Complicated S2 Part 5

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Tamat

Cerita Sex Dewasa Complicated S2 Part 5 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Complicated S2 Part 4

Rabu

‘Mbak Vit, aku ke kantor pusat dulu. Disuruh Almarhum ambil soft copy New SOP ‘ isi pesan Nesa kepada Vita.

Nesa mengetuk pintu.

“Masuk!” pinta suara berat dibalik pintu.

“Pagi Pak, saya mau copy file…” ucap Nesa saat memasuki ruangan.

Dia berdiri di depan meja, sedangkan Alvaro duduk sambil menatap lekat sosok Nesa.

“Kamu uda makan Queen?”

‘Tanya makan mulu, tapi nggak di traktir.’ kata Nesa dalam hati.

“Sudah Pak….”mau tak mau Nesa harus menjawab.

Alvaro berdiri, dia berjalan medekati Nesa, dan berdiri tepat di belakang Nesa.

‘dia ngapain di belakangku?’

Nesa bisa merasakan hembusan nafas Alvaro di lehernya membuat beberapa bagian tubuhnya merinding. Tubuhnya tegak dan kaku.

‘ini apalagi Ya Allah….’

“Lain kali rambutnya di gerai aja Q…” suara berat Alvaro berbisik di telinga Nesa.

“Ke-Kenapa Pak? Bukannya Peraturan Company mengharuskan rambut dikuncir atau dicepol? supaya rambut tidak mengganggu aktivitas kita….” sahut Nesa dengan kaku, jantungnya berdetak kencang karena gugup.

‘Lehermu mengganggu konsentrasiku’ batin Alvaro.

Lalu pria itu duduk di sudut meja, jarak mereka sangat dekat, Alvaro menatap lekat wajah Nesa dari samping. Nesa hanya menunduk sesekali melihat Alvaro, mata mereka saling bertabrakan, lalu gadis itu menunduk lagi.

“Kalo rambutmu dikuncir, kamu terlihat lebih tua. Kamu nggak mau di sebut ‘muka boros’ kan?!” Alvaro mencoba mencari alasan.

‘Tuhan…di mulutnya ada apanya ya?! kok kalo ngomong pedes amat…bikin hati panas…’ Nesa hanya mampu membatin, gadis itu ingin mencabik dan mencakar mulutnya.

“Gitu ya Pak? Terima kasih atas sarannya, besok saya gerai….” jawab Nesa berusaha sabar.

“Bagian depan di jepit, supaya nggak ke depan kalo nulis…”

‘Tauuuuuuu Pak…..lemes amat mulutnya’.

“Iya Pak..”

“Mana Flashdisc nya?” tanya Alvaro yang masih menatapnya.

Nesa tak menjawab, dia membuka tote bag nya dan mengambil FD, lalu meletakkan di tangan Alvaro yang sedang menengadah.

‘Aku ingin menyentuhnya’ Alvaro membatin saat merasakan telapak tangannya menerima FD dari Nesa. Tapi sayangnya mereka tidak bersentuhan sama sekali.

Alvaro kembali duduk di balik mejanya, setelah menyalin file, dia memberikan FD dengan meletakkan FD di meja, tepat di depan Nesa berdiri.

“Terima kasih….Ada lagi Pak?” tanya Nesa dengan menatap wajah Alvaro.

“Maksudnya apa?” Alvaro balik bertanya.

“Maksud saya, nggak ada lagi yang dibawa ke KPM? supaya nggak bolak-balik….”

“Sementara belum ada, nanti kalo saya ingat, kamu mau kan balik lagi ke sini?!”

‘APA?! Emang aku nggak ada kerjaan?! Dokumen numpuk Piiiaaakkkkkkk….’ lagi-lagi Nesa hanya berani menggerutu dalam hati.

Nesa tersenyum paksa dan berkata, “Iya Pak, ntar Bapak telpon kantor aja…”

“Emang harus telpon ke kantor?! Kalo aku WA atau telpon ke ponselmu nggak boleh?”

Nesa malas berdebat dan mendapat ocehan panas lagi.

“Boleh Pak…” jawab Nesa pasrah.

Akhirnya gadis itu keluar ruangan.

Pria yang bernama Alvaro tersenyum dengan lebar.

************

Kamis , sekitar pukul 18.00

Nesa baru saja usai mandi. Dia berdiri didepan cermin menyisir rambutnya yang lebat.

Tiba-tiba ponselnya berbunyi, hanya nomor, tidak ada nama.

Nesa pun menerima panggilan.

Nesa : Halo…..

Alvaro : Queen?

Nesa terkejut siapa yang menelponnya.

Nesa : Iya Pak….

Alvaro : kok lama sich ngangkatnya….

‘uda syukur aku terima, benernya nggak usah aku angkat’ Nesa menggerutu dalam hati dan mencebikkan bibir. Nesa menyesal dia tidak memberi nama pada nomor Alvaro.

Nesa : maaf Pak, baru selesai mandi.

Alvaro : mandi?! kamu sudah pulang?

Nesa : sudah Pak….

Alvaro : Enak kamu ya! (dengan nada tinggi)

Hati Nesa mencelos mendengar nada dan kalimat yang di ucapkan Alvaro, jantungnya berdetak kencang karena takut akan berbuat salah lagi.

Alvaro : Sampe sekarang aku dikantor nunggu laporan harianmu, tapi kamu nggak kasih laporan….malah pulang. Kamu pikir aku nggak pengen pulang? lalu mandi? lalu bersantai? Maksud kamu apa?

Nesa : maaf Pak..biasanya kalo nggak kirim laporan, berarti di anggap tidak ada pengajuan baru….

Alvaro : Aku nggak mau seperti itu lagi ya! Mungkin tidak ada laporan memang zero. Atau bisa saja admin nya lupa……sebenarnya ada pengajuan tapi dia lupa kirim laporan. Pokoknya tiap hari kamu harus lapor! Ada atau nggak ada pengajuan nasabah baru, harus lapor…..

Nesa : Iya Pak, maaf……(Nesa berucap lirih)

Alvaro : besok sore ke kantor! Ambil reward agent……

Nesa : Baik Pak.

Alvaro : Ya uda, gitu aja….

Alvaro mengakhiri pembicaraan.

Nesa duduk dengan tubuh lemas, tadinya dia mau keluar mencari makan malam di ujung kampung.

Setelah mendapat telpon tadi, nafsu makannya menghilang, dia malas melakukan apa-apa.

‘Besok apa lagi?’ ucapnya lirih. Kalimat yang diucapkan Alvaro membuatnya malas melanjutkan aktivitas lagi, hingga dia pun tertidur tanpa makan malam.

***

Jumat

Nesa menceritakan tragedi telepon kepada teman-temannya sebelum memulai aktivitas kerja.

“Aku semakin mantap pengen resign. Nggak kuat….” ucap Nesa.

“Sapa yang resign?” tanya seorang wanita paruh baya dengan berjalan menuju arah Nesa dan para admin. Mereka tak sanggup melarikan diri ke meja masing-masing.

“Nah…ada bos datang…” bisik Vita.

“Anu Bu…..” Eja mencoba menetralisir suasana.

“Nesa Bu….”ucap Umar santai.

“Kenapa Nes?” tanya wanita itu. Perlahan 3 pria itu meninggalkan area dan menuju meja masing-masing.

“Bu Melda uda tau Development yang baru?” tanya Nesa.

“Pak Varo?” tanya wanita yang bernama Imelda balik bertanya.

Nesa dan Vita semangat menganggukkan kepala.

“Ya kenal! Kalian training pagi, lalu kita sore nya lanjut makan malam.”

” Ibu nggak pengen minta ganti?” tanya Nesa sopan

“Kenapa? orangnya ganteng, ramah….” Imelda memberikan penilaian tentang Alvaro.

“Ramah? Kemarin sama admin nggak gitu lho Bu…jutek…” Vita bersuara.

“Bukan jutek, mungkin tegas ….” Imelda mencoba menengahi.

“Belum seminggu dia handle kita, saya uda kena semprot beberapa kali Bu….” Nesa mengadu.

“Yang kamu lakukan sudah benar?”

“Saya memang salah, tapi cara ngomong nya itu lho Bu…nyelekit… Cara penyampaiannya nggak enak… Harusnya dia kursus Public Speaking dulu.” lagi-lagi Nesa mencurahkan isi hatinya.

“Kemarin sama kita baik aja, malah banyak becandanya…..” balas Imelda.

“Rasanya saya salah terus…. Jadi Ibu nggak ada rencana ganti dia?” Nesa mencoba bertanya lagi, mungkin ada harapan.

“Kita belum tahu bagaimana cara dia membantu kita untuk mengembangkan kantor ini. Kalo hasil penjualan makin menurun, saya berhak minta ganti.” ucap Imelda meluruhkan harapan Nesa.

“O…gitu…” jawab Vita pasrah.

“Ok….Selamat bekerja……” sahut Imelda dan dia melanjutkan melangkah ke ruangannya.

“kayaknya dia pake susuk atau jimat, mbak Vit…..” Ucap Nesa.

“Jimat apa Nes?”

“Kayak pengasihan gitu..atau apa ya…?” Nesa susah menjelaskan apa yang ada dipikirannya.

“pokoknya supaya di senengi banyak orang….. walo tingkah busuk, tapi orang-orang tetep suka ama dia. Tapi sayang…. aku jadi eneg liatnya!” lanjut Nesa.

“Udaaaaa…Kerja! Tuh…banyak dokumen yang harus di scan, ntar sebelum pulang, jangan lupa ke papa Al dulu…” Vita menggoda.

Nesa tidak menjawab, dia memajukan bibirnya.

***

Jumat sekitar pukul 16.00, Nesa duduk manis dan sopan di hadapan Alvaro. Dia berharap hanya mengambil reward saja, namun sayang….itu hanya angan.

Pria itu dengan lancarnya berbicara panjang lebar, mengulang, mengungkit dan menyalahkan masalah laporan kemarin.

Sedangkan Nesa hanya manatap kosong, pikirannya jauh melayang, dia melihat jam di dinding, waktu sudah melewati pukul 17.30.

‘okay..kita lembur bagai quda hanya mendengar radio rusak. Terserah Bapak mau ngomong apa… Terserah! Bodo amat!’ batin Nesa dengan kesal.

“Queen! Kamu ga dengerin ?! kamu ngelamun?! mikir cowok kamu ya?!” Alvaro menegur saat sorot mata Nesa terlihat tak memperhatikan apa yang dia ucapkan.

“Nggak Pak, bukan gitu…..” jawab Nesa lesu. ‘Kamu cerewet banget Pak, aku males dengernya…’ lanjut Nesa dalam hati.

“Nggak apa?” Alvaro menatap dengan mengernyitkan dahi.

“Nggak ngelamun…., Nggak punya cowok” jawab Nesa lirih. ‘ketahuan kan kalo aku nggak laku, turun derajat bang…..’ batin Nesa dengan menunduk.

“Alah..alasan! ngaku aja kamu mikirin cowok!”

“Beneran Pak, saya belum punya cowok” ucap Nesa dengan mengangkat wajahnya sebentar, menatap Alvaro sekilas lalu menunduk lagi.

“Kenapa ga nyari?”Alvaro berusaha mengorek.

“gimana bisa nyari Pak? Senin-Jumat kerja, kadang lembur. Sabtu kadang juga masuk. Minggu istirahat kumpul keluarga ngilangin penat”

“ya… kamu cari yang lingkungannnya sama dengan kamu donk”

“maksudnya cari pacar di lingkungan kantor saya? yaaah…si Bapak….”

“emang kenapa? Nggak mau?” Alvaro penasaran

“Si Umar uda punya bini, ga mungkin donk saya jadi pelakor, ntar kena azab.

Si Eja ganteng…., tapi orangnya agak belok.

Si Fajar, ilmu agamanya bikin minder Pak, dia mau nya ta’aruf…..kalo ama saya ya bukan ta’aruf lagi..wong ketemu tiap hari..”

“kan banyak marketing juga”

“Pak..kalo bisa jangan ama orang sesama cabang, kan _”

“jadi kamu pengen aku jadi pacar kamu? karena saya orang Pusat dan kamu cabang? gitu?! jadi ini cara kamu menyatakan cinta?” Potong Alvaro.

‘ih…nich manusia Pe De banget yak.’ Nesa membatin lagi.

“Astaga….saya ga mau menyatakan cinta duluan….. gengsi Pak!”ucap Nesa yang uda lelah menjawab.

“kalo kamu cinta?”

“Nggak akan bilang duluan, saya pendam dulu…..”

Alvaro tersenyum mendengar ucapan Nesa.

“Reward uda kamu bawa semua? Kamu boleh balik.. ”

“makasi Pak” ucap Nesa sopan dan berdiri dari kursinya.

“ntar aku telpon”

“untuk apa ya Pak?” Nesa menoleh, ‘siraman rohani apalagi yang akan aku terima?’

“Aku telpon kalo ada yang harus di revisi tentang laporanmu. ”

“Bapak jangan telpon, lewat chat aja”

“emang kenapa?! suara aku jelek banget ya sampek kamu ga mau dengerin?”

“Bukan Pak….” Nesa menjawab hampir putus asa.

“terus kenapa?”

“kalo telpon…. saya bingung, konsen ke suara bapak dan pekerjaan, malah ga kelar-kelar” rasanya Nesa sudah hampir menangis, lelah berdebat.

“ya uda, lewat chat aja, tapi di respon lho ya..responnya jangan lama-lama, karena kerjaanku bukan hanya mengawasi kantormu aja, kalo cabangmu selesai, aku geser ke cabang yang lain”

“tapi hati bapak ga bercabang kan?”

Alvaro terkejut mendengar ucapan Nesa dan mengangkat kedua alisnya.

“kamu ngomong apa?!” Alvaro mendengar ucapan Nesa, tapi pria ingin mendengar sekali lagi. ‘Astaga…kayaknya salah ngomong, bakal lama lagi di ruangan panas ini’ gumam Nesa dalam hati.

“maksudnya hati bapak ga bercabang untuk ke perusahaan lain kan?” Nesa menegaskan pertanyaannya.

“ya ngga lah…kan aku masih sayang sama kamu”

” HAH?” ganti Nesa yang terkejut.

“maksudnya perusahaan ini, cabang mu..kamu jangan ke Ge Er an ya” Alvaro merevisi kalimatnya.

“o..iya Pak…kalo gitu saya permisi”

“Hm…” balas Alvaro.

‘ish, sapa yang ke Ge Er an, sapa yang mau sama kamu Almarhum? Mulut mu lebih lemes dari aku. Jiwa gosip ku tersaingi kalo sama kamu….’ batin Nesa dengan langkah menuju keluar ruangan.

‘ting’ pintu lift terbuka. Nesa melangkah masuk ke dalam lift.

Saat pintu lift akan menutup, tiba-tiba ada telapak tangan yang menahannya.

‘ya…dia lagi..dia lagi’ batin Nesa saat sosok Alvaro masuk ke dalam lift, kini mereka hanya berdua. Nesa berdiri di pojok lift.

“Kok kamu baru turun?” Tanya pria yang berdiri di depan Nesa, bersandar di dinding lift.

“Antri Pak…jam pulang rame…” Jawab Nesa seadanya tanpa melihat Alvaro.

“Kirain nunggu saya….”

‘gimana-gimana?! Nunggu situ?! Ngapain?! Dengerin ocehan lagi?’ Nesa tak menjawab.

Tiap lantai lift selalu terbuka, untuk menambah penumpang.

Makin lama, lift semakin berjubel, mau tak mau Alvarao bergeser ke arah Nesa.

Pintu lift terbuka lagi, ada seorang pria kurus tepat berdiri didepan pintu.

“Yah…penuh…” Ujar pria kurus.

“Coba masuk dulu aja Pak, kalo bunyi reminder ya terpaksa bapak keluar…..” Teriak Alvaro, dan pria kurus itu pun berhasil masuk dalam lift.

Otomatis yang lain bergeser, dan tubuh hampir berhimpitan.

Pria itu tak mau membuang kesempatan, dia pun menggeser badannya. Nesa bisa melihat ujung sepatu Alvaro yang menghadap dirinya. Perlahan wajah Nesa mendongak, dia mendapati Alvaro sedang memandangnya, kedua tangan Alvaro tersimpan dibalik saku celananya.

“Kok bapak hadap sini?” tanya Nesa lirih. Tangannya menahan dada Alvaro supaya tidak makin dekat. Nesa bisa merasakan degup jantung pria yang ada didepannya, sedangkan Alvaro merasakan beberapa bagian tubuhnya meremang akibat sentuhan tangan si gadis.

Pelahan Alvaro menundukkan wajah, mendekat ke telinga Nesa.”Rasanya nggak sopan kalo aku membelakangi kamu. Kenapa? kamu takut dadaku kena payudaramu?”

‘Astagfirullahallazim….otaknya..’ batin Nesa dengan melirik lelaki yang ada di sebelahnya kuatir mendengar yang di ucapkan Alvaro.

“Tenang aja, dadamu nggak terlalu besar…walo sedekat ini nggak akan bersentuhan.” lanjut Alvaro.

“Syukur dech, jadi walo deket gini, Bapak tidak akan bergairah ….” Nesa ikut berbisik.

“Sapa bilang?! kamu tetap menggairahkan Q…walo dengan wajah lusu dan berkeringat ” bisik Alvaro dengan menghembuskan nafas.

‘kayaknya ada setan lewat… biasanya kalo merinding ada setan kan?’ batin Nesa saat merasakan hembusan Alvaro di telinga dan sekitar lehernya, membuat bulu kuduknya merinding.

Terdengar tanda pintu lift terbuka, semua penumpang lift keluar, dan Alvaro menjauhkan tubuhnya.

Nesa keluar lebih dulu dengan tergesa, sedangkan pria itu hanya bisa tersenyum berjalan santai sambil melihat punggung Nesa.

***

Tiap Sabtu dan Minggu, Nesa dan Nila selalu di salon kecilnya. Mereka datang 1 jam sebelum para pegawai datang.

Di hari-hari itu, pengunjung lebih rame. Mereka tak sungkan untuk untuk membantu dan melayani langsung, kecuali potong rambut. Mereka menyerahkan ke ahlinya.

“Minggu ini berat banget…bikin panas hati…” Ucap Nesa sambil merapikan majalah kecantikan.

“Kenapa? Ceritanya sambil creambath aku ya…mumpung masih pagi” Ucap Nila seolah mengerti isi hati sahabatnya.
Nila tahu bagaimana cara Nesa mengeluarkan kemarahannya, energi dan emosinya akan tersalurkan dengan memijat kepala Nila.

Akhirnya Nesa pun bercerita sambil memijat kepala Nila dengan gemas, kepala sahabatnya sebagai tempat pelampiasan. Tapi dia tidak bercerita ketika Alvaro menggodanya.

“Ati-ati kalo ngomong…kalo ada yang dengar, malah hancur reputasimu…” Ucap Nila menasehati.

“Aku cuma berani membatin, nggak mungkin aku ucapkan…. Bisa-bisa KPM ku nggak dibantu. Terus dia ngadu ke Bu Melda, Bu Melda ngomong ke Ibu….jadi jelek donk nama Isti Lovenza” Nesa menyebutkan nama ibunya.

“Orangnya ganteng?” Tanya Nila.

“Ganteng kan relatif…ya bisa dibilang good looking lah….Emang kenapa?” Nesa balik bertanya.

“Kali aja bisa di gaet….”

“Mbak….yang jelek aja nggak mau nge gaet kita… apalagi yang ganteng. Lagian ya….jaman sekarang orang ganteng saingannya bukan sesama perempuan aja, tapi ama laki juga….”

Nila tertawa mendengar keluhan sahabatnya.

“Benar! Betina jual mahal, yang terong gencar….jadinya si terong yang dapat” Ucap Nila disusul kekehan kecilnya.

“Aku juga nggak mau hubungan ama orang ganteng…ntar aku dibuat mainan….inget Rama kan?” Nesa kembali mengingatkan pengalaman kencannya.

Tak berselang lama, pegawai salon datang, mau tak mau mereka menghentikan pembicaraannya.

Bersambung

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Tamat