CONCHITA Part 2

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10

Cerita Sex Dewasa CONCHITA Part 2 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Cerita Sex Dewasa CONCHITA Part 1

TOTALVOETBALL

Aku tidak bohong saat mengatakan bisa mendengar suara Johan Cryuff berbisik di telingaku. Meneer Belanda peletak pondasi sepak bola menyerang nan indah ini, memang sering hadir sebagai sahabat, pelatih, atau pun lawan berargumen paling luar biasa dalam hidupku. Pada kenyataannya tentu saja aku belum pernah bertemu dengannya. Secara fisik lebih tepatnya, namun secara tak kasat mata, kami berdua terhubung begitu dekat.

Bila boleh mengutip bahasa filosofis, hubungan kami berdua lebih bersifat esoteris daripada eksoteris. Nah, terasa mulai aneh kan? sejak kapan coba, aku bisa berbicara begitu filosofis??. Jawabannya barangkali karena Kota Norwich, tempat aku dan Alfred telah bersama hidup lebih dari 10 tahun terakhir, merupakan salah satu Kota tertua di Inggris yang memiliki asosiasi lekat terhadap dunia esoteris.

Sejarah mencatat, banyak sekali nama-nama tokoh abad pertengahan Inggris berprofesi ahli fisika, ahli kimia, astronom, hingga mereka yang dicurigai sebagai dukun, lahir, tumbuh besar dan mengeluarkan karyanya di kota yang hanya berpenduduk kurang dari 220.000 jiwa. Cukup kecil jumlah penduduk Norwich apabila kita bandingkan dengan Jakarta yang 9,5 juta jiwa atau Surabaya yang 2,9 juta jiwa.

Karya esoteris para tokoh kelahiran Norwich hingga kini terus dilesatrikan dan tersimpan begitu baik di museum dan perpustakaan klasik di seluruh penjuru Inggris. Aku tidak boleh lupa menyebutkan, Kota Norwich City sendiri merupakan salah satu kota terbaik dalam hal pelestarian karya-karya literature kalsik. Sebagai bukti, pada tahun 2012 yang lalu, Norwich ditetapkan oleh PBB sebagai The Unesco City Of Literature atas jasanya dalam mewariskan karya-karya klasik bermutu, diiringi kekuatan tekad dari masyarakatnya dalam menjaga warisan tersebut, dan masa depan luar biasa akibat kekuatan dan dedikasi masyarakat.

latar belakang kota yang memiliki kelekatan luar biasa dalam bidang literature klasik, membuatku dan Alfred sejak ABG begitu mudah menemukan berbagai buku bertemakan esoteris. Sebutlah buku-buku karya William Cunningham, Albert Greene, Friar Bacon hingga karya Sir Thomas Browne. Kesemua buku ini, sebenarnya, teramat susah dimengerti karena bahasanya terkesan berlebihan serta cenderung puitis.

Selain itu, seperti tipikal buku bergenre Esoteris lainnya, kata-kata mereka juga gemar sekali bermain–main menggunakan kata-kata hyperbola, teka-teki majas, atau puzzle angka bercampur nama-nama unsur kimia. Kekayaan materi seperti ini dalam buku esoteris membuatku sangat menggemarinya. Yah, seiring perjalanan waktu, aku akhirnya menyadari, kegemaranku akan teka-teki serta permainan angka, sangatlah sejalan saat diterapkan di lapangan sebagai seorang playmaker. Bukankah playmaker harus kaya imajinasi??. Betulkah bila caraku berpikir mengatakan ; saat tim berjalan menuju jalan buntu, di saat itulah playmaker harus maju memberikan solusi.

Sekarang solusi terbaik keluar dari jalan buntu, bukankah harus bergerak keluar dari pakem berpikir kebanyakan orang??. Berdasar kutipan dari Kamus Besar Bahasa Indonesia definisi dari kata Esoteris sendiri ialah ; bersifat khusus, rahasia dan terbatas. Artinya kerumitan rangkaian kata-kata mereka hanya dikuasai oleh segelintir orang. Bukan kebetulan ternyata saat aku menyadari peran playmaker dalam sebuah tim hanyalah terdiri dari satu atau dua orang pemain saja.

Jadi kamu menganggap dirimu spesial??, tanpa diundang Meneer Johan Cryuff telah berdiri tepat di depanku.

Bukan begitu Meneer, aku hanya mengaitkan aspek esoteris hubungannya dengan posisiku sebagai playmaker!., aku mencoba berargumen.

Coba kamu sebutkan satu kalimat dari Tokoh Esoteris favoritmu di Norwich lantas kamu hubungkan!.

Hubungkan sebagai pemain bola Meneer??.

Johan hanya mengangguk. Ia mulai bersedakep.

Mmm, biasanya aku ingat tapi didadak olehnya membuatku lupa aku lupa Meneer!, jawabku pasrah tak sanggup mengingat secuil pun kata-kata yang seharusnya telah kuingat.

PLAAAKKKKK!

Aduh! sakit Meneer!.

Simaklah kalimat dari filsuf Norwich berikut ini!, tanpa rasa bersalah Johan menudingku Kebaikan tidur berselimut debu dan tanaman Spagyric merubahnya menjadi emas!.

Sir Thomas Browne!, jawabku begitu gembira setidaknya bisa menjawab secara tepat siapa yang mengatakan kalimat itu pertama kali. Walaupun kata Spagyric sendiri sangatlah membingungkan karena sebenarnya merupakan tumbuhan herbal yang telah melalui proses luar biasa berat meliputi penyulingan dan pencacahan hingga bisa memiliki nilai guna.

Lantas?? apa kaitan kalimat itu di lapangan bola???. Johan memandangku meremehkan.

Mmmm, aku kembali berpikir keras.

PLAAAAAAKKKK

Aku mendelik marah. Hanya sebatas mendelik, mana berani aku meladeni Meneer.

TIDAK USAH PAKE MIKIR! GUBAH SAJA KALIMAT ITU!.

Maksudnya gimana Meneer??.

GANTI KATA-KATANYA! SESUAIKAN POSISIMU SEBAGAI PEMAIN BOLA!

Ok Ok Meneer!, aku berusaha meredakan nyeri di kepala. Meski bertubuh kurus kerempeng pukulan Meneer Johan amatlah keras.

Kebaikan, tak kuteruskan kalimatku setelah menyadari maksud omongan Johan Maksudku ; Pemain bola tidur berselimut debu dan latihan luar biasa berat merubahnya menjadi emas.

Hatiku berdebar-debar. Sebagian takut mendapat pukulan lagi, sebagian lagi harap harap cemas menunggu benar atau salahnya jawabanku. Semoga benar karena tumbuhan herbal Spagyric memiliki konotasi yang sama.

Johan Cryuff hanya diam lalu mengangguk, tersenyum singkat lantas menghilang.

***

Terserah bagaimana penduduk Norwich mengartikan simbol burung kenari berwarna kuning menaiki bola berwarna kuning sedang menjaga kemegahan kapel dan ketedral bersama seekor macan yang juga berwarna kuning di simbol kostum The Cannaries. Yang jelas ayahku memiliki penafsirannya tersendiri.

Sebagai orang asli Indonesia yang kental dengan budaya Jawa, ayahku memiliki ilmu katuranggan. Secara harfiah, ilmu ini berarti ilmu tentang sifat manusia, benda, tumbuhan atau hewan berdasarkan penampakan fisiknya. Dari ilmu katuranggan ini pula Burung Kenari dapat dinilai secara fisik dari ketebalan bulunya. Burung kenari kuning dengan bulu tebal cenderung lama bila diajarkan bernanyi secara maksimal sedangkan burung kenari berbulu tipis lebih cepat berbunyi serta cepat bernyanyi.

Inilah sebabnya Meneer Johan berkali-kali menekanku agar memainkan sepak bola sederhana. Meski manis buat diucapkan, sepak bola sederhana sesungguhnya amat-amat sulit buat diterapkan. Contohnya tim Norwich City ; tim ini secara simbolis telah berubah menjadi kenari berbulu tebal. Sudah hidup dalam keterbatasan secara finansial, Norwich juga memainkan sepak bola rumit tanpa filosofis yang berujung posisi 16 serta terancam terdegradasi ke divisi satu.

Masalahnya bagaimana cara merubahnya??. Ok tim Norwich memiliki sejarah terbaik pernah finish peringkat ketiga pada musim 1993 lalu mengalahkan Bayern Muenchen di perhelatan Liga Eropa setahun berikutnya. Tapi itukan sejarah masa lalu??. Sudah berlalu dan tak ada yang tertarik mengingatnya. Pada masa sekarang kami selalu menjadi tim gurem. Lumbung gol tim-tim kelas atas.

OK LISTEN UP!, Coach Neill berdiri memberikan briefing.

Aku dan Alfred sesuai janjinya sendiri sekarang bisa duduk bersama anggota tim utama.

WE LOSS 7 TIME IN A ROW AND I WANT THAT TREND TO CHANGE!

Keputusasaan samar tergambar di wajah botaknya. Sangat wajar Coach kami putus asa karena bila kami kalah lagi besok, dia bisa saja dipecat.

Pertandingan melawan Crystal Palace besok, aku akan menyiapkan kejutan, katanya lagi aku akan memposisikan Budi dan Alfred di lini tengah sejak menit pertama!.

Perkatannya tentu membuat semua pemain senior langsung terkejut dan mengarahkan pandangannya kepada kami berdua.

Coach!, kiper John Ruddy yang memiliki kepala botak sama seperti coach Neill melakukan protes pertama kali.

If Indonesian play, how about Howson, Johnson, or Hoolahan???.

Kalian bisa memainkan mereka bertiga saat aku dipecat besok!, jawab Coach Neill sekarang tanpa ekspresi.

Jawaban Coach Neill menyentak kami semua sekaligus membuatku sadar ; ia putus asa dan hendak berjudi. Perjudian besar-besaran yang taruhannya adalah kursi kepelatihannya sendiri.

***

Hai Albert, how are you.

Sesi briefing berakhir tegang. Tak ada seorang pun tau apa yang akan terjadi besok. Kami hanya bisa pasrah berusaha mencari kegiatan agar waktu cepat berlalu. Beberapa pemain senior memilih pergi ke restoran untuk makan malam bersama keluarga. Alfred memilih pergi berdoa dan aku, seperti kebiasaan, memilih pergi ke rumah sakit khusus penderita kangker.

Aku suka sekali duduk di sebelah anak laki-laki berumur 14 tahun berkepala botak, pucat, dan duduk di kursi roda di sebelahku ini . Ia merupakan sahabatku sejak usianya baru 8 tahun. Selain menggilai buku-buku esoteris, berkumpul dengan para penderita sakit merupakaan kegemaran yang sangat kupercaya bisa membawaku menjadi pribadi manusia yang lebih baik.

Ini hadiah buatmu!, kuserahkan sebuah bingkisan.

Albert membuka bingkisan penuh semangat. Sejak kecil ia selalu senang bila aku datang karena selalu membawa hadiah. Wooowww, teriaknya gembira melihat hadiah di tangannya Star Wars action Figure! thank you very much Budi.

80s Hasbro Collection of Star Wars! hope you like it Albert!, kuelus bahunya.

Hampir setiap hari, sejak 10 tahun yang lalu, Aku selalu duduk bersamanya sambil memandang kosong ke kebun hijau rumah sakit. Selama satu dasawarsa itu pula, pembicaraan kami selalu terpusat masalah saling menguatkan. Albert menguatkanku agar terus bertahan menjadi pemain bola, sedangkan aku menguatkannya agar terus berjuang melawan penyakitnya.

Melihatnya begitu gembira membuka action figure Luke Skywalker dan Han Solo yang kubelikan membuat bebanku esok hari terasa berkurang. Tekanan pertandingan esok hari sangatlah menyiksa karena penuh ketidakpastian. Tak ada alternative strategi lain dari Coach Neill selain menurunkan kami berdua. Tak ada arahan, tak ada kemungkinan-kemungkinan.

Selain itu bayangan Kak Conchita Caroline juga tak mau menghilang. Sosok cantiknya yang menangis penuh air mata di tengah guyuran hujan saat pertemuan terakhir kami membuatku selalu ikut menangis kala membayangkannya. Saat ini pun saat tengah bersama Albert, air mataku turun tak tertahankan. Kesunyian selalu membawa kenangan akan kecantikan wajahnya kembali.

Budi kata dokter waktuku tinggal sebentar lagi.

Apa??, kata-kata Albert seperti petir di malam hari.

Katanya kangkerku makin ganas dan jaringan-jaringan tubuhku telah begitu rusak.aku tak akan bisa bertahan lebih lama lagi

Aku terdiam hanya bisa menatapnya tanpa bisa berbicara satu patah kata pun.

Sebentar lagi aku mati Budi, katanya sambil tersenyum getir.

Albert merupakan penderita kangker akibat faktor keturunan. Kangker tipe ini terjadi karena mutasi DNA yang terjadi diturunkan dari orang tua kepada anaknya. Kini ia menunduk tampak mengeluarkan air mata sambil memandangi figure Han Solo di tangannya.

Patience you must have my young padawan!, kataku mengutip kata-kata Yoda guru para ksatria Jedi dalam film Star Wars.

Albert tersenyum mendengar kata-kata Yoda yang menggema kembali.

Fear is the path to dark side. Fear leads to anger. aku kembali mengutip Yoda berusaha membesarkan hati Albert.

Anger leads to hate. Hate leads to suffering, Albert melanjutkan kalimatku ia hapal benar semua kutipan kalimat-kalimat dalam film. Yoda punya light saber Budi. Apa yang ku punya agar tidak takut??, kata Albert kembali menunduk.

Yoda said Jedis strength flow from the forces, kupegangi tangan sahabat baikku kekuatan kita mengalir dari Sang Pencipta sahabatku, dan kita tak perlu takut, tanganku menunjuk satu arah ; Ke atas. Tempat segala harapan dipanjatkan. Sang Pencipta yang menciptakan pastiakan selalu melindungi.

Albert tersenyum tulus mendengar perkataanku. Thank you Budi.

Saat aku hendak menggenggam erat tangaannya terdengar derap langkah sepatu hak tinggi seorang wanita diiringi banyak sekali pengiring.

Aku menoleh secara refleks melihat seorang wanita cantik berbusana hitam anggun berjalan bersama para pria berbaju putih dokter melangkah menuju kami. Rambut si wanita cantik berwarna hitam kecoklatan tergerai begitu indah. Wajahnya tirus menampilkan kesan intelek tanpa menggerus keindahan fisiknya. Busana yang dikenakannya sexy dengan bahu yang terbuka hanya dilindungi oleh selempang berwarna putih yang bertuliskan Miss England.

Melihatku dan Robert sedang duduk bersama ia tersenyum ramah. Senyuman indah. Begitu indah. Sama persis yang dimiliki Conchita. Aku mundur teratur kala ia hendak menyalami Albert lalu duduk di sebelahnya mengambil tempatku.

Hai, Im Amber nice to meet you!, ujarnya.

Mmm aroma tubuhnya sangat wangi.

This is Budi! he is football player and always come here to visit me!, Albert memperkenalkanku kepadanya.

Amber menoleh kepadaku hai handsome!, ujarnya sambil melambai anggun.

Aku tidak bisa melepaskan mataku dari kecantikan wajah berikut keramahannya saat berbcara, bersikap dan berperilaku , yang begitu mengingatkanku pada sosok Conchita, apalagi ia memanggiku ganteng barusan. Bahkan Albert yang baru saja tampak sedih terlihat begitu tenang saat duduk dan berbicara bersamanya.

***

Wanita yang cantik ya Budi, kata Albert saat Amber telah pamit meninggalkan kami.

Sangat cantik Albert, jawabku tak bisa menyembunyikan perasaan.

Dia sepertinya naksir kamu!.

Ngawur kamu!, ujarku mana mau dia sama.

Iya dia bilang sendiri!.

Emang Amber ngomong apa Albert??.

Rupanya dia penggemar Norwich Budi dan katanya ia menantangmu harus bisa memenangkan dua pertandingan besok! dan bila kamu bisa menang.. Albert menyerahkan selembar kertas Amber memintamu menelponnya!

Jantungku menjadi berpacu demikian keras saat membaca tulisan di kertas itu yang tertulis CALL ME IF YOU WIN BUDI! dengan nomer hp pribadi di bawahnya.

***

STADION CARROW ROAD- PEKAN KE 17 ENGLISH PREMIER LEAGUE

Penonton sudah menggila di luar. Seperti tradisi para pemain bola kupersiapkan diri sebaik-baiknya demi pertandingan professional pertama dalam hidupku. Mulai dari kaos kaki, sepatu bola berwarna hitam, hingga pakaian dalam paling nyaman telah kukenakan dengan sempurna. Setelah itu barulah aku melangkah membuka ponsel guna melihat dukungan para kerabat yang pasti mengirimkan pesan, e-mail, hingga BBM.

HAI BUDI. SELAMAT BERTANDING YA MALAM INI! SELURUH ORANG INDONESIA MENDUKUNGMU!

Membaca dukungan BBM dari Kak Chita tentu menjadi prioritas utamaku karena sanggup membangkitkan kembali seluruh keindahan fisik serta keanggunan batin yang dimilikinya. Seorang wanita inspirator yang bisa merubah permainanku secara luar biasa pada saat turnamen AFF lalu.

TERIMA KASIH KAK CHITA.

Jawabku sebelum meletakkan ponsel kembali ke dalam loker lalu berusaha memejamkan mata mencoba membayangkan seluruh sudut lapangan, posisi masing-masing pemain, nama-nama pemain Crystal Palace hingga keeksentrikan coach mereka Alen Padrew yang tak segan mencari ribut dengan pelatih maupun pemain lawan.

Sebuah hembusan nafas panjang menjadi penanda semua itu telah terekam di dalam pikiranku. Sekarang tinggal menyerapkan ingatan itu ke dalam insting. Pikiran tidak boleh banyak bermain di tengah pertandingan. Bila kubiarkan dia bermain semuanya akan berantakan. Menenangkan pikiran adalah syarat menjadi pemain bola terbaik.

Sejak junior aku memiliki ritual sebelum bertanding yang berguna menenangkan pikiran. Bukan hanya aku, semua pemain bola punya ritual tertentu mulai dari menggunakan celana dalam terbalik, ajian jimat hingga ritual tertentu yang biasanya terkait aspek fisik. Aku sendiri hanya terbiasa berdoa sebelum bertanding. Itu sudah cukup menenangkanku.

Maka kulepaskan dulu sepatu bolaku, lalu kuambil air kemudian bersuci. Kukenakan sarung yang kubawa khusus dari kampung halaman lantas melakukan ibadah. Rasa tenang perlahan kurasakan. Semuanya bertambah tenang saat kurasakan , seorang wanita berambut pendek bertubuh jangkung langsing mendekatiku.

Wanita misterius ini kemudian mengambil pakaian ibadah putih , menghamparkan sajadah lantas ikut ibadah dibelakangku. Kehadirannya terasa sangat misterius tapi mendatangkan ketenangan luar biasa. Terus ketenangan hati menyelimutiku hingga ibadahku selesai dan tiba saat aku dan wanita misterius ini berdoa bersama.

Sejenak kutatap wajah wanita di belakangku dan disana kulihat Kak Conchita sedang duduk begitu kusyuk. Berbalut kain putih yang indah dan harum. Kak Chita terlihat begitu cantik.

Mari kita berdoa bersama Budi!, katanya sambil tersenyum membuat air mataku meleleh.

Mari Kak, ujarku terharu lantas berdoa begitu tulus.

AMIN, Kak Chita terdengar menutup doaku.

Saat aku mengatupkan tangan ke wajah dan membuka mata tak ada siapa-siapa disana. Seperti orang gila kukitari loker mencari-cari kemana gerangan Kak Chita.

KAK??? KAK CHITA???.

Aku memanggil-manggil dalam kebingungan. Bulu kudukku tanpa dapat kutahan berdiri terlingkupi oleh kemisteriusan lorong pemain Norwich. Tak boleh kulupakan bahwa Kota ini, Norwich City, merupakan Kota dengan kecenderungan esoteris yang begitu kuat.

***

Sekaranglah saatnya!.

Pemain bola tidur berselimut debu dan latihan luar biasa berat merubahnya menjadi emas. Dari seorang pemain berlatar belakang keluarga miskin, kemudian terus ditempa oleh latihan keras, ditantang agar tak kenal kenal menyerah setiap hari, setiap menit, setiap detik. Memakan makanan yang itu-itu saja demi sebuah cita-cita bisa bermain di kancah sepak bola terbaik eropa.

Berkat latihan keras, paru-paruku telah mengembang memiliki kapasitas sama bahkan lebih baik dari pesepakbola eropa. Juga berkat latihan keras, kedua kakiku memiliki ketrampilan yang sama dengan mereka bahkan lebih baik. Dan mereka tak boleh melupakan instingku yang lebih tajam dari kecepatan pikiranku sendiri lebih baik dari kebanyakan pemain bola Inggris.

Sekaranglah saatnya. Semoga aku dan Alfred bisa merubah debu menjadi emas.

PRIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIITTTTTTTTTTTTT.

Pertandingan dimulai.

Kapten kami Ruseell Martin berhasil memenangkan tos-tosan koin. Kami memegang bola pertama.

Bila ingin merubah permainan tim sekaranglah saatnya. Perubahan harus dimulai sejak detik pertama menit pertama. Tidak boleh membiarkan waktu berlalu! karena sekali waktu telah bergulir kebiasaan bermain kami akan kembali. Sebuah kebiasaan menjadi burung kenari ketebalan bulu yang lama sekali belajar terbang dan bernyanyi.

Kini penyerang Norwich Jerome menggulirkan bola kepada pemain tengah senior Hoolahan yang ternyata tetap dimainkan bersama kami berdua. Kuberlari mengejar bola. Hoolahan mengoper kepadaku. Tak perlu lama kuoper kembali kepada Alfred. Pemain Crystal Palace mulai melakukan pressure football khas Alan Perdew. Kuberlari mencari ruang kosong lebih ke dalam mendekati bek supaya Alfred bisa mengoper balik.

Teeeppp, Alfred mengoper balik.

Dua orang pemain Crystal Palace Chamakh dan Sako mengejarku. Mereka berdua bertubuh besar. Kuyakin mereka mengharapkanku takut melihat penampilam mereka lalu langsung menendang bola lambung jauh dan memulai reinkarnasi kick and rush yang tak pernah mendatangkan kemenangan bagi Norwich.

Mengatasi reinkarnasi kick and rush Norwich yang selalu membayangi, aku diajarkan oleh Meneer Johan agar menghilangkan dua rasa. Satu bernama rasa takut kedua bernama rasa kekhawatiran.

GEBRRUUUUUKKK

Pertama cara mengatasi rasa takut. Lihatlah Sako juga Chamakh! Berbadan besar mereka berdua melakukan body charge kepadaku berharap aku akan ketakutan lantas terburu-buru melepas bola. Berkat latihan berulang-ulang aku sama sekali tak merasa takut bahkan meskipun ini adalah pertandingan professional pertamaku! menghadapi mereka berdua mudah, mula-mula arahkan tangan sedikit membentuk pagar di samping tubuh menahan Sako yang terlebih dulu datang.

Buuuggg, Sako tertahan. Biarkan ia menekan terlebih dahulu lalu push balik.

BEEEEGGGGG, Chamack yang datang dari arah satunya kutahan lewat kekuatan bahu.

Syarat utama keberhasilan teknik ini adalah keuatan otot kaki yang kuat serta kekuatan otot tubuh bagian atas. Aku memiliki keduanya. Jadi ketika mereka sekarang telah berhasil memepetku seperti ikan asin, bola masih aman di kakiku. Mereka hanya bisa mencoba menggoyang tanpa berhasil menyentuh bola.

Berikutnya tinggal memindahkan kekuatan tubuh secara bergantian melalui tumpuan kaki lantas HUUUPPP dorong sedikit Sako. Ia terhuyung satu langkah ke belakang. Masukkan bola ke sela kakinya lantas kelabui Chamakh seorang striker yang pasti tak mahir bertahan dengan gerakan meloloskan diri cepat.

SYYYUUUTTTTT berhasil!. Chamackh menabrak Sako ketika berusaha mengejarku.

Dua orang langsung terlewati.

Teeeep, tak perlu lama langsung lepas bola sebelum tekel Chamakh tiba. Lari ke ruang kosong. Bola diterima oleh pemain bertahan sarat pengalaman Bassong lantas teeeppp, Bassong mengembalikannya kepadaku. teeeeppp, balikkan lagi ke Alfred.

Kutukan Kick and Rush Norwich berakhir. Selama lebih dari lima menit bola tidak naik ke udara. Bola terus bergulir di tanah melalui skema operan-operan pendek.

Selanjutnya Alfred yang mengawali menaikkan bola ke sayap kepada Hoolahan. Operan Alfred begitu terukur hingga bola tak akan terlepas meski dilambungkan. Pemain senior berpostur kecil namun punya kontrol bola sempurna Hoolahan menahan bola sebentar berputar-putar mengancam pemain bertahan lawan lantas mengembalikannya kepadaku.

Presssing pemain Crystal datang lagi.

Setelah rasa takut, yang kedua adalah hilangkan rasa khawatir!. Ingat, pertandingan baru berjalan beberapa menit. Tidak usah terburu-buru.

GUSRAAAAAAAAAAAAAAKKK

Tekel pancingan datang agar aku tergesa-gesa mengoper. Begitu tenang, Instingku mengatakan tinggal lompat saja. Tak usah khawatir melihat tekel, apabila tekanan bola di kakiku pas, bola akan naik ke udara, lalu tanpa menunggu bola mendarat lakukan operan volley kepada Jerome.

Penyerang hitam berbadan besar kami ini pasti bisa mengontrolnya. Ia akan melakukan body charge pada pemain bek lawan kemudian ia akan mengembalikan bola lagi kepadaku yang datang menyambutnya.

Begitu bola datang, lagi-lagi tanpa lama berfikir, loloskan ia di kedua kaki. Biarkan bola meluncur bebas kepada pemain yang bebas di sisi tengah yaitu kepten tim Russel Martin seorang bek kanan.

DUAAAAAAAAAAAGG

Pertahanan Palace sudah terbuka lebar kaki pemain seperti Martin jarang meleset bila sudah mendapati celah pertahanan selowong itu.

SYYYYYYUUUUUUUUUUUUT, kiper meloncat berusaha menjangkau bola TRAAAAAAAAAAAAAAANGGG

Yah aku manusia biasa. Bisa saja salah. Bola Marten meleset. Alih-alih meluncur masuk ke gawang bola yang gagal dijangkau kiper malahan membentur tiang dan jatuh tepat di depanku.

Teeeppp,

Tentu saja dengan elegan, tanpa banyak tenaga kudorong bola masuk ke gawang kosong yang telah ditinggalkan kiper .

Plosssss GOOOLLL

1-0 dalam hitungan menit.

Aku berhasil. Awal yang baik. Reinkarnasi kick and rush benar benar tamat.

Burung kenari kuning berbulu tipis yang mampu bernyanyi indah dalam waktu cepat telah lahir.

***

PRIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIITTTTTTTTTTTTT

peluit panjang kedua berbunyi pertandingan berakhir. kami menang 3-1. Aku membuat satu gol, Alfred membuat satu asiist. Tiga angka yang minimal bisa menyelamatkan karir Coach Neill dan mengantarkannya masih bisa bertahan mendampingi kami di pekan berikutnya ketika harus melawat ke kandang Leichester.

***

STADION KING POWER LEICESTER CITY PEKAN KE 18 PREMIER LEAGUE

Kami melawan tim asuhan Claudio Ranieri seminggu kemudian. Suasana di Norwich sendiri terasa dilingkupi antusiasme tinggi saat kami tinggalkan. Masyarakat begitu bergairah menghias jalanaan, alun-alun, hingga di seluruh kapel dan katedral dalam rangka merayakan natal. Mungkin hanya para pemain yang tidak bisa terlalu luwes dalam merayakan natal karena akan menghadapi pasukannya Ranieri.

Semua penggemar bola liga Inggris pasti mengingat musim lalu mereka berhasil menembus kompetisi eropa dengan finish di posisi ke enam. Staf analis kepelatihan Norwich mengindentifikasi bahwa kekuatan Leichester terletak pada filosofi sepak bola Claudio Ranieri sendiri. Pria berambut putih yang pernah menangani Chelsea pada tahun 2004 sebelum eranya Jose Mourinho ini terkenal karena suka sekali membongkar pasang pemain.

Rolling pemain di tengah kompetisi bisa menjadi sebuah kelebihan sekaligus kelemahan. Hanya di tangan Ranieri filosofi itu bisa demikian kuat hingga Leichester hampir bisa mengalahkan seluruh tim besar di Liga Inggris pada musim lalu.

Saat wasit meniup peluit tanda Kick Off, aku dan Alfred langsung berdiri sejajar membentuk poros pertahanan lini tengah di depan pertahanan Norwich. Kami berdiri sangat rapat meniru duet Deschamps – Petit di Tim Prancis 1998 atau Viera – Petit saat di Arsenal. Poros sejajar demikian rapat akan membuat pertahanan kami solid tanpa menimbulkan efek parkir bus yang tengah ngetrend dipraktekan.

Lihatlah cara kami bertahan!. Saat pemain andalan mereka bernomer 9 Verdy memberi bola kepada Sinji Okazaki, press segera kami lakukan tanpa ragu-ragu. Pressing tinggi tentu meninggalkan celah ruang kosong yang rentan terhadap serangan segitiga.

teeep..teeeppppDUAAAAAAAAAAAAAGGG, saat Okazaki memberi bola balik ke Verdy tepat di saat itulah Alfred datang menyapu bola hingga serangan terhenti.

Pada lain kesempatan, Norwich melakukan pressing demikian tinggi sehingga lini pertahanan kami terangkat naik. Umpan panjang dari seorang pemain tengah Leichester kepada Verdy membuat pertahanan kami tertinggal jauh. Verdy sendiri terkenal sekali di musim lalu sebagai salah satu pemain paling potensial yang hingga hari ini, kata banyak orang, masih juga diincar oleh Louis Van Gaal.

Ketika Verdy berlari maju, ia melihat posisinya sudah one on one dengan kiper. Ia bersiap menceploskan bola sebelum.. Slllllllleeeeeeeeeeeep beeeeeet, tekel bersih kulakukan dari samping dan berhasil merebut bola.

Saking bersihnya tekel yang kulakukan Verdy sama sekali tak punya peluang terjatuh dan hanya tengak-tengok bingung tak percaya bola di kakinya bisa direbut.

Kami terus melakukan zone press yang sedikit bertentangan dengan tiki taka yang menerapkan zone press sejak di garis serangnya sendiri. Kami memilih menunggu lawan memasuki daerah pertahanan lalu melakukan pressing yang terbilang nekad karena menaikkan seluruh pemain mendekati pembawa bola.

Menghadapi pressing blitz seperti ini membuat serangan Leichester senantiasa terburu-buru.

PRRRRRRRIIIIIITTT OFF SIDE! DIRECT FREE KICK NOORWICH, teriakan wasit telah berpuluh-puluh kali terdengar hingga pertengahan babak kedua berjalan.

Wasit terus berteriak keras menandakan jebakan kami selalu berhasil. Inilah tipe pertahanan kami sekarang ; pressing tinggi dan garis off side tinggi. Resiko pertahanan ini tentu saja besar tapi Coach Neill memang tak takut apa pun.

Meski terus bertahan melawan filosofi serangan Ranieri, kami tak pernah lupa mencari celah saat menyerang. 90 menit tak mungkin berlalu tanpa satu peluang pun, contohnya sekarang akhirnya bola tiba juga di kakiku. Cermat kutinggalkan permainan bola pendek dan beralih ke dribble cepat melawan Sinji Okazasaki yang kebetulan berada di depanku. Pancingan ini paling mudah juga biasa dilakukan oleh Messi maupun Ronaldo. Para pendribbel jempolan ini selalu memberi kesan mereka mengontrol bola terlalu jauh dari kaki.

. Beeeett, saat aku melakukan tipuan serupa Okazaki memajukan satu kakinya berusaha merebut bola.

Keputusan salah.

Aku memang memancing seolah-olah demikian padahal pada kenyataannya bagai supir mobil berpengalaman yang membuat kesan mobilnya akan menabrak mobil di depannya, ketepatan perhitungan memainkan peranan penting. Manuvernya terjadi ketika posisi mobil telah berjarak sedemikian dekat, melalui perhitungan matang, kombinasi kaki kiri di kopling dan kaki kanan pada pedal gas membuat mobil menukik melintasi mobil yang seolah hendak ditabrak.

Manuver yang sama kini kulakukan. Kaki kiriku menginjak bagai menginjak pedal kopling penentu kapan naik – turun gigi, sedangkan kaki kanan menentukan kapan harus melesat, kapan harus menurunkan kecepatan. Sinji Okazaki terkecoh. Ketika aku menginjak Kopling kemudian bergeser ke kanan kemudian melesat dalam gigi tiga meninggalkannya ia telah kehilangan keseimbangan lantas terpelanting.

Mendapati satu pemain out of posisition tentu membuat lini pertahanan Leichester berusaha menutup celeh namun mengorbankan satu ruang kosong. Aku senang kondisi ini tercipta karena opsi terbuka lebar. Mau operan, giringan, tendangan langsung semua terbuka. Sebagai playmaker aku memilih opsi kedua. Giring dulu bola, seperti psikiater menghadapi pasien yang mengalami goncangan jiwa karena kekhawatiran, berikan obat kepadanya dalam bentuk manuver sederhana seolah akan menggiring lewat kaki kanan ternyata pindah ke kiri.

Lawan akan mentekel hindari saja cepat. Lolos!. pertahanan mereka semakin terbuka. Kiper sudah maju. Aku tinggal mencoop bola tapi seperti yang biasa dialukan Luis Suarez di Barcelona, aku memilih memberi bola pada Alfred yang berdiri tenang di sebelahku. Dua poros selalu bergera bersama baik bertahan maupun menyerang. Dan selama pertandingan berlangsung, kami memang selalu berdiri sedemikian dekat.

BUUUUUUUUUUUGGGGGGGG TRAAAAAAAAAAANGG PLOOSSSSSSSSS.

Alfred begitu bertenaga menendangnya. efek tendangan kelebihan power bisa sangat berbahaya karena bisa membuat bola meliuk terlalu lebar. Untunglah bola Alfred meliuk ringan lantas membentur tiang dalam sebelum nyeplos ke dalam gawang.

Penonton tuan rumah otomasis terbungkam. Kami unggul 1-0.

***

Keunggulan kami berhasil dipertahankan hingga peluit panjang berbunyi. Sistem zone pess di lini pertahanan berjalan sempurna. Sekarang kami menang dua kali beruntun. Coach Neill tentu saja belum juga berhasil dipecat dan aku sendiri mendapat kesempatan menelpon si cantik Amber. Runner up Miss England.

***

” Budi mau gak kamu ikut aku nanti malam liputan khusus di kawasan Stadion GBK. Gak lama kok paling hanya setengah jam..paling lama juga….”

Perkataan Kak Conchita hadir lagi saat sambungan telponku dengan Amber terjadi. bernada manja namun tetap penuh kemandirian dan intelektualitas tinggi seorang wanita ia berucap ” Budi mau gak kamu datang nanti malam di Old Factory Hotel. Gak lama kok paling hanya setengah jam..paling lama juga..”

” I will come Amber,” jawabku cepat merasakan telah mengalami percakapan ini sebelumnya.

Begitu banyak kebetulan yang terjadi. Semua kebetulan yang tidak menyenangkan bila mengingat inilah barangkali cobaan cintaku yang pertama bila saja hubunganku dengan Conchita boleh dikatakan serius. Sesudah kejadian di rumahnya, aku memang mengambil sikap menjauh darinya.

Bukan karena aku takut memperjuangkan cinta, tapi lebih kepada perasaan emosional manusia. Siapa sih yang tega memutus hubungan silaturahmi antara anak dengan orang tuanya??. Bilapun itu dikatakan cinta, lantas cinta orang tua kepada anaknya bukankah merupakan cinta yang paling sejati??. Bukankah kasih orang tua kepada anaknya berlangsung sepanjang masa, sedang kasih anak kepada orang tuanya hanya berlangsung sepanjang galah??.

***

Aku tiba di Old Rectory Hotel pukul 21.00. Pilihan Amber sangatlah mewah, private, terkesan kuno namun romantis. Buatku hotel ini menggambarkan citra Norwich sebagai sebuah Kota dengan kemampuan menjaga khasanah budaya serta kelestarian alam. Suasana hijau yang mendominasi sekitaran hotel berhalaman luas menunjukkan masyarakat disini tetap menjaga kelestarian jati diri mereka.

Belum lagi pemandangan kebun dan tanaman berwarna warni nan asri disekitaran hotel membuat aroma dedaunan segar tercium jelas. Penampilan gedung utama tampak elegen dilihat dari depan. Pihak hotel merawat baik-baik tumbuh-tumbuhan hijau sehingga menjalar naik menutupi bagian bawah hotel hingga lantai atas tanpa menimbulkan kesan kumuh.

Amber memesan Cottage di belakang gedung utama. Resepsionis hanya menunjukkanku lokasinya tanpa mengantarkan lebih jauh. Aku melintasi kolam renang indah berbentuk meliuk menyerupai huruf S yang ditemani gazebo-gazebo klasik tempat minum teh dan bercengkrama. Suasana halam hari, menambah keanggunan serta keeksotisan hotel karena permainan cahaya membuat kegelapan seolah takluk dengan kealamian tumbuhan hijau.

” Hai Handsome!,” ujarnya sambil tersenyum indah.

Amber menyambutku sendirian di depan pintu cottage. Rupanya Ia telah menyiapakan hidangan makan malam berupa hidangan teh hangat ditemani kue manis dan pasta keju di gazebo bundar depan kamar. Sangat pengertian wanita cantik ini rupanya, karena hidangan yang dipesannya bukanlah minuman beralkohol. Dari makanannya saja Amber hanya memesankan hidangan khas di hotel Old Rectory berbahan dasar pasta, roti, gandum , keju serta sayur-mayur segar.

” Well ternyata aku kalah! tidak biasanya sih! tapi bolehlah,” ujarnya cuek setengah jual mahal persis Kak Chita.

Ia mempersilahkanku duduk. Busananya malam ini tetap elegen seperti kutemui sebelumnya. Gaun terusan berwarna ungu tanpa lengan membalut keindahan tubuh menampilkan kesan sexy, anggun, serta menonjolkan intelektualitas. Satu yang amat kusukai dari Amber ialah ia sangatlah nyaman dan percaya diri dengan bentuk tubuhnya. Segala macam model pakaian di badannya teelihat selalu pas.

” Berapa umurmu sebenarnya Amber???,” tak tahan aku menyampaikan pertanyaan yang membuatku penasaran.

” Aku baru 21 tahun ini,” jawabnya sambil menyeruput teh hangat di depannya.

” 21?? kamu serius??,”

” Kenapa?? aku terlihat tua ya?? he jujur saja!,” Amber tersenyum.

” Enggak..tentu tidak tapi kamu terlihat …dewasa.”

Oke mereka berdua ternyata seumuran. Another coincidence.

Sama seperti atlet, rupanya kontestan pemilihan Miss di berbagai Negara selalu berkepribadian lebih dewasa dari anak seumurnya. Selain tampak dewasa, mereka juga sudah terlalu fasih membicarakan berbagai masalah dunia mulai dari isu terorisme, perkembangan para imigran di eropa hingga perkembangan mata uang Euro.

” Makan yuk Budi!,” Amber menawariku mulai menyantap hidangan. Terlihat fasih ia mengolesi roti gandum dihadapannya dengan selai lalu menaburinya dengan beberapa gula-gula. ” Dua kemenangan beruntun ya!,” ia mulai menyantap roti ” di luar dugaan!.”

” Apa?? di luar dugaan???? kami layak menang!,” ujarku penuh percaya diri ” kami Amber! sangat layak menang!,” sambungku sedikit arogan.

Amber menatapku seakan tak percaya pernah melihat seorang pemain bola penuh percaya diri sepertiku. ” Kau penuh percaya diri ya Budi??. Jarang kutemui orang Asia sepertimu.”

” Sepak bola tidak membedakan orang dari benua mana pun,” kataku ” selama mereka bisa bermain bola mereka bisa meraih apa saja.”

” Ok! ok! enough with football,” Amber bangkit dari kursinya ” Aku sudah selesai Budi!,” tampaknya Amber terlihat gundah. Ia tidak mengutarakannya tapi perasaanku cukup peka untuk bisa merasakannya ” jalan-jalan yuk! pemandangan hijau perkebunan Old Rectory Hotel selalu bisa menenangkanku!,” ia berujar sambil beranjak bangkit.

Gaun terusan warna ungu yang dikenakannya berkibar-kibar sekilas menampilkan sepasang kaki jenjangnya.

Lagi-lagi aku pernah mengalami kejadian yang sama di GBK. Berjalan-jalan ditemani rumput hijau berusaha menemukan kejernihan pikiran di tengah kerumitan persoalan kehidupan. Begitu pula meski tempak ceria ketika berhadapan di tengah orang banyak, seperti Conchita, Amber tak bisa menyembunyikan kegaualaunnya ketika menghadapi masalah di usianya yang baru 21 tahun. Kata orang kita selalu punya kembaran di dunia ini. Barangkali dari wanita ras eropa Anglo Saxon Amberlah yang memiliki banyak kesamaan dengan Kak Chita.

” Apa yang kau pikirkan sebenarnya Amber??,” tanyaku.

” Heh?? kau bisa membaca pikiranku??.”

” Nahh!,” aku menggeleng” Tentu saja tidak! tapi serius kamu terlihat gundah.”

Ia terus memegangi gaun terusannya tak bisa menyembunyikan perasaan.

” Ada banyak masalah yang tak bisa dijawab Budi! tapi aku selalu bisa tersenyum bila melihat sepak bola!.”

” Masalah apa sih Amber??,” aku masih penasaran.

” Bukan masalah besar. Hanya tekanan menjadi Miss Inggris saja.”

” O ya??,” seseungguhnya kebanyakan pemain bola merupakan manusia egois, kami jarang mendengar permasalahan orang lain dan hanya suka menceritakan tentang diri sendiri ” bagaimana sih rasanya menjadi Miss Inggris??,” berusaha aku mematahkan stigma itu.

” Berat!,” ujarnya galau ” sebagian besar waktu….,” Amber menerawang ” harus dihabiskan di jalan. Bertemu orang asing. Tersenyum otomatis. Acara-acara protokoler gak penting. Tersenyum lagi… Tanpa pernah ada waktu buat keluarg.”

Kudengarkan baik-baik penjelasannya yang keluar begitu lancar. Rupanya di luar tampilan glamor, cantik serta terkesan cerdas seorang putri kecantikan menyimpan deritanya tersendiri. Amber terus bercerita sambil kami terus berjalan santai perlahan-lahan menyusuri setiap sudut hijau hotel.

” Semuanya karena aku mengambil law school Budi. Biayanya besar” ujarnya berhenti di depan kamar hotelnya.

” Kamu kuliah hukum??.”

” Yes,” ia membuka pintu ” Come’on in!,” Amber mempersilahkanku masuk dalam kamar luas bertembok putih. Kamar tertata begitu rapih juga bersih dan terasa sejuk.

” Kuliah di jaman sekarang susah Budi. Biayanya amat sangat mahal. Apalagi kalo mau kuliah di universitas bergengsi…,” Amber mangacungkan dua jarinya ” biayanya dua kali lipat!.”

Amber menyentuh tanganku membawaku duduk di ruang tengah hotel. Tangannya masih bergetar menandakan kecemasan belum juga mau beranjak meninggalkannnya.

” Jangan khawatir Amber! Biaya kuliah boleh saja mahal! apalagi tetek bengek Miss Inggris sangatlah membosankan pastinya! tapi….kamu punya banyak sifat mulia.”

” Hush! tau dari mana kamu Budi?? kamu bahkan belum mengenalku.”

” Iya maksudku melihat perhatianmu pada Albert di rumah sakit.. sifat muliamu itu gimana ya….langka..”

” Langka???.”

” Ya kamu tau Albert sangat sedih sebelum kamu datang dan ketika kamu mengajaknya bicara ia tampak begitu gembira.”

” Emang kenapa dia sedih??,” Amber bertanya penasaran.

Tanpa persetejuan sahabatku, kuceritakan sejarah pertemuanku dengan Albert. Bagaimana kami pertama kali bertemu dan kabar terbaru vonis dokter kepadanya.

” Pertolongan?? dari siapa??,” tanyanya penasaran saat aku tiba di dialog tentang Star Wars.

” Yoda said Jedi’s strength flow from the forces,” kuulangi pernyataanku pada sahabatku ” but for Albert strength flow from the Creator”

” Kamu percaya hal religius seperti itu Budi??.”

” Maksudmu???,” aku agak tersinggung bila pembicaraannya menyangkut keraguan.

” Bahwa ada Sang Pencipta yang akan selalu hadir membantu kita??.”

” Kamu dari kalangan Ateis Amber??,” mataku memandang kurang suka mendengar pertanyaannya.

” No! lebih tepatnya mungkin golongan skpetis!,” jawabnya santai.

” Kalo gitu kamu harus mengalaminya secara langsung!”

” Apa??.”

” Pertolongan Tuhan. Kau tak akan tau itu ada bila belum pernah mengalaminya kan?? cobalah terus Amber.” sambil berusaha bangkit dari kursi. Pembicaraan masalah keyakinan selalu membuatku khawatir karena aku adalah orang emosional, tidak cerdas mengontrol amarah.

” Mau kemana kamu Budi???,” tanyanya.

” Sekarang sudah hampir tengah malam! takutnya kamu mau istirahat..,”

Amber terdiam lalu berdiri mengikutiku yang berjalan ke depan pintu kamar.

” Jadi ingatlah!,” ujarku masih bersikap mengguruinya ” kau harus mencoba mengalaminya sendiri!…”

” Budi,” tiba-tiba ia merenggut tanganku sebelum aku bisa menyentuh gagang pintu. “jangan pulang dulu! Ok!serius! aku akan mencoba untuk percaya! tapi please…malam ini aku…,” ia tampak ragu “aku… tak mau sendirian,” ujarnya manja lantas menghambur dalam pelukanku.

” Tidur disini aja ya Budi!,” bisiknya manja.

Aku belum menjawab.

” Mau ya???,” ia mengulangi sekarang dengan nada berbisik.

” Mmm,” aku berusaha melepaskan rangkulannya mencoba menjawab ” Amber masalahnya besok…”

Tanpa memberiku kesempatan menyelesaikan kalimat, Amber menubrukku lalu mencium bibirku. Tampaknya segala kecemasannya yang sejak tadi ia tampilkan tidak dapat terlepas dari ciumannya saat ini. Begitu dalam ia menghisap bibirku diiringi tangannya erat memeluk punggungku.

Buatku sebagai laki-laki berumur 20 tahunan dengan libido besar akibat segala bentuk intensitas latihan dan pertandingan bola, mendapat ciuman serta pelukan seperti ini tentu tak akan disia-siakan.

Kubalas ciumannya tak kalah bergelora lantas kuangkat tubuhnya masuk ke dalam kamar besar yang terletak tak jauh dari pintu masuk. Mataku sudah penuh nafsu melihat segala kecantikan serta lekak-lekuk tubuh yang sedari tadi mengintip dari gaun terusan tipisnya yang sexy.

” Breeeettt breeettt,” saking minimnya gaun Amber, aku hanya perlu dua kali tarikan untuk membuatnya telanjang bulat dihadapanku.

Yang tak bisa kulupakan adalah ekspresi wajahnya masih menyimpan rasa malu tapi juga tak bisa menyembunyikan birahi yang merayap datang. Begitu Amber telah bugil, segera kulolosi seluruh baju dan celanaku menemaninya telanjang bulat di ranjang putih.

Aku adalah seorang playmaker di lini tengah. Sudah menjadi kebiasaan playmaker untuk mengatur setiap jengkal permainan agar selalu terarah menuju kemenangan tim. Tak beda kala aku harus mengolah tubuh mulus Amber agar bisa menuju kepada kepuasan maksimal.

Maka perjuangan si playmaker seksual mengolah tubuh Runner up Ratu Kecantikan Inggris dimulailah. Seperti layaknya seorang seniman seks, aku mencoba memahat kenikmatan dari tubuh Amber diawali dari ujung rambutnya hingga nanti tiba di ujung kakinya. Wajah cantik runcingnya yang beraut tegas, kuciumi lembut.

” Cuup..cuup..cuup,” terus kuserbu bibirnya dengan ciuman-ciuman kecil untuk mendekatkan keintiman diantara kami. Ciuman-ciuman kecil yang kulakukan mengalir seperti bola-bola pendek tiki-taka yang pelan namun pasti mengantarkan rangsangan dari bibir ke titik-titik sensual tubuh Amber.

” Sllrreep..sllreepp..sllreeep,” jilatan-jilatan kecil secara perlahan mulai kulepaskan beriringan menemani ciumanku saat kini aku terus bergerak turun, perlahan menjelajahi liuk-liuk leher jenjang kemudian merangkak ke sela-sela bahunya yang terbuka. Kedua tanganku turut menjelajahi pinggangnya yang ramping berusaha membantu rangsangan bibir.

” Cuupp,” sekarang cumbuanku telah tiba di kedua gunung kembarnya. Organ intim Amber ini cukup padat, tidak terlalu besar, tapi alamiah dan kencang. Kukitari payudara montok Amber perlahan-lahan sambil mencium-cium kecil kemudian ” Sllreeeg,” kujilati puting coklat payudaranya dan ” Gleeep nyoot nyooot nyooottt,” kulahap puting payudara kanan yang telah mengacung kemudian kugigit kecil-kecil.

” Aaaagh….,” Amber meraung tertahan.

Tangan kananku naik cepat menyusuri payudara kirinya yang bebas lalu ” Greeep ngeeek…ngeeeekk…,” tanpa melepas gigitan di puting kanan, kuremas penuh payudara kiri Amber membuatnya terpompa ” Seeeet ngeeeek ngeeeek ngeeeekkk,” jempol jariku menekan tepat di puting kirinya menekan seperti piano lalu memuntir-muntirnya cepat.

” Aggggggggggh,” erangan Amber masih saja tertahan giginya tampak menggigit habis-habisan bibir bawahnya agar tak menimbulkan suara terlalu keras.

Tangan kiri yang bebas sekarang kuturunkan, awalnya berusaha membuka selangkangan Amber yang terawat tanpa bulu lalu menutupinya tanpa gerakan apa pun. Hanya menutupi agar si cantik merasakan kehangatan.

” Kamu cantik Amber,” ujarku mengagumi bola mata berwarna biru anglo saxon miliknya yang kini menyala-nyala dalam birahi. ” Apalagi kalo kamu mau melepaskan perasaanmu!,” ujarku sambil menggodanya lewat bisikan nakal.

Habis membisik, kembali kulakukan cumbuan–cumbuan kecil secara bergantian di payudara kiri dan kanan milik Amber masih diiringi oleh pompaan ritmis menggunakan satu tangan.

” Cuup slreeep greeep nyyyoot nyooot nyyooot.”

Rangkaian ciuman, jilatan, gigitan berganti sedotan kembali kuberikan ke area gunung kembar itu. Si Cantik mulai bergerak tak karuan. Lunjakan-lunjakan tubuhnya dari kasur disertai kontraksi sekujur otot tubuh membuatku tau ia telah begitu terangsang.

” SSiiiiitt ssssiiit sssiiiiiiit,” tangan kiriku yang sedari tadi menutupi selangkangannya secara cepat mulai mengucek-ngucek organ kewanitaannya yang tampak berwarna semakin kemerahan. Lebih tepatnya mungil serta kemerahan. Kucekanku yang cepat tapi penuh perasaan segera saja membuat organ intim itu basah semakin licin dan semakin licin.

” Heeeeggghh…hegggghhhhh…AAAAAAAAAAHHHHH,” Amber mulai melepaskan tekanan rangsangan melalui desahannya.

Aku cepat bermanuver turun menuju selangkangannya yang telah basah kuyup lalu penuh kekuatan mengangkangkan kedua kakinya lebar.

” Cuuupp.ccuuuppp…,” langsung saja kuciumi bibir mungil bawahnya nan indah itu.

” Budi Budi no…noo….nooo….,” Amber tampak terkejut aku mengoralnya. Ia berusaha berontak namun tentu saja tenaga kuncianku tak bisa ia lawan ” Sllreeeegggg,” jilatanku tiba ” slrreg sllreeeg sleereeg,” jilatan kecil-kecil cepat mendarat di kelembutan bibir vagina Amber membuatnya terlunjak-lunjak.

” Ooooooooooohhh Budiii……..Holdd my hand Budi….pleaseee..,” ia minta dipegangi tangannya ” HUUUUGGUUU NOO…NOOOO AAAAAAAAAAAAAGGGGGGGGHHHH YESSS,” kupegangi kedua tangannya terus melakukan serbuan jilatan kecil berputar-putar di seluruh liang vaginanya .

” AAAAAAAAAH AAAAAAAAAAAAHH HAAAAAAAAAAAAHHH,” Desahan yang sedari tadi ditahannya kini meledak-ledak.

Aku tak melepaskan sedikit pun pegangan tangannya di tanganku hingga pada sebuah titik Amber menjungkitkan sendiri pantatnya naik dari permukaan kasur ” slreeeeeg slreeeeg slreeeegg,” dicarinya sendiri titik paling pas di organ kewanitannya yang paling sensitive dan dihantamkan ke lidahku yang tak jua berhenti menari ” HHHHHHHHHHHHAAAGGGGGGGGGGGG,” Amber melepas peganganku ia beralih berusaha meraih seprai atau bantal atau bahkan payudaranya sendiri.

” AAAAAAAAAAAAAAAAHHHHHHHHHHH,” Ia memilih memilin payudaranya sendiri saat klimaks itu datang. Berturut-turut dia melunjak-lunjak tak terkendal dengan lidahku masih asyik menjilat-jilat.

Amber terbanting-banting beberapa kali kemudian ia sekuat tenaga berusaha melepaskan dirinya dari jilatanku. ” Budi…budi…cukupp…cukuupppp,” ia memelukku begitu erat memintaku agar naik bersamanya ke atas ranjang kemudian kami berpelukan mesra.

” Hahhh…hahhh…hahhhhhh,” ia terengah-engah dalam pelukanku. Kuangkat dagunya yang runcing khas wanita eropa dan kutatap pipinya yang merona merah. Kulit putihnya semakin membuat wajahnya menjadi kemerah-merahan.

Cukup lama kami saling berpelukan sebelum wajah cantiknya yang berwarna kemerahan membuat birahiku tak tahan lalu menariknya agar duduk di pangkuanku.

” Budi…wait….Budi,” walau masih tampak kelelahan kuangkat Amber agar duduk di pangkuanku. Kuusap sejenak vaginanya yang masih banjir air kenikmatan lalu kumanfaatkan limpahan air itu agar bisa membantu penisku yang telah tegang maksimal agar sliding langsung menusuk kedalaman liang kenikmatannya.

” Sleeep…beeeg,” aneh kenapa kemaluanku tidak mau sliding??. Kucoba lagi kali ini sambil setengah menggendong pantat Amber lalu mengarahkan penis mengacungku di antara vaginanya ” sleeeppp beeeg,” masih tertahan.

” Budii……,” Amber meringis tertahan. Kupeluk erat punggungnya sembari tanganku melingkar di pertutnya. “Huuuupp,” sekali lagi nafas panjang kugunakan menusuk kedalaman liang hangatnya sekuat tenaga ” Blessssssss,”

” AAAAAAAAAAAHHHHHHH,” si cantik dalam pelukanku meraung lantang.

Aku tak menyangka reaksi yang timbul ini. Apakah kurang pelumasannya tadi saat fore play. padahal sekarang saja vaginanya bertambah basah dengan air hangat. Kuangkat tanganku yang berlumuran cairan kewanitaannya penasaran.

” Hahhhhh Amber????,” aku terkejut bukan kepalang saat melihat tanganku bukan penuh cairan nikmat namun darah yang mengalir jatuh dari sela sela jari. ” You’re still virgin???,” tanyaku tak percaya.

” Sebelumnya ya Budi hah hah hah…tapi sekarang…he…tidak lagi,” ujarnya meringis tampak masih kurang nyaman merasakan ada benda tumpul di selangkangannya.

Aku tetaplah amat sangat terkejut mendapatinya masih perawan. Apalagi menyadari akulah yang telah membelah durian kesucian yang selama ini ternyata telah dijaganya begitu baik. Mendapati seorang perawan yang masih kurang nyaman dengan penetrasi penisku membuatku menyelesaikan malam itu dengan melakukan pentrasi tanpa gesekan berusaha semampu mungkin agar si cantik merasa nyaman. Minimal ia tidak kesakitan.

Meski kelihatan sering meringis, Amber tampak begitu menikmati hubungan yang kami lakukan. Seolah tak mau melewatkan sedetik pun momen yang kami alami, ia terus menerus minta dibelai atau pun dipeluk mesra.

Sepanjang malam dia kupeluk begitu mesra hingga akihirnya kutumpahkan semburan spermaku ke perutnya yang rata saat rangsangan jepitan vagina sang perawan tak lagi tertahan menutup persenggamaan kami di kemegahan kamar Old Rectory hotel.

***

Tiga hari kemudian, Ettihad Stadium Manchester.

Stadion Ettihad merupakan stadion kelima terbesar di Inggris dengan kapasitas hampir 48.000 kursi. Dulunya stadion ini bernama Stadion City of Manchester dan untuk alasan sponsorship berganti nama pada tahun 2011. Kala menatap rumput Ettihad ada dua hal yang kuingat ; satu, aku tak percaya, sebagai pemain bola professional dari Indonesia bisa merasakan bermain disini. Kedua tentu sejarah luar bisa pada tahun 2012 ketika pada menit 92 dan 94 Manchester City membalikkan keadaan lalu mengalahkan QPR dan memenangkan gelar pertama Premier legue setelah menunggu selama 44 tahun.

Sangat bersejarah Stadion Ettihad hingga aku sedikit merinding kala berjalan memasuki halaman utama stadion berasama seluruh pemain utama Norwich. Untunglah aku teringat BBM Kak Chita hingga bisa mengurangi kegugupan melihat kandangnya Manchester City.

HAI BUDI
KAMU BERUSAHA MENGHINDARI AKU YA
JANGAN BEGITU DONK
KATAMU “THIS IS FOR CONCHITA”
LANTAS KENAPA SEKARANG…??
KAMU MEMBIARKANKU DISINI….
BERJUANG SENDIRIAN???

Aku hanya bisa melamun lama kemudian menjawabnya singkat.

HALO KAK
APA KABAR???
AKU GAK BERUSAH MENGHINDAR KOK
INI KAN LAGI MAU LAGA BOOXING DAY KAK
JADWAL PERTANDINGAN BEGITU PADAT

Kak Chita tidak menjawab lagi.

Pekikan dukungan penonton City membuatku segara kembali ke kenyataan. Rasanya kok suara terompet mereka mengingatkanku pada suara simfoni biola yang sedang menyanyikan sebuah lagu pop Indonesia terkenal. Tapi lagu apa?? aku lupa.

Yang jelas simfoni lagu itu menemaniku saat bertahan di lapangan kembali melakukan double poros sepanjang pertandingan. Double poros hari ini bintangnya Alfred. Julukan Yaya Toure dari Norwich yang pernah dialamatkan kak Chita pada Alfred waktu di Jakarta terbukti sekarang. Alfred dengan tinggi tubuh 188 cm benar-benar menjadi poros ganda bersamaku bertahan menangkal seluruh penetrasi Silva, Sterling, Kolarov, Toure hingga Aguero.

Bahkan pada saat pertandingan memasuki menit terakhir dan terlihat akan berakhir imbang, ia berduel begitu sengit melawan Yaya Toure dan Fernandinho sekaligus. Alfred sedikit kalah tinggi juga kalah hitam dari mereka berdua, tapi ia lebih muda dan sangat jauh-jauh lebih kuat. Melalui daya baca serta tumpuan tubuhnya yang lebih kuat ia biarkan Yaya Toure seolah berhasil melewatinya sedikit di luar kotak penalty. saat Toure maju, Alfred menyapu kaki kananya ke arah kiri dari arah belakang kaki kirinya sehingga terlihat semi akrobatik. Fernandinho saja terkesima melihat tipuan Alfred hingga ia hanya bisa terbengong.

” Bleeeegg sleeeepppp,” cara merebut bola Alfred berhasil, bola di kaki Toure terlepas meninggalkan bola liar yang langsung disambarnya sendiri.

Seluruh pemain City sudah maju bersiap mencetak gol ke gawang kami tapi bola terlepas. Kondisi “fast break” terjadi. Alfred berlari bak sprinter membawa bola sendirian. Kecepatan Alfred bisa membawa bola sejauh 100 meter hanya selama 10 detik bahkan kurang. ia begitu cepat berlari. penyerang Norwich yang ikut membantu pertahanan tak mampu mengejarnya.

Aku sendiri juga bisa berlari cepat. Jarak 100 meter bisa kutempuh dalam 10,17 detik. Sedikit dibawah Alfred tapi masih bisa dipake buat mengejarnya. kami berdua sekarang naik bagaikan dua poros bertahan yang kini beralih fungsi naik ke atas. Bek Vincent Company maupun Martin Demichelis berusaha menempel Alferd ketika ia telah tiba di luar kotak penalty. Alfred berusaha bertahan tetap berdiri tapi berlari dalam tempo secepat itu tentu membuat keseimbangannya tak terjaga.

” Alfred!,” ujarku 10 meter dibelakangnya saat melihatnya mulai kehilngan keseimbangan.

” Kaka ambil!” ia melepas bola ” GUBRAAAAAAAAAK SREEEEEGGGG,” tepat disaat tabrakan terjadi bola telah dihantam oleh tumitnya dan berbalik ke belakang. Kiper Joe Hart yang telah maju terlalu jauh melihatku dengan pandangan penuh ketakutan.

” KLIIIIIIIIIIIIK SYYYYYYYYUUUUUUUUUUUUUUUTTTTT,” kuungkit bola dari Alfred melenting naik meninggalkan Joe Hart yang masih melongo hanya bisa melihat bola meluncur indah ke atas dari luar kotak penalti lalu jatuh perlahan menuju ke dalam gawang.

” GOOOLL”

Penonton Norwich berteriak. Pendukung tuan rumah terbisu.

Aku berlari ke pinggir penonton yang menyediakan tempat bagi pendukung Norwich. Saking gembiranya aku berlari berusaha memeluk penonton sebelum petugas keamanan stadion menghalauku. Pendukung setia Norwich tetap berteriak penuh kegembiraan.

Aku pun demikian. Kupejamkan mata dan bersyukur tiada tara. Stadion Ettihad yang megah ini menjadi milik Norwich. Aku terus mendengar teriakan penonton hingga suara penonton itu tidak terdengar lagi.

Aku membuka mata. Saat aku membukanya aku tekejut melihat kak Chita berdiri tepat didepanku.

Ia tak tersenyum .

Tatapannya tajam terasa menghakimi.

Simfoni biola di awal pertandingan kembali terdengar. Begitu indah melantun seakan mengiringi kata-kata yang akan diucapkan Kak Chita sebentar lagi.

” Budi!,” Kak Chita berujar ” Kamu bohong!,” katanya masih tanpa ekspresi dengan mata yang menudingku.

Ia melanjutkan, ” Kamu pembohong besar Budi! Katamu! ;

CINTAKU BUKANLAH CINTA BIASA

JIKA KAMU YANG MEMILIKI

DAN KAMU YANG TEMANIKU SEUMUR…… HIDUPKU

SEUMUR HIDUPKU

Kak Chita mengucapkan kalimat itu secara musikal lebih tepatnya sambil bernyanyi. Suaranya indah, sangat indah malah karena diiringi suara biola orchestra.

” Kamu pernah bilang Budi!,” Kak Chita kembali menudingku ” Bahwa cintamu itu…. ;

CINTAKU BUKANLAH CINTA BIASA

JIKA KAMU YANG MEMILIKI

DAN KAMU YANG TEMANIKU…. SEUMUR… HIDUPKU

SEUMUR HIDUPKU ”

Kak Chita tak henti menudingku dan seluruh stadion tampaknya mengaminkan tudingannya. Pemandangan ini menggoncang jiwaku. Pandangan mataku menghitam tak sanggup menahan kemunculan musikal tiba-tiba Conchita Caroline. Pemandangan di depan mataku mengabur, semuanya menghitam lalu….

” BRAAAAAAAAAAAAAAAKKKKKKK,” bunyi tubuhku sendiri yang terjatuh tak sadarkan diri di rumput Ettihad menjadi suara terakhir yang kuingat.

BERSAMBUNG