Complicated S2 Part 23

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Tamat

Cerita Sex Dewasa Complicated S2 Part 23 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Complicated S2 Part 22

Makan malam ini, Al tak hadir.

“Ayo! Kita makan sekarang aja….” Ajak Aji.

“Sekarang yah?” Tanya Nesa, dia berharap ayahnya menunggu kehadiran Al.

“Iya sayang…ayah lapar….” Jawab Aji dengan dada yang sesak.

Dia tidak bisa mengutarakan bahwa Al lebih fokus ke pekerjaan daripada keluarga.

Aji kuatir ucapannya akan mengecewakan Nesa.

Karena awal masalah rumah tangga mereka karena Al mengabaikan istrinya. Dan kini terulang lagi.

‘mungkin malam ini dia banyak kerjaan….besok dia pasti datang’ batin Nesa.

Walaupun saling diam, Nesa sudah terbiasa dengan kehadiran suaminya.

Esok paginya, Nesa mengharapkan kedatangan Al. Beberapa kali Nesa menatap pintu utama, untuk melihat sosok suaminya.

“Nes, Al keluar kota 2 hari…kita makan sekarang ya….” Akhirnya Aji mengatakan tentang Al.

Karena Aji merasa bahwa anaknya mengharapkan kehadiran si menantu.

“Sama siapa?” Tanya Nesa singkat, harapannya sirna.

“Sama Illo dan driver….”

Hati Nesa sedikit lega saat tahu siapa yang menemani suaminya.
Tapi dia juga kecewa, kenapa Al tidak menyampaikan hal ini kepada Nesa.

***

“Mas Al kok wajahnya pucat gitu?” Tanya Illo saat membereskan berkas untuk persiapan Rapat Umum Pemegang Saham.

“Nggak papa. Cuma capek aja kok….” Jawab Al dengan nada lemah.

“Semalam mas nggak tidur kan?! Illo tau…..” Adiknya mengerti permasalahan rumah tangga kakaknya, tapi dia tak ingin ikut campur.

“Iya….aku bingung, nanti mau ngomong apa…..” Al berbohong.

Padahal dia semalam tak bisa tidur karena memikirkan istrinya.

“Tenang mas…kan ada Illo….” Adiknya menenangkan, dan Al hanya bisa tersenyum tipis.

2 hari tak bertemu, baik Al dan Nesa menyimpan rindu yang dalam.

Al ingin mendengar suara istrinya, tapi apa daya…. istrinya belum mempunyai ponsel lagi.

Dia segan jika menghubungi mertua atau kakak iparnya.

Selama 2 hari diluar kota, pekerjaan mereka lancar. Dan sesuai jadwal, usai melihat perkembangan pabrik, mereka kembali pulang.

“Mas….badanmu panas lho…nyampek Surabaya, kita langsung ke rumah sakit ya?” Ucap Illo saat memegang dahi kakaknya.

“Nggak usah! Kita langsung pulang aja. Aku cuma pengen tidur…..”

“Ya Uda! Biar dokternya aja yang datang ke rumah ya….”

Al hanya mengangguk dengan mata yang terpejam.

‘kira-kira dia datang sarapan nggak ya? Harusnya semalam uda datang….’ batin Nesa esok paginya.

Ternyata saat sarapan, Al tak datang, begitu juga saat makan malam.
Hati Nesa mulai cemas, maka lewat telpon salon dia menghubungi Illo.

Nesa : Illo….kamu dimana?

Illo : aku di kantor mbak…

Nesa : Al juga uda di kantor?

Illo : nggak mbak, dia istirahat di rumah. Katanya nggak enak badan, tapi kemarin udah di cek ama dokter.

Nesa : kenapa? Mulai kapan sakit nya?

Illo : panasnya waktu kita balik ke sini. Kata dokter cuma kecapekan aja.

Illo menuruti pesan kakaknya.

‘Kalo istriku telpon, bilang aja nggak enak badan. Aku nggak mau dia kesini, ntar ketularan….’

Nesa ingin sekali bertemu dan menemani suaminya.

“Vanesa!” Teriakan Al kembali terngiang, membuat jantungnya berdetak kencang.

“Tuhan….tolong jangan siksa aku…” Nesa memohon agar peristiwa itu hilang dari ingatannya.

Wanita itu bingung, apa yang harus dia lakukan.

Dia ingin merawat suaminya, tapi di sisi lain ada trauma yang masih melekat.

Sudah 4 hari Al tidak datang ke rumah Nesa.

Usai mencuci piring, ponsel Isti berdering.

Isti : hallo Bu Rena….

Rena : mbak Isti, Al sudah beberapa hari panas. Uda cek lab, nggak ada masalah apa-apa. Ini Illo kebetulan sibuk, jadi nggak ada yang mengawasi. Kalo Al saya suruh ke rumah Nesa boleh ya? Sementara aja kok…..

Isti : boleh aja Bu…. nanti biar di jemput Vasco dan Valdi…

Rena : nggak usah mbak, nanti biar di anterin Ronal aja. Al ini kalo panas biasanya minta di peluk, Nesa tau kok…..

Isti : iya Bu, nanti saya sampaikan ke Nesa.

Rena : saya minta maaf atas kejadian kemarin, saya nggak tahu harus berbuat apa agar Nesa bisa kembali ….

Isti : nggak papa Bu…. masalah ini akan mendewasakan Nesa dan Al.

Rena : terimakasih banyak mbak…. semoga mereka bisa bersatu lagi… Salam buat Nesa ya..bye bye mbak Isti

Isti : iya Bu, bye bye….

Isti menyampaikan apa yang di sampaikan Rena.

“Dipeluk?!” Tanya Vasco dan Valdi bersamaan dengan heran.

“Iya…dia kalo panas biasanya minta dipeluk. Katanya skin to skin….” Jawab Nesa yang tahu tentang suaminya.

Jantungnya berdetak kencang, Nesa masih kuatir berdekatan dengan Al, tapi siapa lagi yang akan memeluk suaminya jika bukan dia.

‘tenang Nes…ada keluarga mu disini…’ batin Nesa menguatkan hatinya.

Beberapa jam kemudian Al datang dengan wajah lesu.

“Maaf, kalo Al merepotkan….” Ucap Al dengan mata yang sayu terlihat tak bersemangat.

“Nggak kok Al… kamu langsung masuk kamar aja ya…biar bisa istirahat…” Sahut Aji.

Al memasuki kamar Nesa, ternyata di dalam sudah ada istrinya yang menyiapkan air hangat untuk kompres.

Pria itu terbaring lemah tak berdaya.

Dengan jantung yang berdegup kencang, Nesa mulai mengkompres kening suaminya. Ini pertama kalinya mereka hanya berduaan di ruangan yang sama.

Beberapa kali Nesa menghela nafasnya.

Perasaannya campur aduk…. dia takut, dia waspada, dia senang merawat suaminya, dan juga dia rindu.

“Uda makan?” Tanya Nesa berusaha menenangkan hatinya sendiri.

Al mengangguk pelan, dia menguatkan matanya supaya terbuka demi melihat kecantikan istrinya.

“Pengen sesuatu?” Tanya Nesa lagi.

Al menggelengkan kepalanya, air matanya keluar dari sudut matanya.

Sebenarnya dia ingin dipeluk, tapi dia ingat pesan ayah, agar tak memulai menyentuh Nesa.

“Kamu panas banget, sampai keluar air mata….” Ucap Nesa menghapus air matanya.

Sebenarnya Al menangis karena melihat Nesa yang bersedia merawat dirinya. Dia masih merasa bersalah dan rasanya tak pantas diperlakukan sebaik ini oleh Nesa.

Dengan sabar dan telaten Nesa menunggui Al serta mengganti kompres hingga pria itu tertidur.

Saat Nesa yakin Al bisa tidur dengan nyenyak, perlahan dia merebahkan tubuhnya di sebelah si suami.

Beberapa menit kemudian, Al menggumam.

“Sssssssssttttttt….” Bisik Nesa, mendekati suaminya lalu memeluk tubuhnya.

Al merebahkan kepalanya di dada Nesa, dia merasa nyaman, dan dia kembali tidur.

Wanita itu bisa melihat bulu mata suaminya. Perlahan dia mencium keningnya.

‘Kamu kalo gini keliatan ganteng….tapi kalo ngamuk kayak setan’ batin Nesa gemas dan mengusap rahang suaminya.

Tak lama, Nesa ikut terlelap.

Esok paginya, Nesa terbangun.

Entah bagaimana, dia tertidur di dada suaminya, lengan Al memeluk tubuhnya.
Kepala Nesa mendongak, dia mendapati Al yang tersenyum memandangi wajahnya.

“Uda nggak panas lagi?” Tanya Nesa mengusap pipi dan rahang suaminya.

“Uda sembuh…. karena kamu….” Jawab Al dengan tersenyum manis.

“Kamu nggak tidur ya?” Tanya Nesa.

Al menggelengkan kepalanya.

“Sejak kamu tidur di dadaku, aku nggak bisa memejamkan mata. Aku nggak mau melewati momen ini….” Jawab Al lirih.

Mereka masih saling memandang.

“Kenapa sich aku nggak bisa marah ke kamu Al?” Tanya Nesa lirih. Mungkin ini saatnya dia berbicara.

“Jangan nangis Q….” Suara Al memelas ketika melihat mata istrinya berkaca-kaca.

“Aku pengen teriak sama kamu…aku pengen marah sama kamu….tapi hati ini nggak bisa.Mulut ini selalu bungkam. Yang ada cuma diam dan nangis sendiri….” Akhirnya air mata Nesa membasahi pipinya.

Al mencium kening istrinya cukup lama.

“I’m sorry Q….apa yang harus aku lakukan supaya kita bisa kembali seperti dulu lagi? Kamu masih cinta aku kan?”

Nesa mengangguk pelan.

“Dihatiku cuma ada kamu ….tapi hatiku juga sakit kalo aku ingat peristiwa itu…” Nesa mengungkapkan isi hatinya.

Al merasa bersalah, karena teriakannya masih terpatri di lubuk hati istrinya.

“Maaf kan aku Q…….katakan! Gimana caranya kita kembali seperti dulu lagi ….aku kangen ….” Al semakin mengeratkan pelukannya dan mencium lagi kening istrinya.

“Aku nggak tau Al…aku bingung……” Nesa menyembunyikan wajahnya di dada suaminya dengan tangisan semakin menjadi. Dia tak bisa mengungkapkan apa yang ada di hatinya.

Lagi-lagi Al merasa bersalah membuat istrinya semakin bersedih, hatinya teriris.

Al hanya bisa mengusap lengan istrinya. Mungkin dengan menangis, perasaan istrinya lebih baik.

Beberapa menit setelahnya, tangisan Nesa mereda, tapi dia masih sesenggukan.

“Aku tau kalo kamu cemburu saat aku terima panggilan Elang. Iya kan?” Tanya Nesa wajahnya mendongak melihat suaminya.

Al mengangguk dan tersenyum tipis.

“Aku pengen balas dendam… Aku pengen kamu sakit hati…..Tapi setelah selesai telepon, hatiku makin sakit….. aku merasa bersalah, aku merasa berdosa …
kenapa aku selemah ini sich Al?

Kenapa aku nggak sanggup menyakitimu ?” Air mata Nesa kembali keluar dari sudut matanya, dia jengkel dengan dirinya sendiri.

Al menatap lekat mata istrinya dan mengusap lelehan air mata dengan jemarinya.

“Kenapa hatimu selembut ini Q?” Al mencium puncak kepala Nesa, dan menitikkan air mata.

Dia merasa menjadi suami terburuk, karena terlalu sering menyakiti hati istrinya.

“What should we do Al?” Tanya Nesa yang giliran mengusap air mata suaminya.

“Beri aku kesempatan untuk memperbaiki semuanya Queen … please….” Al melihat Nesa dengan tatapan memohon dengan wajah melas.

“Tapi saat itu kamu bilang nggak bakal jemput aku di rumah ayah….” ucap Nesa dengan cemberut, dia memainkan perasaan suaminya.

Al menyesal mengucapkan kata-kata itu.

“Saat itu aku mengancam supaya kamu nggak pergi…..”

“Tapi ternyata ancamanmu nggak berlaku kan?” Tanya Nesa dengan senyuman mengejek suaminya.

“Okay….aku nggak akan jemput kamu…… soalnya kita akan tinggal disini, sampai kamu sendiri yang meminta pulang……” Al mendapatkan solusi.

Nesa tersenyum dan mengeratkan pelukannya.

“Oh iya! Kita kan nggak bisa pulang…..” Ucap Al lagi.

“Kenapa?”

“Rumahnya aku jual….”

“Ngapain kamu jual?”

Al menghela napas.

“Soalnya, beberapa kali aku pulang, aku selalu ingat terakhir kali kamu memandang aku. Terus aku nggak pernah pulang. Aku ke rumah daddy. Jadi lebih baik rumah itu dijual aja, dari pada menyimpan kenangan buruk buat kita.” Nesa tak menyangka, Al juga terpuruk.

“Terus barang-barang nya?”

“Aku taruh di rumah daddy, soal nya apartemen dipake Illo.”

“Rencana mau beli dimana?”

“Yang dekat-dekat sini aja. Kalo ngambek jemput nya nggak jauh-jauh…” Al memberanikan menggoda istrinya.

Dengan mata yang masih sembab Nesa mengikik dan mencubit lengan suaminya. Nesa sadar dengan kebiasaan buruknya.

“Bangun yuk Al….di tunggu sarapan….” Ucap Nesa lalu memaksa bangun dan lepas dari pelukan suaminya.

“Baru aja mesra-mesra an….aku kangen Q….”

Nesa yang sudah berdiri di tepi ranjang menoleh ke arah suaminya.

“Emang kamu aja yang kangen?!

Kamu tau perasaan aku disini?! (Sambil menunjuk dadanya)

Kangen, jengkel, sebel, sakit hati,…

Semua ngumpul jadi satu!” Nesa berceloteh.

Al tersenyum, dia bangun dan duduk di sandaran ranjang.

“Ngapain kamu senyum?!

Kamu mesti gitu….aku ngomong serius di anggap becanda….” Nesa berbalik dengan mulutnya yang cemberut.

Al bangun dan mendekati istrinya yang berdiri di depan meja rias, menguncir rambutnya yang panjang.

Pria itu memberanikan diri memeluk Nesa dari belakang.

Jantung mereka sama-sama berdetak kencang, dan mereka tau yang satu dengan yang lain.

“Tapi aku dengar semua yang kamu bilang Q….. jadi….supaya kamu nggak jengkel…..nggak sebel….gimana caranya?” Al mencium belakang kepala Nesa beberapa kali.

Suara Al yang serak terdengar sexi di telinga istrinya. Nesa bisa melihat dari pantulan cermin bagaimana cara Al mencium dirinya penuh dengan perasaan.

“Kamu mau mandi air panas kan?! Aku siapkan dulu….” Nesa memaksa lepas lagi dari pelukan Al.

“Kita lanjut lagi peluk-peluknya nanti malam..” Tambah Nesa dengan menahan senyum yang berlebihan.

Dia harus terpaksa menghentikan acara lepas rindunya, karena dia tahu Al sangat ahli memancing gairahnya. Dan Nesa tak mau membuat orang tuanya menunggu untuk sarapan.

Al hanya bisa tersenyum, dia tak menyangka jalan cerita rumah tangganya akan menjadi seperti ini.

Beberapa hari kemarin dia memikirkan istrinya, mencoba melepaskan ikhlas, lalu semalam istrinya kembali di pelukannya.

“Thanks God….i know it’s all because of You…. only You…” Al berucap syukur.

***

“Al gimana?” Tanya Isti ketika melihat anaknya membantu menata hidangan.

“Alhamdulillah uda baikan Bu….” Jawab Nesa dengan wajah ceria.

Aji menghampiri Isti lalu mencium samping kepalanya.

“Wajahnya kelihatan happy…” bisik Aji ke istrinya.

“Biasaaaaa….masih 5 tahun di awal…” Isti ikut berbisik.

“Al mana Nes?” Tanya Vasco sudah duduk di kursi.

“Masih mandi….” Jawab Nesa.

Beberapa detik kemudian, Al dan Valdi muncul.

“Nasinya mau banyak apa dikit?” Tanya Nesa ke suaminya.

Wanita itu kembali melayani Alvaro.

“Sedang aja….” Jawab Al.

“Yang banyak donk…. supaya kuat….” Aji menggoda anak dan menantunya.

Mereka tampak salah tingkah dengan kalimat sindiran Aji.

“Mas…..” Isti mengingatkan supaya tidak mempermalukan pasangan yang baru akur.

“Maksudnya biar kuat menghadapi cobaan hidup…” Aji memperjelas kalimatnya.

Nesa dan Al hanya bisa senyam-senyum.

Mereka sarapan di selingi percakapan ringan.

“Kapan Daddy datang?” Tanya Valdi.

“Belum tau kak…repot kalo nggak ada daddy….kak Vas, nanti Al nebeng ya…”

“Kamu mau kemana?! Badan kamu belum pulih benar….” Sahut Nesa langsung.

“Aku mau ke kantor. Uda janjian sama Fika.”

“Fika siapa?!” Tanya Nesa dengan mengernyitkan dahinya, dia tampak asing dengan nama Fika.

‘siapa dia? Sampe dibelain segitunya…kan Al baru sembuh’ Nesa mulai dengan dugaannya.

“Orang legal…yang ngajarin surat-surat perjanjian….”

“Jadi setiap hari sama dia?” Tanya Nesa makin penasaran.

“Ya nggak tiap hari sama dia….”

“Kenapa bukan sama suaminya Tante Stella aja?”

“Kalo dia ya nggak mau ngajarin Q….dia uda profesional….”

“Aku ikut!” Nesa mencurigai berbuat sesuatu dibelakangnya.

“Ikut kemana? Ke salon?!”

“Ya ikut ke kantor lah…..”

“Ngapain ikut ke kantor?” Tanya Al. Dia malu jika istrinya tahu kekurangannya.

“Emang kenapa sich aku nggak boleh ke kantor?!

Mommy aja tiap saat, tiap waktu ke kantor daddy… daddy malah seneng…” Nesa mengoceh.

“Kan kamu juga ada kerjaan di salon…” Al berusaha membuat alasan agar istrinya tak ikut ke kantor.

“Salon 3 Minggu aku tinggal nggak papa…dia nggak nangis….

Pokoknya kalian tunggu aku! Awas kalo di tinggal!” Ancam Nesa sambil melihat sekilas ke arah Vasco dan suaminya.

Lalu dia meninggalkan meja makan tanpa pamit.

“Aku pikir kalian uda akur….” Ucap Valdi yang dari tadi hanya melihat cek cok kecil di antara Nesa dan Al.

“Yang masalah kemarin uda…. sekarang baru lagi…” Ucap Al dengan nada pasrah.

“Kenapa sich kamu ngelarang dia ke kantor? Dia makin dilarang, makin penasaran….” Ujar Valdi.

“Aku itu susah memahami kalimat baku kak… aku malu kalo dia tahu kelemahan ku…” Al mengaku.

Vasco dan Valdi kompak terkekeh.

“Aku pikir kamu cowok sempurna…..pinter ngelola bisnis sampe warung nya beranak… ternyata ada sisi bego nya juga…” Canda Valdi.

“Dia juga bego di rumah tangga…” Vasco menambahkan.

Al mencebikkan bibirnya.

“Kalian soalnya belum nikah sich…. Bukan pria namanya kalo dia takut berumah tangga….bener kan yah?”

Aji mengangguk dan tersenyum.

“Rumah tangga kalo nggak ribut nggak seru… pokoknya adaaaa aja yang dibikin ribut….salah taruh kunci aja bisa sampe 3 hari ya Love?”

Isti mengangguk dan tersenyum.

“Dan setelah akur, pasti lebih sayang…iya kan Al?” Isti menyahuti.

“Bener Bu…. mengalahkan waktu awal kete_”

“Al!” Teriak Nesa dari kamarnya. Pembicaraan Al terpotong.

“Tuh! Uda di panggil si Ratu…” Valdi mengejek lagi adik iparnya.

“Bucin…bucin dah…” Vasco menambahi.

“Awas kualat lho kak….” Al menyempatkan membalas ledekan.

Pria itu membuka kamar istrinya.

“Kenapa Q?” Tanya Al dengan sabar.

“Minta tolong bereskan laptop di meja keluarga. Ntar aku kerja di ruanganmu aja …”

“Ada lagi ?” Tanya Al.

“Itu aja sayang…..” Jawab Nesa dengan lembut.

Panggilan sayang Nesa membuat bulu kuduknya berdiri.

‘astaga…cuma dipanggil gitu aja aku pengen ngapa-ngapain dia….’ batin Al.

Bersambung

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Tamat