Complicated S2 Part 8

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Tamat

Cerita Sex Dewasa Complicated S2 Part 8 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Complicated S2 Part 7

“Dia suka kamu Nes…..” Ucap Vasco saat Nesa kembali duduk setelah mengantar Alvaro di teras.

“Gimana kak?” Tanya Nesa yang kurang paham ucapan kakaknya.

“Kata kak Vas, Alvaro menaruh hati sama kamu….” Valdi memperjelas.

“Mana bisa seperti itu?! Kakak belum tau kalo dia ngomong gimana….sakit lho di hati….” Nesa mulai mengadu.

Akhirnya Nesa pun menceritakan apa yang dia alami.

2 kakaknya hanya tertawa.

“Nes …ada pria yang nggak bisa memulai untuk menyatakan atau menyampaikan perasaannya. Dia tidak bisa mengungkapkan, atau takut mengungkapkan.” Ucap Vasco.

“Emang kakak tau darimana?” Tanya Nesa kepo.

“Pokoknya kita tau…kamu suka sama dia juga kan?” Valdi menambahi.

“Setelah apa yang dia lakuin ke Nesa?” Tanya Nesa sambil mengerutkan keningnya. Kedua kakaknya mengangguk.

“Nesa belum bisa jawab….” Lanjut gadis itu.

“Atau kamu sudah ada rasa ya Nes?” Vasco menggoda adik kecilnya.

“Kakak sok tau!” Jawab Nesa cepat.

“Dia beneran suka sama kamu, Nes…..Percaya kakak dech!” Valdi menyahut.

Nesa berdiri.

“Nesa nggak percaya lah…. wong kalian sendiri masih jomblo…sok sokan nasihati tentang sabda cinta ….” Ucap Nesa sambil mencebikkan bibir nya. Usai menyelesaikan kalimatnya, Nesa berjalan menuju kamarnya.

“Dia suka sama kamu Nes…Mau tarohan?!” Valdi berkata dan masih bisa didengar oleh Nesa.

“EMOH!” Teriak Nesa lagi dengan suara melengking.

“Jadi ngakui kan kalo dia suka kamu …” Vasco ikut menggoda adiknya.

Nesa tak menjawab, dia masuk ke kamarnya.

“ya gitu lah kalo kelamaan jomblo….” Nesa menggumam.

Tapi sebelum tidur, gadis itu memikirkan kembali apa yang di ucapkan kakaknya dan ledekan Nila.

***

Sekitar pukul 08.00 terdengar seseorang mengetuk pintu kamar Nesa.

“Mbak, ada tamu..” ucap seorang wanita paruh baya, Bude Tina selaku ART.

” Iya Bude….” jawab Nesa dari dalam kamarnya.

‘sapa pagi-pagi gini ke rumah?’ Nesa lanjut membatin.

Nesa membuka pintu, gadis itu hanya memakai piyama babydoll kartun dengan rambut terkuncir asal, beberapa helai rambut terlepas dari ikatannya.

“Lho…Bapak nggak kerja?!” tanya Nesa saat mengetahui siapa yang duduk di ruang tamu.

Alvaro menoleh arah sumber suara.

Dia tersenyum saat melihat penampilan Nesa yang ala kadarnya, terlihat natural.

“Aku mau liat kondisi kamu, kemarin soalnya pucet banget.”

“Alhamdulillah, uda baikan kok Pak. Tapi masih minum obat.”

“Nich…aku bawain kue..” ucap Alvaro sambil menyodorkan sekotak kerdus yang berwarna putih.

“Terima kasih”

“Dimakan sekarang nggak papa kok Q….”

“Saya baru aja sarapan Pak….”

“Sarapan sama apa?”

“Sop sama perkedel….”

“kayaknya enak ….”

“Enak! Tadi Bu Mimin juga masak pepes ikan.” lanjut Nesa santai.

“Kok sepertinya aku laper ya Q….” ucap Alvaro dengan meringis tanpa dosa.

“Bapak belum sarapan?” tanya Nesa basa-basi.

“Belum, tapi aku uda pesan online, Nasi Soup Tomyam. Aku minta kirim ke sini. Tapi kalo kamu maksa aku makan di sini ya nggak papa.”

‘Lha….sapa yang maksa?!’ batin Nesa.

“Lalu pesanan Bapak gimana? jangan di cancel Pak..kasian…”

“Tomyam nya ntar aja…. buat makan siang, sekarang aku makan sop sama perkedel nggak papa kok, laper banget Q…….”

‘bilang aja minta makan, gitu aja masih muter-muter…pake alasan maksa memaksa’ batin Nesa sambil berdiri.

“Bapak mau makan di sini atau di ruang makan?” tanya Nesa.

“Di ruang makan aja.” jawab Alvaro membuntuti Nesa yang berjalan.

Alvaro berdiri sambil melihat Nesa memindahkan masakan dari lemari ke meja makan.

“Silahkan Pak…” ucap Nesa yang sudah duduk lebih dulu sambil merapikan hidangan.

Alvaro berjalan lalu duduk di sebelah Nesa.

“Bapak duduk di sini?” Tanya Nesa.

“Supaya memudahkan kamu ….” Ujar si pria.

“Minta tolong ambilin nasi nya ya Q…..” Lanjut Alvaro dengan hangat.

Mau tak mau Nesa melayani Alvaro.

“Ternyata bener enak….siapa yang masak?” tanya Alvaro setelah merasakan suapan pertamanya.

“Bu Mimin…..”

“Bu Mimin itu yang tadi panggil kamu di kamar?”

“Bukan, Bu Mimin cuma masak aja di sini. Kalo Bude Tina yang jagain Nesa sejak kecil, bagian beres-beres rumah.”

“Ada bapak-bapak di depan siapa?”

“O..itu Pak Im. Driver keluarga, kadang bantuin kak Vas di bengkel, atau bersihkan bimbel kak Vas, atau beli barang salon. Kita juga kasih buat Pak Im…nggak main suruh aja. Mereka uda di anggap keluarga, kalo liburan juga di ajak semua.”

“Bu Mimin sama Bude Tina dimana?”

“Istirahat….kerjaan pagi uda selesai. Ntar jam 2 lanjut.”

“Tadi kamu di kamar ngapain?” tanya Alvaro sambil mengunyah.

“Liat akun online shop yang lagi nge live…”

Alvaro melanjutkan suapannya dalam diam, begitu juga Nesa yang hanya menatap lurus hidangan yang ada di depannya.

Setelah menyantap habis makanan dan minum, Alvaro berdiri.

“Aku berangkat kerja dulu ya…”

“Ntar di depan ada kasirnya Pak…bapak bisa bayar di situ?” Sindir Nesa.

“Maksudnya?” tanya Alvaro mengernyitkan dahi yang tak paham ucapan Nesa.

Nesa tersenyum karena Alvaro tak paham sindirannya.

“Soalnya Bapak abis makan langsung pulang….nggak jauh beda ama depot kan?”

“Jadi kamu mau aku di sini berapa lama?” tanya Alvaro dengan tersenyum dan menatap wajah Nesa.

“Bu-bukan gitu Pak…tadi cuma bercanda aja kok Pak…Bapak boleh berangkat kerja..” ucap Nesa dengan gugup dan wajah memerah. Alvaro makin melebarkan senyuman.

“Ntar siang aku ke sini lagi, makan siang di sini. Kamu terima dulu aja Tomyam nya ya….”

“Makan siang di sini?! Bapak bolak-balik donk?”

“jadi supaya nggak bolak-balik, kamu maunya gimana? Atau aku nggak usah berangkat ke kantor dan kerja dari sini aja? aku sih nggak masalah…..aku bisa handle dari ponsel dan laptop….”

“Bukan gitu maksudnya pak….” ucap Nesa kesal, Alvaro salah menilai kalimat yang di ucapkannya.

“Soalnya tadi kamu bilang rumah kayak depot, abis makan pulang. Terus … aku mau berangkat kerja, kamu seperti keberatan. Bilang aja kalo kamu minta di temani….nggak usah cari-cari alasan….”

Nesa makin kesal dengan kesalah pahaman ini dengan memasang muka cemberut. Rasanya gadis itu ingin membenturkan kepalanya sendiri di tembok.

“ya uda…terserah Bapak aja….” sahut Nesa pasrah.

“Aku berangkat ya, kamu istirahat..ntar siang kita makan siang bareng…”

“Iya!” jawab Nesa pendek.

“Jangan cemberut Q…aku tinggal bentar aja sedih gitu….”

Nesa diam tak membalas ucapan Alvaro, ‘terserah bapak aja dech…ntar salah paham lagi’ batinnya.

Nesa melambaikan tangan dan tersenyum paksa saat mobil Alvaro meningalkan halaman rumahnya.

Baru beberapa langkah menuju ruang tamu, Pak Im berteriak.

“Mbak! Ini pesananya!” pria paruh baya itu sedikit berjalan cepat ke arahnya.

Nesa menerima bungkusan plastik yang cukup berat dengan aroma Tomyam yang khas.

“Ini apa Pak?” tanya Nesa.

“Kata masnya yang ganteng tadi…..’nanti ada ojek online datang, nganterin pesanan Nesa, ngasihnya nunggu saya berangkat ya Pak….soalnya saya nggak suka aromanya'” Pak Im menirukan apa yang di ucapkan Alvaro.

“Jadi waktu dia di sini, barang ini uda datang?”

“Sudah..” jawab Pak Im polos.

“ya udah Pak, makasih ya….”

“Iya mbak…” jawab Pak Im sambil meninggalkan Nesa.

‘Maunya dia apa? Dia pesen Tomyam, tapi nggak suka aromanya’ batin Nesa.

Nesa membawa bungkusan yang cukup berat ke dapur, lalu membukanya.

“Ini pesan berapa porsi? mau buat arisan keluarga?!” Nesa bicara sendiri. Ternyata selain Tomyam, Alvaro juga memesan Bakmoy.

Setelah membereskan meja makan dan menuangkan perangkat Tomyam di tempatnya, gadis itu masuk ke kamarnya.

Dia mendapatkan pesan dari Alvaro.

‘Q, makanan nya uda nyampek ya?’

‘uda Pak’

‘makannya nunggu aku ya…kan aku yang bayar…’

Nesa tak membalas hanya membatin, ‘supaya nyinyirnya ilang di kasih apa ya?!’

Akhirnya gadis itu kembali melanjutkan aktivitasnya dan tak lama tertidur.

Jam 11 Nesa terbangun, dia cuci muka, dan memoleskan seperangkat perawatan wajah, tak lupa menaburkan bedak dan memoleskan lipstik di bibirnya.

Dia membuka lemari, lalu mengambil beberapa baju, mencoba dan bercermin. Jika dia merasa kurang cocok, mencoba baju yang lainnya, dan berulang beberapa kali.

Tiba-tiba dia menyadari.

‘Ngapain gini amat sich?! kan dia cuma makan siang..’ batin Nesa sambil mengusap bibirnya dengan tisu.

Setelah berdandan seadanya, yang hanya memakai kulot panjang serta blouse berbahan ringan, Nesa keluar dari kamar dan duduk di ruang tamu sambil berseluncur di dunia medsos lewat ponselnya.

“Hai Q….uda nungguin? kangen ya?!” suara Alvaro membuat gadis itu menghentikan aktivitasnya.

“Makan yuk Pak…lapar….” jawab Nesa mengabaikan pertanyaan Alvaro.

‘ntar aku jawab ini, kamu pikirannya ke sana. Susah ngomong sama andahhhh Pak.’ batin Nesa yang berjalan ke arah ruang makan.

“Uda minum obat?”

“uda Pak…”

“Kamu abis dari mana Q?” tanya Alvaro saat melihat penampilan Nesa berbeda.

“Nggak dari mana-mana…..”

“Kok ganti baju?”

“Kan ada Bapak …..rasanya nggak sopan aja nemuin tamu pake piyama….”

“Nggak masalah Q…ntar aku juga biasa liat kamu pake piyama atau daster….”

“Gimana Pak?” tanya Nesa yang tak paham maksud Alvaro.

“Oh..enggak, aku lapar banget.”

Seperti tadi pagi, mereka duduk bersebelahan, Nesa mengambilkan seluruh permintaan Alvaro.

“Kayaknya kamu uda bener-bener siap nikah Q…” ucap Alvaro saat melihat Nesa melayaninya.

Nesa tertawa kecil.

“Jangan bilang kalo Bapak mau jodohkan saya sama teman Bapak….”

“Nggak…ngapain di jodohkan ama teman aku?!” sahut Alvaro ‘aku kan jodohmu….’ lanjut pria itu dalam hati.

“Sampe sekarang belum ada yang mau Pak….WA aja isinya kerjaan mulu…”

“kalo aku yang mau gimana? ntar aku chat dech….kita ngomongin selain kerjaan…”ujar Alvaro dengan jantung yang berdetak kencang, menunggu reaksi Nesa.

“Bapak kayaknya lapar banget ya…makan dulu Pak…” Nesa menanggapi dengan tersenyum.

‘jangan GR Nes, besok waktu di kantor pasti nyinyir nya kumat’ batin Nesa membentengi diri.

“Kamu di seriusin, malah bercanda…” lagi-lagi Alvaro masih bersuara.

“Makan ya Pak…supaya lebih fokus…” ucap Nesa dengan jantung yang berdetak lebih kencang.

Alvaro tersenyum melihat Nesa yang menjadi kikuk dan mengalihkan perhatian.

“Tempo hari, kayaknya aku liat kamu di konser XYZ…”

“Lho, Bapak liat juga?” tanya Nesa antusias.

“Liat donk…tapi aku nggak lama aku keluar.”

“Maksudnya nggak liat konser sampe abis?”

“Iya, soalnya ada keperluan.” Ucap Alvaro berbohong.

“Ih sayang lho Pak… padahal closingnya bagus banget… stage performance nya apalagi…wih…bagus dech pokoknya…” Nesa bercerita sambil mengunyah, mengabaikan peraturan di meja makan.

“Kamu ada videonya?”

“Ya nggak lah…saya ingin menikmati konsernya…”

“Tapi update status kan?”

“Maaf ya Pak…ada beberapa hal yang benar-benar ingin saya nikmati sendiri…”

“Tapi jadinya kamu nggak punya kenangan…”

“Siapa bilang?! Saya menyimpannya di sini….” Ucap Nesa sambil menunjuk dadanya.

“Emang sampe segitunya? Di simpan dalam hati segala….kamu datang sama sapa? Pasti orang yang kamu sayangi ya?” Alvaro mulai memancing.

“Iya donk! Gratis pula…. ticket dibelikan kak Vasco, makan dibelikan kak Valdi….”

“Liat konser cuma bertiga aja?” Alvaro mulai menyelidiki.

“Berangkat bertiga…tapi di sana ketemuan ama sodara yang lain….”

“Terus pulangnya?” Alvaro menantikan jawaban yang hingga saat ini membuatnya penasaran.

“Hmmmm…ada Dimas…nebeng pulang ke apartemen.”

“Dimas sapa? Teman kakakmu?” Alvaro ingin tahu sosok Dimas lebih jauh.

“Sepupu…mama Aline itu sepupunya Ayah…nah Dimas ini anaknya mama Aline”

Alvaro lega mendengar status Dimas.

“Bapak kenapa senyam-senyum?”

“Akhirnya kenyang….” Jawab Alvaro bohong dengan hati yang sangat girang.

“Bapak berangkat lagi kan?”

“Kenapa?”

“Saya ngantuk…mau tidur siang…” Ujar Nesa bohong.

“Padahal kalo kerja nggak pernah tidur siang ya….jadi kamu ngusir saya, Q?”

“Kan harus istirahat….”

“Baiklah…besok pagi aku kesini lagi….”

“Untuk?” Tanya Nesa dengan mengangkat kedua alit.

“Sarapan sama kamu Q….” Jawab Alvaro hangat.

“Tapi Nesa kalo sarapan sama kakak….”

“Sarapan sama kakak kamu dikit aja…ntar sarapan lagi sama aku…”

“Emang Bapak nggak bisa makan di rumah bapak sendiri?”

“Aku tinggal sendiri di apartemen… kamu mau masakin aku di apartemen?”

Nesa terbengong mendapatkan respon dari Alvaro, beda dengan pola pikirnya.

“Atau mungkin bapak makan di depot atau warung gitu?”

“O….kamu pengen makan diluar…ya uda …besok sarapan di luar ya….”

‘Sak karepmu Pak…! masak nggak ngerti kalo di tolak secara halus?’ Nesa membatin kesal, lagi-lagi terjadi perdebatan dari pehaman kalimat.

“Terserah bapak aja mau makan dimana…” Nesa menanggapi dengan pasrah.

Alvaro menahan senyum saat melihat wajah Nesa yang terlihat kesal dan cemberut.

Pria itu berpamitan, Nesa kembali ke kamarnya.

Esok harinya, Alvaro datang lagi untuk sarapan dan makan siang.

Tapi kali ini Nesa lebih banyak diam, karena jika bicara, kuatir salah paham lagi.

Alvaro pun tampak senang, dengan leluasa dia meminta ini itu tanpa penolakan.

“Besok pagi uda masuk kan Q?” tanya Alvaro usai makan siang.

“Iya, Pak. Tugas saya pasti menumpuk ya….”jawab Nesa yang duduk di double sofa.

“Nggak juga…tugasmu diselesaikan Vita. Tapi ada yang aku nggak paham…”

“Maksudnya nggak paham? Bukannya format nya sudah ada?”

Alvaro mengeluarkan ponsel dari saku jas nya. Dia mendekati Nesa lalu duduk di sebelah kanannya.

“Ini aku nggak paham…” Alvaro menyodorkan ponselnya ke arah Nesa.

“Yang mana sich Pak?” Tanya Nesa menatap ponsel yang berisi deretan email masuk.

Alvaro semakin memangkas jarak dengan Nesa. Namun gadis itu tak sadar jika Alvaro sudah ada didekatnya. Tidak ada jarak diantara mereka.

“Coba pencet pesan yang dari emailmu! Buka lampirannya!” Bisik Alvaro.

Nesa menurut apa yang diperintahkan.

Lengan kiri Alvaro menyampir di sandaran sofa, sekuat mungkin dia menahan agar lengannya tak memeluk pundak Nesa.

“Yang worksheet apa Pak?” tanya Nesa yang fokus menatap layar ponsel Alvaro.

“Bagian pembayaran premi.” bisik Alvaro sambil terus menatap wajah Nesa dari samping.

“Nomor?”

“Nomor 3 kalo nggak salah…”

“Yang ini?” tanya Nesa sambil mendekatkan tubuhnya ke Alvaro hingga jantung pria itu berdetak kencang. Nesa tak menyadari jika tubuhnya hampir saja bersandar di setengah dada Alvaro.

‘Tahan Al…..’ batin Alvaro.

“Bentar aku liat…” ucap Alvaro sambil menggenggam tangan Nesa yang memegang ponselnya, lalu melepaskannya lagi.

Jantung Nesa langsung berdetak kencang karena sentuhan sesaat tadi. Gadis itu juga baru menyadari jika mereka sudah duduk berdempetan.

“Iya! Benar yang itu…” Ucap Alvaro.

“Se-sebentar saya baca dulu keterangannya ya Pak…” Jawab Nesa gugup, jantungnya tidak tenang.

Gadis itu berusaha fokus apa yang ada dilihatnya sambil menenangkan detak jantungnya, tapi sia-sia.

“Bapak tanya mbak Vita aja ya….saya juga nggak tahu maksudnya.” Ujar Nesa yang sudah menyerah, dia tak fokus lagi.

“Besok aku jemput ya….” Ucap Alvaro sambil berdiri. Pria itu berusaha mengembalikan ritme detak jantungnya.

“Saya berangkat bareng kak Valdi, searah.”

“Ya Uda…kalo gitu pulangnya sama aku aja.”

“Nggak usah Pak…ntar ngerepotin…”

“Kamu sakit gini karena kecapekan, mungkin salah satunya tugas dari aku. Aku yang sebabkan kamu sakit Q….”

“Bapak nggak usah merasa bersalah. Saya memang ada masalah dengan pencernaan.” Nesa meyakinkan Alvaro.

“Kita tetap pulang-pergi bareng, Q….aku yang bertanggung jawab semua ini…” Alvaro memaksa.

Nesa melepaskan nafas dengan gusar, lagi-lagi dia menuruti Alvaro.

“Ya udah…tapi bapak kalo jemput saya di kantor jam 17.30 aja, atau tunggu WA saya aja….”

‘bisa mampus kalo ketauan pulang ama dia’ Nesa lanjut membatin.

Alvaro pun tersenyum lebar mendengar persetujuan Nesa, dia pun berpamitan.

***

Esok harinya, Nesa sudah kembali beraktivitas.

Para admin menanyakan kondisi kesehatannya, Nesa pun menjawab seadanya.

Sekitar pukul 09.00, mas Heru menghubungi Nesa melalui internal call.

“Mbak, ini pesanannya uda nyampek”

“Pesanan apa ya Pak?” Tanya Nesa.

“Nggak tau…ini ada yang anter, dari online….”

“Bentar saya ke depan”

Nesa berjalan menuju mini lobby, disana ada Driver online dengan jaket khasnya.

“Ini pesanan siapa ya Pak?” Tanya Nesa.

“Saya cuma diminta nganter ke unit kantor sini aja Bu….ini Lantai 20 Off 09 kan? Dengan mbak Vanesa Queen” Ucap pria berjaket.

“Iya benar….saya Vanesa…yang pesan siapa ya Pak?”

“Disini tertulis Pak Rendi …”

Nesa pun teringat nama pria itu adalah Alvaro Rendi.

“Ya udah Pak, saya terima. Makasih ya Pak….”

Pria berjaket itu hanya tersenyum dan mengangguk sambil menatap ponselnya.

Nesa kembali ke mejanya.

“Beli apa Nes?” Tanya Vita membuat Nesa terkejut.

“Oh …ini dari Ibu. Biar nggak kumat lagi.” Jawab Nesa bohong dengan jantung berdebar.

‘kalo mereka tau, bisa rame dunia persilatan’ Nesa membatin.

Gadis itu membuka bungkusan plastik, aroma siomay membuat Nesa ingin segera mencicipi.

Terdengar pesan masuk dari ponselnya.

‘dimakan ya….kata dokter, nggak harus banyak, tapi sering. Makan siangnya kamu pasti bareng sama temanmu kan? Untuk cemilannya kamu pengen apa?’ Nesa membaca pesan dari Alvaro.

Nesa menahan senyum dengan mengigit bibir bawahnya.

‘terima kasih, Bapak nggak usah repot-repot. Nesa jadi nggak enak….’ gadis itu membalas.

‘kamu dibeliin aja ngerasa nggak enak…gimana kalo kamu yang belikan?…ntar abis makan siang, aku pesankan bakwan aja ya…buat admin dan OB’

‘Astaga…nggak lewat mulut…lewat jari… ternyata sama aja nyinyirnya’ batin Nesa.

‘terserah bapak aja dech…..’ Nesa selalu pasrah dengan apa yang diucapkan Alvaro.

Dan sesuai dengan ucapannya, sekitar pukul 14.00 Nesa menerima lagi kiriman makanan dari Alvaro.

“Mbak…Mas ….ini dari Pak Alvaro…” Ucap Nesa saat meletakkan bungkusan di meja Vita. Dengan riang mereka berebut ke meja Vita.

“Wih tumben! Nggak salah?!” Sahut Eja

“Kantor lain uda, hari ini giliran kantor kita….” Nesa mencari alasan yang tepat.

Dan mereka menikmati bakwan.

‘Saya uda siap pulang.’ (17.37 Nesa mengirim pesan)

Tak sampai 5 menit, pria itu memasuki unit kantor Nesa, mereka berpamitan ke Heru selaku OB.

“Q….bantu aku cari kado donk…Sabtu Illona ulang tahun.” Ujar Alvaro sambil mengemudi.

“Kapan Pak?”

“Sekarang Kamis, terserah kamu maunya kapan…. pokoknya Sabtu aku pulang ke rumah, harus sudah bawa kado.”

“Sabtu siang aja ya Pak….saya ke salon bentar…”

“Ok Q…..aku jemput dikos?”

“Jemput di rumah Pak….kan saya hari Jumat pulang ke rumah”

Alvaro menarik nafas dalam-dalam, dan menghembuskan perlahan.

‘Jumat siap-siap ketemu kakaknya lagi nich….’ batin Alvaro.

“Ok, aku jemput jam 2 an ya…supaya nggak kemalaman.”

“Boleh Pak…..”

“Pengen maem apa Q?”

“Kita langsung pulang aja Pak….”

“Makan Q…..” Ucap Alvaro dengan sabar.

“Nesa takut nggak abis … perut Nesa belum normal…” Ucap gadis itu lirih.

“Kalo nggak abis, kasih ke aku..”

“Iya dech…” lagi-lagi Nesa menurut.

Usai makan malam, Alvaro mengantar Nesa hingga pintu kos nya.

***

Jumat pulang kerja, seperti biasanya Nesa pulang ke rumahnya.

“Queen, pengen makan apa?” Tanya Alvaro.

“Kalo Jumat gini saya makan malam di rumah Pak….”

“O…Ok. Kita beli martabak manis aja ya….”

“Terserah Bapak aja….” Jawab Nesa yang malas berdebat.

Tibalah Nesa di halaman rumahnya.

“Bapak mampir atau langsung pulang?” Tanya Nesa saat akan keluar mobil.

“Mampir donk…” Jawab Alvaro

‘kan mau ketemu calon kakak ipar dan calon mertua. Uda di bawain martabak pula.’ lanjut Alvaro dalam hati.

“Ok …” Balas Nesa keluar lebih dulu dan berjalan menuju pintu utama sambil membawa bungkusan martabak manis.

‘kok deg-degan gini ya? Harus bisa Al!’ Batin pria itu menyemangati dirinya sendiri.

Pria itu berjalan dan membuntuti Nesa.

Nesa mengucapkan salam saat membuka pintu, dan terdengar beberapa orang membalas salam hampir bersamaan.

Gadis itu mencium punggung tangan ibunya lalu ayahnya.

“Sama sapa Nes?” Aji mulai bersuara saat menyadari ada pria yang tak dikenalnya.

“Pak Alvaro dari Development.” Nesa menjawab pertanyaan ayahnya.

“Saya Aji, ayah nya Nesa….” Aji mengulurkan tangannya.

“Alvaro Rendi ….” Pria itu menyambut tangan Aji dan mencium punggung tangan Aji.

“Isti….ibunya Nesa” kini Isti berganti bersalaman.

“Silahkan duduk!” Pinta Aji.

“Terimakasih Om….” Ucap Alvaro yang jantungnya berdetak kencang.

Nesa masuk ke kamarnya, dan Isti masuk ke dapur untuk menyiapkan hidangan.

“Sering nganter Nesa?” Tanya Aji dengan menatap Alvaro.

“Beberapa kali Om….”

“Kamu sering nganter wanita lain juga?”

“Nggak Om…hanya Queen aja…”

“Queen?” tanya Aji dengan mengernyitkan dahinya.

“Ehm..maaf…saya memanggilnya Queen…”

“Oh…..”

Hening beberapa saat, suasana menjadi kaku. Aji hanya melihat Alvaro yang kadang tersenyum kaku dan kadang menunduk.

“Kenapa kok kamu nganter anak saya aja?” Aji lanjut bertanya.

Alvaro tidak berani menjawab tentang kejadian perawatan Nesa di rumah sakit.

‘masa Bapak nggak tau trik pria Pak? Kita sama-sama pria lho….lagian sampe sekarang saya belum kepikiran buka jasa antar jemput pegawai’ Alvaro membatin.

“Kebetulan saya ada keperluan di daerah dekat sini. Jadi sekalian nganter Queen….”

“Kemarin-kemarin nganter Nesa juga ada keperluan di sekitar kos Nesa?”

‘masya Allah Pak….bapak kok nggak sensitif sich?’ batin Alvaro lagi.

“Saya juga buka warung kopi di pinggir jalan Om. Memang kebetulan ada di dekat kos Nesa, dan ada juga yang ada di area sini.” Akhirnya Alvaro sedikit membuka identitasnya.

“O..jadi kamu punya berapa warung kopi di kota ini?” Aji mulai tertarik membahas pekerjaan dan bisnis.

“Nggak banyak kok Om…tapi ada beberapa.”

“Wah….kamu hebat ya…bisa atur waktu untuk kerja dan bisnis…”

“Ya…kadang capek Om…”

“Pasti capek lah…ngurus kerjaan di kantor yang kadang lembur…ngurus bisnis pribadi….pasti kamu sekarang masih single….”

‘Ya ampun…emang harus ya bahas status saat pertama kali ketemu gini?’ batin Alvaro.

“Ya … begitulah Om…” Alvaro menjawab pasrah.

“Alvaro makan malam disini ya…. pasti belum makan malam…” Isti datang menghampiri di ruang tamu sambil membawa martabak yang dibeli Alvaro.

“Kayaknya dia mau pulang Bu….Bapak katanya ada keperluan kan? ” Celetuk Nesa yang ikut menghampiri.

“Iya Tan…saya mau balik, takut kemalaman…” Jawab Alvaro

‘kabur dulu…. mumpung kakaknya belum keluar’

“Tuh …bener kan Bu…” Ujar Nesa, gadis itu bisa melihat wajah Alvaro yang tegang.

Terdengar suara seseorang pria meneriakkan salam.

‘Ya Allah…itu pasti kakaknya. Ini kakak yang mana yang datang….’ Alvaro membatin.

Valdi datang langsung menuju ibunya, mencium punggung tangannya. Valdi melakukan hal yang sama kepada ayahnya.

‘Duh….kok kakaknya yang ini sich yang datang…..’ Alvaro mengeluh dalam hati.

“Eh! Ada Alvaro… nganter Nesa ya?” Ujar Valdi saat menyadari kehadiran Alvaro.

“I-iya …baru pulang?” Alvaro membalas dengan basa-basi.

“Lho … kalian uda kenal?” Tanya Aji.

‘hmmm… kayaknya lama ini’ Alvaro berucap dalam hati.

“Tempo hari dia nganter Nesa ke rumah, bawa nasi goreng banyak….kali ini bawa apa?” Tanya Valdi tanpa dosa.

Nesa tak bisa berkata, dia hanya menatap kasihan melihat Alvaro.

“Ini martabak manis dari Alvaro…” Ucap Isti.

Valdi hanya tersenyum dan melihat wajah Alvaro yang tegang.

“Nesa kapan pulang?” Tanya Aji, karena yang dia tahu anak gadisnya pulang saat weekend.

“Waktu Ayah ke Banjarmasin. Nesa ke sini soalnya air PAM di kos mati.” Jawab Nesa menutupi kejadian di rumah sakit.

“O…. saat itu kamu sudah di antar jemput dia?” Tanya Aji.

“Sudah….” Jawab Nesa lirih sambil melihat Alvaro, pria itu pun juga memandangnya.

“Kamu makan di sini aja…” Valdi kembali berbicara.

“Maaf…saya ada keperluan…saya ijin pamit dulu ya…ntar kemalaman..” Alvaro berpamitan sopan.

‘cepet kabur….sebelum 2 singa ini tanya macem-macem lagi’ lanjutnya.

Akhirnya Alvaro bisa meninggalkan ruang tamu yang membuat jantungnya lelah.
Nesa membuntuti Alvaro dengan tersenyum.

“Aku balik dulu ya….” Pamit Alvaro dengan menoleh ke belakang.

Nesa mengangguk dan menahan senyum.

“Kenapa?” Tanya Alvaro seolah ingin tahu penyebab gadis itu tersenyum.

Nesa menggelengkan kepalanya dan terus menahan senyum, dia menggigit bibir bawahnya.

“Ada apa sich Q?” Alvaro makin penasaran.

“Uda…. Bapak pulang aja…” Jawab Nesa yang terus menahan senyum.

“Nggak! Kamu bilang dulu kenapa kamu senyam-senyum gitu…”

Nesa menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskan perlahan, dia berharap nggak tersenyum lagi…atau mungkin tidak tertawa.

“Tapi bapak jangan marah….ntar bapak cari-cari kesalahan Nesa dikantor…” Nesa berucap memberanikan diri.

“Nggak!” Alvaro meyakinkan.

“Hmmmm…Nesa pengen ketawa waktu liat wajah Bapak di depan Ayah sama kak Val….” Ucap gadis itu lirih.

“Emang kenapa wajahku?”

“Keliatan serius banget… tegang…”

“O….tapi nggak mengurangi kadar ketampananku kan?” Tanya Alvaro dengan menaikkan kedua alisnya.

Nesa langsung cemberut mendengar kalimat yang diucapkan Alvaro.

“Saya masuk dulu ya Pak….banyak nyamuk…” Nesa malas menanggapi.

Alvaro tersenyum melihat reaksi Nesa.

“Jangan lupa. Besok jam 2 aku jemput.” Ujar Alvaro, lalu pria itu meninggalkan Nesa dan memasuki mobilnya.

“Uda berapa lama kalian kenal Nes?” Tanya Aji selaku ayahnya.

“Baru bulan kemarin, waktu kenalan sebagai Development baru….” Jawab Nesa. Rasanya Nesa malas membicarakan hal ini, karena ayahnya akan berpikir terlalu jauh.

“Terus … pertama kali nganter ke sini kapan?”

“Waktu Ayah ke Banjarmasin. Dia ketemu sama kak Val dan kak Vas juga kok….”

“Nes…. bilangin Bude Tina… Minta tolong siapkan kupas buahnya, abis ini kita makan!” Potong Isti.

Nesa berdiri dan meninggalkan orang tuanya.

“Mas! Ngapain kamu tanya sampe detail begitu….Uda diem aja! Ntar dia malah nggak mau cerita…. nggak mau terbuka sama kita….” Isti berucap lirih namun menekan sambil matanya melotot.

“Aku harus jaga anakku Love…aku mau ingetin, dia harus hati-hati…Nesa itu cantik Love….”

“Kalo mau ngingetin, kita harus tau waktu yang tepat, pake bahasa yang tepat….mas pikir aku nggak takut?! Valdi apalagi… mulutnya itu sama kayak kamu…ntar pria yang maunya dekat malah kabur…” Isti mengoceh, lalu wanita itu menuju dapur dan meninggalkan Aji sendiri.

Aji menghela napas.

‘waktu yang tepat…bahasa yang tepat…itu gimana? Kalo nggak di omongin langsung, pasti lupa’ Aji membatin.

Bersambung

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Tamat