Complicated S2 Part 9

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Tamat

Cerita Sex Dewasa Complicated S2 Part 9 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Complicated S2 Part 8

Esok paginya, Nila menjemput Nesa untuk ke salon bersama.

“Nil….ntar aku sampe jam 12 an ya….” Ucap Nesa sambil menyapu.

“Mau kemana mbak?” Tanya Nila yang merapikan obat dan formula perawatan. Nesa menari napas dan melepaskan secara perlahan, dan dia bersiap menerima ledekan sahabatnya.

“Jam 2 dijemput Alvaro, cari kado buat adiknya….”

“Cie….kencan cie….” Nila meledek.

‘nah bener kan, awas ya kalo kamu punya pacar…aku bales…eh?! Emang Alvaro pacar aku?’ Nesa hanya membatin.

“Emang kalo jalan berdua bisa di artikan kencan? Banyak yang diluar sana jalan berdua tapi nggak ada status….” Sahut Nesa.

“Jadi mbak nya mau di anggap gimana sama bapak ganteng…aku bilangin, aku punya nomor HP nya lho….” Nila makin meledek.

Seorang karyawan salon datang menyelamatkan Nesa dari ledekan sahabatnya.

Pukul 12, Nesa meninggalkan salon dengan di antar ojek online.

Usai mandi dan sedikit berdandan, Nesa mengobrak-abrik lemarinya.

“Nes….” Sapa ibunya sambil menyembulkan kepalanya di pintu kamar Nesa.

“Iya Bu….”

“Kamu ngapain? Mau bongkar lemari?” Tanya Isti yang sekarang duduk di tepi ranjang anak gadisnya.

“Nesa mau keluar sama Alvaro, cari kado adiknya….”

“Kemana?”

“Nggak tahu… mungkin ke mall…” Ucap Nesa sambil mix and match busananya dan bercermin.

“Pake baju yang buat kamu nyaman aja Nes….”

Setelah beberapa saat. Akhirnya gadis itu memilih sporty minidress, tapi masih terlihat feminim.

Akhirnya gadis itu memilih sporty minidress, tapi masih terlihat feminim
Dipadu dengan slingbag dan flatshoes.

“Ingat pesan ibu kan?” Tanya Isti.

“Ingat Bu…selama belum nikah, jangan terlalu percaya sama pria…Jangan terlalu mencintai….” Sahut Nesa sambil memoleskan lipstik di bibirnya.

Isti meninggalkan kamar Nesa lalu duduk di ruang keluarga. Terlihat Aji sedang membaca koran.

“Mas…..” Sapa Isti.

“Iya Love….”

Terdengar seseorang meneriakkan salam.

‘Waduh! Telat….’ batin Isti.

Aji dan Isti pun membalasnya sambil menuju ke ruang tamu.

Alvaro berdiri dengan tersenyum.

“Lho….kamu datang lagi….” Ucap Aji.

‘Ya Allah…baru aja mau di ingetin. Ntar kalo ada Alvaro nggak usah tanya macam-macam.’ batin Isti.

“Sebentar ya….Nesa uda siap kok…” Isti menyahut.

“Mas….betulin lampu kamar!” Lanjut Isti sambil menarik paksa lengan Aji.

“Lampu kamarnya kenapa?” Tanya Aji tanpa merasa bersalah.

‘Betulin lampunya yang lama ya Tan…’ batin Alvaro.

Isti mendudukkan suaminya secara paksa di ruang keluarga.

“Duh …Mas….kamu ngerti nggak sih kalo Alvaro itu lagi pendekatan sama Nesa?!” Tanya Isti dengan tatapan kesal.

“Tahu!” jawab Aji tegas.

“Terus ngapain kamu tanya ‘ngapain kesini lagi’?” Isti berucap dengan nada sewot.

“Emang kalo pendekatan harus ketemu tiap hari….nggak juga kan?”

“Mas kayak nggak pernah muda aja….Mas jadikan Vasco alasan tiap hari pagi sebelum berangkat dan pulang kerja ke rumah …Nggak usah bohong! Itu akal bulus mu kan?”

Ajipun teringat, bagaimana cara dia mendekati Isti lagi. Berbagai macam alasan ia gunakan agar Aji bisa melihat wajah Isti.

“Terus aku mesti gimana? Aku belum tentu setuju lho sama hubungan mereka…. ”

“Emang mas mau carikan pria untuk Nesa yang gimana sich? Uda untung Nesa mau dijemput di rumah, ngenalin Alvaro ke kita. Tidak menutup kemungkinan dia bisa menyembunyikan hubungannya ….mereka ketemu saat Nesa di kos aja…aku nggak mau seperti itu …mas paham kan yang aku maksud? Lagian mereka juga baru dekat, masih jauh kalo mikir nikah…..” Isti mengomeli suaminya.

“Iya paham…tapi aku mau Alvaro tahu, aku yang akan maju duluan kalo dia menyakiti Nesa.”

“Nggak usah ngomong, dia pasti tau….Sana ke depan! Awas kalo ngomong macem!” Isti mengancam.

Aji menghela napas, lalu dia menuju ke ruang tamu dimana ada Alvaro yang sedang duduk.

‘waduh…kok uda balik? cepet amat ganti lampunya!’ lagi-lagi Alvaro membatin saat Aji berjalan ke arahnya.

“Sudah berapa lama buka warung kopi?” Aji bertanya saat mendaratkan pantatnya di sofa.

“Mulai buka warung yang pertama, sekitar 5 tahun yang lalu om……” jawab Alvaro sopan.

“Sekarang uda ada berapa?”

“Masih 8 om…Insya Allah mau buka di dekat kampus U, masih cari tempat yang strategis….”

Alvaro mencium aroma wangi yang disukainya, dan benar saja…..Nesa dan ibunya berjalan ke arah ruang tamu.

“Berangkat sekarang Pak?” tanya Nesa dan duduk di samping ayahnya.

“Boleh….”

“Alvaro…boleh tau nomor ponselnya? soalnya kadang Nesa nggak dengar kalo ada pesan masuk, jadi tante WA kamu aja…” Isti beralasan.

“Oh iya tante….” pria itu pun menyebutkan nomor pribadinya.

“Kalo pulang jangan malam-malam ya!” Pesan Aji saat Nesa mencium kening putri semata wayangnya, Nesa membalas dengan anggukan.

“Kamu jaga dia baik-baik…” Aji ikut memberi pesan pada Alvaro saat pemuda itu mencium punggung tangan Aji.

“Iya om” jawab Alvaro.

Nesa dan Alvaro keluar dari rumah, dan meluncur ke tujuannya.

***

Mobil Alvaro memasuki area parkir di salah satu mall ternama.

“Ini mah nggak jauh beda kalo lagi ngantor Pak….harusnya pulang kerja kita ke sini” ujar Nesa.

Alvaro terkekeh. Plaza yang mereka kunjungi saat ini, satu area dengan gedung perkantoran mereka. Lantai tertentu mempunyai akses ke Plaza ini.

“Soalnya Plaza yang terlengkap ada di sini Q….kalo pulang kerja kesini, kamu uda siap kalo terpergok jalan bareng sama aku?” Alvaro menanggapi dibalik kemudinya. Nesa diam tak menjawab.

Mereka turun dari mobil, jalan beriringan hingga memasuki mall.

Beberapa langkah setelahnya, Alvaro berjalan mendahului Nesa. Melewati lorong counter dengan berbagai macam produk international. Nesa menatap punggung pria yang ada di depannya.

‘Sumpah! Aku nggak bakal percaya lagi sama omongan duo kakak durjana. SESAT!

Katanya ‘Nes….dia suka sama kamu’ …PREEEEETTTT!

Kalo suka itu, mbok ya tangan ini digandeng…..jangan dianggurin….ini malah baris kayak anak TK. Anak TK masih mending, temannya masih di ajak ngomong….

Lha ini?! diajak ngomong aja nggak! Jangan ngarep di gandeng…

Ini kayak bapak sama anaknya…ah..itu masih lumayan…ini seperti Juragan sama Pembantunya…FIX! Juragan dan Pembantu! Nasib perawan gini amat ya…..

Padahal gerbang pintu hati uda mulai terbuka…perasaan uda mulai timbul…

Ya Allah…ini gara-gara dua kakakku yang sok tau…..KAPAAAAAALLLL…! KAPAAAAASSSSS…! kalian harus tanggung jawab nasib hati adekmu ini….

Gini dah kalo jomblo kelewat nyaman…di perhatiin dikit aja, ngarepnya uda berlebihan… tapi faktanya ?!….Astaga…jadi malu sendiri….

Pak…pintu hati ku uda terbuka lho…nggak pengen masuk silahturahmi dulu?6

Ntar lagi pintu nya mau aku tutup lho Pak….saya kasih kesem_’

“Q…” pria itu menoleh dengan panggilan hangatnya, dan berhasil membuyarkan ilmu kebatinan Nesa.

“Iya Pak?!” Nesa menanggapi. ‘Akhirnya dia sadar …’ lanjut Nesa dalam batin.

“Gimana kadonya?! kok kamu diem aja?!”

“Bapak mau belikan Illona apa? Tas?” tanya Nesa.

“Jangan tas….uda pernah…”Alvaro membalikkan badannya dan berjalan lagi.

“Kalo baju? atau gaun?” Nesa kembali membuntuti.

“aku nggak tahu seleranya…mending aku kasih duit nya aja!”

“jam tangan?”

“Jam tangannya uda banyak….”

“terus apa?!” tanya Nesa yang saudah kehabisan ide.

“aku juga nggak tahu, makanya aku ngajak kamu….”

‘padahal kemarin di WA dia nggak ngomong apa-apa waktu aku bilang barang semua itu, malah dia bilang OK! Besok kita samperin! tapi ini kok….’ Nesa terus membatin.

Mereka berjalan melewati lorong dan berbagai macam counter.

“kalo gelang gimana Pak?” tanya Nesa saat akan melintasi counter perhiasan.

“boleh! aku belum pernah kasih dia perhiasan….”

Mereka pun menuju toko perhiasan, Alvaro membuka pintu counter, dan mempersilahkan Nesa masuk lebih dulu.

“Selamat datang! Ada yang bisa saya bantu?” ucap seorang pegawai dengan nada ramah dan tersenyum ceria.

“Liat-liat dulu boleh ya mbak….” ujar Nesa dan membalas senyuman.

“Kebetulan model cincin tunangan ada yang terbaru, proses pengerjaan tidak lama dan gratis ukir nama.” pegawai itu masih berceloteh.

“Boleh saya liat katalog cincin tunangannya?” Alvaro bersuara.

“Buat sapa?” tanya Nesa kepo.

“cuma liat doank Q….” sahut Alvaro dengan sabar dan hangat.

“Cari gelangnya Illona dulu aja Pak…ntar baru liat yang lain….” ujar Nesa seolah keberatan, karena Alvaro melenceng dari tujuan utama.

“kamu aja yang cari…..aku percaya sama kamu….” ucap Alvaro melihat sekilas ke arah Nesa lalu pria itu membuka katalog yang diberikan pegawai tadi.

Nesa berjalan sendiri menuju etalase yang berisi gelang, dia melihat secara seksama. Gadis itu berdiri, kedua tangannya terlipat santai di atas etalase. Penjaga toko yang lain melayani Nesa dengan sabar.

Menit telah berlalu, dia memilih beberapa gelang yang akan dia tunjukkan ke Alvaro.

“Jadi pilih yang mana?” bisik Alvaro sambil melingkarkan sebelah lengannya ke pinggang Nesa. Sekejap tubuh Nesa meramang, jantungnya berdetak kencang, tubuhnya kaku.

“I-itu pilihan saya, menurut bapak gimana?” tanya Nesa tanpa melihat Alvaro. Gadis itu bisa melihat dari sudut matanya, seberapa dekat kini wajah mereka. Nesa merasakan hembusan nafas Alvaro di telinganya, membuatnya geli dan meremang.

“Mbak, minta tolong keluarkan pilihan dia! Saya mau liat!” ucap Alvaro pada pegawai toko.

Si pegawai mengeluarkan 3 gelang rantai dari dalam etalase, dia meletakkan di atas kaca etalase.

“Menurut kamu yang paling bagus untuk karakter Illona yang mana?” Alvaro berkata lirih tak jauh dari telinga Nesa.

“Saya nggak tau karakter Illona gimana ….kan bapak yang kakaknya….” ucap Nesa sambil melihat 3 gelang yang ada di depannya.

“kalo menurut kamu sendiri….yang bagus yang mana?”

“yang putih….” jawab Nesa sambil melihat wajah Alvaro, mata mereka saling menatap.

“ya uda …ambil yang itu aja!”

“yang ini mbak….” Nesa menyodorkan gelang yang berwarna silver.

“cincin nya yang cocok yang mana Pak? ” tanya wanita penjaga toko.

“nanti kita kesini lagi…sekarang gelang aja dulu.” ucap Alvaro dan melepaskan lengannya dari pinggang Nesa, dia ngeluarkan satu buah kartu untuk pembayaran.

“rencana mau nikah kapan Pak? karena proses pembuatan juga butuh waktu…” wanita itu terus bertanya.

Alvaro tersenyum dan melihat ke arah Nesa, gadis itu pura-pura tak mendengar apa yang mereka bicarakan. Perlahan dia menjauh dari Alvaro dan penjaga toko, dia melihat etalase yang lain.

‘Jangan ngarep Nes…baru aja di peluk pinggangnya , ngarep nikah gitu?!

Di kantor di omeli, tapi dia deket-deket…

Tadi tangan di anggurin, lalu main peluk pinggang….

Terus apa lagi?!

Pokoknya ya Nes…sebelum dia bilang AKU MENCINTAIMU….jangan terlalu berharap….’ Nesa membatin sambil melihat perhiasan yang ada di dalam etalase.

“Tolong masukkan tas mu!” suara Alvaro membuat Nesa terkejut.

Tanpa bicara, Nesa memasukkan bingkisan kecil ke dalam tasnya. Dan mereka keluar dari toko perhiaasan.

“Mau makan dimana?” tanya Alvaro yang sekarang tanpa sungkan menautkan jemarinya ke jari Nesa, jari mereka saling mengisi.

“Masih kenyang…tadi di mobil maem roti….” ucap Nesa berusaha santai dan ikut menggenggam tangan Alvaro. Pria itu tersenyum dalam hati saat merasakan remasan tangan Nesa.

“kita ke foodcourt, beli makanan kecil dan minuman, tapi di bungkus aja….”

Nesa menyetujui. Selama jalan di plaza, tangan mereka saling menggenggam.

“mampir ke rumah bentar ya Q? kasih kado aja, terus pulang…belum jam 7 kok…..” ucap Alvaro sambil mengemudi.

“Boleh…pokoknya Nesa jam 10 uda nyampek rumah….ntar kita nggak di bolehin keluar bareng lagi lho…”

“jadi kamu pengen kita keluar bareng lagi? kapan?” Alvaro melirik gadis yang ada disamping sambil tersenyum.

Wajah Nesa bersemu merah, tanpa menjawab dia mengeluarkan ponselnya.

‘kok kayaknya aku yang ngebet ya?!’ batin Nesa dengan pura-pura sibuk membaca pesan, padahal nggak ada yang ngechat, kecuali Nila, mengirimkan spam emot.

‘dasar jomblo!’ Nesa tersenyum membaca pesan Nila.

“Chat sama siapa?” Alvaro memecah keheningan.

“Sama Nila….”

Alvaro melepas nafas dengan gusar.

“segitu serunya chat sama nila..sampe aku di abaikan…”

“di abaikan gimana? kan tadi uda jalan…”

“emang Nila chat apa?”

“seputar salon…” jawab Nesa bohong.

“kamu nyalakan aja radionya! supaya nggak anyep…” Alvaro menyindir, dia menginginkan gadis itu menghabiskan waktu bersamanya dengan berbicara tentang segala hal.

Bebeda dengan Nesa, radio merupakan jalan keluar untuk mencairkan suasana yang hening. Dia ingin bertanya, tapi dia juga kuatir pertanyaanya menyinggung dan melewati batas privacy, karena dia belum terlalu mengenal sosok pria yang ada disampingnya, dan dia juga takut terbawa perasaan.

Tanpa merasa bersalah, Nesa pun menyalakan radio.

‘Nih cewek ngerti gak sich yang aku maksud…..’ Alvaro membatin kesal. Hingga tiba di rumah Alvaro mereka tetap diam.

Alvaro mengucapkan salam saat melewati pintu utama, Nesa hanya mengekori langkah Alvaro.

Terdengar suara seorang wanita menjawab salam Alvaro.

“Al…tumben pulang ke rumah….” ujar wanita itu sambil mencium kening Alvaro.

“eh…kamu ngajak mantu mommy?” lanjut wanita itu saat melihat Nesa.

‘MANTU?!’ Nesa sempat terhenyak dan merinding mendengar kata yang diucapkan ibu Alvaro.

“Mom…ini Vanesa Queen….” Alvaro memperkenalkan 2 wanita yang baru saja bertemu.

“Rena….mommy nya Al….” Rena menyalami Nesa yang hanya bisa tersenyum.

“Ayok ke dalam! Daddy mu pasti liat TV….” ajak Rena dan mendahului langkahnya.

“Mana Illona?” tanya Alvaro dan menggandeng tangan Nesa mengikuti langkah mommy nya.

“Pak….nggak enak diliat nya..” bisik Nesa.

“kenapa? kan uda MAN-TU….” Alvaro menekan kata mantu, dan entah kenapa bisa membuat bulu kuduk Nesa berdiri.

‘waduh! jangan-jangan di dalam ada penghulunya….’ Nesa membatin dan teringat cerita Alvaro, tidak menutup kemungkinan pria itu akan melakukan hal yang sama.

‘Oh..nggak mungkin…jangan GR Nes…’ batin Nesa berperang.

“Dad! Nich..anak lakimu pulang!” ucap Rena sambil sedikit berteriak.

Seorang pria paruh baya berdiri dari sofa lalu menoleh ke arah mereka. Alavaro melepas genggaman dan mencium punggung tangan daddy nya.

“Kalo uda di bawa ke rumah berarti……” Dani berbisik di telinga anaknya tapi Nesa bisa mendengarnya.

“On Progress Dad….” Alvaro menjawab dengan bisikan pula. Lalu Dani beralih melihat Nesa dan tersenyum.

“Daniel…Daddy nya Alvaro….” ucap Dani dan mengulurkan tangannya.

“Nesa Om….” Nesa membalas dan tersenyum.

“aku panggil dia Queen…” Alvaro meluruskan.

“Gonna be your Queen hm?” canda Dani dengan tersenyum meledek ke anaknya.

“Dad..please…” Alvaro seolah keberatan dengan ledekan daddynya, dan kuatir membuat Nesa tidak nyaman. Sedangkan Nesa hanya tersenyum dengan pipi sedikit merona.

“Eh…pulang Mas?!” seru suara gadis dengan agak cempreng.

Nesa melihat seorang gadis berjalan, memakai hot pants dan kaos oblong. Nesa menduga si gadis itu adalah Illo, dia pun membuka tasnya dan memberikan kotak kecil itu kepada Alvaro.

“Kesini cuma ngasih kado aja….kalo nggak gitu, kamu teror terus….” kata Alvaro dan memberikan sekotak kecil kepada gadis yang memakai celana pendek dan kaos oblong.

“O…aku pikir sekalian ngenalin kakak ipar….” Balas gadis yang berambut panjang menerima kotak dari kakaknya dan mencium lembut pipi Alvaro.

“Ya ampun…rambutnya bagus banget mbak…” oceh Illona tanpa berkenalan saat melihat rambut panjang Nesa yang sepunggung terlihat hitam lebat dan terawat.

“Illo….!” suara Dani menegur anaknya. Illona pun mengikik dan menutup mulutnya.

“Sori mbak….abis rambut mbak bikin ngiri! Illo…” gadis bersuara cempreng itu mengulurkan tangannya.

“Nesa…” Nesa menjabat tangan Illo dan tersenyum.

“Kalian pasti belum makan. Kita makan bareng ya….” Rena berkata sambil menggandeng tangan Nesa.

Dengan sedikit rasa segan, Nesa pun menuruti wanita paruh baya itu.

“Mas…kamu duduk sama mommy! Aku mau duduk di sebelah mbak Nesa..” ucap Illo dengan menyerobot kursi yang akan di duduki Alvaro, dimana Nesa sudah duduk.

“Untung adek sendiri….” ujar Alvaro dengan kesal.

Mereka makan dengan tenang, tanpa suara.

Illo menghabiskan makan malamnya, dan dia melihat piring Nesa sudah kosong. Lalu Illo mengajak Nesa ke ruang tamu, tanpa sungkan Illo bertanya seputar rambut. Alvaro hanya bisa membuntuti.

“mbak perawatan dimana? bagus banget rambutnya….” Illo berkata sambil membelai rambut Nesa yang duduk bersebelahan.

‘woy! aku aja belum pernah belai-belai…kok kamu duluan!’ batin Alvaro saat melihat tangan adiknya dengan bebas membelai rambut indah Nesa.

“Dia punya salon…” Alvaro menyahuti.

“Oh ya?! Keren mbak….”

Akhirnya Illo dan Nesa tenggelam dengan perawatan rambut. Alvaro hanya bisa menatap senang saat melihat senyum dan tawa Nesa.

“Mas! Sabtu depan harus datang lho….” ujar Illo menoleh ke Alvaro.

“Apalagi?! kan kadonya uda…” sahut Alvaro

“Datang aja…pokoknya mas harus datang…” Illo berkata dengan tatapan menuntut ke arah Alvaro.

“Males…banyak urusan Illo….”

“Sebentar aja kok mas…orang lain aja datang, kakaknya sendiri nggak mau datang…”

“Kamu pastikan dia datang! Dia datang, aku pasti datang!” ucap Alvaro sambil dagunya menunjuk ke Nesa.

“Mbak…minggu depan Illo ada party ulang tahun, datang ya mbak….” Illo merayu Nesa dan sedikit merengek.

Nesa tak nyaman jika dia harus menolaknya.

“Iya, Insya Allah….” jawab Nesa.

Illo pun tampak gembira, lalu dia meninggalkan kakaknya bersama Nesa.

Alvaro menghampiri Nesa, lalu duduk dikarpet dan merebahkan kepalanya di samping paha Nesa. Gadis itu terkejut dan menarik tangan yang tadinya ada di paha.

“Pak…..” suara lirih Nesa.

“Ngantuk Q…bentaaaaarrr aja. Lebih enak lagi kalo kamu tarik-tarik rambutnya atau pijat-pijat kepalanya.” Alvaro memejamkan matanya.

Tapi Nesa tak menuruti, kedua tangannya bersedekap didada

Dan tak lama, dia merasa pahanya makin berat, tak ada suara. Gadis itu meyakini Alvaro sudah tertidur.
Nesa memberanikan diri menyentuh rambut tebal Alvaro dan mengusap lembut.

“Wah..dia keenakan di usap kayak gitu…sampe ketiduran..” Suara Rena mengejutkan Nesa yang sedang mengusap kepala anaknya.

‘Ya Allah.. kenapa emaknya datang pas lagi gini sich?! kalo berenti keliatan banget kalo aku mencuri-curi kesempatan…kalo lanjut…ya udahlah…lanjut aja! ‘ Nesa membatin dan mengembangkan senyum ke arah Rena.

“Saya nggak tau kalo dia tidur Tan…” Nesa berbohong.

“Kayaknya dia pulang Subuh….pasti abis ngurusi warungnya….”

‘Warung?!” Tanya Nesa tak paham.

“Al belum cerita kalo dia punya beberapa warung kopi kecil di kota ini? yang dipinggir jalan itu….”

Nesa menggelengkan kepalanya.

“Terus kalian pacaran itu apa yang di omongin?!” tanya Rena dengan tertawa kecil.

“Tentang kerjaan Tante….” ujar Nesa asal dan terus membelai kepala Alvaro.

‘Emang pacaran?! Eh iya tan…mau tanya, Anak tante kalo ngomong kok bisa pedes di mulutnya ada apanya ya Tan…’ Nesa membatin.

Setelah bercengkrama dengan Rena beberapa menit, Nesa merasa ada pergerakan di pahanya.

“Lumayan Q…makasih…” ucap Alvaro tapi kepalanya masih menempel dipaha Nesa.

“Hmmm…manjanya kumat….” sindir Rena dan terdengar suara kekehan Alvaro.

“Al…uda jam berapa? Kamu nggak pulang?” Dani ikut bergabung dan dibuntuti Illo.

“Ngusir Dad?!Padahal lagi mesra-mesra nya nich!” ucapan Alvaro menghentikan usapan tangan Nesa.

‘Astaga! Dasar tangan nggak tahu diri! Betah amat dikepala orang!’ Nesa merutuki, dia tak menyadari kalo tangannya terus mengusap dan mengelus kepala Alvaro.

“Daddy nggak ngusir….kalo kamu sendirian, sampe besok ya terserah..tapi kamu bawa Nesa.” Dani menjelaskan.

“Iya Dad….” Alvaro berdiri.

Mereka pun berpamitan, Alvaro melingkarkan lengannya di pingang Nesa saat akan keluar ruang tamu.

“Jangan lupa Sabtu ya Mbak!” suara Illo yang cempreng berteriak.

Nesa menoleh sekilas dan tersenyum.

“Q…. hari Selasa atau Rabu aku keluar kota. Mungkin 6 bulan lagi aku ditempatkan disitu, nggak handle KPM mu lagi.” ucap Alvaro sambil menyetir.

“Beneran Pak?!” Nesa merespon dengan bahagia, dia tidak akan mendapat ocehan lagi.

“kok kayaknya kamu hepi banget ya…..kenapa?”

“maaf sebelumnya…tapi Bapak jangan marah lho ya…. soalnya ini demi kebaikan bapak juga…”

“Emang aku pernah marah?”

“Bapak janji dulu, apapun yang saya ucapkan…bapak nggak boleh marah…..” Nesa menuntut.

“Iya, Janji!”

“Ntar…bapak kalo handle kantor diluar kota itu, kalo ngomong jangan pedes, jangan bikin sakit ati…atau Bapak kursus public speaking dulu aja…” Nesa berucap dengan hati-hati.

Alvaro menyalakan lampu sein kiri.

‘waduh! kayaknya dia marah! mati wis….besok muncul di berita!’ Nesa membatin dengan jantung berdetak kencang, dia ketakutan, karena posisi jalanan tanpa penerangan dan tidak terlihat bangunan apapun.

Dan memang benar, Alvaro menepikan mobilnya di tempat mobil yang sangat gelap, lalu berhenti.

Alvaro menatap wajah Nesa, tanpa kata dan dia tersenyum. Nesa hanya membalas menatap datar.

“Ok Q…i want to make it clear and clean. Aku mau jelasin dan membersihkan nama baikku…”

“Queen…aku begitu hanya ke kamu aja….” lanjut Alvaro.

“Maksudnya?”

“Aku selalu bicara pedes, nyelekit, atau apapun itu…hanya ke kamu….”

“Kenapa? salah saya apa?” tanya Nesa berhati-hati.

“Kamu menyita perhatianku Q….Sejak pertama kali kamu menyita perhatianku…aku nggak tau harus bagaimana….dan aku minta maaf atas semua itu, Ok? Mau maafin aku kan?”

Nesa menganggukkan kepalanya, tapi dia belum paham dengan kalimat sejak pertama kali ketemu.

“Waktu Nesa datang terlambat? dengan wajah kayak kilang minyak?” tanya Nesa dengan meringis mengingat wajahnya kala itu

Alvaro terkekeh dan menggelengkan kepalanya.

“Sejak pertama kali Q……” hanya itu yang diucapkan Alvaro, dan dia melanjutkan menjalankan mobilnya.

“Sejak pertama kali kapan ya Pak?” Nesa masih penasaran.

“Kamu nggak ingat?” tanya Alvaro tanpa melihat Nesa, namun dia tersenyum.

“Bapak pernah datang ke salon saya?”

Alvaro tertawa pelan dan menggeleng lagi.

“Sampai sekarang, aku belum kepikiran perawatan….”

“Bapak pernah ke kantor sebagai nasabah ya?” Nesa terus bertanya.

Lagi-lagi pria itu menggeleng.

“Ntar lama-lama kamu ingat …..”jawab Alvaro melihat Nesa sekilas.

Nesa masih terus berpikir, kapan dia pernah ketemu dengan pria yang ada di sebelahnya….

Bersambung

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Tamat