Complicated S2 Part 7

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Tamat

Cerita Sex Dewasa Complicated S2 Part 7 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Complicated S2 Part 6

“Uda siap Nes?!” tanya Vasco saat melihat adiknya mengikat tali sepatu sneaker.

“Siap donk!” Jawab Nesa.

“Yuk pamit Ibu sama Ayah…” Ajak Valdi.

Ketiga anak Aji berpamitan dengan mencium pipi dan kening anak-anaknya.

“Ntar Nesa pulang kos ya Bu..” ucap Nesa saat berpamitan.

“Nggak bobok sini lagi?” Tanya Aji.

“Kan semalam udah yah…Nesa mau bersih-bersih kos.”

“Anter adikmu sampe masuk kamar Val…! Vas…!” Pinta Aji.

“Iya yah….” Jawab 2 pemuda itu kompak.

Mereka bertiga berangkat menghabiskan malam mingguan dengan melihat konser, sesuai janji kakaknya.

Keluar dari mobil, mereka berjalan dengan pemuda-pemudi yang lainnya dengan tujuan yang sama.
Ternyata sepupu Nesa sudah berdiri menunggu di pintu masuk. Beberapa diantaranya mengajak kekasih.

“Kalian kalo mesra-mesraan jangan di depan aku ya….kan ngiri…” Ucap Nesa berkata jujur.

“Biasa…orang jelek pengen buru-buru dapat pacar, supaya kelihatan laku dan dapat pengakuan…orang ganteng mah nyante…” Ucap Dimas sepupu Nesa yang memang benar-benar tampan dan ganteng.

Dan terjadilah candaan dan tawa yang keluar dari mulut mereka.

Mereka memasuki gedung yang tertutup dengan berbaris rapi, mereka saling menjaga, terutama menjaga Nesa yang selalu menjadi daya tarik kaum adam.

Gadis itu pun tampak akrab dengan kekasih sepupunya, mereka berbincang seputar wanita, tentunya Nesa mengambil kesempatan dengan mempromosikan salonnya.

Nesa sangat antusias saat berbicara perawatan tubuh, hingga ia tak sadar ada sepasang mata yang mengawasinya.

‘katanya nggak punya pacar…lha itu sama sapa?! Pasti salah satu pria itu pacarnya’ Alvaro membatin.4

Band pembuka memasuki stage, menyedot perhatian penonton. Sorak sorai dan tepuk tangan terdengar gemuruh.
Tapi sayangnya pria itu sudah tak fokus lagi pada tujuan awalnya, Nesa benar-benar mencuri perhatiannya.

Alvaro sama sekali tak memperdulikan hingar bingar sekitarnya. Dia hanya fokus pada gadis yang beberapa meter didepannya.

Tanpa senyum dia hanya bisa melihat Nesa mengangguk, berjingkrak, melompat, menghentakkan tubuhnya sesuai dengan ritme lagu. Gadis itu sangat antusias dan bersemangat, berteriak menyanyikan lagu seolah menghilangkan penat di kepalanya.

Sedangkan Alvaro hatinya berkecamuk, dia ingin tahu siapa saja pria yang ada di sekeliling Nesa, yang sangat perhatian terhadap gadis itu.

“Dari tadi diam aja! Napa?” Tanya Tommy teman Alvaro.

“Nggak papa…” Jawab Alvaro singkat.

Hingga konser selesai, hingga melewati pintu keluar, hingga menuju parkir, mata Alvaro tidak lepas dari sosok Nesa. Nesa dan sepupunya berpencar saat di lapangan parkir mobil.

Valdi dan Dimas menggenggam tangan Nesa, Vasco berjalan di belakang sambil melihat ponsel. Sesekali Alvaro mendengar tawa khas Nesa.

“Woi…mobil kita di sini!” Tommy membuat Alvaro sadar. Tak menjawab, Alvaro berbelok ke barisan dimana mobinya terparkir.

***

Vasco, Valdi dan Dimas menginap di kos Nesa, tentunya sudah mendapat ijin dari pemilik kos.

“Nes…kakak pulang..” bisik Vasco sambil mencium kening adiknya dengan sayang. Sekitar pukul 08.00, Valdi, Vasco dan Dimas meninggakan kos.

“Hmmm” Nesa menjawab dalam gumam, matanya masih tak mau membuka.

Pukul 11.00 Nesa baru bisa membuka matanya, namun gadis itu masih bermalasan diranjangnya.

Saat melihat di lantai, terdapat tikar yang sudah terlipat rapi serta tumpukan bantal. Dengan mata yang masih berat, Nesa bangun dan duduk di tepi ranjang. Dia meraih ponsel yang tak jauh dari bantalnya. Dia ingin mengabari Nila, bahwa hari ini dia datang telat ke salon.

“Wow” ucap Nesa takjub saat mengetahui belasan panggilan tak terjawab dari Alvaro.

Dengan mengernyitkan dahi, Nesa membaca pesan demi pesan yang dikirim Alvaro.

‘Queen, tolong cek email. Kamu presentasi hari Senin, KPM kalian yang terpilih berdiskusi dengan pusat. Senin ada beberapa departemen dari pusat datang ke Sales Office Surabaya.’ (06.15)

‘Queen? kok nggak di balas?!’ (06.46)

‘Queen…kamu masih tidur?’ (07.20)

‘Q…kamu mengabaikan pesan saya?’ (08.00)

‘kamu masih di bumi kan Q?’ (09.00)

Belum tuntas membaca pesan, ponsel Nesa berdering pangilan masuk, Alvaro menelponnya.

Nesa : Pagi Pak…

Alvaro : kamu terima pesan saya kan? dari tadi nggak ditanggapi!

Nesa : ini hari Minggu Pak, waktunya molor…

‘sori ya..ini luar jam kerja, kamu nggak bisa ngocehin aku’ batin Nesa merasa menang.

Alvaro : terserah mau hari Minggu atau hari apa! Pokoknya kamu besok presentasi! Kebetulan orang Jakarta mampir sehari di Surabaya. Kamu diskusi….. kalo mereka ada yang delay kasih info, kamu komplain ke departemen yang bersangkutan.

Tekan mereka, supaya mereka bekerja lebih giat lagi. Saat ini kita hanya bisa kasih pelayanan yang lebih baik, lebih ramah dan lebih cepat. Karena kalo pelayanan Artlife lambat, mau dapat image bagus dari mana? Nasabah bakal ngomel di medsos dan media lainnya…..nggak gampang jaga reputasi. Makanya ini kesempatan buat kamu untuk menyelesaikan semua masalah nasabah di kantormu. Jangan lupa tulis tanggal up date nya!

Nesa : iya Pak

‘melek mata langsung dapat ujian…harusnya tadi tidur terus aja ya…’ batin Nesa yang sudah pasrah.

Alvaro : ntar kalo ada yang belum jelas, kamu telpon saya….besok saya juga ikut, supaya tahu alasan mereka yang kadang telat up date…

Nesa : iya Pak….

Alvaro : kalo bisa kamu kirim ke emailku hari ini, jadi aku juga bisa mempelajari ….aku tunggu ya…

Alvaro menutup telpon tanpa menunggu balasan Nesa.

Gadis itu menghela napas, dia membuka email dari smartphone nya.

“Waduh…kalo gini nggak bisa lewat HP…” Nesa berbicara sendiri. Dia bangkit dari ranjang lalu duduk di bawah, membuka laptopnya.

Nesa mengabaikan sarapan dan makan siangnya…dia hanya makan sebungkus roti sisa konser semalam.

***

Nesa duduk dengan sopan dan rapi, dia mendengarkan keluh kesah admin terhadap kinerja Head Office.

Gadis itu mendapatkan sesi yang paling akhir.
Nesa mempresentasikan dengan lancar tentang permasalahan nasabah yang ada di KPM nya.

Dia menyelesaikan tugasnya dengan sempurna. Satu per satu peserta diskusi meninggalkan ruangan.
Nesa merapikan kertas yang dijadikan bahan presentasinya.

“Kamu baik-baik aja Q?” Tanya Alvaro hangat saat melihat wajah Nesa sedikit pucat.

Nesa melihat Alvaro lalu sedikit menyunggingkan senyum dan mengangguk.

“Aku liat kamu nggak makan siang, nggak minum juga” ucap Alvaro yang masih menatapnya.

“Soalnya gugup Pak. Takut salah…”

“Yang kamu sampaikan bagus kok. Jelas, tidak bertele-tele, beberapa kalimat terdengar sopan namun menekan mereka…saya suka…” Alvaro memuji.

Lagi-lagi Nesa hanya tersenyum tipis dan kaku.

Setelah merapikan dokumen dan menyimpannya dalam map, Nesa berdiri dari kursi.

Mereka sama-sama hendak keluar ruangan.
Namun tak sampai di ambang pintu, Nesa merasa tubuhnya ringan dan….

“QUEEN?!” pekik Alvaro dan menahan tubuh Nesa.

***

Nesa terbaring tak berdaya di ruangan yang serba putih.
Alvaro menggenggam tangan Nesa, sebelah tangan pria itu mengusap lembut kening Nesa.

‘meskipun wajahmu pucat, kamu tetap cantik….kamu selalu cantik Q…’ batin Alvaro dengan memandang lekat wajah Nesa.

Perlahan wajah pria itu mendekati wajah Nesa. Tanpa ijin dia mengecup lembut bibir kering Nesa, beralih ke pipi, kening lalu tangannya.

Dia menatap hangat wajah Nesa, dengan tangan yang masih menggenggam.

Beberapa menit kemudian, ponselnya berbunyi.

“Halo…”

“…..”

“Masuk aja….kita ada di bilik ke dua.” Ucap Alvaro.

Dan tak lama, wajah Nila menyembul dari balik tirai bilik. Nila melihat bagaimana cara Alvaro memandang Nesa dengan hangat. Tangannya mengusap kening Nesa dengan sayang.

Nila berdehem dan mengakibatkan tangan Alvaro menjauh dari wajah Nesa, dan melepaskan genggamannya.

“Hai….aku Nila, teman Nesa…” Ucap Nila sambil mendekati tepi ranjang Nesa.

“Alvaro…bagian Development…dia tidur…”

Tak lama, Nesa menggumam dan perlahan matanya terbuka.

“Hai mbak, kamu keliatan jelek….” Canda Nila.

Nesa hanya tersenyum lemah dengan menyapu pandangan di sekelilingnya.

“Q….masih lemas ya?” Tanya Alvaro dengan tatapan hangat.

“Lebih baik ….” Jawab Nesa dengan parau dan memandang sekilas wajah Alvaro yang tampak kuatir.

“Sudah ada temannya, aku ke dokter dulu ya….” Pamit Alvaro.

Nesa hanya mengangguk.

Alvaro meninggalkan ranjang Nesa, dia menuju meja dokter yang ada di dekat pintu ruangan.

“Mbak Vanesa mengalami gangguan pencernaan, kemungkinan asam lambung.” Ucap seorang wanita yang memakai setelan hijau dengan stetoskop yang menggantung di lehernya.

“Tapi dia baik-baik aja kan dok? Tadi saya liat, dia memang nggak makan siang dan nggak minum sama sekali.”

“Untuk penderita asam lambung, walaupun diberi sedikit makanan atau minuman tidak akan bisa masuk, mual terus. Sehingga mengakibatkan dehidrasi. Dan kejadian sekarang bukan akibat hari ini, mungkin bisa beberapa hari kemarin pola makan tidak teratur. Dia harus minum obat dulu, lalu 5 menit setelahnya baru bisa makan.

Tolong dijaga pola makannya ya Pak …. tidak harus banyak, sedikit tapi sering. Dan kalo bisa jangan terlalu lelah, sehingga tidak mengabaikan asupan. Kadang beberapa orang, saat lelah atau stress malas makan.” Wanita itu menjelaskan lagi.

Alvaro merasa bersalah, karena dia dengan sengaja memberikan banyak perintah dan tugas kepada Nesa.
Seharusnya dia bisa melihat melalui sistem yang bisa dia akses.

“Jadi sekarang diberi tindakan apa ya dok?”

“Sementara hanya infus. Habis, boleh dilepas. Nanti saya kasih resep saat pulang. Saya sarankan untuk sementara dia harus istirahat dulu di rumah.”

Puas dengan penjelasannya, Alvaro menghampiri bilik dimana Nesa masih terbaring.

“Saya tinggal bentar ke administrasi ya….tolong jaga dia…” Ucap Alvaro kepada Nila yang sedang duduk di samping ranjang Nesa.

Nila tak menjawab, dia hanya mengangguk. Nila melihat punggung Alvaro makin menjauh.

“Nes, itu yang namanya Alvaro?! Gantengnya……Pepet sis!” Ucap Nila ketika Alvaro keluar ruangan.

“Mbak….bisa nggak mikirin sahabatnya yang terbaring disini?” Nesa mendengus kesal saat Nila lebih memperhatikan Alvaro ketimbang dirinya.

“Jangan cemburu donk….”

“Sapa yang cemburu? Kamu belum pernah dengar kalimat indah nya sih…di dada itu sangat nyaman lho…”

Nila mengikik mendengar kalimat sarkas.

“Kok kamu tau aku lagi di sini?” Lanjut Nesa.

“Bapak ganteng mu itu yang telpon….dia cek last phone call…”

“Ternyata selain ganteng, dia pinter juga…” Nesa menanggapi.

“Wah…Uda mulai memuji nich…”

“Apaan sich Nil!” Ujar Nesa sambil menggelengkan kepalanya.

“Terus kerjaan kamu gimana?” Tambah Nesa mengalihkan pembicaraan.

“Kebetulan uda kelar…. ” Ucap Nila sebagai staff accounting di salah satu Universitas.

“Ayah dan Ibu gimana? Ntar pasti ngomel, aku nggak boleh nge kos lagi…..”

“Aku nggak hubungi Ibu sama Ayah, lagian mereka baru tadi pagi nyampek Banjarmasin. Tapi aku telpon kakakmu…ntar lagi mereka ke sini…”

“Wadew….jangan sampe dia ketemu Valdi. Bisa hancur mukanya…”

“Cie… ngebelain ya….” Nila tertawa kecil menggoda, Nesa hanya mencebikkan bibirnya.

“Tenang…kak Valdi nggak bisa datang, soalnya ada apa ya… pokoknya nggak bisa ninggalin kerjaan. Tapi dia pesen, kamu harus pulang ke rumah.” Lanjut Nila lagi.

“Si bapak kuatir banget sama kamu. Dia nggak ninggalin kamu sama sekali.” Tambah Nila.

“Ternyata tanggung jawab juga ….”

Nila tersenyum mengejek mendengar ucapan Nesa.

“Uda di akui ganteng, pinter, tanggung jawab,…terus apa lagi ya yang keluar dari mulut manis mbak Nesa ini?” ucap Nila dengan melirik dengan senyuman mengejeknya.

“Ada-ada aja kamu, Nil?!” sahut Nesa yang bersemu merah dan menahan senyum.

Nila mendengar derap langkah sepatu, dia menoleh dan mendapati Alvaro sedang berjalan ke arah ranjang Nesa.

“Aku ke depan dulu ya…kata perawatnya nggak boleh banyak-banyak yang nunggu.”

“Aku sama sapa?” Tanya Nesa dengan wajah melas.

“Ntar lagi si bapak datang, obat nyamuk mahal…”

“Gila….” Jawab Nesa dengan tersipu dan sedikit tersenyum.

“Mau kemana?” tanya Alvaro saat melihat Nila berdiri dari kursi.

“ke Lobby, nunggu kakaknya Nesa…aku tinggal dulu ya…” jawab Nila.

“Ok…” Jawab Alvaro singkat.

Pria itu duduk menggantikan posisi Nila.

“Ntar infusnya abis sudah boleh pulang, tapi harus libur dulu 2 hari.” Alvaro menjelaskan sambil memandang hangat wajah Nesa.

Nesa mengangguk.

“Bapak nggak pulang? kalo mau pulang nggak papa kok …ntar lagi ada kakak saya.”

“Kamu pulang sama aku Q….”

“Ntar ngerepoti….” ucap Nesa lirih dan melihat sekilas wajah Alvaro.

“Aku maksa! Kamu pulang sama aku…” Ujar Alvaro dengan tatapan tegas.

“Bapak uda makan?”

“Belum….”

“Ntar bapak sakit…..”

Alvaro tersenyum, “Terima kasih sudah mengkhawatirkan saya….”

‘sapa yang kuatir? itu cuma basa-basi, dari pada garing…’ batin Nesa.

“Nes…” sapa seorang pria. Alvaro berdiri dari kursi

“Kakak…” sahut Nesa.

“Saya Alvaro…” pria itu mengulurkan tangan, dan disambut oleh Vasco.

“Vasco, kakak pertamanya Nesa. Terima kasih uda jaga adik saya…maaf kalo dia merepotkan”

“Nggak kok! Itu uda kewajiban saya sebagai sesama pegawai Artlife harus saling membantu.”

Alvaro sedikit bergeser, memberi ruang Vasco untuk mendekati adiknya. Pria itu mencium kening adiknya, dan mengusap lembut rambut Nesa. Alvaro bisa melihat Vasco sangat menyayangi Nesa dengan sentuhannya.

“Mana yang sakit?” tanya Vasco dengan terus mengusap kepala Nesa.

“Cuma mual, tapi sekarang uda nggak…” jawab Nesa lirih.

Alvaro pun menjelaskan tentang apa yang disampaikan oleh dokter tadi.

“Iya, emang dia punya asam lambung. Kalo capek, kumat. Ntar kalo dia kepikiran, malas makan, kumat lagi. Makanya ayah sama ibu kuatirnya cuma di situ aja. Dia kalo banyak kerjaan, mesti harus selesai, kalo nggak selesai, dia nggak bakal makan. Kalo di rumah ada Ibu, dulu waktu skripsi sampe di suapin Ibu. Dia nggak keluar kamar sama sekali. Kecuali dia bosen atau cuek nya muncul…tapi jarang banget..” Vasco menanggapi.

Ocehan Vasco tadi membuat Alvaro semakin bersalah.

“Oh iya..administrasinya gimana?” tanya Vasco.

“Uda saya bereskan….” jawab Alvaro.

“Berapa? Aku transfer aja ya…”

“Nggak perlu! Nanti reimbust ke Artlife, biar aku yang urus….”

“Ok terima kasih…”

Tak berselang lama, Infus Nesa di lepas dan diperbolehkan pulang.

Nesa dan Alvaro berjalan ke valey parking. Vasco berpamitan untuk mengantar Nila pulang.

“Ntar kita ketemu di rumah…” ucap Vasco dan melambaikan tangan saat mobil Alvaro melewati mereka.

“Kamu mau makan Q?” tanya Alvaro saat diperjalanan.

“Tadi uda makan roti, di bawain Nila….”

“Q…..kita beli makanan dulu ya..aku laper….” ucap Alvaro dengan wajah memelas. Nesa menghela nafas, mau tak mau dia menuruti permintaan Alvaro.

“Tapi jangan lama-lama ya Pak. Kasian kak Vasco nungguin…”

“Bungkus aja kok…makannya ntar di rumah kamu ..boleh kan Q?”

Nesa hanya memberi jawaban dengan anggukan.

Akhirnya mereka berhenti di depan depot kecil.

“Kamu pengen apa Q?”

Nesa menggeleng.

“Di rumah ada siapa?” Tanya Alvaro lagi.

“Nggak ada, ibu sama ayah baru pulang 2-3 hari lagi…”

“Nggak ada ART?”

“Ada…”

“Pesan 10 bungkus cukup kan?”

“Untuk apa Pak? Kok banyak banget?”

“Buat semua yang ada di rumah kamu…”

“Ini uda malam Pak…saya nggak tahu mereka masih melek atau nggak…”

“Nggak papa, ntar bisa di kasih ke security…Kamu tunggu sini ya! Aku pesan bentar…”

Nesa hanya mengangguk, dan pria itu pun keluar dari mobil.

“Ntar di anterin ke sini ama waiters nya….” ucap Alvaro sambil duduk kembali di bangku kemudi.

“Iya Pak… terimakasih…”

“Ntar kalo orang tua kamu nanya gimana?”

“Nanya apa Pak?”

“Kenapa pulang….?”

“Bilang aja kangen. Kalo ngomong jujur pasti nggak boleh nge kos.”

“Kan enak tinggal ama orang tua…”

“Nggak mau! Ntar Nesa di jodohkan.” Ucap Nesa dengan menggelengkan kepalanya.

“Emang iya?” Tanya Alvaro dengan tersenyum.

“Nesa nggak tau pasti. Tapi ayah pernah ada rencana, dan hari itu Nesa merasa aneh. Jadi Nesa kabur aja….” Jawab Nesa dengan sesekali melihat Alvaro.

“Emang kenapa kalo di jodohkan? Kali aja cocok…”

“Nggak mau! Nesa nggak mau orang lain ikut campur untuk urusan ini. Supaya nggak ada penyesalan…”

“Emang kamu tau siapa pria yang di jodohkan sama kamu?”

“Nesa nggak tau, dan Nesa nggak mau tau….ntar malah nggak enak..”

“Nggak enak gimana? Kan tinggal tolak aja kalo kamu nggak mau….kalo mau ya lanjut…” Alvaro ingin tahu lebih dalam.

Nesa menoleh ke Alvaro.

“Nggak bisa gitu donk Pak…misal, keluarga kita uda ketemuan, Nesa juga ketemu pria itu, lalu Nesa tolak. Apa mereka nggak sakit hati? Itu kalo ditolak.
Misal…., Nesa terima perjodohan, lalu nikah, rumah tangga cek cok, pasti ada sedikit penyesalan, ini pasti gara-gara dijodohkan. Nesa nggak mau seperti itu Pak….” Nesa menjelaskan dengan sorot mata yang antusias. Alvaro sangat menikmati obrolan kali ini, obrolan diluar pekerjaan.

“Kadang kita juga bingung ..cara nolak nya gimana….nggak enak ati juga…” Alvaro menanggapi.

“Emang bapak pernah di jodohkan?”

Alvaro terkekeh dan menjawab, “Beberapa kali…dan yang bikin horor, ditodong suruh nikah. Padahal baru ketemu.”

Nesa tertawa mendengar pengakuan Alvaro. Dia membayangkan wajah Alvaro yang biasa tegas, sorot mata intimdasi, mulut pedas…. ketakutan di suruh nikah.

“Emang iya Pak? Gimana ceritanya?” Tanya Nesa yang belum berhenti tertawa. Alvaro terpesona dan tersenyum saat pertama kali melihat Nesa tertawa lepas tanpa beban.

“Aku pikir perjodohan seperti biasanya, ketemu dulu…. kalo aku atau dia nggak sreg, saling menghindari panggilan atau nggak bales pesan.

Nah…di hari itu…aku, mommy sama Daddy masuk kerumahnya. Illona, adik ku nggak mau masuk, dia lagi chit chat ama cowoknya, dia nunggu di mobil.

Layaknya tamu, kita duduk bareng, basa-basi bentar. Terus ada seorang bapak bilang….’masnya mempelai pria kan? Akadnya bisa dimulai sekarang?’

Kita kaget donk….belum liat orangnya, langsung nikah. Aku di suruh nikah siri dulu.

Daddy dan mommy langsung jelasin kedatangan kita, aku nggak konsen Daddy ngomong apa aja.

Buru-buru aku kirim pesan ke Illona, aku suruh dia pura-pura jadi pacarku yang lagi hamil. Illona datang sama aktingnya…terus kita di usir.”

Nesa tertawa terbahak-bahak mendengar cerita Alvaro, dia membayangkan bagaimana pria itu kebingungan dan gugup saat akan dinikahkan.

“Lalu gimana?” Tanya Nesa dengan sisa tawanya.

“Nama keluarga kita jadi buruk, dikiranya aku benar-benar hamili anak orang…nggak papa lah, dari pada aku nikah ama wanita yang belum jelas…”

“Kamu kayaknya seneng banget Q….kenapa?” lanjut Alvaro.

“Nggak papa kok Pak….” Jawab Nesa tak mau jujur dengan tersenyum.

‘kamu bisa ngoceh lagi kalo kamu tau yang aku bayangkan’ batin Nesa.

“Jadi sejak itu, aku nggak mau di jodohkan. Tapi Daddy sama mommy masih sering datang ke temannya sambil promosi anaknya ini ..ya aku cuma merespon tanya aja, anaknya gimana? Kerja apa? atau liat fotonya…”

“Jadi bapak_”

“Masih sendiri” lanjut Alvaro cepat.

‘Nah! Ngapain dia ngatain aku?! padahal dia jomblo juga.’ Batin Nesa.

Terdengar bunyi ketukan di jendela Alvaro, pertanda pesanan sudah selesai.

Mereka tiba di rumah, terlihat mobil Vasco sudah terparkir di garasi.

Nesa mempersilahkan Alvaro masuk.

“Q, pinjam piring sama sendok. Laper banget….Sekalian bawa buat ART ….”

Nesa bergegas ke dapur. Dalam hitungan menit Nesa membawa beberapa piring, sendok dan garpu.

“Makan yuk Q…” Ajak Alvaro lalu memasukkan suapan pertama.

Nesa hanya mengangguk dan tersenyum.

Gadis itu menyodorkan sebotol air mineral. Nesa melihat Alvaro tampak lahap dan menikmati nasi goreng . Aromanya membuat Nesa tergiur.

“Makan lagi nggak papa Q….” Ucap Alvaro yang merasa diperhatikan.

“Ntar nggak habis, itu porsinya banyak banget Pak….”

“Kamu maunya seberapa? Ntar sisanya kasih ke aku….”

“Nggak usah Pak…” jawab Nesa.

Alvaro menghabiskan suapan terakhirnya, dia mengambil sebungkus lagi lalu membukanya.

“Mau seberapa?” tanya Alvaro mulai menyendok nasi goreng ke piring yang kosong.

“Biar Nesa sendiri aja yang ambil…” Nesa meraih bungkusan dari tangan Alvaro.

Setelah mengambil beberapa sendok, Nesa hendak membungkusnya.

“Nggak usah dibungkus, aku masih kurang…” Alvaro meraih bungkusan dan menyuapkan ke mulutnya.

“Kok lama?” tanya Vasco sambil menghampiri mereka.

“Beli nasi goreng dulu….Kakak mau?” Nesa menawari kakaknya dengan mengambil piring lalu meletakkan sebungkus di atasnya, tak lupa sendok dan garpu.

“Mau donk Nes…lapar …” balas Vasco sambil membuka bungkusan.

Terdengar suara pria meneriakkan salam, mereka bertiga kompak menjawabnya.

Valdi berdiri di belakang sofa dimana Nesa duduk sambil menikmati nasi gorengnya.

“Kamu pasti kecapekkan….” ucap Valdi sambil mencium belakang kepala Nesa beberapa kali.

Alvaro bisa melihat bagaimana Nesa di sayangi olek kedua kakaknya.

“Anda ?” tanya Valdi saat melihat Alvaro.

“Saya Alvaro, kebetulan waktu pingsan saya ada di dekatnya…”

“Waktu pingsan, kamu nggak apa-apain dia kan?” tanya Valdi dengan tatapan dingin.

‘Waduh! Kok kakaknya yang satu gini ya?!’ batin Alvaro.

“Saya cuma angkat dia, gendong dia ke parkir mobil….ada yang salah?”

“Nggak ada yang salah! Saya takut aja adik saya di apa-apain…Soalnya dia cantik.” jawab Valdi.

“Kak Val apaan sich?!” protes Nesa sambil melirik Valdi yang ada di belakangnya.

‘Uda donk kak! Ntar dia balas dendam ngoceh di kantor….’ batin Nesa.

“Emang bener kamu cantik Dek….Iya kan?” Valdi bertanya dengan menatap Alvaro, mempertegas pertanyaan ini untuk pria yang mengantar adiknya.

“Iya dia cantik….” jawab Alvaro sambil melihat wajah Nesa sekilas.

“Kamu suka ama adikku?” lagi-lagi pertanyaan Valdi membuat Alvaro mati kutu.

‘Sialan banget kakaknya yang ini!’ Alvaro membatin.

“Saya laki-laki normal, tentu saya sangat menyukai wajah cantik adik anda…”

“Val! Mandi dulu gih! Nasi gorengnya keburu nggak enak lho…” Vasco menyelamatkan Alvaro dari Valdi. Kakak kedua Nesa pun menurut apa yang dikatakan kakaknya.

Dan tak lama, Alvaro berpamitan.

” Besok aku ke sini lagi ya….” ucap Alvaro sebelum memasuki mobil.

“Untuk apa Pak?” tanya Nesa sudah siaga.

“Bukan masalah kerjaan kok…”

Nesa hanya mengangguk tanda menyetujui.

Didalam mobil Alvaro membatin, ‘itu dua kakaknya, pria yang lain di konser siapa? terus yang gandeng dia siapa? Kakaknya yang satu kok serem ya….kalo ketemu ayahnya gimana?’

Bersambung

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Tamat