CONCHITA Part 1

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10

Cerita Sex Dewasa CONCHITA Part 1 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sex Dewasa CONCHITA Part 1

SIMPLE FOOTBALL

Siapa bilang seorang pemain Bola itu bodoh?? atau terkesan kurang pintar??. Di Inggris kami belajar banyak ilmu pengetahuan, meski kebanyakan tidak bisa terlepas dari dunia bola itu sendiri. Contohnya aku, meski terlahir pada tahun 1996, aku mengetahui benar perkataan Johan Cryuff, salah satu aktor pencipta Totalvoetbal , yang menyimpulan sepak bola itu adalah permainan yang sederhana.

Sekilas Totalvoetbal merupakan strategi rumit dengan penguasaan bola tinggi antar pemain. Sekarang mereka mengenal pola strategi ciptaan Rinus Michels ini dengan sebutan Tiki Taka. Tentu Tiki Taka bukanlah Totalvoetbal, hanya sebuah transformasi strategi yang berjalan seiring waktu.

Pelajaran di Akademi Sepak Bola Norwich menjelaskan lebih jauh bahwa, Johan Cryuff hanya mengatakan soal ” ruang” untuk memenangkan sebuah pertandingan. Sesederhana itu!, kuncinya hanya ada di ruang. Saat menyerang, setiap pemain harus mencari ruang agar mendapat peluang lalu kala bertahan pemain harus menyempitkan ruang, dan diantara kedua waktu menyerang dan bertahan, masing-masing pemain harus saling mengisi ruang satu sama lain.

Aku dan Alfred mempraktekan sepak bola sederhana saat menghadapi Thailand bebarapa menit yang lalu. Berdua, bersama para pemain senior kami saling membuka dan menutup ruang guna menghentikan strategi “Power Football” milik Tim Gajah Putih. Percayalah mereka betul-betul cepat juga sangat kuat, memberi ruang sedikit saja, dalam kondisi sudah tertinggal 3-0 sama saja menyerahkan gelar juara pada Thailand.

Para penonton baik di stadion maupun di rumah, pasti melihat kami bermain begitu luar biasa hingga bisa mengalahkan sang juara bertahan, tapi pada kenyataannya kami menang secara sederhana ; bisa memanfaatkan ruang. Power Football, seperti namanya, memerlukan energi ekstra besar setiap bergerak. Bukan hanya mengendalkan pada kekuatan, strategi ini juga menekankan kecepatan tinggi pergerakan antar pemain.

Pola seperti ini selalu meninggalkan celah berupa ruang lebar baik di sisi penyerangan maupun pertahanan. Aku dan Alfred hapal betul kebiasaan mereka bergerak sejak 15 menit pertama pertandingan dimulai. Mereka selalu naik dari sayap kemudian berusaha merapat melalui crossing atau tembakan jarak jauh. Sejak sayap tertutup permainan mereka buntu.

Kebuntuan itulah yang akhirnya membuka lebar kelemahan sesungguhnya dari power football ; mereka tidak berdiri cukup rapat antar lini. Bila kami mampu menutup rapat celah lebar yang terbuka kami pasti menang. Hasil akhir menyebutkan akhirnya kami benar-benar menang. Kemampuan menutup ruang di lapangan menghasilkan celah di pertahanan mereka sendiri. Sesederhana itu.

” Malam ini begitu indah ya!,” sebuah suara begitu merdu terdengar jelas di telingaku.

” Sangat indah Kak, kan kita menang!,” senyum lebar kusunggingkan kepadanya.

Mata Kak Chita masih sembab. Tampaknya ia begitu terharu dengan kemenangan Timnas. Atau juga, barangkali, ia terguncang dengan tulisan di kaosku yang kubentangkan di depan kamera barusan. Tulisan itu murni berasal dari lubuk hatiku yang terdalam. Hingga detik ini aku tak peduli apa kata orang yang melihat tulisan itu. Juga masa bodoh dengan tunangan kurang ajar Kak Chita.

Tulisan ” This is for Conchita” murni berasal dari lubuk hatiku yang terdalam. Sebuah bentuk penghormatanku yang terbesar terhadap sosok wanita nan demikian cantik seperti Conchita.

” Jangan menangis terus Kak,” kuseka butiran air mata yang masih saja meleleh di pipinya.

” Lihat ke langit!,” kuajak pendangannya mengikutiku memandang jauh ke angkasa

” langit saja ikut menangis saat Kak Chita menangis!.”

Aku tak bohong!. Langit memang tengah mengeluarkan rintik-rintik hujan. Sebuah isyarat bagiku, bahwa langit, juga ikut terharu dengan kemenangan Timnas Indonesia. Jarang-jarangkan langit terharu dengan apa yang terjadi di Negara kita??. Sering kulihat berita di televisi langit malahan lebih suka mengutuk kebobrokan salah urus negeri ini khususnya dalam masalah sepak bola.

Itulah yang membuatku merasa antipasti. Meski menang, rasa benciku terhadap PSSI memang tak berkurang. Rasa muak itu semakin menjadi, hingga aku menolak untuk larut dalam euphoria kemenangan. Hanya tersenyum sekedarnya sajalah, agar senior-seniorku di Timnas tidak bingung dengan kelakuanku.

Lagipula Bangsa ini butuh kemenangan guna menaikkan moral atau pun membawakan secercah harapan. Aku tak mau merusak semua pesta kemenangan ini hanya karena kelakuan oknum oknum tak bertanggung jawab.

” Ayo Kak!,” mencoba mengalihkan pikiran dari kelakuan PSSI, kukalungi tubuhku dan Kak Chita dengan Bendera Merah Putih. Kami berdua sekarang menyatu dalam sebuah kesakralan dan kesucian Bendera kebanggan kita semua.

” Mau ngapain kita Budi?? para pemain Timnas sedang asyik mengangkat piala tuh! kamu gak mau ikut mengangkat Piala AFF??,” Kak Chita bertanya semangat sekali.

” Ah…,” jawabku sambil menggeleng ” Piala itu bukan tujuanku bertanding, kan sudah kubilang tujuanku hanyalah menjadi pemain terbaik..dengan senyummu Kak Chita, dan AKU BISA MEMBUKTIKANNYA MALAM INI” kutatap lekat-lekat si cantik yang kini membalasku dengan senyumnya yang begitu indah.

” AYO LARI KAK! KITA KELILINGI GELORA! KITA HARUS MENGUCAPKAN BANYAK TERIMA KASIH ATAS DUKUNGAN PENONTON!.”

Teriakanku disambutnya dengan suka cita dan kami berdua mulai berlari bersama dalam selimut bendera merah putih di kedua bahu kami. Terpesona dengan senyum Kak Chita membuatku terus tersenyum sambil berlari mengitari lapangan. Kedua tangan kami sama-sama terangkat melambai-lambai kepada para penonton.

Meniru gaya Lionel Messi yang suka mencuri perhatian penonton dari kejadian sebenarnya yang terjadi di tengah lapangan, gaya mesra lari kami berdua nyata-nyata mengalihkan perhatian seluruh penonton.

Mereka sekarang tak lagi memperhatikan Kak Boaz yang tengah mengangkat tinggi-tinggi piala AFF. Seluruh penonton memberikan standing applaus kepada gita cinta kami berdua yang telah membanggakan Merah Putih dan Bumi Pertiwi. Penonton bukan hanya memberi penghormatan sambil berdiri, mereka juga tak kenal lelah meneriakkan yel-yel bersahut-sahutan ;

” CONCHITA…CONCHITA…CONCHITA…..”

***

7 DESEMBAR 2016 JAM 24.00 LOKER PEMAIN TIMNAS INDONESIA STADION GBK

Perayaan belum juga usai. Para penonton tak juga mau beranjak dari Stadion maupun Kawasan GBK. Mereka terus berada di tempat guna merayakan lebih lama kemenangan kami. Mereka boleh saja terus bergembira, tapi bagi kami para Pemain sepak bola professional pesta harus segera selesai.

Panggilan dari Coach Neill mengharuskan kami kembali lebih cepat ke Inggris besok malam. Pertandingan Liga Inggris telah memasuki pekan ke 16 dan posisi Norwich ada di peringkat 16 dari 20 tim. Artinya posisi kami hanya berjarak satu tim saja dari jurang degradasi.

Posisi Coach Neill sudah di ujung tanduk pemecatan. Beliau kini mengharapkan kami bisa menjadi senjata rahasia, sekaligus menyelamatkan karir kepelatihannya. Tim Norwich memang tidak memiliki kondisi finansial mentereng. Berbelanja di window transfer januari 2017 mendatang tidak bisa menjadi sebuah opsi. Aku bisa membaca pikiran Coach Neill yang akan memberdayakan tenaga para pemain mudanya dalam kondisi kritis. Sebuah perjudian yang mengerikan, tapi bila Coach Neill berani kami berdua juga harus berani.

Kompetesi di Inggris sendiri memang amat berat takananya. Tekanan datang dari segala arah mulai dari beratnya masalah finansial, hambatan regulasi, hingga tekanan berlebihan dari pers dan penonton. Membayangkan pelatih yang telah mengorbitkan kami dihujat habis-habisan oleh pers maupun basis penonton fanatik membuatku ingin segera kembali ke Inggris.

” Ah kamu serius mau pulang besok Alfred???,” suara seorang pengurus PSSI yang tengah berbicara dengan Alfred membangkitkan rasa penasaran dalam diriku. Pelan-pelan aku mencoba mencuri dengar pembicaraan mereka.

Kebetulan memang, di loker room hanya tersisa kami berdua. Para senior yang lain sudah bergerak ke press room untuk melakukan wawancara atau pun bertemu dengan keluarga yang telah menunggu di sana. Aku dan Alfred sengaja tak terburu-buru ke sana karena memang tak ada keluarga yang datang ke Stadion, kecuali Kak Chita yang sudah harus pergi untuk melakukan liputan.

” Iyo Bapak, Coach Neill sudah panggil kami pulang,” Alfred menjawab dengan logat khasnya.

” Tapi dua hari lagi kalian mau di undang ke Istana buat ketemu Bapak Presiden Republik Indonesia! Beliau sangat ingin bertemu dengan Timnas dan seluruh pemain.”

” Mmm gimana ya, bukan kami tidak menghargai Pak Presiden Bapak! tapi kami punya kerjaan disana! Saya sama Kak Budi dapat uang dari sana! kami harus pulang!.”

Hebat Alfred! kamu tegas dan jelas mengutarakan maksudmu!. Dari bilik ruangan yang tak terlihat aku salut dengan keberanian Alfred.

” Alfred! kamu ini masih polos sekali!,” laki-laki lawan bicara Alfred terdengar menurunkan nada suaranya ” jujur saja, kamu mau bikin apa di Inggris sana??? nih Bapak kasih tau ya! kalian tidak akan dikasih main sekali pun di Liga Utama Inggris! mana mau sih orang-orang bule yang jago-jago itu mainin kalian yang levelnya masih ecek-ecek!..,”

Orang ini brengsek.

” …Bukannya mau meremehkan kalian ya..tuh lihat pelatih Thailand tadi yang kalian lawan..siapa namanya??…”

” Kiatisuk Senamuang,” Alfred menjawab sambil tak bisa menyembunyikan perasaan jengkel di balik suaranya.

” Ya Kiatisuk! ternyata pintar juga kamu Alfred! Dia juga pernah digadang-gadang bakal maen di Inggris, mana buktinya??? nol besar.”

Tanganku sudah mengepal penuh kebencian ingin rasanya segera menonjok muka orang tak tau diri di depan Alfred.

” Dengar Alfred! realistislah! dan kamu juga suruh temanmu si Budi itu buat realistis! lagi pula sikapnya kepada kami pengurus PSSi tak pernah ramah sejak pertama kali tiba di Indonesia…”

” Bapak! sebenarnya Bapak mau ngomong apa??,” Alfred menyela ” Tara usah sebut-sebut nama Kak Budi! Bapak mau omong apa cepat ngomong sudah!.”

Alfred terdengar makin kehilangan kesabaran.

” Gini..Bapak sudah ngelobby Bos-bos Klub Besar ISL seperti Persib, Persija, Persipura kalo kamu mau main sama Boaz, sampai Mitra Kukar, mereka semua siap mengontrak kalian berdua! nilai kontraknya kamu tau Alfred… 7 milyar setahun! kalian berdua akan jadi pemain bola termahal di Indonesia.. daripada kalian bermain bola gak jelas di Inggris sana lebih baik…..”

” BRAAAAKKKKKKK”

Kesabaranku habis. Kupukul keras jendela loker hingga menimbulkan bunyi nyaring. Kerasnya pukulanku bahkan membuat pintu loker patah.

” Cukup!,” sahutku sambil keluar dari persembunyian langsung menudingkan jari ke pria brengsek ini ” TUTUP MULUTMU!,” teriakku tak sanggup lagi menahan emosi ” STOP KAMU BILANG KAMI BERDUA TIDAK AKAN BISA MAIN DI INGGRIS!.”

” Ooo Budi…Budi….,” Pejabat PSSI di depanku tampak terkejut. Sangat terkejut lebih tepatnya karena ia tertangkap basah tak bisa mengelak lagi. ” Sebentar..sebentar.. kamu dengar dulu penjelasan Bapak!…”

Aku sudah hendak menghamburkan berbagai kalimat makian bertabur kata-kata kebun binatang tapi isyarat Alfred menghentikannya.

” Tidak usah dijelaskan lagi Bapak!,” Alfred menarik tubuh si Bapak agar berhadapan langsung dengannya ” Kak Budi benar! Bapak stop bilang kami tak punya peluang main di Inggris! Bapak catat baik-baik!,” Alfred bisa menahan emosi lebih baik dariku ” Kami berdua pasti main sebentar lagi! dan kami akan membanggakan Negeri ini!.”

Alfre menghambur meninggalkan laki-laki itu terpaku dalam diam lalu melangkah menujuku lantas menarikku keluar.

Kami berdua berjalan menyusuri lorong sepi Stadion dalam diam.

” Kaka apa betul??,” Alfred memecah kesunyian.

” Apa??”

” Kita tak akan bisa main di Liga Inggris,” keraguan berhasil menyusup menghantam keyakinan sahabatku.

” Kita pasti main Alfred!,” aku berhenti untuk menekankan kalimat ini ” KITA PASTI BISA MAIN!,” tegasku.

Alfred mengangguk.

” Jangan pernah Alfred! kau biarkan orang yang tak punya keyakinan terhadap dirinya sendiri menggoyahkan keyakinan di dalam dirimu!,” kusentuh dada Alfred ” KITA PUNYA KEYAKINAN SEJAK AKU UMUR 10 TAHUN DAN KAU 9 TAHUN INGAT ITU!”

Alfred mengangguk. Raut keraguan yang semula bersemayam perlahan menghilang. ” Iyo Kaka, tapi gak usah marah marah toh! Kaka ganas sampe,” Alfred meninju bahuku sambil bercanda.

Aku tersenyum mendengar keceriaannya telah kembali pulih.

” Maafkan aku Alfred!.”

” Tara perlu minta maaf Kaka! Alfred tadi yang ragu baru…”

Aku mengangguk pelan ” Yakinlah Alfred! Kita pasti bisa!”

***

8 DESEMBER 2016 SUATU TEMPAT DI TANGERANG JAM 12.00

Sudah tengah hari sekarang. Langit mendung seolah akan turun hujan. Apa iya langit masih menangis karena Kak Chita menangis?? padahal si cantik sendiri kini sudah begitu riang gembira. Ia terlihat begitu cerah hendak memperkenalkanku ke hadapan kedua orang tuanya. Katanya, kedua orang tuanya pasti ingin tau, siapa gerangan Pria yang berani-beraninya menampilkan nama anak mereka di hadapan seluruh orang Indonesia.

Yah meski hati ini gentar, aku memberanikan diri berkunjung ke rumah Conchita. Sekali lagi dengan membawa bola pemain terbaik yang belum juga bisa kuserahkan kepadanya. Lagi pula nanti malam aku harus kembali ke Inggris. Tak ada waktu lagi selain sekarang.

” Kamu tegang Budi???,” Kak Chita menggodaku ” jangan tegang! santai aja, kedua orang tuaku baik baik kok.”

” Iya Kak mereka pasti baik, tapi…..,” susah kuungkapkan perasaanku. Hatiku mengatakan bertemu dengan orang tuanya satu hari setelah aku mencantumkan nama anaknya di seluruh televise Indonesia bukanlah hal yang menyenangkan.

” Kamu tunggu sebentar disini ya…. Aku panggil dulu orang tuaku biar kesini,” Kak Chita menunjuk bangku kayu indah di depan halaman rumah, mempersilahkanku duduk. Bangku itu begitu indah dengan kaki-kaki melingkar dan ukiran khas di tepiannya.

Butiran air hujan mulai turun dari langit. Taxi yang mengantarkanku masih kuminta menunggu. Tak lama waktu yang bisa kuberikan untuk menemui orang tua Kak Chita. Meski sebentar tapi kenapa perasaanku semakin tidak enak.

Berusaha kubaca surat kabar yang tersedia di dekat meja di depan bangku agar mengalihkan kecemasan. Tajuk berita surat kabar secara gamblang menyiarkan keberhasilan kami. Bahkan headline di koran Kompas mengangkat judul ; BUDI-CHITA BAWA KEMENANGAN BAGI INDONESIA.

Ha ha judul yang luar biasa aneh.

Aku letakkan koran tersenyum sendiri. Budi-Chita terdengar seperti nama duo tapi tak jelas duo dalam bidang apa.

Kubuka lagi koran yang lain melihat judul di halaman depan ” DUA PEMAIN INDONESIA NON NATURALISASI PENENTU KEMENANGAN TIMNAS.”

Ini lagi judul yang membuatku tertawa lebar.

‚Äč

Agak tersimpan nada diskriminatif tapi tetap menggelikan. Saking gelinya, aku tertawa sendiri sambil melangkah berusaha mendekati pintu rumah Kak Chita. Bagaimanapun seandainya saja Tuhan mengijinkan merekalah calon mertuaku kelak. Berpenampilan menawan di hadapan calon mertua untuk memberi kesan baik pada pandangan pertama merupakan sebuah keharusan.

Kutata rambutku sambil mengelus-elus bola di tanganku. Bola pemain terbaik bisa kuraih akibat melihat senyumannya. Pasti perkara remeh ini pun bisa kulalui bila berdiri bersamanya. Teringat lagi momen kami berselimutkan Bendera Merah Putih kemarin malam. Seakan tak rela untuk terpisahkan meski hujan turun ke bumi. Rupanya hendak berhadapan dengan calon mertua lebih menegangkan daripada berhadapan dengan 11 orang pemain Thailand.

Aku berdiri tegang. Merasakan sakit perut tiba-tiba bercampur dengan perasaan ingin buang air. Semua rasa ini tiba-tiba hadir. Bahkan tanganku yang semula hangat sekarang dingin mengeluarkan keringat.

Hufff memperjuangkan cinta memang berat.

Kak Chita masih juga belum keluar. Dari dalam suara bernada tinggi mulai menggema keluar. Ada apakah?? apakah terjadi sesuatu yang tidak baik??. Perasaanku yang dari semula memang tidak enak menjadi makin tak karuan.

Penasaran, aku melangkah maju sedikit saja ke dalam rumah Kak Chita yang memang terbuka lebar.

” KAMU ITU KEMANA SIH PIKIRANNYA CHITA! MASAK KAMU MAU PACARAN SAMA PEMAIN BOLA! MAU DIBAWA KE MANA MASA DEPANMU!”

Suara laki-laki bernada tinggi mulai terdengar nyaring. Suara itu datang dari atas. Kutatap tangga penghubung dan disana terlihat jelas Kak Chita tampak sedang berdebat hebat dengan ayah dan ibunya.

Jangan Kak!batinku. Please, janganlah berdebat dengan kedua orang tuamu. Berdebatlah dengan siapa saja tapi jangan dengan kedua orang tua yang telah melahirkan dan membesarkanmu di muka bumi ini.

” PAPA…MAMA DENGERIN DULU DONK PENJELASAN CHITA…,” raut wajah cerianya yang tadi begitu indah terlihat kini lenyap sudah.

” KAMU MASIH ANAK KECIL! MAU NGEJELASIN APA??? YANG JELAS PAPA SAMA MAMA GAK SETUJU KAMU SAMA DIA! GAK SOPAN ANAK ITU KAMU TAU ! BERANI-BENARNINYA DIA MEMPROKLAMASIKAN NAMAMU DI DEPAN JUTAAN ORANG!”

” Papa sudah cukup! kita kasih dulu Chita kesempatan ngomong!,” Mama Conchita tampak berusaha melerai perdebatan keras antara Ayah dan anak.

Melihat perdebatan mereka membuat hatiku menciut. Perkataan ayah Kak Chita betul betul menusuk dan bisa membuat sebutir air mata tak tertahan meleleh di pipiku.

” DIA MENCINTAI CHITA PAPAH!”

” Chita jangan kamu teriak sama ayahmu!,” sang Ibu terus berusaha melerai.

” CINTA MONYET YANG BISA DIA KASIH KE KAMU! CINTA YANG GAK PUNYA MASA DEPAN. USIR DIA DARI RUMAH INI! PAPA GAK MAU KETEMU!.”

Tepat saat kalimat itu meluncur, Ayah Kak Chita menudingkan jarinya ke bawah tepat ditempatku berada. Mereka betiga tampak terkejut melihatku yang rupanya telah berada di dekat mereka dan bisa mendengarkan pembicaraan mereka sedari tadi.

” Budi….,” Kak Chita tampak tercekat. Ia begitu terguncang.

Demikian pula ayahnya, sekilas ia terlihat malu lalu menatapku kembali dengan harga diri tinggi tapi pandangannya penuh kebencian.

Kubalas tatapan kebencian itu, dengan penuh hormat. Kutundukkan tubuhku sebagai ekspresi hormat lalu melangkah gontai berusaha keluar pintu rumah. Kak Chita kudengar masih berusaha berlari menuruni tangga.

Hujan sudah turun di luar. Sengaja aku menuju ruang lapang agar tubuhku tersiram oleh derasnya air yang tumpah dari langit. Sebenarnya aku ingin kabur langsung menghambur menuju taxi dan pergi sejauh-jauhnya dari Indonseia meninggalkan semua mimpi buruk ini. Tapi bagaimana dengan air mata Kak Chita?? aku tak mau meninggalakannya sendirian dalam keadaan ini.

” Budi….huuuhh..huuhhh..Budi…..,” Kak Chita berhasil mengejarku. Wajah cantiknya tampak berantakan.

” Budi…..Budi……,” ia berusaha menjelaskan sesuatu, tapi hantaman emosi hebat barusan tak bisa membuatnya merangkai kata.

” Kak…,” kusentuh pipinya kembali berusaha menyeka air mata maupun air hujan yang membasahi wajahnya. ” jangan menangis!,” kataku dengan suara bergetar tak lagi mampu menahan perasaan.

” Lihat ke langit!,” ujarku air mata mulai membasahi kedua mataku ” langit selalu saja ikut menangis saat melihat kak Chita menangis! janganlah menangis,” berat sekali kalimat itu bisa kuselesaikan. Melakukannya sambil tersenyum membuat pekerjaan itu jadi makin berat.

” Budi……” Kak Chita terus menangis.

” Ini…,” aku tak bisa bicara ” Hufffff,” berusaha kutiup nafas keras dari perut agar bisa bicara ” ini bola pemain terbaik Kak,” hujan mulai lebat ” bola ini bukti….aku bisa menjadi pemain terbaik berkat senyumanmu…”

Kak Chita memegangi tanganku seolah tak mau terlepas.

Tapi semua ini harus terlepas. Tidak bila tembok penghalang cintanya bernama orang tua.

Berusaha selembut mungkin kulepaskan tangannya agar memegangi saja bola pemain tebaik yang kuberikan. ” simpanlah ini!,” ujarku sambil tersenyum lalu berbalik meninggalkannya.

Kak Chita tak mampu melangkah. Ia hanya menangis dalam guyuran hujan.

Di tengah hujan lebat aku berjalan.

Sial sial sial!. Aku mengumpat dari dalam hati. Sebelum aku berangkat kesini, Alfred memutarkan aku video klip yang dinyanyikan oleh grub band Republik dan dibintangi Kak Chita berjudul SANDIWARA CINTA. Adegan dalam video itu maupun salah satu liriknya aku masih ingat jelas.

Jujurlah sayang aku tak mengapa
biar semua jelas telah berbeda
Jika nanti aku yang harus pergi
Ku terima walau sakit hati.

Lirik lagi itu menggema bertepatan dengan kilasan dalam video klip itu dimana Kak Chita bermandikan air hujan sambil menangis pada akhir video.

” BUDI!.”

Teriakannya yang memanggilku menambah keidentikan antara kejadian di dunia nyata dan video klip di dunia maya.

” Tidak,” aku mengacungkan telunjuk di tengah hujan lebat. Aku tak ingin peritiwa ini menjadi cinta yang nihil seperti dalam video klip. Cinta nihil tanpa akhir yang membahagiakan dan hanya berhamburan air mata.

Kedua tanganku menyatu membentuk tanda cinta. Telunjuk bertemu telunjuk, kemudian jempol bertemu jempol menyangga di bawahnya. Ketiga jariku yang lain tarangkat tinggi agar tidak menghalangi tanda cinta yang telah terbentuk berkat persatuan kedua tangan.

Kubentuk tanda cinta itu lalu kuarahkan ke arah hati.

” CINTAKU PADAMU AKAN TERSIMPAN DISINI!.” Teriakku tak peduli Kak Chita bisa mendengarnya atau tidak ” SELAMANYA!”

Masuk ke dalam taxi dengan bermandikan air hujan aku merenung. Lagi itu benar Cinta itu memang seperti sandiwara. Kemarin cinta mengguyur tubuh kami berdua dengan kemenangan dan suka cita. Sekarang, cinta mengguyur kami dengan keputus asaan dan duka lara.

Aku berani bersumpah berani memperjuangan cintaku kepada Kak Chita apapun taruhannya. Tapi apabila cinta itu membentur tembok yang bernama orang tua aku tak berani melangkah. Disinilah tercipta kondisi nihilisme dimana cintaku barada di titik nol tanpa harapan. Maju salah, mundur tambah salah.

Jujurlah sayang aku tak mengapa
biar semua jelas telah berbeda
Jika nanti aku yang harus pergi
Ku terima walau sakit hati.

Sialan lagu itu kembali terdengar!. Dan lirik itu salah. Aku sama sekali tidak merasa tak mengapa. Malahan aku merasa sangat-sangat mengapa, juga amat sangat kecewa dan aku tidak bisa menerimanya sama sekali.

AKU TIDAK MAU CINTA INI BERAKHIR DENGAN AKU PERGI DAN AKU TAK TERIMA DENGAN KATA KATA KU TERIMA WALAU SAKIT HATI!. AKU TAK TERIMAAAAAAAAAAAAAA!

HAAAAAAAAAAAAAAGGGGGGGGGGGGGGGGGHHHHHHHHHHHH!

Aku berteriak sejadi-jadinya di dalam taxi. Teriakan itu membuat nafasku terengah-engah karena menumpahkan berbagai perasaan. Lalu..bersembunyi dari balik tersengalnya nafasku, tiba-tiba kudengar suara Johan Cryuff perlahan setengah meledek berbisik ” Playing with love is very simple, but playing simple love is the hardest thing there is!.”

BERSAMBUNG