Complicated S2 Part 6

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Tamat

Cerita Sex Dewasa Complicated S2 Part 6 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Complicated S2 Part 5

“Nich mas….tolong bagikan rewardnya. Ambil reward aja masih dapat ocehan.”ucap Nesa saat meletakkan sejumlah reward yang berupa voucher minimarket.

“Dapat suplemen apalagi?” Tanya Fajar meraih reward sambil memeriksa list pemenang.

“Pokok nya admin selalu salah….Mas Fajar punya kenalan dukun?”

“Buat apa?” Fajar bertanya balik.

“Buat nyantet Almarhum…tapi Nesa cari dukun yang sudah punya sertifikasi standard internasional, biar mahal nggak papa.”

“Yang punya sertifikasi maksudnya gimana?” Tanya Umar menanggapi khayalan Nesa.

“Mantranya bisa lintas benua, lintas samudra dan negara…. Dimana pun dia berada, santet nya nyampek.”

“Mau nyantet gimana? Biar dia ngejar-ngejar kamu?” Tanya Vita dengan menggoda.

“Nggak mbak….males liat dia….”

“Ati-ati ama omongan, kalo kamu jodoh ama dia, mau bilang apa….” Celetuk Fajar.

“Amit-amit…”

“Tiap hari kalian ketemu lho, kata orang Jawa, Trisno Jalaran Soko Kulino.” Eja menambahkan.

“Mas….tiap hari ketemu, tapi di ocehi….sapa yang mau?! Respect aja nggak.”

“Nggak respect sama siapa?” Tiba-tiba terdengar suara berat.

‘Masya Allah… kira-kira dia dengar nggak ya?’ batin Nesa saat tahu siapa yang baru saja bertanya.

“Eh…ada pak Varo….” Vita menyapa dan tersenyum palsu, berusaha mengalihkan pembicaraan sambil melirik Nesa seolah berkata ‘Mampus….’

“Selamat pagi….dari kantor sini, saya baru kenal Vita dan Queen. Saya kesini mau kenalan dengan admin yang lain.” Ucap Alvaro yang masih berdiri dan menyapu pandang ke admin lainnya.

Akhirnya Vita memperkenalkan mereka serta tanggung jawab di bidangnya.
Suasana yang tadinya santai, mendadak tegang dan kaku.

“Kok kamu diem aja Q? Sakit gigi? Sariawan? kok kayaknya nggak welcome banget….” Alvaro menatap gadis yang rambutnya tergerai indah.

‘Sumpah! Mulutnya pengen aku stepless’ batin Nesa.

“Alhamdulillah sehat pak…Bapak janjian sama Bu Melda?”tanya Nesa dengan memaksakan senyum.

“Emang kalo saya kesini harus janjian sama Bu Melda? Nggak juga kan?! Tempo hari Bu Melda uda kasih ijin, kapanpun saya boleh datang ke kantor ini….tanpa konfirmasi pun beliau mengijinkan. Kamu keberatan kalo saya datang ke sini? Apa kamu takut ketahuan kalo kerjaan kamu nggak bener?”

‘Astaga…aku ngucapin berapa kata? Dia balasnya berapa kata….aku punya salah apa sich?’ lagi-lagi Nesa hanya mampu membatin.

“Nggak donk …Bapak kapan aja boleh datang kesini. Kalo kerjaan saya ada yang salah, saya menerima kritik dan saran kok Pak….” Ucap Nesa berusaha ramah dan selalu tersenyum.

“Ok, mungkin saya di sini sampe siang atau sore. Saya butuh ruangan. Ruang mana yang bisa saya pakai?”

“Bapak bisa pakai ruang CS A. Mari Pak!” Ajak Nesa dan melangkah mengantarkan Alvaro ke ruangannya. Admin yang lain bernafas lega saat Alvaro meninggalkan mereka.

Mereka tak berucap kata sama sekali.

Nesa dan Alvaro masuk ke ruangan, Nesa menyalakan AC dengan remote.

Alvaro meletakkan tas yang berisi laptop.

“Jangan keluar dulu!Sambungkan Wi-Fi nya!” Pinta Alvaro sambil mengeluarkan laptop.

Nesa mendekati meja, Alvaro menggeser laptop ke arah Nesa yang berdiri disampingnya.

Lagi-lagi Alvaro berdiri dibelakang Nesa, dengan jarak yang sangat dekat.

Membuat Nesa makin kaku dengan jantung yang berdebar.

‘Sekarang mau ngejek apalagi?’ batin Nesa.

“Begini lebih baik….” Bisik Alvaro, hidungnya sempat bersentuhan dengan rambut Nesa.

“Kenapa Pak?” Tanya Nesa.

“Rambutnya lebih baik digerai gini….” Alvaro kembali berbisik.

Pria itu menyukai aroma rambut gadis yang ada didekatnya, rasanya dia ingin membelai rambut Nesa yang tebal dan terlihat terawat.

“Sudah tersambung Pak…” Nesa menggeser laptop.

“Terimakasih Q…..” Lagi-lagi Alvaro berbisik.

Pria itu sedikit menjauh lalu berjalan dan duduk di balik meja.

“Ada lagi yang bisa saya bantu?”

“Sementara belum.”

“Kalo perlu sesuatu, bapak bisa hubungi saya” Nesa berusaha ramah sebagai tuan rumah.

“Ntar aku pesan makanan, tolong bawa ke sini ya….”

“Baik pak….”

Nesa keluar ruangan, melewati meja admin yang lain.

“Nes! Si Alvaro ternyata ganteng….Kamu kalo ama si Bapak betah ya? Deg-degan nggak? ” Tanya Eja.

“Ih betah apanya? Kalo bisa nggak usah ketemu…ya deg-degan… soalnya takut di omeli lagi. Emang kenapa mas?”

“Ngapain kabur? Kalo aku mah, pasti aku nikmati sambil melihat wajah tampan nya…bulu tipis di rahangnya…geli gitu kali yak kalo nempel di leher….” Ucap Eja sambil matanya menerawang dan membayangkan.

‘Tuh kan! Si terong mulai beraksi….’ batin Nesa.

“Astaghfirullah..kerja mas! Ntar orangnya muncul lho…aku belum siap kena omelan lagi” ucap Nesa lalu berjalan ke mejanya.

Para admin bekerja dengan suasana sepi dan menegangkan. Tidak ada lagu, tidak ada candaan, semuanya serius dengan pekerjaannya masing-masing.

***

Masih di kantor Nesa.

“Bapak pesan makanan lewat aplikasi online?” Tanya Nesa dengan menyembulkan sedikit kepalanya.

“Iya, Uda datang ya?!”

“Sudah….” Ucap Nesa memasuki ruangan sambil meletakkan satu tas plastik yang berisi satu kotak makanan dan minuman botol mineral.

“Terimakasih. Ini aku pesan di teman, dia beberapa bulan kemarin buka warung makan. Bilangin ke teman-teman kamu ya, coba makanan di situ. Enak kok….” Ujar Alvaro.

‘E a lah …Promo?! Dapat Endorse?! Kirain ditraktir…’ lagi-lagi gadis itu hanya berani membatin, lalu tersenyum dan mengangguk.

Nesa kembali ke mejanya.

“Nes….nggak makan siang?” Tanya Vita.

“Ntar mbak…ini masih rekap laporan.” Jawab Nesa sambil matanya menatap komputer.

Para admin meninggalkan Nesa sendiri di mejanya.

Beberapa menit kemudian.

“Kok kamu nggak makan siang?” Tanya Alvaro yang sudah berdiri di sebelah meja.

“Astaghfirullah!”

Nesa terkejut, karena dia terlalu fokus dengan pekerjaannya, hingga dia tak menyadari ada seseorang yang berdiri di dekatnya. Alvaro tersenyum melihat mimik Nesa yang sedikit sewot.

“Masih selesaikan laporan yang bapak minta.” Ucap Nesa seadanya.

“Coba aku liat….” Alvaro membungkukkan badannya, sebelah tangannya menyampir di sandaran kursi Nesa.

Mendadak tubuh Nesa menjadi kaku, jantungnya kembali berdegup kencang, matanya menatap lurus ke monitor.

‘Kenapa dia deket-deket gini sich? Mana tadi aku sarapan sambal bawang….nafasku bau nggak ya?’ batin Nesa untuk yang kesekian kalinya. Dia tidak bebas menghembuskan nafas seperti biasa, sekuat mungkin dia mengontrol hembusannya.

Gadis itu bisa mencium aroma maskulin dan segar yang menguar dari tubuh pria yang ada di sampingnya.
Nesa hanya melirik, pipi mereka hanya terpisah beberapa mili.

“Pengajuan yang pending banyak juga.” Bisik Alvaro.

Nesa hanya mengangguk kaku.

Alvaro menoleh, dia mendapati kekakuan wajah Nesa yang menatap monitor.

“Jangan lupa bernafas Q….aku nggak mau kamu mati.” Ucap Alvaro sambil menegakkan tubuhnya.

‘modus mu Pak….pasti kamu melakukan ini ke semua admin atau OM. Maaf …. aku tidak terbuai’ batin Nesa lagi.

Pria itu kembali ke ruangannya dengan senyum yang lebar.

‘wajahnya lucu kalo nggak berkutik’ batin Alvaro.

Nesa beberapa kali menghela napas saat Alvaro menjauhi mejanya. Gadis itu meraih gagang telepon. Dia menelepon cabang lain, dimana Office Manager nya terkenal paling cantik dan menarik.

Artlife 1 : Artlife selamat pagi….

Nesa : bisa dengan Office Manager? Saya dari Artlife 9.

Artlife 1 : ditunggu…

OM : Pagi dengan Desi ada yang bisa dibantu?

Nesa : mbak, ini Nesa. Artlife 9.

OM : o iya…kenapa Nes?

Nesa : mbak, pak Alvaro kalo minta data gimana?

OM : lewat telepon, perintah singkat, lalu aku kirim lewat email…

Nesa : orangnya uda pernah visit ke sana?

OM : pernah, bentar aja, kenalan lalu keluar…nggak sampe 10 menit di kantor sini. Kita sich pengennya lama, tapi ternyata pak Varo nya mau ke cabang lain. Emang kenapa?

Nesa : nggak papa…cuma nanya aja…ya uda, makasih banyak mbak Desi

OM : sama-sama.

‘sama Desi dia nggak gitu…lha sama aku kok gini? Di ocehi panjang lebar, deket-deket… maksudnya apa?’ batin Nesa.

Gadis itu pun kembali mengerjakan laporan. Hingga yang lain datang Nesa masih tenggelam dengan pekerjaannya.
Dan dia pun mengabaikan makan siangnya.

Sekitar pukul 16.30 Alvaro masih betah di ruangannya.

Terdengar suara telepon berdering di meja Nesa.

Gadis itu tahu siapa yang menghubunginya.

“Iya Pak?” Tanya Nesa.

“Bisa ke tempat saya sebentar?”

“Ma-maaf Pak, saya masih handle nasabah….” ucap Nesa berbohong.

“Ok! Kalo uda selesai ke ruangan ya….”

“Iya Pak….”

Pukul 17.15 Admin yang lain pulang, sisa Alvaro, Nesa dan Heru (OB).

“Kamu kok nggak ke ruangan saya?” tanya pria itu dengan menatap wajah Nesa datar.

“Seluruh yang Bapak perintah uda saya email, uda terima kan Pak?”

“Saya nanya…kamu kenapa nggak ke ruangan saya?” ucap Alvaro sabar.

“Hmmm…anu Pak…..” Nesa menunduk, dia merapatkan kaki dan memainkan jarinya.

“Kenapa Q?”

‘Please Pak….saya nggak kuat….tolong tinggalin saya sendiri….’ batin Nesa.

“Tadi ada marketing yang nanya nasabahnya.” Nesa berbohong lagi.
“Bapak nggak pulang?” Lanjut Nesa.

“Kenapa? mau bareng?…ayok!”

Nesa menggeleng, “Saya uda langganan ojek Pak…”

“O..gitu..ya uda, saya pulang duluan…ati-ati ya…”

Nesa mengangguk. Pria itu meninggalkan Nesa sendiri di mejanya.

“Mas Heru! Cepetan lari!” teriak Nesa saat melihat bayangan tubuh Alvaro keluar dari kantornya.

Pria yang bernama Heru pun mendatangi Nesa dengan tergopoh-gopoh.

“Kayak biasanya ya! Cuss Mas…..Aku ke toilet! Dan tolong matikan lampu depan!” ucap Nesa dengan memberikan selembar uang. Heru mengangguk, lalu meninggalkan Nesa.

Nesa berdiri dari kursi, dan berjalan menuju toilet.

“Q?”

Tubuh Nesa kembali kaku dan perlahan menoleh ke sumber suara.

“Kamu….” Alvaro tak melanjutkan kata-katanya saat melihat bercak merah di bagian belakang rok yang berwarna krem.

Nesa menitikkan airmata, malu…. kesal….lelah menahan emosi yang tidak stabil…..semua menumpuk jadi satu.

“uda beli pembalut?” tanya Alvaro dengan hangat. Pria itu merasa kasihan melihat Nesa yang menitikkan air mata.

“Sudah, Mas Heru baru berangkat beli….” ucap Nesa lirih dengan suara parau. Perlahan tangan Nesa mengusap pipinya.

“Nich! Tutupi pake ini! Kamu pulang sama aku…” ucap Alvaro sambil melepaskan jas nya dan mengulurkan ke Nesa.

“Ntar jas Bapak kotor…”

“Terus kamu keluar gedung gimana? kalo kamu punya cara lain ya nggak papa”

Mau tak mau Nesa menerima jas Alvaro.

“Saya ke toilet dulu ya Pak….”

“Hm” jawab Alvaro. Dia berdiri bersandar di dinding dekat pintu toilet.

Tak lama Heru datang.

“Mana?!” jawab Alvaro sambil menengadahkan tangannya.

Dengan patuh Heru memberikan bungkusan kecil kepada Alvaro.

Dia membuka bungkusan pembalut, lalu mengetuk pintu.

Nesa membuka sedikit pintu, ‘kok dia yang ngasih?’ batin Nesa saat tahu siapa yang memberikan pembalut.

“Terima kasih” ucap Nesa.

Usai dengan keperluannya, mereka berdua keluar gedung. Nesa memakai jas Alvaro yang terlihat kebesaran di tubuhnya, menutupi bercak yang ada di roknya.

Pria itu hanya tersenyum ketika dia menoleh, dia menemukan wajah Nesa yang menunduk malu saat berjalan menuju parkir. Gadis itu berusaha sembunyi di balik tubuh besar Alvaro.

“Ini saya duduknya gimana Pak? takut kena jas nya…” ucap Nesa lirih.

“Bentar…”

Alvaro mengambil sesuatu di bangku belakang, lalu dia meletakkan dan merapikan sesuai ukuran jok di sebelah kemudinya.

“Lepas jasnya, kamu duduk di situ…”

“Ntar kena kaosnya….”

“Pilih kena kaos? atau kena jas? atau kena jok? kalo kena…ya kamu yang cuci…kamu harus tanggung jawab…” ucap Alvaro panjang lebar.

‘ Astaga…nasib orang nebeng gini amat ya….’ batin Nesa sambil masuk ke dalam mobil.

Saat di mobil, untuk mencairkan kekakuan, Alvaro bertanya tentang para admin. Nesa menjawab seadanya.

“Kenapa kamu nggak minta tolong mereka?” tanya Alvaro.

“Mereka banyak kerjaan Pak” jawab Nesa, ‘benernya sok sibuk’ lanjutnya dalam hati.

‘Dasar Pengkhianat!’ batin Nesa mengumpat Vita dan Eja.

Hari itu Nesa kedatangan tamu bulanan, namun dia hanya menemukan 1 pembalut di lacinya. Biasanya gadis itu minta tolong Vita atau Eja untuk membeli pembalut, dan biasanya dengan senang hati mereka menolong Nesa, sekalian jalan-jalan ke mall.

Namun hari ini berbeda, karena kedatangan Alvaro, 2 orang itu berubah menjadi pegawai yang rajin dan teladan. Tidak beranjak dari meja, kecuali ke toilet dan makan siang.

Mereka takut jika mereka di panggil sewaktu-waktu oleh Alvaro.

Dan akibatnya, pembalut yang dipakai Nesa tak mampu menampung, dan berujung menembus rok seragam Nesa.

***

Hari telah berlalu.

Setiap hari Nesa mendapat telepon dari Alvaro hanya untuk menerima perintah.

Walaupun mengeluh kepada Imelda, tetap saja tak ada perubahan.

‘Turuti aja kata Pak Varo. Kasih semua yang dia minta….’ titah Imelda membuat Nesa mati kutu.

Dia hanya berani mengumpat dalam batinnya. Dan makin lama, Nesa sudah kebal dengan ocehan pedas yang di ucapkan Alvaro.

‘Besok, hari Jum’at, jam 15.00, kamu ke tempatku. Ada laporan yang aku nggak ngerti. Do not be late!’ Nesa membaca pesan dari Alvaro tanpa gairah hidup.

Dan tiba hari Jum’at.

“Ya…masuk!” teriak suara seorang pria.

“Pagi Pak…..” Nesa menyapa dengan wajah datar, dia sudahh bersiap mendapat ocehan pedas lagi. (fyi; di dunia asuransi, pagi, siang, sore, malam… selalu ‘SELAMAT PAGI’)

“Duduk!” Alvaro memerintah. Gadis itu pun duduk di depan meja Alvaro.

Sang pria menggeser laptop nya ke arah Nesa.

“Tolong jelaskan progress klaim meninggal no polis 12345678, Dede Wicaksono. Aku nggak ngerti maksudnya apa…”

Nesa menggeser laptop Alvaro agar lebih dekat.

Dia menamati barisan kolom yang terpampang di monitor.

“Maksudnya… semua permintaan sudah kami kirim, Pak. Tapi belum ada keputusan lagi dari pusat.”

“Permintaan terakhir apa? kalian kirim kapan?” lanjut Alvaro yang kini berdiri.

“Diminta akte lahir anaknya, uda kirim minggu kemarin.” jawab Nesa melihat sekilas sosok Alvaro yang berjalan disekitarnya.

‘Allahu Akbar! Bapak sentuh saya, kita duel!’ Nesa menyebut dalam batin saat dia melihat kedua lengan kekar berada disamping kanan kirinya, mengungkung tubuhnya. Lagi-lagi tubuh Nesa menjadi kaku dan tegang, dengan jantung yang berdetak kencang.

“Harusnya kamu kasih info, tanggal sekian ….kirim Akte di kolom itu.” bisik Alvaro, ‘Gemes banget…pengen merengkuh…’ Alvaro membatin dengan menikmati aroma rambut Nesa.

“I-Iya Pak” jawab Nesa lirih

“Coba scroll ke bawah…mungkin ada yang kurang jelas lagi.” bisik pria iu lagi

Tak menjawab, Nesa hanya melakukan perintah Alvaro.

“Besok masuk?” tanya Alvaro dengan masih berbisik, pria itu menyukai aroma rambut berikut aroma harum tubuh Nesa.

“Libur Pak….” jawab Nesa lirih.

“Nggak kencan?”

“Belum ada yang ngajak kencan …..”

“O…kasian ya…cantik-cantik, tapi malem minggunya anyep.”

‘Tolong….mulut dikontrol….minta ditabok sandal’

“Ya beginilah nasib saya….” Nesa menjawab dengan datar dan pasrah.

“Aku laper, kita ke kantin sambil bahas laporan ini yuk!” ucap Alvaro sambil menegakkan tubuhnya, dia kembali duduk di kursinya.

“Maaf Pak saya sudah makan…” Nesa menanggapi, ‘ntar kalo di publik, yang lain bisa dengar ocehanmu ..viral…masuk akun lambe….. malu seribu pulau Pak…’ lanjutnya dalam hati.

“Lho..yang ngajak kamu makan sapa? aku bilang ….aku lapar, berarti aku yang makan…kamu mau makan atau nggak ya terserah….”

‘Tuh kan! Mending disini aja Pak….mau ngomong pedes terserah..cuma saya yang denger…’

“masih work Hour Pak, nggak enak kalo diliat yang lain.”

“O..iya..bener juga. Laporannya sudah?”

“Sudah Pak!”

“Ok, kamu matikan aja komputernya. Kamu boleh pulang…”

“Iya Pak….” Nesa menurut.

Gadis itu mematikan laptop, Alvaro hanya melihat setiap gerak geriknya. Nesa merasa jika dia diperhatikan, sesekali dia melihat Alvaro hingga mata mereka bertabrakan.

“Ada yang salah dengan saya?” tanya Nesa sopan sambil memasukkan laptop ke tasnya.

“Nggak ada, heran aja ama cowok di kota ini. Apa mereka nggak liat wanita secantik kamu?”

‘Eh?! Dia ngomong apa? mesti ati-ati nich…perasaan nggak enak…’batin Nesa dengan heran mendengar kata pujian dari mulut Alvaro.

“Belum ketemu jodoh” jawab Nesa menaikkan kedua bahunya dengan tersenyum manis.

“Atau jangan-jangan kamu matre ya? Kamu maunya sama cowok yang sudah punya rumah beserta isinya, dan mobil mewah….Harusnya kalian sebagai wanita juga bisa mikir. Misal nich ya, anggap cowok kamu pegawai, gajinya 7juta, untuk biaya hidup sekitar 2 juta. Sisa 5 juta. Kalo dia bekerja di usia 24 tahun, lalu si cewek minta rumah.Kira-kira di usia berapa dia harus menikah? Harga rumah berapa? Buat Dp berapa? Cicilan berapa? Belum lagi biaya hiburan, kita sebagai manusia butuh hiburan…lalu biaya nikah? Harga rumah nggak murah lho…. ” Alvaro kembali dengan ocehannya, lagi-lagi Nesa mendapat ceramah.

‘Wah…ini pelajaran matematika atau fisika ya? Aku cuma taunya biologi, topik reproduksi…atau jangan-jangan dia marketing property seperti ayah? promo rumah murah…’ Nesa membatin.

“Saya tidak menargetkan suami saya harus punya ini itu kok Pak….yang penting dia bisa membahagiakan saya…” jawab Nesa datar.

“Walaupun dia tidak punya apa-apa?” tanya Alvaro.

“Nggak mungkin calon suami saya nggak punya apa-apa…yang penting dia punya otak untuk berpikir dan berusaha bertanggung jawab menghidupi keluarganya…dan tentunya punya iman, supaya dia ingat jalan rumahnya…nggak di ganggu setan…”

“hmmm…Kamu asli dari kota ini?”

“Ayah Ibu asli Surabaya semua….”

“Kenapa kamu ngekos?” tanya Alvaro yang pernah beberapa saat lalu mengantarnya.

“Pengen mandiri ”

“O…Kirain ada masalah antara orang tua dan anak…”

“Saya tiap weekend pulang ke rumah kok Pak …kami nggak ada masalah…”

“jadi sekarang mau pulang ke rumah?”

“Iya pak…..”

“ya uda, buruan pulang…ntar ditunggu orang tua ..ati-ati ya…” ujar Alvaro.

‘tumben ramah…takut aku aduin ke ayah ya? Buruan keluar Nes…daripada dengar ocehan lagi’ batin Nesa dengan mengangguk dan tersenyum tanda berpamitan.

Bersambung

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Tamat