CONCHITA Part 10

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10

Cerita Sex Dewasa CONCHITA Part 10 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Cerita Sex Dewasa CONCHITA Part 9

SHADOW FOOTBALL

Novel Haruki Murakami yang paling kusukai berjudul Kafka on The Shore. Novel ini ditulis Murakami selama empat tahun lamanya. Sebuah waktu yang lama guna melahirkan sebuah novel berkualitas dan paling dikenang oleh pembacanya sekaligus paling misterius. Banyak hal ingin dimengerti lebih lanjut oleh pembacanya dari novel ini akibat Murakami memadukan unsur filsafat bersama Agama di Jepang dalam paduan teka teki rumit.

Sebagai salah seorang penggemar berat buku karangan Murakami aku harus berulang-ulang membacanya demi mengharap mendapatkan sebuah petunjuk tentang apa yang sebenarnya dia bicarakan. Lucunya setelah bertahun-tahun mencari jawaban melalui studi literature di perpustakaan Norwich, jawaban yang kucari bukan muncul dari buku tapi dari pertarungan Ronda Rousey melawan Holly Holm juga pertandinganku melawan Liverpool.

Cerita Kafka on The Shore berpusat pada cerita dua orang tokoh utama. Pertama adalah anak umur 15 tahun bernama Kafka Tamura. Seorang anak yang masih menghadapi dinamika kehidupan khas anak ABG, namun harus memilih kabur dari rumah akibat ayahnya terus menerus mengulangi takdir yang dilihatnya bahwa Kafka akan membunuh ayahnya, memperkosa ibunya dan membunuh adik perempuannya.

Tokoh utama kedua bernama Satoru Nakata, seorang kakek berusia 60 tahun. Latar belakang tokoh ini cukup menarik, alkisah saat Nakata masih sekolah di akhir periode Perang Dunia Dua, dia mengikuti kegiatan study tour sekolah dan tiba-tiba jatuh pingsan oleh sebuah cahaya dari langit. Teman seusia Nakata yang melihat cahaya sama cepat bangun dari pingsannya dan kembali pulih.

Sayangnya Nakata tidak. Setelah berhari-hari dirawat, Nakata baru bangun dalam keadaan lupa segala-galanya termasuk identitas diri serta kehilangan kemampuannya membaca dan menulis.

Walaupun kehilangan semua memorynya, Nakata mendapat anugerah lain yaitu kemampuan berbicara dengan kucing. Kemampuan ini pada akhirnya bisa membuat Nakata bertahan hidup di Jepang karena mampu mengembalikan kucing-kucing hilang kembali kepada rumah tuannya. Nantinya Nakata akan bertemu tokoh bernama mirip label merek minuman keras Jhony Walker. Murakami menggambarkan Walker sebagai pembunuh berantai kucing untuk dikoleksi jiwanya.

Karena mampu menerjemahkan bahasa kucing Nakata dapat bertemu Jhony Walker yang secara misterius kemudian menekan Nakata untuk membunuhnya. Meski terdengar biadab, Nakata memenuhi perintah Walker lalu membunuhnya.

Lantas dimana kunci jawaban kisah membingungkan Murakami ini dengan kisah nyata Ronda Rousey atau pun pertandingan Norwich vs Liverpool??. Jawabannya terletak pada kata ” metafora”. Sebuah majas berisi kata kiasan berdasarkan persamaan dan perbandingan yang menyamarkan sebuah kejadian sesungguhnya. Metafora bisa juga berarti sebuah pengantar menuju dimensi esoteris. Dimensi favoritku. Tempat dimana segala keajaiban berada. Mendekati Kafka tanpa menilik sisi metafora dan esoterisnya sangatlah mustahil. Kisah ini memang dirancang menggugah kesadaran kita akan keberadaan sebuah dimensi lain di luar dimensi normal kita.

Jadi bagaimana cara menjawab teka teki bocah ABG labil yang terhubung secara misterius dengan kakek Nakata??. Belajar dari Logika Meneer Johan ketika mengajakku menyaksikan Ajak vs Inter Milan di Final Piala Eropa, maka cara pertama adalah memilih sudut pandang. Darimana kita hendak memfokuskan fokus penilaian kita, apakah ke Totalvoetball atau Catenaccio. Kafka atau Nakata?.

Ketika Meneer mengajakku melihat kehebatan Totalvoetball kukira aku harus melihat Ajak karena tim inilah yang didambakan orang kebanyakan, ternyata keputusanku ini salah. Keterbatasan perspektif terjadi saat aku memutuskan melihat sesuatu berdasarkan penilaian orang lain. Belajar dari ilmunya Johan Cryuff aku harus mulai pendekatanku terhadap karyanya Murakami bukan melalui Kafka, fokus kebanyakan pembaca, tapi melalui si kakek Nakata.

Cahaya apa sebenarnya yang dilihat oleh Nakata dan beberapa anak lainnya??. Dari semua anak kenapa mereka semua bisa bangun sedangkan Nakata tidak?? Sekuat apa cahaya itu hingga bisa membuat Nakata lupa segala-galanya termasuk dirinya sendiri??.

Aku mulai mereview ulang jalannya partai Ronda vs Holm I & II berusaha mengurai teka-teki ini. Jawaban misteri Murakami kuyakin bisa diperoleh dari mana saja karena metafora merupakan wujud dari keberagaman realitas ; Saat Ronda vs Holm I, Ronda maju sebagai seorang Juara, ia maju berusaha bermain brutal seperti pertandingan sebelumnya. Holm bermain cerdik menggunakan kemampuan southpawnya memaksa Ronda menemui jalan buntu.

Jalan buntu kuibaratkan sebagai kegelapan, lawan dari cahaya, sekaligus menjadi kunci jawaban pertama.

Dipaksa menemui jalan buntu, Ronda bertarung monoton, ia tak mampu melihat cahaya alternative gaya bertarung lain yang barangkali bisa menjadi solusi. Holm menghukum Ronda melalui tendangan kiri mautnya menghadirkan kekalahan KO paling memalukan dalam sejarah Mix Martial Art.

Ronda kalah karena tidak mempu mengatasi keterbatasan perspektifnya. Ia terjebak dalam kegelapan karena tidak mempu memperluas cakrawalanya. Nakata kecil yang lupa cara membaca, menulis, maupun siapa dirinya sebenarnya merupakan gambaran metafora negative sekaligus positif. Bila dia gagal melupakan dirinya berarti dia tetap terkungkung di lembah-lembah keterbatasan perspektifnya. Logika terbalik pertama. Sebaliknya ketika dia lupa segalanya, yang kupikir awalnya bertendensi negative, rupanya bisa memperluas cakrawalanya dengan symbol bisa memahami bahasa kucing. Logika terbalik kedua.

Ronda Rousey vs Holly Holm II menunjukkan kebenaran logika ini. Pada partai rematch, Ronda menyeruduk lebih buas mengira cara ini akan mengantarkannya menuju kemenangan. Holly Holm menunjukkan pada Ronda bahwa cara berpikirnya salah. Semua serudukan terbendung kecepatan foot work seorang petinju kidal.

Ronda kembali terjebak dalam kegelapan. Mengikuti saranku agar bersikap “Ritsurei” demi mengatasi keterbatasan perspektif, Ronda mulai berusaha mencari cahaya dari dalam dirinya sendiri yang bisa mengeluarkannya dari kegelapan.

Inilah kunci jawaban kedua, kemampuan Ronda mencari solusi dari dalam dirinya sendiri, termetafora melalui kemampuan Nakata memahami bahasa kucing yang menunjukkan kemampuannya berdialog secara aktif dengan kedalaman dirinya sendiri. Setiap orang esoteris menyadari, di dalam selubung diri kita sendiri tersimpan sebuah cahaya kebenaran yang dapat mengeluarkan kita dari setiap kegelapan kehidupan.

Namun sama seperti kemampuan bicara dengan kucing yang sering kita tanggapi negative, mencari jawaban dari dalam diri sendiri juga kita anggap tabu, irrasional, klenik, bahkan gila. Kegelapan akan senantiasa menyelimuti kita bila cara berpikir seperti ini dipertahankan.

Aku sendiri mengalami langsung saat berusaha mencari cahaya dari dalam sendiri kemudian terpancarkan lewat solusi hebat melawan Gegenpressingnya Jurgen Klopp. Kick and rush sangat kubenci. Kuanggap irrasional diterapkan di sepak bola modern, tabu dimainkan bila mengejar kemenangan dan juga klenik karena mempertahankan status quo. Namun demikian cahaya dari dalam diri akhirnya menuntunku mengatakan bahwa cara yang kuanggap klenik inilah justru satu-satunya solusi mengalahkan Gegenpressing.

Demikian pula Ronda di pertandingan kemarin. Ia betul-betul berusaha mencari cahaya, mengajak berbicara kucing di dalam dirinya sendiri, demi mencari solusi menghadapi permainan Holm. Si kucing akhirnya menuntunnya mulai dari keberanian menerima pukulan hingga Nut Meg di kaki Holm yang akhirnya berujung Armbar Submission.

Jika kunci jawaban pertama berarti kegelapan merupakan keterbatasan perspektif kita, dan kunci jawaban kedua adalah usaha manusia membuka perspektif ini untuk keluar dari kegelapan menuju cahaya, apa jawaban kisah Murakami tentang Nakata yang akhirnya bertemu Jhony Walker??. Sang Pembunuh Kucing??. Kenapa Walker menginginkan dirinya dibunuh oleh Nakata??. Menjawab pertanyaan ini berarti mengembalikanku pada pertanyaan sebelumnya ; mengapa hanya Nakata yang pingsan berhari-hari dan anak-anak lainnya yang pingsan segera kembali terbangun.

Melihat keberanian Ronda di babak kedua yang berteriak lantang menantang penonton maka jawabannya adalah “keberanian”. Jhony Walker merupakan metafora dari segala hal yang hendak merampas usaha manusia mendapatkan cahaya. Jhony Walker ingin kita semua tetap dalam kegalapan.

Oleh karena itu, ia menantang Nakata dan anak-anak yang lain untuk membunuhnya bila ingin terus mendapat cahaya yang mengatasi kegelapan. Pertanyaannya beranikah mereka??. Hanya Nakata yang berani. Anak lain bangun tersadar untuk kembali ke dalam keterbatasan perspektifnya masing-masing. Dalam sejarah perjalanan panjang peradaban manusia memang hanya sedikit orang yang berani membunuh si Jhony Walker. Kebanyakan manusia lainnya tetap saja berkutat di kehidupan penuh kesemuan.

Untuk kasus Ronda, beranikah ia melupakan uang, ketenaran, keglamoran hidup, teman-teman jet set yang telah merubahnya menjadi monster demi sebuah cahaya kebenaran??. Ronda merupakan seorang petarung wanita tangguh, sebelum kemudian berubah menjadi petarung paling tidak menyenangkan dalam hal bertingkah laku, suka menyakiti orang-orang dekat yang setia mendampingi perjalanan kariernya dari nol hingga berjaya, inilah metafora Jhony Walker yang ingin agar Ronda membunuhnya. Di pertandingan itu, Ronda berteriak penuh keberanian berani menyingkirkan itu semua. Ronda kemudian membunuh Jhonny Walker lalu melangkah maju menuju kemenangan.

Jika kunci jawaban ketiga berarti keberanian menyingkirkan keterbatasan perspektif kegelapan. Apa makna Kafka bocah lima belas tahun dengan takdir setragis itu??. Sang ayah mengatakan pada Kafka berulang-ulang bahwa ia akan memperkosa ibunya, membunuh ayahnya dan juga adik perempuanya. Kenapa bisa ada takdir seburuk itu?? Apa maknanya??.

Samakah takdir ocehan ayah Kafka dengan banyaknya takdir bikinan orang yang mengatakan Ronda akan pensiun atau aku dan Alfred akan gagal di tanah Inggris??. Bagaimana jika takdir bikinan manusia ini rupanya berasal dari orang-orang yang tidak pernah berani membunuh Jhony Walker di dalam dirinya??. Bukankah penilaian orang-orang seperti ini hanya berdasar prasangka dan sangat sempit??.

Sir Alex Ferguson, Maradona, Fritz walter atau Ronda Rousey terbukti mampu menulis ulang takdir sempit bikinan orang-orang penakut ini. Alih-alih kalah, pensiun, hancur atau terbenam dalam kenistaan, mereka menulis ulang takdir kemudian menjadikan diri mereka berjaya secara abadi.

Sekarang bagaimana mungkin orang-orang pemberani ini bisa menulis takdir sendiri melawan takdir yang dibuat kebanyakan orang??. Inilah kunci jawaban keempat, para pemberani ini, karena pikiran mereka yang telah terbuka, menganggap kesialan sebagai sebuah keberuntungan. Ronda di atas Octagon tidak lagi menganggap pukulan Holm sebagai derita, ia menyukai dipukuli Holm dan menanggapnya jalan merebut kembali gelar juaranya.

Kata-kata mukjizat, keajaiban, miracle semuanya hanya dapat terjadi saat seorang manusia mulai menganggap ketidakberuntungan yang menimpanya sama berartinya dengan segala keberuntungan di dalam hidup. Lengkapnya jawaban atas teka-teki Kafka melengkapi keseluruhan jawaban dari bukunya Murakami yang telah kubaca bertahun-tahun lamanya.

Jawabannya berbunyi ; setiap manusia harus berani keluar dari kegelapan dengan cara mencari cahaya di dalam dirinya sendiri dan menganggap setiap musibah sebagai sebuah keberuntungan. Apabila manusia telah mampu memandang kemalangan sebagai keberuntungan sama seperti keberuntungan itu sendiri, manusia pemberani ini akan dicatat oleh tinta emas sebagai manusia unggulan yang mampu menciptakan keajaiban dan dikenal abadi oleh seluruh dunia.

***

” Conchita Caroline rupanya kamu lebih tinggi dari dugaanku,” ucapan Ronda mengembalikanku ke dunia nyata setelah lama bergelut bersama Murakami.

” Bos mau kami bawa keluar nona ini??…..,” Tom pemimpin bodyguard Ronda mencoba mengeluarkan Kak Chita dari restoran bandara.

Ronda menggeleng tanpa bicara memberi isyarat agar Tom menyingkir.

Setelah Tom mematuhi perintahnya, Ronda menatap tajam Kak Chita. Perang psikologis antara dua wanita ini dimulai. Ronda merupakan pakar duel psikologis. Intimidasi, sumpah serapah, saling melotot, hingga adu fisik frontal fasih dikuasainya. Auranya terlalu kuat untuk dilawan oleh Kak Chita.

Berbeda dengan Holy Holm Kak Chita tidak mau melayani perang urat saraf Ronda. Kak Chita mengalihkan pandangannya sekilas kepadaku, melihat gelas minuman lalu merebutnya bersiap menyiramku.

Ronda melihat gerakan Kak Chita. Kemampuan refleksnya sangat cepat walau tulang rusuknya belum pulih benar. Tangannya tiba di gelas lebih cepat dari tangan Kak Chita. Menggunakan keahlian kuncian Judo, Ronda memiting tangan Kak Chita, memaksanya melepas gelas, dan membuangnya di meja hingga tidak menarik perhatian orang. Jatuhnya gelas mengiringi kebangkitan Ronda dari tempat duduk.

” JANGAN KAMU COBA MENYIRAM PACARKU BITCH! ATAU TANGANKU INI AKAN MEROBEK MATAMU!.”

Ronda memaki menggunakan Bahasa Inggris Amerika membuat seluruh pengunjung restoran kaget. Mereka mendelik mencari tau ada apa gerangan. Dua orang wanita terlihat jelas dimata pengunjung restoran masing-masing memasang sikap tubuh siap berkelahi.

Aku menduga Kak Chita akan gentar ketakutan digertak begitu keras. Rupanya tidak demikian. alih-alih takut digertak Ronda, Kak Conchita mengangkat dagunya menantang Ronda. Postur tubuh Kak Chita lebih tinggi dari Ronda membuatnya terlihat lebih superior ketika memiliki keberanian sebesar ini.

” Ayo pukul aku kalo berani BITCH!,” kata Kak Chita melakukan skak pertama.

Bahasa Inggrisnya sangat tenang terucap menunjukkan ketidak takutannya akan Sang Juara UFC.

Ronda yang semula memasang muka penuh amarah mulai tersenyum. Setengah mati tampaknya ia berusaha menahan emsoi. Tangannya bergetar ingin menghantam Kak Chita tapi dipertimbangkan matang-matang segala konsekuensi dari tindakannya ini.

Aku sebagai laki-laki yang harus duduk diantara dua wanita ini betul-betul terjepit. Tak tau harus melakukan apa dan juga tak mengerti harus berkata apa.

” Kamu berani Bitch, aku salut….,” Ronda menurunkan tangannya. Seharusnya Kak Chita jangan terlalu memaksakan keberuntungannya. Ia harus mundur sekarang. Mundurlah Kak cepat! Ronda sangatlah emosional. Bunyi teriakanku dalam hati, sepertinya sama sekali tidak didengar olehnya karena Kak Chita malahan memajukan dirinya semakin mendekat ke arah Ronda.

” Kamu gak akan berani memukulku BITCH,” Kak Chita terus mendekat ” gak akan berani!.”

Dipepet seperti ini membuat Ronda meledak.

” MAMPUS KAMU!….,” dalam keadaan tangan turun, Ronda menyodokkan wajahnya.

Kak Chita melihat tandukannya, menggunakan tubuhnya yang ringan ia melontar ke belakang, mengelak tandukan Ronda kemudian beringsut mengambil tanganku dan menariknya.

” AYO LARI BUDI!,” Kak Chita berteriak sambil menarikku sekuat tenaga.

Dalam posisi duduk, aku terkejut menyaksikan gerakan mengelaknya yang begitu cepat serta tarikan tubuhnya yang ternyata sangat kuat. Tubuhku tertarik bangkit ikut berlari.

Ronda yang menanduk tak menyadari manuver Kak Chita. Hantaman kepalanya menghantam angin ketika Ronda menyadari gerakan selanjutnya dari Kak Chita adalah mengambilku. Tangan kanan Ronda berusaha meraih tanganku mencegah kepergianku tapi terlambat, aku sudah bangkit dari duduk. Tak percaya bisa dikelabui, Ronda menjangkaukan lagi tangan kiri berusaha menarik Kak Chita. Sayang usahanya ini juga mengalami kegagalan. Kak Chita sudah jauh meninggalkannya.

” BOS????……,” Tom sang bodyguard membentuk pagar betis menutup jalan lari kami setelah melihat bosnya terkelabui.

” DASAR ANAK KECIL!,” Ronda memaki keras. Aku melihat wajahnya yang merah padam karena marah ” BIARKAN MEREKA!,” lanjutnya masih diselimuti kemarahan.

Tom membuka pagar betisnya mempersilahkan kami melarikan diri. Aku melihat wajah Ronda buat kali terakhir, ia terlihat menitikkan air mata tak percaya aku bisa dibawa lari oleh Kak Chita memanfaatkan emosinya sendiri yang terlalu mudah tersulut.

***

Kak Chita sangat cepat berlari. Rasanya bayang-bayang Ronda mengejar kami membuatnya lari seperti dikejar setan. Kerumunan calon penumpang bandara Queen Elizabeth mampu kami lewati sambil berlari meliu-liuk. Pegangan tangan Kak Chita tak pernah lepas memegangi tanganku. Ia tidak mau tanganku lepas dan jatuh kembali ke pelukan Ronda.

Kami berlari terus sampai tiba di luar pintu masuk bandara. Merasa sudah aman, Kak Chita berhenti berlari. Sekarang ia merunduk memegangi lututnya sekaligus berusaha mengatur nafasnya yang ngos-ngosan.

Sebagai pemain bola berlari seperti ini tidak membuatku kehabisan nafas. Sebaliknya nafasku masih normal-normal saja. Satu-satunnya yang membuat detak jantungku meningkat adalah perasaan lega Kak Chita tidak babak belur dihajar Ronda.

” Wuuuuuuuuuuuuiiiiihhhhhhhh kita berhasil Budi…..!,” Kak Chita masih memegangi lututnya ” Kita berhasil kabur dari Ronda Rousey…..huuuuffff…..huuuufffffff…….”

Melihat Kak Chita tetap ceria meski habis melihatku sedang duduk berdua bersama wanita lain membuat kelegaan mulai menjalari seluruh sel-sel tubuhku. Mataku mulai bisa melihat betapa cantiknya Kak Chita sekarang setelah kekhawatiran sirna. Kecantikan Conchita Caroline terlihat makin cantik setelah kami terpisahkan jarak tiga bulan terakhir.

Hari ini Kak Chita mengenakan sweeter berwarna kuning sebagai atasannya. Untuk bagian bawah Kak Chita mengenakan celana jeans panjang beserta sepatu kets kesayangannya. Andai saja Kak Chita mengenakan sepatu hak tinggi tadi, aku yakin kami tidak akan bisa melarikan diri dari Ronda.

” Seru banget!,” setelah nafasnya pulih ia bangkit melihatku baik baik lalu memelukku mesra ” aku kangeeeeeeeeeeeeen banget sama kamu Budi……how are you????”

Pelukannya sangat kunantikan. Seperti mimpi yang menjadi kenyataan.

” Sama Kak…….aku juga…..sangat kangen” kami berpelukan erat. Sejenak merasakan adalah benar bila sepasang kekasih bertemu dunia ini memang seperti milik berdua.

Hanya tersisa satu ganjalan di hatiku. Hubunganku dengan Ronda harus segara dijelaskan. Apalagi aku kepergok langsung. Masalahnya keputusan Ronda membiarkan kami lewat begitu saja juga sangatlah menimbulkan pertanyaan. Ronda, seorang petarung dengan kemampuan politik demikian besar, pastinya tidak akan begitu mudah menyerah. Tidak mungkin semuanya bisa berakhir semudah ini.

” Kak….aku mau minta maaf soal….”

” Ronda Rousey???.”

” Iya…..para netizen Indonesia bilang….”

” Saving Conchita Caroline…,” Kak Chita memotongku.

” Bener Kak begini masalahnya……,”

” Kamu gak usah khawatir Budi, aku sama sekali gak merasa cemburu sama Ronda Rousey, lagian juga masih cantikan aku dari mana-mana juga, aku malahan khawatir kalo denger kamu “nyeleweng” sama Wag’s dari kalangan model-model papan atas, penyanyi, ratu kecantikan, atau presenter berita sport disini, aku sama sekali gak cemburu tuh dari awal denger kamu deket sama dia, rasanya gimana ya…dia itu kan “cewe laki” gitu lho…masa sih Budiku mau sama cewe yang bisa bikin dia babak belur””…. ya kan?? its not reasonable gitu lho…it’s not make sense at all…gak ada juga kali ceritanya pemain bola Inggris selingkuh sama petarung wanita…mereka mah maunya sama cewe-cewe model papan atas, itu tuh yang “their boob’s add by silicon” biar montok depan belakang, kalo kamu selingkuh sama mereka Budi, pasti aja aku cemburu dan pasti aja aku gak bakal datang ke Inggris..ngapain juga datang jauh-jauh ke Inggris hanya untuk ketemu pacar yang udah diambil orang??….”

” Tapi Kak…..,” aku tak percaya semua kata itu bisa menghambur keluar dari bibirnya hanya dalam satu tarikan nafas.

” Tadi juga kebetulan banget, waktu melintas di depan restoran, Jodi ngeliat kalian lagi duduk berdua terus ngasih tau aku, pasti panas donk aku ngeliat pacar sendiri duduk berdua sama wanita lain, tapi karena yang disampingnya Ronda Rousey, aku santai saja, karena itu tadi masa iya Budi mau jalan bareng petarung wanita, palingan ia lagi di kidnapping kayak film-film Hollywood gitu, cuma pelakunya the most dangerous woman in the world, jadi deh aku pengen jadi woman super hero kayak Black Widow, Wonder Woman, and many other, khusus hanya buat nyelamatin kamu, aku bilang sama Jodi, tunggu disini bentar gue mau ambil laki gue dulu..

habis itu aku kasih tau bodyguardnya…tau gak awalnya mereka nolak aku ketemu kamu, trus waktu aku bilang I’m his girlfriend from Indonesia and I want to meet him right now..you can’t stop me,coz I will scream if you still blocked my way to meet my boyfriend…gitulah akhirnya mereka kasih jalan dan aku ketemu, tatap muka langsung lawan Ronda Rousey… aku udah pelajari semua tentang dia sejak pertama kali media memberitakan pemberitaan kedekatan kalian, aku tau siapa dia, apa aja prestasinya, gaya bertarungnya, kecenderungannya perilakunya, semua deh termasuk…aku tau dia gampang dipancing emosinya……”

Aku terpaku tak bisa menyela sama sekali.

” Aku pancing dia berlagak mau nyiram kamu, eh kepancing benaran dia, ngeri tau awalnya..lagian siapa juga yang berani sama pukulannya?? liat aja lengannya berotot gitu…yah aku cuma sok-sok berani ajalah gertak-gertak dikit, sama aku berani taruhan kalo Ronda udah nurunin tangan biasanya dia pake kepala, just like she do against Holy Holm, benar kan dia mau nanduk aku tadi, untung aku sudah siap, pasang kuda-kuda terus narik kamu deh biar kabur….. huffffffffffff gak nyangka bisa kabur dari Ronda Rousey si Juara Dunia…”

Inilah yang bikin aku selalu kangen dengan Kak Chita. Cara bicaranya. Tarikan nafas panjang diantara waktu bicara. Kalimat-kalimatnya yang bertubi-tubi datang mencerminkan sebuah intelektualitas besar. Kemudian cara Kak Chita menatapku saat bicara sama sekali tidak mengintimidasi lawan bicara, dan tentu saja senyum manis yang senantiasa tersungging kapan saja membuat Conchita Caroline terlihat makin cantik.

” Terima kasih Kak….,” ujarku spontan disela-sela hujan kalimatnya yang masih belum berhenti.

” Thanks for what??,” tanyanya.

” Karena mengingatkanku akan Fritz Walter…”

” Who is Fritz Walter? apa dia temannya Colonel Sanders KFC?? atau dia salah seorang pelatih di Liga Inggris….atau dia….”

” Never mind….,” ujarku menggeleng-geleng sambil tersenyum sendiri mengingat Fritz Walter ” mana kru Kompas TV yang lain?? ayo kita jalan! Katanya Kakak mau aku ajak jalan-jalan kelling Kota London. Perjalanan dari Bandara Queen Elizabeth ke pusat kota London hanya makan waktu setengah jam kok.”

Alasanku tidak mau menjelaskan padanya soal Fritz Walter karena ; Walter sangat menyukai hujan lebat sedangkan aku amat menyukai cara bicara Kak Chita yang mengalir deras tanpa terputus sama seperti hujan deras.

***

” Kamu yakin nama bandara ini Queen Elizabeth Budi??,” tanya Kak Chita setelah Jodi dan satu orang cameramen Kompas Tv berhasil kami jumpai.

” Iya nih kayaknya bukan deh,” Jodi menimpali.

” Lihat aja namanya…… Heathrow London,” si cameramen bernama Doni membaca keras tulisan di atas gerbang bandara.

” Hayo kamu bohongin kami ya…..,” Kak Chita yang bersuara paling keras.

Aku menggeleng dikeroyok tiga orang ” Memang aku sengaja bohong. Masalahnya waktu aku dan Alfred masih berumur 10 dan 9 tahun bandara inilah yang pertama kali menyambut kami. Waktu itu…. yah namanya aja anak kecil baru belajar bahasa Inggris kami kesulitan menyebut nama Heathrow. Lebih mudah kami mengingat nama Ratu Inggris Queen Elizabeth. Jadilah nama bandara ini menjadi Queen Elizabeth. Memudahkan mengingat aja.”

Aku melirik ke Kak Chita menangkap wajah yang bingung mendengar jawabanku. ” Kalian hebat ya masih kecil bisa…..”

” Chit, kamera On!,” Doni sang cameramen memotong bicara Kak Chita membuatnya mendelik ke arah kamera

” Kamu ini…..gak ngasih awalan apa gitu….asal nodong aja.”

“Kan biar waktunya efektif Chit…ayo mulai…”

” Ok lah! tapi jangan gini lagi ya! aku gak enak sama Budi!,” Kak Chita melirikku sejenak menyampaikan permohonan maaf lalu lanjut melakukan tugasnya ” Pemirsa Kompas Tv, sekarang saya beserta kru Bincang Bola sedang mendapat kesempatan mengunjungi Kota London di Inggris. Kami kedatangan tamu yang pasti tidak asing lagi bagi para penggemar Bola di Indonesia yaitu Budi, pemain terkenal Timnas Indonesia yang saat ini menjadi pemain utama di Klub Norwich City Inggris,” kamera Doni maju menyorotku yang sedang serius mengemudi.

Sialan mereka tidak memberi tahuku akan melakukan shooting.

” Budi terima kasih sudah mau mengantarkan kami berjalan-jalan mengelilingi Kota London,” kamera menyorot, aku terpaksa menganggukkan kepalaku sambil tersenyum aneh karena tidak siap. ” Sudah berapa lamu kamu tinggal di Inggris???.”

“…….,” aku tidak menjawab.

” Budi……jawab donk..”

” Ehhh ini seriusan Kak??,” tanyaku.

” Serius donk ini kan program televisi terbaruku di Kompas TV.”

” Kenapa gak bilang dulu Kak, aku kan bisa siap-siap dulu….”

” Maaf Budi…gara-gara si Jodi nih..help me please!,” rengekan Kak Chita langsung membuatku luluh ” please…”

” Iya…iya… ok…tolong ulangin lagi deh pengambilan gambarnya!.”

” Gak perlu Budi! nanti bisa di edit,lanjut aja!,” Jodi bicara dari belakang.

” Tolong ulangi pertanyaannya Kak!,” pintaku.

” Sudah berapa lama kamu tinggal di Inggris??,” Kak Chita bertanya dengan nada khas bicaranya.

” Emmm ya, aku bersama Alfred sudah lebih dari 11 tahun tinggal di Inggris.”

Kak Chita sangat menguasai teknik pengambilan gambar kamera. Ia tau kapan kamera akan menyorotnya dan bagaimana harus bersikap ” menurutmu apa sih perbedaan antara pendidikan sepak bola di Inggris dibandingkan di Indonesia??.”

Sebuah tarikan nafas panjang harus kuambil karena langsung mendapat pertanyaan sulit.

Lama aku terdiam.

” Sssst sayang, jawab donk,” Kak Chita berbisik.

” Mmmm,” aku mengangguk ” iya Kak aku lagi mikir nih.”

“………..,” Kak Chita membiarkanku merenung.

” Ok….,” aku mengambil kesimpulan seadanya ” perbedaannya barangkali….di Inggris pada khususnya dan Eropa pada umumnya, pendidikan sepak bola bersifat Akademi. Jadi lebih mirip seperti sekolah. Pendidikannya jelas, kurikulumnya terarah, bukan hanya dasar-dasar sepak bolanya tapi juga keilmuan bagi para anak didiknya, dan yang terpenting setiap anak yang masuk Akademi sudah menetapkan tujuan hidupnya menjadi pemain bola sejak usia semuda mungkin.”

” Berarti sejak masih usia belasan tahun, para anak-anak Eropa sudah menetapkan hati menjadi seorang pemain Bola??.”

” Belasan tahun sebenarnya sudah usia terlambat Kak bagi seorang anak memasuki Akademi di Eropa. Kebanyakan mereka masuk di usia mulai dari 7 tahun…..,” aku harus memperhatikan jalan. Meski hanya di shoot dari samping kehadiran kamera sudah cukup membuat konsentrasiku terganggu.

” Berarti perjuangan untuk bisa berlatih di Akademi sepak bola luar negeri itu sangat berat ya??.”

Aku merenung memikirkan pertanyaannya Kak Chita. Tadinya aku mau curhat menceritakan segala suka duka bertahan hidup di eropa dalam usia belia. Tapi setelah kupikir lagi buat apa menceritakan susahnya kehidupan di Eropa??. Siaran ini akan dilihat oleh jutaan anak-anak di Indonesia. Menceritakan kesusahan hidup disini sangat tidak inspiratif, juga bisa mematikan mimpi anak-anak yang ingin menjadi pemain bola professional.

” Tidak susah Kak,” jawabku penuh keyakinan ” kalo aku dan Alfred bisa. Kenapa anak-anak Indonesia yang lain tidak bisa???,” kali ini giliranku yang menatap kamera penuh keyakinan meniru cara Kak Chita menatap kamera.

***

Satu jam kemudian kami tiba di tujuan pertama Wembley Stadium. Kak Chita menginginkan Wembley menjadi destinasi wisata pertama kami.

Rupanya Jodi sudah mempersiapkan kunjungan tim Kompas Tv ke Stadion Wembley. Melalui koneksi di Kedutaan Besar Indonesia di Inggris mereka sudah membuat janji pertemuan hari ini. Seorang pemandu sudah disiapkan oleh menajemen Wembley mendampingi kami berkeliling melihat langsung kemegahan Stadion terbesar kedua di Eropa sekaligus yang terbesar di tanah Inggris.

Karena mereka sudah memiliki pemandu sendiri, tugasku menjadi lebih ringan. Saat Kak Chita asyik melakukan shooting di pinggir lapangan, aku duduk santai di bangku penonton menatap kubah besar di atas Stadion yang bisa membuka dan menutup secara otomatis. Stadion Wembley yang ini merupakan stadion baru, oleh karena itu banyak orang Inggris menamakannya Stadion New Wembley, menggantikan Stadion Old Wembley orginal yang dirobohkan di tahun 2003 silam.

” Pemirsa Bincang Bola, saat ini Chita sudah tiba di Stadion Wembley bersama Mr. Kenneth Erricson direktur pengelola Stadion. Hai Mr. Kenneth how are you??…..”

Kak Chita memulai liputannya.

” Sayang Wembley yang dulu sudah dirobohkan, padahal banyak kenangan penting disana,” Meneer Johan tampil trendi berseragam The Three Lions duduk elegan disebelahku.

” Sangat pentingkah makna Stadion ini bagi sepak bola Meneer??.”

Johan Cryuff mengarahkan pandangannya menatap keseluruhan lapangan hijau di hadapannya “Sahabatku Pele mengatakan Wembley adalah Ibu Kotanya sepak bola. Jantungnya sepak bola. Setiap orang yang mengaku pemain bola harus tau Wembley! ”

” Tapi kenapa begitu?? kenapa tidak begini kalimat Pele ; setiap orang yang mengaku pemain bola harus tau Brasil, Argentina, Italia, atau Jerman. Semua Negara ini memenangkan Piala Dunia lebih banyak dari Inggris.”

” Jawaban pertanyaanmu bukan terletak pada trofi yang berhasil diraih akan tetapi pada makna dari sepak bola itu sendiri.”

Pandanganku terpaku pada Kak Chita saat Johan Cryuff menjawab pertanyaanku. Setelah tidak bisa melihatnya sekian lama, bisa melihatnya lagi seperti sebuah pengalaman mendebarkan. Kak Chita terlihat semakin cantik.

” Kamu masih menyimak atau lebih memperhatikan kecantikan wanita Indonesia disana itu??,” Meneer Johan menegurku.

” Mmmmm….maaf…maaf Meneer…maklum aku sudah lama tidak bertemu….”

” PLAKKKKKKKKKKKK.”

” Auuuuuhhhhhhhhhhh.”

” Guru-guru Belanda di sekolah Indonesia jaman penjajahan harus berkali-kali menampari kalian kaum pribumi karena susah sekali fokus menerima pelajaran! dasar Inlander!.”

” Meneer! jangan bersikap imperialis!,” aku selalu memprotesnya keras saat bersikap tengil seperti ini.

” Dengarkan baik-baik! seorang murid harus menyimak seksama saat gurunya memberi penjelasan!.”

Menyadari kesalahan, aku menegakan duduk bersiap menerima pelajaran seperti anak sekolah jaman kolonial. Kok bisa aku setegang ini padahal sedang bersantai di Stadion Wembley.

” Inggris disebut sebagai jantungnya sepak bola merupakan pernyataan menarik, karena sepak bola tradisional sebenarnya tidak ditemukan oleh orang Inggris,” Meneer mulai pembelajarannya ” Bangsa Cina, Yunani, Jepang, Romawi, sampai suku Aborigin Australia memainkan bola lebih dulu dari Inggris. Namun, semua Bangsa itu tidak merancang konsep sepak bola modern lengkap berikut pemahaman mengenai sifat dasar sepak bola dan aturan permainannya seperti yang kita kenal sekarang. Bangsa Inggrislah yang mengetahui sifat alami sepak bola kemudian menyusun semua elemen pendukungnya termasuk formasi permainan. Kamu tau bentuk formasi pertama adalah 2-3-5??.”

” Hah??? masa beknya cuma dua Meneer??.”

” Orang jaman dulu lebih suka menyerang daripada bertahan. Mereka sangat agresif. Nah sifat agresif inilah yang merupakan sifat dasar sepak bola dan berhasil ditemukan oleh orang Inggris.”

” Apa maksudmu dengan sifat agresif merupakan sifat dasar sepak bola??.”

Meneer Johan menarik nafas panjang bersiap memberi penjelasan terinci ” Sepak Bola di Eropa awalnya dipertandingkan antar kampung. Bukan hanya 11 lawan 11. Seluruh warga kedua kampung saling berduel bola, masing-masing bermain sebagai pemain bukan sebagai penonton, bertumpuknya masa seperti ini selalu berujung bentrokan, tawuran, kematian.

Bakat Hooliganisme itu sudah ada sejak bola pertama kali dimainkan disini. Tahun demi tahun berlalu, setiap Raja atau Ratu Inggris tak berhenti mengeluarkan kebijakan agar bola dilarang untuk dimainkan. Naluri kerusuhan inilah yang akhirnya membuat Kerajaan inggris memutuskan menarik sepak bola agar dilatih secara sistematis di sekolah-sekolah khusus pada awal abad 16.”

Aku terkejut mendengar sepak bola ditarik ke sekolah, barangkali inilah cikal bakal sekolah sepak bola. ” Maksudmu akademi sepak bola Meneer??.”

” Betul! sepak bola ditarik dari ranah publik, dipelajari secara khusus oleh orang-orang tertentu demi mengurangi tingkat potensi destruktifnya yang memang amat besar. Dalam rangka mengurangi efek merusak sepak bola maka kurikulum pada abad 16 sudah mengenalkan hubungan antara guru dan murid di setiap sekolah. Seorang guru yang bisa mengajar sepak bola adalah yang mereka telah memiliki kualifikasi tertentu hingga bisa mempertandingkan sepak bola secara lebih “beradab”.

Secara teratur sepak bola tidak lagi dipertandingkan masal tapi mulai dibatasi jumlah pemainnya menjadi 11 orang. Karena jumlah pemain sudah dibatasi, lari dan mengoper bola menjadi sebuah kebutuhan dan sepak bola perlahan menjadi enak untuk dimainkan. Inilah dua alasan utama pembentukan Akademi Sepak Bola pertama kali ; pertama, menarik sepak bola dari masyarakat awam agar berkurang potensi kerusuhannya, kedua agar sepak bola mulai diajarkan secara benar dari guru yang memiliki kompetensi kepada muridnya yang memang ingin menjadikan bola sebagai profesi.”

Aku berusaha menyimak baik-baik penjelasan Meneer.

” Berarti memang disinilah dasar-dasar sepak bola itu berasal,” akhirnya aku sepakat dengan Pele ” mana lebih efektif Meneer bakat alam atau pembinaan sepak bola ala akademi?,” tanyaku.

” Lionel Messi tanpa La Massia tidak berarti apa-apa. Sebaliknya La Massia bisa melahirkan banyak pemain bola hebat tapi tidak sehebat Lionel Messi yang memiliki bakat alami.”

Aku memikirkan serius konsekuensi permainan jawaban dua sisi ala Meneer ini.

” Sebuah bakat alam,” Meneer melanjutkan ” tanpa pembinaan di Akademi sepak bola akan sia-sia!. Kamu harus mengingat alasan utama Kerajaan Inggris menarik sepak bola dari ranah publik adalah sebuah kebutuhan menjadikan sepak bola terkoordinir secara sistematis. Bicara pemain bola, seseorang pemain tidak cukup hanya bisa membawa bola, menendang, berlari.

Setiap pemain bola harus paham arti penting kesatuan tim di atas segalanya . Kesatuan tim. Catat kata ini baik-baik! Kesatuan tim bukan berarti melenyapkan bakat individual hebat para pemain namun memastikan bakat itu membantu permainan tim bukannya malahan merusaknya.”

” False Nine?? Puskas?? The Mighty Magyars,” aku merespon cepat. Johan Cryuff memintaku melanjutkan ” Meneer pernah cerita tentang mereka waktu memberiku pelajaran soal False Nine. Pertama tentang Tim Hungaria yang terbangun kekuatannya ditopang oleh Ferenc Puskas, Sandor Kocsis, Nandor Hidegkuti, Zoltan Czibor, Jozsef Bozsik dan Gyula Grosic!. Puskas hebat tapi pemain disekitarnya menjamin agar dia tidak menonjolkan kehebatannya. Begitu pula Ramang, Timnas Indonesia berlaga di Olimpiade 1956 terbangun atas pondasi Maulwi Saelan, Kiat Sek Kwee, Liong Houw Tan, Siang Liong Phwa dan Tjiang Tio Him, dan Ramang. Bukan hanya Ramang, seluruh pemain membentuk kesatuan tim.”

” Itulah kesatuan tim yang kumaksud! dan situlah terletak keindahan sepak bola,” Johan Cryuff menarik nafas panjang seperti mengingat masa lalu ” kamu tau pada tahun 1979, aku mengajukan proposal pembangunan Akademi La Masia di Barcelona mengikuti pola Akademi Sepak Bola Ajak Amsterdam.”

Mendengar kata La Masia kembali disebut membuat hatiku bersemangat. Mudah-mudahan Meneer membahas La Masia karena setiap pemain bola pasti bergetar hatinya ketika mendengar nama Akademi Sepak Bola ini. Bukan hanya Lionel Messi, La Masia merupakan penghasil pemain top dunia. Pada tahun 2010 saja tiga nominasi Balon D’or merupakan alumnus La Masia mulai dari Messi, Iniesta, hingga Xavi Hernandez.

” La Masia adalah usulanmu Meneer??.”

” Presiden Barcelona waktu itu Josep Nunez menerima proposalku pada tahun 1979. Bukan hanya menerima, Nunez juga menyetujui gagasanku menjiplak metode latihannya Akademi Ajak Amsterdam. Ajak memiliki Akademi sepak Bola terbaik di Eropa hingga akhir abad 20. Bergkamp, Van Der Sar, Davidz, Rijkaard, Seedorf, Van Basten, De Boer bersaudara, Kluivert,Ruud Krool, hingga diriku sendiri semua berasal dari pembinaan Akademi Ajak,” semua nama-nama itu disebutnya penuh rasa bangga.

Aku sendiri tak percaya rangkaian nama-nama besar pesepak bola dunia mampu diciptakan oleh satu akademi sepak bola saja.

” Metode latihan Ajak selalu mengacu pada 4-3-3,” Meneer kembali melanjutkan ” Menyerang adalah pondasi pembentuk TotalVoetball. Seperti kujelaskan sebelumnya, sepak bola memiliki naluri aggressive. Kami mengetahui potensi itu dan mengembangkannya agar produktif dan juga enak dimainkan. Caranya ; setiap siswa akademi didik agar memiliki tiga sifat ; disiplin berlatih, sikap yang baik dan kepatuhan kepada guru. Para siswa dididik sejak usia mereka baru 7 tahun.

Tiga tahun pertama digunakan menanamkan ketiga hal ini terlebih dahulu. Setelah mereka berhasil melaluinya, mulai usia 10 tahun mereka dilatih filosofi permainan Ajak yang selalu mengutamakan sepak bola menyerang, atraktif, kreatif, cepat, fair dan selalu memiliki mind set menjauhkan bola dari lini pertahanan sendiri.”

Usia anak-anak Belanda ketika mulai berlatih lebih muda dari aku yang baru 10 tahun dan juga Alfred di usia 9 tahun.

” Kamu bisa lihat! ketika anak-anak sejak usia belia sudah ditanamkan cara berfikir sepak bola positif, mereka sanggup menerapkannya sepanjang mereka berkarier di sepak bola!.”

” Berarti Meneer sebenarnya dasar dari La Masia dan Tiki Taka Timnas Spanyol tak bisa dilepaskan dari pembinaan sepak bolanya Ajak??.”

” Hush!,” Meneer menyemburku ” bukan Tiki Taka Timnas Spanyol tapi Tiki Takanya Barcelona! kamu harus ingat ada dua daerah besar penghasil sepak bola terbaik Spanyol ; Madrid dan Barcelona. Masia adalah nama daerah di Catalan. Memang sejak mereka mengontrakku sebagai pemain kemudian pelatih, eksodus gaya bermain menyerang Belanda beserta para pemainnya terjadi di Barcelona. Wilayah Catalanlah yang sangat terpengaruh dengan gaya TotalVoetball termasuk cara, metode, dan kurikulum pendidikan di akademinya yang mengutamakan disiplin berlatih, sikap yang baik dan kepatuhan kepada guru.”

” Meneer waktuku disini hampir habis,” aku melihat Kak Chita telah selesai melakukan taping siaran dan sedang beranjak menujuku, sebuah pertanyaan terakhir harus dilontarkan.

” Tim Barcelona bisa berubah begitu hebat mengadopsi gaya Belanda. Pertanyaanku ; kenapa gaya bermain Belanda belum pernah bisa diterapkan seoptimal itu di Indonesia??. Maksudku.. Meneer pernah menjelaskan kehebatannya Ramang dkk di 1956 atau juga Robbie Darwis dkk di tahun 1991 semua pelatih mereka ketika itu Pogacnic ataupun Shadow Footballnya Polosin berasal dari Eropa Timur bukan dari Belanda.”

Meneer tersenyum menjawab pertanyaanku. Ia tidak menjawab. Hanya melihat langkah kaki Kak Chita yang sedang menaiki tangga Stadion Wembley.

” Meneer pertanyaanku serius nih……”

” Budi….,” rasanya ini kali pertama ia memanggil namaku ” yang dicari Indonesia hasil atau proses??.”

Kak Chita sudah dekat sekali dengan tempat kami duduk.

” Sepak bola yang hanya mengutamakan hasil akhir selalu berakhir anarki seperti naluri dasar sepak bola itu sendiri. Olahraga ini buas. Hanya sebuah proses berpuluh-puluh tahun lamanya yang bisa merubah kebuasan menjadi sebuah seni. Pertanyaanku sekarang ; apakah kalian mampu bersabar menghadapi proses yang panjang melibatkan disiplin berlatih, sikap yang baik dan kepatuhan kepada guru??.”

Sebuah jawaban sekaligus pertanyaan terakhir diberikan Johan Cryuff sebelum dirinya menghilang secara misterius di balik kemegahan Wembley.

***

” Gila! mimpi apa kita semalam bisa menginjakkan kaki di Stadion Wembley,” Kak Chita terlihat riang sekali dalam perjalanan pulang menuju Norwich ” tau gak Jod, Ton, Stadion Wembley ibarat GBKnya Indonesia, Timnas Inggris punya banyak memori indah di Stadion itu sebelum dirobohin tahun 2003, kejayaan di World Cup 1966, their desperate when loss against Germany on semi final Euro 1996, konser-konser besar dari Grub Band Papan atas dunia like Green Day, Take That, The Rolling Stones, until Michael Jackson……,” Kak Chita mengerling padaku ” darling, I hope you can bring me to watch Take That, Green Day, or Cold Play concert some day on Wembley.”

Aku tak menjawab permintaannya hanya tersenyum merencanakan sebuah tindakan nyata. Kak Chita suka menonton konser musik dan aku bertekad akan membawanya langsung melihat konser musik yang megah disini.

Sehabis memintaku mengajakanya ke konser, Kak Chita terus bicara panjang lebar tanpa titik koma menjelaskan kehebatan Stadion Wembley.

” Dulu Old Wembley Stadium dibangun 1923 oleh Sir Robert McAlpine, sempat dijuluki Twin Tower Stadium karena memiliki dua menara kembar indah di depan pintu gerbang, selain itu Jod, persis ditempat loe duduk tadi ada “thirty nine steps”…..”

” Apa tuh thirty nine steps?? kayak judul lagu…”

” Ntar…makanya loe dengerin dulu penjelasan gue sebelum nyela!, thirty nine step itu jumlah anak tangga yang harus dinaiki oleh tim juara untuk mengambil tropy piala ke Royal Box tempat anggota Kerajaan Inggris melihat jalannya pertandingan, loe tau kan anggota Kerajaan Inggris sangat care sama sepak bola???….”

Aku diam saja tak mencoba menanggapi diskusi mereka. Sebenarnya bukan perhatian. Batinku. Mendengar penjelasan Meneer Johan sebelumnya, anggota Kerajaan Inggris dalam sejarahnya memang selalu memperhatikan sepak bola karena memiliki potensi anarkis besar.

Segala hal menyangkut sepak bola bisa berakhir kerusuhan karena melibatkan penonton dalam jumlah banyak. Demikian pula, sepak bola bisa menyulut kerusuhan yang sama di mobilku. Kak Chita berkali-kali tak mau kalah berdebat melawan Jodi maupun Doni si cameramen membuat mobilku terdengar begitu bising.

Sebuah kebisingan yang sangat kunantikan. Apalagi bisa mendengar Bahasa Indonesia lengkap bersama orang Indonesia yang mengucapkannya terasa sebuah anugerah nan begitu indah. Belum lagi kehadiran Kak Chita dengan segala keindahannya benar-benar membuatku tak ingin memejamkan mata. Ingin sekali mempertahankan anugerah ini agar tak cepat berlalu.

Mereka terus beradu argument hingga mobil kami memasuki Kota Norwich.

Tak lama memasuki Kota tempatku tinggal, Jodi dan Doni mulai tak terdengar suaranya. Sejenak kuiintip dari spion mobil mereka rupanya sudah ketiduran. Perjalanan jauh Jakarta-London pasti membuat mereka mengalami kelelahan teramat sangat. Tapi Kak Chita tidak tertidur. Ia terjaga menemaniku mengemudi.

” Maaf ya Budi, kami berisik banget.” Kak Chita membuka sebuah buku dan mulai membacanya

” Gak apa Kak, aku seneng kok,” jawabku memperhatikannya serius.

Kak Chita mulai membuka buku lantas membacanya. Cepat sekali ia mengalihkan fokus dari berdebat, bercanda, cekikikan, lalu fokus memperdalam ilmu.

Kota Norwich mulai kami masuki. Kak Chita dan kru Kompas TV mendapat tugas meliput pertandingan Norwich City sabtu besok melawan A.F.C Bournemouth langsung dari Stadion Carrow Road. Koneksiku dengan Klub sudah terjalin sangat baik sehingga Kak Chita berhasil memperoleh ijin melakukan liputan live pertandingan kami besok termasuk meliput Kota Norwich selama seminggu penuh.

” Buku apa sih Kak??.”

” Haruki Murakami my favourite writers, Kafka on the shore. Pernah baca??.”

Aku menggeleng. ” Belum!Ceritakan padaku apa isi buku itu!.”

” Wah..kamu belum baca Budi??, sayang banget! buku ini bagus banget, menurutku sih salah satu bukunya Haruki Murakami yang terbaik, kamu tau kan dia itu penulis Jepang yang surealis, fatalistic suka sama metafora, my favourite writer bangetlah pokoknya, di bukunya Kafka on the Shore ini Murakami bercerita soal Kafka sama Nakata, Kafka merupakan anak 15 tahun yang kabur dari rumah…….,” panjang Kak Chita menjelaskan ” Nakata sebaliknya kakek umur 60 tahun yang…….,” diteruskan penjelasan lebih panjang.

Setiap kata-kata yang meluncur dari bibirnya membuat hatiku gembira. Sikap ceriwisnya, intelegensinya, kebaikan hatinya, semuanya, selalu membuatku jatuh cinta sejak pandangan pertama kami.

” Kak….,” kupegang tangannya ” aku juga suka Haruki Murakami.”

” O ya?? sama donk kita?? emangnya kamu suka baca??.”

” Tidak sebanyak Kak Chita, tapi aku suka dengan buku.”

” Buku Murakami yang mana udah pernah kamu baca??.”

” Banyak….tapi aku tidak megang tangan Kak Chita karena ingin ngomongin buku.. aku hanya mau bilang bukan konsernya Take That, Oasis, Rolling Stones, atau Green Day yang akan aku ajak buat ditonton tapi konsernya Bruno Mars.”

” Bruno Mars?? Uptown funk??,” Kak Chita menaikkan satu alisnya.

” No!,” ujarku melepaskan sejenak pandangan dari jalan lalu memandangi keindahan wajahnya ” just the way you are….”

” Oooooww soo sweeettttt,” Kak Chita tersenyum manis.

” Oooo oooo oooo,” aku mulai bernanyi menyanyikan lagu yang telah kupersiapkan sejak lama untuk kunyanyikan langsung dihadapannya

” Oh, her eyes, her eyes
Make the stars look like they’re not shinning
Her hair, her hair
Falls perfectly without her triying
She’s so beautifull
And I tell every day

I know, I know
When I compliment her she won’t belive me
And it’s so, it’s so
Sad to think she don’t see what I see
But every time she ask’s me, ” do I look okay??”
I say ;

When I see your face…
There’s not a thing that I would change
‘Cause your amazing
Just the way you are

And when you smile
The whole world stops and stares for a while
‘ Cause you’re amazing
Just the way you are

Her lips, her lips
I could kiss them all day if she’d let me
Her laugh, her laugh
She hates but I think its so sexy
She’s so beautifull
Andi I tell her everyday

Oh you know, you know, you know
I’d never ask you to change
If perfect’s what you’re searching for
Then just stay the same
So don’t ever bother asking if you look okay
You know I’ll say

When I see your face
There’s not a thing that I would change
‘Cause you’re amazing just the way you are

And When you smile
The whole world stops and stares for a while
‘Cause you’re amazing just the way you are

Suaraku amat jauh bila dibandingkan Bruno Mars tapi Kak Chita terlihat menikmati nyanyianku. Ia tersenyum sepanjang lantunan laguku. Tangannya menggenggam tanganku seakan tak mau terpisahkan saat perlahan kami memasuki kedalaman Kota Norwich.

***

Bangun di pagi hari aku betul betul merasa pusing. Padahal Kak Chita ada di Norwich saat ini tapi kepalaku terasa pusing seperti firasat akan terjadi sesuatu.

Ada apa ini??.

Berusaha membaca firasat tubuh, aku berjalan gontai menuju ruang utama asrama pemain tempat tinggalku menyalakan televisi melihat siapa tau ada informasi yang menjelaskan firasatku ini. Layar televisiku sudah lebih dari seminggu hanya memutar Fox Sport memantau perkembangan pertandingan UFCnya Ronda Rousey. Tak heran tayangan UFC pulalah yang kulihat pertama kali di layar.

” Ronda Rousey menghadiri pertemuan UFC hari ini di New York yang menentukan penantang berikutnya…,” penyiar televisi menyampaikan berita yang langsung membuatku menegakkan duduk. Apa-apaan mereka ini. Ronda baru menang rabu minggu lalu dan kemarin dia baru pulang ke Amerika, sekarang mereka sudah menampilkannya kembali berikut lawan tanding berikutnya??. Dasar pemeras darah atlet!. Umpatku kesal pada pihak-pihak yang menyelenggarakan acara ini.

Hari ini Ronda mengenakan baju berwarna hitam panjang. Wajahnya sama sekali tidak bersahabat. Ia lebih mirip wanita galak. Tidak tampak sama sekali kegembiraannya sebagai seorang juara. Penyiar berita mengait-ngaitkan wajah suram Ronda dengan kehadiran Miesha Tate lawan berikutnya yang akan dia hadapi enam bulan lagi.

Tate datang menggunakan baju kemeja putih bergaris-garis. Wajahnya menyunggingkan senyum menyindir yang jelas dialamatkan ke arah Ronda.

Buatku wajah Ronda begitu kesal selain disebabkan Tate, pasti karena insiden kalah melawan kecerdikan Kak Chita kemarin. Juara Dunia bisa-bisanya dikadalin Kak Chita. Ronda teramat cerdik kala menghadapi Holm, namun menghadapi permainan psikologis Kak Chita ia terpancing. Emosi yang tak terkendali memang selalu bisa ditaklukan oleh kepala dingin.

” Miesha Tate senang bisa berjumpa kembali denganmu di Octagon,” pembawa acara UFC yang berkepala botak juga kembali hadir berdiri di tengah kedua petarung. Ronda sama sekali tak mau menatap Tate, ia hanya mentap kosong ke arah penonton di depannya ” bagaimana perasaanmu mendapat kesempatan mewujudkan duel Ronda Rousey Vs Miesha Tate Part 3 yang sangat dinantikan banyak orang??.”

Tate tersenyum mengambil pengeras suara lalu mencoba menatap Ronda. ” Jim kupikir terlebih dahulu aku harus memberi selamat kepada Ronda atas kemenangannya yang spektakuler kemarin ” Tate maju mencoba menjabat tangan Ronda. Melihat Tate datang, Ronda membuang muka enggan membalas jabat tangan.

Tate hanya tersenyum. Jim yang berada di tengah mulai merasakan suatu pertempuran urat saraf terlalu dini. Pertemuan ini tidak dirancang menjadi ajang saling hujat diantara dua petarung. Pertemuan ini hanya sebuah pengenalan petarungan yang akan terjadi enam bulan lagi.

” Ronda…meski kamu menolak jabat tanganku, aku tetap respek kepadamu! duel yang bagus kemarin Champ! aku salut…….”

Ronda bergerak sangat cepat, tangannya merebut pengeras suara dari tangan Tate dalam sekali tarik persis seperti ia menarik gelasnya Kak Chita ” hentikan omong kosongmu BITCH! aku tidak pernah suka kepadamu!. AKU MUAK MELIHAT KEMUNAFIKANMU!.’

Penonton bergemuruh. Mereka mulai beraksi melihat reaksi tidak bersahabat Ronda. Kebanyakan penonton meneriakkan ketidak sukaan karena sikap tidak hormat yang tidak patut ditunjukkannya. Panitia UFC masuk satu orang ke atas panggung memberikan satu pengeras suara lagi yang diberikan pada Miesha Tate.

Mendapat pengeras suara, Tate berjalan ke hadapan penonton menunjukkan sikap keterkejutan berlebihan menerima sikap tidak sopan Ronda. Kemampuan menarik perhatian penonton yang dimiliki Tate jauh lebih hebat dari Holm. Ia sangat mahir menempatkan dirinya sebagai pihak yang disakiti membuat penonton mulai bersimpati kepadanya.

” Apa yang kamu maksud Ronda?? aku hanya bilang aku respek kepadamu?? salahkah aku??.”

Merasa sebal diteriaki penonton padahal sabuk juara ada di bahunya membuat Ronda murka. Ketidak hadiran seseorang yang bisa mengendalikan emosinya membuatnya semakin menjadi.

” Hentikan omong kosongmu DASAR MUNAFIK! Kamu jelaskan saja kepada PENONTON PENGHIANAT di depanmu ini alasanmu bicara FUCK RONDA ROUSEY waktu aku kalah dari Holm!,” Ronda menuding ke arah penonton membuatnya langsung menjadi tokoh antagonis ” APA ALASANMU??? apa belum cukup aku MEMATAHKAN TANGAN DAN BAHUMU????.”

Penonton mem-boo Ronda makin keras.

Miesha Tate sangat tenang. Bagai artis papan atas Hollywood ia hanya mengangkat tangannya menunjukkan perkataan Ronda hanya prasangka saja, sama sekali tidak berdasarkan fakta. Tingkah laku yang seperti artis membuat Tate mendapat applause.

” Aku tidak pernah mengeluarkan kata-kata seperti itu….,” Tate menampilkan wajah memelas.

” DASAR PENIPU,” Ronda mengangkat satu tangannya membuat Jim maju berusaha memblokade jalannya ” hentikan semua ocehanmu! FUCK YOU!,” satu jari tengah Ronda teracung tepat di wajah Tate.

Melihat jari tengah teracung ke arahnya Tate berjalan santai berusaha mendekati Ronda. Ia sama sekali tidak menunjukkan sikap ingin menyerang. Sayangnya sikapnya sama sekali tidak membuat Ronda tenang. Ronda bersiap ingin menanduknya bila saja tidak dihalangi timnya yang telah naik ke atas panggung.

Melihat situasi berkembang menjadi keruh, Jim mempersilahkan kedua petarung turun.

Kamera mengejar Ronda duluan mengingat statusnya sebagai Juara Bertahan.

” Ronda…kamu terlihat sangat tidak suka melihat Miesha Tate,” kejar wartawan.

” Tidak. Bukan hanya Tate. Aku sangat tidak suka dengan siapa pun, termasuk kamu! moodku lagi buruk sekarang!.”

Kamera tetap menyorot wajahnya ” ada apa??? mana pacarmu yang pesepak bola itu???.”

” TIDAK USAH SEBUT-SEBUT PACARKU DASAR REPORTER MUNAFIK! PACARKU BAIK-BAIK SAJA DIA ADA PERTADINGAN SABTU INI, HABIS ITU DIA AKAN KESINI. MENGHIBURKU. MEMBERIKU KEDAMAIAN YANG TIDAK PERNAH BISA KALIAN BERIKAN!.”

Ronda berjalan cepat menuju backstage. Kamera tidak lagi berupaya mengejarnya, mereka berganti mewawancarai Miesha Tate. Calon lawan Ronda ini masih saja menghamburkan senyum aneh pada saat wawancara. Aku sama sekali tak menyangka setelah Holly Holm masih ada petarung wanita lain yang memiliki kemampuan menguasai panggung demikian hebat.

Ponsel yang kuletakkan di meja tiba-tiba berbunyi saat aku menyimak wawancaranya Tate. Nama pemanggilnya terpampang jelas ; ROWDI. Kubiarkan saja panggilan itu. Amukan Ronda merupakan hal yang paling kukawatirkan. Apalagi barusan dia bilang tak suka siapa pun.

Tak lama berselang panggilan kedua kembali datang. Nama ROWDI lagi-lagi jelas terpampang. Menimbang sejenak aku memutuskan mengangkat telpon. Bagaimana pun meski takut aku harus meminta maaf padanya soal kemarin.

” Halo….”

Hujan kembali datang. Kali ini hujan amarah. Setelah insiden bandara kemarin, baru kali ini kami saling berkomunikasi. Bukan komunikasi ideal. Hanya ada satu pembicara. Pembicaraan telpon kami seperti Ronda sedang berpidato meledak-ledak dan aku Miesha Tatenya. Segala kemarahan, amukan, rasa tak percaya hingga air mata akibat kehilanganku tertumpah semua.

Kepalaku kembali pusing. Firasat akan terjadi sesuatu yang buruk tampaknya telah terjadi. Berusaha mengalihkan pikiran dari amukan Ronda, aku kembali terpikir sebuah lagu yang pernah kulantunkan kemarin . Tidak pernah efektif menjawab kemarahan seorang wanita. Wanita hanya dapat ditenangkan amarahnya melalui lantunan lagu merdu.

” Ronda..please beri aku waktu bicara…sebentar saja..,” Ronda masih mengamuk tak terima disela ” sebentar saja..please” dia sempat berteriak mau ngomong apa lagi kamu sekarang. Menarik nafas kujawab pertanyaannya ” dengarlah dulu! sebuah lagu ini khusus kupersembahkan untukmu…..

When I see your face…
There’s not a thing that I would change”

Mendengarku menyanyi Ronda mulai terdiam.

‘Cause your amazing
Just the way you are

Keheningan mulai terasa dari lawan bicaraku.

And when you smile
The whole world stops and stares for a while
‘ Cause you’re amazing
Just the way you are

Suara wanita terisak terdengar samar. Ronda lama terdiam tak menyangka aku menjawab kemarahannya melalui sebuah lagu. Mendengarnya terdiam kuulangi sekali lagi bait lagu tersebut. Ia mendengarnya secara seksama, pasti bukan karena suaraku yang merdu, tapi lebih disebabkan ketidakstabilan emosinya yang tengah meluap-luap.

” Apa??,” suaranya dari Amerika mulai terganggu oleh suara gemerisik gangguan sinyal ” Carrow Road?? kamu mau ke Carrow Road??,” panggilan telpon terputus.

Tadi sebelum telpon terputus rasanya aku mendengar ia akan berangkat ke Norwich.

***

Sesi latihan hari ini berlangsung singkat. Coach Neill mengagendakan latihan tertutup. Kak Chita belum dapat meliput latihan kami. Menghadapi Bournesmouth di kandang sendiri membuat kami optimis. Rentetan kemenangan saat melawan tim-tim besar diyakini akan menular pada pertandingan sabtu besok.

Tawa, canda dan keriangan antar pemain terasa jelas di ruangan ganti. Jarang kegembiraan seperti ini tergambar di loker pemain Norwich ketika Liga telah memasuki paruh musim. Biasanya Norwich tengah musim sudah terbelit rentetan kekalahan sehingga membuatnya stress di setiap pertandingan sisa.

Sekarang berbeda. Progress kami sangat baik. Bukan hanya selamat dari degradasi, peluang berkompetisi di Liga Eropa juga terbuka lebar seandainya kami bisa mempertahankan permainan. Buat para pendukung setia kami di Carrow Road, bisa berkompetisi di Eropa merupakan sebuah impian yang kembali menjadi kenyataan. Sebelumnya kami pernah berlaga di Eropa setelah menempati peringkat ketiga di tahun 1992. Prestasinya pun kala itu tak main-main tim sekelas Bayern Muenchen dapat kami kalahkan. Tapi setelahnya Norwich tenggelam dalam pasang surut prestasi hingga memori indah itu perlahan-lahan pudar.

Optimisme yang tumbuh sekarang sepertinya dapat mengembalikan keyakinan kami bahwa sesungguhnya The Cannaries mampu bersaing di level Eropa.

Berangkat dari rasa kegembiraan berselimut optmisme kubuka kembali ponsel memeriksa apakah ada panggilan masuk dari Kak Chita. Ternyata hanya terdapat satu panggilan tak terjawab dan satu pesan singkat dari sahabat kecilku Albert. Bagaimana keadaannya sekarang??. Aku kembali lupa mengunjunginya setelah kami touring ke Newcastle dan Manchester seminggu kemarin.

Segera kubuka pesan singkat Albert dan langsung terkejut. Kaki kananku bergetar hebat. Tak menyangka akan berhadapan dengan situasi semenegangkan ini setelah mengalami keceriaan sebelumnya. Semua pikiran segarku buyar. Segala kecemasan segera menggantikannya diiringi langkahku untuk segera keluar dari loker pamain. Memakai baju cepat aku berlari sendirian.

” Kaka mau kemana kah???,” Alfred melihatku berlari cepat.

” Aku pergi dulu! Masalah hidup mati Alfred,” jawabku tanpa menoleh padanya.

” Hidup mati UFC kah apa??,” tanyanya lagi.

” Bukan!, tolong jenguk Kak Chita! dia ada di mess keluarga pemain sekarang ! sampaikan nanti aku datangnya sore!,” aku berlari mundur mengajak bicara Alfred.

Tanpa menunggu jawaban Alfred aku kembali berbalik lalu berlari kencang. Bunyi pesan singkat Albert tadi berbunyi;

BUDI, GAWAT AMBER MAU BUNUH DIRI!

Membuatku harus berlari dalam kecemasan tak terkira.

***

Aku harus menelpon Albert terlebih dahulu menanyakan dimana posisi Amber sekarang. Kata Albert, Amber memiliki rumah tinggal di jalan Prince of Wales sekitar 2 kilometer dari pusat kota. Setelah mengetahui posisinya aku segera berangkat mengemudikan mobil sekencang-kencangnya menembus lalu lintas Norwich yang untungnya siang ini lengang. Jalan Prince of Wales sebenarnya sangatlah indah, bersih, dan strategis. Selain dekat stasiun kereta api penghubung seluruh Inggris, pemandangan sungai Wensum menambah keindahan serta keasrian lingkungan sekitar.

Sayangnya keindahan ini lenyap karena kabar Amber akan membunuh dirinya sendiri. Aku turun dari mobil sesampainya di lokasi, kemudian berlari cepat ke pintu rumah.

” AMBER!,” aku berteriak.

” AMBER!.”

Tak ada jawaban.

Aku berusaha mengelilingi rumah yang memiliki halaman luas ini. Harapanku mencari jalan masuk rumah sulit sekali ditemukan.

” AMBER!,” teriakku lagi sesampainya di pintu belakang yang terbuat dari kayu tua.

Perasaan panik tentu saja datang melihat tidak ada tanggapan sedikit pun dari dalam rumah. Kekhawatiranku Amber sudah melakukan sesuatu di dalam. Takut terjadi sesuatu yang tidak diinginkan aku memutuskan mendobrak pintu kayu belakang.

” BRAAAAAAAAAAAAAAAGGGGGGGGGG.”

Bunyi keras pintu terbanting segara terdengar. Aku sempat terhuyung sehabis mendobrak pintu namun cepat menemukan keseimbangan kembali. Menggunakan kecepatan kedua kaki aku terus berteriak-teriak mencari Amber.

” AMBER!.”

” Mau apa kamu Budi??.”

Amber duduk santai sendirian di ruang tengah tampak asyik melihatku.

” Aku manggil-manggil kamu dari tadi kenapa gak dijawab??,” nafasku tidak biasanya terengah-engah. Bukan karena berlari, tapi membayangkan Amber bunuh diri sudah cukup membuat jantungkku berpacu cepat sedari tadi.

” Emang aku perlu jawab kamu??,” tatapan Amber kusut. Ia tampak berantakan sekali. Rambut blondenya acak-acakan, belum lagi kantung matanya menunjukkan ia sudah lama tidak tidur.

” Kata Albert kamu……,” aku berusaha mendekatinya.

” Kamu gak usah dekat-dekat aku dasar penjahat!.”

Langsung mendapat tudingan membuatku terdiam.

” Siapa Ronda Rousey?? kenapa kamu gak pernah cerita!,” skak mat pertama dimulai.

” Conchita Caroline siapa dia?? kenapa kamu gak pernah cerita??,” skak mat kedua.

Kakiku hilang kekuatan mendapat dua skak mat berturut-turut.

” Sekarang Conchita ada di inggris kan?? bawa aku ketemu dia!,” skak mat ketiga ini terasa paling menyesakkan. Kak Chita tidak cemburu aku jalan sama Ronda, tapi pasti cemburu jika aku jalan bareng wanita bertipikal seperti Amber ini.

” Aku tidak pernah cerita ke siapa-siapa kalo Kak Chita datang kenapa kamu bisa tau??,” sedikit pertanyaan balasan minimal efektif menghentikan badai skak mat.

” Apa yang kamu cari dari dia?? kecantikan?? aku lebih cantik dari dia. Kepintaran?? aku lebih pintar dari cewemu itu. Apa?? apa Budi?? kesexyan tubuh?? kamu sudah merasakan sendiri kan bagaimana tubuhku ini??,” Amber tidak menjawab pertanyaanku. Alih-alih menjawab ia memberondongku dengan pertanyaan ” Belum lagi Ronda Rousey?? kamu itu sudah gila barangkali, kamu mau dipiting sama dia???,” kalo boleh menjawab omelannya aku bisa menjawab, berkali-kali pitingan juga pukulan sudah aku terima dari Ronda ” aku merasa tersaingi sama Conchita, tapi sama Ronda??? kamu ini benar-benar penjahat kelamin gila!.”

Berdiri mematung di depan ruangan tengah rumah aku mulai teringat tujuanku semula kemari. Amber mau bunuh diri. Mana tanda-tanda ia akan bunuh diri??. Botol botol miras memang ada berserakan di meja, tapi alat bunuh diri?? aku tidak melihatnya.

” Kamu mempersoalkan rasa skeptisku pada kehidupan,” Amber melanjutkan omelannya ” aku berusaha berubah dengan mempercayaimu, mana balasanmu??? aku dikhianati begini???.”

Sehari ini sudah dua wanita yang memaki-maki aku berturut-turut semula Ronda lalu Amber. Bila saja Kak Chita mengetahui rangkaian perselingkuhanku ini lantas mengamuk juga lengkaplah hari ini.

” KENAPA SIH KAMU JAHAT BANGET SAMA AKU BUDI???,” Amber bangkit dari duduknya mulai berteriak-teriak ” COBA KAMU RASAIN KAYAK APA SAKITNYA HATI INI,” teriakannya kini mulai disertai air mata ” KENAPA BUDI?????,” Amber menjenggut kerah bajuku tampak berusaha menamparku. Aku tidak berusaha melawan kekalapannya. Sebagai laki-laki aku merasa bersalah padanya.

” AKU SAKIT……DISINIIIII…….,” Amber histeris. Ia memegangi dadanya terisak-isak. Emosi tak terkendalinya membuatku takut karana menampilkan gejala kepanikan parah.

” SAKITTTTTTT BUDII! SAKITTTTTTTTTTTTT!,” raungannya semakin tinggi. Nafasnya terlihat semakin sulit dikendalikan. Pegangan tangannya dikerahku juga semakin keras. Berselimut emosi tinggi Amber mengejang tepat didepanku. Tubuhnya tegang. Matanya masih terbuka. Ia tidak jatuh pingsan. Lebih tepatnya ia mengalami serangan kepanikan yang diwarnai ketegangan seluruh anggota tubuh.

” Amber…..Amber…..,” aku berusaha memegangi tubuhnya yang menegang hebat.

” Budi……,” ia masih sempat memegangiku sebelum hampir jatuh ke lantai. Untunglah posisiku cukup dekat hingga bisa memeganginya.

Tubuh orang yang mengalami serangan kepanikan terasa berat karena kontraksi terjadi di sekujur tubuh. Tubuhku saja tertarik hampir jatuh berdua ke lantai sebelum kakiku berhasil menumpu dan menahan kejatuhan Amber. Berhasil menahan kejatuhan tubuhnya aku ingin segera merebahkan kepalanya di tempat yang nyaman agar memperoleh kesempatan menelpon Rumah Sakit.

” Budi….,” melihatku hendak meninggalkannya Amber memegangi lenganku.

” Aku mau telpon Rumah sakit biar bawa ambulance kemari,” wajahku pucat pasi.

” Gak perlu…kamu disini aja peluk aku……”

Amber menghambur di pelukanku. Kupeluk dia berusaha meredakan ketidaksatbilan emosi yang terjadi.

” Nyanyi untukku Budi!,” suruhnya.

” Apa??.”

” Nyanyi untukku biar serangan kepanikan ini berlalu!.”

Memeluknya semakin erat aku mencoba memikirkan lagu apa yang layak kunyanyikan untuknya. Tak ada satupun yang terlintas.

” Aku akan kejang sebentar lagi kalo kamu gak nyanyi.”

Menarik nafas panjang akhirnya aku memutuskan satu-satunya lagu yang kuingat ;

“When I see your face…
There’s not a thing that I would change
‘Cause your amazing
Just the way you are

And when you smile
The whole world stops and stares for a while
‘ Cause you’re amazing
Just the way you are

Satu lagu untuk tiga wanita. Tampaknya aku betul-betul bisa gila menghadapi ini semua.

” Kamu memang playboy ya!,” Amber mencoba melirikku saat tubuhnya mulai tenang. Kontraksi tubuh mulai mengendur.

” Apa maksudmu??.”

” Kamu pilih lagu yang buat para wanitac takluk mendengarnya…pantas saja banyak wanita yang dekat denganmu.”

Aku membatin menjawab komentarnya, percayalah Amber meladeni tiga wanita berlatar belakang aneh-aneh seperti dirimu, Ronda dan kak Chita sebentar lagi membuatku gila.

” Aku panggilkan ambulance ya!.”

” Gak mau.”

” Ayolah.”

” Aku naik mobilmu saja!.”

” Ok kita ke rumah sakit sekarang,” aku mencoba memapahnya, Amber mulai bangkit setelah mengalami kejang.

” Gak, aku hanya mau ke Rumah Sakitnya Albert!.”

Aku bingung mendengar permintaannya. Wanita memang suka membuat permintaan-permintaan aneh ” Itu RS khusus penderita kangker Amber…kamu ngawur deh!.”

” Gak apa!,” ia memelukku ” aku bosan ngeliat dokter! mereka hanya bisa menghakimiku. Aku gak mau ketemu mereka. Aku hanya mau ketemu Albert.”

” Tapi yang sakit itu kamu, Albert sudah semakin baik kondisinya,” aku mencoba mendebatnya.

” Hush……kalo kamu mau aku ke RS! aku hanya mau ke RSnya Albert! TITIK!.”

Ronda terkenal memiliki bakat politis yang emosional. Amber sebaliknya, ia lebih manipulative dan halus. Pergerakannya sama sekali tidak bisa kumengerti karena sering tertutupi kehalusan startegi tak kasat mata. Melihat tingkah lakunya seperti melihat Shadow Football yang biasa kami latih waktu di lapangan.

***

” Hai jagoan apa kabar??,” Albert sedang duduk di ranjang kamar sakit ketika aku datang. Kedua orang tuanya tadi kutemui sedang menunggu di luar saat berjalan sendirian menuju kamar. Amber kembali meninggalkanku seorang diri agar menemui Albert. Aneh, dia yang ngajak tapi dia juga yang malah tidak mau masuk. Aku takut dia kembali mabuk-mabukan di parkiran mobil seperti sebelumnya.

” Hai Budi! aku sehat. Kamu gak lihat aku makin sehat sekarang. Kangker gagal mengalahkanku tau,” wajah Albert betul-betul berseri-seri.

Melihat kekuatannya selalu menerbitkan rasa haru di hatiku ” maafkan aku jagoan, akhir-akhir ini jarang menemuimu,” kutarik kursi duduk disebelahnya.

” Nyantai aja Budi! aku ngerti kok!,” Albert menepuk bahuku ” Kamu hebat! Norwich belum pernah sekuat sekarang, seluruh warga Kota Norwich harus berterima kasih sama kamu dan Alfred yang telah menghadirkan kebanggaan bagi kami.”

Aku menatap wajahnya ” semua kemenangan itu untukmu jagoan!,” kutepuk tangannya ” untukmu! tidak pernah kakiku ini berhenti berjuang bagi Norwich agar bisa menghadirkan sebuah kebahagiaan kecil bagimu..juga bagi Amber….”

” Untukku?? serius?? kamu buat aku terharu Budi,” Albert menegakkan duduknya “kalo gitu untuk menghormati perjuanganmu sabtu besok aku harus menonton langsung pertandinganmu di Carrow Road.”

Mendengar rencana Albert tentu saja membuatku gembira.

” Kamu serius Albert??? wah aku akan senang sekali kamu bisa melihat pertandinganku…..karena tadi Amber mangajak….”

” Amber ada di bawah kan??.”

” Iya kok kamu tau???.”

” Kami sudah bersekongkol. Biar kutebak, Amber menyuruhmu agar mengajakku buat nonton pertandingan sabtu besok, iya kan??.”

Aku mengangguk sambil terheran-heran mendengar konsipirasi mereka.

” Well kamu sudah mendengar jawabanku Budi. Kami pasti hadir. Berjuang sekuat tenaga ya di lapangan!.”

” Tentu aku pasti berjuang……”

” Dan jangan terbebani sama kami ya!,” Albert tersenyum lagi ” ingat! kami sudah tergabung bersama Force yang akan selalu membantumu di lapangan seperti kata Master Yoda ; For my ally is the Force, and a powerful ally it is. Life creates it, makes it grow. Its energy surrounds us and binds us. Luminous beings are we, not this crude matter. You must feel the Force around you; here, between you, me, the tree, the rock, everywhere, yes. Even between the land and the ship. rasakanlah dukungan kami sabtu besok di lapangan Budi!,” lagi-lagi Albert tersenyum bahagia.

” Jagoan, kamu terlihat gembira sekali hari ini, boleh kutau rahasianya??,” tanyaku berusaha menahan rasa haru. Melihat Albert selalu membuat hatiku ini lumer.

” Gak ada rahasia apa-apa Budi, aku hanya seneng banget ketemu kamu hari ini!.”

***

TIGA HARI KEMUDIAN STADION CARROW ROAD.

Akhirnya aku tau kegunaan kamera DSLR yang kubeli tanpa alasan tempo hari ; Conchita Caroline sangat mencintai fotografi. Ia ingin dunia melihat apa yang dilihat oleh kedua matanya. Sejak kuhadiahkan hari kamis kemarin, Kak Chita tidak pernah berhenti menjepretkan kamera mengabadikan setiap momen kejadian di Norwich.

Keindahan Kota Norwich, kebersihan, keteraturan, unsur-unsur tradisional, keramahan penduduknya, sungai-sungai jernih yang mengalir indah semua tak luput dari bidikan lensa Kak Chita. Hanya tinggal kastil-kastil klasik bergaya Normandia belum kami kunjungi. Janjiku pada Kak Chita, minggu besok, sehabis pertandingan ini, aku akan mengajaknya mengitari seluruh kastil di Kota Norwich.

Sebelum bisa ke hari minggu itu aku harus mampu melawati dulu hari ini. Laki-laki mana yang tak tegang mengetahui tiga orang cewenya bisa jadi akan bertemu muka hari ini. Pembicaraan telponku dengan Ronda memang terganggu tapi jelas ia menyebut nama Carrow Road.

Amber berjanji akan datang bersama Albert bukan hanya menonton pertandingan namun menunjukkan padaku bahwa ia menang segala-galanya dari Kak Chita. Keputusannya mengajak Albert bisa jadi merupakan upaya manipulative lain guna memenangkan pertempuran. Terkahir tentu saja Kak Conchita Caroline, yang sekarang terlihat begitu gembira meliput langsung dari pinggir lapangan Stadion Carrow Road tanpa menyadari akan ada dua singa betina lain yang siap menerkamnya hidup-hidup.

Memikirkan kemungkinan duel antara mereka bertiga membuatku cemas saat memasuki lapangan. Tak terlintas sedikit pun kecemasan akan tim lawan AFC Bournemouth. Padahal tim ini harusnya tetap kuwaspadai karena kemampuannya bertahan di Premier League. Selama 69 tahun usia Klub Bournemouth dihabiskan di divisi tiga Liga Inggris. Mereka berkutat di divisi bawah berusaha meningkatkan statusnya.

Harapan bagi Burnemouth mulai hadir di tahun 2009 ketika mereka berhasil merangkak naik ke divisi dua. Tak lama bermain di divisi dua, tiga tahun kemudian mereka naik ke divis satu dan pada tahun 2014 berhasil menembus EPL. Tim yang memiliki determinasi seperti ini selalu membuatku takut karena mereka memiliki daya tahan dalam menghadapi kesulitan. Daya tahan Bournemouth tergambar dari formasi 4-1-4-1 yang digunakan. Kehadiran satu gelandang bertahan mensupport empat gelandang sejajar menunjukkan mereka hendak menjadikan setiap pertandingan sebagai partai hidup mati. Mereka bukan tim kuat, bertahan merupakan pilihan utama sambil menunggu peluang merubah keadaan.

Gelandang bertahan mereka juga bukanlah pemain sembarangan Andrew Surman. Mantan gelandang Norwich. Surman tau segala hal mengenai kami termasuk metode latihan kami. Memiliki seorang mantan anggota kunci tim lawan bagi klub seperti Bournemouth sangatlah penting. Modal berharga mereka pasti bisa menyulitkan kami bila diberi kesempatan mengembangkan permainan. Sejak kick off Norwich harus menggempur mereka.

Priiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiitttttttttttttt.

Pertandingan dimulai.

Kami melakukan kick off pertama kali. Umpan-umpan pendek segera kami gelar. The Norwich Style merupakan julukan baru bagi bentuk permainan kami yang mengutamakan umpan-umpan pendek nan atraktif menghibur penonton. Bola mulai bergulir dari Alfred naik menuju Redmond kemudian meluncur ke sisi sayap sebelahnya tempat Wes Hoolahan berada. Hoolahan mengontrol bola kemudian melakukan gocekan berusaha melewati Adam Smith bek kanan Bournemouth.

Hoolahan unggul teknik. Ia mampu melewati Smith, bergerak cepat memasuki kotak penalty ia langsung melakukan crossing. Bola meluncur deras. Bek mereka Steve Cook berusaha membendung laju penyerang kami Cameron Jerome. Adu heading terjadi, bola liar segera tersaji.

Aku masuk ke kotak penalty melihat bola yang sedang diperebutkan oleh pemain dari kedua tim. Alfred juga ikut masuk. Bola masih bergulir liar. Jerome yang sebelumnya kalah duel berusaha merebut bola menggunakan kekuatan tubuhnya. Dipepet Cook, Jerome melepas bola padaku yang dikerubungi oleh Surman dan Gosling. Berusaha menjaga bola, kugunakan mata kaki mengoper bola diagonal pada Alfred yang datang dari belakang.

Alfred langsung menendang keras.

Bola meluncur kencang menembus pertahanan Bournemouth.

Duuuuuuuuuuuuunggggggg, suara desingan bola segara terdengar. Kiper Artur Boruc terbang berhasil menepis bola melahirkan tendangan sudut.

Aku cepat berlari bersiap mengambil tendangan sudut. Penonton bersorak riuh. Aku tidak bisa melihat posisi Kak Chita tapi aku yakin ia pasti terhibur melihat permainan menyerang kami. The Norwich Style langsung kami gelar di Carrow Road.

Mundur sejenak empat langkah aku maju mengambil tendangan sudut. Bola tendanganku meliuk tinggi menuju kerumunan pemain. Bek Norwich Sebastian Bassong memiliki tinggi 187 cm. Bassong berduel keras melawan pemain tinggi lawan Junior Stanislas. Bek kami masih menang tinggi ia melontarkan tubuhnya ke belakang lalu melunjakkan tubuh ke depan menghadirkan sundulan mematikan.

PPrrrrrrrrrrraaaaaaaaaaanggggggg.

Bola membentur mistar memantul kembali menuju kerumunan pemain. Alfred yang berdiri dekat Bassong membody charge salah seorang pengawalnya, memenangkan duel badan lantas menyambut bola muntah sambil menjatuhkan diri.

Andrew Surman maju membentuk pagar betis di depan gawang membiarkan bola mengenai punggungnya. Kembali terpental bola liar diterima oleh Nathand Redmond yang segera dikerumini tiga pemain Bournemouth. Tersudut, Redmond melebarkan bola kepadaku yang berlari maju menuju kotak penalty. Melihat bola diberikan, aku memasang kuda-kuda menanam kaki kanan di tanah lalu menendang bola menukik langsung mengarah ke gawang.

Kiper Artur Boruc melompat berusaha memblok tendanganku. bertinggi tubuh 193 Boruc masih gagal menjangkau tendanganku yang meliuk begitu liar seperti putaran hook.

Braaaaaaaaaaaaaannnnnnnnnnnng, bola kembali menghantam mistar atas gawang langsung ke luar lapangan menghasilkan goal kick karena sama sekali tidak tertepis tangan kiper.

Pertandingan kembali berjalan. Kami terus menyerang menggunakan perpaduan filosofi Jogo bonito dan totalvoetball. Bola-bola bergulir melintasi lapangan cepat diiringi akselerasi masing-masing pemain. Meski demikian Bouremouth mampu bertahan begitu baik. Setiap pemain mereka berusaha keras mempersempir ruang kami hingga kami semakin kesulitan membuat gol.

Sampai menit 40 kami gagal membuat gol. Bola sekarang berada di kaki second striker Jonathan Howson yang mengoper cepat padaku bersiap melakukan permaian segi tiga. Melihat ruang didepan Howson kosong akibat bek mereka tertarik maju berusaha melakukan jebakan off side, kukembalikan bola pacu pada Howson agar ia beradu cepat melawan bek Bournemouth. Howson maju berlari lebih cepat dari bek Simon Francis. Terlihat akan memenangkan duel, kiper Boruc maju lagi berusaha menyapu bola. Sebuah sliding tekal dilakukan kiper berhasil mengenai bola membuatnya terpental kemudian terpantul di lapangan.

Bek Steve Cook berusaha mengamankan bola liar, keras ia menyapu bola, aku sudah didekatnya berbalik berusaha menghindari tendangannya.

Duuuuuuuuuuuunnnnnnnnngggggggg.

Bola membentur penggungku tidak berhasil meninggalkan lapangan. Cameron Jerome memasang badannya saling tarik menarik melawan Surman berusaha memenangkan posisi. Jerome menang tinggi, kiper Boruc maju lagi melompat meninju bola. Berhasil! bola liar keluar kotak penalty. Alfred sudah ada diposisi menyambut bola pukulan Boruc, melihat kiper meninggalkan posisinya, Alfred menendang keras dari kotak penalty.

Bola tendangan Alfred meluncur keras kemudian melintir seperti akan menuju gawang tapi terlalu menukik hingga akhirnya keluar.

Kami gagal lagi!.

Rangkaian kegagalan mengiringi rangkaian serangan yang telah terbangun baik.

Prrrrrrriiiiiiiiiiiiiiiiittttttttttttttttttttt.

Babak pertama berakhir kedudukan masih 0-0.

Pendukung setia Norwich masih bersemangat memberikan dukungan. Mendekati pinggir lapangan aku baru bisa melihat kak Chita yang meliput di bangku dekat lapangan sisi barat. Kak Chita melambai memberiku semangat. Suaranya tidak terlalu terdengar karena penonton di sisi barat sangatlah bising.

AAYO SEMANGAT BUDI!, suara yang terdengar malahan suara Amber dan Albert yang berada di sisi tengah. KAMI SELALU MENDUKUNGMU!, teriak Albert. Tanganku terangkat tinggi menyambut ucapan selamatnya.

***

Babak kedua kembali bergulir. The Norwich Style kembali kami mainkan. Bola dari belakang kiper Rudd meluncur pendek pada Wisdom lalu menuju kapten Rusell Martin. Martin mendorong bola ke depan pada Nathan Redmond yang langsung berakselersi melewati dua orang sekaligus. Meliuk-liuk indah, Redmond menyodorkan bola padaku. Melihat akselerasi merupakan salah satu solusi, aku maju berusaha melawan Surman yang sejak babak pertama tampak diberi tugas khusus mengawalku.

Melawan gelandang bertahan yang menerapkan Man to Man Marking aku harus menggunakan seluruh sendi tubuhku untuk mendorong, mengontrol bola lanjut mendrible masuk mendekati kotak penalty. Surman belum melepaskanku ia masih memepetku meski sudah kalah langkah.

Menyadari posisi lariku unggul kuhentikan mendadak lariku, membuat Surman terperosok ke depan mengalihkan arah lari dan menusuk maju. Bek Simon Francis menyusul melakukan sliding tekel. Bola masih dalam jangkauanku, kuungkit saja naik melewati tekal Francis, bersiap melihat posisi kiper.

Aku terkejut saat mengangkat kepala dan melihat Boruc sudah didepanku. Bergerak berdasarkan insting ku-tip bola agar meluncur di depanku membuat Boruc harus beradu lari denganku. Masalahnya tip-ku di bola sedikit terlalu kuat, bola meluncur hendak meninggalkan lapangan. Berlari sprint aku berusaha mengejar bola lalu menjatuhkan diri dan menendangnya menuju gawang kosong. Bola yang kutendang dari sudut sempit meluncur menuju gawang terlihat lemah tapi kemudian menukik menuju dalam gawang.

Duaaaaaaaaaaaaaaaaakkkkkkkkkkkkkkkk.

Ketika aku sudah bersiap merayakan gol bola berhasil dikejar oleh bek Steve Cook yang langsung menyapunya ke luar lapangan.

Kembali gagal tapi mendapat tendangan sudut aku langsung berlari menuju titik tendang, tak membiarkan pertahanan Bournemouth bersiap. Mencuri momentum, segera kukirimkan bola menuju Howson yang telah berlari menyongsong bola. Howson dikawal Matt Ritchie, harusnya bola bisa saja direbut karena posisi Ritchie begitu dekat tapi Howson bergerak bagai seniman bola ia Nut Megg bola melawati dua celah kakinya sendiri membuat bola meluncur ke ruang kosong dimana Alfred berada.

Alfred menanam kakinya sekuat tenaga lalu menendang dari luar kotak penalty. Tendangannya keras sekali, pemain Bournemouth gagal menjangkaunya, hanya kiper Boruc yang mampu melompat lalu menepisnya. Bola tepisan Boruc langsung disambar Redmond yang langsung menendang bola. Kali ini pagar betis Bournemouth berhasil. Surman kembali berada di posisi yang tepat sehingga mampu memantulkan bola. Sayangnya sapuan Surman tanggung, Jerome mengejarnya dan menendang sekuat tenaga ke gawang kosong.

Trrrrrrrrraaaaaaaaaaaaaaannnnnnnnnngggggggg.

Tiang gawang kembali menyelamatkan gawang Boruc. Serangan belum selesai, bola pantul kini tiba di kakiku. Bergerak seperti akan ke kanan ternyata ke kanan betulan , aku melewati Adam Smith, maju lagi, bergerak ke kiri seolah akan bergerak ke kanan, berhasil melewati Francis, memperoleh ruang tembak dan menembak langsung mengharapkan gol mudah karena gawang sudah kosong.

Teeeeeeeeeeeppppppppp, Artur Boruc rupanya sudah bangkit kembali dan menangkap tendanganku.

HHHHHHHHHHHHHHHHHAAAAAAAAAAAAAAAGGGGGGGGGGGHHHHHHHHHHHH, aku berteriak mulai merasa frustasi dengan ketatnya pertahanan yang kami hadapi sekarang.

Hujan tendangan terus menerus kami lakukan sampai babak kedua hampir berakhir. Kuhitung di babak kedua saja lebih dari 25 tendangan dan sundulan kami lakukan ke gawang Boruc tapi semuanya sia-sia. Meski terus menerus gagal, kami berupaya tak kenal menyerah memainkan sepak bola indah berusaha mencari peluang saat pertandingan memasuki injury time.

Dengan dukungan penuh penonton semua pemain Norwich naik berusaha menciptakan gol. Berawal dari bek sayap Robbie Brady, bola bergulir berputar bertahap dari Bassong oper ke Wisdom dan tiba di Russel Martin. Seperti kebiasaannya Martin memberikan umpan pada pemain sayap Redmond.

Ketika Redmond menerima bola seluruh pemain Norwich di depan maju menggertak pertahanan Bournemouth seolah bersiap menantikan Crossing. Pertahanan mereka tertarik mudur, Redmond menyadari ini, sebuah kesia-siaan bila ia melepas bola dalam keadaan pertahanan sudah siap. Redmond mengoper bola padaku. Bersiap menerima bola aku melihat keseluruhan medan lapangan berusaha mencari celah.

Sedang mencari celah, aku terlambat menyadari Surman selalu melakukan Man To Man Marking terhadapku. Surman melihatku lambat berekasi ia melakukan usaha mengambil bola disertai body charge yang berhasil baik. Bola di kakiku terlepas. Surman berlari sendirian. pertahanan kami tinggal menyisakan Wisdom dan kiper Rudd seorang diri.

Kondisi 2 lawan satu terjadi karena Wisdom dikeroyok oleh Surman dan penyerang Benik Afobe. aku mengejar Surman tergopoh-gopoh tapi ia berlari terlalu cepat. Saat terasa hampir terkejar Surman melepas bola kepada Afobe. Berhadapan melawan Rudd, Afobe melepaskan bola menyusur tanah berhasil melawati Rudd dan menyepolos ke dalam gawang.

Penonton terdiam.

Aku tertunduk tak percaya pertandingan akan berakhir seperti ini.

0-1 Kami kalah akibat blunderku.

Pada saat Kak Chita menyaksikan penampilanku untuk pertama kalinya dari pinggir lapangan aku malah menyajikan kekalahan memalukan baginya.

Seluruh anggota Tim Norwich tertunduk lesu saat berjalan meninggalkan lapangan. Kami bisa mengalahkan MU, Liverpool, Man City tapi kalah melawan Bournemouth.

Sebuah momen yang menyedihkan.

GAK APA BUDI! BANGKIT! BANGKIT! KAMI SELALU MENDUKUNGMU!, teriakan Albert sekarang terdengar berpadu teriakan Amber. Dukungan mereka setidaknya bisa meredakan kesedihanku sebagai penyebab blunder kekalahan tim.

Maafkan aku Albert!Amber!, teriakanku terdengar getir merespon dukungannya.

Aku sudah tak peduli jika nanti Kak Chita bisa mendengarnya. Rasanya kekalahan ini menyapu semua kekhawatiran dihatiku akibat kisah cinta yang aneh ini.

***

Gak apa Budi, pertandingan yang bagus, you guys playing like a Champions, bola-bola pendek, tendangan-tendangan jarak jauh, semuanya bagus banget tau, aku gak percaya permainan kalian bagus banget kalo disaksikan langsung daripada di televisi, hanya masalah keberuntungan Budi, semangat donk!, jangan murung gini!, Kak Chita menepuk kedua pipiku di lorong menuju loker pemain. Jodi dan Doni turut bersamanya meliput kondisi tim Norwich setelah keluar lapangan.

Aku bikin blunder Kak., jawabku tertunduk.

Bukan kamu yang salah, sepak bola itu permainan tim, kan kamu sendiri yang bilang, bukan permainan individu, setiap pemain bertanggung jawab terhadap kemenangan maupun kekalahan tim, tadi bukan salahmu, Redmond must give that ball to you ‘coz he not see space inside the box, your concentration split between the ball and your teammate potition, kamu gak menyadari Surman selalu menjagamu dan kehilangan bola, bukan kesalahanmu Budi semua anggota tim bertanggung jawab sama kekalahan ini.. nih kalo kamu masih gak percaya kuwawancarai Coach Neill ya.

Kak Chita langsung berlari mengejar Coach Neill yang untungnya mau melayani wawancaranya karena tau Kak Chita merupakan pacarku dari Indonesia.

Budi tolong pegangin dulu tabletku ini donk! tadinya aku mau streaming ke tivi nasional tapi sinyal wi-fii Stadion ini dari tadi jelek, Jodi menyerahkan tabletnya kepadaku tolong ya pegangin sebentar aja kok!, dia pergi membantu Kak Chita mewawancarai Coach Neill.

Melihat semangat kak Chita mewawancarai Coach Neill tadinya membuatku terhibur. Tapi si Jodi ini malah menyuruhku memegangi tabletnya, emang dia tidak tau aku sedang bad mood akibat kekalahan ini. Lagi pula saluran wi-fii mana yang buruk??? mana ada sambungan wi-fii buruk di Norwich ini kecuali dia sendiri salah mengetiknya. Kupegangi tablet itu, lalu mensetting ulang sambungan wi-fiinya.

Benar kan kamu salah setting, kataku bicara sendiri nah tuh nyambungtuh siarannya lagi nayangin acara infotainment yang membahas.

Aku terdiam mendengarkan langsung pembawa acara wanita infotainment menyampaikan berita dengan nada berlebihan.

Presenter itu berkata HUBUNGAN CONCHITA CAROLINE DENGAN BINTANG TIM NASIONAL INDONESIA TERUS DIGOSIPKAN HANGAT OLEH SELURUH PENGGEMAR BOLA INDONESIA. MEREKA MEMPERTANYAKAN KESERIUSAN HUBUNGAN INI. PARA PENGGEMAR BOLA MAKIN RESAH SETELAH BUDI DIGOSIPKAN OLEH MEDIA LUAR NEGERI SEDANG MENJALIN KEDEKATAN BERSAMA JUARA UFC RONDA ROUSEY, aku mengangkat alis mendengarkan seksama gosip dari negaraku sendiri SAVING CONCHITA CAROLINE YANG DITERIAKKAN NETIZEN INDONESIA, SEKARANG DISERTAI ANJURAN AGAR CONCHITA LEBIH MEMILIH RIZKI KOMO PEMBAWA ACARA KATAKAN PUTUS YANG SELAMA INI MEMANG DEKAT DENGANNYA. RICKY KOMO OLEH PARA NETIZEN DIANGGAP LEBIH COCOK MENJADI PASANGAN CONCHITA DARIPADA BUDI SEORANG PEMAIN BOLA PLAYBOY YANG MEMILIKI BANYAK WANITA LAIN, Siapa Ricky Komo ini?? BRENGSEK! siapa dia?? api kecemburuan mulai membakar jantungku SEBELUM CONCHITA MENINGGALKAN TANAH AIR UNTUK BERTOLAK MENUJU INGGRIS IA MASIH ENGGAN MENJAWAB PERTANYAAN WARTAWAN TENTANG SIAPA LAKI-LAKI YANG MENJADI TAMBATAN HATINYA SEBENARNYA.

Siaran kemudian menampilkan foto bareng Kak Chita bersama Ricky Komo

***

Budi, aku ajak dulu pacarmu mengikuti jumpa pers di press room, saat aku tengah serius mengikuti berita infotainment Coach Neill muncul membuat lamunanku buyar.

Coach. Coach, Jodi dan Doni mengikutinya berjalan menuju ruang press room hei Budi thanks tabletnya, Jodi mengambil tablet ditanganku. Siaran infotainmet itu masih berlangsung.

Sebentar ya Budi aku liputan dulu..,

Kutarik Kak Chita agar berhenti berjalan. Emosi di dadaku memuncak melihat Kak Chita berfoto bersama laki-laki lain.

Kak., kataku Siapa Rizki Komo??, pertanyaan bersifat skak mat balik pertama.

., Kak Chita terdiam tak menyangka aku menanyakan pertanyaan ini Mmmm.. Diadiapernah dekat denganku, bukan jawaban yang kuiinginkan, dengan keceriwisan bicaranya bukan jawaban ini yang kuiinginkan.

Terus bagaimana kabar tunangan Kakak dulu yang berkelahi denganku di Studio Kompas Tv?? kenapa Kaka tidak pernah cerita padaku soal kelangsungan hubungan kalian??, skak mat balik kedua.

Kak Chita makin panik .Kalo dia.., meski panik ia berusaha menjawab.

CHIT! AYO CEPET! COACH NEILL MENUNGGU, teriak Jodi di ujung lorong.

Aku akan menjelaskan ini panjang lebar Budiaku janji.aku janji., Kak Chita tidak mau melepaskan pandangannya dari wajahku sambil berlari menyusul Jodi. Wajahku telah berubah penuh kecurigaan.

Aku tidak memberi respon hanya memberi kode saja agar Kak Chita mengikuti Jodi. Kak Chita tampak berat meninggalkanku, ia berlari setengah hati mengejar Jodi.

Hampir saja aku mengamuk setelah Kak Chita pergi. Kotak dispenser yang ada di lorong hampir menjadi sasaranku apabila tidak melihat kedua orang tua Albert berdiri di lorong ingin bertemu denganku.

Sialan ternyata bukan hanya aku yang selingkuh. Bila kabar ini benar aku juga diselingkuhi dengan dua laki-laki lagi. Masih terselimuti kecurigaan aku berusaha berjalan menemui orang tua Albert sebelum sebuah suara wanita Amerika menghentikanku.

Masih anak kecil kan?? apa kubilang!

Ronda??? sejak kapan kamu ada disini???.

Delia memberiku ijin!, tanpa banyak bicara Ronda menggandengku Gak usah sedih! aku juga pernah kalah. Kalah itu biasa. Jangan cengeng kamu! Ayo aku temani kamu menemui penggemar tuamu disana.

Heiaku tidak cengeng!, kehadiran Ronda amat efektif memadamkan kemarahanku dan mereka bukan penggemar tuaku, mereka orang tuanya Albert..

Halo Mama ..Papa..apa kabar, aku menyapa ramah kedua orang tua Albert yang merelakan waktunya menyaksikan kami langsung di stadion terima kasih sudah datang ke stadion..maafkan aku tidak bisa menghadirkan kemenanganbuat kalian berdua, aku tertunduk masih tenggelam dalam kekalahanAuuuuuuuuu sakit tau

Jangan CENGENG!, cubitan ronda pada lenganku seketika membuatku bangkit. Ronda cuek saja dagunya terangkat memintaku agar kembali menatap orang tua Albert. Kami di timur biasa menghadapi orang tua sambil menundukkan kepala, orang barat memang berbeda, bicara dengan siapa saja mereka selalu menatap mata lawan bicaranya.

O ya.mana Albert tadi kulihat ia meyaksikanku di bangku tengah, diajak menegakakkan kepala lagi oleh Ronda aku berusaha mengawali pembicaraan kerana kusadari dari tadi orang tuan Albert belum mengucapkan satu patah kata pun.

Budi..kami kesini untuk memberi tahumu sebuah kabar duka.. Albert wafat pagi tadi.., Papa Albert memeluk istrinya yang menangis dan aku seperti tersambar petir di siang bolong.

APA??? TIDAK MUNGKIN PAPA! TIDAK MUNGKIN! TADI AKU

Aku hampir tarjatuh mendengar kabar yang disampaikan. Bila saja Ronda tidak bergerak cepat menjeratkan tangannya menahan tubuhku aku pasti sudah terjatuh.

TIDAK MUNGKIN..TIDAK MUNGKIN.., aku tak bisa diam, panik, cemas, semua jadi satu apa maksud Papa??? aku melihatnya tadi bersama Amber.mereka.merekadi penghujung babak pertama tadi lalu babak kedua..TIDAK MUNGKIN..Papa Mama pasti salah..

Ronda mempererat jeratan tangannya padaku BUDI! BERHENTI NGOCEH!, ia menggertakku DENGARKAN DULU PENJELASAN MEREKA!.

Rondaaku bisa melihatnya barusan.Albert..dia pasti masih hidup.dia meyapaku di dua babak..tadi.Ronda..

Dengarkanlah dulu mereka!

Digertak Ronda aku melihat kembali tangisan mama Albert yang tumpah dipelukan suaminya menunjukkan mereka tidak menyampaikan berita bohong.

Siapa Amber yang kamu maksud sebenarnya Budi???, tanya Papa Albert sambil berusaha mengambil sesuatu dari balik kantung bajunya dan meredakan kesedihan sang istri.

Miss England Runner Up Miss England., nafasku semakin berat. Ronda memegangiku lebih keras menyadari aku siap terjatuh. Aku ingin jatuh pingsan sekarang tak tahan mendengar kabar ini tapi kakiku masih saja berdiri.

Setau kami nama Miss England tahun ini itu Natasha Hemming, Sophie Smith, dan Rebbeca Derrisdale merekalah juara berikut Runner Up Miss England tahun ini Budiaku tak tau Amber mana yang kamu maksud., mendengar Amber ternyata tidak ada tambah membuatku pusing sekaligus mual.

Budi, ayah Albert maju mendekatiku kami kesini hanya mau melaksanakan pesan terakhir Albert yang menginginkan surat ini bisa kamu baca. Surat ini ditulis langsung oleh anak kami saat keadaannya memburuk dua hari lalu.

Apa??? dua hari lalu?? kenapa aku tidak lihat??? sialan kenapa aku tidak bisa melihatnya.aku lihat Albert sehat Rondasungguh dia sehat-sehat saja..waktu terakhir kutemui.. tak tahan menerima kejutan ini aku jatuh di lantai lorong Stadion memegangi surat yang diserahkan. Ronda ikut jatuh gagal menahan bobot tubuhku.

Biar kubantu membacanya, Ronda mencoba membantuku.

Missmaaf, ayah Albert langsung menyela melihat Ronda mencoba membuka surat anak kami ingin hanya Budi yang membacanya.

Baiklah. aku hargai itu.., untunglah Ronda tidak emosional sayang kamu sanggup membacanya??,

Tak mampu lagi berkata-kata, aku hanya bisa mengangguk menanggapi pertanyaan Ronda lalu membuka lipatan surat dan mulai membacanya.

DEAR BUDI

BILA NANTI KAMU MEMBACA SURAT INI BERARTI AKU SUDAH PERGI MENINGGALKANMU MENUJU KEHIDUPAN YANG ABADI. JANGAN SEDIH SAHABATKU PALING PENGASIH.

SENANG BISA MENGENALMU BUDI. SELAIN ORANG TUAKU TIDAK ADA ORANG LAIN YANG MAU MEMPERHATIKANKU PENUH KASIH SAYANG SEPERTI DIRIMU. PADAHAL AKU BUKAN SIAPA-SIAPA BAGIMU TAPI BUDI TAK PERNAH BERHENTI MENYAYANGIKU SEPERTI AKU ADALAH ADIKMU SENDIRI. IJINKANLAH AKU MEMANGGILMU KAKAK DALAM SURAT INI DAN IJINKANLAH AKU MENJADI ADIKMU.

JANGAN BERSEDIH BILA ADIKMU INI MENDAHULUIMU PERGI YA KAKAK!

MELALUI SURAT INI ADIKMU MAU CERITA SOAL AMBER. KAKAK TAU SEBELUM AMBER DATANG ADIKMU INI SELALU TERJEBAK DALAM KESEDIHAN. SETELAH DIA DATANG, ALBERT MENJADI BEGITU CERIA. KECERIAAN INI SEMAKIN MENJADI SETELAH ALBERT BERSAMA KAKAK BUDI DAN AMBER BISA BERJALAN-JALAN MELIHAT KEINDAHAN PERAIRAN NORFOLK DAN ISTANA SANDRINGHAM. HANYA BERKAT KALIAN BERDUA ALBERT BISA TERUS CERIA HINGGA HARI TERAKHIR.

JADI JANGAN TANGISI KEPERGIANKU KAKAK, KARENA ALBERT DIJEMPUT OLEH SANG PENJEMPUT YANG BAIK. KATA AMBER PENJEMPUTKU TIDAK MELIHAT ALBERT DENGAN TATAPAN BOSAN SEPERTI YANG ADA DI ISTANA SANDRINGHAM. SEBALIKNYA SANG PENJEMPUT BEGITU LEMBUT MENJEMPUT ALBERT AGAR SEGERA BERANGKAT MENUJU KEBAHAGIAAN YANG ABADI.KATANYA ALBERT SELAMA INI TELAH HIDUP MENJADI ANAK YANG BAIK DAN MEMBERIKU HADIAH YANG BEBAS KUMINTA.

WAKTU ITU AKU MINTA AGAR WUJUD SAKITKU TIDAK PERNAH BISA DILIHAT OLEHMU KAKAK. KAKAK BUDI TIDAK PERNAH MELIHATKU SAKIT LAGI KAN SETELAH AMBER DATANG?? SEBENARNYA TUBUHKU SAKIT DAN BERTAMBAH SAKIT NAMUN KAKAK TIDAK BISA MELIHATNYA. YANG KAKAK BISA LIHAT HANYALAH KEBAHAGIAAN HATIKU YANG BEGITU CERIA HINGGA AKHIR HAYATKU. INILAH SATU-SATUNYA PERMINTAANKU PADA AMBER AGAR KAKAKKU TIDAK MELIHAT TUBUHKU YANG BERANGSUR SEMAKIN LEMAH HINGGA MEMBUATNYA BERSEDIH.

AKU TIDAK INGIN KAKAKKU BERSEDIH.

ALBERT BERHARAP DENGAN KAKAK BUDI GEMBIRA, ALBERT MASIH BISA MENDAMPINGI KAKAK MERAIH SEGALA IMPIAN SEPERTI YANG BIASA KITA LAKUKAN DI SUDUT SEPI RUMAH SAKIT WALAUPUN ADIKMU INI TIDAK LAGI BERADA DI DUNIA INI.

TERIMA KASIH ATAS SEGALA KEBAIKANMU KAKAK! SELAMAT TINGGAL! JANGAN BERSEDIH! SELALU DOAKAN AKU!

PS ; JANGAN PERNAH CERITA KEPADA SIAPA PUN SOAL AMBER KAKAK! MEREKA TIDAK AKAN PERCAYA! AMBER BILANG SEHARUSNYA TIDAK ADA SEORANG PUN YANG BISA MELIHATNYA KECUALI ALBERT. MUNGKIN KAKAK PUNYA BAKAT MISTIK YANG BESAR DAN BISA BICARA DENGAN DIMENSI LAIN. KAKAK PASTI INGATKAN?? NORWICH MERUPAKAN KOTA PALING.. DI INGGRIS HE HE KAKAK PASTI BISA MENGISI TITIK-TITIK ITU.

Ada foto disini Budi. Kamu mau melihatnya??, tanya Ronda setelah melihatku berlinang air mata memegang surat tulisan tangan Albert.

Ronda menyodorkan tiga lembar foto kepadaku. Ini merupakan kenangan waktu kami berwisata di Istana Sandringham dan Norfolk. Seharusnya foto ini menampikan wajah kami bertiga tapi disini hanya terlihat aku dan Albert sedang tersenyum ceria seperti kami biasa lakukan di sudut Rumah Sakit. Berarti Amber kemarin mengancam bunuh diri hanya untuk mempertemukanku untuk kali terakhir dengan albert. Adikku yang tersayang.

Tak tahan menghadapi kesedihan ini aku meringkuk di pelukan Ronda dan menangis sejadi-jadinya

***

Some people are on the pitchthey think its all overit is now.
(Kenneth Wolstenholme)

TAMAT