Complicated S2 Part 24

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Tamat

Cerita Sex Dewasa Complicated S2 Part 24 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Complicated S2 Part 23

Vasco menurunkan Al dan adiknya di rumah Dani.

Setelah Al mengganti bajunya, mereka berangkat ke kantor.

“Q….kamu nggak pengen punya HP lagi?” Tanya Al sambil mengemudi.

“Emang siapa yang mau telpon aku?” Tanya Nesa dan menyindir suaminya.

Al meraih tangan istrinya dan mencium punggung tangan istrinya beberapa kali.

“Aku tau aku salah…aku minta maaf ok?! Nanti pulang kerja kita beli HP ya?”

“Kalo kamu nggak mau jawab telpon atau pesan ku…buat apa kita beli?”

“Aku janji! Selama nggak sibuk, aku pasti balas pesan kamu….”

Al dan Nesa memasuki gedung perkantoran.

Satu tangan Al menenteng tas laptop Nesa, dan satu tangannya sudah menyampir di pinggang istrinya.

Pesan Aji untuk tidak memulai menyentuh anaknya sudah luntur di ingatan Al.

Jangan ditanya bagaimana perasaan mereka.

Walaupun mereka sama-sama diam, tapi hatinya berbunga-bunga.

Wajah mereka terlihat lebih ceria dari biasanya, dan mereka sering mengulum atau menahan senyum.

Saat di dalam lift, Al menarik pinggang istrinya supaya lebih dekat.

“I love you…” Bisik Al di telinga istrinya. Membuat Nesa merinding.

“Hm?” Nesa mengangkat alisnya, menoleh ke arah suaminya dan tersenyum.

Rasanya aneh sekali pria yang berstatus suaminya ini mengungkapkan kata cinta.

Lagipula di ruangan kecil itu ada beberapa pegawai yang lain.

“No replay” ucap Al lirih dengan wajah yang pura-pura sok dingin, memalingkan wajahnya. Sudut bibirnya terangkat.

Nesa hanya menunduk dan tersenyum.

‘emang susah banget ya bilang cinta?’ batin Nesa dalam hati.

Wanita itu mengingat masa dimana Al sering mengerjainya.

Berdiri sangat dekat lalu berbisik, membuat bulu di sekitar leher serta rahangnya berdiri.

“Abis ini kita keluar….” Ucapan Al memecah lamunan Nesa.

“Bukannya di ruangan daddy?” Tanya wanita itu saat lift berhenti beberapa lantai di bawah kantor mertuanya.

“Di atas buat ruangan direktur semua. Aku bukan direktur, cuma pengganti sementara aja”

Beberapa karyawan saat berpapasan dengan Al menganggukkan kepalanya. Baik Nesa maupun Al membalasnya dengan senyuman.

Mereka memasuki ruangan, dimana sudah ada seorang wanita yang sudah duduk menunggu kedatangan Al.

“Pagi Fika…sori telat. Ini istriku….” Al memperkenalkan istrinya.

Nesa dan Fika bersalaman.

Al mempersilahkan Fika untuk memulai.

Nesa duduk di sofa, dia juga memulai memasarkan salonnya dan melayani pertanyaan calon customer di dunia sosial media.

Beberapa menit kemudian, Nesa tidak mendengar percakapan Al dan Fika hanya bisikan.

‘mereka ngomong apa? ngapain bisik-bisik?’

Nesa penasaran, dia berdiri lalu menghampiri meja suaminya.

Walaupun Fika terlihat wanita berpenampilan biasa saja, tapi Nesa tetap harus waspada, jangan sampai suaminya menemukan kenyamanan di wanita lain.

“Kenapa Q?” Tanya Al ketika istrinya sudah berdiri di sisi mejanya.

“Ada ballpoint dan kertas?” Nesa mencari alasan supaya tidak terlihat kepo.

Al membuka laci dan memberikan apa yang diinginkan istrinya.

Nesa berjalan pelan kembali ke sofa sambil menoleh ke belakang, dia ingin tau apa yang akan dilakukan suaminya.

“Butuh apa lagi?” Tanya Al mengangkat alisnya.

“Nggak ada!” Jawab Nesa singkat.

Wanita itu pun duduk sambil menajamkan pendengarannya.

Dia sudah tak konsen lagi dengan rencana semula.

Beberapa menit berlalu, Fika dan Al masih berkomunikasi dengan nada lirih.

Nesa sudah tak kuat, dia berdiri lagi lalu menuju lemari kaca (show case) yang terletak di sebelah kiri suaminya. Terdapat beberapa benda khas dari berbagai macam negara.

“Kamu cari apa?” Tanya Al menghentikan pembicaraannya.

“Nggak! Cuma liat-liat aja!” Jawab Nesa singkat tak melihat suaminya.

Al memberikan isyarat kepada Fika bahwa pelajaran hari ini telah usai.

Fika pun berpamitan kembali ke ruangan.

Al berdiri di belakang istrinya dan memeluknya.

“Liat apa?” Bisik Al membuat bulu kuduk Nesa kembali merinding.

“Tadi ngapain ngomong-nya bisik-bisik?” Nesa tak menjawab malah bertanya balik.

“Kalo aku ngaku…jangan di ketawain ya….” Pinta Al dengan masih berbisik.

Nesa sedikit menoleh ke arah suaminya sambil mengangguk.

Al lebih mendekatkan wajahnya ke pipi istrinya.

Akhirnya pria itu mengakui kekurangannya.

Sambil terus berbisik, bibir dan hidungnya sengaja di goreskan samar-samar di pipi Nesa.

Kelakuan Al membuat jantung Nesa berdetak lebih cepat, nafasnya mulai berat.

‘dia pintar sekali menggoda iman….’ batin Nesa.

Usai menyampaikan kelemahannya, Al mencium lembut pipi istrinya.

“Al……” Nesa ikut berbisik, hidung mereka yang sama-sama mancung bersentuhan. Mereka bisa merasakan nafas yang satu dengan lainnya.

“Iya Q?”

“Kayaknya kamu nggak nyaman ya?” Tanya Nesa.

“Berada di dekat mu membuat aku nyaman banget Q…nggak ada yang menggantikan….”

“Hmmmmm …. Itu….. di pantatku Pino nya keras banget….”

“Q!” Bisik Al dengan tekanan saat istrinya menggoda dengan kata-kata vulgar.

“Tapi bener kan Al? Si Pino menegang?” Nesa semakin menegaskan.

Al membalikkan tubuh istrinya lalu meraup bibir Nesa.

Dia melumat bibir istrinya dengan kasar dan brutal.

Begitu juga Nesa membalas seperti tak mau kalah.

Lengan Al melingkar di pinggang istrinya, dan Nesa mengalungkan tangannya di leher suaminya.

Dua insan ini sama-sama melepaskan rindu.

Mereka saling menyahut dengan lenguhan atau erangan.

Saking asyiknya saling membelit lidah, mereka tak mendengar jika ada seseorang mengetuk pintu.

“Al! Ini….UPS! Sorry…”

Suara Stella menginterupsi aksi mereka.

Nesa spontan melepaskan rangkulannya dan menundukkan kepalanya karena malu.

Tapi tidak dengan Al, sebelah tangannya masih melingkar di pinggang istrinya.

Dan sebelahnya mengusap bibirnya.

‘nggak bapak….nggak anak….sama aja! Nggak tau tempat melampiaskan hasrat…’ batin Stella.

“Iya tante?” Al menahan senyumnya karena salah tingkah.

“Daddy minta kamu cek laporan ini, lalu email ringkasannya ke Daddy. Sekarang!” Stella meletakkan dokumen di meja kerja.

“Okay Tan…..” Jawab Al santai.

“Sekarang Al! Sekarang…..” Stella mengulang, seolah dia tidak yakin.

Stella tidak mau disalahkan oleh bosnya selaku pemberi perintah, yang tak lain bapak dari pria yang baru saja berciuman di ruang kerja .

“Iya Tante….ntar lagi Al telpon Daddy…” Al meyakinkan.

Stella keluar ruangan sambil menggelengkan kepalanya.

“Kamu sich Al…. nyosor sembarangan…malu kan?!” Ucap Nesa dengan menahan senyumnya.

“Nggak! Kan cium istriku sendiri…” Jawab Al dan masih menyempatkan mencium pipi istrinya.

“Buruan telpon Daddy!” Nesa memaksa lepas dari lilitan lengan suaminya, kembali duduk di sofa.

Al meraih ponselnya lalu duduk di sebelah istrinya.

Dani : iya Al…

Al : Dad…aku uda terima dokumen yang mau di rangkum.

(Al menciumi pundak istrinya, dan Nesa tersenyum)

Dani : Kamu buat summary sekarang, terus Daddy liat. Ntar Daddy email ke calon investor.

Oh iya, Daddy minta tolong, ntar kamu pulang ke rumah sebentar, ada kartu nama di meja kerja Daddy. Cari yang namanya Cahyo.

(‘Al…’.Nesa berucap lirih saat Al mencium lehernya. Dan Dani mendengarnya)

Kamu sama siapa Al?!

Al : sama istriku Dad…

Dani : beneran?! coba ganti ke video!(Dani penasaran, karena berita terakhir mereka belum akur)

Al menghela nafas panjang, lalu merubah mode video.

Al : tuh kan…sama dia…

(ketika Al mengarah monitornya ke wajah mereka berdua, Nesa melambaikan tangan ke Dani)

Rena : Nesa apa kabar?

(Tiba-tiba layar ponsel Daddy berubah menjadi wajah mommy. Rena merampas ponsel suaminya, dan Dani hanya pasrah)

Nesa : Alhamdulillah baik mom…opa gimana?

Rena : Uda baik kok…paling Minggu depan kita balik semua ke Indonesia. Al, ngapain kamu masuk? Kan baru sembuh….

Al : banyak kerjaan mom…Al uda sehat kok. Pokoknya di sebelah dia, Al baik-baik aja….

(Al melihat istrinya, Nesa menunduk malu)

Rena : gini aja…kerjaannya kamu bawa pulang…. kamu tanya-tanya ke Stella lewat telpon …iya kan mas?

(Dani melongo apa yang baru saja diucapkan istrinya. ‘ini tadi konteks kerjaan kan?! Kayaknya aku yang jadi direktur, terus kenapa dia yang main perintah?)

Al : nggak papa mom…

Rena : sudah…. sekarang bereskan semuanya! Kamu bawa pulang, kerjakan di rumah! Di rumah juga lengkap, ada komputer, laptop, scanner, ok?!.. mommy tutup ya …bye bye..

Al : bye mom ..dad..

Dani : Ren…kamu nggak bisa kayak gitu….

Rena : mas kayak nggak tau aja! Mereka itu baru akur, mereka but_

Al dan Nesa bisa mendengar sisa-sisa pertengkaran mereka sebelum jaringan putus sepenuhnya. Mereka sama-sama tersenyum.

“Jadi gimana?” Al melihat wajah istrinya dan menyibakkan beberapa helai rambut yang menutupi pipinya.

“Cepetan kamu kerjakan tugas dari daddy! kita makan siang di food court aja….ntar kita pulang jam 3 an, ok?!…” Nesa memberi ide.

“Kenapa nggak pulang sekarang aja?! Oh iya… soalnya dirumah ayah banyak orang, kamu masih pengen berduaan sama aku kan?” Al memainkan alisnya.

Nesa menghela napas dengan pemahaman suaminya.

Padahal maksud Nesa supaya wibawa Al terjaga, jangan mentang-mentang anak direktur, masuk keluar kantor sembarangan.

“Kok pulang ke rumah ayah?! Tadi kamu nggak ingat pesan daddy?! Foto kartu nama dulu di meja daddy!”

Al semakin melebarkan senyumnya.

“Kamu ternyata pengen bener-bener berduaan sama aku ya? Dirumah daddy kan nggak ada siapa-siapa…” Al menunjukkan wajah jahilnya.

“Terserah kamu Al…” Jawab Nesa pasrah dan memunggungi suaminya.

Dia ingin Al mendapatkan kesan baik dimata daddy, bisa menyelesaikan tugasnya. Tapi lagi-lagi pemikiran mereka tak sejalan.

Jam makan siang, mereka berjalan sambil bergandengan menuju food court yang ada di gedung sebelah. Kadang tangan Nesa mengamit lengan kokoh suaminya, kadang jemari mereka saling bertautan.

“Mau makan apa?” Tanya Nesa saat mereka berhenti di tengah food court, sambil memandang jajaran menu.

“Nasi kebuli sama gule maryam.” Bisik Al di telinga istrinya.

Dan mereka memesan di depot yang sama agar tak membuang waktu.

Berkali-kali mereka mencuri perhatian, karena terlihat pasangan yang serasi.

“Beberapa bulan lagi ada momen penting…” Ucap Nesa sambil mengunyah.

“Acara apa? Sepupu kamu ada yang nikah?” Tanya Al.

“Bukan … tentang aku dan kamu… tentang kita….”

“Anniversary kan masih lama….”

“Bukan Al…ulang tahun ku…” Nesa berucap dengan nada kesal.

“O….terus mau di apakan?”

“Ya tanya kek…pengen kado apa? Atau pengen makan berdua dimana?
Kamu itu kalo masalah ginian kok nggak peka banget sich Al?
Tapi kalo urusan ranjang…kamu terlalu peka…” Nesa mengomeli suaminya.

” Kamu pengen apa? Selesai makan, kita beli, ok?! Nggak usah nunggu ulang tahun…
Ngomong masalah ranjang…. kayaknya kamu nggak sabaran banget kita main di ranjang…..”

‘kayaknya aku salah ngomong terus..’ batin Nesa tak menyahuti, dia lebih baik diam.

“jadi nya pengen beli apa?” Tanya Al saat mereka berjalan kembali ke kantor. Tangan mereka saling menggenggam.

“Nggak ada!” Jawab Nesa singkat.

“Q….aku bukan pria yang seolah-olah mengerti keinginan istrinya.
Aku lebih suka kalo kamu bilang yang kamu mau.
Soalnya….ntar terlanjur beli, ternyata nggak suka. Mubasir kan?”

“Iya Al …iya…” Jawab Nesa pasrah.

Dia sadar, dia menikahi pria yang jauh dari kata romantis. Jadi Nesa tidak akan berharap kejutan-kejutan kecil seperti yang ada di film atau sinetron.

Pukul 15 lewat beberapa menit, mereka meninggalkan gedung perkantoran.

“Aku selesaikan tugas daddy dulu ya…” Pamit Al ke istrinya.

“Aku ke kamar ….” Sahut Nesa.

Wanita itu memasuki kamar suaminya.

Dulu kamar ini tampak luas dengan furniture minimalis.

Dan sekarang ada meja rias dan lemari besar, dimana isi lemari itu hanya pakaian istrinya.

Warnanya senada dengan perabotan Al yang lainnya.

Pria itu memasuki ruangan, melepas jas nya lalu mendekati istri yang membuka lemari.

“Bajunya uda dipindahkan ke sini semua?” Tanya Nesa.

“Iya Q….” Bisik Al dan memeluk tubuh istrinya dari belakang.

“Ini lemari dan meja riasnya baru?”

Al tak menjawab, tapi Nesa merasakan anggukan dipundaknya.

Perlahan Al membuka kancing kemeja Nesa sambil menciumi pundaknya.

“Siapa yang pilih lemari dan meja riasnya?” Tanya Nesa dengan nafas tersengal. Jantungnya berdetak kencang.

“Ya suami mu…..” Ucap Al santai dan berhasil melepaskan kemeja istrinya.

“Al!” Pekik Nesa saat Al menggendongnya.

Perlahan Al merebahkan istrinya di ranjang.

“Pino uda nggak sabar ketemu Vina. Hampir 3 bulan lho Q…..” Ucap Al sambil melucuti pakaiannya sendiri.

Detak jantung Nesa makin kencang saat melihat tubuh polos suaminya.

Dia hanya bisa pasrah saat Al melepas bra, rok dan celana dalamnya.

Tubuh mereka sama-sama tak tertutupi sehelai benang pun.

Al merebahkan tubuhnya di sebelah Nesa. Mereka saling memandang hangat.

“Kita sama-sama menginginkannya Q….” Bisik Al dan mencium kening istrinya.

Kecupannya turun ke pipi lalu melumat bibir istrinya beberapa kali.
Tangan Al tak hanya diam, dia sudah bermain di payudara istrinya.

Dan kini mulut Al mengulum sebelah puting istrinya, tangannya turun di kemaluan Nesa.

Beberapa Al merasakan kecupan di kepalanya, dan dia juga mendengar desahan atau lenguhan istrinya.
Membuat Al makin giat mempermainkan kenikmatan Nesa.

Kemaluan Nesa mengeluarkan cairan cinta karena tangan suaminya,hingga dia bisa mendengar suara kecipak.

Nesa merasakan kenikmatan yang lengkap, nikmatnya kuluman suaminya di dadanya dan permainan tangan di lubang surgawi.
Wanita itu ikut menggoyangkan pinggulnya cepat saat akan mencapai puncak kenikmatannya.
Hingga tubuhnya menggelinjang dan suhu tubuhnya menghangat.

“Al….” Bisik Nesa ke suaminya yang masih bermain di kewanitaannya.

“Hm…..”

“Sudah Al…..”

Al melepaskan kuluman di puting istrinya.

“Kok aku nggak terasa? Beneran uda?”

Nesa mengangguk dan tersenyum.

“Tadi sudah dengan tangan…. sekarang sama mulut…” Ucap Al mencium singkat istrinya, lalu dia menenggelamkan kepalanya dia antara dua paha Nesa.

Lagi-lagi Al membuat istrinya orgasme.

“Sekarang giliran aku Q….” Ucap Al saat mengungkung istrinya.

Milik Al memenuhi lubang nikmatnya.

Dia menggoyangkan pinggulnya secara perlahan sambil memandangi wajah istrinya, tangannya meremas-remas payudara Nesa.

Nesa merasa tergoda untuk ikut bergoyang, menambah sensasi pada kemaluan suaminya, dan berhasil membuat Al semakin bergairah.

Pria itu mempercepat goyangannya, menatap tajam ke mata istrinya dan menekan serta meremas dada istrinya hingga Nesa bisa merasakan cairan hangat membanjiri liangnya.

Setelah Al merasa cairannya sudah keluar semua, dia kembali rebahan di samping istrinya.

Mereka sama-sama mengembalikan nafas yang tak beraturan setelah melampiaskan hasrat yang terpendam.
Lalu Al menarik tubuh istrinya, dan Nesa merebahkan kepalanya di dada suaminya.

“Mau pulang jam berapa ?” Tanya Nesa dan mencium dada suaminya.

“Setelah mandi kita pulang. Aku nggak mau di omeli ayah lagi karena melewati makan malam dan bawa putri kesayangannya….”

Nesa terkekeh mendengar ucapan suaminya, ternyata dia masih memikirkan perasaan ayahnya.

“Segitu nya takut sama ayah….”

“Ya takut lah…. walaupun kamu sudah milik aku, tanggung jawabku….tapi aku nggak bisa mengklaim kamu sepenuhnya…nggak tau kenapa….”

“Warung nya gimana?”

“Om Norman, driver mommy dan Om Ronald yang handle….kalo cafe nya aku serahkan ke teman-teman….”

“Jadi hari Sabtu besok bisa datang ke rumah eyang Bunda?”

“Insya Allah bisa….”

Setelah berbincang sesaat, mereka mandi dan keluar kamar bersamaan.

“Ponselnya uda datang….” Ucap Al ketika mereka menuju ruang keluarga.

Nesa melihat tas yang cukup besar dari brand buah yang tergigit.

“Kapan belinya?” Tanya Nesa heran, karena Al selalu berdua dengannya.

“Om Ronald yang beli….”

“Tas nya kok besar …isinya apa aja?”

“Brosur cicilan….” Canda Al.

Nesa melihat isi tas dan dia melongo apa yang baru dibeli oleh suaminya.

“Kamu ngapain beli ginian? Laptop ku kan masih bisa….” Saat Nesa mengeluarkan semuanya.

Al membelikan istrinya MacBook, ponsel dan smartwatch.

“Laptop mu terlalu berat untuk dibawa, lagian baterai nya uda gampang drop….ini semua untuk mempermudah kamu kerja Q…”

Nesa meletakkan apa yang dia pegang lalu memeluk suaminya.

“Makasih Al….. makasih….” Bisik Nesa lalu mencium singkat bibir suaminya.

“Tapi ini nggak gratis…..”

“Hm?” Nesa mengangkat alisnya.

“Kamu akan membayarnya nanti malam….kita akan lebih berkeringat…”

Nesa tersenyum, dia tau apa yang dimaksud suaminya.

“Ngapain nanti malam! Aku bisa membayarnya sekarang….mau minta berapa kali? ” Nesa menggoda suaminya.

Al melumat kasar bibir istrinya dan diakhiri dengan menghisap kuat bibir bawahnya hingga merasa menebal.

“Mulutnya itu dijaga! Kata-kata vulgarmu selalu bikin aku deg-degan. Ayo pulang! Di tunggu ayah….”

Al membereskan semua sebelum Nesa akan menggodanya lagi.

**********

“Q….nggak bangun?” Bisik Al dan mencium sisi kepala istrinya.

“Sekarang jam berapa?” Tanya Nesa dengan suara parau, matanya terpejam.

“Jam 8….”

“Ayah uda sarapan ya?”

“Ini hari Sabtu sayang….ayah sama ibu uda berangkat sejak jam 6 ke rumah eyang….”

Nesa langsung terbelalak mendengar kata EYANG. Dia tidak mau disindir eyang bunda kalo datang terlambat.
Bisa-bisa dia dicap istri pemalas.

“Ini semua gara-gara kamu Al….sampe molor jam segini…” Nesa merengek dan menyalahkan suaminya. Dia masih sempat mencubit lengan Alvaro.

Al terkekeh, karena sejak akur pria itu mengganggu jam tidurnya.

“Kangen Q….nggak bisa kontrol kalo liat kamu ….mandi ya?! berangkat ke eyang jam berapa?”

“Abis mandi langsung berangkat…” Ucap Nesa sambil beranjak dari ranjang.

30 menit mereka keluar dari rumah.

Sebelum ke rumah Eyang Bunda, mereka menyempatkan sarapan di depot.

Nesa mengucapkan salam, dan yang dia cari adalah Eyang Papa dan Eyang Bunda nya terlebih dahulu.

Al membuntuti sambil membawa buah leci yang dibelinya. Jantungnya berdegup kencang, tangannya berkeringat. Gugup, itu yang dia rasakan.

“Awas kamu sakiti hati cucu eyang lagi ! tak cincang hati dan jantungmu…..” Ucap Bunda sambil merasakan tangannya di cium Al.

“Iya Eyang…maaf…nggak di ulangi lagi….Al janji….Al pasti lebih perhatian lagi…” Balas Al layaknya anak kecil.

“Ini buat nyogok eyang ya? Kok kamu tau eyang suka leci?” Ucap Bunda sambil matanya melirik Al dan mengunyah leci.

“Itu bukan nyogok Yang….kalo nyogok, Al belikan gelang atau kalung….”

“Terus kenapa nggak kamu belikan?!” Bunda mengernyitkan dahinya.

“Eyang minta Nesa aja ya….dia uda bawa 3 kartu debit bank Al… terserah mau yang mana…Al ikhlas kok …..” Al memperlihatkan wajah menyesalnya.

Bunda mendengus tak tega melihat wajah cucu menantunya.

“Nggak usah! Leci aja uda cukup!” Bunda berkata sinis.

“Nggak jadi gelang atau kalung Eyang?”

“Nggak jadi! Lebih seneng kalo kamu buatin cucu buyut buat Eyang….”

“Iya Yang….ini juga masih usaha…”

“Ya uda sana! Kamu tanya mertua mu sama om om mu, gimana caranya biar istrimu cepet mlendung ….”

“Iya Yang….” Ucap Al dengan sabar dan patuh. Akhirnya dia bisa melewati sidang singkat dengan eyang bunda.

Al berjalan sambil mengelus dadanya.

Dia bergabung dengan para pria yang sedang memotong rumput atau memotong ranting pohon yang menghalangi lampu jalanan.

Aji sempat meminta agar Bunda memanggil tukang kebersihan saja, untuk biaya, Aji yang akan menanggung. Tapi Bunda menolak.

‘terus gunanya punya anak laki apa?!’

‘jangan sok banyak duit… semua-semua bisa dibayar….kalo bisa dilakukan sendiri, kenapa nggak?!’

‘kalo kamu nggak mau bersihkan….nggak usah datang ke rumah Bunda…’

Itu yang Bunda ucapkan kalo Aji memintanya memanggil tukang.

Dan pada akhirnya, acara bersih-bersih ini menjadi rutinitas acara kumpul keluarga.

Sambil bekerja mereka bercanda, tak terasa semua sudah bersih, dan sedap dipandang mata.
Al sangat menyukai momen seperti ini, karena membuat mereka lebih akrab, meskipun kali ini dia sering menjadi bahan ejekan karena peristiwa kemarin.

Apalagi saat dia bercerita ketika Eyang Bunda mengomelinya, semua pria tertawa terbahak-bahak.
Sedangkan Al hanya mencebikkan bibirnya.

Para wanita, sibuk membersihkan dapur. Tak sampai 1 jam, ruangan itu sudah bersih. Lalu mereka lanjut menata hidangan yang sudah mereka masak dari rumah.

Bagaimana dengan Nesa?

Dia masih bermanja dengan Eyang Bunda dan Eyang Papanya.

Karena gilirannya nanti saat cuci piring.

Walaupun Nesa cucu perempuan satu-satunya, dia punya kewajiban yang sama seperti sepupunya atau kakaknya.

Makan siang usai, dan Nesa pun sudah selesai mencuci piring, tentunya dibantu oleh Al.

Pria itu tak hanya membantu, sesekali mereka bercanda dan membuat Al gemas hingga mencuri ciuman di pipi istrinya. Membuat Nesa merengek dan mengikik.

Mereka keluar dari dapur dan bergabung dengan sepupu yang lainnya duduk di ruang keluarga.

Ada yang bermain PS, ada yang mengobrol serta bercanda. Nesa duduk di antara 2 selangkangan suaminya.

“Nih! Cari kamu mulu!” Ucap Dimas sambil menyerahkan ponselnya ke Nesa.

“Siapa?!” Tanya Nesa dengan menerima ponsel Dimas.

“Oh….Elang….” Lanjut Nesa saat tau siapa yang menghubungi Dimas.

Al melihat Dimas tak suka.

“Aku uda bilang Elang…kalo kalian uda akur Al…beneran!” Ucap Dimas sambil menunjukkan 2 jarinya, seolah dia tau apa yang ada dipikiran Al.

“Al…ini Elang…yang nolong aku…” Nesa berucap.

Al memajukan wajahnya dan meletakkan dagunya di pundak istrinya.

“Terima kasih ya uda bantuin istri aku….” Al memang cemburu, tapi dia tak lupa berterima kasih atas pertolongan Elang.

Elang bisa melihat wajah Al dan Nesa saling berdekatan.

“Jagain istrinya… sering-sering bikin istri tersenyum! Sesekali kasih rayuan dikit….” Celoteh Elang memberi saran.

“Tuh Al! Dengerin!” Sahut Nesa.

“Tapi aku nggak bisa ngerayu Q…kamu tau sendiri kan?” Al tak mau kalah.

“Ya usaha kek…kan bisa browsing…apa gunanya HP…” Elang menuturi.

“Browsing?! Jawab WA istri aja nggak sempet apalagi browsing….” sedikitnya Al memberi tahu kesibukannya.

Dia mencium pundak istrinya, seolah menunjukkan bahwa dia sangat mencintai Nesa.

“Sesekali boleh lah Al….” Kata Nesa.

“Aku nggak bisa ratuku….gini aja dech…kamu pilih pria yang mana? Banyak rayuan atau banyak duit?” Tanya Al.

“Ya banyak duit donk….” Jawab Nesa cepat. Membuat Al tersenyum. Sedangkan Elang hanya bisa melihat kemesraan pasangan muda ini.

“sudah ya Elang… sekali lagi terima kasih…” Al memberi kode agar Elang tak mencari istrinya lagi.

“kasih ponselnya ke Dimas!” Pinta Al, dan Nesa tanpa kata memberikan kembali ke Dimas.

“Marah?” Tanya Nesa hati-hati. Menoleh dan melihat wajah suaminya.

“Nggak! Kan kamu uda pilih pria yang banyak duit…dan itu aku… kamu minta beli apa aja, aku belikan….tapi tolong jangan minta aku jadi pria romantis, buat kalimat rayuan….apapun itu aku nggak bisa Q…” Al menyadarkan istrinya.

“I’m sorry ok?!” Nesa berucap lirih.

“It’s ok my Queen….just love me just the way i am….”

“I love you Al…i love you…” Nesa mencium pipi suaminya dan tersenyum.

“Love you more Queen….” Al membalas dengan bisikan.

Nesa menyandarkan tubuhnya di dada suaminya, dan pria itu mendekap begitu posesif.

“Kamu bikin dia nangis lagi…pisau ini nancep di dadamu….” Valdi yang mengupas buah membuyarkan momen romantis ini.

“Uda selesai dramanya?” Tanya Bima.

“Nggak ada yang nge rekam? Kali aja bisa viral…..” Chandra menambahkan.

Nesa tersenyum malu, tapi tidak dengan Al, dia makin mencium pipi istrinya beberapa kali.
Dia sudah kebal di ledek dan di bully oleh saudara Nesa.

“Kita pergi yuk Al….” Rengek Nesa dengan manja, dia kasihan melihat suaminya di ledek terus.

Bagaimanapun Al tetap suaminya dan Nesa harus menjaga harga diri suami.

“Pengen kemana?” Al mencium belakang kepala istrinya. Rasanya Al tak bosan mencium dan menunjukkan rasa sayang ke istrinya.

“Ke ujung blok…banyak pujasera…jalan aja ya…” Nesa sudah berdiri dan menarik tangan suaminya.

“Ikutttt!” Ucap yang lain kompak.

“Enak aja ikut! ntar siapa yang bayarin? Paling juga suami aku yang barusan kalian bully…” Nesa menyentil saudaranya.

Al sudah beberapa kali disindir atau diejek, tapi dia tak marah sekalipun.
Al sadar, Nesa adalah ponakan, cucu dan sepupu wanita satu-satunya.
Apapun yang mereka ucapkan adalah bentuk kasih sayang kepada Nesa.

Dan pria itu sangat paham, melukai hati Nesa sama saja melukai keluarga ini.

Akhirnya mereka berjalan dan berbaris rapi layaknya sedang karnaval.

Di pujasera, para saudara Nesa dengan santai mengobrol dan menikmati gorengan dan es teh.

Setelah lewat 1 jam, mereka kembali ke rumah Bunda.

Mereka menghabiskan malam di rumah itu.

Nesa bersendar manja di separuh dada suaminya.

“Nes, kamu bisa nggak sich nggak usah manja-manja an terus?” Kata kakaknya Vasco.

“Emang ngapa?! Walaupun ada bantal yang harganya jutaan, bersandar di dada suami adalah tempat paling nyaman.”

Al pun berdehem seolah bangga. Dan Nesa langsung mendongak melihat suaminya.

“Awas kalo ada wanita lain yang bersandar di dadamu! Tak cubit usus mu!” Nesa mengancam.

Al mencium kening istrinya.

“Nggak diragukan lagi….kamu cucu Eyang…” Balas Al.

“Kenapa?”

“Tadi eyang mau cincang jantung, sekarang kamu cubit usus…nanti Ibu apalagi?” Tanya Al dengan nada pasrah membuat Nesa mengikik.

Nesa mencium rahang suaminya lalu mempererat pelukan.

Kemesraan mereka membuat saudara Nesa iri.

***

Beberapa bulan setelahnya.

“Selamat ulang tahun my Queen….” Ucap Al dan mencium kening istrinya dengan hangat. Hanya itu yang di katakan oleh Al.

“Makasih my lovely hubby….” Balas Nesa dengan parau, matanya masih terpejam.

Al mengusap lembut kepala istrinya.

‘kok dia nggak bangun sich? Ini kurang romantis ya? Maunya dia gimana?’ batin Al saat istrinya hanya merespon datar.

30 menit kemudian.

Al keluar dari kamar mandi, lalu duduk di tepi ranjang.

“Q….mau bangun jam berapa?” Tanya Al.

Nesa menggumam dan mengulet tubuhnya, matanya tak mau membuka.
Tidak ada reaksi dari istrinya, Al mengganti bajunya.

“Aku panasin mobil dulu ya…ntar lagi ayah sarapan lho….” Al kembali mengingatkan istrinya yang masih tidur. lalu ia keluar kamar.

“Nesa mana Al?” Tanya ayah yang sudah baca koran, duduk di sofa ruang keluarga.

“Masih tidur yah….”

“Semalam kalian begadang?” Tanya Aji, si menantu rasanya tau kemana arah pembicaraan ini.

“Nggak kok yah …dia tidur dulu. Jam 10 an Al selesai….”

Saat sarapan pun Nesa tak bergabung, dia masih tertidur nyenyak.

Ayah dan dua kakaknya telah berangkat.

“Kamu nggak berangkat juga Al?” Tanya Isti.

“Nunggu Nesa bangun Bu….”

“Nggak papa tinggal aja…..ntar ibu bilangin. Lagian tuch anak tumben amat bisa molor kayak gini? Kamu apain tadi malam?” Isti menuduh menantunya.

“Nggak di apa-apain Bu…dia malah tidur duluan….” Bela Al.

Tak lama Nesa keluar dengan muka bantal, dia berjalan sambil menguap.

“Selamat ulang tahun putrinya ibu….sehat terus ya…” Isti menghampiri anaknya dan mereka berpelukan.

“Makasih Bu….”

“Q….kok belum mandi?! Kan kita mau ke kantor daddy… mommy mau ketemu…” Kata Al saat Nesa malah duduk santai di sofa keluarga.

“Kasian mommy nya Nes….” Isti mengingatkan.

“Iya Bu…masih ngumpulin poin buat beli nyawa …..” Jawab Nesa sambil menguap.

Tak sampai 30 menit, Nesa sudah rapi, bersiap berangkat ke kantor daddy bersama suaminya.

“Ngapain aku ikut ke kantor?” Tanya Nesa sambil memulas bedak saat di mobil.

“Mommy pengen makan siang bareng…..”

“Jadi acara makan siang ini untuk ulang tahun ku?” Tanya Nesa dengan nada senang dan melihat suaminya.

“Ya nggak juga… mommy yang ngajakin, katanya uda lama nggak makan bareng ….”

Mendadak Nesa cemberut dan memalingkan wajahnya.

‘suami nggak tau diri! senengin hati istri napa?!…kan dia bisa pura-pura kalo acara ini untuk ulang tahun ku’ batin Nesa dengan bibir yang manyun.

Al dan Nesa memasuki kantor daddy.

“Al….kita keluar aja yuk! Kayaknya Tante sama Om masih ada yang harus di bicarakan…” Bisik Nesa begitu tau ada Stella dan suaminya yang bernama Dirga ada di ruangan daddy.

“Nes! Sini nak!” Pinta Rena ketika melihat menantunya yang masih berdiri di ambang pintu.

Nesa mencium punggung tangannya.

Mereka juga berlaku yang sama kepada daddy, Stella dan Dirga.

Mereka duduk bersama di sofa.

“Ini yang perlu di tandatangani!” Ucap Dirga sambil menyodorkan dokumen ke arah Nesa.

“Tanda tangan apa ya om?” Nesa penuh tanda tanya.

“Kamu belum bilang Al?!” Tanya daddy dan mommy bersamaan.

“Nggak sempet mom…dad….” Balas Al.

“Lagian dia harus baca sendiri sebelum tanda tangan….” Tambah Al dengan wajah serius.

‘baca apa?! Surat perceraian dan pembagian harta gono-gini?! Beberapa hari kita baik-baik aja kok … jangan-jangan dia balas dendam karena peristiwa beberapa bulan yang lalu’ Nesa melihat Al dengan berbagai spekulasi.

“Iya…lebih baik Nesa baca dulu aja… silahkan di baca dulu. Kalo ada yang nggak paham, bisa di tanyakan ke Om Dirga….kalo uda sreg… langsung tanda tangan…” Sahut Stella.

“Ini?” Tanya Nesa dengan ragu mengambil amplop polos coklat.

“Iya sayang…” Jawab Rena.

Dengan jantung yang berdebar, dia membukan amplop.

Dia mulai membaca, secara perlahan dia membuka halaman berikutnya. Namun tak sampai habis, dia langsung memeluk suaminya dan menangis.

“Jahat! Kamu jahat!” Ucap Nesa sambil terus menangis.

“Masih kurang ya?!”

“Al…..” Rengek istrinya yang masih menangis di pelukannya.

“Aku nggak tau kamu pengen apa….” Ucap Al sambil mengusap punggung istrinya.

“Tapi kan nggak harus gini….”

“Daripada aku belikan baju, ntar 6 bulan berikutnya uda nggak trend lagi….”

“Kan bisa kalung atau gelang….”

“Bulan kemarin kan uda….tapi kalo mau lagi ya nggak papa…ntar pulangnya kita beli ya….”

“Al….” Nesa kembali merengek manja dan memeluk suaminya lebih erat.

“Q…kalo mau buruan tanda tangan…kalo nggak mau ya nggak papa…om Dirga banyak urusan…” Kata Al mengingatkan.

“Ya mau lah….” Balas Nesa dan melepaskan pelukannya.

Rena memberikan tisu sambil tersenyum melihat tingkah menantunya.

Akhirnya Nesa menandatangani surat hibah sebuah rumah yang di beli oleh suaminya.

Setelah tanda tangan, Stella dan suaminya meninggalkan ruangan Dani.

Di ulang tahun Nesa kali ini, Al membelikan sebuah rumah.

“Ngapain kamu beli di blok situ Al?” Tanya Nesa.

“Supaya kamu jalan kaki aja ke Nila.”

“Kan mahal….di blok itu semua ada kolam renangnya.”

“Al minta sekompleks sama rumah ayah. Beberapa kali liat rumah lain, dia ngerasa cocoknya yang ini ….dia selalu kebayang rumah mu itu.” Kata mommy.

“Kapan kamu belinya?”

“Bulan kemarin…” Jawab Al santai.

“Kok nggak bilang?”

“Sesekali jadi cowok romantis. Ngasih kejutan buat istrinya….” Jawab Al.

“AUW!” Pekik Al saat Nesa mencubit paha suaminya.

“Gombal!”

“Q….di sini ada orang tua ku… berani-beraninya kamu cubit anaknya” ucap Al meraih tangan istrinya dan menggenggamnya.

“Cubit aja terus Nes…. mommy ikhlas kok …kalo dia nyebelin kayak kemarin, mommy pasrah aja… terserah Nesa….” Kata Rena.

“Emang mantu mommy nggak nyebelin?! Kita datang telat ke sini gara-gara dia….sampe ayah nuduh aku semalam abis ngapa-ngapain dia…padahal dia tidur paling duluan, bangunnya paling belakangan…” Al membela diri dan mengadu.

“Abisnya ngantuk mulu mom….badan rasanya capek banget…loyo gitu…” Nesa berkata.

“Ke dokter aja Nes….kali aja kurang darah …jangan di tunda-tunda, semakin cepat kita tau… semakin cepat di tangani….” Ujar Dani yang sedari tadi diam.

“Mulai kapan ?” Tanya Rena.

“Uda lebih dari semingguan mom….. Setelah aku berangkat ke kantor biasanya dia ke salon, tapi ternyata balik tidur.
Pernah sekali aku begadang di warung sama dia, soalnya dia nggak bisa tidur, minta di anter ke warung…

2 kali tengah malam nemenin dia liat film di kamar…

Kalo di cuekin, ngambek…mewek…

Kan aku juga butuh istirahat….” Al mengadu.

“Insomnia?” Tanya Dani lagi.

“Nesa nggak tau dad…..kadang tidur normal, kadang ya gitu…” Jawab Nesa.

“Kayaknya bukan insomnia dad…jam tidurnya kebalik. Dia baru bisa tidur abis shubuh, bangun bentar sarapan, mandi…terus tidur lagi sampe siang….malam melek…” Kata Al lagi.

“Abis makan siang, kita ke dokter bentar ya…. kamu nggak usah ikut Al… biar sama mommy aja….” Ucap Rena.

Mereka menyetujui.

Sekitar pukul 15, Ronald datang dengan membawa 3 kantong paper bag dengan ukuran besar.

“Maaf Pak Dani…ini pesanannya Bu Rena…” Ucap Ronald ketika raut wajah Dani menunjukkan tanda tanya.

“Tapi Rena masih ke dokter….”

“Saya tadi cuma di telpon Bu Rena, di suruh ambil barang di toko aja, lalu taruh di kantor Bapak….”

“Ok… makasih banyak Ronald…” Ucap Dani sebagai isyarat Ronald boleh meninggalkan ruangannya.

Dani menghubungi istrinya.

Rena : iya mas….

Dani : ini kamu yang pesen barang-barang?

Rena : o….Uda datang ya?

Dani : sudah…kenapa kok suruh Ronald? Kalian nggak papa kan? Kamu sama Norman kan Ren?

(Dani mengkuatirkan istri dan menantunya, dan dia juga memastikan ada orang kepercayaannya yang menjaga mereka)

Rena : iya mas…aku sama Norman. 20 menit lagi mungkin kita uda nyampek di kantor.

Setelah puas dengan jawaban istrinya, Dani menutup telepon.

Beberapa menit kemudian Al memasuki ruangan Dani.

“Mommy belum datang?” Tanya Al saat dia melihat ruangan hanya ada daddy-nya.

“Katanya ntar lagi…. kerjaan kamu uda selesai? Kok kamu disini?” Tanya Dani kepada anaknya yang sekarang bekerja sebagai PR Art’s group.

Dani harus menjaga image anaknya, walaupun Al keturunan Artomoro, dia tetap dinilai dengan standar yang berlaku.

Al juga sadar, untuk urusan lapangan, dia paling lihai, bahkan dia lebih luwes dan lebih cakap dari PR sebelumnya.

“Nunggu laporan dari Art’s entertainment. Tadi mommy telpon suruh ke sini. Ini apa dad?” Tanya Al melihat kantong belanja di sofa.

“Pesanan mommy mu….”

Rena dan Nesa masuk sambil mengucapkan salam, Al serta Dani membalas salamnya.

“Gimana kata dokter?” Tanya Al menghampiri istrinya dan mencium keningnya.

Nesa tak menjawab malah memeluk suaminya.

“Q…. kamu kenapa?” Tanya Al kuatir dengan diagnosa istrinya.

Dani menghentikan pekerjaannya dan melihat ke Rena.

Rena hanya tersenyum, tapi hati Dani tidak tenang.

“Aku minta maaf ya…. mungkin aku nanti bakal ngerepotin kamu terus…” Ucap Nesa dan melepaskan pelukannya.

“Q….kamu sakit apa?! Jangan buat aku takut….”

Nesa tersenyum lalu meraih satu tangan suaminya.

“Aku nggak sakit, dia butuh asupan dan perhatian…” Ucap Nesa bersamaan meletakkan tangan Al di perutnya.

“Hamil?! Kamu hamil Q?!” Tanya Al dengan mata berbinar-binar.

Nesa mengangguk dan tersenyum.

Dani melihat Rena lagi, mengangkat alisnya seolah ingin membenarkan apa yang baru saja dia dengar. Rena pun membalas dengan senyuman serta anggukan.

Pria itu memeluk erat istrinya hingga tubuh Nesa terangkat.

“AL!” Pekik Rena dan Dani bersamaan membuat Al dan Nesa terkejut.

“Dia masih hamil muda Al….masih rawan…Dan yang paling penting, jangan sering-sering nindih istrimu.” Pesan Rena.

“Kok ada peraturan itu juga mom?” Tanya Al tak percaya.

Bagaimana dia bisa menahan gairah? Berdekatan dengan istrinya yang bermula ciuman kening lalu menjalar ke desahan. Kadang istrinya juga menggodanya dengan kalimat-kalimat yang vulgar.

“Emang iya Al….dulu daddy juga nggak boleh terlalu sering di trimester pertama…” Kata Dani.

“Tapi masih boleh kan mom?” Tanya Al sambil menggeret istrinya duduk di sofa.

“Boleh….tapi jangan terlalu sering….yang kalem Al….” Kata Rena.

“Syukurlah…apa jadinya si Pino kalo nggak ketemu Vina 3 bulan?” Bisik Al di telinga istrinya. Dan Nesa kembali mencubit paha suaminya, Al hanya bisa meringis.

“Itu belanjaannya….kamu cek bener sesuai pesanan?” Dani mengingatkan.

“Ini buat Nesa mas…..aku telpon toko maternity and nursing. Aku minta dikirim beberapa baju hamil buat Nesa.” Jawab Rena

“Mommy kapan belinya? Kok Nesa nggak tau….” Nesa menanggapi.

“Tadi waktu Nesa tidur, waktu antri vitamin…” Ucap Rena sambil tersenyum mengingat menantunya yang tidur di sembarang tempat.

“Dia tidur di apotek?” Tanya Al meyakinkan lalu melihat istrinya. Nesa hanya tersenyum tanpa dosa, lalu membuka isi paper bag.

“Iya…sejak antri dokter, dia nguap terus. Di apotek dia nggak kuat nahan….” Kata Rena sambil terkekeh.

“Mommy….ini banyak banget ….” Nesa berucap sambil menjembreng baju yang dibelikan mertuanya.

“Nggak papa Nes…. Mulai besok kamu harus pake baju hamil. Biar anakmu cepat besar. Al….kolam renang di rumahmu kasih pagar.” Pinta Rena.

“Ya nanti Ren….Nesa mungkin 9 bulan lagi. Anaknya lahir juga nggak langsung jalan kan…..” Sahut Dani.

“Maksudnya supaya sekalian renovasi. Itu ada beberapa bagian yang harus di perbaiki. ….” Rena tak mau kalah.

“Al….aku pengen liat rumah baru….”kata Nesa.

“Tapi ini belum jam pulang Q…..”

“Iya, maksudnya nan_”

“Nggak papa …kalian pulang duluan aja….kalo sama orang hamil harus di turuti semua….”

Dani mencebikkan bibirnya.

“Nesa sama mommy di anter Ronald dan Norman ya….jam 5 pas daddy pulang sama Al langsung ke rumah baru kalian…. sekalian kita makan malam di rumah Nesa….” Dani memutuskan.

Mereka pun setuju. Saat pamit Dani menyempatkan berbisik ke Rena.

“Jaga nama baik anak kita Ren….”

“Iya…sori ya mas….” Balas Rena dan mencium singkat bibir suaminya.

“Kamu tebus nanti malam….” Dani memberikan kode untuk istrinya.

***

Al berdiri seorang diri di dekat jendela.

Nesa menghampiri suaminya, memeluk dari belakang lalu mencium punggung tegapnya.

“Liat apa?!” Bisik Nesa.

Al merubah posisi, kini Nesa di sebelah suaminya dan Al merangkul pundaknya.
Nesa menyambut dengan melingkarkan tangan di pinggang suaminya.

“Aku nggak sabar liat anak kita main di luar sana” kata Al lalu mencium samping kepala istrinya.

“Masih lama …ini aja masih usia 5 mingguan ….pulang yuk…aku lapar ..” Nesa menguraikan pelukannya.

“Kamu sebutin… kamu pengen apa?”

“Emang kamu bakal beliin semua?” Nesa bertanya balik.

“Iya donk… soalnya kalo uda ada si kecil, jatah kamu berkurang…” Ucap Al sambil menarik hidung mancung istrinya.

“Pelit! Harusnya kamu lebih giat kerja. Supaya makin banyak yang pake Art’s group. Komisi nya pasti nam_”

Nesa tak melanjutkan kalimat, karena Al membungkam mulut istrinya dengan 2 kali lumatan.

“Pinter banget kalo ngitung komisi!” ucap Al saat menjauhkan bibirnya.

Nesa terkekeh lalu menarik tangan suaminya.

“Yuk ke mommy dan daddy! Mereka uda nungguin di depan…”

Mereka pun ke rumah Aji yang hanya berbeda blok saja.

Nesa sudah mengatakan ke ibunya bahwa mertuanya akan makan malam bersama.
Isti pun langsung menghubungi saudara suaminya, mengerahkan pasukannya.

Nara membuat macaroni schotel.
Linda memasak koloke.
Adila kebagian gule daging sapi.
Amira, es buah dan salad.

Sedangkan Isti sendiri hanya membuat pepes, perkedel dan soup, tak lupa sambal.

Mereka masak sesuai dengan keahliannya.
Secara bergantian mereka menyetor hasil olahannya.

Sekitar pukul 18.00, mereka tiba di rumah Aji.

“Ibuuuu….” Nesa langsung mencari ibunya lalu memeluk Isti yang ada di ruang makan.

“Kenapa Nes?!” Ucap Isti yang masih tertegun.

Tiba-tiba anaknya datang dan memeluknya, sangat diluar kebiasaan.

“Nesa minta maaf kalo nanti Nesa bakal sering ngerepotin ibu….” Ucap Nesa melepaskan pelukannya.

“Baru nyadar kalo sering ngerepotin?”

Nesa mengikik lalu bibirnya mendekat ke telinga Ibunya.

“Nesa hamil…” Bisik Nesa.

“Alhamdulillah….” Ucap Isti lalu memeluk anaknya.

Isti mendengar suara suaminya memanggil namanya.

“Kamu mandi dulu, ibu nemuin mertua mu…” Tambah Isti.

Mereka melewati makan malam dengan suasana yang hangat.

“Itu semua siapa yang masak? Kok cepet banget….” Tanya Rena saat usai makan malam. Kini mereka berkumpul di ruang keluarga.

“Saudara mas Aji…. kebetulan rumahnya nggak jauh dari komplek sini…” Isti menjelaskan.

“Lengkap! Ada tradisional, arabian, Chinese, western….kalo saya dari dulu suka yang tradisional…saya suka pecel…”

“Waduh… kenapa nggak bilang? Padahal bahan-bahannya ada lho Bu….”

“Kalo saya nggak rewel….semua saya makan. Tapi kalo mas Dani, dulu rewel banget….nggak bisa makan nasi….”

“Kan sekarang uda mau nasi Ren…” Dani membela dirinya sendiri.

“Awalnya terpaksa. Dulu hamil Al, kalo liat makanan, saya pengen ngerasain semua. Tapi ternyata cuma sesuap aja. Sisanya mas Dani yang makan….nah itu mulanya dia makan nasi …” Rena mengingat masa kehamilannya.

“Nggak tau nanti ini anak Al gimana….” Tambah Dani.

“Rasanya nya ndableg…kayak kebo….kamu begadang lagi Al….” Ucap Isti sambil dagunya menunjuk ke arah Nesa yang sudah terlelap di pelukan suaminya.

“Tidur Bu?” Tanya Al, karena dia tidak bisa melihat wajah Nesa yang menunduk.

Mereka menjawab dengan tawa melihat Nesa tertidur pulas, rasanya dia tak menghiraukan keramaian.

“Iya… kedengaran orang ngomong, kayak dongeng sebelum tidur…” Ucap Rena.

Hingga Rena dan Dani pulang, Nesa masih tidur. Al membetulkan posisi istrinya dengan merebahkan tubuh Nesa secara perlahan di sofa agar lebih nyaman. Di sisi lain, tangan Al mulai kebas dan kesemutan.

Dan benar, pukul 11 malam Nesa terbangun.

Dia melihat suaminya tidur meringkuk di seberang sofanya.

Nesa menuju ruang makan, ada sisa hidangan makan malam tadi. Dia tidak menyentuhnya.

Dia membuka kulkas, ada salad dan es buah, dia cuma melihat lalu menutupnya.

“Al….Al….” Nesa menepuk pelan kaki suaminya, dan berucap lirih.

“Iya Q…..” Al mengerjapkan mata, perlahan dia bangun dan duduk.

“Kita keluar yuk…..”

“Keluar kemana?” Tanya Al dengan mata yang sayu.

“Aku pengen ke cafe…..”

“Ini jam berapa Q?”

“Masih jam 11 an….pasti masih rame….”

Tanpa bicara Al menuruti permintaan istrinya.

Beberapa menit setelahnya, mereka tiba di cafe.

“Kok rame Al?” Tanya Nesa ketika mobil akan parkir.

“Mungkin ada event….kita cari tempat no smoking area ..” Jawab Al.

Nesa hanya mengangguk patuh, ini pertama kalinya dia kesini dengan suasana yang rame.

Sambil berjalan menuju cafe, Al menggenggam erat tangan istrinya.

Al melihat sekeliling ruangan, semua meja tampak terisi.

Kehadiran sosok Nesa yang cantik, menarik perhatian para pengunjung yang mayoritas kaum pria.

“Mau duduk dimana? Penuh semua…..” Ucap Al.

“Al!” Pekik suara pria di belakangnya.

Mereka menoleh, 3 orang pria melambaikan tangan.

“Yuk kesana!” Pinta Al tak melepaskan genggaman.

Sepasang suami-isteri itu berjalan menuju segerombolan pria.

Lalu Al menjabat tangan ke penghuni meja itu yang berisi 8 orang.

“Aku pikir kamu lepas beneran cafe nya….” Ucap seorang pria.

“Iya…aku lepas beneran. Aku serahkan ke yang lainnya. Kebetulan nyonya lagi pengen main ke sini…kalian uda kenal istriku kan?” Balas Al.

“Siapa yang nggak tau Nesa? Wanita cantik ini selalu melekat di otak…” Ucap pria lain sambil mengedipkan sebelah matanya.

“Suaminya di sini….dia juga lagi bunting ….” Al mengingatkan.

“Anakmu Al?!” Tanya pria yang lain.

“Ya kalo bukan sperma aku dia bunting darimana?! Download lewat store?!” Jawab Al kesal dengan pertanyaan temannya.

Nesa terkekeh mendengar candaan Al, wajah suaminya pun terlihat menggemaskan.

Teman-teman Al pun ikut tertawa.

“Di sini ada makanan apa aja Al?” Tanya Nesa, perutnya mulai lapar.

Akhirnya Al memesankan roti bakar.

Tak lama, Nesa menginginkan makanan yang lain.

Al meminta untuk dibuatkan sandwich.

Setelah sandwich, tahu telur, kemudian mashed potato.

Nesa menikmati makanan tanpa menghiraukan Al dan teman-temannya yang larut dengan euforia nobar sepakbola.

Jam 1 dini hari, Nesa minta pulang.

Walaupun kompetisi belum selesai, Al rela meninggalkan cafe.

Tiba di rumah, mereka langsung terlelap.

Esok pagi.

“Kamu nggak usah datang ke cafe lagi ya Q…..” Ucap Al saat Nesa keluar kamar mandi.

“Kenapa? Kamu nggak mau nganterin?” Tanya Nesa yang berdiri di meja rias sambil menyisir rambutnya.

Al menghampiri si istri dan mencium belakang kepalanya.

“Beberapa pengunjung kemarin buat story, dan sengaja atau nggak…..ada wajahmu…aku nggak suka Q….”

Nesa membalikkan tubuhnya.

“Kamu cemburu?” Tanya Nesa dan merapikan krah kemeja suaminya.

“Bukan cemburu… sekarang criminal cyber itu banyak sekali, modusnya pun kadang di luar perkiraan kita….”

Nesa paham kemana arah pembicaraan suaminya.

Memang keluarga Artomoro benar-benar menjaga privasi.

Al dan Illo sangat jarang sekali menunjukkan aktivitasnya di dunia sosial media.

“kalo ke cafe pas sepi masih boleh kan?”

Al mengangguk dan tersenyum.

Jam tidur Nesa masih berantakan.

Kadang Nesa tak mau ke cafe, dia cuma pengen jalan-jalan mengelilingi kota saat malam hari melihat gemerlap lampu.

Tentu saja mulutnya tak tinggal diam, terus mengunyah.

Hingga suatu hari Al pulang ke rumah jam 7 malam. Tepat jam makan malam.

“Baru pulang Al?” Tanya ayah ketika Al baru memasuki rumah.

“Iya yah. Beli cemilan dulu buat Nesa. Biar nggak begadang….”

“Kayaknya kamu uda tau trik nya…” Aji menggoda menantunya.

“Pokoknya dia minta gonta-ganti menu …”

“Sekarang kamu belikan apa?”

“Pisang keju, panekuk, martabak sama roti Maryam….”

“Jadi kamu yang mikir buat makanan dia?”

“Bukan yah….kepala Al mumet kalo disuruh mikir gituan…. mommy yang kasih jadwal…ntar Al tinggal beli aja. Kalo nggak ada, ntar di masakkan mommy….”

“Ya uda mandi dulu…kita mau makan malam….”

Al menuruti perintah mertuanya.

Beberapa kali Al begadang, dia sudah tau pola tidur dan makan istrinya.

Selain makanan, dia juga membelikan novel untuk istrinya.

Karena jika Nesa sudah membaca novel, dia tidak mau di ganggu.

Dan ini menjadi kesempatan Al untuk istirahat.

4 bulan sudah terlewati.

Jam tidur Nesa sudah kembali normal.

Perubahan fisik yang di alami Nesa sangat terlihat jelas.

Kadang Nesa sendiri sempat minder dengan perubahan bentuk badannya.
Tapi Al selalu bisa menenangkan hati istrinya dan membuatnya nyaman.

Al sering mengajak makan siang di mall yang masih satu lokasi dengan kantornya.
Mereka sering bertemu karyawan di bawah naungan Art’s group yang kebetulan makan siang juga.

Tanpa malu dan tanpa sungkan, saat berjalan Al melingkarkan lengannya di pinggang istrinya atau menggenggam jemarinya.
Bahkan Al secara sengaja mencium samping kepala istrinya, membuat Nesa tersipu malu.

“Kamu nggak malu cium wanita hamil di tempat umum?”

“Nggak! Aku mau tunjukkan kalo aku berhasil menghamili wanita….”

Nesa mendengus kesal, dia pikir Al mencium dirinya sebagai bukti bahwa dia menyayanginya, ternyata untuk menunjukkan keperkasaannya sebagai lelaki.

‘egois….’ itu yang ada di otak Nesa.

Tapi wanita ini merasa senang dengan perlakuan suaminya.

“Al…..kamu uda tidur?” Tanya Nesa duduk di tepi ranjang saat menjelang jam tidur.

“Belum…. kenapa?”

“Tadi kamu pulang kerja nggak mandi ya?”

“Uda mandi Q….kan kamu tadi yang ngomel handuk basah taruh di ranjang….”

Itulah kebiasaan buruk Al yang sering menjadi keramaian di kamarnya.

“Tapi bau badan mu kok nggak enak?!”

“Ini uda pakai cologne yang biasanya ….”

“Tapi tetep aja bau ….aku nggak suka….”

“Jadi aku mandi lagi?”

Nesa hanya mengangguk.

Al dengan pasrah beranjak dari ranjang lalu masuk kamar mandi.

Beberapa menit kemudian, Al keluar dari kamar mandi.

“Pake yang mana?” Tanya Al sambil mengangkat parfum dan cologne.

“Yang merah emas….” Jawab istrinya.

Dengan menghela nafas, Al menyemprotkan parfum dengan inisial Baccarat di tubuhnya.
Nesa tersenyum ketika hidungnya mencium aromanya.

Al duduk di tepi ranjang, dan merebahkan tubuhnya yang sejak tadi butuh istirahat.

“Al….” Ucap Nesa lirih.

“Pengen apa?” Tanya Al dengan sabar, matanya sudah terpejam.

“Bau parfum nya kok uda ilang…kamu beli yang KW?”

Al yang semula ngantuk berat, akhirnya tersenyum mendengar ucapan istrinya.

“Q….aku lebih baik nggak pake parfum daripada beli yang KW. Mending pakai cologne yang beli di minimarket….”

“Tapi bau nya kok uda ilang….” Rengek Nesa.

“Emang kenapa kalo bau nya ilang?” Al tak sabar ingin menanyakan sebab akar masalah aroma ini.

“Aku nggak suka bau badanmu….kepalaku berat ….”

“Mual?!” Tanya Al.

“Nggak mual….tapi nggak enak aja…”

“Terus gimana? Jalan-jalan?”

“Aku nggak mau jalan, aku pengen tidur….”

“Ya Uda…. tidur aja….”

“Nggak bisa kalo ada kamu….”

“Terus aku dimana?” Tanya Al.

“Kamu bobok di sofa ya…” ucap Nesa dengan wajah memelas, sebenarnya dia tak tega.

“Ini beneran Q? Atau kamu pengen di belikan apa gitu….” Tanya Al tak percaya si istri memintanya tidur di luar kamar.

Mungkin saja istrinya menginginkan sesuatu tapi dia tak mau membicarakan dan membuat alasan seperti ini.

“Aku cuma pengen tidur…tapi aku nggak bisa tidur kalo cium bau badan mu…. rasanya di badan sama kepala nggak enak aja….”

Al yang sudah lelah, tak mau memperpanjang masalah ini. Dia ingat kata mommy.

‘no debat untuk orang hamil’

Mau tak mau dia keluar kamar sambil membawa bantal.

“Kok keluar?! Katanya ngantuk….” Tanya Vasco.

“Kata orang hamil aku di suruh tidur di luar….” Jawab Al dengan mulut cemberut.

Vasco dan Valdi yang sedang bermain PS tertawa terbahak-bahak.

“Boleh agak sonoan?! Ngantuk berat kak….” Tambah Al ketika duduk di sofa.

Vasco pun bergeser, mengalah untuk adik iparnya.

“Lho?! Kok Al tidur di sini?” Tanya Ayah yang baru masuk. Dia menyempatkan bercengkrama dengan pak Im di teras.

“Di usir sama Nesa….” Jawab Valdi yang matanya tetap fokus di layar TV.

“Ngamuk lagi?!” Tanya Aji.

“Nggak yah…. katanya kepalanya berat atau nggak enak kalo ada aku…” Jawab Al, dia tidak mau mertuanya salah paham.

“Turuti aja…ntar kalo dia udah tidur, kamu masuk kamar….nggak baik tidur di sofa, badanmu nanti sakit semua….” Aji memberi saran.

“Nggak papa kali Al kalo di usir dari kamar….yang penting jangan di usir dari rumah…” Vasco menambahkan.

“Aku jadi gelandangan kak….wong rumahnya atas nama dia….”

“Nggak punya rumah…tapi punya hotel ya Al….” Sahut Valdi.

4 pria itu pun tertawa, Al yang semula lelah dan mengantuk sekejap hilang.

Beberapa saat mereka masih berbincang ringan dan bercanda.

“Uda jam 10….ayo masuk kamar semua!” Pinta Aji.

Vasco dan Valdi patuh dengan menghentikan permainan mereka.

“Kamu juga Al! Coba intip! Pasti dia uda tidur….kamu masuk aja!” Aji menambahkan.

Al pun menurut, dan ternyata benar, dia bisa tidur seranjang dengan istrinya.

Seperti biasa, Al bangun lebih dulu. Dia tersenyum saat Nesa memeluk lengannya dan menyandarkan kepala di pundaknya.

‘semalam di usir! Sekarang peluk-peluk! Ribet ya Q?!

Apapun aku turuti…. Pokoknya jaga anak kita ….’ batin Al sambil mengusap lembut kepala istrinya lalu menciumi puncak kepalanya beberapa kali.

Nesa menggumam dan kini dia memeluk tubuh suaminya lalu mengecup dadanya.

“Kamu uda mandi? Kok harum ….” Ucap Nesa dengan suara parau.

Al menghela nafas dan gemas, lalu membatin ‘untung istri sendiri…coba orang lain, aku jitak sekalian!’

“Bukannya semalam kamu yang minta aku pake parfum?” Al mencoba mengingatkan. Dia meraih tangan istrinya dan mengecup beberapa kali.

“Oh iya ya….” Jawab Nesa santai.

“Sekarang uda nggak Be Te? ”

Al merasakan gelengan kepala di dadanya.

Pria itu tersenyum merasakan tingkah laku istrinya di saat hamil seperti ini.

“Hari ini mau kemana?” Tanya pria itu sambil memainkan jemari istrinya.

“Boleh ikut ke kantor? Nanti mau janjian makan siang sama Illo…..”

“Kok aku nggak di ajak?! Sebenarnya Illo adik sapa sich?”

Nesa mengikik, dia mendongak lalu mencium singkat bibir suaminya.

Saat Nesa menjauhkan bibirnya, Al menahannya dengan memegang rahang si istri lalu dia melumat bibirnya.

Lumatan yang awalnya lembut berganti gairah serta menuntut.

Dan mereka bercinta di pagi hari sebagai penyemangat aktivitas.

Usai sarapan, Al menunggu istrinya di balik kemudi.

Nesa memasuki mobil tapi dia duduk di belakang.

“Kok di belakang?!” Tanya Al.

“Hidung ku lagi kumat….nggak suka bau badanmu….”

“Padahal tadi pagi kamu peluk aku lho Q….cium-cium leherku…” Al mengingatkan baru beberapa jam setelah percintaannya.

“Aku di sini? Atau aku naik taksi?”tanya Nesa bernada ketus.

“Baik Baginda Ratu….kita berangkat…” Ucap Al sambil menjalankan mobilnya.

‘bisa cepet berubah gitu ya? Tadi manis kayak kelinci…. sekarang kayak singa…’ batin Al melihat istrinya dari kaca spion.

Dia tersenyum melihat Nesa yang tubuhnya makin berisi, perut makin membuncit, terlihat seksi dan menggemaskan bagi Alvaro.

Tiba di kantor, Nesa tak mau berjalan berdampingan dengan suaminya.

Dia jalan lebih dulu, dan Al yang membawa bekal istrinya membuntuti dengan sabar.

Beberapa pegawai menduga pasangan ini sedang bermasalah.

Dan Nesa yang biasanya ceria dan selalu tersenyum, kali ini menunjukkan wajah datarnya.

‘kesempatan nich!’ batin seorang wanita yang berada dalam 1 lift dengan mereka.

Al mengantar Nesa ke ruangan Illo yang satu lantai dengan ruangannya.

Jam makan siang, Nesa menghampiri ruangan suaminya lalu berpamitan. Walaupun emosinya tak stabil saat bersama suaminya, tapi Nesa patuh ketika Al mencium keningnya sebelum ia meninggalkan ruangan.

Al mendengar seseorang mengetuk pintunya.

“Ya…masuk!” Ucap Al.

“Bapak nggak makan siang?” Tanya Karmen, salah satu PR di anak perusahaan Artomoro. Dia terlihat cantik dan menarik.

“Nanti….ada yang perlu di diskusikan?”

“Oh….nggak kok Pak… mungkin kita bisa makan siang bersama? saya juga nggak ada teman….”

Al tersenyum, dan terlihat makin manis serta tampan.

“Karmen….sejak nikah, aku nggak pernah makan siang berdua dengan lawan jenis. Walaupun dia partner bisnis kami. Aku nggak mau momen itu menjadi Boomerang buat aku, keluarga ku dan perusahaan ini. Lagian aku juga sudah pesan makanan lewat online…..”

“Baik pak…saya hanya menawarkan aja kok….” Menutupi rasa malunya karena penolakan halus.

“Terima kasih atas tawarannya…aku mau telpon dulu….” Al mencari alasan untuk mengusir wanita ini.

Akhirnya Karmen keluar ruangan, dan Al langsung menelpon istrinya.
Dia merasa rindu, padahal mereka baru berpisah beberapa menit.

Usai makan siang, Al menyempatkan ke ruang Daddy, dan tentu saja ada mommy yang membawa makan siang untuk daddy.

“Setelah begadang, benci bau badanku….terus apa lagi?” Tanya Al usai menceritakan tentang mood istrinya yang cepat berubah.

“Rata-rata orang hamil gitu …. susah di tebak….” Ucap Dani.

“Jadi normal ya dad?” Tanya Al.

“Nggak selamanya kayak gini kok Al…. ini juga bisa kamu kenang dan kamu bisa ceritakan ke anakmu…”

Al tersenyum lebar ketika bicara anak.

Tak lama Illo dan istrinya masuk ke ruangan daddy.

Usai menyalami, Nesa duduk di sebelah suaminya dan memeluk lengannya.

Al melihat ke arah mommy serta daddy yang tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.

“Ngantuk?” Tanya Al mencium puncak kepala Nesa.

“Pengen peluk aja….”

Begitulah Nesa, saat ini bersikap baik, tapi beberapa detik berikutnya bisa jadi bertolak belakang.

Tapi untungnya kondisi ini hanya di alami Al tak lebih dari 1 bulan.

Berikutnya, Nesa kembali semula.

“Hari ini kemana?” Tanya Al, pertanyaan yang tiap hari dia tanyakan ke istrinya.

“Mau ke salon aja…ngantuk bisa langsung tidur…kalo di kantor, sungkan ama yang lainnya….tapi ntar makan siang bareng ya…”

“Kapan kamu berhenti kerja?” Tanya Al yang sudah di belakang istrinya sambil mengusap perutnya yang sudah besar.

“Eh…dia geraknya jelas banget! Kamu pengen apa nak?!” Tambah Al ketika dia merasakan sesuatu di tangannya. Tangan Nesa menumpuk di tangan Al.

“Masih 2 bulan lagi Al…aku ngapain di rumah?”

“Rasanya aku malas berangkat kerja…aku pengen sama kamu, dia makin sering gerak, aku pengen ngerasain terus…..”

“Terus daddy ngomel lagi….”

Al terkekeh, dia berlutut di depan istrinya lalu menciumi perutnya dan melingkarkan lengannya di tubuh Nesa.

“Jaga mama ya….nanti kalo papa pulang, kita main lagi….” Ucap Al mencium sekali lagi. Nesa mengusap kepala suaminya dengan lembut dan penuh kasih sayang.

Sejak gerakan janin yang di kandung Nesa makin aktif, Al selalu ingin di samping istrinya.

Bahkan tanpa diminta, saat makan siang dia rela ke salon demi ingin merasakan gerakan anaknya.

Tiap malam, Al memegang perut istrinya sambil berbincang. Kadang tertawa saat mereka membicarakan rencana anaknya lalu merasakan gerakan di perut Nesa.

“Jadi kamarnya mau di cat warna putih aja ya? Kasih papa tos donk….”

Calon bayi mereka bergerak lagi.

“Ok nak…kamar warna putih! Dia uda bisa diskusi Q….” Ucap Al sambil menciumi perut Nesa, rasanya dia tak bosan.

Al dan Nesa sengaja tidak ingin tahu apa jenis kelamin anak pertamanya.

Mereka fokus ke kesehatan anaknya.

***

Hari ini, sesuai jadwal, Nesa berenang di club house yang tersedia di perumahan ini.

Tak sendiri, sepupunya yang juga member klub bugar ini juga ikut berenang.

Usai berenang 2 lintasan, Nesa istirahat di tepi kolam, tentunya ditemani suaminya. Dia melihat Nila menghampirinya.

“Kok kalian renang nggak ngajak-ngajak sich?” Ucap Nila.

“Lha?! Rumah situ kan uda ada kolam renangnya…. ngapain di mari?!” Balas Nesa.

“Renang dirumah nggak enak… nggak seru kalo renang sendiri…. mertua mu juga punya kolam…ngapain kamu nggak ke rumahnya aja?!”

“Jauh mbak….di sini aja …cukup jalan kaki…bukannya kamu mau keluar sama Rama, Nil?”

“Nggak jadi! Ada sodaranya datang….”

Akhirnya Nila ikut bergabung dengan saudara Nesa.

Nesa sendiri merasa cukup, lalu dia ganti baju.

Usai ganti, dia duduk sambil menikmati kue yang dibawanya dari rumah.

Setelah menunggu saudaranya hampir 1 jam, akhirnya mereka pulang ke rumah Aji.

Mereka berjalan perlahan mengikuti langkah Nesa. Tentu saja mereka juga bercanda dan tertawa.

Rumah Aji sudah terlihat, tapi…

“Al….kok celanaku basah…” Ucap Nesa dan berhenti melangkah.

Al yang digandengnya pun ikut berhenti lalu melihat bagian belakang istrinya. Dan memang celana trainingnya basah.

Saudara yang lain pun ikut berhenti.

“Diem bentar ya….aku telpon ibu…” Ucap Al berusaha tenang padahal dia kuatir.

Beberapa saudaranya lari ke rumah Nesa, karena Isti tak bisa di hubungi.

“Bu! Nesa ngompol!” Ucap Valdi dengan terengah-engah. Ternyata ada mertua Nesa sedang bertamu, pantas saja Isti tak bisa dihubungi.

“Dia dimana?!” Tanya Isti panik.

“Di ujung Blok, takut gerak….” Jawab Valdi.

“Kita ke rumah sakit ya mbak….” Ajak Rena.

Akhirnya mereka sepakat ke rumah sakit.

Dan sesuai informasi dari bidan yang sedang piket, Nesa sudah mengalami pembukaan 5, dan air ketuban sudah keluar.
Beberapa kali Al menanyakan bagian mana yang sakit, Nesa hanya menggelengkan kepalanya.

“Bukan sakit Al…. Perutnya kadang kaku, sampai pinggang dan punggung …adeknya kayak dorong kakinya disini” Kata Nesa sambil memegang ulu hati.

Al mencoba tersenyum meskipun wajahnya tegang.

“Adek jadi anak baik ya….adek sayang mama kan? Papa sama Mama sayang adek…” Al berbisik di perut istrinya lalu menciumnya.

“Love you Al…..”

“I Love you and i need you Q….” Al mencium kening istrinya.

Tak lama kemudian, dokter yang menangani Nesa datang, dia memberi semangat dan instruksi.

Setelah beberapa jam, Nesa berhasil melewati tahapan yang melelahkan.

Wajahnya sumringah saat dokter memberi tahu anaknya yang berjenis laki-laki lahir dalam keadaan sehat.

Al menyempatkan keluar untuk mengabari kelahiran anaknya, agar orang tua mereka dan saudara yang lain tak cemas.

“Terima kasih Vanesa Laksono Queen….” Ucap Al mencium pipi Nesa berkali-kali ketika kembali mendampingi istrinya.

“Al…..” Nesa berucap lirih, rasanya tak ada tenaga yang tersisa. Nesa merasa malu, karena masih ada dokter dan perawat di sekitarnya.

Tapi rasanya pria itu tak peduli, dia tetap menciumi istrinya dan tak terasa meneteskan air mata bahagia.

“Kok kamu nangis?” Tanya Nesa merasakan pipi Al yang basah ketika menempel di pipinya.

“Aku nggak tau harus ngomong apa…aku bahagia sekali punya kalian…rasa ini nggak bisa aku ungkapkan…” Mata Al berkaca-kaca.
Nesa pun terharu dan sudut matanya mulai berair.

“Kiss me Al….” Pinta Nesa.

Dengan tersenyum Al mendekatkan bibirnya lalu mencium lembut bibir istrinya.

Mereka sama-sama memejamkan mata, saling mencurahkan kasih melalui sentuhan di bibir.

Momen ini terhenti saat mereka mendengar suara kecil yang merengek.

“Boleh saya gendong lebih dulu?” Tanya Al kepada perawat yang menggendong anaknya.

Perawat itu membetulkan posisi Al menggendong anaknya. Al mendekap penuh posesif, lalu dia berbisik di telinga anaknya. Bayi yang masih berwarna merah itu sekejap terdiam, seolah mencerna apa yang dibisikkan papanya.

Usai berbisik, Al menyerahkan ke istrinya.

“Kamu harus belajar nak…kalo nggak mau…nanti papa yang habiskan ASI nya…” Bisik Al di telinga istrinya.

Nesa melotot lalu menggelengkan kepalanya.

“Sudah selesai, nanti saya kasih resep nya ya…. semoga anak ini membawa berkah bagi keluarga ….” Dokter berpamitan.

“Terimakasih….Sudah selesai ya Dok?” Al berdiri menyalami dokter kandungan.

“Sudah Pak…. istrinya kembali perawan lagi…”

Al dan dokter itu sempat terkekeh, dan dokter meninggalkan keluarga kecil ini.

Al kembali memandangi istrinya yang mendekap anaknya sambil menyusui.

“Jagad Pratama Artomoro….gimana menurut kamu?” Tanya Al yang duduk di tepi ranjang dan merangkul pundak istrinya.

Nesa melihat suaminya.

“Artinya?” Tanya wanita itu ingin tahu.

“Pratama Artomoro pasti uda tau artinya kan? kalo Jagad artinya bumi…aku harap dia selalu down to earth…selalu mem Bumi… selalu menjadi pria yang sederhana dan rendah hati….”

Nesa tersenyum dan mencium kening anaknya.

Dia sedikit mengenang tentang pertemuannya dengan suaminya yang ternyata adalah calon yang akan di jodohkan oleh orangtuanya.

Jika dia tidak melarikan diri, pria itu tidak akan penasaran dan tidak akan berakhir seperti ini.

Masalah setelah pernikahannya pun cukup di jadikan pembelajaran bagi mereka.

Mereka lebih terbuka dan lebih sering komunikasi, karena salah paham bermula saat tidak adanya komunikasi.

***

EPILOG

Tiap Sabtu pagi orang tua dan mertua Nesa selalu mengunjungi rumah mereka.

Meskipun rumah Isti hanya berbeda blok, tapi Aji melarang istrinya terlalu sering ke rumah anaknya.

“Biar dia mandiri Love….kalo butuh bantuan, pasti dia telpon kamu….” Pesan Aji.

Nesa menyiapkan makanan untuk Jagad yang sekarang sudah berusia lewat 1 tahun.

Mommy, ibu dan Al duduk di meja makan sambil bercengkrama.

“Al….Jagad sudah setahun…kamu nggak pengen buatin adiknya?” Tanya Rena.

‘buatin???? macam kue aja…’ batin Nesa yang berdiri di dekat kompor.

“Iya Al…biar kalo weekend gini nggak rebutan….” Tambah Isti.

Tiap weekend Rena atau Isti bergantian mengajak Jagad menginap di rumahnya.

“Kamu nunggu apa sich Al?” Tanya Rena.

“Mumpung masih kecil…kalian juga masih ingat cara gendong bayi…ntar kalo kelamaan uda kaku …” Tambah Isti.

Al hanya menoleh bergantian ke arah ibu atau mommy saat mereka berbicara.

“Ya Allah….ini kompor panas banget ya?!” Nesa berucap kencang dan melirik 2 wanita paruh baya itu yang mempengaruhi suaminya.

Rena tersenyum mendengar sindiran menantunya.

“Ya tau kalo situ yang punya anak….tapi jangan di tunda-tunda…ingat umur kamu dan istrimu… ” Rena terus berucap.

“Iya mom…..” Jawab Al patuh.

Menjelang senja, Rena dan Dani mengajak Jagad pulang ke rumahnya. Isti dan Aji pun juga kembali ke huniannya.

Sekarang mereka hanya berdua di rumah ini.

2 ART sudah pulang sejak pukul 17. Dan suster tentunya mengikuti Jagad.

Al dan Nesa duduk berdampingan di depan TV.

“Kapan Jagad bisa punya adek?” Bisik Al dan mengusap perut istrinya. Bibir dan hidungnya samar-samar menempel di pipi Nesa.

Nesa menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskan perlahan. Sentuhan lembut suaminya membuat tubuhnya meremang.

“Sebenarnya aku juga sudah siap Jagad punya adek….” Nesa menoleh, bibir mereka sangat dekat, ujung hidung mereka pun bersentuhan.

“Terus masalahnya apa?” Al menggoda dengan menggigit lembut telinga istrinya. Tangannya menyusup ke dalam blouse dan merasakan kulit halus perut Nesa.

“Aku kasian sama kamu kalo anak sakit…kamu ikut begadang…. apalagi kalo rewel, Jagad maunya cuma sama kamu….” Nesa mengeluarkan uneg-unegnya.

“Q…sudah tugasku dan kewajibanku….aku juga sedih kalo anak sakit, walaupun begadang tapi aku merasa tidak terbebani….aku ikhlas ngejalani itu…” Al masih berbisik.

“Kamu pengen punya anak berapa?” Tanya Nesa, pertanda baik untuk Al.

“Kalo bisa lebih dari 2…dan kalo bisa cewek….”Al terus menyentuh titik rangsang istrinya. Sesekali Al mencium leher Nesa, membuat nafas wanita itu tak teratur.

“Emang kenapa kalo cowok?” Tanya Nesa berusaha mengontrol nafasnya yang mulai berat.

“Aku nggak suka kalo ada yang mengulum putingmu” Al meremas lembut payudara Nesa.

“Dia anakmu Al….”

“Tetap aja dia laki-laki ….” ucap Al dengan bibir cemberut.

Nesa tersenyum mendengar ucapan konyol suaminya.

“Itu bibir ngapain manyun gitu? Minta di cium?” Nesa menggoda dengan kata-kata vulgarnya.

Al tak berucap, dia merespon dengan melumat bibir sensual istrinya yang sejak tadi menggoda.

“Kita masih di ruang tengah Al….” Bisik Nesa menyempatkan bicara saat Al melepas bibirnya.

“Nggak ada orang…. mereka uda aku kasih uang saku, biar pergi jauh dari sini…” Ucap Al dengan meloloskan blouse istrinya.

“Pengen berduaan biayanya mahal ya …” Ucap Nesa sambil tersenyum yang pasrah dengan ulah suaminya.

“Nggak ada artinya dibandingkan dengan momen ini Q….” Al kembali mencumbu istrinya sambil tangannya meraba bagian punggung Nesa, melepaskan kaitan bra.

Al kembali melumat dan mencumbu istrinya hingga wanita itu terbaring di sofa.

Perlahan Al menarik skirt berikut celana dalam istrinya.

Dengan bebas mereka bercinta di ruang keluarga.
Tak puas, mereka masih melanjutkan lagi di kamar.

“Lain kali pelan-pelan aja ya Al….” Ucap Nesa usai bercinta untuk kesekian kalinya.

Al bermanja dengan merebahkan kepalanya di dada istrinya.

“Bukannya kamu suka kalo aku kasar dan brutal? Katamu keliatan jantan dan menggairahkan…” Balas Al dengan menciumi payudara Nesa.

“Soalnya ada adek nya Jagad di sini…” Nesa berucap santai dan mengusap perutnya sendiri.

“Beneran Q?!” Tanya Al langsung mendongak ke istrinya. Dia bangun dan duduk bersila di sebelah Nesa.

“Iya Al… tadi pagi aku sempetin ke dokter….lagian kamu sendiri kok nggak ngerasa?! 2 bulan ini kamu nggak libur nindih aku…. seminggu 3-4 kali….”

“ya soalnya enak…jadinya nggak mikir…” Ucap Al dengan nyengir.

“Tapi dia nggak papa kan? Setelah kita bergulat tadi?” Tanya Al dengan kuatir.

Nesa tersenyum mendengar kata ‘bergulat’.

“Insya Allah nggak papa….”

“Terus kenapa kamu tadi nggak bilang waktu ada ibu dan mommy?”

“Biar kamu ngerasain gimana berisik nya mereka….kamu baru sekali kan?! Bayangin kalo jadi aku …tiap kali kalo ngobrol…. ujung-ujungnya ngomong itu….”

Al tertawa mendengar aduan istrinya. Telinganya terasa panas ketika mommy dan ibu sama-sama kompak membicarakan masalah adeknya Jagad tadi.

“Kita susul Jagad yuk! Ntar dia rewel kalo nggak liat kamu…sambil kasih tau mommy kalo kamu hamil lagi…” Ucap Al dengan wajah bahagia.

“Kamu jangan marah ya kalo aku minta yang aneh-aneh….”

“Sebenarnya yang minta aneh-aneh itu adeknya apa emaknya sich?! Lagian mana pernah aku nggak nurutin kamu….” Al mengusap perut istrinya.

Al masih menyempatkan mencium wajah istrinya beberapa kali sebelum membersihkan tubuh.

Mereka berangkat menyusul Jagad yang tentunya menjadi primadona di rumah Dani.

****

Kehamilan Nesa kali ini tidak terlalu mengganggu suaminya. Tapi tetap saja mood swing Nesa susah ditebak.

Dalam sepekan, 2 atau 3 kali, Nesa dan Jagad mengajak Al makan siang bersama.
Mereka mendatangi kantor menjelang istirahat.

Kali ini Nesa mengajak anaknya ke ruang mertuanya lebih dulu, karena menurut jadwal suaminya masih ada meeting.

“Jagad sama siapa? Kok nggak bilang kalo mau ke sini? Kan Oma bisa bawakan cemilan….” Ucap Rena yang kebetulan juga ada di ruangan Dani.

“Sama mama….” Ucap bocah duplikat Nesa ini.

Jagad mencium punggung tangan Rena, lalu menghampiri Dani dan melakukan hal yang sama.

Dani seketika menghentikan pekerjaan saat cucunya datang. Dia bergabung duduk dengan istri serta Jagad.

“Sini sama opa!” Dani menepukkan pahanya, pertanda Jagad duduk di pangkuannya. Bocah itu pun patuh lalu duduk dan bersandar di dada Dani.

“Mana mamamu?” Tanya Rena mengusap kepalanya.

“Mama ambil kue nya Jagad…” Jawab si bocah.

Tak lama Nesa masuk, mencium punggung tangan kedua mertua nya lalu ikut duduk di sofa.

“Mommy …Daddy …uda makan siang?” Tanya Nesa membuka kotak yang berisi pastel dan martabat segitiga.

“Kita uda makan….kamu sendiri?” Tanya Rena.

“Makan siang sama Al, dia masih meeting…si Jagad baru maem…nggak tau dia mau ikut atau nggak…”

“Kamu di sini aja sama Oma ya….” Sahut Rena mencium pipi cucunya yang ada di pangkuan Dani. Bocah itu hanya mengangguk.

“Mungkin meeting nya uda selesai Nes…kalo belum kelar…kamu bisa tunggu di ruangannya” Dani menyarankan.

Nesa pun setuju, dia turun melalui lift menuju lantai dimana suaminya berada.

Di saat dia berjalan menuju ruangan suaminya, secara bersamaan Al membukakan pintu kaca, seorang wanita cantik keluar lebih dulu, di susul Al. Tampaknya mereka baru saja membicarakan hal yang menyenangkan atau lucu, karena mereka tampak tertawa.

Wanita yang baru saja keluar ruangan duduk di ruangan berkubikel.

Al menghampiri istrinya yang berdiri di tengah di antara banyaknya kubikel.

“Datang di saat yang tepat…” Ucap Al saat berdiri di depan istrinya.

“Cium aku!” Pinta Nesa dengan nada singkat dan wajah datarnya.

“Disini?” Tanya Al memastikan, alisnya sedikit terangkat.

“Iya! Sekarang!” Nesa berucap tanpa senyum.

Al meraih tangan istrinya dan mengecup buku-buku jemari Nesa.

“Kok di tangan?! Kayak salim ama neneknya….” Nesa bernada sewot.

Al tersenyum geli mendengar penuturan istrinya.

Bibir Al mendekati telinga Nesa, dan matanya melihat beberapa pegawai yang mencuri-curi pandang ke mereka. Tapi dia tak peduli.

“Pengen di cium bagian mana?” Bisik Al, hembusan nafasnya membuat telinga Nesa geli.

Pria itu mencuri satu ciuman di pipi tembem istrinya.

Lalu dengan cepat beralih ke bibir Nesa dan mengecup singkat sebanyak 2 kali.

“Al…malu….” Nesa merengek dengan bisikan. Wanita itu sedikit mendorong dada suaminya yang tentunya tak ada pengaruhnya.

Al membungkukkan tubuhnya, menatap perut buncit Nesa.

“Kamu juga pengen di cium dek?” Tanya Al dan mencium perut istrinya.

“Sudah Al….nggak enak di liat yang lain…..” Nesa memperingatkan, dia menyapu pandang di sekelilingnya.

Beberapa pasang mata tersenyum melihat kemesraan mereka.

“Uda di cium… sekarang ratuku pengen apa lagi?”

“Makan yuk!” Ajak Nesa.

“Jagad?”

“Sama mommy daddy…”

Mereka makan siang di mall yang terkoneksi dengan gedung perkantoran itu.

Beberapa bulan berikutnya, lahir lah anak kedua mereka, Bayu Dwinata Artomoro.

Yang artinya semilir angin…

Dan setahun kemudian, Bayu mempunyai adek.

Damar Triaksa Artomoro, Damar artinya penerang.

*************

“Nda Nil….Nda Nil….lepas….” Ucap seorang bocah cilik menghampiri Nila.

Rambut panjangnya tak rapi sama sekali.

“Duh! Ini anak untung cantik…mama mu kemana sich Rum?” Tanya Nila sambil menguncir Arum Sekar Artomoro, anak ke empat Nesa dan Al.

Anak kecil itu tak menjawab, hanya bergelendot manja.

“Eh…anak mama belum mandi ya….tapi kok uda wangi…” Ucap Nesa yang baru datang sambil membawa kantong plastik yang berisi buah, menyempatkan mencium puncak kepala putrinya.

Dia menghempaskan tubuhnya di kursi sofa. Arum ganti menyenderkan tubuhnya ke Nesa.

“Nes… bilangin anak-anakmu donk…kalo manggil yang bener…jangan dikatain….”

“Di katain apa?” Tanya Nesa mengerutkan keningnya.

Perasaan dia selalu mengajarkan hal yang baik, termasuk memanggil seseorang.

“Tanya aja anakmu!”

“Arum ini siapa?” Tanya Nesa sambil memegang lengan sahabatnya.

“Nda Nil….” Bocah cantik ini menjawab tanpa beban.

“Kan bener….Bunda Nila….” Bela Nesa lalu menciumi anaknya.

“Dia bilang nya Nda Nil….kan kayak Kuda Nil….”

Nesa tertawa mengikik mendengar ucapan sahabatnya.

“Dapur apa kabar? Kira-kira mereka buat apa sich?” Tanya Nesa.

“Nggak tau! Sejak kamu berangkat ke pasar sampe balik belum ada setoran di meja ini…” Nila mengangkat dagu menunjuk meja ruang keluarga yang tak ada suguhan apapun.

“Tapi kok kayaknya dapur sepi …rame di samping…” Nesa menoleh ke arah area kolam renang. Ternyata anak dan sodaranya uda kumpul di sana.

“Aku ke dapur dulu ya Nil…. kira-kira pisau dan temannya uda kembali ke rumahnya atau belum….” Pamit Nesa.

Dia menuju dapur, ternyata suaminya sedang membereskan kekacauan.

“Uda….ntar aku aja yang bersihkan…emang masak apa sich? Kok kayaknya heboh banget…” Nesa memeluk suaminya dari belakang dan menarik menjauh dari meja dapur yang kotor.

” Mie instan, goreng telur dan Frozen food….Emang kenapa kalo aku yang beresin? Kurang bersih ya? Padahal aku biasa bersih-bersih sendiri di apartemen…” Ucap Al yang sekarang duduk di kursi.

Nesa duduk di pangkuan suaminya, dan merangkul lehernya. Tangan Al melingkar di pinggang istrinya.

“Sekalian aku absen piring, sendok dan yang lainnya….kalo nggak lengkap …kamu yang tanggung jawab” ucap Nesa menarik hidung Al.

Pria itu tertawa, dan mencium pipi istrinya.

“Arum uda mandi…tapi dia nggak mau di kuncir….”

“Kata Arum….’kepalaku sakit kalo papa yang ikat’ ….pasti kamu nariknya kekencangan…”

“Dia uda pinter ngomel ya…..pinter ngadu ke emak nya….” Al mengusap perut istrinya.

“Mikir adek nya Arum?”

“Nggak Q….aku masih ingat lamanya kamu merasakan sakit saat melahirkan Arum…. Cukup! Aku nggak tega….”

Saat akan melahirkan Arum, Nesa merasakan sakit sekitar 3-4 hari. Membuat suami dan keluarganya cemas.

Di saat itu, Nesa yang tak pernah rewel tentang makanan, kali ini dia menolak semua menu favoritnya.

Dia hanya minum air putih, air kelapa muda dan minuman pengganti ion tubuh. Nesa juga tak nyaman tidur.

Al tak bisa berbuat apa-apa, Nesa juga tak meminta apapun.

Saat rasa sakit itu, Nesa tak mengijinkan Al menyentuhnya, walaupun hanya genggaman tangan.

Tentunya Al sangat sedih, merasa menjadi suami yang tak berguna.

Dan lara ini akibat permintaannya yang menginginkan banyak anak.

Di saat itu juga, Al berjanji pada dirinya sendiri untuk lebih menjaga Nesa dan tak lagi menuntut anak.

“Terus kenapa?” Tanya Nesa melihat suaminya hanya memandangnya.

“Cukup satu Ratu dan satu Arum di keluarga ini….kalo banyak wanita, aku bingung jaganya….kasian 3 pangeran ku…”

“Rasanya aku makin jatuh cinta sama bapak e Jagad, Bayu, Damar dan Arum…..”

“Jatuh cinta sama orangnya atau duitnya?”

“Ya duit nya lah….kalo kamu nggak ada duit, mau di kasih makan apa anak-anak?”

Lagi-lagi Al tertawa.

“Semua nya uda siap berangkat buat besok?” Tanya Al.

“Uda lengkap semua….kamu sewa berapa kamar di Seminyak?”

“Bukan aku yang sewa….ya Daddy lah! kan yang kawin anak gadisnya….lagian duit daddy nggak bakal abis buat sewa hotel …”

Nesa tertawa lirih saat suaminya mencoba menguras harta orang tuanya.

“Jadi ntar nambah extra bed buat anak-anak? Bude Tina sama yang lain?”

“Aku bilang ke mommy, kalo aku mau honeymoon. Terserah mommy ngaturnya gimana….paling anak-anak di kamar mommy atau ibu…. soalnya mereka reservasi yang presiden suit…”

***

Esok hari mereka tiba di bandara Internasional Ngurah Rai.

Nesa menggandeng Jagad dan Damar di kanan-kiri nya. Al berjalan di belakangnya sambil menggendong Arum dan menggenggam tangan Bayu.

Di susul Bude Tina dan ART serta driver yang membantu membawa keperluannya.

Sudah ada beberapa mobil untuk menjemput keluarga Al serta saudara-saudara Nesa.

Tiba di hotel, anak-anak itu mencari kamar Oma atau Uti, Oma untuk Rena, dan Uti untuk Isti.

Ternyata kamar Rena dan Isti bersebelahan.

“Ayo di bagi….sapa yang sama Uti…sapa yang sama Oma….besok di gilir…” Ucap Al yang sekarang ini di kamar daddy.

Akhirnya mereka sepakat, Bayu Damar di kamar Isti. Jagad Arum di kamar Rena.

“Tapi kamar kalian nggak kayak gini lho ya….. ” Ucap Dani yang bermain bersama Bayu.

“Nggak papa dad…. pokoknya aku bisa berduaan….nggak pake kasur pun kita rela…iya kan Q?” Al memainkan alisnya dan melihat Nesa.

Nesa mencebikkan bibirnya.

‘emang harus dibahas ya…’ batinnya.

Malam makin larut, resepsi telah usai, tamu sudah banyak yang pulang.

Hanya keluarga saja yang masih bercengkrama ringan dan bercanda.

Anak-anak Nesa yang rencananya tidur di kamar Rena atau Isti pun tak jadi. Bude Tina dan suster meminta agar anak-anak bisa tidur bersama mereka.

“Mbak, saya ijin kembali ke kamar. Sekalian saya bawa anak-anak ya…. kayaknya uda ngantuk…” Pamit bude Tina sambil menggendong Damar yang menguap.

Sedangkan Arum sudah terlelap di pelukan papanya.

Nesa menghubungi pihak hotel agar mengirimkan extra bed di kamar Bude Tina yang tak jauh dari kamarnya.

Al dan Nesa berpamitan untuk mengantar Arum dan kakak-kakak nya.

“Titip anak-anak ya Bude….saya balik ke resepsi….” Nesa berucap lirih.

Secara perlahan, pasangan suami istri ini keluar dari kamar Bude Tina.

“Kesini!” Al menarik tangan istrinya saat Nesa akan menuju lift. Mereka melangkah ke kamarnya.

“Kita nggak balik ke resepsi?” Tanya Nesa.

“Mau ngapain lagi? Anggap uda kelar…” Balas Al.

“Kita tadi pamit nya nganter anak-anak …”

“Ada yang lebih penting dari resepsi!” Al menunjukkan Acces card pada Nesa yang bersandar di ambang pintu sambil mengedipkan sebelah matanya.

“Urusan Pino dan Vina?” Nesa menggoda suaminya dengan senyuman yang menggoda.

Al mencium bibir istrinya secara brutal. Setelah beberapa kali saling melumat, Nesa menjauhkan bibirnya sambil melihat kanan-kiri nya. Rasanya malu sekali jika ada yang melihat mereka melakukan hal yang tak senonoh, walaupun statusnya suami istri.

“Kenapa jantungku selalu berdebar dan birahiku tidak bisa terkontrol kalo dekat sama kamu? apalagi dengar kata-kata sexi dari mulutmu…” Al melumat sekali lagi bibir istrinya.

Nesa mengulum senyumnya.

“Aku juga nggak tau…tiap kali di dekat mu, pengennya peluk kamu…pengen penismu menjejali vaginaku…”

“Astaga! Habis kamu Q! Habis!” Mata Al melotot lalu dia menarik tangan istrinya masuk kamar.

Rasanya dia sudah tidak bisa menahan gairah akibat kalimat vulgar istrinya.

“Yang nikah Illo….yang honeymoon kakaknya….” Nesa sempat menyindir sebelum Al membungkam dengan bibirnya.

Al tak menjawab dengan kata, dia sibuk melucuti baju Nesa. dan tentu saja mencumbunya.

Mereka menghabiskan malam yang panjang penuh dengan gairah dan kenikmatan.

Suara erangan… cecapan….lenguhan dan desahan meramaikan kamar mereka yang sepi.

Sebelum tidur, Al menyempatkan menghubungi house keeper untuk mengganti sprei dan membersihkan ruangan.

Dia tak mau di sindir atau di bully jika besok pagi ada yang masuk ke kamarnya lalu masih tercium aroma sperma dan percintaan.

Tamat

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Tamat