Complicated S2 Part 3

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Tamat

Cerita Sex Dewasa Complicated S2 Part 3 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Complicated S2 Part 2

Beberapa tahun kemudian

“Yeay! Akhirnya di setujui juga!” pekik gembira seorang gadis.

Gadis itu memutar pergelangan seperti menggulung benang, sambil manggut-manggut, menggoyangkan badan mengikuti irama alunan lagu ‘Kopi Dangdut’ yang terdengar di ruangan.

“Napa Nes?” tanya seorang wanita yang ada di salah satu kubikel.

“Klaim nya di setujui mbak, akhirnya bisa bebas dari omelan nasabah.” balas gadis yang masih berjoget.

Dia Vanesa Laksono Queen, usia 26 tahun yang bekerja sebagai administrasi di Kantor Cabang Asuransi, tepatnya sebagai sekretaris pemilik KPM (Kantor Pemasaran Mandiri) merangkap CS, dia juga memiliki salon kecil bersama sahabatnya Vanila.

“baru 1 nasabah Nes, masih ada klaim dan pending case yang lain.” ucap wanita yang bernama Vita bagian pengajuan asuransi.

“mbak tau sendiri kan, gimana keluarga itu ngejar-ngejar klaimnya supaya cepet kelar. Makan siang aja ga sempet mbak, adaaaaaa aja. Kalo yang lain masih bisa di ajak ngomong, kalo keluarga ini ……, rasanya ga bisa di kasih bahasa manusia, bisanya bahasa setan. Pokoknya Nesa hepi mbak.” Nesa masih berjoget.

“jadi kamu setan donk?! kan cuma kamu yang bisa bicara ama mereka.” canda Vita lagi.

“dia bakal gila” seorang pria yang bernama Umar (bagian perubahan polis), sedari tadi melihat Nesa berjoget.

“Aku denger lho Pak Umar” sahut Nesa yang terus berjoget.

“Jangan joget terus! Tuh ada nasabah.” sahut pria lain yang bernama Fajar (bagian marketing support).

“Aish…… baru aja seneng……” ucap Nesa dengan cemberut menghentikan gerakannya dan menuju ke ruang yang disediakan untuk bercengkerama dengan nasabah.
Namun beberapa langkah sebelum memasuki ruangan, wajahnya penuh drama, senyum palsunya merekah.

“Selamat Pagi Pak, ada yang bisa saya bantu?” Nesa mengulurkan tangan untuk bersalaman dengan mengumbar senyum palsu yang terlihat hangat.

“Pagi mbak.” Pria itu menyambut uluran tangan Nesa.

“Saya bayar premi, tapi salah input no polis” lanjutnya.

‘kalo salah ke rekening saya ya ga papa Pak’ batin Nesa.

“Bapak bawa KTP dan bukti bayar?” tanya Nesa.

“iya, bawa…..” Pria itu mengeluarkan KTP dan struk pembayaran.

“Saya pinjam ya, saya copy dulu, ada form juga yang harus di tanda tangani” ucap Nesa ramah sebelum meninggalkan pria itu.

‘adaaaaaaa aja, kerja kok mengurusi orang lain, kalah akun gosip lambe-lambean’ batin Nesa lagi. Usai berusan dengan pria itu, Nesa kembali ke ruangannya.

“siapa Nes?” tanya pria yang bernama Eja bagian pembayaran.

“nich punya mu Mas! salah no polis!” Nesa menyodorkan berkas ke meja Eja.

“mukanya kok gitu?” Eja menggoda.

“Maksudnya?” balas Nesa dengan nada tak ramah.

“Tadi wajahmu seperti malaikat, hangat, penuh senyum. Sekarang kalo ama kita wajahmu kayak iblis.”

“Astaga…….mas Eja bener!” Nesa ngikik, yang lain ikut tertawa mendengar pengakuan Nesa.

“Dasar! Iblis cantik!” ujar Eja lagi dengan kekehan. Nesa menarik kursinya, lalu duduk di samping meja Eja.

“Rasanya aku jenuh kerja disini” ucap Nesa.

“aku pengen ngurusi hidupku…….. fokus di kehidupanku” lanjutnya.

Sekejap mereka yang menghuni ruangan berkubikel tertawa terbahak-bahak.

“emang kenapa sama hidupmu?” tanya Eja dengan sisa tawanya.

“Kita disini ngurusi hidup orang lain. Sakit di urusin, meninggal di urusin, cerai di urusin, sampe ganti no HP dan pindah alamat rumah…… kita juga yang ngurusi. Sementara, aku yang beberapa tahun lagi usia 30 belum ada aroma-aroma cowok mendekat. Aku pengen menata hidupku yang……. entahlah…….” celoteh Nesa dengan nada putus asa.

“Tumben amat sich? kenapa?” tanya Vita yang terheran dengan rentetan ocehan Nesa.

“Ck! masak ga tau Mbak?” Nesa mendecih dan melirik kearah Vita.

“Iya juga sich Nes….. wanita, usia 26 belum ada gandengan itu rasanya ketar-ketir. Apalagi sekarang musim reuni, ntar kalo katemu pasti nanya yang ga enak ati. Terus kalo ke kondangan, ga ada gandengan itu miris. Apalagi malam minggu wak_”

“ga usah diterusin Mas, perih lho! Mas Eja uda pernah cuci muka sama air bon cabe?” Nesa memotong pembicaraan Eja.

“Kejam kamu Nes!” Eja menanggapi dengan mencebikkan bibirnya.

Yang lain hanya terkekeh mendengar perseteruan Nesa dan Eja

***

Pukul 19.00

“Nes…ayok maem” pangil ibunya dikamar Nesa yang dilantai dasar.

Dengan bermalasan Nesa berjalan menuju ruang makan yang sudah ada Ayah dan Ibunya.

“Kak Paz dan Kak Pal kemana?” tanya Nesa sambil membantu ibunya menata piring dan menu di meja makan.

“Masih diatas, panggil gih!” perintah Isti.

“KAPAAAAS….!KAPAAAAAL ….! MAKAN!” teriak Nesa dengan suara yang melengking.

“Nes….kalo cuma teriak Ibu ya bisa.” Aji mengingatkan.

“Males naik yah” rengek Nesa.

Tak lama 2 pria yang lebih dewasa turun dengan bersendau gurau.

“Sapa tadi yang teriak?” Valdi mendekat Nesa dan menarik kuncir ekor kuda Nesa.

Nesa memukul lengan Valdi yang duduk disebelahnya.

“Sapa lagi kalo bukan si bawel” jawab Vazco dan menjewer telinga Nesa, dan Vazco duduk di sebelah Ibunya.

“Ck! Ayah…coba liat! katanya Kakak melindungi. Ini yang ada intimidasi!”

“Vazco…Valdi….” Aji menegur.

“kalo dia ga teriak, kita baik lho Yah.” sahut Valdi

“ini rumah Yah, bukan hutan” timpal Vazco.

“uda…ayo maem, keburu ga enak.” sahut Isti sebagai penengah.

Usai makan malam bersama yang biasa mereka lakukan, Valdi dan Vazco balik ke atas. Nesa, Aji dan Isti duduk diruang keluarga sambil mennton TV.

Nesa duduk di apit oleh Isti dan Aji. Tak lama pria yang bermukim di atas turun bersama dengan pakaian cukup rapi.

“mau kemana kak?” tanya Nesa.

“urusan orang dewasa.” sahut Vazco dengan nada mengejek.

“Umur Nesa uda lewat 25 ya… uda dewasa!” protes Nesa.

“Tapi kamu selalu jadi adik kecil kami” sahut Valdi dan mengacak lembut rambut Nesa.

“Ayah……” rengek Nesa manja disebelah Aji.

“Kalian mau kemana?” tanya Aji.

“Kan hari Jum’at Yah!” ucap Vazco yang bekerja sebagai dosen sekaligus pemilik bengkel di kota ini.

“Waktunya main Ayah……” Valdi mencium kening ayah, Ibu dan Nesa juga. Valdi bekerja di perusahaan milik asing, dia juga pemilik bimbel bersama teman kampusnya dan dia pelatih renang.

“ikut…” rengek Nesa dengan tatapan memohon.

“ga ada ya Nes” balas Valdi.

“besok aku ajak ke mall dech…” timpal Vazco yang selalu menunjukkan kasih sayangnya ke adik kecilnya ini.

“Kak Vaz sepatu, Kak Val tas ya…” Nesa merayu kedua kakaknya.

“klo ada maunya, manggilnya baru bener gitu…..” Valdi menggoda adiknya.

“budget maksimal 50rb” Vazco menambahi.

“Astaga, pelit amat ama adeknya, 50ribu cuma buat makan aja. Ntar kalo uda nikah pasti Nesa ga dapat jatah.Senengin adek napa?”

“Ya uda…bulan depan kita liat Band XYZ.” ucap Valdi.

“Asik! Bayarin ya kak! Semuanya! Tiket, makan, minum….”

Vasco dan Valdi mengacungkan jempolnya, lalu meninggalkan hunian menuju kegembiraan.

“Nes, boleh Ibu tanya ke Nesa?” Isti bertanya

“tanya apa? tumben pake ijin…..”

“tapi jawab jujur ya…..”

“Ibu tanya apa sich Yah? kok jadi takut…..” Nesa memandang ke arah Aji. Aji tidak menjawab, hanya mengusap lembut kepala anak gadisnya.

“Nesa sudah punya pacar?”

“Belum.” jawab Nesa cepat dengan menggelengkan kepalanya.

“usia Nesa sekarang berapa?”

“26 ” jawab Nesa singkat dan melihat ibunya.

“Nesa uda usia 26 tahun, belum ada pria yang dikenalkan ke Ibu dan Ayah. Ayah punya rencana, mau kenalkan ke anaknya teman ayah.”

“maksudnya di jodohkan? Nesa nggak mau, Bu!” Nesa menanggapi usul ibunya.

“tuh kan Mas! Aku bilang apa?! Nesa nggak mau……” Isti memandang Aji.

“jadi ayah yang punya ide jodohin ini?” Nesa juga ikut memandang Aji.

“Kenalan dulu Nes, kalo mau ya lanjut, kalo nggak mau ayah nggak maksa.” sahut Aji.

“Yah, Nesa pengen ngerasain jatuh cinta, pengen mengenal arti cinta.”

“iya Mas, kalo ga ada cinta, apa arti hidup ini?” sahut Isti bingung, karena pendapat Nesa dan suaminya sama benarnya.

“nanti kalo sering ketemu mereka bisa kenal lebih dalam, bisa tumbuh rasa itu, Love” balas Aji tak mau kalah. Nesa merubah duduknya, tangannya menyelip di belakang pinggang Aji.

Tangan Aji merangkul pundak Nesa yang merebahkan kepala di dada sebelah kiri Aji. Telinga Nesa menempel di dada Aji. Irama detak jantung ayahnya sangat disukai oleh gadis itu.

“Ayah bangkrut ya?” tanya Nesa lirih.

“eh?!” Aji terkejut mendengar penuturan anak gadisnya dan melihat sekilas wajah Nesa yang bersembunyi di dadanya.

“Ayah bangkrut? Atau pernikahan Nesa untuk memperkuat jaringan bisnis ayah?”

“Nes, walaupun ayahmu ini jongos, tapi perusahaannya belum bangkrut. Aset ayah di saham dan hasil sewa properti masih bisa menghidupi kalian, walaupun cuma makan tempe dan tahu.”

“Terus kenapa Nesa di jodohin? Nesa pikir seperti di novel-novel itu….. dijodohin karena bangkrut. Atau ayah uda bosen sama Nesa? Nesa di usir dari rumah ini?” Aji terkekeh mendengar analisa putri semata wayangnya.

“Soalnya kamu belum kenalin ayah ke seorang pria, ayah pikir kenal dulu ga ada salahnya, kenalan dulu ama dia. Kenalan doank!” Aji menyebut Kenalan beberapa kali.

“Nesa pengen cari sendiri Yah” sahut Nesa lirih.

“Sampe usia kamu berapa? kalo sama dia kan jelas. kalo mau ya….mungkin 1 tahun lagi nikah. Kalo ga mau dengan kandidat Ayah, kamu boleh cari sendiri. Tapi ayah minta kenalan dulu sama dia, calon yang dari ayah ini…….”

“Ga mau Yah…”

“kamu kenapa sich sampek sekarang belum punya pacar? jangan pilih-pilih lho!” sahut Isti.

“Ibu, Nesa ga pernah pilih-pilih. Ibu ga ingat gimana si Kapas dan Kapal itu memperlakukan Nesa? dekat ama cowok ga boleh”

“karena mereka sayang Nesa”

“Nesa gini juga gara-gara mereka juga Bu….” Nesa teringat bagaimana Valdi meminta Rama menemaninya.

“mereka ga mau kamu dilukai pria” balas Isti.

‘Nesa kapok masalah percintaannya dicampuri orang lain yang berujung kecewa’ gadis itu membatin dan mengingat kejadian bersama Rama.

“Selalu itu yang Ibu bilang, dan sampe sekarang pun usia Nesa 26, mereka anggap Nesa anak kecil. Nesa juga pengen nikah, tapi dengan orang yang benar-benar Nesa cinta….”

“Udalah Mas…aku bingung..terserah Mas dan Nesa ajalah!” Isti merasa galau, kasian terhadap Nesa, dan tentunya dia juga mendukung suaminya agar anaknya tidak terlambat untuk menikah.

“Nesa tau kan kalo ayah sayang Nesa? Nesa putri Ayah satu-satunya, pasti Ayah memilihkan pria baik untuk kamu.” ayah menatap Nesa.

“Nesa ga mau ayah…” Nesa tetap pada pendiriannya.

“baiklah, ayah terserah Nesa aja. Tapi kalo tahun depan kamu belum kenalin seorang pria, kamu harus terima perjodohan ini, bukan tahap kenalan lagi. Tapi perjodohan dan lanjut ke pernikahan”

“Ayah ……itu pemaksaan!”
“Ayah dan Ibu sudah waktunya menggendong cucu. Beberapa tahun lagi ayah pensiun. Maafkan ayah sayang.” Aji mencium kening Nesa.

“Kapas atau Kapal aja dulu yang nikah yah….masak iya Nesa melangkahi kakak Nesa?”

“Cowok beda Nes..” ucap Aji lagi.

“Ibuuuuuuu” Nesa memanggil Isti dengan rengekan seolah meminta pertolongan.

“Sayang, Ibu percaya sama Ayah. Sorry….” balas Isti lirih dengan wajah merasa bersalah.

“Nesa pasti mengenalkan ke Ayah pria yang Nesa cinta. Walaupun calon suami Nesa bukan orang kaya, bukan pejabat, bukan pemilik perusahaan….Ayah mau terima dia kan?” tatap Nesa ke Aji.

“Pokoknya….. kamu bahagia, ayah pasti bahagia. Siapapun pria itu, asal bisa membuat kamu bahagia.” jawab Aji dengan senyum hangatnya.

“Terima kasih Yah…..” bisik Nesa.

***

2 Minggu kemudian, hari Jumat malam.

“Nes…besok masuk nggak?” tanya Isti.

“Libur Bu, nggak ada training. Paling ke salon…” jawab Nesa.

” Nggak usah ke salon ya? bantuin Ibu prepare…”

“Prepare apa Bu?”

“Sabtu malam besok, ada teman ayah mau makan malam.”

“Lha….kan teman ayah juga sering makan malam ke sini, kayaknya nggak ada persiapan apa-apa. Biasa-biasa aja.”

“Tapi ini beda Nes…..ini 1 keluarga, Ayah, Ibu dan anaknya.”

“Tumben bawa keluarga? Biasanya teman ayah sendirian, terus ngobrol kerjaan sampe tengah malam.” sahut Nesa yang seolah mengerti kebiasaan ayahnya.

“Uda….pokoknya besok bantuin Ibu!” pinta Isti.

Esok pagi Nesa bangun lebih awal karena perintah ibunya.

Nesa melihat pekarangan rumah lebih rapi dan bersih, tampak tukang kebersihan komplek menyapu sisa daun yang berserakan.

Nesa juga melihat tukang yang lain sedang membetulkan lampu taman yang sempat mati. Pak Imron selaku driver keluarga, menaiki tangga mengganti tirai jendela.

‘ini jam berapa sich? kok rumah uda heboh…….’ batin Nesa.

“Pak Im, kan ini belum Lebaran ya?! kenapa tirainya di ganti?” tanya Nesa berdiri tak jauh dari tangga yang dinaiki Pak Imron. Biasanya Ibu Nesa akan mengganti tirai rumah saat mendekati Lebaran.

“Eh, mbak Nesa. Di suruh ibu ganti, ya saya nurut aja.” jawab Pak Im.

“Ibu kemana?”

“Ibu ke pasar, ayah yang nganter.” jawab Pak Im tanpa melihat Nesa, pria tua itu berkutat dengan tirai.

Nesa meninggalkan pak Im, berjalan ke arah belakang rumah. Disana dia melihat kakaknya Valdi sedang berlari di atas treadmill elektrik.

“Kak, gantian……” ucap Nesa.

“Ck! kenapa mesti gangguin sich? kenapa barengan? kamu sore aja…….” dengan nafas tersenggal.

“Nggak enak kak! Nesa maunya pagi…..” gadis itu merengek.

“5 menit lagi!”

“Ok……”

Dan 5 menit berikutnya Nesa yang berlari di atas mesin tradmill, sedangkan Valdi duduk berselonjor di lantai tak jauh dari Nesa.

Setelah 30 menit, Nesa juga ikut duduk di sebelah kakaknya.

“Kak, kok tumben rumah di bersih-bersihkan? emang ada acara apa?” tanya Nesa sambil mengusap keringat dengan handuk kecil.

“Katanya ada makan malam.”

“Cuma itu?”

“Iya, tapi kakak nggak bisa ikut. Hari Minggu pagi ada acara di kantor, kakak salah satu panitia, jadi harus siapin segala macemnya.”

“Kak Vas?”

“Kayak nggak tau Kak Vas aja…Sabtu malam nggak mungkin dia pulang, pasti dia tidur di bengkelnya.”

“Ck! Kalian nggak seru….” ucap Nesa lirih.

“Kamu dandan yang cantik ya…….” ucap Valdi sambil mengusap lembut kepala adiknya.

“Nesa kan selalu cantik kak…..” rengek Nesa dengan manja.

“Iya-iya, kamu cantik, langsing, terawat…tapi jomblo!” Valdi menggoda adiknya.

“Ye……situ juga Jomblo…” Bela Nesa manja dan memukul lengan Valdi.

“Cowok, kalo usia seperti kakak punya pacar, grade nya turun…”

“Alasan! Ngomong aja nggak laku…”

Tak lama, Ibu dan Ayah datang sambil membawa beberapa kantung belanja.

Nesa menghampiri ibunya lalu mengeluarkan isi plastik yang dibawa ibunya tadi.

Isti memberikan intruksi kepada ART tentang apa saja yang harus dikerjakan.

Nesa melongo mendengar sejumlah menu yang disebutkan ibunya.

“Kok banyak banget masaknya Bu?” tanya Nesa.

“Kan kemarin Ibu uda bilang, ada tamu ayah.”

“emang tamu ayah berapa orang?”

“3 orang! Oh iya! ntar pake baju merah ya….kamu keliatan cantik kalo pake baju merah.”

Nesa mengangguk, dia berpikir dan rasanya ada sesuatu yang aneh. Dia merasa curiga dengan seluruh persiapan dan kehebohan yang ada dirumahnya.

Gadis itu hanya diam sambil menuruti segala perintah ibunya.

‘Apakah nanti yang datang adalah keluarga pria yang akan dijodohkan denganku?’ Nesa bertanya dalam hati.

‘Jangan GR Nes…kan ayah uda setuju kalo kamu bisa cari sendiri.’ sisi lain Nesa berbicara.

Usai makan siang, Nesa minta ijin untuk istirahat.

“Bu, Nesa capek! Nesa bobok bentar ya?” Nesa minta ijin ibunya.

“Ok!” jawab ibunya tanpa melihat Nesa.

Nesa memasuki kamar dan menghempaskan tubuh di ranjang.

Dia mengambil ponsel, lalu menghubungi Nara.

Nesa : Assalamualaikum Tan….

Nara : Wa’alaikum salam.

Nara : Tante ntar malam ke rumah?

Nara : nggak, emang ada apa di rumah?

Nesa : eng…nggak ada apa-apa kok Tan. Ibu sekarang masak banyak, kirain tante-tante ke sini, jadi aku mau promo (Nesa mencari alasan)

Nara : mungkin teman ayah atau ibu mu Nes….

Setelah sedikit basa-basi, Nesa memutuskan sambungan telpon dengan tantenya.

Bersambung

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Tamat