat istiadat Inggris yang mengedepankan tata karma ala Gentelman istana dan tergambar jelas di aliran sungai Norfolk. Sungai dan danau di Norfolok menggambarkan ketenangan air, di dalam ketenangan itu tersimpan ketangguhan tak terbantahkan dalam bentuk desiran ombak yang sering kali buas selain di dermaga Barton tentunya.

Menyusuri sungai terpadu Norfolk, kuharapkan bisa membuat Amber dan Albert merasakan langsung kebanggaan tradisi tanah air mereka. Buatku sendiri, seberapa indah dan menterengnya budaya Inggris tak bisa melunturkan kebangganku akan bumi pertiwi Indonesia.

Ketika mendengar ketangguhan tradisi Viking, Indonesia juga punya suku Bugis yang memiliki ketangguhan bahari serupa. Bicara tata karma, ayahku yang berbudaya Jawa menunjukkan secara terperinci tata karma yang bahkan lebih dalam maknanya dari budaya Inggris. Dan masih banyak lagi keunggulan budaya dari setiap suku di negeriku tercinta.

Masalahnya budaya tangguh Viking Inggris berhasil ditanamkan dalam kultur sepakbolanya yang bercirikan speed and power. Kenapa kami yang memiliki budaya tangguh serupa tak mampu mengaplikasikannya dalam sepak bola nasional, selain kebuasan pemain kala mengejar wasit, dan kebuasan penonton saat tawuran.

Kami gagal mengalirkan energy negative agar menjadi positif. Alih-alih berhasil kami malah terbenam semakin gagal saat membawa sepak bola masuk ke ranah politik. Dunia penuh sportifitas di negeriku terus saja tenggelam dalam dunia “ketebelece”.

” Albert sudah tidur Budi!, terima kasih sudah membawa kami dalam Yatch mewah ini,” Amber berujar lembut sembari turun ke ruang kemudi.

Melihatnya turun membuatku memperlambat laju kapal sebelum menghentikannya. Kebetulan Albert sudah tidur. Kuturunkan jangkar agar kami berdua bisa mengobrol santai. Rasanya sayang bila romantisme perairan Norfolk tidak kami nikmati sambil mengobrol berduaan.

” Kemari Amber!,” kupanggil dia agar mendekat

Hari ini Amber memang tampil begitu sexy. Pakaian yang dikenakannya berbentuk putih transparan memamerkan keindahan bikini berwarna merah yang dikenakannya. Di bawah Ia mengenakan celana jeans hot pants yang hanya menutup beberapa jengkal di atas pantat bulatnya. Aku tak bisa melawan naluri laki-laki untuk berpikir jorok saat melihatnya berpenampilan begini sexy.

” Sebentar Budi!,” Amber seolah bisa membaca libidoku yang terpacu berkat tampilannya. Tanpa malu-malu ia melepas begitu saja hot pants sekaligus baju transparan putih membuatnya tampil polos hanya berbalut bikini merah. ” Well gak apa kan aku pake bikini?? cuaca juga lagi cerah. Aku perlu berjemur.”

” Kamu sexy Amber!,” aku terpana melihat keindahan tubuhnya. Kemampuan menjaga bentuk tubuh yang dilakukannya melalui diet ketat dan olahraga rutin membuat postur tubuh Amber sangatlah hot bagi seorang wanita. Kadar lemaknya kuperkirakan pasti dikisaran 20 persen hingga perutnya rata tanpa benjolan-benjolan selulit.

Namun ia begitu pintar mengendalikan kadar lemaknya hingga tidak turun lebih rendah dari 20 persen yang bisa membuat pantat dan payudaranya juga akan ikut-ikutan kendor. Dijaga disekitaran 20 persen menciptakan kondisi lemak yang membuat bentuk tubuh Amber menjadi ramping, namun tetap montok dan sexy karena pantat dan payudaranya menjadi terangkat montok dan bukannya kendor.

” Kemarilah! katanya kamu mau belajar cara mengemudikan Yatch??.”

” Sure! I love it,” ujarnya menghambur dalam pelukanku.

Aku memeluknya dari belakang sambil berpura-pura mengajari navigasi berlayar. Konsentrasiku berantakan merasakan bongkahan pantat bulatnya menggesek-gesek tepat di area kejantanannku. Belum lagi aroma tubuh Amber selalu begitu harum serta membangkitkan naluri alamiah seorang laki-laki.

” Ini adalah kemudi kapal! peganglah!.”

Kupandu kedua tangannya memegang besi kemudi.

” Auuuucchhh,” Amber terkejut kala merasakan tanganku secara tiba-tiba merangkul pinggang rampingnya saat kedua tangannya sedang naik memegang stir kapal ” geli tau Budi,” ujarnya manja.

Aku tak mau terlewat momen menggairahkan bersamanya. Disajikan tubuh wanita seindah runner up Miss England tentu membuat jakunku turun naik tak terkendali. Tanganku begitu nakal mendarat di pingganya sengaja membuatnya kegelian. Pengalaman bersama Amber sebelumnya membuatku mengetahui bahwa ia adalah tipe wanita penggeli sekaligus amat mudah terangsang.

” Hehhh heeehh geli Budi!,” Amber makin terkikik geli mendapati aku tak henti mengerjai perut ratanya.

Ia hanya bisa menahan kedua tangan di kemudi besi berupaya keras menahan segala rasa geli yang datang. Berada tepat di belakangku sambil memegang kemudi memang menempatkannya dalam posisi sulit karena begitu terekspose terhadap keusilanku.

” Kamu cantik Amber,” bisikku sambil menyingkirkan rambut tergerai panjang yang menutupi tengkuk leher lantas menciumnya.

” Uuugggggghhhhhhh,”Amber mendongak seketika. Dekapan tanganku saja sampai sempat terlepas karena lonjakan tubuhnya. Cepat, kembali kukekep tubuhnya seiring memperdalam hisapan di tengkuk indahnya.

” Aaaahhh jangg….haaahh….jangannn di tengkuk Budiiii….geli….geliii….aaaahhhhhh,” hisapanku di tengkuk membuat Amber begitu kegelian. Tengkuknya sendiri memang menggoda karena ditumbuhi rambut-rambut halus yang menandakan daerah itu merupakan salah satu organ sensitifnya.

Lama aku memagut tengkuknya sembari berusaha menenangkan segala lonjakan-lonjakan tubuhnya yang kini lebih menyerupai wanita yang terangsang daripada kegelian.

” Bukan hanya cantik tapi kamu juga sangat…..binal!,” pujiku ketika melihat rona pipinya semakin menggairahkan kala berwarna kemerahan.

” Binal….ahhhh…….Masa???,” bisiknya penuh desahan sambil menengadahkan wajahnya ke dadaku. ” masa…sih…ahhh…. Budi??.”

Tatapan wajahnya yang mendangak memamerkan wajah hornynya membuatku tak tahan seketika memagut bibirnya. Tubuh Amber masih lebih pendek dariku. Begitu mudah kuarahkan tanganku menahan leher jenjangnya tetap mendangak agar aku mudah mencumbunya dalam posisi itu. Kulit jariku bergerak pelan melingkupi seluruh lehernya merasakan bulu-bulu halus di area leher yang mulai berdiri.

” Aaaaaaahhhhhh,” ciumanku lepas.

Amber mulai mendesah karena tanganku mulai menyelinap dari balik cd bikini merahnya yang berbentuk sangat sexy. Cd bikininya hanya ditahan oleh sebuah simpul disamping pinggang. sekali tarik saja Cd itu pasti terlepas.

Sekarang jariku mulai menyusup menyentuh organ kewanitaan yang selalu dirawat oleh Amber sehingga mulus tanpa rambut kemaluan. Sambil menyusupkan jari, bibirku menciumi lehernya.

” Huuuuhhhhhhhh.”

” Lihat ke dapan Amber!,” perintahku agar matanya melihat saja kepada keindahan perairan Norfolk.

Jariku mulai masuk mengucapkan salam perkenalan di labia mayora Amber yang berfungsi melindungi vaginanya dari benda-benda asing. Lembut dan pelan-pelan benda asing berupa jariku ini hendak mengobok-ngobok pintu vagina nan sempit berusaha membawa pemiliknya ke klimaks kenikmatan. Perlahan kubukan labia mayora tebal kemudian masuk menuju labia minora perlahan mendekati klitoris hanya dengan satu tangan.

“Lihatlah perairan itu Amber! begitu indah….begitu nikmat,” bisikku ngawur karena tengah asyik menggarap kemaluan Amber.

” Hhuuuuhhhh,” mendesah sambil terangsang membuat Amber tampak begitu sexy.

Kupaksa menatap lurus ke depan membuatnya makin sexy karena ia kini seperti orang bingung berwajah merah padam. Ia bingung karena terangsang. Dan karena terangsang itulah ia bingung. Ya kurasakan kebingungan Amber dipicu oleh ereksi sporadis di labia minoranya. Wanita cantik ini telah terangsang merasakan dirinya dikerjai di tengah keindahan perairan Norfolks dan kenyamanan Yatch yang kami naiki.

Jariku kini menyibak labia minora membuka agar terbuka lebar lalu mencelupkan satu jari telunjuk mendekati klitoris. Jari telunjukku kurasakan sudah cukup memberikan tekanan yang pas sehingga mendongkrak hormon adrenalin sekaligus endorphin dalam diri Amber. Kedua hormon ini apabila diaktifkan secara bersamaan melalui rangsangan klitoris akan efektif membawa wanita kepada kesehatan jiwa dan raga.

” Budi….aaahhhh…enakkk…enakk sekali…permainan jarimu…..tapi…aku takut Albert bangun!,” bisiknya di telingaku.

Mendengar kekhawatirannya malahan membuatku ingin melangkah lebih jauh. Kubawa ia melihat dua kapal lain yang memang tengah berlayar tak jauh dari kami.

” Albert sedang tidur Amber! ia lama bangunnya kok kalo tidur,” terus kuciumi setiap senti lekuk-lekuk tengkuknya ” sekarang kamu lihat kedua kapal itu!,” kataku membawanya melihat kedua kapal yang kumaksud.

” Yaaaahhhh…kenapa kapal-kapal itu aaaaahhhhhh,” Amber masih saja mendesah tak terkendali dihantam rangsangan telunjukku yang masih setia bermain di klitorisnya.

Kedua kapal Yatch yang kumaksud berukuran lebih besar dari kapal kami. Terlihat ada lebih dari lima orang dalam satu kapal yang sedang menikmati pemandangan dari lantai dua. Dari sudut pandang mereka serta bentuk kapalnya yanga lebih tinggi dari kami memang membuatnya bisa melihat posisi Albert sekarang yang tengah tertidur nyenyak atau pun posisi kami berdua di bangku kemudi.

” Mereka bisa lihat kita Amber!,” ujarku.

” Ahhhhhhh ooohhhh masa sihhhh???? bukannya kaca ini terlalu gelap bila dilihat dari luar????,” nada keresahan mulai terdengar dari bibir Amber.

” Tidak! mereka bisa melihat kita!,” jawabku sembari tanganku meremas payudaranya.

” Ah yang bener!,” Amber berusaha berontak ” malu donk Budi! aku gak mau mereka melihat kita,” terus ia berontak ” lepasin aku Budi!.”

” Amber!,” kuucapkan namanya keras! ” aku malahan ingin mereka melihat kita berdua bermain cinta di Yatch ini!.”

” Apa???,” ia terkejut. ” Oooooooohhhhhhhh.”

” Aku ingin mereka melihat keindahan tubuhmu!,” ujarku sembari membetot bikini merah yang menyangga payudara Amber hingga terlepas.

” Aaaaaaahhh Budi….kamu nakal……ahhahhhhh.” Amber langsung mendesah keras saat aku menarik tubuhnya dari kemudi agar merapat ke kaca samping yang menghadap langsung ke kapal Yatch yang sandar di sebelah kanan kami.

Kapal di kanan kami memang memiliki lebih banyak penumpang di kapalnya. Mereka semua tampak tengah bergembira dalam sebuah pertemuan. Ada yang sedang minum, memakan makanan ringan, juga bercanda gurau. Kaca kapal kami cukup lebar hingga seandainya saja benar kapal ini tembus pandang mereka pasti bisa melihat badan Amber secara keseluruhan dari atas hingga sepasang kaki jenjangnya.

Namun sayangnya kaca kapal ini memang didesign tidak bisa dilihat dari luar. Aku hanya menggoda Amber agar memacu hormone adrenalin dalam tubuhnya. Luapan hormon adrenalin akan membuatnya bisa memainkan sebuah percintaan yang begitu panas dan tentunya memuaskanku sebagai laki-laki.

Melihat sikapnya sendiri serta kecerdasan yang dimiliki, aku tau Amber pasti sudah mengetahui kaca ini tidak tembus pandang. Ia hanya berusaha mengikutiku bermain dalam sebuah permainan peran yang menegangkan.

” Haaaahhh Budi kamu bener bener makin nakal sekarang!,” jerit Amber kala tubuhnya khususnya payudaranya kutempelkan menempel di kaca Yatch. Tangannya lantas kuangkat kedua-duanya agar naik menempel juga di kaca. Penampilan tubuhnya semakin bertambah sexy dalam kondisi tertempel kaca seperti ini.

” Aku nakal Amber???,” tanyaku sambil menunggingkan pantatnya lalu mengacungkan alat kejantanan yang telah mengacung karena celanaku sudah terlepas.

” Kamu nakal sekali! Budi,” Amber menggeleng-geleng bersiap menerima penetrasi. ” Youre such a Bad Boy.”

” Suka gak kalo aku nakal??,” tanyaku dengan nada mesum.

” Suka….suka banget…..aku sangat suka kalo kamu nakal begini Budi….AAAAAAAAAAHHHHH.”

Amber berteriak lantang merasakan tusukan pertamaku yang disertai jambakan di rambut panjangnya. Mendapat jambakan tentu membuat Amber terdangak sexy. Penetrasiku mulai terhujam dengan keras penuh hormon adrenalin yang berdegup kencang di seluruh penjuru tubuh.

Kami berdua membayangkan para penumpang Yatch sebelah bisa menyaksikan persetubuhan kami secara langsung.Tentunya membayangkan sebuah persetubuhan yang ditonton membuat detak jantung kami semakin cepat mengantarkan aliran darah ke seluruh penjuru sel-sel tubuh.

” AAAAHHH AAAAHHHHHH AAAHHHHHHHH.”

Jeritan teriakan Amber terdengar semakin keras.

” Huuuuppp,” tanpa melepas pentrasi kulepas cdnya yang masih terpasang dalam sekali tarik, lantas kubawa agar menyumpal bibir indahnya.

” Emmmmm bbbuuuud ememmmmmmm.” Amber menerima celana dalamnya sendiri dengan penuh gairah menyala-nyala. Nafsu dan birahi telah menguasainya hingga tak peduli lagi celana dalamnya telah menyumpal mulut.

” Bukan aku yang nakal Amber! tapi kamu! kamu rupanya seorang ratu kecantikan yang nakal!,” ujarku sambil menampar-nampar pantat bulat Amber nan montok.

” heeeeggghhh heeeeeggghhh heeeeegggghhhh,” ia semakin terangsang ketika kutampar begitu rupa.

Himpitan payudara di kaca tampaknya membuatnya semakin horny sehingga membuat cairan vaginanya makin lama makin membanjir.

Kocokanku sendiri terus kulakukan makin cepat seiring banjir air lendir di area kewanitannya. Mengocok demikian cepat ala bintang porno tentu saja membuatku tidak akan sanggup bertahan lama.

” HEEEEEEEEEEEGGGGG.” Amber sendiri mengalami rasa yang sama. Digenjot begitu cepat diiringi sensasi ditonton orang banyak membuatnya cepat terbang tinggi mencapai orgasmenya yang sensasional. Ia terlihat meluncak-lunjak orgasme bergetar hebat selama lebih dari tiga menit.

Melihatnya orgasme dalam permainan membara membuatku ingin menyusulnya segera ke gerbang kenikmatan. ” Hegggghhh heeeggghh hegegggghhhhh,” nafasku tak karuan bersiap memuntahkan sperma.

Tepat di saat aku bersiap hendak memuntahkan lahar sperma. Amber seketika berbalik cepat melepas CD bikini tipis yang menyumpal mulutnya lalu mendorongku rebah di lantai ruang kemudi.

” Ratu kacantikan yang nakal hah??? sekarang kamu rasakan sendiri julukan yang kamu berikan!,” ujarnya dengan tatapan begitu binal.

Melihatku telah rebah, tangan kanan Amber merenggut batang penisku yang telah berwarna kemerahan siap memuntahkan sperma. Ia kocok kencang sebentar membuatku makin tak tahan lantas ia kulum batang kejantananku sembari menyedotnya begitu dalam.

” HAAAAGGGGGGGGHHH HAAAAAAAAAAAAAGGGHHHH FFUUUUUUUCCCCCCCCCCCCCKKK.”

Aku muncrat bertubi-tubi dalam kehangatan mulutnya. Setiap muntahan spermaku ditelannya. Sempat tatapanku melihat wajahnya dan kulihat Amber begitu menikmati momen melihatku terlunjak-lunjak memuntahkan lahar. Tak tergambar sedikit pun rasa jijik di wajahnya padahal ia tengah meminum sperma.

” lepasiiiiinnn Amberrrr….lepas…..,” berusaha kulepaskan kepalanya dari penisku tapi Amber terus saja menghisap semakin dalam ” HAAAAAAAAAAAAAAAAAGGGGGGHHHHH,” akhirnya aku pasrah saja merasakan setiap tetesan spermaku dihisapnya tanpa ampun. Tubuku melunjak-lunjak selama beberapa saat sebelum akhirnya rebah tak berdaya di lantai ruang kemudi.

***

” Kamu gak jijik Amber!,” tanyaku ketika ia telah berada dalam pelukanku pasca persetubuhan yang panas.

” Apa??”

” nelan sperma kayak tadi.”

” Enggak itu sehat kok,” ujarnya santai.

” Hah??? kamu mempercayai itu?? seriously maksudku sebagai Miss England yang penuh intelektualitas kamu mempercayai itu???.”

” Sure why not???,” jawabnya lagi-lagi tanpa rasa ragu sama sekali ” sekarang di Eropa dan Amerika para laki-laki sedang gandrung meminum asi wanita yang baru melahirkan agar memperbesar otot otot tubuhnya.”

” Yang benar kamu Amber???.”

” Iya asi dipercaya bisa membuat laki-laki jadi kekar. Lantas kami sebagai wanita dapat apa coba yang bisa bikin kami kuat kalo bukan cairan sperma yang lezat he he he,” jawabnya kembali melirikku nakal.

” Emang enak???,” tanyaku penasaran.

” Rasanya manis Budi! dokter bilang laki-laki yang memiliki pola makan sehat sepertimu pasti memiliki rasa sperma manis yang membuat wanita bisa ketagihan.”

” Kamu bisa ketagihan dengan spermaku donk Amber??.”

” Pastinya, sekarang saja aku ingin meminumnya lagi!.” Amber langsung bergerak lagi berusaha memberikan oral seks berikutnya.

” Hahhhhh Apaa??? tapi….tapi…..,” aku menggeleng-gelengkan wajah tak percaya!

” Nikmati saja Budi! lagi pula kamu atlet yang sangat kuat! pasti bisa bangkit lagi dalam waktu cepat ya kan!,” ia kembali mengurut-ngurut batang kajantananku sambil mengangkangkan kedua kakiku lebar. Dikangkangkan seperti ini kedua kakiku membuatnya lebih mudah menghisap buah zakarku secara bergantian.

” Fucckkk….fuucckkk…fuuucckkkk aaaaaaaaaaaggghhhh,” aku mendesah tiada henti harus mengakui teknik rangsangan Amber sangatlah berkelas dalam soal oral. Saking berkelasnya tak lama setelah dipermainkan dan dihisap-hisap olehnya, batang kejantananku kembali bangkit sempurna.

” Yummmmyyyyyy,” melihatnya sudah bangkit, mata Amber nanar begitu penuh gairah seolah melihat daging sate yang begitu enak lalu langsung saja menyantap batang kejantananku dengan hisapan dan jilatan nikmat.

” AAAAAAAAAAAAAAAAAAAGGGGGGGGGGGGGGHHHH,” raungan histeris. Hanya itu yang bisa keluar dari mulutku sekarang.

Bukan mekanisme tanpa rasa ala bintang porno yang diberikan Amber saat melakukan oral. Ia terlihat begitu menikmatinya juga sangat antusias menjilati setiap centi batang kejantananku. Bukan hanya menjilati, tangannya yang berhasil mengangkangkan kedua kakiku lebar kini asyik bermain mengurut-ngurut buah zakarku juga titik perineum diantara penis dan anus.

Kemahiran Amber mempermainkan titik pereneumku bukan hanya membuatnya bisa menentukan kapan aku akan ejakulasi tapi juga membawa sejuta perasaan tak menentu dalam hatiku.

Titik perineum diantara buah zakar dan anus merupakan titik sentral kecil yang bisa digunakan menunda ejakulasi bila ditekan dengan tepat. Sialnya, selain itu titik ini juga bisa menghadirkan perasaan tenang karena bisa mengaktifkan suplai hormone endorphin ke otak. Masalahnya efek tenang di otak berbarengan hadirnya sensasi geli-geli nikmat di kejantanan membawa rasa “melo” sekaligus.

Banyak laki-laki yang mengatakan menangis haru saat ejakulasi karena dihantam berbagai perasaan syahdu kala titik pereneumnya ditekan oleh pasangan wanitanya.

Amber sangat mahir mangemut penisku sembari menekan ritmis dalam tekanan pas titik perineum. Dibawanya aku langsung berhadapan dengan sisi melankolis dalam diriku sendiri yang bisa membuatku hanya bisa menutup mata dan terharu sampai meneteskan air mata tanpa alasan apa pun.

” AAAAAAAAAAAAAAAAHHHHHHHH,” saat ejakulasi kedua terjadi kenikmatan semakin menjadi-jadi akibat perasaanku tengah melo sekarang. Amber tak mempedulikannya ia meneguk setiap tetes cairan yang tertumpah. Ia begitu percaya spermaku mengandung nutrisi yang dibutuhkan untuk menjaga tubuhnya tetep bugar sekaligus memancarkan kecantikan alamiah.

Aku terlunjak-lunjak dalam kenikmatan sembari tak bisa menahan air mata haru akibat goncangan emosional orgasme. Setelah semua tetes air maniku tertumpah Amber masih saja mengenyot batang kejantananku yang mulai layu.

” Mmm rasanya semakin manis ya Budi rasa spermamu!,” Amber naik ke pelukanku.

Kuhapus dulu butiran air mata di pipi dan mataku ” masa sih???,”

” O ya! mau coba lagi buat ketiga kalinya???,” tantangnya.

” No…nooo aku butuh istirahat Amber!,” ujarku merebahkan kepala. Dua kali ejakulasi beruntun jelas-jelas membuat seluruh badanku rontok.

” Hi hi….,” Amber tersenyum nakal mengenakan kembali bikini dan hot pantsnya ” aku mau nengok Albert dulu ya! tuh angkat hpmu nyala dari tadi.”

Aku bangkit cepat memegang hp dan melihat ternyata kak Chita yang menelpon.

” Halo Kak apa kabar??,” nadaku gemetar ” Apa?? gak lagi ngapa-ngapain kok sedang bersiap aja buat lawan Arsenal sabtu besok???,” kebohongan pertama. ” Hah cewe Inggris yang mana yang mau sama aku Kak??,” kebohongan kedua. ” yah iyalah Kak mana berani Budi bohong sama Kak Chita!,” upaya ngeles yang payah. ” Iya baik Kak dukung aku terus ya Kak!.”

“Hah,” desahku saat telpon tertutup. Sesungguhnya amat cape berbohong itu, apalagi berbohong pada wanita yang kita cintai.

***

STADION EMIRATES- KANDANG ARSENAL

Stadion Emirates merupakan salah satu stadion termegah di Inggris. Diresmikan pada tahun 2006 untuk menggantikan Stadion Highbury, Stadion berkapasitas 60.000 orang ini merupakan sebuah tempat yang selalu memperagakan sepak bola “cantik dan cair” Arsenal. Sepak bola cantik dan cair memungkinkan bola bergulir begitu mengalir melintasi seluruh lapangan yang merupakan ide dari pelatih yang telah menangani Arsenal sejak tahun 1996 ; Arsene Wenger.

Wenger merupakan pelatih karismatik kedua setelah Sir Alex Ferguson yang bisa menukangi tim begitu lama. Banyak pro kontra betebaran diseputaran sosoknya. Bagi kalangan muda ia sudah ketinggalan jaman, sedang bagi kalangan tradisional Wenger tetaplah Sang Professor.

Buatku sendiri Wenger merupakan sosok yang memberi kesempatan bermain kepada para pemain muda potensial dari seluruh Negara. Kebijakannya memantau para bibit pemain muda potensial dari seluruh Eropa ,Amerika Latin , hingga Afrika dan Asia merupakan sebuah kebijakan yang banyak mengorbitkan potensi para pemain muda.

Bila saja bukan karena manajer dengan komitmen begini besar terhadap para pemain muda seperti dia atau Coach Neill tak mungkin pemain seperti kami yang berasal dari Indonesia atau daerah terpencil Afrika bisa mencicipi rasanya bermain di liga utama Inggris.

The Gunners sendiri merupakan julukan Arsenal. Gudang peluru. Membombardir pertahanan lawan merupakan kegemaran Arsenal termasuk sekarang saat melawan kami. Mereka menyerang dari seluruh penjuru. Sorak sorai penonton yang memberi dukungan setiap Arsenal memegang bola membuat pertandingan berlangsung seru.

Picchi dan Faccheti, kedua nama poros Catenaccio yang kembali teringat dalam ingatanku. Aku sama sekali belum belajar mengenai mereka berdua. Dari pembicaraan bersama Meneer Johan, posisi mereka ialah sweeper dan full back. Bersebelahan sebenarnya namun memiliki fungsi berbeda.

Meski bernama Full Back, sebenarnya posisi ini dituntut menyerang. Seorang Full Back yang diam saja akan dicaci oleh pelatih di persepakbolaan modern. Sweeper sebaliknya diperintahkan tidak terlalu sering naik kecuali pada saat tendangan sudut.

Misteri apa di balik Picchi dan Faccheti??. Sampai sekarang, jawaban terhadap pertanyaan Meneer selalu kuasosiasikan dengan diriku sendiri dan Alfred. Kami dua poros yang sama-sama berdekatan tapi memang berbeda fungsi.

Menghadapi Arsenal misalnya, Alfred turun jauh berusaha mengcover duet kulit hitam Bassong dan Wisdom center back kami. Bersatu padu mereka terlihat seperti trio maut bertubuh tinggi hitam yang bisa menangkal setiap crossing maut Tim Gudang peluru.

Coach Neill terlihat gembira di pinggir lapangan melihat trisula hitam di depan lini pertahanan kami. Salah satu rencananya berhasil. Pelatih kami membaca secara tepat taktik Arsene Wenger. Bola-bola tic-tac di tengah terputus kala aku dan Howson bekerja sama secara apik meredam Ozil dan Sanchez. Ketika akses serbuan lewat jalur tengah tertutup, Arsenal terpaksa memainkan serangan sayap yang selau menjadi alternative mereka saat serbuan dari lini tengah terbendung.

Menghadapi serbuan sayap Arsenal sendiri, bukanlah perkara mudah. Mereka punya Walcot dan Chemberlain yang ditopang oleh Santi Cazorla sehingga menimbulkan gelombang serangan cepat penuh kreatifitas. Sekali lagi Alfred menunjukkan kualitasnya ketika menghadapi tipe serangan seperti ini. Ketenangannya membaca posisi lawan tanpa melihat bola berkali-kali mempu mematahkan serangan Arsenal.

Aku sendiri terpaksa menahan nafsu menyerang. Dihantam gelombang serangan bertubi-tubi kami hampir tidak mungkin bisa membangun serangan secara benar. Sepanjang pertandingan hingga pertengahan babak kedua kami habiskan melihat possession ball caimiknya tim asuhan Wenger. Kekompakan diantara masing-masing pemain Arsenal begitu kompak terjalin seperti telah berlatih bertahun-tahun secara bersama.

Peluang bagi kami hanya berupa celah-celah kecil saat terjadi duel one on one yang bisa menimbulkan serangan balik. Buatku sendiri, belajar dari semangat Bangsa Viking, postur tubuh akan memainkan peranan penting. Aku sangat menunggu Santi Cazorla melakukan kelalaian. Posisi kami di tengah sangat identik dan sering sekali bertemu.

Akan tetapi melakukan trik yang akan kupraktekan memerlukan kesabaran ekstra besar. Perlu sebuah ketabahan menahan serangan demi serangan hingga akhirnya Arsenal membuka celah pertahanannya sendiri.

Celah pertahanan di sepak bola modern barangkali bisa menjawab misteri Picchi dan Faccheti. Jaman Catenaccio masih eksis sebagaimana aslinya, jarang sekali terjadi keempat bek terangkat naik tinggi sekali. Paradigma ini berubah drastis saat sepak bola dituntut menyerang akibat Total Voetballnya Johan Cryuff. Serangan selalu memerlukan pengorbanan dan pengorbanan itu bernama pertahanan.

Kesabaranku mencari celah, terbuka lebar kala Cazorla menahan bola berusaha mencari alternative serangan. Cazorla tidak seperti Oezil. Ia tipe playmaker yang suka berlama-lama menahan bola memancing pertahanan lawan naik. Aku melakukan body charge cepat terhadapnya menutup ruang gerak sekaligus sudut pandang. Menghadapiku tentu masalah kecil bagi Cazorla yang memiliki control bola sempurna.

Ia berhasil menjaga bola begitu baik tak terganggu dengan kehadiranku. Masalahnya aku juga tidak berniat merebut bola di kakinya yang bisa berujung pelanggaran. Aku hanya perlu ia menahan bola lebih lama sekitar dua, tiga detik agar…

” SEEEEEEPPPPP,”

Alfred bisa berlari cepat merebut bola.

Cazorla kehilangan bola secara bersih.

Alfred melepas bola cepat kepadaku. Berlari kencang aku menantang Gibbs berduel satu lawan satu dengan gerakan sederhana bergerak seolah ke kanan dan ternyata benar-benar ke kanan tanpa tipuan sama sekali. Gibbs sangat cepat ketika terkecoh ia bisa recovery begitu cepat. Ia berusaha mengejarku. Ukuran tubuh kami hampir sama hanya saja aku lebih kuat darinya. Body charge yang ia lakukan kutangkal dalam sebuah sapuan tangan. Gibbs nyaris terjatuh, tangannya berusaha meraih sisi bajuku.

Sama seperti saat melawan Thailand, aku menyadari jika ia mampu menarikku maka serangan ini berakhir. Padahal hanya Alfred teman setim yang sanggup mengikutiku. Ia datang dari belakang, di depannya berdiri duet tangguh Koscielny- Mertesacker. Koscielny sendiri sudah tertarik berusaha menutup ruang gerakku. Alfred berjarak empat langkah dari Mertesacker. Aku harus melakukan perjudian sekarang bila tak mau serangan ini sia-sia.

Hanya visi yang kupunya. Sebuah imajinasi akan posisi Peter Chech, Alfred, Mertesacker dan tentunya Koscielny. Membebaskan Alfred memerlukan sebuah umpan bola pacu yang tidak boleh terlalu dekat kiper. Cech sendiri memang belum bergerak karena posisiku masih kurang mengancam. Akan tetapi sebuah bola pacu tanggung pasti akan membawanya maju.

” Heeeegggghhh,” tubuhku telah condong ke kanan karena ditarik Gibbs. Peluangku hanyalah memberi bola pacu melalui kaki kanan luar berharap sebuah keajaiban dari kecepatan kaki Alfred.

” Duaaaaaaaaagggg,” bola pacuku meluncur. Dihantam menggunakan kaki luar bola itu menukik membentuk parabola berlensa cekung yang awalnya bergerak masuk lalu menukik ke luar.

Mertesacher terpana sesaat. Meski unggul empat langkah ia terlambat bergerak karena terfokus melihat putaran bola. Alfred sebaliknya merupakan ahli merasakan lintasan bola. Tanpa melihat ia berlari sprint mengejar bola pacu. Koscielny harus memegaskan tubuhnya untuk berbalik mengejar arah umpanku yang akhirnya ia ketahui menuju Alfred.

Berlari bagai sprinter, Alfred meledakkan kecepatan saat menyusul bek jangkung Jerman Mertesacher. Belajar dari partai melawan City ia melambatkan kecepatan saat tubuh mereka sejajar, memperkuat keseimbangannya melakukan body Charge bahu menggoyahkan keseimbangan bek jerman tangguh lalu terus berlari. Alfred mampu lolos tapi Koscileny telah meluncurkan slidingnya hampir bersamaan dengan laju Cech menutup ruang.

Kulihat dengan mata kepala sendiri bagaimana Alfed sangat tenang, kala memenangkan duel sprint, menyambut bola luncurku, menghindari tekel Koscielny, lalu mencoop bola melintasi tubuh jangkung peter Cech dan menyaksikan dengan anggun luncuran bola masuk ke dalam gawang Arsenal.

Alfred berlari merayakan golnya ia membuka setengah kaos tim yang ia kenakan lalu memamerkan tulisan di kaosnya meniru selebrasi golku di GBK. Sambil berlari Alfred memamerkan tulisan di kaosnya ke depan kamera yang bertuliskan ” HAPPY BIRTH DAY NAIIMOO WISH YOU ALL THE BEST.”
1-0 kami unggul. Penonton tuan rumah terdiam. Misteri di balik Picchi dan Faccheti tampaknya mulai tersingkap.

***

Aku nyaris bisa menjawab misteri kedua pemain Cateneccio hingga sebuah kejadian merubahnya di menit ke 80. Mezut Oezil menunjukkan kenapa ia disebut pemain jenius. Aku terlambat menyadari sejak gol Alfred tadi, Giroud dan Sanchez selalu berdiri jauh ke luar dari kotak penalty menarik trio hitam pertahanan kami. Terus digempur dengan berbagai variasi serangan membuatku lalai menyadari inilah strategi mereka guna membalas kami.

Berdiri ke luar jauh dari kotak penalty membuat pertahan kami tertarik naik. Dalam satu kesempatan Oezil yang jenius melepaskan bola luncur ke belakang trio hitam. Bola itu meluncur deras membuat Theo Walcott lolos dari perangkap off side. Walcott langsung lolos berhadapan dengan kiper.

Aku menyadari arah serangan mereka hanya terlambat bereaksi. Berusaha menutup keterlambatan reaksi, cepat aku mengejar Walcott yang larinya sedikit melambat karena harus mengontrol bola di dadanya. Menyadari gawatnya posisi Walcott, aku berlari dengan langkah kaki panjang-panjang berusaha meminimalkan jarak. Sayangnya Walcott memang sangatlah cepat, kedua kakinya begitu lincah meluncur maju hingga tinggal beberapa meter dari kiper Ruddy.

Jarakku kini hanya tinggal tertinggal lima langkah. Perhitungan matematis otak kiri membuatku cepat menghitung langkah. Walcott mulai melambat melihat Ruddy datang, ada waktu bagiku untuk melakukan langkah panjang kaki kanan pertama, tanpa lama menyentuh rumput segera berganti langkah panjang kaki kiri , lalu menumpukan kaki kanan tidak untuk berlari mengejar lagi. Aku berniat melontar bagai pelompat jauh untuk bisa segera meluncur menutup ketertinggalan jarak.

” Huuuuuppp,” dalam waktu yang tepat kaki kananku menumpu dan aku melompat tiga langkah dari belakang Walcott bagai atlet lompat jauh. Meski tertinggal tiga langkah, Walcott telah melambatkan kecepatan hingga loncatanku dapat menghampirinya dari belakang.

” Bleeeeetaaaakkkkkkkk,”

Tepat sekali pemilihan waktuku. Walcott sedang menimbang langkah selanjutnya ketika dari belakang kaki kananku menghantam bola yang langsung tersapu keluar lapangan.

Walcott terguling-guling sembari berteriak kesakitan secara berlebihan. Entah ia kaget atau kesakitan menerima tekelku yang jelas bagiku reaksinya terlalu berlebihan. Bagaimana dia bisa merintih seperti itu padahal tekel tadi sempurna mengenai bola??.

Aku mengangkat tangan menunjuk arah lini serang Arsenal sangat yakin bola tadi membentur kaki Walcot sehingga pasti menjadi milik kami.

” Priiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiitttttttttttttttt,”

Wasit meniup peluit lalu berlari mendekatiku.

” Ball for Norwich Reff,” ujarku masih menunjuk sisi pertahanan Arsenal. Mendapat kesempatan memulai serangan tentu memberi peluang besar pada kami.

” NO!,” wasit menggeleng tegas ” RED CARD FOR YOU! GET OUT FROM THE FIELDS!,” wasit mencabut kartu merah dari saku bajunya mengacungkannya tanpa ampun di depan wajahku.

” What do you mean Reff??? he not receive the yellow card yet???,” Alfred yang berdiri tak jauh dariku yang melakukan protes pertama kali.

” DIRECT RED CARD!,” wasit menggeleng menandakan kartu merah langsung diberikannya karena pelanggaranku barusan.

Aku terkejut. Coach Neill juga terkejut. Ia terlihat berteriak penuh amarah di pinggir lapangan mempertanyakan keputusan wasit. Menyadari kejadian ini membuat kedua tanganku reflek memegangi kepala meremas gemas rambut-rambut disana tak bisa mempercayai keputusan wasit.

Sapuanku tadi jelas-jelas bersih tapi kenapa??? kenapa wasit memutuskan memberiku direct red card???.

BERSAMBUNG